Anda di halaman 1dari 14

TUGAS SEJARAH INDONESIA

PERANG MELAWAN KOLONIALISME

DAN IMPERIALISME

OLEH :

WAHYU HENDRIKA
KELAS : XI IPA.3

SMA NEGERI 1 RAMBAH

T/P :2019-2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat, taufiq, serta hidayah-Nya,
Shalawat dan salam selalu penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah
memberikan petunjuk hingga akhir zaman untuk kita umatnya. Dalam penyusunan makalah
ini tentu penulis mengalami masalah, namun itu semua dapat teratasi dengan berbagai
dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis
sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, guna menjadi acuan bekal
pengalaman bagi penulis untuk lebih baik di masa yang akan datang dan demi kesempurnaan
dari makalah ini.

Pasir Pengaraian, Desember 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...............................................................................................2


DAFTAR ISI..............................................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .....................................................................................................4
1.2 Tujuan .................................................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Perlawanan Rakyat Indonesia terhadap Kolonialsme dan Imperialisme .............5
2.2 Perlawanan di Maluku .........................................................................................6
2.3 Perang Padri ( 1815-1837) ...................................................................................7
2.4 Perlawanan Pangeran Dipenogoro ( 1825-1830) ................................................9
2.5 Rakyat Riau Angkat Senjata ............................................................................. .10
2.6 Perang Aceh ....................................................................................................... 11

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ..........................................................................................................13
3.2 Saran ....................................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada tanggal 4 Maret 1822, pasukan Belanda dibawah pimpinan Letnan Kolonel
Raaff berhasil memukul mundur Kaum Padri keluar dari Pagaruyung. Kemudian Belanda
membangun benteng pertahanan di Batusangkar dengan nama Fort Van der Capellen,
sedangkan Kaum Padri menyusun kekuatan dan bertahan di Lintau. Pada tanggal 10 Juni
1822 pergerakan pasukan Raaff di Tanjung Alam dihadang oleh Kaum Padri, namun
pasukan Belanda dapat terus melaju ke Luhak Agam.
Pada tanggal 14 Agustus 1822 dalam pertempuran di Baso, Kapten Goffinet
menderita luka berat kemudian meninggal dunia pada 5 September 1822. Pada bulan
September 1822 pasukan Belanda terpaksa kembali ke Batusangkar karena terus tertekan
oleh serangan Kaum Padri yang dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh.
Setelah mendapat tambahan pasukan pada 13 April 1823, Raaff mencoba kembali
menyerang Lintau, namun Kaum Padri dengan gigih melakukan perlawanan, sehingga
pada tanggal 16 April 1823 Belanda terpaksa kembali ke Batusangkar. Sementara pada
tahun 1824 Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah kembali ke
Pagaruyung atas permintaan Letnan Kolonel Raaff, namun pada tahun 1825 raja terakhir
Minangkabau ini wafat dan kemudian dimakamkan di Pagaruyung.[11] Sedangkan Raaff
sendiri meninggal dunia secara mendadak di Padang pada tanggal 17 April 1824 setelah
sebelumnya mengalami demam tinggi.

1.2 Tujuan
· Menjelaskan Perlawanan Rakyat Indonesia terhadap Kolonialsme dan Imperialisme
· Menerangkan Perlawanan bangsa indonesia di Maluku
· Menganalisis sejarah Perang Padri ( 1815-1837)
· Mengupas sejarah Perlawanan Pangeran Dipenogoro ( 1825-1830)

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Perlawanan Rakyat Indonesia terhadap Kolonialsme dan Imperialisme


1. Perlawanan Terhadap Portugis
a. Perlawanan Demak
Setelah berhasil menguasai Malaka, Portugis mendominasi perdagangan di
wilayah tersebut sehingga merugikan jaringan pedagang Islam di Indonesia. Untuk
melawan dominasi tersebut maka Raden Patah mengirim pasukan untuk menyerang
Portugis di bawah pimpinan putranya Adipati Unus pada tahun 1513. Penyerangan ini
mengalami kegagalan karena faktor jarak yang terlalu jauh dan juga kalah dalam
persenjataan dan strategi perang. Ketika Portugis menguasai pelabuhan Sunda Kelapa,
Demak melakukan penyerangan kembali pada tahun 1527 di bawah pimpinan
Fatahillah, Serangan ini berhasil dengan gemilang, sehingga Portugis harus
menunggalkan Sunda Kelapa yang namanya kemudian diganti menjadi Jayakarta.
b. Perlawanan Ternate
Perlawanan Ternate didorong oleh tindakan bangsa Portugis yang sewenang-
wenang dan merugikan rakyat. Perlawanan Ternate dipimpin oleh Sultan Hairun,
Portugis sempat kewalahan sehingga kemudian menggunakan siasat licik dengan
mengajak Sultan Hairun berunding namun kemudian dibunuh. Peristiwa ini membuat
marah rakyat Ternate yang kemudian mengadakan serangan terhadap Portugis di
bawah pimpinan Sultan Baabullah putra Sultan Hairun. Portugis mengalami
kekalahan dan terpaksa melarikan diri menyingkir ke Timor Leste.
c. Perlawanan Aceh
Untuk melawan dominasi Portugis di Malaka, Kesultanan Aceh meminta bantuan
dari Turki dan India. Dengan bantuan dari Turki maupun kerajaan-kerajaan
lainnya, Aceh mengadakan penyerangan terhadap Portugis di Malaka pada tahun
1568 di bawah pimpinan Sultan Alaudin Riayat Syah, namun penyerangan
tersebut mengalami kegagalan. Penyerangan terhadap Portugis dilakukan
kembali pada masa Sultan Iskandar Muda memerintah. Pada tahun 1629, Aceh
menggempur Portugis di Malaka dengan sejumlah kapal yang melibatkan 19.000
prajurit. Pertempuran sengit tak terelakkan yang kemudian berakhir dengan
kekalahan di pihak Aceh.

5
2.2 Perlawanan di Maluku
Ekspedisi bangsa Portugis ke Maluku di awali dengan mendaratnya bangsa Portugis
di Kerajaan Ternate pada tahun 1513 . Adapun tujuan bangsa Portugis melakukan
ekspedisi ke wilayah Maluku adalah untuk menjalin kerja sama di bidang perdagangan
terutama rempah- rempah denga kerajaan Ternate, Bacan, Tidore, dan beberapa kerajaan
kecil lainnya. Namun kerja sama yang dijalankan oleh Maluku dan Portugis dikhianati
oleh Portugis itu sendiri.
Adapun bentuk pengkhianatan yang telah dilakukan oleh portugis yatu Portugis
melakuka usaha monopoli perdagangan remapah- rempah. Hingga pada akhirnya, pada
tahun 1533, Sultan Ternate menyerukan kepada seluruh masyarakat Maluku, bahkan
jawa dan Irian Jaya untuk membantu kerajaan Ternate dalam mengusir Portugis di
wilayah Maluku. Namun, perlawanan tersebut hanya berakhir dengan adamya
perundingan damai dan masih memberikan kesempatan bangsa Portugis untuk tetap
tinggal di kerajaan Ternate tersebut.
Perlawanan rakyat Maluku khususnya di kerajaan Ternate pecah lagi di tahun 1570,
ketika rakyat Maluku menyadari bahwasannya Portugis masih saja ingin menguasai
perdagangan di Maluku. Perlawanan tersebut bermula ketika bangsa Portugis melakukan
penyimpangan kembali yang mana benteng yang diizinkan oleh rakyat Maluku untuk
didirikan oleh Bangsa Portugis yang tersebut sebagai kantor dagang , justru digunakan
sebagai pertahanan bangsa Portugis untuk menguasai menjajah daerah Maluku,
khususnya daerah Ternate. Bahkan Bangsa Portugis pun telah memaksa rakyat Maluku
untuk menjual hasil rempah- rempahnya hanya kepada bangsa Portugis, dan dilarang
menjual rempah- rempah tersebut dengan pedagang lain.
Adapun , perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat Maluku kepada bangsa
Portugis tersebut dipimpin oleh Sultan Hairun . Namun sayangnya, Sultan Hairun dapat
diperdaya oleh bangsa Portugis dengan cara licik, hingga akhirnya Sultan Hairun
meninggal dengan cara yang mengenaskan di benteng Duurstede. Hingga akhirnya,
perlawanan rakyat Maluku pecah lagi dan perlawanan tersebut dipimpin oleh Sultan
Baabullah. Dalam melawan bangsa Portugis tersebut, Sultan Baabulah mengerahkan
segala kekuatannya , termasuk tentaranya untuk mengepung benteng Portugis .
Hingga pada akhirnya, Portugis menyerah dan telah dipaksa oleh Sultan Baabulah dan
rakyat Maluku untuk meninggalkan Ternate pada tahun 1575. Setelah, bangsa Portugis
tersebut telah meninggalkan (terusir) dari Maluku , khususnya kerajaan Ternate ,

6
Portugis kemudian melanjutkan aksinya lagi ke lain wilayah yaitu Ambon. Namun di
wilayah tersebut, Bangsa Portugiis dikalahkan lagi oleh saingannya, yaitu Belanda.

2.3 Perang Padri ( 1815 – 1837 )


Perang Padri adalah peperangan yang berlangsung di Sumatera Barat dan sekitarnya
terutama di kawasan Kerajaan Pagaruyung dari tahun 1803 hingga 1838. Perang ini
merupakan peperangan yang pada awalnya akibat pertentangan dalam masalah agama
sebelum berubah menjadi peperangan melawan penjajahan. Perang Padri dimulai dengan
munculnya pe rtentangan sekelompok ulama yang dijuluki sebagai Kaum Padri terhadap
kebiasaan-kebiasaan yang marak dilakukan oleh kalangan masyarakat yang disebut
Kaum Adat di kawasan Kerajaan Pagaruyung dan sekitarnya. Kebiasaan yang dimaksud
seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat, minuman keras, tembakau,
sirih, dan juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan, serta longgarnya
pelaksanaan kewajiban ritual formal agama Islam. Tidak adanya kesepakatan dari Kaum
Adat yang padahal telah memeluk Islam untuk meninggalkan kebiasaan tersebut memicu
kemarahan Kaum Padri, sehingga pecahlah peperangan pada tahun 1803.
Hingga tahun 1833, perang ini dapat dikatakan sebagai perang saudara yang
melibatkan sesama Minang dan Mandailing. Dalam peperangan ini, Kaum Padri
dipimpin oleh Harimau Nan Salapan sedangkan Kaum Adat dipimpinan oleh Yang
Dipertuan Pagaruyung waktu itu Sultan Arifin Muningsyah. Kaum Adat yang mulai
terdesak, meminta bantuan kepada Belanda pada tahun 1821. Namun keterlibatan
Belanda ini justru memperumit keadaan, sehingga sejak tahun 1833 Kaum Adat berbalik
melawan Belanda dan bergabung bersama Kaum Padri, walaupun pada akhirnya
peperangan ini dapat dimenangkan Belanda.
Perang Padri termasuk peperangan dengan rentang waktu yang cukup panjang,
menguras harta dan mengorbankan jiwa raga. Perang ini selain meruntuhkan kekuasaan
Kerajaan Pagaruyung, juga berdampak merosotnya perekonomian masyarakat sekitarnya
dan memunculkan perpindahan masyarakat dari kawasan konflik.

1. Keterlibatan Belanda
Karena terdesak dalam peperangan dan keberadaan Yang Dipertuan
Pagaruyung yang tidak pasti, maka Kaum Adat yang dipimpin oleh Sultan Tangkal
Alam Bagagar meminta bantuan kepada Belanda pada tanggal 21 Februari 1821,
walaupun sebetulnya Sultan Tangkal Alam Bagagar waktu itu dianggap tidak berhak
7
membuat perjanjian dengan mengatasnamakan Kerajaan Pagaruyung.[7] Akibat dari
perjanjian ini, Belanda menjadikannya sebagai tanda penyerahan Kerajaan
Pagaruyung kepada pemerintah Hindia-Belanda, kemudian mengangkat Sultan
Tangkal Alam Bagagar sebagai Regent Tanah Datar.
Keterlibatan Belanda dalam perang karena diundang oleh kaum Adat, dan
campur tangan Belanda dalam perang itu ditandai dengan penyerangan Simawang
dan Sulit Air oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema pada bulan April
1821 atas perintah Residen James du Puy di Padang.[9] Kemudian pada 8 Desember
1821 datang tambahan pasukan yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Raaff untuk
memperkuat posisi pada kawasan yang telah dikuasai tersebut.

Fort van der Capellen


Pada tanggal 4 Maret 1822, pasukan Belanda dibawah pimpinan Letnan
Kolonel Raaff berhasil memukul mundur Kaum Padri keluar dari Pagaruyung.
Kemudian Belanda membangun benteng pertahanan di Batusangkar dengan nama
Fort Van der Capellen, sedangkan Kaum Padri menyusun kekuatan dan bertahan di
Lintau. Pada tanggal 10 Juni 1822 pergerakan pasukan Raaff di Tanjung Alam
dihadang oleh Kaum Padri, namun pasukan Belanda dapat terus melaju ke Luhak
Agam. Pada tanggal 14 Agustus 1822 dalam pertempuran di Baso, Kapten Goffinet
menderita luka berat kemudian meninggal dunia pada 5 September 1822. Pada bulan
September 1822 pasukan Belanda terpaksa kembali ke Batusangkar karena terus
tertekan oleh serangan Kaum Padri yang dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh.
Setelah mendapat tambahan pasukan pada 13 April 1823, Raaff mencoba
kembali menyerang Lintau, namun Kaum Padri dengan gigih melakukan
perlawanan, sehingga pada tanggal 16 April 1823 Belanda terpaksa kembali ke
Batusangkar. Sementara pada tahun 1824 Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin
Muningsyah kembali ke Pagaruyung atas permintaan Letnan Kolonel Raaff, namun
pada tahun 1825 raja terakhir Minangkabau ini wafat dan kemudian dimakamkan di
Pagaruyung.[11] Sedangkan Raaff sendiri meninggal dunia secara mendadak di
Padang pada tanggal 17 April 1824 setelah sebelumnya mengalami demam tinggi.
Sementara pada bulan September 1824, pasukan Belanda di bawah pimpinan
Mayor Frans Laemlin telah berhasil menguasai beberapa kawasan di Luhak Agam di
antaranya Koto Tuo dan Ampang Gadang. Kemudian mereka juga telah menduduki

8
Biaro dan Kapau, namun karena luka-luka yang dideritanya di bulan Desember 1824,
Laemlin meninggal dunia di Padang.

2. Gencatan senjata
Perlawanan yang dilakukan oleh Kaum Padri cukup tangguh sehingga sangat
menyulitkan Belanda untuk menundukkannya. Oleh sebab itu Belanda melalui
residennya di Padang mengajak pemimpin Kaum Padri yang waktu itu telah
dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai dengan maklumat "Perjanjian
Masang" pada tanggal 15 November 1825. Hal ini dimaklumi karena disaat
bersamaan Pemerintah Hindia-Belanda juga kehabisan dana dalam menghadapi
peperangan lain di Eropa dan Jawa seperti Perang Diponegoro.
Selama periode gencatan senjata, Tuanku Imam Bonjol mencoba memulihkan
kekuatan dan juga mencoba merangkul kembali Kaum Adat. Sehingga akhirnya
muncul suatu kompromi yang dikenal dengan nama "Plakat Puncak Pato" di Bukit
Marapalam, Kabupaten Tanah Datar yang mewujudkan konsensus bersama Adat
Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah yang artinya adat Minangkabau
berlandaskan kepada agama Islam, sedangkan agama Islam berlandaskan kepada Al-
Qur'an.

2.4 Perlawanan Pangeran Diponegoro (1825 – 1830)


Sejak awal abad ke-18 Belanda memperluas daerah kekuasaannya dan berhasil
menguasai sebagian besar wilayah Mataram pada tahun 1812. Pengaruh Belanda mulai
menyebar di kalangan istana dan mengancam kehidupan agama Islam. Sebagai salah
seorang pemimpin negara dan pemuka agama, Pangeran Diponegoro tergerak untuk
melakukan perlawanan.
· Sebab-sebab umum
1. Rakyat menderita akibat pemerasan Belanda dengan menarik pajak
2. Kaum bangsawan merasa dikurangi haknya, misalnya, tidak boleh
menyewakan tanahnya.
3. Adanya campur tangan Belanda di istana, misalnya dalam pengangkatan sultan,
mengubah tata cara istana, sajian sirih dihapus, dan orang Belanda duduk
sejajar dengan sultan.
·

9
Sebab-sebab khusus
Pembuatan jalan melalui makam leluhur Pangeran Diponegoro tanpa seizin di
Tegalrejo dianggap merupakan penghinaan sehingga Pangeran Diponegoro
mengangkat senjata pada tanggal 20 Juli 1825. Pembantu-pembantu Pangeran
Diponegoro adalah Kiai Mojo, Sentot Ali Basa Prawirodirjo, dan Pangeran
Mangkubumi. Pusat pergerakan ialah di Selarong. Sistem yang dipergunakannya
adalah perang gerilya dan perang sabil. Pangeran Diponegoro juga dianggap
penyelamat negara dan seorang pemimpin yang besar sehingga mendapat julukan
"Sultan Abdul Hamid Erucokro Amirulmukmin Syayidin Panotogomo Kalifatulah
Tanah Jawa".
Karena kuatnya perlawanan Pangeran Diponegoro belanda sampai membuat
sayembara untuk menangkapnya. Apabila ada yang berhasil menyerahkan Pangeran
Diponegoro akan mendapat uang 20.000 ringgit. Namun, tidak ada yang bersedia.
Akhirnya Belanda berhasil menangkap Pangeran Diponegoro pada tanggal 28 Maret
1830 dan dibawa ke Batavia dengan kapal "Pollaz", terus diasingkan ke Manado.
Pada tahun 1834 dipindahkan ke Makassar dan akhirnya wafat pada tanggal 8
Januari 1855.

2.5 Rakyat Riau Angkat Senjata


Perlawanan di Riau yang dilancarkan oleh Kerajaan Siak Sri Indrapura. Raja
Siak Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (1723–1744) memimpin rakyatnya untuk
melawan VOC. Setelah berhasil merebut Johor kemudian ia membuat benteng
pertahanan di Pulau Bintan. Dari pertahanan di Pulau Bintan ini pasukan Sultan
Abdul Jalil mengirim pasukan di bawah komando Raja Lela Muda untuk menyerang
Malaka. Uniknya dalam pertempuran ini Raja Lela Muda selalu mengikutsertakan
putranya yang bernama Raja Indra Pahlawan. Itulah sebabnya sejak remaja Raja Indra
Pahlawan sudah memiliki kepandaian berperang. Sifat bela negara dan cinta tanah air
sudah mulai tertanam pada diri Raja Indra Pahlawan.
Serangan ini diperkuat dengan kapal perang “Harimau Buas” yang dilengkapi
dengan lancang serta perlengkapan perang secukupnya. Terjadilah pertempuran sengit
di Pulau Guntung (1752–1753). Ternyata benteng VOC di Pulau Guntung berlapis-
lapis dan dilengkapi meriam-meriam besar. Dengan demikian pasukan Siak sulit
menembus benteng pertahanan itu. Namun banyak pula jatuh korban dari VOC,
sehingga VOC harus mendatangkan bantuan kekuatan termasuk juga orang-orang
10
Cina. Pertempuran hampir berlangsung satu bulan. Sementara VOC terus
mendatangkan bantuan. Melihat situasi yang demikian itu kedua panglima perang
Siak menyerukan pasukannya untuk mundur kembali ke Siak.
2.6 Perang Aceh
Agresi tentara Belanda terjadi pada tanggal 5 April 1873. Tentara Belanda di
bawah pimpinan Jenderal Mayor J.H.R. Kohler terus melakukan serangan terhadap
pasukan Aceh. Pasukan Aceh yang terdiri atas para ulebalang, ulama, dan rakyat terus
mendapat gempuran dari pasukan Belanda. Dengan memperhatikan hasil laporan
spionase Belanda yang mengatakan bahwa Aceh dalam keadaan lemah secara politik
dan ekonomi, membuat para pemimpin Belanda termasuk Kohler optimis bahwa
Aceh segera dapat ditundukkan.
Oleh karena itu, serangan-serangan tentara Belanda terus diintensifkan.
Namun, pada kenyataannya tidak mudah menundukkan para pejuang Aceh. Dengan
kekuatan yang ada para pejuang Aceh mampu memberikan perlawanan sengit.
Pertempuran terjadi di kawasan pantai dan kota. Bahkan, pada tanggal 14 April 1873
terjadi pertempuran sengit antara pasukan Aceh di bawah pimpinan Teuku Imeum
Lueng Bata melawan tentara Belanda di bawah pimpinan Kohler untuk
memperebutkan Masjid Raya Baiturrahman. Dalam pertempuran memperebutkan
Masjid Raya Baiturrahman ini pasukan Aceh berhasil membunuh Kohler di bawah
pohon dekat masjid tersebut. Pohon ini kemudian dinamakan Kohler Boom. Banyak
jatuh korban dari pihak Belanda. Begitu juga tidak sedikit korban dari pihak pejuang
Aceh yang mati syahid.
Terbunuhnya Kohler menyebabkan pasukan Belanda ditarik mundur ke pantai.
Dengan demikian, gagallah serangan tentara Belanda yang pertama. Ini membuktikan
bahwa tidak mudah untuk menundukkan Aceh. Karena kekuatan para pejuang Aceh
tidak semata-mata terletak pada kekuatan pasukannya, tetapi juga karena hakikat
kehidupan yang didasarkan pada nilai-nilai agama dan sosial budaya yang sesuai
dengan ajaran Al-Qur’an. Doktrin para pejuang Aceh dalam melawan Belanda hanya
ada dua pilihan “syahid atau menang”. Dalam hal ini nilai-nilai agama senantiasa
menjadi potensi yang sangat menentukan untuk menggerakkan perlawanan terhadap
penjajahan asing. Oleh karena itu, Perang Aceh berlangsung begitu lama.
Setelah melipatgandakan kekuatannya, pada tanggal 9 Desember 1873
Belanda melakukan agresi atau serangan yang kedua. Serangan ini dipimpin oleh J.
van Swieten. Pertempuran sengit terjadi istana dan juga terjadi di Masjid Raya
11
Baiturrahman. Para pejuang Aceh harus mempertahankan masjid dari serangan
Belanda yang bertubi-tubi. Masjid terus dihujani peluru dan kemudian pada tanggal 6
Januari 1874 masjid itu dibakar. Para pejuang dan ulama kemudian meninggalkan
masjid. Tentara Belanda kemudian menuju istana. Pada tanggal 15 Januari 1874
Belanda dapat menduduki istana setelah istana dikosongkan, karena Sultan Mahmud
Syah II bersama para pejuang yang lain meninggalkan istana menuju ke Leueung Bata
dan diteruskan ke Pagar Aye (sekitar 7 km dari pusat kota Banda Aceh). Tetapi pada
tanggal 28 Januari 1874 sultan meninggal karena wabah kolera.
Jatuhnya Masjid Raya Baiturrahman dan istana sultan, Belanda menyatakan
bahwa Aceh Besar telah menjadi daerah kekuasaan Belanda. Para ulebalang, ulama
dan rakyat tidak ambil pusing dengan pernyataan Belanda. Mereka kemudian
mengangkat putra mahkota Muhammad Daud Syah sebagai Sultan Aceh. Tetapi
karena masih di bawah umur, maka diangkatlah Tuanku Hasyim Banta Muda sebagai
wali atau pemangku sultan sampai tahun 1884. Pusat pemerintahan di Indrapuri
(sekitar 25 km arah tenggara dari pusat kota).
Semangat untuk melanjutkan perang terus menggelora di berbagai tempat.
Pertempuran dengan Belanda semakin meluas ke daerah hulu. Sementara itu, tugas
van Swieten di Aceh dipandang cukup. Ia digantikan oleh Jenderal Pel. Sebelum
Swieten meninggalkan Aceh, ia mengatakan bahwa pemerintah Hindia Belanda akan
segera membangun kembali masjid raya yang telah dibakarnya. Tentu hal ini dalam
rangka menarik simpati rakyat Aceh.

12
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kaum Adat berbalik melawan Belanda dan bergabung bersama Kaum Padri,
walaupun pada akhirnya peperangan ini dapat dimenangkan Belanda. Perang Padri
termasuk peperangan dengan rentang waktu yang cukup panjang, menguras harta dan
mengorbankan jiwa raga. Perang ini selain meruntuhkan kekuasaan Kerajaan
Pagaruyung, juga berdampak merosotnya perekonomian masyarakat sekitarnya dan
memunculkan perpindahan masyarakat dari kawasan konflik.

3.2 Saran
Karena kuatnya perlawanan Pangeran Diponegoro belanda sampai membuat
sayembara untuk menangkapnya. Apabila ada yang berhasil menyerahkan Pangeran
Diponegoro akan mendapat uang 20.000 ringgit. Namun, tidak ada yang bersedia.
Akhirnya Belanda berhasil menangkap Pangeran Diponegoro pada tanggal 28 Maret 1830
dan dibawa ke Batavia dengan kapal "Pollaz", terus diasingkan ke Manado. Pada tahun
1834 dipindahkan ke Makassar dan akhirnya wafat pada tanggal 8 Januari 1855. Sejarah-
sejarah yang penulis telah uraikan diatas sepatutnya kita harus mengetahuinya dan
memperjuangkan Negara kita sebagaimana nenek moyang kita telah berkorban demi
kedamaian dan terbentuknya Negara yang merdeka.

13
DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Padri
http://www.academia.edu/8401228/Perlawanan_Rakyat_Maluku_Melawan_VOC
http://fosilcolection.blogspot.com/2013/10/perlawanan-rakyat-terhadap kolonialisme.html
http://aminhidayatcenter.blogspot.com/2013/03/perlawanan-menentang-kolonialisme-
dan.html.

14