Anda di halaman 1dari 15

Makalah

METODE PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

OLEH:

Nama :Darwisi sadawa

Prodi :Teologi

T/S :II

M.kuliah :Psikologi perkembangan

Dosen : Drs. TUMPAK MANURUNG, SH.M.Si

SEKOLAH TINGGI TEOLOGIA OIKUMENEINJILI

(STTOI) SIDIKALANG 2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadiran Tuhan yang maha esa, atas anugrahnya kepada
saya sehingga makalah ini saya kerjakan dengan baik. Ada pun kekurangan dalam penulisan
Metode psikologi perkembangan makalah saya ini, untuk itu saya sangat berharap untuk
kerja samanya. Ada baiknya jika saudara/saudari memberikan tanggapan atau masukan demi
kesempurnaan makalah ini, hanya ini yang bisa saya utarakan sebagai pendukung kebaikan
kita kedepan, dalam pengembangan pembuatan makalah, dengan baik untuk itu marilah kita
saling melengkapi satu dengan yang lain, supaya menjadi lebih baik lagi. Sekian dan terima
kasih, Tuhan Yesus memberkati…..

PENULIS

2
Darwisi sadawa

Daftar isi

Daftar isi………………………………………………………………………………

BAB I: PENDAHULUAN

1. Latar belakang………………………………………………………………………

2. Rumusan masalah……………………………………………………………………

3. Tujuan…………………………………………………………………………………

BAB II: PEMBAHASAN

Metode psikologi perkembangan………………………………………………………

a. Pendekatan yang umum……………………………………………………………..

b. Metode spesifik………………………………………………………………………

c. Metode eksperimental ………………………………………………………………….

BAB III

KESIMPULAN………………………………………………………………………….

3
BAB II

Metode psikologi perkembangan

1.4 Metode psikologi perkembangan

Dalam tulisan ini pembicaraan mengenai metode hanya dimaksudkan untuk


memberikan sekedar pengertian bagaimana para psikolog perkembangan melakukan tugas
mereka. `]. Beberapa metode dimaksudkan untuk memberikan lebih banyak pengertian akan
gejala perkembangan, beberpa metode lain lagi memberikan pengertian bagaimana caranya
mengatasi hambatan dalam proses perkembangan. Dapat pula dibedakan antara pendekatan
yang lebih umum dan metode yang lebih spesifik. Pendekatan yang lebih umum memberikan
pengertian akan keseluruhan proses perkembangan atau beberapa aspeknya, misalnya
perkembangan intelektual, atau pengertian akan arti faktor endogen dan aksogen bagi
perkembangan seseorang. Termasuk metode yang speksifik adalah cara-cara khusus yang
dipakai untuk mengetahui gejala perkembangan yang sedang timbul.

1.4.1 Pendekatan yang umum

Dalam uraian di atas telah disebutkan bahwa pendekatan yang umum ini dibedakan
antara dua kelompok: kelompok yang satu memberikan lebih banyak data mengenai
keseluruhan perkembangan atau beberapa aspeknya, kelompok yang lain meninjau apa yang
dipengaruhi oleh faktor lingkungan, khususnya faktor kebudayaan.

1.4.1.1 Metode longitudinal vs. transversal

Yang disebut metode longitudinal adalah cara menyelidiki anak dalam jangka waktu
yang lama, misalnya mengikuti perkembangan seseorang dari lahir sampai mati, misalnya
mengikuti perkembangan seseorang dalam sebagian waktu hidup, yaitu misalnya selama
masa kanak-kanak atau selama masa remaja. Dengan metode ini biasanya diteliti beberapa

4
aspek tingkah laku pada satu atau dua orang yang sama dalam waktu beberapa tahun. Dengan
begitu akan diperoleh gambaran aspek perkembangan secara menyeluruh. Keuntungan
metode longitudinal ini ialah bahwa suatu proses perkembangan dapat diikuti dengan teliti.
Tetapi kerugiannya ialah bahwa menyelidiki sangat tergantung pada orang yang diselidiki
tersebut dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal ini serng kali menimbulkan kesulitan,
misalnya bila orang yang diselidiki tadi tiba-tiba pidah tempat atau meninggal.

Sebaliknya dengan metode transversal atau metode krosseksional diselidiki


orang-orang atau kelompok orang dari tingkatan usia yang berbeda-beda. Dengan mengembil
kelompok orang dari tingkatan umur yang berurutan akhirnya dapat juga diketemuka
gambaran mengenai proses perkembangan satu atau bebrapa aspek kepribadian seseorang.
Mungkin gambaran yang akan diperoleh nanti agak kurang dapat dipercaya atau kurang jelas
karena tidak mengenai orang yang sama seperti halnya pada metode longitudinal. Tetapi
sebaliknya melalui metode transversal itu dapat diperoleh pengertian yang lebih baik akan
faktor yang khas atau kurang khas bagi kelompok-kelompok tertentu, karena dengan metode
ini dapat diambil kelompok-kelompok yang dapat diperbandingkan, misalnya meneliti orang
dari status masyarakat yang berbeda-beda.

Metode lain yang disebut ​time-lag membandingkan orang-orang dari usia yang sama
tetapi dari kohort yang berbeda-beda [khorot = kelompok orang yang lahir dalam tahun yang
sama]. Wheeler [1942] menemukan bahwa anak-anak dari usia dan daerah yang sama lebih
tinggi sekor tingkah laku kecerdasannya pada tahun 1940 daripada pada tahun 1930.

Juga dapat diadakan ​kombinasi metode longitudinal dan krosseksional dengan


meneliti beberapa kelompok selama beberapa tahun, misalnya selama tiga tahun, tetapi
diusahakan sedemikian rupa hingga usia kelompok yang satu dengan yang lain saling
menutupi. Misalnya kelompok yang satu terdiri daripada anak umur 12, 13 dan 14 tahun:
kelompok yang lain umur 14, 15 dan 16 tahun. Sifat longitudinalnya ada dalam mengikuti
kelompok tadi selama 3 tahun berturut-turut, sedangkan kros-seksionalnya dapat dilakukan
dengan membandingkan usia 14 tahun yang saling menutupi tadi mengenal beberapa tingkah
laku tertentu. Di Nijmegen, Nederland pernah diadakan penelitian mengenai perkembangan
anak dengan memakai metode kombinasi itu [lihat Wels van den Munckhof, 1974;
Prahl-Andersen B. dkk.,1979].

5
Suatu gambaran perbandingan mengenai ketiga metode tadi dikemukakan Baltes dkk.
Dalam gambar 1.

Schaie [1965] juga menunjukkan akan pentingnya observasi yang berulang-ulang dan
tak tergantung satu sama lain, hinga orang-orang dari kohort yang sama secara berturut-turut
diobservasi, misalnya dua kali. Atas dasar ini Baltes [1977] menemukan suatu pembedaan
antara metode yang konvensional dengan states

1.4.2 Metode spesifik

Dalam rangka pendekatan yang telah diuraikan di atas masih ada beberapa metode yang
khusus dalam psikologi perkembangan secara kasar dapat dibedakan antara metode
eksperimental dan non eksperimental. Kebanyakan ada di antara kedua metode tersebut.
Dengan pengertian ini dapatlah dibicarakan secara singkat mengenai dua macam metode ini.

1.4.2.1 Metode eksperimental

Metode eksperimental dapat dibedakan antara eksperimen murni dan eksperimen


lapangan. Perbedaan antara keduanya tersebut ada dalam tingkat kemungkinannya dalam
mengerti hubungan antara faktor –faktor tertentu dengan gejala-gejala perkembangan. Pada
eksperimen murni maka kontrol terhadap situasi lebih dapat dilakukan dengan baik; dengan
demikian hubungan antara suatu variabel dengan suatu gejala perkembangan lebih dapat
ditentukan. Eksperimen lapangan bertitik tolak dari situasi kehidupan nyata. Dalam hal ini
seringkali hubungan antara suatu variabel dengan suatu gejala perkembangan kurang dapat
dilihat dengan pasti.

Dalam suatu eksperimen maka semua variabel, kecuali satu dibuat konstan,
kemundian dengan memanipulasi variabel yang satu tersebut [yaitu variabel bebas] dapatlah
diketahui pengaruhnya terhadap efek yang ditimbulkannya [variabel tergantung].

Dalam eksperimen ada yang disebut kelompok eksperimen yang dikenal variabel
beban tadi. Misalnya dua kelompok dalam hal usia, inteligensi, status sosial ekonomi,
pendidikan, dan sebagainya, masing-masing dikenakan perlakuan yang berbeda, misalnya
dalam membuat suatu tugas [tes] maka kelompok yang satu diberitahu bahwa tes tersebut

6
hanya merupakan latihan saja, sedangkan kelompok yang lain diberitahu bahwa siapa yang
dapat mencapai angka 8 atau lebih akan memperoleh suatu hadiah. Eksperimen ini menguji
suatu hipotesis bahwa kelompok yang diberi pengharapan akan hadiah tadi akan melakukan
tesnya dengan lebih baik.

Pendekatan lintas budaya [kros-kultural] ini memberikan pengertian yang lebih


mendalam akan proses perkembangan seseorang. juga di Barat banyak diadakan penelitian
banding antara anak-anak yang berasal dari suku bangsa yang berbeda-beda tetapi hidup
dalam masyarakat yang sama, misalnya membandingkan anak kulit putih dengan anak negro
di Amerika. Perbedaan alam budaya atau perbedaan kultural semacam itu kadang-kadang
dimengerti sebagai perbedaan sub-kultural, yaitu perbedaan yang terdapat dalam kelompok
yang berbeda-beda yang hidup dalam masyarakat yang sama. Di Amerika, orang negro
tergolong kelas sosial ekonomi yang renda. Ciri perkembangan orang yang tidak
berpendidikan, atau ciri anak yang hidup dibagian kota yang miskin [slums] diketemukan
pada anak negro. Namun penemuan ini masih terbuka untuk dikaji lebih lanjut. Jensen [1969]
dapat menunjukkan bahwa orang negro meperoleh sekor beberapa angka lebih rendah
daripada orang kulit putih dalam beberapa tes inteligensi. Secara dangkal hal ini dapat
disimpulkan bahwa orang negro lebih kurang cerdas daripada orang kulit putih. Penelitian
tersebut dilakukan terhadap kelompok orang negro dan kelompok orang kulit putih yang
kurang lebih sama latar belakang pendidikan dan sosial ekonominya. Tes intelegensi yang
dikenakan bersifat bebas budaya [culture free] terdiri dari beberapa tes yang nonverbal
sehingga bebas dari hambatan bahasa. Hal ini cukup penting karena banyak pendapat
mengatakan bahwa perkembangan bahasa ditentukan oleh sub-budaya seseorang
[Bernstein,,1967; Oevermann, 1971]. Masih dapat dipermasalahkan yaitu apakah motif
prestasi, watak sosial dan sebagainya disini tidak mengambil peranan yang penting. Misalnya
tes Raven yang dianggap ‘’culture free’’ masih juga dipengaruhi oleh latar belakang kultural
orang yang dites [drenth, 1973]. Pendekatan lintas budaya ini dengan jelas membuktikan
bahwa motif prestasi banyak ditentukan oleh faktor kultural atau sub-kultural, dengan
demikian pendekatan lintas budaya memberikan sumbangan besar pada penelitian psikologi
perkembangan.

7
Bila perbedaan hasil antara kedua kelompok tadi signifikan dapatlah ditarik
kesimpulan akan adanya hubungan ‘’kausal’’ antara pengharapan akan hadiah [variabel
bebas] dan hasil tes [variabel tergantung]. Artinya bahwa dalam keadaan tertentu itu

pengharapan akan hadiah mempengaruhi hasil tes kelompok tersebut. Meskipun


begitu kita harus berhati-hati sekali dalam mengadakan suatu generalisasi umum bahwa
hadiah memacu prestasi yang lebih baik. Disarankan untuk cukup berhati-hati dengan
menggunakan hasil eksperimen karena terbatasnya metode tersebut untuk penelitian
psikologis dalam situasi sosial.

Bila misalnya generalisasi tersebut dapat dilakukan perlu dipermasalahkan apakah


hubungan antara pengharapan akan hadiah dan hasil prestasi berlaku umum bagi usia yang
berbeda-beda. Bila misalnya hubungan tersebut berlaku bagi anak umur 10 tahun, tetapi tidak
berlaku bagi anak umur 17 tahun, maka faktor umur dalam hal ini juga memegang pengaruh
yang penting.

Seringkali eksperimen dilakukan dalam situasi yang lebih bebas, misalnya


membandingkan anak dari berbagai kelas sekolah. Penelitian semacam ini lebih dapat disebut
eksperimen lapangan karena sangat sulit untuk membuat kelas-kelas tersebut sama dalam
semua hal. Mungkin persamaan dapat dicapai dalam umur atau lokasi sekolah, misalnya kota
atau desa, lingkungan buruh atau cendekiawan, tetapi mungkin masih ada satu hal yang
berbeda, yaitu mutu sekolah tersebut, atau buku pelajaran yang dipakai. Hasil eksperimen
lapangan yang dilakukan dalam keadaan semacam itu kurang sesuai untuk pengajuan suatu
hipotesis. Sifat penelitian seperti itu tetap eksploratif bukan menguji, artinya banyak
merupakan suatu kecederungan saja yang masih harus diuji dalam penelitian lebih lanjut.

Memang sering kali seorang psikolog perkembangan harus menerima suatu hasil
penelitian yang bersifat eksploratif seperti itu. Dengan menggunakan metode yang lain
daripada eksperimen kadang-kadang dapat diketemukan hasil yang searah; dengan begitu
maka hasil penelitian tersebut dapat lebih dipercaya.

1.4.2.2 metode non-eksperimen

suatu eksperimen dimaksudkan untuk membuat setinggi mungkin nilai objektif data
yang diperoleh. seorang peneliti tidak selalu berhasil untuk mengontrol situasinya. meskipun

8
begitu ia mampu untuk melakukan pengamatan yang dipandang dari segi teoretis maupun
praktis cukup berarti. caranya mengadakan observasi dapat dibeda-beda, ia dapat
menggunakan alat dan teknik yang bermacam-macam salah satu cara adalah yang disebut
‘’event-sampling’’ yaitu mencatat tingkah laku yang khas yang tibul dalam jangka waktu itu.

Metode klinis berbeda dari pada metode eksperimental tidak hanya dalam hal
kecermatan cara mengadakan registrasi, yaitu dalam hal pengumpulan dan pencatatan data,
melainkan terutama dalam hal representativitas sampel. Pemilihan kelompok ‘’orang coba’’
nya tidak perlu berdasarkan persamaan sifat yang dimiliki oleh keseluruhan populasi,
melainkan cukup dilakukan penelitian terhadap beberapa kasus saja, misalnya terhadap
anak-anak dari tingkatan umur tertetu yang secara berturut-turut atau bersamaan waktu
diobservasi oleh beberapa orang pengamat. Alat yang dipakai adalah berbagai macam tes atau
pemberian tugas-tugas tertentu. Misalnya piaget [1947] menyuruh anak-anak dari berbagai
tingkatan usia membuat cacing-cacingan daripada bola-bola was. Anak umur 4 tahun mengira
bahwa cacing-cacingan tadi mengandung was yang lebih banyak daripada bola-bola was yang
semula. Anak umur 8 tahun tidak akan membuat kesalahan itu lagi. Mereka sudah mengerti
bahwa perubahan bentuk tidak mengubah banyaknya barang sesuatu, mereka sudah mengerti
hukum konservasi mengenai banyaknya barang sesuatu yaitu bahwa banyaknya barang
sesuatu itu tetap sama meskipun ada perubahan bentuk.

Apa yang diketemukan pada anak-anak yang sedang diteliti, namun belum tentu
berlaku bagi semua anak dari tingkatan umur yang sama. Dalam eksperimen sudah barang
tentu tidak diteliti semua anak yang ada, namun peneliti biasanya berusaha sejauh mungkin
agar dapat berlaku bagi anak-anak yang lain. Penelitian Piaget tidak menjamin hal seperti itu.
Juga dalam metode klinis peneliti hanya meneliti beberapa anak sembarang saja dari suatu
tingkat umur tertentu dengan menggunakan beberapa tes yang sama.

Di samping itu juga masih ada berbagai metode observasi lain yang digunakan dalam
psikologi perkembangan, misalnya metode survei yang meneliti beberapa sampel dari
populasi yang besar. Caranya dapat menggunakan teknik wawancara atau angket.

Berhubung dalam hal tersebut di atas tidak ada hipotesis yang dapat diuji berdasarkan
menipulasi variabel tertentu, maka cara ini dapat disebut penelitian ex post facto, yaitu
adanya hubungan ditentukan sesudah penelitian dilakukan [Albinskin, 1967]. Metode angket

9
ini makin berarti bagi penelitian ilmu-ilmu sosial. Disini masih dibedakan, seperti halnya
pada metode observasi yang lain, antara observasi sendiri dan observasi orang lain. Misalnya
data mengenai tingkah laku sosial anak dan remaja dapat dinyatakan pada yang bersangkutan
sendiri atau pada orang lain, misalnya pada orang tua atau tetangga-tetangga.

Suatu daftar pertanyaan berisi suatu kumpulan pertanyaan mengenai suatu persoalan
yang konkrit. Pertanyaan dapat bersifat bebas, atau bersifat tertutup, misalnya dengan
menggunakan apa yang disebut skala [scale]. Dalam hal yang terakhir ini pertanyaan sering
dibuat dalam bentuk pertanyaan. Jawaban berujud setuju atau tidak setuju terhadap
pertanyaan itu. Seringkali ada tingkatan [gradasi] dalam menjawab setuju atau tidak setuju.

Contoh:

Acara TV yang menggambarkan tingkah laku seks tidak baik untuk dilihat oleh anak
di bawah umur 12 tahun.

setuju sekali

setuju

tidak tahu

tidak setuju

tidak setuju sekali

Responden [orang yang diberi pertanyaan] memberikan tanda pada tempat segi empat
dibelakang pertanyaan yang dipilih.

Sejumlah aitem semacam itu merupakan skala sikap orang tua dalam pendidikan seks
terhadap anak mereka. Dalam daftar pertanyaan tadi dapat juga ditanyakan mengenai data
pribadi orang tua seperti status sosial ekonomi, agama, pendidikan, tempat tinggal, umur dan
sebagainay. Dalam hubungan itu banyak data psikologi perkembangan dapat diperoleh
sehubungan dengan keadaan dan sikap orang tua pada berbagai tingkatan usia, misalnya
mengenai toleransi mereka terhadap tingkah laku seksual anak. Di samping itu banyak juga
data yang diperoleh mengenai perkembangan seksual anak; hal ini mengingat bahwa
perkembangan seks banyak dipengaruhi oleh pendidikan orang tua.

10
Bila pengamat menggunakan skala dalam penilaian, maka hal itu disebut rating.
Penyesuaian antara pernilaian para pengamat atau rater menjadi ukuran objektivitas penilaian
tersebut.

Suatu perbedaan antara pengumpulan data melalui metode klinis dan pengumpulan
data melalui angket ialah bahwa metode klinis dapat memberikan informasi mengenai
tingkah laku, sedangkan angket mengadakan pencatatan mengenai pemberitaan tingkah laku.
pada angket sering terungkap keinginan tertentu yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Aku-ideal lebih sering timbul dari pada aku yang aktual. Peneliti yang sadar akan hal ini
dapat memperoleh informasi yang baik sekali, berhubung aku-ideal, seperti halnya
gambar-ideal yang merupakan cermin bagi seseorang, dapat memberikan pengertian banyak
mengenai pribadi yang sedang berkembang yang sering diarahkan oleh ideal-ideal yang ada
padanya.

Metode angket dapat pula dipakai untuk menguji suatu hipotesis. Misalnya ada
hipotesis bahwa orang usia antara 15-25 tahun lebih bersikap toleran terhadap kenakalan anak
dibandingkan dengan orang usia antara 35-45 tahun. Hal ini dapat diduga merupakan suatu
indikasi pergeseran norma. Yang terakhir ini dapat disebut teori yang mendasari hipotesis
tersebut. Melalui angket maka hipotesi tadi dapat diuji kebenaranya. Dapat pula diketemukan
adanya hubungan dengan perbedaan pandangan agama dan sebagainya.

Berbagai metode yang dikemukakan diatas sebetulnya bukan metode yang khusus
untuk psikologi perkembangan, namun sering dipakai dalam cabang ilmu tersebut. Karena
arti perkembangan berhubungan dengan perjalanan hidup seseorang, maka semua data yang.
diperoleh dari pencatatan perjalanan hidup orang itu dapat dipandang sebagai materi
penelitian dalam psikologi perkembangan. Pendekatan yang penting di sini adalah metode
longitudinal. Metode longitudinal ini dapat dikombinasi dengan data pencatatan dokumen,
karangan, atau pencatatan tingkah laku yang khusus. Dalam hal ini metode tadi disebut
metode biografis yang dapat menggunakan buku harian, surat, sajak, karangan, dan
sebagainya, yang akhirnya juga dapat bersifat autobiografis [observasi diri].

Penelitian menenai karangan mengandung keuntungan, yaitu bahwa ada dorongan


bagi anak-anak mudah untuk memformulasi gagasan mereka mengenai salah satu masalah.
Dengan memberikan sedikit struktur dalam tugasnya dapat diketahui bagaimana cara anak

11
mudah tadi memberikan pendapat mereka mengenai suatu problematik, misalnya pandangan
mereka mengenai masa depan. Cara ini membutuhkan kemampuan verbal seseorang hingga
dengan sendirinya tidak sesuai untuk anak-anak kecil.

Di samping itu dapat pula digunakan berbagai macam tes yang mengkonfrontasikan
orang coba dengan sistem nilai mereka sendiri. Bila hal ini dilakukan secara periodik dapat
diketahui mengenai perubahan yang ada selama jangka waktu tertentu. Dalam hal ini dapat
digunakan tes konfrontasi Hermans [1974] yang juga dilakukan oleh Monks dan Heusinkveld
[1973].

1.5 Paradigma multitrait-multimethod

Secara singkat telah dibicarakan mengenai beberapa metode dan teknik yang dipakai
dalam psikologi perkembangan. Metode-metode ini masing-masing mempunyai keunggulan
dan kelemahannya sendiri. Untuk memperoleh data penelitian yang secermat mungkin dan
paling dapat dipercaya, maka dalam psikologi makin sering dipakai suatu startegi penelitian
yang disebut paradigma multitrait-multimethod.

Perlu diketahui dulu unsur-unsur apakah yang membentuk suatu hasil pengukuran
psikologi. Ada tiga macam unsur yang dapat dicatat

1. Variasi, yaitu perbedaan yang timbul dalam faktor yang diukur sendiri [misalnya variasi
pada prestasi orang coba disebabkan oleh kelelahan, penurunan motivasi, dan sebagainya
pada waktu pengambilan tes].

2. Variasi pada hasil pengukuran disebabkan oleh kesalahan pada cara pengukurannya.

3. Variasi yang timbul karena kesalahan yang tak terduga dalam pengukuran [Runkel dan
McGrath, 1972, p. 163].

Dengan menggunakan paradigma multitrait-multimethod maka beberapa faktor psikologi


[multitrait] diukur dengan satu metode, misalnya suatu test tertentu. Hal ini untuk
menentukan apakah alat pengukur tadi betul-betul mengukur sifat-sifat spesifik yang akan
diukur itu ataukah bekerja secara global, artinya mengukur secara keseluruhan. sebaliknya
satu sifat yang sama diukur dengan lebih dari satu alat pengukur [multimethod], misalnya

12
dengan tes, angket dan obsevasi. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan tingkat penyesuaian
antara berbagai macam definisi operasional satu sifat tertentu.

Bila paradigma multitrait-multimenthod ini digunakan secara konsekuen, dapatlah


ditentukan masing-masing unsur hasil penelitian tertentu.

korelasi yang ditemukan antara variabel yang satu dengan variabel yang lain
mempunyai arti sebagai berikut (bandingkan Ferguson, 1966):

1. Korelasi antara pengukuran yang berulang dengan alat pengukur yang sama terhadap salah
satu variabel yang sama: bila korelasinya tinggi dapat disimpulkan bahwa alat
pengukurnya dapat dipercaya.

2. Korelasi antara hasil pengukuran dengan alat pengukur yang berbeda terhadap salah satu
variabel yang sama, memberikangambaran akan persesuaian antara dua defenisi
operasional mengenai satu variabel yang sama.

3. Korelasi antara pengukuran duua variabel yang berbeda, diukur dengan alat pengukur yang
sama menunjukkan sampai seberapa jauh persamaan yang ada antara dua variabel tersebut.

4. Korelasi yang terakhir adalah korelasi antara satu variabel diukur dengan satu alat ukur
pengukur tertentu dan variabel lain diukur dengan alat pengukur yang lain. Dugaan yang
ada adalah bahwa tidak akan diketemukan korelasi yang tinggi bila masing-masing alat
pengukur danmasing-masing variabel tidak tergantung satu sama lain.

1.6 Rangkuman

dalam bab ini telah dikemukakan secara singkat pengertian dan berbagai macam teori
mengenai perkembangan, yaitu teori yang berorientasi biologis, berorientasi lingkungan,
psikodinamis dan teori kerokhanian. Akhirnya telah ditunjukkan keunggulan sintesa
interaksionistis yang mencakup teori tugas perkembangan dan teori emansipasi.

selanjutnya telah dikemukakan sedikit mengenal berbagai macam metode dalam


psikologi perkembangan. Telah yang ditunjukkan bahwa metode yang digunakan harus
sesuai dengan tujuan penelitiannya untuk penelitan yang paling sesuai. Bila ingin mengerti
jalannya proses

13
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Beberapa metode dimaksudkan untuk memberikan lebih banyak pengertian akan


gejala perkembangan, beberpa metode lain lagi memberikan pengertian bagaimana caranya
mengatasi hambatan dalam proses perkembangan. Dapat pula dibedakan antara pendekatan
yang lebih umum dan metode yang lebih spesifik. Pendekatan yang lebih umum memberikan
pengertian akan keseluruhan proses perkembangan atau beberapa aspeknya, misalnya
perkembangan intelektual, atau pengertian akan arti faktor endogen dan aksogen bagi
perkembangan seseorang. Termasuk metode yang speksifik adalah cara-cara khusus yang
dipakai untuk mengetahui gejala perkembangan yang sedang timbul.

14
Dalam uraian di atas telah disebutkan bahwa pendekatan yang umum ini dibedakan
antara dua kelompok: kelompok yang satu memberikan lebih banyak data mengenai
keseluruhan perkembangan atau beberapa aspeknya, kelompok yang lain meninjau apa yang
dipengaruhi oleh faktor lingkungan, khususnya faktor kebudayaan.

15