Anda di halaman 1dari 8

Rupiah Terpuruk (Lagi)

Oleh: Pratma Julia Sunjandari (Lajnah Siyasi DPP MHTI)

Lagi-lagi, rupiah kembali melemah. Rabu 27 Agustus 2015, nilai rupiah menembus angka
14.102 per dolar AS. Ketergantungan Indonesia terhadap investasi asing dan bahan baku
impor menjadikan depresiasi rupiah cukup mengganggu produksi dan konsumsi. Bayangkan
saja, Kementrian Perdagangan mendata ada 1.151 item barang impor yang biasa dikonsumsi
masyarakat Indonesia. Penggunaan alat-alat produksi impor dalam industri Indonesia juga
cukup tinggi. Karena itu, pengusaha sebagai pelaku utama produksi, berusaha bertahan
dengan mengurangi kapasitas produksi dan jam kerja untuk menekan biaya produksi. Dengan
kondisi perekonomian Indonesia yang melambat, diprediksi rupiah sulit kembali menguat
terhadap dolar AS. Mau tak mau situasi ini memicu keresahan, khususnya kalangan pekerja
karena khawatir menjadi korban pemutusan hubungan kerja.

Pemerintah sendiri pasti kalang kabut dalam situasi ini karena total utang pemerintah pada
Mei 2015 saja naik lebih dari Rp 64 triliun dibanding periode April 2015, maka total utang
Indonesia berjumlah Rp 2.845,25 triliun pada periode Mei 2015. Belum lagi utang luar negeri
swasta yang mencapai 55 persen dari total utang luar negeri Indonesia. Kelesuan kondisi
ekonomi di awal 2015 mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan sehingga membuat risiko
gagal bayar terhadap bunga pinjaman.

Solusi ‘Abal-abal’

Menghadapi depresiasi rupiah, Pemerintah telah menggulirkan kebijakan pada 17 Maret 2015
lalu untuk memperbaiki defisit transaksi berjalan. Namun bagaimana mungkin kebijakan itu
mampu menyehatkan perekonomian, jika solusinya hanya bersandarkan pada kemampuan
perusahaan. Pemerintah akan memberikan fasilitas keringanan pembayaran pajak (tax
allowance) bagi perusahaan yang menginvestasikan kembali dividennya di Indonesia,
menciptakan lapangan kerja, berorientasi ekspor, tingkat kandungan lokalnya tinggi, serta
melakukan riset dan pengembangan. Padahal tugas untuk memandirikan proses industri,
menjamin ketahanan pangan dan industri yang berbasis produk lokal, sekaligus menciptakan
peluang pasar dan lapangan pekerjaan adalah tugas pokok pemerintah sebagai penjamin
kesejahteraan rakyat.

Ketidaksungguhan pemerintah kian menguat ketika pemerintah masih berkutat dengan pasar
non riil. Hal itu tampak ketika pemerintah merestrukturisasi dan merevitalisasi industri
reasuransi domestik dengan menggabungkan dua perusahaan reasuransi milik negara menjadi
sebuah perusahaan reasuransi nasional. Alasannya, jasa asuransi dan dana pension mengalami
defisit 939 juta dollar AS pada 2014. Padahal yang akan menggerakkan perekonomian rakyat
adalah sektor riil yang terbukti tahan krisis. Sekalipun pemerintah berusaha menghidupkan
UMKM, namun belum ada upaya serius untuk mengayomi 56,5 juta UMKM seluruh
Indonesia.

Mengurai Masalah

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Natsir Mansyur berpendapat
bahwa penyebab pelemahan rupiah disebabkan fundamental perekonomian Indonesia yang
rapuh. Menurutnya pemerintah tidak sungguh-sungguh menata perekonomian seperti tidak
menjalankan program program hilirisasi mineral maupun pangan. Akibatnya nilai impor
migas mencapai 45 persen, sedangkan impor bahan baku pangan sekitar 60 persen. Belum
lagi kebiasaan untuk bertransaksi menggunakan dolar AS seperti yang dilakukan industri
penerbangan dan sewa ruang perkantoran di lokasi premium dan bisnis di Jakarta. Padahal
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang mengatur kewajiban penggunaan
rupiah dalam berbagai transaksi di pasar domestik.

Apapun solusi yang dikemukakan pemerintah, memang sulit bagi Indonesia untuk keluar dari
masalah karena kondisi itu terkait dengan persoalan fundamental. Jika menilik penyebab
depresiasi rupiah, secara umum dikarenakan ketidakmandirian Indonesia dan ketergantungan
rupiah terhadap dolar AS. Ketika ekonomi AS relatif membaik yang diikuti pemotongan
stimulus oleh Federal Reserve/ The Fed (bank sentral Amerika Serikat) menyebabkan dolar
kembali ke AS sehingga otomatis semua mata uang dunia, termasuk rupiah menjadi terpuruk.
Di sisi lain, neraca perdagangan dalam negeri anjlok karena 3 tahun ini impor meningkat
drastis, sementara ekspor menurun termasuk pada komoditas andalan seperti minyak sawit,
batu bara dan karet.

Lebih dari itu, karakter ekonomi kapitalis tidak bisa dipisahkan dari krisis. Krisis akan
berulang secara periodik. Jika Indonesia dianggap mampu keluar dari krisis ekonomi tahun
1998, saat itu ketergantungan terhadap impor, termasuk sektor pangan tidak setinggi saat ini.
Toh kondisi tersebut tidak bisa dipertahankan, karena krisis kembali menimpa Indonesia pada
tahun 2008 hingga kini, yang berdampak pada pelemahan rupiah.

Selama Indonesia masih mengacu pada konsep ekonomi kapitalistik, maka siklus krisis tidak
akan mampu dihindari. Jikalau ada pertumbuhan ekonomi, sepenuhnya tergantung pada
sektor konsumsi, bukan produksi. Apalagi ketika pemerintah telah melakukan liberalisasi
perdagangan sehingga menjadikan Indonesia sebagai pasar yang empuk bagi negara-negara
lain termasuk pada barang-barang konsumsi seperti pangan. Tentu saja devisa yang
dikeluarkan untuk menyediakan barang-barang tersebut menjadi sangat besar. Konsensus
Washington yang diteken Indonesia juga mengharuskan liberalisasi finansial. Aliran dana
investasi dengan mudah masuk dan keluar sesuai kondisi dan prospek investasi. Bila
menguntungkan, investor akan masuk sehingga nilai tukar menguat dan bursa saham
meningkat, demikian pula sebaliknya.

Ketergantungan rupiah terhadap dolar menjadikan mata uang ini menjadi tidak stabil. Dolar
dan mata uang lain di dunia saat ini adalah mata uang kertas yang tidak dijamin oleh
komoditas yang bernilai (fiat money). Hanya melalui legalitas undang-undang, otoritas
moneter suatu negara dengan mudah mencetak mata uang. Inilah yang dilakukan oleh The
Fed, bank sentral AS untuk menyelamatkan ekonomi negara terbesar di dunia tersebut dari
keruntuhan akibat krisis tahun 2008. Besarnya kendali AS atas pasokan dolar membuat
inflasi menjadi tak terkendali dan telah menyebabkan mata uang negara-negara lain jatuh.

Semua pangkal krisis berawal dari fundamental ekonomi, yakni adopsi dan penerapan sistem
ekonomi kapitalistik yang dipimpin oleh AS. Penerapan sistem ini membawa penderitaan
yang sangat luar biasa, karena negara yang menerapkan sistem ini pasti mengalami
penjajahan ekonomi yang hanya menguntungkan AS. Ketergantungan pada dolar dan
ketidakmandirian secara ekonomi menjadi indikator atas keterjajahan tersebut. Karenanya,
untuk memutus rantai neoimperialisme, haruslah mencampakkan sistem ekonomi kapitalis ini
dan menggantinya dengan sistem ekonomi Islam yang terbukti tahan krisis dan pasti
menjamin kemandirian ekonomi di tataran internasional.
Sistem Ekonomi Islam : Membebaskan dari Krisis

Sebenarnya, siapa saja yang meneliti realitas sistem ekonomi Kapitalis saat ini, akan
melihatnya tengah berada di tepi jurang yang dalam, jika belum terperosok di dalamnya.
Semua rencana penyelamatan yang mereka buat tidak akan pernah bisa memperbaiki
keadaannya, kecuali hanya menjadi obat bius yang meringankan rasa sakit untuk sementara
waktu. Itu karena sebab-sebab kehancurannya membutuhkan penyelesaian hingga ke
akarnya, bukan hanya menambal dahan-dahannya.
Sesungguhnya sistem ekonomi Islamlah satu-satunya solusi yang ampuh dan steril dari
semua krisis ekonomi. Karena sistem ekonomi Islam benar-benar telah mencegah semua
faktor yang menyebabkan krisis ekonomi. Sebagai sebuah institusi, Negara Islam (Daulah
Khilafah Islamiyah) memiliki berbagai kebijakan yang mencegahnya terperosok dalam krisis,
termasuk kebijakan moneter.

Dalam memandang persoalan mata uang, Islam memandang mata uang negara harus stabil
dan tidak bergantung pada mata uang lainnya. Hal ini terjadi jika mata uangnya berbasis
emas dan perak, bukan fiat money. Dengan standar dua logam ini, maka nilai nominal uang
tersebut akan selalu sama dengan nilai intrinsiknya. Karena itu, nilai mata uang tersebut lebih
terikat pada dirinya sendiri dan bukan pada mata uang lainnya, semacam dolar atau euro.
Stabilitas nilai mata uang akan mempermudah berbagai perencanaan, penilaian, dan
pelaksanaan kegiatan ekonomi.

Keuntungan yang dimiliki oleh sistem uang emas jika dibanding dengan sistem uang kertas
ataupun sistem-sistem mata uang lainnya adalah sistem uang emas bersifat internasional.
Dunia secara keseluruhan telah mempraktikkan sistem uang emas dan perak, sejak
ditemukannya uang, hingga Perang Dunia I.

Keunggulan sistem uang dua macam logam tersebut menjadi alasan mengapa harga-harga
komoditas saat itu tetap terjaga dengan standar yang tinggi. Akibatnya, laju produksi
terdorong dengan kuat karena tidak ada ketakutan adanya fluktuasi harga. Sistem uang emas,
juga berarti tetapnya kurs pertukaran mata uang antarnegara. Akibatnya, akan meningkatkan
perdagangan internasional. Sebab, para pelaku bisnis dalam perdagangan luar negeri tidak
takut bersaing. Karena kurs uangnya tetap, maka mereka tidak khawatir dalam
mengembangkan bisnisnya.

Syariat Islam juga melarang kegiatan ekonomi non riil karena sifatnya yang spekulatif
nonproduktif (transaksi derivatif), baik yang terjadi di pasar uang, pasar valas, pasar saham,
ataupun pasar berjangka komoditas. Dalam perdagangan, keuntungan diperoleh melalui
inisiatif, kerja keras usaha, dan tentu saja, merupakan hasil dari suatu proses penciptaan nilai
yang jelas. Namun, tidak demikian halnya dengan riba, yang tidak membutuhkan semua
itu.Transaksi ini menjadikan ekonomi suatu negara labil.

Islam melarang riba, baik di sektor perbankan maupun di sektor lainnya karena sistem ini
tidak menghasilkan nilai tambah ekonomi yang berarti, bahkan sebaliknya menyebabkan
ekonomi menjadi stagnan. Dengan adanya larangan kegiatan spekulatif nonproduktif serta
larangan kegiatan memungut rente (riba), diharapkan ekonomi suatu negara menjadi lebih
stabil. Kondisi ini akan memberikan landasan yang kokoh bagi pembangunan ekonomi di
berbagai sektor.
Uraian di atas hanya sebagian kecil saja dari keunggulan sistem ekonomi Islam. Begitulah,
sistem ekonomi Islam benar-benar telah menyelesaikan semua kegoncangan dan krisis
ekonomi yang mengakibatkan derita manusia. Ia merupakan sistem yang difardhukan oleh
Tuhan semesta alam, yang Maha Tahu apa yang baik untuk seluruh makhluk-Nya. “Apakah
Allah Yang Maha menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan);
dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (Q.S al-Mulk : 14). Jadi, bersegeralah
mewujudkannya bersama Hizbut Tahrir. []

IMF dan “Malapraktik” Ekonomi Indonesia pada 1998

Kedatangan bos IMF, Christine Lagarde, ke Indonesia di tengah kondisi perekonomian


nasional yang saat ini melemah seakan mengingatkan kejadian saat krisis ekonomi 1998.

Saat itu, 17 tahun silam, lembaga pendanaan internasional itu datang menawarkan berbagai
“obat” bagi perekonomian Indonesia yang sedang “sakit”. Namun, menurut ekonom
Universitas Gadjah Mada, Tony Prasetiantono, “obat” yang diberikan IMF itu kenyataannya
telah gagal menolong perekonomian Indonesia.

Indonesia pun trauma atas “malapraktik” ekonomi 1998 itu. “Waktu itu, IMF lalai dan kita
trauma. Kita nggak mau sekarang berhubungan dengan IMF. IMF sendiri yang dikritik
seluruh dunia. Ekonom-ekonom top, termasuk Joseph Stiglitz, juga mengkritik IMF. Jadi,
‘malapraktik’, memberikan ‘obat’ yang enggak cocok,” ujar Tony di Kantor Bank Indonesia
(BI), Jakarta, Rabu (2/9/2015).

Dari berbagai “obat” yang disarankan IMF, ada beberapa yang ternyata tak tepat diterapkan
di Indonesia. Pertama, kata Tony, ialah pemangkasan subsidi. Menurut ekonom UGM itu,
Indonesia merupakan negara yang masih memerlukan subsidi untuk mendorong sektor-sektor
tertentu.

Hal itu merupakan ciri khas Indonesia yang tidak bisa disamakan dengan kondisi ekonomi di
negara-negara Amerika Latin, layaknya Meksiko dan Brasil, yang saat itu juga mengalami
krisis ekonomi.

Paket kebijakan yang diberikan IMF terdiri dari 10 poin yang dikenal dengan Washington
Consensus, yang berhasil diterapkan kepada negara di Amerika Latin, tetapi tidak bagi
Indonesia.

“Kalau saya sakit, misalnya, kan diinfus, tetapi kalau tiba-tiba dicabut kan nggak bagus,
harus ada persiapan yang lain. Subsidi juga begitu. Nah, IMF dulu salahnya di situ,” kata dia
sembari menganalogikan saran pencabutan subsidi 17 tahun silam.

Selain itu, IMF juga salah dalam memberikan “suntikan dengan dosis” yang tepat ke
Indonesia. “Itu nggak cukup dosisnya. Kita cadangan devisa waktu itu 20 miliar dollar AS,
terus disuntik selama 16 bulan, total jadi 36 miliar dollar AS. Enggak cukup untuk krisis
Indonesia yang utangnya 130 miliar dollar AS. Jadi, obatnya baik, tetapi nggak cocok
dosisnya,” ucap dia.

Kesalahan fatal terjadi lantaran IMF menyamaratakan krisis ekonomi yang menimpa
sejumlah negara pada 1998 silam. Oleh karena itu, dia yakin kedatangan Lagarde ke
Indonesia tak akan memberikan dampak apa pun. (kompas.com, 3/9/2015)
RAPBN 2016: Subsidi Terus Dikurangi, Utang Makin Ditumpuk

[Al-Islam edisi 770, 20 Dzulqa’dah 1436 H – 4 September 2015 M]

Pemerintahan Jokowi-JK telah mengajukan RAPBN 2016 kepada DPR. RAPBN itu
menggambarkan bagaimana kondisi perekonomian dan keuangan negeri ini tahun depan.
RAPBN juga menggambarkan apa yang akan diterima dan dihadapi oleh rakyat tahun depan.
Pada sisi penerimaan, RAPBN 2016 menggambarkan beban pembayaran rakyat makin besar,
sementara pada sisi belanja beban rakyat juga makin berat.

Subsidi Terus Dikurangi

Sebagaimana diketahui, setiap tahun subsidi untuk rakyat dalam APBN terus dikurangi. Pada
APBNP 2015 anggaran subsidi turun drastis sebesar 60%, dari Rp 341,81 triliun pada tahun
2014 menjadi hanya Rp 137,82 triliun pada tahun 2015, atau turun Rp 203,99 triliun!
Penurunan itu terutama karena subsidi untuk premium dihapuskan. Akibatnya, harga
premium ditetapkan mengikuti harga minyak dunia sejak Maret 2015. Sebelumnya, pada
Oktober 2014, dengan alasan saat itu harga minyak dunia naik, Pemerintah Jokowi
menaikkan harga BBM di dalam negeri. Kenaikan harga BBM itu menyebabkan daya beli
masyarakat anjlok hingga saat ini. Namun, Pemerintah tak konsisten. Giliran harga minyak
dunia anjlok drastis hingga kisaran US$ 40-an perbarel saat ini, nyatanya Pemerintah tak
menurunkan harga BBM. Menteri ESDM beralasan, meski harga minyak dunia turun saat ini,
harga BBM di dalam negeri tak diturunkan karena Pertamina masih merugi.

Pada RAPBN 2016 anggaran subsidi untuk rakyat kembali dikurangi. Di antara yang
dipangkas adalah subsidi listrik; dipangkas Rp 23,15 triliun, dari Rp 73,15 triliun di APBNP
2015 menjadi hanya Rp 50 triliun di RAPBN 2016. Akibatnya, tahun 2016 subsidi untuk
pelanggan 900 KWh akan dihilangkan. Itu artinya, tarif listrik untuk pelanggan 900 KWh
tahun depan dipastikan bakal naik. Lagi-lagi beban rakyat dipastikan makin bertambah.

Untuk subsidi non-energi, subsidi pangan (raskin) RPABN 2016 memang naik Rp 2,05
triliun, yakni menjadi Rp 20,99 triliun dari sebelumnya Rp 18,94 triliun di APBNP 2015.
Namun, subsidi pupuk dipangkas Rp 9,4 triliun, yakni dari Rp 39,9 triliun di APBN 2015
menjadi Rp 30 triliun di RAPBN 2016. Itu artinya, para petani justru akan mendapat beban
lebih besar akibat harga pupuk naik.

Utang Makin Ditumpuk

Semua orang paham, di antara tanda buruknya pengelolaan keuangan adalah besar pasak
daripada tiang; pengeluaran lebih besar dari pendapatan. Ironisnya, perilaku itulah yang
dicontohkan oleh Pemerintah melalui penyusunan APBN dari tahun ke tahun, dan itu telah
berlangsung lama.

Belanja RAPBN 2016 diusulkan sebesar Rp 2.121,3 triliun. Adapun total penerimaan
diusulkan sebesar Rp 1.848,1 triliun. Jadi, RAPBN 2016 direncanakan defisit Rp 273,2
triliun. Defisit ini lagi-lagi akan dibiayai dari utang.

Pada tahun 2016 Pemerintah akan mengeluarkan Surat Berharga Negara (SBN) atau menarik
utang dalam bentuk surat utang sebesar Rp 326,3 triliun dan utang dalam negeri Rp 3,3
triliun. Pemerintah juga akan menarik utang luar negeri Rp 72,84 triliun.
Akibat gemar berutang, total utang Pemerintah makin menumpuk. Pada akhir Juli 2015 lalu
total utang Pemerintah mencapai Rp 2.911,41 triliun. Seiring dengan itu, total pembayaran
cicilan pokok dan bunga utang juga terus membengkak. Pembayaran bunga utang periode
2010-2014 naik 10,8% pertahun, yaitu dari Rp 88,38 triliun pada tahun 2010 menjadi Rp
133,44 triliun pada tahun 2014. Alokasi pembayaran bunga utang di APBNP 2015 mencapai
Rp 155,73 triliun atau naik 16,7% dari realisasi bunga utang tahun 2014. Adapun di RAPBN
2016, pembayaran bunga utang direncanakan Rp 183,429 triliun.

Jika digabung dengan cicilan pokoknya yang juga terus naik, total cicilan utang tahun 2014
(pokok + bunga) mencapai Rp 370,471 triliun, sementara di APBNP 2015 mencapai Rp
403,835 triliun.
Jika dihitung dari 2009-2014, total pembayaran bunga utang Pemerintah mencapai Rp 622,42
T. Jumlah ini, jika ditambah dengan cicilan pokok realisasi 2014 dan APBNP 2015 saja, telah
mencapai Rp 1.107,556 triliun. Meski sudah begitu besar cicilan pokok dan bunga yang telah
dibayar, nyatanya total utang Pemerintah bukan berkurang, sebaliknya malah terus
membengkak. Total utang Pemerintah pada akhir Juni 2014 Rp 2.604,93 triliun. Total utang
ini naik drastis menjadi Rp 2.864,18 triliun pada Juni 2015 dan naik lagi menjadi Rp 2.911,41
triliun pada 31 Juli 2015.

Alhasil, anggaran subsidi untuk rakyat terus dikurangi, sementara total cicilan utang
(pokok+bunga) terus ditambah seiring dengan meningkatnya beban utang Pemerintah. Tentu
ini ironis. Apalagi Pemerintah selalu menganggap subsidi untuk rakyat membebani APBN.
Sebaliknya, pembayaran bunga utang tidak dianggap oleh Pemerintah membebani APBN.
Karena itu besarannya terus ditingkatkan seiring dengan beban utang yang terus ditumpuk.
Beberapa tahun ke depan (mungkin tahun 2017) boleh jadi pembayaran bunga utang akan
lebih besar dari subsidi untuk rakyat. Itu berarti, Pemerintah lebih mengutamakan
kepentingan pemodal (terutama asing) daripada kepentingan rakyatnya sendiri.

Berbahaya

Selain itu, terkait utang luar negeri, faktanya utang luar negeri berbahaya bagi negeri ini. Ini
karena utang luar negeri, terutama utang program, menjadi alat campur tangan dan kontrol
pihak asing terhadap kebijakan Pemerintah. Ironisnya, utang program di RAPBN 2016 justru
meningkat drastis dari Rp 7,5 triliun di APBN 2015 menjadi Rp 34,58 triliun di RAPBN
2016. Melalui utang program itu di antaranya pihak asing mendikte pembuatan UU sejak
penyusunan draft (rancangan)-nya. Akibatnya, banyak sekali UU bercorak liberal yang lebih
banyak memenuhi keinginan asing dan tentu menguntungkan mereka daripada berpihak
kepada rakyat. Dampak dari UU liberal itu sudah begitu terasa.

Wahai Kaum Muslim:

Belanja RAPBN 2016 menggambarkan secara jelas bahwa tahun depan beban yang harus
dipikul oleh rakyat akan makin besar dan lebih berat lagi. Selain itu, dengan terus berutang
dengan beban bunga yang tinggi, negeri ini akan terus terpuruk dalam jerat utang. Saat utang
makin bertumpuk, tentu APBN, yang notabene uang rakyat, makin tersedot untuk bayar
utang plus bunganya yang mencekik. Semua itu adalah untuk kepentingan para pemilik
modal, terutama pihak asing. Sebaliknya, alokasi anggaran untuk kepentingan rakyat,
khususnya dalam bentuk subsidi, terus dikurangi bahkan bakal dihilangkan sama sekali.
Semua itu karena Pemerintah menerapkan kebijakan ekonomi neoliberal, yang tercermin
dalam penyusunan APBN. Dalam APBN yang didasarkan pada kebijakan ekonomi
neoliberal, subsidi untuk rakyat akan selalu dianggap sebagai beban Pemerintah. Ini karena
dalam sistem ekonomi neoliberal, Pemerintah tidak berkewajiban memerankan dirinya
sebagai pengurus rakyat yang benar-benar bertanggung jawab dalam mencukupi segala
kebutuhan rakyatnya. Bahkan peran Pemerintah dalam mengurus kepentingan rakyat harus
terus dikurangi dan dibatasi. Ini jelas bertentangan dengan Islam. Pasalnya, dalam Islam
penguasa bertanggung jawab atas segala urusan rakyatnya, sebagaimana sabda Nabi saw.:

ٍ ‫اَ ِإل َما ُم َر‬


‫اع َو هُ َو َم ْس ُؤوْ ٌل ع َْن َر َعيَّتِ ِه‬
Imam (penguasa) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia
urus (HR al-Bukhari dan Muslim).
Selain itu Pemerintah telah menjadikan utang berbasis riba sebagai salah satu unsur
terpenting dalam penyusunan APBN. Ini karena sejak lama utang berbasis riba dianggap
sebagai pilar ekonomi. Padahal riba membuat perekonomian akan terus tidak stabil, dihantui
banyak masalah dan didera krisis yang terus berulang. Allah SWT telah mengisyaratkan hal
itu dalam firman-Nya:

ِّ‫الَّ ِذينَ يَأْ ُكلُونَ ال ِّربَا الَ يَقُو ُمونَ إِالَّ َك َما يَقُو ُم الَّ ِذي يَتَ َخبَّطُهُ ال َّش ْيطَانُ ِمنَ ْال َمس‬
Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang
kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila (TQS al-Baqarah [2]: 275).

Karena itulah Allah SWT dengan tegas mengharamkan riba, sebagaimana firman-Nya:

‫َوأَ َح َّل هَّللا ُ ْالبَ ْي َع َو َح َّر َم الرِّ بَا‬


Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba (TQS al-Baqarah [2]: 275).

Bahkan Rasulullah saw. menegaskan bahwa riba adalah dosa yang amat besar, sebagaimana
sabdanya:

ُ‫اَلرِّ بَا ثَالثَةٌ َو َس ْبعُونَ بَابًا أَ ْي َس ُرهَا ِم ْث ُل أَ ْن يَ ْن ِك َح اَل َّر ُج ُل أُ َّمه‬


Riba itu terdiri dari 73 pintu. Pintu yang paling ringan adalah seperti seorang laki-laki
menikah (berzina) dengan ibunya sendiri (HR Ibnu Majah dan al-Hakim).

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

Komentar al-Islam:

Serapan anggaran Kemenhub hingga 31 Agustus 2015 baru 16,3 persen (Kompas.com, 1/9).

1. Bukan hanya Kemenhub. Serapan anggaran belanja keseluruhan Kementerian dan


Lembaga (K/L) hingga 31 Juli 2015 hanya mencapai Rp 261 triliun, atau hanya 32,8 persen.
2. Percuma berutang jika serapan anggaran rendah. Itu berarti, berutang tetapi tidak dipakai,
hanya untuk jaga-jaga, supaya merasa punya uang di kantong.
3. Anehnya, meski serapan anggaran tiap tahunnya rendah, tetap saja Pemerintah berutang
terus. Ironis, utang ditumpuk tetapi tak terpakai, padahal beban cicilan pokok dan bunganya
harus ditanggung oleh seluruh rakyat.

Sumber: http://hizbut-tahrir.or.id/…/rapbn-2016-subsidi-terus-diku…/