Anda di halaman 1dari 8

Analisis Metode Cross-Sectional Field Study

The Breadth/Depth Trade-Off

Studi yang menggunakan pendekatan studi lapangan cross-sectional mengacu pada


sejumlah besar pengamatan daripada studi kasus mendalam, tetapi juga dapat menangani
pertanyaan yang lebih kompleks '' bagaimana '' dan '' mengapa '' daripada pendekatan survei
(Eisenhardt 1991; Ahrens dan Dent 1998). Pendekatan ini memberikan cara efektif kepada para
peneliti untuk menangkap fenomena kompleks dalam domain terbatas. Ini juga memungkinkan
mereka untuk mengungkap alasan yang mungkin menjelaskan hasil yang bertentangan,
ambiguitas, atau ketegangan dalam penelitian sebelumnya. Tanggapan terelaborasi yang
diperoleh dari teknik pengumpulan data seperti wawancara semi-terstruktur juga dapat menyoroti
hubungan yang sebelumnya tidak dihipotesiskan antar variabel (Spicer 1992; Lillis 1999).
Survei, studi kasus, beberapa studi kasus, dan studi lapangan cross-sectional dapat
dibandingkan pada banyak dimensi, dapat dilakukan dengan membandingkannya dari jumlah
pengamatan dan kedalaman pengamatan di lokasi tertentu adalah sederhana dan gagal untuk
mengatasi perbedaan mendasar dalam logika desain penelitian. Logika desain didorong oleh
tingkat kerumitan fenomena yang diteliti dan kebutuhan untuk mengamati pola lintas kasus.
Gambar dibawah ini mengilustrasikan tingkat kedalaman dan tingkat keluasan (jumlah
pengamatan) dari pendekatan studi kasus, multiple case study, studi lapangan cross-sectional dan
survei.

Gambar 1
Berdasarkan gambar diatas, dapat disimpulkan bahwa luas dari metode penelitian dapat
secara valid di gambarkan berdasarkan keluasan (jumlah observasi) dan dimensi kedalaman (dari
tiap observasi), single case study berada pada low breadth artinya pendekatan ini memiliki
tingkat keluasan yang paling kecil namun memiliki kuadran kedalaman yang paling tinggi.
Sedangkan keluasan praktik dari metode survei berada pada tingkat keluasan dan kedalaman
yang bertolak belakang dengan case study, yaitu memiliki tingkat keluasan yang tinggi, namun
memiliki kuadran kedalaman yang relatif lebih rendah. Multiple case study dan cross sectional
field studies berada di antara single case study dan survei. Pada gambar tersebut, digambarkan
bahwa multiple cases study lebih cenderung mendekati pendekatan single case study, dan begitu
juga dengan cross sectional filed study yang lebih cenderung mendekati pendekatan survei. Studi
dengan menggunakan sebuah pendekatan cross sectional field, memiliki desain yang sama
dengan multiple case study di lihat dari sisi dimensi dari keseragaman, pentingnya replikasi
logic, dan juga batas kedalaman dari analisis kontetual yang di dapat dari data individu,
penjelasan ini didasarkan pada pendapat dari Eiendrant (1989) dan Yin (1994). Namun, secara
umum multiple case study memiliki sebuah unit analisis yang merupakan sebuah kasus dan juga
jumlah dari kasus yang di uji relatif lebih kecil, hal ini di lakukan untuk menghindari
penggabungan kedalaman dari analisis secara signifikan. Dalam cross sectional studies unit
analisis di definisikan lebih fleksibel dalam mengobservasi sebuah fenomena studi.
Tabel penjelasan posisi masing-masing metode yang di gambarkan pada figure 1.
Jenis Metode Depth (Kedalaman) Breadth (Keluasan)
Single Case study High depth quadrant Low depth qudrant
Multiple Case Study Middle (lebih cenderung ke Middle dept quadrant
metode Single case study
Cross Sectional Field Middle (lebih cenderung ke Middle depth quadarnt
metode survei)
Surveys Low Depth quadrant High Depth quadrant
Kesimpulannya ke empat metode ini dapat di bandingkan dalam banyak dimesi. Dan hal
yang membedakan ke empat dimensi ini adalah jumlah observasi dan kedalamana observasi pada
sisi spesifik yang lebih sederhana dan juga kesalahan yang dibahas dalam perbedaan dasar dalam
desain logis penelitian. Desain logis dikendalikan oleh tingkat kompleksitas dari fenomena yang
di pelajari dan juga kebutuhan untuk mengobservasi pola yag terjadi pada kasus.
Apabila dilihat dari sisi tingkat keluasan dan dan keandalan, studi cross sectional lebih
mendekati pendekatan survei, di karenakan pengaruh dari peneliti ketika data di kumpulkan
menggunakana struktur semi wawancara/interview, memiliki tingkat random yang rendah, dan
juga kemungkinan untuk di generalisasikan cenderung lebih kecil.
Pendapat lain, mengenai kedalaman dan keluasan dari masing-masing metode ini dapat
dilihat dari aspek yang lain, seperti cara mengidentifikasi research question dan juga cara teori
tersebut di cocokkan dengan basis luas dari perbandingan perbedaan dari bidang studi.
Pertanyaan how dan why sebenaranya dilihat dari keseragaman dan disatukan berdasarkan
kebutuhan dari protokol penelitian yang mensyaratakan adanya pengetahuan kualitatif yang lebih
mendalam pada isu yang relatif terbatas dan kompleks. Ketika pertayaan penelitian dibuat
sebagai gambaran dari kejadian yang terdapat pada dunia nyata, dan interaksi, maka penliti
terlibat dilapangan untuk memperoleh penjelasan kontekstual yang lebih banyak. Walaupun
memiliki ingkat kompleksitas yang kecil, dalam mengamati fenomena empiris peneliti masih
dapat memperoleh pengetahuan yang dapat di pahami dengan baik dalam teori. Masalahnya
pertanyaan how dan why tidak seutuhnya ada dalam kenyataan di dalam organisasi. Pada saat
seperti ini, maka kontak antara peneliti dan responden sangat penting untuk mengklasrifikasi dan
memahami konstruk dan hubungan yang dapat memotivasi dalam sebuah case study.
Gambar 2 memuat contoh dari tingkat kompleksitas pertanyaan how dan why. Pada
tingkatan kompleksitas yang relatif rendah, wawasan wawasan yang signifikan dapat diperoleh
ke dalam fenomena empiris yang dianggap dipahami dengan baik dalam teori. Bila diamati,
pertanyaan pada gambar dibawah merupakan pertanyaan yang cenderung mengarah pada
individu. sedangkan pada tingkatan kompleksitas yang tinggi, para peneliti perlu “terlibat dalam
bidang” untuk mendapatkan penjelasan kontekstual yang baik. Pada gambar dibawah ini,
pertanyaan untuk tingkat kompleksitang tinggi, cenderung mengarah pada interaksi sosial yang
lebih luas, misalnya organisasi. Dalam situasi ini kontak antara peneliti dan responden penting
untuk klarifikasi dan pemahaman konstruk dan keterkaitannya tetapi tidak pada tingkat yang
akan memotivasi studi kasus yang mendalam.
Low complexity High complexity
How did you respond to last month’s How is the organization’s strategy
variances against the pre-set budget ? formulated ?
Why did you choose these action ? Why is the current strategy considered
appropriate ?
Gambar 2
Meskipun diterima dalam literatur akuntansi manajemen positivis, masalah desain
penelitian yang terkait dengan pendekatan studi lapangan cross-sectional belum sepenuhnya
diartikulasikan. Peneliti mengartikulasikan implikasi pindah dari studi kasus tradisional dan
metode penelitian survei pada atribut desain studi berikut:

Sampling logic
Terdapat perbedaan cara pemilihan sample antara metode studi kasus dan survei. Metode
survei lebih konsisten dalam melakukan pengumpulan data dan pemilihan sample, yang
dilakukan secara random dari populasi yang telah ditentukan oleh peneliti. Hal ini dilakukan
untuk mendapatkan hasil statistik yang dapat di generalisasikan. Di sisi lain case study bertjuan
untuk mengenralisasikan teori dengan menggunakan purposeful sampling (nonrandom sampling)
untuk memperoleh informasi yang lebih banyak terkait kasus yang diteliti. Tujuan inti dari kedua
metode ini berbeda, maka sangat tidak mungkin untuk memperoleh perbandingan mengenai hal
yang sama dalam metode ini dengan menggunakan satu dimensi. Permasalahan perbedaan pada
sampling dan generalisasi dalam metode studi kasus dan survei berpotensi mempengaruhi
penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode cross-sectional, karena kasus murni dan
pekerjaan survei berbeda secara fundamental dalam pendekatan pengambilan sampel mereka.
Memilih metode berbagi karakteristik survei dan studi kasus dapat dengan mudah menghasilkan
strategi pengambilan sampel yang membingungkan.
Pendekatan sampling yang digunakan dalam cross sectional adalah dimensional line,
yang di dapat dengan cara melist variabel atau dimensi, tentunya dengan menggunakan beragam
populasi yang relevan dengan tujuan untuk membentuk sebuah tipologi yang kemudian
digunakan sebagai sebuah kerangka sampling untuk menseleksi jumlah yang kecil dari populasi
yang digunakan dalam kasus. Dimensi tersebut menyarankan fenomena yang akan di investigasi
dan kemudian mencoba untuk memurnikan kembali teori yang ada dari pada membangun teori
baru. Arnold (1970) kemudian membedakan pendekatan menurut sampling teori, yaitu
berdasarkan preconceived dan non-preconceived.
Peneliti yang menggunakan cross sectional study dapat menggunakan dimensional
sampling, dengan tujuan untuk
1. Mengidentifikasi apakah metode yang digunakan telah menggambarkan sebuah
percobaan untuk mendapatkan solusi dari literatur yang ada.
2. Untuk mengklarifikai dimensi atau variabel, apakah terdapat kontradiksi antara
variabel atau ilmu pengetahuan yang di nilai meragukan.
3. Untuk mengidentifkasi theoritical sample di antara variabel yang berbeda.
Contoh dari metode ini adalah penelitian dari Merchant 1985 yang menliti tipe-tipe
sampling logic dari kontrol yang digunakan dalam keputusan diskresioneri pendekatan sampel
yang digunakan menggambarkan manejer diseleksi untuk untuk memaksimlakan perbedaan dari
sampel dalam istilah dua variabel yang dapat mempertimbangkan penyebab dari perbedaan.
Peneliti membandingkan sampel yang digunakan BM dan MM. Pada penelitian dari BM
menggunakan sampel sebagai causal determinant utama dalam mendapatkan informasi, dan juga
menggunakan random sampel dan membuak peluang untuk menyeleksi dasar dari lokasi dan
kemampuan untuk diakses, personal kontak. Populasi yang digunakan terdiri dari 3 kelompk dari
sektor industri dan distribusi. Sedangkan MM tidak menspesifikkan dimensi dari sampel karena
MM mengharapkan penelitiannya menunjukkan dimensi kritis dari fenomena yang telah di
targetkan (menggunakan general population).

Contruction of Research Intstruments


Kebutuhan untuk membangun validitas konstruk mendorong peneliti untuk
mendefinisikan dengan jelas konstruk teori dan juga domain yang dapat di observasi. Peneliti
yang menggunakan metode survei memilih untuk mendefinisikan domain dari konstruk yang
bersumber dari teori dan dapat di ukur. Sedangkan peneliti yang menggunakan studi kasus lebih
memilih untuk sedikit mendefinisikan domain dan juga sedikit mengukur konstruk. Case
researcher sebenarnya lebih memilih untuk menjelaskan kontekstual variability yang relevan
dengan domain research dari pada menggunakan dasar teori dan domain yang sempit. cross
sectional field yang menggunakan dasar teori yang kuat dan sampel yang kecil, namun tetap
menyadari ketidak pastian dalam definisi dan pengukuran dari konstruk. Resiko dari cross
sectional study adalah instrumen penelitian dan juga pengumpulan data akan menghasilkan
definisi dan dasar teori yang membingungkan. Dyer dan Wilkin menilai bahwa field study
mengesampingkan sosial setting dan fenomena yang menarik. Tujuan dari cross sectional study
adalah untuk megizinkan peneliti survei untuk mengukur dan bertanya pertanyaan kritis berupa
why dan how pada rsponden yang dapat menginformasikan data dan akhirnya dapat
mengembangkan teori yang ada.
Pengumpulan data dengan metode wawancara dapat menghasilkan resiko bias yang
samar-samar (tidak dapat di deteksi) yang di dapat dari partisipan. Namun resiko in ternyata
dapat di hindari dengan menggunakan multiple case study dari pada menggunakan single study.
Cross sectional study dapat dapat mengatasi resiko ini dengan membangun konstruk
spesifik yang jelas dan hubungan yang berfokus pada investigasi dilapangan. Defisni yang
sistematis dari domain yang di observasi dalam konteks akan memperluas teori dan akan
memberikan kontribusi yang penting dalam cross sectional study. Semua study meliputi MM,
BM dan AL berfokus pada menspesifikkan domain yang di observasi dan secara rasional
menggambarkan konstruk data dalam konteks pembentukkan dasar pengetahuan. Dalam kasus
MM dan AL, research question di spesifikkan dan di indikasikan dalam domain yang sempit
dalam subjek area yang luas yang berhubungan dengan pencapaian target (MM) dan AL
menggunakan felksibilitas manufacturing dan structural response. Sementara BM
mendefinisikan domain yang di observasi yang luas dengan menggunakan 4 research question
dan kemudian memperkecil domain dari pertanyaan ini. Contohnya, reserach question seperti
what information do managers say they need and use? dan kemudian memperkecil domain
pertanyaan dan berfokus pada tipe data yang digunakan (perhitungan dan financial), karakteristik
data (timing dan relevance) dan karakteristik informasi, dan penggunaan bahasa formal dan
informal.

Data Analysis
Jumlah data dari cross sectional study mengindikasikan pengujian kuantitaif tidak
begitu dibutuhkan.kecuali pada penelitian AL. Dalam studi tersebut data kualitatif telah di
skalakan dan menggunakan analisis statistik. Walaupun perkembangan kualtiatif dari skema
pengklasifikasian memberikan kontribusi pada paper di anggap tidak bergantung pada pengujian
statisktik. Namun, secara umum keinginan untuk mengeksplor konstruk yang membingungkan
dan untuk mecari penjelasan dari why dan how dalam hubungan empiris sangat bergantung pada
kualitatif data.
Memberikan justifikasi metode yang akan digunakan berdasarkan teori yang ada dan
domain terbatas yang di observasi, adalah sangat penting dalam analisis protokol, yang secara
kritis menghubungkan hal tersebut pada teori. Dalam metode pengumpulan data yang
menggunakan multiple research dalam domian yang kecil, maka matriks data sanagt cocok
untuk digunakan, terutama dalam masalah organisasi. Anaisis dalam metode ini adalah time-
ordered, role-ordered, atau thematic order tergantug pada sumebr dari keraguan atas interpretasi
dari konstruk dalam teori yang ada. Matrix memungkinkan penggunaan data kualitatif coding
dan analisis software, yang meliputi proses indentifikasi tema dari data, kategori data,
penghitungan data, dan juga menunjukkan perhitungan dalam diagram. Metode ini memiliki dua
keuntungan utama, yaitu:
1. Mempromosikan completeness atau kelengkapan dalam menilai kehadiaran atau
ketidakharidaran dari konstruk dan menghubungkan semuanya dalam semua kasus.
Kelengkapan meningkatkan kredibilitas dan memberikan pembaca sebuah rasa
kedisiplinan dan kehati-hatian dalam menilai temuan yang signifikan di dalam data.
2. Mengizinkan peneliti untuk memelihara sebuah data audit (dokumen, dan transkrip
wawancara), koding, dan rahan dalam matriks serta interpretasi terhadap temuan.
Intinya tidak ada satupun dari penelitian AL, BM, dan MM yang menggambarkan metode
analisis data. BM mengataka bahwa mereka menggunkan pengumpula data protokol dan
konsisten dengan kerangka analisis untuk meningkatkan keandalan. Dari 3 bentuk studi ini dpat
di analisis temuan dan laporannya semuanya lebih mengarah ke kualitatif dan mengunakan
domain dari konstruk dan juga keterhubungan. Tidak ada satupun dari ke 3 studi ini yang
menggunakan sejarah organisasi secara mendalam dan kompleks. Tujuan dari tiga studi tersebut
adalah untuk mambahas hubungan anatar variabel berdasarkan pola data. Pertanyaan
menggunkaan how tidak di jelaskan dalam tiga paper tersebut.
Conclusion

Penelitian ini dilakukan karena adanya keprihatinan substantif yang diangkat dalam
literatur reviu baru-baru ini bahwa masih ada sejumlah besar ambiguitas dan ketidaksepakatan
seputar precise nature dari sejumlah konsep akuntansi manajemen yang penting, yang
berdampak pada pengembangan cohesive body pada literatur (misalnya, Chapman 1997; Ittner
dan Larcker 2001; Chenhall 2003).
Paper ini mempromosikan penggunaan pendekatan studi lapangan cross-sectional, yang
memungkinkan studi akuntansi manajemen sebagai fenomena sosial, organisasi dengan
memanfaatkan analisis cross-sectional untuk membangun validitas internal dan eksternal.
Penggunaan pendekatan ini tepat ketika teori yang dibangun terkait fenomena yang diteliti dirasa
masih ada yang tidak menangkap aspek-asepek penting dari fenomena empiris, dan ketika
terdapat keraguan yang besar terkait spesifikasi dan pengukuran variabel yang tepat, interpretasi
empirisnya, ataupun hubungan antar variabelnya.
Dengan adanya keadaan tersebut, pendekatan studi lapangan cross-sectional dapat
memberikan kontribusi yang signifikan untuk penyempurnaan teori dengan memfasilitasi
peningkatan pemahaman deskripsi manajer tentang akuntansi manajemen dan fenomena
kontekstual (Keating 1995, Ittner dan Larcker 2001). Studi MM, BM, dan AL yang dijelaskan di
sini memanfaatkan kedalaman analisis dengan menangkap dan mendokumentasikan alasan
manajerial, sambil menawarkan sejumlah perbandingan di seluruh kasus.
Literature review terkait jurnal publikasi yang telah dibahas sebelumnya memberikan
wawasan tentang proses cross-sectional field study, yaitu penelitian dimulai dengan domain yang
dapat diobservasi secara jelas, kemudian pengambilan sampel dilakukan menggunakan strategi
yang memaksimalkan kemungkinan mendapatkan data komparatif yang bermakna para variabel
yag diamati. Setelah itu, peneliti melakukan wawancara semi-terstruktur untuk memastikan
bahwa data yang dikumpulkan (dari berbagai lokasi) merupakan data yang komprehensif,
komparatif, dan naratif. Selanjutnya, analisis data dilakukan secara disiplin dan sistematis yang
menggambarkan pola-pola lintas kasus dan memberikan tautan kritis kembali ke teori.
Design proses ini tampaknya meningkatkan kredibilitas dan validitas atas penelitian yang
dilakukan, sehingga hasil penerlitian tidak dipandang sebagai sesuatu yang dangkal. Penulis
berharap ulasan terkait publikasi jurnal yang dibahas dapat membantu peneliti selanjutnya dalam
mengembangkan kerangka kerja eksplisit untuk penggunaaan cross-sectional field study.