Anda di halaman 1dari 5

Seperti biasa, kini mereka berempat sekarang sedang duduk dikantin.

Evans dan Arcel baru saja duduk


setelah membeli beberapa makanan pesanan nyonya ratu mereka masing-masing. Siapa lagi kalau bukan
Sia dan Bela.

“Eittts tunggu dulu” Ujar Evans menghentikan pergerakan Sia yang mulai mengaduk makanannya untuk
ia makan.

“Apa lagi sih” Ujar Sia kesal.

Lagi-lagi Evans mengeluarkan hapenya kemudian membuka aplikasi kamera. Diarahkannya hapenya itu
menjauhi wajahnya. Kemudian mencari angle yang bagus agar hanya terlihat wajah Evans dan Sia.

“Ehh eh fotoan kok nggak ngajak ngajak si” ujar Arcel celingak-celinguk agar wajahnya bisa keliatan
dikamera Evans. Bela yang melihat itupun ikut-ikutan celingak-celinguk.

“Apaan si kalian nih. Gua mau fotoan berdua aja sama Sia. Nggak boleh ada orang ketiga apalagi
keempat” Ujar Evans sambil menatap tajam kearah Arcel.

“Ihh pelit lu. Lu tu kaya anak kecil kecil yang baru pacaran itu loh” Geram Arcel

“Iya nih masa sahabat sendiri nggak boleh si” Ujar Bela ikutan geram

“Gak” Jawab Evans singkat. Sia pun melotot.

“Kasi aja si kita foto berempat. Kita kan nggak pernah foto berempat” Ujar Sia ikutan kesel liat Evans
yang alaynya pake banget.

“Aku kan cuman mau fotoan sama kamu berdua doang. Kalo berempat itu nanti momentnya beda.
Bukan sekarang. Sekarang aku cuman mau fotoan sama kamu” Jawab Evans.

Cekrek

Bukan. Itu bukan dari hape Evans. Tapi dari hape Arcel.

“Dahh ini foto kalian BERDUA” Ujar Arcel dengan penekanan pada kata berdua. Arcel sudah jengah
melihat mereka berantem cuma gara-gara foto berdua. Ya akhirnya dia aja yang fotoin mereka.

“Mana coba liat hasilnya Cel” Ujar Evans sambil menyodorkan tangannya. Arcelpun menyerahkan
hapenya ke Evans.

“Wihh bagus Cel. Pinter juga lu moto. Kirimin ke gua Cel” Suruh Evans pada Arcel

“Arcel gitu loh” Ujar Arcel sambil menaikkan dagunya sombong.

“Anjirrr songong lu kampret” Ujar Sia.


Evans memperlihatkan hasil foto tadi kepada Sia. Mereka terlihat tertawa sambil menunjuk foto disana.
Terlihat seperti pasangan yang sangat serasi dan bahagia.

“Yang, dulu waktu kita baru pacaran, aku nggak sealay itu kan” Ujar Arcel masih memperhatikan Evans
yang terlihat seperti orang baru pacaran. Padahal dia playboy loh.

“Nggak lah yang. Kan waktu kamu pacaran sama aku kamu udah DEWASA” Jawab Bela, tidak lupa dengan
penekanan

Evans yang mendengar itu sontak menatap Arcel dan Bela tajam.

“Dihhh dewasaan gua kemana-mana kali daripada curut itu” Ujar Evans tak terima dibilang Arcel lebih
dewasa daripada dia.

“Anjirr gua dibilang curut. Ehh kutu kuda lu sini” Ujar Arcel kemudian berdiri. Niatnya hanya bercanda
berantem sama Evans.

“Udah deh udah. Kita kapan makannya kalo kalian berantem mulu dari tadi. Keburu makanan gue
diludahin setan ini nggak dimakan-makan” Sia mulai jengah mendengar mereka berdebat.

“Anjirrr Sia bawa bawa setan lagi. Tapi ya bener juga si. Ini mie gua udah lembek. Udah ayok makan. Cel,
mending duduk deh anteng-anteng” Ujar Bela kemudian menarik Arcel kembali duduk.

Merekapun mulai menyantap makanan mereka. Hening? Ohh tidak mungkin. Arcel dan Evans terkadang
adu mulut tapi langsung kicep saat Sia dan bela melotot kearah mereka. Diam sesaat kemudian kembali
adu mulut dan lagi-lagi dihadiahi mata melotot dari pasangan mereka masing-masing. Begitu aja terus
sampai akhirnya sebuah suara menginstrupsi mereka.

“Orang yang udah punya pawang mah beda” Ujar salah satu laki-laki dibelakang Arcel dan Evans.

Evans dan Arcel secara bersamaan melihat kebelakang. “Apa lu bilang?” Ujar Arcel dan Evans bersamaan.

“Nggak kok ng nggak ada” Ujar anak laki-laki itu terbata-bata.

“Yak, nanti aku ada latian basket. Kamu mau pulang duluan atau nonton aku latian dulu?” tanya Evans
pada Sia.

“Nonton aja. Biar gua ada temen nungguin Arcel. Biar nggak ada yang berani deketin mereka juga” Usul
Bela pada Sia.

“hmmmm iya deh. Aku nonton aja” Jawab Sia.

“Uuuu yeay asik. Sekarang ada yang nemenin gua” Ujar Evans senang riang gembira.

***
Dan seperti percakapan mereka beberapa waktu lalu. Kini Sia dan Bel sedang duduk di tempat duduk
yang disediakan untuk penonton. Dan mereka duduk dipaling depan dengan tas olahraga Evans dan
Arcel di pangkuan masing-masing.

Terdapat banyak sekali siswi yang memilih menonton latian basket itu. Memang itu hanya latian bukan
lomba. Tapi karena anak basket rata-rata memiliki ketampanan diatas rata-rata dan belum lagi saat
bermain basket ketampanan mereka meningkat berkali-kali lipat terutama dengan keringat yang
mengucur deras membuat mereka tampak lebih seksi. Pemandangan itu sangat sulit untuk dilihat siswi-
siswi itu sehingga mereka rela pulang telat.

“Udah dulu deh latiannya. Permainan kita udah makin berkembang. Inget kita harus selalu kompak.
Bermain basket itu bukan individu tapi berkelompok. Jadi latian sampe disini. Hati-hati dijalan guys” Jelas
Evans selaku kapten basket pada teman-temannya itu.

Para pemain basket pun tampak bubar. Siswi yang sedari tadi menunggu dengan air minum ditangan
mereka bergegas berpencar mencari pemain basket favorite mereka.

Dan diantara siswi itu, mereka paling banyak mengerumuni Evans. Evans menemui Sia yang sudah berdiri
ditempat duduknya. Tampak siswi banyak sekali yang menyodorkan air minum untuk Evans. Tapi Evans
tampak tak berminat sedikitpun mengambil. Bahkan melirikpun tidak.

Evans hanya menunjuk tasnya kepada Sia dengan dagunya. Sia tampak bingung. Tapi sesaat kemudian Sia
mulai mengerti kemudian mengambil air yang ada pada tas Evans. Membuka tutupnya kemudian
menyodorkannya pada Evans

“Makasi sayang” ujar Evans sambil tersenyum kemudian meminum air tadi. Siswi yang melihat dan
mendengar panggilan sayang itupun terkejut kemudian pergi dari sana. Terdengar dumelan siswi-siswi
itu. Tapi Evans tak menghiraukan sedikitpun.

Evans tampak kaget ketika Sia dengan serius membersihkan keringat Evans dengan handuk kecilnya.

“Aku nggak seneng orang lain liat kamu keringet kaya gini” Ujar Sia disela-sela keseriusannya mengelap
keringat Evans.

“Kenapa?” Tanya Evans.

“Cuma aku yang boleh liat tampang seksi kamu ini” Jawab Sia. Seketika itu

Blush…..

Pipi Evans tampak memerah

“Ehh pipi kamu kenapa merah gini? Kamu kecapean ya main basket tadi? Kamu sakit ya?” Tanya Sia
terkekeh. Jelas Sia tau kalo Evans sekarang sedang blushing.

“Kamu yang buat gini ihh. Tanggung jawab kek” Protes Evans pada Sia.
Cekrek

Kali ini bukan Evans atau Arcel yang memoto. Tapi Sia. Sayang kan moment seperti ini diabaikan. Evans
terlalu imut saat seperti ini.

“Ihhh kok difoto si” Protes Evans kembali.

“Lucu tau kamu blushing gitu” Jawab Sia terkekeh.

“Ayo fotoan lagi. Tapi berdua” Ujar Evans. Evans mengeluarkan hapenya kemudian menyalakan kamera.
Diarahkan tangannya menjauhi wajahnya kedepan. Sia memeluk Evans dari belakang. Posisi Sia kini lebih
tinggi daripada Evans karena dia duduk dikursi penonton.

Sia memeluk leher Evans kemudian menempelkan wajahnya dirambut Evans sambil tersenyum manis.
Bahkan matanyapun hilang karena senyumannya itu.

Cekrek

Sekali lagi moment mereka berdua kembali terkenang dalam kamera.

“Kamu nggak jijik apa ngedusel di aku yang lagi keringetan gini?” Tanya Evans.

“Nggak kok. Aku seneng malah” Jawab Sia “Oh iya aku mau nanya dari tadi. Kamu mau ngapain si ngajak
aku fotoan mulu dari tadi?” Tanya Sia penasaran

“Penasaran ya? Hahaha. Ada deh. Liat aja nanti” Jawab Evans. “Udah yuk kita pulang” Ajak Evans
kemudian menggandeng tangan Sia

Dan motor Evans pun mulai membelah ramainya jalan dikota ini. Tentunya dengan kebisingan mereka
berdua. Sepertinya itu akan menjadi kebiasaan mereka ketika mereka bersama. Selalu berisik dan nggak
bisa diem.

***

“Mom, Sia pulaaaanggg” Teriak Sia sesampai dirumah.

“Loh nak Evans nya mana? Kok nggak disuru masuk?” Tanya Mama Sia sambil celingak celinguk kea rah
luar rumah.
“Evansnya pulang mom. Katanya lain kali aja mampir. Evans mau nemenin mamanya katanya. Yaudah ya
mom, aku mau mandi dulu. Capek nih” Ujar Sia pergi menuju kamarnya.

“Kamu nggak pergi kencan?” Tanya Mama Sia sedikit teriak agar suaranya didengar Sia.

“Nggak Mom. Hari ini banyak tugas. Aku juga mau istirahat. Capek” Jawab Sia dengan teriak juga.