Anda di halaman 1dari 4

A.

Perubahan iklim mempengaruhi hilangnya biodiversitas


1. Pengertian Perubahan iklim menurut berbagai sumber:
a. UU No. 31 tahun 2009
Perubahan iklim adalah berubahnya iklim yang diakibatkan, langsung atau tidak
langsung, oleh aktivitas manusia yang menyebabkan perubahan komposisi
atmosfer secara global serta perubahan variabilitas iklim alami yang diamati
selama periode waktu tertentu.
b. Perubahan iklim adalah perubahan yang merujuk pada variasi rata-rata kondisi
iklim suatu tempat atau variabilitasnya yang nyata secara statistik untuk jangka
waktu yang panjang (biasanya dekade atau lebih) (IPCC, 2001)
c. Menurut NASA “Climate change is a long-term change in the average weather
patterns that have come to define Earth’s local, regional and global climates.
These changes have a broad range of observed effects that are synonymous with
the term.” Perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang rerata padap pola
suhu yang mempengaruhi iklim lokal, regional, maupun global.
Yang pada intinya perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang pada suhu,
curah hujan, pola angin, dan semua aspek yang masuk ke dalam unsur iklim bumi.
2. Pengaruh perubahan iklim terhadap biodiversitas
Perubahan iklim global terjadi secara perlahan dalam jangka waktu yang
cukup panjang, antara 50 – 100 tahun. Walaupun terjadi secara perlahan, perubahan
iklim memberikan dampak yang sangat besar pada kehidupan mahluk hidup.
Dampak yang terjadi antara lain: mencairnya es di kutub selatan, pergeseran
musim, dan peningkatan permukaan air laut. Dampak tersebut memberikan
pengaruh terhadap kelangsungan mahluk hidup. Tak kercuali mempengaruhi
perubahan biodiversitas dan ekosistem di bumi.
Biodiversitas sangat berkaitan erat dengan perubahan iklim. Perubahan
iklim berpengaruh terhadap perubahan keanekaragaman hayati dan ekosistem baik
langsung maupun tidak langsung.
a. Beberapa dampak langsung terjadinya perubahan iklim terhadap
keanekaragaman hayati, diantaraya:
1) Spesies range (cakupan jenis)
Masing-masing spesies memiliki rentang suhu tertentu dimana spesies
tersebut mampu beradaptasi dan bertahan hidup. Kenaikan suhu bumi akan
membuat beberapa jenis spesies berada diluar batas toleransi suhu
maksimumnya sehingga tidak mampu bertahan dan kemudian menjadi
rentan terhadap kepunahan. Menurut  International Union for Conservation
Nature (IUCN), lautan merupakan bagian planet yang paling banyak
menanggung akibat dari pemanasan global. Meskipun sejak 1970-an,
perairan di seluruh dunia telah memainkan peranan penting dalam melawan
pemanasan global dengan menyerap sekitar 93% karbondioksida yang
diakibatkan oleh aktivitas manusia.
Terumbu Karang merupakan spesies yang memiliki toleransi yang
rendah terhadap kenaikan suhu air laut. Kenaikan suhu air laut
menyebabkan bleaching pada terumbu karang, atau penurunan pigmen
klorofil pada jaringan endodermis karang. Hal ini lama-lama akan
menyebabkan alga dalam terumbu karang mati sehingga yang tersisa hanya
cangkang karang berwarna putih dari zat kapur. Sebagai contoh, pada awal
tahun 2016 saja, lebih dari 90% karang Great Barrier Reef di Australia telah
mati akibat bleaching. Terumbu karang merupakan habitat dari sekitar 25%
spesies laut, kepunahannya akan berakibat pada punahnya spesies-spesies
laut yang lain yang pada akhirnya akan mengganggu keseimbangan rantai
ekosistem.
2) Perubahan fenologi
Perubahan iklim menyebabkan pergeseran dalam siklus reproduksi dan
pertumbuhan organisme. Pada tumbuhan misalnya, masa perbungaan
dipengaruhi oleh suhu tertentu. Pemanasan global dapat membuat tumbuhan-
tumbuhan tertentu berbunga lebih cepat, sementara serangga-serangga
pembantu penyerbukan belum siap sehingga siklus reproduksinya terganggu.
Perubahan iklim juga dapat mengubah siklus hidup beberapa hama dan
penyakit, sehingga akan terjadi wabah penyakit.
3) Perubahan interaksi antar spesies
Perubahan iklim dapat mengakibatkan terjadinya perubahan interaksi
antar spesies sehingga memiliki konsekuensi yang sangat penting bagi
stabilitas dan fungsi ekosistem, dimana ekosistem tidak lagi berfungsi ideal.
Pemanasan iklim dengan cepat mengubah waktu dan tingkat bunga pada
tumbuhan serta migrasi pada hewan yang akan mengganggu interaksi antar
spesies.
4) Laju kepunahan
Perubahan iklim mempercepat laju kepunahan beberapa jenis spesies.
Kepunahan merupakan proses alami yang terjadi secara alami. Spesies telah
berkembang dan punah sejak kehidupan bermula. Kita dapat memahami ini
melalui catatan fosil.
Tetapi, sekarang spesies menjadi punah dengan laju yang lebih
tinggi daripada waktu sebelumnya dalam sejarah geologi, hampir
keseluruhannya disebabkan oleh kegiatan manusia. Di masa yang lalu
spesies yang punah akan digantikan oleh spesies baru yang berkembang
dan mengisi celah atau ruang yang ditinggalkan. Pada saat sekarang, hal ini
tidak akan mungkin terjadi karena banyak habitat telah rusak dan hilang.
Beberapa kelompok spesies yang lebih rentan terhadap kepunahan
daripada yang lain. Kelompok spesies tersebut adalah:
a) Spesies pada ujung rantai makanan, seperti karnivora besar, misal
harimau (Panthera tigris). Karnivora besar biasanya memerlukan
teritorial yang luas untuk mendapatkan mangsa yang cukup. Oleh
karena populasi manusia terus merambah areal hutan dan penyusutan
habitat, maka jumlah karnivora yang dapat ditampung juga menurun.
b) Spesies lokal endemik (spesies yang ditemukan hanya di suatu area
geografis) dengan distribusi yang sangat terbatas, misalnya badak
Jawa (Rhinoceros javanicus). Ini sangat rentan terhadap gangguan
habitat lokal dan perkembangan manusia.
c) Spesies dengan populasi kecil yang kronis. Bila populasi menjadi terlalu
kecil, maka menemukan pasangan atau perkawinan (untuk
bereproduksi) menjadi masalah yang serius, misalnya Panda.
d) Spesies migratori adalah spesies yang memerlukan habitat yang cocok
untuk mencari makan dan beristirahat pada lokasi yang terbentang luas
sangat rentan terhadap kehilangan ‘stasiun habitat peristirahatannya.
e) Spesies dengan siklus hidup yang sangat kompleks. Bila siklus
hidup memerlukan beberapa elemen yang berbeda pada waktu yang
sangat spesifik, maka spesies ini rentan bila ada gangguan pada salah
satu elemen dalam siklus hidupnya.
f) Spesies spesialis dengan persyaratan yang sangat sempit seperti
sumber makanan yang spesifik, misal spesies tumbuhan tertentu.
5) Penyusutan keragaman sumber daya genetik
Perubahan iklim dapat menyebabkan kemarau yang berkepanjangan,
ataupun sebaliknya curah hujan yang terlalu tinggi. Hal-hal tersebut
mempunyai dampak yang besar terhadap lingkungan, misalnya kebakaran
hutan atau banjir menjadi lebih sering terjadi.
Bencana alam dapat mengakibatkan berkurangnya populasi dan
keragaman spesies, spesies endemik terancam punah dan juga hilangnya
habitat satwa liar. Apabila terlanjur terjadi kerusakan habitat, maka akan
membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat recovery atau terjadi
suksesi secara alami. Beberapa varian dalam spesies dengan gen tertentu
mungkin lebih tahan terhadap perubahan lingkungan oleh perubahan iklim
sementara varian dengan gen yang berbeda lebih rentan sehingga lebih rentan
punah. Apabila terjadi kepunahan, maka jenis-jenis yang sudah terlanjur
punah-pun akan sangat sulit untuk dikembalikan keberadaannya.
Perubahan iklim mempengaruhi pola musim yang berdampak besar
terhadap sistem pertanian, termasuk di Indonesia. Penanaman tanaman-
tanaman pangan seperti padi, palawija ataupun sayur-mayur masih sangat
bergantung pada musim. Kemarau yang terlalu panjang atau hujan yang
turun terus menerus sepanjang tahun tentu dapat mengakibatkan gagal panen
yang pada akhirnya mempengaruhi ketersediaan dan ketahanan pangan
manusia.
b. Dampak tidak langsung perubahan iklim terhadap biodiversitas
1) Dampak terhadap Ekosistem Hutan
Ekosistem hutan mengalami ancaman kebakaran hutan yang terjadi
akibat panjangnya musim kemarau. Jika kebakaran hutan terjadi secara terus
menerus, maka akan mengancam spesies flora dan fauna dan
merusak sumber penghidupan masyarakat.
2) Dampak pada daerah kutub
Sejumlah keanekaragaman hayati terancam punah akibat peningkatan suhu
bumi rata-rata sebesar 10oC. Setiap individu harus beradaptasi pada
perubahan yang terjadi, sementara habitatnya akan terdegradasi. Spesies
yang tidak dapat beradaptasi akan punah. Spesies-spesies yang tinggal
di kutub, seperti penguin, anjing laut, dan beruang kutub, juga akan
mengalami kepunahan, akibat mencairnya sejumlah es di kutub.
3) Dampak pada daerah arid dan gurun
Dengan adanya pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim
mengakibatkan luas gurun menjadi semakin bertambah (desertifikasi).
4) Dampak pada ekosistem pertanian
Perubahan iklim akan menyebabkan terjadinya perubahan cuaca, sehingga
periode musim tanam menjadi berubah. Hal ini akan mengakibatkan
beberapa spesies harus beradaptasi dengan perubahan pola tanam tersebut.
5) Dampak ekologis bagi wilayah pesisir
Intergovernmental Panel on Climate Change, suatu panel ahli untuk isu
perubahan iklim, menyebutkan tiga faktor penyebab kerentanan wilayah
ini (TS WG I IPCC, 2007:40), salah satunya adalah pemanasan global
diperkirakan akan meningkatkan suhu air laut berkisar antara 1-3°C. Dari
sisi biologis, kenaikan suhu air laut ini berakibat pada meningkatnya
potensi kematian dan pemutihan terumbu karang di perairan tropis.
Kerusakan terumbu karang juga berarti hilangnya pelindung alam
wilayah pesisir yang akan memicu peningkatan laju abrasi pantai. Rusaknya
terumbu karang juga mempunyai dampak pada masyarakat pesisir,
misalnya berkurangnya matapencaharian nelayan kecil.

http://kehati.jogjaprov.go.id/detailpost/dampak-perubahan-iklim-terhadap-keanekaragaman-
hayati
https://climate.nasa.gov/resources/global-warming-vs-climate-change/
https://www.greenfacts.org/glossary/abc/climate-change.htm
Jurnal “Perubahan Iklim dan Pengaruhnya Terhadap Keanekaragaman Hayati” oleh Wahyu
Surakusumah Diakses dari
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/197212031999031-
WAHYU_SURAKUSUMAH/Perubahan_iklim_dan_pengaruhnya_terhadap_keanekaragama
n_haya.pdf