Makalah Imunisasi
Makalah Imunisasi
Disusun Oleh :
Rahayu Wulan Resta
191714
Tingkat II
Akademi Keperawatan Fatima Parepare
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang
telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada saya sehingga
saya bisa menyelesaikan makalah“ Imunisasi” dengan lancar demi
memenuhi tugas matakuliah Keperawatan Anak.
A. LATAR BELAKANG
Kegiatan imunisasi merupakan salah satu kegiatan
prioritas Kementerian Kesehatan, sebagai salah satu bentuk
nyata komitmen pemerintah untuk mencapai Millenium
Development Goals (MDGs) khususnya untuk menurunkan
angka kematian pada anak (Kemenkes RI, 2010). Kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi membawa program imunisasi
kedalam penyelenggaraan yang bermutu dan efisien. Upaya
tersebut didukung dengan kemajuan yang pesat dalam bidang
penemuan vaksin baru. Beberapa jenis vaksin dapat digabung
sebagai vaksin kombinasi yang terbukti dapat meningkatkan
cakupan imunisasi, mengurangi jumlah suntikan dan kontak
dengan petugas imunisasi (Kementerian Kesehatan, 2005).
Imunisasi merupakan suatu progam yang dengan sengaja
memasukkan antigen lemah agar merangsang antibodi keluar
sehingga tubuh dapat resisten resisten terhadap penyakit
tertentu. Sistem imun tubuh mempunyai suatu sistem memori
(daya ingat), ketika vaksin masuk ke dalam tubuh, maka akan
dibentuk antibodi untuk melawan vaksin tersebut dan sistem
memori akan menyimpannya sebagai suatu pengalaman. Jika
nantinya tubuh terpapar dua atau tiga kali oleh antigen yang
sama dengan vaksin maka antibody akan tercipta lebih cepat dan
banyak walaupun antigen bersifat lebih kuat dari vaksin yang
pernah dihadapi sebelumnya.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja dasar hukum penyelenggaraan imunisasi?
2. Apa tujuan dari imunisasi?
3. Apa pengertian imunisasi?
4. Apa manfaat imunisasi?
5. Apa saja jenis enyakit yang dapatdicegah dengan imunisasi?
6. Apa saja jenis-jenis imunisasi?
7. Bagaimana jadwal imunisasi?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui dasar huum penyelenggaraan imunisasi.
2. Untuk mengetahui tujuan dari imunisasi.
3. Untuk mengetahui pengertian imunisasi.
4. Untuk mengetahui manfaat imunisasi.
5. Untuk mengetahui jenis enyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi.
6. Untuk mengetahui jenis-jenis imunisasi.
7. Untuk mengetahui jadwal imunisasi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFENISI IMUNISASI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), imunisasi diartikan
“pengebalan” (terhadap penyakit). Kalau dalam istilah kesehatan, imunisasi
diartikan pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu.
Biasanya imunisasi bisa diberikan dengan cara disuntikkan maupun diteteskan
pada mulut anak balita (bawah lima tahun)
Imunisasi merupakan salah satu cara pencegahan penyakit menular
khususnya penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) yang
diberikan kepada tidak hanya anak sejak bayi hingga remaja tetapi juga pada
dewasa. Cara kerja imunisasi yaitu dengan memberikan antigen bakteri atau
virus tertentu yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan
merangsang sistem imun tubuh untuk membentuk antibodi. Antibodi
menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif sehingga
dapat mencegah atau mengurangi akibat penularan PD3I tersebut. (Depkes,
2016)
C. JENIS-JENIS IMUNISASI
Imunisasi Program adalah Imunisasi yang diwajibkan kepada seseorang
sebagai bagian dari masyarakat dalam rangka melindungi yang bersangkutan
dan masyarakat sekitarnya dari penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi.
Imunisasi Program terdiri atas Imunisasi rutin, Imunisasi tambahan, dan
Imunisasi khusus (Kemenkes RI, 2017)
1. Imunisasi program
Imunisasi Program terdiri atas:
a. Imunisasi rutin
i. Imunisasi dasar
Imunisasi dasar diberikan pada bayi sebelum berusia 1 (satu) tahun dan
terdiri atas imunisasi terhadap penyakit:
hepatitis B
poliomyelitis
tuberkulosis
difteri
pertusis
tetanus
pneumonia dan meningitis yang disebabkan oleh Hemophilus
Influenza tipe b (Hib)
campak.
ii. Imunisasi lanjutan.
Imunisasi lanjutan merupakan ulangan Imunisasi dasar
untukmempertahankan tingkat kekebalan dan untuk memperpanjang masa
perlindungan anak yang sudah mendapatkan Imunisasi dasar.
Imunisasi lanjutan diberikan pada:
anak usia bawah dua tahun (Baduta)
Imunisasi lanjutan yang diberikan pada Baduta terdiri atas
imunisasi terhadap penyakit difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B,
pneumonia dan meningitis yang disebabkan oleh Hemophilus
Influenza tipe b (Hib), serta campak.
anak usia sekolah dasar
Imunisasi lanjutan yang diberikan pada anak usia sekolah dasar
terdiri atas Imunisasi terhadap penyakit campak, tetanus, dan
difteri yang diberikan pada bulan imunisasi anak sekolah (BIAS)
yang diintegrasikan dengan usaha kesehatan sekolah.
wanita usia subur (WUS).
Imunisasi lanjutan yang diberikan pada WUS terdiri atas
Imunisasi terhadap penyakit tetanus dan difteri.
b. Imunisasi tambahan
Imunisasi tambahan merupakan jenis Imunisasi tertentu yang diberikan pada
kelompok umur tertentu yang paling berisiko terkena penyakit sesuai dengan
kajian epidemiologis pada periode waktu tertentu. Pemberian Imunisasi
tambahan sebagaimana dilakukan untuk melengkapi Imunisasi dasar dan/atau
lanjutan pada target sasaran yang belum tercapai.
c. Imunisasi khusus
Imunisasi khusus dilaksanakan untuk melindungi seseorang dan masyarakat
terhadap penyakit tertentu pada situasi tertentu. Situasi tertentu berupa
persiapan keberangkatan calon jemaah haji/umroh, persiapan perjalanan
menuju atau dari negara endemis penyakit tertentu, dan kondisi kejadianluar
biasa/wabah penyakit tertentu.Imunisasi khususberupa Imunisasi terhadap
meningitis meningokokus, yellow fever (demam kuning), rabies, dan
poliomyelitis.
Imunisasi kekebalan tubuh ada 2 macam, yaitu:
a. Imunisasi aktif
Imunisasi aktif dapat timbul ketika seseorang bersinggungan dengan, sebagai
contoh, mikroba. Sistem kekebalan akan membentuk antibodi dan
perlindungan/perlawanan lainnya terhadap mkroba. Imunisasi aktif buatan
adalah dimana mikroba, atau bagian darinya, diinjeksikan kepada seseorang
sebelum ia dapat melakukannya secara alami. Contoh vaksin hidup yang telah
dilemahkan meliputi tampek, gondongan, rubella, atau kombinasi ketiganya
dalam satu vaksin sebagai vaksin MMR, demam kuning (yellow fever), cacar
air (varicella), rotavirus, dan vaksin influenza.
b. Imunisasi pasif
Imunisasi pasif adalah elemen-elemen pra-sintesa dari sistem kekebalan
yang dipindahkan kepada seseorang, sehingga tubuhnya tidak perlu
membuatnya sendiri elemen-elemen tersebut. Akhir-akhir ini, antibodi dapat
digunakan untuk imunisasi pasif. Metode imunisasi ini bekerja sangat cepat,
tetapi juga berakhir cepat, karena antibodi akan pecah dengan sendirinya, dan
jika tak ada sel-sel B untuk membuat lebih banyak antibodi, maka mereka akan
hilang. Imunisasi pasif terdapat secara fisiologi, ketika antibodi-antibodi
dipindahkan dari ibu ke janin selama kehamilan, untuk melindungi janin
sebelum dan sementara waktu sesudah kelahiran. Imunisasi pasif buatan
umumnya diberikan melalui injeksi dan digunakan jika ada wabah penyakit
tertentu atau penanganan darurat keracunan, seperti pada tetanus. Antibodi-
antibodi ini dapat dibuat menggunakan binatang, dinamai “terapi serum”,
meskipun ada kemungkinan besar terjadinya syok anafilaksis, karena sistem
kekebalan yang melawan serum binatang tersebut. Jadi, antibodi manusia
dihasilkan secara in vitro melalui kultur sel dan digunakan menggantikan
antibodi dari binatang, jika tersedia.
2. Imunisasi Dasar
5 Macam Imunisasi dasar :
a. Vaksin BCG
Vaksin BCG mengandung kuman BCG yang masih hidup namun telah
dilemahkan. Imunisasi BCG berfungsi untuk mencegah penularan Tuberkulosis
(TBC) tuberkulosis disebabkan oleh sekelompok bakteria bernama
Mycobacterium tuberculosis complex.
1) Penyimpanan :lemari es, suhu 2-8º C
2) Dosis :0.05 ml
3) Kemasan :ampul dengan bahan pelarut 4 ml (NaCl Faali)
4) Masa kadaluarsa :satu tahun setelah tanggal pengeluaran (dapat dilihat
pada label)
5) Reaksi imunisasi :biasanya tidak demam
6) Cara pemberian
Imunisasi BCG disuntikan secara intrakutan di daerah lengan kanan
atas. Disuntikan ke dalam lapisan kulit dengan penyerapan pelan-pelan.
Dalam memberikan suntikan intrakutan, agar dapat dilakukan dengan
tepat, harus menggunakan jarum pendek yang sangat halus (10 mm,
ukuran 26).
7) Efek samping :jarang dijumpai, bisa terjadi pembeng-kakan
kelenjar getah bening setempat yang terbatas dan biasanya menyembuh
sendiri walaupun lambat
8) Kontra Indikasi :tidak ada larangan, kecuali pada anak yang
berpenyakit TBC atau uji mantoux positif dan adanya penyakit kulit
berat/menahun.
b. Vaksin DPT (Diphteri, Pertusis, Tetanus)
Di Indonesia ada 3 jenis kemasan : kemasan tunggal khusus tetanus,
kombinasi DT (diphteri tetanus) dan kombinasi DPT. Vaksin diphteri terbuat
dari toksin kuman diphteri yang telah dilemahkan (toksoid), biasanya diolah
dan dikemas bersama-sama dengan vaksin tetanus dalam bentuk vaksin DT,
atau dengan vaksin tetanus dan pertusis dalam bentuk vaksin DPT.
1) Penyimpanan : lemari es, suhu 2-8º C
2) Dosis : 0.5 ml, tiga kali suntikan, interval minimal 4 mg
3) Kemasan : Vial 5 ml
4) Masa kadaluarsa : Dua tahun setelah tanggal pengeluaran (dapat dilihat
pada label)
5) Reaksi imunisasi :demam ringan, pembengkakan dan nyeri di tempat
suntikan selama 1-2 hari
6) Efek samping :Gejala-gejala yang bersifat sementara seperti lemas,
demam, kemerahan pada tempat suntikan. Kadang-kadang terdapat efek
samping yang lebih berat, seperti demam tinggi atau kejang, yang
biasanya disebabkan unsur pertusisnya.
7) Indikasi kontra :Anak yang sakit parah, anak yang menderita penyakit
kejang demam kompleks, anak yang diduga menderita batuk rejan, anak
yang menderita penyakit gangguan kekebalan. Batuk, pilek, demam atau
diare yang ringan bukan merupakan kotra indikasi yang mutlak,
disesuaikan dengan pertimbangan dokter.
c. Vaksin Poliomielitis
Terdapat 2 jenis vaksin dalam peredaran, yang masing-masing mengandung
virus polio tipe I, II dan III; yaitu (1) vaksin yang mengandung virus polio yang
sudah dimatikan (salk), biasa diberikan dengan cara injeksi, (2) vaksin yang
mengandung virus polio yang hidup tapi dilemahkan (sabin), cara pemberian
per oral dalam bentuk pil atau cairan (OPV) lebih banyak dipakai di Indonesia.
1) Penyimpanan : OPV : Freezer, suhu -20º C
2) Dosis : 2 tetes mulut
3) Kemasan : vial, disertai pipet tetes
4) Masa kadaluarsa : OPV : dua tahun pada suhu -20°C
5) Reaksi imunisasi : biasanya tidak ada, mungkin pada bayi ada
berak-berak ringan
6) Efek samping : hampir tidak ada, bila ada berupa kelumpuhan anggota
gerak seperti polio sebenarnya.
7) Kontra Indikasi : diare berat, sakit parah, gangguan kekebalan
d. Vaksin Campak
Mengandung vaksin campak hidup yang telah dilemahkan. Kemasan untuk
program imunisasi dasar berbentuk kemasan kering tunggal. Namun ada vaksin
dengan kemasan kering kombinasi dengan vaksin gondong/ mumps dan rubella
(campak jerman) disebut MMR.
1) Penyimpanan :Freezer, suhu -20º C
2) Dosis :setelah dilarutkan, diberikan 0.5 ml
3) Kemasan :vial berisi 10 dosis vaksin yang dibekukeringkan, beserta
pelarut 5 ml (aquadest)
4) Masa kadaluarsa :2 tahun setelah tanggal pengeluaran (dapat dilihat
pada label)
5) Reaksi imunisasi :biasanya tidak terdapat reaksi. Mungkin terjadi
demam ringan dan sedikit bercak merah pada pipi di bawah telinga pada
hari ke 7-8 setelah penyuntikan, atau pembengkakan pada tempat
penyuntikan.
6) Efek samping :sangat jarang, mungkin dapat terjadi kejang
7) ringan dan tidak berbahaya pada hari ke 10-12 setelah penyuntikan.
Dapat terjadi radang otak 30 hari setelah penyuntikan tapi angka
kejadiannya sangat rendah.
8) Kontra Indikasi :sakit parah, penderita TBC tanpa pengobatan, kurang
gizi dalam derajat berat, gangguan
9) kekebalan, penyakit keganasan. Dihindari pula pemberian pada ibu
hamil.
e. Vaksin Hepatitis B
Imunisasi aktif dilakukan dengan suntikan 3 kali dengan jarak waktu satu
bulan antara suntikan 1 dan 2, lima bulan antara suntikan 2 dan 3. Namun cara
pemberian imunisasi tersebut dapat berbeda tergantung pabrik pembuat vaksin.
Vaksin hepatitis B dapat diberikan pada ibu hamil dengan aman dan tidak
membahayakan janin, bahkan akan membekali janin dengan kekebalan sampai
berumur beberapa bulan setelah lahir.
1) Reaksi imunisasi :nyeri pada tempat suntikan, yang mungkin disertai
rasa panas atau pembengkakan. Akan menghilang dalam 2 hari.
2) Dosis :0.5 ml sebanyak 3 kali pemberian
3) Kemasan :HB PID
4) Efek samping :selama 10 tahun belum dilaporkan ada efek samping
yang berarti
5) Indikasi kontra :anak yang sakit berat.
6) Vaksin DPT/ HB (COMBO)
7) Mengandung DPT berupa toxoid difteri dan toxoid tetanus yang
dimurnikan dan pertusis yang inaktifasi serta vaksin Hepatitis B yang
merupakan sub unit vaksin virus yang mengandung HbsAg murni dan
bersifat non infectious.
8) Dosis :0.5 ml sebanyak 3 kali
9) Kemasan :Vial 5 ml
10)Efek samping :gejala yang bersifat sementara seoerti lemas, demam,
pembengkakan dan kemerahan daerah suntikan. Kadang terjadi gejala
berat seperti demam tinggi, iritabilitas, meracau yang terjadi 24 jam
setelah imunisasi. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan biasanya
hilang dalam 2 hari
11)Kontra indikasi:gejala keabnormalan otak pada bayi baru lahir atau
gejala serius keabnormalan pada saraf yang merupakan kontraindikasi
pertusis, hipersensitif terhadap komponen vaksin, penderia infeksi berat
yang disertai kejang
D. TUJUAN IMUNISASI
Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit
tertentu pada seseorang, dan menghilangkan penyakit tersebut pada
sekelompok masyarakat (populasi), atau bahkan menghilangkannya dari dunia
seperti yang kita lihat pada keberhasilan imunisasi cacar variola (Ranuh dkk,
2014).
Program imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebalan kepada bayi agar
dapat mencegah penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan oleh
penyakit yang sering berjangkit (Proverawati dan Andhini, 2010).
Menurut Permenkes RI Nomor 12 tahun 2017 disebutkan bahwa tujuan
umum Imunisasi turunnya angka kesakitan, kecacatan dan kematian akibat
Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).
Tujuan khusus program ini adalah sebagai berikut:
1) Tercapainya cakupan Imunisasi dasar lengkap (IDL) pada bayi sesuai target
RPJMN.
2) Tercapainya Universal Child Immunization/UCI (Prosentase minimal 80%
bayi yang mendapat IDL disuatu desa/kelurahan) di seluruh desa/kelurahan
3) Tercapainya target Imunisasi lanjutan pada anak umur di bawah dua tahun
(baduta) dan pada anak usia sekolah dasar serta Wanita Usia Subur (WUS).
4) Tercapainya reduksi, eliminasi, dan eradikasi penyakit yang dapat dicegah
dengan Imunisasi.
5) Tercapainya perlindungan optimal kepada masyarakat yang akan berpergian
ke daerah endemis penyakit tertentu
6) Terselenggaranya pemberian Imunisasi yang aman serta pengelolaan limbah
medis (safety injection practise and waste disposal management).
( Kemenkes RI, 2017).
E. MANFAAT IMUNISASI
Pemberian imunisasi memiliki manfaat diantaranya yaitu:
1. Untuk anak: mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan
kemungkinan cacat atau kematian.
2. Untuk keluarga: menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan
bila anak sakit. Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua
yakin bahwa anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman.
3. Untuk negara: memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa
yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara.
2. Difteri.
Penyakit Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Corynebacterium Diphteriae. Mudah menular dan menyerang terutama saluran
napas bagian atas dengan gejala Demam tinggi, pembengkakan pada amandel
(tonsil ) dan terlihat selaput putih kotor yang makin lama makin membesar dan
dapat menutup jalan napas. Racun difteri dapat merusak otot jantung yang
dapat berakibat gagal jantung. Penularan umumnya melalui udara
(betuk/bersin) selain itu dapat melalui benda atau makanan yang
terkontamiasi.Pencegahan paling efektif adalah dengan imunisasi bersamaan
dengan tetanus dan pertusis sebanyak tiga kali sejak bayi berumur dua bulan
dengan selang penyuntikan satu–dua bulan.
3. Pertusis
Penyakit Pertusis atau batuk rejan atau dikenal dengan “ Batuk Seratus Hari
“ adalah penyakit infeksi saluran yang disebabkan oleh bakteri Bordetella
Pertusis. Gejalanya khas yaitu batuk yang terus menerus sukar berhenti, muka
menjadi merah atau kebiruan dan muntah kadang-kadang bercampur darah.
Batuk diakhiri dengan tarikan napas panjang dan dalam berbunyi
melengking.Penularan umumnya terjadi melalui udara (batuk/bersin).
Pencegahan paling efektif adalah dengan melakukan imunisasi bersamaan
dengan Tetanus dan Difteri sebanyak tiga kali sejak bayi berumur dua bulan
dengan selang pentuntikan.
4. Tetanus
Penyakit tetanus merupakan salah satu infeksi yan berbahaya karena
mempengaruhi sistim urat syaraf dan otot. Gejala tetanus umumnya diawali
dengan kejang otot rahang (dikenal juga dengan trismus atau kejang mulut)
bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher,
bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut,
lengan atas dan paha. Neonatal tetanus umumnya terjadi pada bayi yang baru
lahir. Neonatal tetanus menyerang bayi yang baru lahir karena dilahirkan di
tempat yang tidak bersih dan steril, terutama jika tali pusar terinfeksi.
5. Polio
Gejala yang umum terjadi akibat serangan virus polio adalah anak mendadak
lumpuh pada salah satu anggota geraknya setelah demam selama 2-5 hari.
Terdapat 2 jenis vaksin yang beredar, dan di Indonesia yang umum diberikan
adalah vaksin Sabin (kuman yang dilemahkan). Cara pemberiannya melalui
mulut. Di beberapa negara dikenal pula Tetravaccine, yaitu kombinasi DPT dan
polio. Imunisasi dasar diberikan sejak anak baru lahir atau berumur beberapa
hari dan selanjutnya diberikan setiap 4-6 minggu.
6. Influenza
Influenza adalah penyakit infeksi yang mudah menular dan disebabkan oleh
virus influenza, yang menyerang saluran pernapasan. Penularan virus terjadi
melalui udara pada saat berbicara, batuk dan bersin, Influenza sangat menular
selama 1 – 2 hari sebelum gejalanya muncul, itulah sebabnya penyebaran virus
ini sulit dihentikan.Berlawanan dengan pendapat umum, influenza bukan batuk
– pilek biasa yang tidak berbahaya. Gejala Utama infleunza adalah: Demam,
sakit kepala, sakit otot diseluruh badan, pilek, sakit tenggorok, batuk dan badan
lemah.
7. Demam Tifoid
Penyakit Demam Tifoid adalah infeksi akut yang disebabkan oleh
Salmonella Typhi yang masuk melalui saluran pencernaan dan menyebar
keseluruh tubuh (sistemik), Bakteri ini akan berkembang biak di kelenjar getah
bening usus dan kemudian masuk kedalam darah sehingga meyebabkan
penyebaran kuman dalam darah dan selanjutnya terjadilah peyebaran kuman
kedalam limpa, kantung empedu, hati, paru-paru, selaput otak dan sebagainya.
8. Hepatitis
Penyakit hepatitis disebabkan oleh virus hepatitis tipe B yang menyerang
kelompok resiko secara vertikal yaitu bayi dan ibu pengidap, sedangkan secara
horizontal tenaga medis dan para medis, pecandu narkoba, pasien yang
menjalani hemodialisa, petugas laboratorium, pemakai jasa atau petugas
akupunktur.
9. Meningitis
Penyakit radang selaput otak (meningitis) yang disebabkan bakteri
Haemophyllus influenzae tipe B atau yang disebut bakteri Hib B merupakan
penyebab tersering menimbulkan meningitis pada anak berusia kurang dari
lima tahun. Penyakit ini berisiko tinggi, menimbulkan kematian pada bayi. Bila
sembuh pun, tidak sedikit yang menyebabkan cacat pada anak. Meningitis
bukanlah jenis penyakit baru di dunia kesehatan. Meningitis adalah infeksi
pada lapisan otak dan urat saraf tulang belakang. Penyebab meningitis sendiri
bermacam-macam, sebut saja virus dan bakteri. Meningitis terjadi apabila
bakteri yang menyerang menjadi ganas ditambah pula dengan kondisi daya
tahan tubuh anak yang tidak baik, kemudian ia masuk ke aliran darah, berlanjut
ke selaput otak. Nila sudah menyerang selaput otak (meningen) dan terjadi
infeksi maka disebutlah sebagai meningitis.
11. Varisela
Cacar air merupakan penyakit menular yang menimbulkan bekas bopeng di
beberapa bagian tubuh. Penyakit yang disebabkan oleh virus varicella ini bisa
dicegah dengan pemberian vaksin varicella.
12. Hepatitis A
Hepatitis A merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis tipe A
dan menyerang sel-sel hati manusia. Setiap tahunnya di Asia Tenggara, kasus
hepatitis A menyerang sekitar 400.000 orang per tahunnya dengan angka
kematian hingga 800 jiwa. Sebagian besar penderita hepatitis A adalah anak-
anak.
Catatan :
Pemberian Hepatitis B paling optimal diberikan pada bayi <24 jam
pasca persalinan, dengan didahului suntikan vitamin K1 2-3 jam
sebelumnya, khusus daerah dengan akses sulit, pemberian Hepatitis
B masih diperkenankan sampai <7 hari.
Bayi lahir di Institusi Rumah Sakit, Klinik dan Bidan Praktik Swasta,
Imunisasi BCG dan Polio 1 diberikan sebelum dipulangkan.
Pemberian BCG optimal diberikan sampai usia 2 bulan, dapat
diberikan sampai usia <1 tahun tanpa perlu melakukan tes mantoux.
Bayi yang telah mendapatkan Imunisasi dasar DPT-HBHib 1, DPT-
HB-Hib 2, dan DPT-HB-Hib 3 dengan jadwal dan interval
sebagaimana Tabel 1, maka dinyatakan mempunyai status Imunisasi
T2.
IPV mulai diberikan secara nasional pada tahun 2016
Pada kondisi tertentu, semua jenis vaksin kecuali HB 0 dapat
diberikan sebelum bayi berusia 1 tahun.
b. Imunisasi Lanjutan
Jadwal Imunisasi Lanjutan pada Anak Bawah Dua Tahun
Interval minimal untuk jenis
Umur Jenis
Imunisasi yang sama
12 bulan dari DPT-HB-Hib
DPT-HB-Hib
3
18 bulan
6 bulan dari Campak dosis
Campak
pertama
Catatan:
Pemberian Imunisasi lanjutan pada baduta DPT-HB-Hib dan
Campak dapat diberikan dalam rentang usia 18-24 bulan
Baduta yang telah lengkap Imunisasi dasar dan mendapatkan
Imunisasi lanjutan DPT-HB-Hib dinyatakan mempunyai status
Imunisasi T3.
BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Untuk melindungi bayi dan anak dari penyakit yang membahayakan fisik dan jiwa
anak, maka mereka perlu diimunisasi.
Ibu hamil juga perlu mendapatkan imunisasi untuk melindungi diri sendiri beserta
bayi yang dikandungnya terhadap tetanus. Maka peran suami, ibu, calon ibu, sanagt
dibutuhkan demi melindungi bayi dan anak dari penyakit mematikan maupun cacat
seumur hidup.
Di Indonesia, program imunisasi diatur oleh Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. Pemerintah, bertanggungjawab menetapkan sasaran jumlah penerima
imunisasi, kelompok umur serta tatacara memberikan vaksin pada sasaran. Pelaksaan
program imunisasi dilakukan oleh unit pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta.
Imunisasi merupakan salah satu cara pencegahan penyakit menular khususnya
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) yang diberikan kepada tidak
hanya anak sejak bayi hingga remaja tetapi juga pada dewasa. Jenis-jenis penyakit
yang dapat dicegah dengan imunisasi yaitu TBC (Tuberculosis), difteri, pertusis,
tetanus, polio, influenza, demam tifoid, hepatitis, meningitis, pneumokokus, mmr
((mumps measles rubella), rotavirus, varisela dan hepatitis A .
SUMBER REFERENSI
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/121/jtptunimus-gdl-rokhaelisy-6023-2-babii.pdf
https://www.academia.edu/36151802/MAKALAH_IMUNISASi
http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-content/uploads/2017/10/03Buku-Ajar-
Imunisasi-06-10-2015-small.pdf
https://id.scribd.com/doc/38675927/Makalah-Tentang-Imunisasi