Anda di halaman 1dari 12

TUTORIAL 2 TB

BLOK KEPERAWATAN ANAK

1. Definisi TB
 Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri
Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menyebar melalui droplet orang yang telah
terinfeksi basil tuberculosis (Kemenkes RI 2013: 164).
 TB paru adalah penyakit infeksi menahun menular yang disebabkan oleh kuman TB
(Mycobacterium Tuberculosis). Kuman tersebut biasanya masuk ke dalam tubuh manusia
melalui udara (pernapasan) ke dalam paru-paru, kemudian menyebar dari paru-paru ke
organ tubuh yang lain melalui peredaran darah, yaitu : kelenjar limfe, saluran pernafasan
atau penyebaran langsung ke organ tubuh lain (Depkes RI, 2011).
 Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru
dan dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya, termasuk meninges, ginjal, tulang dan
nodus limfe (Smeltzer & Bare, 2002). Penelitian Yoga (2007) yang juga menyatakan
bahwa TB tidak hanya menyerang paru, tetapi juga dapat menyerang organ tubuh yang
lain seperti kulit (TB kulit), tulang (TB tulang), otak dan saraf (TB otak dan saraf), mata
(TB mata), dan lain-lain. Namun, TB terutama menyerang organ paru-paru sebanyak
80% (PPTI, 2012).
 Tuberkulosis (TB) paru merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh
bakteri dan biasanya menyerang bagian paru-paru manusia (Amin dan Bahar, 2006).
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman
Tuberkulosis (mycobacterium tuberculosa) yang ditularkan melalui udara (droplet nuclei)
saat seorang pasien Tuberkulosis batuk dan percikan ludah yang mengandung bakteri
tersebut terhirup oleh orang lain saat bernapas (Widoyono, 2008). Tuberkulosis paru juga
dapat dirumuskan sebagai suatu penyakit yang menyerang paru dan ditularkan melalui
kuman pada saat batuk dan percikan ludah yang tersebar diudara dan dihirup oleh orang
lain.
 Tuberkulosis (TB) adalah penyakit paru menular yang disebabkan oleh basil tuberkel dan
menyebar saat droplet yang mengandung bakteri aktif terhirup oleh individu yang rentan
(Marrelli, 2008)
 Tuberculosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri
mycobacterium tuberculosa(Price, Silvia A,2006)

2. Etiologi TB

Penyebab tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberculosis, dan Mycobacterium bovis.


Bakteri ini berbentuk batang tipis, lurus atau agak bengkok, bergranular atau tidak
mempunyai selubung, tetapi mempunyai lapisan luar tebal yang terdiri dari lipoid (terutama
asam mikolarit). Sebagian besar bakteri terdiri atas asam lemak atau lipid, kemudian
peptidoglikan dan arabinomanan. Lipid inilah yang membuat bakteri lebih tahan terhadap
asam (asam alkohol) sehingga disebut bakteri tahan asam (BTA) dan juga tahan terhadap
gangguan kimia dan fisis. Mycobacterium tuberculosis dapat bertahan pada udara kering
maupun dalam keadaaan dingin (dapat bertahan bertahun-tahun dalam lemari es). Hal ini
terjadi karena bakteri berada dalam keadaan dormant. Dari sifat dormant ini Mycobacterium
tuberculosis dapat bangkit kembali dan menjadi tuberkulosis aktif lagi.

Bakteri tuberkulosis ini mati pada pemanasan 100ºC selama 5-10 menit atau pada
pemanasan 60ºC selama 30 menit, dan dengan alkohol 70-95% selama 15-30 detik. Bakteri
ini tahan selama 1-2 jam di udara, di tempat yang lembab dan gelap bisa berbulan-bulan
namun tidak tahan terhadap sinar matahari atau aliran udara.
Data pada tahun 1993 melaporkan bahwa untuk mendapatkan 90% udara bersih dari
kontaminasi bakteri memerlukan 40 kali pertukaran udara per jam (Widoyono, 2008).

3. Manifestasi TB
 Berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau berat badan tidak naik dalam 1 bulan
dengan penanganan gizi
 Nafsu makan tidak ada (anoreksia) dengan gagal tumbuh dan berat badan tidak naik
dengan adekuat.
 Sesak nafas. Gejala ini akan ditemukan jika penyakit telah kronis yang infiltrasinya telah
meliputi setengah bagian paru
 Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit
 Demam lama atau berulang, tapi tidak terlalu tinggi (Demam ini hilang timbul keadaan
ini disebabkan oleh beberapa factor diantaranya daya tahan tubuh pasien dan berat
ringannya infeksi kuman TB yang menyerang pasien)
 Nyeri dada. muncul jika infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan
pleuritis. Nyeri muncul saat terjadi gesekan antara kedua pleura saat pasien menarik dan
menghembuskan napas. Bila nyeri bertambah berat berarti telah terjadi pleuritis luas
(nyeri dikeluhkan di daerah aksila, di ujung skapula, atau di tempat-tempat lain
 Malnutrisi atau gangguan gizi
 Multi L (Lemah, letih, lesu, lemah, letoy, loyo, lambat), anak kurang aktif bermain.
 Batuk lama ≥ 3 minggu atau berulang (Batuk ini umumnya terjadi karena iritasi pada
bronkus. Batuk ini berfungsi untuk mengeluarkan produk-produk radang. Sifat batuk
bermula dari batuk kering atau batuk non-produktif tanpa dahak, kemudian setelah
timbul peradangan berlanjut menjadi batuk produktif atau batuk yang menghasilkan
dahak. Jika batuk terus dibiarkan maka batuk akan berlanjut menjadi batuk darah karena
terdapat pembuluh darah yang pecah.)
 Diare berulang/ menetap (> 2 minggu) yang tidak sembuh dengan pengobatan baku diare
 TB menurut Depkes (2008), yaitu batuk berdahak selama dua sampai tiga minggu atau
lebih, dahak bercampur darah, batuk berdarah, batuk ini terjadi karena adanya iritasi
bronkus. Batuk ini diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar. Gejala
lainnya juga berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu
bulan, panas badan penderita TB kadang-kadang dapat mencapai 40-41 ºC. Biasanya
demam ini berupa demam influenza yang hilang timbul, sehingga pasien merasa tidak
pernah terbebas dri serangan demam influenza. Keluhan ini sangat dipengaruhi berat atau
ringannya infeksi kuman yang masuk (Amin dan Bahar, 2006).
 Gejala yang biasanya muncul juga adalah sesak napas. Sesak napas akan ditemukan pada
penyakit yang sudah lanjut, yang infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru-paru.
Malaise juga merupakan salah satu gejala yang biasa dialami oleh penderita TB. Gejala
badan lemas, nafsu makan menurun, malaise sering ditemukan berupa anoreksia tidak
ada nafsu makan, badan makin kurus, sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam,
dan lain-lain. Gejala ini hilang timbul secara tidak teratur juga (Amin dan Bahar, 2006).
 Gejala tuberkulosis menurut strategi yang baru DOTS (directly observed treatment
shortcourse) yaitu gejala utamanya adalah batuk berdahak dan/atau terus-menerus selama
tiga minggu atau lebih, seperti juga pendapat Price dan Wilson (2005) yang menyatakan
gejala utama dari tuberkulosis adalah batuk yang biasanya berlangsung lama dan
produktif yang berdurasi lebih dari 3 minggu. Berdasarkan keluhan tersebut, seseorang
sudah dapat ditetapkan sebagai tersangka. Gejala lainnya adalah gejala tambahan. Dahak
penderita harus diperiksa dengan pemeriksaan mikroskopis.(Widoyono, 2008).

4. Klasifikasi TB

WHO pada tahun 1991 mengkategorikan penyakit tuberkulosis berdasarkan terapi ke dalam
4 kategori, yaitu:

1. Kategori I, ditujukan terhadap:


 Kasus baru dengan sputum positif
 Kasus baru dengan bentuk TB berat

2. Kategori II, ditujukan terhadap:


 Kasus kambuh
 Kasus gagal dengan sputum BTA positif

3. Kategori I, ditujukan terhadap:


 Kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak luas
 Kasus TB ekstra paru selain yang disebut di dalam kategori I

4. Kategori I, ditujukan terhadap TB kronik

Klasifikasi penyakit :
 TB Paru
Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi dalam :
a. TB Paru BTA (+)
1) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA (+).
2) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA (+) dan foto rontgen dada
menunjukan gambaran TB aktif.
3) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA (+) dan biakan kuman TB (+).
4) 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya (+) setelah 3 spesimen dahak SPS
pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA (-) dan tidak ada perbaikan
setelah pemberian antibiotika non OAT.
b. TB Paru BTA (-)
1) Pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA (-).
2) Foto rontgen dada menunjukan gambaran TB aktif.
3) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT, bagi pasien
dengan HIV (-).
4) Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan.
 TB Ekstra Paru
TB yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak,
selaput jantung (pericardium), kelenjar limfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal,
saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.

 Klasifikasi penyakit Tuberkulosis paru

a. Tuberculosis Paru

Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak, TBC Paru dibagi dalam :

1) Tuberkulosis Paru BTA (+) Kriteria hasil dari tuberkulosis paru BTA positif
adalah Sekurang-kurangnya 2 pemeriksaan dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya
BTA (+) atau 1 spesimen dahak SPS hasilnya (+) dan foto rontgen dada
menunjukan gambaran tuberculosis aktif.

2) Tuberkulosis Paru BTA (-) Pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA (-
) dan foto rontgen dada menunjukan gambaran Tuberculosis aktif. TBC Paru
BTA (-), rontgen (+) dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu
bentuk berat dan ringan. Bentuk berat bila gambaran foto rontgan dada
memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas.

b. Tuberculosis Ekstra Paru

TBC ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya, yaitu :


1) TBC ekstra-paru ringan . Misalnya : TBC kelenjar limfe, pleuritis eksudativa
unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.

2) TBC ekstra-paru berat . Misalnya : meningitis, millier, perikarditis, peritonitis,


pleuritis eksudativa duplex, TBC tulang belakang, TBC usus, TBC saluran
kencing dan alat kelamin.

c. Tipe Penderita

Berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya, ada beberapa tipe penderita yaitu:

1) Kasus Baru Adalah penderita yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah
pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (30 dosis harian).

2) Kambuh (Relaps) Adalah penderita Tuberculosis yang sebelumnya pernah


mendapat pengobatan Tuberculosis dan telah dinyatakan sembuh, kemudian kembali
lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA (+).

3) Pindahan (Transfer In) Adalah penderita yang sedang mendapat pengobatan di


suatu kabupaten lain dan kemudian pindah berobat ke kabupaten ini. Penderita
pindahan tersebut harus membawa surat rujukan/pindah (Form TB.09).

4) Setelah Lalai (Pengobatan setelah default/drop out) Adalah penderita yang sudah
berobat paling kurang 1 bulan, dan berhenti 2 bulan atau lebih, kemudian datang
kembali dengan hasil pemeriksaan dahak BTA (+).

5. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan radiologi ialah foto rontgen dada (thorak). Pada pemeriksaan foto thoraks
Tuberculosis dapat memberikan bermacam-macam bentuk. Gambaran radiologik yang dicurigai
sebagai kelainan Tuberculosis yang masih aktif, bila didapatkan gambaran bayangan
berawan/nodular di bagian atas paru, gambaran kavitas (lubang pada paru), dan bayangan bercak
milier (berbintik-bintik putih seukuran jarum pentul yang berupa gambaran nodul-nodul (becak
bulat) miliar yang tersebar pada lapangan paru)

2. Pemeriksaan BakteriologiPemeriksaan bakteriologi untuk menentukan kuman


tuberkulosis mempunyai arti yang sangat penting dalam penegakkan diagnosa. Macam-
macam pemeriksaan bakteriologik ialah, pemeriksaan yang
menggunakan mikroskop biasa yang diberikan pewarnaan khusus dimana bakteri
Mycobacterium tuberculosa akan tetap tahan terhadap asam (tetap memberikan warna
merah) sehingga disebut sebagai bakteri tahan asam (BTA). Dahak diambil sebanyak 3
kali yaitu dahak sewaktu, pagi dan sewaktu yang dilakukan secara berturut-turut, bila
didapatkan hasil 2 kali positif maka dikatakan mikroskopik BTA (+), bila 1 kali positif, 2
kali negatif maka pemerisaan BTA perlu diulang kembali. Pada pemeriksaan ulangan
didapatkan 1 kali positif maka dikatakan mikroskopik BTA (+), sedangkan bila tiga kali
negatif hasil pemeriksan dikatakan BTA(-). Hasil pemeriksaan darah rutin kurang
menunjukkan indikator yang spesifik untuk tuberkulosis. Biasanya akan dijumpai
peningkatan Laju Endap Darah (LED) namun nilai LED yang normal tidak
menyingkirkan diagnosis. Selain itu dapat dijumpai limfositosis (tingginya kadar limfosit-
salah satu jenis sel darah putih) pada hitung jenis leukosit (sel darah putih ).
3. Pemeriksaan test tuberkulin Pemeriksaan test tuberkulin ini sangat berarti dalam usaha
mendeteksi infeksi Tuberculosis. Di Indonesia karena angka prevalensi (kasus)
Tuberculosis paru yang tinggi maka test tuberkulin sebagai alat bantu diagnosis. Ekstrak
basil tuberkel (tuberkulin) disuntikan ke dalam lapisan intrakutan di lengan bawah,
sekitar 10 cm dari siku. 0,1 ml Purified Protein Derivate (PPD) yang dimurnikan di
suntikan dengan menggunakan jarum 1,25 cm no. 26 atau 27 ditusukan kebawah kulit
dengan bevel jarum menghadap ke atas. Hasil pemeriksaan akan terlihat 48 sampai 72
jam setelah suntikan. Test dianggap positif bila terjadi pembengkakan atau kemerahan
melebihi ukuran 5 mm sampai 10 mm.
4. Ziehl-neelseh (pemeriksaan asam cepat pada gelas kaca untuk ucapan cairan darah) , yaitu positif
untuk basil asam-cepat.
5. Tes kulit (PPD,mantoux,potogan vollmer), yaitu reaksi positif (area indurasi 10mm/ lebih
besar,terjadi 48-72 jam setelah injeksi intradelmal antigen) menunjukkan infeksi masa lalu dan
adanya anti bodi tetapi tidak secara berarti menunjukkan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada
pasien yang secara klinik sakit berarti bahwa tuberculosis aktif tidak dapat di turunkan/infeksi di
sebabkan oleh mycrobacterium yang berada.
6. ELISA/ wastern blot, yaitu dapat menyatakan adanya HIV.
7. Histology/kultur jaringan (termasuk pembersihan gaster, urine dan cairan serebrospinal biospi
kulit), yaitu positif untuk mycrobacterium tuberculosis.
8. Biopsi jarum pada jaringan paru, positif utr granuloma tuberculosis ; adanya sel raksasa
menunjukkan nekrosis.
9. Elektrolit, dapat tidak normal tergantung padalokasi dan beratnya infeksi ; contoh hiponat reqmia
disebabkan oleh tidak normalnya resisten air dapat ditemukan pada tuberkulosis paru kronis luas.
10. GAD : dapat normal tergantung lokasi,berat dan kerusakan sisa pada paru.
11. Pemeriksaan fungsi paru : penurunan kapasitas vital,peningkatan ruang mati,peningkatan rasio
udara residu dan kapasitas paru total,dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi
parenkim/fibrosis kehilangan jaringan paru,dan penyakit pleural (tuberkulosis paru kronis luas).

6. Penatalaksanaan

 Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dapat diklasifikasi menjadi 2 jenis regimen, yaitu regimen
obat lini pertama dan lini kedua. Kedua lini obat ini diarahkan ke penghentian
pertumbuhan basil, pengurangan basil dorman, dan pencegahan terjadinya resistensi.
Obat-obatan lini pertama terdiri dari isoniazid (INH), rifampisin, pirazinamid, etambutol,
dan streptomisin. Obat-obatan lini kedua mencakup rifabutin, etionamid, sikloserin, PAS
(para amino salicylic acid), klofazimin, aminoglikosid di luar streptomisin dan quinolon.

 Streptomisin merupakan salah satu obat anti tuberkulosis pertama yang ditemukan.
Streptomisin adalah antibiotik golongan aminoglikosida yang harus diberikan secara
parenteral dan bekerja mencegah pertumbuhan organisme ekstraseluler.

 Perawatan yang harus dilakukan pada penderita tuberculosis adalah :

- Mencukupi kebutuhan gizi seimbang penderita

- Istirahat teratur minimal 8 jam per hari

- Mengingatkan penderita untuk periksa ulang dahak pada bulan kedua, kelima dan enam

- Menciptakan lingkungan rumah dengan ventilasi dan pencahayaan yang baik

- Awasi penderita minum obat, yang paling berperan disini adalah orang terdekat yaitu
keluarga.

- Mengetahui adanya gejala efek samping obat dan merujuk bila diperlukan

- yaitu diit tinggi kalori tinggi protein (TKTP), hindari merokok dan minuman alkohol,
istirahat yang cukup (tirah baring), mengajarkan batuk efektif,
Tujuan pengobatan Tuberculosis ialah memusnahkan basil tuberkulosis dengan cepat dan
mencegah kambuh
Obat yang digunakan untuk Tuberculosis digolongkan atas dua kelompok yaitu :
 Obat primer : INH (isoniazid), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin, Pirazinamid.
Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih dapat ditolerir,
sebagian besar penderita dapat disembuhkan dengan obat-obat ini.
 Obat sekunder : Exionamid, Paraminosalisilat, Sikloserin, Amikasin, Kapreomisin dan
Kanamisin.

Pemberian Obat Anti Tuberculosis pada anak terbagi berdasarkan pembagian klasifikasi
yang membagi tuberculosis menjadi dua stadium.
1. Tuberculosis primer, yang merupakan kompleks primer serta komplikasinya, pada penderita
ini diberikan 2HR/7H2R2 : INH+Rifampisin setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian
INH +Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 7 bulan (ditambahkan Etambutol
bila diduga ada resistensi terhadap INH). Diberikan kepada:
1. Penderita baru Tuberculosis paru BTA positif.
2. Penderita Tuberculosis ekstra paru (Tuberculosis di luar paru-paru) berat.
3. Penderita kambuh.
4. Penderita gagal terapi.
5. Penderita dengan pengobatan setelah lalai minum obat.
2. Tuberculosis pascaprimer yang merupakan pemberian obat kepada penderita BTA (+) dan
rontgen paru mendukung aktif, yang terdiri dari 2HRZ/4H2R2 :
INH+Rifampisin+Pirazinamid: setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian
INH+Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 4 bulan (ditambahkan Etambutol
bila diduga ada resistensi terhadap INH).

7. Komplikasi
 Komplikasi dini: pleurutis, efusi pleura, empiema, laringitis, usus, Poncet’s arthropathy.
 Komplikasi lanjut: obstruksi jalan napas -> SOFT (Sindrom Obstruksi Pasca
Tuberkulosis), kerusakan parenkim berat -> SOPT/fibrosis paru, kor pulmonal,
amiloidosis, karsinoma paru, sindrom gagal napas dewasa (ARDS), sering terjadi pada
TBC milier dan kavitas TBC (Sudoyo, 2007). Komplikasi penderita stadium lanjut
adalah hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat
mengakibatkan kematian karena syok, kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru,
penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal, dan sebagainya
(Zulkoni, 2010).
 Menurut & Depkes. merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita
tuberculosis paru stadium lanjut yaitu:
- Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas ba+ah) yang dapat
mengakibatkankematian karena syok hipo'olemik atau karena tersumbatnya jalan napas!
- Atelektasis (parumengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat
retraksi bronchial
- Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada
proses pemulihan atau reaktif) pada paru
- penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan ginjal

8. PATOFISIOLOGI
Tempat masuk kuman M.tuberculosis adalah saluran pernafasan, saluran pencernaan,
dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberkulosis terjadi melalui udara (airborne),
yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari
orang yang terinfeksi. Saluran pencernaan merupakan tempat masuk utama jenis bovin, yang
penyebarannya melalui susu yang terkontaminasi.
Tuberkulosis adalh penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas perantara sel. Sel
efektornya adalah makrofag, sedangkan limfosit (biasanya sel T) adalah sel imunoresponsifnya.
Tipe imunitas seperti ini biasanya lokal, melibatkan makrofag yang diaktifkan di tempat infeksi
oleh limfosit dan limfokinnya. Respon ini disebut sebagai reaksi hipersensitivitas (lambat)
Nekrosis bagian sentral lesi memberikan gambaran yang relatif padat dan seperti keju,
lesi nekrosis ini disebut nekrosis kaseosa. Daerah yang mengalami nekrosis kaseosa dan jaringan
granulasi di sekitarnya yang terdiri dari sel epiteloid dan fibroblast, menimbulkan respon
berbeda. Jaringan granulasi menjadi lebih fibrosa membentuk jaringan parut yang akhirnya akan
membentuk suatu kapsul yang mengelilingi tuberkel. Lesi primer paru-paru dinamakan fokus
Gohn dan gabungan terserangnya kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan
kompleks Gohn respon lain yang dapat terjadi pada daerah nekrosis adalah pencairan, dimana
bahan cair lepas kedalam bronkus dan menimbulkan kavitas. Materi tuberkular yang dilepaskan
dari dinding kavitas akan masuk ke dalam percabangan trakeobronkhial. Proses ini dapat akan
terulang kembali ke bagian lain dari paru-paru, atau basil dapat terbawa sampai ke laring, telinga
tengah atau usus. Kavitas yang kecil dapat menutup sekalipun tanpa pengobatan dan
meninggalkan jaringan parut bila peradangan mereda lumen bronkus dapat menyempit dan
tertutup oleh jaringan parut yang terdapat dekat perbatasan rongga bronkus. Bahan perkejuan
dapat mengental sehingga tidak dapat mengalir melalui saluran penghubung sehingga kavitas
penuh dengan bahan perkejuan dan lesi mirip dengan lesi berkapsul yang tidak terlepas keadaan
ini dapat menimbulkan gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan bronkus
dan menjadi tempat peradangan aktif. Penyakit dapat menyebar melalui getah bening atau
pembuluh darah. Organisme yang lolos dari kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah
dalam jumlah kecil dapat menimbulkan lesi pada berbagai organ lain. Jenis penyebaran ini
dikenal sebagai penyebaran limfohematogen, yang biasanya sembuh sendiri. Penyebaran
hematogen merupakan suatu fenomena akut yang biasanya menyebabkan tuberkulosis milier. Ini
terjadi apabila fokus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga banyak organisme masuk
kedalam sistem vaskular dan tersebar ke organ-organ tubuh.

9. Askep
10. IRK

Rasulullah bersabda, "Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka
janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka
janganlah kelian meninggalkan tempat itu," (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)
Ini merupakan metode karantina yang telah diperintahkan Nabi Muhammad SAW untuk
mencegah wabah tersebut menjalar ke negara-negara lain. Untuk memastikan perintah tersebut
dilaksanakan, Nabi Muhammad mendirikan tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah dan
menjanjikan bahwa mereka yang bersabar dan tinggal akan mendapatkan pahala sebagai mujahid
di jalan Allah, sedangkan mereka yang melarikan diri dari daerah tersebut diancam malapetaka
dankebinasaan.
Peringatan kehati-hatian pada penyakit lepra juga dikenal luas pada masa hidup Nabi
Muhammad SAW. Rasulullah menasihati masyarakat agar menghindari penyakit lepra. Dari
hadis Abu Hurairah, Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, "Jauhilah orang
yang terkena lepra, seperti kamu menjauhi singa."

Hadits Muslim Nomor 4115

Setelah sampai di Saragh, dia mendengar bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di
Syam....bersabda: 'Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, maka janganlah
kamu datangi negeri...itu....Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada,
janganlah kamu keluar dari negeri itu...karena hendak melarikan diri darinya.'

hadits Hadits Tirmidzi Nomor 985


dari ['Amir bin Sa'ad] dari [Usamah bin Zaid] bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
menyebutkan tentang...tha'un, beliau bersabda: "(Tha'un itu) adalah sisa-sisa kekejian atau siksa
yang dikirimkan kepada segolongan...dari Bani Isra`il. jika kamu sedang berada pada suatu
tempat dan ada wabah tersebut, maka janganlah...kalian keluar darinya....Jika terjadi pada suatu
daerah, dan kalian tidak sedang tidak di dalamnya maka janganlah kalian memasukinya