Anda di halaman 1dari 7

Tema: Dampak Kekerasan

Sub Tema: Pengaruh kekerasan terhadap anak dan wanita dari


kondisi fisik dan psikis
Di Indonesia bayak sering kita jumpai terdapat kasus-kasus pada anak-anak dan
perempuan di lecehkan meskipun masih belia,tetapi para pelaku tidak memandang
umur mereka. Tidak hanya di lecehkan pelaku juga tidak segan-segan menyerang
dengan fisik. Anak-anak dan perempuan sering dianggap lemah oleh kaum laki-laki
mangkanya mereka gampang untuk melecahkan atau bahkan menyerang fisik kaum
perempuan. Para pelaku pun juga bahkan ada yang sampai tega membunuh,hanya
karena merasa marah.

Seperti yang bisa kita lihat dan ketahui Anak-anak dan perempuan merupakan
tokoh yang sangat berpengaruh terhadap kemajuan atau mundurnya suatu bangsa.
Karena dibalik negara yang maju terdapat perempuan-perempuan yang hebat
dibelakangnya. Perempuan merupakan tiang suatu negara, rusaknya perempuan di
suatu negara akan rusak pula negaranya. Perempuan sangat penting bagi kemajuan
suatu bangsa. Anak-anak juga mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi sebuah
Negara. Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa, memiliki ide-ide besar yang
akan memajukan negara ini kelak. Generasi merekalah yang akan menentukan
kemajuan atau kemunduran suatu negara. Itu tergantung dari moral serta kualitas
yang dimiliki generasi tersebut.

Para orang tua pun di tuntut agar mendidik anaknya dengan baik tidak
membiarkannya begitu juga. Mereka juga berhak mendapatkan kasih sayang yang
lebih dari orang tuanya. Agar anak merasa terlindungi dan selalu merasa aman
ketika mereka jauh dari orang tua. Anak yang kurang di perhatikan oleh orang
tuanya akan tumbuh menjadi anak yang bandel. Bisa jadi anak terebut menjadi
pelaku kekerasa terhadap kaum perempuan karena kurangnya kasih sayang dari
orang tua.

Akan tetapi pada zaman modern saat ini Anak-anak dan perempuan menjadi
suatu hal yang sangat wajib diperhatikan dan dikhawatirkan saat ini. Pasalnya
dizaman demokrasi sekarang ini Anak-anak dan perempuan seperti kehilangan
derajat dan kedudukannya dan sedikit demi sedikit hak Anak-anak dan perempuan
mulai menghilang. Pemenuhan akan pelanggaran terhadap hak-hak Anak-anak dan
perempuan seperti membuat Hak Asasi Manusia(HAM) pun tidak sanggup menangani
kasus-kasus yang ada, mulai dari kasus biasa ke kasus berat.

Kekerasan dapat terjadi pada siapa pun baik anak laki-laki maupun perempuan.
Sang pelaku biasanya yang sudah dikenal dan dipercayai anak saudara, guru atau
teman dekat keluarga. Bila orang tua menangani kekerasan dengan cara yang benar
akan menolong anak mengatasi dampak dari peristiwa tragis yang mereka alami. Oleh
karena itu betapa pentingnya mendidik anak di usia dini mengajarkan moral-moral
yang baik dan benar.

Moral pada bangsa ini mungkin sudah hilang. Seperti diri yang kehilangan budi
pekertinya. Anak- anak dan perempuan pun menjadi objek utama dari hilangnya
moral tersebut. Kekerasan yang kerap kali terjadi tak pandang bulu, mulai dari
kekerasan fisik hingga psikis. Angka kekerasan terhadap anak-anak dan perempuan
semakin tahun semakin parah, dan parahnya hiruk-pikuk kekerasan masih selalu
terdengar dimana-mana. Siapa pelakunya? Laki laki yang tidak bermoral lah yang
menjadi pelaku dibalik semua kekerasan yang kerap kali terjadi. Sifat dari laki-laki
yang diindikasikan bertanggung jawab, penjaga, dan pemimpin mungkin menjadi
topeng bagi laki-laki yang melakukan tindakan kekerasan. Sebagian dari laki-laki
melakukan tindakan yang luar dibatas kewajaran terhadap anak-anak dan
perempuan.

Anak-anak dan perempuan kenyataannya masih tertindas di Negara hukum


ini. Kenyataannya berita mengenai kekerasan terhadap perempuan dan Anak masih
sering terdengar. Berita tentang kekerasan terhadap anak yaitu seperti, kekerasan
fisik, seksual, psikis, serta pemaksaan kerja dibawah umur. Dan kekerasan pada
perempuan yang sering terjadi yaitu, pemerkosaan, pelecehan seksual, perdagangan
perempuan, kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan dalam rumah tangga, dll.
Sangat memprihatinkan, ternyata masih banyak perempuan dan anak yang tertindas
di Negara hukum ini. Pemenuhan hak-hak kemanusiaan seakan-akan hanya janji
semata.

Belum lagi kasus kekerasan pada perempuan menurut berita tempo hari,
Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap perempuan mencatat adanya penigkatan
dari penemuan korban kekerasan pada perempuan. Komnas merekan 279.760 kasus
kekerasan terhadap perempuan terjadi sepanjang 2013, yang jumlahnya lebih besar
dari tahun lalu yakni berjumlah 216.156 kasus. Jumlah itu merupakan laporan yang
masuk ke Komnas. Adapun untuk 279.760 kasus yang dilaporkan dan ditangani
selama 2013, sebanyak 263.285 kasus di antaranya ditangani oleh 359 pengadilan
agama. Sedangkan 16.403 kasus ditangani oleh 195 lembaga mitra pengada layanan
yang tersebar di 31 provinsi.

Kekerasan di ranah personal tercatat paling tinggi. Ranah personal berarti


pelakunya memiliki hubungan darah (ayah, kakak, adik, paman, kakek), kekerabatan,
perkawinan (suami), maupun relasi intim (pacaran) dengan korban .Sebanyak
263.285 kasus yang diambil dari pengadilan agama tercatat sebagai kekerasan yang
terjadi di ranah personal terhadap istri. Dari 16.403 kasus yang masuk dari lembaga
mitra pengada layanan, kekerasan yang terjadi di ranah personal tercatat 71 persen
atau 11.719 kasus.

Untuk menbantu mengatasi dan menangani kasus-kasus kekerasan terhdap anak


dan perempuan yang terus meningkat setiap tahunnya. Dibutuhkan dukungan serta
kepedulian dari semua pihak masyarakat terhadap hal tersebut. Organisasi
nasioanal maupun organisasi internasioanal juga sudah turut membantu dalam
meminimalisasi kasus-kasus kekerasan yang terjadi. Komisi nasional dan badan-
badan hukum juga ikut turut menggembleng kasus-kasus kekerasan yang terjadi.
Tetapi , masih saja banyak kasus yang beredar . Faktor tersebut biasanya
dipengaruhi oleh banyaknya korban yang tidak melaporkannya ke aparat hukum .

Kekerasan terhadap perempuan dan anak menjadi hal yang harus kita
khawatirkan dan perangi saat ini. Jangan biarkan kedudukan atau hak perempuan
dan anak ditindas oleh kemerosotan moral manusia. Moral yang kehilangan jati
dirinya telah merusak karakter yang telah tertanam. Sehingga menyebabkan
perilaku sosial yang tidak wajar dan melampaui batasan-batasannya. Kekerasan
sudah tidak lagi menjadi hal yang tabu di mata masyarakat, malah sudah menjadi hal
yang biasa terjadi disekitar lingkungan masyarakat.

Seharusnya pemerintah, ormas-ormas, serta badan anti kekerasan lebih aktif


lagi dalam mensosialisasikan mengenai kekerasan terhadap anak-anak dan
perempuan di berbagai daerah, mulai dari daerah perkotaan hingga pedalaman.
Sosialisasi seharusnya lebih persuasif lagi dalam mengajak masyarakat untuk
bertindak anti kekerasan pada anak-anak dan perempuan. Agar masyarakat tahu
pentingnya saling menjaga hak asasi manusia dan bertindak sesuai moral dan adat
istiadat. Karena kita adalah budaya ketimuran yang harus merealisasikan semua
kegiatan dan perbuatan sesuai aturan dan hukum yang ada. Dengan pembentukan
ormas-ormas anti kekerasan pada anak-anak dan perempuan juga sangat mendukung.
Sebaiknya setiap RT/RW memiliki ormas yang mengatur dan mengantisipasi tindak
perbuatan kekerasan di lingkungannya.

Sudah sepantasnya, kita sebagai masyarakat ikut bertanggung jawab dalam


menangani hal tersebut. Pemerintah dan organisasi nasional maupun organisasi
internasional yang berkecipung di gerakan anti kekerasan terhadap perempuan dan
anak, seharusnya lebih aktif dan merespon tinggi terhadap keadaan-keadaan yang
mencekam ataupun menindas perempuan dan anak. Kita sebagai masyarakat
seharusnya sangat mendukung mengenai hal tersebut, dengan ikut berpartisipasi
dalam memusnahkan kode-kode kekerasan yang ada di lingkungan kita.

Ini sudah zamannya demokrasi, sudah seharusnya pemerintah mendengar suara


perempuan dan anak yang tertindas di belenggu kekerasan. Hukum juga harus lebih
tegas dan adil dalam menangani kasus ini, hukum sebagai aturan yang dibuat untuk
menjerakan pelaku pelanggarnya bukan malah mempermudah pelaku untuk terus
melanggar. Kekuatan hukum dalam kasus ini seharusnya lebih mengedepankan
kebenaran dan hak asasi manusia. Lemahnya kekuatan hukum dalam konteks ini
hanya akan menyengsarakan korban dan mempermudah pelaku pelanggaran untuk
mengulangi kesalahannya. Hukum harus lebih tegas!.

Faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan pada anak dan perempuan


disebabkan oleh suatu teori yang dikenal berhubungan dengan stress dalam
keluarga. Stress dalam keluarga tersebut bisa berasal dari si anak, orang tua(suami
atau istri), atau situasi tertentu. Stress berasal dari anak misalnya dengan kondisi
fisik, mental dan perilaku yang terlihat berbeda dengan anak-anak umumnya. Bayi
dan usia balita, serta anak dengan penyakit kronis atau menahun juga merupakan
salah satu penyebab stress. Yaitu stress yang berasal dari suami atau istri,
misalnya gangguan jiwa (psikosis atau neurosis). Di masa lalu orang tua adalah
korban dari kekerasan, orang tua terlalu perfek dengan harapan pada anak
terlampau tinggi, orang tua yang terbiasa dengan sikap disiplin. Stress bisa berasal
dari situasi tertentu misalnya salah satu orang tua terkena PHK (pemutusan
hubungan kerja) atau pengangguran, pindah lingkungan, dan keluarga sering
bertengkar.

Namun tentunya teori tersebut hanya melingkupi kekerasan dalam rumah tangga
saja, penyebab utama lainnya adalah kemiskinan ,masalah hubungan sosial dalam
keluarga, masyarakat, atau komunitas. Lemahnya kontrol sosial dalam masyarakat
dan hukum dari pengaruh kekerasan dalam nilai sosial kebudayaan dilingkungan sosial
tertentu. Namun bagi saya penyebab utama terjadinya masalah ini adalah hilangnya
nilai agama Islam, karena tentunya hanya dengan agama yang bisa mengatur
masalah sosial berbasis kesadaran individu.

Diantara dampak kekerasan pada anak-anak dan perempuan adalah stigma buruk
yang melekat pada korban diantaranya, pertama, Stigma Internal yaitu,
kecendrungan korban menyalahkan diri dan menutup diri, menganggap dirinya aib,
hilangnya kepercayaan diri, dan terutama adalah trauma sehingga seperti halnya
perempuan tidak mau lagi berkeluarga setelah dirinya trauma menerima kekerasan
dari suaminya. Kedua Stigma Eksternal yaitu kecendrungan masyarakat menyalahkan
korban, media informasi tanpa empati memberitahukan kasus yang dialami korban
secara terbuka dan tidak menghiraukan hak privasi korban. Selain Stigma buruk
yang melekat pada seorang korban. Kejahatan pada anak-anak dan perempuan juga
dapat menghancurkan tatanan nilai etika dan sosial seperti halnya dampak buruk
dari human trafficking.

Pendekatan sosial melingkupi pendekatan partisipasi masyarakat dalam


melaporkan dan waspada setiap tindakan kejahatan, terutama human trafficking.
Pendekatan medis, untuk memberikan pelayanan dan perawatan baik secara pisik
atau kejiwaan, juga memberikan penyuluhan terhadap orang tua tentang bagaimana
mengasuh anak dengan baik dan benar. Dan terakhir adalah pendekatan hukum,
tentunya yang bertanggung jawab masalah ini adalah pemerintah untuk selalu
mencari dan menanggapi secara sigap terhadap setiap laporan atau penemuan kasus
kekerasan dan kejahatan dan menghukumnya dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Ada banyak kekerasan terjadi belakangan ini, contohnya saja kejahatan seksual,
saatnya menjelaskan bahwa tidak ada seorangpun yang boleh menyentuh orang lain
dengan cara yang tidak wajar. Ajarkan untuk menolak perbuatan tidak senonoh pada
anak dan segera tinggalkan tempat di mana sentuhan itu terjadi, ingatkan anak
untuk berusaha mencari perhatian dari orang disekitar tempat tersebut dan segera
ceritakan kejadiannya pada orang tua.

Adapun cara mengatasi kekerasan pada Anak yaitu dengan melaporkan kepihak
berwajib tentang pelaku kekerasan disekitar kita. Bila terjadi kekerasan secara
fisik dan psikis (emosional) dan seksual segera laporkan kepada pihak berwenang
guna mengambil langkah hukum bagi pelaku kekerasan/tersangka, sedangkan bagi
korban kekerasan harus segera mendapatkan bantuan ahli medis serta dukungan
dari keluarga. Karena kekerasan ini bisa menyebabkan perkembangan fisik dan psikis
dari korban terguncang dibutuhkan penyembuhan untuk memupuk rasa percaya diri
dan bangkit dari keterpurukan. Anak anak yang telah mengalami kekerasan
memerlukan kasih dan perhatian yang ekstra dari lingkungannya. Kepedulian dan
keramahan saudara, keluarga, teman-teman dan guru sangat dibutuhkan demi
membantu anak mengatasi traumanya guna menata kehidupan di masa depan.

Kekerasan demi kekerasan di lembaga pendidikan membuat hati siapa saja


menjadi miris. Pasalnya, orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah yang mereka
percayai, namun dinodakan begitu saja. Orang tua berharap anaknya mendapatkan
pendidikan dan menerima ilmu yang bermanfaat, akan tetapi, kematian yang
merenggut nyawanyalah yang harus orang tua terima meskipun susah untuk
menerimanya dengan ikhlas. Ketika di sekolah terjadi penganiayaan fisik, lembaga
pendidikan yang menaburkan benih-benih demokratisasi ini bukan lagi tempat steril
dari segala macam bentuk kekerasan. Tawuran di tingkat siswa SMP dan SMA di
sejumlah kota besar merupakan serpihan contoh lain yang menyadarkan kekerasan
kerap berulang di sekolah.

Kekerasan di dunia pendidikan tidak pernah surut. Benih kekerasan yang


disemaikan dalam media perpeloncoan misalnya, terus diwariskan ke generasi
berikutnya dan menjadi awan gelap yang menutupi pancaran sinar pencerahan
pendidikan nilai. Meskipun perpeloncoan sudah dihapus sejak lama, kegiatan ini
masih sayaja kerap terjadi di sejumlah kampus dengan alasan menumbuhkan
mahasiswa yang “disiplin”. Ditemukan dugaan, perpeloncoan yang dikemas dalam
bingkai pendidikan ala militer yang bias ini acap menjadi pembenaran bagi senior
untuk menindas mahasiswa baru. Dan perpeloncoan ini sudah disusun sedemikian
rupa sehingga sistematis dan terorganisasi dengan rapi.

Lembaga pendidikan terus diwarnai berbagai kekerasan baik fisik maupun


nonfisik. Perilaku agresif untuk menekan atau menyerang dengan kata-kata
(bullying), seperti ejekan untuk mempermalukan, hinaan, tekanan, dan fitnah, dengan
maksud mendehumanisasi orang lain dapat disebut telah melakukan tindak
kekerasan dalam bentuk lain (nonfisik). Pelakunya tidak hanya siswa dan mahasiswa
senior, tetapi orang tua dapat melakukan bullying terhadap anak-anaknya dan orang
lain. Praktik pendidikan formal telah diperlakukan tak ubahnya dunia persilatan yang
mengutamakan otot, juga dunia perdagangan yang mementingkan produk akhir yang
bernilai ekonomi. Bagaimana produk itu dibuat seolah bukan urusan pejabat
berwenang. Pendidikan pun sudah menjadi komoditas untuk meraup untung.
Sebaiknya lembaga pendidikan patut segera disterilkan dari segala bentuk
kekerasan. Untuk itu, proses pembelajaran tidak lagi semata pemintaran intelektual,
tetapi saatnya diarahkan juga kepada pembentukan karakter peserta didik secara
berkelanjutan. Memutus mata rantai kekerasan harus dimulai dari memperbanyak
muatan kurikulum berbasis karakter, guna menetaskan lulusan berbudi pekerti luhur
yang berintegritas moral tinggi. Kekerasan fisik di STIP dan SD, serta kekerasan
seksual kepada murid TK JIS diharapkan dapat menjadi bentuk kekerasan yang
terakhir di lembaga pendidikan. Dan apabila kejadian kekerasan terulang, aparat
penegak hukum dapat menghukum seberat-beratnya. Dan memberikan rasa aman
yang memadai.