Anda di halaman 1dari 27

C.

Komunikasi budaya
Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang
memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan dari
semua perbedaan ini. Menurut Stewart L. Tubbs,komunikasi antarbudaya adalah komunikasi
antara orang-orang yang berbeda budaya (baik dalam arti ras, etnik, atau perbedaan-perbedaan
sosio ekonomi).Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok
orang serta berlangsung dari generasi ke generasi. Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi
antarbudaya sebagai human flow across national boundaries. Misalnya; dalam keterlibatan suatu
konfrensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan
berkomunikasi satu sama lain. Sedangkan Fred E. Jandt mengartikan komunikasi antarbudaya
sebagai interaksi tatap muka di antara orang-orang yang berbeda budayanya.
Intercultural communication generally refers to face-to-face interaction among people of diverse
culture.
Guo-Ming Chen dan William J. Sartosa mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya adalah
proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku manusia dan
membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok. Selanjutnya komunikasi
antarbudaya itu dilakukan:

1. Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang


membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang dipertentangkan.
Simbol tidak sendirinya mempunyai makna tetapi dia dapat berarti ke dalam satu konteks
dan makna-makna itu dinegosiasikan atau diperjuangkan;
2. Melalui pertukaran sistem simbol yang tergantung daripersetujuan antarsubjek yang
terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi dalam proses
pemberian makna yang sama;
3. Sebagai pembimbing perilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena
mempunyai pengaruh terhadap perilaku kita;
4. Menunjukkan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari
kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan berbagai cara.
5. Hambatan
6.
Etnosentrisme
7.
Disatu studi kasus, Orang Indonesia merasa sakit hati dengan perlakuan American yang
memberi buku dengan Tagnan kiri, sebab orang Indonesia sudah menanamkan suatu
pijakan tata krama, bahwasanya memberi dengan tangan kiri, merupakan bentuk
ketidaksopanan. Padahal dalam kenyataannya, orang Amerika tidak bermaksud demikian.
Hal yang seperti itu, dinamakan Etnosentrisme. Etnosentrisme menurut Sumner, ialah “
memandang segala sesuatu dalam kelompok sendiri sebagai pusat segala sesuatu itu, dan
hal-hal lainnya diukur dan dinilai berdasarkan rujukan kelompoknya “ ( dalam
Gudykunst dan Kim, 1985 : 5 ). Pandangan-pandangan etnosentrik itu antara lain
berbentuk stereotip, yakni suatu generalisasi atas sekelompok orang, obyek, atau
peristiwa yang secara luas dianut suatu budaya. Itulah yang juga terjadi di Indonesia.
Indonesia terdiri dari berbagai macam etnis, sehingga menimbulkan permasalahan
kegiatan komunikasi satu sama lain. Jangankan dengan yang berbeda etnis, bahkan yang
satu etnis pun terkadang terjadi miss-understanding.
Sangat disayangkan, proses Komunikasi yang memiliki pesan yang akan disampaikan,
ternyata menimbulkan effect yang berbeda. Sehingga terjadilah komunikasi yang tidak
efektif.
8.
Perbedaan Kode Komunikasi
9.
Apabila kita bepergian ke Negara yang berbeda, maka kita akan menemukan bahasa yang
berbeda pula di tiap negaranya. Disini kita akan mengalami sebuah kesulitan dalam
berkomunikasi, karena komunikasi yang mereka lakukan dijalankan dengan media
bahasa yang bukan merupakan bahasa yang biasa kita gunakan sehari-hari. Sedangkan
bahasa adalah salah satu elemen terpenting dalam sebuah komunikasi. Mungkin kita akan
berusaha memahami maksud dari orang yang berbicara dengan kita itu melalui gerak
gerik yang dilakukannya, namun cara seperi ini tidak selalu berhasil. Karena hal tersebut
akan tetap mengurangi makna dari maksud pembicaraan tersebut.

Stereotip dan Prasangka


10.
Stereotip adalah menempatkan seseorang atau kelompok dari orang-orang menuju
ketidakfleksibelan, semua kategori yang tidak menunjukkan arah. Streotip akan menjadi
hamabatan dalam melakukan komunikasi antar pribadi secara efektif apabila kita gagal
menyadari keunikan dari individu, kelompok, dan peristiwa.2 antropologis menganjurkan
bahwa setiap orang, dari beberapa respek, 1. seperti semua orang, 2. seperti sebagian
orang, 3. tidak seperti siapapun. Tantangan ketika bertemu orang lain adalah untuk
menyerupai bagaimana penampilan dan keunikan orang mereka.
Suatu penilaian dan opini tentang orang lain sebelum mengetahui bagaimana latar
belakang dan kenyataan sebenarnya tentang orang itu. Menghalangi komunikasi yang
efektif, khususnya apabila jati diri kita tidak akurat atau mengasumsikan superioritas
pada bagian kita.
Assuming Similarity
Menjadi sesuatu yang tidak akurat berasums bahwa semua orang yang termasuk kedalam
kelompok atau kelas sosial lain sangat bertolak belakang dengan kehidupan kita, hal ini
biasanya sangat ironis untuk berasumsi bahwa orang lain berperilaku dan berpikir sama
seperti kita.

Adapun etika komunikasi antar budaya adalah sebagai berikut :

1. Jujur pada diri sendiri

Sebelum melakukan komunikasi antar budaya, ada baiknya kita memiliki penilaian yang jujur
terkait dengan gaya komunikasi, keyakinan, dan prasangka yang dimiliki. Hal ini dikarenakan
sikap yang kita miliki terhadap perbedaan budaya dapat berpengaruh pada cara kita
berkomunikasi dengan orang lain.

2. Menerapkan perilaku komunikasi yang suportif


Berbagai macam perilaku suportif dapat meningkatkan tingkat efektivitas komunikasi antar
budaya. Salah satu contoh perilaku komunikasi yang suportif adalah sikap empati terhadap
orang lain. Yang dimaksud dengan empati adalah memahami perspektif orang lain dari sudut
pandang yang bersangkutan. Dengan bersikap empati, maka kita tidak akan gegabah dalam
memberikan penilaian terhadap orang lain.

3. Mengembangkan kepekaan terhadap keberagaman

Manusia diciptakan dengan berbagai macam perbedaan latar belakang seperti suku bangsa, ras,
dan lain-lain. Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain sejatinya kita sedang belajar
mengenai berbagai hal dari orang lain. Keberagaman yang kita miliki memberikan peluang lebih
banyak bagi kita untuk belajar. Untuk itulah, kita perlu menyediakan waktu untuk mempelajari
budaya orang lain.

4. Menghindari stereotype

Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain yang memiliki perbedaan budaya dengan kita, ada
baiknya kita menghindari membuat generalisasi atau asumsi-asumsi tentang latar belakang
budaya orang lain. Lebih baik kita mencari tahu melalui orang yang bersangkutan.

5. Menghindari etnosentrisme

Masing-masing individu memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Tidak dipungkiri bahwa
orang akan merasa bahwa budaya mereka adalah budaya yang terbaik dibandingkan dengan
budaya orang lain. Namun perlu dipahami bahwa suatu budaya juga memiliki kelebihan dan
kekurangan. Dengan kita mengetahui dan memahami kelebihan dan kekurangan budaya yang
kita miliki dan bersedia mempelajari budaya orang lain maka kita akan dapat berkomunikasi
dengan efektif dengan orang yang bersangkutan.

6. Mengembangkan kode kepekaan

Kode kepekaan merujuk pada kemampuan untuk menggunakan bahasa verbal dan bahasa
nonverbal yang sesuai dengan norma budaya seseorang yang menjadi lawan bicara. Semakin
banyak kita mengetahui tentang budaya orang lain maka akan semakin mudah bagi kita untuk
beradaptasi.

7. Mencari kode bersama

Salah satu kunci untuk mencari kode bersama adalah bersedia untuk berpikiran terbuka
mengenai perbedaan dan di saat yang bersamaan kita menentukan gaya komunikasi yang akan
digunakan agar dapat beradaptasi selama komunikasi antar budaya.

8. Menggunakan dan mendorong umpan balik deskriptif


Umpan balik yang efektif dapat mendorong adaptasi dan hal ini sangat penting dalam
komunikasi antar budaya. Partisipan komunikasi harus bersedia untuk menerima umpan balik
dan menampilkan sikap suportif. Umpan balik yang diberikan hendaknya bersifat segera, jujur,
spesifik, dan jelas.

9. Membuka saluran komunikasi

Komunikasi antar budaya tidaklah mudah. Oleh karenanya, kita perlu mengembangkan sikap
sabar selama berinteraksi dengan orang lain agar pemahaman bersama dapat tercapai.

10. Mau mendengarkan

Hal tersulit yang kita lakukan saat berkomunikasi dengan orang lain adalah bersedia
mendengarkan apa yang dikatakan orang lain. Orang yang memiliki kekuasaan cenderung tidak
memiliki motivasi untuk mau mendengarkan orang lain. Mendengarkan tidak hanya sekedar
menanyakan sesuatu kepada orang lain melainkan mendidik diri kita sendiri. Jangan sampai kita
menunggu orang lain untuk mendidik diri kita.

Konsep-konsep dasar Anxiety/Uncertainty Management Theory:


a. Konsep diri dan diri.Meningkatnya harga diri ketika berinteraksi dengan orang asing akan
menghasilkan peningkatan kemampuan mengelola kecemasan.
b. Motivasi untuk berinteraksi dengan orang asing.Meningkatnya kebutuhan diri untuk masuk di
dalam kelompok ketika kita berinteraksi dengan orang asing akan menghasilkan sebuah
peningkatan kecemasan.
c. Reaksi terhadap orang asing.Sebuah peningkatan dalam kemampuan kita untuk memproses
informasi yang kompleks tentang orang asing akan menghasilkan sebuah peningkatan
kemampuan kita untuk memprediksi secara tepat perilaku mereka.Sebuah peningkatan untuk
mentoleransi ketika kita berinteraksi dengan orang asing menghasilkan sebuah peningkatan
mengelola kecemasan kita dan menghasilkan sebuah peningkatan kemampuan memprediksi
secara akurat perilaku orang asing.Sebuah peningkatan berempati dengan orang asing akan
menghasilkan suatu peningkatan kemampuan memprediksi perilaku orang asing secara akurat.
d. Kategori sosial dari orang asing.Sebuah peningkatan kesamaan personal yang kita persepsi
antara diri kita dan orang asing akan menghasilkan peningkatan kemampuan mengelola
kecemasan kita dan kemampuan memprediksi perilaku mereka secara akurat. Pembatas kondisi:
pemahaman perbedaan-perbedaan kelompok kritis hanya ketika orang orang asing
mengidentifikasikan secara kuat dengan kelompok.Sebuah peningkatan kesadaran terhadap
pelanggaran orang asing dari harapan positif kita dan atau harapan negatif akan menghasilkan
peningkatan kecemasan kita dan akan menghasilkan penurunan di dalam rasa percaya diri dalam
memperkrakan perilaku mereka.
e. Proses situasional.Sebuah peningkatan di dalam situasi informal di mana kita sedang
berkomunikasi dengan orang asing akan menghasilkan sebuah penurunan kecemasan kita dan
sebuah peningkatan rasa percaya diri kita terhadap perilaku mereka.f. Koneksi dengan orang
asing.Sebuah peningkatan di dalam rasa ketertarikan kita pada orang asing akan menghasilkan
penurunan kecemasan kita dan peningkatan rasa percaya diri dalam memperkirakan perilaku
mereka.Sebuah peningkatan dalam jaringan kerja yang kita berbagi dengan orang asing akan
menghasilkan penurunan kecemasan kita dan menghasilkan peningkatan rasa percaya diri kita
untuk memprediksi perilaku orang lain
Sarbaugh (1979) berpendapat bahwa pengertian tentang komunikasi antar budaya
memerlukan suatu pemahaman tentang konsep-konsep komunikasi dan kebudayaan serta adanya
saling ketergantungan antara keduanya. Sementara Smith (1966) menerangkan hubungan yang
tidak terpisahkan antara komunikasi dan kebudayaan. “communication is at the heart of
civilization”[3] (kuhn 1963: 151). Menurut Smith kebudayaan merupakan suatu kode atau
kumpulan peraturan yang dipelajari dan dimiliki bersama. Untuk mempelajari dan memiliki
bersama diperlukan komunikasi, sedangkan komunikasi memerlukan kode-kode dan lambang-
lambang yang harus dipelajari dan dimiliki bersama.
Kebudayaan dimiliki oleh sekelompok orang atau masyarakat dalam suatu periode
tertentu. Untuk mewariskan kepada generasi berikutnys. Serta dikembangkan keberbagai tempat
diperlukan jasa komunikasi dengan kata lain kebudayaan dirumuskan dibentuk ditransmisikan
serta dipelajari melalui komunikasi. Adanya komunikasi diantara individu tergabung pada
kebudayaannya. Kebudayaan yang berbeda akan menghasilkan komunikasi yang berbeda pula.
Melalui komunikasi kita membentuk kebudayaan dan sebaliknya melalui kebudayaan ditentukan
aturan dan pola-pola komunikasi.[4] “communication is the foundation of our culture “ (Stanley
I. baran dalam introduction to mass communication : media literacy and culture (1999 : 9).
Menurut fiske, budaya bias membatasi dan memisahkan atau membebaskan dan
menyatukan. Ia menawarkan kepada kita kesempatan yang tak terbatas untuk
menggunakan komunikasi untuk hal – hal yang baik jika kita memilih melakukan hal
demikian. Dalam pengantarnya fiske menegaskan bahwa komunikasi adalah sentral bagi
kehidupan budaya kita. “
tanpa komunikasi, kebudayaan dari jenis apapun akan mati konsekuensinya. Studi komuni
kasi melibatkan studi kebudayaan yang dengannya ia berintegrasi ”[5] ujar fiske.
Penciptaan dan pemeliharaan budaya yang kurang lebih sama berlangsung melalui
komunikasi termasuk komunikasi massa. Komunikan sebagai elemen dasar dalam konstruksi
budaya[6]
Face-Negotiation Theory.
Teori yang dipublikasikan Stella Ting-Toomey ini membantu menjelaskan perbedaan –
perbedaan budaya dalam merespon konflik. Ting-Toomey berasumsi bahwa orang-orang dalam
setiap budaya akan selalu negotiating face. Istilah itu adalah metaphor citra diri publik kita, cara
kita menginginkan orang lain melihat dan memperlakukan diri kita. Face work merujuk pada
pesan verbal dan non verbal yang membantu menjaga dan menyimpan rasa malu (face loss), dan
menegakkan muka terhormat. Identitas kita dapat selalu dipertanyakan, dan kecemasan dan
ketidakpastian yang digerakkan oleh konflik yang membuat kita tidak berdaya/harus terima.
Postulat teori ini adalah face work orang-orang dari budaya individu akan berbeda dengan
budaya kolektivis. Ketika face work adalah berbeda, gaya penangan konflik juga
beragam.Terdapat tiga perbedaan penting diantara budaya individulis dan budaya kolektivis.
Perbedaan-perbedaan itu adalah dalam cara mendefinisikan: diri; tujuan-tujuan; dan kewajiban.
konsep Budaya individualis Budaya kolektivis
Diri Sebagai dirinya sendiri Sebagai bagian kelompok
Tujuan Tujuan diperuntukan Tujuan diperuntukan
kepada pencapaian kepada pencapaian
kebutuhan diri. kebutuhan kelompok
Kewajiban Melayani diri sendiri Melayani kelompok/orang
lain.
Teori ini menawarkan model pengelolaan konflik sebagai berikut:
a. Avoiding (penghindaran) – saya akan menghindari diskusi perbedaan-perbedaan saya dengan
anggota kelompok.
b. Obliging (keharusan) – saya akan menyerahkan pada ke kebijakan anggota kelompok.
c. Compromising – saya akan menggunakan memberi dan menerima sedemikian sehingga suatu
kompromi bisa dibuat.
d. Dominating – saya akan memastikan penanganan isu sesuai kehendak-ku.
e. Integrating – saya akan menukar informasi akurat dengan anggota kelompok untuk
memecahkan masalah bersama-sama.
Face-negotiation teory menyatakan bahwa avoiding, obliging, compromising, dominating, dan
integrating bertukar-tukar menurut campuran perhatian mereka untuk self-face dan other -
face.Obliging Avoiding Compromising Integrating DominatingLow Self-Face ConcernHigh
Loww High

PENGERTIAN KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA


Istilah antarbudaya pertama kali diperkenalkan oleh Edward T.Hall pada tahun 1959 dalam
bukunya The Silent Language. Perbedaan antarbudaya dalam berkomunikasi baru dijelaskan
oleh David K. Berlo (1960) melalui bukunya The Process of Communication (an introduction to
theory and practice). Barlo (1960) menggambarkan proses komunikasi dalam model yang
diciptakannya. Menurutnya, komunikasi akan tercapai jika kita memperhatikan faktor-faktor
SMCR (Sources, Message, Channel, and Receiver). Antara sources dengan receiver yang
diperhatikan adalah kemampuan berkomunikasi, sikap, pengetahuan sistem sosial, dan
kebudaayaan. Namun, dalam hal ini, komunikasi antarbudaya yang dijelaskan melalui teori
etnosentrisme ini berbasis pada konteks komunikasi kelompok (etnik).
Berikut ini adalah beberapa pengertian komunikasi antar budaya yang di kutip dari
berbagai sumber[1] :
“intercultural communication … the art of understanding and being understood by the
audience of anotjer culture.” (sitaram 1970) yang berarti “komunikasi antar budaya adalah seni
untuk memahami dan dipahami untuk khalayak yang memiliki kebudayan lain.”
“communication is cultural when occurring between peoples of different culture” (rich,
1974) artinya “komunikasi bersifat budaya apabila terjadi diantara orang-orang yang berbeda
kebudayaannya”
Intercultural communication … communication in which occurs undercondition of
cultural difference language, values, costumes, and habits” (stewart 1974) artinya “komunikasi
antar budya adalah komunikasi yang terjadi dalam suatu kondisi yang menunjukkan adnya
perbedaan budaya seperti bahasa, nilai-nilai, adat, kebiasan”
“intercultural communication … interaction between members of differing cultures”
(sitaram & cogdells) artinya “ komunikasi antar budaya adalah interaksi antara para anggota
masyarakat yang berbeda kebudayannya “
“intercultural culture is the process of exchange of thoughts and meaning between people
of differing cultures” (Gerhard maletzke) yang berarti “komunikasi antar budaya adalah proses
pertukaran pikiran dan makna yang terjadi diantara orang-orang yang berbeda kebudayaannya.”
“intercultural coomunication … refers to the communication phenomenon in which
participants, different in culture backgrounds, come into direct, or indirect contact with one
another” (young yung kim, 1984) yang berarti “ komunikasi antar budaya menunjuk pada suatu
fenomena komunikasi dimana para pesertanya masing-masing memiliki latar belakang budaya
yang berbeda terlibat dalam suatu kontak antara stu dengan yang lainnya baik secara langsung
maupun tidak langsung.”
Definisi lain diberikan oleh Liliweri bahwa proses komunikasi antar budaya merupakan
interaksi antarpribadi dan komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang
memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda (2003, p. 13). Apapun definisi yang ada
mengenai komunikasi antar budaya (intercultural communication) menyatakan bahwa
komunikasi antar budaya terjadi apabila terdapat 2 (dua) budaya yang berbeda dan kedua budaya
tersebut sedang melaksanakan proses komunikasi.
Dari seluruh definisi tersebut, penekanan lebih pada perbedaan kebudayaan sebagai
factor yang menentukan dalam berlangsungnya proses komunikasi. Walaupun komunikasi antar
budaya mengakui dan mengurusi permasalahan tentang persamaan – persamaan dan perbedaan
dalam karakteristik kebudayaan antara pelaku komunikasi, tetapi titik perhatian utamanya adalah
pada proses komunikasi antara individu-individu atau kelompok-kelompok yang berbeda
kebudayaanyang mencoba untuk berinteraksi.
Pada dasarnya komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi antara individu-
individu atau kelompok-kelompok orang yang berbeda latar belakang kebudayaannya. Terdapat
3 faktor yang mendorong perkembangan studi komunikasi antar budaya yaitu kesadaran
internasional, kesadaran domestic, dan kesadaran pribadi.
Karena itulah menurut Schraman (dalam Mulyana dan Rakhmat, 2001:6-7), untuk mencapai komunikasi
antarbudaya yang benar-benar efektif ada beberapa hal yang harus kita perhatikan, yaitu: (1)
menghormati anggota budaya lain sebagai manusia; (2) menghormati budaya lain sebagaimana apa
adanya dan bukan sebagaimana yang dikehendaki; (3) menghormati hak anggota budaya lain untuk
bertindak berbeda dari cara bertindak; dan (4) komunikator lintas budaya yang kompeten harus belajar
menyenangi hidup bersama orang dari budaya lain.

Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam memahami kominikasi antarbudaya, yaitu persepsi,
komunikasi verbal, dan komunikasi nonverbal. Ketiga elemen ini merupakan bangunan dasar yang
menyebabkan kegagalan, sekaligus keberhasilan komunikasi antar budaya.
1. Persepsi
Persepsi adalah proses mengungkap arti objek-objek sosial dan kejadian-kejadian yang kita alami dalam
lingkungan kita. Setiap orang akan memiliki gambaran yang berbeda mengenai realitas di sekelilingnya.
Persepsi sosial tidaklah sesederhana persepsi terhadap lingkungan fisik. Persepsi sosial, yang muncul
dalam komunikasi mengandung beberapa prinsip penting (Mulyana, 2003:176), yaitu: (a) persepsi
berdasar pengalaman; (b) persepsi bersifat selektif; (c) persepsi bersifat dugaan; (d) persepsi bersifat
evaluatif; dan (e) persepsi bersifat kontekstual.

a. Persepsi berdasarkan pengalaman


Persepsi manusia terhadap seseorang, objek, atau kejadian dan reaksi mereka terhadap hal-hal itu
berdasarkan pengalaman/pembelajaran masa lalu mereka berkaitan dengan orang, objek atau kejadian
serupa. Cara seseorang menilai wanita ideal, suami ideal, pekerjaan, sekolah, perilaku yang pantas, cara
berpakaian yang lazim dan lain sebagainya sangat tergantung pada apa yang telah di ajarkan oleh
budaya dimana orang tersebut berada.
Ilustrasi berikut ini memperjelas prinsip ini. Orang Barat yang terbiasa makan dengan sendok, garpu dan
pisau akan menganggap orang Timur yang makan dengan tangan sebagai hal jorok, meskipun alat-alat
makan yang mereka gunakan sudah sering digunakan orang lain, semantara orang Timur yang makan
yang selalu menggunakan tangannya sendiri yang belum pernah digunakan orang lain. Di Barat
umumnya, juga sebagian besar wilayah Indonesia, bersendawa ketika atau setelah makan adalah
perilaku yang tidak sopan, bahkan di Swedia seorang tamu yang bersendawa seusai makan dapat
membuat nyonya rumah pingsan, sementara di Arab, Cina, Jepang, dan Fiji, juga di Aceh dan Sumatera
Barat, bersendawa malah di anjurkan karena hal itu menanamkan penerimaan makanan dan kepuasan
makan. Demikian juga dalam berbicara dengan intonasi yang tinggi, bagi orang Jawa dinilai kurang
begitu sopan, namun beberapa kultur seperti orang Sulawesi, Sumatera, Kalimantan adalah sebuah
kewajaran.

b. Persepsi Bersifat Selektif


Setiap saat seseorang akan diberondongi oleh jutawan rangsangan inderawi. Untunglah ada atensi pada
manusia, sehingga orang hanya akan menangkap rangsangan-rangsangan yang menarik perhatiannya
saja. Ada dua faktor yang mempengaruhi atensi ini, yaitu (1) faktor internal; dan (2) faktor eksternal.
Faktor internal antara lain dipengaruhi oleh faktor biologis (lapar, haus dan sebagainya); faktor fisiologis
(tinggi, pendek, gemuk, kurus, sehat, sakit, lelah, penglihatan atau pendengaran kurang sempurna, cacat
tubuh dan sebagainya); dan faktor-faktor sosial budaya seperti gender, agama, tingkat pendidikan,
pekerjaan, penghasilan, peranan, status sosial, pengalaman masa lalu, kebiasaan dan bahkan faktor-
faktor psikologis seperti kemauan, keinginan, motivasi, pengharapan dan sebagainya. Semakin besar
perbedaan aspek-aspek tersebut secara antar individu, semakin besar perbedaan persepsi mereka
mengenai realitas.
Faktor eksternal yang mempengaruhi orang dalam melakukan persepsi terhadap suatu obyek, yakni
atribut-atribut objek yang dipersepsi seperti gerakan, intensitas, kontras, kebaruan, dan perulangan
objek yang dipersepsi. Suatu obyek yang bergerak lebih menarik perhatian dari pada objek yang diam.
Misalnya kita lebih menyenangi televisi sebagai gambar bergerak dari pada komik sebagai gambar diam.
Demikian juga dengan suatu rangsangan yang intensitasnya menonjol juga akan menarik perhatian,
seseorang yang bersuara paling keras, yang tubuhnya paling gemuk, yang kulitnya hitam, atau yang
wajahnya paling cntik akan menarik perhatian kita.
Dalam pada itu, terhadap orang atau objek yang penampilannya lain dari pada yang lain (kontras), juga
akan menarik perhatian, seperti seorang bule, orang berkulit hitam di antara orang-orang yang berkulit
putih, seorang wanita yang berjilbab, wanita berbikini di antara wanita-wanita lain yang berpakaian
lebih sopan di pantai, pemuda yang sebelah telinganya beranting di antara teman-temannya yang tidak
berpenampilan demikian. Demikian juga dengan hal kebaruan merupakan suatu unsur objek yang
menimbulkan perhatian, tampak jelas ketika kita melihat seorang mahsiswa baru yang lebih menarik
perhatian dari pada mahasiswa lama yang sudah dikenal. Pun kita cenderung memperhatikan sesuatu
yang baru misalnya baju baru yang dipakainya, mobil baru yang dibawanya.
Suatu peristiwa yang selalu berulang-ulang jelas lebih potensial untuk diperhatikan, sehingga
memungkinkan untuk mudah mengingat terhadap objek yang menjadi perhatian. Seperti iklan-iklan
sebuah produk yang ditayangkan secara berulang-ulang di televisi, akan lebih mendorong untuk
membeli barang yang di iklankan.

c. Persepsi Bersifat Dugaan


Data yang diperoleh mengenai objek lewat penginderaan tidak pernah lengkap, seringkali menyebabkan
persepsi merupakan loncatan langsung pada kesimpulan. Proses ini menyebabkan orang menafsirkan
suatu objek lebih lengkap. Misalnya kita melihat sebuah pesawat terbang di angkasa, kita tidak melihat
awak pesawat dan penumpangnya. Namun kita telah berulangkali melihat pesawat terbang di angkasa
yang menunjukkan bahwa setidaknya terdapat awak pesawat yang menerbangkan pesawat itu.
Demikian juga ketika kita melihat bila ada sebuah kapal laut dari kejauhan, kita langsung membayangkan
ada sejumlah orang di dalamnya, ada sejumlah mobil dan peralatan kapal seperti skoci dan sebagainya.

d. Persepsi Bersifat Evaluatif


Kebanyakan orang menjalani hari-hari mereka dengan perasaan bahwa apa yang mereka persepsi
adalah nyata. Mereka beranggapan bahwa menerima pesan dan menafsirkannya sebagai suatu proses
yang alamiah. Sehingga derajat tertentu anggapan itu benar, akan tetapi kadang-kadang alat-alat indra
dan persepsi kita menipu kita sehingga kita juga ragu seberapa dekat persepsi dengan realitas yang
sebenarnya. Atau dengan kata lain bahwa dalam mempersepsi suatu objek tidak akan pernah terjadi
secara objektif, hal ini karena dalam mempersepsi sangat dipengaruhi pengalaman masa lalu dan
kepentingan pribadi.
Persepsi bersifat pribadi dan subyektif. Menurut Andrea I. Rich (dalam Mulyana, 2003:189) persepsi
pada dasarnya mewakili keadaan fisik dan psikologis undividu alih-alih menunjukkan karakteristik dan
kualitas mutlak objek yang dipersepsi. Misalnya bila kita pendiam, kita cenderung menilai orang yang
periang sebagai orang yang supel dan mudah bergaul, dan sebaliknya.
e. Persepsi Bersifat Kontekstual
Sutau rangsangan dari luar harus di organisasikan. Dari semua pengaruh yang ada dalam persepsi kita,
konteks merupakan salah satu pengaruh paling kuat. Konteks yang melingkupi kita ketika dalam melihat
suatu kejadian atau objek sangat mempengaruhi struktur kognitif, pengharapan dan oleh karenanya
juga persepsi kita. Persepsi besifat kontekstual ini menggunakan prinsip-prinsip: (1) kontekstual dalam
pengertian struktuir objek, atau kejadian berdasarkan prinsip kemiripan atau kedekatan dan
kelengkapan; (2) kontekstual dalam arti, kita cenderung mempersepsi suatu rangsangan, atau kejadian
misalnya ketika kita mengisi teka-teki silang (TTS), prinsip ini jelas berlaku.
Menurut Somavar dan Porter (1991:106); Mulyana (2003:197) bahwa ada enam unsur budaya yang
secara langsung mempengaruhi persepsi kita ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain, yaitu:
(1) kepercayaan (beliefs), nilai (values), dan sikap (attitudes); (2) pandangan dunia (worldview); (3)
organisasi sosial (social organization); (4) tabiat manusia ( human nature); (5) orientasi kegiatan (activity
orientation); (6) persepsi tentang diri dan orang lain (perception of self and others).

Kepercayaan adalah anggapan subjektif bahwa suatu objek atau peristiwa punya ciri atau nilai tertentu,
dengan atau tanpa bukti. Kepercayaan sifatnya tidak terbatas, misalnya Tuhan itu Esa, Adam adalah
manusia pertama di muka bumi, AID adalah penyakit berbahaya atau kemampuan berbahasa Inggris itu
penting untuk meniti karier. Nilai adalah komponen evaluatif dari kepercayaan yang mencakup
kegunaan, kebaikan, estetika, dan kepuasan. Jadi nilai bersifat normatif, memberitahu suatu anggota
budaya mengenai apa yang baik dan buruk, benar dan salah, siapa yang harus dibela, apa yang harus
diperjuangkan, apa yang mesti kita takuti, dan sebagainya.
Nilai biasanya bersumber dari isu filosofis yang lebih besar yang merupakan bagian dari lingkungan
budaya, karena itu nilai bersifat stabil dan sulit berubah. Misalnya, berdasarkan pandangan mereka yang
individualis, orang Barat lebih mengagung-agungkan privasi dari pada orang-orang Timur.
Pandangan dunia adalah orientasi budaya terhadap Tuhan, kehidupan, kematian, alam semesta,
kebenaran, materi (kekayaan), dan isu-isu filosofis lainnya yang berkaitan dengan kehidupan (Somavar
dan Porter, 1991:84). Pandangan dunia mencakup agama dan ideologi. Berbagai agama dunia punya
konsep ketuhanan dan kenabian yang berbeda. Ideologi-ideologi berbeda juga punya konsep berbeda
mengenai bagaimana hubungan antara manusia yang satu dengan manusia lainnya. Maka pandangan
dunia merupakan unsur penting yang mempengaruhi persepsi seseorang ketika berkomunikasi dengan
orang lain, khususnya yang berbeda budaya (Mulyana, 2003:202).
Organisasi sosial apakah yang sifatnya formal ataupun informal, juga mempengaruhi kita dalam
mempersepsi dunia dan kehidupan ini yang pada gilirannya mempengaruhi perilaku kita. Menurut
Mulyana (2003:204) lembaga informal yang mempengaruhi persepsi dan perilaku kita adalah keluarga,
sedangkan lembaga formal adalah pemerintah. Perangkat aturan meskipun tidak tertulis yang di
tetapkan keluarga sangat mempengaruhi kita dalam berkomunikasi. Demikian juga perangkat aturan
yang di keluarkan oleh pemerintah baik tertulis maupun tidak juga memiliki pengaruh yang sama dalam
persepsi dan perilaku kita. Pemerintah melalui aturan-aturannya, himgga derajat tertentu menetapkn
norma komunikasi warganya baik komunikasi langsung maupun komunikasi bermedia, termasuk
komunikasi massa.
Setiap negara biasanya memiliki suatu sistem komunikasi tertentu, di negara Barat umumnya menganut
sistem komunikasi lebertarian yaitu orang-orang berkomunikasi lebih bebas. Negara-negara otoriter
media massa masih dikendalikan pemerintah, orang tidak bebas menyiarkan informasi kepada
masyarakat luas, bahkan penulisan sejarahpun harus disetujui oleh pemerintah yang sah.
Di samping kedua lembaga tersebut menurut Mulyana (2003:205) yang juga dapat mempengaruhi
persepsi kita adalah lembaga pendidikan (sekolah, universitas), komunitas agama (dalam islam terdapat
Sunni, Syiah, Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Persis dan dalam Kristen terdapat Katolik, Protestan,
Advent, Pantekosta, Saksi Yohava), komunitas atnik (Jawa, batak Minangkabau, Sunda, Melayu), kelas
sosial dan partai politik.
Pandangan kita tentang siapa kita, bagaimana sifat atau watak juga mempengaruhi cara kita
mempersepsi lingkungan fisik dan sosial kita. Kaum muslim misalnya, berpandangan bahwa manusia
adalah makhluk yang paling mulia dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya seperti malaikat, jin,
hewan dan tumbuh-tumbuhan, karena manusia diberkahi oleh akal. Namun kemuliaan itu menurut
Mulyana (2003:206) hanya dapat diperoleh bilamana manusia beriman dan beramal saleh
(mempergunakan akalnya dengan cara benar), sebaliknya bilamana dalam kegiatannya selalu menurut
hawa nafsu, maka mereka adalah makhluk yang paling rendah derajatnya.
Demikian juga dalam memandang manusia, bahwa kaum muslim berpendapat bahwa manusia lahir
dalam keadaan suci bersih, sementara golongan Kristen berpendapat bahwa manusia itu mewarisi dosa
Adam dan Hawa. Sebagian kelompok lagi punya pendapat yang berebeda-beda tentang manusia,
misalnya ada golongan yang berpendapat bahwa manusia pada dasarnya baik, atau pada dasarnya
jahat. Dan ada juga yang punyai teori yang berbeda-beda mengenai apa yang membuat manusia
memiliki watak tertentu. Pandangan manusia mengenai hal ini akan mempengaruhi persepsi, dari
pandangan yang primitif-irasional, ilmiah hingga yang religius.
Orientasi manusia mengenai bagaimana hubungan manusia dengan alam juga mempengaruhi persepsi
dalam memperlakukan alam. Mereka yang memandang manusia sebagai penguasa alam dan penakluk
alam akan memanfaatkan alam demi kesejahteraan, sedangkan mereka yang percaya bahwa manusia
adalah bagian dari alam atau bersatu dengan alam, akan berusaha bertindak selaras dengan alam,
memanfaatkan alam, namun berupaya memeliharanya agar tidak rusak atau punah.
Aspek lain yang juga mempengaruhi persepsi kita adalah pandangan kita tentang aktivitas, misalnya
dalam budaya-budaya tertentu pandangan terhadap siapa seseorang itu (raja, anak presiden, pejabat,
bergelar) lebih penting dari pada apa yang dilakukannya. Sebaliknya ada budaya yang memandang
prestasinya lebih penting ketimbang siapa dia, misalnya di Barat.
Masyarakat Timur, pada umumnya adalah masyarakat kolektivitas. Dalam budaya kolektivitas, diri (self)
tidak bersifat unik atau otonom, melainkan lebur dalam kelompok (keluarga, klan, kelompok kerja, suku
bangsa dan sebagainya). Sedangkan dalam budaya individualis (Barat) bersifat otonom. Akan tetapi
suatu budaya sebenarnya dapat saja memiliki kecenderungan individualis dan kolektivis, seperti
orientasi kegiatan salah satu biasanya lebih menonjol (Mulyana, 2003:208).
Lebih lanjut dikatakan oleh Mulyana (2003) bahwa dalam masyarakat kolektivis, individu terikat oleh
lebih sedikit kelompok, namun keterikatan pada kelompok lebih kuat dan lebih lama. Selain itu
hubungan antarindividu dalam kelompok bersifat total, sekaligus di lingkungan domestik dan di ruang
publik. Konsekwensinya perilaku individu sangat dipengaruhi kelompoknya. Individu tidak dianjurkan
untuk menonjol sendiri. Keberhasilan individu adalah keberhasilan kelompok.
Berbeda dengan manusia individualis, orang individualis kurang terikat pada kelompoknya, termasuk
keluarga luasnya. Manusia individualis lebih terlibat dalam hubungan horisontal dari pada hubungan
vertikal. Mereka lebih membanggakan prestasi dari pada askripsi, seperti jenis kelamin, usia, nama
keluarga dan sebagainya (Landis & Brislin, 1988 : 269). Hubungan diantara sesama mereka sendiri
tampak lebih dangkal dibandingkan dengan hubungan antara orang-orang kolektivitas, juga kalkulatif.
Hubungan akan bertahan lama sejauh menguntungkan mereka secara material (Mulyana, 2003:210).

2. Komunikasi Verbal
Mulyana (2003:237-238) mengatakan bahwa bahasa sebagai sistem kode verbal, terbentuk atas
seperangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan
dan dipahami suatu komunitas. Andrea L. Rich (dalam Mulyana, 2003:251) mengatakan bahwa bahasa
sendiri terikat oleh budaya. Karenanya, menurut hipotesis Sapir-Whorf, sering juga disebut Teori
Relativitas Linguistik, sebenarnya setiap bahasa menunjukkan suatu dunia simbolik yang khas, yang
melukiskan realitas pikiran, pengalaman bathin, dan kebutuhan pemakainya. Jadi bahasa yang berbeda
sebenarnya mempengaruhi pemakainya untuk berpikir, melihat lingkungan, dan alam semesta di
sekitarnya dengan cara yang berbeda, dan karenanya berperilaku secara berbeda.
Sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Andrea L Rich tersebut, menurut Ohoiwutun (1997:99-
107) dalam komunikasi antarbudaya yang harus diperhatikan yaitu: (1) kapan orang berbicara; (2) apa
yang dikatakan; (3) hal memperhatikan; (4) intonasi; (5) gaya kaku dan puitis; dan (6) bahasa tidak
langsung.
Banyak kejadian sehari-hari karena kurang memperhatikan perebedaan tersebut misalnya akibat
mengucapkan kata-kata tertentu, yang dimaknai berbeda oleh orang yang berbeda budaya,
menyebabkan kesalahanpahaman, kebencian, dan keretakan hubungan antarmanusia.

3. Komunikasi Nonverbal
Secara sederhana, pesan nonverbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata (Mulyana,2003:308).
Sebagai kata-kata kebanyakan isyarat nonverbal juga tidak universal, melainkan terikat oleh budaya, jadi
dipelajari, bukan bawaan. Sedikit saja isyarat nonverbal yang merupakan bawaan. Kita semua lahir dan
mengetahui bagaimana tersenyum, namun dimana, kapan, dan kepada siapa kita menunjukkan emosi
ini dipelajari, dan karenanya dipengaruhi konteks dan budaya.
Simbol-simbol nonverbal sangat sulit untuk ditafsirkan bila dibandingkan dengan simbol-simbol verbal.
Walaupun demikian kita sering melihat bahwa bahasa nonverbal cenderung selaras dengan bahasa
verbal, misalnya setiap gerakan sinkron dengan ucapan, seperti kita menyatakan setuju selalu disertai
dengan anggukan kepala.
Menurut Liliweri (2003:98-101) ketika berhubungan dengan menggunakan pesan nonverbal ada
beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi antarbudaya yaitu:
1. Kinestik, adalah yang berkaitan dengan bahasa tubuh, yang terdiri dari posisi tubuh, orientasi tubuh,
tampilan wajah, gambaran tubuh. Tampaknya ada perbedaan antara arti dan makna dari gerakan-
gerakan tubuh atau anggota tubuh yang ditampilkan
2. Okulesik, adalah gerakan mata dan posisi mata. Ada perbedaan makna yang ditampilkan alis mata
diantara manusia. Setiap variasi gerakan mata atau posisi mata menggambarkan suatu makna tertentu,
seperti kasih sayang, marah dan sebagainya.
3. Haptik, adalah tentang perabaan atau memperkenankan sejauhmana seseorang memegang dan
merangkul orang lain.
4. Proksemik, adalah tentang hubungan antar ruang, antar jarak, dan waktu berkomunikasi, misalnya
makin dekat artinya makin akrab, makin jauh artinya makin kurang akrab.
5. Kronemik, adalah tentang konsep waktu, sama seperti pesan non verbal yang lain maka konsep
tentang waktu yang menganggap kalau suatu kebudayaan taat pada waktu maka kebudayaan itu tinggi
atau peradabannya maju. Ukuran tentang waktu atau ketaatan pada waktu kemudian yang
menghasilkan pengertian tentang oramg malas, malas bertanggungjawab, orang yang tidak pernah
patuh pada waktu.
6. Tampilan, Appearance yaitu bagaimana cara seorang menampilkan diri telah cukup menunjukkan atu
berkorelasi sangat tinggi dengan evaluasi tentang pribadi. Termasuk di dalamnya tampilan biologis dan
tampilan yang dicari atau di bentuk. Tampilan biologis misalnya warna kulit, warna dan pandangan
mata, tekstur dan warna rambut, serta struktur tubuh. Ada stereotip yang berlebihan terhadap perilaku
seorang dengan tampilan biologis. Model pakaian juga mempengaruhi evaluasi kita terhadap orang lain.
7. Posture, adalah tampilan tubuh waktu sedang berdiri dan duduk. Cara bagaimana orang itu duduk
dan berdiri dapat diinterpretasi bersama dalam konteks antarbudaya. Misalnya kalau orang Jawa
merasa tidak bebas jika berdiri tegak di depan orang yang lebih tua sehingga harus merunduk hormat,
sebaliknya duduk bersila di depan orang yang lebih tua merupakan sikap yang sopan.
8. Pesan-pesan paralinguistik antarpribadi adalah pesan komunikasi yang merupakan gabungan antara
perilaku verbal dan non verbal. Paralinguistik terdiri dari satu unit suara, atau gerakan yang
menampilkan maksud tertentu dengan makna tertentu. Paralinguistik juga berperan besar dalam
komunikasi antarbudaya.
9. Simbolisme dan komunikasi non verbal yang pasif, beberapa diantaranya adalah simbolisme warna
dan nomor.

Headline

7 Hal yang Sering Terjadi dalam Penyajian Berita

04:58:49 pm
Monday 01st, April 2019 /
20 September,2017

 Home
 Dasar Komunikasi
 Jenis-jenis Komunikasi
 Teori Komunikasi
 Manajemen Komunikasi
Sponsors Link

Home » Jenis-jenis Komunikasi » Komunikasi Antar Budaya » 15 Hambatan Komunikasi Lintas


Budaya

15 Hambatan Komunikasi Lintas Budaya


Sponsors Link

Setiap daerah memiliki budayanya masing-masing. Dalam satu Negara saja, seperti negara kita
Indonesia, terdapat beragam budaya yang tumbuh dan berkembang dan menjadi ciri khas setiap
daerah. Seperti kita ketahui, manusia perlu berkomunikasi dengan manusia lainnya untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai mahluk sosial. Dengan begitu komunikasi lintas budaya
tidak dapat dihindarkan.

ads

Komunikasi lintas budaya merupakan komunikasi yang dilakukan oleh dua atau lebih orang yang
memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Budaya disini mengacu pada pola prilaku,
kepercayaan, dan adat istiadat di daerah asal pelaku komunikasi. Proses penyampaian pesan yang
dilakukan dalam komunikasi lintas budaya bisa secara lisan, tulisan, maupun simbol tertentu
yang telah disepakati.

Dengan adanya berbadaan budaya, akan memeperngaruhi persepsi, cara berpikir, juga bahasa
yang digunakan individu yang bersangkutan. Sehingga dalam pelaksanaannya komunikasi lintas
budaya seringkali menemukan hambatan, contohnya perbedaan persepsi akibat perbedaan
bahasa. Misalnya dalam bahasa Sunda kata “atos” berarti “sudah”, sedangkan dalam bahasa Jawa
kata “atos” berarti “keras”. Berikut ini akan Pakar Komunikasi paparkan 5 hambatan komunikasi
lintas budaya.

Baca juga:

 Etika Komunikasi
 Komunikasi Yang Efektif
 Hambatan-Hambatan Komunikasi
 Prinsip-Prinsip Komunikasi
 Komunikasi Bisnis

1. Etnosentrisme

Etnosentrisme merupakan sikap keyakinan atau kepercayaan bahwa budaya sendiri lebih unggul
dari budaya lain. Bahkan cenderung memandang rendah budaya lain, dan tidak mau mengakui
keunikan budaya lain sebagai suatu ciri khas dari kelompok lain. Entnosentrisme memandang
dan mengukur budaya lain berdasarkan budaya sendiri, dan jika tidak sejalan maka dianggap
berlawanan dan berbahaya sebab berpotensi mencemari budaya sendiri.
Hal ini dapat mengakibatkan adanya pembatasan pergaulan dengan individu yang memiliki
budaya yang berbeda. Contohnya kecenderungan orang Indonesia yang mengganggap budaya
‘barat’ yang vulgar berlawanan dengan budaya ‘timur’ yang santun. Hal tersebut menimbulkan
ketakutan akan tercemarnya budaya lokal oleh budaya asing, sehingga pergaulan dengan orang
barat akan dibatasi.

2. Stereotipe

Stereotipe adalah sikap yang menggeneralisasi atau menyamaratakan sekelompok orang, tanpa
mempertimbangkan kepribadian atau keunikan masing-masing individu. Stereotipe
mengelompokkan individu berdasarkan keanggotaan individu dalam suatu kelompok dan tidak
memandang individu dalam kelompok tersebut sebagai individu yang unik. Karakteristik
individual mereka diabaikan, dianggap homogen.

Sikap stereotipe muncul karna dua sebab:

 Kecenderungan untuk membagi dunia kedalam dua kategori yaitu ‘aku’ dan ‘mereka’.
Ketika informasi yang dimiliki mengenai ‘mereka’ kurang, maka timbul kecenderungan
untuk mengganggap ‘mereka’ sebagai homogeny (disamaratakan).
 Kecenderungan untuk sedikit mungkin melakukan kerja kognitif dalam berpikir tentang
orang lain, sehingga menimbulkan persepsi selektif terhadap orang-orang disekitar dan
membuat informasi yang kita terima tidak akurat.

Stereotipe bersifat negatif, sikap ini dapat menghambat berjalannya proses komunikasi lintas
budaya yang efektif dan harmonis. Contoh sikap stereotipe misalnya anggapan bahwa orang
berkacamata itu pintar, atau orang padang itu pelit, sedangkan orang batak itu kasar, dan
semacamnya. Dengan stereotipe tersebut, bisa saja timbul permasalahan, misalnya stereotipe
menganai orang pandang itu pelit, bisa saja membuat orang padang yang bersangkutan merasa
tersinggung dan akhirnya timbul konflik.

3. Rasialisme

Rasialisme adalah prilaku diskriminatif, tidak adil dan semena-mena terhadap RAS
tertentu. Bukan saja dapat menghambat terjadinya komunikasi lintas budaya, prilaku ini bahkan
dapat menimbulkan konflik berkepanjangan. Berbeda dengan sikap rasis, rasialisme merujuk
pada gerakan sosial atau politik yang mendukung teori rasisme. Fokus dari rasialisme adalah
kebanggaan ras, identitas politik, atau segregasi rasial. Contoh rasialisme misalnya bangsa
Jerman yang merasa dirinya lebih unggul dari bangsa lain, semasa Jerman berada di bawah
kepemimpinan Hitler. Contoh lain di Indonesia adalah konflik anti-tionghoa yang pernah terjadi
sekitar tahun 1998an, dimana terjadi pengusiran besar-besaran dan bahkan pembantaian terhadap
ras tionghoa.

Baca juga
 Teori Agenda Setting
 Bahasa Sebagai Alat Komunikasi
 Filsafat Komunikasi
 Psikologi Komunikasi
 Sosiologi Komunikasi

4. Prasangka

Prasangka adalah persepsi yang keliru terhadap seseorang atau kelompok lain. Konsep prasangka
mirip dengan streotipe, bahkan dikatakan bahwa prasangka merupakan kunsekuensi dari adanya
streotipe. Menurutt Richard W. Brislin, prasangka merupakan sikap tidak adil, menyimpang, dan
intoleran terhadap orang atau kelomopok lain. Prasangka pada umumnya bersifat negatif, adanya
prasangka dapat membuat seseorang memandang rendah dan bahkan memusuhi orang atau
kelompok lain.

Hadirnya prasangka berpotensi menghambat komunikasi lintas budaya yang terjadi antara
pemilik prasangka dengan orang atau kelompok target prasangka. Sebab belum apa-apa,
seseorang telah memiliki pemikiran negatif terhadap lawan bicara. Hal ini akan membuat
komunikasi lintas budaya yang dilakukan tidak efektif. Contoh prasangka misalnya prasangka
terhadap ras, suku, atau agama tertentu.

Ada tiga tipe prasangka yang muncul:

 Prasangka kognitif: berada pada ranah pemikiran, benar atau


 Prasangka afektif: berada pada ranah perasaan, suka atau tidak suka.
 Prasangka konatif: berada pada ranah perbuatan, misalnya deskrimninasi terhadap
kelompok yang dianggap berlawanan.

Sebenarnya prasangka pasti selalu muncul dalam pemikiran/ perasaan setiap individu. Setiap
orang pasti akan lebih suka berkomunikasi dengan orang-orang yang memiliki kesamaan tertentu
dengan dirinya dibanding dengan orang lain yang tidak dikenalnya. Namun perbedaan wujud
prasangka tersebut akan menentukan seberapa besar hambatan komunikasi yang terjadi. Ketika
hanya sebatas pada pemikiran, mungkin seseorang hanya akan menjauhi kelompok lain pada saat
tertentu saja, namun ramah di saat yang lain. Tapi jika wujud prasangka tersebut hingga ranah
prilaku ekstrem seperti diskriminasi, akan membatasi peluang dan akses terhadap kelompok lain
akibatnya komunikasi akan sulit dilakukan.

5. Jarak Sosial

Jarak sosial berbicara tentang kedekatan antar kelompok secara fisik atau sosial. Jarak sosial
berbeda dengan stratifikasi sosial atau pelapisan sosial, jarak sosial mengacu pada perbedaan
tingkat peradaban antar kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, buka perbedaan
kekayaan, kekuasaan, atau ilmu pengetahuan. Pelapisan sosial membagi individu dalam
kelompok-kelompok secara hierarkis (vertical). Sedangkan jarak sosial membagi individu
individu dalam suatu kelompok secara horizontal, berdasarkan peradaban.
Jarak peradaban ini muncul karena adanya perbedaan kemajuan ilmu pengatahuan dan teknologi.
Misalnya jarak sosial antara peradaban modern di kota seperti Jakarta dimana segala hal sudah di
digitalisasi secara online dengan peradaban di pedalaman papua yang masih mengandalkan cara
manual. Kedua daerah tersebut bisa jadi terpisah jarak 100 tahun, meskipun berada di zaman
yang sama.

Adanya jarak sosial ini dapat menghambat terjadinya komunikasi lintas budaya. Seperti misalnya
ketika ditempat lain telah bisa melakukan komunikasi secara online yang lebih cepat dan
mudah, maka untuk komunikasi dengan orang di wilayah yang jarak sosialnya sangat jauh,
seseorang harus datang dan berbicara tatap muka secara langsung yang tentunya akan memakan
waktu lama juga biaya yang mahal.

baca juga:

 Bahasa Jurnalistik
 Fungsi Pers
 Karakteristik Komunikasi Massa
 Model Komunikasi Berlo
 Teori Belajar Sibernetik

6. Persepsi

Persepsi merupakan proses yang dilakukan oleh seseorang untuk mencoba mengetahui dan
memahami orang lain. Persepsi merupakan filter yang digunakan oleh seseorang ketika
berhubungan dengan kebudayaan yang berbeda. Persepsi negatif dapat berdampak buruk bagi
kefektifan komunikasi lintas budaya.

7. Sikap

Sikap merupakan hasil evaluasi dari berbagai aspek terhadap sesuatu. Sikap menimbulkan rasa
suka atau tidak suka. Sikap seseorang terhadap budaya lain, menentukan prilakunya terhadap
budaya tersebut. Sikap negatif terhadap budaya lain akan menyebabkan komunikasi lintas
budaya sulit berhasil.

Baca juga:

 Komunikasi Antar Pribadi


 Komunikasi Organisasi
 Komunikasi Antar Budaya
 Sistem Komunikasi Indonesia
 Komunikasi Politik

8. Atribusi

Atribusi merupakan proses identifikasi penyebab prilaku orang lain yang dilakukan oleh
seseorang untuk menetapkan posisi dirinya. Kebudayaan lain, akan diidentifikasi berdasarkan
kebudayaannya sendiri. Apabila atribut yang dimiliki kebudayaan lain berbeda, maka
kebudayaan lain dapat dipandang negatif.

9. Bahasa

Bahasa merupakan sebuah kombinasi dari system simbol dan aturan yang menghasilkan berbagai
pesan dengan arti yang tak terbatas. Antara budaya yang satu dengan yang lainnya, bahasa
menjadi pembeda yang sangat signifikan. Kata yang sama bisa memiliki arti yang berbeda,
kesalahan penggunaan bahasa bisa jadi sangat fatal akibatnya.

10. Paralinguistik

Paralinguistik merupakan gaya pengucapan seseorang, meliputi tinggi rendahnya suara, tempo
bicara, atau dialek. Budaya yang berbeda memiliki paralinguistic yang berbeda, misalnya orang
solo yang berbicara pelan dan lambat berbeda dengan orang medan yang berbicara dengan
lantang dan cepat.

11. Misinterpretation

Misinterpretation atau salah tafsir merupakan kesalahan penfsiran yang umumnya disebabkan
oleh persepsi yang tidak akurat. Hal ini bisa disebabkan karena kesalahan persepsi mengenai
intonasi suara, mimic wajah, dkk.

12. Motivasi

Motivasi disini berkaitan dengan tingkat motivasi lawan bicara dalam melakukan komunikasi
lintas budaya. Motivasi yang rendah akan menjadi hambatan komunikasi lintas budaya.

13. Experiantial

Experiental atau pengalaman hidup tiap individu berbeda, dan hal tersebut akan mempengaruhi
persepsi serta cara pandang seseorang terhadap sesuatu.

14. Emotional

Emotional disini berkaitan dengan emosi pelaku komunikasi. Jika emosi komunikan sedang
buruk, komunikasi lintas budaya tidak akan dapat berjalan dengan efektif.

15. Competition

Competiton atau kompetisi terjadi ketika komunikan berkomunikasi sembari melakukan kegiatan
lain, misalnya sedang menyetir, menelopon, atau lainnya. Hal ini menyebabkan komunikasi
lintas budaya tidak akan berjalan secara maksimal.
Fungsi-Fungsi Komunikasi Antarbudaya
Fungsi Pribadi

Fungsi pribadi adalah fungsi-fungsi komunikasi yang ditunjukkan melalui perilaku komunikasi
yang bersumber dari seorang individu.[4]

Pendeta Budha Jepang menyatakan identitas melalui baju yang dikenakan

 Menyatakan Identitas Sosial[4]

Dalam proses komunikasi antarbudaya terdapat beberapa perilaku komunikasi individu yang
digunakan untuk menyatakan identitas sosial. Perilaku itu dinyatakan melalui tindakan berbahasa
baik secara verbal dan nonverbal. Dari perilaku berbahasa itulah dapat diketahui identitas diri
maupun sosial, misalnya dapat diketahui asal usul suku bangsa, agama, maupun tingkat
pendidikan seseorang.

 Menyatakan Integrasi Sosial[4]

Inti konsep integrasi sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan antarpribadi, antarkelompok
namun tetap mengakui perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiap unsur. Perlu dipahami
bahwa salah satu tujuan komunikasi adalah memberikan makna yang sama atas pesan yang
dibagi antara komunikator dan komunikan. Dalam kasus komunikasi antarbudaya yang
melibatkan perbedaan budaya antar komunikator dengan komunikan, maka integrasi sosial
merupakan tujuan utama komunikasi. Dan prinsip utama dalam proses pertukaran pesan
komunikasi antarbudaya adalah: saya memperlakukan anda sebagaimana kebudayaan anda
memperlakukan anda dan bukan sebagaimana yang saya kehendaki. Dengan demikian
komunikator dan komunikan dapat meningkatkan integrasi sosial atas relasi mereka.
 Menambah Pengetahuan[4]

Seringkali komunikasi antarpribadi maupun antarbudaya menambah pengetahuan bersama,


saling mempelajari kebudayaan masing-masing.

 Melepaskan Diri atau Jalan Keluar[4]

Kadang-kadang kita berkomunikasi dengan orang lain untuk melepaskan diri atau mencri jalan
keluar atas masalah yang sedang kita hadapi. Pilihan komunikasi seperti itu kita namakan
komunikasi yang berfungsi menciptakan hubungan yang komplementer dan hubungan yang
simetris.

Hubungan komplementer selalu dilakukan oleh dua pihak mempunyai perlaku yang berbeda.[4]
Perilaku seseorang berfungsi sebagai stimulus perilaku komplementer dari yang lain. Dalam
hubungan komplementer, perbedaan di antara dua pihak dimaksimumkan.[4] Sebaliknya
hubungan yang simetris dilakukan oleh dua orang yang saling becermin pada perilaku lainnya.[4]
Perilaku satu orang tercermin pada perilaku yang lainnya.[4]

Fungsi Sosial

 Pengawasan[4]

Funsi sosial yang pertama adalah pengawasan. Praktik komunikasi antarbudaya di antara
komunikator dan komunikan yang berbada kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam
setiap proses komunikasi antarbudaya fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan
"perkembangan" tentang lingkungan. Fungsi ini lebih banyak dilakukan oleh media massa yang
menyebarlusakan secara rutin perkembangan peristiwa yang terjadi disekitar kita meskipun
peristiwa itu terjadi dalam sebuah konteks kebudayaan yang berbeda.

 Menjembatani[4]

Dalam proses komunikasi antarbudaya, maka fungsi komunikasi yang dilakukan antara dua
orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan di antara mereka. Fungsi
menjembatani itu dapat terkontrol melalui pesan-pesan yang mereka pertukarkan, keduanya
saling menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama.
Fungsi ini dijalankan pula oleh pelbagai konteks komunikasi termasuk komunikasi massa.

 Sosialisasi Nilai[4]

Fungsi sosialisasi merupakan fungsi untuk mengajarkan dan memperkenalkan nilai-nilai


kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lain.

 Menghibur[4]
Fungsi menghibur juga sering tampil dalam proses komunikasi antarbudaya. Misalnya menonton
tarian hula-hula dan "Hawaian" di taman kota yang terletak di depan Honolulu Zaw, Honolulu,
Hawai. Hiburan tersebut termasuk dalam kategori hiburan antarbudaya.

Prinsip-Prinsip Komunikasi Antarbudaya

 Relativitas Bahasa[5]

Gagasan umum bahwa bahasa memengaruhi pemikiran dan perilaku paling banyak disuarakan
oleh para antropologis linguistik. Pada akhir tahun 1920-an dan disepanjang tahun 1930-an,
dirumuskan bahwa karakteristik bahasa memengaruhi proses kognitif kita. Dan karena bahasa-
bahasa di dunia sangat berbeda-beda dalam hal karakteristik semantik dan strukturnya,
tampaknya masuk akal untuk mengatakan bahwa orang yang menggunakan bahasa yang berbeda
juga akan berbeda dalam cara mereka memandang dan berpikir tentang dunia.

 Bahasa Sebagai Cermin Budaya[5]

Bahasa mencerminkan budaya. Makin besar perbedaan budaya, makin perbedaan komunikasi
baik dalam bahasa maupun dalam isyarat-isyarat nonverbal. Makin besar perbedaan antara
budaya (dan, karenanya, makin besar perbedaan komunikasi), makin sulit komunikasi
dilakukan.Kesulitan ini dapat mengakibatkan, misalnya, lebih banyak kesalahan komunikasi,
lebih banyak kesalahan kalimat, lebih besar kemungkinan salah paham, makin banyak salah
persepsi, dan makin banyak potong kompas (bypassing).

 Mengurangi Ketidak-pastian[5]

Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besarlah ketidak-pastian dam ambiguitas dalam
komunikasi. Banyak dari komunikasi kita berusaha mengurangi ketidak-pastian ini sehingga kita
dapat lebih baik menguraikan, memprediksi, dan menjelaskan perilaku orang lain. Karena
letidak-pasrtian dan ambiguitas yang lebih besar ini, diperlukan lebih banyak waktu dan upaya
untuk mengurangi ketidak-pastian dan untuk berkomunikasi secara lebih bermakna.

 Kesadaran Diri dan Perbedaan Antarbudaya[5]

Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besar kesadaran diri (mindfulness) para partisipan
selama komunikasi. Ini mempunyai konsekuensi positif dan negatif. Positifnya, kesadaran diri ini
barangkali membuat kita lebih waspada. ini mencegah kita mengatakan hal-hal yang mungkin
terasa tidak peka atau tidak patut. Negatifnya, ini membuat kita terlalu berhati-hati, tidak
spontan, dan kurang percaya diri.

 Interaksi Awal dan Perbedaan Antarbudaya[5]

Perbedaan antarbudaya terutama penting dalam interaksi awal dan secara berangsur berkurang
tingkat kepentingannya ketika hubungan menjadi lebih akrab. Walaupun kita selalu menghadapi
kemungkinan salah persepsi dan salah menilai orang lain, kemungkinan ini khususnya besar
dalam situasi komunikasi antarbudaya.
 Memaksimalkan Hasil Interaksi[5]

Dalam komunikasi antarbudaya - seperti dalam semua komunikasi - kita berusaha


memaksimalkan hasil interaksi. Tiga konsekuensi yang dibahas oleh Sunnafrank (1989)
mengisyaratkan implikasi yang penting bagi komunikasi antarbudaya. Sebagai contoh, orang
akan berintraksi dengan orang lain yang mereka perkirakan akan memberikan hasil positif.
Karena komunikasi antarbudaya itu sulit, anda mungkin menghindarinya. Dengan demikian,
misalnya anda akan memilih berbicara dengan rekan sekelas yang banyak kemiripannya dengan
anda ketimbang orang yang sangat berbeda.

Kedua, bila kita mendapatkan hasil yang positif, kita terus melibatkan diri dan meningkatkan
komunikasi kita.[5] Bila kita memperoleh hasil negatif, kita mulai menarik diri dan mengurangi
komunikasi.[5]

Ketiga, kita mebuat prediksi tentang mana perilaku kita yang akan menghasilkan hasil positif.[5]
dalam komunikasi, anda mencoba memprediksi hasil dari, misalnya, pilihan topik, posisisi yang
anda ambil, perilaku nonverbal yang anda tunjukkan, dan sebagainya.[5] Anda kemudian
melakukan apa yang menurut anda akan memberikan hasil positif dan berusaha tidak melakkan
apa yang menurut anda akan memberikan hasil negatif.[5]

Secara umum, komunikasi antar budaya dapat didefinisikan sebagai komunikasi yang terjadi
antara orang-orang dengan latar belakang budaya yang berbeda. Sebagaimana bidang atau
konteks komunikasi lainnya, proses komunikasi antar budaya dapat berlangsung karena
didukung oleh beberapa unsur komunikasi antar budaya, seperti manusia, pesan, saluran, umpan
balik, kode, encoding dan decoding, serta gangguan. Adapun tujuan komunikasi antar budaya
salah satunya adalah untuk menciptakan komunikasi yang efektif antara orang-orang yang
terlibat dalam proses komunikasi antar budaya.

ads

Hal ini dikarenakan ketika orang-orang dengan latar belakang budaya yang berbeda bertemu dan
berkomunikasi, maka seluruh perbedaan yang ada diantara mereka berpotensi mengarah pada
terjadinya kesalahpahaman atau bahkan menjadi penyebab kegagalan dalam komunikasi antar
budaya. Karena itu, bagaimana cara kita memberikan reaksi dan kemampuan untuk mengelola
perbedaan tersebut merupakan kunci bagi keberhasilan komunikasi antar budaya.

Berikut disajikan beberapa penyebab kegagalan dalam komunikasi antar budaya, yaitu :

1. Bahasa

Bahasa sebagai alat komunikasi dapat menjadi salah satu penyebab kegagalan dalam komunikasi
antar budaya. Mengapa demikian? Komunikasi antar budaya merupakan proses pengiriman dan
penerimaan pesan antara orang-orang yang memiliki perbedaan latar belakang budaya. Proses ini
dapat mengarah pada perbedaan dalam menafsirkan bahasa verbal maupun bahasa nonverbal.

Hipotesis Sapir dan Whorf menunjukkan bahwa bahasa membentuk pemikiran individu sejauh
hal itu membatasi jenis pemikiran dan gagasan yang dapat dimiliki oleh orang. Selain itu, setiap
budaya memiliki struktur gramatikal dan leksikal masing-masing dan karenanya hampir tidak
mungkin bagi anggota setiap budaya untuk saling memahami sepenuhnya.

Untuk mengatasi hal ini, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan, diantaranya adalah
menerapkan cara berkomunikasi dengan baik, berbicara dengan pelan dan jelas, menanyakan
atau meminta klarifikasi, kerap memeriksa pemahaman, menghindari idiom, berhati-hati dengan
jargon, bersabar, menghindari informasi melalui berbagai saluran, memilih media komunikasi
secara efektif serta spesifik.

2. Stereotip

Stereotip, menurut KBBI Online adalah konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan
prasangka yang subyektif dan tidak tepat. Stereotip terjadi karena sebelumnya orang memiliki
pengalaman yang negatif maupun positif dengan orang lain yang berasal dari budaya yang lain.
Dalam komunikasi antar budaya, stereotip dapat memberikan dampak yang kurang baik karena :

 Orang hanya akan menerima informasi yang sesuai dengan informasi yang sebelumnya
telah dimiliki dan menutup kemungkinan adanya informasi lain yang mengandung
kebenaran.
 Orang mengasumsikan bahwa semua informasi dapat diterapkan pada setiap individu
sehingga semua anggota kelompok harus diperlakukan sama.
 Stereotip dapat menjauhkan kita dari keberhasilan komunikasi antar budaya karena
stereotip didasarkan pada kebenaran yang tidak utuh dan bahkan cenderung tidak benar.
 Stereotip sangat sulit untuk berubah karena stereotip dikembangkan atau ditanamkan
sejak masih anak-anak dan akan berulang dan diperkuat oleh kelompok dimana kita
berada.

Sebagaimana etnosenrisme, untuk mengatasi atau menghindari stereotip dalam komunikasi antar
budaya maka kita harus menghindari asumsi-asumsi, penilaian, serta menerima adanya
perbedaan.

3. Prasangka

Menurut KBBI Online, prasangka adalah pendapat (anggapan) yang kurang baik mengenai
sesuatu sebelum mengetahui (menyaksikan, menyelidiki) sendiri. Prasangka terjadi ketika orang
mengacu pada generalisasi tentang sebuah kelompok atau hal-hal yang seringkali didasarkan
pada pengalaman faktual yang minim atau bahkan tidak ada sama sekali. Prasangka dapat
bersifat negatif maupun positif.

Dalam komunikasi antar budaya, prasangka umumnya mengandung perasaan negatif terhadap
kelompok tertentu. Kelompok yang biasanya menjadi target prasangka negatif adalah kelompok
marjinal seperti orang yang berada dalam garis kemiskinan, orang dengan warna kulit berbeda,
orang yang tidak berbicara dengan bahasa Inggris, dan LGBT.

Untuk mengatasi atau mengurangi prasangka tidaklah mudah karena sebagian besar aspek
persepsi budaya, ras, dan prasangka budaya dipelajari dan diperkuat melalui terpaan yang
berkelanjutan. Namun, dari hasil penelitian ditemukan dua teknik yang dapat mengurangi
prasangka yaitu melalui pendidikan dan kontak personal. Pendidikan dapat membantu mendidik
masyarakat mengatasi stereotip, prasangka, dan etnosentrisme. Sementara itu, melalui kontak
personal, semakin besar frekuensi kontak personal yang terjadi antara individu dalam kelompok
dan luar kelompok maka akan semakin rendah tingkat prasangka yang diterima.

4. Rasialisme

Menurut KBBI Online, rasialisme adalah prasangka berdasarkan keturunan bangsa atau
perlakukan yang berat sebelah terhadap (suku) bangsa yang berbeda-beda. Makna lainnya adalah
paham bahwa ras diri sendiri adalah ras yang paling unggul. Rasialisme terjadi ketika setiap
orang percaya bahwa ras mereka lebih unggul dibanding ras lainnya. Orang-orang yang rasialis
sering melakukan diskriminasi terhadap mereka yang berasal dari ras yang berbeda. Rasialisme
sendiri dapat berbentuk personal maupun institusional.

Rasialisme personal merujuk pada tindakan rasial terhadap keyakinan, sikap, dan perilaku yang
menjadi bagian dari seorang individu. Sementara itu, rasialisme institusional merujuk pada
merendahkan ras atau bersikap antipati terhadap institusi sosial ras tertentu. Sikap diskriminatif
tidak hanya bertentangan dengan etika komunikasi antar budaya khususnya dan etika komunikasi
pada umumnya, melainkan juga merupakan faktor utama kegagalan dalam komunikasi antar
budaya yang efektif.

Untuk menghindari atau mengurangi rasialisme, kita harus mencoba untuk bersikap jujur pada
diri sendiri ketika kita memutuskan untuk memegang beberapa pandangan yang bersifat rasial,
berusaha untuk menolak atau merasa keberatan apabila mendengar penghinaan atau lelucon
yang berbau SARA, serta menghormati dan menghargai perbedaan dan kebebasan.

5. Etnosentrisme

Penyebab kegagalan dalam komunikasi antar budaya selanjutnya adalah etnosentrisme. Yang
dimaksud dengan etnosentrisme adalah keyakinan bahwa budaya sendiri lebih superior
dibandingkan dengan budaya orang lain. Kita dapat disebut etnosentris manakala kita melihat
dan menilai seluruh dunia hanya dari sudut pandang budaya sendiri. Misalnya, budaya Jawa
lebih baik dari budaya Sunda. Salah satu konsekuensi apabila kita selalu merujuk pada
etnosentrisme negatif adalah timbulnya kecemasan.

Hal ini ditegaskan oleh Gamble dan Gamble yang menyatakan bahwa jika kita semakin
etnosentris maka kita akan semakin cemas ketika berinteraksi dengan orang lain dengan latar
belakang budaya yang berbeda. Ketika kita semakin dipenuhi oleh rasa takut maka harapan
untuk mendapatkan hasil positif dalam sebuah interaksi juga akan berkurang. Hal ini dapat
mengarah pada kurangnya keinginan untuk mempercayai seseorang yang berasal dari budaya
lain.
Untuk mengatasi atau menghindari etnosentrisme dalam komunikasi antar budaya tidaklah
mudah. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk menghindari etnosentrisme adalah menghindari
dogma, belajar untuk berpikiran terbuka terhadap pandangan baru, menghindari asumsi,
menghindari penilaian, belajar menerima perbedaan, serta mengembangkan sikap empati dalam
komunikasi budaya.

6. Perbedaan Nonverbal

Komunikasi nonverbal merujuk pada pesan-pesan yang dikirimkan tanpa menggunakan kata-
kata. Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain secara verbal, kerapkali disertai dengan
simbol-simbol nonverbal karena fungsi komunikasi nonverbal adalah sebagai pelangkap atau
penekanan terhadap pesan yang disampaikan secara verbal.

Simbol atau petunjuk nonverbal yang kita berikan menciptakan makna bagi orang lain. Ekspresi
nonverbal setiap budaya tentu akan berbeda dengan budaya lainya. Perbedaan inilah yang
menyebabkan terjadinya kesalahan penafsiran terhadap tanda-tanda dan simbol-simbol nonverbal
yang dapat berujung pada kegagalan dalam komunikasi antar budaya.

Untuk mengatasi hal tersebut kita harus mempelajari dan memahami makna pesan dalam
komunikasi antar budaya khususnya makna pesan-pesan nonverbal yang berlaku di setiap
budaya. Selain itu, kita juga dapat saling berbagi mengenai norma budaya masing-masing
sebagai salah satu sarana untuk membantu kita memahami berbagai perbedaan gaya nonverbal
yang ada.

7. Kecemasan

Ketika kita dihadapkan pada situasi yang baru dan menantang, tentunya kita akan merasakan
stress, cemas, dan lain-lain. Kecemasan juga dapat timbul karena stereotip yang dimiliki
terhadap budaya lain yang mengakibatkan rasa takut untuk berinteraksi dengan orang lain yang
berbeda latar belakang budaya. Kecemasan ini dapat terjadi pada siapa pun yang terlibat dalam
komunikasi antar budaya.

Kecemasan dalam komunikasi antar budaya terkait dengan rasa takut komunikasi yang nyata
atau komunikasi yang diantisipasi dengan orang-orang yang berasal dari kelompok yang berbeda
terutama kelompok budaya atau kelompok etnis. Mereka dengan tingkat kecemasan komunikasi
antar budaya yang tinggi cenderung tidak ingin terlibat dalam interaksi antar budaya.

Keenganan untuk berinteraksi ini dapat mengarah pada terbatasanya kemampuan untuk
menyesuaikan diri dengan budaya inang. Untuk mengatasi hal tersebut, hal-hal yang dilakukan
adalah meningkatkan kompetensi komunikasi antar budaya, meningkatkan keterampilan
berkomunikasi, belajar bahasa asing, belajar budaya asing, dan lain-lain.

8. Asumsi Kesamaan

Penyebab kegagalan dalam komunikasi antar budaya selanjutnya adalah adanya asumsi
kesamaan. Dalam artian, orang secara sederhana mengasumsikan bahwa terdapat banyak
kesamaan antara orang-orang di seluruh dunia tanpa menyadari bahwa setiap orang memiliki
latar belakang budaya yang berbeda.

Ketika kita berpikir atau berasumsi bahwa setiap orang adalah sama dan menolak adanya
perbedaan maka kita juga akan cenderung memperlakukan orang dengan sama. Padahal kita
paham bahwa dalam strategi komunikasi efektif, komunikator harus dapat menyesuaikan pesan
dengan situasi dan kondisi komunikate agar pesan dapat tersampaikan dengan baik dan
komunikasi yang efektif dapat tercapai.

Untuk mengatasi hal ini, kita harus dapat mengembangkan pemahaman bahwa manusia berbeda
satu sama lain. Selain itu, kita juga harus belajar tentang berbagai perbedaan tersebut sehingga
dapat menciptakan gagasan baru yang lebih kreatif ketika berkomunikasi dengan orang lain.

9. Penilaian yang Terburu-buru

Kita cenderung untuk memberikan penilaian yang terburu-buru terhadap tindakan yang
dilakukan oleh orang lain. Penilaian yang diberikan biasanya didasarkan atas nilai budaya yang
kita miliki yang dianggap paling benar. Untuk mengatasi hal ini, maka kita hendaknya tidak
bersikap terburu-buru dalam menilai dan mengevaluasi tindakan orang lain terutama dalam
situasi ketika perasaan dan emosi yang paling mendalam turut terlibat. Ada baiknya kita berhenti
sebentar, mencoba untuk mendengarkan, dan mengamati tanpa perlu menghakimi orang lain.
Menghakimi orang lain tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi akan menyebabkan
gagalnya komunikasi antar budaya.

10. Kurangnya Cultural Self-Awareness

Agar dapat memahami budaya orang lain dengan baik maka terlebih dahulu kita harus mengenal
budaya sendiri dengan jauh lebih baik. Pada umumnya, kita tidak menyadari karakteristik budaya
sendiri dan cukup terkejut manakala orang lain membeberkan gambaran yang diberikan oleh
orang lain terhadap budaya kita. Untuk mengatasinya, maka kita dapat mulai belajar untuk
melihat diri kita dengan jelas melalui kaca mata orang lain agar kita dapat mulai mengubah
perilaku, serta menekankan karakteristik yang paling tepat dan efektif. Dengan memiliki
kesadaran budaya sendiri maka kita dapat memprediksi dampak perilaku kita terhadap orang lain