Anda di halaman 1dari 32

Makalah

PENGERTIAN FILSAFAT SECARA LUAS

OLEH:

NAMA : AYU NUNUT JAYA SITORUS


PRODI : S1-TEOLOGI
M.Kuliah : FILSAFAT
T /S : II/IV
DOSEN : Drs. Tumpak Manurung SH., M.Si

SEKOLAH TINGGI THEOLOGIA OIKUMENE INJILI

(STT-OI)

SIDIKALANG, 2018/2019

1
Kata pengantar

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yesus, dimana atas berkat dan
pertolonganNya saya dapat menyelesaikan makalah ini sebagai tugas mata kuliah filsafat

Saya juga tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada bapak Drs. Manurung S.H,
Msi. Sebagai dosen pengampu mata kuliah ini yang selalu memberikan dukungan kepada
saya, seperti lewat nasehat, motivasi, dan dorongan untuk tetap semangat, supaya tidak
menyerah, sehingga saya berjuang untuk mendapatkan yang terbaik dari semua yang
disampaikan.

Saya berharap dengan adanya makalah ini, kita bisa lebih paham, lebih mengerti,
lewat pembahasan yang ada didalamnya, yaitu tentang pengertian filsafat secara luas dalam
mata kuliah filsafat.

Apabila ada kesalahan dalam makalah ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Penulis,

Ayu nunut jaya

2
DAFTAR ISI

Kata pengantar 2

Daftar Isi 3

BAB. I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah 4

2. Permasalahan 4

3. Tujuan penulis 4

BAB. II PEMBAHASAN

PENGERTIAN FILSAFAT SECARA LUAS

1.1. Pengertian Filsafat secara luas 5


1.2. Obyek materi dan obyek formal Filsafat 9
1.3. Ciri-ciri pemikiran Filsafat 10
1.4. Cabang-cabang Filsafat 11
1.5. Kedudukan ilmu, Filsafat dan agama 14
1.6. Beberapa kegunaan mempelajari Filsafat 17
1.7. Metode-metode Filsafat 21
1.8. Sejarah kelahiran Filsafat 22
1.9. Apakah Filsafat itu 28
1.10. Asal mula Filsafat 28
1.11. Sifat dasar Filsafat 29
1.12. Peranan Filsafat 29
1.13. Tujuan fungsi dan guna Filsafat 30

BAB III PENUTUP


Kesimpulan 31
Daftar pustaka 32

3
BAB 1
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Berfikir merupakan hal yang selalu dilakukan oleh manusia, dan berpikir pula
merupakan keistimewaan yang diberikan oleh Allah kepada kita manusia. Akal yang
diberikan oleh-Nya merupakan suatu pembeda antara kita dengan makhluk lainnya.
Para ilmuan-ilmuan yang terkemuka memberikan definisi tentang ilmu Filsafat namun
masing-masing definisi mereka berbeda akan tetapi tidak bertentangan, bahkan saling mengisi
dan saling melengkapi dan terdapat kesamaan yang saling mempertalikan semua definisi itu.
Hal tersebut baik untuk menambah wawasan kita karena dengan mengetahui pengertian dari
para ilmuan-ilmuan sebelum kita, kita banyak belajar dari sana.
Filsafat merupakan suatu upaya berfikir yang jelas dan terang tentang seluruh
kenyataan, filsafat dapat mendorong pikiran kita untuk meraih kebenaran yang dapar
membawa manusia kepada pemahaman, dan pemahaman membawa manusia kepada tindakan
yang lebih layak.
Untuk mengetahui dan membuka wawasan rekan-rekan mahasiswa khususnya, saya
penyusun makalah akan membahas pengertian filsafat secara luas.

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas,dapat diambil sebuah masalah yang akan dikaji dalam
makalah ini diantaranya :
1. Apa pengertian filsafat?
2. Bagaimana manfaat mempelajari filsafat?
3. Bagaimana pentingnya filsafat dalam hidup?
3. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penulisan dari makalah ini sebagai
berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian dari filsafat.
2. Untuk mengetahui manfaat mempelajari filsafat.
3. Untuk mengetahui pentingnya filsafat didalam kehidupan.

4
BAB II

PEMBAHASAN

PENGERTIAN FILSAFAT SECARA LUAS

1.1.Pengertian Filsafat

Pengertian filsafat, dalam sejarah perkembangan pemikiran kefilsafatan, antara satu


ahli filsafat dan ahli filsafat lainnya selalu berbeda, dan hampir sama banyaknya dengan ahli
filsafat itu sendiri. Pengertian filsafat dapat ditinjau dari dua segi, yakni secara etimologi dan
secara terminologi.
1. Filsafat secara Etimologi
Kata filsafat, yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah falsafah dan dalam
bahasa Inggris dikenal dengan istilah philosophy adalah berasal dari bahasa Yunani
philosophia. Kata philosophia terdiri atas kata philein yang berarti cinta (love) dan sophia
yang berarti kebijaksanaan (wisdom), sehingga secara etimologi istilah filsafat berarti cinta
kebijaksanaan (love of wisdom) dalam arti yang sedalam-dalamnya. Dengan demikian,
seorang filsuf adalah pencinta atau pencari kebijaksanaan. Kata filsafat pertama kali
digunakan oleh Pythagoras (582-496 SM). Arti filsafat pada saat itu belum begitu jelas,
kemudian pengertian filsafat itu diperjelas seperti yang banyak dipakai sekarang ini dan juga
digunakan oleh Socrates (470-399 M) dan para filsuf lainnya.
2. Filsafat secara Terminologi
Secara terminologi dalam arti yang dikandung oleh istilah filsafat. Dikarenakan
batasan dari filsafat itu banyak maka sebagai gambaran perlu diperkenalkan beberapa
batasan.
a. Plato
Plato berpendapat bahwa filsafat adalah pengetahuan yang mencoba untuk mencapai
pengetahuan tentang kebenaran yang asli.
b. Aristoteles
Menurut Aristoteles, filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang
didalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan
estetika (filsafat keindahan).

5
c. Al Farabi
Filsuf Arab ini mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu (pengetahuan) tentang hakikat
bagaimana alam mewujud yang sebenarnya.
d. Hasbullah Bakry
Menurut Bakry, ilmu filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan
mendalam mengenai keTuhanan, alam semesta dan juga manusia sehingga dapat
menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal
manusia dan bagaimana sikap manusia seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
e. Notonegoro
Notonegoro berpendapat bahwa filsafat itu menelaah hal-hal yang menjadi objeknya
dari sudut intinya yang mutlak dan yang terdalam, yang tetap dan yang tidak berubah, yang
disebut hakikat.
Adapun Ali Mudhofir dalam buku Surajiyo memberikan arti filsafat sangat beragam, yaitu
sebagai berikut.
a. Filsafat sebagai suatu sikap
Filsafat adalah suatu sikap terhadap kehidupan dan alam semesta. Sikap secara filsafat
adalah sikap menyelidiki secara kritis, terbuka, toleran, dan selalu bersedia meninjau suatu
problem dari semua sudut pandang.
b. Filsafat sebagai suatu metode
Filsafat sebagai metode, artinya cara berpikir secara mendalam (reflektif),
penyelidikan yang menggunakan alasan, berpikir secara hati-hati dan teliti. Filsafat berusaha
untuk memikirkan seluruh pengalaman manusia secara mendalam dan jelas.
c. Filsafat sebagai analisis logis
tentang bahasa dan penjelasan makna istilah, kebanyakan filsuf memakai metode
analisis untuk menjelaskan arti suatu istilah dan pemakaian bahasa. Beberapa filsuf
mengatakan bahwa analisis tentang arti bahasa merupakan tugas pokok filsafat dan tugas
analisis konsep sebagai satu-satunya fungsi filsafat. Para filsuf analitis seperti G. E. Moore,
B. Russel, L. Wittgeenstein, G. Ryle, J. L. Austin, dan yang lainnya berpendapat bahwa
tujuan filsafat adalah menyingkirkan berbagai kekaburan dengan cara menjelaskan arti istilah
atau ungkapan yang dipakai dalam ilmu pengetahuan dan dipakai dalam kehidupan sehari-
hari. Mereka berpendirian bahwa bahasa merupakan laboratorium para filsuf, yaitu tempat
menyemai dan mengembangkan ide-ide.
Filsafat adalah tidak lebih dari suatu usaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan
terakhir, tidak secara dangkal atau dogmatis seperti yang kita lakukan pada kehidupan sehari-

6
hari atau bahkan dalam kebiasaan ilmu pengetahuan. Akan tetapi secara kritis, dalam arti:
setelah segala sesuatunya diselidiki problem-probelm apa yang dapat ditimbulkan oleh
pertanyaan-pertanyaan yang demikian itu dan setelah kita menjadi sadar dari segala
kekaburan dan kebingungan, yang mmenjadi dasar bagi pengertian kita sehari-hari.
Barangkali karena rumitnya mendefinisikan filsafat dan ternyata hasilnya juga relatif
sangat beragam, maka Muhammad Hatta tidak mau terlalu gegabah memberikan definisi
filsafat. Menurut dia sebaiknya filsafat tidak diberikan defenisi terlebih dahulu, biarkan saja
orang mempelajarinya secara serius, nanti dia akan faham dengan sendirinya. Pendapat Hatta
ini mendapat dukungan dari Langeveld. Pendapat ini memang ada benarnya, sebab inti sari
filsafat sesungguhnya terdapat pada pembahasannya. Akan tetapi – khususnya bagi pemula –
sekedar untuk dijadikan patokan awal maka defenisi itu masih sangat diperlukan.
Pendapat ini benar adanya, sebab intisari berfilsafat itu terdapat dalam pembahasan
bukan pada defenisi. Namun, defenisi filsafat untuk dijadikan patokan awal diperlukan untuk
memberi arah dan cakupan objek yang dibahas, terutama yang terkait dengan filsafat ini.
Karena itu, disini dikemukakan beberapa defenisi dari para filosof terkemuka yang cukup
representatif, baik dari segi zaman maupun kualitas pemikiran.
Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan filsafat
sebagai :
a. Pengetahuan dan penyelidikan dengan akal mengenai hakikat segala yang ada, sebab, dan
hukumnya.
b. Teori yang mendasari alam pemikiran atau suatu kegiatan
c. Ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemology.
Secara umum filsafat berarti upaya manusia untuk memahami sesuatu secara
sistimatis, radikal dan kritis. Filsafat disini bukanlah suatu produk, melainkan proses, proses
yang nantinya akan menentukan sesuatu itu dapat diterima atau tidak. Dari uraian diatas dapat
disimpulkan bahwa filsafat adalah suatu studi atau cara berfikir yang dilakukan secara
reflektif atau mendalam untuk menyelidiki fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan
dengan menggunakan alasan yang diperoleh dari pemikiran kritis yang penuh dengan kehati-
hatian. Filsafat didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen, tetapi dengan
menggunakan pemikiran yang mendalam untuk menggungkapkan masalah secara persis,
mencari solusi dengan memberi argumen dan alasan yang tepat.

Pemahaman yang mendorong timbulnya filsafat pada seseorang karena adanya sikap heran
atau takjub yang melahirkan suatu pertanyaan. Pertanyaan itu memerlukan jawaban dan untuk

7
mencari jawaban tersebut perlu adanya pemikiran-pemikiran yang mendalam untuk
menemukan kebenarannya. Sehingga melahirkan keseriusan untuk melakukan penyelidikan
secara sistimatis. Jadi dengan berfilsafat maka keinginan untuk mengetahui fenomena-
fenomena dapat dimengerti dengan lebih mudah.

Filsafat merupakan usaha untuk memperoleh pandangan yang menyeluruh, filsafat yang
mencoba menggabungkan kaasimpulan dari berbagai ilmu dan pengalaman manusia menjadi
suatu pandangan dunia yang konsisten. Para filsuf berhasrat meninjau kehidupan tidak
dengan sudut pandaang yang khusus sebagaimana di lakukan oleh seorang ilmuawan. Para
filsuf memakai pandangan yang menyeluruh terhadap kehidupan sebagai suatu totalitas.
Tujuan filsafat adalah mengambil alih hasil-hasil pengalaman manusia dalam bidang
keagamaan, etika, dan ilmu pengatahuan, kemudian hasil-hasil tersebut di renungkan secara
menyeluruh Dengan cara ini diharapkan dapat diperoleh beberapa kesimpulan umum tentang
sifat-sifat dasar alam semesta, kedudukan manusia di dalamnya serta berbagai pandangan ke
depan.

Perkataan Inggris philosophy yang berarti filsafat berasal dari kata Yunani
“philosophia” yang lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar katanya ialah philos
(philia, cinta) dan sophia (kearifan). Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani
Kuno itu filsafat berarti cinta kearifan. Namun, cakupan pengertian sophia yang semula itu
ternyata luas sekali. Dahulu sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pula
kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat sampai
kepandaian pengrajin dan bahkan kecerdikkan dalam memutuskan soal-soal praktis (The
Liang Gie, 1999).
Secara terminologi, menurut Surajiyo (2010: 4) filsafat adalah ilmu pengetahuan yang
menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan menggunakan akal sampai
pada hakikatnya. Filsafat bukan mempersoalkan gejala-gejala atau fenomena, tetapi yang
dicari adalah hakikat dari sesuatu fenomena.Hakikat adalah suatu prinsip yang menyatakan
“sesuatu” adalah “sesuatu” itu adanya.Filsafat mengkaji sesuatu yang ada dan yang mungkin
ada secara mendalam dan menyeluruh. Jadi filsafat merupakan induk segala ilmu.
Susanto (2011: 6) menyatakan bahwa menurut Istilah, filsafat adalah ilmu pengetahuan
yang berupaya mengkaji tentang masalah-masalah yang muncul dan berkenaan dengan segala
sesuatu, baik yang sifatnya materi maupun immateri secara sungguh-sungguh guna
menemukan hakikat sesuatu yang sebenarnya, mencari prinsip-prinsip kebenaran, serta

8
berpikir secara rasional-logis, mendalam dan bebas, sehingga dapat dimanfaatkan untuk
membantu menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan manusia.
Kalau menurut tradisi filsafati dari zaman Yunani Kuno, orang yang pertama memakai
istilah philosophia dan philosophos ialah Pytagoras (592-497 S.M.), yakni seorang ahli
matematika yang kini lebih terkenal dengan dalilnya dalam geometri yang menetapkan a2 +
b2 = c2. Pytagoras menganggap dirinya “philosophos” (pencinta kearifan). Baginya kearifan
yang sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan. Selanjutnya, orang yang oleh
para penulis sejarah filsafat diakui sebagai Bapak Filsafat ialah Thales (640-546 S.M.). Ia
merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau kosmos dalam
perkataan Yunani. Menurut aliran filsafat kosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap
alam semesta untuk mengetahui asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya (The
Liang Gie, 1999).
1.2.Objek Filsafat
Secara umum, filsafat mempunyai objek yaitu segala sesuatu yang ada dan mungkin
ada dan boleh juga diaplikasikan, yaitu Tuhan, alam semesta, dan sebagainya. Apabila
diperhatikan secara seksama objek filsafat tersebut dapat dikatagorikan kepada dua:

1. Objek material

Objek material ini adalah sasaran material suatu penyelidikan, pemikiran atau
penelitian keilmuan. Objek material filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu
pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga
dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secar umum.

2. Objek formal

Objek formal merubah objek khusus filsafat yang sedalam-dalamnya (Poedjawijatna,


1994: 8). Objek formal adalah sudut pandang dari mana sang subjek menelaah objek
materialnya. Suatu obyek material dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang sehingga
menghasilkan ilmu yang berbeda-beda.Objek formal ini dapat dipahami melalui dua kegiatan:
a. Aktivitas berfikir murni (reflective thinking) artinya kegiatan akal manusia dengan
usaha untuk mengerti dengan usaha untuk mengerti secara mendalam segala sesuatunya
sampai ke akar-akarnya.
b. Produk kegiatan berfikir murni, artinya hasil dari pemikiran atau penyelidikan dalam
wujud ilmu atau ideologi.

9
Mengenai objek forma ini ada juga yang mengindentikan dengan metafisika, yaitu
hal-hal diluar jangkauan panca indra, seperti persoalan esensi dan substansi alam, yaitu sebab
utama terjadinya alam. Metafisika berasal dari bahasa yunani, yaitu metha artinya di
belakang, sedangkan fisika artinya fisik atau nyata. Untuk itu dapat dipahami pengertian
methafisika adalah pemikiran yang jauh dan mendalam dibalik apa yang bisa dijangkau oleh
panca indra seperti Tuhan, asal alam, hakikat manusia, dan sebagainya.

1.3.Ciri-ciri pemikiran filsafat

Menurut Clarence L. Lewis seorang ahli logika mengatakan bahwa filsafat itu
sesungguhnya suatu proses refleksi dari bekerjanya akal. Sedangkan sisi yang terkandung
dalam proses refleksi adalah berbagai kegiatan/problema kehidupan manusia. Tidak semua
kegiatan atau berbagai problema kehidupan tersebut dikatakan sampai pada derajat pemikiran
filsafat, tetapi dalam kegiatan atau problema yang terdapat beberapa ciri yang dapat mencapai
derajat pemikiran filsafat adalah sebagai berikut :

1. Sangat umun atau universal

Pemikiran filsafat mempunyai kecenderungan sangat umum, dan tingkat keumumannya


sangat tinggi. Karena pemikiran filsafat tidak bersangkutan dengan objek-objek khusus, akan
tetapi bersangkutan dengan konsep-konsep yang sifatnya umum, misalnya tentang manusia,
tentang keadilan, tentang kebebasan, dan lainnya.
2. Tidak faktual
Kata lain dari tidak faktual aalah spekulatif, yang artinya filsafat membuat dugaan-
dugaan yang masuk akal mengenai sesuatu dengan tidak berdasarkan pada bukti. Hal ini
sebagai sesuatu hal yang melampaui tapal batas dari fakta-fakta pengetahuan ilmiah. Jawaban
yang didapat dari dugaan-dugaan tersebut sifatnya juga spekulatif. Hal ini bukan berarti
bahwa pemikiran filsafat tidak ilmiah, akan tetapi pemikiran filsafat tidak termasuk dalam
lingkup kewenangan ilmu khusus.

3. Bersangkutan dengan nilai

C.J. Ducasse mengatakan bahwa filsafat merupakan usaha untuk mencari pengetahuan,
berupa fakta-fakta, yang disebut penilaian. Yang dibicarakan dalam penilaian ialah tentang
yang baik dan buruk, yang susila dan asusila dan akhirnya filsafat sebagai suatu usaha untuk

10
mempertahankan nilai. Maka selanjutnya, dibentuklah sistem nilai, sehingga lahirlah apa
yang disebutnya sebagai nilai sosial, nilai keagamaan, nilai budaya, dan lainnya.

4. Berkaitan dengan arti

Sesuatu yang bernilai tentu di dalamnya penuh dengan arti. Agar para filosof dalam
mengunkapkan ide-idenya sarat denga arti, para filosof harus dapat menciptakan kalimat-
kalimat yang logis dan bahasa-bahasa yang tepat, semua itu berguna untuk menghindari
adanya kesalahan/sesat pikir (fallacy).

5. Implikatif

Pemikiran filsafat yang baik dan terpilih selalu mengandung implikasi (akibat logis).
Dari implikatif tersebut diharapkan akan mampu melahirkan pemikiran baru sehingga akan
terjadi proses pemikiran yang dinamis dari tesis ke anti tesis kemudian sintesis, dan
seterusnya...sehingga tidak ada habisnya. Pola pemikiran yang implikatif (dialektis) akan
dapat menuburkan intelektual.

1.4.Cabang – cabang filsafat


Filsafat merupakan bidang studi sedemikian luasnya sehingga diperlukan pembagian
yang lebih kecil lagi.Dalam pembagian tersebut tidak ada tata cara pembagian sehingga
terdapat perbedaan, seperti:
Filsafat dapat dikelompokan menjadi empat bidang induk sebagai berikut .
1. Filsafat tentang pengetahuan, terdiri dari:
a. Epistemologi
b. Logika,
c. Kritik ilmu-ilmu
2. Filsafat tentang keseluruhan kenyataan, terdiri dari:
a. Metafisika umum (ontologi)
b. Metafisika khusus, terdiri:
1) Teologi metafisik
2) Antropologi
3) Kosmologi
3. Filsafat tentang tindakan, terdiri dari:
a. Etika

11
b. Estetika
4. Sejarah filsafat
Pembagian filsafat secara sistematis yang didasarkan pada sistematika yang berlaku didalam
kurikulum akademis:
1. Metafisika(filsafat tenytang hal yang ada);
2. Epistoemologi (teori pengetahuan );
3. Metodologi (teori tenteng metode);
4. Logika(teori tentang penyimpulan);
5. Etika ( filsafat tentang pertimbanga orang);
6. Estetika(filsafat tentang keindahan);
7. Sejarah filsafat.

Pembagian filsafat berdasar pada struktur pengetahuan filsafat yang berkembang


sekarang ini, terbagi menjadi tiga bidang, yaitu filsafat sistematis, filsafat khusus, filsafat
keilmuan.
1. Filsafat sistematis, terdiri :
a. Metafisika
b. Epistemologi
c. Metodologi
d. Logika
e. Etika
f. Estetika
2. Filsafat khusus, terdiri:
a. Filsafat seni,
b. Filsafat kebudayaan,
c. Filsafat pendidikan,
d. Filsafat sejarah,
e. Filsafat bahasa,
f. Filsafat hukum,
g. Filsafat budi,
h. Filsafat polotik,
i. Filsafat agama,
j. Filsafat kehidupan sosial,
k. Filsafat nilai;

12
3. Filsafat keilmuan terdiri:
a. Filsafat Matematik
b. Filsafat Ilmu-ilmu Fisik
c. Filsafat Biologi
d. Filsafat Linguistik
e. Filsafat Pisiologi
f. Filsafat Ilmu-ilmu Sosial.

Penyusunan menurut struktur secara menyeluruh dalam bidang filsafat ini oleh the
liang gie diharapkan akan membantu dalam rangka menyusun kurikulim dan pengajaran
filsafat dipendidikan tinggi di indonesia , agar dalam studi filsafat para lelusannya memiliki
pengetahuan sesuai dengan perkembangan zaman.
1. Metafisika
Metafisika merupakan cabang yang memuat suatu bagian dari persoalan filsafat yang:
a. Membicarakan tentang prinsip-prinsip yang paling universal;
b. Membicarakan sesuatu yang bersifat keluarbiasaan(beyond nature);
c. Membicarakan karakteristik hal-hal yang sangat mendasar, yang berada di luar
pengalaman manusia (immidiate expirience);
d. Berupaya menyajikan suatu pandangan yang komprehensif tentang segala sesuatu;
e. Membicarakan persoalan- persoalan seperti: hubungan akal dengan benda, hakikat
perubahan,pengertian tentang kemerdekaaan, wujud Tuhan, kehidupan setelah mati dan
lainya. Metafisika ini suatu cabang filsafat yang paling sulit dipahami,terutama bagi pemuda
belajar filsafat. Pada umumnya filosof konteporer yang di orentasinya pada pengetahuan
ilmiah, terhadap metafisika lebih skeptis.
2. Epistomologi
Epistomologi lazimnya disebut teori pengetahuan yang secara umum membicarakan
mengenaisumber-sumber,karakteristik,dan kebenaran pengetahuan pengetahuan. Persoalan
epistomologi (teori pengetahuan) berkaitan erat dengan persoalan metafisika . bedanya,
persoalan epistomologi berpusat pada apakah yang ada, yang di dalamnya memuat:
- Problem asal pengetahuan (origin);
Apakah sumber-sumber pengetahuan ;
Dari mana pengetahuan yang benar , dan bagaiaman kita dapat mengatahui;
Problem penampilan (appearance) ;
Apakah yang menjadi karakteristik pengetahuan?;

13
Adakah dunia rill diluar akal, apabila ada dapatkan diketahui ;
Problem mencoba kebenaran ( verification);
Apakah pengetauan kita itu benar;
Bagaimana membedakan antara kebenaran dan kekeliruan;
3. Logika
Logika adalah bidang pengetahuan yang mempelajari segenap asas,aturan,dan tatacara
penalaran yang betul (correctreasoning). Pada mulanya logika sebagai pengetahuan rasional
(episteme). Oleh aristoteles logika disebutnya sebagai analitika, yang kemudian
dikembangkan oleh para ahli abad ke-19,oleh george boole logika tradisional dikembangkan
menjadi logika modern sehingga dewasa ini logika telah menjadi bidang pengetahuan yang
amat luas dan tidak lagi semata-mata bersifat filasafi, tetapi bercorak teknis dan ilmiah.
4. Etika
Etika atau filsafat perilaku sebagai satu cabang filsafat yang membicarakan
“tindakan”manusia,dengan penekanan yang baik dan yang buruk.terdapat dua hal
permasalahan,yaitu yang menyangkut “tindakan” maka etika disebut sebagai filsafat
praktis;sedangkan jatuh pada”baik-buruk”maka etika disebut “filsafat” normatif.”
5. Sejarah filsafat
Sejarah filsafat adalah laporan suatu peristiwa yang berkaitan dengan pemikiran filsafat.
Biasanya sejarah filsafat ini memuat sebagai pemikiran kefilsafatan(yang beranega
ragam)mulai dari zaman pra-yunani hingga zaman modern..

1.5.Kedudukan Ilmu, Filsafat, dan Agama


a. Filsafat
Secara etimologis (asal-usul kata) filsafat berasal dari kata yunani philia (=love, cinta) dan
sophia (=wisdom, kebijaksanaan). Jadi ditinjau dari pada arti etimologis istilah ini berarti
cinta pada kebjaksanaan.
Pengertian filsafat secara garis besar adalah ilmu yang mendasari suatu kosep berfikir
manusia dengan sungguh-sungguh untuk menemukan suatu kebenaran yang kemudian
dijadikan sebagai pandangan hidupnya. Sedangkan secara khusus filsafat adalah suatu sikap
atau tindakan yang lahir dari kesadaran dan kedewasaan seseorang dalam memikiran segala
sesuatu secara mendalam dengan melihat semuanya dari berbagai sudut pandang dan
korelasinya.

14
b. Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang berasal dari pengamatan, studi dan
pengalaman yang disusun dalam satu system untuk menentukan hakikat dan prinsip tentang
hal yang sedang dipelajari.
Dengan demikian ilmu pengetahuan dapat dikatakan sebagai pengetahuan yang ilmiah.
Pengetahuan yang telah disusun secara sistematis untuk memperoleh suatu kebenaran. Ilmu
pengetahuan merupakan ilmu pasti. eksak, terorganisir, dan riil.
c. Agama
Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata
keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah
yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
Kata "agama" berasal dari bahasa Sanskerta, āgama yang berarti "tradisi". Sedangkan
kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latinreligio dan
berakar pada kata kerjare-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan
berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.

Baik ilmu, filsafat maupun agama bertujuan (sekurang-kurangnya berurusan dengan satu
hal yang sama), yaitu kebenaran. Ilmu pengetahuan dengan metodenya sendiri mencari
kebenaran tentang alam dan manusia Filsafat dengan wataknya sendiri pula menghampiri
kebenaran, baik tentang alam, manusia dan Tuhan. Demikian pula dengan agama, dengan
karakteristiknya pula memberikan jawaban atas segala persoalan asasi yang dipertanyakan
manusia tentang alam, manusia dan Tuhan.
Walau demikian baik ilmu, filsafat, maupun agama juga mempunyai hubungan lain.
Yaitu ketiganya dapat digunakan untuk memecahkan masalah pada manusia. Karena setiap
masalah yang di hadapi hadapi oleh manusia sangat bermcam-macam. Ada persoalan yang
tidak dapat diselesaikan dengan agama seperti contohnya cara kerja mesin yang dapat
dipecahkan oleh ilmu pengetahuan.

2. Relasi dan Relevansi Antara Filsafat, Ilmu Pengetahuan dan Agama


1. Jalinan Filsafat dan Agama
Terdapat beberapa asumsi terkait dengan jalinan filsafat dengan agama. Asumsi tersebu
didasarkan pada anggapan manusia sebagai makhluk social. Saifullah memberikan ikhtisar
dalam bagan yang lebih terperinci mengenai perbandingan jalinan agama dan filsafat.

15
Table perbandingan antara agama dan filsafat
Agama Filsafat
a. Agama adalah unsur mutlak dan
a. Filsafat adalah salah satu unsure
sumber kebudayaan. kebudayaan.
b. Agama adalah ciptaan Tuhan. b. Filsafat adalah hasil spekulasi
manusia.
c. Agama adalah sumber-sumber
c. Filsafat menguji asumsi-asumsi
asumsi dari filsafat dan ilmu science, dan science mulai dari
pengetahuan (science). asumsi tertentu.
d. Agama mendahulukan kepercayan
d. Filsafat mempercayakan
dari pada pemikiran. sepenuhnya kekuatan daya
pemikiran.
e. Agama mempercayai akan adanya
e. Filsafat tidak mengakui dogma-
kebenaran dan khayalan dogma- dogma agama sebagai kenyataan
dogma agama. tentang kebenaran.

Dengan demikian terlihat bahwa peran agama dalam meluruskan filsafat yang spekulatif
terhadap kebenaran mutlak yang terdapat dalam agama. Sedangkan peran filsafat terhadap
agama adalah membantu keyakinan manusia terhadap kebenaran mutlak itu dengan
pemikiran yang kritis dan logis.

2. Jalinan Filsafat dan Ilmu


Antara filsafat dan ilmu mempunyai persamaan, dalam hal bahwa keduanya merupakan
hasil ciptaan kegiatan pikiran manusia, yaitu berfikir filosofis, spkulatif dan empiris ilmiah.
Namun ke-eksakan pengetahuan filsafat tidak mungkin diuji seperti pengetahuan ilmu. Yang
pertama tersusun dari hasil riset dan eksperimen antara ilmu dan filsafat juga mempunyai
perbedaan, terutama untuk filsafat menuntukan tujuan hidup sedangkan ilmu menentukan
sarana untuk hidup. Filsafat disebut sebagai induk dari ilmu pengetahuan. Hal ini didasarkan
pada perbedaan berikut ini
1. Mengenai lapangan pembahasan
2. Mengenai tujuannya
3. Mengenai cara pembahasannya
4. Mengenai kesimpulannya

16
a. Persamaan
Antara ilmu, filsafat dan agama ketiganya mempunyai tujuan yang sama yaitu
memperoleh kebenaran. Walaupun dalam mencari kebenaran tersebut baik ilmu, filsafat
maupun agama mempunyai caranya sendiri-sendiri.
Ilmu dengan metodenya mencari kebenaran tentang alam, termasuk manusia dan makhluk
hidup yang ada di dalamnya. Filsafat dengan wataknya menghampiri kebenaran, baik tentang
alam maupun manusia yang tidak dapat dijawab oleh ilmu. Sedangkan agama dengan
kepribadiannya memberikan persoalan atas segala persoalan yang dipertanyakan manusia,
baik tentang alam, manusia maupun tentang tuhan.
b. Perbedaan
Filsafat adalah induk pengetahuan, filsafat adalah teori tentang kebenaran. Filsafat
mengedepankan rasionalitas, pondasi dari segala macam disiplin ilmu yang ada. Filsafat juga
bisa diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan memikirkan segala sesuatunya
secara mendalam dan sungguh-sungguh, serta radikal. Filsafat menghampiri kebenaran
dengan cara menualangkan (mengelanakan atau mengembarakan) akal-budi secara radikal
dan integral serta universal.
Agama lahir sebagai pedoman dan panduan. Agama lahir tidak didasari dengan riset, rasis
atau uji coba. Melainkan lahir dari proses peciptaan zat yang berada diluar jangkauan
manusia. Kebenaran agama bersifat mutlak, karena agama diturunkan Dzat yang maha besar,
maha mutlak, dan maha sempurna yaitu Allah.
Ilmu pengetahuan adalah suatu hal yang dipelopori oleh akal sehat, ilmiah, empiris dan
logis. Ilmu adalah cabang pengetahuan yang bekembang pesat dari waktu kewaktu. Segala
sesuatu yang berawal dari pemikiran logis dengan aksi yang ilmiah serta dapat dipertanggung
jawabkan dengan bukti yang konkret.
Ilmu dan filsafat, kedua-duanya dimulai dengan sikap sangsi atau tidak percaya.
Sedangkan agama dimulai dengan sikap percaya dan iman.
c. Titik Singgung
Baik ilmu, filsafat, dan agama ketiganya saling melengkapi. Karena tidak semua masalah
yang ada didunia ini dapat diselesaikan oleh ilmu. Karena ilmu terbatas, terbatas oleh
subjeknya, oleh objeknya maupun metodologinya. Sehingga masalah tersebut diselesaikan
oleh filsafat karena filsafat bersifat spekulatif dan juga alternative.
Agama memberi jawaban tentang banyak soal asasi yang sama sekali tidak terjawab oleh
ilmu, yang dipertanyakan namun tidak terjawab bulat oleh filsafat. Namun ada juga masalah
yang tidak dapat dijawab oleh agama melain kan dijawab oleh ilmu.

17
1.6.Beberapa Kegunaan mempelajari filsafat
Berdasarkan pemahaman dasarnya, persepsi ini tidak tepat, meskipun di dalamnya
terkandung manfaat. Secara khusus, filsafat merupakan perbincangan mencari hakikat sesuatu
gejala atau segala hal yang ada. Artinya, filsafat merupakan landasan dari sesuatu apapun ,
tumpuan segala hal, jika salah tentulah berbahaya, sedikitnya akan merugikan. Apabila
kehidupan berpengetahuan itu diibaratkan sebuah pohon maka filsafat adalah akarnya, yaitu
bagian yang berhyubungan langsung dengan sumber kehidupan pohon itu, sedangkan batang,
dahan, ranting, daun, bunga, dan buah menjadi bahan kajian ilmu pengetahuan. Berdasarkan
hasil penelitian, ilmu pengetahuan berhubungan dengan apa yang terlihat atau yang biasa
disebut menggejala atau mewujud. Terlebih lagi kaum awam, ia hanya dapat melihat sesuatu
secara langsung atau yang berhubungan secara langsung, khusunya menjawab kebutuhan
nyata dirinya sendiri.
Cara berpikir filsafati telah mendokrak pintu serta tembok-tembok tradisi dan
kebiasaan, bahkan telah menguak mitos dan miteserta meninggalkan cara berpikir mistis.
Lalu pada saat yang sama telah pula berhasil mengembangkan cara berpikir rasional, luas dan
mendalam, teratur dan terang, integral dan koheren, metodis dan sistematis, logis, kritis, dan
analitis.
Karena itu, ilmu pengetahuan pun semakin bertumbuh subur, terus berkembang, dan
menjadi dewasa. Kemudian, berbagai ilmu pengetahuan yang telah mencapai tingkat
kedewasaan penuh satu demi satu mulai mandiri dan meninggalkan filsafat yang selama itu
telah mendewasakan mereka. Itulah sebabnya, filsafat disebuts sebagai mater scientiarum
atau induk segala ilmu pengetahuan. Itu merupakan fakta yang tidak dapat diingkari, yang
dengan jelas menunjukkan bahwa ia benar-benar telah menampakkan kegunaannya lewat
melahirkan, merawat, dan mendewasakan berbagai ilmu pengetahuan yang begitu berjasa
bagi kehidupan manusia.
Filsafat adalah ilmu yang tak terbatas karena tidak hanya menyelidiki suatu bidang
tertentu dari realitas yang tertentu saja. Filsafat senantiasa mengajukan pertanyaan tentang
seluruh kenyataan yang ada. Filsafat pun selalu mempersoalkan hakikat, prinsip, dan asas
mengenai seluruh realitas yang ada, bahkan apa saja yang dapat dipertanyakan, termasuk
filsafat itu sendiri.
Filsafat menggiring manusia kepengertian yang terang dan pemahaman yang jelas.
Kemudian, filsafat itu juga menuntun manusia ketindakan dan perbuatan yang konkret
berdasarkan pengertian yang terang dan pemahaman yang jelas.

18
1. Secara umum kegunaan filsafat :
1. Filsafat membantu kita memahami bahwa sesuatu tidak selalu tampak seperti apa
adanya.
2. Filsafat membantu kita mengerti tentang diri kita sendiri dan dunia kita, karena
filsafat mengajarkan bagaimana kita bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar.
3. Filsafat membuat kita lebih kritis. Filsafat mengajarkan pada kita bahwa apa yang
mungkin kita terima begitu saja ternyata salah atau menyesatkan—atau hanya merupakan
sebagian dari kebenaran.
4. Filsafat mengembangkan kemampuan kita dalam:
a. Menalar secara jelas
b. Membedakan argumen yang baik dan yang buruk
c. Menyampaikan pendapat (lesan dan tertulis) secara jelas
d. Melihat sesuatu melalui kacamata yang lebih luas
e. Melihat dan mempertimbangkan pendapat dan pandangan yang berbeda.
4. Dengan mempelajari karya-karya para pemikir besar, para filsuf dalam sejarah dan
tradisi filsafat, kita akan melihat betapa besar sesungguhnya pengaruh filsafat terhadap
perkembangan ilmu pengetahuan, agama, pemerintahan, pendidikan dan karya seni.
5. Filsafat memberi bekal dan kemampulan pada kita untuk memperhatikan
pandangan kita sendiri dan pandangan orang lain dengan kritis. Kadang ini memang
bisa mendorong kita menolak pendapat-pendapat yang telah ditanamkan pada kita, tetapi
filsafat juga memberikan kita cara-cara berfikir baru dan yang lebih kreatif dalam
mengahadapi masalah yang mungkin tidak dapat dipecahkan dengan cara lain.Kemampuan
berfikir secara jernih, menalar secara logis, dan mengajukan dan menilai argumen, menolak
asumsi yang diterima begitu saja, dan pencarian akan prinsip-prinsip pemikiran dan tindakan
yang koheren—semuanya ini merupakan ciri dari hasil latihan dalam ilmu filsafat.
2. Secara khusus kegunaan filsafat :
Filsafat merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu
kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni:
a. Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.
b. Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan
filsafat lainnya.
c. Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia.
d. Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan

19
e. Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek
kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya. Menurut Agraha
Suhandi (1989)
f. Filsafat bermanfaat untuk menjelaskan keberadaan manusia di dalam mengembangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan alat untuk membuat hidup menjadi lebih
baik.
g. Filsafat bermanfaat untuk membangun diri kita sendiri dengan berpikir secara radikal
(berpikir sampai ke akar-akarnya), kita mengalami dan menyadari keberadaan kita.
h. Filsafat memberikan kebiasaan dan kebijaksanaan untuk memandang dan memecahkan
persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang hidup secara dangkal saja,
tidak mudah melihat persoalan-persoalan, apalagi melihat pemecahannya.
i. Filsafat memberikan pandangan yang luas, sehingga dapat membendung egoisme dan
ego-sentrisme (dalam segala hal hanya melihat dan mementingkan kepentingan dan
kesenangan diri sendiri).
j. Filsafat ilmu memberikan dasar-dasar, baik untuk hidup kita sendiri (terutama dalam
etika) maupun untuk ilmu-ilmu pengetahuan dan lainnya, seperti sosiologi, ilmu jiwa, ilmu
mendidik, dan sebagainya.
k. Filsafat ilmu bermanfaat sebagai pembebas. Filsafat bukan hanya sekedar mendobrak
pintu penjara tradisi dan kebiasaan yang penuh dengan berbagai mitos dan mite, melainkan
juga merenggut manusia keluar dari penjara itu. Filsafat ilmu membebaskan manusia dari
belenggu cara berpikir yang mistis dan dogma.
l. Filsafat membantu agar seseorang mampu membedakan persoalan yang ilmiah dengan
yang tidak ilmiah.
m. Filsafat memberikan landasan historis-filosofis bagi setiap kajian disiplin ilmu yang
ditekuni.
n. Filsafat memberikan nilai dan orientasi yang jelas bagi setiap disiplin ilmu.
o. Filsafat memberikan petunjuk dengan metode pemikiran reflektif dan penelitian
penalaran supaya manusia dapat menyerasikan antara logika, rasio, pengalaman, dan agama
dalam usaha mereka dalam pemenuhan kebutuhannya untuk mencapai hidup yang sejahtera.
p. Filsafat ilmu memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan. Setiap metode
ilmiah yang dikembangkan harus dapat dipertanggungjawabkan secara logis-rasional, agar
dapat dipahami dan dipergunakan secara umum.
Sedangkan Ismaun (2001) mengemukakan fungsi filsafat adalah untuk memberikan
landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan

20
membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa
filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya
mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory of explanation
yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana.

1.7.Metode Filsafat
Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan dari kenyataan.
Untuk mendapatkan hal tersebut, filsafat memiliki beberapa metode penalaran.
Deduksi.

Secara sederhana, metode ini dapat dikatakan satu metode penalaran yang bergerak dari
sesuatu yang bersifat umum kepada yang khusus. Contohnya:

Semua manusia akan mati


Presiden adalah manusia
Presiden akan mati

2. Induksi

Dikatakan satu metode penalaran yang bergerak dari sesuatu yang bersifat khusus ke umum.
Ryan adalah seorang mahasiswa Aqidah Filsafat
Ryan adalah manusia
Semua mahasiswa Aqidah Filsafat adalah manusia

3. Dialektika

Secara umum, metode ini dapat dipahami sebagai cara berfikir yang dalam usahanya
memperoleh kesimpulan berstandar pada tiga hal, yakni: tesis, antitesis dan sintesis yang
merupakan gabungan dari tesis dan antitesis. Contoh sederhana untuk metode penalaran ini
adalah keluarga. Dalam satu keluarga biasanya terdapat ayah, ibu, dan anak. Jika ayah adalah
tesis, maka ibu adalah antitesis lantas anak merupakan sintesis karena keberadaanya
ditentukan ayah dan ibu.

21
1.8.Sejarah kelahiran filsafat

Masa Yunani

Yunani terletak di Asia Kecil. Kehidupan penduduknya sebagai nelayan dan


pedagang, sebab sebagian besar penduduknya tinggal di daerah pantai, sehingga mereka dapat
menguasai jalur perdagangan di Laut Tengah.

Kebiasaan mereka hidup di alam bebas sebagai nelayan itulah mewarnai kepercayaan yang
dianutnya, yaitu berdasarkan kekuatan alam, sehingga beranggapan bahwa hubungan manusia
dengan Sang Maha Pencipta bersifat formalitas. Artinya kedudukan Tuhan terpisah dengan
kehidupan manusia.

Kepercayaan yang bersifat formalitas (natural religion) tidak memberikan kebebasan


kepada manusia, ini ditentang oelh Homerus dengan dua buah karyanya yang terkenal, yaitu
Ilias dan Odyseus. Kedua karya Homerus itu memuat nilai-nilai yang tinggi dan bersifat
edukatif. Sedemikian besar peranan karya Homerus, sama kedudukannya seperti wayang
purwa di Jawa. Akibatnya masyarakat lebih kritis dan rasional.

Pada abad ke-6 SM, bermunculan para pemikir yang berkepercayaan sangat bersifat rasional
(cultural religion) menimbulkan pergeseran. Tuhan tidak lagi terpisah dengan manusia,
melainkan justru menyatu dengan kehidupan manusia. Sistem kepercayaan yang natural
religius berubah menjadi sistem cultural religius.

Dalam sistem kepercayaan natural religius ini manusia terikat oleh tradisionalisme.
Sedangkan dalam sistem kepercayaan kultural religius ini memungkinkan manusia
mengembangkan potensi dan budayanya dengan bebas, sekaligus dapat mengembangkan
pemikirannya untuk menghadapai dan memecahkan berbagai kehidupan alam dengan akal
pikiran.

Ahli pikir pertama kali yang muncul adalah Thales (625 – 545 SM) yang berhasil
mengembangkan geometri dan matematika. Likipos dan Democritos mengembangkan teori
materi, Hipocrates mengembangkan ilmu kedokteran, Euclid mengembangkan geometri
edukatif, Socrates mengembangkan teori tentang moral, Plato mengembangkan teori tentang
ide, Aristoteles mengembang teori tentang dunia dan benda serta berhasil mengumpulkan
data 500 jenis binatang (ilmu biologi). Suatu keberhasilan yang luar biasa dari Aristoteles

22
adalah menemukan sistem pengaturan pemikiran (logika formal) yang sampai sekarang masih
terkenal.

Para ahli pikir Yunani Kuno ini mencoba membuat konsep tentang asal mula alam. Walaupun
sebelumnya sudah ada tentang konsep tersebut. Akan tetapi konsepnya bersifat mitos yaitu
mite kosmogonis (tentang asal usul alam semesta) dan mite kosmologis (tentang asal-usul
serta sifat kejadian-kejadia dalam alam semesta), sehingga konsep mereka sebagai mencari
asche (asal mula) alam semesta, dan mereka disebutnya sebagai filosof alam.

Oleh karena arah pemikiran filsafatnya pada alam semesta maka corak pemikirannya
kosmosentris. Sedangkan para ahli pikir seperti Socrates, Plato dan Aristoteles yang hidup
pada masa Yunani Klasik karena arah pemikirannya pada manusia maka corak pemikiran
filsafatnya antroposentris. Hal ini disebabkan, arah pemikiran para ahli pikir Yunani Klasik
tersebut memasukkan manusia sebagai subyek yang harus bertanggung jawab terhadap segala
tindakannya.

Masa Abad Pertengahan

Masa ini diawali dengan lahirnya filsafat Eropa. Sebagaimana halnya dengan filsafat
Yunani yang dipengaruhi oleh kepercayaan, maka filsafat atau pemikiran pada abad
pertengahan pun dipengaruhi oleh kepercayaan Kristen. Artinya, pemikiran filsafat abad
pertengahan didominasi oelh agama. Pemecahan semua persoalan selalu didasarkan atas
dogma agama, sehingga corak pemikiran kefilsafatannya bersifat teosentris.

Baru pada abad ke-6 Masehi, setelah mendapatkan dukungan dari Karel Agung, maka
didirikanlah sekolah-sekolah yang memberi pelajaran gramatika, dialektika, geometri,
aritmatika, astronomi dan musik. Keadaan yang demikan akan mendorong perkembangan
pemikiran filsafat pada abad ke-13 yang ditandai berdirinya universitas-universitas dan ordo-
ordo. Dalam ordo inilah mereka mengabdikan dirinya untuk kemajuan ilmu dan agama,
seperti Anselmus (1033 – 1109), Abaelardus (1079 – 1143), Thomas Aquinas (1225 – 1274).

Di kalangan para ahli pikir Islam (periode filsafat Skolastik Islam) muncul al-Kindi, al-
Farabi, Ibnu Sina, al-Ghazali, Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, Ibnu Rusyd. Periode skolastik Islam
ini berlangsung tahun 850 – 1200. pada masa itulah kejayaan Islam berlangsung dan ilmu
pengetahuan berkembang dengan pesat. Akan tetapisetelah jatuhnya kerajaan Islam di

23
Granada di Spanyol tahun 1492 mulailah kekuasaan politik Barat menjarah ke Timur. Suatu
prestasi yang paling besar dalam kegiatan ilmu pengetahuan terutama dalam bidang filsafat.
Di sini mereka merupakan mata rantai yang mentransfer filsafat Yunani, sebagaimana yang
dilakukan oelh sarjana-sarjana Islam di Timur terhadap Eropa dengan menambah pikiran-
pikiran Islam sendiri. Para filosof Islam sendiri sebagian menganggap bahwa filsafat
Aristoteles adalah benar, Plato dan Al-Qur’an adalah benar, mereka mengadakan perpaduan
dan sinkretisme antara agama dan filsafat. Kemudian pikiran-pikiran ini masuk ke Eropa yang
merupan sumbangan Islam yang paling besar, yang besar pengaruhnya terhadap ilmu
pengetahuan dan pemikiran filsafat terutama dalam bidang teologi dan ilmu pengetahuan
alam. Peralihan dari abad pertengahan ke abad modern dalam sejarah filsafat disebut sebagai
masa peralihan (masa transisi), yaitu munculnya Renaissance dan Humanisme yang
berlangsung pada abad 15-16. munculnya Renaisance dan Humanisme inilah yang mengawali
masa abad modern. Mulai zaman modern inilah peranan ilmu alam kodrat sangat menonjol,
sehingga akibatnya pemikiran filsafata semakin dianggap sebagai pelayan dari teologi, yaitu
sebagai suatu sarana untuk menetapkan kebenaran-kebenaran mengenai Tuhan yang dapat
dicapai oleh akal manusia.

Masa Abad Modern

Pada masa abad modern ini pemikiran filsafat berhasil menempatkan manusia pada
tempat yang sentral dalam pandangan kehidupan, sehingga corak pemikirannnya
antroposentris, yaitu pemikiran filsafatnya mendasarkan pada akal fikir dan pengalaman.

Di atas telah dikemukakan bahwa munculnya Renaisance dan Humanisme sebagai awal masa
abad modern. Di mana para ahli (filosof) menjadi pelopor perkembangan filsafat (kalau pada
abad pertengahan yang menjadi pelopor perkembangan filsafat adalah para pemuka agama).
Dan pemikiran filsafat masa abad modern ini berusaha meletakkan dasar-dasar bagi metode
logis ilmiah. Pemikiran filsafat diupayakan lebih bersifat praktis, artinya pemikiran filsafat
diarahkan pada upaya manusia agar dapat mengasai lingkungan alam dengan menggunakan
berbagai penemuan ilmiah.

Karena semakin pesatnya orang menggunakan metode induksi/ eksperimental dalam berbagai
penelitian ilmiah, akibatnya perkembangan pemikiran filsafat mulai tertinggal oleh
perkembangan ilmu-ilmu alam kodrat (natural sciences). Rene Descartes (1596 – 1650)
sebagai bapak filsafat modern yang berhasil melahirkan suatu konsep dari perpaduan antara

24
metode ilmu alam dengan ilmu pasti ke dalam pemikiran filsafat. Upaya ini dimaksudkan,
agar kebenaran dan kenyataan filsafat juga sebagai kebenaran dan kenyataan yang jelas dan
terang.

Pada abad ke-18, perkembangan pemikiran filsafat mengarah kepada filsafat ilmu
pengetahuan, di mana pemikiran filsafat diisi dengan upaya manusia, bagaimana cara/ sarana
apa yang dipakai untuk mencari kebenaran dan kenyataan. Sebagai tokohnya George
Berkeley (1685 – 1753), David Hume (1711 – 1776), Rousseau (1722 – 1778).

Di Jerman muncul Christian Wolft (1679 – 1754) dan Immanuel Kant (1724 – 1804), yang
mengupayakan agar filsafat menjadi ilmu pengethuan yang pasti dan berguna, yaitu dengan
cara membentuk pengertian-pengertian yang jelas dan bukti yang kuat.

Abad ke-19, perkembangan pemikiran filsafat terpecah belah. Pemikiran filsafat pada saat itu
telah mampu membentuk suatu kepribadian tiap-tiap bangsa dengan pengertian dan caranya
sendiri. Ada filsafat Amerika, filsafat Perancis, filsafat Inggris, filasafat Jerman. Tokoh-
tokohnya adalah Hegel (1770-18311), Karl Marx (1818 -1883), August Comte (1798 -1857),
JS. Mill (1806 – 1873), John Dewey (1858 – 1952).

Akhirnya dengan munculnya pemikiran filsafat yang bermacam-macam ini, berakibat tidak
terdapat lagi pemikiran filsafat yang mendominasi. Giliran selanjutnya lahirlah filsafat
kontemporer atau filsafat dewasa ini.

Masa Abad Dewasa Ini

Filsafat dewasa ini atau filsafat abad ke-20 juga disebut Filsafat Kontemporer yang
merupakan ciri khas pemikiran filsafat adalah desentralisasi manusia. Karena pemikiran
filsafat abad ke-20 ini memberikan perhatian yang khusus kepada bidang bahasa dan etika
sosial.

Dalam bidang bahasa terdapat pokok-pokok masalah; arti kata-kata dan arti pernyataan-
pernyataan. Masalah ini muncul karena bahwa realitas sekarang ini banyak bermunculan
berbagai istilah, di mana cara pemakainnnya sering tidak dipikirkan secara mendalam,
sehingga menimbulkan tafsir yang berbeda-beda (bermakna ganda). Maka timbullah filsafat
analitika, yang di dalamnya membahas tentang cara berfikir untuk mengatur pemakaian kata-
kata/ istilah-istilah yang menimbulkan kerancauan, dan sekaligus dapat menunjukkan bahaya-

25
bahaya yang terdapat di dalamnya. Oleh karena bahasa sebagai obyek terpenting dalam
pemikiran filsafat, maka para ahli pikir menyebut sebagai logosentris.

Dalam bidang etika sosial memuat pokok-pokok masalah apakah yang hendak kita perbuat di
dalam masyarakat dewasa ini.

Kemudian, pada paruh pertama abad ke-20 ini timbul aliran-aliran kefilsafatan seperti Neo-
Thomisme, Neo-Kantianisme, Neo-Hegelianisme, Kritika Ilmu, Historisme, Irasionalisme,
Neo-Vitalisme, Spiritualisme, Neo-Positivisme. Aliran-aliran di atas sampai sekarang tinggal
sedikit yang masih bertahan. Sedangkan pada awal belahan akhir abad ke-20 muncul aliran
kefilsafatan yang lebih dapat memberikan corak pemikiran dewasa ini seperti Filsafat
Analitik, Filsafat Eksistensi, Strukturalisme, Kritika Sosial.

Secara etimologis, filsafat berasal dari beberapa bahasa, yaitu bahasa Inggris dan
bahasa Yunani. Dalam bahasa Inggris, yaitu “philosophy”, sedangkan dalam bahasa Yunani,
“philen” atau “philos” dan “sofein” atau “sophi”. Ada pula yang mengatakan bahwa filsafat
berasal dari bahasa Arab, yaitu “falsafah” yang artinya al-hikmah. Akan tetapi, kata tersebut
pada awalnya berasal dari bahasa Yunani. “philos” artinya cinta, sedangkan “Sophia” artinya
kebijaksanaan.

Oleh karena itu filsafat dapat diartikan dengan cinta kebijaksanaan yang dalam bahasa
Arab diistilahkan dengan al-hikmah. Para ahli filsafat disebut dengan filosof, yakni orang
yang mencintai atau mencari kebijaksanaan atau kebenaran. Filosof bukan orang yang
bijaksana atau berpengaruh benar, melainkan orang yang sedang belajar mencari kebenaran
dan kebijaksanaan.

Filsafat pertama kali muncul di Yunani, Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar
filosof ialah Thales dari Mileta. Filosof-filosof Yunani yang terbesar yaitu Socrates, Plato,
dan Aristoteles. Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di
daerah yang beradab lain kala itu seperti Israel atau Mesir. Jawabannya di Yunani tidak
seperti di daerah lain-lainya tidak ada kasta pendeta sehingga orang lebih bebas.

Munculnya filsafat ditandai dengan runtuhnya mitos-mitos dan dongeng-dongeng


yang selama itu menjadi pembenaran terhadap setiap gejala alam. Manusia pada waktu itu
melalui mitos-mitos mencari keterangan tentang asal-usul alam semesta dan tentang kejadian
yang berlangsung di dalamnya.

26
Ada dua bentuk mitos yang berkembang pada waktu itu, yaitu mitos kosmogonis yaitu
mitos yang mencari tentang asal usul alam semesta, dan mitos, kosmologis yaitu mitos yang
berusaha mencari keterangan tentang asal usul serta sifat kejadian di alam semesta. Meskipun
memberikan jawaban-jawaban tersebut diberikan dalam bentuk mitos yang lolos dari control
akal (rasio).

Cara berfikir seperti itu berlangsung sampai abad ke-6 sebelum masehi, sedangkan
sejak abad ke-6 masehi orang mulai mencari jawaban-jawaban rasional tentang asal-usul dan
kejadian alam semesta.

Pencarian kebijaksanaan bermakna menyelusuri hakikat dan sumber kebenaran. Alat


untuk menemukan kebijaksanaan adalah akal yang merupakan sumber primer dan berfikir.
Oleh karena itu, kebenaran filosofis tidak lebih dari kebenaran berfikir yang rasional dan
radikal.

Dalam ilmu filsafat yang identik dengan pertanyaan-pertanyaan yang kemudian


Filsafat selalu mencari jawaban-jawaban, sekalipun jawaban-jawaban yang ditemukan tidak
pernah abadi. Oleh karena itu filsafat tidak pernah selesai dengan satu pertanyaan dan satu
jawaban dan tidak pernah sampai pada akhir sebuah masalah. Masalah-masalah filsafat tidak
pernah selesai karena itulah memang sebenarnya berfilsafat.

Menyimak sebab-sebab kelahiran filsafat dan proses perkembangannya, sesungguhnya


filsafat telah memerankan sedikitnya tiga peranan utama dalam sejarah pemikiran manusia.
Ketiga peranan yang telah diperankannya sebagai pendobrak, pembebas, dan pembimbing.
1. Pendobrak
Berabad-abad lamanya intelektualitas manusia tertawan dalam penjara tradisi dan
kebiasaan. Dalam penjara itu, manusia terlena dlam alam mistik yang penuh sesak dengan
hal-hal serba rahasia yang terungkap lewat berbagai mitos dan mite. Manusia menerima
begitu saja segala penuturan dongeng dan takhayul tanpa mempersoalkannya lebih lanjut.
Orang beranggapan bahwa karena segala dongeng dan takhayul itu merupakan bagian yang
hakiki dari warisan tradisi nenek moyang, sedangkan tradisi itu benar dan tidak dapat
diganggu gugat maka dongeng dan takhayul itu pasti benar dan tidak boleh diganggu gugat.
Keadaan tersebut berlangsung cukup lama. Kehadiran filsafat telah mendobrak pintu dan
tenbok-tembok tradisi yang begitu sakral dan selama itu tidak boleh diganggu gugat. Kendati
pendobrakan itu membutuhkan waktu yang cukup panjang, kenyataan sejarah telah

27
membuktikan bahwa filsafat benar-benar telah berperan selaku pendobrak yang
mencengangkan.
2. Pembebas
Filsafat membebaskan manusia dari ketidaktahuan dan kebodohannya. Demikian pula,
filsafat membebaskan manusia dari belenggu cara berfikir mistis dan mitis.
Sesungguhnya, filsafat telah, sedang dan akan terus berupaya membebaskan manusia dari
kurangnya pengetahuan yang menyebabkan manusia menjadi picik dan dangkal. Secara
ringkas dapat dikatakan bahwa filsafat membebaskan manusia dari segala jenis “penjara”
yang mempersempit ruang gerak akal budi manusia.
3. Pembimbing
Bagaimanakah filsafat dapat membebaskan manusia dari segala jenis “penjara” yang
hendak mempersempit ruang gerak akal budi manusia itu. sesungguhnya, filsafat hanya
sanggup melaksanakan peranannya sebagai pembimbing.
Filsafat membebaskan manusia dari cara berpikir yang tidak utuh dan begitu fragmentaris
dengan membimbing manusia untuk berpikir secara integral dan koheren.

1.9.Apakah Filsafat itu

Plato (427 SM – 348 SM) “Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai
kebenaran yang asli.”
· Aristoteles (382 SM – 322 SM) “Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi
kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu – ilmu metafisika, logika, retorika, etika,
ekonomi, politik dan estetika.” Filsafat yaitu cinta atau suka kepada suatu kebijaksanaan atau
kebajikan. Filosof atau orang yang berfilsafat adalah orang yang suka akan kebijaksanaan dan
senantiasa akan berusaha untuk berbuat bijaksana. Filsafat mempunyai banyak peranan bagi
manusia seperti: mendobrak keterkungkungan pikiran manusia, pembebas pikiran manusia,
sebagai pembimbing, penghimpun ilmu pengetahuan, dan sebagai pembantu pengetahuan.
Secara umum, tujuan filsafat adalah meraih kebenaran agar dapat membawa manusia kepada
pemahaman, dan kepada tindakan yang lebih layak.

1.10.Asal mula filsafat

Banyak teori yang mengatakan sejarah tentang awal mula filsafat. Namun semua itu
belum tentu kebenarannya. Berikut beberapa teori tersebut:

28
1. Pendapat yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari Yunani/Barat.
Kelompok ini berpendapat bahwa filsafat berasal dari yunani atau barat, orang
pertama yang mengungkapkan bahwa filsafat berasal dari yunani adalah filsuf terkenal dari
yunani Aristoteles (384-322 SM) pada abad ke 4 Sebelum Masehi, ia pun berpendapat bahwa
filsafatdikembangkan pertama kali oleh Thales (640-550 SM) pada pertengahan abad ke 6.
Dan kelompok ini pun berpendapat bahwa orang-orang yunani adalah yang menemukan
olahraga, ilmu alam, serta filsafat. Yang perlu penulis ungkapkan adalah banyak para pemikir
barat yang berpendapat sama dengan pendapat pertama ini antaranya adalah Bertrand Russel,
Hanry Piere dan lainnya. Dan yang paling mengejutkan adalah banyak dari para filsuf arab
dan filsuf muslim yang berpendapat seperti para pemikir diatas, diantara mereka adalah
Alfarabi (950-870 M) pengakuannya tentang filsafat dimulai dari yunani termuat dalam salah
satu naskahnya tentang Plato dan Aristoteles (384-322 SM), ada juga Asy-Syahrastani serta
Ibnu Kholdun yang sependapat dengan Alfarabi.

2. Pendapat kedua yang mengatakan bahwa filsafat dimulai dari Timur.


kelompok ini berpendapat bahwa filsafat berasal dari timur/Islam tepatnya di beberapa
negara antara lain adlah India, Persia, Irak dan Mesir Kuno. Para filsuf yang berbendapat
sama dengan pendapat ini adalah Imam Ghazali (1111-1059 M), ia tulis dalam kitabnya al-
Munqidz min adh-Dholal : Para Filsuf telah mengambil Kaidah-kaidah politik dari kitab-kitab
Allah yang diturunkan kepada para nabi-nabiNya. Selain Ghazali ada juga Alqifthi yang
menulis dalam kitabnya Akhbar al-’Ulama. Dan yang menarik adalah ada beberapa dari para
pemikir eropa yang sependapat dengan Ghazali dan Alqifthi, mereka adalah Will Durant
dalam bukunya The Story of Cultural, George Shartoon dalam bukunya The History of
Sciense, Masoon Orsel dalam bukunya Philosophy in east.

1.11.sifat dasar filsafat


Berfikir radikal, Berfikir rasional; tahu dan paham dengan akal budi, Mencari asas,
Mencari kebenaran, Mencari kejelasan.

1.12.peranan filsafat
Perananfilsafat adalah penyelidikan tentang ciri-ciri mengenai pengetahuan ilmiah dan
cara-cara untuk memperoleh pengetahuan. Filsafat ilmua erat kaitannya dengan filsafat

29
pengetahuan atau epistemologi, yang secara umum menyelidiki syarat-syarat serta bentuk-
bentuk pengalaman manusia, juga mengenai logika dan metodologi.

1.13.Tujuan fungsi dan guna filsafat

Tujuan, fungsi dan manfaat filsafat - Menurut Harold H. Titus, filsafat adalah suatu
usaha memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Apabila tujuan ilmu adalah kontrol,
dan tujuan seni adalah kreativitas, kesempurnaan, bentuk keindahan komunikasi dan ekspresi,
maka tujuan filsafat adalah pengertian dan kebijaksanaan (understanding and wisdom)
Dr Oemar A. Hoesin mengatakan: Ilmu memberi kepada kita pengatahuan, dan
filsafat memberikan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan
pengetahuan yang tersusun dengan tertib, akan kebenaran.
Takdir Alisyahbana menulis dalam bukunya: filsafat itu dapat memberikan
ketenangan pikiran dan kemantapan hati, sekalipun menghadapi maut. Dalam tujuannya yang
tunggal (yaitu kebenaran) itulah letaknya kebesaran, kemuliaan, malahan kebangsawanan
filsafat di antara kerja manusia yang lain. Kebenaran dalam arti yang sedalam-dalamnya dan
seluas-luasnya baginya, itulah tujuan yang tertinggi dan satu-satunya.
Bagi manusia, berfilsafat itu bererti mengatur hidupnya seinsaf-insafnya, senetral-
netralnya dengan perasaan tanggung jawab, yakni tanggung jawab terhadap dasar hidup yang
sedalam-dalamnya, baik Tuhan, alam, atau pun kebenaran.
Radhakrishnan dalam bukunya, History of Philosophy, menyebutkan: Tugas filsafat
bukanlah sekadar mencerminkan semangat masa ketika kita hidup, melainkan
membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan,
menentukan arah dan menuntun pada jalan baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan
keyakinan kepada kita untuk menompang dunia baru, mencetak manusia-manusia yang
menjadikan penggolongan-penggolongan berdasarkan ‘nation’, ras, dan keyakinan
keagamaan mengabdi kepada cita mulia kemanusiaan. Filsafat tidak ada artinya sama sekali
apabila tidak universal, baik dalam ruang lingkupnya maupun dalam semangatnya.

Studi filsafat harus membantu orang-orang untuk membangun keyakinan keagamaan atas
dasar yang matang secara intelektual. Filsafat dapat mendukung kepercayaan keagamaan
seseorang, asal saja kepercayaan tersebut tidak bergantung pada konsepsi prailmiah yang
usang, yang sempit dan yang dogmatis. Urusan (concerns) utama agama ialah harmoni,
pengaturan, ikatan, pengabdian, perdamaian, kejujuran, pembebasan, dan Tuhan.

30
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Kata filsafat berasal dari kata Yunani filosofia, yang berasal dari kata kerja filosofein yang
berarti mencintai kebijaksanaan. Kata tersebut juga berasal dari kata Yunani philosophis yang
berasal dari kata kerja philein yang berarti mencintai, atau philia yang berarti cinta, dan
sophia yang berarti kearifan. Dari kata tersebut lahirlah kata Inggris Philosophy yang
biasanya diterjemahkan sebagai “cinta kearifan”.
Ada beberapa definisi yang telah diberikan oleh pemikir atau filosof :
· Plato (427 SM – 348 SM) “Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai
kebenaran yang asli.”
· Aristoteles (382 SM – 322 SM) “Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi
kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu – ilmu metafisika, logika, retorika, etika,
ekonomi, politik dan estetika.”
Seperti ilmu pengetahuan lainnya, filsafat juga mempunyai objek kajian yang meliputi
objek materi dan objek forma.
1. Objek Materi Filsafat, yaitu hal atau bahan yang diselidiki (hal yang dijadikan sasaran
penyelidikan).
2. Objek Forma Filsafat, yaitu sudut pandang (point of view), dari mana hal atau bahan
tersebut dipandang.
Filsafat yaitu cinta atau suka kepada suatu kebijaksanaan atau kebajikan. Filosof atau
orang yang berfilsafat adalah orang yang suka akan kebijaksanaan dan senantiasa akan
berusaha untuk berbuat bijaksana. Filsafat mempunyai banyak peranan bagi manusia seperti:
mendobrak keterkungkungan pikiran manusia, pembebas pikiran manusia, sebagai
pembimbing, penghimpun ilmu pengetahuan, dan sebagai pembantu pengetahuan.
Secara umum, tujuan filsafat adalah meraih kebenaran agar dapat membawa manusia kepada
pemahaman, dan kepada tindakan yang lebih layak.

31
DAFTAR PUSTAKA
Zulhelmi.2004.Filsafat Ilmu.Palembang:IAIN Raden Fatah Press.
Martini,Eka.2012.Filsafat Umum.Palembang:Noer Fikri Offset.
Ihsan,Fuad.2010.Filsafat Ilmu.Jakarta:PT. Rineka Cipta.
Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, Jakarta : Logos Wacana Ilmu, Cet. II 1999

32