Anda di halaman 1dari 3

1 tahun kemudian

Setelah satu tahun berlalu, kondisi mom Evans sudah sangat membaik. Walaupun tidak bisa dikatakan
sembuh 100% tapi kondisinya sudah normal. Mom Sia dan Sia benar-benar merawatnya dengan baik.

Iya, mereka tinggal disana bertiga. Kadang papa Sia datang sesekali. Tapi waktu mereka habiskan lebih
banyak bertiga.

Selama satu tahun ini, Sia hanya berkomunikasi dengan Evans lewat daring. Tanpa ada bertemu
langsung. Rindu? Tentu. Rindu mana bisa terbayarkan hanya lewat tukar pesan atau hanya video call.
Sudah berulang kali Sia mengucapkan kata rindu pada Evans tapi Evans menanggapinya dengan
becandaan mesum nya. ‘Kamu mau cepet cepet aku kawinin ya? Nggak sabar kan kamu? Sabar ya.
Pulang-pulang dari sini aku langsung bakalan kawinin kamu’ seperti itu misalnya.

Mom Evans resmi mengirimkan surat peceraiannya satu bulan yang lalu. Tapi Papa Evans tak kunjung
memberi jawabannya. Seolah bungkam dan tak mau bercerai dengan istri pertama nya itu. Padahal dulu
dia yang paling gencar mengirimkan surat perceraian itu.

**Amerika**

Lauren dan papa Evans sedang menyerang argumentasi. Berawal dari Lauren yang meminta suaminya
untuk cepat-cepat menandatangani surat perceraiannya dengan istri pertamanya. Tapi ditolak mentah-
mentah oleh suaminya.

“Kamu kenapa sih masih nggak mau tanda tangani surat itu? Kamu masih cinta sama dia? Iya? Aku
kurang ngasih kamu apa lagi sih?” kesal Lauren

“Harusnya aku yang bilang itu Lauren. Aku kurang ngasih kamu apa lagi? Dari awal aku udah pernah
bilang kalo pernikahan ini cuman buat nyelametin perusahaan papa kamu yang hampir gulung tikar
karna dia sahabat aku. Dari awal nggak ada rasa cinta yang aku rasain sama kamu. Cinta aku cuman
sama Mom Evans saja. Jadi berbicara seolah kita menikah karna saling mencintai Lauren. Aku sudah
Imuak mendengar itu”

“Kamu terlalu banyak menyakitiku. Kamu nggak pernah ngasi aku hati kamu. Okay mungkin itu memang
kesepakatan kita. Tapi gimana dengan lahir batinku? Kamu sama sekali nggak pernah biarin aku
ngelayani kamu. Kamu bilang sama mereka kalo aku itu mandul. Padahal sekalipun kamu nggak pernah
mau sentuh aku. Aku memang berlimpah akan harta yang kamu kasih. Tapi bukan itu yang aku mau”

“Kamu orang teregois yang pernah aku temui lauren. Bahkan keluarga kamupun juga egois. Setelah aku
bantu papa kamu, Setelah papa kamu mampu lebih sukses daripada aku, kamu dan papa kamu malah
nyerang aku. Nyuruh aku buat ceraiin Momnya Evans. Bahkan sampe ngancem aku. Aku muak Lauren.
Kamu serakah. Dan sampai kapanpun aku nggak akan mau mencintai atau membuat keturunan dari
orang serakah seperti kamu”

“Kalau aku serakah, lalu kamu apa? Hmm? Istrimu itu sangat bodoh mau mempercayai semua yang
sudah aku rencanakan. Harusnya aku berhasil membunuhnya saat dia disini”
Papa Evans yang mulai tersulut emosi pun hendak menampar Lauren. Tapi sebelum tangannya
mengenai pipi Lauren, sebuah tangan menahan tangan papa Evans

“Papa jangan mengotori tangan papa dengan menampar makhluk kotor seperti dia. Biar aku dan kakek
yang urus dia” ujar evans. Evans lah yang menghalangi tangan papanya memukul Lauren.

“Kakek?” cicit papa Evans.

“Anakku apa kamu baik-baik saja? Maaf kan papa yang mempercayai semua rumor itu. Sekarang biar
kakek yang akan urus ‘mereka’. Kamu hanya perlu menemui istrimu dan menyelesaikan semua
kesalahpahaman yang ada” ujar Kakek Evans dari arah belakang.

Tadinya Evans hanya ingin mennton drama dari Lauren, tapi melihat papa nya yang akan menampar
Lauren, Evans tak akan tinggal diam. Dia tidak ingin papanya menyentuh Lauren, walaupun hanya
seincipun. Biar tangan itu akan papanya gunakan untuk memohon maaf kepada mom nya nanti.

Sebenarnya Evans sudah mencurigai hubungan tidak wajar antara papanya dan Lauren selama satu
tahun lebih ini. Papanya terlihat enggan bertemu atau bahkan menatap Lauren. Atau papanya yang
terlalu menuruti semua keinginan Lauren. Evans memang tak begitu lama tinggal bersama papa nya
dulu. Tapi jelas dalam ingatannya bahwa papanya bukan orang yang seperti itu.

Setelah menyelidiki semuanya, Evans mulai mengerti jalan hidup keluarganya itu. Lauren adalah anak
dari sahabat papanya yang sudah papanya anggap seperti saudaranya. Sahabatnya itu mengalami
kerugian besar dan hampir gulung tikar. Tentu papa Evans sebagai sahabat dekatnya mau
membantunya. Tapi akibat satu dan lain hal, pertolongan itu harus dilandaskan pernikahan. Papanya
menikahi Lauren tanpa cinta. Mereka tinggal dikamar yang berbeda bahkan dengan letak kamar yang
sangat jauh.

Setelah kurang lebih 2 tahun, perusahaan sahabat papanya itu berkembang pesat. Bahkan lebih besar
daripada perusahaan papanya. Awalnya papanya ikut senang karna bisa menceraikan Lauren dan
kembali dengan istrinya saat itu. Karna itu memang niat awalnya dan itu juga kesepakatan yang mereka
buat,

Tapi tiba-tiba saja sahabatnya itu mengancamnya jika menceraikan Lauren dan memaksanya
menceraikan istri sahnya. Untungnya mom Evans selalu menolak perceraian itu. Papanya sangat
bersyukur dengan hal itu. Karena papanya masih sangat mencintai istri nya itu. Baginya istri yang ia
miliki hanya mom Evans saja.

Setelah bertahun tahun ia dihantui dengan perintah-perintah Lauren, papanya membawa serta Evans ke
Amerika. Feelingnya mengatakan kalau ia harus membuat Evans menjadi penerusnya sebelum papa
Lauren itu mengambil alih semua perusahaannya. Tapi Evans berubah menjadi sosok yang berbeda
dengan yang ia ketahui dari para penjaga yang dulu mengikuti Evans saat di Indonesia. Bahkan istrinya
hampir dibunuh oleh Lauren.

Tentu saja papanya tau itu. Makanya ia meminta tolong kepada keluarga momnya yang ada diluar
negeri untuk tinggal di Amerika sementara. Saat itu Evans hanya tau kalau keluarga mom nya datang
karna saat itu sepupunya akan melanjutkan kuliah disana. Tanpa Evans tau itu rencana papa nya untuk
melindungi momnya.
Hingga papanya mendapatkan pengajuan perceraian dari istrinya. Keluarga Lauren memaksa papanya
untuk segera menandatangani perceraian itu. Tapi hal itu ditentang keras oleh papanya. Biarlah ia
menyerah. Kalau sampai perusahaannya hancur karna ulah papa Lauren, ia tidak akan melakukan
apapun. Papanya menyerah dengan semuanya. Hidupnya sudah terlanjur hancur. Ia hanya ingin
mempertahankan pernikahannya dengan istrinya.

Tapi ternyata Tuhan membantunya. Evans mampu membawa kakeknya ke Papanya. Setelah bertahun-
tahun kakeknya tidak mau menemui papanya dan keluarganya karna papanya menikah dengan wanita
lain. Bagi kakeknya hanya mom Evans lah satu-satunya wanita yang cocok untuk papanya dan cocok
masuk ke keluarganya.

Tapi Kakeknya sekarang disini. Membela mati-matian papanya setelah Evans menceritakan hal yang
sebenarnya pada kakeknya. Kakeknya sudah sangat tua, tapi kebijaksanaan dan ketegasannya tak
pernah lekang oleh umurnya. Dengan perusahaan dan kekayaan yang kakeknya miliki bukan hal sulit
untuk membantu papanya dan melenyapkan keluarga Lauren. Evans sangat bersyukur akan fakta itu.

Masalahnya bisa cepat ia selesaikan dan Evans bisa cepat kembali ke Indonesia untuk melamar Sia.

“Pergilah nak, bawa Evans ke Indonesia. Papa sudah menjelaskan kesalahpahaman kalian secara umum.
Sekarang tugas kamu yang meyakinkan istri kamu. Biar mereka urusan papa. Nanti setelah selesai papa
akan menyusul ke Indonesia” Jelas kakek Evans memcahkan lamunan Evans.

“Pa, terimakasih sudah mau membantu dan mempercayaiku. Aku pergi dulu” ujar papa Evans pergi
disusul Evans.

“Evans, maafkan papa yang nggak bisa jadi sosok papa yang kamu inginkan. Papa menyesal” ujar papa
Evans

“Sudahlah pa. Evans sudah memaafkan papa saat Evans tau semua kebenaran itu. Papa jangan khawatir.
Aku akan bantu papa kembali bersama mom” jawab Evans.

“Terimakasih nak, terimakasi sudah mau memaafkan papa dan mau membantu papa, sekarang saatnya
kita mengejar kebahagiaan kita. Papa mengejar mom kamu, dan kamu mengejar Sia kekasih kamu”

“Papa tau?” cicit Evans

“Of course. Apa yang papa nggak tau dari kamu nak? Hmm?”

Akhirnya Evans menemukan titik di mana dia akan merasakan kehangatan keluarga seutuhnya. Sebentar
lagi. Mereka hanya butuh berjuang sedikit lagi untuk mencapai kebahagiaan yang mereka impikan.