0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
122 tayangan27 halaman

Pentingnya Imunisasi untuk Anak

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1) Dokumen tersebut membahas tentang imunisasi pada anak, termasuk definisi, jenis, dan manfaat imunisasi. 2) Jenis imunisasi yang disebutkan meliputi BCG, Hepatitis B, Polio, dan DPT. 3) Imunisasi penting untuk mencegah berbagai penyakit pada anak.

Diunggah oleh

amatulqaiyumis
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
122 tayangan27 halaman

Pentingnya Imunisasi untuk Anak

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1) Dokumen tersebut membahas tentang imunisasi pada anak, termasuk definisi, jenis, dan manfaat imunisasi. 2) Jenis imunisasi yang disebutkan meliputi BCG, Hepatitis B, Polio, dan DPT. 3) Imunisasi penting untuk mencegah berbagai penyakit pada anak.

Diunggah oleh

amatulqaiyumis
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat dipengaruhi oleh tersedianya
sumber daya manusia yang sehat, terampil dan ahli, serta disusun dalam satu
program kesehatan dengan perencanaan terpadu yang didukung oleh data dan
informasi epidemologi yang valid. Pembangunan bidang kesehatan di
indonesia saat ini mempunyai beban ganda (double burden). Penyakit menular
masih merupakan masalah, sementara penyakit degeneratif juga muncul
sebagai masalah. Penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administrasi,
sehingga menyulitkan pemberantasanya. Dengan tersedianya vaksin yang
dapat mencegah penyakit menular tertentu, maka tindakan pencegahan untuk
mencegah berpindahnya penyakit dari satu daerah atau negara ke negara lain
dapat dilakukan dalam waktu relatif singkat (Anonim, 2010).
Hampir seperempat dari 130 juta bayi yang lahir tiap tahun tidak
diimunisasi agar terhindar dari penyakit anak yang umum. Vaksin telah
menyelamatkan jutaan jiwa anak-anak dalam tiga dekade terakhir, namun
masih ada jutaan anak lainnya yang tidak terlindungi dengan imunisasi. Survei
dilakukan WHO menunjukkan bahwa dibeberapa daerah angka imunitas
kurang dari 56%. Tiga tahun sebelumnya angka imunitas mencapai 70%. Hal
ini menunjukkan turunnya layanan kesehatan di beberapa daerah miskin
(“Progress for Children” Report no 3, September 2005).

Manfaat imunisasi secara ilmiah dan secara umum sudah terbukti aman.
Tingkat perlindungan yang diberikan jauh lebih besar ketimbang efek samping
yang mungkin timbul. Efek samping imunisasi juga lebih ringan, ketimbang
efek bila anak tak diimunisasi. Begitupun tuduhan sebagai penyebab autisma,
juga tak terbukti. Jadi, tak ada alasan untuk menolak pemberian vaksin selama
si kecil dalam kondisi sehat, pertumbuhannya baik, dan tidak memiliki riwayat
alergi imunisasi (Growupclinic.com, 2012)

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari imunisasi ?
2. Apa saja jenis imunisasi ?
3. Apa efek samping dari imunisasi ?
4. Apa penyakit-penyakit yang dapat diderita pada anak yang tidak
diimunisasi ?
5. Kapan jadwal pemberian imunisasi pada anak ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa definisi dari imunisasi
2. Untuk mengetahui jenis-jenis imunisasi
3. Untuk mengetahui efek samping dari imunisasi
4. Untuk mengetahui penyakit-penyakit yang diderita pada anak yang tidak
diimunisasi
5. Untuk mengetahui jadwal pemberian imunisasi pada anak
1.4 Manfaat Penulisan
1. Bagi Orangtua
Mengetahui banyak manfaat dari imunisasi terhadap pertumbuhan dan
perkembangan bagi anak, sehingga akan rutin dan lengkap dalam
memberikan imunisasi pada anaknya.
2. Bagi Tenaga Kesehatan
Dapat memberikan penyuluhan yang lebih optimal kepada masyarakat
tentang pentingnya, agar semua anak dapat memperoleh imunisasi yang
lengkap.
1.5 Batasan Masalah
Agar penulisa lebih terarah, terfokus dan tidak meluas. Penulis lebih
memfokuskan membatasi penulisan mengenai pentingnya imunisasi bagi
pertumbuhan dan perkembangan pada anak.
1.6 Hipotesis
Imunisasi penting terhadap tumbuh kembang anak, yang dapat
meningkatkan sistem imun tubuh pada anak sehingga terhindar dari penyakit.
Maka dari itu pemberian imunisasi harus rutin dan lengkap.

2
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Pengertian Imunisasi

Imunisasi berasal dari kata imun, yaitu kebal atau resisten. Bayi di
imunisasikan berarti diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu
(Hidayat, 2008).

Imunisasi berasl dari kata imun,kebal atau resisiten.Anak di iminisasi


berarti di berikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu.Anak kebal atau
resisiten terhadap suatu penyakit,tetapi belum tentu kebal terhadap penyakit
yang lain (Notoadinojo,1997:37).

Kata imun berasal dari kata latin(imunitas)Romawi selama masa


jabatan mereka terhadap kewajiban sebagai warganegara biasa dan terhadap
dakwaan.Dalam sejarah istilah ini kemudian berkembang sehingga
pengertiannya berubah menjadi perlindungan terhadap penyakit
menular(THEOPHILVS, 2000 , Meni dan Madrona, 2001). Imunisasi
merupakan bentuk intervensi kesehatan yang sangat efektif dalam
menurunkan angka kematian bayi dan balita dengan mencegah penyakit
seperti Hepatitis B, Tuberkulosis, Difteri, Pertusis, Tetanus, Polio dan
Campak (Lia Dewi, 2010).Imunisasi adalah Pemberian vaksin untuk
mencegah terjadinya penyakit tertentu (Mahdiana, 2010).

Imunisasi adalah suatu usaha memberikan kekebalan bayi dan anak


terhadap penyakit. Imunisasi suatu tindakan dengan sengaja memasukkan
vaksin berupa mikroba hidup yang sudah dilemahkan. Dimana imunisasi
dapat menimbulkan kekebalan terhadap tubuh. Imunisasi juga dapat
dikatakan suatu tindakan dengan sengaja memasukkan vaksin yang berisi
mikroba hidup yang sudah dilemahkan pada balita. Imunisasi merupakan

3
salah satu pencegahan penyakit infeksi senus yang paling efektif (Proverawati
dan Andhini, 2010).

Menurut Proverawati dan Andhini (2010), imunisasi sebagai salah satu


cara untuk menjadikan kebal pada bayi dan anak dari berbagai penyakit,
diharapkan anak atau bayi tetap tumbuh daam keadaan sehat. Pada dasarnya
dalam tubuh sudah memiliki pertahanan secara mandiri agar berbagai kuman
yang masuk dapat dicegah, pertahanan tubuh tersebut meliputi pertahanan
non spesifik dan pertahanan spesifik, proses mekanisme pertahanan dalam
tubuh pertama kali adalah pertahanan non spesifik seperti komplemen dan
makrofag dimana komplemen dan makrofag ini pertama kali akan
memberikan peran ketika ada kuman yag masuk kedalam tubuh.

Secara khusus, antigen merupakan bagian protein kuman atau racun


yang jika masuk ke dalam tubuh manusia, maka sebagai reaksinya tubuh
harus memiliki zat anti. Bila antigen itu kuman, zat anti yang dibuat tubuh
manusia disebut antibody. Zat anti terhadap racun kuman disebut antitoksin.

2.1.2 Jenis-jenis Imunisasi

Jika tubuh terinfeksi maka tubuh akan membentuk antibody untuk


melawan bibit penyakit yang menyebabkan terinfeksi. Tetapi antibody
tersebut bersifat spesifik yang hanya bekerja untuk bibit penyakit tertentu
yang masuk ke dalam tubuh dan tidak terhadap bibit penyakit lainnya (Satgas
IDAI, 2008). Secara berkala, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
melakukan evaluasi mengenai jadwal imunisasi, berdasarkan perubahan
epidemiologis penyakit, kebijakan kementerian kesehatan/WHO, kebijakan
global, dan pengadaan vaksin di Indonesia.

4
Imunisasi di bagi menjadi dua yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif.

1. Imunisasi Aktif

Merupakan pemberian zat sebagai antigen yang diharapkan akan terjadi


suatu proses infeksi buatan sehingga tubuh mengalami reaksi imunologi
spesifik yang akan menghasilkan respons seluler dan humoral serta
dihasilkannya sel memori, sehingga apabila benar-benar terjadi infeksi maka
tubuh secara cepat dapat merespon. Kekebalan bisa terbentuk saat seseorang
terinfeksi secara alamiah oleh bibit penyakit atau terinfeksi secara buatan saat
diberi vaksinasi. Kelemahan dari kekebalan aktif ini adalah memerlukan
waktu sebelum sipenderita mampu membentuk antibodi yang tangguh untuk
melawan agen yang menyerang. Keuntungannya daya imunitas biasanya
bertahan lama bahkan bisa seumur hidup.

Kekebalan yang terbentuk setelah tubuh mengalami penyakit menular


tertentu, misalnya campak. Pada saat bayi lahir ia dibekali dengan sistem
kekebalan tubuh bawaan dari ibunya. Inilah yang kita sebut sebagai kekebalan
pasif alamiah. Kekebalan jenis ini sangat tergantung pada kekebalan yang
dipunyai ibu.

2. Imunisasi pasif

Merupakan pemberian zat yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi


yang dapat berasal dari plasma manusia atau binatang yang digunakan untuk
mengatasi mikroba yang diduga sudah masuk dalam tubuh yang terinfeksi.
Kekebalan pasif terjadi bila seseorang mendapatkan daya imunitas dari luar
dirinya. Jadi tubuh sendiri tidak membentuk sistem kekebalan tersebut.
Kekebalan jenis ini bisa didapat langsung dari luar atau secara alamiah.
Keunggulan dari kekebalan pasif yaitu langung dapat dipergunakan tanpa
menunggu tubuh penderita membentuknya. Kelemahannya adalah tidak dapat
berlangsung lama. Kekebalan jenis ini memang biasa hanya bertahan beberapa
minggu sampai satu bulan saja.

5
Sekarang, tidak dibedakan lagi imunisasi yang diwajibkan dan yang
dianjurkan, mengingat semua imunisasi HARUS diberikan pada bayi dan
anak. Berikut jenis-jenis Imunisas

1. Imunisasi BCG

Berisi suspensi M.Bovis hidup yang sudah dilemahkan. Imunisasi ini tidak
mencegah infeksi Tuberkulosis (TB) tetapi mengurangi risiko terjadinya TB
berat seperti meningitis TB dan TB milier.

2. Imunisasi Hepatitis B

Tersedia vaksin kombinasi HepB dan DTP yang berdasarkan hasil


penelitian Biofarma dapat memberikan respon antibodi lebih baik daripada
diberikan secara terpisah.

3. Imunisasi Polio

Polio bisa menyebabkan penderitanya mengalami kelumpuhan dan susah


bernafas. Vaksin polio digolongkan menjadi dua jenis, yaitu IPV (inactivated
polio vaccine) yang berisi virus polio yang sudah dimatikan. Vaksin ini
diberikan dalam bentuk suntikan dan OPV (oral polio vaccine), yang
mengandung virus hidup yang sudah dilemahkan.

4. Imunisasi DPT

Terdapat jenis vaksin DtaP (pertusis aselular) atau yang pada orang awam
dianggap sebagai vaksin DTP yang tidak menimbulkan demam. Meskipun
reaksi paska imunisasi DtaP baik lokal maupun sistemik lebih rendah
dibanding DTP biasa, namun vaksin tersebut masih dapat menimbulkan reaksi
demam dan pembengkakan seperti jenis vaksin lain.

6
5. Imunisasi Campak

Jika menjangkit anak-anak terutama anak dibawah lima tahun, campak


bisa berefek fatal.

6. Imunisasi HIB

Tersedia vaksin kombinasi DTP dan HIB dengan daya imunogenitas yang
tetap tinggi tanpa mempengaruhi respon imun satu sama lainnya.

7. Imunisasi PCV

Bayi yang berisiko tinggi mengalami kolonisasi pneumokokus, yaitu bayi


dengan infeksi saluran napas atas, menjadi perokok pasif, bayi yang tidak
mendapatkan ASI, dan bayi yang tinggal di negara 4 musim (pada musim
dingin).

8. Imunisasi ROTAVIRUS

Di Indonesia, diare menjadi 28% penyebab kematian pada balita. Tersedia


vaksin monovalen (Rotarix) dan pentavalen (Rotareq).

9. Imunisasi INFLUENZ

Rekomendasi IDAI, imunisasi influenza diberikan pada:

a. Anak sehat yang berusia 6 bulan – 2 tahun.


b. Anak dengan penyakit jantung kronik, asma, diabetes, penyakit
ginjal kronis dan HIV.
c. Anak yang tinggal di tempat seperti asrama, panti asuhan, atau
pesantren.
d. Orang yang bisa menularkan virus flu pada orang yang berisiko
tinggi, seperti pengasuh anak dan petugas kesehatan

7
10.Imunisasi VARISELA

Tidak boleh diberikan pada anak yang sedang demam tinggi, hitung
limfosit yang rendah, alergi terhadap neomisin, dan adanya defisiensi imun
seluler.

10. Imunisasi MMR

Imunisasi MMR tetap diberikan meskipun anak memiliki riwayat infeksi


campak, gondongan, maupun rubela. Tidak ada efek imunisasi yang terjadi
pada anak yang sebelumnya telah mendapat imunitas terhadap salah satu atau
lebih dari ketiga penyakit ini. Imunisasi ini juga tidak berhubungan dengan
autisme.

11. Imunisasi TIFOID

Tifoid atau yang lebih dikenal dengan thypus adalah penyakit akut yang
disebabkan oleh bakteri salmonella typhi. Bakteri ini sering ditemukan di air
dan lingkungan tempat tinggal yang tidak dijaga kebersihannya.

12. Imunisasi HEP A

Hepatitis A adalah penyakit peradangan pada liver (hati) yang tidak jarang
pula menjangkit anak-anak.

13. Imunisasi HPV

Jadwal pemberian imunisasi HPV tergantung dari jenis vaksin yang akan
digunakan. Imunisasi ini dapat diberikan pada pasien sejak usia 10 tahun. Jika
menggunakan vaksin HPV bivalen, diberikan 3 dosis. Dosis kedua dilakukan
sebulan setelah dosis pertama, dan dosis ketiga dilakukan 5 bulan kemudian.
Sedangkan vaksin HPV tetravalen, juga diberikan 3 dosis, namun dosis kedua
diberikan 2 bulan setelah dosis pertama, dan dosis ketiga diberikan 4 bulan
kemudian.

8
2.1.3 Efek Samping Imunisasi

A. BCG

Umur : 0 – 11 bln

Dosis : 0,5 cc

Cara : Intrakutan, lengan kanan

Jumlah suntikan : Satu kali

Efek samping :

1. Reaksi normal

Bakteri BCG ditubuh bekerja dengan sangat lambat. Setelah 2 minggu


akan terjadi pembengkakan kecil merah di tempat penyuntikan dengan
garis tengah 10 mm. Setelah 2 – 3 minggu kemudian, pembengkakan
menjadi abses kecil yang kemudian menjadi luka dengan garis tengah
10 mm, jangan berikan obat apapun pada luka dan biarkan terbuka atau
bila akan ditutup gunakan kasa kering. Luka tersebut akan sembuh dan
meninggalkan jaringan parut tengah 3-7 mm.

2. Reaksi berat

Kadang terjadi peradangan setempat yang agak berat atau abses yang
lebih dalam, kadang juga terjadi pembengkakan di kelenjar limfe pada
leher / ketiak, hal ini disebabkan kesalahan penyuntikan yang terlalu
dalam dan dosis yang terlalu tinggi.

9
3. Reaksi yang lebih cepat

Jika anak sudah mempunyai kekebalan terhadap TBC, proses


pembengkakan mungkin terjadi lebih cepat dari 2 minggu, ini berarti
anak tersebut sudah mendapat imunisasi BCG atau kemungkinan anak
tersebut telah terinfeksi BCG.
B. DPT

Umur : 2 – 11 bln

Dosis : 0,5 cc

Cara : IM / SC, jumlah suntikan : 3 x

Selang pemberian : Minimal 4 minggu


Efek samping :

1. Panas

Kebanyakan anak akan menderita panas pada sore hari setelah


mendapat imunisasi DPT, tapi panas ini akan sembuh 1 – 2 hari.
Anjurkan agar jangan dibungkus dengan baju tebal dan dimandikan
dengan cara melap dengan air yang dicelupkan ke air hangat.

2. Rasa sakit di daerah suntikan

Sebagian anak merasa nyeri, sakit, kemerahan, bengkak.

10
3. Peradangan

Bila pembengkakan terjadi seminggu atau lebih, maka hal ini mungkin
disebabkan peradangan, mungkin disebabkan oleh jarum suntik yang tidak
steril karena :

- Tersentuh

- Sebelum dipakai menyuntik jarum diletakkan diatas tempat yang tidak


steril.

- Sterilisasi kurang lama.

- Pencemaran oleh kuman.

4. Kejang-kejang

Reaksi yang jarang terjadi sebaliknya diketahui petugas reaksi


disebabkan oleh komponen dari vaksin DPT.

C. Polio

Umur : 0 – 11 bln

Dosis : 2 tetes

Cara : Meneteskan ke dalam mulut

Selang waktu : Berikan 4 x dengan jarak minimal 4 minggu.

11
Efek samping :

Bila anak sedang diare ada kemungkinan vaksin tidak bekerja dengan
baik karena ada gangguan penyerapan vaksin oleh usus akibat diare
berat.

D. Hepatitis B

Umur : Mulai umur 0 bulan


Dosis : 0, 5 cc / pemberian

Cara : Suntikan IM pada bagian luar

Jumlah suntikan : 3 x

Selang pemberian : 3 dosis dengan jarak suntikan 1 bulan dan 5 bulan.

Efek samping : tidak ada

E. Campak

Umur : 9 bln.

Dosis : 0, 5 cc

Cara : Suntikan secara IM di lengan kiri atas

Jumlah suntikan : 1 x dapat diberikan bersamaan dengan pemberian


vaksin lain tapi tidak dicampur dalam 1 semprit.

Efek samping vaksin campak : panas dan kemerahan.

12
Anak-anak mungkin panas selama 1 – 3 hari setelah 1 minggu
penyuntikan, kadang disertai kemerahan seperti penderita campak
ringan.

F. HPV

HPV diberikan kepada remaja perempuan untuk mencegah kanker


serviks atau kanker pada leher rahim yang sebagian besar kasusnya
disebabkan oleh virus human papillomavirus. Vaksin HPV dapat
diberikan sejak anak berumur 10 hingga 26 tahun. Efek samping
pemberian HPV yang tergolong umum adalah:

 Sakit kepala
o Nyeri, bengkak, gatal, memar, dan merah pada bagian kulit yang
disuntik
 Demam
 Nyeri tangan dan kaki
 Mual

Sedangkan efek samping yang jarang terjadi adalah urtikaria atau


biduran.

2.1.4 Penyakit yang Dapat Diderita Akibat Tidak Imunisasi

1. TBC (TUBERCULOSIS)

Penularan penyakit TBC terhadap seorang anak dapat terjadi karena


terhirupnya percikan udara yang mengandung kuman TBC. Kuman inii
dapat menyerang berbagai organ tubuh, seperti paru-paru (paling sering
terjadi), kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati, atau selaput otak
(yang terberat). Pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan pada bayi
yang baru lahir sampai usia 12 bulan, tetapi imunisasi ini sebaiknya

13
dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan. Imunisasi ini cukup diberikan
satu kali saja. Bila pemberian imunisasi ini “berhasil,” maka setelah
beberapa minggu di tempat suntikan akan timbul benjolan kecil. Karena
luka suntikan meninggalkan bekas, maka pada bayi perempuan, suntikan
sebaiknya dilakukan di paha kanan atas. Biasanya setelah suntikan BCG
diberikan, bayi tidak menderita demam.

2.DIFTERI

Penyakit Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri


Corynebacterium Diphteriae. Mudah menular dan menyerang terutama
saluran napas bagian atas dengan gejala Demam tinggi, pembengkakan
pada amandel (tonsil ) dan terlihat selaput puith kotor yang makin lama
makin membesar dan dapat menutup jalan napas. Racun difteri dapat
merusak otot jantung yang dapat berakibat gagal jantung. Penularan
umumnya melalui udara (betuk/bersin) selain itu dapat melalui benda atau
makanan yang terkontamiasi.

3.PERTUSIS

Penyakit Pertusis atau batuk rejan atau dikenal dengan “ Batuk Seratus
Hari “ adalah penyakit infeksi saluran yang disebabkan oleh bakteri
Bordetella Pertusis. Gejalanya khas yaitu batuk yang terus menerus sukar
berhenti, muka menjadi merah atau kebiruan dan muntah kadang-kadang
bercampur darah. Batuk diakhiri dengan tarikan napas panjang dan dalam
berbunyi melengking.Penularan umumnya terjadi melalui udara
(batuk/bersin). Pencegahan paling efektif adalah dengan melakukan
imunisasi bersamaan dengan Tetanus dan Difteri sebanyak tiga kali sejak
bayi berumur dua bulan dengan selang pentuntikan.

14
4. TETANUS

Penyakit tetanus merupakan salah satu infeksi yan berbahaya karena


mempengaruhi sistim urat syaraf dan otot. Gejala tetanus umumnya
diawali dengan kejang otot rahang (dikenal juga dengan trismus atau
kejang mulut) bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit dan
kaku di otot leher, bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat
merambat ke otot perut, lengan atas dan paha. Neonatal tetanus umumnya
terjadi pada bayi yang baru lahir. Neonatal tetanus menyerang bayi yang
baru lahir karena dilahirkan di tempat yang tidak bersih dan steril,
terutama jika tali pusar terinfeksi. Neonatal tetanus dapat menyebabkan
kematian pada bayi dan banyak terjadi di negara berkembang. Sedangkan
di negara-negara maju, dimana kebersihan dan teknik melahirkan yang
sudah maju tingkat kematian akibat infeksi tetanus dapat ditekan. Selain
itu antibodi dari ibu kepada jabang bayinya yang berada di dalam
kandungan juga dapat mencegah infeksi tersebut.

5. POLIO

Gejala yang umum terjadi akibat serangan virus polio adalah anak
mendadak lumpuh pada salah satu anggota geraknya setelah demam
selama 2-5 hari. Terdapat 2 jenis vaksin yang beredar, dan di Indonesia
yang umum diberikan adalah vaksin Sabin (kuman yang dilemahkan).
Cara pemberiannya melalui mulut. Di beberapa negara dikenal pula
Tetravaccine, yaitu kombinasi DPT dan polio. Imunisasi dasar diberikan
sejak anak baru lahir atau berumur beberapa hari dan selanjutnya diberikan
setiap 4-6 minggu. Pemberian vaksin polio dapat dilakukan bersamaan
dengan BCG, vaksin hepatitis B, dan DPT. Imunisasi ulangan diberikan
bersamaan dengan imunisasi ulang DPT Pemberian imunisasi polio akan
menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit Poliomielitis. Imunisasi
polio diberikan sebanyak empat kali dengan selang waktu tidak kurang
dari satu bulan imunisasi ulangan dapat diberikan sebelum anak masuk

15
sekolah (5 – 6 tahun) dan saat meninggalkan sekolah dasar (12 tahun).Cara
memberikan imunisasi polio adalah dengan meneteskan vaksin polio
sebanyak dua tetes langsung kedalam mulut anak atau dengan
menggunakan sendok yang dicampur dengan gula manis. Imunisasi ini
jangan diberikan pada anak yang lagi diare berat. Efek samping yang
mungkin terjadi sangat minimal dapat berupa kejang-kejang.

6. CAMPAK

Campak adalah penyakit yang sangat menular yang dapat disebabkan


oleh sebuah virus yang bernama Virus Campak. Penularan melalui udara
ataupun kontak langsung dengan penderita.Gejala-gejalanya adalah :
Demam, batuk, pilek dan bercak-bercak merah pada permukaan kulit 3 – 5
hari setelah anak menderita demam. Bercak mula-mula timbul dipipi
bawah telinga yang kemudian menjalar ke muka, tubuh dan anggota tubuh
lainnya. Komplikasi dari penyakit Campak ini adalah radang Paru-paru,
infeksi pada telinga, radang pada saraf, radang pada sendi dan radang pada
otak yang dapat menyebabkan kerusakan otak yang permanen ( menetap ).
Pencegahan adalah dengan cara menjaga kesehatan kita dengan makanan
yang sehat, berolah raga yang teratur dan istirahat yang cukup, dan paling
efektif cara pencegahannya adalah dengan melakukan imunisasi.
Pemberian Imunisasi akan menimbulkan kekebalan aktif dan bertujuan
untuk melindungi terhadap penyakit campak hanya dengan sekali suntikan,
dan diberikan pada usia anak sembilan bulan atau lebih

7. INFLUENZA

Influenza adalah penyakit infeksi yang mudah menular dan


disebabkan oleh virus influenza, yang menyerang saluran pernapasan.
Penularan virus terjadi melalui udara pada saat berbicara, batuk dan bersin,
Influenza sangat menular selama 1 – 2 hari sebelum gejalanya muncul,
itulah sebabnya penyebaran virus ini sulit dihentikan.Berlawanan dengan

16
pendapat umum, influenza bukan batuk – pilek biasa yang tidak
berbahaya. Gejala Utama infleunza adalah: Demam, sakit kepala, sakit otot
diseluruh badan, pilek, sakit tenggorok, batuk dan badan lemah. Pada
Umumnya penderita infleunza tidak dapat bekerja/bersekolah selama
beberapa hari.Dinegara-negara tropis seperti Indonesia, influenza terjadi
sepanjang tahun. Setiap tahun influenza menyebabkan ribuan orang
meninggal diseluruh dunia. Biaya pengobatan, biaya penanganan
komplikasi, dan kerugian akibat hilangnya hari kerja (absen dari sekolah
dan tempat kerja) sangat tinggi.Berbeda dengan batuk pilek biasa influenza
dapat mengakibatkan komplikasi yang berat. Virus influenza
menyebabkan kerusakan sel-sel selaput lendir saluran pernapasan sehingga
penderita sangat mudah terserang kuman lain, seperti pneumokokus, yang
menyebabkan radang paru (Pneumonia) yang berbahaya. Selain itu,
apabila penderita sudah mempunyai penyakit kronis lain sebelumnya
(Penyakit Jantung, Paru-paru, ginjal, diabetes dll), penyakit-penyakit itu
dapat menjadi lebih berat akibat influenza.Vaksin influenza diberikan
dengan dosis tergantung usia anak. Pada usia 6-35 bulan cukup 0,25 mL.
Anak usia >3 tahun, diberikan 0,5 mL. Pada anak berusia 8 tahun, maka
dosis pertama cukup 1 dosisi saja.

8. DEMAM TIFOID

Penyakit Demam Tifoid adalah infeksi akut yang disebabkan oleh


Salmonella Typhi yang masuk melalui saluran pencernaan dan menyebar
keseluruh tubuh (sistemik), Bakteri ini akan berkembang biak di kelenjar
getah bening usus dan kemudian masuk kedalam darah sehingga
meyebabkan penyebaran kuman dalam darah dan selanjutnya terjadilah
peyebaran kuman kedalam limpa, kantung empedu, hati, paru-paru, selaput
otak dan sebagainya. Gejala-gejalanya adalah: Demam, dapat berlangsung
terus menerus. Minggu Pertama, suhu tubuh berangsur-angsur meningat
setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat pada
sore/malam hari. Minggu Kedua, Penderita terus dalam keadaan demam.

17
Minggu ketiga, suhu tubuh berangsung-angsur turun dan normal kembali
diakhir minggu. gangguan pada saluran pencernaan, nafas tak sedap, bibir
kering dan pecah-pecah, lidah ditutupi selaput lendir kotor, ujung dan
tepinya kemerahan. Bisa juga perut kembung, hati dan limpa membesar
serta timbul rasa nyeri bila diraba. Biasanya sulit buang air besar, tetapi
mungkin pula normal dan bahkan dapat terjadi diare. gangguan kesadaran,
Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak seberapa dalam,
yaitu menjadi apatis sampai somnolen. Bakteri ini disebarkan melalui
tinja. Muntahan, dan urin orang yang terinfeksi demam tofoid, yang
kemudian secara pasif terbawa oleh lalat melalui perantara kaki-kakinya
dari kakus kedapur, dan mengkontaminasi makanan dan minuman, sayuran
ataupun buah-buahan segar. Mengkonsumsi makanan / minuman yang
tercemar demikian dapat menyebabkan manusia terkena infeksi demam
tifoid. Salah satu cara pencegahannya adalah dengan memberikan
vaksinasi yang dapat melindungi seseorang selama 3 tahun dari penyakit
Demam Tifoid yang disebabkan oleh Salmonella Typhi. Pemberian
vaksinasi ini hampir tidak menimbulkan efek samping dan kadang-kadang
mengakibatkan sedikit rasa sakit pada bekas suntikan yang akan segera
hilang kemudian

9. HEPATITIS

Penyakit hepatitis disebabkan oleh virus hepatitis tipe B yang


menyerang kelompok resiko secara vertikal yaitu bayi dan ibu
pengidap, sedangkan secara horizontal tenaga medis dan para medis,
pecandu narkoba, pasien yang menjalani hemodialisa, petugas
laboratorium, pemakai jasa atau petugas akupunktur.

10. MENINGITIS

Penyakit radang selaput otak (meningitis) yang disebabkan bakteri


Haemophyllus influenzae tipe B atau yang disebut bakteri Hib B

18
merupakan penyebab tersering menimbulkan meningitis pada anak berusia
kurang dari lima tahun. Penyakit ini berisiko tinggi, menimbulkan
kematian pada bayi. Bila sembuh pun, tidak sedikit yang menyebabkan
cacat pada anak. Meningitis bukanlah jenis penyakit baru di dunia
kesehatan. Meningitis adalah infeksi pada lapisan otak dan urat saraf
tulang belakang. Penyebab meningitis sendiri bermacam-macam, sebut
saja virus dan bakteri. Meningitis terjadi apabila bakteri yang menyerang
menjadi ganas ditambah pula dengan kondisi daya tahan tubuh anak yang
tidak baik, kemudian ia masuk ke aliran darah, berlanjut ke selaput otak.
Nila sudah menyerang selaput otak (meningen) dan terjadi infeksi maka
disebutlah sebagai meningitis. IMUNISASI HiB dapat berupa vaksin PRP-
T (konjugasi) diberikan pada usia 2, 4, dan 6 bulan, dan diulang pada usia
18 bulan. Vaksin HiB juga dapat diberikan dalam bentuk vaksin
kombinasi. Apabila anak datang pada usia 1-5 tahun, HiB hanya diberikan
1 kali . Anak di atas usia 5 tahun tidak perlu diberikan karena penyakit ini
hanya menyerang anak dibawah usia 5 tahun. Saat ini, imunisasi HiB telah
telah masuk program pemerintah, yaitu vaksin Pentabio produksi Bio
Farma, vaksin HiB diberikan bersama DPT, Hepatitis B.

11. Pneumokokus

Imunisasi yang penting lainnya yaitu imunisasi Pneumokokus untuk


mencegah infeksi kuman pneumokokus salah satu penyebab penting dari
radang telinga, pneumonia, meningitis dan beredarnya bakteri dalam
darah. Sayangnya, imunisasi ini belum masuk program pemerintah.

12. MMR

Vaksin MMR diberikan pada usia 15-18 bulan dengan minimal


interval 6 bulan antara imunisasi campak dengan MMR. MMR diberikan
minimal 1 bulan sebelum atau sesudah penyuntikan imunisasi lain.
Apabila seorang anak telah mendapat imunisasi MMR pada usia 12-18

19
bulan dan diulang pada usia 6 tahun, imunisasi campak (monovalen)
tambahan pada usia 6 tahun tidak perlu lagi diberikan. Bila imunisasi
ulangan (booster) belum diberikan setelah berusia 6 tahun, berikan vaksin
campak/MMR kapan saja saat bertemu. Pada prinsipnya, berikan imunisai
campak 2 kali atau MMR 2 kali.

13. Rotavirus

Infeksi diare pada anak paling sering disebabkan karena infeksi


rotavirus. Infeksi diare karena rotavirus ini sering diistilahkan muntaber
atau muntah berak. Gejala infeksi rotavirus berupa demam ringan, diawali
muntah sering, diare hebat, dan atau nyeri perut. Muntah dan diare
merupakan gejala utama infeksi rotavirus dan dapat berlangsung selama 3
– 7 hari. Infeksi rotavirus dapat disertai gejala lain yaitu anak kehilangan
nafsu makan, dan tanda-tanda dehidrasi. Infeksi rotavirus dapat
menyebabkan dehidrasi ringan dan berat, bahkan kematian. Infeksi ini
seringkali tidak berhubungan dengan makanan kotor atau makanan basi
atau air kotor. Tetapi penularannya lebih sering lewat fecal oral atau
kotoran masuk melalui mulut. Biasanya virus yang tersebar lewat
muntahan tersebar di sekitar mainan, pintu, lantai atau di sekitar anak-
anak. Saat tangan anak tersentuh virus melalui muntahan atau bekas feses
yang tidak dicuci bersih dapat masuk ke tubuh saat anak makan atau
tangan masuk ke mulut. Rotavirus adalah virus dengan ukuran 100
nanometer yang berbentuk roda yang termasuk dalam family Reoviridae.
Virus ini terdiri dari grup A, B, C, D, E dan F. grup A sering menyerang
bayi dan grup B jarang menyerang bayi. Terdapat empat serotipe major
dan paling sedikit 10 serotipe minor dari rotavirus grup A pada manusia.
Pembagian serotipe ini didasarkan pada perbedaan antigen pada protein
virus 7 (VP7). Virus ini terdiri dari tiga lapisan yaitu kapsid luar, kapsid
dalam dan inti. Rota virus terdiri dari 11 segmen, setiap segmen
mengandung RNA rantai ganda, yang mana setiap kode untuk enam
protein struktur ( VP1, VP2, VP3, VP4, VP6, VP7 ) dan lima protein

20
nonstruktur (NSP1, NSP2, NSP3, NSP4, NSP 5). Dua struktur protein
yaitu VP7 yang terdiri dari protein G dan glikoprotein dan VP4 yang
terdiri dari protein P dan protease pembelahan protein, merupakan protein
yang melapisi bagian luar dari virus dan merupakan pertimbangan yang
penting untuk membuat vaksin dari rotavirus. Protein pembuat kapsid
bagian dalam paling banyak adalah VP6, dan sangat mudah ditemukan
dalam pemeriksaan antigen, sedangkan protein nonstruktur kapsid bagian
dalam adalah NSP4 yang merupakan sebagai faktor virulensi dari
rotavirus, meskipun protein lain juga terlibat dalam mempengaruhi
virulensi dari rotavirus. Angka kejadian kematian diare masih tinggi di
Indonesia dan untuk mencegah di are karena rotavirus, digunakan vaksin
rotavirus. Vaksin rotavirus yang beredar di Indonesia saat ini ada 2
macam. Pertama Rotateq diberikan sebanyak 3 dosis: pemberian pertama
pada usia 6-14 minggu dan pemberian ke-2 setelah 4-8 minggu kemudian,
dan dosisi ke-3 maksimal pada usia 8 bulan. Kedua, Rotarix diberikan 2
dosis: dosis pertama diberikan pada usia 10 minggu dan dosis kedua pada
usia 14 minggu (maksimal pada usia 6 bulan). Apabila bayi belum
diimunisasi pada usia lebih dari 6-8 bulan, maka tidak perlu diberikan
karena belum ada studi keamanannya

14. Varisela

Vaksin varisela (cacar air) diberikan pada usia >1 tahun, sebanyak 1
kali. Untuk anak berusia >13 tahun atau pada dewasa, diberikan 2 kali
dengan interval 4-8 minggu. Apabila terlambat, berikan kapan pun saat
pasien datang, karena imunisasi ini bisa diberikan sampai dewasa.

15. Hepatitis A

Imunisasi hepatitis A diberikan pada usia lebih dari 2 dan diberikan


sebanyak 2 dosis dengan interval 6-12 bulan. Imunisasi tifoid diberikan

21
pada usia lebih dari 2 tahun, dengan ulangan setiap 3 tahun. Vaksin tifoid
merupakan vaksin polisakarida sehingga di atas usia 2 tahun.

2.1.5 Jadwal Imunisasi pada Anak

Triwulan I tahun 2017, Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI telah
menerbitkan jadwal rekomendasi pemberian imunisasi yang terbaru, yang
dimuat di http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-
2017. Rekomendasi terakhir sebelumnya keluar tahun 2014, setidaknya
yang dimuat di website resmi mereka, walaupun ada juga yang
mengedarkan tabel rekomendasi vaksinasi dari IDAI tahun 2016
(selengkapnya bisa dibaca di postingan saya yang ini: Siap-siap Imunisasi
2 Tahun).

Berikut ini jadwal terbaru imunisasi IDAI, yang memang sedikit berbeda
dengan versi Kementerian Kesehatan (yang disubsidi atau gratis).

Secara resmi, vaksin baru yaitu dengue dan Japanese encephalitis


(khusus daerah endemis) sudah dimasukkan ke dalam jadwal tersebut.

22
Kemudian ada juga penjelasan alternatif penyesuaian jadwal pemberian
apabila vaksin Hepatitis B diberikan bersamaan dengan pilihan vaksin
DPT yang ada, apakah vaksin DTPw (yang vaksin pertusisnya whole
cell/utuh dan sering disebut sebagai ‘yang panas’ padahal tidak selalu)
atau vaksin DTPa (vaksin pertusisnya aseluler, sering dibilang ‘nggak
bikin demam’, padahal kemungkinannya tetap ada sih). Juga dipaparkan
saran terkait pemakaian vaksin polio tetes (oral/OPV) atau suntik
(inactivated/IPV).

Yang baru juga adalah penyebutan adanya vaksin MR. Dahulu yang
dipakai di Indonesia hanya vaksin MMR, kemudian stok vaksin ini kosong
secara nasional selama sekitar setahun belakangan (anak kedua saya masih
sempat menerima dosis pertamanya awal tahun kemarin, tetapi ketika
kakaknya mau booster di usia kelima pada akhir tahun, sudah tidak dapat
lagi), mungkin ada yang bisa bawa (hand carry) dari luar negeri tapi
cukup langka. Nah, dulu dengar-dengar wacananya akan digantikan
dengan vaksin MMRV yang sudah dipakai di negara lain, jadi kombo-nya
jadi Measles/Morbili (campak), Mumps (gondongan), Rubella (campak
Jerman), dan Varicella (cacar air) dalam satu suntikan. Namun, kabar
terakhir, yang akan tersedia adalah vaksin MR (campak dan campak
Jerman), malah masuk program bersubsidi pemerintah alias gratis
sekalian. Rencananya akan mulai diberikan tahun ini juga dengan
keterangan sebagai berikut (diambil dari grup Gerakan Sadar Imunisasi –
Gesamun asuhan Yayasan Orangtua Peduli).

2.2Kerangka Pemikiran

Berdasarkan kerangka teori yang telah dijelaskan pada gambaran umum


objek. Maka dari itu dapat dikatakan bahwa imunisasi itu terdiri atas beberapa
jenis, yang pemberiannnya ada yg diproduksi langsung didalam tubuh dan ada
yang perlu diinjeksi kan. Dalam hal ini biasanya efek samping dari imunisasi
tergantung pada beberapa hal ; kondisi pasien, kualitas obat dan kadar obat

23
yang diberikan. Imunisasi sangat berperan dala hal mengatasi beberapa
penyakit. Dalam pemberian imunisasi kepada anak juga ada jadwal yang
ditetapkan oleh dinas kesehatan.

2.3Hipotesis

Imunisasi sangat penting diberikan kepada anak, karena banyak manfaat


yang diberikan. Membuat tubuh anak menjadi lebih sehat dan terhindar dari
beberapa penyakit. Juga dalam pemberian imunisasi diatur jadwalnya yang telah
ditetapkan oleh dinas kesehatan.

24
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pemberian imunisasi harus diberikan kepada anak secara rutin dan lengkap,
agar sistem imun tubuhnya dapat meningkat. Hal ini dapat menyebabkan anak
terhindar dari penyakit berbahaya, baik yang terinfeksi melalui virus maupun
bakteri. Kepedulian dari ibu dan tenaga kesehatan berperan penting dalam
memberikan imunisasi pada anak.

3.2 Saran

1. Setiap ibu harus mementingkan pemberian imunisasi lengkap pada anaknya


karena manfaat dari imunisasi yang dapat meningkatkan sistem imun tubuh.

2. Tenaga kesehatan diwajibkan untuk memberikan penyuluhan kepada orangtua,


agar memberikan imunisasi yang lengkap dan rutin kepada anaknya. Juga
menjelaskan tentang mekanisme dalam pemberian imunisasi.

25
DAFTAR PUSTAKA

Aziz Alimul Hidayat, 2009. Ilmu Kesehatan Anak, Salemba Medika : Jakarta.
A , Samik Wahab, 2002. Sistem Imun, Imunisasi & Penyakit Imun, Widya Medika
: Jakarta.

Soejatmiko & Hariyono Suyitno, 2008. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi


Ketiga IDAI : Jakarta

https://ceritaleila.wordpress.com/2017/04/02/jadwal-imunisasi-idai-terbaru/

http://duniabaca.com/jenis-jenis-imunisasi-yang-wajib-untuk-anak.html

http://rscm.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=112:pentingn
ya-imunisasi&catid=85:rscm-news&Itemid=435&lang=id

26
BIODATA PENULIS

1. Nama : Amatulqaiyum Idri Sari


2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Tempat, Tanggal Lahir :Padang, 18 august 1998
4. Umur : 19 tahun
5. Nomor Hp : 082170252734
6. Agama : Islam
7. E-mail :amatulqaiyumis@gmail.com
8. Alamat : Jalan payakumbuh 2 no 587 siteba
9. Riwayat Pendidikan
a.TK : RA. Ruwas Indah
b.Sekolah Dasar : SD Negeri 09 Surau Gadang
c.Sekolah Menengah Pertama : SMP Negeri 12 Padang
d.Sekolah Menengah Atas : SMA Negeri 10 Padang
e.Perguruan Tinggi : Profesi Dokter Universitas Andalas

27

Anda mungkin juga menyukai