Anda di halaman 1dari 15

Acap kali kita mendengar dari orang terdekat kita yang membicarakan tentang kedewasaan

seseorang. Terkadang mereka menghubungkan pertambahan usia dengan kedewasaan,


meskipun memang usia tua belum tentu bisa bersikap dewasa. Hingga ada ungkapan,

“Tua itu pasti, dewasa itu pilihan”.

Pengertian Dewasa itu, Apa?

Secara hukum (yang berlaku di negara Indonesia), usia dewasa dimulai dari umur 17 tahun.
Kalau belum mencapai 17 tahun belum bisa bikin KTP dengan kata lain masih anak anak bisa
di bilang anak remaja.

Namun, jika dilihat dari sudut pengertian DEWASA itu sendiri, menurut KBBI (Kamus
Besar Bahasa Indonesia), Dewasa adalah mencapai usia akil baligh, yaitu bukan anak-anak
ataupun remaja lagi.

Sedangkan menurut islam, seseorang baik perempuan maupun laki-laki dikatakan dewasa
atau baligh apabila seseorang tersebut sudah mengalami haid bagi perempuan dan mimpi
basah bagi laki-laki. Tentu saja masa seseorang untuk mencapai akil baligh, berbeda satu
dengan lainnya.

Dewasa berarti matang. Baik matang secara biologis, maupun secara psikis.Sehingga bisa
dikatakan tidak perlu menunggu tua untuk menjadi dewasa. Karena kedewasaan tidak selalu
beriringan dengan berkurangnya usia.

Lalu sebenarnya, apa sih makna dewasa?

Terkadang tingkat kedewasaan seseorang bisa dilihat dari penilaian orang lain. Secara umum,
seorang dapat dikatakan dewasa apabila ia telah mampu membedakan mana yang baik dan
mana yang jelek (atau benar salahnya sesuatu).

Namun dalam Islam, seorang dewasa adalah yang telah mampu memilih dan memilah serta
mengkategorikan mana yang perintah dan mana yang larangan Allah SWT.

Mungkin secara Islam perintah dan larangan itu mutlak adanya, tapi mengenahi baik dan
buruk menurut orang lain itu berbeda, terkadang apa yang menurut kita baik belum tentu
menurut orang lain itu baik juga, apa yang kita yakini sudah dewasa belum tentu juga
menurut orang lain itu dewasa.

Memang tampaknya begitu mudah men-cap diri sebagai seorang yang dewasa, namun tidak
demikian adanya.

Mari sejenak menengok kepada realita kehidupan sekitar kita. Seorang ayah ataupun kakek di
usia rentanya, masih saja bergenit-genit menggoda gadis-gadis seksi, bahkan lebih parahnya
hingga menggauli anak kandung, anak tetangga, ataupun cucunya sendiri untuk
melampiaskan nafsu bejatnya.

Lalu apakah menurut kita dia seorang yang berfikir dewasa?


Dan masih banyak hal-hal kecil lainnya yang beredar di kalangan orangtua yang ternyata
belum dewasa. Bahkan yang paling sering saya temui adalah orang-orang (yang tampak)
dewasa dengan sikap ngambeknya.

Waaahh!!! Saya begitu terkejut mendapati mereka, ternyata tidak cuma adik-adik kecil yang
biasa ngambek ke orangtua kalau sesuatu yang diinginkan tidak didapatkan.

Baca juga : 4 Hal yang mungkin bisa menjadikanmu lebih dewasa

Jadi, Pantaskah kita menyebut diri kita sudah dewasa.

Memang tidak mudah untuk menjadi dewasa, ada masa transisi yang panjang, perlu ilmu, ada
latihan, dan sebagainya. Maka wajarlah jika seorang akhi mengingatkan kita cara menuju
dewasa dengan sedikit perumpamaan (kalimah thayyibah).

“Ada banyak cara menjadi dewasa, kadang begitu mudah semudah membaca buku dan
menemukan kearifan di tiap lembarnya. Bahkan ada yang lebih mudah, seperti bercermin
pada setiap kejadian yang terjadi pada orang lain.

Tapi tidak jarang, kita harus menempuh jalan yang begitu berat untuk menjadi dewasa dan
sadar. Kita mesti melewati sungai fitnah yang deras, harus membelah rimba cobaan dengan
kerja dan sabar, bahkan kita harus penuh luka sebelum akhirnya memetik hikmah dan
menjadi dewasa. Ada yang berhasil, namun banyak pula yang gugur di tengah jalan”

Bagaimana, sudah ada inspirasi dari masukan ini tentang jalan menuju kedewasaan? Ya!
Realitanya untuk menjadi dewasa,

Pertama, kita harus banyak belajar

Tentunya terkait dengan segala topik yang mampu mengarahkan kita mencapai kedewasaan.
Contohnya topik birrul walidain, di sini kita banyak belajar bahwa mentaati dan
menghormati orangtua tentu ada tata caranya pula, sikap merajuk yang sering kita tampakkan
pada orangtua ternyata berdampak psikologis pada orangtua, dan sebagainya.

Namun perlu saya tekankan bahwa belajar tidak mesti dengan baca buku saja, selagi banyak
jalan menuju Roma tentu banyak peluang yang kita bisa manfaatkan sebagai media belajar.

Kedua, bercermin diri

di sini saya bukannya mengajak pembaca untuk terus menatapi diri di depan cermin tentunya.
Tapi bercermin tentang diri kita, tentang apa yang telah kita lakukan, tentang sifat-sifat kita
yang harus diperbaiki, dan sebagainya. Serta tentang cinta kita kepada Rabb yang Maha
Mencinta. Selanjutnya saya rasa ikhwah lebih paham tentang ini daripada saya.

Baca juga : Keburukan Orang Lain Adalah Cerminan Dirimu

Ketiga, dengan latihan

Kita tidak cuma perlu latihan kebugaran fisik atau angkat besi untuk menjadi dewasa. Kita
juga perlu banyak, banyak, dan lebih banyak waktu untuk berlatih di setiap perubahan
(hijrah) diri kita.

Ya! Di antaranya dengan melatih kesabaran jika kita adalah orang yang suka ngambek, atau
dengan “memaksa diri” melakukan ibadah jika kita masih suka bermalas-malasan pada yang
satu ini, serta masih banyak bentuk latihan lainnya.

Bahkan tak dipungkiri lagi bahwa kebanyakan orang perlu “teguran sayang” terlebih dahulu
untuk menjadikan dirinya sebagai orang yang dewasa. Allah SWT yang selalu menyayangi
kita, sehingga Dia tentu punya banyak cara untuk menegur kita agar kita tidak jauh-jauh
dariNya. Duuuhhh!! Allah SWT romantis banget yaaa…

Saya semakin teringat sabda Rasulullah tentang sifat Allah SWT, “Sesungguhnya Allah SWT
adalah yang Maha Pencemburunya.” Karena itulah, saya juga ingin mengingatkan kembali
bahwa sesungguhnya setiap “teguran” yang datang kepada kita bukanlah pertanda bahwa
Allah SWT ingin menyengsarakan kita.

Tapi mungkin karena kita sudah mulai menjauh dari-Nya atau mungkin dengan cara begitu
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menguji kita untuk menjadi khalifah yang lebih dewasa dari
sebelumnya, dan sebagainya, dan tentunya carilah sejuta alasan agar kita tetap berbaik sangka
kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sesungguhnya Alloh, sangat luar biasa caranya menentukan siapa yang sudah saatnya
mencapai baligh atau tidak. Oleh karenanya, jangan merasa lagi menjadi anak kecil kalau kita
sudah mencapai baligh.

Baca juga : Sijahil yang beranjak dewasa

Sadari, kita adalah orang dewasa yang harus bersikap dewasa.


Ya, dewasa adalah pilihan. Bukan tidak mungkin seseorang yang dipandang secara fisik
telah dewasa tapi psikologisnya belum dewasa. Dia belum bisa berpikir jauh kedepan,
gampang terpengaruh dengan orang lain, tidak mandiri, masih suka bertengkar karena
keegoisannya, dll.

Bisa saja kita memilih untuk tidak dewasa. Walaupun secara bilogis kita sudah disebut
dewasa, tapi kalau cara berpikir kita tidak dewasa, itu sama artinya kita memilih untuk tidak
menjadi dewasa.

Ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memilih kita, bahwa menurut-Nya kita pantas
menjadi dewasa, maka berusahalah menjadi dewasa. Amati alur kehidupan ini, dan
berpikirlah. Jangan sampai merugi karena kita termasuk golongan orang-orang yang tidak
berpikir.

Dikuti via Google

Kesimpulan dari ulasan di atas yaitu Dewasa adalah pilihan, maka mana yang akan kita
pilih? Berusaha menjadi dewasa seiring putaran masa atau bertahan dalam kekanakan dengan
wajah kita yang kian menua?

Semoga kita lebih memahami arti kedewasaan yang sesungguhnya

Amin..

Semoga bermanfaat.

Referensi :

http://tulistulus.wordpress.com/2009/02/06/seperti-apa-arti-kedewasaan-yang-sebenarnya/

http://safruddin.wordpress.com/2007/06/16/saat-harus-menjadi-dewasa/
Umur Bukan Penentu Kedewasaan, Melainkan dari Proses Belajar
29 Juli 2017 23:01 Diperbarui: 29 Juli 2017 23:47 1651 2 0

Sebagian orang beranggapan bahwa dewasa adalah saat usia kita menginjak angka tertentu.
Angka 17 tahun adalah angka yang paling sering dikaitkan dengan usia dewasa. Karena saat
itulah seseorang diwajibkan untuk memiliki kartu identitas kependudukan. Inilah yang juga
membuat remaja-remaja seolah mewajibkan perayaan 17 tahun atau lebih dikenal dengan
sebutan Sweet Seventeen.

Ketika berusia 17 tahun, seorang yang tadinya berada pada fase remaja kini berpindah ke
tahap dewasa. Jika usia 17 tahun saja dianggap dewasa, maka tentu usia yang lebih matang
atau lebih tua dari itu dianggap lebih dewasa. Tapi benarkah kedewasaan itu diukur dari usia?
Kenyataan yang dilihat adalah banyak orang yang berusia matang tapi justru bertingkah
kekanak-kanakan. Atau sebaliknya seroang remaja belasan tahun justru bisa bersikap bijak
layaknya orang yang berusia tua

Jadi, bukanlah usia yang menjadi penentu kedewasaan seseorang, melainkan bagaimana cara
ia berpikir dan bersikap. Saya pun juga belum yakin apakah saya benar-benar telah dewasa
atau masih belum dewasa. Meski telah berusia seperempat abad, tapi saya masih sering tidak
sadar dengan umur sendiri. Saya menyukai hal-hal yang juga disukai anak-anak.
Membicarakan hal-hal sepele yang sering menjadi topik perbincangan anak usia remaja.

Saat menulis ini, tiba-tiba saya teringat dengan sebuah kutipan dari novel karangan Ari Noer
yang berjudul Dilatasi Memori.

Jiwa kekanakan itu takkan pernah hilang berapapun usia pemiliknya. Ia menetap seumur
hidup, tersimpan di salah satu lapisan jiwa dan akan muncul sewaktu-waktu. Jiwa kekanakan
yang teramat manis. Jiwa kekanakan yang membuat seseorang menjad sentimental.

Meski begitu, jiwa kekanakan tak lantas harus terus dipelihara. Jika memang ia tengah datang
maka biarkan hingga ia pergi dengan sendirinya. Karena terlalu menahan diri dengan hal itu
juga akan menghambat proses menuju kedewasaan. Kita hanya akan stuck di situ tanpa
berniat memikirkan hal lainnya. Padahal untuk menuju kedewasaan diperlukan kesabaran
dan keikhlasan dalam menghadapi segala masalah.

Tidak ada standar pasti untuk menunjukkan kedewasaan seseorang. Semua masih relatif
tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Kedewasaan sering pula diidentikkan
dengan sikap bijak. Ketika seseorang mampu melihat masalah secara bijak, tenang, dan
mampu memberikan solusi pemecahan masalah, itu juga kadang disebut sebagai dewasa.

Intinya, kedewasaan adalah proses bukan hasil. Karena sampai kapan pun manusia akan terus
bersikap tidak dewasa. Manusia lanjut usia saja akan kembali bertingkah seperti anak-anak
padahal umurnya sudah jauh dari kata muda. Jika tua adalah dewasa maka semua orang yang
berusia tua pastilah bersikap dewasa. Tapi yang terlihat tidaklah demikian.

"Tua adalah pasti tapi dewasa adalah pilihan". Artinya kedewasaan adalah sebuah pilihan
hidup. Tidak semua orang memilih untuk menjadi dewasa. Ada orang-orang yang hidup
tanpa mempedulikan kehidupan sekitarnya. Ada pula orang yang hidupnya penuh masalah
sementara yang lain hidupnya tenang dan damai. Namun, apapaun jenis kehidupan yang
dilalui, kedewasaan tetaplah sebuah pilihan yang didasarkan atas prinsip yang dipegang.

Sopan santun, menghargai orang lain, kepedulian sosial, dan sederet sikap baik lainnya
adalah sikap-sikap yang sering diasosiasikan sebagai kedewasaan. Intinya, kedewasaan tidak
dilihat dari tahun berapa ia lahir, melainkan dari sikap dan cara berpikirnya. Yang paling
mudah dilihat adalah bagaimana cara kita memperlakukan orang lain serta bagaimana cara ia
berbicara. Tapi seorang yang dewasa bukan asal bicara melainkan bagaimana cara ia
menyampaikannya dan apa isi topik pembicaraannya.

Psikologi (Perkembangan Dewasa Awal)


Posted by psychologymania ⋅ Juli 12, 2011 ⋅ 5 Komentar

BAB I. PERKEMBANGAN SEPUTAR DEWASA AWAL

1. Pendahuluan

Dewasa awal adalah masa peralihan dari masa remaja. Masa remaja yang ditandai dengan
pencarian identitas diri, pada masa dewasa awal, identitas diri ini didapat sedikit-demi sedikit
sesuai dengan umur kronologis dan mental ege-nya.

Berbagai masalah juga muncul dengan bertambahnya umur pada masa dewasa awal. Dewasa
awal adalah masa peralihan dari ketergantungan kemasa mandiri, baik dari segi ekonomi,
kebebasan menentukan diri sendiri, dan pandangan tentang masa depan sudah lebih realistis.

Erickson (dalam Monks, Knoers & Haditono, 2001) mengatakan bahwa seseorang yang
digolongkan dalam usia dewasa awal berada dalam tahap hubungan hangat, dekat dan
komunikatif dengan atau tidak melibatkan kontak seksual. Bila gagal dalam bentuk keintiman
maka ia akan mengalami apa yang disebut isolasi (merasa tersisihkan dari orang lain,
kesepian, menyalahkan diri karena berbeda dengan orang lain).

Hurlock (1990) mengatakan bahwa dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun samapi kira-
kira umur 40 tahun, saat perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai
berkurangnya kemampuan reproduktif.

Secara umum, mereka yang tergolong dewasa muda (young ) ialah mereka yang berusia 20-
40 tahun. Menurut seorang ahli psikologi perkembangan, Santrock (1999), orang dewasa
muda termasuk masa transisi, baik transisi secara fisik (physically trantition) transisi secara
intelektual (cognitive trantition), serta transisi peran sosial (social role trantition).

Perkembangan sosial masa dewasa awal adalah puncak dari perkembangan sosial masa
dewasa. Masa dewasa awal adalah masa beralihnya padangan egosentris menjadi sikap yang
empati. Pada masa ini, penentuan relasi sangat memegang peranan penting. Menurut
Havighurst (dalam Monks, Knoers & Haditono, 2001) tugas perkembangan dewasa awal
adalah menikah atau membangun suatu keluarga, mengelola rumah tangga, mendidik atau
mengasuh anak, memikul tangung jawab sebagai warga negara, membuat hubungan dengan
suatu kelompok sosial tertentu, dan melakukan suatu pekerjaan. Dewasa awal merupakan
masa permulaan dimana seseorang mulai menjalin hubungan secara intim dengan lawan
jenisnya. Hurlock (1993) dalam hal ini telah mengemukakan beberapa karakteristik dewasa
awal dan pada salah satu intinya dikatakan bahwa dewasa awal merupakan suatu masa
penyesuaian diri dengan cara hidup baru dan memanfaatkan kebebasan yang diperolehnya.

Dari segi fisik, masa dewasa awal adalah masa dari puncak perkembangan fisik.
Perkembangan fisik sesudah masa ini akan mengalami degradasi sedikit-demi sedikit,
mengikuti umur seseorang menjadi lebih tua. Segi emosional, pada masa dewasa awal adalah
masa dimana motivasi untuk meraih sesuatu sangat besar yang didukung oleh kekuatan fisik
yang prima. Sehingga, ada steriotipe yang mengatakan bahwa masa remaja dan masa dewasa
awal adalah masa dimana lebih mengutamakan kekuatan fisik daripada kekuatan rasio dalam
menyelesaikan suatu masalah.

2. Ciri Perkembangan Dewasa Awal

Dewasa awal adalah masa kematangan fisik dan psikologis. Menurut Anderson (dalam
Mappiare : 17) terdapat 7 ciri kematangan psikologi, ringkasnya sebagai berikut:

a. Berorientasi pada tugas, bukan pada diri atau ego; minat orang matang berorientasi pada
tugas-tugas yang dikerjakannya,dan tidak condong pada perasaan-perasaan diri sendri atau
untuk kepentingan pribadi.

b. Tujuan-tujuan yang jelas dan kebiasaan-kebiasaan kerja yang efesien; seseorang yang
matang melihat tujuan-tujuan yang ingin dicapainya secara jelas dan tujuan-tujuan itu dapat
didefenisikannya secara cermat dan tahu mana pantas dan tidak serta bekerja secara
terbimbing menuju arahnya.

c. Mengendalikan perasaan pribadi; seseorang yang matang dapat menyetir perasaan-


perasaan sendiri dan tidak dikuasai oleh perasaan-perasaannya dalam mengerjakan sesuatu
atau berhadapan dengan orang lain. Dia tidak mementingkan dirinya sendiri, tetapi
mempertimbangkan pula perasaan-perasaan orang lain.

d. Keobjektifan; orang matang memiliki sikap objektif yaitu berusaha mencapai keputusan
dalam keadaan yang bersesuaian dengan kenyataan.

e. Menerima kritik dan saran; orang matang memiliki kemauan yang realistis, paham bahwa
dirinya tidak selalu benar, sehingga terbuka terhadap kritik-kritik dan saran-saran orang lain
demi peningkatan dirinya.

f. Pertanggungjawaban terhadap usaha-usaha pribadi; orang yang matang mau memberi


kesempatan pada orang lain membantu usahan-usahanya untuk mencapai tujuan. Secara
realistis diakuinya bahwa beberapa hal tentang usahanya tidak selalu dapat dinilainya secara
sungguh-sunguh, sehingga untuk itu dia bantuan orang lain, tetapi tetap dia brtanggungjawab
secara pribadi terhadap usaha-usahanya.

g. Penyesuaian yang realistis terhadap situasi-situasi baru; orang matang memiliki cirri
fleksibel dan dapat menempatkan diri dengan kenyataan-kenyataan yang dihadapinya dengan
situasi-situasi baru.
Dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian terhadap pola-pola kehidupan yang baru,
dan harapan-harapan sosial yang baru[1]. Masa dewasa awal adalah kelanjutan dari masa
remaja. Sebagai kelanjutan masa remaja, sehingga ciri-ciri masa remaja tidak jauh berbeda
dengan perkembangan remaja. Ciri-ciri perkembangan dewasa awal adalah:

a. Usia reproduktif (Reproductive Age)

Masa dewasa adalah masa usia reproduktif. Masa ini ditandai dengan membentuk rumah
tangga.Tetapi masa ini bisa ditunda dengan beberapa alasan. Ada beberapa orang dewasa
belum membentuk keluarga sampai mereka menyelesaikan dan memulai karir mereka dalam
suatu lapangan tertentu.

b. Usia memantapkan letak kedudukan (Setting down age)

Dengan pemantapan kedudukan (settle down), seseorang berkembangan pola hidupnya secara
individual, yang mana dapat menjadi ciri khas seseorang sampai akhir hayat. Situasi yang
lain membutuhkan perubahan-perubahan dalam pola hidup tersebut, dalam masa setengah
baya atau masa tua, yang dapat menimbulkan kesukaran dan gangguan-gangguan emosi bagi
orang-orang yang bersangkutan.

Ini adalah masa dimana seseorang mengatur hidup dan bertanggungjawab dengan
kehidupannya. Pria mulai membentuk bidang pekerjaan yang akan ditangani sebagai
karirnya, sedangkan wanita muda diharapkan mulai menerima tanggungjawab sebagai ibu
dan pengurus rumah tangga.

c. Usia Banyak Masalah (Problem age)

Masa ini adalah masa yang penuh dengan masalah. Jika seseorang tidak siap memasuki tahap
ini, dia akan kesulitan dalam menyelesaikan tahap perkembangannya. Persoalan yang
dihadapi seperti persoalan pekerjaan/jabatan, persoalan teman hidup maupun persoalan
keuangan, semuanya memerlukan penyesuaian di dalamnya.

d. Usia tegang dalam hal emosi (emostional tension)

Banyak orang dewasa muda mengalami kegagalan emosi yang berhubungan dengan
persoalan-persoalan yang dialaminya seperti persoalan jabatan, perkawinan, keuangan dan
sebagainya. Ketegangan emosional seringkali dinampakkan dalam ketakutan-ketakutan atau
kekhawatiran-kekhawatiran. Ketakutan atau kekhawatiran yang timbul ini pada umumnya
bergantung pada ketercapainya penyesuaian terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi pada
suatu saat tertentu, atau sejauh mana sukses atau kegagalan yang dialami dalam pergumulan
persoalan.

e. Masa keterasingan sosial

Dengan berakhirnya pendidikan formal dan terjunnya seseorang ke dalam pola kehidupan
orang dewasa, yaitu karir, perkawinan dan rumah tangga, hubungan dengan teman-teman
kelompok sebaya semakin menjadi renggang, dan berbarengan dengan itu keterlibatan dalam
kegiatan kelompok diluar rumah akan terus berkurang. Sebai akibatnya, untuk pertama kali
sejak bayi semua orang muda, bahkan yang populerpun, akan mengalami keterpencilan sosial
atau apa yang disebut krisis ketersingan (Erikson:34).
f. Masa komitmen

Mengenai komitmen, Bardwick (dalam Hurlock:250) mengatakan: “Nampak tidak mungkin


orang mengadakan komitmen untuk selama-lamanya. Hal ini akan menjadi suatu
tanggungajwab yang trrlalu berat untuk dipikul. Namun banyak komitmen yang mempunyai
sifat demikian: Jika anda menjadi orangtua menjadi orang tua untuk selamanya; jika anda
menjadi dokter gigi, dapat dipastikan bahwa pekerjaan anda akan terkait dengan mulut
orang untuk selamanya; jika anda mencapai gelar doctor, karena ada prestasi baik disekolah
sewaktu anda masih muda, besar kemungkinan anda sampai akhir hidup anda akan
berkarier sebagai guru besar”.

g. Masa Ketergantungan

Masa dewasa awal ini adalah masa dimana ketergantungan pada masa dewasa biasanya
berlanjut. Ketergantungan ini mungkin pada orangtua, lembaga pendidikan yang memberikan
beasiswa sebagian atau sepenuh atau pada pemerintah karena mereka memperoleh pinjaman
untuk membiayai pendidikan mereka.

h. Masa perubahan nilai

Beberapa alasan terjadinya perubahan nilai pada orang dewasa adalah karena ingin diterima
pada kelompok orang dewasa, kelompok-kelompok sosial dan ekonomi orang dewasa.

i. Masa Kreatif

Bentuk kreativitas yang akan terlihat sesudah orang dewasa akan tergantung pada minat dan
kemampuan individual, kesempatan untuk mewujudkan keinginan dan kegiatan-kegiatan
yang memberikan kepuasan sebesar-besarnya. Ada yang menyalurkan kreativitasnya ini
melalui hobi, ada yang menyalurkannya melalui pekerjaan yang memungkinkan ekspresi
kreativitas.

BAB II. HASIL – HASIL PENELITIAN PSIKOLOGI DEWASA AWAL

Hasil penelitian dewasa awal lebih banyak mengarah pada hubungan sosial, dan
perkembangan intelektual, pekerjaan dan perkawinan di usia dewasa awal, dan
pengoptimalan perkembangan dewasa awal serta perilaku penghayatan keagamaan. Beberapa
hasil penelitian, diantaranya:

1. Persepsi seks maya pada dewasa awal

Hasil penelitian oleh Ida Ayu Putu Sri Andini[2], menunjukkan bahwa baik pria maupun
wanita memiliki sikap yang negatif terhadap seks maya. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor
kebudayaan Indonesia yang masih memegang teguh adat dan istiadat budaya timur, dimana
manusia harus memperhatikan aturan dan nilai budaya di dalam bersikap dan berperilaku.
Menurut Azwar (dalam Riyanti dan Prabowo, 1998) kebudayaan yang berkembang dimana
seseorang hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap,
tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan pengaruh yang kuat dalam sikap seseorang
terhadap berbagai macam hal.

2. Penundaan usia perkawinan dengan Intensi Penundaan Usia Perkwaninan


Dari hasil penelitian[3] didapatkan hubungan yang positif dan sangat signifikan antara sikap
terhadap penundaan usia perkawinan dengan intensi penundaan usia. Hal ini berarti mereka
memiliki keyakinan yang tinggi bahwa penundaan usia perkawinan akan memberikan
keuntungan bagi mereka, baik keuntungan dari segi biologis, psikologis, sosial dan ekonomi.
Penundaan perkawinan akan memberikan waktu lebih banyak bagi mereka untuk membentuk
identitas pribadi sebagai individu yang matang secara biologis, psikologis, sosial dan
ekonomi.

3. Kesiapan Menikah pada Wanita Dewasa Awal yang Bekerja[4]

Adanya ketakutan menghadapi krisis pernikahan dan berujung perceraian merupakan


hal/kondisi yang membuat wanita bekerja ragu tentang kesiapan menikah mereka. Ditambah
lagi maraknya perceraian yang dipublikasikan di media massa saat ini sehingga dianggap
menjadi menjadi fenomena biasa. Salah satu penyebab wanita yang bekerja memutuskan
untuk menunda pernikahan adalah keraguan dapat berbagi secara mental dan emosional
dengan pasangannya. Ketidaksiapan menikah yang dimiliki wanita bekerja termanifestasi
dengan adanya ketakutan menghadapi krisis perkawinan serta ragu tentang kemampuan
mereka berbagi secar mosional dengan pasangannya kelak. Selain kesiapan psikis juga
ketidak siapan fisik. Individu yang merasa memiliki kondisi kesehatan yang tidak prima
(sakit, misal DM) cenderung ragu melangkah menuju jenjang pernikahan.

Untuk mengetahui apakah seseorang siap menikah atau tidak, ada beberapa criteria yang
perlu diperhatikan:

o Memiliki kemampuan mengendalikan perasaan diri sendiri.

o Memiliki kemampuan untuk berhubungan baik dengan orang banyak.

o Bersedia dan mampu menjadi pasangan menjadi pasangan dalam hubungan seksual.

o Bersedia untuk membina hubungan seksual yang intim.

o Memiliki kelembutan dan kasih saying kepada orang lain.

o Sensitif terhadap kebutuhan dan perkembangan orang lain.

o Dapat berkomunikasi secara bebas mengenai pemikiran, perasaan dan harapan.

o Bersedia berbagi rencana dengan orang lain.

o Bersedia menerima keterbatasan orang lain.

o Memiliki kapasitas yang baik dalam menghadapi masalah-masalah yang berhubungan


dengan ekonomi.

o Bersedia menjadi suami isteri yang bertanggung jawab.

Individu yang memiliki kematangan emosi akan memiliki kesiapan menikah yang lebih baik,
artinya mereka mampu mengatasi perubahan-perubahan dan beradaptasi setelah memasuki
pernikahan.
4. Kemandirian Dewasa Awal

Penelitian dengan judul “Kemandirian Mahasiswi UIN Suska Ditinjau dari Kesadaran
Gender” [5] ini, membuktikan bahwa bahwa perbedaan perlakuan yang diterima anak laki-
laki dan perempuan sejak lahir akan mempengaruhi tingkat kemandirian. Semakin tinggi
kesadaran gender maka semakin tinggi kemandirian pada Mahasiswa UIN Suska Riau.
Dengan makin tingginya kesadaran gender yang dimiliki mahasiswi UIN Suska Riau lebih
mandiri dibandingkan dengan mahasiswi yang tidak memiliki kesadaran gender atau
memiliki kesadaran gender yang rendah. Mahasiswi yang memiliki kemandirian tinggi akan
lebih mudah menghadapi kehidupan, tantangan yang dihadapinya, serta menjalin hubungan
yang mantap dalam kehidupan sosialnya.

5. Perilaku Perkembangan penghayatan Identitas dan Nilai-Nilai Agama dalam


Kehidupan Sehari-Hari

a. Perkembangan Identitas Diri dalam Area Agama

Penelitian dengan judul “Perkembangan Identitas Diri Dalam Area Agama pada Remaja
Akhir”[6] ini adalah studi deskriptif pada mahasiswa di Fakultas Psikologi UIN Suska Riau,
dengan usia sample 18 – 22 tahun Menurut Hurlock, usia ini sudah memasuki usia Dewasa
Awal.

Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa remaja akhir yang berstatus sebagai
mahasiswa Fakultas Psikologi berada pada status identitas diri yang ideal.

b. Perilaku Penghayatan Nilai-Nilai Agama

Penelitian dengan judul “Hubungan Antara Sikap Terhadap Aspek Kehalalan dengan perilaku
Membeli produk Makanan dan Minuman Halal pada Mahasiswa Fakultas Syari’ah IAIN
SUSQA Pekanbaru”[7], membuktikan bahwa semakin positif sikap terhadap aspek kehalalan,
maka semakin meningkat perilaku membeli produk makanan dan minuman halal. Subjek
memiliki pengetahuan tantang masalah kehalalan, sehingga subjek memiliki persepsi dan
keyakinan bahwa kehalalan adalah hal yang mendasar dalam kaitannya dengan produk
makanan dan minuman yang dikonsumsinya. Subjek meyakini bahwa bahan yang terkandung
dan proses yang dilalui dalam pembuatan produk tersebut memiliki titik kritis untuk
kehalalan pangan. Subjek juga membentuk afek yang mendukung keyakinan tersebut, serta
reaksi fisiologis yang sesuai dengan kepercayan dan keyakinan yang dimilikinya. Selanjutnya
juga muncul keinginan dan kecenderungan untuk melakukan sesuatu yang selaras dengan
kepercayaan dan perasaan tersebut.

BAB III. OPTIMALISASI PERKEMBANGAN DEWASA AWAL

Dewasa awal adalah masa dimana seluruh potensi sebagai manusia berada pada puncak
perkembangan baik fisik maupun psikis. Masa yang memiliki rentang waktu antara 20 – 40
tahun adalah masa-masa pengoptimalan potensi yang ada pada diri individu. Jika masa ini
bermasalah, akan mempengaruhi bahkan kemungkinan individu mengalami masalah yang
paling serius pada masa selanjutnya.

Menurut Vailant (1998)[8], membagi masa dewasa awal menjadi tiga masa, yaitu masa
pembentukan (20 – 30 tahun) dengan tugas perkembangan mulai memisahkan diri dari orang
tua, membentuk keluarga baru dengan pernikahan dan mengembangkan persahabatan. Masa
konsolidasi (30 – 40 tahun), yaitu masa konsolidasi karir dan memperkuat ikatan perkawinan.
Masa transisisi (sekitar usia 40 tahun), merupakan masa meninggalkan kesibukan pekerjan
dan melakukan evaluasi terhadap hal yang telah diperoleh.

Tugas-Tugas Perkembangan Dewasa Awal

Optimalisasi perkembangan dewasa awal mengacu pada tugas-tugas perkembangan dewasa


awal menurut R.J. Havighurst (1953)[9], telah mengemukakan rumusan tugas-tugas
perkembangan dalam masa dewasa awal sebagai berikut:

a. Memilih teman bergaul (sebagai calon suami atau istri)

Setelah melewati masa remaja, golongan dewasa muda semakin memiliki kematangan
fisiologis (seksual) sehingga mereka siap melakukan tugas reproduksi, yaitu mampu
melakukan hubungan seksual dengan lawan jenisnya. Dia mencari pasangan untuk bisa
menyalurkan kebutuhan biologis.

Mereka akan berupaya mencari calon teman hidup yang cocok untuk dijadikan pasangan
dalam perkawinan ataupun untuk membentuk kehidupan rumah tangga berikutnya. Mereka
akan menentukan kriteria usia, pendidikan, pekerjaan, atau suku bangsa tertentu, sebagai
prasyarat pasangan hidupnya. Setiap orang mempunyai kriteria yang berbeda-beda.

b. Belajar hidup bersama dengan suami istri

Dari pernikahannya, dia akan saling menerima dan memahami pasangan masing-masing,
saling menerima kekurangan dan saling bantu membantu membangun rumah tangga.
Terkadang terdapat batu saandungan yang tidak bisa dilewati, sehingga berakibat pada
perceraian. Ini lebih banyak diakibatkan oleh ketidak siapan atau ketidak dewasaan dalam
menanggapi masalah yang dihadapi bersama.

c. Mulai hidup dalam keluarga atau hidup berkeluarga

Masa dewasa yang memiliki rentang waktu sekitar 20 tahun (20 – 40) dianggap sebagai
rentang yang cukup panjang. Terlepas dari panjang atau pendek rentang waktu tersebut,
golongan dewasa muda yang berusia di atas 25 tahun, umumnya telah menyelesaikan
pendidikannya minimal setingkat SLTA (SMU-Sekolah Menengah Umum), akademi atau
universitas. Selain itu, sebagian besar dari mereka yang telah menyelesaikan pendidikan,
umumnya telah memasuki dunia pekerjaan guna meraih karier tertinggi. Dari sini, mereka
mempersiapkan dan membukukan diri bahwa mereka sudah mandiri secara ekonomis, artinya
sudah tidak bergantung lagi pada orang tua. Sikap yang mandiri ini merupakan langkah
positif bagi mereka karena sekaligus dijadikan sebagai persiapan untuk memasuki kehidupan
rumah tangga yang baru. Belajar mengasuh anak-anak.

d. Mengelolah rumah tangga

Setelah menjadi pernikahan, dia akan berusaha mengelolah rumah tangganya. Dia akan
berusaha membentuk, membina, dan mengembangkan kehidupan rumah tangga dengan
sebaik-baiknya agar dapat mencapai kebahagiaan hidup. Mereka harus dapat menyesuaikan
diri dan bekerja sama dengan pasangan hidup masing-masing. Mereka juga harus dapat
melahirkan, membesarkan, mendidik, dan membina anak-anak dalam keluarga. Selain itu,
tetap menjalin hubungan baik dengan kedua orang tua ataupun saudara-saudaranya yang lain.

e. Mulai bekerja dalam suatu jabatan

Usai menyelesaikan pendidikan formal setingkat SMU, akademi atau universitas, umumnya
dewasa muda memasuki dunia kerja, guna menerapkan ilmu dan keahliannya. Mereka ber-
upaya menekuni karier sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki, serta memberi jaminan
masa depan keuangan yang baik. Bila mereka merasa cocok dengan kriteria tersebut, mereka
akan merasa puas dengan pekerjaan dan tempat kerja. Sebalik-nya, bila tidak atau belurn
cocok antara minat/ bakat dengan jenis pekerjaan, mereka akan berhenti dan mencari jenis
pekerjaan yang sesuai dengan selera. Tetapi kadang-kadang ditemukan, meskipun tidak
cocok dengan latar belakang ilrnu, pekerjaan tersebut memberi hasil keuangan yang layak
{baik), mereka akan bertahan dengan pekerjaan itu. Sebab dengan penghasilan yang layak
(memadai), mereka akan dapat membangun kehidupan ekonomi rumah tangga yang mantap
dan mapan. Masa dewasa muda adalah masa untuk mencapai puncak prestasi. Dengan
semangat yang menyala-nyala dan penuh idealisme, mereka bekerja keras dan bersaing
dengan teman sebaya (atau kelompok yang lebih tua) untuk menunjukkan prestasi kerja.
Dengan mencapai prestasi kerja yang terbaik, mereka akan mampu memberi kehidupan yang
makmur-sejahtera bagi keluarganya.

f. Mulai bertangungjawab sebagai warga Negara secara layak

Warga negara yang baik adalah dambaan bagi setiap orang yang ingin hidup tenang, damai,
dan bahagia di tengah-tengah masyarakat. Warga negara yang baik adalah warga negara yang
taat dan patuh pada tata aturan perundang-undangan yang ber-laku. Hal ini diwujudkan
dengan cara-cara, seperti (1) mengurus dan memiliki surat-surat kewarganegaraan (KTP, akta
kelahiran, surat paspor/visa bagi yang akan pergi ke luar negeri), (2) mem-bayar pajak (pajak
televisi, telepon, listrik, air. pajak kendaraan bermotor, pajak penghasilan), (3) menjaga
ketertiban dan keamanan masyarakat dengan mengendalikan diri agar tidak tercela di mata
masyarakat, dan (4) mampu menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial di masyarakat (ikut
terlibat dalam kegiatan gotong royong, kerja bakti membersihkan selokan, memperbaiki
jalan, dan sebagainya). Tugas-tugas perkembangan tersebut merupakan tuntutan yang harus
dipenuhi seseorang, sesuai dengan norma sosial-budaya yang berlaku di masyarakat. Bagi
orang tertentu, yang menjalani ajaran agama (rnisalnya hidup sendiri/selibat), mungkin tidak
mengikuti tugas perkembangan bagian ini, yaitu mencari pasangan hidup dan membina
kehidupan rumah tangga. Baik disadari atau tidak, setiap orang dewasa muda akan
melakukan tugas perkembangan tersebut dengan baik.

g. Memperoleh kelompok sosial yang seirama dengan nilai-nilai pahamnya

Masa dewasa awal ditandai juga dengan membntuk kelompok-kelompok yang sesuai dengan
nilai-nilai yang dianutnya. Salah satu contohnya adalah membentuk ikatan sesuai dengan
profesi dan keahlian.

Masalah Perkembangan pada Dewasa Awal

Dengan bertambahnya usia, semakin bertambahpula masalah-masalah yang menghampiri.


Dewasa awal adalah masa transisi, dari remaja yang huru-hara, kemasa yang menuntut
tanggung jawab. Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak orang dewasa awal mengalami
masalah-masalah dalam perkembangannya. Masalah-masalah itu antara lain:

a. Penentuan identitas diri ideal vs kekaburan identitas

Dewasa awal merupakan kelanjutan dari masa remaja. Penemuan identitas diri adalah hal
yang harus pada masa ini. Jika masa ini bermasalah, kemungkinan individu akan mengalami
kekaburan identitas.

b. Kemandirian vs tidak mandiri

c. Sukses meniti jenjang pendidikan dan karir vs gagal menempuh jenjang pendidikan dan
karir.

d. Menikah vs tidak menikah (lambat menikah)

e. Hubungan sosial yang sehat vs menarik diri

Dalam menjalani masa dewasa awal, ada beberapa masalah yang menjadi penghambat
perkembangan. Khusus dalam masa dewasa awal, diantara penghambat yang sangat penting
sehingga menyukarkan penguasaan tugas-tugas perkembangan, diantranya[10]:

ü Latihan yang tidak berkesinambungan (discontinuities); sebagai salah satu penghambat


penguasaan tugas-tugas perkembangan dewasa awal, berhubungan erat dengan pengalaman-
pengalaman belajar dan latihan masa lalu.

ü Perlindungan yang berlebihan (over protectiveness); Bersangkutan dengan pola asuh


orangtua yng pernah dialami dalam masa kanak-kanak.

ü Perpanjangan pengaruh-pengaruh peer-group (prolongation of peer-group influences); Satu


diantara penghambat bagi orang dewasa awal dalam menguasai tugas-tugas perkembangan.
Disini akan terlihat pengaruh kelompok-kelompok khusus bagi perkembangan dewasa awal.

ü Inspirasi-inspirasi yang tidak realistis (unrealistic aspiration); Kesukaran-kesukaran


dewasa awal, dapat ditimbulkan oleh konsep-konsep yang tidak realistis dalam benak pada
dewasa awal (yang baru meninggalkan masa remaja) tentang apa yang diharapkan dengan
apa yang dapat dicapai.

BAB III. PENUTUP

Masa dewasa adalah masa yang sangat panjang (20 – 40 tahun), dimana sumber potensi dan
kemampuan bertumpu pada usia ini. Masa ini adalah peralihan dari masa remaja yang masih
dalam ketergantungan menuju masa dewasa, yang menuntut kemandirian dan diujung fase ini
adalah fase dewasa akhir, dimana kemampuan sedikit demi sedikit akan berkurang. Sehingga
masa dewasa awal adalah masa yang paling penting dalam hidup seseorang dalam masa
penitian karir/pekerjaan/sumber penghasilan yang tetap.

Masa ini juga adalah masa dimana kematangan emosi memegang peranan penting. Seseorang
yang ada pada masa ini, harus bisa menempatkan dirinya pada situasi yang berbeda; problem
rumah tangga, masalah pekerjaan, pengasuhan anak, hidup berkeluarga, menjadi warga
masyarakat, pemimpin, suami/istri membutuhkan kestabilan emosi yang baik.