0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
70 tayangan21 halaman

Imunisasi Anak dan Dewasa: Panduan Lengkap

Makalah ini membahas tentang pendekatan sistematis imunisasi anak dan dewasa. Terdapat empat bab yang membahas karakteristik umum imunisasi, PIO dan farmasi klinis imunisasi, upaya promotif dan preventif imunisasi pada anak dan dewasa.

Diunggah oleh

Melly MV Hutasoit
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
70 tayangan21 halaman

Imunisasi Anak dan Dewasa: Panduan Lengkap

Makalah ini membahas tentang pendekatan sistematis imunisasi anak dan dewasa. Terdapat empat bab yang membahas karakteristik umum imunisasi, PIO dan farmasi klinis imunisasi, upaya promotif dan preventif imunisasi pada anak dan dewasa.

Diunggah oleh

Melly MV Hutasoit
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH PIO

“Pendekatan Sistematis Imunisasi Anak & Dewasa”

Dosen Pengampu :
Dra. Kisrini, M.Si., Apt

Disusun Oleh :

Yuliana Imelda Putrivenn 1920384303


Yuni Amaniah 1920384304
Caesar Nurcahyo P. 1920384305
Dela Dwiningtyas 1920384306
Eka Indah Permata Sari 1920384307

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS
SETIA BUDI SURAKARTA
2019
BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Imunisasi
merupakan salah satu upaya untuk mencegah terjadinya penyakit menular yang merupakan
salah satu kegiatan prioritas Kementerian Kesehatan sebagai salah satu bentuk nyata
komitmen pemerintah untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya
untuk menurunkan angka kematian pada anak (Kementrian Kesehatan, 2017)
Imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif adalah
pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan
untuk merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri. Contohnya adalah imunisasi polio
atau campak. Sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi, sehingga
kadar antibodi dalam tubuh meningkat. Contohnya adalah penyuntikan ATS (Anti Tetanus
Serum) pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Contoh lain adalah yang terdapat pada
bayi yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya
melalui darah placenta selama masa kandungan, misalnya antibodi terhadap campak.
Kegiatan Imunisasi diselenggarakan di Indonesia sejak tahun 1956. Mulai tahun 1977
kegiatan Imunisasi diperluas menjadi Program Pengembangan Imunisasi (PPI) dalam rangka
pencegahan penularan terhadap beberapa Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
(PD3I) yaitu Tuberkulosis, Difteri, Pertusis, Campak, Polio, Tetanus serta Hepatitis B.
Beberapa penyakit yang saat ini menjadi perhatian dunia dan merupakan komitmen global
yang wajib diikuti oleh semua negara adalah eradikasi polio (ERAPO), eliminasi campak dan
rubela dan Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal (ETMN) (Kementrian Kesehatan,
2017).
Imunisasi merupakan andalan program kesehatan Indonesia. Dalam catatan
internasional, pada akhir tahun 1990-an, Indonesia memiliki reputasi pencapaian program
imunisasi yang mengesankan. Pemerintah secara nasional melakukan kontrol terhadap
pelaksanaan imunisasi. Namun sejak dimulainya desentralisasi, terjadi penurunan capaian di
beberapa daerah. Hal ini karena terkendala biaya yang berefek domino pada hal-hal lain
seperti penyuluhan dan pembinaan pada masyarakat. Namun dengan banyaknya isu
kesehatan, apalagi yang disebabkan oleh virus-virus yang bersifat baru, seperti flu akibat
H5N1, maka imunisasi selayaknya kembali menjadi program andalan pencegahan penyakit.
Namun tentunya harus dibarengi dengan penyuluhan dan sosialisasi yang masif pada
masyarakat. Sosialisasi ini penting, khususnya untuk meredam suara-suara miring tentang
imunisasi, dan untuk mendorong masyarakat yang menjadi sasaran imunisasi untuk
mengikuti program ini. Kita harus ingat bahwa Indonesia menghilangkan penyakit cacar pada
tahun 1974, juga penyakit polio berhasil dieradikasi pada tahun 1995. Jadi, imunisasi tetap
merupakan langkah preventif yang efektif.

II. Rumusan Masalah


1. Bagaimana karakteristik umum dari imunisasi?
2. Bagaimana PIO dan farmasi klinis dari imunisasi?
3. Bagaimana upaya promotif imunisasi pada anak dan dewasa ?
4. Bagaimana upaya preventif imunisasi pada anak dan dewasa ?

III. Tujuan
1. Untuk mengetahui karakteristik umum dari imunisasi?
2. Untuk mengetahui PIO dan Farmasi Klinis dari imunisasi?
3. Untuk mengetahui upaya promotif imunisasi pada anak dan dewasa ?
4. Untuk mengetahui upaya preventif imunisasi pada anak dan dewasa ?
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Imunisasi
Imunisasi berasal dari kata imun, kebal, resisten. Imunisasi adalah suatu cara untuk
meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia
terpajan pada antigen yang serupa, tidak terjadi penyakit. (Ranuh, 2008).
Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan
memasukkan vaksin kedalam tubuh. Agar tubuh membuat zat anti untuk merangsang
pembentukan zat anti yang dimasukkan kedalam tubuh melalui suntikan (misalnya vaksin
BCG, DPT dan campak) dan melalui mulut (misalnya vaksin polio) (Hidayat, 2008).
B. Tujuan dan Manfaat Pemberian Imunisasi
Tujuan dari diberikannya suatu imunitas dari imunisasi adalah untuk mengurangi
angka penderita suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa
menyebabkan kematian pada penderitanya. Beberapa penyakit yang dapat dihindari dengan
imunisasi yaitu seperti hepatitis B, campak, polio, difteri, tetanus, batuk rejan, gondongan,
cacar air, tbc, dan lain sebagainya.
Sedangkan manfaat imunisasi diantaranya:
a) Untuk anak: mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan
cacat atau kematian.
b) Untuk keluarga: menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit.
Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa anaknya akan
menjalani masa kanak-kanak yang nyaman.
c) Untuk negara: memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan
berakal untuk melanjutkan pembangunan negara
C. Jenis-Jenis Imunisasi
1) Imunisasi BCG
Bacillus Calmette-Guerin (BCG) adalah vaksin untuk mencegah penyakit TBC.
Meskipun BCG merupakan vaksin yang paling banyak di gunakan di dunia (85% bayi
menerima 1 dosis BCG pada tahun 1993), tetapi perkiraan derajat proteksinya sangat
bervariasi dan belum ada penanda imunologis terhadap tuberculosis yang dapat dipercaya.
Kekebalan yang dihasilkan dari imunisasi BCG ini bervariasi, tidak ada pemerikasaan
laboratorium yang bisa menilai kekebalan seseorang pada penyakit TBC setelah diimunisasi.
Berbeda dengan imunisasi hepatitis B, kita bisa memeriksa titer anti-HBsAg pada
laboratotrium, bila hasilnya > 10 μg dianggap memiliki kekebalan yang cukup terhadap
hepatitis B.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kemampuan proteksi BCG berkurang jika
telah ada sensitisasi dengan mikobakteria lingkungan sebelumnya, tetapi data ini tidak
konsisten. BCG dianjurkan diberikan umur 2-3 bulan atau dilakukan uji tuberkulin dulu (bila
usia anak lebih dari 3 bulan. Untuk mengetahui apakah anak telah terinfeksi TBC atau belum
(lihat jadwal imunisasi) dan, kekebalan untuk penyakit TBC tidak diturunkan dari ibu ke anak
(imunitas seluler), karena itu anak baru lahir tidak punya kekebalan terhadap TBC. Makanya
ibu-ibu harus segera memberikan imunisasi BCG buat anaknya.
Perlu diketahui juga, derajat proteksi imunisasi BCG tidak ada hubungannya dengan
hasil tes tuberkulin sesudah imunisasi dan ukuran parut (bekas luka suntikan) dilengan. Jadi
tidak benar kalau parutnya kecil atau tidak tampak maka imunisasinya dianggap gagal.
Imunsasi BCG diberikan dengan dosis 0,05 ml pada bayi kurang dari 1 tahun, dan 0,1
ml pada anak. Disuntikkan secara intrakutan.
BCG ulang tidak dianjurkan karena manfaatnya diragukan. BCG tidak dapat
diberikan pada penderita dengan gangguan kekebalan seperti pada penderita lekemia (kanker
darah), anak dengan pengobatan obat steroid jangka panjang dan penderita infeksi HIV.
2) Imunisasi Hepatitis B
Imunisasi hepatitis B ini juga merupakan imunisasi yang diwajibkan, lebih dari 100
negara memasukkan vaksinasi ini dalam program nasionalnya. Jika menyerang anak,
penyakit yang disebabkan virus ini sulit disembuhkan. Bila sejak lahir telah terinfeksi virus
hepatitis B (VHB) dapat menyebabkan kelainan-kelainan yang dibawanya terus hingga
dewasa. Sangat mungkin terjadi sirosis atau pengerutan hati.
Banyak jalan masuk virus hepatitis B ke tubuh anak yang potemsial melalui jalan
lahir. Cara lain melalui kontak dengan darah penderita, semisal transfusi darah. Bisa juga
melali alat-alat medis yang sebelumnya telah terkontaminasi darah dari penderita hepatitis B,
seperti jarum suntik yang tidak steril atau peralatan yang ada di klinik gigi. Bahkan juga bisa
lewat sikat gigi atau sisir rambut yang digunakan antar anggota keluarga. Tidak ada gejala
khas yang tampak secara kasat mata. Bahkan oleh dokter sekalipun. Fungsi hati kadang tak
terganggu meski sudah mengalami sirosis. Anak juga terlihat sehat, nafsu makan baik, berat
badan juga normal. Penyakit baru diketahui setelah dilakukan pemeriksaan darah.
3) Polio
Imunisasi polio ada 2 macam, yang pertama oral polio vaccine atau yang sering
dilihat dimana mana yaitu vaksin tetes mulut. Sedangkan yang kedua inactivated polio
vaccine, ini yang disuntikkan. Kalo yang tetes mudah diberikan, murah dan mendekati rute
penyakit aslinya, sehingga banyak digunakan. Kalo yang injeksi efek proteksi lebih baik tapi
mahal dan tidak punya efek epidemiologis. Selain itu saat ini MUI telah mengeluarkan fatwa
agar pemakaian vaksin polio injeksi hanya ditujukan pada penderita yang tidak boleh
mendapat vaksin polio tetes karena daya tahan tubuhnya lemah
Polio atau lengkapnya poliomelitis adalah suatu penyakit radang yang menyerang
saraf dan dapat menyebabkan lumpuh pada kedua kaki. Walaupun dapat sembuh, penderita
akan pincang seumur hidup karena virus ini membuat otot-otot lumpuh dan tetap kecil.
Virus polio menyerang tanpa peringatan, merusak sistem saraf menimbulkan
kelumpuhan permanen, biasanya pada kaki. Sejumlah besar penderita meninggal karena tidak
dapat menggerakkan otot pernapasan. Virus polio menular secara langsung melalui percikan
ludah penderita atau makanan dan minuan yang dicemari.
Pencegahannya dengan dilakukan menelan vaksin polio 2 (dua) tetes setiap kali sesuai
dengan jadwal imunisasi.
4) DPT
DPT adalah vaksin yang terdiri dari toksoid difteri dan tetanus yang dimurnikan, serta
bakteri pertusis yang telah diinaktivasi yang teradsorbsi ke dalam 3 mg / ml Aluminium
fosfat. Thimerosal 0,1 mg/ml digunakan sebagai pengawet. Potensi vaksin per dosis tunggal
sedikitnya 4 IU pertussis, 30 IU difteri dan 60 IU tetanus. Indikasi Untuk Imunisasi secara
simultan terhadap difteri, tetanus dan batuk rejan. Komposisi Tiap ml mengandung : Toksoid
difteri yang dimurnikan 40 Lf Toksoid tetanus yang dimurnikan 15 Lf B, pertussis yang
diinaktivasi 24 OU Aluminium fosfat 3 mg Thimerosal 0,1 mg
Dosis dan Cara Pemberian Vaksin harus dikocok dulu untuk menghomogenkan
suspensi. Vaksin harus disuntikkan secara intramuskuler atau secara subkutan yang dalam.
Bagian anterolateral paha atas merupakan bagian yang direkomendasikan untuk tempat
penyuntikkan. (Penyuntikan di bagian pantat pada anak-anak tidak direkomendasikan karena
dapat mencederai syaraf pinggul). Tidak boleh disuntikkan pada kulit karena dapat
menimbulkan reaksi lokal. Satu dosis adalah 0,5 ml. Pada setiap penyuntikan harus
digunakan jarum suntik dan syringe yang steril.
Imunisasi DPT harus dimulai sesegera mungkin dengan dosis pertama diberikan pada
usia 6 minggu dan 2 dosis berikutnya diberikan dengan interval masing-masing 4 minggu.
Vaksin DPT dapat diberikan secara aman dan efektif pada waktu yang bersamaan dengan
vaksinasi BCG, Campak, Polio (OPV dan IPV), Hepatitis B, Hib. dan vaksin Yellow Fever.
Kontraindikasi Terdapat beberapa kontraindikasi yang berkaitan dengan suntikan
pertama DPT. Gejala-gejala keabnormalan otak pada periode bayi baru lahir atau gejala-
gejala serius keabnormalan pada saraf merupakan kontraindikasi dari komponen pertussis.
Imunisasi DPT kedua tidak boleh diberikan kepada anak yang mengalami gejala-gejala parah
pada dosis pertama DPT. Komponen pertussis harus dihindarkan, dan hanya dengan diberi
DT untuk meneruskan imunisasi ini. Untuk individu penderita virus human
immunodefficiency (HIV) baik dengan gejala maupun tanpa gejala harus diberi imunisasi
DPT sesuai dengan standar jadual tertentu.
5) Campak
Imunisasi campak, sebenarnya bayi sudah mendapatkan kekebalan campak dari
ibunya. Namun seiring bertambahnya usia, antibodi dari ibunya semakin menurun sehingga
butuh antibodi tambahan lewat pemberian vaksin campak. Apalagi penyakit campak mudah
menular, dan mereka yang daya tahan tubuhnya lemah gampang sekali terserang penyakit
yang disebabkan virus Morbili ini. Untungnya campak hanya diderita sekali seumur hidup.
Jadi, sekali terkena campak, setelah itu biasanya tak akan terkena lagi.
Penularan campak terjadi lewat udara atau butiran halus air ludah (droplet) penderita
yang terhirup melalui hidung atau mulut. Pada masa inkubasi yang berlangsung sekitar 10-12
hari, gejalanya sulit dideteksi. Setelah itu barulah muncul gejala flu (batuk, pilek, demam),
mata kemerahabn dan berair, si kecilpun merasa silau saat melihat cahaya. Kemudian,
disebelah dalam mulut muncul bintik-bintik putih yang akan bertahan 3-4 hari. Beberapa
anak juga mengalami diare. satu-dua hari kemudian timbul demam tinggi yang turun naik,
berkisar 38-40,5 derajat celcius.
Seiring dengan itu barulah muncul bercak-bercak merah yang merupakan ciri khas
penyakit ini. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Awalnya haya
muncul di beberapa bagian tubuh saja seperti kuping, leher, dada, muka, tangan dan kaki.
Dalam waktu 1 minggu, bercak-bercak merah ini hanya di beberapa bagian tibih saja dan
tidak banyak.
Jika bercak merah sudah keluar, umumnya demam akan turun dengan sendirinya.
Bercak merah pun akan berubah menjadi kehitaman dan bersisik, disebut hiperpigmentasi.
Pada akhirnya bercak akan mengelupas atau rontok atau sembuh dengan sendirinya.
Umumnya dibutuhkan waktu hingga 2 minggu sampai anak sembuh benar dari sisa-sisa
campak. Dalam kondisi ini tetaplah meminum obat yang sudah diberikan dokter. Jaga
stamina dan konsumsi makanan bergizi. Pengobatannya bersifat simptomatis, yaitu
mengobati berdasarkan gejala yang muncul. Hingga saat ini, belum ditemukan obat yang
efektif mengatasi virus campak.
Jika tak ditangani dengan baik campak bisa sangat berbahaya. Bisa terjadi komplikasi,
terutama pada campak yang berat. Ciri-ciri campak berat, selain bercaknya di sekujur tubuh,
gejalanya tidak membaik setelah diobati 1-2 hari. Komplikasi yang terjadi biasanya berupa
radang paru-paru dan radang otak. Komplikasi ini yang umumnya paing sering menimbulkan
kematian pada anak.
Usia dan Jumlah Pemberian Sebanyak 2 kali; 1 kali di usia 9 bulan, 1 kali di usia 6
tahun. Dianjurkan, pemberian campak ke-1 sesuai jadwal. Selain karena antibodi dari ibu
sudah menurun di usia 9 bulan, penyakit campak umumnya menyerang anak usia balita. Jika
sampai 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak, maka pada usia 12 bulan harus
diimunisasi MMR (Measles Mump Rubella).
6) Imunisasi MMR
Imunisasi MMR adalah imunisasi kombinasi untuk mencegah penyakit Campak,
Campak Jerman dan Penyakit Gondong. Pemberian vaksin MMR biasanya diberikan pada
usia anak 16 bulan. Vaksin ini adalah gabungan vaksin hidup yang dilemahkan. Semula
vaksin ini ditemukan secara terpisah, tetapi dalam beberapa tahun kemudian digabung
menjadi vaksin kombinasi. Kombinasi tersebut terdiri dari virus hidup Campak galur
Edmonton atau Schwarz yang telah dilemahkan, Componen Antigen Rubella dari virus hidup
Wistar RA 27/3 yang dilemahkan dan Antigen gondongen dari virus hidup galur Jerry Lynn
atau Urabe AM-9.
Tujuan diberikannya imunisasi MMR ini adalah untuk mencegah atau mengurannogi
terjadinya infeksi pada anak yang disebabkan penyakit-penyakit, gondongan dan rubela.

D. Tanda-tanda Berhasilnya Imunisasi


1. BCG
Setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil dan merah ditempat suntikan.
Setelah 2–3 minggu kemudian pembengkakan menjadi abses kecil dan kemudian
menjadi luka dengan garis tengah ±10 mm. Luka akan sembuh sendiri dengan
meninggalkan luka parut yang kecil.
2. DPT
Kebanyakan bayi menderita panas pada waktu sore hari setelah mendapatkan
imunisasi DPT, tetapi panas akan turun dan hilang dalam waktu 2 hari. Sebagian
besar merasa nyeri, sakit, kemerahan atau bengkak di tempat suntikan. Keadaan ini
tidak berbahaya dan tidak perlu mendapatkan pengobatan khusus, akan sembuh
sendiri.Bila gejala diatas tidak timbul tidak perlu diragukan bahwa imunisasi tersebut
tidak memberikan perlindungan dan Imunisasi tidak perlu diulang.
3. Polio
Jarang timbuk efek samping.
4. Campak
Anak mungkin panas, kadang disertai dengan kemerahan 4–10 hari sesudah
penyuntikan.
5. Hepatitis
Belum pernah dilaporkan adanya efek samping.
Perlu diingat efek samping imunisasi jauh lebih ringan daripada efek penyakit bila
bayi tidak diimunisasi.

E. Jadwal Pemberian Imunisasi


1. Jadwal pemberian Vaksin Hepatitis B diberikan dalam satu seri yang terdiri dari 3 kali
suntik.
a) Pertama : Bila ibu adalah pembawa virus dalam darahnya, maka vaksin harus
diberikan paling lama 12 jam setelah lahir. Tetapi bila ibu bukan pembawa virus,
bisa diberikan pada kontrol di bulan pertama atau kedua.
b) Kedua : Kalau yang pertama diberikan segera setelah lahir, yang kedua diberikan
antara bulan pertama dan kedua. Bila yang pertama diberikan setelah sebulan,
maka yang kedua diberikan antara bulan ketiga dan keempat.
c) Ketiga : Diberikan pada usia 6 bulan untuk yang mendapatkan vaksin pertama
sebelum usia 1 bulan. Untuk yang mendapatkan vaksin pertama setelah usia 1
bulan, diberikan pada usia antara 6 s/d 18 bulan.
d) Resiko yang mungkin timbul Resiko serius yang berkaitan dengan pemberian
vaksin HBV sangat jarang terjadi. Biasanya efek samping hanya bagian bekas
suntik menjadi kemerah-merahan.
e) Menunda pemberian Bila anak sakit lebih dari sekedar panas badan ringan. Bila
ada reaksi alergi serius terhadap suntikan vaksin.
f) Setelah pemberian Setelah vaksinasi panas badan anak mungkin naik, dan juga
daerah sekitar bekas suntikan menjadi merah. Untuk itu anda bisa memakai obat
penurun panas (Tempra, Sanmol, dll), dan kompres dengan air hangat bagian
bekas suntikan.
2. Jadwal pemberian DPT. Diberikan sebagai satu seri yang terdiri dari 5 kali suntik.
Yaitu pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 15 s/d 18 bulan dan terakhir saat sebelum
masuk sekolah (4 s/d 6 tahun). Dianjurkan untuk mendapatkan vaksin Td (penguat
terhadap difteri dan tetanus) pada usia 11 s/d 12 tahun atau paling lambat 5 tahun
setelah imunisasi DPT terakhir. Setelah itu direkomendasikan untuk mendapatkan Td
setiap 10 tahun.
a) Resiko yang mungkin timbul Seringkali pemberian vaksin ini menimbulkan
panas badan ringan atau panas di sekitar bekas suntikan yang diakibatkan oleh
komponen pertussis dalam vaksin.
b) Menunda pemberian : Bila anak sakit lebih dari sekedar panas badan ringan. Bila
anak memiliki kelainan syaraf atau tidak tidak tumbuh secara normal, komponen
pertussis dari vaksin dianjurkan untuk tidak diberikan danhanya DT (difteri &
tetanus) saja. Bila setelah mendapatkan vaksin DPT (DTaP) timbul gejala seperti
dibawah konsultasikan dengan dokter anak sebelum mendapatkan vaksin
lainnya : kejang-kejang dalam 3 s/d 7 hari setelah imunisasi kejang-kejang yang
makin memburuk dibanding sebelumnya apabila pernah mengalaminya reaksi
alergi kesulitan makan atau gangguan pada mulut, tenggorokan atau muka panas
badan lebih dari 40 derajat Celcius (105 derajat Fahrenheit) pingsan dalam 2 hari
pertama setelah imunisasi terus menangis lebih dari 3 jam di 2 hari pertama
setelah imunisasi
c) Setelah pemberian : Anak mungkin mengalami panas badan ringan dan atau
kemerah-merahan di sekitar bekas suntikan. Untuk mencegah panas badan
kadangkala dokter anak memberikan resep obat sebelum imunisasi. Segera
hubungi dokter anak anda apabila timbul gejala-gejala seperti diatas.
3. HIB (Haemophilus Influenza Tipe B) Jadwal pemberian Diberikan pada usia 2 bulan,
4 bulan dan sekitar 6 bulan. Setelah itu diberikan sebagai penguat pada usia 12 s/d 15
bulan.
a) Resiko yang mungkin timbul Sangat sedikit sekali efek sampingan yang pernah
ditemukan, kecuali kemerah-merahan dan nyeri pada bagian bekas suntikan atau
panas badan ringan.
b) Menunda pemberian Bila anak sakit lebih dari sekedar panas badan ringan. Bila
ada reaksi alergi setelah imunisasi, maka pemberian vaksin Hib berikutnya harus
dihentikan.
c) Setelah pemberian Persiapkan obat-obatan untuk penurun panas badan ringan.
4. POLIO Jadwal pemberian Diberikan pada usia 3 bulan, 4 bulan, 5 bulan, 12 s/d 18
bulan dan saat sebelum masuk sekolah (4 s/d 6 tahun). Imunisasi pertama dan kedua
adalah IPV sedang dua terakhir dengan OPV. Namun apabila tidak ada gangguan
dianjurkan untuk mendapatkan vaksin semuanya secara IPV. Untuk itu konsultasikan
dengan dokter anak anda mana yang terbaik untuk kasus anak anda.
a) Resiko yang mungkin timbul Bagi anda yang belum pernah mendapatkan
imunisasi polio pada saat balita dianjurkan untuk imunisasi dengan IPV sebelum
anak anda mendapatkan vaksin polio secara OPV. Ini untuk mencegah penularan
virus polio hidup yang terkandung dalam vaksin OPV ke anda.
b) Menunda pemberian Apabila anak memiliki gangguan kekebalan tubuh, vaksin
IPV lebih baik daripada OPV. Sebagai catatan, untuk anak-anak tipe ini harus
dihindari kontak dengan anak lain yang baru saja menerima vaksin OPV sampai
sekitar 2 minggu setelah vaksinasi. Vaksin IPV tidak boleh diberikan kepada anak
yang memiliki alergi serius terhadap antibiotika neomycin atau streptomycin.
Untuk itu sebaiknya diberikan vaksin tipe OPV.
c) Setelah pemberian Untuk IPV, sering menimbulkan panas badan ringan dan nyeri
atau kemerah-merahan di sekitar bekas suntikan. Untuk OPV tidak ada gejala
pasca imunisasi apapun.
5. BCG Jadwal pemberian Diberikan satu kali pada usia 2 bulan.
a) Resiko yang mungkin timbul Jarang ditemui adanya reaksi berlebihan terhadap
vaksin ini.
b) Menunda pemberian Bila anak sakit lebih dari sekedar panas badan ringan.
c) Setelah pemberian Seperti vaksin lainnya cukup siapkan obat penurun panas,
apabila tidak ada gejala lain yang serius.
6. MMR / CAMPAK Jadwal pemberian Diberikan sebagai satu seri yang terdiri dari dua
kali pemberian. Yaitu pada usia 12 s/d 15 bulan dan saat sebelum masuk sekolah (4
s/d 6 tahun) atau pada usia 11 s/d 12 tahun.
a) Resiko yang mungkin timbul Jarang sekali timbul masalah serius akibat vaksin
ini.
b) Menunda pemberian Bila anak sakit lebih dari sekedar panas badan ringan. Bila
memiliki alergi terhadap telur atau antibiotika neomycin. Bila menerima gamma
globulin dalam selang waktu 3 bulan sebelum imunisasi. Bila memiliki gangguan
kekebalan tubuh akibat kanker atau sedang menjalani terapi kemo atau radiasi.
c) Setelah pemberian Seperti vaksin lainnya cukup siapkan obat penurun panas,
apabila tidak ada gejala lain yang serius.
F. Pio Dan Farmasi Klinis
1. Dosis, cara pemberian dan tempat pemberian imunisasi
Dosis, Cara dan Tempat Pemberian Imunisasi

Jenis Vaksin Dosis Cara pemberian Tempat

Hepatitis B 0,5 ml Intra Muskuler Paha

BCG 0,05 ml Intra Kutan Lengan kanan atas

Polio 2 tetes Oral Mulut

DPT-HB-Hib 0,5 ml Intra Muskuler Paha untuk bayi

Lengan kanan

untuk batita

Campak 0,5 ml Sub Kutan Lengan kiri atas

DT 0,5 ml Intra Muskuler Lengan kiri atas

Td 0,5 ml Intra Muskuler Lengan kiri atas

TT 0,5 ml Intra Muskuler Lengan kiri atas

2. Interval pemberian
Jarak minimal antar dua pemberian imunisasi yang sama adalah 4 (empat) minggu.
Tidak ada batas maksimal antar dua pemberian imunisasi.

3. Tindakan antiseptik
Setiap petugas yang akan melakukan pemberian imunisasi harus mencuci tangan dengan
sabun terlebih dahulu. Untuk membersihkan tempat suntikan digunakan kapas kering
dengan melakukan sekali usapan pada tempat yang akan disuntik. Tidak dibenarkan
menggunakan alkohol untuk tindakan antiseptik.

4. Kontra indikasi
Pada umumnya tidak terdapat kontra indikasi imunisasi untuk individu sehat kecuali
untuk kelompok risiko. Pada setiap sediaan vaksin selalu terdapat petunjuk dari produsen
yang mencantumkan kontra indikasi serta perhatian khusus terhadap

Vaksin.

Petunjuk Kontra Indikasi Dan Perhatian Khusus Untuk Imunisasi

Kontra indikasi dan perhatian Bukan kontra indikasi

khusus (imunisasi dapat dilakukan)

Berlaku umum untuk semua vaksin

DPT, Polio, Campak, dan Hepatitis B

Kontra Indikasi Bukan kontra Indikasi

Ensefalopati dalam 7 hari pasca DPT

sebelumnya

Perhatian khusus

- Demam >40,5o C dalam 48 jam - Demam <40,50 C pasca DPT

pasca DPT sebelumnya, yang sebelumnya

tidak berhubungan dengan - Riwayat kejang dalam keluarga

penyebab lain - Riwayat SIDS dalam keluarga

- Kolaps dan keadaan seperti syok - Riwayat KIPI dalam keluarga

(episode hipotonik-hiporesponsif) pasca DPT

dalam 48 jam pasca DPT

sebelumnya

- Kejang dalam 3 hari pasca DPT

sebelumnya

- Menangis terus >


3 jam dalam 48

jam pasca DPT sebelumnya

- Sindrom Guillain-Barre dalam 6

minggu pasca vaksinasI

Vaksin Polio

Kontra Indikasi Bukan kontra Indikasi

- Infeksi HIV atau kontak HIV - Menyusui


- Sedang dalam terapi antibiotic
serumah - Diare ringan

- Imunodefisiensi (keganasan

hematologi atau tumor padat,

imuno-defisiensi kongenital, terapi

imunosupresan jangka panjang)

- Imunodefisiensi penghuni

serumah

Perhatian khusus

Kehamilan

Campak

Perhatian khusus

- Mendapat transfusi darah/produk

darah atau imunoglobulin (dalam

3-11 bulan, tergantung produk

darah dan dosisnya)

- Trombositopenia

- Riwayat purpura trombositopenia

Hepatitis B

Kontra Indikasi Bukan kontra indikasi

Indikasi kontra dan perhatian Bukan kontra indikasi


khusus

(imunisasi dapat dilakukan)

Reaksi anafilaktoid terhadap ragi Kehamilan Kehamilan

G. Upaya Promotif Imunisasi Pada Anak dan Dewasa


1. Penyuluhan Sebelum dan Sesudah Pelayanan Imunisasi
Penyuluhan imunisasi adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara
menyebarkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga
mau dan bisa melakukan suat anjuran yang ada hubungannya dengan imunisasi. Penyuluhan
merupakan gabungan berbagai kegiatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk
mencapai suat keadaan di mana individu, keluarga, kelompok atau masyarakat secara
keseluruhan ingin hidup sehat, tahu bagaimana caranya dan melakukan apa yang bisa
dilakukan.

Beberapa metode yang dapat dipergunakan dalam memberikan penyuluhan kesehatan


antara lain :

a. Metode ceramah
Suat metode dalam menerangkan suat ide, pengertian atau pesan secara lisan kepada
kelompok sasaran sehinggan memperoleh informasi tentang imunisasi.
b. Metode diskusi kelompok
Sekelompok sasaran dengan narasumber berdiskusi tentang pembicaraan yang
direncanakan dan telah dipersiapkan.
c. Metode curah pendapat
Suat bentuk pemecahan masalah di mana setiap anggota mengusulkan semua
kemungkinan pemecahan masalah yang terpikirkan oleh masing-masing peserta, dan
dievaluasi.
d. Metode seminar
Suat cara di mana sekelompok orang berkumpul untuk membahas suat maslah dibawah
bimbingan seorang ahli yang menguasai bidangnya (Agnes, 2011).
Penyuluhan menjadi sangat penting untuk menurunkan, bahkan memberantas
kematian, khususnya pada bayi akibat tetanus, campak, TBC, dipteri, dan hepatitis.
Kesadaran orang dewasa, khususnya orangtua bayi terlebih lagi ibu dari bayi, untuk
membawa bayinya ke sarana pelayanan kesehatan terdekat, misalnya posyandu, untuk
memperoleh imunisasi yang lengkap. Penyuluhan yang diberikan berupa manfaat
imunisasi, efek samping dan cara penanggulangannya, serta kapan dan dimana pelayanan
imunisasi berikutnya dapat diperoleh. Berbagai macam alat peraga untuk mendukung
penyuluhan yang akan Anda berikan terhadap sasaran, yaitu ibu yang memiliki bayi, salah
satunya poster. Poster bertujuan untuk memengaruhi seseorang atau kelompok agar
tertarik pada objek atau materi yang diinformasikan atau juga untuk memengaruhi
seseorang atau kelompok untuk mengambil suatu tindakan yang diharapkan. Poster dapat
diletakkan di ruang tunggu Puskesmas, digunakan sebagai alat bantu peragaan saat
melakukan ceramah atau penyuluhan, bahan diskusi kelompok, dan lainnya.

Berikut ini langkah-langkah dalam memberikan penyuluhan.


Pemberian Imunisasi kepada Bayi/Anak
1) Mengucapkan salam dan terima kasih kepada orangtua atas kedatangannya dan
kesabarannya menunggu.
2) Menjelaskan jenis-jenis penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian imunisasi.
3) Menjelaskan manfaat pemberian imunisasi.
4) Menjelaskan efek samping setelah pemberian imunisasi dan apa yang harus dilakukan
jika terjadi efek samping.
5) Menjelaskan kapan ibu perlu membawa bayinya ke pusat kesehatan atau RS jika terjadi
efek samping yang hebat.
6) Menjelaskan secara lengkap jika bayi harus mendapatkan imunisasi lengkap secara
berurutan.
7) Menuliskan tanggal untuk pemberian imunisasi berikutnya pada buku KIA dan
memberitahukan kepada orangtua kapan harus kembali untuk mendapatkan imunisasi
berikutnya.
8) Menjelaskan kepada orangtua tentang alternatif tanggal dan waktu jika tidak bisa
datang pada tanggal yang sudah dituliskan.
Selain itu, upaya promotif imunisasi anak dan dewasa juga dapat dilakukan dengan cara :

1) Bekerjasama dengan berbagai pihak misal MUI tentang penyelenggaraan Pekan


Imunisasi Nasional (PIN) dengan tujuan meningkatkan perluasan informasi dan
tentunya partisipasi masyarakat untuk melakukan imunisasi.
2) Memberikan informasi serta jadwal imunisasi yang tepat kepada para orang tua atau
wali anak yang tergolong dalam usia imunisasi dasar lengkap.

3) Menginformasikan fasilitas kesehatan tempat dilakukannya imunisasi ( posyandu,


puskesmas, rumah sakit, praktek dokter/bidan).
4) Memberikan informasi terkait 8 imunisasi diluar program PIN (pekan imunisasi
nasional) yaitu pneumokokus, influenza, MMR, tifoid, hepatitis A, varisela,
rotavirus, HPV.
5) Vaksin BCG tidak diberikan pada bayi yang mengalami sakit kulit lama, TB dan
panas tinggi
6) Vaksin DPT dan campak tidak diberikan jika bayi sakit parah, panas tinggi dan
kejang
7) Vaksin polio tidak diberikan jika bayi sedang diare dan sakit parah
8) Anak demam (suhu tubuh naik) setelah diberikan vaksin BCG dan DPT diberikan
obat penurun panas dan kompres (Pusdiklatnakes, 2014)

H. Upaya Preventif Imunisasi Pada Anak dan Dewasa


1. Meningkatkan pengetahuan dan kepedulian terhadap diri sendiri dan anak
Dalam hal ini dimaksudkan bahwa perlu adanya dorongan dan motivatasi yang dapat
memacu masyarakat untuk mengetahui dan peduli tentang pentingnya vaksi bagi
kelangsungan hidup mereka. Bahkan seharusnya imunisasi bagi seseorang haruslah
dimulai sejak masa kehamilan. Mengingat pentingnya imunisasi sebagai tahap awal
atau investasi masa depan, karena dengan imunisasi kita akan terhindar dari penyakit
serta infeksi berbahaya.
2. Menghilangkan pandangan tentang “Penyakitnya Jarang”
Alasan ini sebenarnya sungguh aneh karena semakin jarangnya penyakit tersebut
ditemukan menunjukkan program imunisasi berjalan efektif. Ketika jumlah penderita
yang diimunisasi semakin banyak, sebenarnya penderita yang belum divaksin juga
terlindungi. Dunia kedokteran menyebutnya dengan "imunitas kawanan". Sayangnya,
imunitas semacam ini bisa hilang ketika banyak orang memilih tidak divaksin.
3. Mencegah mindset bahwa penyakit yang perlu diimunisasi tidak parah
Memang penyakit-penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi terkadang tak terlalu
serius, tetapi sebenarnya penyakitnya bisa menjadi berat. Misalnya saja campak yang
bisa menyebabkan komplikasi serius, seperti gangguan otak. Demikian juga dengan
pneumonia atau radang paru. Risiko keparahan penyakit juga akan lebih besar pada
anak yang belum divaksinasi.
4. Mengubah pola pikir masyarakat tentang efek samping imunisasi
Masih banyakanya masayarakat yang beranggapan bahwa efek samping dari
imunisasi sangat membahayakan. Tentu ada, memang ada efek sampingnya, tetapi
sebagian besar ringan dan bisa hilang dengan cepat. Namun, setiap prosedur medis,
setiap pengobatan, dan semua hal yang kita lakukan juga memiliki efek samping.
Karena itu sebagai orangtua kita perlu berhati-hati dan mengikuti saran dokter agar
efek samping yang tidak diinginkan bisa dihindari. Para ahli juga mengemukan bahwa
efek samping dari imunisasi tidak sebanding dengan manfaat yang akan diterima
untuk keberlangsungan hidup ke depannya.
5. Memperkenalkan atau sebelumnya memperkenalkan kandungan pada vaksin yang
digunakan untuk imunisasi.
Vaksin sebagian besar berisi air dengan antigen, tapi mereka membutuhkan bahan
tambahan untuk menstabilkan atau meningkatkan efektivitas vaksin. Masyarakat
sering khawatir tentang merkuri karena beberapa vaksin yang digunakan mengandung
thimerosal pengawet, yang terurai menjadi etilmerkuri. Para peneliti sekarang tahu
bahwa etilmerkuri tidak menumpuk di methylmercury tubuh seperti neurotoxin yang
ditemukan di beberapa ikan. Tapi thimerosal telah dihapus dari semua vaksin bayi
sejak tahun 2001 sebagai tindakan pencegahan. Vaksin yang mengandung aluminium,
ini digunakan untuk meningkatkan respon kekebalan tubuh, merangsang produksi
antibodi yang lebih besar dan membuat vaksin lebih efektif. Meskipun aluminium
dapat menyebabkan kemerahan lebih besar atau bengkak di tempat suntikan, jumlah
kecil dari aluminium dalam vaksin-kurang dari apa yang anak-anak mendapatkan
melalui ASI, susu formula, atau sumber lainnya serta tidak memiliki efek jangka
panjang dan telah digunakan di beberapa vaksin sejak tahun 1930-an.
Formaldehida, digunakan untuk menonaktifkan potensi kontaminasi, mungkin juga di
beberapa vaksin, tapi ratusan kali lebih kecil dari jumlah formaldehida yang manusia
dapatkan dari sumber lain, seperti bahan buah dan isolasi. Tubuh kita bahkan secara
alami menghasilkan lebih formaldehida dari apa yang ada di vaksin.
6. Mencegah rasa takut masyarakat mengenai isu vaksin/imunisasi
Kita dapat menunjukkan fakta dari hasil penelitian bahwa orang tua yang lahir di
tahun 1970-an dan 80-an divaksinasi terhadap delapan penyakit yang mampu
melawan 14 penyakit. Jadi sementara anak-anak sekarang mendapatkan lebih banyak
vaksin karena tiap-tiap vaksin dapat melindungi hampir dua kali atau lebih penyakit.
Bukan jumlah vaksin yang penting tetapi apa yang terkandung pada setiap vaksin.
Antigen adalah komponen virus atau bakteri dari vaksin yang menginduksi sistem
kekebalan tubuh untuk membangun antibodi dan melawan infeksi di masa depan.
Salah satu fakta vaksin sebenarnya "Saya seorang spesialis penyakit menular, tapi
saya tidak melihat infeksi pada anak-anak setelah mereka memperoleh vaksin lengkap
pada usia 2, 4, dan 6 bulan.”kata Mark H. Sawyer, M.D., profesor pediatri klinis di
University of California San Diego School of Medicine and Rady Children's Hospital.
7. Mencegah mindset bahwa kekebalan tubuh anak belum matang, jadi lebih aman untuk
menunda
Dalam kasus MMR , menunda vaksin tiga bulan saja bisa meningkatkan resiko
demam kejang. Bahkan hingga saat ini tidak ada bukti bahwa menunda
pemberian vaksin lebih aman. Jadwal vaksin yang direkomendasikan dirancang
untuk memberikan perlindungan sebesar mungkin pada anak. Rekomendasi
jadwal vaksin dibuat oleh puluhan ahli penyakit infeksi dan epidemiologi dari
CDC, dokter dari universitas, rumah rumah sakit.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Program imunisasi di Indonesia telah di atur oleh Kementerian Kesehatan Republik
Indoneisa. Pemerintah bertanggung jawab atas disetujuinya sasaran jumlah penerima
imunisasi, kelompok berumur juga tata cara memberikan vaksin pada sasaran. Pelaksanaan
program imunisasi dilakukan oleh satuan pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta.

Imunisasi merupakan salah satu cara penundaan atau pencegahan penyakit menular,
khususnya pada penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi (PD3I) yang diberikan kepada
tidak hanya anak-anak sejak bayi hingga remaja tetapi juga kepada orang dewasa. Sehingga
masyarakat harus mengetahui pentingnya imunisasi untuk keberlangsung hidup kedepannya.

B. Saran
Perlu adanya kesadaran yang dimulai dari diri sendiri khususnya bagi orang dewasa
dan peran serta aktif dari orang tua anak khususnya para ibu dalam melaksanakan program
imunisasi dengan cara pergi mengikuti imunisasi yang diadakan oleh lembaga kesehatan
seperti posyandu dan memahami pentingnya imunisasi dilakukan dengan tujuan memberikan
kekebalan dan mencegah suatu penyakit.
DAFTAR PUSTAKA

Kemenkes RI. 2015. Buku Ajar Imunisasi. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan
: Jakarta Selatan. http//www.pdpersi.co.id/pusdiknakes/

Agnes W. P. 2011. Pengaruh Penyuluhan Imunisasi Terhadap Peningkatan Pengetahuan


Dan Sikap Ibu Tentang Imunisasi Dasar Lengkap Pada Bayi Sebelum Usia 1 Tahun.
Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan. 2014. Buku Ajar Imunisasi. Jakarta
Selatan

Saragi RH. 2017. Imunisasi Pada Orang Dewasa. Artikel Imunisasi. Universitas Sumatera
Utara. https://www.researchgate.net/publication/315487667

Anda mungkin juga menyukai