Anda di halaman 1dari 23

BAB II

DASAR TEORI

2.1 Batubara

Batubara adalah berupa sedimen organik bahan bakar hidrokarbon padat yang

terbentuk dari tumbuh-tumbuhan yang telah mengalami pembusukan secara

biokimia, kimia dan fisika dalam kondisi bebas oksigen yang berlangsung pada

tekanan serta temperatur tertentu pada kurun waktu yang sangat lama. Batubara

adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan sedimen

yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa

tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya

terdiri dari Karbon, Hidrogen dan Oksigen (Diessel, 1992).

2.1.1 Proses Pembentukan Batubara

Batubara berasal dari tumbuhan yang disebabkan karena adanya

prosesproses geologi, kemudian berbentuk endapan batubara yang dikenal

sekarang ini. Bahan-bahan tumbuhan mempunyai komposisi utama yang

terdiri dari karbon dan hidrogen. Selain itu, terdapat kandungan mineral

nitrogen. Substansi utamanya adalah cellulose yang merupakan bagian dari

selaput sel tumbuhan yang mengandung karbohidrat yang tahan terhadap

perubahan kimiawi. Pembusukan dari bahan tumbuhan merupakan proses

yang terjadi tanpa adanya oksigen, kemudian berlangsung di bawah air yang

disertai aksi dari bakteri, sehingga terbentuklah arang kayu. Tidak adanya

oksigen menyebabkan hidrogen lepas dalam bentuk karbondioksida atau

karbonmonoksida dan beberapa dari keduanya berubah menjadi metan.

5
Vegatasi pada lingkungan tersebut mati kemudian terbentuklah peat (gambut).

Kemudian gambut tersebut mengalami kompresi dan pengendapan di antara

lapisan sedimen dan juga mengalami kenaikan temperatur akibat geothermal

gradient. Akibat proses tersebut maka akan terjadi pengurangan porositas dan

pengurangan moisture sehingga terlepasnya grup OH, COOH, OCH3, dan CO

dalam wujud cair dan gas. Karena banyaknya unsur oksigen dan hidrogen

yang terlepas maka unsur karbon relatif bertambah yang mengakibatkan

terjadinya lignit (brown coal). Kemudian dengan adanya kompresi yang terus

menerus serta kenaikan temperatur maka terbentuklah batubara subbituminus

dan bituminus dengan tingkat kalori yang lebih tinggi dibandingkan dengan

brown coal. Bumi tidak pernah berhenti, oleh karena itu kompresi terus

berlangsung diiringi bertambahnya temperatur sehingga moisture sangat

sedikit serta unsur karbon yang banyak merubah batubara sebelumnya ke

tingkat yang lebih tinggi, yaitu antrasit yang merupakan kasta tertinggi pada

batubara (Cook, 1982). Proses pembentukan batubara sendiri dapat dilihat

pada gambar 2.1.

Gambar 2.1 Proses Pembentukan Batubara (Cook, 1982)

6
2.1.2 Tempat Terbentuknya Batubara

Berdasarkan tempat pembentukannya, batubara dikenal dengan dua

teori (Krevelen, 1993), yaitu:

a. Teori Insitu

Teori insitu mengatakan bahwa bahan-bahan pembentukan lapisan batubara,

terbentuknya di tempat dimana tumbuh-tumbuhan asal itu berada. Dengan

demikian segera setelah tumbuhan tersebut mati belum mengalami porses

transportasi, tertutup oleh lapisan sedimen dan mengalami proses

coalification. Jenis batubara yang terbentuk dengan cara ini mempunyai

penyebaran luas dan merata kualitasnya lebih baik, karena abunya relatif

kecil.

b. Teori Drift

Teori drift menyebutkan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara

terjadinya di tempat yang berbeda dengan tempat tumbuhannya semula hidup

dan berkembang. Dengan demikian tumbuhan yang telah mati diangkut oleh

media air dan berakumulasi di suatu tempat, tertutup oleh batuan sedimen dan

mengalami proses coalification. Jenis batubara yang terbentuk dengan cara

ini mempunyai penyebaran tidak luas, tetapi dijumpai di beberapa tempat,

kualitas kurang baik karena mengandung mineral pengotor yang terangkut

bersama selama proses pengangkutan dari tempat asal tanaman ke tempat

sedimentasi. Batubara yang terbentuk seperti di Indonesia didapatkan pada

lapangan batubara delta Mahakam purba, Kalimantan Timur.

7
2.1.3 Jenis, Sifat dan Kelas Batubara

Berdasarkan tingkat proses coalification (proses pembatubaraan) yang

dikontrol oleh tekanan, panas, dan waktu, batubara umumnya dibagi dalam

lima kelas, yaitu: gambut, lignit, Sub-Bituminus, bituminus dan antrasit

sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Jenis, Sifat dan Kelas Batubara (Sukandarrumidi, 1995)

Secara spesifik, penjelasan lebih rinci mengenai kelas-kelas

batubara dari kelas gambut sampai antrasit, yaitu:

a. Gambut

Gambut berpori dan memiliki kadar air diatas 75% serta nilai kalori yang

paling rendah. Ciri-ciri dari batubara kelas gambut, yaitu:

 Warna coklat.

 Material belum terkompaksi.

 Mempunyai kandungan air yang sangat tinggi.

 Mempunyai kandungan karbon padat yang sangat rendah.

 Mempunyai kandungan karbon terbang sangat tinggi.

8
 Sangat mudah teroksidasi.

 Nilai panas yang dihasilkan amat rendah

b. Lignit

Lignit atau biasa dikenal dengan brown coal adalah batubara yang sangat

lunak yang mengandung air 35-75% dari beratnya. Lignit merupakan

batubara geologis muda yang memiliki kandungan karbon terendah,

25-35%. Nilai panas yang dihasilkan berkisar antara 4.000 hingga 8.300

BTU per pon. Ciri-ciri batubara kelas lignit, yaitu:

 Warna kecoklatan.

 Material terkompaksi namun sangat rapuh.

 Mempunyai kandungan air yang tinggi.

 Mempunyai kandungan karbon padat rendah.

 Mempunyai kandungan karbon terbang tinggi.

 Mudah teroksidasi.

 Nilai panas yang dihasilkan rendah.

c. Sub-Bituminus

Sub-Bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air,

oleh karenanya menjadi sumber panas yang kurang efisien

dibandingkan dengan bituminus, dengan kandungan karbon 35-45%

dan menghasilkan nilai panas antara 8.300 hingga 13.000 BTU per pon.

Meskipun nilai panasnya rendah, batubara ini umumnya memiliki

kandungan belerang yang lebih rendah daripada jenis lainnya, yang

9
membuatnya disukai untuk dipakai karena hasil pembakarannya yang

lebih bersih. Ciri-ciri batubara kelas Sub-Bituminus, yaitu:

 Warna hitam.

 Material sudah terkompaksi.

 Mempunyai kandungan air yang sedang.

 Mempunyai kandungan karbon padat sedang.

 Mempunyai kandungan karbon terbang sedang.

 Sifat oksidasi menengah.

 Nilai panas yang dihasilkan sedang.

d. Bituminus

Bituminus mengandung 68-86% unsur karbon (C) serta berkadar air 8 -

10% dari beratnya. Nilai panas yang dihasilkan antara 10.500 - 15.500

BTU per pon. Ciri-ciri batubara kelas bituminus, yaitu:

 Warna hitam.

 Material sudah terkompaksi.

 Mempunyai kandungan air yang sedang.

 Mempunyai kandungan karbon padat sedang.

 Mempunyai kandungan karbon terbang sedang.

 Sifat oksidasi menengah.

 Nilai panas yang dihasilkan sedang.

10
e. Antrasit

Antrasit merupakan kelas batubara tertinggi, dengan warna hitam

berkilauan (luster) metalik, mengandung antara 86-98% unsur karbon (C)

dengan kadar air kurang dari 8%. Nilai panas yang dihasilkan hampir

15.000 BTU per pon. Ciri-ciri dari kelas batubara antrasit, yaitu:

 Warna hitam mengkilat.

 Material terkompaksi dengan kuat.

 Mempunyai kandungan air rendah.

 Mempunyai kandungan karbon padat tinggi.

 Mempunyai kandungan karbon terbang rendah.

 Relatif sulit teroksidasi.

 Nilai panas yang dihasilkan tinggi (Sukandarrumidi, 1995).

2.2 Tipe Endapan Batubara dan Kondisi Geologi

Tipe endapan batubara dan kondisi geologi yang ada di Indonesia seperti

yang dijelaskan oleh SNI pada tahun 1998, yaitu:

2.2.1 Tipe Endapan Batubara

Secara umum endapan batubara utama di Indonesia terdapat dalam

tipe endapan batubara Ombilin, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan

Bengkulu. Tipe endapan batubara tersebut masing-masing memiliki

karakteristik tersendiri yang mencerminkan sejarah sedimentasinya. Selain

itu, proses pasca pengendapan seperti tektonik, metamorfosis, vulkanik dan

11
proses sedimentasi lainnya turut mempengaruhi kondisi geologi atau tingkat

kompleksitas pada saat pembentukan batubara.

2.2.2 Kondisi Geologi/Kompleksitas

Berdasarkan proses sedimentasi dan pengaruh tektonik, karakteristik

geologi tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok utama, yaitu

kelompok geologi sederhana, kelompok geologi moderat, dan kelompok

geologi kompleks.

1. Kelompok Geologi Sederhana

Endapan batubara dalam kelompok ini umumnya tidak dipengaruhi oleh

aktivitas tektonik, seperti sesar, lipatan dan intrusi. Lapisan batubara pada

umumnya landai, menerus secara lateral sampai ribuan meter, dan hampir

tidak mempunyai percabangan. Ketebalan lapisan batubara secara

lateral dan kualitasnya tidak memperhatikan variasi yang berarti. Contoh

jenis kelompok ini antara lain, di Lapangan Banko Selatan dan Muara

Tiga Besar (Sumatera Selatan), Senakin Barat (Kalimantan Selatan),

dan Cerenti (Riau).

2. Kelompok Geologi Moderat

Batubara dalam kelompok ini diendapkan dalam kondisi sedimentasi

yang lebih bervariasi dan sampai tingkat tertentu telah mengalami

perubahan pasca pengendapan dan tektonik. Sesar dan lipatan tidak

banyak, begitu pula pergeseran dan perlipatan yang diakibatkan relatif

sedang. Kelompok ini juga dicirikan pula oleh kemiringan lapisan dan

12
variasi ketebalan lateral yang sedang serta berkembangnya

percabangan lapisan batubara, namun sebarannya masih dapat diikuti

sampai ratusan meter. Kualitas barubara secara langsung berkaitan

dengan tingkat perubahan yang terjadi baik pada saat proses sedimentasi

berlangsung maupun pada pasca pengendapan. Pada beberapa tempat

intrusi batuan beku mempengaruhi struktur lapisan dan kualitas

batubaranya. Endapan barubara kelompok ini terdapat antara lain di

daerah Senakin, Formasi Tanjung (Kalimantan Selatan), Loa Janan-Loa

Kulu, Petanggis (Kalimantan Timur), Suban dan Air Laya (Sumatera

Selatan), serta Gunung Batu Besar (Kalimantan Selatan).

3. Kelompok Geologi Kompleks

Batubara pada kelompok ini umumnya diendapkan dalam sistem

sedimentasi yang komplek atau telah mengalami deformasi tektonik yang

ekstensif yang mengakibatnya terbentuknya lapisan batubara dengan

ketebalan yang beragam. Kualitas batubaranya banyak dipengaruhi oleh

perubahan-perubahan yang terjadi pada saat proses sedimentasi

berlangsung atau pada pasca pengendapan seperti pembelahan atau

kerusakan lapisan (wash out).

Pergeseran, perlipat dan pembalikan (overtuned) yang ditimbulkan oleh

aktivitas tektonik, umumnya dijumpai dan sifatnya rapat sehingga

menjadikan lapisan batubara sukar dikorelasikan. Perlipatan yang kuat

juga mengakibatkan kemiringan yang terjal. Secara lateral, sebaran

lapisan batubaranya terbatas dan hanya dapat diikuti sampai puluhan

13
meter. Endapan batubara dari kelompok ini, antara lain, diketemukan di

Ambaking, Formasi Warukin, Ninian, Belahing dan Upau (Kalimantan

Selatan), Sawahluhung (Sawahlunto, Sumatera Selatan), daerah Air

Kotok (Bengkulu), Bojongmanik (Jawa Barat), serta daerah batubara

yang mengalami ubahan intrusi batuan beku di Bunian Utara (Sumatera

Selatan).

2.3 Klasifikasi Sumberdaya Mineral dan Cadangan (SNI)

Klasifikasi sumberdaya mineral dan cadangan berdasarkan SNI (Standar

Nasional Indonesia) adalah suatu proses pengumpulan, penyaringan, serta

pengolahan data dan informasi dari suatu endapan mineral untuk memperoleh

gambaran yang ringkas mengenai endapan itu berdasarkan kriteria keyakinan

geologi dan kelayakan tambang.

Tahap eksplorasi adalah urutan penyelidikan geologi yang umumnya

dilaksanakan melalui 4 tahap sebagai berikut:

a. Survei Tinjau (reconnaissence) adalah tahap eksplorasi untuk

mengidentifikasi daerah-daerah anomali atau mineralisasi yang prospektif

untuk diselidiki lebih lanjut.


b. Prospeksi (prospecting) adalah tahap eksplorasi dengan jalan mempersempit

daerah sebaran yang mengandung endapan mineral dengan menggunakan

metode pemetaan geologi untuk mengidentifikasi singkapan dari endapan

mineral yang akan menjadi target eksplorasi selanjutnya.


c. Eksplorasi Umum (general exploration) adalah untuk menentukan

gambaran geologi suatu endapan mineral berdasarkan indikasi sebaran,

perkiraan awal mengenai ukuran, bentuk, sebaran, kuantitas dan kualitasnya.

14
d. Eksplorasi Rinci (detailed exploration) adalah tahap eksplorasi untuk

mendeliniasi secara rinci dalam model 3D terhadap endapan mineral yang

telah diketahui dari percontohan singkapan, pemboran, logging geofisika,

pengkajian geohidrologi dan geoteknik.


Tabel 2.1. Sistem Klasifikasi Sumberdaya Mineral dan Cadangan

Sumber: Amandemen 1 - SNI 13-4726-1998

Sumberdaya mineral (Mineral Resources) adalah endapan mineral yang

diharapkan dapat dimanfaatkan secara nyata. Sumberdaya mineral dengan

keyakinan geologi tertentu dapat berubah menjadi cadangan setelah dilakukan

pengkajian kelayakan tambang dan memenuhi kriteria layak tambang.

Sumberdaya terbagi menjadi 4 yaitu :

1. Sumberdaya Mineral Hipotetik (Hypothetical Mineral Resource) adalah

sumberdaya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan

perkiraan pada tahap survei tinjau..


2. Sumberdaya Mineral Tereka (Inferred Mineral Resource) adalah

sumberdaya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan

hasil tahap prospeksi.

15
3. Sumberdaya Mineral Terunjuk (Indicated Mineral Resource) adalah

sumberdaya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan

hasil tahap eksplorasi umum.


4. Sumberdaya Mineral Terukur (Measured Mineral Resource) adalah

sumberdaya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan

hasil tahap eksplorasi rinci.

Cadangan (Reserves) merupakan bagian dari sumberdaya yang telah

diketahui kadar, kualitas, kuantitas, geometri (ketebalan dan kedalaman), dan

penyebarannya. Secara teknik dapat ditambang atau dapat dikerjakan sesuai

teknologi pada saat itu dan secara ekonomis dalam pengerjaan atau pengambilan

mineral tersebut dapat memberikan keuntungan.

Cadangan terbagi 2 yaitu :

1. Cadangan Terkira (Probable Reserves) adalah sumberdaya mineral terunjuk

dan sebagian sumberdaya mineral terukur yang tingkat keyakinan

geologinya masih rendah, yang berdasarkan studi kelayakan tambang semua

faktor yang terkait telah terpenuhi, sehingga penambangan dapat dilakukan

secara ekonomis.
2. Cadangan Terbukti (Proven Reserve) adalah sumberdaya mineral terukur

yang berdasarkan studi kelayakan tambang semua faktor yang terkait telah

terpenuhi, sehingga penambangan dapat dilakukan secara ekonomis.

Klasifikasi sumberdaya dan cadangan didasarkan pada tingkat keyakinan

geologi dan kajian kelayakan. Pengelompokan tersebut mengandung dua aspek

yaitu aspek geologi dan aspek ekonomi.

2.4 Perhitungan Sumberdaya

2.4.1 Pentingnya Perhitungan Sumberdaya

16
Perhitungan sumberdaya bermanfaat untuk hal-hal berikut ini:

 Memberikan besaran kuantitas (tonase) dan kualitas terhadap suatu

endapan bahan galian.

 Memberikan perkiraan bentuk 3D dari endapan bahan galian serta

distribusi ruang (spatial) dari nilainya. Hal ini penting untuk menentukan

urutan/tahapan penambangan yang pada gilirannya akan mempengaruhi

pemilihan peralatan dan NPV (net present value).

 Jumlah sumberdaya menentukan umur tambang. Hal ini penting dalam

perancangan pabrik pengolahan dan kebutuhan infrastruktur lainnya.

 Batas-batas kegiatan penambangan (pit limit) dibuat berdasarkan besaran

sumberdaya. Faktor ini harus diperhatikan dalam menentukan lokasi

pembuangan tanah penutup, pabrik pengolahan, bengkel, dan fasilitas

lainnya.

Karena semua keputusan teknis di atas sangat tergantung pada besaran

sumberdaya, perhitungan sumberdaya merupakan salah satu tugas terpenting

dalam mengevaluasi suatu kegiatan penambangan. Perhitungan sumberdaya

menghasilkan suatu taksiran. Model sumberdaya yang disusun adalah

pendekatan dari realitas, berdasarkan data/informasi yang dimiliki dan masih

mengandung ketidakpastian.

2.4.2 Persyaratan Perhitungan Sumberdaya

Dalam melakukan perhitungan sumberdaya harus memperhatikan

persyaratan tertentu, antara lain:

 Suatu taksiran sumberdaya harus mencerminkan secara tepat kondisi

geologi dan karakter/sifat dari endapan bahan galian.

17
 Selain itu harus sesuai dengan tujuan evaluasi. Suatu model sumberdaya

yang akan digunakan untuk perancangan tambang harus konsisten

dengan metode penambangan dan teknik perancanaan tambang yang

akan diterapkan.

 Taksiran yang baik harus didasarkan pada data aktual yang

diolah/diperlakukan secara objektif. Keputusan dipakai-tidaknya suatu

data dalam penaksiran harus diambil dengan pedoman yang jelas dan

konsisten. Tidak boleh ada pembobotan data yang berbeda dan harus

dilakukan dengan dasar yang kuat.

 Metode perhitungan yang digunakan harus memberikan hasil yang dapat

diuji ulang atau diverifikasi. Tahap pertama setelah perhitungan

sumberdaya selesai adalah memeriksa atau mengecek taksiran kualitas

blok (unit penambangan terkecil). Hal ini digunakan dengan

menggunakan data pemboran yang ada di sekitarnya. Setelah

penambangan dimulai, taksiran kadar dari model sumberdaya harus dicek

ulang dengan kualitas dan tonase hasil penambangan yang sesungguhnya.

2.4.3 Metode Perhitungan Sumberdaya

Perhitungan sumberdaya dapat dilakukan apabila data geologi yang ada

di daerah prospek sudah lengkap dan memadai. Perhitungan sumberdaya

merupakan hal yang relatif sederhana secara teoritis tetapi sejalan dengan

perkembangan dan pertambahan bank data maka perhitungan menjadi semakin

lama dan semakin sulit. Kebanyakan peneliti dan praktisi di bidang

pertambangan menggunakan berbagai macam program komputer untuk

perhitungan sumberdaya.

18
Ada beberapa metode perhitungan sumberdaya yang umum digunakan

yaitu:

1. Metode Penampang (Cross Section)

Metode penampang (cross section) adalah salah satu metode estimasi

cadangan secara konvensional, prinsip dari metode ini adalah dengan cara

membagi endapan menjadi beberapa section dengan interval tertentu, jarak

yang sama atau berbeda sesuai dengan keadaan geologi dan kebutuhan

penambangan. Dalam metode ini perhitungan volume sumberdaya atau

cadangan dilakukan dengan mengetahui luas area masing – masing sayatan

yang kemudian dikalikan dengan panjang blok ataupun blok yang besar dibagi

menjadi blok–blok yang lebih kecil. Volume total didapatkan dengan

penjumlahan masing–masing blok tersebut.

Keuntungan dari metode ini adalah proses perhitungannya tidak rumit dan

sekaligus dapat dipergunakan untuk menyajikan hasil interpretasi model dalam

sebuah penampang atau irisan horisontal. Sedangkan kekurangan metode

penampang adalah tidak bisa dipergunakan untuk tipe endapan dengan

mineralisasi yang kompleks. Disamping itu hasil perhitungan secara

konvensional ini dapat dipakai sebagai alat pembanding untuk mengecek hasil

perhitungan yang lebih canggih misalnya dengan sistem blok.

Perhitungan volume tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan satu

penampang, dua penampang, tiga penampang, atau rangkaian banyak

penampang. Perhitungan volume dengan menggunakan satu penampang

digunakan jika diasumsikan bahwa satu penampang mempunyai daerah

19
pengaruh hanya terhadap penampang yang dihitung saja. Volume yang dihitung

merupakan volume pada area pengaruh penampang tersebut.

Gambar 2.3 Perhitungan volume menggunakan satu penampang

Perhitungan volume dengan menggunakan dua penampang jika

diasumsikan bahwa volume dihitung pada areal di antara 2 penampang

tersebut. Yang perlu diperhatikan adalah variasi (perbedaan) dimensi antar

kedua penampang tersebut. Jika tidak terlalu berbeda, maka dapat digunakan

rumus mean area dan kerucut terpancung, tetapi jika perbedaannya cukup besar

maka digunakan rumus obelisk.

20
Gambar 2.4 Perhitungan volume menggunakan dua penampang

Perhitungan volume dengan menggunakan tiga penampang digunakan

jika diketahui adanya variasi (kontras) pada areal di antara 2 penampang, maka

perlu ditambahkan penampang antara untuk mereduksi kesalahan.

Perhitungannya menggunakan rumus prismoida.

Gambar 2.5 Perhitungan volume menggunakan tiga penampang

21
2. Metode Poligon (area of influence)

Metode poligon ini merupakan metode perhitungan konvensional. Metode

ini umum diterapkan pada endapan-endapan yang relatif homogen dan

mempunyai geometri yang sederhana. Kadar pada suatu luasan di dalam poligon

ditaksir dengan nilai contoh yang berada ditengah – tengah poligon, sehingga

metode ini sering disebut metode poligon daerah pengaruh (area of influence).

Metode poligon memiliki keunggulan dalam perhitungan sumberdaya

mineral bijih dari hasil pemboran serta endapan yang tidak bervariasi.

Perhitungan sumberdaya mineral menggunakan metode polygon dapat

dikombinasikan langsung dengan metode geostatistik dalam perhitungan

cadangan yang telah diketahui COG (Cut of Grade). Untuk data yang sedikit

metoda poligon ini mempunyai kelemahan, antara lain Belum memperhitungkan

tata letak (ruang) nilai data di sekitar poligon, serta tidak ada batasan yang pasti

sejauh mana nilai conto mempengaruhi distribusi ruang. Dalam metode ini

perhitungan volume cadangan dilakukan dengan mencari luas masing – masing

area yang kemudian dikalikan dengan ketebalan rata-rata dari endapan tersebut.

Daerah pengaruh dibuat dengan membagi dua jarak antara dua titik contoh

dengan satu garis sumbu.

Gambar 2.6 Metode poligon (area of influence)

22
Dimana :

 = daerah pengaruh

 = titik bor/sumur uji

 Merupakan metode yang konvensional. Metode ini umum di

terapkan pada endapan-endapan yang relatif homogen dan

mepunyai geometri yang sederhana. Metode poligon ini

merupakan metote yang sederhana dibandingkan dengan

metode lainnya, karena pada perhitungan cadangan endapannya

tidak begitu memperhatikan struktur partial daerah yang akan

diobservasi dan tidak begitu memperhatikan data-data dari

titik-titik bor disekitarnya. Konsep dasar dari metode ini adalah

menggunakan jarak pengaruh antara lubang bor, dan daerah

pengaruh terluar adalah jarak pengaruh maksimum dari titik

bor tersebut (Dwiantoro, 2007). Selanjutnya untuk perhitungan

masing-masing tonase batubara pada masing-masing polygon

(T) digunakan rumus sebagai berikut:

Dimana: T=A x t x d
T = Tonase (ton)
A = Luas Daerah Pengaruh (m2)
t = Tebal Batubara (m)
d = Berat Jenis Batubara (ton/m3)

Untuk data-data yang sedikit metode poligon ini mempunyai kelemahan,

antara lain:

1)Belum memperhitungkan tata letak (ruang) nilai data di sekitar

poligon.

23
2)Tidak ada batasan yang pasti sejauhmana nilai conto

mempengaruhi distribusi ruang.

3. Metode Isoline

Menggunakan kontur, yaitu kurva garis yang menghubungkan titik-titik

dengan nilai yang sama. Metode isoline atau metode kontur digunakan untuk

endapan dengan kadar dan ketebalan yang berubah-ubah, terutama untuk

endapan yang kompleks dan terputus-putus.

Keunggulan dalam penggunaan metode kontur adalah perhitungan yang

sederhana dan dapat dilakukan secara cepat untuk bentuk endapan yang

bervariasi. Dengan menggunakan metode kontur memudahkan apabila memiliki

data topografi yang detail sehingga dapat menentukan ketelitian interval sesuai

dengan kebutuhan. Kelemahan dari metode ini adalah tidak dapat digunakan

pada perhitungan mineralisasi kompleks dengan presentase kadar yang berbeda-

beda. Perhitungan pada metode isoline menggunakan rumus metode penampang

(cross section).

Gambar 2.7 Metode Isoline

24
2.5 Korelasi

Korelasi dapat diartikan sebagai unit stratigrafi dan struktur yang mempunyai

persamaan waktu, umur dan posisi stratigrafi.Korelasi ini digunakan

untukkeperluan dalam pembuatan penampang dan peta bawah permukaan

(subsurface map and cross-section).Korelasi melibatkan aspek seni dan ilmu, yaitu

memadukan persamaan pola dan prinsip geologi, termasuk dalam proses

pengendapannya dan lingkungannnya, pengukuran log, dasar teknik reservoir,

serta analisa kuantitatif dan kualitatif.

Data yang digunakan dalam korelasi sumur adalah berupa data hasil data bor

(Coring).Maksud dilakukan korelasi adalah untuk mengetahui dan merekonstruksi

kondisi bawah permukaan, baik kondisi struktur maupun stratigrafi.Menurut

Sandi Startigrafi Indonesia, korelasi ialah penghubungan titik-titik kesamaan

waktu atau penghubungan satuan-satuan stratigrafi dengan mempertimbangkan

kesamaan waktu.Menurut North American Stratigrafi Code (1983) ada tiga

macam prinsip dari korelasi:

a. Lithokorelasi, yang menghubungkan unit yang sama lithologi dan posisi

stratigrafinya.

b. Biokorelasi, yang secara cepat menyamakan fosil dan posisi

biostratigrafinya.

c. Kronokorelasi, yang secara cepat menyesuaikan umur dan posisi

kronostratigrafi.

Korelasi dapat dipandang sebagai suatu yang langsung (direct) ataupun tidak

langsung (indirect). Korelasi langsung adalah korelasi yang tidak dapat dipungkiri

25
secara fisik dan tegas. Pelacakan secara fisik dari kemenerusan unit stratigrafi

adalah hanya metode yang tepat untuk menunjukkan persesuaian dari sebuah unit

dalam suatu lokal dengan unit itu di lokal lain. Korelasi tidak langsung dapat

menjadi tidak dipungkiri oleh metode numerik seperti contoh pembandingan

secara visual dari instrumen well logs, rekaman pembalikan polaritas, atau

kumpulan fosil; meskipun demikian, seperti pembandingan mempunyai perbedaan

derajat reabilitas dan tidak pernah secara keseluruhan tegas (tidak meragukan).

Menurut Koesoedinata (1971) dikenal 2 metode korelasi yaitu:

a. Metode Organik
Metode Korelasi organik merupakan pekerjaan menghubungkan satuan–

satuan stratigrafi berdasarkan kandungan fosil dalam batuan (biasanya

foraminiferaplantonik). Yang biasa digunakan sebagai marker dalam korelasi

organik adalah asal munculnya suatu spesies dan punahnya spesies lain. Zona

puncak suatu spesies, fosil indeks, kesamaan derajat evolusi dan lain-lain.

b. Metode Anorganik

Pada metode korelasi anorganik penghubungan satuan–satuan stratigrafi tidak

didasarkan pada kandungan organismenya (data organik). Beberapa data yang

biasa dipakai sebagai dasr korelasi antara lain:

1. Key Bed (lapisan penunjuk). Lapisan ini menunjukkan suatu

penyebaran lateral yang luas, mudah dikenal baik dari data singkapan,

serbuk bor, inti pemboran ataupun data log mekanik. Penyebaran

vertikalnya dapat tipis ataupun tebal . Lapisan yang dapat dijadikan

26
sebagai key bed antara lain: abu vulkanik, lapisan tipis batu gamping

terumbu, lapisan tipis serpih (shale break), lapisan batubara/ lignit.

2. Horison dengan karakteristik tertentu karena perubahan kimiawi dari

massa air akibat perubahan pada sirkulasi air samudra seperti zona–

zona mineral tertentu,zona kimia tertentu, suatu kick dalam kurva

resistivitas, sifat radioaktivitas yang khusus dari suatu lapisan yang

tipis.

3. Korelasi dengan cara meneruskan bidang refleksi pada penampang

seismik.

4. Korelasi atas dasar persamaan posisi stratigrafi batuan.

5. Korelasi atas dasar aspek fisik/litologis. Metode korelasi ini

merupakan metode yang sangat kasar dan hanya akurat diterapkan

pada korelasi jarak pendek.

6. Korelasi atas dasar horison siluman (panthom horizon).

7. Korelasi atas dasar maximum flooding surface, maximum flooding

surface merupakan suatu permukaan lapisan yang lebih tua dari

lapisan yang lebih muda yang menunjukkan adanya peningkatan

kedalaman air secara tiba–tiba.

27