Anda di halaman 1dari 4

“Ehh ehh mau kemana? Kok malah ninggalin gitu si” Ujar Evans sambil cengengesan.

Jelas Evans tau


kalau Sia sedang salah tingkah karena kelakuannya tadi

“Au ahh nyebelin banget si” Ujar Sia sambil mempercepat langkahnya menjauhi Evans.

Tapi oh tidak semudah itu Ferguso. Evans yang merupakan kapten basket dan memiliki rekor pelari cepat
dengan cepat mengejar Sia. Kemudian Evans menarik tangan Sia. Baiklah salahkan Sia yang lemah ini.
Karena kelemahannya membuat dia berbalik menghadap kearah Evans. Badannya yang ditarik oleh Evans
pun malah berbenturan dengan badan Evans. Segitu lemahnya Sia ini.

“Jangan lari dong. Aku nyebelin kenapa si?” Ujar Evans sambil mengelukis senyum diwajahnya. “Hmmm”
lanjut Evans saat dilihatnya Sia sama sekali tak merespon pertanyaannya tadi.

Tidak. Jangan salahkan Sia. Salahkan jantungnya yang sedari tadi rasanya mau loncat dari tempatnya.
Seakan tau hal itu tidak baik untuk kesehatan jantungnya, Sia pun melangkah mudur menjauh dari Evans.

“Hmmmm” Sia mulai berfikir alasan apa yang akan ia gunakan. Tidak mungkinkan kalo Sia mengaku kalo
dia salah tingkah karena ulah Evans tadi.

“Itu kamu tadi. Hmmmm. Ng ngambil permen kapas a aku. Kan aku jadi kesel makanan aku diambil tiba-
tiba” Ujar Sia terbata-bata.

Evans mendengar penjelasan Sia pun hanya tersenyum. Sia terlihat lucu saat ini. Bagaimana bisa Sia
berusaha berbohong ketika dirinya saja nggak pintar berbohong. Sesaat kemudian Evans terkekeh.

“Kamu nggak pinter boong Sia” Ujar Evans kemudian.

Bibir Sia kini sebisa mungkin Sia majukan kedepan. Mata nya melotot tajam. Seakan menampilkan bahwa
dirinya sedang marah karena ketauan bohong oleh Evans. “Nyebelin banget si” cicit Sia kemudian
kembali berjalan mendahului Evans. Sekali lagi Evans terkekeh. Kemudian Evans merangkul Sia.

“Udah nggak usah marah. Aku minta maaf deh” Ujar Evans. “Kamu mau apa lagi?” Tanya Evans

“Nggak ada” Ketus Sia. “Udah dong jangan marah ya. Mau es krim?” Tanya Evans.

Setelah mendengar kata es krim itu, wajah Sia langsung berubah sumringah.

“Mana? Mana es krimnya? Mau mau” Ujar Sia memperlihatkan puppy eyesnya kepada Evans.

“Tuhan kenapa dia bisa imut banget si. Astaga. Kontrol Van. Jangan salah tingkah lagi depen dia” Batin
Evans.

“Itu disebelah sana ada biasanya jualan es krim” Ujar Evans menunjuk kearah depan yang dipenuhi oleh
jualan-jualan.

“Ayok kita kesana Van” Ujar Sia sambil bergelayutan ditangan Evans dan berusaha membuat langkah
Evans lebih cepat. Satu yang Evans tau sekarang, Sia akan kembali ceria kalau sudah diberikan es krim.

Saat ini mereka sedang berjalan sambil memakan es krim milik mereka masing-masing. Tadinya Evans
hanya memesan satu es krim untuk Sia. Tapi jelas Sia menolak dan meminta dua saja. Satu untuk Sia satu
untuk Evans. Sia tidak ingin kejadian permen kapas tadi terulang kembali. Mereka sempat berdebat
perihal berapa es krim yang harus dibeli.

“Masa seorang Evans Rhys Pratama nggak mampu beli dua es krim sih” itu kata Sia yang mampu
membuat Evans langsung mengelak kemudian membeli dua es krim.

Sia hanya mengikuti Evans di sampingnya dengan tangan kanannya yang masih dipegang oleh Evans.
Evans dengan asik bercerita ria kepada Sia tentang masa-masa dulu dia masih kecil dan menghabiskan
waktu di pasar malam seperti ini bersama dengan Mama dan Papanya.

“Aku dulu pernah naik itu. Astaga padahal dulu itu keliatannya tinggi. Tapi sekarang keliatan pendek
banget. Dulu aku naik itu sama mama papa. Itu permainan favorite aku dulu. Walaupun ngeri rasanya
bisa naik keatas begitu. Tapi akan nggak takut karena mama aku meluk aku” Itu salah satu cerita Evans
kepada Sia sambil menunjuk biang lala yang ada disebelah kanan mereka.

Sia senang bisa mendengar Evans bercerita bahagia seperti ini. Kapan lagi bisa liat dia bahagia begini,
pikir Sia.

Evans terus saja menceritakan semua detail detail masa lalunya bersama keluarga kecilnya. Dan tiba-tiba
Evans berhenti. Dan diam. Berhenti berjalan dan berhenti bicara. Tiba-tiba mulut Evans kicep sendiri.
Evans mempererat pegangan tangannya pada Sia.

“Nih anak kenapa tiba-tiba diem?” Batin Sia sambil mengernyitkan alisnya bingung.

“Astaga mimpi apa gue semalem ngeliat orang ciuman secara live kaya gini?” Batin Sia saat didapatinya
ada sepasang kekasih yang sedang berciuman tak jauh dari tempat mereka berada.

“Ehh tapi tunggu deh. Kok kaya nggak asing gitu ya?” Batin Sia kembali. Dipandanginya lekat-lekat
sepasang kekasih itu.

Dan

“Astaga. Itu kan Arcel sama Bela” Batin Sia kembali. Sia langsung teringat sosok disampingnya adalah
Evans. Sesaat kemudian melihat arah pandang Evans saat ini. Benar saja. Pandangan Evans sekarang
tepat melihat Bela dan Arcel didekat sana.

Seketika pandangan Evans menjadi gelap. Bukan gelap si lebih tepatnya terhalang. Terhalang oleh kedua
tangan kecil Sia.

Sia saat ini sudah ada dihadapan Evans Sia tampak sangat gelisah. Kakinya tampak tak bisa diam barang
sekejap. “Oh ayolah Cel, Bel. Bisa nggak kalian pegi dari sini. Please.” Batin Sia. Sia tak tau harus
melakukan apa saat ini. Kepalanya menoleh kearah dimana Bela dan Arcel berada. Batinnya tetap
memohon dan berdoa agar kedua orang itu cepat pergi dari hadapannya.

Ayolah Sia. Arcel dan Bela bukan setan yang akan pergi saat kamu melantunkan doa

Dan doanya terkabul. Arcel dan Bela sudah beranjak pergi dan menghilang. Saat dirasanya keadaan
aman Sia menghela nafas pelan. Dilihatnya tangannya yang masih menghalangi mata Evans. Perlahan
diturunkannya tangannya itu.

Lihatlah ekspresi Evans saat ini. Tatapannya begitu tajam. Rahangnya mengeras. Wajahnya seketika
sangat sangat dingin. Bahkan saking dinginnya, wajahnya itu tak tersentuh. Kemana hilangnya wajah
yang seakan bercerita dengan ceria tadi? Hilang ntah kemana. Sudah lenyap!

Evans yang merasa sudah tak ada halangan dimatanya saat ini menatap tajam sosok gadis yang berdiri
didepannya ‘Sia’. Sekejap kemudian, Evans berjalan melewati Sia yang masih diam didepannya tadi.

Bagi orang mungkin Evans tampak seperti orang tak tersentuh, dingin, dan tegar. Tapi dimata Sia, Evans
tampak sangat rapuh. Sangat sangat rapuh. Evans sangat membutuhkan sandaran saat ini.

Sia berbalik melihat punggung Evans yang mulai berjalan. Sia mencoba sekuat tenaganya untuk menarik
tangan Evans. Untunglah Evans dapat berbalik menghadap Sia saat ini. Ntah itu karena Sia yang memang
kuat atau Evans yang terlihat tegar tapi sangat rapuh itu.

Sia melangkahkan kakinya selangkah kemudian menarik Evans dalam pelukannya. Tidak kasar dan tidak
memaksa. Sangat halus, pelan, dan juga hangat.

“Gua nggak papa” Ujar Evans berusaha melepas pelukan Sia saat ini. Nahh kan balik lagi Evans yang pake
lo gua. Labil emang ini anak mah.

“Seberapa sering lu boongin perasaan lu. Sampe lu kaya udah biasa boong kaya gini” Ujar Sia
mengeratkan pelukannya pada pinggang Evans. Dijinjitnya sedikit kakinya agar Evans mampu menggapai
bahu pendeknya itu.

“Diam dan keluarin semuanya. Gue udah pernah bilang kan?. Hati lu bukan terbuat dari besi Van” Lanjut
Sia.

Perlahan badan Evans yang tadinya tegang mulai relax. Kepalanya yang tadinya tegap mulai mencari
sandaran pada bahu Sia. Tangan Evans yang tadinya bebas berada di samping tubuh Evans kini memeluk
badan kecil Sia. Tak butuh waktu lama bahu Sia kini terasa sangat basah. Evans memang diam tapi dia
menangis kencang dalam diamnya itu.

Evans merasakan hangat saat dipelukan Sia saat ini. Evans tidak bohong. Rasanya dia seperti terlindungi
dalam pelukan Sia. Tepukan-tepukan kecil yang dirasakan Evans pada punggungnya dari tangan Sia
semakin membuat Evans merasakan kenyamanan yang teramat saat ini.

Hilang sudah pertahanan Evans untuk menutupi perasaannya. Kesal, marah, sedih, kecewa semua
bercampur jadi satu. Tapi sesaat kemudian Evans sadar ada timbul sedikit rasa bahagia bahwa saat ini Sia
yang memeluknya dan seakan membantu Evans keluar dari jurang kesakitan ini.

***
Cukup lama mereka berpelukkan. Bagi Evans pelukan itu sangat amat nyaman rasanya. Berbeda dengan
Sia. Sia merasa kakinya seakan mau patah karena berjinjit dalam waktu yang lama. Akhirnya Evans
melepas pelukannya pada Sia. “Ahh Akhirnya”Batin Sia. Sia sebenarnya sangat-sangat ikhlas bila Evans
menangis dalam pelukannya dan membasahi bajunya saat ini. Tapi masalahnya kakinya udah berasa mau
patah.

Sia kembali keposisi berdiri sempurnanya.

“Pulang. Ntar dad marah”Ujar Evans setelah melihat jam pada tangannya.

“Nggak papa kok. Tadi udah sms dad sama mom”Jawab Sia cengengesan. Tadi Sia memang sempat diam-
diam sms mom dan dad nya tanpa melepaskan pelukannya.

“Ayok”Ujar Evans sambal berjalan meninggalkan Sia

“Balik lagi dah dinginnya” Batin Sia. Sia mencoba berjalan mengejar Evans. Tapi, sesekali Sia berhenti
untuk memegang kakinya yang masih sakit.

Evans yang merasa tak ada Sia yang mengikutinya, melihat Sia dibelakang yang sedang memegang
kakinya dan meringis. Alisnya mengernyit bingung. Sesaat kemudian Evans teringat sesuatu. “Pantesan
badannya berasa tinnggian. Jinjitan ternyata tadi”Batin Evans.

Evans melangkahkan kakinya mendekat ke Sia. Dia berjongkok didepan Sia yang memegang kakinya

“Naik”Suruh Evans.

“Ehhh. Nggak papa kok”Tolak Sia

“Aku nyuruh kamu. Bukan minta sama kamu. Jadi nggak ada penolakan”Ujar Evans tegas.

Akhirnya Sia naik kepunggung Evans. Tangan Sia dilingkarkan keleher Evans sedangkan Evans menyangga
kaki Sia agar tidak jatuh.

“Kenapa jinjit si tadi. Kan jadi sakit gini. Kenapa juga tadi nggak bilang kalo kakinya udah sakit. Kan aku
bisa berenti meluknya”Protes Evans pada Sia sambil melangkahkan kaki menuju parkiran dengan Sia
dalam gendongannya.

“Aku jinjit aja kamu masih nunduk buat nyandar di bahu aku. Apalagi nggak jinjit. Bisa-bisa kamu sakit
punggung lagi. Aku cuman mau kamu nyaman waktu kamu lepas sakit kamu itu” Jawab Sia.

“Cihhh. Makanya badan itu jangan pendek. Tinggiin kek”Ujar Evans.

“Makanya badan itu jangan tinggi. Pendekkin kek”Ujar Sia mengikuti gaya bicara Evans tadi.

“Ck Shmpp”Evans memberi isyarat pada Sia untuk diam saja.

“Lagian nih ya. Aku itu tinggi. Kamunya aja yang kaya tiang bendera”Protes Sia tak mau diam.

Evans hanya menghela nafasnya pelan. Memang benar katanya Sia ini. Sia bahkan lebih tinggi daripada
Bela. Mungkin memang benar kata Sia. Ternyata bukan cuman gantengnya aja yang keterlaluan. Tapi
tinggi badannya juga keterlaluan.