Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

NYERI PRURITUS

Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah


Keperawatan Medikal Bedah 2

Dosenpengampu: Nurul Hidayah, S.kep.Ns.M.Kep

Disusunoleh :
Lilian Oktavin Indyasari (P17220181004)
Firdha Ayu (P17220182021)
Oktavia Indriani (P17220182025)
Eki Aditya (P17220182024)
M. Zen Wahyudi (P17220183044)

POLITEKNIK KESEHATAN MALANG


JURUSAN KEPERAWATAN
D3 KEPERAWATAN LAWANG
Januari 2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjat kan kepada Tuhan yang Maha Esa, karena kuasaNya
penulis bisa mengerjakan makalah di bawah ini yang berjudul “Konsep Dasar Penyakit dan
Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Retardasi Mental”terselesaikan pada waktu yang
sudah ditentukan. Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Maternitas.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih kurang baik atau masih belum sempurna
serta masih banyak kesalahan dan kekurangan di makalah ini. Untuk itu penulis
membutuhkan saran dan kritik dari makalah ini, supaya makalah ini bisa menjadi lebih baik
lagi.
Penulis mengucapkan banyak terimah kasih kepada semua pihak khusus nya kepada
Bapak/Ibu dosen Maternitas yang telah membimbing kami dalam penulisan makalah ini.
Sekian dari penulis ini apabila ada kesalah dari makalah ini penulis mohon maaf sebesar nya.

Penulis
22 Januari 2020

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .............................................................................................................. i


Daftar Isi ...................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................................1
1.3 Tujuan .....................................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN
A. KONSEP DASAR
2.1Pengertian ................................................................................................................2
2.2Klasifikasi Gatal.......................................................................................................2
2.3Etiologi .....................................................................................................................2
2.4Patofiologi ...................……………………………………………….……………4
2.6Manifestasi Klinis ................................................................................................... .4
2.7Komplikasi .............................................................................................................. .5
2.8 Penatalaksanaan.........................................................................................5
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan………………………………………………………………………..7
3.2 Saran………………………………………………………………………………7

Daftar Pustaka .………………………………………………………………………..8

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Latar belakang penulisan makalah ini adalah supaya mahasiswa lebih tahu tentang
penyakit pruritus bagaimna gejala, tanda-tandanya dan juga bagaimana cara penangannya.
Karena pruritus termasuk salah satu jenis penyakit yang umum di masyarakat saat ini,
1.2 Rumusan Masalah
1) Apa definisi pruritus ?
2) Apa klasifikasi pruritus ?
3) Apa saja etiologi dari pruritus ?
4) Bagaiman patofisiologi pruritus ?
5) Apa manifestasi klinis dari pruritus ?
6) Apa komplikasi pruritus ?
7) Apa saja penatalaksanaan pruritus ?
1.3 Tujuan
Setelah mempelajari makalah ini, mahasiswa mampu:
1) Menjelaskan definisi pruritus
2) Memahami klasifikasi dari pruritus
3) Menyebutkan etiologi dari pruritus
4) Menjelaskan patofisiologi pruritus
5) Menjelaska manifestasi klinis pruritus
6) Menjelaskan komplikasi pruritus
7) Menjelaskan penatalaksanaan pruritus

1
BAB II
KONSEP DASAR
2.1 PENGERTIAN
Pruritus berasal dari kata Prurire: gatal; rasa gatal; berbagai macam keadaan yang
ditandai oleh rasa gatal (Kamus Kedokteran Dorland.1996). Djuanda A, dkk (1993),
mengemukakan pruritus adalah sensasi kulit yang iritatif dan menimbulkan rangsangan untuk
menggaruk. Berdasarkan dua pendapat di atas, Pruritus adalah sensasi kulit yang iritatif dan
ditandai oleh rasa gatal, serta menimbulkan rangsangan untuk menggaruk. Reseptor rasa gatal
tidak bermielin, mempunyai ujung saraf mirip sikat (penicillate) yang hanya ditemukan pada
kulit, membran mukosa dan kornea (Sher,1992). Pruritus merupakan salah satu dari sejumlah
keluhan yang paling sering dijumpai pada gangguan dermatologic

2.2 KLASIFIKASI GATAL


 Pruritoceptive itch : Akibat gangguan yang berasal dari kulit. Misalnya, inflamasi, kering,
dan kerusakan kulit.
 Neuropathic itch : Akibat gangguan pada jalur aferen saraf perifer atau sentral. Misalnya,
pada herpes dan tumor.
 Neurogenic itch : Tidak ada gangguan pada saraf maupun kulit, namun terdapat
transmitter yang merangsang gatal. Misalnya, morphin dan penyakit sistemik (ginjal
kronis, jaundice)
 Psikogenic itch : Akibat gangguan psikologi. Misalnya, parasitophobia

2.3 ETIOLOGI
Pruritus dapat disebabkan oleh berbagai macam gangguan. Secara umum, penyebab
pruritus dapat diklasifikasikan menjadi lima golongan, yaitu:
1. Pruritus local
Pruritus lokal adalah pruritus yang terbatas pada area tertentu di tubuh. Penyebabnya
beragam, Beberapa Penyebab Pruritus Lokal:
 Kulit kepala : Seborrhoeic dermatitis, kutu rambut
 Punggung : Notalgia paraesthetica
 Lengan : Brachioradial pruritus
 Tangan : Dermatitis tangan
2
3

2. Gangguan sistemik
Beberapa Gangguan Sistemik Penyebab Pruritus
 Gangguan ginjal seperti Gagal ginjal kronik.
 Gangguan hati seperti Obstruksi biliaris intrahepatika atau ekstrahepatika.
 Endokrin/Metabolik seperti Diabetes, hipertiroidisme, Hipoparatiroidisme, dan
Myxoedema.
 Gangguan pada Darah Defisiensi seng (anemia), Polycythaemia, Leukimia limfatik,
dan Hodgkin's disease.

3. Gangguan pada kulit


Penyebab pruritus yang berasal dari gangguan kulit sangat beragam.Beberapa
diantaranya, yaitu dermatitis kontak, kulit kering, prurigo nodularis, urtikaria, psoriasis,
dermatitis atopic, folikulitis, kutu, scabies, miliaria, dan sunburn.
4. Pajanan terhadap factor tertentu
Pajanan kulit terhadap beberapa factor, baik berasal dari luar maupun dalam dapat
menyebabkan pruritus. Faktor yang dimaksud adalah allergen atau bentuk iritan lainnya,
urtikaria fisikal, awuagenic pruritus, serangga, dan obat-obatan tertentu (topical maupun
sistemik; contoh: opioid, aspirin).
5. Hormonal
2% dari wanita hamil menderita pruritus tanpa adanya gangguan
dermatologic.Pruritus gravidarum diinduksi oleh estrogen dan terkadang terdapat hubungan
dengan kolestasis.Pruritus terutama terjadi pada trimester ketiga kehamilan, dimulai pada
abdomen atau badan, kemudian menjadi generalisata.Ada kalanya pruritus disertai dengan
anoreksi, nausea, dan muntah. Pruritus akan menghilang setelah penderita melahirkan. Ikterus
kolestasis timbul setelah penderita mengalami pruritus 2-4 minggu.Ikterus dan pruritus
disebabkan oleh karena terdapat garam empedu di dalam kulit.Selain itu, pruritus juga
menjadi gejala umum terjadi menopause.Setidaknya 50% orang berumur 70 tahun atau lebih
mengalami pruritus.Kelainan kulit yang menyebabkan pruritus, seperti scabies, pemphigoid
nodularis, atau eczema grade rendah perlu dipertimbangkan selain gangguan sistemik seperti
kolestasis ataupun gagal ginjal.Pada sebagian besar kasus pruritus spontan, penyebab pruritus
pada lansia adalah kekeringan kulit akibat penuaan kulit.Pruritus pada lansia berespon baik
terhadap pengobatan emollient.
4

2.4 PATOFISIOLOGI
Pruritus merupakan salah satu dari sejumlah keluhan yang paling sering dijumpai
pada gangguan dermatologic yang menimbulkan gangguan dermatologic yang menimbulkan
gangguan rasa nyaman dan perubahan integritas kulit jika pasien meresponnya dengan
garukan. Reseptor rasa gatal tidak bermielin, mempunyai ujung saraf mirip sikat (peniciate)
yang hanya ditemukan dalam kuit, membrane mukosa dan kornea (Sher, 1992).
Garukan menyebabkan terjadinya inflamasi sel dan pelepasan histamine oleh ujung
saraf yang memperberat gejala pruritus yang selanjutnya menghasilkan lingkaran setan rasa
gatal dan menggaruk.Meskipun pruritus biasanya disebabkan oleh penyakit kulit yang primer
dengan terjadinya ruam atau lesi sebagai akibatnya, namun keadaan ini bisa timbul tanpa
manifestasi kulit apapun.Keadaan ini disebut sebagai esensial yang umumnya memiliki
awitan yang cepat, bias berat dan menganggu aktivitas hidup sehari-hari yang normal.

2.5 MANIFESTASI KLINIS


Pruritus secara khas akan menyebabkan pasien menngaruk yang biasanya dilakukan
semakin intensif pada malam hari. Pruritus tidak sering dilaporkan pada saat terjaga karena
perhatian pasien teralih pada aktifitas sehari-hari.Pada malam hari dimana ha-hal yang bisa
mengalihkan perhatian hanya sedikit, keadaan priritus yang ringan sekalipun tidak mudah
diabaikan.Efek sekunder mencakup ekskorisi, kemerahan bagian kulit yang menonjol (bidur),
infeksi dan perubahan pigmentasi. Rasa gatal yang hebat akan menganggu penampilan
pasien.
5

2.6 KOMPLIKASI

Bila skabies tidak diobati selama beberapa minggu atau bulan, dapat timbul dermatitis
akibat garukan. Erupsi dapat berbentuk impetigo, ektima, sellulitis, limfangitis, dan furunkel.
Infeksi bakteri pada bayi dan anak kecil yang diserang scabies dapat menimbulkan
komplikasi pada ginjal. Dermatitis iritan dapat timbul karena penggunaan preparat anti
skabies yang berlebihan, baik pada terapi awal ataupun pemakaian yang terlalu sering.

2.7 PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pruritus sangat bergantung pada penyebab rasa gatal itu sendiri.
Sementara pemeriksaan untuk mencari penyebab pruritus dilakukan, terdapat beberapa cara
untuk mengatasi rasa gatal sehingga menimbulkan perasaan lega pada penderita, yaitu:

Pengobatan topical:
 Dinginkan kulit dengan kain basah atau air hangat
 Losion calamine. Losion ini tidak dapat digunakan pada kulit yang kering dan memiliki
batasan waktu dalam pemakaiannya karena mengandung phenols.
 Losion menthol/camphor yang berfungsi untuk memberikan sensasi dingin.
 Pemakaian emmolient yang teratur, terutama jika kulit kering.
 Kortikosteroid topical sedang untuk periode waktu yang pendek.

Antihistamin topical sebaiknya tidak digunakan karena dapat mensensitisasi kulit dan
menimbulkan alergi dermatitis kontak.

Pengobatan dengan medikasi oral mungkin diperlukan, jika rasa gatal cukup parah dan
menyebabkan tidur terganggu:
 Aspirin: efektif pada pruritus yang disebabkan oleh mediator kinin atau prostaglandin,
tapi dapat memperburuk rasa gatal pada beberapa pasien.
 Doxepin atau amitriptyline: antidepresan trisiklik dengan antipruritus yang efektif.
Antidepresan tetrasiklik dapat membantu rasa gatal yang lebih parah.
 Antihistamin: antihistamin yang tidak mengandung penenang memiliki antipruritus.
Antihistamin penenang dapat digunakan karena efek penenangnya tersebut.
6

 Thalidomide terbukti ampuh mengatasi prurigo nodular dan beberapa jenis pruritus
kronik.

Upaya lain yang berguna untuk menghindari pruritus, diantaranya mencegah factor
pengendap, seperti pakaian yang kasar, terlalu panas, dan yang menyebabkan vasodilatasi
jika dapat menimbulkan rasa gatal (mis. Kafein, alcohol, makanan pedas).Jika kebutuhan
untuk menggaruk tidak tertahankan, maka gosok atau garuk area yang bersangkutan dengan
telapak tangan.

Untuk gatal ringan dengan penyebab yang tidak membahayakan seperti kulit kering, dapat
dilakukan penanganan sendiri berupa:

 Mengoleskan pelembab kulit berulang kali sepanjang hari dan segera setelah mandi.
 Tidak mandi terlalu sering dengan air berkadar kaporit tinggi..
 Memasang alat pelembab udara, terutama di ruangan ber-AC.
 Mengenakan pakaian yang tidak mengiritasi kulit seperti katun dan sutra, menghindari
bahan wol serta bahan sintesis yang tidak menyerap keringat.
 Menghindari konsumsi kafein, alkohol, rempah-rempah, air panas dan keringat
berlebihan.
 Menghindari hal-hal yang telah diketahui merupakan penyebab gatal.
 Menjaga higiene pribadi dan lingkungan.
 Mencegah komplikasi akibat garukan dengan jalan memotong kuku dan menggosok kulit
yang gatal menggunakan telapak tangan sebagai ganti menggaruk. Obat yang dapat
dipergunakan antara lain obat oles antigatal (dengan kandungan mentol, kampor, kalamin
dan doxepin HCl) serta obat minum, seperti doxepin dan antihistamin.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pruritus adalah sensasi kulit yang iritatif dan ditandai oleh rasa gatal,
serta menimbulkan rangsangan untuk menggaruk. Pruritus dapat disebabkan oleh
berbagai macam gangguan. Secara umum, penyebab pruritus dapat diklasifikasikan
menjadi lima golongan: Pruritus local, Gangguan sistemik, Gangguan pada kulit,
Pajanan terhadap factor tertentu, Hormonal. Adapun penyebab lain oleh faktor
eksogen dan endogen.
Penatalaksanaan pruritus sangat bergantung pada penyebab rasa gatal itu sendiri.
Sementara pemeriksaan untuk mencari penyebab pruritus dilakukan, terdapat
beberapa cara untuk mengatasi rasa gatal sehingga menimbulkan perasaan lega pada
penderita, yaitu: Pengobatan topical dan Pengobatan dengan medikasi oral.
3.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penyusun akan mengajukan
beberapa saran yang kiranya dapat di terima dan menjadi perhatian kita bersama guna
meningkatkan mutu pelayanan:
a. Perawat diharapkan memberikan penjelasan yang tepat mengenai penyakit
pruritus.
b. Perawat diharapkan terus belajar dari setiap respon klien agar mempunyai
pengalaman dalam mengidentifikasi masalah setiap individu.

7
Daftar Pustaka

A, M. (2011, oktober 22-23). P2KB-Dermatoses & STIs Associated with Travel to Tropical Countries. Dipetik
Januari 22, 2020, dari P2KB: https://id.scribd.com/document/392830292/Makalah-Pruritus