Anda di halaman 1dari 8

Sputum BTA Sputum BTA Pasien tersebut mengalami TB paru dimana hasil pemeriksaan

(normal : +3/+2/+2 ketiga specimen dahak hasilnya semua positif. Pada


negative) pemeriksaan bakteriologi adalah dapat dengan pemeriksaan
sputum BTA yang menunjukkan adanya M.tuberculosis, bila
ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut (1+),
bila 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut (2+) dan bila
ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut (3+).

Konsensus TB (Perhimpunan Dokter Paru)

Pasien didiagnosa TB paru sesuai dengan hasil BTA

Haemoglobi 10,40 (tgl Kadar hemoglobin pasien di bawah batas normal, dimana hal ini
n (normal : 1/03) mengindikasikan bahwa pasien mengalami anemia. Kadar
13.4- 10,7 (tgl Hemoglobin merupakan
17,7gr/dl) 7/03) indikator untuk menentukan seseorang mengalami anemia atau
tidak. Supresi eritropoiesis oleh media inflamasi adalah factor
penyebab anemia dan defisiensi nutrisi dapat memperburuk
anemia
Sputum BTA Sputum BTA Pasien tersebut mengalami TB paru dimana hasil pemeriksaan
(normal : +3/+2/+2 ketiga specimen dahak hasilnya semua positif. Pada
negative) pemeriksaan bakteriologi adalah dapat dengan pemeriksaan
sputum BTA yang menunjukkan adanya M.tuberculosis, bila
ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut (1+),
bila 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut (2+) dan bila
ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut (3+).

Konsensus TB (Perhimpunan Dokter Paru)

Pasien didiagnosa TB paru sesuai dengan hasil BTA


Sputum BTA Sputum BTA Pasien tersebut mengalami TB paru dimana hasil pemeriksaan
(normal : +3/+2/+2 ketiga specimen dahak hasilnya semua positif. Pada
negative) pemeriksaan bakteriologi adalah dapat dengan pemeriksaan
sputum BTA yang menunjukkan adanya M.tuberculosis, bila
ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut (1+),
bila 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut (2+) dan bila
ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut (3+).

Konsensus TB (Perhimpunan Dokter Paru)

Pasien didiagnosa TB paru sesuai dengan hasil BTA

Leukosit 18.15 (1/03) Nilai leukosit pasien di atas batas normal, hal ini dikarenakan
(normal 4,3- 11.0 (5/03) pasien mengalami infeksi sehingga terjadi peningkatan WBC
10,3 103/uL) akibat peningkatan mediator proinflamasi seperti TNF-α, IL-1 dan
IL-6.

albumin3,5- 2,66 (1/03) Albumin px yang rendah dapat menandakan terjadinya inflamasi.
5 gr/dl Pada kondisi inflamasi, sitokin seperti TNF dan IL 1
2,7 (7/03)
meningkatkan jalur sintesis protein fase akut yang positif seperti
Sputum BTA Sputum BTA Pasien tersebut mengalami TB paru dimana hasil pemeriksaan
(normal : +3/+2/+2 ketiga specimen dahak hasilnya semua positif. Pada
negative) pemeriksaan bakteriologi adalah dapat dengan pemeriksaan
sputum BTA yang menunjukkan adanya M.tuberculosis, bila
ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut (1+),
bila 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut (2+) dan bila
ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut (3+).

Konsensus TB (Perhimpunan Dokter Paru)

Pasien didiagnosa TB paru sesuai dengan hasil BTA

globulin, fibrinogen dan haptoglobulin, di mana protein ini


berperan dalam proses inflamasi. Sehingga, proses sintesis
protein fase akut yang negatif seperti albumin ditekan dan
mengalami penurunan yang signifikan selama inflamasi terjadi

Tuberkulosis paru dan malnutrisi sering ditemukan secara


bersamaan. Infeksi tuberkulosis menimbulkan penurunan
berat badan dan penyusutan tubuh, hal ini disebabkan karena
menurun atau hilangnya nafsu makan. Dalam kapasitas
Sputum BTA Sputum BTA Pasien tersebut mengalami TB paru dimana hasil pemeriksaan
(normal : +3/+2/+2 ketiga specimen dahak hasilnya semua positif. Pada
negative) pemeriksaan bakteriologi adalah dapat dengan pemeriksaan
sputum BTA yang menunjukkan adanya M.tuberculosis, bila
ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut (1+),
bila 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut (2+) dan bila
ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut (3+).

Konsensus TB (Perhimpunan Dokter Paru)

Pasien didiagnosa TB paru sesuai dengan hasil BTA

sebagai simpanan asam amino, albumin merupakan indikator


status gizi. Dengan demikian, penurunan protein makanan
akan tercermin dalam kadar albumin serum, dan kadar albumin
yang rendah dijumpai pada malnutrisi akibat malabsorpsi yaitu
penyerapan makanan yang tidak sempurna dari saluran
pencernaan (usus halus) ke dalam aliran darah yang
menyebabkan kekurangan gizi, seperti halnya pada penyakit
tuberkulosis paru. Albumin dapat digunakan sebagai indikator
Sputum BTA Sputum BTA Pasien tersebut mengalami TB paru dimana hasil pemeriksaan
(normal : +3/+2/+2 ketiga specimen dahak hasilnya semua positif. Pada
negative) pemeriksaan bakteriologi adalah dapat dengan pemeriksaan
sputum BTA yang menunjukkan adanya M.tuberculosis, bila
ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut (1+),
bila 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut (2+) dan bila
ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut (3+).

Konsensus TB (Perhimpunan Dokter Paru)

Pasien didiagnosa TB paru sesuai dengan hasil BTA

klasik keadaan malnutrisi. Kadar albumin kurang dari 3,0 gr/dl


menunjukkan prognosis yang lebih buruk adanya keadaan
malnutrisi. Albumin adalah protein utama yang dihasilkan oleh
hati.Pada dasarnya protein ini turut membantu dalam proses
penyembuhan dan melawan infeksi.

(Pasien kadar albumin rendah dan mengalami penurunan


berat badan beserta penurunan nafsu makan ->
Sputum BTA Sputum BTA Pasien tersebut mengalami TB paru dimana hasil pemeriksaan
(normal : +3/+2/+2 ketiga specimen dahak hasilnya semua positif. Pada
negative) pemeriksaan bakteriologi adalah dapat dengan pemeriksaan
sputum BTA yang menunjukkan adanya M.tuberculosis, bila
ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut (1+),
bila 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut (2+) dan bila
ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut (3+).

Konsensus TB (Perhimpunan Dokter Paru)

Pasien didiagnosa TB paru sesuai dengan hasil BTA

kemungkinan kondisi kekurangan nutrisi/malnutrisi)

Jurnal : HUBUNGAN KADAR ALBUMIN PADA PENDERITA

PENYAKIT TUBERKULOSIS PARU SELAMA MASA

PENGOBATAN DI UNIT PENGOBATAN PENYAKIT


PARUPARU (UP4) PONTIANAK

SLAMET
Sputum BTA Sputum BTA Pasien tersebut mengalami TB paru dimana hasil pemeriksaan
(normal : +3/+2/+2 ketiga specimen dahak hasilnya semua positif. Pada
negative) pemeriksaan bakteriologi adalah dapat dengan pemeriksaan
sputum BTA yang menunjukkan adanya M.tuberculosis, bila
ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut (1+),
bila 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut (2+) dan bila
ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut (3+).

Konsensus TB (Perhimpunan Dokter Paru)

Pasien didiagnosa TB paru sesuai dengan hasil BTA

Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Pontianak