Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGINDERAAN JAUH UNTUK PENGEMBANGAN WILAYAH

(GKP 0213)

ACARA I

PENYEGARAN ANALISIS MEDAN

Disusun Oleh:
Nama : Intansania N
NIM : 13/348120/GE/07580
Hari/Jam : Senin / 13.00 – 15.00
Asisten : 1. Raden Pranantya H
2. Nila Ratnasari

FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GAJAH MADA
YOGYAKARTA
2016
I. JUDUL
Penyegaran Analisis Medan

II. TUJUAN
Memberikan latihan penyegaran pada praktikan dalam melakukan analisis medan
berdasarkan interpretasi foto udara

III. ALAT DAN BAHAN


1. Citra Landsat 7 ETM sebagian daerah Yogyakarta
2. Spidol OHP dan Transparansi

IV. CARA KERJA

Diagram alir
Tabel klasifikasi bentukalahan
CITRA LANDSAT 7 ETM + prof suprato INPUT

Interpretasi igir
dan pola aliran

Interpretasi Bentuklahan
morfologi PROSES

Kedalamanan tekstur Bentuk igir Drainase lereng


tanah

Satuan medan OUTPUT

Analisis Medan

Analisis Pengembangan Wilayah


V. HASIL PRAKTIKUM
1. Hasil deliniasi medan di transparansi dengan layout (terlampir)
2. Hasil deliniasi medan di HVS dengan layout (terlampir)
3. Tabel isian medan (terlampir)

VI. PEMBAHASAN

Daerah Istimewa Yogyakata (DIY) merupakan provinsi yang kaya akan bentuk lahan,
hampir semua klasifikasi bentuk lahan dimiliki oleh Yogyakarta kecuali bentuk lahan asal
proses glasial (es). Citra penginderaan jauh merupakan salah satu media dalam memberikan
gambaran secara singkat tetapi menyeluruh (synoptic view) mengenai fenomena yang ada di
permukaan bumi. Analisis medan merupakan kombinasi cara berpikir deduktif dan induktif.
Pemikiran induktif (serangkaian observasi tunggal ke kesimpulan umum) menjadi landasan
dalam mengumpulkan fakta-fakta individu mengenai ketinggian berbagai tiitk, alur lembah,
kemiringan lereng, menjadi satuan-satuan medan. Pemikiran deduktif dilakukan ketika
interpretasi atas satuan medan yang ada diarahkan ke penurunan sifat/karaketeristik medan,
misalnya resistensi batuan, kedalaman tanah, tekstur tanah, drainase permukaan, dan
sebagainya.
Identifikasi untuk kenampakan medan tahap pertama yang dilakukan ialah interpretasi
morfologi/relief. Relief suatu medan diklasifikasikan menjadi beberapa klasifikasi yakni datar,
landai, bergelombang, berbukit dan bergunung. Relief dapat mengindikasikan suatu bentuk
lahan contohnya bila suatu daerah memiliki relief yang berbukit maka dapat diperkirakan
daerah tersebut merupakan daerah perbukitan berbeda dengan daerah yang memiliki relief
datar hingga laindai maka dapat diperkirakan daerah tersebut merupakan dataran aluvial. Relief
berhubungan erat dengan pola aliran, dan pola aliran sangat terpengaruh oleh struktur. Struktur
batuan dengan kemiringan yang cukup tinggi akan membuat suatu daerah semakin memiliki
pola aliran dendritik sedangkan untuk daerah yang dengan banyak patahan akan membentuk
daerah dengan pola aliran trelis, sedangkan pada kondisi topografi dengan relief berbukit
hingga bergunung cenderung akan memiliki pola aliran berbentuk paralel dan mempunyai
kerapatan aliran yang jarang, sedangkan pada daerah yang datar hingga bergelombang, maka
cenderung akan membentuk pola aliran yang bermacam-macam misal pola dendritik, dan
dengan kerapatan aliran akan semakin rapat (intensif). Pola aliran yangn rapat cenderung
memiliki batuan yang lunak sehingga mudah terkikis dan membentuk pola aliran baru yang
memiliki banyak cabang aliran karena batu yang mudah terangkut dan terkikis. Pada daerah
datar atau landai mempunyai memiliki kerapatan yang jarang.

Drainase pada daerah datar memiliki drainase yang buruk karena kemiringannya yang
kecil dan mengakibatkan pergerakan air menjadi sangat lambat, bahkan tergenang berbeda
dengan daerah lereng terjal yang memiliki drainase yang baik, yakni jarang tergenang karena
air yang mudah dialirkan kedaerah yang lebih rendah. Selain itu pada daerah terjal drainasenya
baik dikarenan kondisi tanah yang tipis dan belum berkembang yakni daerah yang dominasi
tekstur tanahnya berupa pasir yang seperti kita tahu mudah meloloskan air berbeda dengan
daerah datar yang solum tanahnya tebal dan bertekstur lempung yang bersifat menyerap air
akan tetapi tidak meloloskannya juga (bersifat menjerap air. Citra yang dikaji dalam praktikum
kali ini ialah citra sebagian daerah Yogyakarta yakni bagian selatan yang dominasinya
merupakan wilayah pesisir.

Hasil kenampakan dari citra menunjukkan bahwa wilayah yang dikaji memiiki satuan
bentuk lahan yang sangat bervariasi dimulai dari bentuk lahan asal proses fluvial, denudasional,
struktural, marin, dan solusional. Bentuk lahan asal prose fluvial ditandai dengan reliefnya
yang datar hingga landai dan biasanya penggunaan lahannya berupa pemukiman atau
persawahan dan berasosiasi dengan sungai. Berbeda dengan bentuk lahan asal proses struktural
dan denudasional memang sekilas bentuk lahan ini mirip tetapi ada hal mendasasr yang pelu
diperhatikan dalam membedakan keduanaya yakni seberapa besar atau proses dominan apakah
yang terjadi pada lahan tersebut, bila prosesnya lebih dominan penelanjangan (erosi) maka
daerah tersebut dapat dikatakan bentuk lahan asal proses denudasioanl berbeda dengan bentuk
lahan struktural yang proses dominannya berupa tenaga endogen maupun eksogen yang
mengakibatkan terbentuknya patahan dan lipatan oleh sebab itu perlu dilakukan observasi
berkala untuk menentukan suatu bentuk lahan. Bentuk lahan asal proes marin merupakan
bentuk lahan yang terpengaruh oleh proses marin (aktivitas laut yakni gelombang air laut, angin
, arus laut, dan sebagainya). Gisik, beting gisik, spit, tombolo adalah beberapa sub satuan
bentuk lahan asal proses marin belum lagi bentuk lahan yang terpengaruh oleh dua asal proses
yakni delta yang merupakan sub satuan yang terbentuk akibat asal proses fluvio-marin. Bentuk
lahan asal proses yang terakhir ialah bentuk lahan asal proses solusiaonal (pelarutan),
karakteristik karst pada citra sangat mudah dikenali yakni daerahnya yang terlihat
bergelombang dan terllihat banyak sekali tonjolan.
VII. KESIMPULAN

1. Hasil klasifikasi medan di sebagian daerah Yogyakarta terbagi menjadi


perbukitan terkikis kuat , perbukitan terkikis lemah, dataran aluvial, gisik, beting
gisik, karst, perbukitan antiklinal, basin dan bukit sisa.
2. Pada area dataran sangat cocok apabila digunakan sebagai permukiman, sedangkan
daerah yang didominasi oleh karst dapat melakukan penanaman tumbuhan yang
sedikit dalam membutuhkan air karena sift karst yang menyerap dan meloloskan
air. Selain itu daerah timur didominsi oleh daerah perbukitan sehingga tidak cocok
untuk pemukiman dan sebaiknya dijadikan lahan yang banyak akan vegetasi.
Berbeda lagi dengan daerah pesisir yang diharapkan sektor wisatanya akan selalu
meningkat dari tahun ke tahun.
DAFTAR PUSTAKA

Lillesand, T.M & Kiefer, R.W. 1979. Penginderaan Jauh Dan Interpretasi Citra(terj.
Sutanto). Yogyakarta : Gadjah Mada Unversity Press.
Sutanto. 1986. Penginderaan Jauh Jilid I. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Dibyosaputro, Suprapto. 1997. Geomorfologi Dasar. Fakultas Pasca Sarjana Universitas
Gadjah Mada: Yogyakarta.
Riyadi. 2007. Evaluasi Medan untuk Analisis Kerusakan Jalur Jalan Surakarta-Purwodadi
di Kecamatan Geyer Kabupaten Grobogan Tahun 2007. Fakultas Keguruan Ilmu
Pendidikan : Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Thronbury, W.D.. 1949. Geomorphology. McGraw Hill: London.
Van, R.A Zuidam. (1979). Terrain Analysis and Classification Using Aerial Photographs,
A Geomorphological Approach. Enschede: ITC