Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH PENGENALAN FARMASI

“VAKSIN BCG”

SEMESTER GANJIL

DISUSUN OLEH KELOMPOK 3


ANGGOTA:
Arief Indrawan Sugiarto (155070500111022)
Dian Nugra Nuzulul Fitri (155070507111001)
Nur Atika Fatwa (195070501111001)
Laili Fadhotun Huda (195070501111007)
Ika Prima Azzahra (195070501111005)
Darara Ilmifasha (195070500111045)
Nabila Hasna (195070500111033)
Noormala Rizka Fitri (195070500111021)

PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
TA 2019/2020
BAB I
LATAR BELAKANG
1. Latar Belakang

Kementerian Kesehatan menetapkan imunisasi sebagai upaya nyata pemerintah untuk


mencapai Millennium Development Goals (MDGS), khususnya untuk menurunkan angka
PD3I. Indikator keberhasilan pelaksanaan imunisasi diukur dengan pencapaian cakupan desa/
kelurahan, yaitu minimal 80% bayi di desa / kelurahan telah mendapatkan imunisasi dasar
lengkap. Kementerian Kesehatan mentargetkan pada tahun 2014 seluruh desa/ kelurahan
mencapai 100% UCI (Universal Child Immunization) atau 90% dari seluruh bayi di desa/
kelurahan tersebut memperoleh imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari BCG, Hepatitis B,
DPT, Polio dan campak (Kemenkes RI, 2010)

Pada tahun 2010 diperkirakan lebih dari 109 juta balita di dunia telah di vaksinasi
dibandingkan tahun 2009, akan tetapi diperkirakan 19,3 juta balita di seluruh dunia masih
tidak terjangkau oleh layanan imunisasi rutin (WHO, 2012). Cakupan Lima Imunisasi dasar
Lengkap (LIL) di Indonesia meliputi imunisasi BCG, DPT+HB, Polio, Campak dan HB.
Tahun 2009 Pencapaian UCI masih terbilang rendah karena baru mencapai 69,6%. Tahun
2008 rata-rata cakupan program imunisasi dasar LIL di Propinsi Jawa Timur mencapai
77,3%. Cakupan tersebut meningkat 21% di tahun 2009 (98,3%) dan 0,3% di tahun 2010
(98,6%). Cakupan imunisasi di Propinsi Jawa Timur sudah memenuhi indikator UCI (80%),
tetapi masih ada empat kabupaten yang cakupan imunisasinya kurang dari indikator UCI
yaitu Kabupaten Ngawi (67,74%), Magetan (62,98%), Jombang (63,73%) dan Surabaya
(42,33%). Untuk meningkatkan cakupan imunisasi di Jawa Timur perlu adanya peningkatan
kualitas imunisasi melalui kampanye, keahlian petugas imunisasi dan kualitas penyimpanan
vaksin (Dinkesprov Jatim, 2010).

Upaya membaiknya tingkat kesehatan anak dipengaruhi oleh meningkatnya cakupan


pelayanan yang diterima sejak anak berada dalam kandungan melalui: pelayanan
pemeriksaan kehamilan yang berkualitas, persalinan oleh tenaga kesehatan utamanya di
fasilitas kesehatan, pelayanan neonatal (melalui kunjungan neonatal), cakupan imunisasi,
penanganan neonatal, bayi dan balita sakit sesuai standar baik di fasilitas kesehatan dasar dan
fasilitas kesehatan rujukan dan meningkatnya pengetahuan keluarga dan masyarakat akan
perawatan pada masa kehamilan, pada masa neonatal, bayi dan balita, serta deteksi dini
penyakit dan care seeking behavior ke fasilitas kesehatan (Bappenas, 2011).

Imunisasi merupakan investasi kesehatan yang efektif dengan berupa upaya


pencegahan terhadap penyakit infeksi yang dapat menyebabkan kematian dan kecacatan
(Ranuh, dkk. 2011).

Program imunisasi dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 1956. Kementerian


Kesehatan melaksanakan Program Pengembangan Imunisasi (PPI) pada anak dalam upaya
menurunkan kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), yaitu
tuberkulosis, difteri, pertusis, campak, polio, tetanus serta hepatitis B. Menurut Keputusan
Menteri Kesehatan RI Nomor 1611/MENKES/SK/XI/2005, program pengembangan
imunisasi mencakup satu kali HB-0, satu kali imunisasi BCG, tiga kali imunisasi DPT-HB,
empat kali imunisasi polio, dan satu kali imunisasi campak. Imunisasi BCG diberikan pada
bayi umur kurang dari tiga bulan; imunisasi polio pada bayi baru lahir, dan tiga dosis
berikutnya diberikan dengan jarak paling cepat empat minggu; imunisasi DPT-HB pada bayi
umur dua bulan, tiga bulan empat bulan dengan interval minimal empat minggu; dan
imunisasi campak paling dini umur sembilan bulan (Riskesda, 2013). PPI merupakan
program pemerintah guna mencapai komitmen Internasional, yaitu Universal Child
Immunization (UCI). Program UCI secara nasional dapat dicapai tahun 1990, yaitu cakupan
DPT 3, Polio 3, dan Campak minimal 80% sebelum umur 1 tahun. Sedangkan untuk DPT 1,
Polio 1, dan BCG minimal mencakup 90% (Ranuh dkk, 2011).

2. Rumusan Masalah

2.1 Apa yang dimaksud dengan vaksin?

2.2 Apakah jenis-jenis dari vaksin?

2.3 Bagaimana sifat vaksin?

2.4 Bagaimana proses pembuatan vaksin?

2.5 Apa yang dimaksud dengan imunisasi BCG?

2.6 Bagaimana pemberian dan mekanisme kerja vaksin BCG?

2.7 Kapan pemberian vaksin BCG?

2.8 Bagaimana manfaat dari vaksin BCG?


2.9 Bagaimana dampak dari BCG?

3. Tujuan

3.1 Mengetahui pengertian,jenis, dan sifat dari vaksin BCG?

3.2 Mengetahui proses pembuatan vaksin BCG?

3.3 Mengetahui pemberian dan mekanisme kerja vaksin BCG?

3.4 Mengetahui manfaat dari vaksin BCG?

3.5 Mengetahui dampak dari vaksin BCG?

4. Manfaat

4.1 Sebagai referensi dalam menambah wawasan dan pengetahuan mengenai vaksin BCG

4.2 Sebagai sumber dan bahan masukan bagi penulis lain untuk menggali dan meneliti
lebih lanjut tentang vaksin BCG

4.3 Sebagai pertimbangan untuk menentukan keputusan dalam penggunaan vaksin BCG
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Vaksin
Imunisasi berasal dari kata imun yaitu kebal, resisten. Imunisasi berarti anak
diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Anak kebal terhadap suatu penyakit
tetapi belum kebal terhadap penyakit yang lain. (Ranuh, 2008)
Imunisasi adalah upaya memberikan bahan untuk merangsang produksi daya tahan
tubuh. Sebagai akibat selanjutnya orang yang diberi vaksin akan memiliki kekebalan spesifik
terhadap penyakit yang disebabkan kuman tersebut. Bahan tersebut pada dasarnya merupakan
ancaman buatan bagi tubuh (Ranuh, 2008)
Imunisasi disebut juga vaksinasi atau inokulasi. Imunisasi memberikan perlindungan
terhadap sejumlah penyakit berbahaya. Ketika diimunisasi, diberikan vaksin yang dibuat dari
sejumlah kecil bakteri atau virus penyebab penyakit tersebut. Vaksin ini akan merangsang
tubuh membuat antibodi terhadap penyakit yang dimaksud (Ranuh, 2008)
Vaksin adalah segala persiapan dimaksudkan untuk menghasilkan kekebalan terhadap
penyakit dengan merangsang produksi antibodi. Vaksin misalnya suspensi mikroorganisme
dibunuh atau dilemahkan, atau produk atau turunan dari mikroorganisme. Metode yang
paling umum dari pemberian vaksin adalah melalui suntikan, namun ada juga yang diberikan
melalui mulut atau semprot hidung. Menurut WHO, vaksinasi merupakan imunisasi aktif
adalah suatu tindakan yang dengan sengaja memberikan paparan antigen dari suatu patogen
yang akan menstimulasi sistem imun dan menimbulkan kekebalan sehingga nantinya anak
yang telah mendapatkan vaksinasi tidak akan sakit jika terpajan oleh antigen serupa. Antigen
yang diberikan dalam vaksinasi yang dibuat sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan
sakit, namun dapat menimbulkan limfosit yang peka, antibodi maupun sel memori.
2.2 Jenis Vaksin yang sering digunakan
Vaksin yang sering digunakan dalam program imunaisasi wajib atau yang dianjurkan
dibagi atas 4 golongan vaksin diantaranya yaitu (Ranuh, 2008) :
1. Vaksin Hidup (Live Attenuated).
2. Vaksin yang tidak aktif ((Inactivated).
3. Vaksin Toksoid.
4. Vaksin Rekombinan.
Vaksin Hidup berisi virus atau bakteri yang dilemahkan, dibuat dilaboratorium dengan
memodifikasikan kuman penyebab penyakit. Kuman yang dilemahkan tersebut masih bisa
berkembang (bereplikasi) dan menimbulkan kekebalan tapi tidak membuat sakit seseorang.
Contoh vaksin yang berisi virus hidup adalah Vaksin Polio dan MMR. Vaksin yang berisi
virus hidup contohnya Vaksin BCG, Vaksin Campak, dan Vaksin Tifoid Oral (vivotif).
Vaksin yang tidak aktif (inactivated): berisikan virus atau bakteri yang dibuat tidak aktif,
dapat terdiri dari seluruh komponen kuman atau sebagian komponen kuman. Contoh vaksin
yang mengandung virus mati adalah Vaksin Influenza, Vaksin Rabies, Vaksin Hepatitis A,
Vaksin Hepatitis B.
Sedangkan vaksin yang mengandung bakteri mati adalah Vaksin Pertusis (batuk
rejan), Vaksin HiB, Vaksin Kolera, dan Vaksin Meningokokus.
Vaksin toksoid adalah vaksin yang dibuat dari racun (toksin) kuman yang dilemahkan,
contohnya adalah Vaksin untuk Tetanus dan Difteri.
Kemajuan iptek kedokteran memungkinkan vaksin dari hasil rekayasa genetika yang
dikenal sebagai vaksin rekombinan seperti :Vaksin Hepatitis B, Vaksin Tifoid dan
Vaksin Rotavirus. Selain pembagian golongan berdasarkan isi vaksin tadi, vaksin yang ada
juga bisa dibagi atasvaksintunggal dan vaksin kombinasi. Vaksin tunggal berisi hanya 1
antigen atau kuman yang dilemahkan, misalnya vaksin hepatitis B, vaksin campak dan
sebagainya. Sementara Vaksin kombinasi (combo vaccine) berisi beberapa antigen atau
kuman yang dilemahkan, misalnya DPT yang dapat mencegah Difteri, Pertusis dan Tetanus.
Bahkan belakangan ada kecenderungan untuk membuat vaksin kombinasi yang lebih banyak
sampai 4 atau 5 antigen/kuman sehingga dengan 1 kali pemberian vaksin dapat mencegah 4
atau 5 penyakit sekaligus. Contoh vaksin kombinasi seperti ini : vaksin DPT digabung
dengan hepatitis B atau HiB. Di Puskesmas sudah dikenalkan vaksin kombo yaitu vaksin
DPT yang digabung dengan hepatitis B.
2.3 Sifat Vaksin
Sifat vaksin digolongkan menjadi dua jika berdasarkan pada kepekaan atau
sensitivitasnya terhadap suhu. Sifat-sifat vaksin tersebut, yaitu :

a. Vaksin yang sensitif terhadap beku (freeze sensitive)


Merupakan vaksin yang akan rusak bila terpapar dengan suhu dingin atau suhu
pembekuan. Vaksin yang tergolong dalam sifat ini diantaranya vaksin Hepatitis B,
vaksin DPT, DT, dan TT
b. Vaksin yang sensitif terhadap panas (Heat sensitive)
Merupakan golongan vaksin yang akan rusak jika terpapar dengan suhu panas yang
berlebihan. Vaksin yang mempunyai sifat seperti ini diantaranya vaksin polio, vaksin
BCG, dan vaksin campak (Properawati dan Andhini, 2010).

Pemberian vaksin dapat dilakukan dalam berbagai cara seperti injeksi intramuskular,
subkutan, intradermal, intrakutan dan secara oral, semua cara pemberian ini disesuaikan
dengan komposisi vaksin dan imunogenesitasnya (Kistner dkk, 2003).

2.4 Proses Pembuatan Vaksin

Produksi vaksin antivirus saat ini merupakan sebuah proses rumit bahkan setelah tugas
yang berat untuk membuat vaksin potensial di laboratorium. Perubahan dari produksi vaksin
potensial dengan jumlah kecil menjadi produksi bergalon-galon vaksin yang aman dalam
sebuah situasi produksi sangat dramatis, dan prosedur laboratorium yang sederhana tidak
dapat digunakan untuk meningkatkan skala produksi.

1. Pengumpulan Benih Virus

Produksi vaksin dimulai dengan sejumlah kecil virus tertentu (atau disebut benih).
Virus harus bebas dari kotoran, baik berupa virus yang serupa atau variasi dari jenis virus
yang sama. Selain itu, benih harus disimpan dalam kondisi “ideal”, biasanya beku, yang
mencegah virus menjadi lebih kuat atau lebih lemah dari yang diinginkan. Benih
disimpan dalam gelas kecil atau wadah plastik.Jumlah yang kecil hanya 5 atau 10 cm 3,
mengandung ribuan hingga jutaan virus, nantinya dapat dibuat menjadi ratusan liter
vaksin. Freezer dipertahankan pada suhu tertentu. Grafik di luar freezer akan mencatat
secara terus menerus suhu freezer. Sensor terhubung dengan alarm yang dapat didengar
atau alarm komputer yang akan menyala jika suhu freezer berada di luar suhu yang
seharusnya.

2. Pertumbuhan Virus
Setelah mencairkan dan memanaskan benih virus dalam kondisi tertentu secara hati-
hati (misalnya, pada suhu kamar atau dalam bak air), sejumlah kecil sel virus
ditempatkan ke dalam “pabrik sel” sebuah mesin kecil yang telah dilengkapi sebuah
media pertumbuhan yang tepat sehingga sel memungkinkan virus untuk berkembang
biak.

Setiap jenis virus tumbuh terbaik di media tertentu, namun semua media umumnya
mengandung protein yang berasal dari mamalia, misalnya protein murni dari darah sapi.
Media juga mengandung protein lain dan senyawa organik yang mendorong reproduksi
sel virus. Penyediaan media yang benar, pada suhu yang tepat, dan dengan jumlah waktu
yang telah ditetapkan, virus akan bertambah banyak.

Selain suhu, faktor-faktor lain harus dipantau adalah pH.pH adalah ukuran keasaman
atau kebasaan, diukur pada skala dari 0 sampai 14, dan virus harus disimpan pada pH
yang tepat dalam pabrik sel. Air tawar yang tidak asam atau basa (netral) memiliki pH 7.
Meskipun wadah di mana sel-sel tumbuh tidak terlalu besar (mungkin ukuran pot 4-8
liter), terdapat sejumlah katup, tabung, dan sensor yang terhubung dengannya.Sensor
memantau pH dan suhu, dan ada berbagai koneksi untuk menambahkan media atau
bahan kimia seperti oksigen untuk mempertahankan pH, tempat untuk mengambil
sampel untuk analisis mikroskopik, dan pengaturan steril untuk menambahkan
komponen ke pabrik sel dan mengambil produk setengah jadi ketika siap.

Virus dari pabrik sel ini kemudian dipisahkan dari media, dan ditempatkan dalam
media kedua untuk penumbuhan tambahan. Metode awal yang dipakai 40 atau 50 tahun
yang lalu yaitu menggunakan botol untuk menyimpan campuran, dan pertumbuhan yang
dihasilkan berupa satu lapis virus di permukaan media. Peneliti kemudian menemukan
bahwa jika botol itu berubah posisi saat virus tumbuh, virus bisa tetap dihasilkan karena
lapisan virus tumbuh pada semua permukaan dalam botol.

Sebuah penemuan penting dalam tahun 1940-an adalah bahwa pertumbuhan sel sangat
dirangsang oleh penambahan enzim pada medium, yang paling umum digunakan yaitu
tripsin.Enzim adalah protein yang juga berfungsi sebagai katalis dalam memberi makan
dan pertumbuhan sel.

Dalam praktek saat ini, botol tidak digunakan sama sekali. Virus yang sedang tumbuh
disimpan dalam wadah yang lebih besar namun mirip dengan pabrik sel, dan dicampur
dengan “manik-manik,” partikel mikroskopis dimana virus dapat menempelkan
diri.Penggunaan “manik-manik” memberi virus daerah yang lebih besar untuk
menempelkan diri, dan akibatnya, pertumbuhan virus menjadi jauh lebih besar.Seperti
dalam pabrik sel, suhu dan pH dikontrol secara ketat.Waktu yang dihabiskan virus untuk
tumbuh bervariasi sesuai dengan jenis virus yang diproduksi, dan hal itu sebuah rahasia
yang dijaga ketat oleh pabrik.

3. Pemisahan Virus

Ketika sudah tercapai jumlah virus yang cukup banyak, virus dipisahkan dari manik-
manik dalam satu atau beberapa cara. Kaldu ini kemudian dialirkan melalui sebuah filter
dengan bukaan yang cukup besar yang memungkinkan virus untuk melewatinya, namun
cukup kecil untuk mencegah manik-manik dapat lewat. Campuran ini disentrifugasi
beberapa kali untuk memisahkan virus dari manik-manik dalam wadah sehingga virus
kemudian dapat dipisahkan. Alternatif lain yaitu dengan mengaliri campuran manik-
manik dengan media lain sehingga dapat memisahkan manik-manik dari virus.

4. Memilih Strain Virus

Vaksin bisa dibuat baik dari virus yang dilemahkan atau virus yang dimatikan.
Pemilihan satu dari yang lain tergantung pada sejumlah faktor termasuk kemanjuran
vaksin yang dihasilkan dan efek sekunder. Virus yang dibuat hampir setiap tahun sebagai
respon terhadap varian baru biasanya berupa virus yang dilemahkan.Virulensi virus bisa
menentukan pilihan; vaksin rabies, misalnya, selalu vaksin dari virus yang dimatikan.

Jika vaksin dari virus dilemahkan, virus biasanya dilemahkan sebelum dimulai proses
produksi. Strain yang dipilih secara hati-hati dibudidayakan (ditumbuhkan) berulang kali
di berbagai media. Ada jenis virus yang benar-benar menjadi kuat saat mereka tumbuh.
Strain ini jelas tidak dapat digunakan untuk vaksin ‘attenuated’. Strain lainnya menjadi
terlalu lemah karena dibudidayakan berulang-ulang, dan ini juga tidak dapat diterima
untuk penggunaan vaksin. Beberapa virus yang “tepat” mencapai tingkat atenuasi yang
membuat mereka dapat diterima untuk penggunaan vaksin, dan tidak mengalami
perubahan dalam kekuatannya.Teknologi molekuler terbaru telah memungkinkan
atenuasi virus hidup dengan memanipulasi molekul, tetapi metode ini masih langka.

Virus ini kemudian dipisahkan dari media tempat dimana virus itu tumbuh.Vaksin
yang berasal dari beberapa jenis virus (seperti kebanyakan vaksin) dikombinasikan
sebelum pengemasan. Jumlah aktual dari vaksin yang diberikan kepada pasien akan
relatif kecil dibandingkan dengan jumlah medium yang dengan apa vaksin tersebut
diberikan. Keputusan mengenai apakah akan menggunakan air, alkohol, atau solusi lain
untuk injeksi vaksin, misalnya, dibuat setelah tes berulang-ulang demi keselamatan,
steritilitas, dan stabilitas.

5. Pengontrolan Kualitas

Untuk melindungi kemurnian vaksin dan keselamatan pekerja yang membuat dan
mengemas vaksin, kondisi kebersihan laboratorium diamati pada seluruh prosedur.
Semua transfer virus dan media dilakukan dalam kondisi steril, dan semua instrumen
yang digunakan disterilisasi dalam autoklaf (mesin yang membunuh organisme dengan
suhu tinggi, dan yang berukuran sekecil kotak perhiasan atau sebesar lift) sebelum dan
sesudah digunakan. Pekerja yang melakukan prosedur memakai pakaian pelindung yang
meliputi Gaun Tyvek sekali pakai, sarung tangan, sepatu bot, jaring rambut, dan masker
wajah.Ruangan pabrik sendiri memakai AC yang khusus sehingga jumlah partikel di
udara minimal.

6. Proses Perizinan

Dalam rangka untuk peresepan obat untuk dijual di Amerika Serikat, produsen obat
harus memenuhi persyaratan lisensi yang ketat yang ditetapkan oleh hukum dan
diberlakukan oleh Food and Drug Administration (FDA).Semua obat yang diresepkan
harus menjalani tiga tahap pengujian, meskipun data dari fase kedua kadang-kadang
dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan tahap ketiga. Tahap tersebu antara lain

a. Tahap 1 yaitu pengujian harus membuktikan bahwa obat aman, atau setidaknya
tidak ada efek yang tidak diinginkan atau tak terduga akan terjadi dari
pemberiannya.
b. Tahap 2 yaitu harus diuji efektivitasnya (obat harus memiliki efek apa yang
seharusnya). Obat-obatan yang tidak berguna tidak dapat dijual, atau yang
membuat klaim untuk efek yang sebenarnya tidak dimiliki.
c. Tahap 3 adalah pengujian ini dirancang untuk mengukur efektivitas obat.
Meskipun vaksin diharapkan memiliki efektivitas hampir 100%, obat-obat
tertentu mungkin dapat diterima bahkan jika mereka mempunyai efektivitas yang
minimal, asalkan dokter yang meresepkan mengetahuinya.
Seluruh proses produksi ditelaah dengan hati-hati oleh FDA dengan mempelajari
catatan prosedur serta mengunjungi tempat produksi itu sendiri. Setiap langkah dalam
proses produksi harus didokumentasikan, dan produsen harus menunjukkan suatu
“kontrol yang tetap” untuk proses produksi. Ini berarti bahwa prosedur yang diteliti harus
terjaga untuk setiap langkah dalam proses, dan harus ada instruksi tertulis untuk setiap
langkah dari proses. Kecuali dalam kasus-kasus kesalahan yang memilukan, FDA tidak
menentukan apakah setiap langkah dalam proses benar, tetapi hanya menentukan apakah
aman dan cukup terdokumentasi dengan baik untuk dilakukan, seperti yang ditetapkan
oleh produsen.

2.5 Definisi Imunisasi BCG


Vaksin BCG atau pemberian imunisasi BCG bertujuan untuk menimbulkan kekebalan
aktif terhadapa penyakit Tuberculosis (TBC) vaksin bcg mengandung kuman bcg
(Bacillus calmet-Guerin) yang masih hidup. Jenis kuman TBC ini telah dilemahkan.
Dimana Tuberculosis merupakan penyakit rakyat yang mudah menular di Indonesia dan
di Negara yang sedang berkembang lainnya.
Seorang anak menderita TBC karena terhisapnya percikan udara yang mengandung
kuman TBC, yang berasal dari orang dewasa berpenyakit TBC. Mungkin juga bayi sudah
terjangkit penyakit TBC sewaktu lahir. Ia terinfeksi kuman TBC sewaktu masih dalam
kandungan, bila ibu mengidap penyakit TBC. Pada anak yang terinfeksi, kuman TBC
dapat menyerang berbgai alat tubuh yang diserangnya adalah peru ( paling sering ),
kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati, atau selaput otak. Salah satu upaya dari
banyak upaya pemberantasan penyakit TBC ialah imuniasi BCG. Dengan imunisasi BCG
diharapkan penyakit TBC dapat berkurang dan kejadian TBC yang berat dapat dihindari.
2.6 Pemberian Vaksin BCG

Frekuensi pemberian vaksin BCG adalah satu kali dan tidak perlu diulang (booster).
Sebab, vaksin BCG berisi kuman hidup sehingga antibodi yang dihasilkannya tinggi terus.
Berbeda dengan vaksin berisi kuman mati, hingga memerlukan pengulangan (Sunarti, 2012).
Vaksin disuntikkan secara intracutan pada lengan atas, untuk bayi yang berumur kurang dari
satu tahun diberikan sebanyak 0,005 ml dan untuk anak yang berumur lebih dari 1 tahun
diberikan sebanyak 0,1 ml.

2.7 Mekanisme Vaksin BCG

Mekanisme menginduksi kekebalan aktif terhadap tuberkulosis tidak diketahui,


mungkin melibatkan stimulasi sistem retikuloendotelial untuk membentuk makrofag-
makrofag dan sel-sel yang teraktivasi lainnya yang mencegah multiplikasi Mycobacterium
tuberculosis. Dalam Sistemik, vaksin hidup BCG menginduksi kekebalan yang diperantarai
oleh sel untuk melawan tuberkulosis. Mekanisme kerjanya tidak diketahui dan tidak
dijelaskan apakah BCG menginduksi antituberculosis (Subbarao dkk, 1992).

2.8 Jadwal Pemberian Vaksin BCG

Untuk pemberian vaksin BCG, perlu diperhatikan waktu waktu tertentu agar terhindar
dari hal – hal yang tidak diharapkan. Vaksinasi BCG harus ditunda hingga lain waktu jika
terjadi beberapa hal seperti, anak yang baru lahir memiliki kondisi tubuh yang kurang sehat
atau berat badannya tidak normal, yaitu kurang dari 2,5 kg, anak yang baru lahir tersebut
dilahirkan oleh seorang ibu yang positif HIV dan hasil HIV dari anak belum diketahui, orang
(anak-anak atau orang dewasa) yang mendapatkan vaksin hidup dalam 4 minggu terakhir
sebelum rencana hari-H orang tersebut akan divaksinasi, orang yang sedang sakit demam
atau penyakit yang parah.

2.9 Efek Samping Vaksin BCG

Efek samping dari vaksinasi BCG jarang terjadi. demam, pembengkakan di kelenjar
ketiak atau leher terjadi namun hanya dalam kurun waktu yang singkat meski tanpa
pengobatan khusus. Reaksi yang sering terjadi adalah kelenjar getah bening namun besar
kemungkinan terjadinya efek samping ini adalah pada orang dengan sistem kekebalan tubuh
yang lemah, seperti orang yang mendapatkan pengobatan untuk kanker atau kondisi lain atau
orang yang terserang HIV. Selain itu, dampak lain yang jarang terjadi adalah osteitis (radang
tulang), bekas luka keloid, dan reaksi alergi parah yang terjadi secara tiba-tiba.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Vaksin BCG adalah vaksin yang diberikan kepada bayi, agar terhindar dari penyakit
Tuberkulosis. Penyakit yang dapat menyerang siapapun jika tidak terjadi penyegahan sejak
dini. Sel – sel imunokompeten tubuh telah terbentuk sempurna pada waktu bayi lahir, maka
dengan memberikan vaksinasi BCG pada waktu bayi akan menimbulkan respon imun yang
lebih baik, terutama respon imun seluler bukan respon imun humoral. Respon imun berkaitan
erat dengan kemampuan tubuh untuk melawan penyakit.

3.2 Saran

Diharapkan dengan adanya makalah ini dapat menambah pengetahuan dari pembaca
dan dapat terus diimplementasikan kepada rakyat. Agar masyarakat dapat mamahami
pentingnya pemahaman dini akan vaksin BCG ini. Dan diharapkan dengan adanya tahapan
pembuatan vaksin BCG ini, masyarakat tidak takut untuk melakukan vaksin BCG ini.
Daftar Pustaka

Bidang Bina Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, 2011, Standar
Puskesmas, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Surabaya.

Kemenkes RI. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia tahun 2013.
Jakarta :Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI; 2013.

Kemenkes RI. (2010). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.

Kitsner, Otfried, Baxter Vaccine AG. 2003. A Novel Cell-Derived Influenza Vaccine. Chiago:
National Influenza Summit
Ranuh. 2008. Imunisasi Di Indonesia, Edisi 1. Jakarta: Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak
Indonesia.
Ranuh, G, dkk.(2011). Pedoman Imunisasi Di Indonesia. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.

Subbarao E. K., Murphy B. R. 1992. A General Overview of Viral Vaccine. National Institute
of Allergy and Infectious Disease. Bethesda

Sunarti. 2012. Pro Kontra Imunisasi Bahaya, Manfaat dan Tips Alternatif. Bantul,
Yogyakarta: Hanggar Kreator.