Anda di halaman 1dari 2

Sekarang sudah menunjukkan pukul 5 pagi.

Evans masih tidur terlentang diranjangnya dengan tangan


kanan dimatanya. Sebenarnya Evans sebenarnya sudah bangun dari tadi. Tapi dia masih enggan untuk
bangun dari ranjangnya itu.

Evans tampak meringis sedih saat Evans mengingat kejadian kemaren malem dia melihat Bela dan Arcel
berciuman. Tapi sesaat kemudian dia tersenyum. Dia mengingat saat Sia dengan sok kuatnya berjinjit
waktu dia menangis dipelukan Sia tanpa protes. Padahal Sia pasti merasa nggak nyaman dan sakit
dikakinya.

“Ih bodoh banget Si. Udah tau bakalan jadi sakit begitu. Hahahaha” Ujar Evans . Dia tertawa sambil
memeluk bantal guling disampingnya. Evans menenggelamkan wajahnya di guling itu saat dia tertawa.
Biar nggak kedengeran sama mama pikir Evans.

Perlahan dipeluknya erat guling itu seakan guling itu Sia. Evans sekarang sudah merindukan pelukan
hangat dan nyaman Sia. Evans mengembuskan nafas panjang, Dia mulai membuka matanya kemudian
duduk.

“Mari kita pergi ketemu Siaaaa” Ujar Evans dengan riang melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.

***

“Kemaren maen kemana aja sama Evans?” Tanya Mama Sia. Sekarang hanya mereka berdua dimeja
makan. Ayah Sia sudah berangkat pagi sekali keluar daerah.

“Aku kerumah Evans, terus abis itu ke kafe, abis itu ke pasar malem mom” Jawab Sia sambil mengunyah
roti selai. Sia teringat sesuatu. Ia ingat apa yang dikatakan Mama Evans kemaren.

“Mom. Dapet salam sama mamanya Evans. Namanya Mama Kate. Mom kok bisa kenal sama mamanya
Evans?” Tanya Sia penasaran. Mama Sia tampak kaget mendengar nama Kate disebut.

“Siapa nama keluarganya Evans?” Tanya Mama Sia

“Kalo nama Evans itu Evans Rhys Pratama. Berarti nama keluarganya Pratama Mom. Mom belum jawab
kok bisa kenal mamanya Evans” Ujar Sia yang saat ini sangat penasaran.

“Hmmmm. Sebenernya itu rahasia pekerjaan Mom” Jawab Mama Sia ragu.

“Kata Mama Kate, aku disuruh tanya langsung sama Mom” Ujar Sia. Mama Sia tampak berikir apakah dia
akan menceritakan masalah pasiennya itu atau tidak.

“Kamu inget alasan Mom ajak kamu ikut Dad pindah ke Indonesia karena apa?” Tanya Mama Sia

“Inget. Karena Dad mau perluasin bisnisnya sama Mom ada pasien yang harus dikontrol dari deket disini”
Jawab Sia.

“Nahhh Kate itu pasiennya Mom. Dia sebenernya sedang stress bahkan hampir bunuh diri. Kate udah
sering nyayat tangannya kakinya dan lain-lain. Kamu sering-sering main kerumahnya Evans ya. Kasi tau
juga Evans sering-sering tinggal dirumah perhatiin Mamanya” Jelas Mama Sia.

“Astaga kok bisa gitu Mom? Iya deh Sia bakalan sering main kesana deh Mom” Ujar Sia.
“Hmmmm itu urusan rumah tangganya Kate si. Sebenernya papanya Evans itu bukannya pergi bisnis tapi
dia pergi nemuin selingkuhannya. Papanya Evans udah lama nggak pulang kerumah. Udah satu tahunan.
Kamu jaga Evans juga ya. Mom titip Evans. Kasian anak itu. Dia nggak tau apa-apa tentang masalah
keluarganya itu” Ujar Mama Sia.

Sia tampak kaget. Udah masalah persahabatan belum lagi masalah keluarganya Evans. Gimana nanti kalo
Evans tau masalah keluarganya itu. Apa dia mampu buat Evans bisa bertahan waktu dia tau masalah
keluarganya itu? Kenapa rasanya dia sekarang pengen peluk Evans buat jaga Evans? Itu pikir Sia saat ini