Anda di halaman 1dari 30

Bagian Ilmu Kesehatan Anak REFERAT

Fakultas Kedokteran Januari 2020


Universitas Haluoleo

BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)

Oleh:

Wa Ode Siti Rahayu Fathanah, S.Ked


K1A1 15 123

Pembimbing:
dr. Hasniah Bombang, M.Kes, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2020

i
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa:

Nama : Wa Ode Siti Rahayu Fathanah, S.Ked.

NIM : K1A1 15 123

Program Studi : Profesi Dokter

Fakultas : Kedokteran

Referat : BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah)

Telah menyelesaikan tugas referat dalam rangka kepanitraan klinik pada Bagian Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo.

Kendari, Februari 2020


Mengetahui, Pembimbing

dr. Hasniah Bombang, M.Kes, Sp.A

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulisan referat yang berjudul “Bayi Berat Lahir Rendah” dapat
dirampungkan dengan baik. Shalawat dan salam juga senantiasa tercurahkan kepada
Nabi Muhammad SAW. Penulisan laporan ini disusun untuk melengkapi tugas
kepaniteraan klinik bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Halu Oleo. Melalui kesempatan ini secara khusus penulis persembahkan ucapan
terima kasih kepada dr. Hasniah Bombang, M.Kes., Sp.A sebagai pembimbing
referat dan laporan kasus saya. Dengan segala kerendahan hati penulis sadar bahwa
dalam penulisan tugas ini masih banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan.Penulis
mengharapkan masukan, kritik dan saran yang bersifat membangun kearah perbaikan
dan penyempurnaan tugas ini. Semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi
semua pihak yang membutuhkan.

Kendari, Januari 2020

Wa Ode Siti Rahayu Fathanah, S.Ked

iii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ............................................................................. i


HALAMAN PENGESAHAN ............................................................... i
KATA PENGANTAR ........................................................................... ii
DAFTAR ISI .......................................................................................... iii
A. Pendahuluan............................................................................................. 1
B. Defenisi BBLR ........................................................................................ 2
C. Klasifikasi ................................................................................................ 3
D. Epidemiologi ........................................................................................... 4
E. Etiologi .................................................................................................... 5
F. Manifestasi klinis ..................................................................................... 6
G. Diagnosis ................................................................................................. 7
H. Penatalaksanaan ....................................................................................... 13
I. Komplikasi............................................................................................... 22
J. Pencegahan .............................................................................................. 23
K. Prognosis ................................................................................................. 24
DAFTAR PUSAKA ...................................................................................... 25

iv
BERAT BADAN LAHIR RENDAH

Wa Ode Siti Rahayu Fathanah, Hasniah Bombang

A. PENDAHULUAN

Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari
2500 gram tanpa memandang usia gestasi. World Health Organization (WHO)
menyatakan bahwa semua bayi baru lahir yang berat badannya kurang atau sama
dengan 2500 gram disebut low birth weight infant (bayi berat lahir rendah/
BBLR), karena morbiditas dan mortalitas neonatus tidak hanya bergantung pada
berat badannya tetapi juga pada tingkat maturitas bayi tersebut. Sejak tahun 1961
WHO telah mengganti istilah premature baby dengan low birth weight infant. Hal
ini dilakukan karena tidak semua bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram
pada waktu lahir merupakan bayi prematur. Makin rendah masa gestasi dan
makin kecil bayi dilahirkan, maka makin tinggi morbiditas dan mortalitasnya. 1
BBLR masih merupakan masalah diseluruh dunia, sampai saat ini karena
merupakan penyebab kesakitan dan kematian pada masa neonatal. Prevalensi
BBLR diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran dunia dengan batasan 3,3%-38%
dan lebih sering terjadi pada negara–negara yang sedang berkembang atau sosial
ekonomi rendah. Di negara-negara sedang berkembang, kesehatan masih
merupakan masalah yang harus mendapat penanganan yang lebih serius. Secara
Statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang
dengan angka kematian lebih tinggi dibandingkan pada bayi dengan berat lahir
lebih dari 2500 gram. Bayi Berat Lahir Rendah merupakan prediktor tertinggi
angka kematian bayi terutama dalam satu bulan pertama kehidupan. Berdasarkan
studi epidemiologi, bayi BBLR mempunyai risiko kematian 20 kali lipat lebih
besar di bandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat badan normal. BBLR
termasuk faktor utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan disabilitas

1
neonatus, bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap
kehidupannya di masa depan. 1,3,4
Perkiraan WHO hampir semua 98% dari 5 juta kematian neonatal terjadi
di negara berkembang/bepenghasilan rendah. Lebih dari dua per tiga kematian
tersebut terjadi pada periode neonatal dini dan penyebab terbanyak kematian ini
adalah BBLR yaitu bayi berat lahir rendah kurang dari 2500 gram. Angka
kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dan daerah lain, yaitu
berkisar antara 9-30%. Hasil studi di tujuh daerah multisenter diperoleh angka
BBLR dengan rentang 2,1%-17,2%. Secara nasional berdasarkan analisa lanjut,
angka target BBLR sekitar 7,5%. Angka ini lebih besar dari target BBLR yang
ditetapkan pada sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia Sehat 2015
yakni maksimal 7%. 1

B. DEFINISI
BBLR adalah bayi dengan berat lahir <2.500 gram tanpa memandang usia
gestasi. Berat lahir adalah berat badan neonatus pada saat kelahiran yang
ditimbang dalam waktu satu jam sesudah lahir. Untuk mendapatkan keseragaman
maka pada kongres European Perinatal Medicine ke II di London (1970), telah
diusulkan definisi sebagai berikut: 5,13,17
a. Bayi kurang bulan adalah bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu
(259 hari).
b. Bayi cukup bulan adalah bayi dengan masa kehamilan mulai dari 37 minggu
sampai 42 minggu (259 hari sampai 293 hari).
c. Bayi lebih bulan adalah bayi dengan masa kehamilan mulai 42 minggu atau
lebih (294 hari atau lebih).
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) disebabkan oleh usia kehamilan
yang pendek (prematuritas), IUGR (Intra Uterine Growth Restriction) yang
dalam bahasa Indonesia disebut Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT) atau

2
keduanya. Dengan pengertian seperti yang telah diterangkan diatas, bayi
BBLR dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu: 16,17
1) Prematuritas murni
Masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai
dengan berat badan untuk masa gestasi itu atau biasa disebut neonatus
kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan (NKB-SMK). Bayi prematur
memiliki karakteristik klinis dengan berat badan kurang dari 2.500 gram,
panjang badan kurang atau sama dengan 45 cm, lingkaran dada kurang dari
30 cm, dan lingkaran kepala kurang dari 33 cm.
2) Dismaturitas
Dismaturitas ialah bayi baru lahir dengan berat badan kurang dari
berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu. Berarti bayi mengalami
Intrauterine Growth Restriction (IUGR) dan merupakan bayi yang kecil
untuk masa kehamilan (KMK).Penyebab dismaturitas adalah setiap
keadaan yang mengganggu perukaran zat antara ibu dan janin.
Pertumbuhan janin terhambat (PJT)/IUGR merupakan keadaan yang
menunjukkan berat badan janin di bawah 10 persentil untuk masa
kehamilan atau <2 standar deviasi di bawah rata-rata masa kehamilan.
Selain berat badan, beberapa penulis mendefinisikan PJT dengan lingkar
perut <5 persentil atau femur lenght (FL) atau abdominal circumference
(AC) >24.16,17,18

C. KLASIFIKASI
Bayi dengan berat lahir rendah dapat diklasifikasikan berdasarkan:2
1. Berat badan lahir
a. Bayi Berat Lahir Amat Sangat Rendah (BBLASR) dengan berat lahir
kurang dari 1000 gram
b. Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR) dengan berat lahir 1000-1500
gram

3
c. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dengan berat lahir 1500-2500 gram
2. Usia kehamilan
a. Bayi prematur adalah bayi yang lahir dengan usia kehamilan belum
mencapai 37 minggu
b. Bayi cukup bulan adalah bayi yang lahir dengan usia kehamilan 37-42
minggu
c. Bayi lebih bulan adalah bayi yang lahir dengan usia kehamilan lebih dari
42 minggu.
3. Usia kehamilan dan berat badan lahir
a. Masa kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat yang sesuai dengan
berat badan untuk usia kehamilan (sesuai masa kehamilan/SMK)
b. Bayi yang beratnya kurang dari berat semestinya menurut masa
kehamilannya (kecil masa kehamilan/KMK).

D. EPIDEMIOLOGI
Prevalensi BBLR diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dan
sering terjadi di Negara-negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih
tinggi dibandingkan pada bayi dengan berat badan lahir lebih dari 2500 gram.
Tingginya morbiditas dan mortalitas berat bayi lahir rendah masih menjadi
masalah. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 di seluruh
Indonesia diperoleh angka kejadian BBLR sebesar 11,1%.
Hal ini sedikit lebih rendah dari hasil Riskesdas tahun 2007 yang sebesar
11,5%, tetapi masih jauh dari target BBLR yang ditetapkan pada sasaran program
perbaikkan gizi menuju Indonesia Sehat 2010 yakni maksimal 7%. Kemudian
pada tahun 2013 menurun untuk nasional menjadi 10.2%. 7,8
Berdasarkan data dan pusat informasi menunjukkan perkembangan jumlah
bayi berat lahir rendah (BBLR) di Provinsi Sulawesi Tenggara dalam rentang 5
tahun terakhir persentase BBLR secara umum cenderung meningkat, sempat
menurun pada tahun 2015. Namun di tahun 2016 kembali mengalami

4
peningkatan yang signifikan. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, secara
keseluruhan persentase BBLR di semua kabupaten meningkat lebih dari 2 kali
lipat. Dengan rata-rata BBLR provinsi sebesar 3,26 %, angka ini tergolong
tinggi.6

E. ETIOLOGI
Etiologi terjadinya BBLR bergantung terhadap faktor-faktor yang
berkaitan dengan prematuritas dan Intrauterine Growth Restriction (IUGR).
Sangat susah untuk memisahkan secara tegas antara fakto-faktor yang berkaitan
dengan prematur dan faktor-faktor yang berkaiatan dengan IUGR dan
menyebabkan terjadinya BBLR. Penyebab terbanyak BBLR adalah kelahiran
prematur. 1 Etiologi dari bayi berat lahir rendah dapat disebabkan oleh beberapa
faktor anatra lain:
1. Faktor ibu
a. Penyakit
1) Mengalami komplikasi kehamilan, seperti anemia, perdarahan
antepartum, preekelamsi berat, eklamsia, infeksi kandung kemih dan
kelainan bentuk uterus
2) Menderita penyakit seperti malaria, tifus abdominalis, infeksi menular
seksual, hipertensi, HIV/AIDS, TORCH, TBC, glomerulonefritis
kronik dan penyakit jantung.
3) Trauma pada masa kehamila, fisik (jatuh/terbentur), psikologis (stres)
4) Usia ibu pada waktu hamil kurang dari 20 tahun
5) Penyalahgunaan obat, merokok dan konsumsi alkohol.
b. Ibu
1) Usia Ibu pada waktu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35
tahun.
2) Jarak kelahiran yang terlalu dekat atau pendek kurang dari 1 tahun
3) Mempunyai riwayat BBLR sebelumnya.

5
c. Keadaan sosial ekonomi
1) Kejadian tertinggi pada golongan sosial ekonomi rendah. Hal ini
dikarenakan keadaan gizi dan pengawasan antenatal yang kurang.
2) Aktivitas fisik yang berlebihan
3) Perkawinan yang tidak sah
2. Faktor janin
Faktor janin meliputi: kelainan kromosom, infeksi janin kronik, gawat janin,
kehamilan kembar.
3. Faktor plasenta
Faktor plasenta disebabkan oleh: hidramnion, plasenta previa, solutio plasenta,
sindrom tranfusi bayi kembar (sindrom parabiotik), ketuban pecah dini.
4. Faktor lingkungan
Lingkungan yang berpengaruh antara lain: tempat tinggal di dataran tinggi,
terkena radiasi, serta terpapar zat beracun.

F. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis dari BBLR tergantung dari usia kehamilan. Makin
muda usia kehamilan makin jelas tanda-tanda imaturitas.1
Karakteristik untuk BBLR adalah berat lahir kurang dari 2500 gram,
panjang badan kurang atau sama dengan 45 cm, lingkar dada kurang dari 30 cm,
lingkar kepala kurang dari 33 cm. kepala relatif besar dari badannya, kulit tipis,
transparan, lanugonya banyak, lemak subkutan kurang, sering tampak peristaltik
usus. Tangisnya lemah dan jarang, pernafasannya tidak teratur dan sering terjadi
apnea. Bila hal ini sering terjadi dan tiap serangan lebih dari 20 detik maka
kemungkinan timbulnya keruskan otak yang permanen lebih besar. Otot-otot
masih hiponik sehingga sikap selalu dalam keadaan kedua paha selalu adduksi,
sendi lutut dan pergelangan kaki dalam fleksi atau lurus dan kepala mengarah ke
satu sisi. 1

6
Refeks tonik leher, reflex moro positif dan gerakan otot jarang .Daya isap
lemah terutama dalam hari-hari pertama. Bayi yang lapar akan menangis, gelisah
dan menggerak-gerakan tanganya. Edema biasanya sudah terlihat segera sesudah
lahir dan makin bertambah jelas dalam 24-48 jam berikutnya. Kulit mengkilat,
licin, pitting edema dan edema ini dapat berpindah dengan perubahan posisi.
Edema yang hebat merupakan tanda bahaya bagi bayi tersebut. Frekuensi nadi
berkisar antara 100-140 kali permenit. Pada hari pertama frekuensi pernapasan
40-50 kali permenit. Pada hari-hari berikutnya 35-45 permenit. 1

G. DIAGNOSIS
Diagnosis BBLR dapat ditegakkan dengan melakukan penimbangan segera
setelah badannya dikeringkan dari air ketuban atau paling lambat satu hari setelah
lahir.
1. Anamnesis 1,9
Riwayat yang perlu ditanyakan pada Ibu dalam anamnesis untuk menegakkan
diagnosis antara lain:
a. Umur ibu
b. Hari pertama haid terakhir
c. Riwayat persalinan sebelumnya
d. Paritas dan jarak kelahiran sebelumnya
e. Kenaikan berat badan selama hamil
f. Aktivitas dan penyakit yang diderita
g. Obat-obatan yang diminum selama hamil
2. Pemeriksaan fisik 1,9
Bagian yang dapat dijumpai pada pemeriksaan fisik antara lain :
a. Berat badan kurang dari 2500 gram
b. Tanda prematuritas
c. Tanda bayi cukup bulan atau lebih bulan (bila bayi kecil untuk masa
kehamilan)

7
Bayi dapat didiagnosis BBLR jika beratnya kurang dari 2500 gram.
Jika penimbangan tidak memungkinkan dapat dilakukan pengukuran Lingkar
Lengan Atas (LLA) atau lingkar dada. Pengukuran LLA dilakukan pada
pertengahan lengan atas menggunakan pita ukur. Jika LLA kurang dari 9,5 cm
maka bayi dapat didiagnosis BBLR. Pengukuran lingkar dada dapat dilakukan
dengan menggunkan pita pengukur lingkar dada yang ditandai dengan angka
dalam satuan sentimeter dengan ketelitian 0,1 cm dan warna merah, kuning
dan hijau. Disepanjang pita ditengahnya terdapat garis mendatar disertai
ukuran dikiri dan kananya. Batas ambang pita untuk warna merah kurang dari
27 cm, untuk warna kuning 27-29 cm dan untuk warna hijau > 29,5 cm. Arti
warna pada pita adalah untuk warna merah artinya bayi setara dengan kurang
dari 2000 gram, warna kuning artinya setara dengan 2000-2499 gram dan
warna hijau artinya berat bayi setara dengan 2500 gram. Hasil pengukuran
lingkar dada dengan warna merah dan kuning mengindikasikan bahwa bayi
menderita BBLR. 1
Pada pemeriksaan fisik bayi tampak lebih kecil dari bayi yang lahir
normal, pergerakan kurang dan masih lemah, kepala lebih besar dari pada
badan. Pada kulit dan kelamin dijumpai kulit tipis dan transparan sehingga
pembuluh darah mudah dilihat, lanugo banyak, rambut halus dan tipis
genitalia belum sempurna. Pada sistem saraf dijumpai refleks moro, refleks
menghisap, menelan dan batuk belum sempurna. Pada sistem
muskuloskeletal, axifikasi tengkorak sedikit, ubun-ubun dan sutura lebar,
tulang rawan elastis kurang, otot-otot hipotonik, tungkai adduksi, sendi lutut
dan kaki fleksi, kepala menghadap ke satu sisi. Pernapasan pada BBLR
frekuensinya bervariasi karena belum teratur dan sering apnea. 1

8
3. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain: 9
a. Pemeriksaan skor ballard
Skor Ballard merupakan suatu versi sitem Dubowitz. Penilaian
menurut Ballard adalah dengan menggabungkan hasil penilaian maturitas
neuromuskuler dan maturitas fisik. Kriteria pemeriksaan maturitas
neuromuskuler diberi skor, demikian pula kriteria pemeriksaan maturitas
fisik. Jumlah skor pemeriksaan maturitas neuromuskuler dan maturitas
fisik digabungkan kemudian dengan menggunakan tabel nilai kematangan
dicari masa gestasinya. 1

Gambar 1. Maturitas Neuromuskular (Skor Ballard) 11

9
1. Posture: dinilai bila bayi dalam posisi terlentang dan tenang.
2. Square window: tangan fleksi pada pergelangan, beri cukup tekanan
untuk mendapatkan posisi seflesi mungkin. Sudut antara eminensia
hipothenar dan bagian anterior lengan bawah diukur dan dinilai menurt
tabel. Jangan memutar pergelangan tangan.
3. Arm recoil: posisi bayi terlentang, fleksikan lengan bawah secara penuh
selama 5 detik. Kemudian ekstensikan secara penuh dengan cara
menarik tangan dan melepaskannya. Nilai reaksinya sesuai dengan
tabel.
4. Popliteal angle: posisi bayi terlentang dan pelvis terletak mendatar
pada permukaan tempat pemeriksaan. Kaki fleksi pada paha dan paha
difleksikan penuh menggunkan tangan (paha menyentuh perut).
Dengan tangan yang lain, kaki diekstensikan. Ukur sudut yang
terbentuk antara paha dan betis daerah poplitea.
5. Scarf sign: posisi bayi terlentang, pegang tangan bayi dan tarik
melintasi leher sejauh mungkin melewati bahu yang berlawanan.
Diperbolehkan menahan bahu dengan jalan mengangkatnya melintasi
tubuh. Nilai sesuai dengan lokasi siku pada tabel.
6. Heel to hear: posisi bayi terlentang, pegang kaki bayi dengan satu
tangan dan gerakkan kearah kepala sedekat mungkin tanpa melakukan
paksaan. Pertahankan pelvis mendatar pada permukaan tempat
pemeriksaan. Nilai seperti pada tabel.

Setelah didapatkan jumlah skor dari pemeriksaan neuromuskular


dan maturitas fisik, maka kedua skor itu dijumlahkan. Hasil penjumlahan
tersebut dikocokkan dengan tabel nilai kematangan sehingga didapatkan
usia kehamilan dalam minggu. Kemudian dengan menggunakan grafik dari
Battaglia dan Lubchenco dicari titik perpotongan antara umur kehamilan
yang kita dapatkan dengan berat badan lahir bayi sehingga didapat

10
interpretasi apakah bayi tersebut Besar Masa Kehamilan (BMK), Sesuai
Masa Kehamilan (SMK), atau Kecil Masa Kehamilan (KMK). 1

Gambar 2. Maturitas Fisik ( Skor Ballard) 11

11
Gambar 3. Grafik Battaglia dan Lubchenco 1

b. Tes kocok (shake test) dianjurkan untuk bayi kurang bulan


Bayi kurang bulan cenderung untuk menderita HMD karena rendahnya
konsentrasi surfaktan ditandaidengan frekuensi pernapasan > 60x/menit,
merintih dan retraksi dinding dad, didukung oleh hasil kocok uji cairan
lambung dan adanya infiltrat retikulogranular dan bronkogram udara
dalam sinar X dada. Masukkan sonde Feeding Fr 5 panjang 40 cm melalui
salah satu lubang hidung, dengan semprit 2,5 ml hisap cairan
lambung.masukkan 0,5 ml cairan lambung kedalam tabung reaksi
dicampur etanol 96 % perbandingan 1:1, kocok perlahan-lahan selama 15
detik, diamkan selama 15 menit ditemoat yang aman. Hasil uji kocok
dikatakan postif apabila terlihat gelembung yang membentuk cincin dan
dikatakan negatif bila tidak terlihat gelembung cincin diatas permukaan
cairan. 14
c. Darah rutin, glukosa darah

12
d. Bila perlu (tergantung klinis) dan fasilitas tersedia, diperiksa kadar
elektrolit dan analisa gas darah
e. Foto rontgen dada diperlukan pada bayi baru lahir dengan umur kehamilan
kurang bulan dan mengalami sindrom gangguan napas
f. USG kepala terutama pada bayi dengan umur kehamilan < 35 minggu,
dimulai pada umur 3 hari dan dianjurkan sesuai hasil yang didapat.

H. PENATALAKSANAAN
Bayi dengan BBLR memiliki imunitas yang belum sempurna sehingga
sangat mudah terserang penyakit. Karena sifatnya yang sangat rentan maka
penatalaksaanan BBLR harus dilakukan dengan hati-hati. 9
1. Suportif
a. Jaga dan pantau kehangatan
b. Jaga dan pantau potensi jalan napas
c. Pantau kecukupan nutrisi, cairan dan elektrolit
d. Bila terjadi penyulit segera kelola sesuai dengan penyulit yang timbul
(misalnya hipotermi, kejang, gangguan napas, hiperbilirubunemia dan
lain-lain)
e. Berikan dukungan emosional pada Ibu dan anggota keluarga lainnya
f. Anjurkan Ibu untk tetap bersama bayi. Bila ini tidak memungkinkan,
biarkan ia berkunjung setiap saat dan siapkan kamar untuk menyusui
g. Izinkan dan anjurkan kunjungan oleh keluarga atau teman dekat apabila
dimungkinkan. 9
2. Medikamentosa
Pemberian vitamin K1
a. Injeksi 1 mg IM sekali pemberian, atau
b. Peroral 2 mg sekali pemberian atau 1 mg 3 kali pemberian (saat lahir,
umur 3-10 hari dan umur 4-6 minggu). 9
3. Mempertahankan suhu tubuh normal

13
a. Gunakan salah satu cara menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh
bayi seperti kontak kulit ke kulit, perawatan metode kanguru, pemancar
panas, inkubator, atau ruangan hangat yang tersedia di fasilitas kesehatan
setempat sesuai petunjuk. 9

Tabel 1. Cara menghangatkan bayi

Cara Penggunaan
Kontak kulit Untuk semua bayi
Untuk menghangatkan bayi dalam waktu singkat atau
menghangatkan bayi hipotermi(32-36,4 0C ) apabila cara lain tidak
mungkin dilakukan
KMC Untuk menstabilkan bayi dengan berat badan < 2500 gram, terutama
direkomendasikan untuk perawatan berkelanjutan bayi dengan berat
badan < 1800 gram dan usia gestasi < 34 minggu.
Pemancar Untuk bayi sakit atau bayi dengan berat 1500 gram atau lebih
panas Untuk pemeriksaan awal bayi, selama dilakukan tindakan atau
menghangatkan kembali bayi hipotermi
Inkubator Penghangatan berkelanjutan bayi dengan berat < 1500 gram yang
tidak dapat dilakukan KMC
Untuk bayi sakit berat (sepsis, ganguan napas berat)
Ruangan Untuk merawat bayi dengan berat < 2500 gram yang tidak
hangat memerlukan tindakan diagnosis atau prosedur pengobatan
Tidak untuk bayi sakit berat (sepsis, gangguan napas berat.

b. Jangan memandikan atau menyentuh bayi dengan tangan dingin


c. Ukur suhu tubuh sesuai jadwal

14
Persyaratan yang diperlukan untuk Perawatan Metode Kanguru (PMK)/
Kangaroo Mother Care (KMC) 19
Dua persyaratan yang diperlukan dalam penerapan PMK :
1). Kesiapan ibu dan bayi: secara fisik dan mental ibu telah sanggup dan bayi
telah melewati masa krisis. 2).Kesiapan institusi, menyangkut baik secara
nasional maupun lokal dan didukung tenaga yang mempunyai ketrampilan.
Posisi dan Perawatan Metoda Kanguru (PMK)
Saat ibu berdiri atau duduk, posisi bayi tegak/vertikal mendekap ibu,
kepalanya miring ke kiri atau kanan, untuk mencegah risiko regurgitasi dan
aspirasi. Bayi diletakkan di antara payudara ibu di dalam baju, gaun panjang
dengan ikat atau selimut yang berfungsi seperti kantong kanguru.

Gambar 4. Memposisikan bayi untuk PMK


Bila ibu berbaring, posisi bayi tengkurap miring mendekap ibu, kepala
miring ke kiri atau kanan. Pada posisi ibu miring kepala bayi miring sesuai
dengan arah miring ibu, lalu keduanya diselimuti secara penuh kecuali bagian
kepala. Sebelum bayi dimasukkan ke dalam baju kanguru, bayi harus diberi
tutup kepala/topi dan popok. Bayi dimasukkan dalam keadaan telanjang ke
dalam baju kanguru. Bagian bawah baju diikat dengan simpul hidup. Bayi
dijaga terus menerus pada posisi yang sama oleh ibu atau ayah atau anggota
keluarga yang lain.

15
Gambar 5. Kantong untuk menggendong bayi PMK

Gambar 6. Bayi dalam posisi PMK

Gambar 7. Mendekap bayi ke dada

16
Tabel 2. Pengukuran suhu tubuh
Bayi sangat Bayi keadaan
Keadaan bayi Bayi sakit Bayi kecil
kecil membaik
Frekuensi Tiap jam Tiap 12 jam Tiap 6 jam Sekali/hari
pengukuran

Tabel 3. Suhu Inkubator yang direkomendasikan menurut berat dan umur bayi
Suhu inkubator menurut umur
Berat bayi
35 34 33 32
< 1500 gram Hari 11 hari-3 minggu 3-5 minggu >5 minggu
1500-2000 gram 1-10 hari 11 hari- 4 minggu >4 minggu
2100-2500 gram 1-2 hari hari- 3 minggu > 3 minggu
>2500 gram 1-2 hari > 2 minggu
*Bila jenis inkubatornya berdinding tungaal, naikan suhu inkubator 1⁰C setiap perbedaan
7⁰C antara suhu ruang dan inkubator

4. Dietetik
Bayi prematur atau BBLR mempunyai masalah menyusu karena refleks
mengisapnya masih lemah. Untuk bayi demikian sebaiknya ASI dikeluarkan
dengan pompa atau diperas dan diberikan pada bayi dengan pipa lambung
atau pipet. 1,9
a. Pemberian minum: 9
1) ASI merupakan pilihan utama
2) Apabila bayi mendapatkan ASI, pastikan bayi menerima jumlah yang
cukup dengan cara apapun, perhatikan cara pemberian ASI dan nilai
kemampuan bayi menghisap paling kurang sehari sekali
3) Apabila bayi sudah tidak mendapatkan cairan IV dan beratnya naik 20
gram/hari selama 3 hari berturut-turut, timbang bayi 2 kali seminggu.
4) Pemberian minum minimal 8 kali/hari. Apabila bayi masih
menginginkan dapat diberikan lagi

17
5) Indikasi nutrisi parenteral yaitu status kardiovaskuler dan respirasi yang
tidak stabil, fungsi usus belum berfungsi atau terdapat anomaly mayor
saluran cerna, NEC, IUGR berat dan berat lahir kurang dari 1000 gram
6) Pada bayi sakit, pemberian minum tidak perlu dengan segera
ditingkatkan selama tidak ditemukan tanda dehidrasi dan kadar natrium
serta glukosa
b. Panduam pemberian minum berdasarkan berat badan: 9,11
1) Berat lahir kurang dari 1000 gram
a) Minum melalui pipa lambung
b) Pemberian minum awal kurang dari atau sama dengan 10
ml/kg/hari
c) ASI perah/term formula/half-strength preterm formula
d) Selanjutnya minum ditingkatkan jika memberiakn toleransi yang
baik: tambahkan 0,5 ml, interval 1 jam, setiap lebih dari 24 jam
e) Setelah 2 minggu, ASI perah + HMF (Human milk fortifier)/full-
strength preterm formula sampai berat badan mencapai 2000 gram
2) Berat lahir 1000-1500 gram
a) Pemberian minum melalui pipa lambung (gavage feeding)
b) Pemberian minum awal : ≤ 10 ml/kg/hari
c) ASI perah/term formula/half-strength preterm formula
d) Selanjutnya minum ditingkatkan jika memberikan toleransi yang
baik: tambahan 1-2 ml interval 2 jam, Setiap ≥ 24 jam
e) Setelah 2 minggu: Asi perah + HMF (human milk fortifier)/full-
strength preterm formula sampai berat badan mencapai 2000 gram

18
Gambar 4. Gavage feeding untuk bayi.15
3) Berat lahir 1500-2000 gram
a) Pemberian minum melalui pipa lambung (gavage feeding)
b) Pemberian minum awal : ≤ 10 ml/kg/hari
c) ASI perah/term formula/half-strength preterm formula
d) Selanjutnya minum ditingkatkan jika memberikan toleransi yang
baik: tambahan 2-4 ml, interval 3 jam, setiap ≥ 12-24 jam
e) Setelah 2 minggu: ASI perah + HMF/full-strength preterm formula
sampai berat badan mencapai 2000 gram
4) Berat lahir 2000-2500 gram
a) Apabila mampu sebaiknya diberikan minum per oral
b) ASI perah/term formula
5) Bayi sakit:
a) Pemberian minum awal: ≤ 10 ml/kg/hari
b) Selanjutnya minum ditingkatkan jika memberikan toleransi yang
baik: tambahan 3-5 mL, interval 3 jam, setiap ≥ 8 jam.

19
Tabel 4. Terapi cairan inisial (ml/kghari)
Jumlah cairan rata-rata (ml/kg/hari)
Dextrosa
Berat badan (kg) < 24 jam 24-48 am >48 jam
(gram/100 ml)
<1 5-10 100-150 120-150 140-190
1-1,5 10 80-100 100-120 120-160
>1,5 10 60-80 80-120 120-160

*Bayi yang berada di inkubator. Bayi yang berada di warmer biasanya memerlukan
cairan lebih tinggi. Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) sering memerlukan cairan
lebih tinggi dari yang dianjurkan, dan perlunya pengukuran serum elektrolit, urine
output, dan berat badan yang lebih sering.

Tabel 5. Jumlah cairan yang dibutuhkan bayi (ml/kg)


Umur (hari)
Berat badan (kg)
1 2 3 4 5+
>1500 gram 60 80 100 120 150
< 1500 gram 80 100 120 140 150

Tabel 6. Insensible Water Loss (IWL) pada bayi prematur


Berat badan (kg) IWL rata-rata (ml/kg/hari)
<750 100-200
750-1000 60-70
1001-1250 50-60
1251-1500 30-40
1501-2000 20-30
2001-3250 15-20

5. Tumbuh Kembang
a. Pantau berat bayi secara periodik
b. Bayi akan kehilangan berat selama 7-10 hari pertama (sampai 10% untuk
bayi dengan berat lahir ≥ 1500 gram dan 15% untuk bayi berat lahir <
1500 gram). Berat lahir biasanya tercapai kembali dalam 14 hari kecuali
apabila terjadi komplikasi.

20
c. Bila bayi sudah mendapat ASI secara penuh (pada semua kategori berat
lahir) dan telah berusia lebih dari 7 hari:
1) Tingkatkan jumlah ASI dengan 20 ml/kg/hari sampai tercapai jumlah
180 ml/kg/ hari
2) Tingkatkan jumlah ASI sesuai dengan kenaikan berat badan bayi agar
jumlah pemberian ASI tetap180 ml/kg/hari
3) Apabila kenaikan berat badan tidak adekuat, tingkatkan jumlah
pemberian ASI sampai 200 ml/kg/hari
4) Timbang berat badan setiap hari, ukur panjang badan dan lingkar
kepala setiap minggu. 9
6. Lain-lain atau rujukan
 Bila perlu lakukan pemeriksaan USG kepala atau fisioterapi
 Pada umur 4 minggu atau selambat-lambatnya usia koreksi 34 minggu
konsultasi ke dokter spesialis mata untuk evaluasi kemungkinan
retinopathy of prematurity (ROP)
 THT: skrining pendengaran dilakukan pada semua BBLR, dimulai
usia 3 bulan sehingga apabila terdapat kelainan dapat dikoreksi
sebelum usia 6 bulan.
 Periksa alkaline phosphatase (ALP), P, Ca saat usia kronologis ≥4
minggu dan 2 minggu setelah bayi minum secara penuh sebanyak 24
kalori/oz. Jika ALP > 500 U/L berikan fosfat 2-3 mmol/kg/hari dibagi
3 dosis.
 Imunisasi yang diberikan sama seperti bayi normal kecuali hepatitis B.
 Bila perlu siapkan transportasi dan atau rujukan.

21
7. Pemantauan
Tata laksana
 Bila diperlukan terapi untuk penyulit tetap diberikan
 Preparat besi sebagai suplementasi mulai diberikan pada usia 2
minggu
I. KOMPLIKASI
Berikut beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada BBLR antara lain: 9
1. Hipotermi
2. Hipoglikemi
3. Hiperbilirubinemia
4. Respiratory distress syndrome (RDS)
5. Intracerebral and intraventriculer haemorrhage (IVH)
6. Periventricular leucomalasia (PVL)
7. Infeksi bakteri
8. Kesulitan minum
9. Penyakit paru kronis (Chronic Lung Disease)
10. Necrotizing enterocolitis (NEC)
11. AOP (Apnea of prematurity) terutama terjadi pada bayi < 1000 gram
12. Patent ductus arteriosus (PDA) pada bayi dengan berat < 1000 gram
13. Disabilitas mental dan fisik seperti keterlambatan perkembangan, cerebral
palsy, gangguan pendengaran dan gangguan penglihatan seperti retinopaty of
prematurity (ROP).
Masalah yang sering timbul pada BBLR yaitu: 9
1. Masalah pernapasan karena paru-paru yang belum matur.
2. Masalah pada jantung
3. Perdarahan otak
4. Fungsi hati yang belum sempurna
5. Anemia atau polisitemia

22
6. Lemak yang sedikit sehingga kesulitan mempertahankan suhu tubuh normal
7. Masalah pencernaan/toleransi minum
8. Risiko infeksi.

J. PENCEGAHAN
Upaya-upaya pencegahan merupakan hal yang sangat penting dalam
menurunkan insiden atau kejadian BBLR di masyarakat. Upaya-upaya ini dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1,9
1. Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal empat kali
selama periode kehamilan yakni 1 kali pada trimester I, 1 kali pada trimester
kedua, dan 2 kali pada trimester ke III.
2. Pada Ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi diet seimbang serat dan rendah
lemak, kalori cukup, vitamin dan mineral termasuk 400 mikrogram vitamin B
asam folat setiap hari. Pengontrolan berat badan selama kehamilan dari
pertambahan berat badan awal dikisaran 12,5-15 kg
3. Hindari rokok atau asap rokok dan jenis polusi lain, minuman berlkohol,
aktivitas fisik yang berlebihan.
4. Penyuluhan kesehatan tentang pertumbuhan dan perkembangan janin dalam
rahim, faktor resiko tinggi dalam kehamilan, dan perawatan diri selama
kehamilan agar mereka dapat menjaga kesehatanya dan janin yang dikandung
dengan baik
5. Pengontrolon oleh bidan secara berkesinambungan sehingga ibu dapat
merencanakan persalinannya pada kurun umur reproduksi sehat
6. Perlu dukungan sektor lain terkait untuk turut berperan dalam meningkatkan
pendidikan Ibu dan status ekonomi keluarga agar mereka dapat meningkatkan
akses terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dan status gizi Ibu hamil
7. Mengikuti keluarga berecana
8. Hindari alkohol, narkotika, obat-obatan yang tidak perlu dan jamu
9. Memperhatikan jarak kehamilan, sebaiknya lebih 2 tahun.

23
K. PROGNOSIS
Prognosis BBLR tergantung dari berat ringannya masa perinatal,
misalnya masa gestasi (makin muda masa gestasi/makin rendah berat badan,
makin tinggi angka kematian), asfiksia atau iskemia otak, sindroma gangguan
pernapasan, perdarahan intraventrikuler, infeksi, gangguan metabolik. Prognosis
ini juga tergantung dari keadaan sosial ekonomi, pendidikan orang tua dan
perawatan pada saat kehamilan, persalinan dan postnatal (pengaturan suhu
lingkungan, resusitasi, makanan, pencegahan infeksi, mengatasi gangguan
pernapasan, asfiksia, hiperbilirubinemia, hipoglikemia dan lain-lain). 12

24
DAFTAR PUSTAKA

1. Sunaryanto, Andik. 2009. Bayi Berat Lahir Rendah. Fakultas Kedokteran


Udayana. Bali.
2. Kosim M.S., Yunanto, A., Dewi, R., Sarosa, G.I., Usman, A. Buku Ajar
Neonatologi. Edisi ke-1. Jakarta: IDAI; 2014
3. Mahayana, S.A.S., Chundrayetti, E., Yulistini. 2015. Faktor Risiko yang
Berpengaruh terhadap Kejadian Berat Badan Lahir Rendah. Jurnal Kesehatan
Andalas 4(3): 664-673
4. Ayu, A., Rahmanoe, M. 2014. Terapi Medikamentosa Bayi Dengan Berat
Badan Lahir Rendah (BBLR). Medula Universitas Lampung 2(3): 1-7
5. Cynthia, P.H., Fatimah, P., Rahfiludin, M. Z. 2017. Faktor-Faktor Yang
Berhubungan Dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Jurnal
Kesehatan Masyarakat 5(1): 322-331
6. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara. 2017. Profil Kesehatan
Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2016. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi
Tenggara. Kendari.
7. Amalina Tri Susilani, A.T., 2015. Hubungan Ukuran Lingkar Lengan Atas
Ibu Dengan Berat Badan Lahir Di Rumah Bersalin Widuri. Jurnal Permata
Indonesia 6(1): 1-8
8. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riskesdas Indonesia Tahun
2013. Lembaga Penerbitan Balitbangkes. Jakarta.
9. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2009. Pedoman Pelayana Medis. Jilid 1.
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta.
10. Ningsih, Nursasmita. 2016. Hubungan Berat Badan Lahir Rendah Ketuban
Pecah Dini Dan Persalinan Prematur Dengan Kejadian Sepsis Neonatus.
Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Kendari.
11. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Konsensus Asuhan Nutrisi Pada Bayi
Prematur. 2016. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta.

25
12. Winknjosastro, Hanifa. 2008. llmu Kebidanan Edisi V. Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohadjo.
13. Yadav, D.K., Chaudary U, Shresta N. 2011. Risk Factor Assosiates with Low
Birth Weight. Nepal Health Res ounc. 9(19):159-64.
14. Tailah, S. Surjono A., Haksari, E.L. 2003. Uji Kocok Cairan Lambung Untuk
Diagnosis Penyakit Membran Hialin Pada Bayi Kurang Bulan. Fakultas
Kedokteran Universitas Gadjah Mada.
15. Jahnke Robin. 2008. Gavage Feeding For Babies. University of Michigan
C.S.Mott Children’s Hospital.
16. Zohdi, Vladislava. Sutherland, Megan R. Lim, Kyungjoon. Gubhaju, Lina.
Zimanyi, Monika A. And Black, M.Jane. 2012. Low Birth Weight Due to
Intrauterine Growth Restriction and/or Preterm Birth: Effect on Nephron
Number and Long-Term Renal health. Hindawi Publishing Corporation
(International Journal of Nephrology).Vol.2012(13).
17. Rohani. 2016. Hubungan paritas dengan bayi berat lahir rendah (BBLR) di
Puskesmas Pejeruk kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2016.
Jurnal Sangkareang Mataram.2(2).
18. Sulistyowati,Sri. Eka,W. Anak Agung. 2014. Ekspresi Human Leukocyte
Antigen (HLA-G) dan Heat-Shock Protein-70 (Hsp-70) pada Pertumbuhan
Janin Terhambat. MKB. Vol.46(1).
19. Margaretha, S.L. 2006. Metoda Kanguru pada Perawatan Bayi Berat Lahir
Rendah. Sari Pediatri. Sari Pediatri.Vol 6(3) : 1881-187.

26