Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

Indonesia termasuk wilayah yang baik untuk pertumbuhan jamur sehingga


dapat ditemukan hampir disemua tempat. Insidensi penyakit jamur yang terjadi di
berbagai rumah sakit di Indonesia bervariasi antara 2,93-27,6% meskipun angka
ini tidak menggambarkan populasi umum. Mikosis dibagi menjadi mikosis
profunda dan mikosis superfisial. Mikosis superfisial dibagi menjadi
dermatofitosis dan nondermatofitosis.1

Pitiriasis Versikolor (PV) atau lebih dikenal dengan panu adalah infeksi
jamur superfisial nondermatofitosis yang ditandai perubahan pigmen kulit akibat
kolonisasi stratum korneum oleh jamur lipofilik dimorfik dari flora normal kulit,
Malassezia furfur. Pityrosporum orbiculare dan Pityrosporum ovale dapat
menyebabkan penyakit jika bertransformasi menjadi fase miselium sebagai
Malassezia furfur. Dari semua jenis Malassezia, hanya M. pachydermatis yang
membutuhkan lingkungan kaya lipid, seperti kulit manusia atau media kultur yang
diperkaya lipid, karena tidak mampu mensintesis asam lemak jenuh rantai
menengah-panjang. Malassezia menghasilkan berbagai senyawa yang
mengganggu melanisasi dan menyebabkan perubahan pigmentasi kulit.2,3

Penyakit ini ditemukan di seluruh dunia (kosmopolit), terutama di daerah


tropis yang beriklim panas dan lembap, termasuk Indonesia. Prevalensinya
mencapai 50% di negara tropis. Penyakit ini menyerang semua ras, angka
kejadian pada laki-laki lebih banyak daripada perempuan, dan mungkin terkait
pekerjaan dan aktivitas yang lebih tinggi. Pitiriasis versikolor lebih sering
menginfeksi dewasa muda usia 15-24 tahun, saat aktivitas kelenjar lemak lebih
tinggi.1,3

Lesi khas pitiriasis versikolor berupa makula, plak, atau papul folikular
dalam berbagai warna, hipopigmentasi, hiperpigmentasi, sampai eritematosa,
berskuama halus di atasnya, dikelilingi kulit normal. Skuama sering sulit terlihat.

1
Untuk membuktikan skuama yang tidak tampak, dapat dilakukan peregangan atau
penggoresan lesi dengan kuku jari tangan sehingga skuama tampak lebih jelas,
dikenal sebagai evoked scale sign, finger nail sign, Besnier’s sign, scratch sign,
coup d’ongle sign atau stroke of the nail sign. Peregangan atau penggoresan lesi
akan meningkatkan kerapuhan stratum korneum kulit yang terinfeksi pitiriasis
versikolor, sehingga akan muncul tanda klinis yang berguna untuk membantu
menegakkan diagnosis, terutama jika pemeriksaan mikologis tidak tersedia dan
diagnosis klinis tidak pasti.1,2,3

Penyakit ini sangat menarik oleh karena keluhannya bergantung pada


tingkat ekonomi penderita. Bila penderita dari golongan ekonomi rendah
(misalnya: tukang becak, pembantu rumah tangga) penyakit ini tidak dihiraukan.
Tetapi pada penderita dengan ekonomi menengah keatas yang mengutamakan
penampilan maka penyakit ini adalah penyakit yang sangat bermasalah.

2
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien


Nama : Tn. R
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Usia : 14 tahun
Pekerjaan : Pelajar SMP
Alamat : RT. 34, Mayang, kota Jambi
Status : Belum menikah
Bangsa : Indonesia
Hobi : Olahraga

2.2 Anamnesis
Autoanamnesis pada tanggal 17 Oktober 2019

Keluhan Utama :
Bercak putih di wajah tidak disertai rasa gatal sejak 1 minggu SMRS.

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke poli kulit RSUD H. Abdul Manap dengan keluhan bercak
putih di wajah tidak disertai rasa gatal sejak 1 minggu SMRS. Awalnya bercak
putih muncul setelah pasien berolahraga kemudian pasien mencuci muka
dengan sabun cuci muka dalam keadaan berkeringat, kemudian semakin hari
bercak putih tidak menghilang sejak 1 minggu terakhir disertai dengan sisik-
sisik halus jika bercak tersebut digosok atau digores. Bercak putih mati rasa
disangkal, bercak kemerahan sebelum menjadi bercak putih disangkal.
Pasien belum pernah berobat sebelumnya, pasien merupakan seorang
siswa sekolah menengah atas. Pasien tinggal di rumah bersama kedua orang
tua kandung. Keluhan serupa anggota keluarga serumah disangkal serta

3
penggunaan handuk atau pakaian secara bersama disangkal. Pasien mengaku
gemar berolahraga, dan kebiasaan pasien adalah seusai berolahraga pasien
membiarkan keringat pasien kering sendiri tanpa di keringkan menggunakan
handuk/kain. Pasien mandi 2 kali sehari, pagi dan sore hari, menggunakan
handuknya sendiri.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat keluhan serupa belum pernah dirasakan. Riwayat atopi pada pasien
disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat keluarga yang memiliki riwayat alergi tidak ada.

2.3 Pemeriksaan Fisik


Status Generalisata
1. Keadaan Umum : Baik, tampak sakit ringan
2. Kesadaran : Compos mentis
3. Tanda-tanda vital
 Tekanan darah : 110/80 mmHg
 Nadi : 88 x/menit
 Pernafasan : 20 x/menit
 Suhu : Afebris

Pemeriksaan Organ

1. Kepala : Normocephal
2. Mata : Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), pupil isokor,
reflex cahaya (+)
3. THT
Telinga : Lesi kulit (-)
Hidung : Deviasi septum (-)

4
Tenggorokan : Pembesaran tonsil (-)
4. Mulut : Sianosis (-), bibir kering (-)
5. Leher : Pembesaran KGB (-)
6. Thoraks
Paru : Vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Jantung : Bunyi jantung I/II regular, murmur (-), gallop (-)
7. Abdomen : Nyeri tekan (-)
8. Ekstremitas
Superior : Akral hangat, CRT < 2 detik, lesi (-/-)
Inferior : Akral hangat, CRT < 2 detik, lesi (-/-)

2.4 Status Dermatologis :


GAMBAR LESI
a. Regio Facialis Efloresensi :
Makula hipopigmentasi, berukuran
millier-lentikular dengan diameter terkecil
0,1 cm dan diameter terbesar 1 cm
multiple, sirkumskrip, tepi tidak aktif,
diskret, permukaan rata dengan kulit
sekitar, konsistensi sama dengan kulit
sehat, sekitar lesi terdapat lesi yang
serupa.

5
Regio: Facialis
Lesi:
Makula hipopigmentasi, berukuran
millier-lentikular dengan diameter
terkecil 0,1 cm dan diameter
terbesar 1 cm multiple,
sirkumskrip, tepi tidak aktif,
diskret, permukaan rata dengan
kulit sekitar, konsistensi sama
dengan kulit sehat, sekitar lesi
terdapat lesi yang serupa.

Gambar 1. Lokasi dan Distribusi Ruam pada Pasien

2.5 Pemeriksaan Penunjang

- Pemeriksaan KOH dari skuama : hifa pendek dengan spora (spaghetti


with meatballs)
- Pemeriksaan Wood lamp : ruam berfluoresensi kuning keemasan
2.6 Diagnosis Banding
 Pitiriasis versicolor
 Pitiriasis Alba
 Vitiligo
 Morbus Hansen

2.7 Diagnosis Kerja


Pitiriasis Versicolor

2.8 Penatalaksanaan
1. Non medikamentosa
- Menjelaskan kepada pasien tentang penyakitnya adalah panu, yang
disebabkan oleh jamur dan dapat menular.

6
- Menjelaskan kepada pasien bahwa penggunaan obat selama 2 pekan,
namun bercak putih hilang dalam waktu cukup lama (bulan).
- Edukasi pasien untuk menjaga kebersihan dan kelembaban kulit
terutama pada daerah yang berkeringat banyak (punggung, leher,
lengan) dengan cara segera mengganti pakaian bila basah. Terutama
seusai pasien berolahraga. Disarankan selalu mengelap keringat seusai
olahraga menggunakan handuk/kain yang menyerap keringat.
- Edukasi pasien untuk menggunakan pakaian yang bersih, kering, tidak
ketat dan dapat menyerap keringat
- Edukasi pasien untuk tidak menggunakan pakaian atau handuk
bersama teman atau orang lain.
- Kontrol kembali
2. Medikamentosa
- Ketokonazol tab 200 mg perhari selama 7-10 hari
- Selenium sulfide 2,5% lotion dioleskan pada lesi selama 7-10 menit
kemudian dibilas, 3-4 kali seminggu

2.9 Prognosis
Quo ad vitam : Bonam
Quo ad functionam : Bonam
Quo ad sanationam : Bonam

2.10 Pemeriksaan Anjuran


 Pemeriksaan KOH dari skuama : hifa pendek dengan spora (spaghetti
with meatballs)
 Pemeriksaan Wood lamp : ruam berfluoresensi kuning keemasan
 Pemeriksaan POD (Prevention of Disability) : sensabilitas, nyeri, suhu,
saraf tepi, dan motorik saraf

7
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi
Pityriasis versikolor adalah penyakit infeksi pada superfisial kulit dan
berlangsung kronis yang disebabkan oleh jamur Malassezia furfur. Penyakit ini
biasanya tidak memberikan keluhan subyektif, namun tampak adanya bercak
berskuama halus berwarna putih sampai coklat kehitaman pada kulit yang
terinfeksi. Dapat menyerang ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, muka dan
kulit kepala yang berambut.3,4

3.2 Etiologi dan Patogenesis


Penyakit ini disebabkan oleh jamur Malasezia furfur. Malassezia furfur
(dahulu dikenal sebagai Pityrosporum orbiculare, Pityrosporum ovale)
merupakan jamur lipofilik yang normalnya hidup di keratin kulit dan folikel
rambut manusia saat masa pubertas dan di luar masa itu. Sebagai organisme yang
lipofilik, Malassezia furfur memerlukan lemak (lipid) untuk pertumbuhan in vitro
dan in vivo. Secara in vitro, asam amino asparagin menstimulasi pertumbuhan
organisme, sedangkan asam amino lainnya, glisin, menginduksi (menyebabkan)
pembentukan hifa. Pada dua riset yang terpisah, tampak bahwa secara in vivo,
kadar asam amino meningkat pada kulit pasien yang tidak terkena panu. Jamur ini
juga ditemukan di kulit yang sehat, namun baru akan memberikan gejala bila
tumbuh berlebihan. Beberapa faktor dapat meningkatkan angka terjadinya
pityriasis versikolor, diantaranya adalah turunnya kekebalan tubuh, faktor
temperatur, kelembaban udara, hormonal dan keringat.3,5
Pada kulit terdapat flora normal yang berhubungan dengan timbulnya
pityriasis versicolor yaitu Pityrosporum orbiculare yang berbentuk bulat atau
Pityrosporum ovale yang berbentuk oval. Malassezia furfur merupakan fase spora
dan miselium. Malassezia berubah dari bentuk blastospore ke bentuk mycelial.
Hal ini dipengaruhi oleh faktor predisposisi. Malassezia memiliki enzim oksidasi
yang dapat merubah asam lemak pada lipid yang terdapat pada permukaan kulit

8
menjadi asam dikarboksilat. Asam dikarboksilik ini menghambat tyrosinase pada
melanosit epidermis dan dapat mengakibatkan hipomelanosit. Tirosinase adalah
enzim yang memiliki peranan penting dalam pembentukan melanin. Malassezia
Furfur dapat menginfeksi pada individu yang sehat sebagaimana ia dapat
menginfeksi individu dengan immunocompromised, misalnya pada pasien kanker
atau AIDS.3,5
Malassezia furfur dapat dikultur dari kulit yang terinfeksi maupun yang
normal dan dianggap bagian dari flora normal, terutama di daerah tubuh manusia
yang kaya dengan sebum. Hasil peningkatan kelembaban, suhu dan ketegangan
CO2 tampaknya menjadi faktor penting yang berkontribusi terhadap infeksi.
Malassezia furfur adalah dimorfik, organisme lipofilik yang tumbuh secara in
vitro hanya dengan tambahan asam lemak C12-C14 seperti minyak zaitun dan
lanolin. Dalam kondisi yang tepat, ia berubah dari jamur saprofit menjadi bentuk
miselium yang didominasi parasit, yang menyebabkan penyakit klinis. Faktor
predisposisi transisi miselium termasuk, lingkungan yang lembab, hiperhidrosis,
kontrasepsi oral, penggunaan kortikosteroid sistemik, penyakit Cushing,
imunosupresi, serta keadaan malnutrisi.3
Organisme yang menginfeksi biasanya hadir di lapisan atas stratum
korneum, dan dengan penggunaan mikroskop elektron bisa dilihat bahawa jamur
ini menyerang tidak hanya antara tetapi dalam sel-sel berkeratin. Jumlah korneosit
jelas menunjukkan pergantian sel meningkat pada kulit yang terinfeksi. Ada
beberapa mekanisme yang dipostulasikan untuk perubahan dalam pigmentasi,
termasuk produksi asam dikarboksilat yang dihasilkan oleh spesies Malassezia
(asam azelaic misalnya) yang menyebabkan penghambatan kompetitif tirosinase
dan mungkin efek sitotoksik langsung pada melanosit hiperaktif. 3
Bercak hiperpigmentasi kulit terjadi karena peningkatan berlebihan dalam
ukuran melanosom dan perubahan dalam distribusi mereka di epidermis,
memberikan kawasan yang terkena warna kulit yang lebih gelap dari normal. Lesi
hipopigmentasi pula dapat diakibatkan dari penghambatan enzim dopa-tyrosinase
oleh fraksilipid, karena jamur menghasilkan asam azelaic di lokasi cedera yang
terinfeksi, yang menghambat tirosinase, mengganggu melanogenesis.6

9
3.3 Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi untuk terjadinya pityriasis versikolor antara lain :4
1. Faktor endogen: malnutrisi, immunocompromised, penggunaan
kontrasepsi oral, hamil, luka bakar, terapi kortikosteroid,
adrenalektomi, Cushing syndrome.
2. Faktor eksogen: kelembapan udara, oklusi oleh pakaian, penggunaan
krim ataulotion, dan rawat inap.

3.4 Epidemiologi
Prevalensi penderita pityriasis versikolor di Amerika diperkirakan sekitar
2-8% dari populasi. Jumlah kasus tertinggi terdapat pada daerah dengan
temperatur dan kelembaban yang tinggi. Prevalensi pityriasis versikolor diseluruh
dunia diperkirakan sekitar 50% pada daerah panas dan lembab, dan 1,1% pada
iklim dingin. Tinea versikolor terjadi pada semua ras, tapi erupsinya lebih sering
pada kulit hitam . Tidak ada perbedaan dalam hal jenis kelamin. Sering terjadi
pada dewasa dan remaja dimana glandula sebasea lebih aktif bekerja.3,4

3.5 Manifestasi Klinis


Biasanya tidak ada keluhan (asimtomatis), tetapi dapat dijumpai gatal pada
keluhan pasien. Pasien yang menderita Pityriasis versikolor biasanya
mengeluhkan bercak pigmentasi dengan alasan kosmetik. Predileksi pityriasis
vesikolor yaitu pada tubuh bagian atas, lengan atas, leher, abdomen, aksila,
inguinal, paha, genitalia. Bentuk lesi tidak teratur, berbatas tegas sampai difus
dengan ukuran lesi dapat milier, lentikuler, numuler sampai plakat. Ada dua
bentuk yang sering dijumpai:3,4,5
1. Bentuk makuler: berupa bercak yang agak lebar, dengan squama halus
diatasnya, dan tepi tidak meninggi.
2. Bentuk papuler: seperti tetesan air, sering timbul disekitar rambut.

10
Gambar 1. Pityriasis versikolor (a) lesi yang lebih gelap karena hiperemia
sekunder sebagai respon inflamasi dari peningkatan melanin

Gambar 2. Pityriasis versicolor (c) makula salmon colored yang bersatu


membentuk patch yang besar. (d) sisik yang tampak seperti debu.

11
Gambar 3. Pityriasis versicolor menunjukkan lesi hiperpigmentasi dalam lesi
Kaukasia (kanan) dan hipopigmentasi dalam Aborijin Australia (kiri).

3.6 Penegakan Diagnosis


1. Anamnesis
Penderita biasanya mengeluhkan tampak bercak putih pada kulitnya.
Keluhan gatal ringan muncul terutama saat berkeringat, namun
sebagian besar pasien asimptomatik.3,4

2. Pemeriksaan fisik
Lesi berupa makula hipopigmentasi atau berwarna-warni, berskuama
halus, berbentuk bulat atau tidak beraturan dengan batas tegas atau tidak
tegas. Skuama biasanya tipis seperti sisik dan kadangkala hanya dapat
tampak dengan menggores kulit (finger nail sign). Predileksi di bagian
atas dada, lengan, leher, perut, kaki, ketiak, lipat paha, muka dan kepala.
Penyakit ini terutama ditemukan pada daerah yang tertutup pakaian dan
bersifat lembab.3,4

3. Pemeriksaan penunjang 3,4


Pemeriksaan KOH 20%
Pemeriksaan ini memperlihatkan kelompok sel ragi bulat berdinding
tebal dengan miselium kasar, sering terputus-putus (pendek-pendek),

12
yang akan lebih mudah dilihat dengan penambahan zat warna tinta parker
blue-black atau biru laktofenol. Gambaran ragi dan miselium tersebut
sering dilukiskan sebagai “meat ball and spageti” .
Bahan-bahan kerokan kulit diambil dengan cara mengerok bagian
kulit yang mengalami lesi. Sebelumnya kulit dibersihkan dengan kapas
alcohol 70%, lalu dikerok dengan skapel steril dan jatuhnya ditampung
dalam lempeng-lempeng steril. Sebagian dari bahan tersebut diperiksa
langsung dengan KOH 20% yang di beri tinta parker biru hitam,
dipanaskan sebentar, ditutup dengan gelas penutup dan diperiksa di
bawah mikroskop. Bila penyebabnya memang jamur, maka akan terlihat
garis yang memiliki indeks bias lain dari sekitarnya dan jarak-jarak
tertentu dipisahkan oleh sekat-sekat atau seperti butir-butir yang
bersambung seperti kalung. Pada ptyriasis versicolor hifa tampak
pendek-pendek, bercabang, terpotong-potong, lurus atau bengkok dengan
spora yang berkelompok.

Gambar 4. Gambaran ragi dan miselium sering disebut “spaggeti


and meatball”

Pemeriksaan dengan sinar wood


Pemeriksaan dengan sinar wood, dapat memberikan perubahan
warna seluruh daerah lesi sehingga batas lesi lebih mudah dilihat. Daerah

13
yang terkena infeksi akan memperlihatkan flouresensi warna kuning
keemasan sampai orange.

Gambar 5. Pemeriksaan dengan wood Lamp

3.7 Diagnosis Banding


Diagnosis Banding meliputi ruam-ruam putih pada kulit seperti vitiligo
dan pitiriasis alba.
1. Vitiligo
Vitiligo adalah suatu hipomelanosis yang didapat bersifat progresif,
seringkali familial ditandai dengan makula hipopigmentasi pada kulit, berbatas
tegas dan asimtomatis.
Makula hipomelanosis pada vitiligo yang khas berupa bercak putih seperti
kapur, bergaris tengah beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter, berbentuk
bulat atau lonjong dengan tepi berbatas tegas dan kulit pada tempat tersebut
normal dan tidak mempunyai skuama. Vitiligo mempunyai distribusi yang khas.
Lesi terutama terdapat pada daerah terpajan (muka, dada bagian atas, dorsum
manus), daerah intertriginosa (aksila, lipat paha), daerah orifisium (mulut, hidung,
mata, rektum), pada bagian ekstensor permukanaa tulang yang menonjol (jari-jari,
lutut, siku). Pada pemeriksaan histopatologi tidak ditemukan sel melanosit dan
reaksi dopa untuk melanosit negatif.3,4

14
Gambar 6. Tempat predileksi dari vitiligo

Pada pemeriksaan dengan lampu Wood makula amelanotik pada vitiligo


tampak putih berkilau, hal ini membedakan lesi vitiligo dengan makula
hipomelanotik pada kelainan hipopigmentasi lainnya.
Penatalaksanaan vitiligo dapat diberikan:
a. Tabir surya untuk melindungi kulit yang terlihat agar tidak
mengalami reaksi terbakar surya dan tidak terjadi tanning pada kulit
yang normal. Yang dianjurkan adalah tabir surya dengan SPF lebih
dari 30.
b. Kosmetik penutup untuk menyembunyikan lesi vitiligo sehingga
tidak tampak. Merek yang tersedia misalnya Covermark (Lydia
O’Leary), Dermablend, Vitadye dan Dy-o-Derm. Biasanya warna
disesuaikan dengan warna kulit dan tidak mudah hilang.
c. Kortikosteroid topikal pemakaian kortikosteroid berlandaskan pada
teori autoimun. Jika tidak ada respon selam 2 bulan maka terapi
dianggap tidak akan berhasil. Evaluasi perlu dilakukan setiap bulan
untuk mencegah timbulnya atropi kulit dan telangiektasia
d. Pemakaian psoralen denga UVA Psoralen secara topikal ataupun
sistemik yang diikuti oleh pajanan terhadap sinar UVA (PUVA)
menyebabkan proliferasi sel-sel pigmen di dalam umbi rambut dan

15
perpindahan sel-sel pigmen tersebut kedaerah kulit yang putih
(hipopigmentasi)
e. Minigrafting dapat digunakan pada vitiligo segmental yang stabil
dan tidak dapat diobati dengan teknik yang lain.
f. Bleaching terapi ini digunakan untuk vitiligo yang luas, gagal
dengan terapi PUVA, atau menolak PUVA. Yang digunakan adalah
Monobenzylether of hydroquinon 20% cream, dioleskan 2 kali sehari.
Biasanya dibutuhkan waktu 9-12 bulan agar terjadi depigmentasi.

A B
Gambar 7. Vitiligo pada regio fasial (A) dan regio ekstremitas inferior
(B)

2. Pitiriasis Alba
Pitiriasis alba sering dijumpai pada anak berumur 3-16 tahun (30-40%).
Wanita dan pria sama banyak. Lesi berbentuk bulat oval. Pada mulanya lesi
berwarna merah muda atau sesuai warna kulit dengan skuama halus diatasnya.
Setelah eritema menghilang lesi yang dijumpai hanya hipopigmentasi dengan
skuama halus. Pada stadium ini penderita datang berobat terutama pada orang
dengan kulit berwarna. Bercak biasanya multiple 4 sampai 20. Pada anak-anak
lokasi kelainan pada muka (50-60%), paling sering disekitar mulut, dagu, pipi
serta dahi. Lesi dapat dijumpai pada ekstremitas dan badan. Lesi umumnya
asimtomatik tetapi dapat juga terasa gatal dan panas.3,4
Pada pemeroksaan histopatologi tidak ditemukan melanin di stratum basal
dan terdapat hiperkeratosis dan parakeratosis. Kelaianan ini dapat dibedakan dari
vitiligo dengan adanya batas yang tidak tegas dan lesi yang tidak amelanotik serta

16
pemeriksaan menggunakan lampu wood. Kelainan hipopigmentasi ini dapat
terjadi akibat perubahan-perubahan pasca inflamasi dan efek penghambatan sinar
ultra violet oleh epidermis yang mengalami hipereratosis dan parakeratosis.
Terapi pitiriasis alba kadang tidak memuaskan namun penyakit ini dapat
menyembuh sendiri seiring dengan meningkatnya usia, namun pernah dilaporkan
lesi yang menetap hingga dewasa. Terap yang dapat digunakakn berupa
kortikosteroid topikal. Untuk lesi pititriasis alba yang luas dapat digunakan
PUVA.

Gambar 8. Pitiriasis alba pada regio fasial tampak batas yang kurang jelas

3.8 Pengobatan
Pengobatan pityriasis versicolor dapat diterapi secara topical maupun
sistemik. Tingginya angka kekambuhan merupakan masalah, dimana mencapai
60% pada tahun pertama dan 80% setelah tahun kedua. Oleh sebab itu diperlukan
terapi profilaksis untuk mencegah rekurensi :3,4,7
 Pengobatan topical
Pengobatan topikal diberikan untuk lesi yang bersifat lokal dengan infeksi
sedang. Pengobatan harus dilakukan secara menyeluruh, tekun dan konsisten.
Obat yang dapat digunakan ialah :
- Lotion selenium sulfide 2,5% dioleskan pada lesi selama 7-10 menit
kemudian dibilas. Penggunaan sehari-hari pada lesi yang luas 3-4 kali
seminggu, dan di tappering 1 atau 2 kali perbulan dan gunakan terapi
maintenance untuk mencegah kekambuhan.

17
- Ketokonazol sampho 2% diamkan selama 5 menit kemudian bilas, 3 hari
berturut-turut.
- Terbinafin solusio 1% 2 kali sehari selama 7 hari

 Pengobatan sistemik
Pengobatan sistemik diberikan pada kasus pityriasis versicolor yang luas,
kekambuhan yang sering, atau jika pemakaian obat topical tidak berhasil. Obat
yang dapat diberikan adalah :
- Ketokonazol 200 mg per hari selama 7-10 hari
- Flukonazol 400 mg setiap minggu selama 2 minggu
- Itrakonazol 200-400 mg perhari 3-7 hari

Terbinafin oral, allylamine tidak direkomendasikan untuk penatalaksanan


malassezia karena penetrasinya tidak efektif.

3.9 Prognosis
Perjalanan penyakit berlangsung kronik, namun umumnya memiliki
prognosis baik. Lesi dapat meluas jika tidak diobati dengan benar dan faktor
predisposisi tidak dieliminasi. Masalah lain adalah menetapnya hipopigmentasi,
diperlukan waktu yang cukup lama untuk repigmentasi kembali seperti kulit
normal. Hal itu bukan kegagalan terapi, sehingga penting untuk memberikan
edukasi pada pasien bahwa bercak putih tersebut akan menetap beberapa bulan
setelah terapi dan akan menghilang secara perlahan.3

18
BAB IV
ANALISA KASUS

Pasien datang ke poli kulit RSUD Haji Abdul Manap dengan keluhan
bercak putih di wajah tidak disertai rasa gatal sejak 1 minggu SMRS. Dari
anamnesis, didapatkan keluhan bercak putih di wajah yang tidak di sertai gatal.
Awalnya bercak putih muncul setelah pasien berolahraga kemudian pasien
mencuci muka dengan sabun cuci muka dalam keadaan berkeringat, kemudian
semakin hari bercak putih tidak menghilang sejak 1 minggu terakhir disertai
dengan sisik-sisik halus jika bercak tersebut digosok atau digores. Hal ini sesuai
dengan gambaran pityriasis versicolor yang dikarakteristikkan adanya bercak
berskuama halus berwarna putih sampai coklat kehitaman pada kulit yang
terinfeksi. Dapat menyerang ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, muka dan
kulit kepala yang berambut.3,4
Pasien mengaku gemar berolahraga, dan kebiasaan pasien adalah seusai
berolahraga pasien membiarkan keringat pasien kering sendiri tanpa di keringkan
menggunakan handuk/kain. Pasien mandi 2 kali sehari, pagi dan sore hari,
menggunakan handuknya sendiri. Data ini menguatkan dugaan pityriasis
versicolor oleh karena pasien ini memiliki faktor-faktor predisposisi untuk
terjadinya pityriasis versicolor, yaitu tinggal di daerah tropis, temperatur dan
kelembaban yang tinggi dan mudah berkeringat.
Pada pemeriksaan fisik di regio facial didapatkan fluoresensi makula
hipopigmentasi, multipel, lentikular-plakat, diskret sebagian konfluen dengan
diameter 1-2 cm; ditutupi skuama putih, halus, kering, selapis. Berdasarkan
kepustakaan ruam terletak di tubuh yang merupakan tempat yang paling sering
timbulnya pityriasis versicolor. Ruam merupakan gambaran makulae
hipopigmentasi, berbentuk bulat, irregular, sebagian berkonfluensi satu sama lain,
berbatas tegas, jumlah multiple dengan ukuran diameter bervariasi.
Pada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan penunjang karena diagnosis
dapat ditegakan berdasarkan anamnesis, pemeriksaa fisik dan dermatologis.
Berdasarkan kepustakaan pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk

19
menegakkan pitiriasis versikolor antara lain adalah lampu Wood dan KOH.
Pemeriksaan di bawah lampu Wood menunjukkan fluoresensi kuning yang sesuai
dengan gambaran pityriasis versicolor. Pemeriksaan dengan KOH menunjukkan
hifa pendek dengan spora. Adanya sel budding yeast yang berbentuk ovoid
bersama hifa menyebabkan gambaran “spaghetti and meatballs”. Untuk
menyingkirkan diagnosa banding morbus hansen, berdasarkan kepustakan dapat
dilakukan pemeriksaan POD (Prevention of Dissability) : sensabilitas, nyeri, suhu,
saraf tepi, dan motorik saraf. Pada pityriasis versicolor tidak ditemukan kelainan
pada pemeriksaan tersebut.
Diagnosis banding pada pasien ini adalah morbus hansen, pitiriasis alba,
dan vitiligo. Gambaran ruam pada pasien ini berupa makulae hipopigmentasi yang
berbatas tegas menurunkan kemungkinan diagnosis morbus hansen, pityriasis alba
dan vitiligo. Morbus hansen memiliki 3 kardinal sign, yaitu lesi kelainan kulit
beruoa bercak hipopigmentasi atau eritematous yang mati rasa, penebalan saraf
tepi disertai gangguan fungsi saraf dan pemeriksaan BTA positif. Pityriasis alba
biasanya berlokasi di wajah, bagian luar lengan dan bahu. Lesinya berbatas tidak
tegas dan skuama lebih kasar, lesi tampak berwarna abu-abu. Vitiligo biasanya
mudah dikenali dengan area-area depigmentasi berbatas tegas dan tidak
berskuama, biasanya di regio wajah, ekstremitas dan genital.
Penatalaksanaan pada pasien ini diberikan informasi berupa edukasi
bahwa penyakitnya adalah panu, penyebabnya adalah jamur dan dapat menular.
Kondisi ini tidak meninggalkan jaringan parut yang permanen atau perubahan
pigmentasi, dan perubahan warna kulit membaik dalam waktu 1-2 bulan setelah
terapi dimulai. Edukasi pasien untuk menjaga kebersihan dan kelembaban kulit
terutama pada daerah yang berkeringat banyak (punggung, leher, lengan) dengan
cara segera mengganti pakaian bila basah, terutama seusai pasien berolahraga.
Disarankan selalu mengelap keringat seusai olahraga menggunakan handuk/kain
yang menyerap keringat. Menggunakan pakaian yang bersih, kering, tidak ketat
dan dapat menyerap keringat serta mengkonsumsi makanan yang sehat dan
kontrol kembali untuk menilai keberhasilan terapi.

20
Penatalaksanaan farmakologis pada pasien ini berupa ketoconazole oral 1 x
200 mg selama 7-10 hari dan Selenium sulfide 2,5% lotion dioleskan pada lesi
selama 7-10 menit kemudian dibilas, 3-4 kali seminggu.
Berdasarkan kepustakaan pityriasis versicolor dapat sukses diterapi dengan
berbagai agen jika dilakukan secara menyeluruh, tekun dan konsisten. Agen
topikal yang efektif meliputi selenium sulfida, sodium sulfasetamid,
siklopiroksolamin, serta antifungi azole dan allilamin. Selenium sulfida lotion
dioleskan pada area kulit yang terinfeksi setiap hari selama 2 minggu, setiap kali
setelah dioleskan, dibiarkan selama 10 menit sebelum dicuci/mandi. Pemberian
per minggu agen-agen topikal selama beberapa bulan ke depan dapat membantu
mencegah rekurensi.
Terapi oral juga efektif untuk pityriasis versicolor dan seringkali lebih
dipilih pada pasien karena lebih mudah dan tidak memakan waktu. Terapi oral
dapat diberikan bersama regimen topikal. Ketoconazole, fluconazole, dan
itraconazole merupakan agen oral pilihan pertama. Berbagai regimen dosis telah
digunakan. Dengan ketoconazole, diberikan dosis 200 mg per hari selama 10 hari
dan sebagai dosis tunggal 400 mg, keduanya memiliki hasil yang sama.
Fluconazole diberikan dalam dosis 150 sampai 300 mg setiap minggu selama 2-4
minggu. Itraconazole biasanya diberikan pada 200 mg per hari selama 7 hari.
Pramiconazole dan sertaconazole juga telah digunakan dalam terapi pityriasis
versicolor. 4

21
BAB V
KESIMPULAN

Pityriasis versikolor adalah infeksi ringan yang sering terjadi disebabkan


oleh Malasezia furfur. Penyakit jamur kulit ini adalah penyakit kronis yang
ditandai oleh bercak putih sampai coklat yang bersisik, makula dikulit, skuama
halus disertai rasa gatal. Faktor predisposisi penyakit ini adalah suhu yang tinggi,
kulit berminyak, hiperhidrosis, faktor herediter, pengobatan dengan
glukokortikoid, defisiensi imun, pengangkatan glandula adrenal, penyakit
Cushing, kehamilan, malnutrisi, luka bakar, terapi steroid, dan penggunaan
kontrasepsi oral.
Angka kejadian pada pria dan wanita dalam jumlah yang seimbang.
Penyakit ini banyak ditemukan pada usia 15-24 tahun, dimana kelenjar sebasea
(kelenjar minyak) lebih aktif bekerja. Predileksi pityriasis vesikolor yaitu pada
tubuh bagian atas, lengan atas, leher, abdomen, aksila, inguinal, paha, genitalia.
Pada anamnesis dikeluhkan gatal ringan, adanya bercak/macula berwarna putih
(hipopigmentasi) atau kecoklatan (hiperpigmentasi) dengan rasa gatal yang akan
muncul saat berkeringat. Pada pemeriksaan fisik ditemukan bercak-bercak
berwarna-warni, bentuk tidak teratur -teratur, batas jelas-difus. Sering didapatkan
lesi bentuk folikular atau lebih besar, atau bentuk nummular yang meluas
membentuk plakat. Kadang-kadang dijumpai bentuk campuran (folikular dengan
nummular, folikular dengan plakat ataupun folikular atau nummular dengan
plakat). Periksaan penunjang yang dapat dilakukan pada penyakit ini adalah
pemeriksaan dengan KOH 10% dan lampu wood. Pengobatan pada penyakit ini
menggunakan pengobatan topikal, sistemik dan terapi hipopigmentasi. Prognosis
baik bila pengobatan dilakukan menyeluruh, tekun dan konsisten.

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Rosita, Cita. Kurniati. Etiopatogenesis Dermatofitosis. Surabaya:


Dept.Ilmu Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
2008
2. Tan Sukmawati, Reginata G. Uji Provokasi Skuama pada Pitiriasis
Versikolor. Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Fakultas
Kedokteran Universitas Tarumanagara. CDK-229/ vol. 42 no. 6. Jakarta,
Indonesia. 2015
3. Kundu, R.V. and A. Garg. Yeast Infections: Candidiasis, Tinea (Pityriasis)
Versicolor, and Malassezia (Pityrosporum) Folliculitis, in Fitzpatrick's
Dermatology In General Medicine. 7th edition. M. Lowell A. Goldsmith,
MPH, et al., Editors. McGraw-Hill. p. 3280-3285. 2008
4. Budimulja, Unandar. Mikosis dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2013
5. Johnson. R.A, Suurmond. D .Color Atlas And Synopsis of Clinical
Dermatology. Dalam: Fitzpatrick TB, Wolff K, Johnson RA, Suurmond
D, penyunting. Dermatology in general medicine. Edisi ke-5. New
York: McGraw-Hill. h. 729. 2007
6. Ortonne JP, Bahadoran P. Hypomelanosis and Hypermelanosis in
Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 7th Edition. Mc Graw-
Hill. New York 836-862. 2008
7. Gupta Aditya K, Folley Kelly A. 2015. Antifungal Treatment for Pityriasis
Versicolor. Journal of Fungi. Canada. Received: 24 December 2014 /
Accepted: 4 March 2015 / Published: 12 March 2015

23