Anda di halaman 1dari 13

BAB I

DEFINISI

Infeksi Rumah Sakit (IRS) atau Health care Associated Infections (HAI’s)
adalah infeksi yang terjadi pada pasien selama perawatan di rumah sakit atau fasilitas
pelayanan kesehatan lainnya, yang tidak ditemukan dan tidak dalam masa inkubasi
saat pasien masuk rumah sakit Infeksi Rumah Sakit juga mencakup infeksi yang di
dapat di RS tetapi baru muncul setelah keluar RS dan juga infeks akibat kerja pada
tenaga kesehatan.

Surveilans infeksi rumah sakit (IRS) adalah suatu proses yang dinamis,
sistematis, terus–menerus, dalam pengumpulan, identifikasi, analisis dan interpretasi
dari data kesehatan yang penting pada suatu populasi, spesifik yang didesiminasikan
secara berkala pada pihak–pihak yang memerlukan untuk digunakan dalam
perencanaan, penerapan dan evaluasi suatu tindakan yang berhubungan dengan
kesehatan dan didesiminasikan secara berkala kepada pihak – pihak yang
memerlukan.

Rumah sakit mengumpulkan dan mengevaluasi data mengenai infeksi dan


lokasinya yang relevan sebagai berikut :

A. Saluran pernapasan seperti prosedur dan tindakan terkait intubasi,


bantuan ventilasi mekanik, trakeostomi, dll, (Pneumonia terkait
ventilator/VAP).
B. Saluran Kencing (ISK) terkait kateterisasi, pembilasan urine dll.
C. Alat invasif intravaskular, saluran vena perifer (Pleblitis), saluran vena
sentral (IAD), dll
D. Lokasi Operasi, perawatan, pembalutan luka, prosedur aseptik, dll
(Infeksi Daerah Operasi/IDO).
E. Penyakit dan organisme yang penting dari sudut epidemiologik
seperti multidrug resistant organisme dan infeksi virulen
F. Timbulnya infeksi baru atau timbul kembalinya infeksi di masyarakat

1
BAB II

TUJUAN, JENIS DAN RUANG LINGKUP

A. TUJUAN

1. Tersedianya informasi tentang situasi dan kecenderungan kejadian


HAIs di rumah sakit.
2. Terselenggaranya kewaspadaan dini terhadap kemungkinan terjadinya
fenomena abnormal (penyimpangan) pada hasil pengamatan dan
dampak HAIs di rumah sakit
3. Terselenggaranya investigasi dan pengendalian kejadian
penyimpangan pada hasil pengamatan dan dampak HAIs di rumah
sakit.

B. Jenis Infeksi yang ditetapkan

1. Ventilator assosiated Pnemonia (VAP)


2. Infeksi aliran darah perifer ( IADP )
3. Hospital Assosiated Pneumonia ( HAP )
4. Infeksi saluran kencing pada pemasangan kateter urin/ Catheter
Associated Urinary Tract infections ( CaUTI )
5. Infeksi Daerah operasi ( IDO ) / Surgical Site Infection ( SSI )
6. Infeksi rumah sakit lainnya Phlebitis dan dekubitus

C. Ruang Lingkup

1. Rawat Inap
2. Ruang IGD
3. Ruang Bersalin dan Nifas

2
BAB III

TATA LAKSANA

A. Tata Laksana
1. Perencanaan Surveilans
a) Mengkaji populasi pasien
Tentukan populasi pasien yang akan dilakukan survei apakah
semua pasien/sekelompok pasien/pasien yang berisiko tinggi saja.
b) Menseleksi hasil/proses surveilans
Lakukan seleksi hasil surveilans dengan pertimbangan kejadian
paling sering/dampak biaya/diagnosis yang paling sering.
c) Penggunaan definisi infeksi
Gunakan definisi infeksi yang mudah dipahami dan mudah
diaplikasikan, Nosocomial Infection Surveillance System
(NISS)misalnya menggunakan National Health Safety Network
(NHSN), Center for Disease Control (CDC) atau Kementerian
Kesehatan.

2. Pengumpulan Data
Mengumpulkan data surveilans
a) Mengumpulkan data surveilans yang kompeten, profesional,
berpegalaman, dilakukan oleh IPCN.
b) Memilih metode surveilans dan sumber data yang tepat.
c) Data yang dikumpulkan dan dilakukan pencatatan.
d) Metode observasi langsung merupakan gold standard.

3. Analisis : Penghitungan dan stratifikasi


a) Incidence rate
Numerator adalah jumlah kejadian infeksi dalam kurun
waktu tertentu. Denominator adalah jumlah hari
pemasangan alat dalam kurun waktu tertentu atau jumlah
pasien yang dilakukan tindakan pembedahan dalam kurun
waktu tertentu.
b) Menganalisis incidence rate infeksi
Data harus dianalisa dengan cepat dan tepat untuk
mendapatkan informasi apakah ada masalah infeksi rumah
sakit yang memerlukan penanggulangan atau investigasi
lebih lanjut.

4. Metode Surveilans
Metode yang digunakan adalah Surveilans Target, metode ini berfokus
pada ruangan atau pasien dengan risiko infeksi spesifik seperti ruang
perawatan intensif, ruang perawatan bayi baru lahir, ruang perawatan,
dan lain-lain. Surveilans target dapat memberikan hasil yang lebih
tajam dan memerlukan sumber daya manusia yang sedikit

3
1) Infeksi Saluran Kemih (ISK)
a) Definisi ISK : Jenis infeksi yang terjadi pada saluran
kemih murni (uretra dan permukaan kandung kemih)
atau melibatkan bagian yang lebih dalam dari organ-
organ pendukung saluran kemih (ginjal, ureter,
kandung kemih, uretra dan jaringan sekitar
retroperitoneal atau rongga perinefrik), karena
penggunaan kateter urine > 48 jam.
b) Kriteria Inklusi :
Ditemukan minimal dari tanda dan gejala klinis:
 Demam (>380C)
 Urgensi
 Frekuensi
 Disuria, atau
 Nyeri Supra Pubik

Tanda dan gejala ISK anak < 1 tahun :


 Demam > 380C rektal
 Hipotermi < 370C rektal
 Apnea
 Bradikardia
 Letargia
 Muntah-muntah

Tes Diagnostik
 Tes carik celup (dipstick) positif untuk lekosit
esterase dan/atau nitrit
 Piuri (terdapat + lekosit per ml atau terdapat 3
lekosit per LPB (mikroskop kekuatan
tinggi/1000x) dari urine tanpa dilakukan
sentrifugasi).
 Ditemukan kuman dengan pewarnaan Gram dari
urine yang tidak disentrifugasi.
 Dokter mendiagnosis sebagai ISK
 Dokter memberikan terapi yang sesuai untuk ISK

c) Kriteria Eksklusi :
Pasien dengan ISK sebelum pemasangan kateter urine
menetap
d) Formula : (Jumlah pasien yang terinfeksi kateter urine /
Jumlah hari terpasang kateter urine) x 1000
e) Wilayah Pengamatan: Ruang rawat inap
f) Periode pelaporan : perbulan
g) Target capaian :< 4,7 0/0

4
2) Infeksi Daerah Operasi (IDO)
a) Defenisi IDO : Infeksi luka operasi adalah infeksi yang
terjadi luka operasi atau organ/ruang yang terjadi dalam
waktu 30 sampai 90 hari pasca tindakan operasi.
b) Kriteria Inklusi :
Infeksi luka operasi di bagi 3 yaitu:
 Infeksi luka operasi superficial/surgical adalah
infeksi luka operasi yang terjadi 30 hari setelah
operasi dan hanya mengenai kulit dan jaringan
sub kutan dengan gejala : aliran nanah purulen
dari tempat insisi atau terdapat minimal salah
satu gejala infeksi berikut yaitu : bengkak,
kemerahan, nyeri, panas.
 Infeksi luka operasi dalam adalah infeksi yang
terjadi 30 hari pasca tindakan operasi dengan
kriteria terdapat salah satu keadaan sebagai
berikut : terdapat drainase purulen dari tempat
insisi dalam biakan positif dari specimen berupa
cairan yang keluar dari luka atau jaringan insisi
dalam yang diambil dengan cara aseptic. Insisi
superficial yang disengaja dibuka oleh dokter
dan memberikan hasil kultur positif atau tidak
dilakukan kultur dan terdapat setidaknya satu
gejala atau tanda seperti bengkak, kemerahan,
nyeri, demam dengan suhu 380C. Dokter yang
merawat menyatakan infeksi.
 Infeksi luka operasi organ/rongga adalah infeksi
yang terjadi 30 hari pasca tindakan oeprasi
menyangkut bagian tubuh kecuali insisi kulit,
fasia, lapisan otot yang dibuka atau
dimanipulasi selama tindakan operasi
c) Kriteria Eksklusi :
- Pasien yang dioperasi di RSUD Kabupaten Buton
Selatan
d) Formula : (Jumlah pasien yang terinfeksi IDO / Jumlah
pasien yang dioperasi) x 100%
e) Wilayah Pengamatan: Ruang rawat inap
f) Periode pelaporan : perbulan
g) Target capaian : 2 %
3) Hospital Acquired Pneumoni (HAP)
a) Defenisi HAP : infeksi akut pada parenkim paru setelah
pasien dirawat di rumah sakit > 48 jam tanpa dilakukan
intubasi dan sebelumnya tidak menderita infeksi
saluran nafas bawah.
b) Sasaran
c) Kriteria Inklusi :

5
Ditemukan minimal dari tanda dan gejala klinis:
 Demam (>380C) tanpa ditemui penyebab
lainnya
 Leukopenia (<4.000 WBC/mm3) atau
Leukositosis (> 12.000 SDP/mm3).
 Dan minimal disertai 2 dari tanda berikut:
 Timbulnya onset baru sputum purulen atau
perubahan sifat sputum.
 Peningkatan fraksi inspirasi oksigen > 0,2 dari
FiO2 sebelumnya.
d) Kriteria Eksklusi :
Pasien yang sudah pneumonia dari rumah atau luar
rumah sakit
e) Formula : (Jumlah pasien yang terinfeksi saluran nafas
/ Jumlah hari tirah baring) x 1000
f) Wilayah Pengamatan : Ruang rawat inap
g) Periode pelaporan : perbulan
h) Target capaian : 1 0/00

4) Plebitis
a) Defenisi Plebitis : pada daerah lokal tusukan infus
ditemukan tanda-tanda merah,seperti terbakar, bengkak,
sakit bila ditekan, ulkus sampai eksudat purulen atau
mengeluarkan cairan bila ditekan. .
b) Kriteria Inklusi : Pasien yang terpasang infus perifer
c) Kriteria Eksklusi : Pasien dengan plebitis sebelum
pemasangan IVL.
d) Formula : (Jumlah pasien yang terinfeksi plebitis /
Jumlah hari pemasangan infus perifer) x 1000
e) Wilayah Pengamatan: Ruang rawat inap
f) Periode pelaporan : perbulan
g) Target capaian : 1 0/00

5. Pelaksanaan Surveilans
Surveilans infeksi di RSUD Kabupaten Buton Selatan dilaksanakan
oleh Infection Prevention Controling Nurse (IPCN) dan dibantu oleh
Infection Prevention Controling Link Nurse (IPCLN) di masing-
masing ruang perawatan.
6. Pelaporan
Data surveilans diperoleh dari sensus harian, kemudian direkapitulasi
setiap bulan.Laporan surveilans direkap setiap bulan untuk ditentukan
insiden infeksi dan proporsi infeksi dalam bulan tersebut, kemudian
dilaporkan kepada Direktur bersama laporan kegiatan PPI selama
sebulan bersangkutan dalam bentuk Laporan bulanan komite
pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit.Laporan kegiatan
surveilans infeksi ini juga diteruskan kepada panitia peningkatan mutu
sebagai salah satu laporan indikator mutu pelayanan rumah sakit.

6
7. Format pelaksanaan surveilans terdiri dari :
a. Format sensus harian kejadian infeksi di tiap ruang perawatan
Format sensus harian diisi jumlah kejadian infeksi selama satu
bulan di unit tersebut dari jumlah tindakan atau hari dari
indikator mutu infeksi.
b. Format pelaporan resiko infeksi Format pelaporan resiko
infeksi diisi jika terjadi suatu kejadian infeksi di unit
perawatan.
c. Format rekapitulasi kejadian infeksi Format rekapitulasi
kejadian infeksi merupakan hasil rekapitulasi sensus harian
kejadian infeksi selama satu bulan dari seluruh unit perawatan.
d. Laporan insiden rate infeksi. Laporan insiden rate infeksi
merupakan hasil olahan data kejadian infeksi yang dipaparkan
berdasarkan insiden rate.
e. Format daftar tilik Format daftar tilik adalah untuk merupakan
pemantauan dan pengawasan terhadap tindakan-tindakan
keperawatan yang memungkinkan terjadinya resiko infeksi di
seluruh unit perawatan.

7
BAB IV
DOKUMENTASI

1. Format surveilance, yang berisi :


a) Infeksi aliran darah perifer ( IADP )
b) Hospital Assosiated Pneumonia ( HAP )
c) Infeksi saluran kencing pada pemasangan kateter urin / Catheter
Associated Urinary Tract infections ( CaUTI )
d) Infeksi Daerah operasi ( IDO ) / Surgical Site Infection ( SSI )

2. Tulis Ruangan dan Bulan pada formulir surveillans


3. Pengisian formulir surveillans pengendalian dan pencegahan infeksi
Diisi oleh IPCLN setiap hari dan dievaluasi oleh IPCN
4. Pengisian dilakukan setiap hari sesuai dengan tanggal dan variabel
yang ditentukan
5. Data pasien tersebut di kumpul di IPCN setiap awal bulan berikutnya
untuk direkap

8
PEMERINTAH KABUPATEN BUTON SELATAN

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


Jalan Gajah Mada Nomor ..... Telp ..../Fax (0402)
Email : rsudbusel@gmail.com
BATAUGA

KEPUTUSAN DIREKTUR

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN BUTON SELATAN

NOMOR : /2019

TENTANG

PEMBERLAKUAN PANDUAN SURVEILANCE PADA RSUD

KABUPATEN BUTON SELATAN

DIREKTUR RSUD KABUPATEN BUTON SELATAN

Menimbang : a. bahwa untuk keberhasilan pelayanan pasien di


RSUD Kabupaten Buton Selatan, demi
meningkatkan pelayanan khususnya terhadap
pelayanan di Komite Pencegahan Pengendalian
lnfeksi (PPI), maka diperlukan Panduan
Surveilance;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, maka perlu menetapkan
Keputusan Direktur Utama tentang Pemberlakuan
Panduan Surveilance pada RSUD Kabupaten
Buton Selatan
Mengingat : 1. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 H dan Pasal
29;
2. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang
Praktik Kedokteran;
3. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang
Rumah Sakit
4. Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
129/Menkes/SK/11/2008tentang Standar Pelayanan
Minimal Rumah Sakit;

9
5. Peraturan Menteri Kesehatan No 27 Tahun 2017
tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian
Infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Lainnya;
6. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No1116
Tahun 2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan
Surveilans Epidemilogi Kesehatan;
7. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No 1479
Tahun 2003 Tentang Surveilans Terpadu Penyakit;

MEMUTUSKAN
MENETAPKAN : KEPUTUSAN DIREKTUR RSUD KABUPATEN
BUTON SELATAN TENTANG PEMBERLAKUAN
PANDUAN SURVEILANCE DI TIM PPI RSUD
KABUPATEN BUTON SELATAN
KESATU : Pemberlakuan panduan surveilans sebagaimana
tercantum pada lampiran surat keputusan ini
KEDUA : Pemberlakuan Panduan Surveilance sebagaimana
dimaksud dalam diktum Kesatu agar digunakan
sebagai acuan di dalam melakukan Pelayanan di
lingkungan RSUD Kabupaten Buton Selatan
KETIGA : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan

Ditetapkan di Batauga

Pada Tanggal 10 Juni 2019

Direktur

RSUD Kabupaten Buton Selatan

dr. Frederik Tangke Allo, Sp.B

NIP. 19690911 200112 1 003

10
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, bahwa ”Panduan


Surveilance Infeksi Rumah Sakit (HAI’s) di RSUD Kabupaten Buton Selatan”
telah selesai dan dapat disusun dengan baik. Panduan surveilans infeksi rumah
sakit (HAI’s) merupakan panduan dalam pelaksanaan kegiatan pengumpulan data
tentang infeksi yang ada di rumah sakit. Proses pengumpulan data sampai dengan
evaluasi bisa tersusun dengan baik dengan adanya panduan yang ada.
Dalam kesempatan yang baik ini kami mengajak semua pihak yang terkait
untuk bersama-sama dapat memberikan masukan yang membangun demi
kesempurnaan buku panduan ini, kritik dan saran sangat kami harapkan agar
kedepannya dapat menjadi lebih baik lagi. Tak lupa kami sampaikan ucapan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu
menyelesaikan penyusunan buku panduan ini. Semoga buku panduan survailans
ini dapat bermanfaat dalam pelaksanaan kerja di lingkungan RSUD Kabupaten
Buton Selatan khususnya di Tim PPI.

Batauga 10 Mei 2019

TIM PPI RSUD Kabupaten Buton Selatan

11
PANDUAN SURVEILANS

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


KABUPATEN BUTON SELATAN
2019
12
13