Pentingnya Imunisasi untuk Anak
Pentingnya Imunisasi untuk Anak
PENDAHULUAN
Manfaat imunisasi secara ilmiah dan secara umum sudah terbukti aman.
Tingkat perlindungan yang diberikan jauh lebih besar ketimbang efek samping
yang mungkin timbul. Efek samping imunisasi juga lebih ringan, ketimbang
efek bila anak tak diimunisasi. Begitupun tuduhan sebagai penyebab autisma,
juga tak terbukti. Jadi, tak ada alasan untuk menolak pemberian vaksin selama
si kecil dalam kondisi sehat, pertumbuhannya baik, dan tidak memiliki riwayat
alergi imunisasi (Growupclinic.com, 2012)
1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari imunisasi ?
2. Apa saja jenis imunisasi ?
3. Apa efek samping dari imunisasi ?
4. Apa penyakit-penyakit yang dapat diderita pada anak yang tidak
diimunisasi ?
5. Kapan jadwal pemberian imunisasi pada anak ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa definisi dari imunisasi
2. Untuk mengetahui jenis-jenis imunisasi
3. Untuk mengetahui efek samping dari imunisasi
4. Untuk mengetahui penyakit-penyakit yang diderita pada anak yang tidak
diimunisasi
5. Untuk mengetahui jadwal pemberian imunisasi pada anak
1.4 Manfaat Penulisan
1. Bagi Orangtua
Mengetahui banyak manfaat dari imunisasi terhadap pertumbuhan dan
perkembangan bagi anak, sehingga akan rutin dan lengkap dalam
memberikan imunisasi pada anaknya.
2. Bagi Tenaga Kesehatan
Dapat memberikan penyuluhan yang lebih optimal kepada masyarakat
tentang pentingnya, agar semua anak dapat memperoleh imunisasi yang
lengkap.
1.5 Batasan Masalah
Agar penulisa lebih terarah, terfokus dan tidak meluas. Penulis lebih
memfokuskan membatasi penulisan mengenai pentingnya imunisasi bagi
pertumbuhan dan perkembangan pada anak.
1.6 Hipotesis
Imunisasi penting terhadap tumbuh kembang anak, yang dapat
meningkatkan sistem imun tubuh pada anak sehingga terhindar dari penyakit.
Maka dari itu pemberian imunisasi harus rutin dan lengkap.
2
BAB II
LANDASAN TEORI
Imunisasi berasal dari kata imun, yaitu kebal atau resisten. Bayi di
imunisasikan berarti diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu
(Hidayat, 2008).
3
salah satu pencegahan penyakit infeksi senus yang paling efektif (Proverawati
dan Andhini, 2010).
4
Imunisasi di bagi menjadi dua yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif.
1. Imunisasi Aktif
2. Imunisasi pasif
5
Sekarang, tidak dibedakan lagi imunisasi yang diwajibkan dan yang
dianjurkan, mengingat semua imunisasi HARUS diberikan pada bayi dan
anak. Berikut jenis-jenis Imunisas
1. Imunisasi BCG
Berisi suspensi M.Bovis hidup yang sudah dilemahkan. Imunisasi ini tidak
mencegah infeksi Tuberkulosis (TB) tetapi mengurangi risiko terjadinya TB
berat seperti meningitis TB dan TB milier.
2. Imunisasi Hepatitis B
3. Imunisasi Polio
4. Imunisasi DPT
Terdapat jenis vaksin DtaP (pertusis aselular) atau yang pada orang awam
dianggap sebagai vaksin DTP yang tidak menimbulkan demam. Meskipun
reaksi paska imunisasi DtaP baik lokal maupun sistemik lebih rendah
dibanding DTP biasa, namun vaksin tersebut masih dapat menimbulkan reaksi
demam dan pembengkakan seperti jenis vaksin lain.
6
5. Imunisasi Campak
6. Imunisasi HIB
Tersedia vaksin kombinasi DTP dan HIB dengan daya imunogenitas yang
tetap tinggi tanpa mempengaruhi respon imun satu sama lainnya.
7. Imunisasi PCV
8. Imunisasi ROTAVIRUS
9. Imunisasi INFLUENZ
7
10.Imunisasi VARISELA
Tidak boleh diberikan pada anak yang sedang demam tinggi, hitung
limfosit yang rendah, alergi terhadap neomisin, dan adanya defisiensi imun
seluler.
Tifoid atau yang lebih dikenal dengan thypus adalah penyakit akut yang
disebabkan oleh bakteri salmonella typhi. Bakteri ini sering ditemukan di air
dan lingkungan tempat tinggal yang tidak dijaga kebersihannya.
Hepatitis A adalah penyakit peradangan pada liver (hati) yang tidak jarang
pula menjangkit anak-anak.
Jadwal pemberian imunisasi HPV tergantung dari jenis vaksin yang akan
digunakan. Imunisasi ini dapat diberikan pada pasien sejak usia 10 tahun. Jika
menggunakan vaksin HPV bivalen, diberikan 3 dosis. Dosis kedua dilakukan
sebulan setelah dosis pertama, dan dosis ketiga dilakukan 5 bulan kemudian.
Sedangkan vaksin HPV tetravalen, juga diberikan 3 dosis, namun dosis kedua
diberikan 2 bulan setelah dosis pertama, dan dosis ketiga diberikan 4 bulan
kemudian.
8
2.1.3 Efek Samping Imunisasi
A. BCG
Umur : 0 – 11 bln
Dosis : 0,5 cc
Efek samping :
1. Reaksi normal
2. Reaksi berat
Kadang terjadi peradangan setempat yang agak berat atau abses yang
lebih dalam, kadang juga terjadi pembengkakan di kelenjar limfe pada
leher / ketiak, hal ini disebabkan kesalahan penyuntikan yang terlalu
dalam dan dosis yang terlalu tinggi.
9
3. Reaksi yang lebih cepat
Umur : 2 – 11 bln
Dosis : 0,5 cc
1. Panas
10
3. Peradangan
Bila pembengkakan terjadi seminggu atau lebih, maka hal ini mungkin
disebabkan peradangan, mungkin disebabkan oleh jarum suntik yang tidak
steril karena :
- Tersentuh
4. Kejang-kejang
C. Polio
Umur : 0 – 11 bln
Dosis : 2 tetes
11
Efek samping :
Bila anak sedang diare ada kemungkinan vaksin tidak bekerja dengan
baik karena ada gangguan penyerapan vaksin oleh usus akibat diare
berat.
D. Hepatitis B
Jumlah suntikan : 3 x
E. Campak
Umur : 9 bln.
Dosis : 0, 5 cc
12
Anak-anak mungkin panas selama 1 – 3 hari setelah 1 minggu
penyuntikan, kadang disertai kemerahan seperti penderita campak
ringan.
F. HPV
Sakit kepala
o Nyeri, bengkak, gatal, memar, dan merah pada bagian kulit yang
disuntik
Demam
Nyeri tangan dan kaki
Mual
1. TBC (TUBERCULOSIS)
13
dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan. Imunisasi ini cukup diberikan
satu kali saja. Bila pemberian imunisasi ini “berhasil,” maka setelah
beberapa minggu di tempat suntikan akan timbul benjolan kecil. Karena
luka suntikan meninggalkan bekas, maka pada bayi perempuan, suntikan
sebaiknya dilakukan di paha kanan atas. Biasanya setelah suntikan BCG
diberikan, bayi tidak menderita demam.
2.DIFTERI
3.PERTUSIS
Penyakit Pertusis atau batuk rejan atau dikenal dengan “ Batuk Seratus
Hari “ adalah penyakit infeksi saluran yang disebabkan oleh bakteri
Bordetella Pertusis. Gejalanya khas yaitu batuk yang terus menerus sukar
berhenti, muka menjadi merah atau kebiruan dan muntah kadang-kadang
bercampur darah. Batuk diakhiri dengan tarikan napas panjang dan dalam
berbunyi melengking.Penularan umumnya terjadi melalui udara
(batuk/bersin). Pencegahan paling efektif adalah dengan melakukan
imunisasi bersamaan dengan Tetanus dan Difteri sebanyak tiga kali sejak
bayi berumur dua bulan dengan selang pentuntikan.
14
4. TETANUS
5. POLIO
Gejala yang umum terjadi akibat serangan virus polio adalah anak
mendadak lumpuh pada salah satu anggota geraknya setelah demam
selama 2-5 hari. Terdapat 2 jenis vaksin yang beredar, dan di Indonesia
yang umum diberikan adalah vaksin Sabin (kuman yang dilemahkan).
Cara pemberiannya melalui mulut. Di beberapa negara dikenal pula
Tetravaccine, yaitu kombinasi DPT dan polio. Imunisasi dasar diberikan
sejak anak baru lahir atau berumur beberapa hari dan selanjutnya diberikan
setiap 4-6 minggu. Pemberian vaksin polio dapat dilakukan bersamaan
dengan BCG, vaksin hepatitis B, dan DPT. Imunisasi ulangan diberikan
bersamaan dengan imunisasi ulang DPT Pemberian imunisasi polio akan
menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit Poliomielitis. Imunisasi
polio diberikan sebanyak empat kali dengan selang waktu tidak kurang
dari satu bulan imunisasi ulangan dapat diberikan sebelum anak masuk
15
sekolah (5 – 6 tahun) dan saat meninggalkan sekolah dasar (12 tahun).Cara
memberikan imunisasi polio adalah dengan meneteskan vaksin polio
sebanyak dua tetes langsung kedalam mulut anak atau dengan
menggunakan sendok yang dicampur dengan gula manis. Imunisasi ini
jangan diberikan pada anak yang lagi diare berat. Efek samping yang
mungkin terjadi sangat minimal dapat berupa kejang-kejang.
6. CAMPAK
7. INFLUENZA
16
pendapat umum, influenza bukan batuk – pilek biasa yang tidak
berbahaya. Gejala Utama infleunza adalah: Demam, sakit kepala, sakit otot
diseluruh badan, pilek, sakit tenggorok, batuk dan badan lemah. Pada
Umumnya penderita infleunza tidak dapat bekerja/bersekolah selama
beberapa hari.Dinegara-negara tropis seperti Indonesia, influenza terjadi
sepanjang tahun. Setiap tahun influenza menyebabkan ribuan orang
meninggal diseluruh dunia. Biaya pengobatan, biaya penanganan
komplikasi, dan kerugian akibat hilangnya hari kerja (absen dari sekolah
dan tempat kerja) sangat tinggi.Berbeda dengan batuk pilek biasa influenza
dapat mengakibatkan komplikasi yang berat. Virus influenza
menyebabkan kerusakan sel-sel selaput lendir saluran pernapasan sehingga
penderita sangat mudah terserang kuman lain, seperti pneumokokus, yang
menyebabkan radang paru (Pneumonia) yang berbahaya. Selain itu,
apabila penderita sudah mempunyai penyakit kronis lain sebelumnya
(Penyakit Jantung, Paru-paru, ginjal, diabetes dll), penyakit-penyakit itu
dapat menjadi lebih berat akibat influenza.Vaksin influenza diberikan
dengan dosis tergantung usia anak. Pada usia 6-35 bulan cukup 0,25 mL.
Anak usia >3 tahun, diberikan 0,5 mL. Pada anak berusia 8 tahun, maka
dosis pertama cukup 1 dosisi saja.
8. DEMAM TIFOID
17
Minggu ketiga, suhu tubuh berangsung-angsur turun dan normal kembali
diakhir minggu. gangguan pada saluran pencernaan, nafas tak sedap, bibir
kering dan pecah-pecah, lidah ditutupi selaput lendir kotor, ujung dan
tepinya kemerahan. Bisa juga perut kembung, hati dan limpa membesar
serta timbul rasa nyeri bila diraba. Biasanya sulit buang air besar, tetapi
mungkin pula normal dan bahkan dapat terjadi diare. gangguan kesadaran,
Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak seberapa dalam,
yaitu menjadi apatis sampai somnolen. Bakteri ini disebarkan melalui
tinja. Muntahan, dan urin orang yang terinfeksi demam tofoid, yang
kemudian secara pasif terbawa oleh lalat melalui perantara kaki-kakinya
dari kakus kedapur, dan mengkontaminasi makanan dan minuman, sayuran
ataupun buah-buahan segar. Mengkonsumsi makanan / minuman yang
tercemar demikian dapat menyebabkan manusia terkena infeksi demam
tifoid. Salah satu cara pencegahannya adalah dengan memberikan
vaksinasi yang dapat melindungi seseorang selama 3 tahun dari penyakit
Demam Tifoid yang disebabkan oleh Salmonella Typhi. Pemberian
vaksinasi ini hampir tidak menimbulkan efek samping dan kadang-kadang
mengakibatkan sedikit rasa sakit pada bekas suntikan yang akan segera
hilang kemudian
9. HEPATITIS
10. MENINGITIS
18
merupakan penyebab tersering menimbulkan meningitis pada anak berusia
kurang dari lima tahun. Penyakit ini berisiko tinggi, menimbulkan
kematian pada bayi. Bila sembuh pun, tidak sedikit yang menyebabkan
cacat pada anak. Meningitis bukanlah jenis penyakit baru di dunia
kesehatan. Meningitis adalah infeksi pada lapisan otak dan urat saraf
tulang belakang. Penyebab meningitis sendiri bermacam-macam, sebut
saja virus dan bakteri. Meningitis terjadi apabila bakteri yang menyerang
menjadi ganas ditambah pula dengan kondisi daya tahan tubuh anak yang
tidak baik, kemudian ia masuk ke aliran darah, berlanjut ke selaput otak.
Nila sudah menyerang selaput otak (meningen) dan terjadi infeksi maka
disebutlah sebagai meningitis. IMUNISASI HiB dapat berupa vaksin PRP-
T (konjugasi) diberikan pada usia 2, 4, dan 6 bulan, dan diulang pada usia
18 bulan. Vaksin HiB juga dapat diberikan dalam bentuk vaksin
kombinasi. Apabila anak datang pada usia 1-5 tahun, HiB hanya diberikan
1 kali . Anak di atas usia 5 tahun tidak perlu diberikan karena penyakit ini
hanya menyerang anak dibawah usia 5 tahun. Saat ini, imunisasi HiB telah
telah masuk program pemerintah, yaitu vaksin Pentabio produksi Bio
Farma, vaksin HiB diberikan bersama DPT, Hepatitis B.
11. Pneumokokus
12. MMR
19
bulan dan diulang pada usia 6 tahun, imunisasi campak (monovalen)
tambahan pada usia 6 tahun tidak perlu lagi diberikan. Bila imunisasi
ulangan (booster) belum diberikan setelah berusia 6 tahun, berikan vaksin
campak/MMR kapan saja saat bertemu. Pada prinsipnya, berikan imunisai
campak 2 kali atau MMR 2 kali.
13. Rotavirus
20
nonstruktur (NSP1, NSP2, NSP3, NSP4, NSP 5). Dua struktur protein
yaitu VP7 yang terdiri dari protein G dan glikoprotein dan VP4 yang
terdiri dari protein P dan protease pembelahan protein, merupakan protein
yang melapisi bagian luar dari virus dan merupakan pertimbangan yang
penting untuk membuat vaksin dari rotavirus. Protein pembuat kapsid
bagian dalam paling banyak adalah VP6, dan sangat mudah ditemukan
dalam pemeriksaan antigen, sedangkan protein nonstruktur kapsid bagian
dalam adalah NSP4 yang merupakan sebagai faktor virulensi dari
rotavirus, meskipun protein lain juga terlibat dalam mempengaruhi
virulensi dari rotavirus. Angka kejadian kematian diare masih tinggi di
Indonesia dan untuk mencegah di are karena rotavirus, digunakan vaksin
rotavirus. Vaksin rotavirus yang beredar di Indonesia saat ini ada 2
macam. Pertama Rotateq diberikan sebanyak 3 dosis: pemberian pertama
pada usia 6-14 minggu dan pemberian ke-2 setelah 4-8 minggu kemudian,
dan dosisi ke-3 maksimal pada usia 8 bulan. Kedua, Rotarix diberikan 2
dosis: dosis pertama diberikan pada usia 10 minggu dan dosis kedua pada
usia 14 minggu (maksimal pada usia 6 bulan). Apabila bayi belum
diimunisasi pada usia lebih dari 6-8 bulan, maka tidak perlu diberikan
karena belum ada studi keamanannya
14. Varisela
Vaksin varisela (cacar air) diberikan pada usia >1 tahun, sebanyak 1
kali. Untuk anak berusia >13 tahun atau pada dewasa, diberikan 2 kali
dengan interval 4-8 minggu. Apabila terlambat, berikan kapan pun saat
pasien datang, karena imunisasi ini bisa diberikan sampai dewasa.
15. Hepatitis A
21
pada usia lebih dari 2 tahun, dengan ulangan setiap 3 tahun. Vaksin tifoid
merupakan vaksin polisakarida sehingga di atas usia 2 tahun.
Triwulan I tahun 2017, Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI telah
menerbitkan jadwal rekomendasi pemberian imunisasi yang terbaru, yang
dimuat di http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-
2017. Rekomendasi terakhir sebelumnya keluar tahun 2014, setidaknya
yang dimuat di website resmi mereka, walaupun ada juga yang
mengedarkan tabel rekomendasi vaksinasi dari IDAI tahun 2016
(selengkapnya bisa dibaca di postingan saya yang ini: Siap-siap Imunisasi
2 Tahun).
Berikut ini jadwal terbaru imunisasi IDAI, yang memang sedikit berbeda
dengan versi Kementerian Kesehatan (yang disubsidi atau gratis).
22
Kemudian ada juga penjelasan alternatif penyesuaian jadwal pemberian
apabila vaksin Hepatitis B diberikan bersamaan dengan pilihan vaksin
DPT yang ada, apakah vaksin DTPw (yang vaksin pertusisnya whole
cell/utuh dan sering disebut sebagai ‘yang panas’ padahal tidak selalu)
atau vaksin DTPa (vaksin pertusisnya aseluler, sering dibilang ‘nggak
bikin demam’, padahal kemungkinannya tetap ada sih). Juga dipaparkan
saran terkait pemakaian vaksin polio tetes (oral/OPV) atau suntik
(inactivated/IPV).
Yang baru juga adalah penyebutan adanya vaksin MR. Dahulu yang
dipakai di Indonesia hanya vaksin MMR, kemudian stok vaksin ini kosong
secara nasional selama sekitar setahun belakangan (anak kedua saya masih
sempat menerima dosis pertamanya awal tahun kemarin, tetapi ketika
kakaknya mau booster di usia kelima pada akhir tahun, sudah tidak dapat
lagi), mungkin ada yang bisa bawa (hand carry) dari luar negeri tapi
cukup langka. Nah, dulu dengar-dengar wacananya akan digantikan
dengan vaksin MMRV yang sudah dipakai di negara lain, jadi kombo-nya
jadi Measles/Morbili (campak), Mumps (gondongan), Rubella (campak
Jerman), dan Varicella (cacar air) dalam satu suntikan. Namun, kabar
terakhir, yang akan tersedia adalah vaksin MR (campak dan campak
Jerman), malah masuk program bersubsidi pemerintah alias gratis
sekalian. Rencananya akan mulai diberikan tahun ini juga dengan
keterangan sebagai berikut (diambil dari grup Gerakan Sadar Imunisasi –
Gesamun asuhan Yayasan Orangtua Peduli).
2.2Kerangka Pemikiran
23
yang diberikan. Imunisasi sangat berperan dala hal mengatasi beberapa
penyakit. Dalam pemberian imunisasi kepada anak juga ada jadwal yang
ditetapkan oleh dinas kesehatan.
2.3Hipotesis
24
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pemberian imunisasi harus diberikan kepada anak secara rutin dan lengkap,
agar sistem imun tubuhnya dapat meningkat. Hal ini dapat menyebabkan anak
terhindar dari penyakit berbahaya, baik yang terinfeksi melalui virus maupun
bakteri. Kepedulian dari ibu dan tenaga kesehatan berperan penting dalam
memberikan imunisasi pada anak.
3.2 Saran
25
DAFTAR PUSTAKA
Aziz Alimul Hidayat, 2009. Ilmu Kesehatan Anak, Salemba Medika : Jakarta.
A , Samik Wahab, 2002. Sistem Imun, Imunisasi & Penyakit Imun, Widya Medika
: Jakarta.
https://ceritaleila.wordpress.com/2017/04/02/jadwal-imunisasi-idai-terbaru/
http://duniabaca.com/jenis-jenis-imunisasi-yang-wajib-untuk-anak.html
http://rscm.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=112:pentingn
ya-imunisasi&catid=85:rscm-news&Itemid=435&lang=id
26
BIODATA PENULIS
27