Anda di halaman 1dari 2

1.

Stunting pada awal masa anak-anak dapat menyebabkan penurunan Intellegence Quotient (IQ),
gangguan perkembangan psikomotor, kemampuan motorik dan integrasi neurosensor. masalah gizi
pada bayi dan balita berdampak besar terhadap perkembangan dan pertumbuhan pada masa bayi dan
balita terutama pada dua tahun awal kehidupan. Balita yang stunting merupakan hasil dari masalah gizi
kronis sebagai akibat dari asupan makanan yang kurang ditambah dengan penyakit infeksi, dan masalah
lingkungan. Di indonesia Tahun 2019 angka stunting 27,67 %.

Penanganan stunting terus dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kesehatan.
Dimana pada tahun 2019 ini setidaknya ada 12 kabupaten di Jawa Timur yang harus mendapatkan
treatment serius untuk mengentaskan masalah stunting. Sebanyak 12 daerah kabupaten yang masuk
dalam treatment penanganan stunting adalah Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, Jember,
Bondowoso, Probolinggo, Nganjuk, Lamongan, Malang, Trenggalek dan Kediri.

2. sosial ekonomi keluarga yakni pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan keluarga merupakan faktor
risiko terjadinya stunting pada anak. stunting berhubungan signifikan dan positif dengan lingkungan fisik
rumah (termasuk ketersediaan air bersih) yang baik yang mengindikasikan baiknya sosial ekonomi
keluarga, pengetahuan gizi ibu dan perilaku gizi ibu. Status gizi balita juga dipengaruhi oleh lingkungan
sosial.

Tahun 2019 prevalensi stunting balita di indonesia sendiri adalah 27, 67% sedangkan di provinsi Jatim
sebesar 36,81 persen. Adapun, beberapa daerah tertinggi prevalensinya yakni di Kota Malang sebesar
51,7 persen, Kabupaten Probolinggo 50,2 persen, dan Kabupaten Pasuruan 47,6 persen serta di kediri
sebanyak 12 persen atau sebanyak 600 anak. Data tersebut di ukur dari tiap-tiap daerah dengan hasil
riset yang di dapat.

3. Kekurangan nutrisi prenatal dan setelah lahir, infeksi sistemik, dan infeksi usus diduga berkontribusi
terhadap kejadian stunting. Perawakan orang tua yang pendek, indeks massa tubuh orang tua yang
rendah, serta kenaikan berat badan yang kurang selama kehamilan juga dinilai berhubungan dengan
berat bayi lahir rendah, yang merupakan salah satu risiko stunting.

Kehamilan pada masa remaja, saat ibunya sendiri masih dalam masa pertumbuhan, meningkatkan risiko
stunting maternal dan dapat menyebabkan luaran obstetrik yang buruk. Jarak antar kelahiran yang
dekat juga meningkatkan kebutuhan nutrisi pada ibu. Perawakan ibu yang pendek disertai dengan
kondisi anak dengan berat lahir rendah dan stunting dapat memperparah lingkaran intergenerasi dari
stunting.Faktor maternal yaitu nutrisi ibu saat mengandung dan interaksi perilaku (behavioural
interaction) juga merupakan faktor penyebab stunting. Kombinasi kekurangan nutrisi, infeksi berulang,
dan stimulasi psikososial yang kurang juga dapat menyebabkan stunting
Pada 1000 hari pertama kehidupan sejak konsepsi sampai dengan anak berusia 2 tahun, faktor nutrisi
dan lingkungan berperan besar dalam pertumbuhan anak, sedangkan faktor etnik atau genetik tidak
banyak berperan dalam pertumbuhan anak di bawah usia 2 tahun.

Stunting dapat mengakibatkan penurunan intelegensia (IQ), sehingga prestasi belajar menjadi rendah
dan tidak dapat melanjutkan sekolah. Anak yang menderita Stunting berdampak tidak hanya pada fisik
yang lebih pendek saja, tetapi juga pada kecerdasan, produktivitas dan prestasinya kelak setelah
dewasa, sehingga akan menjadi beban negara. Selain itu dari aspek estetika, seseorang yang tumbuh
proporsional akan kelihatan lebih menarik dari yang tubuhnya. Gagal tumbuh yang terjadi akibat kurang
gizi pada masa-masa emas ini akan berakibat buruk pada kehidupan berikutnya dan sulit diperbaiki.
Masalah Stunting menunjukkan ketidakcukupan gizi dalam jangka waktu panjang yaitu kurang energi
dan protein, juga beberapa zat gizi mikro.