Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH

ANATOMI DAN FISIOLOGI MANUSIA

SEL SYARAF

Dosen Pengampu : Nevrita

Disusun oleh :

KELOMPOK 4

1. KURROTUL AINI 170384205034


2. NURAMINAH 170384205016
3. FANNI LESTARI 1703842050

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

TANJUNGPINANG

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah Yang Maha Esa atas limpahan rahmat, karunia,
serta hidayah-Nya. Karena izin Allah lah penulis dapat menuangkan tinta dan
mengukir suatu ilmu pengetahuan dalam bentuk makalah yang berjudul “Syaraf”.
Adapun ribuan kata syukur itu juga terucap karena penulis dapat menyelesaikan
penulisan makalah ini tepat pada waktunya.

Tidak lupa penulis sampaikan banyak terima kasih kepada Ibu Nevrita
selaku dosen pengampu mata kuliah Struktur Perkembangan Hewan. Dan terima
kasih juga kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian
makalah ini. Tanpa bantuan kalian, mungkin penulis tidak bisa menyelesaikan
penulisan makalah ini tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah selain untuk mengisi
nilai tugas mata kuliah Struktur Perkembangan Hewan, tetapi juga untuk berbagi
ilmu pengetahuan tentang Syaraf. Informasi yang disajikan oleh penulis dalam
makalah ini diperoleh dari berbagai sumber seperti buku dan internet. Dalam
makalah ini, penulis menyajikan beberapa rincian topik mengenai Syaraf yang
semoga bisa menambah ilmu pengetahuan bagi yang membacanya.

Penulis mohon maaf, apabila dalam penulisan makalah ini terdapat


kesalahan. Penulis sangat menghargai kritik dan saran dari pembaca sehingga
kedepannya penulis mampu menulis makalah lebih baik lagi. Semoga makalah
atau ilmu ini bisa bermanfaat bagi penulis, terlebih lagi bermanfaat bagi pembaca.
Amin.

Tanjungpinang, 14 Maret 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………... i

DAFTAR ISI………………………………………………………………. ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang…………………………………………………………. 1


1.2 Rumusan Masalah………………………………………………………1
1.3 Tujuan Penulisan………………………………………………………..1
1.4 Manfaat Penulisan………………………………………………………1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Sel Syarah……………………………………………………………… 2


2.2 Sel Neuroglia…………………………………………………………... 2
2.3 Fisiologi Syaraf…………………………………………………………2

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan……………………………………………………………. 3
3.2 Saran…………………………………………………………………... 3

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………… 4

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Susunan sel saraf pusat (SSP) manusia mengandung sekitar 1011 (100
miliar) neuron. Juga terdapap sel-sel glia sebanyak 10-5 kali jumlah tersebut.
Neuron, yang merupakan unit dasar sitem saraf merupakan evolusi dari sel-sel
neuroefektor primitive yang berespons terhadap berbagai rangsang dengan cara
berkontraksi. Pada hewan yang lebih kompleks, kontraksi merupakan fungsi
khusus sel-sel otot, sedangkan integrasi dan transmisi impuls saraf menjadi fungsi
khusus neuron.

Sistem saraf adalah sistem organ pada hewan yang terdiri atas sel neuron
yang mengkoordinasikan aktivitas otot, memonitor organ, membentuk atau
menghentikan masukan dari indra, dan mengaktifkan aksi. Komponen utama
dalam sistem saraf adalah neuron yang diikat oleh sel-sel neuroglia, neuron
memainkan peranan p enting dalam koordinasi.

Sistem saraf pada vertebrata secara umum dibagi menjadi dua, yaitu sistem
saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf tersusun oleh berjuta-juta sel saraf
yang mempunyai bentuk bervariasi. Sistem saraf sangat berperan dalam iritabilitas
tubuh. Iritabilitas memungkinkan makhluk hidup dapat menyesuaikan diri dan
menanggapi perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya. Jadi, iritabilitas
adalah kemampuan menanggapi rangsangan. Sistem saraf mempunyai tiga fungsi
utama, yaitu menerima informasi dalam bentuk rangsangan atau stimulus;
memproses informasi yang diterima; serta memberi tanggapan (respon) terhadap
rangsangan.

Susunan saraf terutama dibentuk oleh jaringan yang memiliki sifat khusus
yaitu dengan cepat dapat mengahatar rangsangan dari satu bagian tubuh ke bagian
lain. Sel khusus yang membentuk satuan susunan fungsional susunan saraf disebut
neuron. Neuron yang ada di dalam otak dan medula spinalis ditunjang oleh

1
jaringan ikat khusus disebut neuroglia. Jaringan saraf terdiri atas neuron dan
neuroglia banyak mengandung pembuluh darah tetapi tidak ada pembuluh limfa.

Susunan saraf manusia terdiri atas sangat banyak neuron yang secara khusus
saling berhubungan. Dengan adanya hubungan inilah badan dapat mengetahui
perubahan yang terjadi di lingkungannya atau di dalam tubuhnya sendiri, dan
memberi respon yang sesuai terhadap perubahan ini, misalnya berupa gerakan
atau mempengaruhi kerja organ tertentu dalam tubuh. Mekanisme beberapa fungsi
yang relatif sederhana ini telah dipahami sebagai hasil penelitian yang dilakukan
selama lebih dari satu abad. Tak dapat disangkal bahwa fungsi otak yang lebih
tinggi seperti mengingat dan kecerdasan harus diterangkan pula berdasarkan
hubungan-hubungan antar neuron ini, hingga kini masih sedikit yang diketahui
mengenai mekanisme yang terkait dengan itu.Makalah ini membahas
terbangkitnya neuron oleh rangsang, proses integrasi antara neuron serta
penghantaran impuls pada neuron.

1.2 Rumusan masalah


1. Apa yang dimakud dengan Syaraf (Struktur Syaraf Dan Klasifikasi
Syaraf)?
2. Apa yang dimaksud dengan Neuroglia (Neuroglia SSP)?
3. Bagaimana fisiologi Syaraf ( Potensial Transmembrane, Perubahan Dalam
Potensial Transmembrane, Dan Potensial Aksi)?

1.3 Tujuan
1. Dapat mengetahui apa yang dimakud dengan Syaraf (Struktur Syaraf Dan
Klasifikasi Syaraf)?
2. Dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan Neuroglia (Neuroglia SSP)?
3. Dapat mengetahui bagaimana fisiologi Syaraf ( Potensial Transmembrane,
Perubahan Dalam Potensial Transmembrane, Dan Potensial Aksi)?

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sel Syaraf


Sistem saraf adalah suatu jaringan saraf yang kompleks, sangat khusus dan
saling berhubungan satu dengan yang lain. Sistem saraf mengkoordinasi,
menafsirkandan mengontrol interaksi antara individu dengan lingkungan lainnya.
Sistem saraf bertanggung jawab untuk mengendalikan sebagian besar tubuh, baik
melalui fungsi somatik (Sadar) dan otonom (tidak sadar).
Sistem saraf tersusun dari jutaan serabut sel saraf (neuron) yang berkumpul
membentuk suatu berkas (faskulum). Neuron adalah komponen utama dalam
sistem saraf. Jaringan syaraf terdapat hampir di seluruh tubuh sebagai jaringan
komunikasi. Dalam melaksanakan fungsinya jaringan saraf mampu menerima
rangsang dari lingkungannya, mengubah rangsang tersebut menjadi impuls,
meneruskan impuls tersebut menuju pusat dan akhirnya pusat akan memberikan
jawaban atas rangsang tersebut. Rangkaian kegiatan tersebut dapat terselenggara
oleh karena bentuk sel saraf yang khas yaitu mempunyai tonjolan yang panjang
dan bercabang-cabang. Selain berkemampuan utama dalam merambatkan impuls,
sejenis sel saraf berkemampuan pula untuk bersekresi seperti halnya sel kelenjar
endokrin. Sel saraf mensekresikan hormon melatonin untuk perkembangan
reproduksi dan siklus fisiologis sehari-hari.
Komponen jaringan saraf terdiri atas sel saraf dan sel penyokong. Sel saraf
dinamakan pula sel neuron, berbeda degan sel-sel dari jaringan dasar lainnya
karena adanya tonjolan-tonjolan yang panjang dari badan selnya. Berperan dalam
menghantarkan dan memproses informasi, yaitu dengan menjalankan fungsi
sistem saraf seperti mengingat, berfikir, dan mengontrol semua aktivitas tubuh.

A. Struktur Syaraf
Jaringan saraf terdiri dari kelompok sel saraf atau disebut Neuron yang
berfungsi untuk menghasilkan dan mengirimkan impuls saraf. Neuron adalah
unit fungsional sistem saraf yang terdiri dari badan sel dan perpanjangan

3
sitoplasma. Neuron tidak mengalami mitosis yang berati bahwa jika
mengalami kerusakan maka tidak dapat digantika, hal ini bersifat amitotik.
Ciri neuron yang paling menonjol adalah penjuluran yang mirip serat., yang
disebut prosesus sehingga sel mampu mencapai jarak yang jauh untuk
menghantarkan pesan. Bagian sel saraf secara umum terdiri atas nukleus,
badan sel, dendrit, lapisan mielin, akson, ujung-ujung saraf, neurilema, dan
nodus ranvier.

Gambar 1. Sel syaraf Gambar 2. Anatomi sel syaraf

Adapun struktur dari sel syaraf yaitu :


a. Nukleus. Terletak di dalam badan sel. Protoplasma sel saraf terdapat
granula yang disebut nissl bodies. Berfungsi sebagai pengendali sel saraf.
b. Dendrit. Bagian sel saraf yang merupakan percabangan pendek tempat
impuls saraf masuk ke dalam sel. Berfungsi sebagai serabut yang
menerima dan menghantar impuls-impuls ke badan sel. Dendrit pada sel
saraf sensorik lebih panjang dibandingkan dengan sel saraf motorik.
c. Badan sel. Memiliki ukuran dan bentuk yang beragam. Biasanya badan sel
mengandung nukleus dan organel seluler lainnya. Berfungsi sebagai
tempat melekatnya akson dan dendrit. Tempat sintesis dan integrasi impuls
saraf. Sering disebut juga dengan soma atau perikaryon.
d. Akson/neurit. Disebut juga silinder aksis. Berupa serat tunggal tempat
impuls keluar dari sel. Setiap sel syaraf hanya memiliki satu akson.
Panjang akson mulai dari beberapa millimeter hingga beberapa sentimeter
tergantung tipe sel saraf tersebut. Berfungsi sebagai serabut yang
menghantar impuls keluar dari sel.

4
e. Lapisan mielin. Myelin sheath. Adalah suatu lapisan insulasi yang
membungkus akson. Merupakan lapisan lemak tipis yang menyelubungi
akson dan beberapa dendrit(pada umumnya). Berfungsi sebagai isolator,
sebagai pelindung serabut saraf dari tekanan dan cedera. Selain itu, mielin
juga berfungsi sebagai penyekat serabut saraf sehingga impuls-impuls
tidak ditransmisikan ke saraf yang berdekatan atau jaringan terdekat tanpa
melalui ujung serabut. Lapisan mielin pada beberapa artikel penelitian
menjelaskan bahwa memiliki fungsi sebagai penyimpan ingatan.
f. Neurilema. Jaringan penyambung yang berada tepat diatas lapisan myelin.
Neurilema adalah lapisan terluar sel saraf.
g. Nodus ranvier. Bagian sel saraf yang tidak mengandung lapisan mielin
akibat tertekannya lapisan lemak tersebut. Akibatya, nodus ranvier sendiri
bukanlah sebuah struktur dari sel saraf. Nodus ranvier hanyalah penunjuk
atau penanda bahwa bagian tersebut terjadi pembelokan akibat tidak
adanya lapisan mielin diantaranya. Hal ini mengakibatkan hanya
neurilema saja yang membungkusnya. Berfungsi sebagai tempat terjadinya
pertukaran nutrien dan bahan-bahan sisa serta mempercepat impuls yang
ada.
h. Akson hillock. Bagian akson yang melebar.

Gambar 3. Struktur sel syaraf

5
B. Klasifikasi Syaraf
Sel saraf berdasarkan fungsinya dan Arah transmisi Impulsnya terdiri
atas tiga macam yaitu sel saraf sensorik, sel saraf motorik, dan sel saraf
intermediet atau interneuron.
1) Sel saraf sensorik (aferen). Pada umumya terhubung dengan sel reseptor.
Sel saraf sensorik sudah tentu merupakan bagian terpenting dari 5 indera
yang dimiliki oleh manusia. Sel saraf ini menghantarkan impuls listrik dari
reseptor pada kulit, organ indera atau suatu organ internal ke SSP (Sistem
Saraf Pusat).
2) Sel saraf motoric. Pada umumnya terhubung dengan efektor seperti otot.
Sel saraf motorik merupakan bagian dari sistem saraf yang mengakibatkan
kita mampu bergerak berdasarkan perintah dari otak ataupun bagian
pengendali lainnya. Sel saraf ini menyampaikan impuls dari SSP (Sistem
Saraf Pusat) ke efektor.
3) Sel saraf interneuron (Neuron konektor). Ditemukan seluruhnya dalam
SSP (Sistem Saraf Pusat) Neuron ini menghubungkan neuron sensorik dan
motorik atau menyampaikan informasi ke interneuron lain.

Berdasarkan bentuknya, sel syaraf dapat diklasifikasikan menjadi :

a) Neuron unipolar hanya mempunyai satu serabut yang dibagi menjadi satu
cabang sentral yang berfungsi sebagai satu akson dan satu cabang perifer
yang berguna sebagai satu dendrite. Jenis neuron ini merupakan neuron-
neuron sensorik saraf perifer (misalnya sel-sel ganglion cerebrospinalis).
b) Neuron bipolar mempunya dua serabut, satu dendrite dan satu akson.
Jenis ini banyak dijumpai pada epithel olfaktorius dalam retina mata dan
dalam telinga dalam.
c) Neuron multipolar mempunyai banyak dendrite dan satu akson. Jenis
neuron ini merupakan yang paling sering dijumpai pada sistem saraf
sentral (sel saraf motoris pada cornu anterior dan lateralis medulla spinalis,
sel-sel ganglion otonom).

6
Gambar 4. Klasifikasi syaraf sel syaraf berdasarkan fungsi dan bentuknya

2.2 Sel Neuroglia

Gambar 5. Bagian neuron dan neuroglia


Neuroglia (berasal dari nerve glue) pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf
Virchow pada tahun 1854. Neuroglia tersusun atas berbagai macam sel yang
secara keseluruhan menyokong, melindungi, dan sumber nutrisi sel saraf pada
otak dan medulla spinalis, sedangkan sel Schwann merupakan pelindung dan
penyokong neuron-neuron diluar sistem saraf pusat. Neuroglia jumlahnya lebih
banyak dari sel-sel neuron dengan perbandingan sekitar sepuluh banding satu. Sel
penyokong yang biasa disebut juga dengan neuroglia merupakan jaringan pengisi.
Sering juga disebut dengan sel glia. Meliputi semua komponen jaringan saraf
yang tidak ikut berperan dalam merambatkan impuls saraf, tetapi bukan jaringan
pengikat oleh karena berasal dari jaringan ektoderm. Berperan sebagai penopang
structural dan nutrisional bagi neuron, isolasi elektrikal, dan menaikkan konduksi
impuls di sepanjang akson. Sel ini penting bagi integritas struktur sistem saraf dan
bagi fungsi normel neuron. Jaringan pengisi dibedakan untuk sistem saraf pusat
dan sistem saraf tepi.

7
A. Neuroglia pada Sistem Saraf Pusat (SSP)
Susunan saraf pusat (SSP) yaitu otak (ensefalon) dan medula spinalis,
yang merupakan pusat integrasi dan kontrol seluruh aktifitas tubuh. Bagian
fungsional pada susunan saraf pusat adalah neuron akson sebagai penghubung
dan transmisi elektrik antar neuron, serta dikelilingi oleh sel glia yang
menunjang secara mekanik dan metabolik (Bahrudin, 2013).
Sel glial adalah sel penunjang tambahan pada SSP yang berfungsi
sebagai jaringan ikat (Nugroho, 2013), selain itu juga berfungsi mengisolasi
neuron, menyediakan kerangka yang mendukung jaringan, membantu
memelihara lingkungan interseluler, dan bertindak sebagai fagosit. Jaringan
pada tubuh mengandung kira-kira 1 milyar neuroglia, atau sel glia, yang
secara kasar dapat diperkirakan 5 kali dari jumlah neuron (Feriyawati, 2006).
Sel glia lebih kecil dari neuron dan keduanya mempertahankan kemapuan
untuk membelah, kemampuan tersebut hilang pada banyak neuron. Secara
bersama-sama, neuroglia bertanggung jawab secara kasar pada setengah dari
volume sistem saraf. Ada empat sel neuroglia pada sistem SSP yang berhasil
diindentifikasi yaitu :
1) Astrocytes. Memiliki ukuran paling besar, bentuk sferis, tidak teratur,
fungsi utamanya yaitu untuk memberi sokongan struktur sel, memberi
nutrisi, membentuk barrier darah-otak. Astrocytes adalah sel berbentuk
bintang yang memiliki sejumlah prosesus panjang, sebagian besar melekat
pada dinding kapilar darah melalui pedikel atau “kaki vascular”. Berfungsi
sebagai “sel pemberi makan” bagi neuron yang halus. Badan sel astroglia
berbentuk bintang dengan banyak tonjolan dan kebanyakan berakhir pada
pembuluh darah sebagai kaki perivaskular. Bagian ini juga membentuk
dinding perintang antara aliran kapiler darah dengan neuron, sekaligus
mengadakan pertukaran zat diantara keduanya. Dengan kata lain,
membantu neuron mempertahankan potensial bioelektris yang sesuai
untuk konduksi impuls dan transmisi sinaptik. Dengan cara ini pula sel-sel
saraf terlindungi dari substansi yang berbahaya yang mungkin saja terlarut
dalam darah, tetapi fungsinya sebagai sawar darah otak tersebut masih

8
memerlukan pemastian lebih lanjut, karena diduga celah endothel kapiler
darahlah yang lebih berperan sebagai sawar darah otak.

2) Oligodendrocytes. menyerupai astrosit, tetapi badan selnya kecil dan


jumlah prosesusnya lebih sedikit dan lebih pendek. Merupakan sel glia
yang bertanggung jawab menghasilkan myelin dalam susunan saraf pusat.
Sel ini mempunyai lapisan dengan subtansi lemak mengelilingi penonjolan
atau sepanjang sel saraf sehingga terbentuk selubung myelin.

3) Sel ependima. membentuk membran spitelial yang melapisi rongga


serebral dan ronggal medulla spinalis. Merupakan neuroglia yang
membatasi system ventrikel sistem saraf pusat. Sel-sel inilah yang
merupakan epithel dari Plexus Coroideus ventrikel otak. Berfungsi sebagai
penghasil cairan serebrospinal dan perlindungan nutrisi sel.

4) Mikroglia. Memiliki ukuran paling kecil. Berfungsi sebagai komponen


fagositik, yaitu melindungi sel dari pengaruh luar. ditemukan dekat neuron
dan pembuluh darah. Sel jenis ini ditemukan di seluruh sistem saraf pusat
dan dianggap berperan penting dalam proses melawan infeksi.

Gambar 6. Sel penyokong pada sistem saraf pusat

B. Neuroglia pada Sistem Saraf Tepi (Sistem Saraf Perifer)


Susunan saraf tepi (SST) yaitu saraf kranial dan saraf spinalis yang
merupakan garis komunikasi antara SSP dan tubuh . SST tersusun dari semua
saraf yang membawa pesan dari dan ke SSP (Bahrudin, 2013). Neuron pada

9
sistem saraf tepi biasanya berkumpul jadi satu dan disebut ganglia (tunggal:
ganglion). Akson juga bergabung menjadi satu dan membentuk sistem saraf
tepi. Seluruh neuron dan akson disekat atau diselubungi oleh sel glia. Sel glia
yang berperan terdiri dari sel satelit dan sel Schwann.

1) Sel schwann. Setiap akson pada saraf tepi, baik yang terbungkus dengan
mielin maupun tidak, diselubungi oleh sel Schwann atau neorolemmosit.
Plasmalemma dari akson disebut axolemma; pembungkus sitoplasma
superfisial yang dihasilkan oleh sel Schwann disebut neurilemma
(Bahrudin, 2013). Berfungsi sebagai penghasil myelin pada sel saraf tepi,
maka membantu meningkatkan konduksi impuls saraf.
2) Sel satelit. Badan neuron pada ganglia perifer diselubungi oleh sel satelit.
Sel satelit berfungsi untuk regulasi nutrisi dan produk buangan antara
neuron body dan cairan ektraseluler. Sel tersebut juga berfungsi untuk
penyokong pada sel saraf tepi dan mengisolasi neuron dari rangsangan lain
yang tidak disajikan di sinap. Merupakan sel penyokong pada sel saraf
tepi.

Dalam penyampaian impuls dari reseptor sampai ke efektor perifer


caranya berbeda-beda. Sistem saraf somatik (SSS) mencakup semua neuron
motorik somatik yang meng-inervasi otot, badan sel motorik neuron ini
terletak dalam SSP, dan akson-akson dari SSS meluas sampai ke sinapsis
neuromuskuler yang mengendalikan otot rangka. Sebagaian besar kegiatan
SSS secara sadar dikendalikan. Sedangkan sistem saraf otonom mencakup
semua motorik neuron viseral yang menginervasi efektor perifer selain otot
rangka. Ada dua kelompok neuron motorik viseral, satu kelompok memiliki
sel tubuh di dalam SSP dan yang lainnya memiliki sel tubuh di ganglia perifer
(Bahrudin, 2013).
Neuron dalam SSP dan neuron di ganglia perifer berfungsi mengontrol
efektor di perifer. Neuron di ganglia perifer dan di SSP mengontrolnya segala
bergiliran. Akson yang memanjang dari SSP ke ganglion disebut serat
preganglionik. Akson yang menghubungkan sel ganglion dengan efektor
perifer dikenal sebagai serat postganglionik. Susunan ini jelas membedakan

10
sistem (motorik visceral) otonom dari sistem motorik somatik. Sistem
motorik somatik dan sitem motorik visceral memiliki sedikit kendali
kesadaran atas kegiatan SSO.
Interneuron terletak diantara neuron sensori dan motorik. Interneuron
terletak sepenuhnya didalam otak dan sumsum tulang belakang. Mereka lebih
banyak daripada semua gabungan neuron lain, baik dalam jumlah dan jenis.
Interneuron bertanggung jawab untuk menganalisis input sensoris dan
koordinasi motorik output. Interneuron dapat diklasifikasikan sebagai
rangsang atau penghambat berdasarkan efek pada membran post sinaps
neuron (Bahrudin, 2013).

2.3 Fisiologi Syaraf


Terdapat celah sinaps yang memisahkan terminap presinaps dengan badan
sel atau dendrit dari neuron lainnya dalam kaskade pesinyalan impuls saraf.
Transmisi impuls antara neuron satu dengan neuron lainnya pada sinaps dimediasi
oleh pelepasan suatu mediator kimiawi yaitu suatu neurotransmiter seperti
glutamat atau ᵞ-aminobutyric acid (GABA) yang dilepaskan dari terminal pre-
sinaps. Membran pada neuron post-sinaps memiliki reseptor tempat terikatnya
neurotransmiter yang dilepas dari terminal pre-sinaps, dimana selanjutnya impuls
saraf selanjutnya akan diteruskan oleh neuron tersebut. Synaps merupakan tempat
dimana neuron mengadakan kontak dengan neuron lain atau dengan organ-organ
efektor, dan merupakan satu-satunya tempat dimana suatu impuls dapat lewat dari
suatu neuron ke neuron lainnya atau efektor. Ruang antara satu neuron dan neuron
berikutnya dikenal dengan celah sinaptik (Synaptic cleft). Neuron yang
menghantarkan impuls saraf menuju sinaps disebut neuron prasinaptik dan neuron
yang membawa impuls dari sinaps disebut neuron postsinaptik. Fibril yang
membentuk akson memiliki ujung yang tipis dan melebar yang disebut end feet
yang dekat dengan dendrit atau badan sel neuron lain akan tetapi tidak
bersentuhan. Fibril tersebut memungkinkan hantaran impuls saraf pada satu arah
saja.kantong pada ujung akson disebut dengan bulbus akson yang terdapat
neurotransmitter di dalamnya. Neuron transmitter berperan dalam penyampaian

11
impuls saraf pada sinapsis. Neurotransmitter mengandung asetilkolin yang
berfungsi untuk menyebrangkan impuls dan mengandung enzim kolinestrase yang
berfungsi sebagai penyetop kerja otot supaya beristirahat.

A. Komponen Sinaps
Membran presinaps. Letaknya berdektan dengan sel asal
impuls,mengandung penebalan padat elektron, saat stimulasi akan
mengeluarkan neurotransmitter.
 Celah sinaptik. Celah berisi cairan. Letaknya diantara membran presinaps
dan membrane postsinaps. Merupakan media yang menghantarkan
neurotransmitter ke membrane postsinaps.
 Membran postsinaps. Merupakan penebalan membrane plasma pada sel
target.

Gambar 7. Synaps

a) Macam-Macam Sinaps

o Axodentric. Pertemuan akson dengan dendrit.


o Axosomatic. Pertemuan antara akson dengan badan sel saraf.
o Axoaxonic. Pertemuan antara akson dengan akson.

Sinaps sangat rentan terhadap perubahan kondisi fisiologis :

12
 Alkalosis : Diatas PH normasl 7,4 meningkatkan eksitabilitas
neuronal. Pada PH 7,8 konvulsi dapat terjadi karena neuron sangat
mudah tereksitasi sehingga memicu output secara spontan.
 Asidosis : Dibawah PH normal 7,4 mengakibatkan penurunan yang
sangat besar pada output neuronal. Penurunan 7,0 akan
mengakibatkan koma.
 Anoksia : Atau biasa yang disebut deprivasi oksigen,
mengakibatkan penurunan eksitabilitas neuronal hanya dalam
beberapa detik.
 Obat-obatan : Dapat meningkatkan atau menurunkan eksitabilitas
neuronal.
- Kafein menurunkan ambang untuk mentransmisi dan
mempermudah aliran impuls.
- Anestetik local (missal novokalin dan prokain) yang
membekukan suatu area dapat meningkatkan ambang
membrane untuk eksitasi ujung saraf.
- Anastetik umum menurunkan aktivasi neuronal di seluruh
tubuh.

Impuls saraf akan melewati membran sel saraf sebagai suatu potensial
aksi. Proses ini difasilitasi oleh adanya reseptor yang terdapat pada membran sel
saraf. Dengan demikian, jika aksoplasma (sitoplasma dari akson) dihilangkan
maka hal ini tidak akan mengganggu proses konduksi impuls saraf. Serabut saraf
mendapatkan sumber nutrisinya dari badan sel. Sehingga, jika serabut saraf ini
dirusak maka serabut saraf di bagian perifer akan mengalami degenerasi yang
dikenal dengan degenerasi Wallerian. Akson-akson pada saraf tepi atau saraf
perifer memiliki kemampuan untuk regenerasi, begitu pula selubung mielinnya.
Akan tetapi, kemampuan regenerasi ini tidak dimiliki oleh sel saraf di otak serta di
medula spinalis. Saat ini, banyak studi sedang dilakukan untuk mempelajari
tentang kondisi-kondisi yang dapat meningkatkan proses regenrasi saraf pusat
khususnya pada kasus-kasus injuri saraf pusat.

13
2.3 Potensial Membran (Potensial Transmembran) atau Potensial Membran
Istirahat (Resting Membrane Potential= RMP)

Gambar 8. Potensial Transmembran dan Durasi Potensial Aksi pada


Bebagai Jaringan Tubuh
Potensial membran merupakan potensial yang diakibatkan oleh
adanya perbedaan muatan pada sisi dalam dan sisi luar membran sel.
Proses yang berperan pada potensial membaran adalah difusi dan transport
aktif. Difusi terjadi karena sifat membran sel yang semipermeabel, oleh
karena konsentrasi dalam sel yang tinggi, ion K cenderung berdifusi keluar
sel shingga mengurangi muatan positif didalam sel dan membentuk
elektropositif diluar sel dan elektronegatif didalam sel. Sedangkan
transport aktif, terjadi karena adanya pompa Na dan K yang bersifat
elektronegatif oleh karena lebih banyak mengeluarkan ion positif (3 ion
Na akan keluar setiap 2 ion K masuk). Kejadian ini menimbulkan gradien
konsentrasi yang tinggi diantara ion Na dan ion K untuk modal awal agar
terjadi difusi.

Besarnya potensial membran saat tidak ada stimulus yang


diberikan ke sel (saat sel istirahat) disebut dengan potensial membran
istirahat (resting membrane potential = RMP). Pada umumnya ada bagian
dalam relatif negatif terhadap bagian luar membran. Oleh karena itu RMP
disepakati ditulis negatif. Nilai RMP antar jaringan bervariasi antara -9
hingga -100 mV. Nilai RMP khas untuk jenis sel tertentu. Sel otot
mempunyai RMP = -90 mV, dengan E Cl -= -86 mV, EK=-100 mV, dan E

14
Na+ = +55 mV. Sel darah merah mempunyai RMP yang rendah (-9mV),
sedangkan potensial membran istirahat giant axon pada mantel cumi
sekitar -60 mV.

Gaya yang mendorong ion untuk melintas membran dapat


dianalisis. Ion Cl- ada dalam kadar lebih tinggi di cairan ekstraselular
daripada di dalam sel, sehingga Cl- cenderung berdifusi mengikuti
gradien kadar ke dalam sel. Kesetimbangan dicapai saat influks Cl - sama
dengan efluks Cl-. Potensial membran saat kesetimbangan disebut
potensial kesetimbangan, yang kekuatannya dapat dihitung berdasar
persamaan Nersnt sebagai berikut.

[Cl- i ]

Eq = 61,5 ----------pada 37 0 C,

[Cl- o]

dengan [Cl- i ] = kadar Cl- di dalam sel, dan

[Cl- o ]= kadar Cl- di luar sel

Jika [Cl- i ] = 9,0 mmol/ l H2O, dan [Cl- o ] = 125,0 mmol/ l H2O,
akan didapatkan nilai potensial kesetimbangan sebesar -70 mV, identik
dengan RMP sel terukur. Dengan menggunakan rumus yang sama, dapat
dihitung pula potensial kesetimbangan untuk ion-ion yang lain. Ion K +
akan berdifusi ke luar sel mengikuti gradien kadar dan masuk ke sel
mengikuti gradien elektrik. Pada neuron motorik spinal Mammalia, Ek=
-90 mV. Karena RMP = -70 mV, maka banyaknya K + di dalam sel hasil
pengukuran akan lebih banyak dibandingkan dengan hasil hitung berdasar
gradien kadar dan gradien elektrik.

15
Berbeda dengan dua jenis ion tersebut terdahulu, berdasar gradien
kadar, Na+ akan masuk ke sel, demikian pula berdasar gradien elekriknya.
E Na+ = + 60 mV. Eksperimen menggunakan Na+ radioaktif menunjukkan
bahwa permeabilitas membran terhadap Na+ lebih rendah dibanding
dengan permeabilitas membran terhadap K+, oleh karena itu jika hanya
terjadi gaya pasif berdasar gradien kadar dan elektrik, sel akan secara
bertahap mendapat tambahan Na+ dan kehilangan K+.

Ion kalsium (Ca2+ ) pada cairan ekstraselular Mammalia ada pada


kadar sekitar 1,2 mmol/L, dan kadarnya di dalam sel sangat rendah, jadi
Ca2+ cenderung masuk ke sel mengikuti gradien kadar maupun gradien
elektrik. Meskipun permeabilitas membran sel neuron terhadap Ca 2+ 100
kali lebih rendah dibanding permeabilitasnya terhadap Na +, tetapi tetap
saja ada Ca2+ yang masuk. Ca2+ intraselular tetap rendah oleh adanya
transpor aktif Ca2+ ke luar sel.

Membran sel secara praktis impermeabel terhadap protein


intraselular dan anion organik lain yang menyusun sebagian besar anion
intraselular (A-), agak permeabel terhadap Na+ dan lebih permeabel lagi
terhadap Cl- dan K+. Jika K+ berdifusi ke luar sel mengikuti gradien kadar,
sedangkan anion yang tidak dapat berdifusi tetap tinggal di dalam sel, dan
permeabilitas membran terhadap K+ lebih tinggi dibanding terhadap Na+,
akan menyebabkan perbedaan potensial sepanjang membran sel. Terjadi
sedikit kelebihan kation di luar sel dan sedikit kelebihan anion di dalam
sel, sehingga bagian dalam membran lebih negatif dibanding di luar
membran (oleh karena itu RMP bernilai negatif).

Ion-ion yang berperan dalam potensial membran merupakan fraksi


yang sangat kecil dari total ion yang ada. Masuknya Na+ ke dalam sel
tidak dapat diimbangi oleh keluarnya K+ karena permeabilitas membran
saat istirahat lebih tinggi terhadap Na+ dibanding terhadap K+. Cl-
berdifusi ke dalam sel mengikuti gradien kadar, tetapi perpindahan
tersebut diimbangi oleh gradien elektriknya. Pompa sodium potasium
mempunyai konntribusi terhadap potensial membran, tetapi fungsi

16
utamanya pada konteks ini adalah untuk memelihara gradien kadar.
Potensial membran tergantung pada gradien kadar. Jika pompa terhenti
saat diberikan inhibitor metabolik, Na+ akan masuk ke sel, K+ akan ke
luar sel, dan potensial membran menurun. Laju penurunan tersebut
bervariasi menurut ukuran sel. Pada sel berukuran besar, dapat
berlangsung berjam-jam, tetapi pada serabut saraf dengan diameter kurang
dari 1 um, depolarisasi lengkap dapat terjadi kurang dari 4 menit.

Kekuatan potensial membran pada waktu tertentu tergantung pada


distribusi Na+, K+ dan Cl- dan permeabilitas membran terhadap ion-ion
tersebut Persamaan Goldman (Goldman constant-field equation) dapat
digunakan untuk menggambarkan hubungan antar variabel tersebut.

Karena saat sel istirahat, PNa+ relatif lebih rendah dibanding dengan
PK+ , peran Na+ dalam menentukan potensial membran istirahat hanya
kecil. Oleh karena itu perubahan Na+ eksternal hanya akan menghasilkan
sedikit perubahan RMP, sedangkan peningkatan K+ eksternal akan
menurunkan RMP. Pada sel otot dan saraf, menurunnya potensial
membran justru akan memacu peningkatan permeabilitas membran
terhadap Na+. Sifat khas ini memungkinkan timbulnya penjalaran
informasi (impuls) sepanjang membran sel.

Sel saraf yang sedang beristirahat, sepeti sel lain dalam tubuh,
mempertahankan perbedaan potensial listrik (voltase) pada membrane sel
diantara bagian dalam sel dan cairan ektraseluler di sekeliling sel. Voltase
sel relatif berkisar antara -50 mV sampai -80 mV terhadap voltase luar.
Bergantung pada kondisi neuron dan ektraseluler yang mengelilingi sel.

17
 Membran sel dalam keadaan istirahat dianggapan bermuatan
listrik atau terpolarisasi. Keadaan ini dapat dibuktikan dengan
menempatkan elektroda menit di dalam sel dan di luar
membran.
 Polarisasi (potensial istirahat) disebabkan oleh konsentrasi ion
Natrium dan Kalium yang tidak seimbang di dalam dan di luar
sel, serta perbedaan permebilitas membrane terhadap ion ini
dan ion lain.
 Membran neuron sangat permeabel terhadap ion K+ dan Cl-
serta relative impermiabel terhadap ion Na.
 Membran ini impermiabel terhadap molekul protein
intraseluler besar yang bermuatan negatif.
 Konsentrasi ion K+ didalam membrane sel lebih tinggi
daripada diluar membran sel, konsentrasi ion Na diluar
membrane sel lebih tinggi daripada didalam sel.
 Karena tingkat permeabilitas membrane terhadap ion K sekitar
75 kali lebih besar daripada ion Na, maka difusi ion K keluar
dari sel lebih cepat daripada ion Na kedalam sel.
 Saat ion K bermuatan positif kelur dari sel, ion tersebut
meninggalkan molekul protein bermuatan negatif yang terlalu
besar untuk dapat berdifuso melalui membran. Hal ini
mengakibatkan bagian dalam sel mengalami elektronegativitas.
 Difusi dan transport aktif bertanggung jawab untuk pergerakan
ion melewati membran plasma

Untuk lebih memahami bisa menekan link berikut :


https://youtu.be/MplWXZTOk6o

A. Potensial Aksi

18
Potensial aksi adalah aliran ionik positif dan negatif yang bergerak
di membran sel. Semakin besar diameter akson semakin cepat
penghantaran potensial aksi karena tahanan arus listrik berbanding terbalik
dengan luas penampang penghantar arus tersebut. Potensial aksi
merupakan pembalikan cepat potensial membran akibat perubahan
permeabilitas membran. Potensial aksi berfungsi sebagai sinyal jarak jauh.
Potensial aksi sesungguhnya tejadi di seluruh membran sel, hal ini
didasarkan oleh adanya perbedaan konsentrasi ion natrium dan kalium
antara intra-seluler dan ekstra-seluler. Perbedaan gradien konsentrasi ion
tersebut dipertahankan oleh adanya suatu enzim pada membran sel yang
disebut dengan enzim Na-K ATPase atau dalam istilah lainnya disebut
pompa Na-K. Pompa NaK ini bekerja dengan cara mentranfer tiga ion
Natrium keluar sel serta 2 ion Kalium ke dalam sel. Gradien konsentrasi
ini menyebabkan adanya potensial positif di luar membran sel dan
potensial negatif di dalam sel. Perbedaan potensial membran ini disebut
sebagai Resting Membrane Potential. Sitoplasma sel memiliki potensial
listrik sebesar -60 hingga -80 mV diabandingkan dengan cairan
ekstraseluler.5 Ketika suatu saluran ion tertentu terbuka maka akan terjadi
perpindahan ion menuruni gradien konsentrasinya. Potensial aksi
merupakan suatu perubahan yang cepat pada membran sel saraf akibat
terbukanya saluran ion Natrium dan terjadi influks Natrium menuruni
gradien konsentrasinya. Akibatnya meningkatnya jumlah Natrium di
dalam sel, sedangkan jumlah Kalium tetap maka terjadi perubahan
potensial listrik membran dimana potensial listrik intraseluler menjadi
lebih positif dibandingkan ektraseluler. Setelah terjadi depolarisasi maka
resting membrane potential akan dikembalikan lagi melalui suatu proses
yang disebut dengan repolarisasi. Pada proses ini saluran Natrium yang
tadi terbuka akan menutup dan diikuti dengan terbukanya saluran Kalium.
Kalium akan berpindah keluar sel menuruni gradien konsentrasinya dan
mengembalikan potensial membran dalam sel menjadi negatif.
Penyebaran Potensial Aksi Potensial Aksi menyebar di sepanjang
serabut saraf dan hal ini merupakan dasar mekanisme transmisi sinyal

19
pada sistem saraf. Potensial aksi menyebar disepanjang perjalanan serabut
saraf melalui mekanisme depolarisasi sistem saraf. Depolarisasi di
sepanjang serabut saraf inilah yang kita kenal dengan istilah impuls saraf.
Biasanya keseluruhan potensial aksi akan berlangsung selama kurang dari
1 millisecond.
Selama terjadinya potensial aksi, membran sel saraf berada dalam
keadaan sulit untuk mengalami stimulasi lanjutan. Kondisi ini disebut
sebagai suatu kondisi absolute refractory period. Kondisi ini terjadi karena
keberadaan saluran ion Natrium yang berada dalam kondisi inaktif dalam
jumlah yang besar selama periode tersebut. Namun pada akhir periode
potensial aksi, stimulus yang lebih kuat dari normal dapat menimbulkan
munculnya potensial aksi sekunder. Kondisi ini dinamakan sebagai
relative refractory period. Kondisi ini menandakan bahwa perlunya untuk
mengaktivasi beberapa saluran ion Natrium untuk memicu munculnya
potensial aksi.
Potensial Aksi Abnormal Defisiensi kalsium pada cairan
ekstraseluler (hipokalsemia) akan mencegah penutupan saluran ion
natrium diantara potensial aksi. Kondisi ini akan menyebabkan masuknya
natrium secara terus-menerus ke dalam sel sehingga sel mengalami
depolarisasi yang berkepanjangan atau mengalami potensial aksi yang
berulang. Suatu kondisi yang kita kenal dengan istilah tetani. Begitu pula
sebaliknya, dimana tingginya kadar ion kalsium di dalam darah akan
mengurangi permeabilitas membran sel terhadap natrium. Hal ini akan
mengurangi eksitabilitas sel saraf untuk mengalami depolarisasi.6
Rendahnya konsentrasi ion kalium dalam cairan ekstraseluelr akan
meningkatkan potensial negatif membran di dalam sel saraf. Akibatnya
akan terjadi hiperpolarisasi sel saraf dan penurunan eksitabilitas membran
sel saraf karena sulit untuk mencapai nilai ambang untuk terjadi potensial
aksi. Kelemahan otot skeletal yang terjadi setelah seseorang mengalami
hipokalemia merupakan hasil dari terjadinya hiperpolarisasi dari membran
sel otot skeleton tersebut. Obat anestesi lokal akan menurunkan
permeabilitas membran sel saraf terhadap ion natrium, mencegah

20
tercapainya nilai ambang untuk memunculkan suatu potensial aksi.
Blokade saluran ion sodium pada jantung menggunakan obat anestesi
lokal akan menimbulkan gangguan konduksi impuls dan menurunkan
kontraktilitas otot jantung.

Gambar 9. Siklus umpan balik positif bertanggung jawab terhadap


pembukaan gerbang Na+ tambahan setelah depolarisasi pada tingkat
ambang

Gambar 10. Potensial Aksi

i. Jika serabut saraf cukup terstimulasi, maka gerbang Na+ akan terbuka.
ii. Ion Natrium bermuatan positif bergerak kedalam sel, mengubah
potensial istirahat (polarisasi) menjadi potensial aksi (depolarisasi)

21
ditunjukkan dengan pergeseran diferensial dari -65mV ke puncak listrik
(potensial puncak) yang hampir mencapai +40 mV. Depolarisasi juga
menyebabkan terbukanya lebih banyak gerbang natrium, yang
kemudian akan mempercepat respons dalam siklus umpan balik positif.
iii. Potensial aksi sangat singkat, yang hanya bertahan kurang dari
seperseribu detik.
iv. Gerbang Natrium kemudian menutup, mengehentikan aliran deras ion
Na+, Gerbang Kalium akan membuka, menyebabkan ion K+ mengalir
keluar sel dengan deras.
v. Repolarisasi (polarisasi balik) adalah pemulihan daya potensial untuk
kembali pada keadaan istirahat.

 Pompa natrium-kalium membantu pengembalian gradient


konsentrasi ion asal yang melewati membran sel.
 Pompa yang dijalankan dengan energy ini akan menghancurkan
kelebihan ion Na yang memasuki sel dan mengembalikan ion K
yang telah berdifusi keluar sel.
vi. Respon all or none.
 Stimulus ambang untuk depolarisasi biasanya terjadi saat ada
perubahan sekitar 15 mV dari keadaan potensial istirahat.
 Begitu ambang depolarisasi tercapai, potensial aksi akan
terbentuk. Inilah yang disebut respons all-or-none. Neuron akan
merespons secara keseluruhan atau tidak merespons sama sekali.
vii. Periode refraktori.
- Periode refraktori absolut : waktu selama gerbang ion Na tertutup
dan gerbang K masih terbuka dan serabut saraf sama sekali tidak
responsif terhadap kekuatan stimulus lain.
- Periode refraktori relative : masa setelah masa refraktori absolute.
Masa ini berlangsung kurang dari 2 milidetik dan merupakan
waktu dimana stimulus dengan kekuatan yang lebih tinggi
memicu potensial aksi yang kedua.

22
Untuk lebih memahami bisa menekan link berikut :
https://youtu.be/iBDXOt_uHTQ

https://youtu.be/wKeMolHzNPs

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Sistem saraf adalah suatu jaringan saraf yang kompleks, sangat khusus dan
saling berhubungan satu dengan yang lain. Sistem saraf mengkoordinasi,
menafsirkandan mengontrol interaksi antara individu dengan lingkungan lainnya.
Sistem saraf bertanggung jawab untuk mengendalikan sebagian besar tubuh, baik
melalui fungsi somatik (Sadar) dan otonom (tidak sadar).

Neuroglia (berasal dari nerve glue) pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf
Virchow pada tahun 1854. Neuroglia tersusun atas berbagai macam sel yang
secara keseluruhan menyokong, melindungi, dan sumber nutrisi sel saraf pada
otak dan medulla spinalis, sedangkan sel Schwann merupakan pelindung dan
penyokong neuron-neuron diluar sistem saraf pusat.

Potensial membran merupakan potensial yang diakibatkan oleh adanya


perbedaan muatan pada sisi dalam dan sisi luar membran sel. Proses yang
berperan pada potensial membaran adalah difusi dan transport aktif. Difusi terjadi
karena sifat membran sel yang semipermeabel, oleh karena konsentrasi dalam sel
yang tinggi, ion K cenderung berdifusi keluar sel shingga mengurangi muatan
positif didalam sel dan membentuk elektropositif diluar sel dan elektronegatif
didalam sel.

3.2 Saran

Demikianlah makalah ini, semoga bermanfaat bagi pembaca


umumnya dan penulis khususnya. Dan pemakalah sangat
menyadari bahwa makalah ini masih juah dari kata sempurna

23
untuk kami mohon kritik dan saran yan membangun demi
perbaikan dalam penulisan kedepanya.

DAFTAR PUSTAKA

24