Anda di halaman 1dari 32

ANALISIS FUNGSI DAN JENIS TINDAK BAHASA PADA TUTURAN

PEMBAWA ACARA INDONESIA LAWYERS CLUB

PROPOSAL PENELITIAN
Diajukan untuk memenuhi syarat mengikuti Seminar Usulan Proposal
Disusun Oleh

Tista Fauziah
20160110047

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KUNINGAN
2020
BAB I
JUDUL
ANALISIS FUNGSI DAN JENIS TINDAK BAHASA PADA TUTURAN PEMBAWA
ACARA INDONESIA LAWYERS CLUB

BIDANG ILMU
Bidang ilmu yang digunakan dalam penelitian ini adalah kebahasaan

LATAR BELAKANG MASALAH


Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan manusia dalam kehidupan
sehari-hari. Dengan adanya bahasa kita dapat dengan mudah berinteraksi dengan sesama
manusia, jika tidak adanya bahasa maka kita akan kesulitan dalam berinteraksi dengan
manusia lainnya. Inilah fungsi bahasa indonesia untuk mempersatukan perbedaan yang
menjadi kekayaan tak ternilai bagi bangsa ini. Pada dasarnya hakikat bahasa merupakan
sebuah sistem berbentuk lambang bunyi yang bermakna arbitrer dan bersifat unik serta
konvensional, bersifat dinamis menyesuaikan perkembangan zaman dan universal jadi,
siapa saja bisa mengetahui dan menggunakannya.
Dengan adanya bahasa kita bisa memahami dan mengerti apa yang disampaikan
si pembicara. Bahasa yang digunakan harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang
sudah diterapkan yaitu PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia), manusia
menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dirinya sendiri. Salah satu fungsi bahasa
adalah untuk berkomunikasi. Bahasa terdiri dari dua bagian yaitu bentuk dan makna,
bentuk atau arus ujaran adalah bagian bahasa yang dapat diserap oleh panca indera
manusia contohnya dengan mendengar atau membaca.
Makna adalah isi yang terkandung di dalam bentuk bentuk atau ujaran yang
tersirat dari menimbulkan reaksi tertentu. Komunikasi ini bisa secara lisan maupun
tulisan. Komunikasi lisan contohnya segala kegiatan yang berhubungan alat ucap kita
dalam mengutarakan maksud dan tujuan kita. Komunikasi secara tulisan contohnya
adalah surat menyurat, materi pelajaran yang dibukukan sebenarnya adalah komunikasi
antara pengarang dan pembaca, dan semua kegiatan yang melibatkan simbol-simbol
tulisan dalam menyampaikan maksud dan tujuannya.
Tindak bahasa adalah fungsi bahasa sebagai sarana penindak. Semua kalimat atau
ujaran oleh penutur sebenarnya mengandung fungsi komunikasi tertentu. Tuturan dari
seseorang (penutur) tentu saja tidak semata-mata hanya asal bicara, tetapi mengandung
maksud tertentu. Fungsi inilah yang menjadi semangat para penutur untuk menindakkan
sesuatu. Menurut Searle (dalam Arifin, 2000: 136) tindak tutur adalah produ katau hasil
dari suatu kalimat dalam kondisi tertentu dan merupakan kesatuan terkecil dari
komunikasi bahasa.
Leech (2015:113) menyatakan bahwa ada tiga jenis tindakan yang dilakukan
seseorang pada saat dia menghasilkan ujaran yaitu tindak lokusi (locutionary act), tindak
ilokusi (illocutionary act) dan tindak perlokusi (perlocutionary act). Tindak lokusi
merupakan tindakan bertutur katayang maknanya sesuai dengan kata tersebut. Tindak
ilokusi merupakan tindakmelakukan sesuatu dan tindakan tersebut memiliki daya yang
disebut dengandaya ilokusi (illocutionary force). Tindak perlokusi (perlocutionary act)
adalah efek bagi yang mendengarnya.
Di zaman yang serba modern ini tidak hanya partisipan saja yang dapat
mengetahui isi pesan (informasi) dan proses komunikasinya karena sekarang banyak
media cetak dan media elektronik yang menjadi sarana penyampaian isi pesan dan proses
komunikasi. Salah satu media yang banyak diakses oleh masyarakat adalah media
televisi. Dengan media televisi informasi dari semua bidang kehidupan mulai dari
hiburan, ilmu pengetahuan, pendidikan, situasi ekonomi, hukum, politik, dan lain-lain
dengan cepat bisa diperoleh. Di Indonesia hampir semua stasiun televisi swasta
menayangkan acara yang bertema politik, hukum, HAM, dan ekonomi. Beberapa
diantaranyamengambil genre berita. Salah satunya adalah TV One.
Salah satu program televisi di TV One yang paling populer yaitu
IndonesiaLawyers Club yang ditayangkan setiap hari selasa pukul 19.30 WIB
dengandurasi waktu 120 menit (tanpa jeda iklan). Dalam penelitian ini penulis akan
meneliti tentang fungsi dan jenis tindak bahasa pada tuturan pembawa acara Indonesia
Lawyers Club periode Oktober sampai Desember 2019. Penggunaan bahasa dalam acara
talk show tersebut menarik untuk dikaji karena pada setiap episodenya menghadirkan
tema-tema yang aktual seperti masalah sosial yang ada di dalam masyarakat mulai dari
permasalahan hukum, sosial, budaya, ekonomi danpendidikan. Selain tema yang aktual,
narasumber yang hadir dalam acaratersebut juga mempunyai latar belakang pekerjaan
yang berbeda sepertiadvokat, pakar hukum pidana, tata negara, anggota DPR RI,
sejarawan danbudayawan, pengamat politik serta akademisi.
Narasumber menyampaikan pendapatnya secara bebas dan kritis hingga
menghasilkan suatu diskusi terbukayang memberikan wawasan, pengetahuan, dan
pembelajaran khususnya dibidang hukum bagi penontonnya. Penggunaan bahasa yang
dikaji dalam penelitian ini adalah tindak tutur yang terjadi selama diskusi berlangsung,
yaitu antara Karni Ilyas sebagai pembawa acara dengan para narasumber ataupun antara
narasumber dengan narasumber. Tindak tutur yang terjadi dalam acara tersebut juga
beragam, misalnya tindak tutur yang berwujud meminta, menasehati,menyuruh, bertanya,
dan sebagainya. Penelitian tentang analisis tindak tutur bahasa pada acara talk show telah
dilakukan oleh Mangatur Sinaga.
Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang berjudul
Tindak Tutur dalam Dialog Indonesia Lawyers Club. Penelitian ini mendeskripsikan
bentuk tuturan lokusi, ilokusi, perlokusi serta maksim yang terdapat di dalam tayangan
Indonesia Lawyers Club episode Hukum untuk Kaum Sendal Jepit (HKSJ), Setelah
Angie, Anas Dibidik (SAAD), dan Angie ohAngie (AA). Penelitian ini menggunakan
metode deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut, terdapat delapan tindak
lokusi, dua puluh tiga tindak ilokusi dan enam tindak perlokusi di dalam episode Hukum
untuk Kaum Sendal Jepit (HKSJ). Di dalam Setelah Angie, Anas Dibidik (SAAD) terdapat
lima tindak lokusi, tiga puluh satu tindak ilokusi, empat tindak perlokusi.
Di Dalam episode Angie oh Angie (AA) terdapat sembilan tindak lokusi, dua
puluh sembilan tindak ilokusi, dan lima tindak perlokusi. Di dalam tindak tutur ilokusi
terdapat enam maksim, yakni maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim
penghargaan atau pujian, maksim kesederhanaan atau kerendahan hati maksim
kecocokan atau kesepakatan, dan maksim kesimpatian. Sementara itu, di dalam tindak
tutur perlokusi terdapat lima maksim, yakni maksim kebijaksanaan, maksim
kedermawanan, maksim penghargaan atau pujian, maksim kesederhanaan atau
kerendahan hati, dan maksim kecocokan atau kesepakatan. Dan Penelitian yang
dilakukan oleh Sri Budi Astuti Ira Eko Retnosari yang berjudul Tindak Tutur Dalam Talk
Show Hitam Putih Di Trans 7, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI
Adi Buana Surabaya.
Dari penelitian-penelitian yang relevan tersebut ada persamaan dan perbedaan
dengan penelitian ini. Persamaan penelitian ini dengan penelitian penelitian di atas adalah
sama-sama meneliti tindak tutur dengan kajian pragmatik dan permasalahan yang dikaji
hampir serupa. Perbedaan- perbedaaan dengan penelitian tersebut dengan penelitian ini
adalah dalam penelitian yang dilakukan oleh Mangatur Sinaga tidak hanya mengkaji
tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi tetapi juga mengkaji tentang pelanggaran
maksim kerjasama yang terdapat di dalam Indonesia Lawyers Club. Pada penelitian ini
penulis menganalisis Fungsi dan Jenis tindak bahasa Ilokusi seperti jenis tindak bahasa
asertif, direktif, komisif, ekspresif, deklaratif pada tuturan pembawa acara Indonesia
Lawyers Club.

RUMUSAN MASALAH
1. Apakah fungsi bahasa yang terdapat pada tuturan pembawa acara Indonesia Lawyers
Club?
2. Bagaimana jenis tindak bahasa yang terdapat pada tuturan pembawa acara Indonesia
Lawyers Club?

TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mendeskripsikan fungsi bahasa yang terdapat pada tuturan pembawa acara
Indonesia Lawyers Club
2. Untuk mendeskripsikan jenis tindak bahasa yang terdapat pada tuturan pembawa
acara Indonesia Lawyers Club

MANFAAT PENELITIAN
1. Secara Teoretis
Secara teoretis penelitian ini untuk mengembangkan ilmu kebahasaan yang telah
dipelajari selama perkuliahan khususnya ilmu pragmatik.
2. Secara Praktis
Bagi peneliti menjadi pengetahuan yang berharga dan bisa diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari.
Penelitian ini mempunyai manfaat untuk melengkapi penelitian sebelumnya tentang
pragmatik, melalui penelitian ini akan diperoleh gambaran tentang kekhasan tuturan
diskusi dalam acara Indonesia Lawyers Club di stasiun televisi TV One. Kekhasan
tersebut terlihat dalam tuturan-tuturan yang terjadi antara peserta dengan Karni Ilyas
sebagai pembawa acara.

ANGGAPAN DASAR
Adapun anggapan dasar dalam analisis fungsi dan jenis tindak bahasa pada tuturan
pembawa acara Indonesia Lawyers Club diantaranya:
1. Dalam setiap tuturan pembawa acara tersirat makna yang berbeda sesuai dengan
keinginan si penutur
2. Bahasa dalam tuturan pembawa acara dapat mempengaruhi si pendengarnya atau
lawan tuturnya.
3. Setiap tuturan memiliki makna yang tersirat dan memiliki jenis makna yang berbeda.
4. Setiap tuturan pembawa acara mendapat respon yang berbeda karena dipengaruhi
oleh bentuk penyajian dan bahasa yang digunakan oleh pembawa acara itu sendiri.
5. Indonesia Lawyers Club mampu menginspirasi masyarakat dari berbagai peristiwa
atau persoalan yang terjadi di Indonesia, dari persoalan politik, sosial, ekonomi,
budaya, militer, hukum, maupun kriminalitas.

DEFINISI OPERASIONAL
Adapun definisi operasional dari rumusan masalah diatas sebagai berikut:
1. Fungsi Bahasa
Fungsi bahasa dalam penelitian ini yaitu fungsi bahasa berdasarkan klasifikasi Abdul
Chaer yang terdiri atas fungsi bahasa personal, interpersonal, direktif, referensial,
imajinatif pada tuturan pembawa acara Indonesia Lawyers Club.
a. Fungsi Personal
Fungsi personal dalam penelitian ini adalah kemampuan seseorang untuk
membina dan menjalin hubungan kerja dan hubungan sosial dengan
orang lain, hubungan ini membuat hidup dengan orang lain baik dan
menyenangkan termasuk dalam kategori ini misalnya rasa simpati, rasa
senang atas keberhasilan orang lain, kekhawatiran dan sebagainya yang
dinyatakan dalam tuturan pembawa acara Indonesia Lawyers Club.

b. Fungsi Interpersonal
Fungsi interpersonal dalam penelitian ini adalah kemampuan pembicara
misalnya: cinta, kesenangan, atau berbicara tentang lingkungan kata yang
terdekat dan juga mengenai bahasa itu sendiri yang terdapat dalam
tuturan pembawa acara Indonesia Lawyers

c. Fungsi Direktif
Fungsi direktif dalam penelitian ini adalah kemampuan kita unjtuk
mengajukan permintaan, saran, membujuk, meyakinkan dan sebagainya
yang terdapat dalam tuturan pembawa acara Indonesia Lawyers Club

d. Fungsi Referensial
Fungsi referensial dalam penelitian ini adalah yang berhubungan dengan
kemampuan untuk menulis atau berbicara tentang lingkungan kita yang
terdekat dan juga mengenai bahasa itu sendiri yang terdapat dalam
tuturan pembawa acra Indonesia Lawyers Club.

e. Fungsi Imajinatif
Fungsi imajinatif dalam penelitian ini adalah kemampuan untuk dapat
menyusun nama, sajak, cerita tertulis maupun lisan. Fungsi ini sulit
diajarkan kecuali kalau seseorang itu memang berbakat untuk hal-hal
semacamnya yang terdapat dalam tuturan pembawa acara Indonesia
Lawyers Club.
2. Jenis Tindak Bahasa
Jenis tindak bahasa dalam penelitian ini yaitu jenis tindak bahasa berdasarkan
klasifikasi Searle yang terdiri atas tindak bahasaasertif, direktif, komisif, ekspresif,
deklaratif pada tuturan pembawa acara Indonesia Lawyers Club seperti: jenis tindak
bahasa asertif, direktif, komisif, ekspresif, deklaratif.

a. Jenis Tindak Bahasa Direktif dalam penelitian ini adalah tindak ilokusi
direktif dimaksudkan untuk menimbulkan beberapa efek melalui tindakan
penyimak misalnya memesan, memerintahkan, memohon, meminta,
menyarankan, mengajarkan, dan menasihatkan yang terdapat dalam
tuturan pembawa acara Indonesia Lawyers Club.

b. Jenis Tindak Bahasa Ekspresif dalam penelitian ini adalah tindak ilokusi
ekspresif yang mempunyai fungsi untuk mengekspresikan,
mengungkapkan atau memberitahukan sikap psikologis pembicara
menuju suatu pernyataan keadaan yang diperkirakan oleh ilokusi,
misalnya mengucapkan terimakasih, mengucapkan selamat, memaafkan,
mengampuni, menyalahkan, memuji, menyatakan belasungkawa, dan
sebagainya yang terdapat dalam tuturan pembawa acara Indonesia
Lawyers Club.

c. Jenis Tindak Tutur Komisif dalam penelitian ini adalah tindak ilokusi
komisif yang melibatkan pembicara pada beberapa tindakan yang akan
dating misalnya, menjanjikan, bersumpah, menawarkan, dan
memanjatkan doa yang terdapat dalam tuturan pembawa acara Indonesia
Lawyers Club.

d. Representatif: ialah tindak bahasa yang menyatukan apa yang diyakini


penutur kasus atau bukan. Pernyataan suatu fakta, penegasan,
kesimpulan, dan pendeskripsian.
e. Jenis Tindak Bahasa Deklarasi dalam penelitian ini adalah lokusi yang
bila performasinya berhasil maka menyebabkan korespondensi yang baik
antara isi proporsional dengan realitas misalnya, menyerahkan diri
memecat, membebaskan, membabtis member nama, menamai,
mengucilkan, mengangkat, menunjuk, menentukan, menjatuhkan
hukuman, memvonis, dan sebaginyayang terdapat dalam tuturan
pembawa acara Indonesia Lawyers Club.

3. Talk Show Indonesia Lawyers Club


Dalam penelitian ini yang dimaksud Indonesia Lawyers Club adalah acara yang
menayangkan suatu peristiwa atautopik yang dibahas dalam acara Indonesia Lawyers
Club periode Oktober sampai Desember 2019. Sejak tayang perdana 2008, yang
berarti sudah sekitar 7 tahun, ILC telah sukses menjadi salah satu icon talk show
nasional dengan rating tinggi. Awalnya hanya mengklaim sebagai Jakarta Lawyers
Club (JLC) lalu berubah menjadi Indonesia Lawyers Club (ILC). Kita tahu, Lativi
berganti pemilik dan berganti nama secara resmi menjadi TV One pada 14 februari
200. Tak lama kemudian, melalui TV One, ILC menjadi salah satu acara favorit yang
dinanti-nanti banyak pemirsa, menjadi talk show dengan tayang mungkin yang
terpanjang dalam sejarah pertelevisian nasional.Pertama kalinya Indonesia Lawyers
Club hadir di kota Makassar, rencana pemilihan lokasi shooting Indonesia Lawyers
Club ke depannya akan hadir di kota-kota Indonesia. Keutamaan dari program ini
terletak pada Karni Ilyas sebagai pembawa acara sekaligus wartawan senior yang
memiliki latar belakang sebagai sarjana hukum. Selain itu, didukung oleh para
narasumber dengan bebas menceritakan kejadian demi kejadian dari sebuah isu yang
sedang hangat diperbincangkan di masyarakat dan menghasilkan diskusi terbuka. Hal
ini yang menjadikan Indonesia Lawyer Club menjadi salah satu program yang
digemari masyarakat Indonesia. Indonesia Lawyers Club dimulai pukul 19.30 sampai
23.00 yang terdiri dari sembilan bagian yang terbagi menjadi pembukaan, isi
(diskusi), dan penutup. Dalam diskusi para partisipan membicarakan masalah secara
serius dan berusaha menjawab apa yang menjadi tema pada acara itu. Tema yang
didiskusikan biasanya adalah fenomena politik yang baru saja terjadi di Indonesia.

4. Periode Oktober sampai Desember 2019


Dalam penelitian ini adalah batasan jangka waktu dalam meneliti video dalam
Indonesia Lawyers Club dimulai dari periode Oktober sampai Desember 2019.

5. TV One
Dalam penelitian ini yang dimaksud TV One adalah salah satu stasiun televisi swasta
yang menayangkan acara talk show Indonesia Lawyers Club.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bahasa
2.1.1 Hakikat Bahasa
Dalam kehidupan manusia berbahasa setiap hari untuk saling
berkomunikasi. Bahasa dan berbahasa merupakan dua hal yang berbeda, bahasa
adalah alat verbal yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dengan
manusia lainnya. Sedangkan berbahasa yaitu proses dalam penyampaian suatu
informasi ketika manusia melakukat kegiatan komunikasi. Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ,Bahasa merupakan sistem bunyi yang arbitrer,
yang digunakan oleh suatu masyarakat untuk berkomunikasi, berinteraksi,
bekerjasama, dan mengidentifikasi diri.
Menurut Abdul Chaer, (2010:11) bahasa adalah sebuah sistem, artinya
bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan
dapat dikaidahkan. Sebagai sebuah sistem, bahasa selain bersifat sistematis juga
bersifat sistemis. Dengan sistematis maksudnya, bahasa itu tersusun menurut
suatu pola tertentu, tidak tersusun secara acak atau sembarangan. Sedangkan
sistemis artinya sistem bahasa itu bukan merupakan sebuah sistem tunggal,
melainkan terdiri dari sejumlah subsistem, yakni subsistem fonologi, subsistem
morfologi, subsistem sintaksis, dan subsistem leksikon.
Setiap bahasa biasanya memiliki sistem yang berbeda dari bahasa
lainnya. Kridalaksana (dalam Ahyadi, 2004:8) bahasa adalah sistem lambang
bunyi yang bersifat arbitrer yang digunakan oleh para kelompok sosial untuk
bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri. Maksud dari arbitrer ini
yaitu tidak adanya hubungan wajib antara lambang sebagai hal yang
diwujudkandalam bentuk kata dengandengan benda atau konsep yang ditandai.
Melihat pada bagian pertama yang diungkapkan oleh Kridalaksana yaitu bahasa
adalah system, berarti bahasa itu bersifat sistematis. Menurut Ahyadi (2004:9)
dengan sistematis artinya bahasa itu sendiri tersusun menurut suatu pola, tidak
tersusun secara acak, secara sembarangan.
Dalam hal tersebut memang benar, jika tidak tersusun pada suatu pola
maka dampaknya secara otomatis si pendengar tidak akan memahami apa yang
dimaksud oleh penutur. Sedangkan menurut Chaer berpendapat bahwa bahasa
sebagai suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer, yang kemudian lazim
ditambah dengan yang digunakan sekelompok anggota masyarakat untuk
berkomunikasi antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Dari pengertian
diatas menurut para ahli dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan alat
komunikasi yang digunakan setiap hari dalam berbagai kegiatan untuk
berkomunikasi antara manusia yang satu dengan yang lainnya.

2.1.2 Fungsi Bahasa


Fungsi dari bahasa itu sendiri sebagai alat komunikasi penting dalam
lingkup masyarakat. Kedua peran komunikasi dalam suatu percakapan tentu
akan sangat penting, maka diperlukan adanya kerjasama dalam menunjukkan
siapa yang akan menjadi lawan bicara secara fasik maupun psikologis. Untuk
itu, fungsi utama bahasa itu sendiri adalah sebagai alat berinteraksi dengan
manusia, sebagai alat untuk berfikir, sebagai alat menyalurkan arti kepercayaan
di masyarakat. Sebagai metode pembelajaran pada lingkup bahasa itu sendiri,
dan masih banyak lagi fungsi bahasa secara umum dalam kehidupan sehati-hari
tiap manusia.
Seorang pakar linguistik Wardaugh (dalam Chaer, 2010:15) mengatakan
bahwa fungsi bahasa adalah alat komunikasi manusia, baik lisan maupun
tulisan. Gorys Keraf menyatakan “Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi-
fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang. Yakni
sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi,
sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam
lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol
sosial”. Dalam hal ini, wardhaugh (dalam Chaer 2010: 15) seorang pakar
sosiolinguistik mengatkan bahwa fungsi adalah alat komunikasi manusia, baik
lisan maupun tulisan.
Namun fungsi ini sudah mencakup lima fungsi dasar yang menurut
Kinneavy disebut fungsi ekspresi, fungsi informasi, fungsi eksplorasi, fungsi
persuasi, dan fungsi entertainmen Michael (dalam Chaer, 2010:15). Dalam
mendefinisikan masing-masing kelima fungsi bahasa tersebut Abdul Chaer
(2010:15) menyatakan,

a. Fungsi Personal
Penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. Penutur
bukan hanya mengungkapkan emosi lewat bahasa, tetapi juga
memperlihatkan emosi itu sewaktu menyampaikan tuturannya. Dalam hal
ini pihak si pendengar juga dapat menduga apakah si penutur ini sedih,
marah atau gembira.

b. Fungsi Interpersonal
Fungsi menjalin hubungan, memelihara, memperlihatkan perasaan
bersahabat, atau solidaritas sosial. Ungkapan-ungkapan yang digunakan
biasanya sudah berpola tetap, seperti pada saat berjumpa, pamit,
membicarakan cuaca,atau menanyakan keadaan keluarga.
Contohnya :
Bagaimana kabar keluargamu??
Apakah kamu baik-baik saja??

c. Fungsi Direktif
Mengatur tingkah laku si pendengar. Disini bahasa tidak hanya membuat
si pendengar melakukan sesuatu, tetapi melakukan kegiatan sesuai
dengan yang dimau si pembicara. Hal ini dapat dilakukan si penutur
dengan menggunakan kalmia-kalimat yang menyatakan perintah,
himbauan, permintaan, maupun rayuan.
Contohnya:
Sebaiknya anda menelepon dulu.
Harap tenang , sedang ada ujian.
d. Fungsi Referensial
Berfungsi sebagai alat untuk membicarakan objek atau peristiwa yang
ada di sekeliling penutur atau yang ada dalam budaya pada umumnya.
Fungsi referensial inilah yang melahirkan paham tradisional bahwa
bahasa itu adalah alat untuk menyatakan pikiran, untuk menyatakan
bagaimana pendapat si penutur tentang dunia di sekelilingnya.
Contohnya:
Gedung perpustaan itu sedang direnovasi.
Ibu dosen itu cantik sekali.

e. Fungsi Imajinatif
Bahasa dapat digunakan untuk menyampaikan pikiran, gagasan dan
perasaan, baik yang sebenarnya maupun yang cuma imajinasi (khayalan,
rekaan) saja. Fungsi imajinatif ini biasanya berupa karya seni (puisi,
cerita, dongeng, lelucon) yang digunakan untuk kesenanganpenutur,
maupun pendengarnya.

Kelima fungsi dasar ini dapat disimpulkan bahwa fungsi bahasa ini mewadahi
konsep bahwa bahasa alat unuk mengucapkan ungkapan-ungkapan batin yang
ingin disampaikan seorang penutur kepada orang lain. Pernyataan senang, benci,
kagum, marah , jengkel , sedih, dan kecewa dapat diungkapkan dengan bahasa.

2.2 Pragmatik
2.2.1 Pengertian Pragmatik
Berkenaan dengan ilmu tentang makna, maka kajian pragmatik
merupakan ilmu yang mengkaji makna bahasa yang hubungannya dengan
situasi kebahasaan. (George Yule, 20014:3) mengemukakan pengertian
terhadap pragmatik. Pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan
oleh penutur (penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (pembaca). Sebagai
akibatnya studi ini lebih banyak berhubungan dengan analisis tentang apa
yang dimaksudkan orang dengan tuturan-tuturannya daripada dengan makna
terpisah dari kata atau frasa yang digunakan dalam tuturan itu sendiri. Tipe
studi ini perlu melibatkan penafsiran tentang apa yang dimaksudkan orang di
dalam suatu konteks khusus dan bagaimana konteks itu berpengaruh terhadap
apa yang dikatakan.
Diperlukan suatu pertimbangan tentang bagaimana cara penutur
mengatur apa yang ingin mereka katakana yang disesuaikan dengan orang
yang mereka ajak bicara, di mana, kapan, dan dalam keadaan apa. Pendekatan
ini juga perlu menyelidiki bagaimana cara pendengar dapoat menyimpulkan
tentang apa yang dituturkan agar dapat sampai pada suatu interpretasi makna
yang dimkasudkan oleh penutur. Menurut (Tarigan, 2009: 30) pragmatik
menelaah ucapan-ucapan khusus dalam situasi-situasi khusus dan
memusatkan perhatian pada aneka ragam cara yang merupakan wadah aneka
konteks sosial. Sedangkan menurut (Leech dalam Wijana, 2010: 6) Pragmatik
merupakan cabang ilmu bahasa yang semakin dikenal pada masa sekarang ini
walaupun pada kira-kira dua dasa warsa silam ilmu ini jarang atau hampir
tidak pernah disebut oleh para ahli bahasa.
Hal ini dilandasi oleh semakin sadarnya para linguis bahwa upaya
menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang diharapkan tanpa
didasari pemahaman terhadap pragmatik, yakni bagaimana bahasa itu
digunakan dalam komunikasi. Menurut Levinson (dalam Suhartono, 2014:1.3)
dalam bukunya yang berjudul Pragmatics, beberapa batasan yang
dikemukakan levinson antara lain mengatakan bahwa pragmatik adalah kajian
hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian
bahasa. Dengan batasan ini, berarti untuk memahami pemakaian bahasa kita
dituntut memahami pula konteks yang mewadahi pemakaian tersebut. Dari
beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya pragmatik
merupakan antar baahasa dan konteks yang merupakan dasar bagi pemahaman
bahasa dengan kata lain telaah mengenai kemapuan pemakai bahasa dan
menyerasikan kalimat-kalimat dan konteks-konteks secara tepat.
2.2.2 Ruang Lingkup Pragmatik
Ruang lingkup pragmatik mengarah kepada kemampuan menggunakan
bahasa dalam berkomunikasi yang mengehendaki penyesuaian bentuk bahasa
atau ragam bahasa dengan faktor-faktor penentu tindak komunikatif. Faktor-
faktor penentu tindak komunikatif yaitu (1) siapa yang berbahasa dengan
siapa, (2) untuk tujuan apa, (3) dalam situasi apa, (4) dalam konteks apa, (5)
jalur yang mana (lisan atau tulisan), (6) media apa (telepon,surat, tatap muka
dan lain-lain), (7) dalam peristiwa apa( ceramah, bercakap-cakap, atau
upacara).

1. Variasi Bahasa
Bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah variasi bahasa
dari suatu wilayah. Setiap bahasa mempunyai variasi. Adanya variasi bahasa
didukung oleh beberapa faktor, yaitu: faktor geografis, faktor sosial
kemasyarakatan, faktor situasi berbahasa, dan faktor waktu. Yang
dioerhatikan dalam pragmatik kaitannya dengan variasi bahasa adalah
bagaimana variasi-variasi bahasa itu ditafsirkan dalam kegiatan berbahasa.
Maka dari itu yang perlu diajarkan melalui pragmatic adalah (i) kapan dan
bagaimana menggunakan variasi bahasa secara tepat, dan (ii) bagaimana
menyelaraskan bentuk-bentuk variasi bahasa dengan faktor sosial
kemasyarakatan dan situasi bahasa dalam kegiatan berbahasa.

2. Deiksis
Deiksis adalah istilah teknis (dari bahasa yunani) untuk salah satu hal
mendasar yang kita lakukan dengan tuturan. Deiksis yang berarti ‘penujukan’
melalui bahasa. Bentuk linguistik yang dipakai untuk menyelesaikan
penujukan disebut yngkapan deiksis. Ungkapan-ungkapan deiksis kadang kala
juga disebut indeksikal. Dalam kajian pragmatik ada lima jenis deiksis, yaitu:
(i)deiksis persona, (ii) deiksis tempat, (iii) deiksis waktu, dan(iv)deiksis tata
bahasa
Deiksis persona, dengan jelas menerapkan 3 pembagian dasar yang
dicontohkan dengan kata ganti orang pertama (saya), orang kedua (kamu), dan
orang ketiga (dial k, dia pr, atau dia barang/sesuatu). Yang perlu diperhatikan
adalah bagaimana menggunakan deiksis persona tersebut dengan tepat.
Dengan kata lain, dalam suatu peristiwa berbahasa pemakai bahasa dituntuk
dapat menggunakan deiksis persona sesuai dengan kaidah sosial dan santun
berbahasa dengan tepat.
Deiksis tempat,menunjuk pada jarak yang telah disebutkan berhubungan erat
dengan deiksis tempat, yaitu tempat hubungan antara orang orang dan
bendanya ditunjukkan. Dalam kaitannya dengan pengajaran pragmatic, yang
perlu diperhatikan adalah bagaimana menggunakan dan menafsirkan wujud-
wujud deiksis tempat dalam berbahasa secara tepat sesuai konteksnya.
Deiksis waktu,yang menunjukkan waktu yang berkenaan dengan saat penutur
berbicara maupun saat suara penutur sedang didengar yang berdeiksis
misalnya skarang, kemarin, lusa, besok, dan sebagainya .

3. Implikatur Percakapan
Implikatur percakapan sebagai salah satu aspek dalam kajian pragmatic,
perhatian utamanya adalah mempelajari maksud suatu ucapan sesuai dengan
konteksnya. Dalam suatu dialog (percakapan), sering terjadi seorang penutur
tidak mengutarakan maksudnya secara langsung. Hal yang hendak diucapkan
justru disembunyikan diucapkan secara tidak langsung atau tidak diucapkan
sama sekali berbeda dengan maksud yang diucapkan.

4. Praanggapan
Praanggapan adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian
sebelum menghasilkan suatu tuturan. Yang memiliki praanggapan adalah
penutur, bukan kalimat. Sifat praanggapan ini biasanya dijelaskan sebagai
keajegan di bawah penyangkalan. Pada dasarnya, keajegan di bawah
penyangkalan berarti bahwa praanggapan suatu pernyataan akan tetap ajeg
(yakni; tetap benar), walaupun kalimat pernyataan itu dijadikan menyangkal.
5. Tindak bahasa
Tindak bahasa adalah fungsi bahasa sebagai sarana penindak. Semua kalimat
atau ujaran oleh penutur sebenarnya mengandung fungsi komunikasi tertentu.
Tuturan dari seseorang (penutur) tentu saja tidak semata-mata hanya asal
bicara, tetapi mengandung maksud tertentu. Fungsi inilah yang menjadi
semangat para penutur untuk menindakkan sesuatu. Misalnya kita sering
mendengar seorang ibu mengatakan kepada salah satu anaknya,
Sari, adik belum makan!
Tuturan itu bukan sekadar pemberitahuan ibu kepada Sari, salah seorang
anaknya bahwa adik Sari belum makan tetapi juga menindakkan seseuatu
yaitu ibu memerintahkan agar Sari member makan atau menyuapi adiknya .
dalam percakapan sehari-hari, hal tersebut banyak terjadi. Umumnya tuturan
semacam itu bisa berjalan lancer karena penutur dan pasangan tuturnya sudah
saling memahami masud tuturan tersebut.

2.3 Tindak bahasa


Tindak bahasa adalah fungsi bahasa sebagai sarana penindak. Semua
kalimat atau ujaran oleh penutur sebenarnya mengandung fungsi komunikasi
tertentu. Tuturan dari seseorang (penutur) tentu saja tidak semata-mata hanya
asal bicara, tetapi mengandung maksud tertentu. Fungsi inilah yang menjadi
semangat para penutur untuk menindakkan sesuatu.

2.3.1 Ilokusi
Tindak ilokusi adalah makna ujar yang dipahami oleh penyimak atau
pembaca. Menurut (Abdul Chaer, 2009:78) mengatakan bahwa tindak ilokusi
adalah makna yang dipahami oleh pendengar atau penyimak. Tarigan dalam
buku pengajaran pragmatik mengatakan bahwa ilokusi adalah melakukan
sesuatu tindakan dalam mengatakan sesuatu
(Tarigan, 1986:37). Ilokusi yang merupakan makna tersembunyi dari sebuah
kata atau pernyataan.Searle (dalam Leech, 1993:163-165) mengelompokkan
tindak ilokusi menjadi lima jenis, yaitu (1) representatif, (2) direktif, (3)
komisif, (4) ekspresif, dan (5) deklatif. Di dalam kelima jenis tindak tutur
ilokusi tersebut terkandung maksud penutur. Tindak bahasa Ilokusi
mempunyai ragam fungsi beberapa diantaranya yaitu:
a. Direktif : ialah jenis tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk
menyuruh orang lain melakukan sesuatu. Jenis tindak bahasa ini
meliputi; printah, pemesanan, permohonan, pemberian saran dan
sebagainya. Menurut Targian (1986:47) berpendapat bahwa tindak
ilokusi direktif dimaksudkan untuk menimbulkan beberapa efek
melalui tindakan sang penyimak, misalnya memesan,
memerintahkan, memohon, meminta, menyarankan, menganjurkan
dan menasihatkan.

b. Ekspresif: ialah jenis tindak bahasa yang menyatakan sesuatu yang


dirasakan oleh penutur. Tindak bahasa itu mencerminkan
pernyataan-pernyataan psikologis dan dapat berupa pernyataan
kegembiraan, kesulitan, kesukaan, kebencian, kesenangan, atau
kesengsaraan. Menurut Tarigan (1986:15) mengemukakan bahwa
tindak ilokusi ekspresif mempunyai fungsi untuk
mengekspresikan, mengungkapkan, atau memberitahukan sikap
psikologis pembicara menuju suatu pertanyaan keadaan yang
diperkirakan oleh ilokusi, misalnya mengucapkan terima kasih,
mengucapkan selamat, memaafkan, mengampuni, menyalahkan,
memuji, menyatakan belasungkawa, dan sebagainya.

c. Komisif: ialah jenis tindak bahasa yang dipahami oleh penutur


untuk mengikatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa
yang akan dating. Tindak bahasa ini menyatakan apa saja yang
dimaksudkan oleh penutur. Tindak bahasa ini dapat berupa; janji,
ancaman, penolakan, ikrar dan sebagainya. Menurut Tarigan
(1986:47) mengemukakan tindak ilokusi komisif melibatkan
pembicara pada beberapa tindakan yang akan dating, misalnya
menjanjikan, bersumpah, menawarkan, dan memanjatkan doa.

d. Representatif: ialah tindak bahasa yang menyatukan apa yang


diyakini penutur kasus atau bukan. Pernyataan suatu fakta,
penegasan, kesimpulan, dan pendeskripsian.

e. Deklarasi: ialah tindak bahasa yang mengubah dunia melalui


tuturan, misalnya memecat, menyerahkan diri, menunjuk,
menjatukan hukuman, memvonis dan sebagainya. Menurut Tarigan
(1986:47) tindak ilokusi deklarasi adalah lokusi yang
performasinya berhasil maka menyebabkan korespondensi yang
baik antara isi proporsional dengan realitas, misalnya menyerahkan
diri, memecat, membebaskan, membastis, member nama,
mengucilkan, menentukan, menjatuhkan hukuman, memvonis, dan
sebagainya.

2.4 Wacana
Wacana secara etimologi berasal dari bahasa sansekerta wac/wak/vak
yang berarti “berkata”. Bila dilihat dari jenisnya kata ‘wac’ dalam lingkup
morfologi bahasa sansekerta termasuk kata kerja golongan III yang bersifat
aktif yaitu “melakukan tindakan ujar”. Kata tersebut kemudian mengalami
perubahan menjadi ‘wacana’. Bentuk ‘ana’ yang muncul diakhir menjadi
akhiran yang bermakna membendakan. Jadi kata wacana dapat diartikan
‘perkataan’ atau ‘tuturan’.
Mulyana mengemukakan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang
paling lengkap, lebih tinggi dariklausa dan kalimat, memiliki kohesi dan
koherensi yang baik memiliki awal dan akhir yang jelas, berkesinambungan,
dan dapat disampaikan secara tulisan maupun lisan (Mulyana, 2005:6).
Dapat isimpulkan bahwa wacana adalah satuan bahasa terlengkap,
yang dalam hierarki kebahasaan merupakan satuan gramatikal tertinggi dan
terbesar.

2.4.1 Klasifikasi Wacana


Klasifikasi wacana bergantung pada aspek dan sudut pandang yang
digunakan, bias berdasarkan bentuk berdasarkan politik, berdasarkan media
penyampaian, berdasarkan jumlah penutur, berdasarkan gaya dan tujuan,
berdasarkan sifat.
a. Berdasarkan Bentuk dapat dibagi menjadi enam jenis wacana,
diantaranya adalah naratif, prosedural, ekspositori, hortatory,
epistoleri, dramatik.
Wacana naratif adalah bentuk wacana yang banyak dipergunakan
untuk menceritakan sebuah cerita. Uraian dari wacana ini cenderung
ringkas. Bagian-bagian yang dianggap penting sering diulang-ulang
dan diberi tekanan.
Wacana Prosedural adalah wacana yang digunakan untuk
memberikan petunjuk atau keterangan bagaimana sesuatu harus
dilaksanakan. Oleh karena itukalimat-kalimat yang ada dalam wacana
procedural berisi aturan-aturan tentang sesuatu agar tujuan yang
diharapkan dapat tecapai. Contohnya wacana resep makanan.
Wacana Ekspositori adalah wacana yang bersifat menjelaskan sesuatu
secara informative dan bahasa yang digunakan denotatif dan rasional.
Contohnya wacana ceramah ilmiah dan artikel.
Wacana Hortatory adalah wacana yang digunakan untuk
mempengaruhi pendengar atau pembacaagar tertarik terhadap apa
yang disampaikan. Tujuannya adalah mencari pengikut atau penganut
untuk mengikuti apa yang diinginkan penulis atau hanya sebatas
menyetujuinya.
Wacana Epistoleri bisa digunakan dalam surat menyurat karena
memiliki system tertentu yang sudah menjadi aturan atau kebiasaan.
Contoh wacana surat pribadi.
Wacana Dramatik adalah wacana yang berbentuk percakapan antar
penutur. Contohnya wacana scenario film atau sinetron.
Wacana Seremonial adalah bentuk wacana yang digunakan dalam
kesempatan seremonial (upacara). Wacana ini erat hubungannya
dengan konteks situasi dan kondisi yang terjadi dalam upacara dan
wacana ini tercipta karena tersedianya konteks sosio cultural yang
melatar belakanginya. Contoh wacana pidato dalam upacara
peringatan hari-hari besar.

b. Berdasarkan media penyampaiannya


Berdasarkan media penyampaiaanya wacana dibedakan menjadi
wacana tulis,dan wacana lisan.
Wacana tulis adalah jenis wacana yang disampaikan dengan tulisan.
Media tulisan dianggap sangat efektif dan efisien dalam
menyampaikan gagasan, wawasan,ilmu mpengetahuan , atau apapun
yang bisa mewakili daya kreatifitas manusia.
Wacana lisanadalah wacana yang disampaikan secara lisan atau
langsung secara verbal. Wacanaini sering disebut tuturan. Kelebihan
wacana lisan dibandingkan wacana tulis yaitu bersifat alami,
mengandung unsure-unsur prosodi bahasa yang berupa lagu dan
intonasi, memiliki sifat suprasentensial.

c. Berdasarkan jumlah penutur


Berdasarkan jumlah penutur wacana dibedakan menjadi wacana
monolog dan wacana dialog. Wacana monolog adalah wacana yang
dituturkan oleh satu orang, contohnya pidato, pembacaan puisi,
khotbah jumat.
Wacana dialog adalah jenis wacana yang dituturkan oleh lebih dari
satu orang. Wacana dialog ini bisa berbentuk naskah drama atau
scenario film sinetron.

d. Berdasarkan sifat
Berdasarkan sifatnya wacana dibedakan menjadi wacana fiksi dan
wacana non fiksi.
Wacana fiksi adalah wacana yang bentuk danisinya berorientasi pada
imajinasi , bahasa yang digunakan cenderung bermakna konotatif,
analogis. Wacana fiksi ini dibagi menjadi tiga jenis yaitu wacana
prosa, wacana puisi dan wacana drama.
Wacana non fiksi disebut juga wacana ilmiah. Wacana ini disusun
dengan pola dan cara-cara yang ilmiah dan dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya. Contohnya adalah laporan
penelitian, buku materi perkuliahan dan sebagainya. Bahasa yang
digunakan bersifat denotatif, lugas dan jelas.

e. Berdasarkan isi
Berdasarkan isi wacana dibedakan menjadi tujuh jenis yaitu wacana
politik, wacana ekonomi, wacana hokum, wacana budaya,wacana
militer, dan wacana kriminalitas.

2.5 Aneka Aspek Situasi Ujaran


Kegunaan yang nyata dari pengetahuan mengenai aspek-aspek
situasi ujaran, ialah memudahkan kita untuk menentukan dengan jelas hal-
hal yang merupakan bidang garapan pragmatik dan hal-hal yang merupakan
ranah telaah semantik. Selama kita menganut paham bahwa pragmatik
menelaah makna dalam kaitannya dengan situasi ujaran, maka acuan
terhadap satu atau lebih aspek-aspek berikut ini merupakan suatu kriteria.
1. Pembicara/Penulis dan Penyimak/Pembaca
Dalam setiap situasi ujaran harus ada pihak pembicara (penulis) dan
pihak penyimak (pembaca). Keterangan ini mengandung implikasi
bahwa pragmatik tidak hanya terbatas pada bahasa lisan, tetapi
mencakup bahasa tulis. Untuk memudahkan pembicara selanjutnya
pembicara (penulis) kita singkat menjadi Pa dan penyimak Pk.

2. Konteks Ujaran
Kata konteks dapat diartikan dengan berbagai cara, misalnya kita
memasukkan aspek-aspek yang ‘sesuai’ atau ‘relevan’ mengenai latar
fisik dan sosial suatu ucapan.

3. Tujuan Ujaran
Bentuk-bentuk tuturan yang diutarakan oleh penutur dilatarbelakangi
olehmaksud dan tujuan tertentu. Dalam hubungan ini bentuk-bentuk
tuturan yang bermacam-macam dapat digunakan untuk menyatakan
maksud yang sama. Atau sebaliknya, berbagai macam maksud dapat
diutarakan dengan tuturan dengan tuturan yang sama.

4. Ucapan sebagai Produk Tindak Verbal


Ada pengertian lain dari kata ucapan yang dapat dipakai dalam
pragmatic, yaitu mengacu pada produk suatu tindakan verbal, bukan
hanya pada tindak verbal itu sendiri. Sebagai contoh “Dapatkah anda
tenang sedikit?” diucapkan dengan intonasi yang sopan dan hormat,
dapat diperikan sebagai suatu kalimat atau sebagai situasi pertanyaan,
ataupun sebagai suatu permintaan. Akan tetapi, kita sudah terbiasa
memperlakukan istilah-istilah seperti kalimat dan pertanyaan bagi
kesatuan-kesatuan gramatik yang diturunkan dari system bahasa, dan
meperlakukan istilah ucapan sebagai contoh dari kesatuan-kesatuan
yang diidentifikasikan oleh pemakainya dalam situasi tertentu.
2.6 Sosiolinguistik
Sosiolinguistik merupakan ilmu antardisiplin antara sosiologi dan
linguistic, dua bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan yang sangat
erat. Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kegiatan sosial
ataupun gejala sosial dalam suatu masyarakat. Sedangkan linguistic adalah
bidang ilmu yang mempelajari bahasa atau bidang ilmu yang mengambil
objek bahasa sebagai objek kajiannya. Menurut Nababan istilah
sosiolinguistik jelas terdiri dari dua unsure: sosio dan linguistik.
Kita mengetahui arti linguistik, yaitu ilmu yang mempelajari atau
membicarakan bahasa, khususnya unsur-unsur bahasa (fonem, morfem,
kata, kalimat) dan hubungan antara unsure-unsur itu (struktur). Unsur sosio
adalah seakar dengan sosial, yaitu yang berhubungan dengan masyarakat,
kelompok-kelompok masyarakat, dan fungsi-fungsi kemasyarakatan. Jadi
sosiolinguistik adalah studi atau pembahasan dari bahasa sehubungan
dengan penutur bahasa itu sebagai anggota masyarakat. Boleh juga
dikatakan bahwa sosiolinguistik mempelajari dan membahas aspek-aspek
kemasyarakatan bhasa, khususnya perbedaan-perbedaan yang terdapat
dalam bahasa yang berkaitan dengan faktor-faktor kemasyarakatan.
Menurut Kridalaksana 1974 (dalam Chaer:61) mendefinisikan bahwa
sosiolinguistik yaitu cabang linguistik yang berusaha menjelaskan cirri-ciri
variasi bahasa dan menetapkan . Kemudian dengan mengutip Fishman
(1971:4) Kridalaksana mengatakan bahwa sosiolinguistik adalah ilmu yang
mepelajari cirri dan fungsi pelbagai variasi bahasa, serta hubungan diantara
bahasa dengan cirri dan fungsi itu dalam suatu masyarakat bahasa.
Jadi kesimpulan dari beberapa ahli diatas tentang sosiolinguistik yaitu
sebuah cabang linguistik yang membahas bahasa dari kehidupan sosial
masyarakat tutur.
METODE DAN TEKNIK PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian


Metode penelitian adalah cara melaksanakan penelitian yang telah
direncanakan berdasarkan pendekatan yang dianut. Menurut Sugiyono
(2015:15) penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada
filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang
alamiah. Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian
naturalistic karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural
setting); disebut juga sebagai metode etnographi, karena pada awalnya metode
ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya; disebut
sebagai metode kualitatif, karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih
bersifat kualitatif. Filsafat postpositivisme sering juga disebut sebagai
paradigma interpretif dan konstruktif, yang memandang realitas sosial sebagai
sesuatu yang bolistik/utuh, kompleks dinamis, penuh makna, dan hubungan
gejala bersifat interaktif (reciprocal).
Penelitian dilakukan pada objek yang alamiah. Objek alamiah adalah
objek yang berkembang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti dan
kehadiran peneliti tidak mempengaruhi dinamika pada objek tersebut. Dalam
penelitian kualitatif instrumennya adalah orang atau human instrument, yaitu
peneliti itu sendiri. Untuk dapat menjadi instrument, maka peneliti harus
memiliki bekal teori dan wawasan yang luas, sehingga mampu bertanya,
menganalisis, memotret, dan mengkontruksi situasi sosial yang diteliti menjadi
lebih jelas dan bermakna.
Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas dan mendalam
terhadap situasi yang diteliti, maka teknik pengumpulan data bersifat tringulasi,
yaitu menggunakan berbagai teknik pengumpulan data secara gabungan
/simultan. Analisis data yang dilakukan bersifat induktif berdasarkan fakta-fakta
yang ditemukan di lapangan dan kemudian dikonstruksikan menjadi hipotesis
atau teori. Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang
mendalam, suatu data yang mengandung makna. Makna adalah data yang
sebenarnya, data yang pasti yang merupakan suatu nilai di balik data yang yang
tampak.
Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif tidak menekankan pada
generalisasi, tetapi lebih menekankan pada makna. Generalisasi dalam
penelitian kualitatif dinamakan transferability. Metode penelitian kualitatif
adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme,
digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, (sebagai lawannya
adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik
pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat
induktif/kualitatif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari
pada generalisasi. Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah metode
kualitatif yang bersifat analitik.
Yakni cara menjelaskan fakta-fakta yang ada dan disusul dengan
penjelasan analisis. Penelitian kualitatif mengutamakan pemikiran alamiah yang
bersifat idukatif yakni menjawab masalah tidak harus bertolak pada teori, dan
prinsip-prinsip sebagai kebenaran yang sudah ada,melainkan berdasarkan
kejadian atau fakta-fakta yang sudah terjadi dan muncul di lapangan. Penelitian
deskriptif analisis berarti penelitian yang bermaksud menggambarkan sebuah
situasi yang telah terjadi dan mengandung fenomena, yakni dalam penelitian ini
tentang situasi fungsi dan jenis tindak bahasa dalam iklan layanan masyarakat.
Penelitian ini juga bersifat survey yang mengkumulasi data dasar dari subjek
penelitian dan membahas data itu secara analitik hingga menemukan jalan
keluar dari fenomena subjek itu, dalam hal ini adalah fungsi dan jenis tindak
bahasa pada tuturan pembawa acara Indonesia Lawyers Club, dengan metode
ini penelitian akan difokuskan kepada fungsi dan jenis tindak bahasa pada
tuturan pembawa acara Indonesia Lawyers Club.

3.1.1 Teknik Pemerolehan Data


Teknik pemerolehan atau pengumpulan data yang dilakukan penulis
dalam penelitian ini yaitu menggunakan teknik studi pustaka dan dokumentasi.
Berikut adalah langkah-langkah pengumpulan data yang dilakukan penulis.
1) Studi Pustaka
Teknik studi pustaka ini penulis mengguanakan teori-teori yang
mendukung dan kuat hubungannya dengan masalah yang akan
diteliti. Seetelah itu penulis akan mempelajari teori-teori dari
berbagai buku yang telah diperoleh.

2) Dokumentasi
Teknik ini penulis gunakan untuk memperoleh data penelitian
dengan cara mencari situs resmi Indonesia Lawyers Club, setelah
ditemukan maka penulis akan menyalinnya ke komputer pribadi
untuk didokumentasikan agar mempermudah proses pengolahan
data. Secara garis besar dokumentasi adalah penyaimpanan data atau
segala hal yang dibutuhkan.

3.1.2 Teknik Pengolahan Data


Setelah data diperoleh maka langkah selanjutnya adalah mengolah data
yang telah terkumpul dan mengelompokannya.
1) Untuk menjawab pertanyaan nomor satu peneliti menjawab melalui
langkah-langkah:
a. Menyimak cuplikan video acara Indonesia Lawyers Club di
youtube periode Oktober sampai Desember 2019, dan
memahami makna yang terkandung dalam materi yang sedang
disampaikan oleh pembawa acara tersebut.
b. Melakukan transkripsi cuplikan video acara Indonesia Lawyers
Club di youtube setiap periode Oktober sampai Desember 2019
ke dalam bentuk tulisan
c. Membaca dan memahami fungsi bahasa pada materi yang
terdapat dalam acaraIndonesia Lawyers Club.
d. Menganalisis fungsi bahasa interpersonal, direktif, referensial,
personal, imajinatif, pada setiap tuturan pembawa acara
Indonesia Lawyers Club.
e. Memasukan hasil analisis ke dalam table berikut.

Tabel

Data Analisis Fungsi Pada Tuturan Pembawa Acara


Indonesia Lawyers Club di TV One periode Oktober-
Desember 2019

No. Kalimat Hasil Analisis Fungsi Bahasa

f. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil analisis


Untuk menarik kesimpulan dari hasil analisis, peneliti akan
menghitung jumlah bahasa yang timbul dari setiap tuturan
pembawa acara Indonesia Lawyers Club berdasarkan fungsi
bahasa interpersonal, direktif, referensial, personal,
imajinatifnya.

2) Untuk menjawab pertanyaan nomor dua peneliti menjawab melalui


langkah-langkah.
a. Menganalisis jenis tindak bahasa asertif, direktif, komisif,
direktif, ekspresif, dan deklaratif pada setiap tuturan pembawa
acara Indonesia Lawyers Club. Memasukan hasil analisis ke
dalam tabel berikut.

Tabel

Data Analisis Jenis Tindak Bahasa Pada Tuturan Pembawa


Acara Indonesia Lawyers Club di TV One periode Oktober-
Desember 2019
No. Kalimat Hasil Analisis Jenis Tindak
Bahasa
b. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil analisis
Untuk menarik kesimpulan dari hasil analisis peneliti akan
menghitung jenis tindak bahasa yang timbul dari setiap tuturan
pembawa acara Indonesia Lawyers Club berdasarkan
Menganalisis jenis tindak bahasa asertif, direktif, komisif,
direktif, ekspresif, dan deklaratif.

3.2 Objek Penelitian

Objek penelitian dalam penelitian ini adalah Pembawa acara Indonesia


Lawyers Club Karni Ilyas

JADWAL PENELITIAN

Tahun 2020
Kegiatan Januari Februari Maret April Mei Juni

1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3

Mencari
masalah
(2019)
Membuat
rumusan
masalah
(2019)
Penyusunan
proposal
Sidang SUP

Pengumpula
n data
Analisis data
Penyusunan
skripsi
Sidang SHP
Sidang
skripsi
PERKIRAAN BIAYA

NO. Jenis Pengeluaran Total Biaya


DAFTAR PUSTAKA

Ahyadi didi, dan Ahmad Dedi Mutiadi. (2004). Linguistik Umum. Universitas Kuningan.
Astuti, Budi Sri. “Tindak Tutur Dalam Talkshow Hitam Putih Di Trans 7”. EDU-KATA, Vol. 3,
No. 2, Agustus 2016.
Chaer, Abdul. (2014). Linguistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Chaer Abdul, Leoni Agustina. (2010). Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Fitriah, Farrah. “AnalisisTindak Tutur dalam Novel Marwah di Ujung Bara Karya R.H Fitriadi”
Master Bahasa Vol. 5 No. 1; Januari 2017:51−62.
Leech,Geoffray. (2015). Prinsip-Prinsip Pragmatik. Jakarta: Universitas Indonesia.
Mulyana. (2005). Kajian Wacana: Teori, Metode, dan Aplikasi PrinsipPrinsip Analisis Wacana
Yogyakarta: Tiara Wacana.
Nababan. (2011). Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia.
Siddiq Mohammad. “Tindak Tutur Dan Pemerolehan Pragmatik”. Jurnal KredoVol. 2 No. 2
April 2019.
Sugiyono, (2015). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.
Bandung: IKAPI.
Suhartono, Yuniseffendi. (2014). Pragmatik. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.
Tarigan, Henry Guntur. (2009). Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa.
Yule, George. (2006). Pragmatik. Diterjemahkan oleh: Indah Fajar Wahyuni. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar Offset.