Anda di halaman 1dari 20

NAMA : ALAN DWI SAPUTRA

NIM : PO713203181005

MIKOSIS SUPERFISIAL

A. PENDAHULUAN

Mikosis kutan disebabkan oleh jamur yang hanya menginvasi jaringan


superfisialis yang terkeratinisasi (kulit, rambut dan kuku) dan tidak ke jaringan
yang lebih dalam. Mikosis superfisialis adalah penyakit kulit yang disebabkan
jamur, yang mengenai lapisan kulit paling atas (epidermis). Bentuk yang paling
penting adalah dermatofita, suatu kelompok jamur serumpun yang
diklasifikasika menjadi 3 genus Epidennophyton, Microsporum
danTrychopyton. Pada jaringan keratin yang tidak hidup, bentuk-bentuk ini
adalah bila dan artrokonidia.Penyakit ini dapat menyerang kulit, rambut, ata
kuku. Mikosis superfisial digolongkan menjadi dua :

1. Dermatofitosis
Adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum
kroneum pada epidermis, rambut, kuku yang disebabkan oleh jamur golongan
dermatofita.
Contoh : Tinea Kapitis, Tinea Kruris, Tinea Korporis, Tinea Pedis, Tinea
Ungunium, Tinea Barbae
2. Non Dermatofitosis
Adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur yang bukan golongan dermatofita.
Contoh : Tinea Versicolor, Tinea Nigra Palmaris, Piedra, Trichomycosis,
Otomikosis

Ada dua golongan jamur yang menyebabkan mikosis superfisialis yaitu non
dermatofita dan dermatofita

Jamur Lokasi Penyakit

Dermatofita
Microsporum canis rambut, kulit
Microsporum audouini rambut
Microsporun gypseum kulit, rambut
Trychophyton tonsurans rambut, kulit, buku
Trychophyton rubrum rambut. kulit, kuku
Trychophyton mentagrophytes rambut, kulit
Trychophyton violaceum Rambut,kulit,kuku
Epidermophyton flocosum kulit
Non-Dermatofita
Pityrosporum orbiculare kulit Tinea vesikolor
(Malasezia furfur)
Clasdoporium werneckii kulit Tinea nigra
Piedraia rambut Piedra hitam
Trichosporon beigelii rambut Piedra putih

B. MACAM-MACAM MIKOSIS SUPERFISIAL

a) MIKOSIS SUPERFISIALIS NON -DERMATOFITOSIS


Infeksi non-dermatofitosis pada kulit biasanya terjadi pada kulit yang paling
luar. Hal ini disebabkan jenis jamur ini tidak dapat mengeluarkan zat yang
dapat mencerna keratin kulit dan tetap hanya menyerang lapisan kulit yang
paling luar. Yang masuk ke dalam golongan ini adalah
A. PITYRIASIS VERSICOLOR
TINEA VERSICOLOR

 DEFINISI
Tinea versikolor/Pityriasis versikolor adalah infeksi ringan yang sering terjadi
disebabkan oleh Malasezia furfur. Penyakit jamur kulit ini adalah penyakit yang
kronik dan asimtomatik ditandai oleh bercak putih sampai coklat yang bersisik.
Kelainan ini umumnya menyerang badan dan kadang- kadang terlihat di ketiak,
sela paha,tungkai atas, leher, muka dan kulit kepala.

 MORFOLOGI
Pertumbuhannya pada kulit (stratum korneum) berupa kelompok sel-sel bulat,
bertunas, berdinding tebal dan memiliki hifa yang berbatang pendek dan
bengkok, biasanya tidak menyebabkan tanda-tanda patologik selain sisik halus
sampai kasar. Bentuk lesi tidak teratur, berbatas tegas sampai difus dan ukuran
lesi dapat milier,lentikuler, numuler sampai plakat.
Ada dua bentuk yang sering dijumpai :
Bentuk makuler :
Berupa bercak-bercak yang agak lebar, dengan sguama halus diatasnya
dan tepi tidak meninggi.
Bentuk folikuler :
Seperti tetesan air, sering timbul disekitar rambut

 PATOGENESIS
Mallasezia furfur, merupakan organisme saprofit pada kulit normal. Bagaimana
perubahan dari saprofit menjadi patogen belum diketahui. Organisme ini
merupakan "lipid dependent yeast". Timbulnya penyakit ini juga dipengaruhi
oleh faktor hormonal, ras, matahari,peradangan kulit dan efek primer
pytorosporum terhadap melanosit.

 GAMBARAN KLINIS
Timbul bercak putih atau kecoklatan yang kadang-kadang gatal
bila,berkeringat. Bisa pula tanpa keluhan gatal sama sekali, tetapi penderita
mengeluh karena malu oleh adanya bercak tersebut. Pada orang kulit berwarna,
lesi yang terjadi tampak sebagai bercak hipopigmentasi, tetapi pada orang yang
berkulit pucat maka lesi bisa berwarna kecoklatan ataupun kemerahan. Di atas
lesi terdapat sisik halus.

Folikulitis
Merupakan bentuk klinis yang lebih berat, Malasezia furfur dapat tumbuh
dalam jumlah banyak pada folikel rambut dan kelenjar sebasea. Pada
pemeriksaan histologis organisme tersebut terlihat dilobang folikel bagian
infudibulum saluran sebasea dan sering disekitar dermis. Folikel berdilatasi
akibat sumbatan dan terdiri dari debris keratin. Secara klinis lesi terlihat eritem,
papula folikular atau pustula dengan ukuran 2-4 mm, distribusinya dipunggung,
dada kadang-kadang dibahu, dengan leher dan rusuk. Bentuknya yang lebih
berat disebut Acneifonn folliculitisDacriosis obstructif
Malasezia furfur dapat membentuk koloni pada kelenjar lakrimalis,
menyebabkan pembengkakan dan obstruksi. Pada beberapa kasus terbentuk
dakriolit, terjadi inflamasi dan mengganggu produksi air mata.

 DIAGNOSA BANDING
Penyakit ini harus dibedakan dari dermatitis seboroik, sifilis stadium tua,
pitiriasis rosea vitiligo, morbus hansen dan hipopigmentasi pasca peradangan.

 CARA MENEGAKKAN DIAGNOSA


Selain mengenal kelainan-kelainan yang khas yang disebabkan oleh Melasezi
fulfur diagnosa pitiriasis versikolor harus dibantu dengan pemeriksaan-
pemeriksaan sebagai berikut :
. Pemeriksaan langsung dengan KOH 10%.
Bahan-bahan kerokan kulit di ambil dengan cara mengerok bagian kulit
yang mengalami lesi. Sebelumnya kulit dibersihkan dengan kapas alkohol
70%, lalu dikerok dengan skalpel steril dan jatuhannya ditampung dalam
lempeng-lempeng steril pula. Sebagian dari bahan tersebut diperiksa
langsung dengan KOH% yang diberi tinta Parker Biru Hitam, Dipanaskan
sebentar, ditutup dengan gelas penutup dan diperiksa di bawah mikroskop.
Bila penyebabnya memang jamur, maka kelihatan garis yang memiliki
indeks bias lain dari sekitarnya dan jarak- jarak tertentu dipisahkan oleh
sekat-sekat atau seperti butir-butiir yang bersambung seperti kalung. Pada
pitiriasis versikolor hifa tampak pendek- pendek, lurus atau bengkok dengan
disana sini banyak butiran-butiran kecil bergerombol.
 Pembiakan.
Organisme penyebab Tinea versikolor belum dapat dibiakkan pada media
buatan.
Pemeriksaan dengan sinar wood,dapat memberikan perubahan warna pada
seluruh daerah lesi sehingga batas lesi lebih mudah dilihat. Daerah yang
terkena infeksi akan memperlihatkan fluoresensi warna emas sampai orange.

 PENGOBATAN
Tinea versikolor dapat diobati dengan berbagai obat yang manjur pakaian, kain
sprei, handuk harus dicuci dengan air panas. Kebanyakan pengobatan akan
menghilangkan bukti infeksi aktif (skuama) dalam waktu beberapa hari, tetapi
untuk menjamin pengobatan yang tuntas pengobatan ketat ini harus dilanjutkan
beberapa minggu.
Perubahan pigmen lebih lambat hilangnya. Daerah hipopigmentasi belum
akan tampak normal sampai daerah itu menjadi coklat kembali. Sesudah terkena
sinar matahari lebih lama daerah-daerah yang hipopigmentasi akan coklat
kembali. Meskipun terapi nampak sudah cukup, bila kambuh atau kena infeksi
lagi merupakan hal biasa, tetapi selalu ada respon terhadap pengobatan kembali.
Tinea versikolor tidak memberi respon yang baikterhadap pengobatan dengan
griseofulvin.
Obat-obat anti jamur yang dapat menolong misalnya salep whitfield,
salep salisil sulfur (salep 2/4), salisil spiritus, tiosulfatnatrikus (25%). Obat-obat
baru seperti selenium sulfida 2% dalam shampo, derivatimidasol seperti
ketokonasol, isokonasol, toksilat dalam bentuk krim atau larutan dengan
konsentrasi 1-2% sangat berkhasiat baik.

 PROGNOSIS
Umumnya baik bila faktor-faktor predisposisi dapat dieliminer dengan baik.

 EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini ditemukan diseluruh dunia (kosmopolit) terutama di daerah
beriklim panas. Di Indonesia frekuensinya tinggi. Penularan panu terjadi bila
ada kontakdengan jamur penyebab oleh karena itu kebersihan prinadi sangat
penting.

B. PIEDRA
Merupakan infeksi jamur pada rambut sepanjang corong rambut yang
memberikan benjolan-benjolan di luar permukaan rambut tersebut.
Ada dua macam :
Piedra putih : penyebabnya
Piedraia beigeli Piedra hitam :
penyebabnya Piedraia horlal
a. PIEDRA BEIGELl
Merupakan penyebab piedra putih, terdapat pada rambut. Jamur ini dapat
ditemukan ditanah, udara,dan permukaan tubuh.

 ETIOLOGI
Piedra Beigeli (Trikosporon beigeli) terutama terdapat didaerah subtropis, daerah
dingin, (di Indonesia belum ditemukan)

 MORFOLOGI
Jamur ini mempunyai hifa yang tidak berwarna termasuk moniliaceae. Secara
mikroskopis jamur ini menghasilkan arthrokonidia dan blastoconidia.

 PATOGENESIS
Biasanya penyakit ini dapat timbul karena adanya kontak langsung dari orang
yang sudah terkena infeksi.

 GAMBARAN KLINIS
Adanya benjolan warna tengguli pada rambut, kumis, jenggot, kepala,
umumnya tidak memberikan gejala-gejala keluhan.

 DIAGNOSA LABORATORIUM
Diagnosa ditegakkan atas dasar :
- gejala kllinis
- pemeriksaan laboratorium dengan KOH dan kultur pada agar Sabauroud.

 PENGOBATAN
Rambut dicukur atau dikeramas dengan sublimat 1/2000 (5 %0) dalam spiritus
dilutus.

b. PIEDRA HORTAL
Merupakan jamur penyebab piedra hitam (infeksi pada rambut berupa benjolan
yang melekat erat pada rambut, berwarna hitam). Penyakit ini umumnya
terdapat di daerah-daerah tropis dan subtropis. Terutama terdapat pada rambut
kepala, kumis ataujambang, dan dagu.
 MORFOLOGI
Askospora berbentuk seperti pisang. Askospora tersebut dibentuk dalam suatu
kantung yang disebut askus. Askus-askus bersama dengan anyaman hifa yang
padat membentuk benjolan hitam yang keras dibagian luar rambut.
Dari rambut yang ada benjolan, tampak hifa endotrik (dalam rambut) sampai
ektotrik (diluar rambut) yang besarnya 4-8 um berwarna tengguli dan
ditemukan spora yang besarnya 1-2 um.

 GAMBARAN KLINIS
Pada rambut kepala, janggut, kumis akan tampak benjolan atau penebalan yang
keras warna hitam. Penebalan ini sukar dilepaskan dari corong rambut tersebut.
Umumnya rambut lebih suram, bila disisir sering memberikan bunyi seperti
logam. Biasanya penyakit ini mengenai rambut dengan kontak langsung atau
tidak langsung.

 DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan atas dasar :
1. Gejala klinis
Objektif rambut lebih suram, benjolan bila disisir terasa seperti logam kasar.
2. Laboratorium
a. Langsung dengan KOH 10-20% dari rambut yang ada benjolan tampak
hifa endotrik (dalam rambut pada lapisan kortek) sampai ektotrik (di luar
rambut) yang besar 4-8 mu berwarna tengguli dan ditemukan spora yang
besarnya 1-2 u
b. Kultur ram but dalam media Saboutound tampak koloni mula-mula
tumbuh sebagai ragi yang berwarna kilning, kemudian dalam 2-4 hari
akan berubah menjadi koloni filamen.

 PENGOBATAN
Sebaiknya rambut dicukur, dapat juga dikeramas dalam larutan sublimat :
1/2000 dalam alkohol dilutus (spiritus 70%) hasil pengobatan akan tampak
dalam 1 minggu

C. OTOMIKOSIS
Otomikosis adalah infeksi jamur pada liang telinga bagian luar. Jamur dapat
masuk ke dalam liang telinga melalui alat-alat yang dipakai untuk mengorek-
ngorek telinga yang terkontaminasi atau melalui udara atau air. Penderita akan
mengeluh merasa gatal atau sakit di dalam liang telinga. Pada liang telinga akan
tampak berwarna merah, ditutupi oleh skuama, dan kelainan ini ke bagian luar
akan dapat meluas sampai muara liang telinga dan daun telinga sebelah dalam.
Tempat yang terinfeksi menjadi merah dan ditutupi skuama halus. Bila meluas
sampai ke dalam, sampai ke membrana timpani, maka daerah ini menjadi
merah, berskuama, mengeluarkan cairan srousanguinos. Penderita akan
mengalami gangguan pendengaran. Bila ada infeksi sekunder dapat terjadi otitis
ekstema. Penyebab biasanya jamur kontaminasi yaitu Aspergillus, sp Mukor
dan Penisilium.

 DIAGNOSA
Diagnosa didasarkan pada :
1. Gejala klinik
Yang khas, terasa gatal atau sakit diliang telinga dan daun telinga menjadi
merah, skuamous dan dapat meluas ke dalam liang telinga sampai 2/3 bagian
luar.
2 .Pemeriksaan Laboratorium
a. Preparat langsung: Skuama dari kerokan kulit Jiang telinga diperiksa dengan
KOH 10% akan tampak hifa-hifa lebar, berseptum dan kadang-kadang dapat
ditemukan spora-spora kecil dengan diameter 2-3 u.
b. Pembiakan: Skuama dibiak pada media Sabauroud dekst ditemukan
dekstrosa agar dan dikeram pada temperatur kamar. Koloni akan tumbuh
dalam satu minggu berupa koloni filamen berwarna putih. Dengan
mikroskop tampak hifa-hifa lebar dan pada ujung-ujung hifa dapat
ditemukan sterigma dan spora berjejer melekat pada permukaannya.

 DIFERENSIAL DIAGNOSA
Otitis eksterna atau kontak dermatitis pada liang telinga sering memberi gejala-
gejala yang sama.

 PROGNOSIS
Umumnya baik bila diobati dengan pengobatan yang adekuat.

 PENGOBATAN
Pengobatan ditujukan menjaga agar liang telinga tetap kering jangan lembab
dan jangan mengorek-ngorek telinga dengan barang-barang yang kotor seperti
korek api, garukan telinga atau kapas. Kotoran- kotoran telinga harus selalu
dibersihkan. Larutan timol 2% dalam spiritus dilutus (alkohol 70%) atau
meneteskan larutan burowi 5% satu atau dua tetes dan selanjutnya dibersihkan
dengan desinfektan biasanya memberi hasil pengobatan yang memuaskan.
Neosporin dan larutan gentien violet 1-2% juga dapat menolong.

D. TINEA NIGRA
Tinea nigra ialah infeksi jamur superfisialis yang biasanya menyerang kulit
telapak kaki dan tangan dengan memberikan warna hitam sampai coklat pada
kulit yang terserang. Makula yang terjadi tidak menonjol pada permukaan kulit,
tidak terasa sakit dan tidak ada tanda-tanda radang. Kadang-kadang makula ini
dapat meluas sampai ke punggung, kaki dan punggung tangan, bahkan dapat
menyebar sampai dileher, dada dan muka.Gambaran efloresensi ini dapat
berupa polosiklis, arsiner dengan warna hitam atau coklat hampir sama seperti
setetes nitras argenti yang diteteskan pada kulit.

Penyebabnya adalah Kladosporium wemeki dan jamur ini banyak menyerang


anak- anak dengan higiene kurang baik dan orang-orang yang banyak
berkeringat.

 DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan :
1.Gejala klinis ng khas

2. Pemeriksaan laboratorium
a. Preparat langsung : kerokan kulit dengan KOH 10% akan menunjukkan
adanya hifa dan spora yang tersebar di dalam gel-gel epitel, besar hifa
berkisar 3-5 u dan spora berkisar 1-2u.
b. Pembiakan : Pembiakan skuama pada media Sabauroud glukosa agar
(SGA), dikeram pada temperatur kamar. Dalam 1-2 minggu akan tumbuh
koloni menyerupai ragi, berwarna hijau dan pada bagian tepinya tumbuh
daerah yang filamentous berwarna coklat. Pada pemerikasaan
mikroskopis tampak hifa halus bercabang, mengkilat dan spora-spora
yang lonjong.
 DIFERENSIAL DIAGNOSA
Lesi-lesi hitam pada kulit seperti pada sifilis stadium kedua pada telapak
tangan, harus dipikirkan. Melanoma memberikan gambaran klinis yang rnirip.
Tinea versikolorpun memberikan gambaran yang hampir sama.

 PENGOBATAN
Pengobatan dengan obat-obat anti jamur banyak menolong. Salep whitfield I
dan II atau salep sulfursalisil juga dapat menolong. Obat-obat anti jamur,
preparat- preparat imidazol seperti isokotonasol, bifonasol, klotrirnasol juga
berkhasiat baik.

b) MIKOSIS SUPERFISIALIS DERMATOFITOSIS


Penyakit yang disebabkan oleh golongan jamur dermatofit disebut "
Dermatofitosis ". Golongan jamur ini dapat mencerna keratin kulit oleh karena
mempunyai daya tarik kepada keratin (keratinofilik) sehingga infeksi jamur ini
dapat menyerang lapisan- lapisan kulit mulai dari stratum korneurm sampai
dengan stratum basalis.

a. ETIOLOGI
Dermatofitosis disebabkan jamur golongan dermatofita yang terdiri dari tiga
genus yaitu genus: Mikrosporon, Trikofiton dan Epidermofiton. Dari 41 spesies
dermafito yang sudah dikenal hanya 23 spesies yang dapat menyebabkan
penyakit pada manusia dan binatang yang terdiri dari 15 spesies Trikofiton, 7
spesies Mikrosporon dan 1 spesies Epidermafiton.

Cara penentuan dermatofitosis terlihat pada bagan dan garnbar (dibawah ini).
Selain sifat keratinofilik ini, setiap spesies dermatofita m empunyai afinitas
terhadap hospes tertentu. Dermatofita yang zoofilik terutama menyerang
binatang, dan kadang-kadang menyerang manusia. Misalnya : Mirosporon canis
dan Trikofiton verukosum. Dermatofita yang geofilik adalah jamur yang hidup
di tanah dan dapat menimbulkan radang yang moderat pada manusia, misalnya
Mikrosporon gipsium.

b. GAMBARAN KLINIS
Umumnya gejala-gejala klinik yang ditimbulkan oleh golongan geofilik pada
mausia bersifat akut dan sedang dan lebih mudah sembuh. Dermatofita yang
antropofilik terutama menyerang manusia, karena memilih manusia sebagai
hospes tetapnya. Golongan jamur ini dapat menyebabkan perjalanan penyakit
menjadi menahun dan residif , karena reaksi penolakan tubuh yang sangat
ringan. Contoh jamur yang antropofilik ialah: Mikrosporon audoinii Trikofiton
rubrum.

c. CARA PENULARAN
Cara penularan jamur dapat secara langsung dan secara tidak langsung.
Penularan langsung dapat secara fomitis, epitel, rambut-rambut yang
mengandung jamur baik dari manusia, binatang atau dari tanah. Penularan tak
langsung dapat melalui tanaman, kayu yang dihinggapi jamur, barang-barang
atau pakaian, debu atau air. Disamping cara penularan tersebut diatas, untuk
timbulnya kelainan-kelainan di kulit tergantung dari beberapa faktor :
1. Faktor virulensi dari dermatofita
Virulensi ini tergantung pada afinitas jamur itu, apakah jamur Antropofilik,
Zoofilik atau Geofilik. Selain afinitas ini masing-masing jenis jamur ini
berbeda pula satu dengan yang lain dalam afinitas terhadap manusia maupun
bagian-bagian dari tubuh Misalnya : Trikofiton rubrum jarang menyerang
rambut, Epidermatofiton flokosum paling sering menyerang lipat pada
bagian dalam.
2. Faktor trauma
Kulit yang utuh tanpa lesi-lesi kecil, lebih susah untuk terserang jamur.

3. Faktor-suhu dan kelembaban


Kedua faktor ini sangat jelas berpengaruh terhadap infeksi jamur, tampak
pada lokalisasi atau lokal, di mana banyak keringat seperti lipat paha dan
sela-sela jari paling sering terserang penyakit jamur ini.

4. Keadaan sosial serta kurangnya kebersihan


Faktor ini memegang peranan penting pada infeksi jamur di mana terlihat
insiden penyakit jamur pada golongan sosial dan ekonomi yang lebih rendah,
penyakit ini lebih sering ditemukan dibanding golongan sosial dan ekonomi
yang lebih baik.

5. Faktor umur dan jenis kelamin


Penyakit Tinea kapitis lebih sering ditemukan pada anak-anak dibandingkan
orang dewasa, dan pada wanita lebih sering ditemukan infeksi jamur di sela-
sela jari dibanding pria dan hal ini banyak berhubungan dengan pekerjaan.
Di samping faktor-faktor tadi masih ada faktor-faktor lain seperti faktor
perlindungan tubuh (topi, sepatu dan sebagainya) , faktor transpirasi serta
pemakaian pakaian yang serba nilan, dapat mempermudah penyakit jamur
ini.

d. PEMBAGIAN / LOKASI JAMUR


Secara etiologis dermatofitosis disebabkan oleh tiga genus dan penyakit yang
ditimbulkan sesuai dengan penyebabnya. Diagnosis etiologi ini sangat sukar
oleh karena harus menunggu hasil biakan jamur dan ini memerlukan waktu
yang agak lama dan tidak praktis. Disamping itu sering satu gambaran klinik
dapat disebabkan oleh beberapa jenis spesies jamur, dan kadang-kadang satu
gambaran klinis dapat disebabkan oleh beberapa spesies dematofita sesuai
dengan lokalisasi tubuh yang diserang.

Istilah Tinea dipakai untuk semua infeksi oleh dermatofita dengan dibubuhi
tempat bagian tubuh yang terkena infeksi, sehingga diperoleh pembagian
dermatofitosis sebagai berikut :

1. Tinea kapitis : bila menyerang kulit kepala clan rambut


2. Tinea korporis : bila menyerang kulit tubuh yang berambut (globrous skin).
3. Tinea kruris : bila menyerang kulit lipat paha, perineum, sekitar anus dapat
meluas sampai ke daerah gluteus, perot bagian bawah
dan ketiak atau aksila
4. Tinea manus dan tinea pedis :
Bila menyerang daerah kaki dan tangan, terutama
telapak tangan dan kaki serta sela-selajari.
5. Tinea Unguium : bila menyerang kuku
6. Tinea Barbae : bila menyerang daerah dagu, jenggot, jambang dan kumis.
7. Tinea Imbrikata : bila menyerang seluruh tubuh dengan memberi gambaran
klinik yang khas.

e. GEJALA -GEJALA KLINIK


Umumnya dermatofitosis pada kulit memberikan morfologi yang khas yaitu
bercak- bercak yang berbatas tegas disertai efloresensi-efloresensi yang lain,
sehingga memberikan kelainan-kelainan yang polimorf, dengan bagian tepi
yang aktif serta berbatas tegas sedang bagian tengah tampak tenang .
Gejala objektif ini selalu disertai dengan perasaan gatal, bila kulit yang gatal
ini digaruk maka papel-papel atau vesikel-vesikel akan pecah sehingga
menimbulkan daerah yang erosit dan bila mengering jadi krusta dan skuama.
Kadang-kadang bentuknya menyerupai dermatitis (ekzema marginatum) , tetapi
kadang-kadang hanya berupa makula yang berpigmentasi saja (Tinea korporis)
dan bila ada infeksi sekunder menyerupai gejala-gejala pioderma
(impetigenisasi).

f. MACAM-MACAM DERMATOFITOSIS

1. TINEA KAPITIS
(Scalp ring worm ;Tinea Tonsurans)

Biasanya penyakit ini banyak menyerang anak-anak dan sering ditularkan


melalui binatang- binatang peliharaan seperti kucing, anjing dan sebagainya.

Berdasarkan bentuk yangkhas Tinea Kapitis dibagi dalam 4 bentuk :


1. Gray pacth ring worm
Penyakit ini dimulai dengan papel merah kecil yang melebar ke sekitarnya
dan membentuk bercak yang berwarna pucat dan bersisik. Warna rambut
jadi abu-abu dan tidak mengkilat lagi, serta mudah patah dan terlepas dari
akarnya, sehingga menimbulkan alopesia setempat.
Dengan pemeriksaan sinar wood tampak flourisensi kekuning-kuningan pada
rambut yang sakit melalui batas "Grey pacth" tersebut. Jenis ini biasanya
disebabkan spesies mikrosporon dan trikofiton.

2. Black dot ring worm


Terutama disebabkan oleh Trikofiton Tonsurans, T. violaseum,
mentagrofites. infeksi jamur terjadi di dalam rambut (endotrik) atau luar
rambut (ektotrik) yang menyebabkan rambut putus tepat pada permukaan
kulit kepala.

Ujung rambut tampak sebagai titik-titik hitam diatas permukaan ulit, yang
berwarna kelabu sehingga tarnpak sebagai gambaran ” back dot". Biasanya
bentuk ini terdapat pada orang dewasa dan lebih sering pada wanita. Rambut
sekitar lesi juga jadi tidak bercahaya lagi disebabkan kemungkinan sudah
terkena infeksi penyebab utama adalah Trikofiton tonsusurans dan
T.violaseum.

3. Kerion
Bentuk ini adalah yang serius, karena disertai dengan radang yang hebat
yang bersifat lokal, sehingga pada kulit kepala tampak bisul-bisul kecil yang
berkelompok dan kadang-kadang ditutupi sisik-sisik tebal. Rambut di daerah
ini putus-putus dan mudah dicabut. Bila kerion ini pecah akan meninggalkan
suatu daerah yang botak permanen oleh karena terjadi sikatrik. Bentuk ini
terutama disebabkan oleh Mikosporon kanis, M.gipseum , T.tonsurans dan
T. Violaseum.

4.Tinea favosa
Kelainan di kepala dimulai dengan bintik-bintik kecil di bawah kulit yang
berwarna merah kekuningan dan berkembang menjadi krusta yang berbentuk
cawan (skutula), serta memberi bau busuk seperti bau tikus "moussy odor".
Rambut di atas skutula putus-putus dan mudah lepas dan tidak mengkilat
lagi. Bila menyembuh akan meninggalkan jaringan parut dan alopesia yang
permanen. Penyebab utamanya adalah Trikofiton schoenleini, T. violasum
dan T. gipsum. Oleh karena Tinea kapitis ini sering menyerupai penyakit-
penyakit kulit yang menyerang daerah kepala, maka penyakit ini harus
dibedakan dengan penyakit- penyakit bukan oleh jamur seperti: Psoriasis
vulgaris dan Dermatitis seboroika.
5.Trikotilomania

2. TINEA KORPORIS
(Tinea circinata=Tinea glabrosa)
Penyakit ini banyak diderita oleh orang-orang yang kurang mengerti kebersihan
dan banyak bekerja ditempat panas, yang banyak berkeringat serta kelembaban
kulit yang lebih tinggi. Predileksi biasanya terdapat dimuka, anggota gerak atas,
dada, punggung dan anggota gerak bawah.

Bentuk yang klasik dimulai dengan lesi-lesi yang bulat atau lonjong dengan tepi
yang aktif. Dengan perkembangan ke arah luar maka bercak-bercak bisa
melebar dan akhirnya dapat memberi gambaran yang polisiklis, arsiner, atau
sinsiner. Pada bagian tepi tampak aktif dengan tanda-tanda eritema, adanya
papel-papel dan vesikel, sedangkan pada bagian tengah lesi relatif lebih tenang.
Bila tinea korporis ini menahun tanda-tanda aktif jadi menghilang selanjutnya
hanya meningggalkan daerah-daerah yang hiperpigmentasi saja. Kelainan-
kelainan ini dapat teIjadi bersama-sama dengan Tinea kruris.

Penyebab utamanya adalah : T.violaseum, T.rubrum, T.metagrofites.


Mikrosporon gipseum, M.kanis, M.audolini. penyakit ini sering menyerupai :
1. Pitiriasis rosea
2. Psoriasis vulgaris
3. Morbus hansen tipe tuberkuloid
4. Lues stadium II bentuk makulo-papular.

3. TINEA KRURIS
(Eczema marginatum."Dhobi itch", "Jockey itch")

Penyakit ini memberikan keluhan perasaan gatal yang menahun, bertambah


hebat bila disertai dengan keluarnya keringat. Kelainan yang timbul dapat
bersifat akut atau menahun. Kelainan yang akut memberikan gambaran yang
berupa makula yang eritematous dengan erosi dan kadang-kadang terjadi
ekskoriasis. Pinggir kelainan kulit tampak tegas dan aktif.

Apabila kelainan menjadi menahun maka efloresensi yang nampak hanya


makula yang hiperpigmentasi disertai skuamasi dan likenifikasi. Gambaran
yang khas adalah lokalisasi kelainan, yakni daerah lipat paha sebelah dalam,
daerah perineum dan sekitar anus. Kadang-kadang dapat meluas sampai ke
gluteus, perot bagian bawah dan bahkan dapat sampai ke aksila.
Penyebab utama adalah Epidermofiton flokkosum, Trikofiton
rubrum dan T.mentografites.

Diferensial Diagnosa :
1. Kandidiasis inguinalis
2. Eritrasma
3. Psoriasis vulgaris
4. Pitiriasis rosea

4. TINEA MANUS DAN TINEA PEDIS

(Tinea Manus) (Tinea Pedis)

Tinea pedis disebut juga Athlete's foot = "Ring worm of the foot". Penyakit ini
sering menyerang orang-orang dewasa yang banyak bekerja di tempat basah
seperti tukang cuci, pekerja-pekerja di sawah atau orang-orang yang setiap hari
harus memakai sepatu yang tertutup seperti anggota tentara. Keluhan subjektif
bervariasi mulai dari tanpa keluhan sampai rasa gatal yang hebat dan nyeri bila
ada infeksi sekunder.

Ada 3 bentuk Tinea pedis

1. Bentuk intertriginosa
keluhan yang tampak berupa maserasi, skuamasi serta erosi, di celah-celah jari
terutama jari IV dan jari V. Hal ini terjadi disebabkan kelembaban di celah-
ceIah jari tersebut membuat jamur-jamur hidup lebih subur. Bila menahun
dapat terjadi fisura yang nyeri bila kena sentuh. Bila terjadi infeksi dapat
menimbulkan selulitis atau erisipelas disertai gejala-gejala umum.

2. Bentuk hiperkeratosis
Disini lebih jelas tampak ialah terjadi penebalan kulit disertai sisik terutama
ditelapak kaki, tepi kaki dan punggung kaki. Bila hiperkeratosisnya hebat dapat
terjadi fisura- fisura yang dalam pada bagian lateral telapak kaki.

3. Bentuk vesikuler subakut


Kelainan-kelainan yang timbul di mulai pada daerah sekitar antar jari,
kemudian meluas ke punggung kaki atau telapak kaki. Tampak ada vesikel dan
bula yang terletak agak dalam di bawah kulit, diserta perasaan gatal yang hebat.
Bila vesikel- vesikel ini memecah akan meninggalkan skuama melingkar yang
disebut Collorette. Bila terjadi infeksi akan memperhebat dan memperberat
keadaan sehingga dapat terjadi erisipelas. Semua bentuk yang terdapat pada
Tinea pedis, dapat terjadi pada Tinea manus, yaitu dermatofitosis yang
menyerang tangan.

Penyebab utamanya ialah : T .rubrum, T .mentagrofites, dan Epidermofiton


flokosum.

Tinea manus dan Tinea pedis harus dibedakan dengan :


1. Dermatitis kontak akut alergis
2. Skabiasis
3. Psoriasispustulosa

5. TINEA UNGUIUM
(Onikomikosis = ring worm of the nails)

Penyakit ini dapat dibedakan dalam 3 bentuk tergantung jamur penyebab dan
permulaan dari dekstruksi kuku. Subinguinal proksimal bila dimulai dari
pangkal kuku, Subinguinal distal bila di mulai dari tepi ujung dan Leukonikia
trikofita bila di mulai dari bawah kuku. Permukaan kuku tampak suram tidak
mengkilat lagi, rapuh dan disertai oleh subungual hiperkeratosis. Dibawah kuku
tampak adanya detritus yang banyak mengandung elemen jamur.

Onikomikosis ini merupakan penyakit jamur yang kronik sekali, penderita


minta pertolongan dokter setelah menderita penyakit ini setelah beberapa lama,
karena penyakit ini tidak memberikan keluhan subjektif, tidak gatal, dan tidak
sakit. Kadang-kadang penderita baru datang berobat setelah seluruh kukunya
sudah terkena penyakit.

Penyebab utama adalah : T.rubrum, T.metagrofites


Diagnosis banding:
1. Kandidiasis kuku
2. Psoriasis yang menyerang kuku
3. Akrodermatitis persisten

6. TINEA BARBAE
Penderita Tinea barbae ini biasanya mengeluh rasa gatal di daerah jenggot,
jambang dan kumis, disertai rambut-rambut di daerah itu menjadi putus.
Ada 2 bentuk yaitu superfisialis dan kerion

SUPERFISIALIS
Kelainan-kelainan berupa gejala eritem, papel dan skuama yang mula-mula
kecil selanjutnya meluas ke arab luar dan memberi gambaran polisiklik, dengan
bagian tepi yang aktif. Biasanya gambaran seperti ini menyerupai tinea
korporis.

KERION
Bentuk ini membentuk lesi-lesi yang eritematous dengan ditutupi krusta atau
abses kecil dengan permukaan membasah oleh karena erosi.

Tinea barbae ini didiagnosa banding dengan :


1. Sikosis barbae (folikulitis oleh karena piokokus)
2. Karbunkel
3. Mikosis dalam

7. TINEA IMBRIKATA

Penyakit ini adalah bentuk yang khas dari Tinea korporis yang disebabkan oleh
Trikofiton konsentrikum. Gambaran klinik berupa makula yang eritematous
dengan skuama yang melingkar.

Apabila diraba terasa jelas skuamanya menghadap ke dalam. Pada umumnya


pada bagian tengah dari lesi tidak menunjukkan daerah yang lebih tenang, tetapi
seluruh makula ditutupi oleh skuama yang melingkar. Penyakit ini sering
menyerang seluruh permukaan tubuh sehingga menyerupai :
1. Eritrodemia
2. Pempigus foliaseus
3. Iktiosis yang sudah menahun

g. PENGOBATAN
A. Pengobatan Pencegahan :
1. Perkembangan infeksi jamur diperberat oleh panas, basah dan maserasi.
Jika faktor-faktor lingkungan ini tidak diobati, kemungkinan penyembuhan
akan lambat. Daerah intertrigo atau daerah antara jari-jari sesudah mandi
harus dikeringkan betul dan diberi bedak pengering atau bedak anti jamur.
2. Alas kaki harus pas betul dan tidak terlalu ketat.
3. Pasien dengan hiperhidrosis dianjurkan agar memakai kaos dari bahan
katun yang menyerap keringat, jangan memakai bahan yang terbuat dari
wool atau bahan sintetis.
4. Pakaian dan handuk agar sering diganti dan dicuci bersih-bersih dengan air
panas.

B. Terapi lokal :
Infeksi pada badan dan lipat paha dan lesi-lesi superfisialis, di daerah jenggot,
telapak tangan dan kaki, biasanya dapat diobati dengan pengobatan topikal saja.
1. Lesi-lesi yang meradang akut yang acta vesikula dan acta eksudat harus
dirawat dengan kompres basah secara terbuka, dengan berselang-selang atau
terus menerus. Vesikel harus dikempeskan tetapi kulitnya harus tetap utuh.
2. Toksilat, haloprogin, tolnaftate dan derivat imidazol seperti mikonasol,
ekonasol, bifonasol, kotrimasol dalam bentuk larutan atau krem dengan
konsentrasi 1-2% dioleskan 2 x sehari akan menghasilkan penyembuhan
dalam waktu 1-3 minggu.
3. Lesi hiperkeratosis yang tebal, seperti pada telapak tangan atau kaki
memerlukan terapi lokal dengan obat-obatan yang mengandung bahan
keratolitik seperti asam salisilat 3-6%. Obat ini akan menyebabkan kulit
menjadi lunak dan mengelupas. Obat-obat keratolotik dapat mengadakan
sensitasi kulit sehingga perlu hati-hati kalau menggunakannya.
4. Pengobatan infeksi jamur pada kuku, jarang atau sukar untuk mencapai
kesembuhan total. Kuku yang menebal dapat ditipiskan secara mekanis
misalnya dengan kertas amplas, untuk mengurangi keluhan-keluhan
kosmetika. Pemakaian haloprogin lokal atau larutan derivat asol bisa
menolong. Pencabutan kuku jari kaki dengan operasi, bersamaan dengan
terapi griseofulvin sistemik, merupakan satu-satunya pengobatan yang bisa
diandalkan terhadap onikomikosis jari kaki.

C. Terapi sistemik
Pengobatan sistemik pada umumnya mempergunakan griseofulvin.
Griseofulvin adalah suatu antibiotika fungisidal yang dibuat dari biakan spesies
penisillium. Obat ini sangat manjur terhadap segala jamur dermatofitosis.
Griseofulvin diserap lebih cepat oleh saluran pencernaan apabila diberi
bersama-sama dengan makanan yang banyak mengandung lemak, tetapi
absorpsi total setelah 24 jam tetap dan tidak dipengaruhi apakah griseofulvin
diminum bersamaan waktu makan atau diantara waktu makan.

Dosis rata-rata orang dewasa 500 mg per hari. Pemberian pengobatan dilakukan
4 x sehari , 2 x sehari atau sekali sehari. Untuk anak-anak dianjurkan 5 mg per
kg berat badan dan lamanya pemberian adalah 10 hari. Salep ketokonasol dapat
diberikan 2 x sehari dalam waktu 14 hari.
h. PROGNOSIS
Perkembangan penyakit dermatofitosis dipengaruhi oleh bentuk klinik dan
penyebab penyakitnya disamping faktor-faktor yang memperberat atau
memperingan penyakit. Apabila faktor-faktor yang memperberat penyakit
dapat dihilangkan, umumnya penyakit ini dapat hilang sempurna.
KESIMPULAN

Mikosis supernsialis adalah jamur-jamur yang menyerang lapisan luar ari pada
kulit, kuku, dan rambut. Dibagi dalam dua bentuk yakni:
a. Dermatofitosis; terdiri dari :
1. Tinea kapitis
2. Tinea kruris
3. Tinea Korporis
4. Tinea pedis atau manus
5. Tinea unguium (onikomikosis)
6. Tinea interdigitalis
7. Tinea imbrikata
8. Tinea favosa
9. Tinea barbae
b. Non-Dermatosis; terdiri dari :
1. Tinea versikolor
2. Piedra hitam
3. Piedra putih
4. Tinea Nigra
5. Otomikosis

Perbedaan antara dermatofitosis dan nondermatofitosis adalah disebabkan


karena letak infeksinya pada kulit. Golongan dermatofitosis menyerang atau
menimbulkan kelainan di dalam epidermidis mulai dari stratum komeum
sampai stratum basalis, sedangkan golongan non-dermatofitosis hanya bagian
superfisialis dari epidermidis. Hal ini disebabkan karena dermatofitosis
mempunyai afinitas tehadap keratin yang terdapat pada epidermidis, rambut,
kuku, sehingga infeksinya lebih dalam.
DAFTAR PUSTAKA

Arnold, Odum, James.Andrew's :Desease of the skin, .8th ed ,London.


WBSounders Co., 1989 : 347-349.
Balus, L: Grigoriu D : Pityriasis versicolor. CILAG-LTD 1982.
Budi mulja, U : Mikosis. Dalam ilmu penyakit kulit dan kelamin, Jakarta FK UI.
1987
: 84-88
Emmons. CW , Binford. CH, Utz, JP & Kwon Chung: Medical Mycology, 3 rd
ed.
Philadelphia, Lea & Febiger. 1977
Jawetz, Melnick & Adelberg : Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 20, EGC Jakarta
1996. Kenneth J. Ryan: Sherris Medical Micribiology .Pretice Hall International
Inc , 1994. Kuswadji : Dermatimikosis. Budimulja U, Sunoto, Tjokronegoro A .
Penyakit Jamur,
Jakarta FKUI. 1983
Rippon.J : Superfisialis Infections.in Medical Mycology, second ed Tokyo, WB
saunders Co. 1988
Siregar.S: Penyakit Jamur Kulit. EGC Jakarta.1982