Anda di halaman 1dari 71

BAB I Dasar Alkitabiah Pelayanan Lintas Budaya Penjelmaan Yesus Kristus dan

Kontekstualisasi Penjelmaan atau inkarnasi Yesus Kristus merupakan puncak penyataan


Allah kepada manusia. Dalam Perjanjian Lama "Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara
berbicara kepada ... kita dengan perantaraan nabi-nabi" (Ibrani 1:1). Zaman dahulu Allah
bersabda kepada umat-Nya melalui nabi-nabi-Nya. Namun, "... pada zaman akhir ini Ia telah
berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, ...." (Ibrani 1:2). Yesus Kristus, Anak
Allah dan Firman yang kekal itu "... telah menjadi manusia dan diam di antara kita...."
(Yohanes 1:14) Dalam inkarnasi Yesus, Allah melintasi jurang pemisah antara surga dan
dunia ini. Ia menjembatani kesenjangan antara alam gaib dan alam semesta ini. Ia melakukan
semua ini untuk menyatakan diri-Nya kepada kita. Seperti tertulis dalam Yohanes 1:18
"Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, ... Dialah yang
menyatakan-Nya." Kata "menyatakan-Nya" secara harfiah berarti "menafsirkan" atau
"meriwayatkan". Yesus Kristus adalah penafsir Allah yang sempurna. Di sini kita melihat
cara Allah sendiri untuk mengontekstualisasikan firman-Nya. Yang Mahamulia, yang
Mahaagung, dan yang Mahasuci menjadi sama dengan kita. Pribadi kedua dari Tritunggal
mengambil rupa manusia bagi diri-Nya sendiri, mengambil segala sesuatu berhubungan
dengan kemanusiaan yang sempurna, sehakikat dengan kita sebagai manusia (Ibrani 2:14). Ia
menyesuaikan diri dengan kita supaya kita dapat memahami siapa Allah itu sebenarnya.
Allah kita adalah Allah yang rindu menampakkan diri-Nya kepada kita dengan cara yang
relevan. Meskipun demikian, sebagai manusia Ia hidup tanpa dosa. "Ia telah dicobai, hanya
tidak berbuat dosa" (Ibrani 4:15b), sebab "di dalam Dia tidak ada dosa" (1 Yohanes 3:5).
Oleh karena itu, kita melihat bahwa penyataan Allah dalam inkarnasi itu relevan dan tetap
murni. Puncak kerinduan Allah untuk berkomunikasi dengan manusia diwujudkan dalam
kehadiran-Nya sendiri di antara manusia. Ia yang Mahasuci bersedia memasukkan diri-Nya
ke dalam kebudayaan manusia. Ia bahkan menjadi manusia sejati yang berkomunikasi dengan
masyarakat lindungan-Nya sesuai dengan bahasa dan kebudayaan mereka. Sebenarnya tujuan
kontekstualisasi sama dengan tujuan inkarnasi Yesus. Sama seperti Allah menyatakan diri-
Nya kepada manusia melalui kebudayaan Yahudi, demikian juga kita ingin menyatakan Allah
kepada suku-suku yang belum mengenal Yesus melalui kebudayaan mereka. Oleh karena itu,
kontekstualisasi merupakan suatu prinsip ilahi yang diwujudkan dalam penjelmaan Yesus.
Inkarnasi Yesus tidak hanya memberi teladan kepada kita, tetapi juga memerintahkan kita
untuk mengikuti teladan-Nya: "Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian Aku mengutus
kamu!" (Yohanes 20:21) Sidang di Yerusalem dan Kontekstualisasi Persoalan yang terjadi
pada sidang jemaat di Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 15 mengungkapkan persoalan-
persoalan yang biasanya muncul dalam pelayanan lintas budaya: hubungan antara
kebudayaan dan Injil. Dan keputusan yang diambil oleh jemaat yang mula-mula merupakan
suatu dasar yang kokoh untuk pelaksanaan kontekstualisasi. Hal yang dibahas dalam sidang
di Yerusalem merupakan arti Injil yang sebenarnya. Mereka menggumuli syarat-syarat untuk
keselamatan: "Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada
saudara-saudara di situ, 'Jikalau kamu tidak disunat menurut adat-istiadat yang diwariskan
oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.'... 'Orang-orang yang bukan Yahudi harus disunat
dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa'" (Kisah Para Rasul 15:1,5). Oleh karena itu,
menurut golongan orang-orang Yahudi: Injil + Sunat = Keselamatan. Mereka merasa bahwa
tidaklah cukup kalau orang Yunani hanya percaya kepada Yesus saja; mereka juga harus
mengikuti adat-istiadat orang Yahudi. Namun Paulus dan Barnabas tidak setuju dengan
rumusan ini: "Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat
mereka itu." (Kisah Para Rasul 15:2a) Menurut golongan Paulus: Injil + 0 = Keselamatan
Kenyataan yang sebenarnya ialah bahwa kita diselamatkan oleh iman karena kasih karunia
Allah (Kisah Para Rasul 15:7,9,11,14). Sidang di Yerusalem meneguhkan pendapat Paulus
dan Barnabas bahwa kita diselamatkan oleh Injil dan hanya Injil saja. Orang Yunani tidak
harus menjadi seperti orang Yahudi atau mengikuti adat-istiadat Yahudi untuk memperoleh
keselamatan. Persoalan yang dibahas pada sidang di Yerusalem dapat digambarkan sebagai
berikut. Golongan orang Yahudi percaya bahwa orang Yunani harus menjadi seperti orang
Yahudi untuk memperoleh keselamatan. 2
Golongan Paulus percaya bahwa baik orang Yahudi maupun orang Yunani diselamatkan
hanya oleh iman. Mereka tidak usah meninggalkan kebudayaan atau adat-istiadat mereka
untuk diselamatkan, asalkan mereka mau bertobat dan percaya kepada Yesus. Tersirat dalam
keputusan ini ialah suatu kebebasan yang diberikan kepada setiap suku untuk
mengungkapkan Injil itu dalam sarana kebudayaannya sendiri. Kita tidak hanya diselamatkan
tanpa mengikuti adat-istiadat asing, tetapi juga boleh beribadah tanpa mengikuti adat-istiadat
asing. Jadi, bagaimana orang dari latar belakang Kristen diselamatkan? Apa yang harus
dilakukannya kalau ia ingin diselamatkan? Ia harus bertobat dan percaya kepada Yesus.
Bagaimana dengan orang dari latar belakang bukan Kristen? Apakah orang dari agama lain
harus mengikuti adat kekristenan tradisional untuk diselamatkan? Tidak. Semua orang
diselamatkan hanya oleh iman. Renungkan implikasinya. Apakah orang Sunda harus
mengikuti adat dan tradisi Batak kalau ia ingin diselamatkan? Tidak! Apakah orang Jawa
harus mengikuti adat dan tradisi Tionghoa kalau ia ingin diselamatkan? Tidak! Namun, tanpa
disadari justru itulah yang terjadi, dan setiap gereja di Indonesia dipengaruhi oleh adat Barat
(karena kekristenan dibawa ke Indonesia oleh penginjil yang memasukkan adat mereka
sendiri), selain oleh adat suku mayoritas anggota. Kalau demikian halnya bagaimana caranya
supaya orang dari latar belakang bukan Kristen dengan adat/tradisinya dapat percaya tanpa
mengikuti adat atau tradisi suku lain? Kita harus mendirikan jemaat-jemaat baru. Kita harus
membentuk dan mengembangkan adat dan tradisi yang alkitabiah, tetapi sesuai dengan adat
serta tradisi petobat baru. Sesuai dengan keputusan sidang di Yerusalem dan agar kita dapat
menjangkau sebanyak mungkin orang di Indonesia, kita harus berusaha mendirikan jemaat-
jemaat baru, jemaat-jemaat yang "berakar di dalam Kristus dan erat berhubungan dengan
kebudayaannya." Paulus di Athena: Penyampaian Injil yang Kontekstual Dalam Kisah
Para Rasul 17:22-34 ada suatu pemaparan yang menerangkan penyampaian Injil yang
kontekstual. Pada waktu itu Rasul Paulus menginjili orang-orang terpelajar di kota Athena.
Pada waktu itu, kota Athena merupakan pusat para sarjana, cendekiawan, ilmuwan, dan
filsuf, sehingga kota ini terkenal sebagai kota untuk orang berpendidikan tinggi dan pola
berpikir maju. Rasul Paulus mulai menginjili orang Athena di rumah ibadat Yahudi serta di
pasar dengan cara bertukar pikiran dan bersoal jawab dengan siapa saja yang bersikap
terbuka. Akhirnya Paulus diundang ke Areopagus, badan cendekiawan yang berfungsi seperti
Majelis Ulama Indonesia (Kisah Para Rasul 17:16-21). Paulus mulai memberitakan Injil
dengan cara memuji mereka atas kesungguhan mereka dalam beribadah: "Hai orang-orang
Athena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa." (ayat
22b) Ia mulai mendekati mereka dengan cara yang sepositif mungkin dan berusaha
menghindari konfrontasi. Setelah memuji mereka, ia menemukan suatu jembatan supaya
pesan yang disampaikan dapat mencapai sasaran dan sekaligus relevan bagi para
pendengarnya: "Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang
pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak
dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu."
(ayat 23) Perhatikan bahwa Paulus menjadikan sebuah mezbah -- bukan sebuah patung
berhala -- sebagai titik tolak. Rupanya, Allah yang berdaulat sudah mempersiapkan orang
Athena untuk menerima Injil melalui mezbah ini. Paulus kemudian menyatakan bahwa tugas
dan tujuannya ialah memperkenalkan Allah yang tidak dikenal oleh mereka. Setelah itu,
Paulus menerangkan tentang Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara manusia (ayat 24-27).
Kemudian dalam ayat 28 ia memakai jembatan lain. Ia mengutip syair mereka: "Sebab di
dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-
pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga." Kelihatannya Paulus percaya bahwa
setiap kebudayaan atau agama memunyai unsur-unsur kebenaran sehingga ia berani mengutip
puisi orang-orang Yunani yang disejajarkan dengan firman Allah. Ia mengutip supaya berita
yang disampaikan itu dapat diterima dan dipahami sehingga Injil yang disampaikan menjadi
relevan. Namun pendekatan kontekstual ini bukan saja dimaksudkan untuk menyesuaikan diri
saja, melainkan juga untuk hidup di bawah hukum Kristus, yaitu menantang hal-hal yang
tidak sesuai dengan firman Allah supaya Injil tetap murni. Akhirnya Paulus mengakhiri
penyampaian ini dengan tantangan tentang pertobatan, penghakiman yang akan datang, dan
kebangkitan Yesus (ayat 30-31). Respons terhadap pemberitaan Paulus ini bermacam-
macam. Ada yang mengejeknya, ada yang ingin mendengar lagi, serta ada beberapa yang
percaya (ayat 32-34).
Ada satu hal lain yang menonjol dan harus ditekankan di sini. Penyampaian kontekstual ini
berpusatkan kepada Allah dan bukan kepada Anak Allah. Paulus tidak keberatan kalau
langkah awal dari pendekatannya berpusat kepada Allah. Ia merasa tidak perlu langsung
menyinggung soal Yesus 3
atau Anak Allah. Ia ingin memaparkan Injil langkah demi langkah dan penekanannya selalu
sesuai dengan konteksnya. Misalnya, di Indonesia adalah lebih tepat kalau kita lebih berpusat
kepada Allah dalam pemberitaan Injil kita. Walaupun pada akhirnya kita harus berani
menantang semua orang supaya bertobat dan percaya kepada Yesus, namun adalah lebih
bijaksana dan alkitabiah kalau penginjilan kita berpusat kepada Allah. Ada ayat-ayat lain
yang menunjang pendekatan yang berpusat kepada Allah. Kadang-kadang Injil disebut
sebagai Injil Allah (2 Korintus 11:7, 1 Tesalonika 2:2,8,9), jemaat disebutkan sebagai jemaat
Allah (1 Tesalonika 2:14, Kisah Para Rasul 20:28), dan Allah disebutkan sebagai Juru
Selamat kita (1 Timotius 1:1, Titus 1:3; 2:10; 3:4). Marilah kita mulai lebih bersikap
kontekstual dalam pemberitaan kita. Marilah kita berusaha meniru teladan Rasul Paulus yang
rajin mencari dan menemukan jembatan-jembatan baru untuk penginjilan. Marilah kita
dengan penuh semangat menyampaikan Injil yang relevan dan tetap murni. Kristologi dan
Kontekstualisasi Persoalan yang paling penting dalam teologi, pelayanan, dan penginjilan
ialah jawaban terhadap pertanyaan ini: "Siapakah sebenarnya Yesus Kristus itu?" Cara yang
paling tepat untuk menjawabnya ialah dengan mengerti dan merenungkan nama-nama
sebutan Yesus. Yesus digelari macam-macam sebutan, misalnya Nabi, Mesias (Almasih),
Firman, Imam, Guru, Juru Selamat dan lain-lain. Mengapa demikian? Ada dua alasan.
Pertama, alasan teologis, yaitu pengertian tentang Yesus begitu kaya dan mendalam
sehingga satu atau dua sebutan saja tidak cukup. Yesus ialah satu oknum atau pribadi yang
luar biasa, yang tidak dapat dipahami dari satu segi. Sebagai Nabi, Ia bersabda kepada kita;
sebagai Gembala, Ia membimbing kita; sebagai Juru Selamat, Ia menyelamatkan kita; dan
sebagai Raja, Ia memerintah dalam kehidupan kita. Paulus menggarisbawahi alasan teologis
dengan melukiskan Injil yang disampaikannya sebagai "kekayaan Kristus yang tidak terduga"
(Efesus 3:8). Kedua, alasan misiologis, yaitu para rasul dan penginjil yang mula-mula
memakai banyak nama sebutan supaya berita yang disampaikan relevan dan dapat dipahami.
Misalnya, sebutan "Imam Besar" hanya dipergunakan dalam kitab Ibrani saja untuk
melukiskan Yesus sebab kitab Ibrani dikarang khusus bagi orang Yahudi. Dan menurut pola
berpikir orang Yahudi konsep "Imam" begitu bermakna sehingga sebutan "Imam Besar"
benar-benar membantu orang-orang Yahudi mengerti siapakah Yesus sebenarnya. Pengakuan
pertama dalam Injil juga menggambarkan alasan misiologis ini. Pengakuan dan pemberitaan
bahwa "Yesus adalah Mesias" (atau Kristus; Markus 8:29; Lukas 9:20; Kisah Para Rasul
5:42; 9:22; 17:2-3; 18:5, 28; 1 Yohanes 2:22) muncul dalam konteks Yahudi karena mereka
memiliki harapan agung dalam Mesias. Selama berabad-abad orang-orang Yahudi telah
menantikan dan merindukan Mesias yang akan datang sehingga penyampaian Yesus sebagai
Mesias begitu relevan dan menyentuh hati orang Yahudi. Meskipun demikian, pemberitaan
Yesus sebagai Mesias tidak begitu berarti bagi orang Yunani. Sebaliknya, pengakuan
kristologis, "Yesus adalah Tuhan" (Kisah Para Rasul 10:36; 11:20; Roma 10:9; Filipi 2:11; 2
Korintus 12:3; 2 Korintus 4:5) begitu relevan dan bermakna bagi orang Yunani sehingga
lebih sering dipakai dalam konteks Yunani. Pengakuan ini "menjadi jembatan bagi
kekristenan untuk memasuki dunia yang berbahasa Yunani, memasuki dunia orang kafir, dan
memasuki dunia proselit (orang-orang bukan Yahudi penganut agama Yahudi). Dr. V.H.
Neufeld menyimpulkan penelitiannya tentang pengakuan-pengakuan orang Kristen yang
mula-mula sebagai berikut: "'Kristus-homologia' [pengakuan bahwa Yesus adalah Kristus]
lebih relevan bagi orang Yahudi ... Kyrios-homologia (pengakuan bahwa Yesus adalah
Tuhan) lebih berarti terutama bagi orang Yunani." Ada lebih banyak bukti lagi tentang
kristologi dan kontekstualisasi. Misalnya, Injil Yohanes pasal satu sangat kaya kristologinya.
Dalam pasal ini Yesus sedikitnya dilukiskan dalam 13 nama sebutan: Firman, Allah (ayat 1);
Terang (ayat 4); Manusia, Anak Tunggal Bapa (ayat 14); Yesus Kristus (ayat 17); Anak
Domba Allah (ayat 29); Anak Allah (ayat 34); Rabi/Guru (ayat 38); Mesias/Kristus (ayat 41);
Anak Yusuf (ayat 45); Raja Orang Israel (ayat 49); Anak Manusia (ayat 51)
Mengapa demikian? Nama-nama sebutan ini menyampaikan "kekayaan Kristus yang tidak
terduga". Perhatikan bahwa Yohanes tidak terpaku kepada satu nama sebutan saja ketika
menceritakan tentang Yesus. Demikian juga dalam pemberitaan Petrus. Waktu Petrus
menginjili orang Yahudi ia memakai nama-nama sebutan yang paling relevan, yang tidak
bertentangan dengan pola berpikir 4
orang Yahudi. Dalam Kisah Para Rasul 3:11-20 Ia melukiskan Yesus sebagai: Hamba (ayat
13), Yesus (ayat 13), Yang Kudus dan Benar (ayat 14), Pemimpin kepada hidup (ayat 15),
Mesias (ayat 18). Kita dapat mengambil hikmat juga dari percakapan Yesus dengan
perempuan Samaria. Walaupun percakapan ini dilakukan dalam waktu yang singkat, hal itu
masih merupakan satu ilustrasi yang praktis tentang penginjilan dan proses pengertian si
penerima. Pada mulanya perempuan ini mengakui bahwa Yesus adalah "nabi" (Yohanes
4:19). Lalu, setelah mendengarkan Yesus lebih lama ia sadar bahwa Yesus adalah "Mesias"
(Yohanes 4:25-26, 29). Kemudian, sesudah Yesus mengajar selama dua hari di situ, orang-
orang Samaria mengakui bahwa Yesus adalah "Juru Selamat Dunia" (Yohanes 4:39-42). Jelas
dalam cerita ini pengertian perempuan Samaria tentang Yesus makin lama makin jelas. Gelar
"Mesias" lebih kaya dan berarti daripada gelar "nabi", sedangkan gelar "Juru Selamat Dunia"
lebih luas dan mendalam lagi. Demikianlah proses kontekstualisasi itu! Begitu banyak nama
sebutan Yesus dipakai dalam Perjanjian Baru. Mengapa gereja-gereja kita cenderung
memakai hanya beberapa nama sebutan saja? Nama-nama sebutan Yesus Kristus, Tuhan
Yesus, dan Anak Allah ialah sebutan yang paling disenangi umat Kristen di Indonesia.
Padahal, justru gelar-gelar tersebut bertentangan dengan ajaran agama orang bukan Kristen
yang ada di sekitarnya. Meskipun akhirnya kita harus memberitakan "seluruh maksud Allah"
(Kisah Para Rasul 20:27), namun adalah lebih bijaksana, lebih berhasil, dan lebih alkitabiah
kalau kita memulai penyampaian Injil kita dengan mengetengahkan nama-nama sebutan yang
paling relevan dan mudah dipahami. Misalnya, gelar "Nabi" dan "Mesias" merupakan dua
gelar yang dapat berfungsi sebagai jembatan untuk menjangkau orang luar. Agama mayoritas
di Indonesia mengakui bahwa Yesus (dalam bahasa Arab, Isa) adalah nabi. Juga dalam Kitab
Suci mereka, Isa digelari "Almasih", (Mesias dalam bahasa Arab). Kebanyakan pemeluk
agama mayoritas di Indonesia belum mengerti apa artinya sebenarnya dari "Almasih".
Walaupun demikian, karena nama sebutan ini terdapat dalam Kitab Suci mereka, maka lebih
baik kalau kita memulai dengan nama sebutan yang ada dan menjelaskan artinya kepada
mereka. Inilah cara yang dipakai dalam Perjanjian Baru. Sebagai kesimpulan, dapat dikatakan
bahwa kristologi dalam Perjanjian Baru begitu meneguhkan pentingnya pelaksanaan
kontekstualisasi.
BAB II
Allah Menghendaki Semua Suku Bangsa Menyembah-Nya
Allah menghendaki semua suku bangsa di dunia menyembah-Nya. Itulah sebabnya, Dia
begitu peduli kepada seluruh umat manusia melalui Abraham dan keturunannya. Mereka
diberkati oleh-Nya untuk dijadikan saluran berkat bagi semua suku bangsa di dunia ini.
Tuhan Yesus Kristus menyimpulkan rencana ini dalam Matius 24:14, "Injil Kerajaan ini akan
diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba
kesudahannya." Rasul Yohanes diperkenankan melihat penggenapan rencana ini di dalam
Wahyu 7:9, "Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar
orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum
dan bahasa, berdiri di hadapan tahta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan
memegang daun-daun di tangan mereka; karena mereka ditebus oleh darah Tuhan Yesus
Kristus dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa." Selain itu, dalam Wahyu 15:4
Rasul Yohanes menyaksikan, "Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan, dan yang tidak
memuliakan namaMu? Sebab Engkau saja yang kudus; karena semua bangsa akan datang dan
sujud menyembah Engkau, sebab telah nyata kebenaran segala penghakiman." Berdasarkan
firman Tuhan tersebut, kita mengetahui dengan pasti bahwa semua suku bangsa akan
terwakili di hadapan takhta Allah di surga. Karena semua suku bangsa merupakan ciptaan
Tuhan, semua suku bangsa itu juga harus termasuk ciptaan yang baru. Tanpa terkecuali,
semua bangsa harus terwakili untuk menyembah Tuhan di surga. Bagaimana Respons kita?
Firman Tuhan mengingatkan bahwa anak-anak Tuhan tidak boleh berdiam diri melainkan
taat seperti para rasul ini. Setelah mendengar Amanat Agung, mereka mematuhi perintah
terakhir Tuhan Yesus. Mereka menunggu di Yerusalem hingga diberi Roh Kudus (Kisah Para
Rasul 1:8) dan sesudah itu, "Merekapun pergi memberitakan Injil ke segala penjuru, dan
Tuhan turut bekerja dan meneguhkan Firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya."
(Markus 16:20) 5
Walaupun Paulus tidak langsung mendengar Amanat Agung dari mulut Tuhan Yesus, namun
dia mengerti rencana Tuhan. Itu sebabnya, dia menulis surat kepada jemaat di Roma
demikian, "Sebab aku tidak berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa
yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada
ketaatan.... Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai Ilirikum aku telah
memberitakan sepenuhnya Injil Kristus.... Tetapi sekarang, karena aku tidak lagi memunyai
tempat kerja di daerah ini dan karena aku telah beberapa tahun lamanya ingin mengunjungi
kamu, aku harap dalam perjalananku ke Spanyol aku dapat singgah di tempatmu." (Roma
15:18, 19, 23, 24) Spanyol termasuk bangsa yang belum terjangkau oleh Injil. Seandainya
kita mengevaluasi daerah pelayanan rasul Paulus, kita dapat melihat bahwa tidak semua
penduduk di sana sudah bertobat, justru sebaliknya, hanya sebagian kecil dari daerah yang
luas itu sudah percaya Yesus sebagai Juruselamat. Dan walaupun demikian, Paulus bisa
mengatakan bahwa tidak lagi tersedia tempat bagi Paulus di sana. Mengapa demikian? Bagi
Paulus, yang penting Injil sudah diberitakan dan gereja sudah didirikan. Paulus memberikan
tugas kepada Jemaat yang baru itu agar melanjutkan pelayanan pekabaran Injil di daerah
tersebut, sehingga Paulus sendiri bebas untuk melanjutkan perjalanannya ke daerah yang
sama sekali belum mengenal Yesus Kristus. Perintisan Injil di antara bangsa yang belum
mengenal Kristus merupakan prioritas utama pelayanan Paulus. Dalam hal ini, Paulus
menantang kita orang Kristen di Indonesia. Siapakah yang kita prioritaskan dalam pelayanan
PI? Apakah gereja kita, suku kita, atau suku-suku bangsa yang belum pernah mendengar
Injil? Bukankah mereka harus menjadi pusat perhatian pekabaran Injil kita? Bukankah
mereka juga termasuk kumpulan besar yang dilihat oleh Rasul Yohanes? Ataukah mereka
merupakan pusat doa syafaat dan usaha PI kita? Tuhan akan datang kembali dan
menyelesaikan Kerajaan-Nya di dunia jika semua suku bangsa sudah terwakili sebagai
ciptaan baru. Di manakah orang Kristen, di manakah gereja yang memedulikan mereka yang
belum pernah mendengarkan Injil? Tuhan Yesus ingin mencari jiwa-jiwa yang terhilang.
Siapa yang bersedia dipakai dalam rencana Allah ini? Siapa yang memprioritaskan perintisan
gereja di tengah orang-orang yang belum terwakili di hadapan takhta Tuhan Allah kita?
BAB III
Pengharapan Bangsa-Bangsa
Salah satu cara terbaik untuk melihat dengan jelas lingkup Amanat Agung yang telah
diutarakan Yesus dan para rasul adalah dengan menenggelamkan diri kita dalam atmosfir
pengharapan yang mereka rasakan dengan membaca Alkitab mereka, Perjanjian Lama. Satu
aspek yang sangat besar dari pengharapan itu adalah harapan yang terkandung di dalamnya
bahwa kebenaran Allah akan menjangkau semua kelompok masyarakat di bumi dan
kelompok tersebut akan datang dan menyembah Allah yang benar. Pengharapan itu terus-
menerus diekspresikan dalam istilah kelompok masyarakat (rakyat, bangsa, suku, keluarga,
dan sebagainya). Demikianlah pengharapan dari kitab Mazmur dan Yesaya yang
menunjukkan gambaran mengenai Amanat Agung Yesus. Ayat-ayat dalam kitab tersebut
dikategorikan dalam empat kategori, yaitu nasihat, janji, doa, dan rencana. "Menyatakan
Kemuliaan-Nya di Antara Bangsa-Bangsa" Kategori pertama yang mengungkapkan
pengharapan bangsa-bangsa adalah kumpulan nasihat yang dinyatakan supaya kemuliaan
Allah dapat dinyatakan dan ada sembah puji di antara bangsa-bangsa dan oleh bangsa-
bangsa. Bermazmurlah bagi TUHAN, yang bersemayam di Sion, beritakanlah perbuatan-Nya
di antara bangsa-bangsa. (Mazmur 9:11) Hai segala bangsa, bertepuktanganlah, elu-
elukanlah Allah dengan sorak-sorai! (Mazmur 47:1) Pujilah Allah kami, hai bangsa-bangsa,
dan perdengarkanlah puji-pujian kepada-Nya! (Mazmur 66:8) Ceritakanlah kemuliaan-Nya
di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa.
(Mazmur 96:3) 6
Kepada Tuhan, hai suku-suku bangsa, kepada Tuhan sajalah kemuliaan dan kekuatan!
Katakanlah di antara bangsa-bangsa, "Tuhan itu Raja! Sungguh tegak dunia, tidak goyang.
Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran. (Mazmur 96:7, 10) Bersyukurlah
kepada Tuhan, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-
bangsa! (Mazmur 105:1) Pujilah Tuhan, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala
suku bangsa! (Mazmur 117:1) Pada waktu itu kamu akan berkata, "Bersyukurlah kepada
Tuhan, panggillah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa,
mashyurkanlah, bahwa nama-Nya tinggi luhur!" (Yesaya 12:4) Marilah mendekat, hai
bangsa-bangsa, dengarlah, dan perhatikanlah, hai suku-suku bangsa! Baiklah bumi serta
segala isinya mendengar, dunia dan segala yang terpancar dari padanya. (Yesaya 34:1)
"Bangsa-Bangsa akan Datang kepada Terang-Mu!" Kategori kedua yang
mengungkapkan pengharapan bangsa-bangsa adalah kumpulan janji bahwa suatu hari nanti
bangsa-bangsa akan menyembah Allah yang benar. Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-
bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi
kepunyaanmu. (Mazmur 2:8; Band. Mazmur 111:6) Aku mau memasyhurkan namamu turun-
temurun; sebab itu bangsa-bangsa akan bersyukur kepadamu untuk seterusnya dan
selamanya. (Mazmur 45:17) Para pemuka bangsa-bangsa berkumpul sebagai umat Allah
Abraham. Sebab Allah yang empunya perisai-perisai bumi; Ia sangat dimuliakan. (Mazmur
47:9) Segala bangsa yang Kaujadikan akan datang sujud menyembah di hadapan-Mu, ya
Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu. (Mazmur 86:9) Tuhan menghitung pada waktu
mencatat bangsa-bangsa: "Ini dilahirkan di sana." (Mazmur 87:6) Maka bangsa-bangsa
menjadi takut akan nama Tuhan, dan semua raja bumi akan kemuliaan-Mu. (Mazmur
102:15) Apabila berkumpul bersama-sama bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan untuk
beribadah kepada Tuhan. (Mazmur 102:22) Kekuatan perbuatan-Nya diberitakan-Nya
kepada umat-Nya, dengan memberikan kepada mereka milik pusaka bangsa-bangsa.
(Mazmur 111:6) Maka pada waktu itu, taruk dari pangkal Isai akan berdiri sebagai panji-
panji bagi bangsa-bangsa; dia akan dicari oleh suku-suku bangsa dan tempat kediamannya
akan menjadi mulia. (Yesaya 11:10) Tuhan semesta alam akan menyediakan di gunung Sion
ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu
perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur
yang tua yang disaring endapannya. Dan di atas gunung ini Tuhan akan mengoyakkan kain
perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan
kepada segala bangsa-bangsa. (Yesaya 25:6-7) Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi
hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang
Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi
bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi. (Yesaya 49:6)
Dalam sekejap mata, keselamatan yang dari pada-Ku akan dekat, kelepasan yang Kuberikan
akan tiba, dan dengan tangan kekuasaan-Ku Aku akan memerintah bangsa-bangsa; kepada-
Kulah pulau-pulau menanti-nanti, perbuatan tangan-Ku mereka harapkan. (Yesaya 51:5)
Tuhan telah menunjukkan tangan-Nya yang kudus di depan mata semua bangsa; maka
segala ujung bumi melihat keselamatan yang dari Allah kita. (Yesaya 52:10) Demikianlah ia
akan membuat tercengang banyak bangsa, raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat
dia; sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka, akan mereka lihat, dan apa yang tidak
mereka dengar akan mereka pahami. (Yesaya 52:15) 7
Sesungguhnya, engkau akan memanggil bangsa yang tidak kaukenal, dan bangsa yang tidak
mengenal engkau akan berlari kepadamu, oleh karena Tuhan, Allahmu, dan karena Yang
Mahakudus, Allah Israel, yang mengagungkan engkau. (Yesaya 55:5) Mereka akan Kubawa
ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan
kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang
dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala
bangsa. (Yesaya 56:7) Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-
raja kepada cahaya yang terbit bagimu. (Yesaya 60:3) Aku mengenal segala perbuatan dan
rancangan mereka, dan Aku datang untuk mengumpulkan segala bangsa dari semua bahasa,
dan mereka itu akan datang dan melihat kemuliaan-Ku. (Yesaya 66:18) Aku akan menaruh
tanda di tengah-tengah mereka dan akan mengutus dari antara mereka orang-orang yang
terluput kepada bangsa-bangsa, yakni Tarsis, Pul dan Lud, ke Mesekh dan Rosh, ke Tubal
dan Yawan, ke pulau-pulau yang jauh yang belum pernah mendengar kabar tentang Aku dan
yang belum pernah melihat kemuliaan-Ku, supaya mereka memberitakan kemuliaan-Ku di
antara bangsa-bangsa. (Yesaya 66:18-19) "Biarlah Semua Bangsa Menyembah Engkau,
ya Allah!" Kategori ketiga yang mengungkapkan pengharapan bangsa-bangsa adalah doa
yang dipanjatkan dengan penuh iman bahwa Allah akan disembah di antara bangsa-bangsa.
Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan
wajah-Nya, sela supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala
bangsa. Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah; kiranya bangsa-bangsa
semuanya bersyukur kepada-Mu. Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai,
sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di
atas bumi. Sela Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kiranya bangsa-
bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu. (Mazmur 67:1-5) Kiranya semua raja sujud
menyembah kepada-Nya, dan segala bangsa menjadi hamba-Nya!(Mazmur 72:11) Biarlah
nama-Nya tetap selama-lamanya, kiranya nama-Nya semakin dikenal selama ada matahari.
Kiranya segala bangsa saling memberkati dengan nama-Nya, dan menyebut Dia berbahagia.
(Mazmur 72:17) "Aku akan Memuji Engkau di Antara Bangsa-Bangsa" Kategori
keempat yang mengungkapkan pengharapan bangsa-bangsa menyatakan rencana-rencana
dari pemazmur untuk melakukan tugas yang menjadi tanggung jawabnya untuk membuat
kebesaran Tuhan dikenal di antara bangsa-bangsa. Sebab itu aku mau menyanyikan syukur
bagi-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, dan aku mau menyanyikan mazmur bagi nama-
Mu. (Mazmur 18:49) Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan,
aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa. (Mazmur 57:9) Aku mau
bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, dan aku mau bermazmur bagi-Mu
di antara suku-suku bangsa. (Mazmur 108:3) Diberkati untuk Memberkati
Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa berkat pengampunan dan keselamatan yang Allah
berikan pada umat Israel pada akhirnya merujuk pada penjangkauan semua kelompok
masyarakat di muka bumi. Israel diberkati agar menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.
Pernyataan terbaik mengenai hal itu terdapat dalam Mazmur 67:1-2, "Kiranya Allah
mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia 8
menyinari kita dengan wajah-Nya, Sela, supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-
Mu di antara segala bangsa." Berkat tercurah kepada umat Israel sebagai alat untuk
menjangkau bangsa-bangsa. Demikian pengharapan yang ada dalam Perjanjian Lama: berkat
keselamatan tercurah bagi semua bangsa.
BAB IV
Misi Lintas Budaya
"Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, ... tetapi Aku akan membuat engkau
menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung
bumi." (Yesaya 49:6) Rasul Paulus sangat gigih membagikan Injil bagi bangsa lain di luar
bangsa Yahudi, bukan karena ia tidak toleran terhadap bangsanya sendiri -- malah ia mau
mati terkutuk bagi bangsanya, Yahudi (Roma 9:3) -- tetapi karena ia mau "melintasi" budaya
untuk menjangkau bangsa-bangsa lain yang juga dikasihi Allah. Panggilan Allah kepadanya
sangat jelas sehingga beberapa kali ia menyaksikannya (Kisah Para Rasul 9:15; 13:47) dan
membuatnya mengarahkan fokus pada daerah pelayanannya (2 Korintus 10:13; Roma 15:23).
Rasul Paulus menerima pengutusan lintas budaya sebagai respons terhadap kasih Allah
kepada semua suku bangsa. Nyata bahwa Allah menghendaki kita untuk memerhatikan
bangsa lain di samping bangsa kita sendiri karena Allah juga mengasihi mereka. Kita juga
harus melihat sebuah kebutuhan yang mendesak seperti Allah melihatnya. Dalam Kisah Para
Rasul 16:9, Roh Allah mencegah Rasul Paulus ke Asia kecil dan membelokkannya ke
Makedonia di mana Injil sangat dibutuhkan tidak hanya untuk bangsa kita, tapi untuk semua
makhluk dan tidak bisa ditunda. Setiap hari di seluruh dunia, banyak manusia meninggal
tanpa Kristus. Inilah yang juga harus menjadi urgensi kita dalam pengutusan lintas budaya.
Lalu bagaimana kita membangkitkan pemahaman dan pengertian akan misi lintas budaya?
Rasul Petrus yang demikian nasionalis Yahudi mengalami "pencerahan" bahwa Allah juga
bekerja di antara bangsa-bangsa lain setelah mendengar penjelasan yang dibagikan oleh
Kornelius (Kisah Para Rasul 10:34) sehingga ia mendukung panggilan Allah untuk misi
bangsa-bangsa di luar bangsanya. Rasul Yakobus juga demikian setelah mendapat penjelasan
dari Paulus dan Barnabas(Kisah Para Rasul 15:14). Oleh karena itu, penting bagi gereja-
gereja lokal memberikan penjelasan tentang apa yang sedang Allah lakukan di ladang
pelayanan supaya jemaat mengalami "pencerahan" dan mau mendukung dengan sepenuh hati
pekerjaan pengutusan lintas budaya. Mungkin juga baik jika ada jemaat lokal yang mau ikut
serta ke ladang-ladang misi dan melihat langsung apa yang sedang Allah kerjakan untuk
membangkitkan semangat dan motivasi mendukung pelayanan pengutusan lintas budaya
tersebut, sambil tidak lupa mengajarkan untuk berdoa syafaat bagi pelayanan misi seperti
yang selalu diminta Rasul Paulus kepada jemaat-jemaat lokal yang mendukungnya supaya
mendoakan pelayanannya (Kolose 4:3). Kiranya Tuhan memberi kita hati yang merindukan
jiwa-jiwa di bukan hanya bangsa kita sendiri, tapi juga bangsa-bangsa lain di dunia.
BAB V
Siapa Peduli Suku-Suku yang Terabaikan?
Salah satu tugas gereja dan orang percaya adalah melakukan pekerjaan misi. Apakah yang
dimaksud dengan pekerjaan misi itu? Pekerjaan misi meliputi semua kegiatan yang bertujuan
untuk mengabarkan kelahiran, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus sebagai kurban
penebus dosa manusia, serta jaminan hidup kekal bagi siapa pun yang percaya dalam nama-
Nya. Yesus adalah satu-satunya pengharapan yang dapat membawa orang-orang dari
kematian menuju kehidupan sejati. Jadi, pekerjaan misi tidak lain adalah pengabaran Injil.
Meskipun gereja-gereja dan individu-individu sudah melakukan banyak perbuatan baik,
namun hanya kegiatan yang bertujuan untuk pengabaran Injil dan pembentukan murid-murid
Yesus sajalah yang dapat dikatakan sebagai pekerjaan misi yang sebenarnya.
Tugas untuk bermisi adalah tugas paling penting bagi pengikut Kristus. Sesudah Ia bangkit
dari antara orang mati, Yesus menampakkan diri paling sedikit lima kali kepada murid-
murid-Nya. Yesus menyuruh murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil kepada semua suku
bangsa (Matius 28:18-20; Markus 16:14-16; Lukas 24:46-49; Yohanes 20:21-23). Amanat
Agung tersebut disampaikan kepada murid-murid Yesus, setidak-tidaknya lima kali sesudah
kebangkitan-Nya. Dalam 9
Markus 16:15 dikatakan, "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala
makhluk." Murid-murid mula-mula Yesus menanggapi dengan serius tugas tersebut. Jadi,
sejak permulaan abad yang pertama hingga saat ini, Injil terus-menerus menyebar dengan
cepat. Gambaran kemajuan Injil dapat dilihat dari hasilnya sekarang, yaitu bahwa sudah
sekitar sepertiga populasi dunia menjadi percaya kepada Yesus. Meskipun belum semua
orang mendengar Injil, banyak individu sudah diberi peluang untuk mendengar dan
merespons Injil Yesus. Amanat Agung lebih dari sekadar mengabarkan Injil kepada
perseorangan. Dalam Matius 28, Yesus menekankan pentingnya pemberitaan Injil kepada
suku-suku bangsa. "Yesus mendekati mereka dan berkata: 'Kepada-Ku telah diberikan segala
kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan
baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan
segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu
senantiasa sampai kepada akhir zaman.' (Matius 28:18-20). Sekilas tampaknya banyak
perintah yang terkandung di dalam Amanat Agung, namun sebenarnya hanya terdapat satu
perintah utama, yaitu "Jadikanlah semua bangsa murid-Ku!" Frasa "semua bangsa" (Yunani:
'panta ta ethne') berarti "semua suku bangsa" secara menyeluruh. Oleh sebab itu, berkaitan
dengan perintah untuk memuridkan setiap suku bangsa itu, Yesus memerintahkan kita untuk
mengutamakan pemberitaan Injil. Fokus pengabaran Injil dipusatkan pada menjadikan suku-
suku bangsa sebagai murid-murid Yesus. Kalau demikian, bagaimana hasilnya sampai
sekarang? Menurut salah satu lembaga misi yang paling dapat dipercaya, sekitar 2/3 populasi
dunia belum percaya kepada Yesus; kira-kira setengah dari jumlah itu merupakan suku-suku
yang dianggap sudah terjangkau dan setengahnya merupakan suku-suku terabaikan. Ada
ribuan suku bangsa di dunia ini. Menurut statistiklembaga-lembaga misi terkini, 4.992 suku
di dunia dianggap terabaikan, walaupun perkiraan dari lembaga-lembaga misi tersebut
bervariasi tergantung dari definisi yang dipakai untuk suku-suku terabaikan. Di antara suku-
suku itu, terdapat 1.317 suku yang sudah dilayani, walaupun penginjilan belum sepenuhnya
maksimal. Artinya, masih ada 3.675 suku terabaikan yang belum dilayani oleh pekerjaan
misi. Suatu suku dikategorikan sebagai "suku terabaikan" jika orang-orang percaya atau
jemaat-jemaat yang ada di suku tersebut belum mampu menjangkau sukunya sendiri.
Walaupun di antara lembaga-lembaga misi tidak ada kesepahaman mengenai persentase
jumlah minimal penduduk suku yang Kristen agar tidak lagi dikategorikan sebagai "suku
terabaikan", namun biasanya persentasenya berkisar antara 1-2% jumlah warganya yang
Kristen. Di Indonesia terdapat 127 suku yang masuk ke kategori "suku terabaikan". Suku-
suku di Indonesia yang masuk ke kategori "suku terabaikan" adalah suku yang memiliki
populasi lebih dari 10.000 jiwa namun jumlah warganya yang mengenal Kristus kurang dari
1%. Suku-suku terabaikan di Indonesia termasuk dalam 23 rumpun yang tersebar di seluruh
Indonesia. Mengapa suku-suku tersebut masih terabaikan? Sebagian orang Kristen sering
berpikir bahwa alasannya adalah karena mereka tidak bersedia mendengar Injil, bahkan sudah
menolak Injil. Namun realitanya sering tidak demikian. Mereka masih terabaikan karena
faktor-faktor yang menghalangi pemberitaan Injil ke suku tersebut. Banyak suku menjadi
terabaikan karena Injil belum diperbolehkan masuk ke suku tersebut. Orang-orang yang
percaya kepada Kristus sudah mengetahui bahwa Injil yang baik dan indah itu merupakan
kunci untuk kemerdekaan dan keselamatan. Namun, Injil sering dihalangi oleh faktor-faktor
sosial atau politik sehingga belum boleh didengar oleh masyarakat suku-suku terabaikan.
Ternyata, banyak orang akan rela menjadi percaya kepada Kristus seandainya mereka diberi
kesempatan untuk mendengarkan Injil melalui sarana yang sesuai konteksnya. Faktor-faktor
lain yang menjadi penyebab suku-suku tersebut terabaikan termasuk kondisi jemaat-jemaat
itu sendiri. Perhatian orang-orang Kristen dari suku tersebut sering tersita karena mereka
bersikap duniawi atau dihimpit tekanan hidup sehingga mengabaikan tugas untuk bermisi
yang begitu penting. Amanat Agung Tuhan Yesus mendesak setiap orang percaya agar
berperan aktif dalam memuridkan setiap suku bangsa bagi Yesus. Gereja-gereja perlu
menganggap serius Amanat Agung tersebut dan mengabarkan Injil dengan setia. Amanat
Agung memang tidak diperintahkan secara langsung kepada gereja-gereja, oleh karena itu
amanat ini tidaklah harus selalu bergantung pada keterlibatan gereja setempat. Setiap orang
Kristen diperintahkan untuk terlibat di dalamnya. Amanat Agung disampaikan kepada setiap
orang Kristen secara individu. Demikianlah setiap orang percaya harus melaksanakan
Amanat Agung, dan setiap kumpulan orang percaya, yaitu jemaat, juga harus bekerja sama
dalam melaksanakan Amanat Agung.
Mengapa Yesus belum datang untuk kedua kalinya? Jawabannya ialah karena Yesus masih
menangguhkan penghukuman terhadap segala kefasikan di dunia agar semakin banyak orang
10
bertobat dari dosa-dosanya dan berbalik kepada Allah dengan menjadi percaya kepada Yesus
(2 Petrus 3:9). Yesus menubuatkan, "Injil kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia
menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya" (Matius
24:14). Jadi, pemberitaan Injil ke semua bangsa adalah persyaratan untuk kedatangan Tuhan
Yesus yang kedua kali. Pada akhirnya nanti, setiap suku bangsa akan diwakili di sekeliling
takhta Allah di surga. Wahyu 7:9 berkata, "Kemudian dari pada itu aku melihat:
sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya,
dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan
Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka."
Akhir-akhir ini, Tuhan sedang menarik orang-orang datang kepada Yesus secara luar biasa.
Suku-suku yang dulu sangat tertutup, bahkan melawan Injil, sekarang mulai terbuka untuk
mendengarkan Injil. Allah sendiri yang menarik orang-orang itu untuk datang kepada Yesus
secara langsung. Benih-benih Injil yang ditabur pada masa lalu sedang bertumbuh. Tsunami
di Indonesia, yang menyebabkan banyak penderitaan dan tangisan, juga meninggalkan bekas
pada banyak bangsa lain, mulai dari Asia Tenggara sampai ke daratan Afrika. Lintasan
tsunami itu menjangkau tempat tinggal suku-suku terabaikan dari berbagai latar belakang
agama. Allah sedang menginsyafkan bangsa-bangsa akan kebenaran, agar mereka berpaling
kepada Yesus untuk diselamatkan (Yesaya 45:22). Ribuan orang di seluruh dunia sedang
bermimpi dan mendapat penglihatan-penglihatan mengenai Yesus (Isa Almasih). Yesus
sering menampakkan diri dengan berjubah putih berkilauan. Ia menyuruh orang-orang
mencari kebenaran tentang Dia, lalu banyak orang menjadi percaya bahwa Yesus adalah
Tuhan dan Juru Selamat. Kita pada masa ini juga diberi kesempatan untuk bekerja sama
dengan Yesus dalam memuridkan semua suku bangsa. Kalau demikian, apa yang harus kita
perbuat untuk suku-suku terabaikan? Pertama, mari kita belajar untuk mengenali mereka.
Banyak informasi di internet dan di lembaga-lembaga Kristen yang dapat digunakan untuk
memperlengkapi pengertian kita mengenai suku-suku yang terabaikan. Lembaga-lembaga
misi bisa menyediakan banyak data penolong untuk kita. Pengabdian dalam pekerjaan misi
dimulai dengan pengetahuan yang benar. Kedua, mari kita bertekad untuk mendoakan
mereka. Sebaiknya, kita masing-masing memilih salah satu suku tersebut sebagai pokok doa
harian. Dengan demikian, Saudara akan menjadi seorang duta bagi Allah untuk suku tersebut.
Berdoalah agar Tuhan menginsyafkan orang-orang suku itu mengenai kebenaran dan
anugerah Allah melalui Tuhan Yesus. Berdoalah agar Tuhan mengutus pekerja-pekerja-Nya
untuk menjangkau suku tersebut. Kenalilah kebutuhan suku tersebut. Dengan mengenal
kebutuhan mereka secara lebih mendalam, kita akan dapat mendoakan mereka secara lebih
spesifik. Ketiga, mari kita tingkatkan sumbangan bagi pekerjaan misi. Uang yang
dipersembahkan untuk perluasan Kerajaan Allah merupakan investasi yang kekal. Setiap
orang Kristen seharusnya menyelidiki bagaimana ia menggunakan uangnya dan menetapkan
prioritas finansial yang semestinya. Dengan demikian, uang yang dipersembahkan untuk
perkerjaan misi akan meningkat secara pasti, sebab perkerjaan misi adalah pekerjaan utama
Allah. Keempat, pergilah! Seandainya ada kesempatan untuk melibatkan diri secara langsung
dalam pengabaran Injil, lakukanlah. Allah paling berkenan ketika umat-Nya melibatkan diri
dalam menyebarkan Injil, baik secara lokal maupun sampai ke ujung bumi. Pertimbangan kita
untuk mengutamakan ikut dalam pekerjaan misi ialah karena Allah memunyai Anak satu-
satunya, dan Ia telah mengutus Anak-Nya tersebut sebagai seorang utusan Injil (Yohanes
3:16). Itulah alasan yang mendesak setiap orang Kristen untuk melibatkan diri dan
mendorong anak-anak kita untuk terlibat juga secara langsung dalam memuridkan semua
suku bangsa bagi Yesus.
BAB VI
Mengapa Kita Harus Mengutamakan Suku-Suku Terabaikan?
MENGAPA KITA HARUS MENGUTAMAKAN SUKU-SUKU TERABAIKAN?
DASAR ALKITAB Dasar alkitabiah tentang kehadiran suku bangsa di dunia diambil dari
firman Tuhan yang terdapat di Mazmur 86:9, "Segala bangsa yang Kau jadikan akan datang
sujud menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu." Dari ayat ini,
kita mengerti bahwa Tuhan menciptakan beragam suku bangsa demi satu tujuan, agar mereka
memuliakan nama-Nya dan menyembah hanya kepada-Nya. Itulah sebabnya, kita tidak layak
mengeluhkan besarnya jumlah suku bangsa di dunia ini. 11
Bila memandang Indonesia, kita menemukan ratusan suku bangsa dengan beragam budaya
dan bahasanya masing-masing. Sayangnya, sebagian di antara mereka belum mengenal
nama-Nya, apalagi menyembah Dia. Malahan mereka tidak memedulikan Penciptanya.
Keadaan ini tentu mendukakan Tuhan karena Ia ingin segala suku bangsa datang dan
menyembah-Nya dalam keberagaman mereka masing-masing. Ratusan suku bangsa di
Indonesia -- sekitar 6.900 suku di seluruh dunia -- masih termasuk dalam kategori terabaikan,
suatu jumlah yang sangat besar. Sejak semula, Tuhan kita adalah Allah yang berwawasan
ujung bumi. Kejadian 1:28 merupakan perintah bagi Adam dan Hawa untuk memenuhi bumi
dan menaklukkannya. Perintah ini kembali diulang kepada Nuh dalam Kejadian 9:1, tatkala
ia keluar dari bahteranya. Kemudian, ketika memanggil Abraham, Tuhan berfirman,
"Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat" (Kejadian 12:3). Demikianlah
segala bangsa di atas bumi turut mendapat berkat (Kejadian 18:18). Tentu saja berkat ini
bukan sesuatu yang didapat secara gaib. Paulus menjelaskan dalam Galatia 3:8 dan 9 bahwa
melalui iman Abraham, suku-suku bangsa non-Yahudi akan turut diselamatkan. Dan inilah
berkat yang dimaksudkan dalam kitab Kejadian. Akan tetapi, sebelum suku-suku bangsa
lainnya dapat menggabungkan diri dalam koor raksasa para penyembah, sebagaimana dilihat
oleh Rasul Yohanes sebagai nubuat (Wahyu 7:9,10), mereka harus berbalik dan bertobat
kepada Tuhan lebih dahulu. Saat ini, kita telah menjadi anak-anak Abraham. Dengan
demikian, janji-janji yang diberikan kepada Abraham dalam Kejadian 12:3 dan 18:18 juga
diwariskan dan diamanatkan kepada kita. Oleh karena itu, kita pun harus menjadi berkat bagi
segenap suku bangsa tersebut. Ada banyak ayat dalam PL yang melukiskan bagaimana suku
bangsa akan memuliakan nama Tuhan. Beberapa di antaraayat-ayat tersebut adalah seperti di
bawah ini.
Aku mau memasyurkan namamu turun-temurun; sebab itu bangsa-bangsa akan bersyukur
kepadamu untuk seterusnya dan selamanya. (Mazmur 45:18)

Hai segala bangsa, bertepuktanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai! (Mazmur


47:2)

Pujilah Allah kami, hai bangsa-bangsa, dan perdengarkanlah puji-pujian kepada-Nya.


(Mazmur 66:8)

Dengan kata lain, Tuhan kita tidak puas kalau hanya satu golongan saja yang memuliakan
dan menyembah Dia. Sebaliknya, Ia ingin supaya semua suku bangsa dan ras masuk dalam
koor yang menyembah-Nya. SEMUA MANUSIA ADALAH ORANG BERDOSA
Masalahnya, sampai saat ini target Allah tersebut belum tercapai. Tidak ada satu pun suku
bangsa yang benar. Semuanya telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Dosa telah
memisahkan manusia dengan Allah. Dalam Roma 3:9-20, Paulus membeberkan daftar
panjang dosa kita. Dan semua itu merupakan suatu realitas yang tidak dapat kita mungkiri.
Manusia diciptakan untuk memuliakan Tuhan, tetapi mereka malah mencemari dirinya
dengan melanggar perintah Tuhan. Oleh karena itu, seluruh penduduk sedunia sudah berada
di bawah hukuman Allah dan sudah terpisah dari Allah untuk selama-lamanya. Karena itu
pula, para nabi terus mengangkat masalah dosa manusia untuk menyadarkan mereka akan
keberadaannya yang sesungguhnya. Seluruh ungkapan para nabi itu ditujukan agar manusia
mau berbalik kepada Allah, Penciptanya. PRINSIP TUHAN: DOSA MENANTIKAN
HUKUMAN Paulus menjelaskan dalam Roma 1:18-22, "Sebab murka Allah nyata dari sorga
atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.
Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah
menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu
kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya
sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. Sebab sekalipun mereka
mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-
Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.
Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh."
Sebenarnya, ada banyak orang yang menyadari bahwa apa yang mereka perbuat tidak bisa
diterima oleh Tuhan (Roma 1:21). Karena mengetahui segudang dosa dalam kehidupannya,
mereka menciptakan berbagai agama untuk menenangkan hati nurani mereka (Roma 1:21-
23). Mereka membuat cara untuk bisa mengerjakan banyak amal. Akan tetapi, Tuhan tidak
bisa disuap dengan 12
berbagai amal buatan manusia (Roma 3:20). Sebaliknya, hanya lewat firman Tuhanlah
mereka dapat mengenal dosa mereka. Di mana ada dosa, di sana pulalah mestinya ada
hukuman. Hukuman yang layak atas dosa manusia adalah hukuman mati. "Sebab walaupun
mereka mengetahui tuntunan-tuntunan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang
melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri,
tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya" (Roma 3:9-20, lihat juga
Roma 6:23). Semua manusia sudah divonis (Roma 3:19b; Yohanes 3:18,36), tetapi
pelaksanaan hukuman ini masih ditangguhkan. Meskipun Tuhan kita panjang sabar dan
lapang hati, manusia tetap tidak akan selamat bila tidak bertobat. Sebaliknya, manusia akan
menjalani hukuman (Roma 2:5-11). Hal ini selaras pula dengan apa yang dikemukakan dalam
Nahum 1:3, "Tuhan itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali
membebaskan dari hukuman orang yang bersalah." JANJI-JANJI TUHAN Suku-suku
bangsa di dunia ini memang hidup di dalam dosa. Akan tetapi, anugerah Tuhan yang luar
biasa tidak membiarkan manusia untuk terus berada di dalam dosa. Melalui Anak-Nya, Ia
mengajarkan firman-Nya kepada manusia, bahkan merelakan diri-Nya untuk menanggung
semua hukuman sebagai ganti manusia (Roma 3:23,24). Meskipun demikian, Tuhan harus
menegakkan kebenaran. Ia tidak mungkin menerima semua orang karena bila demikian,
surga akan dicemari oleh kehadiran orang-orang yang tidak disucikan. Oleh karena itu,
manusia harus dibebaskan dari belenggu dosa dan disucikan oleh darah Yesus. Dan hal ini
hanya terjadi kalau manusia menerima karya Tuhan Yesus dengan imannya (Roma 3:22,25).
Karena Tuhan adalah suci dan hanya orang-orang yang sudah disucikan Tuhan saja yang
akan berada di surga. Firman-Nya jelas tentang hal ini, yaitu tanpa kekudusan tidak ada orang
yang akan melihat Tuhan (Ibrani 12:14; Matius 5:8). Alkitab penuh dengan janji-janji bahwa
suku-suku bangsa akan diselamatkan. Ketika Ismael dan ibunya disuruh meninggalkan rumah
Abraham, mereka mengembara di padang gurun, lalu mereka berseru kepada Tuhan. Seruan
itupun didengar Tuhan (Kejadian 21:17). Mereka pun mendapat air hidup. Dari peristiwa ini,
kita menyadari bahwa keturunan dari Ismael pun bisa berseru kepada-Nya. Anak-anak
Ismael, yaitu Nebayot dan Kedar, akan membawa korban di dalam kebaktian Tuhan,
sebagaimana disebutkan dalam Yesaya 60:7, "Segala kambing domba Kedar akan berhimpun
kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan
dipersembahkan di atas mezbah-Ku sebagai korban yang berkenan kepada-Ku, dan Aku akan
menyemarakkan rumah keagungan-Ku." Dari firman tersebut kita melihat bahwa Ismael tidak
disingkirkan untuk selama-lamanya. Melalui anak- anaknya ia akan memberikan kontribusi
yang sangat penting di dalam ibadah kepada Tuhan. Tidak hanya anak-anak Ismael yang akan
datang ke kebaktian besar pada akhir zaman, tetapi suku-suku bangsa lainnya juga. Hal ini
disebutkan dalam Yesaya 60:3-6, "Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu,
dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu. Kelimpahan dari seberang laut akan beralih
kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu. Sejumlah besar unta akan
menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari
Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur Tuhan."
Orang dari seberang laut yang dimaksud adalah orang yang datang dari pulau-pulau.
Perhatikan pula ayat-ayat berikut ini.
Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah Tuhan akan berdiri tegak
di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan
berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik
ke gunung Tuhan, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya,
dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman
Tuhan dari Yerusalem." (Yesaya 2:2,3)

Segala ujung bumi akan mengingatnya dan berbalik kepada Tuhan; dan segala kaum dari
bangsa-bangsa akan sujud menyembah di hadapan-Nya. (Mazmur 22:28)

Banyak bangsa akan menggabungkan diri kepada Tuhan pada waktu itu dan akan menjadi
umat-Ku dan Aku akan diam di tengah-tengahmu. (Zakharia 2:11)

Beginilah Firman Tuhan semesta alam: "Masih akan datang lagi bangsa-bangsa dan
penduduk banyak kota." (Zakharia 8:20)
13
Kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan- persembahan;
kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Membaca dan merenungkan
semua janji ini -- yang bisa ditambahkan --, tidak bisa diragukan lagi, bahwa dari semua suku
bangsa dalam dunia ini, ada yang ikut pada hari raya besar ini. (Mazmur 72:10)

VISI Tuhan memberikan janji dalam Yesaya 49:6, "Tetapi Aku akan membuat engkau
menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung
bumi." Tapi siapa yang akan bertanggung jawab untuk mewujudnyatakan janji tersebut?
Paulus menerapkan ayat ini kepadanya sendiri, "Sebab inilah yang diperintahkan kepada
kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak
mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi" (Kisah Para
Rasul 13:47). Janji-janji Tuhan itu telah menjadi perintah baginya dan berdasarkan hal itulah
ia memberitakan Injil. Bilapun tidak dapat berangkat, ia mendoakan suku bangsa lain agar
mereka selamat (Kolose 1:28-2:3). Meskipun berita Injil harus disampaikan dan diedarkan
seluas-luasnya, sampai kini masih ada suku bangsa yang belum mendengar berita
keselamatan lewat darah Yesus (Roma 3:24,25). Mengapa kita mau menyimpan berita Injil
keselamatan ini untuk diri kita sendiri? Mengapa hati kita tidak dipenuhi dengan belas
kasihan kepada semua orang yang masih hidup dalam kegelapan (Roma 9:1-3)? Tidakkah
Saudara berbeban berat ketika menyadari adanya manusia, malah seluruh suku, yang sedang
menuju ke neraka, sementara mereka sendiri tidak menyadarinya? Bukankah tugas kita justru
memperingatkan mereka? Mengapa banyak orang Kristen tidak peduli ketika banyak manusia
juga ciptaan Allah yang tidak mau menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran, padahal
mereka diciptakan untuk menyembah Tuhan (Roma 11:33-36)? Bagaimana solusi untuk hal
ini? Pergilah dan beritakanlah Injil Yesus Kristus kepada mereka, tetapi lebih dahulu
berdoalah! Tanpa doa tidak ada wewenang! Andaikata tidak ada orang Kristen yang bersedia
untuk berdoa syafaat, mendukung pelayanan, dan pergi kepada suku-suku bangsa lain,
mereka tidak akan beroleh kesempatan. Tuhan sangat memedulikan setiap suku bangsa. Oleh
karena itu, kita harus mengutamakan suku-suku terabaikan sebagai sasaran pelayanan kita
sebagai gereja. Bila kita melakukan hal ini, itu berarti kita berada dalam poros kehendak
Tuhan. Dan kita dapat terlibat lewat doa syafaat dan pergumulan kita melibatkan diri dalam
penginjilan di antara suku-suku terabaikan. Dengan demikian, akan lebih banyak orang dan
suku bangsa yang mau mengerti keselamatan dalam Kristus dan masuk dalam kerajaan
Tuhan. Bersediakah Saudara?
BAB VII
Mengadopsi Salah Satu Suku
Definisi adopsi:
1. Mengangkat anak orang lain dan mengesahkan sebagai anak sendiri; memelihara orang
lain seperti anak sendiri.

2. Mengambil keputusan untuk mempelajari, mendoakan, dan melayani salah satu suku yang
belum mengenal kasih Allah.

3. Membuat satu komitmen formal, sebagai gereja, atau jemaat setempat, atau yayasan, untuk
mendoakan, mengutus, serta mendukung pelayanan lintas budaya dan melayani salah satu
suku yang belum terjangkau.

Mengapa mengadopsi salah satu suku?


1. Karena Allah mengasihi semua suku bangsa. Allah tidak hanya mengasihi beberapa suku
saja, tetapi mengundang semua suku bangsa untuk menerima keselamatan (hidup kekal) yang
dijanjikan dan digenapi melalui Tuhan Yesus Kristus.

2. Karena banyak suku yang tidak dapat dilayani oleh pelayanan biasa. Pola pelayanan yang
kontekstual, disesuaikan dengan bahasa daerah setempat, ciri budaya suku tersebut, dan
situasi dan kondisi di tempat tersebut. Kita harus lebih mementingkan ciri budaya suku itu
daripada ciri budaya gereja kita sendiri untuk "memenangkan sebanyak mungkin" (1
Korintus 9:19-23).

3. Untuk menciptakan kemitraan yang konstruktif dan mengurangi persaingan. Setiap suku
memerlukan berbagai macam pelayanan pemuridan, pelayanan sosial, dan pelayanan
gerejawi di seluruh wilayahnya. Namun, kadang kala muncul persaingan yang tidak
konstruktif. Suatu
14
kemitraan daerah dapat menjadi forum komunikasi antarpelayanan dan sebagai saluran
berbagi sumber-sumber pelayanan, misalnya data mengenai budaya, terjemahan, dan buku
cetakan. Kemitraan di lapangan harus dimulai dengan kemitraan doa di gereja dan jemaat
setempat.

Bagaimana caranya mengadopsi salah satu suku?


1. Mendoakan berbagai suku sebelum berkomitmen sebagai kelompok yang akan
mengadopsi satu atau dua suku.

2. Menentukan bentuk adopsi yang cocok bagi kelompoknya sendiri pada saat ini

Mendoakan. Masing-masing dari kita bisa mulai berdoa syafaat bagi suatu suku.

Mendukung pelayanan dana, Alkitab, traktat yang kontekstual, pelatihan, dll..

Mengutus pelayan lintas budaya, dan perjalanan misi.

Mulai mempelajari, mendoakan, mengunjungi, dan melayani suku. "I will give you every
place where you set your foot, as I promised Moses." (Jos. 1:3, NIV).

Tiga cara komitmen adopsi.


1. Mengadopsi untuk Berdoa.

Allah kita bekerja melalui doa syafaat umat-Nya. Membuat komitmen untuk berdoa syafaat
adalah keputusan serius. Hal-hal yang didoakan antara lain, siapa dan di mana suku itu
berada, berbagai ciri budaya setempat, kebutuhan jasmani dan rohani, dan hambatan
pelayanan tertentu
2. Mengadopsi untuk Mendukung.

Jika belum siap mengutus pelayan, orang Kristen dapat mendukung pelayanan dalam bentuk
dana, bahan pelatihan, atau tenaga kerja.
3. Mengadopsi untuk Mengutus Pelayan.

Suku-suku ini belum dijanngkau oleh karena pola pelayanan yang biasa tidak efektif di dalam
lingkup budaya yang begitu berbeda. Jadi harus ada kemitraan/kerja sama di dalam proses
mempersiapkan dan mengutus calon pelayan lintas budaya. Seorang pelayan lintas budaya
adalah seorang yang dewasa di dalam Kristus, mampu mengajar, mampu menyesuaikan diri
dengan budaya setempat, dan berpengalaman dalam kerja sama tim secara efektif. BAB VIII
BUDAYA Berasal dari bahasa Latin “colore” yaitu mengolah atau mengerjakan, Inggris
“culture.” Secara umum kebudayaan berarti :
- Cara hidup yang terus berkembang
- Teladan hidup
- Sesuatu yang akan mempengaruhi keseluruhan pengertian, nilai, norma, tingkat
pengetahuan dan meliputi struktur social, religious, dan sistem ide atau gagasan yang terdapat
dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat
abstrak dan menjadi ciri khas suatu masyarakat.1

1Ebbi Smith “Culture: The Milieu of Missions” dalam Missiologi, 261.


Unsur-unsur kebudayaan yaitu estetika, material, bahasa dan sistem kepercayaan.
- Estetika (berhubungan dengan seni dan kesenian).

Nilai estetika ini perlu dipahami dalam segala peran, agar pesan yang akan disampaikan dapat
mencapai tujuan dan efektif.
- Kebudayaan Material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret,
temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian, arkeologi mencakup barang-barang.
- Bahasa, alat pengantar dalam berkomunikasi, bahasa untuk setiap wilayah, bagian dan
negara memiliki perbedaan yang sangat komplek.
15
- Sistem kepercayaan, mempengaruhi sistem penilaian yang ada dalam masyarakat,
mempengaruhi dalam kebiasaan, bagaimana memandang hidup dan kehidupan, cara
mengkonsumsi, dan cara bagaimana berkomunikasi.2

2Ibid, 261-266. 3G. Kartasapoetra dan R.G. Widyaningsih, Teori Sosiologi, (Bandung: 1982),
51. 4G. Kartasapoetra, Teori Sosiologi, 67.
Dalam hubungan dengan masyarakat, budaya dan sosial terintegrasi sejak manusia itu lahir
berawal dari kehidupan dalam lingkungan keluarga selanjutnya secara bertahap meningkat
terus sehingga menjalin hubungan sosial menyesuaikan dan menentukan cara-cara hidup
masyarakat. Dalam sosiologi modern, budaya dianggap sebagai hasil usaha manusia,
dilimpahkan dari generasi tua kepada generasi muda sehingga setiap orang berpartisipasi ke
dalam budaya itu.3 Pengamatan terhadap realita budaya harus dianalisa dengan metode
visualisasi empat tingkat pemahaman yang berurutan dengan menggunakan ilustrasi yang
disebut dengan teknik “Man from Mars” yaitu seorang mahluk dari Mars baru-baru ini telah
mendarat dengan menggunakan pesawat antariksa di bumi dan ia melihat realita kehidupan
manusia di bumi dari sudut pandangan seorang pengunjung asing dari antariksa. Adapun 4
tingkatan tersebut terdapat dalam gambar di bawah ini :
Gambar Empat tingkatan pengamatan budaya.4 Lapisan pertama dan lapisan permukaan yang
akan diamati oleh seorang asing adalah tingkah laku orang. Lapisan kedua dalam pengamatan
adalah pilihan-pilihan orang tersebut terhadap apa yang baik atau terbaik yang mencerminkan
nilai-nilai pokok orang itu. Lapisan ketiga adalah kepercayaan seseorang yang membuat
orang itu melakukan hal-hal yang dianggapnya benar. Lapisan keempat ialah pandangan
hidup seseorang dalam suatu kebudayaan yang menjadi inti dari ekspresi sebuah tingkah laku
atau pola hidup. Bentuk-bentuk kebudayaan dalam Alkitab harus dipahami dalam konteks
kebudayaannya. Bentuk-bentuk kebudayaan itu tidaklah sakral, tetapi maknanyalah yang
sakral. Sesungguhnya semua kebudayaan bersifat relatif, termasuk kebudayaan-kebudayaan
dalam Alkitab. Menurut Richard Niehbur dalam buku Christ and Culture hubungan
Kekristenan dengan budaya digambarkan dalam lima pandangan yaitu : 16
1. Christ against culture.

Penganut pandangan ini berpendapat bahwa dunia ini dan budayanya penuh dosa dan najis
bagi Tuhan sehingga Kekristenan harus menentang seluruh dunia ini serta budayanya.
2. Christ of culture

Penganut pandangan ini berpendapat bahwa Kekristenan adalah bagian dari budaya sehingga
Kekristenan menerima pengajaran budaya yang dianggap sama dengan pengajaran Kristus.
3. Christ above culture

Pandangan ini menyatakan Kekristenan berada di atas budaya. Budaya dianggap sebagai
hukum alam sedangkan di atasnya kekristenan adalah hukum surgawi.
4. Christ and culture in paradox

Pandangan ini bersifat dualistis karena di satu pihak menganggap semua budaya adalah buruk
dan di pihak lain mengakui bahwa mereka berada di dalam masyarakat budaya yang buruk
itu, tetapi Tuhan memelihara mereka setiap saat oleh anugerah.
5. Christ transforming culture

Penganut ini memiliki pemahaman bahwa Kekristenan harus merubah dan memperbaharui
budaya yang fana dan penuh dosa.5
5H. Richard Niebuhr, Christ and Culture, (New York: Harper & Row, 1951), 55.
BAB IX
Memahami Budaya
Apa itu budaya? Bagi mereka yang baru mulai mempelajari antropologi misionaris,
pertanyaan ini sering kali menjadi tanggapan pertama mengenai deskripsi, definisi,
perbandingan, model, paradigma, dll. yang membingungkan. Mungkin tak ada kata dalam
bahasa Inggris yang lebih luas daripada kata budaya; tak ada bidang lain yang lebih kompleks
daripada antropologi budaya. Namun, pemahaman mendalam akan arti budaya adalah
prasyarat agar Kabar Baik dari Tuhan dapat disampaikan secara efektif kepada kelompok
orang yang berbeda. Prosedur dasar dalam pembelajaran budaya adalah memahami
budayanya sendiri. Setiap orang memiliki budayanya sendiri dan tidak ada seorang pun yang
bisa lepas darinya. Memang benar bahwa siapa pun bisa menghargai budaya lain dan
berkomunikasi secara efektif dengan dua atau lebih budaya. Namun, tak seorang pun yang
bisa mengungguli budayanya sendiri atau budaya orang lain untuk mendapat cara pandang
yang melampaui batas budaya. Karena alasan inilah perkara mempelajari budaya menjadi hal
yang sulit, meskipun itu budayanya sendiri. Dan hampir mustahil untuk melihat suatu hal
yang hanya menjadi bagian dari seseorang secara menyeluruh dan objektif. Salah satu metode
yang berguna adalah memandang suatu budaya, membayangkan beberapa lapisan secara
berturut-turut, atau tingkat pemahaman saat melihat arti budaya yang sebenarnya. Dengan
begitu, teknik "pria dari Mars" ini akan berguna. Bayangkanlah seorang pria dari Mars baru
saja mendarat (dari pesawat ruang angkasa) dan melihat semua hal melalui kacamata alien.
Hal pertama yang akan diperhatikan seorang pengunjung adalah perilaku orang. Inilah
lapisan terluar yang akan diperhatikan oleh alien. Kegiatan apa yang akan diamatinya? Apa
yang sudah dilakukannya? Saat memasuki sebuah ruang kelas, tamu kita mungkin mengamati
beberapa hal yang menarik. Orang bisa berada di ruangan ini karena satu atau lebih
penyebab. Tampaknya mereka mengitari ruangan dengan sewenang-wenang. Seorang yang
lain berpakaian berbeda dengan yang lainnya dan mengatur posisinya sehingga berhadapan
dengan orang-orang dan mulai berbicara. Saat semua ini diamati, beberapa pertanyaan akan
muncul, "Mengapa mereka berada di kelas ini? Mengapa si pembicara berpakaian berbeda?
Mengapa banyak yang duduk ketika satu orang berdiri?" Ini adalah pertanyaan tentang arti
yang timbul karena mengamati perilaku. Menanyakan perbedaan cara bertindak pada
beberapa orang mungkin menjadi suatu hal yang menarik untuk dilakukan. Namun, beberapa
orang mungkin akan mengangkat bahu dan berkata, "Memang beginilah cara kami
melakukan sesuatu." Tanggapan ini menunjukkan fungsi penting dari budaya, yaitu
memberikan "cara yang terpola dalam melakukan sesuatu", seperti yang dijelaskan oleh satu
kelompok ahli antropologi misionaris. Anda bisa menyebut budaya sebagai "lemsuper" yang
mengikat orang dan memberikan rasa identitas dan kelangsungan yang hampir tak bisa
ditembus. Identitas ini paling jelas terlihat dari perilaku -- cara melakukan sesuatu.
Dalam mengamati penduduk, alien mulai menyadari banyak perilaku yang didikte oleh
pilihan-pilihan serupa yang telah dibuat masyarakat. Pilihan ini mencerminkan masalah nilai-
nilai budaya, lapisan berikutnya dari pandangan kita akan budaya. Masalah ini selalu
berhubungan dengan pilihan mengenai apa yang "baik", apa yang "menguntungkan", atau apa
yang "terbaik". 17
Jika pria dari Mars itu terus menyelidiki orang-orang di kelas tersebut, dia mungkin akan
menemukan bahwa ada berbagai pilihan untuk mereka dalam melewatkan waktu. Selain
belajar, mereka bisa bekerja atau bermain. Banyak yang akan memilih belajar karena yakin
itu pilihan yang lebih baik dibandingkan bermain atau bekerja. Dia menemukan berbagai
pilihan lain yang telah mereka buat. Sebagian besar dari mereka memilih datang ke ruangan
dengan kendaraan kecil beroda empat karena merasa kemampuan untuk dapat berpindah
dengan cepat sebagai hal yang sangat menguntungkan. Memasuki ruangan beberapa saat
setelah orang-orang lain masuk dan segera keluar setelah pertemuan berakhir. Orang-orang
ini mengatakan bahwa sangat penting bagi mereka untuk menggunakan waktu dengan efisien.
Nilai adalah keputusan "yang ditetapkan sebelumnya" di antara pilihan yang umumnya
dihadapi, yang dibuat oleh suatu budaya. Ini membantu orang-orang yang tinggal di dalam
budaya tersebut untuk mengetahui apa yang "sebaiknya" atau apa yang "harus" dilakukan
agar "cocok" dan sesuai dengan pola kehidupan. Melebihi pertanyaan mengenai perilaku dan
nilai, kita menghadapi pertanyaan yang lebih mendasar mengenai budaya. Hal ini membawa
kita menuju tingkat pemahaman yang lebih mendalam, yaitu kepercayaan budaya.
Kepercayaan ini memberi jawaban atas pertanyaan "apa yang benar". Nilai-nilai dalam
budaya tidak dipilih secara sembarangan, tapi mencerminkan sistem kepercayaan yang
mendasari. Misalnya, dalam kelas, seseorang yang menyelidiki lebih jauh mungkin akan
menemukan bahwa "pendidikan" memiliki arti penting tertentu karena anggapan mereka
tentang apa yang benar dari orang tersebut, kemampuannya untuk berpikir dan memecahkan
masalah. Dalam hal ini, budaya diartikan sebagai "cara pandang yang dipelajari dan dibagi
bersama" atau "orientasi kognitif yang dibagi bersama". Menariknya, alien penyelidik kita
bisa menemukan bahwa orang yang berbeda dalam ruangan tersebut, saat menunjukkan nilai
dan perilaku yang sama, bisa menyatakan kepercayaan yang sangat berbeda. Dan dia juga
bisa menemukan bahwa nilai dan perilaku bertentangan dengan kepercayaan yang seharusnya
menghasilkannya. Masalah timbul dari kebingungan antara kepercayaan pelaksanaan
(kepercayaan yang memengaruhi nilai dan perilaku) dan kepercayaan teoritis (menyatakan
kepercayaan yang hanya sedikit memengaruhi nilai dan perilaku). Inti dari semua budaya
adalah pandangannya terhadap dunia. Hal ini menjawab pertanyaan paling dasar, "Apa yang
sebenarnya?" Bidang budaya ini berkaitan dengan pertanyaan "terakhir" yang terpenting
mengenai kenyataan, pertanyaan yang jarang ditanyakan, namun yang jawaban terpentingnya
dapat diberikan oleh budaya. Beberapa tamu kita dari Mars bertanya pada orang-orang,
pernahkah mereka serius memikirkan pandangan hidup yang terdalam, yang telah membawa
mereka ada dalam kelas ini. Siapa mereka? Dari mana mereka datang? Adakah hal atau orang
lain yang mengambil kenyataan yang seharusnya dipikirkan? Apakah mereka melihat apa
adanya atau adakah sesuatu yang lain? Apakah hanya saat ini yang terpenting? Ataukah masa
lalu dan masa depan secara signifikan memengaruhi pengalaman masa kini mereka? Setiap
budaya memiliki jawaban rinci atas pertanyaan-pertanyaan ini dan jawaban itu
mengendalikan dan menyatukan semua fungsi, aspek, dan komponen budaya. Pemahaman
akan pandangan dunia sebagai inti setiap budaya menjelaskan kebingungan akan banyaknya
pengalaman pada tingkat kepercayaan. Pandangan dunia seseorang memberi satu sistem
kepercayaan yang tercermin dalam nilai dan perilaku orang itu yang sebenarnya. Terkadang
diperkenalkan sistem kepercayaan yang baru atau yang bersaing, namun pandangan dunia
tetap tidak berubah dan tidak tertantang sehingga nilai dan perilaku mencerminkan sistem
kepercayan yang lama. Kadangkala orang yang menceritakan Injil secara lintas budaya tidak
memperhitungkan masalah pandangan dunia ini. Karena itulah, mereka merasa kecewa
karena kurangnya perubahan yang dihasilkan usaha mereka. Model budaya ini terlalu
sederhana untuk menjelaskan banyak unsur dan hubungan kompleks yang ada pada setiap
budaya. Bagaimanapun juga, model yang sangat sederhana ini menjadi garis besar dasar bagi
setiap murid yang mempelajari budaya.
BAB X
Budaya dalam Kerangka Pikir Misiologi
MEMAHAMI BUDAYA
Setiap orang memiliki budaya dan tidak seorang pun dapat dipisahkan dari budayanya
sendiri. Tantangan berat bagi para misionaris (baik dalam maupun luar negeri) adalah
mengidentifikasi diri dengan orang-orang yang dilayani. Untuk itu, mereka dituntut
memahami budaya kelompok masyarakat yang dituju. 18
Langkah pertama untuk belajar budaya-budaya lain adalah menguasai budaya sendiri.
Apakah arti budaya itu? Budaya menurut para sarjana Antropologi adalah hal-hal yang
bersangkutan dengan akal (Kuncaraningrat). Budaya adalah sejumlah kebiasaan yang saling
berkaitan (Antropolog AS Boas Kroeber, Clinton, dll.). Budaya adalah organisasi sosial yang
direfleksikan oleh keseluruhannya (Antropolog Inggris Malinowski, Raeliffie Brown). Lloyd
E. Kwast menjelaskan: "Budaya memiliki empat lapisan yang terdiri dari tingkah laku, nilai-
nilai, kepercayaan-kepercayaan, dan cara pandang dunia." 1. Tingkah laku: "Apa yang Dibuat
atau Dikerjakan" Lapisan yang paling luar adalah "tingkah laku", yang dapat diamati dengan
mudah. Hal-hal yang dapat diamati adalah: kebiasaan-kebiasaan serta bahasa-bahasa dalam
berbagai bentuk dan arti. Rangkaian antara bentuk dan arti menghasilkan suatu simbol: "Apa
yang dikerjakan?" Pertanyaan tersebut melahirkan pertanyaan: "Apa artinya?" Contoh:
Acungan jempol, berjabat tangan, orang Barat berpelukan sambil mencium pipi, dan lain-
lain. 2. Nilai-Nilai: "Apa yang Baik atau yang Terbaik?" Tingkah laku kebanyakan
bersumber dari suatu sistem nilai-nilai standar tingkah laku dan pertimbangan yang
memberikan tuntutan ke dalam hal apa yang baik dan indah atau terbaik dan terindah. Sistem
nilai biasanya tumpang tindih dengan budaya. Pertanyaan "Apa yang baik atau yang terbaik?"
mencetuskan pertanyaan lain: "Apa yang dibutuhkan?" Contoh: Di Irlandia jumlah penduduk
lebih besar daripada persediaan makanan. Penduduknya sering mengalami kekurangan
makanan yang amat dahsyat, dan itu sudah biasa bagi mereka. Oleh karena itu, ada kebutuhan
yang nampak dan mendesak yaitu mengurangi jumlah penduduknya. Tetapi karena jumlah
mayoritas penduduk adalah pemeluk agama Kristen yang menolak KB, maka jalan keluarnya
adalah menyusun dan mengembangkan kebudayaan dengan suatu anjuran yang menyerupai
keharusan. Setiap penduduknya diminta untuk tidak menikah sebelum berusia 30 tahun.
Akhirnya, laju pertambahan penduduk bisa dikurangi karena adanya penundaan pernikahan.
Di India terjadi sebaliknya, pernah juga terjadi kelaparan yang sangat hebat sehingga rata-rata
orang di sana hanya berusia 28 tahun. Hampir setengah dari anak-anak meninggal sebelum
berusia 5 tahun, sehingga terjadilah kekurangan penduduk. Dengan demikian nampaklah
suatu kebutuhan dan budaya yang harus dikembangkan sebagai jalan keluar dari masalah
tersebut. Wanita-wanita di India diwajibkan untuk menikah pada usia 12 atau 13 tahun.
Akhirnya terjadilah ledakan jumlah penduduk yang luar biasa sampai sekarang. 3.
Kepercayaan-Kepercayaan: "Apa yang Benar?" Nilai-nilai merupakan refleksi dari
kepercayaan-kepercayaan. Sering kali, kepercayaan-kepercayaan dipertahankan secara
teoretis tetapi tidak memengaruhi nilai-nilai atau tingkah laku. Sistem kepercayaan-
kepercayaan berperan untuk memberikan tuntutan kepada masyarakat setempat dalam
mengambil keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan. Contoh: Perang antara suku Madura
dengan suku Dayak di Kalimantan Barat. Suku Dayak identik dengan kekristenan yang
percaya bahwa tidak diperbolehkan membunuh manusia. Tetapi kebutuhan akan
kelangsungan hidup dan kejayaan suku tersebut membuat mereka memilih membunuh
daripada tetap mengikuti kepercayaannya. 4. Cara Pandang Dunia: "Apa yang Terjadi?" Cara
pandang dunia adalah keyakinan dasar seseorang yang berfungsi sebagai lensa tafsir terhadap
kenyataan dan penuntun menuju suatu keputusan. Contoh: Orang dari suku Jawa percaya ada
hari-hari tertentu yang baik yang bisa mendatangkan kebaikan dan ada hari-hari tertentu yang
tidak baik yang mendatangkan sial. Jika ada rumah tangga yang berhasil atau gagal sering
ditafsirkan karena pengaruh hari perkawinannya. Sifat Umum dari Budaya 1. Allah
menciptakan budaya. Para misiolog, khususnya yang berpaham injili, rata-rata percaya bahwa
budaya adalah ciptaan Allah yang baik pada mulanya dan rusak bersama dengan jatuhnya
manusia dalam dosa. 2. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk berbudaya. 19
Ini adalah satu hal yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lain yaitu manusia
sebagai makhluk yang berbudi dan berbudaya. 3. Budaya telah rusak bersama dengan
rusaknya gambar dan rupa Allah dalam diri manusia. Karena manusia tidak bisa dipisahkan
dengan budayanya, maka penebusan sudah barang tentu meliputi budaya. Oleh karena itu,
para misiolog perlu mengamati dan menghargai budaya-budaya lain, mengantisipasi karya
Allah di dalam dan melalui budaya-budaya tersebut. INJIL DAN BUDAYA Injil di Balik
Budaya Dalam gerakan pemberitaan Injil yang dilakukan oleh para misionaris, pernah terjadi
perbedaan yang tidak jelas antara Injil dan kebudayaan. Walaupun tidak mudah, perbedaan
Injil dan budaya harus dibuat dengan jelas. Jika perbedaan antara kedua unsur tersebut kurang
jelas, akan ada bahaya bagi pembawa Injil untuk membiarkan budayanya sendiri menjadi
pesan Injil. Ada beberapa contoh "bagasi budaya" yang dijadikan bagian dari pesan Injil,
seperti demokrasi, kapitalisme, bangku dan mimbar gereja, sistem organisasi, peraturan,
pakaian resmi pada hari Minggu, dll.. Akhirnya, sering kali terjadi permasalahan terhadap
budaya asing yang ditambahkan atau dilampirkan pada pesan Injil mengakibatkan penolakan
terhadap kekristenan. Injil vs Budaya Ketika berhadapan dengan budaya, Injil sering
menghadapi dua kemungkinan, yaitu Injil menelan budaya atau budaya menelan Injil. Kedua-
duanya sama-sama mendatangkan kerugian. Jalan keluarnya adalah kontekstualisasi.
Beberapa contoh: a. Orang-orang Kristen di Jawa tidak lagi mengurusi kuburan leluhurnya
dan memanjatkan doa di sana sehingga kuburan-kuburan orang Kristen Jawa menjadi rusak,
kotor, dan tidak terawat. Akibatnya orang-orang Jawa yang belum Kristen takut masuk
Kristen karena takut kuburannya tidak terawat dan tidak dikirimi doa oleh kerabatnya. b.
Orang-orang Kristen di Afrika tidak lagi membersihkan sampah dan kotoran-kotoran yang
menurut keyakinan sebelumnya dipakai sebagai tempat persembunyian roh-roh jahat; mereka
tidak lagi takut dengan roh-roh tersebut. Akibatnya, sampah dan kotoran-kotoran tersebut
menjadi sarang penyakit dan banyak mendatangkan kematian. Hal tersebut menghalangi
orang lain untuk menjadi Kristen. Orang-orang Kristen Indonesia yang beribadah di sebuah
gereja dengan mimbar dan bangku, pakaian bagus, tata ibadah, paduan suara, seperangkat alat
musik dan lain-lain lebih mencirikan budaya Barat daripada Injil, sehingga bagi orang-orang
yang tidak bisa menerima budaya Barat dengan sendirinya menolak Injil. ANALISA
BUDAYA Agar tidak terjadi kekeliruan, para utusan Injil harus menganalisa budaya sesuai
dengan tahapan-tahapannya, sehingga ada peluang untuk membuka pintu masuk bagi Injil.
Tahap Fenomenologis Tahapan ini hanya melihat fenomena dari permukaan saja. Dalam
ilmu alami kita menyelidiki fenomena dari pengalaman panca indra. Para ilmuwan sosial
(anthro, sosio, psiko) memandang dari "pendekatan orang dalam" ("pendekatan emic")
terhadap realita. Kita menyelidiki bagaimana orang dalam memandang sesuatu, sebab ini
merupakan kerangka untuk kita mengerti kepercayaan dan tingkah lakunya. "Pendekatan
orang dalam" ini menolong kita mengerti orang dari kebudayaan lain dari sudut pandang
mereka. Tetapi pendekatan ini tidak disertai dengan pemikiran kritis. Penjelasan tentang
suatu fenomena diterima sebagai suatu kebenaran. Jadi, kalau mereka berkata bahwa penyakit
cacar disebabkan oleh suatu roh atau karena kutukan nenek moyang, maka jawaban itu akan
diterima sebagaimana adanya. "Pendekatan emic" akhirnya hanya akan menghasilkan pikiran
naif dan relativisme kebudayaan. Tidak ada yang mutlak atau benar secara universal. Tahap
Ontologis
Pada tahap ini kita berusaha menggali fenomena lebih dalam lagi untuk mengetahui "realita
yang sebenarnya". Pada tahap ini kita mengevaluasi berbagai teori; kita menerima teori yang
lebih dapat 20
menjelaskan realita dan menolak yang lain. Pada tahap ontologis kita menegaskan bahwa ada
suatu realita yang benar yang didukung oleh teori-teori, dan bahwa ada "penyebab" absolut
atas segala sesuatu. Dalam ilmu antropologi pendekatan ontologis disebut sebagai
"pendekatan etic". "Pendekatan etic" berarti kita mengembangkan suatu sistem untuk
membandingkan dan mengevaluasi berbagai kultur untuk mencapai suatu teori universal.
Misalnya, kita mengambil konklusi bahwa malaria di seluruh dunia disebabkan oleh nyamuk.
Atau, gerhana matahari disebabkan oleh bulan melintas di bawah matahari. Tahap
Misiologis Dalam pelayanan lintas budaya kita harus menghadapi perbedaan antara
pendekatan emic dan etic. Misalnya ada kultur yang membenarkan pembunuhan anak, tetapi
berdasarkan Alkitab kita menegaskan perbuatan itu sebagai dosa. Hitler membenarkan
pembunuhan orang Yahudi, sebagai orang Kristen kita kutuk perbuatan itu sebagai dosa.
Dalam hubungan kita dengan masyarakat non-Kristen kita perlu memulai dengan
kepercayaan dan praktik mereka. Misalnya, kepada orang yang beragama lain yang menolak
pembunuhan segala sesuatu, kita jelaskan obat luka sebagai "obat membersihkan luka",
bukan "obat pembunuh kuman'". Atau, di masyarakat yang masih percaya kepada dukun kita
mungkin bisa menawarkan alternatif baru daripada menantang jawaban yang lama, seperti
obat sebagai ganti dukun. Bahaya memakai pendekatan emic ialah kita menguatkan
kepercayaan mereka. Ada bagian-bagian dalam setiap kebudayaan yang tidak dapat diterima
oleh Injil, dan bagian ini perlu ditantang. Ketika Injil tidak menantang kultur, melainkan
mendukungnya, maka akan timbul suatu aliran kepercayaan. Supaya kita menghasilkan orang
Kristen dewasa, maka kita harus menantang kepercayaan palsu dan memperkenalkan
kebenaran alkitabiah. Artinya, kita harus memperkenalkan standar dan kepercayaan eksternal.
Oleh karena itu pendekatan misiologi yang baik adalah yang menggabungkan pandangan
emic dan etic, dan rela bekerja dalam ketegangan yang akan timbul di antaranya. BAB XI
Lebih Jauh Tentang Budaya dan Identifikasi Jika ada orang Kristen yang menghakimi
orang non-Kristen dengan menyebut mereka sebagai jahat, kafir, dan berdosa, orang Kristen
itu telah bersalah. Budaya "Kristen" yang seperti itu sebenarnya juga suatu dosa. Pekerja
lintas budaya perlu memahami bahwa sebagian besar budaya adalah netral. Lausant Covenant
dalam artikelnya, "Penginjilan dan Budaya", mengatakan, "Karena manusia adalah ciptaan
Tuhan, sebagian budayanya kaya dalam hal keindahan dan kebaikan." Dalam komentarnya,
John Stott menjelaskan, "Budaya bisa disamakan dengan permadani hiasan, rumit namun
indah, yang dibuat oleh masyarakat tertentu untuk mengekspresikan identitas hukumnya.
Kepercayan dan budaya adat adalah bagian dari permadani ini. Lausanne Covenant
menentang pemasukan "budaya alien" ke dalam Injil. Willowbank Report dengan tegas
menyatakan, "Terkadang dua kesalahan budaya ini dilakukan bersamaan, dan si penginjil
bersalah karena imperialisme kultural merusak budaya lokal dan bahkan membawa masuk
budaya alien." Setiap budaya harus diuji dan dinilai oleh Kitab Injil seperti yang ditegaskan
Lausanne Covenant. Kebanyakan budaya bisa diperluas menjadi sarana untuk mengabarkan
Injil. Dalam kitab Kisah Para Rasul 17:26-28, Paulus -- dalam sidang Areopagus di Atena --
mengatakan bahwa Tuhan sudah menentukan tempat yang tepat di mana orang harus tinggal.
Karena itulah, budaya merupakan bagian dari rencana Tuhan. Dan Ia menempatkan orang di
tempat di mana mereka harus tinggal agar mereka dapat mencari dan menemukannya. Pada
kesempatan ini, kita mungkin menemukan bahwa pendekatan Paulus terhadap orang Atena
berbeda dengan pendekatannya pada jemaatnya. "Pandangan dunia" orang Atena perlu
diperhitungkan dan diperhatikan. Paulus sudah melihat bahwa kota itu penuh dengan berhala
dan hal itu membuatnya sedih. Dalam pesannya, ia mulai membuat referensi mengenai cara
hidup rohani dan objek berhala mereka. Secara khusus, dia sangat tertarik dengan sebuah
mezbah yang bertuliskan: KEPADA ALLAH YANG TIDAK DIKENAL.
Lalu ia menyatakan siapa Tuhan itu, Sang Pencipta, Allah surga dan bumi yang tidak
menetap di kuil-kuil buatan manusia. Dialah Pemberi semua nafas kehidupan. Kemudian
Paulus 21
membuat referensi mengenai di mana manusia harus tinggal sebagai sesuatu yang ditentukan
Tuhan. Tuhan melakukan ini agar orang-orang mencari dan bisa menemukan-Nya. Paulus
juga mengutip filsafat Yunani dan menegaskan apa yang telah mereka katakan. Dari kutipan
salah satu puisi mereka, dia memperkenalkan Injil. Setelah membicarakan inti dari
kepercayaan mereka, dia memperkenalkan kebenaran. Berbagai macam tanggapan muncul
ketika Paulus membicarakan penyaliban. Hanya sedikit yang memercayainya, termasuk
seorang anggota Areopagus. Rasul Paulus peka terhadap budaya. Dia tentu sudah menyadari
bahwa orang-orang tersebut sangat berpegang pada budayanya dan dibentuk oleh latar
belakang mereka ketika dia menulis surat 1 Korintus 9. Konteks ini berkaitan dengan
penyerahan hak-haknya sebagai seorang rasul. Dia membuat satu pernyataan yang
mengagumkan, "Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba
dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang." Lebih jauh
lagi dia mengatakan, "Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi ....
Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat (non-Yahudi) aku menjadi seperti
orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat ...." Perhatikanlah kata "seperti" dan
renungkan artinya. Paulus bertekad untuk menjadi "segalanya bagi semua manusia" agar
dapat menyelamatkan mereka. Dalam beberapa kitab Galatia, Paulus mengenali bahwa hanya
ada satu Injil. Namun, Injil ini akan diartikan berbeda oleh orang-orang Yahudi dan non-
Yahudi. Oleh karena itu, dalam membawa berita Injil kepada orang non-Yahudi, orang
Yahudi tidak boleh memaksakan unsur-unsur keyahudiannya kepada orang non-Yahudi.
Karena unsur-unsur tersebut tidaklah penting untuk Injil, malah merusakkan kebenaran Injil.
Masalah yang umum dengan para pekerja lintas budaya adalah mereka sering kali sudah
memiliki pandangan awal tentang apa yang membantu pelayanan mereka. Bukan hanya
memiliki pola budayanya sendiri yang ternyata sulit untuk diubah, mereka juga membawa
"sub-budaya Kristen" mereka. Misalnya, seorang misionaris yang terlibat dalam perintisan
gereja tentunya sudah memikirkan cara perintisan tertentu. Pemikiran seperti itu akan
merintangi penginjilan. Yang sama buruknya, orang-orang yang tinggal di kota sasaran
penginjilan akan meneliti unsur Kristen baru dan berpikir bahwa mereka harus menerima dan
mempraktikkan unsur-unsur ini agar menjadi orang Kristen. Tidak mengherankan, banyak
orang Asia yang memandang agama Kristen sebagai agama Barat. Melihat kembali sejarah
kekristenan pada tahun 1500-1900 di Asia, Paul Johnson membuat pernyataan tajam. "Adalah
ketidakmampuan kekristenan untuk berubah dan mengurangi sifat keeropaannya sehingga
kesempatan yang ada terlewatkan. Sangat sering gereja Kristen menempatkan dirinya sebagai
perluasan konsep sosial dan intelektual Eropa daripada sebagai perwujudan kebenaran
universal .... Meskipun kekristenan lahir di Asia, saat diekspor kembali dari abad enam belas
ke depan, kekristenan gagal untuk mendapatkan sifat keasiaannya." Banyak misionaris Barat
pada masa lampau yang tidak mau mengenali budaya asli tempatnya berada karena tekanan
dan ketegangan yang akan mereka hadapi dalam proses pengenalan itu. Kini ketika orang-
orang Asia terlibat dalam pelayanan lintas budaya, mentalitas yang sama ini harus
disingkirkan. Kita bisa disalahkan karena merusak prinsip alkitabiah misi. FUNGSI,
BENTUK, DAN ARTI Misionaris yang terlibat dalam perintisan gereja harus berhati-hati
dalam membedakan fungsi dan bentuk. Fungsi adalah kegiatan penting yang memiliki tujuan.
Sedangkan bentuk adalah pola, struktur, atau metode yang digunakan untuk melaksanakan
fungsi. Orang Kristen baru perlu mengekspresikan kepercayaan mereka dan menyembah
dalam cara kultural yang berarti. Mereka harus memiliki kebebasan untuk menolak pola
kultural alien dan mengembangkan pola kulturalnya sendiri. Mereka bebas untuk
"meminjam" bentuk budaya dari yang lain, namun harus yang berarti. Seseorang dengan latar
belakang religius Asia akan terbiasa jatuh dan lemah dalam menyembah Tuhan daripada
duduk di kursi dengan mata tertutup. Di Afrika, drum digunakan di beberapa daerah untuk
memanggil orang-orang dalam penyembahan, meskipun sebelumnya alat tersebut tidak
diterima. Di Bali, dewan penatua gereja mempelajari kepercayaan alkitabiah dan kultural,
lalu menentukan bahwa gaya arsitektural tertentu untuk jemaat mereka akan bisa dengan jelas
menunjukkan kepercayaan mereka. Karena orang-orang Bali sangat "visual", mereka
mengekspresikan kepercayaan terhadap Trinitas dengan merancang atap bangunan gereja
mereka menjadi bertingkat tiga. Dalam suatu budaya, hampir semua adat akan melaksanakan
fungsi yang penting. Untuk itulah, adat seharusnya tidak dicap "jahat" dan dihapuskan tanpa
melihat fungsi dan artinya. Terkadang, adat lama bisa memberi arti yang baru. Beberapa
memang harus dihapuskan. Dalam beberapa contoh, bisa diberikan adat penggantinya yang
menjalankan fungsi sama. 22
KEUNIVERSALAN INJIL Ketika kita mengenali orang-orang dari budaya yang berbeda,
pesan yang kita bawa, yaitu Injil bisa disampaikan. Injil ini ditemukan dalam Alkitab. Di satu
sisi, isi Injil ditemukan dalam keseluruhan Alkitab yang menjelaskan Injil dengan berbagai
macam cara kepada orang-orang dari budaya yang berbeda-beda. Ada sesuatu dari Injil yang
relevan dengan budaya apa pun. Yang harus kita hindari adalah membawa Injil yang belum
dikemas ke dalam satu budaya baru. Banyak kelompok yang terburu-buru "mengambil
keputusan untuk Tuhan" telah menjadi tidak bijaksana dalam melaksanakan metode.
Akibatnya, mereka lebih banyak mengakibatkan kerusakan daripada perbaikan dan terkadang
pula menutup jalan bagi pekerjaan lintas budaya yang selanjutnya. Orang bisa menolak pesan
Injil bukan karena mereka antipati terhadap Kristus atau kekristenan, namun karena
kekristenan dianggap sebagai ancaman terhadap budaya dan solidaritas masyarakat mereka.
Ini tidak hanya terjadi pada masyarakat suku dan religius, tetapi juga pada masyarakat
sekuler. Oleh karena itu, faktor kultural tidak bisa diartikan hanya di permukaan saja. Ketika
firman Tuhan mulai menembus suatu masyarakat, firman itu memiliki kuasa untuk berbicara
kepada adat dan kepercayaan masyarakat tersebut. Adat dan kepercayaan yang tidak cocok
dengan Kitab Injil harus dihapuskan. Yang tidak bertentangan dengan Injil bisa
dipertahankan, bahkan dipoles dan diubah di bawah pemerintahan Tuhan. Dan saat orang
berserah dalam pemerintahan Tuhan, Roh Kudus meneranginya melalui kitab Injil untuk
memahami kebenaran dengan cara yang baru melalui pandangan mereka sendiri.
PEMERINTAHAN TUHAN ATAS BUDAYA Saya ingat, ketika akan masuk universitas,
bagaimana bapa rohani saya menasihati saya untuk melihat semua seni, ilmu, dan filosofi
yang akan saya geluti di bawah pemerintahan Kristus. Ini semua harus diuji di bawah
ketelitian Kitab Injil. Nasihatnya tidak pernah saya lupakan. Adalah petualangan untuk
melihat semua studi lewat pandangan ini. Jika Kristus sungguh-sungguh Tuhan atas
segalanya, budaya harus berada di bawah-Nya. Prinsip ini cukup berguna karena pekerja
lintas budaya harus hidup dengan tingkat ambiguitas (suatu persyaratan agar pekerja lintas
budaya menjadi efektif). Lausanne Covenant dalam salah satu arikelnya di Penginjilan dan
Budaya menyatakan, "Injil ... mengevaluasi semua budaya menurut kriteria kebenarannya
dan menuntut kemutlakan moral di setiap budaya." Maka dari itu, firman Tuhan menolak
berhala-berhala yang menentang keunikan Tuhan. Hukum moral Tuhan juga bersifat mutlak,
sedangkan budaya mengandung adat istiadat dengan nilai yang berkaitan. Injil Anugerah juga
menolak budaya, bentuk, dan praktik yang didasarkan pada kebaikan manusia untuk
memperoleh keselamatan. Ketika orang terbuka terhadap pengajaran Injil, kita bisa
memercayai bahwa Roh Tuhan mengubahkan "pandangan dunia" orang-orang ini saat
mereka menaati firman Tuhan.
BAB XII
Aspek-Aspek Komunikasi Lintas Budaya
A. Utamakan yang Terpenting Ada dua hal penting yang perlu kita pelajari agar berhasil
menginjili siapa pun, khususnya kelompok mayoritas. Tanpa kedua hal ini, usaha kita akan
sia-sia. Pertama adalah hidup yang kudus, dan yang kedua adalah doa dan kepercayaan yang
teguh bahwa Allah masih melakukan mukjizat guna meneguhkan kebenaran Injil. Hidup
yang Kudus Penginjilan yang berhasil tidak pernah bergantung pada perdebatan yang hebat
atau teknik-teknik yang diterapkan secara sempurna. Berpikir dan belajar bagaimana
memberitakan Injil secara lebih baik tetap merupakan hal yang penting. Walaupun demikian,
betapa pun menariknya kesaksian kita kepada kelompok mayoritas, kesaksian kita ini tidak
akan berguna jika hidup kita tidak mencerminkan kepribadian Kristus. Hal itu seperti
menghidangkan makan malam yang lezat di piring yang kotor. Saksi Kristus yang tidak hidup
kudus mungkin akan lebih banyak merugikan daripada menguntungkan perluasan
pemberitaan Injil.
Saya kenal seorang laki-laki yang senang berbicara tentang Yesus dan Injil dengan siapa saja
yang mau mendengar. Dia memandang dirinya sendiri sebagai pengkhotbah dan penginjil,
namun dia sudah menikah beberapa kali. Baru-baru ini saya melihat dia bersama wanita lain
yang bukan 23
istrinya. Orang itu tidak memiliki kesaksian yang baik di lingkungannya; dia dianggap orang
munafik. Demikian pula dengan orang yang tidak mau meminjamkan uang kepada orang
yang sedang membutuhkan pinjaman. Demikian pula dengan orang yang gampang marah,
orang yang tidak membayar hutangnya, atau yang suka berbohong. Hidup orang seperti itu
tidak membangkitkan rasa hormat dari orang-orang yang tidak percaya. Bagaimana mereka
dapat memercayai Injil dari mulutnya? Apakah kita harus sempurna dahulu baru kita berhak
menginjil? Tentu saja tidak. Yang kita perlukan ialah menjadi semakin serupa dengan Yesus.
Kita tidak dapat membenarkan gaya hidup yang terang-terangan melanggar perintah Allah.
Sebaliknya, orang yang belum percaya harus melihat adanya kualitas-kualitas yang baik pada
pengikut-pengikut Kristus. Orang-orang percaya mungkin tidak menyadari bahwa kualitas-
kualitas ini diperhatikan oleh orang lain. Walaupun demikian, Allah sendiri bekerja di dalam
diri kita untuk mengubah kita menjadi orang-orang yang lebih baik. Kalau kita mengabaikan
dosa yang ditunjukkan Allah dalam hidup kita, kita tidak akan dapat menjadi saksi-Nya yang
berguna. Allah telah menciptakan kita sebagai bejana yang kudus (2 Korintus 4:7). Kita telah
dikuduskan untuk membawa Injil kepada orang-orang yang belum mendengarnya. Hal ini
tidak mungkin dapat dilakukan kalau kita tidak meneladani Yesus. Kita masing-masing harus
berusaha mengenal Allah dan hidup dalam kekudusan-Nya. Hal itu harus menjadi tujuan
yang paling penting dalam kehidupan kita. Dengan demikian, Dia akan memakai kita.
Berdoa untuk Mukjizat Penginjilan merupakan bagian dari peperangan rohani yang besar.
Sebelum masuk dalam peperangan, tentara-tentara harus memiliki senjata yang tepat dan
ampuh. Paulus mendaftarkan senjata yang kita butuhkan dalam Efesus 6. Ketika semua
senjata itu sudah siap untuk dipakai dan semua tentara itu sudah siap untuk berperang, Paulus
berkata itulah waktunya untuk berdoa. Maksudnya, doa adalah tempat untuk menghadapi
musuh. Medan peperangan ada di dalam doa. Kita diberitahu bahwa doa orang yang benar
sangat berkuasa dan efektif (Yakobus 5:16). Kebenaran adalah perkara menaati Allah dan
hidup dalam kekudusan, maka di dalam doa kita dapat mengatasi perlawanan musuh.
Sebelum kita mulai bersaksi, kita harus berdoa untuk orang yang tersesat, supaya mata
mereka tercelik dan hati mereka terbuka. Kita berdoa untuk seluruh keluarga dan tetangga
supaya mereka beriman kepada Kristus. Kita berdoa supaya Allah menyadarkan mereka
bahwa mereka membutuhkan keselamatan dan hal-hal yang kekal. Kita berdoa melawan
kuasa-kuasa kegelapan yang mengikat seluruh kelompok orang itu. Ketika Roh Allah
berjalan di depan kita, maka kita pergi memberitakan Injil. Ketika kita berdoa, kita tahu
bahwa Roh sedang bekerja. Dia memakai doa kita untuk menghancurkan benteng-benteng
kejahatan (2 Korintus 10:4). Usaha kita yang terpenting harus terpusat pada doa. Orang yang
terbeban untuk memberitakan Injil kepada kelompok mayoritas sering bergumul dalam upaya
menemukan kunci yang tepat untuk membuka hati orang-orang yang belum percaya. Tetapi
dari pengalaman, kita melihat bahwa hal tersebut tidak sesederhana itu. Siapa pun yang
pernah berusaha membuka gembok yang sudah karatan tahu bahwa gembok itu tidak mudah
dibuka, sekalipun dengan kunci yang tepat. Jika gembok itu sudah lama tidak dibuka,
mungkin diperlukan pelumas. Pelumas untuk membuka kunci hati dan pikiran orang-orang
adalah minyak roh. Roh Allah bekerja membuka hati mereka ketika kita berdoa dan terus
mencoba kunci Injil. Salah satu doa yang paling dinamis ditemukan dalam Kisah Para Rasul
4:23-31. Saat itu murid-murid diancam karena mengabarkan Injil. Allah telah meneguhkan
kebenaran pemberitaan mereka dengan menyembuhkan seorang yang lumpuh. Petrus dan
Yohanes memimpin jemaat itu dalam doa supaya Allah menolong mereka, dan supaya
mereka tetap berani walaupun ada ancaman dari para pemimpin Yahudi. Lebih jauh lagi,
mereka meminta Allah untuk terus mengadakan mukjizat demi menyatakan kebenaran Injil
Yesus Kristus. Allah berkali-kali mengabulkan doa itu melalui banyak tanda dan berbagai
keajaiban. Dan mereka terus menginjili.
Allah masih melakukan mukjizat sampai saat ini. Tetapi, keajaiban-keajaiban itu bukan hal
utama untuk menguatkan kita yang sudah percaya. Memang kita akan menjadi semakin
bersemangat ketika melihat Allah bekerja dengan cara yang luar biasa, namun kita memiliki
firman Allah dan janji-janji-Nya untuk menguatkan kita. Allah memakai tanda-tanda dan
keajaiban, khususnya untuk meneguhkan Injil kepada orang-orang yang akan percaya. Saat
ini Allah memberi mimpi dan penglihatan kepada mereka yang mencari Dia. Orang-orang
disembuhkan dan dijamah Allah dengan cara-cara yang luar biasa. Kita harus berdoa supaya
Allah mengadakan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban untuk meneguhkan kesaksian kita
kepada teman-teman dan keluarga kita yang beragama lain. Allah mungkin memakai
mukjizat untuk membawa mereka yang Anda kenal kepada Kristus. Karena itu, berdoalah
supaya Allah mengadakan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban. Allah ingin 24
menjawab doa yang seperti itu supaya dunia ini dipenuhi oleh pengetahuan akan kemuliaan-
Nya (Habakuk 2:14). Pendekatan yang Alkitabiah Pendekatan yang alkitabiah untuk
menyampaikan Kabar Baik ialah hidup berdampingan dengan orang-orang yang belum
mendengarnya, kemudian ceritakan Injil kepadanya. Yesus memakai cara ini di jalan ke
Emaus (Lukas 24:13-35). Dia berjalan berdampingan dengan 2 orang yang sedang berbicara
tentang arti penyaliban Yesus dan tentang kebangkitan-Nya. Dia ikut berbicara dengan
mereka. Dia mengarahkan percakapan mereka pada pesan nabi-nabi di dalam firman Allah.
Beberapa waktu kemudian, mereka mengerti apa yang Yesus jelaskan kepada mereka.
Begitulah cara Yesus berkomunikasi dari waktu ke waktu. Filipus, melakukan hal yang
serupa (Kisah Para Rasul 8:26-40). Allah memanggil dia untuk pergi ke padang gurun dekat
Gaza. Ketika sedang berjalan, Filipus mendekati seseorang yang berada di dalam kereta.
Maka, Filipus berlari mendekatinya. Orang itu sedang membaca dari kitab Nabi Yesaya dan
memunyai beberapa pertanyaan. Dia mengundang Filipus untuk naik ke keretanya. Filipus
mengambil kesempatan itu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan orang tersebut. Lalu dia
mengarahkan percakapan itu kepada Kabar Baik. Seperti Yesus, Filipus secara harfiah telah
berjalan berdampingan dengan orang yang diinjili olehnya. Kita tidak harus berjalan bersama
seseorang setiap kali kita memberitakan Injil. Namun secara kiasan, aturan yang sama tetap
berlaku. Kita harus berusaha berjalan ke arah yang sama dengan arah orang itu. Kita
melakukan hal itu sambil berusaha mengetahui bagaimana dia berpikir. Kita harus memasuki
dialog (percakapan dua arah) dengan dia, bukan monolog (percakapan satu arah) atau
memberi ceramah. Cobalah untuk mendengarkan mereka terlebih dahulu. Berusahalah untuk
mengerti keadaan mereka. Anggaplah diri Anda sendiri sebagai seseorang yang sedang
belajar memahami posisi orang lain. Setelah Anda mendengarkan dan mengerti, maka Injil
kebenaran Allah akan dapat Anda ungkapkan secara lebih tepat. Di samping itu berjalanlah
dengan wajar, jangan tergesa-gesa. Kadang-kadang itu merupakan perjalanan yang panjang.
Jarak dari Yerusalem ke Emaus lebih dari 11 kilometer. Bahkan, Yesus pun perlu menempuh
setiap langkah dalam perjalanan yang panjang itu untuk meyakinkan kedua orang itu yang
sebelumnya sudah pernah mendengar Dia berbicara berhadapan muka dengan mereka.
Tujuannya adalah untuk menyampaikan kebenaran Injil kepada teman-teman kita dengan
lembut dan perlahan. Mungkin ilustrasi berikut ini akan memperjelas apa yang dimaksudkan
dengan berjalan berdampingan. Bayangkan sebuah kereta kuda yang berlari kencang tanpa
kusir ke arah Anda. Apakah Anda akan berusaha menghentikannya langsung dari depan? Jika
Anda melakukan hal itu, Anda mungkin akan mendapati diri Anda terbaring di rumah sakit
atau lebih buruk lagi daripada itu. Anda akan berhasil jika Anda berlari berdampingan dengan
kuda itu dan berusaha menangkap tali kendalinya untuk memperlambat derap kuda itu. Lalu
Anda dapat menghentikannya atau membelokkannya ke arah yang benar. B. Diperlukan
Waktu Proses menceritakan Kabar Baik kepada mereka yang belum pernah mendengarnya
memerlukan waktu yang tidak sedikit. Jarang sekali ada orang yang langsung beriman setelah
mendengar Injil untuk pertama kali atau untuk kedua kalinya. Lebih jarang lagi ada orang
yang langsung beriman setelah mendengar Injil dari orang yang tidak dikenal olehnya. Yesus
sendiri menunjukkan bahwa diperlukan waktu untuk berbincang-bincang dengan satu sama
lain. Dia meninggalkan surga selama 30 tahun lebih untuk melakukan hal itu. Kedatangan-
Nya kepada kita dan kesediaan-Nya meluangkan waktu bersama kita merupakan hal yang
penting bagi kita. Dengan demikian, kita dapat lebih mengerti tentang Kerajaan Allah. Hal itu
penting bagi keselamatan kita. Orang-orang Kristen perlu mengikuti teladan Yesus; mereka
perlu pergi kepada orang-orang yang belum mendengar Injil. Kalau tidak demikian, dengan
cara bagaimana orang-orang itu akan mendengar Injil (Roma 10;14-17)? Jarang sekali
mereka datang kepada kita. Kitalah yang harus pergi kepada mereka. Memang hal itu
merupakan proses yang panjang dan melelahkan. Waspadalah terhadap cara-cara penginjilan
yang cepat dan mudah. Gaya Hidup yang Terbuka Jadi, berapa banyak waktu yang
diperlukan? Apakah cukup kalau kita berkunjung sekali seminggu selama 1 atau 2 jam? Jika
waktu kita bersama orang-orang yang belum percaya itu dimanfaatkan dengan sebaik-
baiknya, dan jika kita menggunakan cara-cara yang kreatif, bukankah itu cukup?
Tentu hal itu sangat baik. Program kunjungan yang dilakukan gereja hampir selalu
menghasilkan sesuatu yang baik bagi gereja. Jika pelayanan kita kepada Allah di bidang
lainnya dapat ditingkatkan dengan adanya perencanaan dan daya cipta, demikian pula di
bidang penginjilan. Walaupun 25
demikian, untuk menjangkau orang-orang yang tersesat, kita harus menyediakan cukup
banyak waktu, dan itu akan menuntut seluruh waktu kita. Hal itu dimulai dengan kesediaan
untuk melakukan apa saja yang diperlukan untuk membawa orang yang tersesat kepada
Kristus. Inilah yang dimaksudkan Paulus ketika dia berkata, "Bagi semua orang aku telah
menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari
antara mereka" (1 Korintus 9:22). Penyerahan diri secara menyeluruh seperti itu sulit
dilaksanakan kalau kita dibatasi oleh jadwal atau rencana. Jadwal dan rencana memang
sangat penting dan berguna, tetapi waktu yang diperlukan untuk menjangkau orang yang
tersesat adalah waktu untuk saling berbagi kehidupan. Sama seperti yang dilakukan Yesus,
kita harus berjalan bersama teman-teman kita, makan bersama mereka, bertemu mereka di
tempat kerja, bahkan bergadang sambil mengobrol bersama mereka. Kita harus rela berbagi
semua aspek kehidupan. Semua waktu kita harus diserahkan ke bawah pengendalian Roh
Kudus. Dengan demikian Allah dapat memakai kita untuk menjangkau orang-orang yang
tersesat. Itu merupakan gaya hidup pelayanan yang mencakup segalanya. Teman-teman saya
menilai orang berdasarkan apakah dia mudah bergaul/terbuka atau tidak. Mereka menilai
orang yang terbuka sebagai teman dan orang yang berharga. Orang-orang yang tidak terbuka
dianggap sombong dan tidak ramah. Bila kita memahami hal itu, maka kita memunyai
kesempatan untuk memberitakan Injil. Teman-teman kita ingin agar kita bersikap terbuka dan
ramah setiap saat. Keramahan seperti ini merupakan alat yang dapat kita gunakan untuk
memberitahu mereka tentang kebenaran Allah. Banyak orang Kristen hanya mengenal sedikit
sekali orang yang non-Kristen. Jika ada waktu luang, itu sering dipakai untuk kegiatan gereja.
Gaya hidup Kristen kita yang padat dengan kesibukan hanya menyisihkan sedikit waktu bagi
orang-orang yang tidak mengenal Kristus. Hubungan kita dengan orang-orang yang tersesat
begitu jauh dan tidak ramah. Atau mungkin kita sama sekali tidak memunyai hubungan
dengan mereka. Apa yang akan dikatakan Yesus kepada kita tentang hal itu? Yesus adalah
orang yang terbuka, yang suka meluangkan waktu dengan orang-orang yang perlu mendengar
Kabar Baik. Jika Dia hidup pada zaman sekarang, dan menghadapi apa yang kita hadapi,
apakah sikap dan perbuatan-Nya akan berbeda dari kita? Keputusan yang Tidak Mudah
Diambil Banyak gereja merencanakan kegiatan sepanjang hari pada Hari Kemerdekaan atau
pada hari-hari libur lainnya. Oleh karena itu, khususnya pada Hari Kemerdekaan, orang-
orang Kristen tidak hadir dalam kegiatan-kegiatan yang penting di tengah-tengah masyarakat.
Banyak orang Kristen berpendapat bahwa bergabung bersama saudara-saudara seiman dan
melakukan kegiatan-kegiatan di gereja pada hari libur lebih penting daripada ikut
berpartisipasi bersama para tetangga dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh lingkungan
setempat. Mereka tidak mau mengecewakan saudara-saudara seimannya di gereja. Akibatnya,
orang Kristen dianggap tidak tertarik kepada lingkungan dan tetangganya atau mereka tidak
berjiwa nasionalis. Karena hari-hari libur umumnya merupakan waktu untuk menjalin
hubungan sosial bersama para tetangga, orang-orang Kristen dianggap tidak tertarik untuk
menjalin ikatan ketetanggaan yang akrab. Jadi hilanglah kesempatan untuk menjadi garam!
Orang-orang Kristen banyak yang tidak menghargai pentingnya berpartisipasi dalam
lingkungan tempat tinggal mereka sendiri. Maka dari itu mereka dianggap tidak ramah atau
bahkan dianggap anti sosial. Teman-teman kita, sebaliknya, memberikan kesan bahwa
mereka lebih memerhatikan lingkungannya dan orang-orang di sekitarnya. Kebanyakan
kegiatan diawali dengan doa dalam bahasa Arab. Ketidakhadiran orang Kristen hanya
meneguhkan pemikiran yang salah bahwa Yesus bukan untuk mereka. Ada juga hari-hari
yang digunakan untuk kerja bakti. Kegiatan-kegiatan itu sering jatuh pada hari Minggu pagi.
Apakah mereka sengaja membuatnya bertepatan dengan waktu kebaktian gereja? Tidak
selalu. Hal itu hanya disebabkan karena hari Minggu adalah satu-satunya hari libur bagi
kebanyakan orang Indonesia. Itu merupakan hari bagi sebagian besar orang Indonesia
melakukan kegiatan-kegiatan sosial bersama.
Tidakkah lebih baik absen satu kali di gereja sekalipun pada kebaktian Minggu pagi demi
menjangkau orang-orang yang tersesat, sesuatu yang diperintahkan dalam firman Allah? Ini
mungkin kedengarannya radikal, tetapi mengapa jadwal kebaktian Minggu pagi dan jadwal
kegiatan-kegiatan lainnya tidak diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan orang-orang
Kristen berpartisipasi dalam kegiatan lingkungannya demi menjangkau orang-orang itu yang
tersesat? Yesus sering bertindak berlawanan dengan tradisi agama supaya dapat meluangkan
waktu bersama orang-orang yang tersesat (Matius 9:9-13). Memang tidak mudah untuk
mengambil keputusan seperti itu. Jika kita ingin berhasil dalam memenuhi panggilan Allah,
yaitu menjalin hubungan yang penuh perhatian dengan orang-orang yang masih tersesat,
maka kita harus membatasi waktu yang kita pakai untuk melakukan hal-hal lainnya. Kita
memang diperintahkan untuk tidak meninggalkan pertemuan dengan orang-orang percaya
lainnya (Ibrani 10:25), tetapi kita juga diperintahkan untuk memberitakan Injil 26
kepada dunia. Kita harus melakukan kedua-duanya. Karena itu kita perlu meminta kepada
Allah agar Ia memberi tuntunan. Kasih Berarti Mengatakan "Tidak" Kepada Diri Sendiri
Paulus dengan jelas mengajar kita bahwa kita harus melakukan apa saja yang diperlukan
untuk memenangkan orang yang tersesat (1 Korintus 9:22). Jika sebaiknya kita tidak makan
daging, maka kita harus rela melakukannya (1 Korintus 8:9-13). Kasihlah yang menjadi
alasannya (1 Korintus 13). Karena Paulus merujuk pada daging, marilah kita berbicara
tentang daging babi/anjing. Makan daging babi/anjing sangat menjijikkan bagi orang lain.
Daging babi/anjing dianggap makanan haram. Anjing sebagai binatang peliharaan tidak dapat
disetujui oleh sebagian tetangga yang beragama lain, walau sebagian lainnya tidak keberatan.
Tidak ada dari mereka yang mau dijilat oleh anjing. Orang Kristen yang hendak menjalin
hubungan dengan mereka harus memerhatikan masalah itu. Jika Paulus mengatakan bahwa
lebih baik tidak makan daging sama sekali daripada menimbulkan pertentangan, tidakkah kita
seharusnya mempertimbangkan untuk tidak makan daging babi dan tidak memelihara anjing?
Jika hal itu terlalu memberatkan Anda, bagaimana kalau Anda tidak makan daging babi bila
sedang berada dekat teman-teman Anda, dan menyembunyikan anjing Anda di suatu tempat
sehingga mereka tidak merasa jijik? Beberapa tahun yang lalu, sebuah kelompok jemaat
melakukan pendekatan terhadap satu kelompok pemuda dari kelompok etnis lain. Orang-
orang ini cukup terbuka kepada Injil sebagai hasil kesaksian seorang pendeta awam yang
berasal dari kelompok etnis yang sama. Gereja itu merencanakan suatu kegiatan pada hari
libur dan mereka mengundang kelompok pemuda ini. Kaum wanita di gereja itu telah
mempersiapkan makanan. Segala sesuatu berjalan dengan baik sampai mereka duduk untuk
makan. Pada saat itulah mereka mengetahui bahwa daging yang dipersiapkan untuk mereka
adalah daging babi. Mereka tidak memakannya. Sejak itu mereka tidak pernah lagi
berhubungan dengan gereja itu. Hilanglah segala kesempatan untuk bersaksi lebih jauh lagi.
Ada satu gereja di daerah kami yang ditutup oleh pemerintah karena keluhan dari tetangga-
tetangganya. Saya tahu, ada gereja-gereja yang ditutup atau tidak diberi izin walaupun tidak
melakukan apa-apa yang menyinggung tetangga-tetangga mereka. Tetapi dalam perkara ini
gereja tersebut telah memanggang daging babi di luar gedung gereja mereka. Reaksi para
tetangga menunjukkan betapa hal itu menimbulkan syak di hati mereka. Tidakkah lebih baik
bagi gereja tersebut untuk tidak melakukan kegiatan itu? Karena kesalahan itu, tidak ada lagi
gereja di daerah tersebut. Mungkin orang-orang Kristen akan bertanya, "Apakah kita tidak
berhak makan daging babi di gedung milik gereja kita jika kita mau?" Tentu saja kita berhak.
Tetapi hukum kasih lebih tinggi daripada hak kita. Yesus, sebagai contoh, memiliki hak yang
tinggi, tetapi Dia tidak mempertahankannya (Filipi 2:6). Kasih mendorong Yesus untuk tidak
memakai hak itu. Ia bertindak demikian demi kita. Kita pun harus melakukan hal yang sama
demi memenangkan teman-teman kita. Penyesuaian lain yang perlu dipertimbangkan adalah
bagaimana kita berpakaian, khususnya wanita. Saya tidak menganjurkan wanita Kristen
memakai penutup kepala walaupun di beberapa tempat di Indonesia ada yang memakainya.
Tetapi wanita-wanita Kristen hendaknya tidak memakai rok mini, baju ketat, atau pakaian-
pakaian lain yang tidak sopan. Bagi tetangga-tetangga kita, hal itu seperti mengiklankan
kerendahan moral kita. Dapatkah Anda membayangkan apa yang mereka pikirkan ketika
melihat wanita yang memakai rok mini pergi ke kebaktian Kristen? Mereka berpikir bahwa
orang Kristen tidak memerhatikan moral. Mode telah menjadi lebih penting daripada
pendapat umum. Jika kita memberi kesan yang tidak pantas melalui pakaian kita, bagaimana
mungkin kita dapat berbicara kepada mereka tentang Allah yang kudus? Hal lain yang layak
dipertanyakan apakah laki-laki perlu memakai dasi ke gereja? Mengapa orang yang
memimpin kebaktian harus memakai dasi dan jas? Mengapa laki-laki diharapkan memakai
pakaian barat ke gereja? Khususnya pendeta! Di banyak gereja, memakai kemeja batik dapat
diterima. Bagaimana kalau laki-laki memakai sarung dan peci? Di banyak tempat, sarung dan
peci adalah pakaian Indonesia. Hal-hal seperti itu memerlukan kebijaksanaan. Seorang
Kristen memakai sarung dan peci pada hari-hari khusus seperti Idul Fitri. Teman-teman
menganggap perbuatan itu sangat menghormati mereka. Di daerah lain, seorang Indonesia,
apalagi orang barat, yang dikenal sebagai orang Kristen mungkin sama sekali dilarang
memakai peci. Karena itu, kenalilah para tetangga Anda dan temukan sendiri apa yang dapat
diterima oleh mereka. Isu-isu yang berhubungan dengan apa yang halal dan apa yang haram
juga berbeda-beda dari satu tempat ke tempat yang lain. Sulit untuk memberi penuntun yang
jelas. Setiap orang percaya harus bersikap hati-hati. Hindarilah kesan-kesan negatif.
Perhatikan tetangga-tetangga Anda untuk mengetahui apa yang mereka lakukan dan
mengapa. Kita harus aktif berbicara kepada mereka untuk mengetahui bagaimana gaya hidup
kita memengaruhi mereka. 27
Menghindari Pertentangan Bukan rahasia lagi, kekristenan dan Islam sudah sejak dahulu
bertentangan. Orang-orang Islam dan orang-orang Kristen saling menyerang, saling
menganiaya, dan saling membunuh. Tidak ada gunanya di sini untuk menentukan pihak mana
yang lebih banyak menyerang, atau pihak mana yang orang-orangnya paling banyak mati
syahid. Yang nyata pertentangan itu terus berkepanjangan dan sulit diatasi. Hal itu terasa
ketika kita menyadari bahwa mereka perlu mendengar Injil. Saya hendak memaparkan dua
hal lainnya yang harus dihindari. Pertama, hindarilah perkataan yang menentang nabi mereka.
Kita percaya bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Manusia sempurna yang pernah
hidup. Al-Qur'an sendiri meneguhkan bahwa Yesus tidak pernah berdosa (QS 19:19). Nabi
mereka adalah manusia biasa. Al-Qur'an memberi kesan bahwa dia berdosa (QS 47:19). Hal
ini sesuai dengan kebenaran Alkitab bahwa tidak ada seorang pun kecuali Yesus yang tidak
berdosa (Ibrani 4:15 dan Roma 3:23). Walaupun demikian, sedikit sekali manfaatnya bila kita
meninggikan Kristus tetapi merendahkan nabi mereka. Kehidupan Kristus tidak bercela. Dia
akan dimuliakan sekarang dan selamanya. Akan lebih bermanfaat kalau kita menunjukkan
hormat kepada pendiri agama itu. Bukankah orang-orang Kristen tidak berharap akan
diserang oleh kelompok mayoritas? Kita pun hendaknya tidak menyerang mereka. Kritik
terhadap nabi lain biasanya menimbulkan kemarahan. Kalau seseorang menjadi marah, maka
mereka tidak dapat berpikir jernih. Mereka tidak akan bersikap terbuka terhadap cara baru
untuk mempertimbangkan pendapat-pendapat. Apakah benar bila kita mengakui nabi mereka
sebagai nabi bagi suku-suku Arab? Dia diutus untuk menyampaikan pesan. Dia memanggil
mereka dari kekafiran untuk percaya kepada Allah Pencipta. Dia berusaha membela hak
orang yang miskin dan tertindas. Dia juga mengerti banyak mengenai Mesias. Pada
kenyataannya, dia menyebut Isa Almasih, yaitu Yesus Kristus, sebagai yang paling
ditinggikan di dunia ini dan yang akan datang (QS 3:45). Saya menganggap itu sebagai
peranan seorang nabi. Mengingat hal itu, orang Kristen seharusnya tidak merendahkan nabi
itu. Isi Al-Qur'an itu sendiri sering dipakai oleh Allah untuk mengarahkan orang-orang agar
mereka percaya kepada Kristus. Karena itu, kita juga boleh menyebut nabi mereka sebagai
nabi yang dipakai Allah. Kedua, Al-Qur'an adalah buku yang dikritik oleh orang-orang
Kristen. Orang Kristen tidak menganggap Al-Qur'an diwahyukan Allah. Sekali lagi, sama
seperti halnya menyerang nabi mereka bukan merupakan hal yang produktif, demikian pula
tidak efektif bila kita menyerang Al-Qur'an. Entah mereka membaca Al-Qur'an atau tidak,
tetapi mereka bergantung kepadanya secara emosional sebagai bagian hakiki dari imannya.
Usaha-usaha orang Kristen untuk mengubah pandangan mereka mengenai Al-Qur'an hanya
akan lebih mengobarkan peperangan yang sudah sejak lama terjadi. Lebih berguna kalau kita
memakai titik-titik persamaan antara Alkitab dan Al-Qur'an sebagai jembatan bagi mereka.
Paulus "gusar" ketika menyadari adanya praktik-praktik dan kepercayaan yang salah di
Athena (Kisah Para Rasul 17:16). Namun dia memakai prasasti dari salah satu altar kafir itu
untuk memberitakan Injil (Kisah Para Rasul 17:23). Demikian pula, kalau kita mengarahkan
mereka pada kesamaan-kesamaan Al-Qur'an dan Alkitab, itu bukan berarti kita sepenuhnya
menerima Al-Qur'an sebagai firman Allah. Titik-titik persamaan itu dapat menekankan
kebenaran Allah yang tertera di dalam Alkitab. Hiasan-Hiasan Kristen Masalah lain yang
harus dihindari berhubungan dengan apa yang sangat disayangi oleh setiap orang Kristen:
salib Kristus. Salib merupakan batu sandungan bagi teman-teman kita, walaupun itu
merupakan lambang keselamatan bagi orang Kristen (1 Korintus 1:23-24). Sayang sekali,
bagi mereka, salib telah menjadi simbol orang kafir sejak zaman Perang Salib. Tentara-
tentara Kristen dalam Perang Salib menghiasi perisai mereka dengan salib sementara mereka
membantai desa-desa Islam. Kalau orang-orang Kristen memakai kalung salib atau
menggantungkan salib di dinding rumah mereka, secara otomatis mereka menyebabkan
banyak dari mereka merasa syak. Di sinilah kita harus hati-hati. Kenyataan tentang salib,
yaitu bahwa Yesus telah datang ke dunia dan mati, akan selalu sulit untuk diterima oleh
orang-orang yang belum percaya. Itu merupakan batu sandungan. Tetapi itu merupakan inti
Injil dan tidak boleh dipudarkan dengan cara apa pun. Sayang sekali, lambang salib telah
dimuati dengan kesan-kesan negatif dan dipandang sebagai bagian dari kebudayaan Kristen
Barat yang mereka tolak. Sering kali [hiasan salib] menjadi penghalang komunikasi antara
orang Islam dan orang Kristen. Kenyataan bahwa Yesus sudah mati di kayu salib itulah yang
harus kita pegang erat-erat, bukan kalung salib atau hak untuk menghiasi rumah kita dengan
cara yang menyenangkan diri kita sendiri.
Jika kalung salib atau penjepit dasi berbentuk salib yang kita pakai menghalangi kita untuk
didekati oleh tetangga kita, kita seharusnya tidak memakainya. Jika salib yang tergantung di
dinding rumah kita menghalangi mereka mengunjungi rumah kita, kita harus
memindahkannya. Pasti ada 28
cara lain yang lebih tepat untuk menyatakan diri sebagai pengikut Kristus daripada dengan
menunjukkan salib. Misalnya, cara yang lebih baik untuk menunjukkan bahwa Anda
pengikut Yesus adalah dengan mengasihi tetangga kita. Jika lambang salib membuat syak
teman-teman kita, jika hal itu menutup kesempatan bagi mereka untuk mendengar Injil, maka
kita perlu membuat perubahan. Hal lain yang mungkin juga tidak berkenan ialah gambar
tangan yang sedang berdoa, Yesus yang rambut-Nya pirang dan yang mata-Nya biru, yang
sedang membawa anak domba; gambar-gambar Kristen Barat tradisional lainnya juga
mungkin menimbulkan akibat yang sama. Haruskah kita malu menjadi orang Kristen? Tentu
saja tidak. Namun kita harus ingat bahwa hiasan-hiasan Kristen di rumah kita dapat menjadi
penghalang bagi teman-teman kita. Sebutan Kita harus hidup dengan memerhatikan
masalah-masalah itu. Kita harus terus bertumbuh menjadi semakin peka terhadap tetangga-
tetangga kita. Seorang yang tersinggung tidak akan mendengarkan kita. Bahkan istilah
"Kristen" sudah mengandung arti negatif sehingga sering tidak produktif bagi kita untuk
menyebut diri "orang Kristen" kepada mereka. Orang-orang percaya mula-mula disebut
sebagai pengikut-pengikut Kristus atau pengikut Jalan Tuhan (Kisah Para Rasul 9:2). Kata
"Kristen" ditemukan tiga kali di dalam Alkitab (Kisah Para Rasul 11:26; 26:28 dan 1 Petrus
4:16). Istilah itu semula dianggap sebagai penghinaan, tetapi istilah itu sekarang sudah
menjadi lambang kehormatan bagi orang-orang yang menerima Kristus sebagai Tuhan.
Namun, sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya, istilah itu mengingatkan mereka akan
kekejaman tentara Kristen dalam Perang Salib -- peperangan antara denominasi gereja, atau
boleh dikatakan antara partai politik barat. Kalau ditanya, penulis lebih suka
memperkenalkan diri sebagai "pengikut Isa Almasih". Sebutan itu biasanya akan
menimbulkan beberapa pertanyaan yang dapat menjadi titik tolak pembicaraan tentang Kabar
Baik. Hal itu dinilai positif sebab Isa adalah nama Islam untuk Yesus. Pada suatu
kesempatan, ketika ditanya apa artinya menjadi pengikut Isa, saya dapat memberitakan
seluruh Injil kepada mereka. Sebutan lain yang positif adalah "Nasrani". Ini juga merupakan
istilah yang artinya orang Kristen. Istilah itu dapat ditemukan di dalam Al-Qur'an. BAB XIII
Petunjuk dan Tantangan Lintas Budaya Ada delapan petunjuk bagi misionari yang ingin
melakukan pelayanan misi kontekstual lintas budaya yaitu:
1. Alkitab harus menjadi otoritas final dalam proses kontekstualisasi, tidak boleh patuh
kepada ideologi manusia yang pada akhirnya akan menimbulkan sinkritisme.
2. Elemen “Supracultural” Injil harus dipelihara dalam proses kontekstualisasi.

3. Pemimpin lokal perlu berada di garis depan dalam merefleksi hasil-hasil formulasi teologi
kontekstualisasi, struktur gereja, dan metode penginjilan.
4. Formulasi teologi perlu dibangun berdasarkan informasi refleksi teologi yang sebelumnya
dan menjadi bahan dialog dengan komunitas Kristen yang lebih luas untuk menolak bidat dan
sinkritisme.

5. Sinkritisme perlu ditolak di dalam proses refleksi teologi lokal.


6. Kesabaran dan kerendahan hati diperlukan oleh misionari karena komunitas Kristen yang
baru biasanya mencoba-coba untuk menjadi sinkritisme dan bidat.

7. Instrumen yang tepat diperlukan untuk menganalisa konteks sosial budaya masyarakat
setempat.
8. Sebuah model kontekstualisasi yang menyeimbangkan Alkitab dan konteks sosial budaya
harus dilakukan.6

6Daniel R. Sanchez “Contextualization, 332.


Ada banyak tantangan yang dihadapi dalam mempelajari sebuah budaya yakni :
1. Kejutan budaya
2. Menjadi dwi-budaya tahap dimana merasa nyaman dengan dua budaya.
3. Salah pengertian dalam lintas budaya sering terjadi karena tidak mengenal budaya lainnya.
4. Etnosentrisme-menyalahkan atau mencurigai praktek-praktek dan kebiasaan-kebiasaan
budaya lain dan yakin bahwa mereka lebih rendah dan tidak benar.
5. Terjemahan Alkitab kata-kata bisa berbeda artinya dalam budaya lain.
29
6. Perbedaan antara Injil dan budaya harus jelas.
7. Mewaspadai sinkritisme dan mendorong kemandirian.
8. Pertobatan dan akibat-akibat sampingan yang tidak terduga sebelumnya.

Agar misionari tidak mengalami penolakan penginjilan karena kebudayaan yang sangat
berbeda dengan konteks misi, maka misionari harus mengerti elemen-elemen budaya dan
mampu mengindentifikasi budaya setempat. Elemen budaya terdiri dari perilaku, nilai-nilai,
kepercayaan dan cara pandang. Langkah pertama mengidentifikasi budaya setempat ialah
memasuki sebuah budaya dengan pandangan yang terbuka, percaya, dan menerima. Langkah
kedua ialah menanggapi perbedaan-perbedaan budaya dengan rendah hati sebagai seorang
pelajar. Tujuan utama identifikasi bukanlah sampai seberapa jauh miripnya seseorang bisa
capai dalam sebuah budaya, tetapi sampai dimana keefektifannya berkomunikasi dengan
mereka yang berbudaya lain.7 Komunikasi Lintas Budaya David J. Hesellgrave (pakar
komunikasi lintas budaya) membagi komunikasi lintas budaya dalam dua paradigma yaitu
paradigma klasik dan paradigma zaman sekarang. Paradigma klasik terbagi dalam tiga
kategori yaitu pembicara atau sumber berita misionari, isi dari berita misionari dan gaya dari
berita misionari. Paradigma zaman sekarang terbagi dalam tujuh dimensi yaitu:
7CWMC, Kairos: Allah, Gereja dan Dunia (Butuan City, Philippines: Living Springs
International, 2005), 7-2 – 7-12. 8David J. Hesselgrave, Communicating, 142-160. 9Ibid, 183
10Todd Elefson, Diktat “Komunikasi Lintas Budaya”, 58-59.
1. Pandangan-pandangan dunia – cara-cara memahami dunia
2. Proses-proses kognitif – cara-cara berpikir
3. Bentuk-bentuk linguistik – cara-cara mengekspresikan gagasan
4. Pola-pola perilaku – cara-cara bertindak
5. Struktur-struktur sosial – cara-cara berinteraksi
6. Pengaruh Media – cara-cara menyalurkan berita
7. Sumber-sumber motivasional – cara-cara memutuskan.8

Tugas misionari adalah untuk mengomunikasikan Kristus secara lintas budaya. Ini berarti
bahwa misionari harus menafsirkan berita dari Alkitab berkenaan dengan kebudayaan dimana
hal ini diberikan dan menghindari pengaruh yang tidak semestinya dari kebudayaanya
sendiri, meneruskan berita yang sesungguhnya dalam istilah-istilah yang akan bersifat
informatif dan persuasif di dalam kebudayaan respondennya.9 Prinsip-prinsip yang dapat
diterapkan dalam komunikasi lintas budaya sesuai kelompok sosial yaitu:
1. Mulai pada awal hubungan
2. Pakai konsep yang mereka pahami
3. Sampaikan Injil secara tidak langsung dengan cerita yang membawa pada pembersihan
hati
4. Jalin persahabatan yang erat dengan petobat baru
5. Ambil sikap seorang guru yang akrab
6. Atur alur percakapan
7. Tawarkan doa langsung (doa berkah).10

BAB XIV
Banyak Tantangan untuk Para Pekerja Lintas Budaya
Di Indonesia, banyak suku-suku terabaikan membutuhkan para pengerja Injil yang dapat
memberkati mereka dengan Kabar Baik tentang Tuhan Yesus, Juru Selamat dunia.
Sayangnya, tidak banyak orang yang bersedia mengabarkan Injil dan mendirikan jemaat
lintas budaya. Mereka yang bersedia pun menghadapi bermacam-macam tantangan. Boleh
dikatakan, mereka yang melayani suku-suku terabaikan umumnya kurang disokong oleh
gereja-gereja atau organisasi Kristen yang mengutus mereka. Mereka membutuhkan
dukungan doa, dana, dan persekutuan yang menguatkan jiwa, perasaan, dan kerohanian
mereka.
Pelayanan lintas budaya adalah tantangan yang cukup rumit dan berat. Pada umumnya, kita
kurang mengerti bahwa setiap orang yang melayani suku lain harus belajar banyak tentang
sifat, bahasa, dan cara hidup suku itu. Jika kita bergaul secara biasa dengan menggunakan
bahasa Indonesia saja, 30
maka banyak orang tidak akan mengerti maksud dan tujuan kita. Hal ini dapat diperlihatkan
dalam lima pokok berikut.
1. Bahasa Setiap bahasa yang terdapat di Indonesia mengandung ciri-ciri yang khas. Jika kita
bicara soal rohani kepada seseorang, kita harus menguraikannya dengan bahasa yang paling
cocok untuk orang itu. Jika tidak demikian, ada kemungkinan besar ia tidak akan menangkap
maksud kita.

2. Pandangan Hidup Pandangan hidup setiap suku terabaikan terdiri dari filsafat dan
teologi mereka. Jika mereka memunyai pandangan hidup yang berbeda dari kita, maka
mereka akan sukar untuk menerima Injil. Misalnya, jika seseorang memiliki pengertian
tentang Tuhan, manusia, dosa, keselamatan, dunia gaib, dan sebagainya yang berbeda dari
pandangan dunia Alkitab, ia tidak akan langsung mengerti Injil. Injil mempunyai pandangan
hidup tersendiri yang harus dijelaskan dengan contoh-contoh yang dapat ditangkap oleh
orang itu.

3. Nilai-nilai Kita harus mempelajari nilai-nilai yang dihargai oleh suku terabaikan itu.
Pengertian kita akan nilai-nilai mereka membuka banyak peluang untuk Injil. Kita
menghormati nilai-nilai mereka yang baik dan menguatkan nilai-nilai itu yang sesuai dengan
pandangan hidup Alkitab.

4. Kepemimpinan Cara kepemimpinan setiap suku juga memunyai ciri khas yang perlu
diperhatikan oleh kita. Jika kita tidak berusaha memimpin jemaat baru dengan cara yang
dapat dimengerti dan dihormati oleh mereka, maka mereka tidak akan merasa betah. Para
penginjil perlu mempelajari cara kepemimpinan orang-orang yang mereka layani.

5. Organisasi sosial Sistem organisasi sosial sebuah suku juga penting untuk kita pelajari.
Misalnya, hampir setiap suku di Indonesia memegang sistem bapak/anak buah, tapi cara
melaksanakannya cukup bervarisasi. Kita harus memerhatikan sistem-sistem sosial, seperti
sistem kekeluargaan, sistem pendidikan, dan sistem-sistem masyarakat yang lain. Jika tidak,
kita seolah-olah masih berada di luar ruang lingkup kehidupan mereka. Penyesuaian ini tidak
begitu mudah dilaksanakan oleh seorang penginjil atau gembala yang berasal dari suku lain.

Kesimpulannya Tidak heran jika sebagian besar para penginjil dan pendeta yang melayani
suku-suku terabaikan tidak bertahan lama dalam pelayanan. Mereka merasa pusing karena
tantangan-tantangan yang besar, kurang dibimbing untuk pelayanan yang berat itu, dan
kurang didukung oleh gereja dan saudara-saudara seiman. Marilah kita memerhatikan para
pekerja lintas budaya, mendoakan, dan menyokong mereka secara khusus agar mereka
dikuatkan oleh Tuhan dalam mengemban tugas yang berat itu. Jika kita berusaha mengenal
dan membantu para penginjil lintas budaya, kita juga telah mengambil bagian dalam
pengabaran Injil kepada orang-orang yang belum pernah mengerti berita tentang Yesus Anak
Allah.
BAB XV
Mengidentifikasi Talenta Para Pekerja Lintas Budaya
Supaya bisa berfungsi sebagai satu tubuh, jemaat/gereja sebagai Tubuh Kristus dalam lingkup
kehidupan yang lebih kecil, membutuhkan anggota-anggota tubuh yang lain. Tubuh
memerlukan mulut sehingga Tuhan memilih beberapa nabi dan pendeta atau para pengajar.
Tubuh perlu berfungsi secara "sopan dan teratur" sehingga Tuhan memberikan karunia
kepada beberapa orang untuk mengatur administrasi. Tuhan kadangkala membutuhkan
seseorang yang senantiasa "dibutuhkan kehadirannya seperti apendiks atau lampiran pada
buku", karena menjangkau keluar adalah salah satu fungsi utama gereja, seperti yang Tuhan
katakan, "Ladang adalah duniaini" (Matius 13:38), maka Allah telah menempatkan setiap
bagian tubuh untuk melayani pelayanan lintas budaya.
Di banyak gereja, pekerja lintas budaya tidak diberikan kesempatan untuk menggunakan
talenta mereka. Jadi, mereka duduk diam dan bertanya-tanya, "Untuk apa aku di sini?"
Mereka barangkali mencoba mencari pelayanan di bidang yang lain, namun mereka selalu
merasa tidak cocok untuk pelayanan tersebut. Oleh karena itu, dengan frustrasi mereka
berpindah dari satu pelayanan ke pelayanan yang lain, atau dari satu gereja ke gereja yang
lain. Gerejalah yang bertugas membantu mereka memperkenalkan jenis pelayanan lintas
budaya dan melatih mereka untuk menjadi bagian dari pelayanan ini. 31
Ketika Barnabas dan Paulus pulang dari Yerusalem ke Antiokhia dengan membawa hasil
laporan pertama para rasul, maka gereja segera mengidentifikasi talenta-talenta setiap orang
dan menempatkan lima orang yaitu para nabi dan para pengajar, termasuk para pemimpin
gereja. Lalu, melalui doa dan puasa, gereja mendengarkan suara Roh Kudus mengatakan,
"Aku menginginkan Barnabas dan Saulus untuk beberapa tugas lintas budaya." (Terjemahan
bebas dari Kisah Para Rasul 13:1-2, Red). Orang-orang percaya dalam persekutuan Anda
harus mengambil inisiatif di dalam proses misi dengan mengidentifikasi talenta-talenta yang
ada pada pelayanan lintas budaya gereja Anda dan mengizinkan mereka menggunakan
karunia-karunia mereka. Suatu persekutuan misi di gereja dapat menjadi tempat ujian yang
ideal bagi para calon utusan Injil yang potensial. Di bawah pengarahan seorang jemaat awam
atau anggota majelis yang percaya bahwa mereka dapat menjadi bagian dari pelayanan lintas
budaya -- mereka dapat mempelajari semua aspek misi. Mereka dapat ditantang untuk
menjalankan tugas menjangkau jiwa dengan pelayanan lintas budaya. Mereka dapat
mempraktikkan seni mendukung utusan Injil secara moral, termasuk urusan logistik, dengan
melayani melalui lembaga misi di kota Anda. Sebagai orang-orang yang berpotensi untuk
pergi ke ladang-ladang misi, mereka dapat melakukan misi jangka pendek atau perjalanan
misi singkat untuk mendapatkan pengalaman. Dan mereka yang diidentifikasikan memiliki
talenta sebagai pengutus, dapat menggunakan karunia mereka. Pendeta, panitia misi atau
persekutuan, janganlah menjadi orang terakhir yang mengetahui bila seorang anggota dari
gereja Anda turut terlibat dalam misi! Ambillah inisiatif, buatlah kegiatan untuk menjangkau
pelayan lintas budaya sebagai bagian visi Allah yang telah diberikan kepadamu. Memelihara
Tanggung jawab dalam Pelayanan Pertanggungjawaban telah menjadi slogan dalam
budaya kita. Bagaimana dengan orang-orang yang menjadikan prinsip "uruslah urusanmu
sendiri" sebagai falsafah hidupnya? Toh, dari segala bangsa, ada ratusan pendeta dan
pemimpin gereja yang tidak tahu apa-apa tentang apa yang mereka lakukan di luar gereja.
Beberapa orang mengatakan: "Mereka bersama misi XYZ. Bukankah itu suatu misi yang
baik?" Ya, sangat mungkin. Akan tetapi, apakah misi itu sesuai dengan tujuan pelayanan dari
gereja Anda? Apa target pelayanan itu? Apakah kemampuan dan karunia sang utusan Injil
sesuai dengan pekerjaan misi itu? Dimensi kedua dari tanggung jawab, antara lain: pada saat
Anda yakin bahwa pekerja lintas budaya Anda itu terlibat dalam suatu pelayanan yang sesuai
dengan talenta dan mandat dari gereja, Anda harus melakukan suatu evaluasi yang terus-
menerus dan berkesinambungan untuk mengetahui apa saja yang telah dicapai dalam
pelayanan itu. Laporan yang teratur dari supervisornya akan membantu Anda memantau
pelayanan mereka. Bila utusan Injil Anda bekerja melalui suatu badan misi, maka
usahakanlah jalur hubungan pertanggungjawaban tetap terbuka, jelas, dan masuk dalam
persekutuan Anda. Ingatlah, utusan Injil ini masih bagian dari satu tubuh gereja Anda.
Laporan dari pekerja Anda itu harus diisi secara rinci. Usahakanlah menghubungi pekerja
Anda secara berkala. Laporan pekerja lain di ladang pelayanan yang sama, kunjungan oleh
seorang tua-tua gereja akan meyakinkan Anda bahwa pelayanan sungguh-sungguh berjalan
sebagaimana mestinya. Di atas semuanya itu, hasil kerja mereka yang berangkat sebagai
utusan Injil maupun yang melayani sebagai pengutus-pengutus, merupakan usaha dan
pekerjaan suatu tim! Memperkukuh Pertumbuhan Rohani Betapa sedihnya hati kita
tatkala menyimak beberapa laporan statistik yang menyatakan bahwa para pelayan lintas
budaya, yang sebelumnya "mendengarkan suara Tuhan," dan yang mendapat dukungan
penuh dari jemaat, ternyata lebih dari separuhnya tidak mampu menyelesaikan komitmen
mereka alias gagal di tengah jalan. Kebanyakan di antara mereka tak sanggup melakukannya
akibat kekeringan rohani. Mereka hanya sampai pada taraf mencoba untuk memberi lebih
banyak dari apa yang mereka terima. Pemimpin gereja harus mendukung pertumbuhan rohani
pekerja misi pada saat: 1. Sebelum sang misionari pergi; 2. Ketika mereka berada diladang
misi; 3. Saat mereka kembali. 1. Mendorong Pertumbuhan Rohani Sebelum Mereka
Pergi
Jemaat Antiokhia memberikan suatu teladan yang baik: Barbanas dan Saulus adalah
pemimpin-pemimpin yang dewasa rohaninya, yang dipilih oleh Roh Kudus untuk suatu tugas
yang sangat berat dan sukar. Karena itu, tidak terlalu sulit bagi kita untuk memahami
mengapa faktor pengetahuan yang baik tentang Kitab Suci menjadi kualifikasi yang penting.
Mereka juga mengajak Yohanes Markus untuk ikut bersama mereka. Tetapi, kenyataannya, ia
tidak siap dan belum matang. Buktinya, tatkala mereka menemui kesulitan, ia meninggalkan
mereka! Beberapa tahun kemudian, Paulus merasa bahwa Yohanes Markus pun masih belum
siap (Kisah Para Rasul 15:38). Namun, beberapa tahun setelah itu, Paulus meminta agar
Timotius membawa serta Yohanes Markus, karena "ia sangat membantu dalam pelayananku"
(2 Timotius 4:11). Kerinduan seseorang yang mau dan bersedia pergi 32
tidak berarti bahwa ia telah siap untuk diutus. Ada gereja yang berbuat begini: Setiap orang
yang berpikir dan merasa bahwa ia adalah bagian dari Tubuh Kristus dalam pelayanan lintas
budaya, maka orang itu dianjurkan agar selalu menghadiri persekutuan misi yang dipimpin
oleh seorang koordinator lintas budaya. Di sinilah mereka secara teratur diekspos bagi
pelayanan lintas budaya melalui doa syafaat bagi bangsa-bangsa diseluruh dunia, baik
mendengar pengajaran dari para pembicara melalui pelayanan video dan berbagai
kesempatan pelayanan, maupun beragam perjalanan pelayanan rohani. Apabila seseorang,
atau keluarga (pasangan suami-istri) maupun kelompok, merasakan panggilan untuk menjadi
utusan Injil, maka orang tersebut mulai berhubungan dengan pendeta senior dalam pelatihan
pemuridan. Setelah ia diangkat dalam posisi kepenatuaan di gereja dan aktif dalam suatu
kurun waktu tertentu, maka ia pun siap untuk pelatihan misi lintas budaya, dan mau
membangun tim pendukung pribadi. Gereja harus mengutus seorang pekerja yang memenuhi
syarat dan memiliki kredibilitas; ia harus tahu apa yang ia percayai dan mengapa ia
mempercayainya. Kepercayaan itu dapat ia peroleh melalui kombinasi dari berbagai macam
pelatihan dan program persiapan. Selain itu, gereja harus mengutus orang yang telah
dilengkapi dengan keterampilan dasar dan pengajaran yang dalam tentang Kristus, serta
memahami berbagai kebudayaan, seperti kebudayaan Asia, Yunani, dan Ibrani, sehingga ia
dapat mengerti budaya dari negeri yang akan dimasukinya. Dengan begitu, ia dapat
melakukan pemberitaan Injil dengan menggunakan konteks yang sesuai dengan kebudayaan
setempat. Para pengutus, harus mengutus orang yang telah dilatih dalam hubungan antar-
pribadi (inter-personal relationship). Sebab, kekurangan dalam hal inilah yang menjadi alasan
terbesar ambruknya para utusan Injil di ladang pelayanan. Gereja harus mengutus orang-
orang yang berjiwa besar yang mau belajar, dan tidak pernah merasa telah mencapai
pengetahuan akan kebenaran secara lengkap (2 Timotius 3:7). Atau, orang yang senantiasa
mau diisi pengetahuan dan pengenalannya akan Allah (Kolose 1:10). 2. Mendorong
Pertumbuhan Rohani di Ladang Misi Ketika seorang pelayan lapangan dibebani dengan
urusan penghidupannya di rumah (lihat 2 Timotius 2:4), dan terhanyut dalam kesibukan
pelayanan yang begitu menumpuk, sangat mudah baginya untuk mengabaikan kehidupan
rohaninya. Itu sebabnya, ia harus selalu bekerja keras bagi Pokok Anggur yang benar,
sehingga apabila ada carang-carang yang rusak mesti dikerat atau dipangkas, agar pohon
anggur itu tetap bersih, terpelihara, dan menghasilkan buah yang lebat. Sebaliknya, apabila
pohon anggur itu tidak diurus dengan baik, maka beragam doa yang dinaikkan kepada Allah
dan pembacaan Alkitab, serta belajar firman Allah, hanyalah merupakan rutinitas belaka.
Akibatnya, si pekerja lintas budaya itu pun gugur dimakan 'virus' kekeringan rohani. Penulis
kitab Ibrani berkata, "Janganlah kita terus-menerus meletakkan pengajaran dasar, seperti
memberikan susu kepada balita, tetapi baiklah kita memberikan makanan keras agar ia bisa
bertumbuh ke tingkat kedewasaan yang penuh" (Ibrani 5:12-6:3). Meski pekerja Anda itu
tidak mendengarkan siaran di stasiun radio Kristen, pelayanan firman Allah di stasiun TV,
serta selusin seri pelajaran Alkitab untuk bisa dipilih setiap minggunya, ia tidak perlu merasa
malu. Yang penting adalah bahwa pekerja Anda harus setia mempelajari Alkitab sebagai
sumber kebenaran itu. (2 Timotius 2:15) Ia harus senantiasa "memberi makan" kehidupan
rohaninya. Anda mungkin dapat membantunya dengan mengiriminya rekaman-rekaman kaset
tentang pelajaran Alkitab atau barangkali Anda bisa belajar bersama-sama dengan dia melalui
surat-menyurat membahas kitab demi kitab dalam studi Alkitab. Sebuah keluarga utusan Injil
di Peru, dikirimi oleh gereja mereka rekaman studi Alkitab melalui kaset. Mereka segera
mendengar kaset-kaset itu dalam kelompok studi Alkitab bersama anggota-anggota
pelayanan yang lain. Ketika mereka mulai mendengarkan beberapa bait lagu-lagu rohani
lewat kaset-kaset itu, timbul kerinduan mereka akan musik-musik Kristen. Puji Tuhan!
Kerinduan itu segera terpenuhi ketika sebuah stasiun radio amatir mengumandangkan pujian
rohani Kristen. Bahkan, dari stasiun ini mereka dapat meminta beberapa kaset musik Kristen
lainnya. 3. Mendorong Pertumbuhan Rohani Ketika Mereka Pulang ke Rumah Utusan
Injil Anda mungkin akan pulang untuk waktu yang singkat, sebelum kembali lagi ke ladang
misi. Cobalah cek temperatur kehidupan rohaninya. Banyak yang dihujani dengan sejumlah
ide-ide, perbedaan nilai dan kepercayaan. Apakah ia masih berpegang teguh pada Batu
Karang? Adakah perubahan dalam cara berpikirnya? Kemungkinan, dia membutuhkan
peneguhan dalam imannya. Lebih serius lagi, ia barangkali perlu menyatakan kembali dasar-
dasar iman Kristennya. Beberapa pokok atau doktrin yang agak miring, bisa saja datang dari
tim yang bergabung dengannya, yang berasal dari organisasi lain. 33
Jika pekerja Anda telah pulang ke rumahnya untuk menangani suatu pelayanan baru di
tempat asalnya, Anda tidak boleh beranggapan bahwa kehidupan rohaninya akan berjalan
terus. Di rumahnya, ia mungkin dihujani oleh ilah-ilah materialisme dan kenikmatan hidup.
Hal ini dapat membawa efek negatif pada pengajarannya. Usahakan agar ia masih tetap
membagikan apa yang "pertama-tama ia terima dari Tuhan" dan tetap mengobarkan kasih
mula-mula (1 Korintus 15:3). Ada keluarga tertentu menjalani petualangan misi selama dua
tahun di Asia Timur Jauh. Mereka kembali ke Amerika Serikat guna memulai lagi pelayanan
kurang lebih 15 tahun kemudian. Atas bimbingan pemimpin gereja mereka, mereka
kemudian menyadari adanya serangan rohani yang begitu hebat yang dilancarkan kepada
seluruh keluarga mereka di ladang misi. Karena itu, mereka lalu bekerja menghancurkan
kuasa-kuasa kegelapan, mematahkan kebiasaan-kebiasaan yang merusak, dan mulai hidup
dalam kemenangan dan kebebasan yang tersedia dalam Kristus. Dukungan dan doa terus
menerus yang tulus dari anggota gereja ketika pertama kali kembali ke rumah mereka,
semuanya itu merupakan cara terbaik untuk mengatasi berbagai persoalan yang datang
menyerang mereka. BAB XVI KONTEKSTUALISASI Defenisi Misi Kontekstualisasi
Lintas Budaya
Kata “kontekstualisasi” berasal dari kata context yang akar katanya contextus (Latin) yang
berarti menenun bersama. Kontekstualisasi dapat didefenisikan yaitu membuat konsep dan
metode yang relevan dalam suatu situasi dan sejarah. Dari defenisi ini misi kontekstualisasi
dapat dilihat sebagai pesan karya penebusan dan kasih Allah dalam Yesus Kristus menjadi
kehidupan dan isu yang penting dalam konteks sosiokultural dan mampu merubah cara
pandangnya, nilainya, dan tujuannya. Terminologi kontekstualisasi sebanding dengan
indigenous yaitu melibatkan secara mendalam konteks budaya setempat dalam suatu misi.11
11Taber dan Coe, sebagaimana dikutip Daniel R. Sanchez “Contextualization and the
Missionary Endavor” dalam buku Missiology: An Introduction to the Foundations, History,
and Strategies of World Missions (Nashville: Broadman & Holman Publishers, 1998), 318.
12Bruce Nicholls, sebagaimana dikutip Ailsa C.H. Baker, Diktat Strategi Misi, 113. 13Byang
Kato, sebagaimana dikutip Ailsa C.H. Baker, Diktat Strategi Misi, 113. 14John A. Gration,
sebagaimana dikutip Ailsa C.H. Baker, Diktat Strategi Misi, 113. 15David J. Hesselgrave,
Communicating Christ Cross-Culturally (Malang: Literatur SAAT, 2005), 138-139. 16Enoch
Wan, sebagaimana dikutip Bambang Sriyanto, “Contextual Evangelism” dalam jurnal Pasca
STBI, Volume 7/No. 2/Oktober 2010 (Semarang: STBI, 2010), 86.
Beberapa defenisi kontekstualisasi yang lain ialah penterjemahan inti Injil yang tidak berubah
ke dalam bentuk perkataan yang bermakna /penuh arti bagi kelompok–kelompok orang
dalam budaya dan keadaannya masing-masing.12 Kontekstualisasi adalah membuat
pengertian–pengertian atau cita–cita yang relevan dalam situasi tertentu, karena pesan Injil
diilhamkan tapi sarana ungkapan tidak, maka mengkontekstualisasikan sarana tidak hanya
dibenarkan tapi diperlukan.13 Kontekstualisasi adalah menghubungkan Injil kepada suatu
budaya tertentu termasuk semua dimensinya.14
Menurut David J. Hesselgrave, kontekstualisasi dapat dimaksudkan sebagai usaha untuk
mengkomunikasikan pesan manusia, karya-karya, perkataan, dan kehendak Allah dalam cara
yang setia kepada penyataan Allah, khususnya pada waktu hal ini dikeluarkan di dalam
ajaran-ajaran Kitab Suci, dan yang penuh arti bagi responden-responden di dalam konteks
kultural dan eksistensial mereka masing-masing. Kontekstualisasi itu bersifat verbal maupun
non verbal dan ada hubungannya dengan berteologi, penerjamahan, penafsiran dan penerapan
Alkitab; gaya hidup inkarnasional; penginjilan; pengajaran Kristen; penanaman dan
pertumbuhan gereja; organisasi gereja; gaya penyembahan-sungguh dengan semua aktivitas-
aktivitas yang termasuk dalam melaksanakan Amanat Agung.15
Setidaknya ada dua defenisi utama tentang kontekstualisasi yaitu pertama usaha manusia
untuk memformulasi, mempresentasekan, dan mempraktekkan iman Kristenan dalam budaya
suku fokus yang relevan16, kedua komunikasi lintas budaya tentang kebenaran Alkitab dalam
menemukan 34
nilai dan bagian yang cukup dalam agama lain untuk dapat menjelaskan Alkitab dalam sistem
dan kebudayaan mereka.17 Empat Sifat Budaya Dalam Terang Firman Seorang
misionaris lintas budaya yang ingin melakukan pelayanan kontekstualisasi harus memahami
ada empat sifat budaya dalam terang firman Tuhan yaitu budaya yang bersifat positif, budaya
yang dapat diubah, budaya yang bersifat negatif, dan budaya yang bersifat netral.
17Armin Bachor, sebagaimana dikutip Bambang Sriyanto, “Contextual Evangelism” dalam
jurnal Pasca STBI, 86. 18Arip Sitompul, “Kebudayaan dalam Perspektif Teologis” dalam
Jurnal “Kerusso”, edisi I Vol. 2/2011 (Sidikalang: STT OI, 2011), 30-35. 19Todd Elefson,
Diktat “Komunikasi Lintas Budaya” (Medan: STII, 2005), 30.
1. Budaya yang bersifat positif

Sesungguhnya kebudayaan adalah pola hidup manusia dalam kelompok. Jadi kebudayaan itu
dihayati dan diamalkan dalam hubungan dengan sesama anggota kelompok. Dalam Kejadian
1:26-27 dan Kejadian 2:15 manusia memiliki posisi yang istimewa posisi yang bertanggung
jawab terhadap Allah yang memberi mandat kepadanya. Inilah dasar dan titik tolak manusia
mengembangkan kehidupannya, yang disebut kebudayaan.
2. Budaya yang dapat diubah

Bahagian dari budaya yang bersifat positif adalah budaya yang diubah. Budaya yang dapat
diubah artinya adalah unsur-unsur budaya yang harus diubah menjadi positif sehingga selaras
dengan kebenaran Firman Allah.
3. Budaya yang bersifat netral

Budaya yang bersifat netral adalah, adanya unsur-unsur di dalam budaya yang apabila unsur-
unsur itu dipakai kepada hal-hal yang bertentangan dengan Firman, seperti penyembahan
berhala maka hal itu menjadi negatif dan bertentangan dengan kemuliaan Allah. Namun
sebaliknya, apabila unsur-unsur budaya itu dipakai kepada hal-hal yang tidak bertentangan
dengan Firman maka hal itu menjadi positif. Sementara unsur-unsur budaya tersebut tidak
netral, tergantung pada pemakainya atau tujuan serta motif pemakaiannya.
4. Budaya yang bersifat negatif

Budaya yang bersifat negatif adalah adanya unsur atau elemen yang terkandung di dalam
suatu budaya yang isinya bertentangan dengan kebenaran Firman Allah.18 Contoh unsur-
unsur netral dalam kebudayaan Islam yang dapat dipertahankan sebagai bentuk relevansi
terhadap budaya:
- Penggunaan kopiah
- Kopiah putih di Sumatera Selatan dipakai oleh orang yang belum naik haji, di Jawa, kopiah
ini dipakai oleh orang –orang yang sudah naik haji. Sedangkan kopiah hitam dipakai sebagai
kopiah nasional.
- Pemakaian sarung dan kain kebaya.
- Duduk di lantai atau tikar.
- Cara bersalam-salam
- Membuka sepatu atau sandal ketika masuk ke dalam rumah atau gereja untuk berbakti atau
bersekutu bersama- sama.
- Penggunaan alat-alat musik tradisional
- Di kota Sendang ,Tulung Agung,Jawa Timur, telah dicoba cara mengabarkan Injil dengan
gamelan untuk mengiringi nyanyian-nyanyian penyembahan kepada Tuhan. Cara ini sangat
berhasil, terbukti banyak orang Jawa non Kristen yang menghadiri kebaktian tersebut
.Mereka tidak merasa asing menghadirinya.
- Mengubah cerita- cerita rakyat menjadi cerita-cerita agama.
- Penggunaan bahasa Arab dalam pemberitaan Injil.
- Penggunaan bahasa Arab sangat baik, terutama untuk mendekati orang-orang Islam yang
terdidik sebab bahasa Arab merupakan bahasa kesatuan Islam, sehingga penggunaan bahasa
itu merupakan penghormatan kita terhadap mereka.
- Sunat.19
35
Sikap Terhadap Kebudayaan Paul G. Hiebert menyatakan setidaknya minimal ada 3 sikap
misi terhadap kebudayaan lama yang dimiliki konteks seperti yang dinyatakan dalam skema
berikut ini :
Gambar 2
Skema Sikap terhadap Ajaran/Kebudayaan Lama20
20Paul G. Hiebert, Anthropological Insights for Missionaries (Grand Rapids, Michigan:
1991), 188. 21Paul G. Hiebert, artikel “Critical Contextualization”, 1-5.
Penolakan terhadap budaya lama akan menimbulkan beberapa masalah teologis dan
misiologis. Pertama penolakan itu berdasarkan asumsi secara implisit bahwa bentuk kultural
orang Kristen Barat adalah seperti kultur Kristen. Kedua perlu kebiasaan baru untuk
mengganti kebiasaan yang sudah ditolak oleh para petobat. Ketiga usaha untuk
menghapuskan kebiasaan atau tingkah laku kebudayaan yang lama sering kali gagal.
Penerimaan kebudayaan lama haruslah dilakukan dengan kritisi yang tajam dan diterangi
Firman Tuhan. Apabila kebudayaan lama diterima tanpa dikritisi maka akan menghasilkan
sinkritisme terhadap budaya lama. Tiga pengecekan untuk mengkritisi kebudayaan lama ialah
pertama Alkitab dipandang sebagai kekuasaan yang mutlak dan final, kedua keimaman orang
percaya yang berasumsi bahwa setiap orang percaya mempunyai Roh Kudus yang memimpin
mereka dalam pengertian dan aplikasi Alkitab di dalam kehidupannya sendiri, dan ketiga ada
pengecekan dari gereja.21