Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Undang-undang praktik keperawatan sudah lama menjadi bahan

diskusi para perawat. PPNI pada kongres nasional ke-2 di Surabaya tahun 1980

mulai merekomendasikan perlunya bahan-bahan perundang-undangan untuk

perlindungan hukum bagi tenaga keperawatan. Tidak adanya undang-undang

perlindungan bagi perawat menyebabkan perawat secara penuh belum dapat

bertanggung jawab terhadap pelayanan yang mereka lakukan. Tumpang tindih

antara tugas dokter dan perawat masih sering terjadi dan beberapa perawat

lulusan perguruan tinggi merasa frustasi karena tidak adanya kejelasan tentang

peran, fungsi dan kewenangannya. Hal ini juga menyebabkan semua perawat

dianggap sama pengetahuan dan keterampilannya, tanpa memperhatikan latar

belakang ilmiah yang mereka miliki.

Pada hari keperawatan sedunia yaitu tanggal 12 Mei 2008, di Indonesia

digunakan untuk mendorong berbagai pihak mengesahkan Rancangan Undang-

Undang Praktik Keperawatan. PPNI menganggap bahwa keberadaan Undang-

Undang akan memberikan perlindungan hukum bagi masyarakat terhadap

terhadap pelayanan keperawatan dan profesi perawat.

Aspek hukum praktik keperawatan merupakan perangkat hukum atau

aturan-aturan hukum yang secara khusus menentukan hal-hal yang seharusnya

dilakukan atau larangan perbuatan sesuatu bagi profesi perawat dalam

menjalankan profesinya. Aspek hukum yang terkait langsung dengan praktik


keperawatan diantaranya UU no.23 tahun 1992 tentang kesehatan, Peraturan

Pemerintah no.32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan, Kep.Men.Pan/II/2001

tentang jabatan fungsional perawat dan angka kreditnya, Kep.Men.Kes

1239/XI/2001 tentang registrasi dan praktik perawat, Keputusan Direktur

Jendral Pelayanan Medik No.Y.M.00.03.2.6.956 tentang hak dan kewajiban

perawat.

Menurut undang-undang nomor 36 tahun 2014 tentang tenaga

kesehatan Pasal (1)

Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:

1. Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang

kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui

pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan

kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.

2. Asisten Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri

dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan

melalui pendidikan bidang kesehatan di bawah jenjang Diploma Tiga.

3. Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang

digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik

promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh

Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat.

4. Upaya Kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang

dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan untuk

memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk

2
pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit, dan

pemulihan kesehatan oleh Pemerintah dan/atau masyarakat.

5. Kompetensi adalah kemampuan yang dimiliki seseorang Tenaga Kesehatan

berdasarkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional untuk

dapat menjalankan praktik.

6. Uji Kompetensi adalah proses pengukuran pengetahuan, keterampilan, dan

perilaku peserta didik pada perguruan tinggi yang menyelenggarakan

pendidikan tinggi bidang Kesehatan.

7. Sertifikat Kompetensi adalah surat tanda pengakuan terhadap

Kompetensi Tenaga Kesehatan untuk dapat menjalankan praktik di

seluruh Indonesia setelah lulus uji Kompetensi.

8. Sertifikat Profesi adalah surat tanda pengakuan untuk melakukan praktik

profesi yang diperoleh lulusan pendidikan profesi.

9. Registrasi adalah pencatatan resmi terhadap Tenaga Kesehatan yang telah

memiliki Sertifikat Kompetensi atau Sertifikat Profesi dan telah mempunyai

kualifikasi tertentu lain serta mempunyai pengakuan secara hukum untuk

menjalankan praktik.

Berdasarkan Hal diatas maka penulis tertarik membahas tetntang keperawaran

sebagai suatu profesi dari sudut pandang geopolitik.

B. Rumusan Masalah

1. Definisi dan tujuan praktik keperawatan

2. Fokus praktik keperawatan profesional

3. Pentingnya undang-undang praktik keperawatan

3
4. Undang-undang yang ada di Indonesia yang berkaitan dengan praktik

keperawatan

5. Hak-hak perawat

6. Fungsi hukum praktik keperawatan profesional

7. Standar praktik keperawatan

C. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Memberikan landasan hukum terhadap praktik keperawatan untuk

melindungi perawat maupun pasien.

2. Tujuan Khusus

a. Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dan

kesehatan yang diberikan oleh perawat.

b. Melindungi masyarakat atas tindakan yang dilakukan perawat.

c. Menetapkan standar pelayanan keperawatan.

d. Menapis ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan.

e. Menilai boleh tidaknya perawat untuk menjalankan praktik

keperawatan

f. Menilai ada tidaknya kesalahan atau kelalaian yang dilakukan perawat

dalam memberi pelayanan.

D. Metode Penulisan

Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan web dan buku

sebagai referensi untuk mencari sumber dan materi.

4
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi dan Tujuan Praktik Keperawatan

Praktek keperawatan profesional mengandung arti praktik yamg

dilakukan oleh perawat profesional; yaitu perawat lulusan program keperawtan

(rata-rata 4 tahun pendidikan di universitas) atau lulusan pendidikan

keperawatan yang tinggi. (kohnke 1974)

Menurut lokakarya keperawatan nasional tahun 1983, definisi

keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan

bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat

keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif

serta ditujukan kepada individu, keluarga dan masyrakat baik sakit maupun

sehat yang mencangkup seluruh kehidupan manusia.

Menurut NCBSN ( National Council of State Boards of Nursing)

menggunakan pendekatan lain praktik keperawatan berarti embantu individu

atau kelompok dalam mempertahankan atau meningkatkan kesehatan yang

optimal sepanjang proses kehidupan dengan mengkaji status kesehatanya dan

mengimplementasikan strategi perawatan untuk mencapai tujuan, serta

mengevaluasi respons terhadap perawatan dan pengobatan.

B. Fokus Praktik Keperawatan Profesional

Praktik keperawatan tidak boleh terlepas dari upaya kesehatan

masyarakat dunia dan sistem kesehatan nasional. Fokus utama keperawatan saat

ini adalah kesehatan masyarakat dengan target populasi total. Tujuan praktik

5
keperawatan sesuai yang dicanangkan WHO (1985) harus diupayakan pada

pencegahan primer, peningkatan kesehatan pasien, keluarga dan masyrakat,

perawatan diri, dan peningkatan kepercayaan diri.

Praktik keperawatan meliputi empat area yang terkait dengan kesehatan

( kozier, erb, 1990 )

1. Peningkatan kesehatan ( health promion ). Dalam kegitan ini, perawat

membantu masyarakat mengembangkan sumber-sumber atau meningkatkan

kesejahteraan/kesehatannya. Tujuannya kesehatan yang ingin diwujudkan

adalah mencapai derajat kesehatan yang optimal (SKN ). Contoh kegiatan

disini adalah menjelaskan manfaat program latihan bagi pasien.

2. Pemeliharaan kesehatan ( health maintance ) perawat melakukan aktivitas

untuk membantu masyarakat mempertahankan status kesehatannya. Contoh

kegiatan disini adalah mengajarkan atau menganjurkan seorang usia lanjut

melakukan latihan untuk mempertahankan kekuatan dan mobilitas otot.

3. Pemulihan kesehatan ‘( health restoration ). Perawat membantu pasien

meningkatkan kesehatan setelah pasien memiliki masalah kesehatan atau

penyakit. Sebagai contoh adalah mengajarkan pasien merawat luka

pembedahan atau membantu orang cacat mempertahankan kekuatan fisik

seoptimal yang dapat dilakukan.

4. Perawatan orang yang menjelang ajal. Perawat memberikan rasa nyaman

dan merawat orang dalam keadaan menjelang ajal. Kegiatan dapat

dilakukan dirumah sakit, rumah, dan fasilitas kesehatan yang lain.

6
C. Pentingnya Undang-Undang Praktik Keperawatan

Menurut Kelly (1987)

Ada beberapa alasan mengapa Undang-Undang Praktik Keperawatan

dibutuhkan. Antara lain :

1. Alasan filosofi.Perawat telah memberikan konstribusi besar dalam

peningkatan derajat kesehatan. Perawat berperan dalam memberikan

pelayanan kesehatan mulai dari pelayanan pemerintah dan swasta, dari

perkotaan hingga pelosok desa terpencil dan perbatasan.Tetapi pengabdian

tersebut pada kenyataannya belum diimbangi dengan pemberian

perlindungan hukum, bahkan cenderung menjadi objek hukum.Perawat juga

memiliki kompetensi keilmuan, sikap rasional, etis dan profesional,

semangat pengabdian yang tinggi, berdisiplin, kreatif, terampil, berbudi

luhur dan dapat memegang teguh etika profesi. Disamping itu, Undang-

Undang ini memiliki tujuan, lingkup profesi yang jelas, kemutlakan profesi,

kepentingan bersama berbagai pihak (masyarakat, profesi, pemerintah dan

pihak terkait lainnya), keterwakilan yang seimbang, optimalisasi profesi,

fleksibilitas, efisiensi dan keselarasan, universal, keadilan, serta kesetaraan

dan kesesuaian interprofesional (WHO, 2002).

2. Alasan yuridis UUD 1945, pasal 5, menyebutkan bahwa Presiden

memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang dengan persetujuan

Dewan Perwakilan Rakyat. Demikian Juga UU Nomor 23 tahun 1992, Pasal

32, secara eksplisit menyebutkan bahwa pelaksanaan pengobatan dan atau

perawatan berdasarkan ilmu kedokteran dan atau ilmu keperawatan, hanya

7
dapat dilaksanakan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan

kewenangan untuk itu. Sedang pasal 53, menyebutkan bahwa tenaga

kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan

tugas sesuai dengan profesinya.Ditambah lagi, pasal 53 bahwatenaga

kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi

standar profesi dan menghormati hak pasien. Disisi lain secara teknis telah

berlaku Keputusan Menteri Kesehatan Nomor1239/Menkes/SK/XI/2001

tentang Registrasi dan Praktik Perawat.

3. Alasan sosiologis. Kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan

khususnya pelayanan keperawatan semakin meningkat. Hal ini karena

adanya pergeseran paradigma dalam pemberian pelayanan kesehatan, dari

model medikal yang menitikberatkan pelayanan pada diagnosis penyakit

dan pengobatan, ke paradigma sehat yang lebih holistik yang melihat

penyakit dan gejala sebagai informasi dan bukan sebagai fokus pelayanan

(Cohen, 1996).Disamping itu, masyarakat membutuhkan pelayanan

keperawatan yang mudah dijangkau, pelayanan keperawatan yang bermutu

sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan, dan memperoleh

kepastian hukum kepada pemberian dan penyelenggaraan pelayanan

keperawatan.

D. Undang-Undang yang ada di Indonesia yang berkaitan dengan praktik

keperawatan

1. UU No. 9 Tahun 1960, Tentang pokok-pokok kesehatan

8
Bab II (Tugas Pemerintah), pasal 10 antara lain menyebutkan bahwa

pemerintah mengatur kedudukan hukum, wewenang dan kesanggupan

hukum.

2. UU No. 6 Tahun 1963 Tentang Tenaga Kesehatan.

UU ini merupakan penjabaran dari UU No. 9 tahun 1960. UU ini

membedakan tenaga kesehatan sarjana dan bukan sarjana. Tenaga sarjana

meliputi dokter, dokter gigi dan apoteker. Tenaga perawat termasuk dalam

tenaga bukan sarjana atau tenaga kesehatan dengan pendidikan rendah,

termasuk bidan dan asisten farmasi dimana dalam menjalankan tugas

dibawah pengawasan dokter, dokter gigi dan apoteker. Pada keadaan

tertentu kepada tenaga pendidikan rendah dapat diberikan kewenangan

terbatas untuk menjalankan pekerjaannya tanpa pengawasan langsung.

3. UU Kesehatan No. 14 tahun 1964, tentang Wajib Kerja Paramedis.

Pada pasal 2, ayat (3) dijelaskan bahwa tenaga kesehatan sarjana muda,

menengah dan rendah wajib menjalankan wajib kerja pada pemerintah

selama 3 tahun. Dalam pasal 3 dijelaskan bahwa selama pada pemerintah,

tenaga kesehatan yang dimaksud pada pasaal 2 memiliki kedudukan sebagai

pegawai negeri sehingga peraturan-peraturan pegawai negeri juga

diberlakukan terhadapnya.

E. Hak-Hak Perawat

Sebagai tenaga profesional maka perawat mempunyai bebagai macam

hak, seperti telah disebutkan dalam undang-undang No. 23 Tahun 1992

terutama pada Pasal 50 tentang Pelaksanaan Tugas Tenaga Kesehatan dan Pasal

9
53 ( ayat 1 ) Tentang Perlindungan Hukum, maka pengaturan hak dan kewajiban

perawat dapat di jabarkan dari pasal-pasal ini. Beberapa hak-hak perawat juga

seyogyanya termasuk dalam undang-undang praktik keperawatan. Karena

perawat sebagai warga negara maka perawat juga mempunyai hak-hak sebagai

warga negara seperti yang tercantum dalam UUD 1945. Perawat sebagai tenaga

kerja, dan perawat yang bekerja sebagai pegawai negeri juga mempunyai hak

yang berkaitan dengan pegawai negeri.

Dibawah ini akan dibahas tentang beberapa hak-hak umum yang

dimiliki perawat seperti : menurut (lydia Hall, 1992)

1. Hak perlindungan wanita

Keikutsertaan perawat dan sekaligus sebagian sebagai wanita dalam

pembangunan kesehatan diakui cukup banyak dan tidak diragukan. Dalam

konteks ini, maka hak-hak yang menyangkut peran dan perlindungan wanita

juga sangat bekaitan dengan hak-hak perawat.

2. Hak berserikat dan berkumpul

Mengeluarkan pendapat berupa lisan maupun tertulis merupakan setiap hak

warga negara seperti yang tertuang dalam UUD 1945. Hak perawat ini telah

diwujudkn dengan terbentuknya organisasi profesi. Hak ini tidak saja dapat

diwujudkan dngan bergabung dalam organisasi profesi tetapi juga

mengambil peran dalam aksi politik untuk mewakili keperawatan atau

masyarakat dalam penerima pelayanan kesehatan.

10
3. Hak mengendalikan praktik keperwatan sesuai yang diatur oleh hukum

Hak ini berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada

perawat untuk menjalankan praktik keperawatan.

4. Hak mendapatkan upah yang layak

Sebagai tenaga profesional yang mempunyai tanggung jawab serta

kualifikasi khusus, maka perawat mempunyai hak untuk mendapat

penghargaan secara ekonomi atau upah kerja yang seimbang dengan tugas

dan haknya.

5. Hak bekerja dilingkungan yang baik

Perawat mempunyai hak untuk untuk bekerja ditempat yang baik artinya

lingkungan yang nyaman, aman, tidak mengancam keselamatan, dan

kesehatan fisik maupun mental.

6. Hak terhadap pengembangan profesional

Guna mmpertahankan keprofesionalannya perawat mempunyai hak untuk

meningkatkan ilmunya dalam bidang formal maupun egiatan ilmiah seperti

temu kerja, konferensi, seminar atau berbagai kursus singkat.

7. Hak menyusun standar praktik dan pendidikan keperawatan

Perawat mempunyai peran penting dalam aktivitas penyusunan standar

praktik dan pendidikan keperawatan.

F. Fungsi hukum bagi praktik keperawatan

Menurut ( Kozier, Erb, 1990 ) Hukum mempunyai beberapa fungsi bagi

keperawatan :

11
1. Hukum memberikan kerangka untuk menentuka tindakan keperawatan

mana yang sesuai dengan hukum

2. Ini membedakan tanggung jawab perawat dengan tanggung jawab profesi

lain

3. Ini membantu menentukan batas-batas kewenangan tindakan keperawatan

mandiri

4. Ini membantu alam mempertahankan standar praktik keperawatan dengan

meletakkan posisi perawat memiliki akuntabilitas dibawah hukum

G. Standar praktik keperawatan (Phaneut dan Lang, lihat Kozier, Erb, 1990).

Standar praktik merupakan salah satu perangkat yang diperlukan setiap

tenaga profesional. Standar praktik keperawatan mengidentifikasi harapan-

harapan minimal bagi para perawat profesional dalam memberikan asuhan

keperawatan yang aman, efektif dan etis.

Dengan adanya standar praktik keperwatan, maka profesi keperawatan

dapat mewujudkan tanggung jawab atau kebulatan tekadnya untuk melindungi

masyarakat. Standar praktik keperawatan membantu dn menuntun para perawat

dalam menjalankan tugasnya memberikan asuhan keperawatan.

Penyusunan dan pelaksanaan standar praktik merupakan fungsi utama

organisasi profesi dalam hal ini meliputi:

1. Menentukan, mempertahankan dan meningkatkan standar.

2. Mempertahankan anggota untuk akuntabilitas dalam menggunakan

standar.

12
3. Mendidik masyarakat untuk menghargai standar.

4. Melindungi masyarakat dari individu yang tidak memenuhi standar atau

tidak ingin mengikuti standar.

5. Melindungi anggota profesi satu sama lain

13
BAB III

PEMBAHASAN

A. UUD 1945 Pada Kepentingan Kesejahtraan dan Kesehatan Masyarakat

Undang-undang Dasar 1945 (hasil amandemen) telah mengatur

beberapa hak asasi manusia di bidang kesehatan. Di dalam pasal 28H

dinyatakan :

1. Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan

mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak

memperoleh pelayanan kesehatan

2. Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk

memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan

dan keadilan

3. Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan

pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat

Kemudian di dalam pasal 34 dijelaskan tentang kewajiban negara,

sebagai berikut:

1. Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara

2. Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan

memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan

martabat kemanusiaan

3. Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan

dan fasilitas pelayanan umum yang layak

14
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-

undang.

B. UUD dan Kebijakan Kepmenkes Terkait Praktek Profesional

Keputusan menteri kesehatan republik indonesia nomor

1239/menkes/sk/xi/2001 tentang registrasi dan praktik perawatan berbunyi :

1. Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat baik di dalam

maupun di luar negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-

undangan yang berlaku.

2. Surat Izin Perawat selanjutnya disebut SIP adalah bukti tertulis pemberian

kewenangan untuk menjalankan pekerjaan keperawatan di seluruh wilayah

Indonesia.

3. Surat Izin Kerja selanjutnya disebut SIK adalah bukti tertulis yang

diberikan kepada perawat untuk melakukan praktik keperawatan di sarana

pelayanan kesehatan.

4. Surat Izin Praktik Perawat selanjutnya disebut SIPP adalah bukti tertulis

yang diberikan kepada perawat untuk menjalankan praktik perawat

perorangan/berkelompok.

5. Standar Profesi adalah pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk

dalam menjalankan profesi secara baik.

Pada Pasal 5 Perawat dalam melaksanakan praktik keperawatan

berwenang untuk :

15
1. Melaksanakan asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, penetapan

diagnosa keperawatan, perencanaan,melaksanakan tindakan keperawatan

dan evaluasi keperawatan;

2. Tindakan keperawatan sebagaimana dimaksud pada butir a meliputi :

intervensi keperawatan, observasi keperawatan, pendidikan dan konseling

kesehatan

3. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan sebagaimana dimaksud huruf a

dan b harus sesuai dengan standar asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh

organisasi profesi;

4. pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan berdasarkan permintaan

tertulis dari dokter.

C. Kontribusi UU dan Peraturan dalam Praktek Kesehatan dan

Keperawatan

Undang-Undang tentang Praktik Keperawatan Bab I Ketentuan Umum

Pasal 1 dalam Undang-Undang ini yang Dimaksud dengan :

(1) Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan

bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat

keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan

masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses

kehidupan manusia.

(2) Praktik keperawatan adalah tindakan mandiri perawat melalui kolaborasi

dengan sistem klien dan tenaga kesehatan lain dalam memberikan asuhan

keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tanggung jawabnya pada

16
berbagai tatanan pelayanan, termasuk praktik keperawatan individual dan

berkelompok.

(3) Asuhan keperawatan adalah proses atau rangkaian kegiatan pada praktik

keperawatan baik langsung atau tidak langsung diberikan kepada sistem

klien di sarana dan tatanan kesehatan lainnya, dengan menggunakan

pendekatan ilmiah keperawatan berdasarkan kode etik dan standar praktik

keperawatan.

(4) Perawat adalah seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan

keperawatan baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh

Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-

undangan.

(5) Perawat terdiri dari perawat vokasional dan perawat profesional.

(6) Perawat vokasional adalah seseorang yang telah lulus pendidikan Diploma

III Keperawatan dan Sekolah Perawat Kesehatan yang terakreditasi dan

diakui oleh pejabat yang berwenang.

(7) Perawat profesional adalah seseorang yang lulus dari pendidikan tinggi

keperawatan dan terakreditasi, terdiri dari ners generalis, ners spesialis dan

ners konsultan.

(8) Ners generalis adalah seseorang yang telah menyelesaikan program

pendidikan Ners.

(9) Ners Spesialis adalah seseorang yang telah menyelesaikan program

pendidikan spesialis keperawatan

17
(10) Ners Konsultan adalah seseorang yang telah menyelesaikan

programpendidikan spesialis keperawatan

(11) Registered Nurse disingkat RN adalah perawat profesional yang

teregistrasi.

(12) Licensed Practical Nurse disingkat LPN adalah perawat vokasional yang

teregistrasi.

(13) Konsil Keperawatan Indonesia adalah suatu badan otonom yang bersifat

independen.

(14) Sertifikasi adalah proses pengakuan terhadap program pendidikan dan

pelatihan keperawatan dalam menyelenggarakan program pendidikan dan

pelatihan di seluruh Indonesia yang dilaksanakan oleh organisasi profesi.

(15) Sertifikat kompetensi adalah surat tanda pengakuan terhadap kemampuan

seorang perawat untuk menjalankan praktik keperawatan di seluruh

Indonesia setelah lulus uji kompetensi oleh konsil keperawatan.

(16) Registrasi adalah pencatatan resmi terhadap perawat yang telah memiliki

sertifikat kompetensi.

(17) Registrasi ulang adalah pencatatan ulang terhadap perawat yang telah

diregistrasi setelah memenuhi persyaratan yang berlaku.

(18) Surat Izin Praktik Perawat (SIPP) adalah bukti tertulis yang diberikan

oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota kepada perawat yang akan

menjalankan praktik keperawatan setelah memenuhi persyaratan.

(19) SIPP I adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Konsil Keperawatan

kepada perawat vokasional yang telah memenuhi persyaratan

18
(20) SIPP II adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Konsil Keperawatan

kepada perawat profesional yang telah memenuhi persyaratan

(21) Sarana pelayanan kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk

menyelengga rakan upaya pelayanan kesehatan.

(22) Klien dan atau pasien/klien dan atau pasien adalah setiap orang yang

melakukan konsultasi masalah kesehatannya untuk memperoleh

pelayanan kesehatan yang diperlukan baik secara langsung maupun tidak

langsung kepada perawat.

(23) Organisasi profesi adalah Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

(24) Kolegium keperawatan adalah kelompok perawat generalis dan perawat

spesialisasi sesuai bidang keilmuan keperawatan yang dibentuk oleh

organisasi profesi keperawatan.

(25) Komite adalah badan kelengkapan konsil yang dibentuk untuk

melaksanakan tugas-tugas konsil.

(26) Menteri adalah menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang

kesehatan

19
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan professional yang

merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan. Didasarkan pada ilmu dan

kiat keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan

masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan

manusia.

Praktek keperawatan adalah tindakan mandiri perawat melalui

kolaborasi dengan system klien dan tenaga kesehatan lain dalam membrikan

asuhan keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tanggung jawabnya pada

berbagai tatanan pelayanan, termasuk praktik keperawatan individual dan

berkelompok.

Praktik keperawatan tidak boleh terlepas dari upaya kesehatan

masyarakat dunia dan sistem kesehatan nasional. Fokus utama keperawatan saat

ini adalah kesehatan masyarakat dengan target populasi total. Tujuan praktik

keperawatan sesuai yang dicanangkan WHO (1985) harus diupayakan pada

pencegahan primer, peningkatan kesehatan pasien, keluarga dan masyrakat,

perawatan diri, dan peningkatan kepercayaan diri.

20
B. Saran

Praktek keperawatan tidak terlepas dari beberapa syarat yang harus

dipatuhi sesuai dengan keputusan dari kepmenkes dan uu keperawatan oleh

sebab itu setiap perawat yang akan melakukan praktek mandiri keperawatan

haruslah patuh akan aturan yang sudah tertera jangan melakukan pelanggaran

hukum karna sudah sangat dimudahkan dalam pengurusan perijinan

prakteknya.

21
DAFTAR PUSTAKA

Rita,siti 2009 undang- undang keperawatan diakses [online] 29 okober 2014


pukul 14.00. situs web http://perawatpintar.web.id/tag/uu-keperawatan

Fikri 2010 hukum bagi praktek keperawatan diakses [online] 30 oktober pukul
20.00, situs web http://staff.unand.ac.id/zifriyanthi/2014/06/05/uu-
keperawatan-sebagai-perlindungan-hukum-bagi-praktik-keperawatan-di-
indonesia

Rina, wulandari hukum-hukum keperawatan diakses [online] 30 oktober 2014


situs web http://www.inna-ppni.or.id/index.php/undang-undang-
keperawatan

Priharjo, robert praktik keperawatan profesional , jakarta: EGC 1995

22