Anda di halaman 1dari 8

NAMA : ZULISTIANI NUR MARWAH PUTERI MADJID

NIM: B01118133
PRODI : ILMU HUKUM

“Optimalisasi PHK 4.0 (Perlindungan Hukum Konsumen di Era 4.0)


Terhadap Penipuan Belanja Online”

James Watt di abad 18 menemukan mesin uap yang merupakan titik awal adanya
revolusi industri di dunia ini, dimana pada saat itu dapat dikatakan bahwa segala
industri dijalankan masih secara manual, tenaga manusia sebagai modal utama dalam
menjalankan segala jenis perkerjaan. Perkembangan revolusi industri terdiri dari 4
revolusi, yakni :
1. Revolusi industri pertama.
Revolusi industry ini dimulai pada pertengahan abad ke 18 ditahun 1750-1850.
Saat itu mulai terjadi revolusi besar-besaran di berbagai bidang seperti pertanian,
manufaktur, pertambangan dan transportasi. Dengan munulnya mesin seakan
-akan menggantikan peran manusia atau hewan seutuhnya.
2. Revolusi industri kedua
Revolusi industry dianggap sebagai sejarah besar dunia, dikarenakan revolusi
industri tang dasarnya hanya terjadi di Inggris saja, bisa menyebar ke negara-
negara lain seperti Jerman, Amerika Serikat, Perancis, Italia, Jepang dan berbagai
negara lainnya. Di tahun 1860, revolusi industri memasuki tahap baru atau tahap
kedua. Revolusi industri kedua dikenal dengan sebutan revolusi teknologi dan
terjadi pada abad ke-19 dan ke-20. Revolusi ini identik dengan berbagai
pembangunan jalan rel, produksi massal baja dan besi, penggunaan mesin yang
meluas dan peningkatan penggunaan tenaga uap serta munculnya listrik.
Kemunculan berbagai pembangunan memungkinkan transportasi murah untuk
mengangkut material dan produk hasil industri.
3. Revolusi industri ketiga
Pada awal tahun 1970 ditengarai sebagai perdana kemunculan revolusi industri
3.0. Dimulai dengan penggunaan elektronik dan teknologi informasi guna
otomatisasi produksi. Permulaan revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan
kemunculan pengontrol logika terprogram pertama (PCL), yakni modem 084-
969. Sistem otomatis berbasis komputer ini membuat mesin industri tidak lagi
dikendalikan manusia. Biaya produksi berdampak menjadi lebih murah.
4. Revolusi industri keempat.
Revolusi industri adalah industri terkini saat ini kita hidup di era industri
keempat, itu semua diawali dari revolusi internet yang bukan hanya sebagai
mesin pencari, namun lebih dari itu semua bisa terhubung dengan cerdas.
Dari uraian diatas, dapat kita ketahui bahwa teknologi adalah sesuatu yang
diciptakan sebagai jawaban atas kebutuhan-kebutuhan dan permasalahan dalam
kehidupan manusia, dengan adanya teknologi kehidupan manusia menjadi lebih efisien
dan efektif. Dewasa ini, kita diperhadapkan dengan revolusi industri keempat atau lebih
dikenal dengan sebutan revolusi industri 4.0. Revolusi industri keempat ini merupakan
era perubahan yang sedang terjadi dan terus berkembang disaat ini dimana terdapat
pergeseran yang sangat signifikan dari revolusi industri pertama sampai revolusi 3.0
sebelumnya, seperti halnya diawal terjadinya revolusi industri tenaga manusia dan
hewan memengang peranan penting dimasa itu. Internet atau IOT (Internet Of Things)
saat ini memegang peranan penting dalam keberlangsungan revolusi industri 4.0,
internet bukan hanya sekeder mesin pencari biasa, tetapi juga sebagai kebutuhan yang
sangat sulit terlepas dari manusia, misalnya internet sebagai wadah penyimpanan
berkas-berkas sampai berbelanja kebutuhan ataupun keperluan yang kita butuhkan
secara online dengan mudah dan cepat.
Internet sebagai suatu media informasi dan komunikasi elektronik telah banyak
dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, antara lain untuk menjelajah (browsing, surfing),
mencari data dan berita, saling mengirim pesan melalui email dan perdagangan.
Kegiatan perdagangan dengan memanfaatkan media internet ini dikenal dengan istilah
electronic commerce, atau disingkat e-commerce (Ramli, 2004: 1).
Dalam transaksi jua beli secara elektronik, pihak-pihak yang terkait di dalamnya
antara lain:
1) Penjual atau merchant atau pengusaha yang menawarkan sebuah produk melalui
internet sebagai pelaku usaha.
2) Pembeli atau konsumen yaitu setiap orang tidak dilarang oleh undang-undang,
yang menerima penawaran dari penjual atau pelaku usaha dan berkeinginan
untuk melakukan transaksi jual beli produk yang ditawarkan oleh penjual atau
pelaku atau merchant.
3) Bank sebagai penyalur dana dari pembeli atau konsumen kepada penjual atau
pelaku usaha atau merchant, karena pada transaksi jual beli secara elektronik,
penjual dan pembeli tidak berhadapan langsung , sebab mereka pada lokasi yang
berbeda sehingga pembayaran dapat dilakukan melalui perantara dalam hal ini
bank.
4) Provider sebagai penyedia jasa layanan akses internet (Makarim,2000:65)

Jual beli adalah proses transaksi yang dilakukan oleh seluruh manusia di setiap
harinya dan salah satu bagian penting dalam perjalanan kehidupan manusia. Dengan
adanya jual beli, maka akan terselenggaranya pemenuhan kebutuhan yang ingin dicapai
manusia secara keseluruhan. Transaksi online tidak lagi menjadi hal yang asing bagi
masyarakat, baik masyarakat menengah ke atas maupun menengah ke bawah. Hadirnya
transaksi online membuat segala jual beli dapat tervisualisasikan dengan baik melalui
gambar-gambar barang yang dijual oleh toko tersebut dan menggunakan cara
pembayaran yang lebih cepat dengan transfer antara penjual dan pembeli sehingga tidak
perlu lagi bertemu secara langsung lagi yang akan memakan waktu lebih lama. Jual beli
online lumrahnya disebut dengan e-commerce atau electronic commerce atau EC. E-
commerce merupakan suatu kontak transaksi perdagangan antara penjual dan pembeli
dengan menggunakan media internet, dimana untuk pemesanan, pengiriman sampai
bagaimana system pembayaran dikomunikasikan melalui internet.
Tahun demi tahun perkembangan teknologi semakin canggih, tetapi minimbulkan
dampak negatif yang tidak sedikit pula, salah satunya cyber crime. Cyber crime
merupakan kejahatan memanfaatkan perkembangan teknologi saat ini khusunya internet
untuk menjalankan aksinya, baik dari sistem jaringan komputer maupun komputernya
itu sendiri yang menjadi sarana untuk melakukan kejahatan. Namun, salah satu upaya
perlindungaan adalah melalui hukum pidana, baik secara penal maupun non penal.
Dalam era 4.0 yang dikuasai oleh internet ini, penipuan merupakan kejahatahan yang
sering terjadi dengan mengatasnamakan bisnis jual beli online yang menawarkan
berbagai produk penjualan dari barang elektronik seperti handphone dan produk-produk
keperluan yang lain yang djual biasanya dibawah harga rata-rata toko offline. Bisnis
online sudah menjadi suatu hal yang dianggap penting, akan tetapi membuka celah bagi
pihak yang tidak dapat bertanggung jawab untuk menyebabkan kerugian bagi orang
lain.
Terjadi begitu banyak penipuan didalam bisnis online maupun offline tidak lepas dari
kasus-kasus penipuan, hanya saja bisnis online memiliki andil yang lebih besar dalam
kasus penipuan di era ini. Penipuan-penipuan tersebut mengguankan modus berupa
menjualan berbagai macam barang yang menarik dengan harga yang jauh lebih murah
kepada konsumen sehingga meggiurkan konsumen untuk membeli barang yang
ditawarkan tersebut. Yang pada akhirnya setelah terjadi pembayaran kepada penjual,
barang yang dikirmkan jauh berbeda dengan yang ditawarkan penjual bahkan melarikan
diri dengan uang konsumen. Demi memperkaya diri sendiri, pelaku berani melanggar
ketentuan-ketentuan yang ada dalam aturan dan norma-norma hukum yang wajib
ditaati. Belanja secara online sejatinya mempermudah para konsumen dalam memenuhi
kebutuhan mereka, tetapi disisi yang lain yakni dari sisi pelaku malah sebaliknya.
Tindak pidana penipuan menggunakan internet termasuk dalam kelompok kejahatan
Illegal Contents dalam kajian penyalahgunaan teknologi informasi yang dalam hal ini
Computer Related Fraud. CRF (Computer Related Fraud) merupakan kecurangan yang
mengakibatkan penipuan yang dibuat utuk mendapatkan keuntungan pribadi dan
menyebabkan kerugian bagi orang lain.
Sistem hukum di Indonesia, dalam sidang peradilan hukum pidananya dapat
menerima alat bukti elektronik sebagai bukti yang kuat dan sah dalam persidangan
bahkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 mengatur hal tersebut. Selain itu,
sebelum adanya Undang-Undang ITE kejahatan-kejahatan di dunia maya dihukum atau
diatur menggunakan KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). Dalam KUHP dan
UU ITE, delik penipuan diatur dalam Pasal 378 KUHP yang berbunyi “Barang siapa
dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan
hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun
rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu
kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang diancam
karena penipuan dengan pidana penjara paling lama empat tahun.” yang diuraikan
penjelasan tindak pidana dalam Pasal 378, terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut :
1. Unsur subjektif :
a. Dengan maksud atau met het oogmerk dalam hal ini beritikad buruk.
b. Untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dalam hal ini mencari
keuntungan dengan memanfaatkan kondisi kebutuhan masyarakat.
c. Secara melawan hukum atau wederrechtelijk dalam hal ini dengan perbuatan
yang menentang undang-undang atau tanpa izin pemilik yang bersangkutan.
2. Unsur objektif :
a. Barang siapa dalam hal ini pelaku
b. Menggerakkan orang lain afar orang lain tersebut :
1) Menyerahkan suatu benda.
2) Mengadakan suatu perikatan utang.
3) Meniadakan suatu piutang.
c. Dengan memakai :
1) Sebuah nama palsu
2) Kedudukan palsu
3) Tipu muslihat
4) Rangkaian kata-kata bohong.
Dengan penjelasan unsur-unsur diatas dapat disimpulkan bahwa penipuan
merupakan pekerjaan :
a. Membujuk orang lain agar memberikan barang atau sesuatu yang membuat utang
atau menghapuskan utang.
b. Mempunyai maksud pembujukan yang hendak dicapai ialah mengutungkan diri
sendiri atau orang lain dengan melawan hukum.
c. Membujuk korban dengan memakai nama dan keadaan palsu atau sasaran yang
menjadi tipu muslihat dari pelaku.

UU ITE Pasal 28 ayat (1) mengatur transaksi online yang berbunyi “Setiap orang
dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang
mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik.” Sedangkan , sanksi
pidananya diatur dalam Pasak 45 ayat (2) yang berbunyi “ Setiap orang yang memenuhi
unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).” Pengaturan didalam UU ITE adalah upaya
negara Indonesia memberikan jaminan yuridis yang jelas untuk menghindari kejadian-
kejadian negatif kedepannya terhadap transaksi online yang marak saat ini terjadi.
Walaupun hukum Indonesia telah mengatur sedemikian rupa untuk menjamin
payung hukum konsumen, tetapi realita yang terjadi di masyarakat saat ini penipuan
akan konsumen secara online terus bertambah disetiap tahunnya dan UU No.8 Tahun
1999 tentang perlindungan konsumen belum dapat secara sempurna melindungi
konsumen dalam transaksi Online (e-commerce). Berdasarkan data hasil penelitian
terbaru Kaspersky Lab dan B2B internasional terdapat sebanyak 26 persen konsumen di
Indonesia kehilangan uang karena menjadi sasaran tindak penipuan daring, 48 persen
konsumen menjadi target aksi penipuan yang di rancang oleh pelaku sehingga
mendapatkan informasi penting atau data keuangan, bahkan Indonesia menjadi negara
dengan korban penipuan daring tertinggi menurut hasil penelitian tersebut. Kominfo
sebagai kementerian yang menanggani berbagai hal mengenai teknologi berpendapat
yang sama dengan penelitian sebelumnya bahwa terjadinya banyak penipuan dalam
transaksi online, hampir 14.000 laporan kasus yang diantaranya merupakan tindak
kejahatan penipuan transaksi online.
Perkembangan revolusi industri yang tidak dibarengi dengan perlindungan hukum
yang memadai dan terlaksaka secara terstruktur bagi konsumen akan mengakibatkan
banyak menyebabkan terjadi kasus penipuan belanja online seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya. Dengan dasar hal itu terjadi perhatian terhadap perlindungan konsumen
dibeberapa negara, seperti Amerika Serikat dan Indonesia gencar dilakukan. Di
Amerika Serikat, di tahun-tahun 1960-170-an telah berhasil diundangkannya banyak
peraturan dan putusan-putusan hakim yang dijatuhkan untuk memperkuat keadaan
konsumen dan gerakan perlindungan konsumen yang dilakukan oleh Amerika Serikat
mendegung sampai ke Indonesia. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)
merupakan yayasan perintis advokasi konsumen di Indonesia yang berdiri sejak 11 Mei
1973 dan gerakan ini termasuk gerakan yang cukup responsif terhadap keadaan, bahkan
mendahului resolusi Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC) No. 2111 Tahun
1978 tentang perlindungan konsumen. (Kristiyanti, 2011:1).
Undang-undang perlindungan konsumen menjelaskan bahwa pengertian konsumen
dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Konsumen dalam arti umum yaitu pemakai, pengguna dan/atau pemanfaatan
barang dan/atau jasa untuk tujuan tertentu.
2. Konsumen antara, yaitu pemakai, pengguna dan/atau pemanfaatan barang
dan/jasa untuk diproduksi menjadi barang/jasa lain atau untuk
memperdagangkannya, dengan tujuan komersial. Konsumen ini sama dengan
pelaku usaha.
3. Konsumen akhir, yaitu pemakai, pengguna, dan/atau pemanfaatan barang
dan/atau jasa konsumen untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri, keluarga atau
rumah tangga tidak untuk diperdagangkan kembali (Santiago, 2102: 79-80).
Dengan mengoptimalisasikan perlindungan hukum konsumen kedepannya, maka
seharusnya transaksi e-commerce perlu diatur dalam beberapa materi yang dapat
mencakup , yaitu :
a. Perlindungan hukum dari sisi konsumen secara keseluruhan.
Setiap konsumen pasti memiliki data-data yang bersifat rahasia dan pribadi
sehingga perlu adanya penjaminan atas perlindungan kerahasaiaan data
konsumen tersebut agar tidak disalah gunakan oleh oknum pelaku yang tidak
bertanggungjawab.
b. Perlindungan hukum terhadap konsumen dari sisi produk.
Dalam proses jual beli online, pelaku usaha berkewajiban untu :
1. Memberikan informasi yang jelas dan lengkap mengenai produk yang
ditawarkan sehingga konsumen tidak disesatkan terutama informasi yang
sifatnya mendasar dari produk tersebut dan informasi ini pula dapat
membantu konsumen mengambil keputusan membeli produk atau tidak.
2. Menggunakan bahasa yang mjdah dipahami dan dimengerti oleh konsumen
sehingga tidak menimbulkan penafsiran lain.
3. Memberikan jaminan kepada konsumen bahwa produk yang terjamin
kualitasnya.
4. Memberikan jaminan bahwa produk yang ditawarkan sesuai dengan apa yang
dipromosikan.
c. Perlindungan hukum terhadap sisi transaksi
Dalam bertransaksi online akan ditemukan adanya konsumen-konsumen yang
kurang paham bagaimana cara bertransaksi elektronik sehingga pelaku usaha
sebagai penyedia produk wajib mencantumkan mengenai mekanisme yang
berkaitan dengan proses transaksi online, yakni:
1. Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh konsumen dalam melakukan
transaksi, dalam hal ini konsumen diharuskan memenuhi persayaratan-
persyaratan seperti mengisi data pribadi dan alamat lengkap pada form yang
tekah disediakan oleh pelaku usaha.
2. Kesempatan bagi konsumen untuk mengaki ulang transaksi yang akan
dilakukannya sehingga menghindari kesalahan transaksi.
3. Harga dari produk yang ditawarkan, apakah sudah termasuk ongkos kirim
atau belum.
4. Informasi mengenai dapat atau tidaknya konsumen mengembalikkan barang
yang sudah dibeli dan bagaimana mekanismenya, dikarenakan beberapa
barang yang dipesan oleh konsumen diterima dengan kondisi produk tidak
sempurna atau rusak.
5. Mekanisme penyelesaian sengketa antara konsumen dengan pelaku usaha, hal
ini disebabkan tidak selamanya proses transaksi berjalan mulus dan lancar.
6. Jangka waktu pengajuan klaim oleh konsumen, dalam pengajuan ini
diharapkan agar jangka waktunya tidak terlalu singkat sehingga tidak
menimbulkan kerugian bagi konsumen itu sendiri.
7. Pelaku usaha harus menyediakan suatu rekaman transaksi yang setiap saat
dapat diakses oleh konsumen baik transaksi yang sedang dilakukan ataupun
telah dilakukan oleh konsumen.
8. Bagaimana mekanisme pengiriman barang kepada konsumen, konsumen
perlu mengetahui hal tersebut agar konsumen dapat memilih cara apa produk
pesananya dikirim.

i
i
(Saintek 2019, 1 :56)
(Melayunesia Law 2017, 2 : 112-125)
(Lex Crimen 2013, 2 : 102-110)
(Tempo.co 2016, Penipuan Online di Indonesia Tertinggi)
(Merdeka.com 2018, Pengaduan Konsumen Belanja Online Naik Tajam)
(Kompas.com 2018, 16.000 Laporan Diterima CekRekening.id, Penipuan Online Capai 14.000)