0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
165 tayangan24 halaman

Konsep Imunisasi dan Antisipasi Kesehatan

Dokumen tersebut membahas tentang konsep dasar imunisasi dan bimbingan antisipasi. Imunisasi merupakan upaya pencegahan penyakit menular dengan memberikan vaksin untuk menciptakan kekebalan tubuh. Tujuannya antara lain mencegah penyakit, menurunkan angka kematian, dan dapat menghilangkan penyakit tertentu. Terdapat dua jenis imunisasi yaitu aktif dan pasif. Bimbingan antisipasi bertu
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
165 tayangan24 halaman

Konsep Imunisasi dan Antisipasi Kesehatan

Dokumen tersebut membahas tentang konsep dasar imunisasi dan bimbingan antisipasi. Imunisasi merupakan upaya pencegahan penyakit menular dengan memberikan vaksin untuk menciptakan kekebalan tubuh. Tujuannya antara lain mencegah penyakit, menurunkan angka kematian, dan dapat menghilangkan penyakit tertentu. Terdapat dua jenis imunisasi yaitu aktif dan pasif. Bimbingan antisipasi bertu
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KONSEP DASAR IMUNUSASI DAN

BIMBINGAN ANTISIPASI

Disusun Oleh :
Kelompok 2
1. Amirul Darmawan P00320117 002
2. Feni Yuliani P00320117 015
3. Meido Ahmad Sahlendra P00320117 026
4. Melani Olaska P00320117 028

Tingkat: IIA Keperawatan


Dosen Pengampu:

Dr. H. Rustam Aji, S. Kp, M. Kes


NIP.196202171984121002

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES BENGKULU
PRODI DIII KEPERAWATAN CURUP
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
“Konsep Dasar Imunisasi dan Bimbingan Antisipasi” ini dengan tepat waktu. Makalah ini
disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Keperawatan Anak.
Berkat bantuan, motivasi dan kerjasama dari anggota kelompok 2 kami dapat
menyelesaikan makalah ini. Serta kami berterimakasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini .
Kami harapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun demi
terciptanya kesempurnaan makalah ini selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi kami
sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.

Curup, 13 Februari 2019

Kelompok 2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Kata Pengantar

Imunisasi merupakan salah satu bentuk intervensi kesehatan yang sangat


efektif dalam upaya menurunkan angka keatian bayi dan balita. Berbagai macam
penyakit menular seperti difetri, pertusis, campak, tetanus dan polio telah terbukti
menurun secara menyolok berkat pemberian imuisasi pada bayi dan anak. Bahkan,
Indonesia telah dinyatakan bebas penyakit cacar sejak tahun 1972.

Indonesia juga telah melaksanakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dengan


baik, yang merupakan pekan dimana setiap anak balita umur 0-59 bulan yang tinggal
di Indonesia pada saat tersebut mendapat 2 tetes vaksin polio oral, tanpa melihat
status imunisas dan kewarganegaraan. Vaksin polio diberikan 2 kali dengan selang
waktu sekitar4 minggu, yang telah ditentukan bertulut-turut pada tahun 1995, 1996,
1997 dan 2002.

Kata imun berasal dari bahasa Latin (imunitas) yang berarti pembebasab
(kekebalan) yang diberikan kepada para senator Romawi selama masa jabatan mereka
terhadap kewajiban sebagai warganegara biasa dan terhadap dakwaan. Dalam sejarah
istilah ini kemudian berkembang sehingga pengertiannya berubah menjadi
perlindungan terhadap penyakit, dan lebih spesifik lagi, terhadap penyakit menular.

Banyak hal yang harus diperhatikan oleh para orang tua agar tubuh kembang
anak tidak terganggu. Salah satu hal yang patut dicermati adalah kesehatan anak.
Jangan sampai di masa emas prtumbuhannya, anak terjangkit penyakit yang
membahayakan fisik apalagi jiwanya oleh karena itu, orang tua mesti waspada
terhadap penyakit yang senantiasa mengancam kesehatan anak.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan imunisasi?
2. Apa tujuan dari imunisasi?
3. Apa saja macam-macam imunisasi?
4. Apa saja jenis-jenis dari imunisasi?
5. Apa saja penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi?
6. Apa yang dimaksud dengan bimbingan antisipasi?
7. Bagaimana tahapan bimbingan antisipasi?

C. Tujuan
1. Untuk memahami pengertian imunisasi.
2. Untuk mengetahui tujuan dari imunisasi.
3. Untuk mengetahui macam-macam dari imunisasi.
4. Untuk mengetahui jenis-jenis dari imunisasi.
5. Untuk mengetahui penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
6. Untuk memahami pengertian bimbingan antisipasi.
7. Untung mengetahui tahap bimbingan antisipasi.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Konsep Dasar Imunisasi
1. Pengertian Imunisasi
Imunisasi merupakan Pengertian Imunisasi Imunisasi merupakan upaya
pencegahan yang telah runkan morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka
kematian) penyakit infeksi pada bayi dan anak. Agar dapat memberikan asuhan yang
bermutu tinggi dan komprehensif pada bayi dan balita salah satunya adalah
memahami hal-hal yang berkaitan dengan imunisasi, termasuk pengertian-pengertian
imunisasi berikut ini:

a. Imunisasi berasal dari kata "imun" yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi
terhadap suatu penyakit hanya akan mem- berikan kekebalan atau resistensi pada
penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain, diperlukan imunisasi
lainnya (Anonim, 2008).
b. Imunisasi adalah suatu tindakan untuk memberikan perlindungan (kekebalan) di
dalam tubuh bayi dan anak.
c. Imunisasi adalah suatu untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif
terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa,
tidak terjadi penyakit (Matondang CS, dkk, 2005).
d. Imunisasi adalah pemberian imunitas (kekebalan) tubuh terhadap suatu penyakit
dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit
yang sedang me berbahaya bagi manusia.
e. Imunisasi adalah suatu proses untuk membuat sistem pertahanan tubuh kebal
terhadap invasi mikroorganisme (bakteri dan virus) yang dapat menyebabkan
infeksi sebelum mikroorganismetersebut memiliki kecepatan untuk menyerang
tubuh. Dengan imunisasi, tubuh akan terlindung dari infeksi, begitu pula orang
lain karena tidak tertular dari seseorang. Oleh karena itu, imunisasi harus
dilakukan untuk semua orang, terutama bayi dan anak sejak lahir, agar pada
akhirnya nanti infeksi dapat musnah dari muka bumi.
f. Imunisasi adalah usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan
memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah
terhadap penyalit tertentu. Sedangkan vaksin adalah bahan yang dipakai untuk
merangsane pembentukan zat anti yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui
suntikan, seperti vaksin BCG, DPT, campak, dan melalui mulut seperti vaksin
polio.
g. Imunisasi adalah upaya untuk merangsang kekebalan tubuh dari serangan
penyakit menular tertentu melalui pemberian vaksin.
h. Istilah imunisasi dan vaksinasi seringkali diartikan sama. Imunisasi adalah suatu
pemindahan atau transfer antibodi secara pasif, sedangkan istilah vaksinasi
dimaksudkan sebagai pem- berian vaksin (antigen) yang dapat merangsang
pembentu imunitas (antibodi) dari sistem imun di dalam tubuh.(IGN Ranuh 2005).
i. Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan se- seorang secara
aktif terhadap suatu antigen, sehingga kelak bila penyakit (Imunisasi ia terpajan
pada antigen serupa tidak terjadi di Indonesia, 2001).

2. Tujuan Imunisasi
Tujuan dalam pemberian imunisasi (Hidayat, 2008) antara lain :
a. Mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang & menghilangkan penyakit
tertentu didunia.
b. Melindungi dan mencegah penyakit-penyakit menular yang sangat berbahaya bagi
bayi dan anak.
c. Anak menjadi kebal dan terhadap penyakit sehingga dapat menurunkan
angkamorbiditas dan mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit
tertentu.
d. Menurunkan morbiditas, mortalitas dan cacat serta bila mungkin didapateradikasi
suatu penyakit.
e. Menurunkan angka penderitaan suatu penyakit yang sangat
membahayakankesehatan bahkan bias menyebabkan kematian pada penderitanya.
Beberapayang dapat dihindari dengan imunisasi yaitu seperti campak, polio,
difteri,tetanus, batuk rejan, hepatitis B, gondongan, cacar air dan TBC.
f. Mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang, dan menghilangkan
penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi) atau bahkan
menghilangkan penyakit tertentu dari dunia seperti imunisasi cacar.
3. Macam-Macam Imunisasi
Imunitas atau kekebalan, berdasarkan asal-muasalnya dibagi dalam 2 (dua) hal, yaitu
aktif dan pasif. Aktif adalah bila tubuh anak ikut menyelenggarakan terbentuknya
imunitas, sedangkan pasif adalah bila tubuh anak tidak bekerja membentuk kekebalan,
tetapi hanya menerimanya saja. Maka berdasarkan hal tersebut diatas, maka imunisasi
dibagi menjadi (dua) macam, yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif.
a. Imunisasi Aktif
1) Pengertian Imunisasi Aktif:
a) Imunisasi aktif adalah pemberian kuman atau racun kuman yang sudah
dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh
memproduksi antibodi sendiri. Contohnya: imunisasi polio atau campak
b) Imunisasi aktif adalah zat anti yang dibentuk sendiri dan akan bertahan
selama bertahun-tahun.
c) Imunisasi aktif adalah pemberian zat sebagai antigen yang diharapkan akan
terjadi suatu proses infeksi buatan sehingga tubuh mengalami reaksi
imunologi spesifik yang akan menghasilkan respon seluler dan hunoral serta
dihasilkannya sel mermori, sehingga apabila benar- benar terjadi infeksi
maka tubuh secara cepat dapat merespon.
d) Imunisasi aktif diberikan untuk pencegaian panyakit yang dilakukan dengan
memberikan vaksin teiadap beberapa penyakit infeksi.
2) Imunisasi dilakukan dengan vaksin yang mengandung:
a) Kuman- kuman mati (misalnya: vaksin cholera-typhoid/ty phus abdominalis
paratyphus ABC, vaksin pertusis batuk.
b) Kuman - kuman hidup diperlemah (misalnya: vaksin BCG.
c) Vinus-virus hidup diperlemah (misalnya: bibit cacar, vaksin poliomyelitis).
d) Toxoid ( -toksin racun daripada kuman yang dinetralisasi rejan) terhadap
tuberkulosis) poliomyelitis) toxoid difteri, toxoid tetanus).
3) Vaksin diberikan dengan cara disuntikan atau per oral/ melalui mulut. Terhadap
pemberian vaksin tersebut, maka tubuh mem- zatzat antiterhadap penyakit
bersangkutan (oleh karena itu imunisasi aktif, kadar zat-zat dapat diukur dengan
darah) dan oleh sebab itu menjadi imun (kebal) pemeriksaan terhadap penyakit
tersebut.
4) Pemberian vaksin dengan cara menyuntikkan kuman atau anti gen murni akan
menyebabkan benar-benar menjadi sakit. Oleh karena itu, dibutuhkan dalam
bentuk vaksin, yaitu kuman telah dilemahkan. Pemberian vaksin akan merangsang
untulk membentuk antibodi.
5) Untuk itu, dalam imunisasi aktif terdapat empat macam kan- dungan yang terdapat
dalam setiap vaksinnya, antara lain:
a) Antigen merupakan bagian dari vaksin yang berfungsi sebagai zat atau
mikroba guna terjadinya semacam infeksi buatan, yang dapat berupa poli
sakarida, toxoid, atau virus yang dilemahkan atau bakteri yang dimatikan.
b) Pelarut dapat berupa air steril atau berupa cairan kultur jaringan
c) Preservatif, stabiliser, dan antibiotika yang berguna untuk menghindari
tumbuhnya mikroba dan sekaligus untuk stabi- lisasi antigen. d) Adjuvan yang
terdiri dari garam aluminium yang berfungsi untuk meningkatkan
imunogenitas antigen.
6) Untuk keperluan imunisasi aktif tersedia, antara lain:
a) Vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin untuk tuberkulosis)
b) Vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus)
c) Vaksin poliomielitis
d) Vaksin campak
e) Vaksin typa (typus abdominalis)
f) Toxoid tetanus
g) Dan lain-lain.
7) Namun, pemerintah tidak mewajibkan berbagai jenis imunisasi tersebut harus
dilakukan semua. Hanya 5 (ima) jenis imunisasi pada anak di bawah 5 (lima)
tahun yang harus dilakukan yaitu:
a) BCG (Bacillus Calmette-Guerin)
b) DPT(difteri, pertusis, tetanus)
c) Polio
d) Campak
e) Hepatitis B
b. Imunisasi Pasif
1) Beberapa Pengertian dari Imunisasi Pasif, adalah sebagai be rikut:
a) Imunisasi pasif adalah zat anti yang didapat dari luar tubuh, misalnya dengan
suntikan bahan atau serum yang mengandung zat anti atau zat anti dari ibunya
selama dalam kandungan. Kekebalan yang diperoleh dengan imunisasi pasif
tidak bertahan lama.
b) Imunisasi pasif adalah pemberian zat (imunoglobulin) yaitu suatu zat yang
dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang dapat berasal dari plasma
manusia tau binatang yang di- gunakan untuk mengatasi mikroba yang diduga
sudah masuk dalam tubuh yang terinfeksi
c) Imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi, sehingga kadar antibodi
dalam tubuh meningkat.
d) munisasi pasif adalah pemberian antibodi dengan tujuan untuk memberikan
pencegahan atau pengobatan terhadap infeksi. Transfer imun yang dibentuk
bersifat sementara selama antribodi masih aktif. Transfer imun juga dapat
terjadi pada bayi baru lahir, misalnya imunoglobulin G yang disalurkan dari
ibu ke bayi secara transpplantasi.
2) Imunisasi pasif terdiri dari dua macam, yaitu:
a) Imunisasi Pasif Bawaan:
Imunisasi pasif bawaan merupakan imunisasi pasif dimana zat antinya berasal
dari ibunya selama dalam kandungan. kisainya terdapat pada neonatus (bayi
baru lahir) sampai bayi berumur 5 (lima) bulan. Neonatus mendapatkan
imunitas tersebut dari ibu sewaktu dalam kandungan, yaitu berupa zą anti
(antibodi) yang melalui jalan darah menembus plasenta. Zat anti tersebut
beruba globulin gama yang mengandung nitas, seperti yang juga dimiliki oleh
ibu. Namun, zat anti n iambat laun akan menghilang/lenyap dari tubuh.
Dengan demikian, sampai umur 5 bulan, bayi dapat terhindar dari beberapa
penyakit infeksi, seperti campak, difteri, dan lain-lain.
b) Imunisasi Pasif Didapat:
Imunisasi pasif didapat merupakan imunisasi pasif dimana zat antinya didapat
dari luar tubuh, misalnya dengan suntik bahan atau serum yang mengandung
zat anti. Zat anti ini didapat oleh anak dari luar dan hanya berlangsung pendek,
yaitu 2-3 minggu karena zat anti seperti ini akan dikeluarkan kembali dari
tubuh anak. Misalnya pemberian serum anti tetanus terhadap penyakit tetanus.
Dengan mendapat luka terutama yang dalam dan kotor, atau karena jatuh di
tanah atau tertusuk oleh bambu atau paku yang berkarat yang sudah lama
berada di tanah, dan sebagainya. Maka untuk mencegah terjadinya tetanus,
dapat diberikan profilaksis dengan serum anti-tetanus. Serum anti-tetanus ini
biasanya dibuat dari darah seekor kuda yang lebih dulu diimunisasi terhadap
tetanus dan oleh karena itu mengandung zat-zat anti terhadap tetanus. Dengan
penyuntikan serum anti-tetanus, maka anak me- nerima zat-zat anti secara
pasif untuk menghadapi penyakit tetanus. Tubuhnya tidak membuat zat-zat
anti tersebut seperti dalam hal penyuntikan toxoid tetanus. Berlainan dengan
imunisasi aktif yang menghasilkan keke- balan untuk waktu lama, maka
imunisasi pasif melindungi anak selama 2-3 minggu. Selain daripada itu, oleh
karena serum anti-tetanus kuda merupakan protein asing bagi ma nusia, maka
sebelum penyuntikan perlu dilakukan test kulit (skin test) terlebih dahulu
untuk mengetahui anak cocok atau tidak terhadap serum kuda untuk
menghindarkan dari reaksi-reaksi anafilaktilk.

4. Jenis – Jenis Imunisasi


a. Imunisasi Dasar
Imunisasi dasar adalah imunisasi pertama yang perlu diberikan pada semua
orang, terutama bayi dan anak sejak lahir untuk melindungitubuhnya dari
penyakit-penyakit berbahaya. Lima jenis imunisasi dasar yang diwajibkan
pemerintah adalah imunisasi terhadap tujuh penyakit, yaitu sebagai berikut:
1) Hepatitis B
Imunisasi Hepatitis B berfungsi untuk memberi tubuh kekebalan terhadap
penyakit hepatitis B, penyakit hepatitis disebabkan oleh virus yang telah
mempengaruhi organ liver (hati). Bayi yang terjangkit virus hepatitis beresiko
terkena kangker hati atau kerusakan pada hati. Penularan Virus Hepatitis B
biasanya disebarkan melalui kontak dengan cairan tubuh (darah, air liur, air mania
tau dari ibu ke anak pada saat melahirkan). Gejala yang dirasakan oleh penderita
penyakit Hepatitis B mirip flu, yaitu hilangnya nafsu makan, mual, rasa lelah,
mata kuning dan muntah serta demam, urine menjadi kuning, dan sakit perut.
Imunisasi ini diberikan tiga kali pada umur 0-11 bulan melalui intramuscular,
sedangkan yang diberikan sesaat setelah lahir atau dapat diberikan pada usia 0-7
hari yaitu vaksin B-PID. Efek samping yang terjadi yaitu berupa reaksi lokal
seperti rasa sakit, kemerahan dan pembungkakan disekitar tempat penyuntikan,
reaksi yang terjadi bersifat ringan dan biasanya hilang setelah 2 hari.
2) BCG
Imunisasi BCG berfungsi untuk mencegah penularan TBC (Tuberkulosis).
Kemasan vaksin BCG dalam 1 ampul, beku kering dilarutkan ke 4 ml pelarut.
Imunisasi BCG dilakukan pada bayi usia 0-2 bulan sebanyak 0,05 cc yang di
suntikan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas. Kontra indiikasi imunisasi
BCG yaitu tidak boleh diberikan pada kondisi seorang anak yang menderita
penyakit kulit yang berat atau menahun, seperti eksim. Efek samping setelah
diberikan imunisasi BCG, reaksi yang timbul tidak seperti pada imunisasi vaksin
lain. Imunisasi BCG tidak menyebabkan demam. Setelah 1-2 minggu di berikan
imunisasi, akan timbul indurasi dan kemerahan ditempat suntikan yang berubah
menjadi pustule, kemudian pecah menjadi luka. Luka ini akan sembuh dengan
sendirinya secara spontan.
3) DPT
Imunisasi DPT adalah Vaksin yang diberikan untuk menimbulkan
kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit difteri, pertusis
(batuk rejan/batuk seratus hari), dan tenanus. DPT berfungsi untuk mencegah
penyakit diptheri, pertusis, dan tetanus. Vaksin DPT terdapat 3 kemasan sekaligus,
pemberian imunisasi DPT dilakukan 3 kali mulai bayi berumur 2 bulan sampai 11
bulan dengan interval 4 minggu melalui injeksi intramuscular pada paha tengah
luar. Sedangkan efek samping pemberian imunisasi DPT yaitu demam.
4) Polio
Polio dapat menyebabkan gejala yang ringan atau penyakit yang sangat
parah. Penyakit ini dapat menyerang system pencernaan dan system saraf. Polio
dapat menyebabkan demam, muntah-muntah, dan kekauan otot-otot dan dapat
menyerang saraf-saraf. Diantara dua sampai lima persen penderita polio akan
meninggal. Imunisasi polio berfungsi untuk mencegah penyakit poliomilitis. Di
berikan 4 kali (polio I,II,II, dan IV)Dosis pemberian imunisasi polio sebanyak 2
tetes ke dalam lidah.
5) Campak
Imunisasi campak diberikan untuk mencegah penyakit campak (measles).
Pemberian vaksin campak hanya diberikan satu kali, dapat dilakukan pada umur
9-11 bulan dengan dosis 0,5 cc. sebelum disuntikan, vaksin campak terlebih
dahulu dilarutkan dengan pelarut steril yang telah tersedia yang berisi 5 ml cairan
pelarut.

b. Imunisasi Booster
Imunisasi booster adalah imunisasi ulangan ( revaksinasi ) dari imunisasi
dasar yang diberikan pada waktu – waktu tertentu dan juga di berikan bila terdapat
suatu wabah yang berjangkit atau bila terdapat kontak dengan penyakit
bersangkutan. Imunisasi ulangan dapat meninggalkan secara cepat kadar zat-zat
anti dalam tubuh

c. Imunisasi Yang Tidak Diwajibkan, tetapi Dianjurkan


Disamping 5 jenis immunisasi dasar yang wajib diperoleh bayi sebelum
usia setahun diatas, maka berikut ini terdapat beberapa jenis immunisasi yang
tidak wajib, tetapi dianjurkan, antara lain :

1) Immunisasi MMR (Measles, Mumpes,dan Rubella)

Immunisasi MMR (Measles, Mumpes,dan Rubella) adalah immunisasi yang


diberikan untuk mencegah terjadinya penyakit campak (measles), parotis
epidemika (mumps, gondongan ), campak jerman (rubella)

a. penyakit campak
Campak adalah penyakit virus akut yang disebabkan oleh virus campak ,
yang menyebabkan infeksinya terjadi dengan petantara droplet , dengan
masa inkubasi 10-14 hari , ditandai dengan ruang campak, demam,batuk.
b. Parotis epidemika (mumps, gondongan )
Penyakit parotis atau gondongan adalah penyakit yang disebabkan oleh
inveksi paramyxovirus dan penyebabnya terjadi melalui droplet,dengan
masa inkubasi 12-25 hari ,dengan gejala tidak khas seperti
anoreksia,myalgia,malaise,nyeri kepala, dan demam ringan,yang kemudian
timbul pembengkakan kelenjar parotis unilateral atau bilateral. Penyakit
ini terutama terjadi pada anak usia 5-9 tahun
c. Rubella (campak jerman)
Penyakit rubella merupakan penyakit infeksi yang ringan, dengan
penyebab infeksi melalui udara dan droplet, dengan gejala klinik yang
mencolok adalah timbulnya ruam makulopakular bersifat
sementara,limfadenopati kelenjar, kadang di sertai artritis dan arthralgia.
2) Mmunisai Typhoid
Immunisasi typhoid adalah immunisasi yang diberikan untuk mencegah
terjadinya penyakit typhoid atau tifus abdominalis.
Penyakit typhoid (Demam tifoid) adalah penyakit yang disebabkan oleh
salmonella typhi, yang menyebabkan infeksi dan ditandai dengan demam,
toksemia, nyeri perut, konstipasi atau diare, dengan masa inkubasi biasanya 7-
14 hari. Penyakit ini sering dijumpai dinegara berkembang terutama di Asia,
Afrika dan Amerika latin.

3) Immunisasi HiB(Haemophilus Influenzae Tipe B)


Immunisasi Hib adalah immunisasi yang diberikan untuk mencegah terjadinya
penyakit influenzae tipe B, penuakit radang selaput otak atau meningitis.
4) immunisasi Hepatitis A
Immunisasi Hepatitis A adalah immunisasi yang diberikan untuk mencegah
terjadinya penyakit hepatitis A.
5) Immunisasi Varicella (Cacar air)
Immunisasi varicella adalah Immunisasi yang diberikan untuk mencegah
terjadinya penyakit varisela (cacar air).

5. Penyakit- Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Immunisasi (PD3I)


a. Tuberkulosis (TBC)
Penyakit yang menyerang paru-paru ini disebut juga dengan tuberkulosis atau
(TBC) yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis. Berdasarkan data
dari World Health Organization tahun 2015, Indonesia masuk dalam enam negara
yang memiliki kasus TB terbanyak. Salah satu cara untuk mencegah TB adalah
dngan memberikan imunisasi BCG. Pemberian imunisasi itu hanya satu kali pada
anak usia di bawah dua bulan. Biasanya, suntikan tersebut dilakukan di lengan
kanan atas atau paha.
b. Difetri
Difitri adalah radang tenggorokan yang sangat berbahaya karena menimbulkan
tenggorokan tersumbat dan kerusakan jantung yang menyebabkan kematian
hanya karena dalam beberapa hari saja. Difetri disebabkan oleh kuman
Corynebacterium diphteria, bakteri gram-positif yang mengeluarkan toksin dan
menimbulkan gejalalokal dan imun. Pencegahan penyakit ini ialah dengan
imunisasi aktif. Pada bayi diberikan dufetri toksoid bersamaan dengan tetanus
tokoid dan pertusis antigen.
c. Penyakit pertusis
Pertusis adalah penyakit radang paru (pernafasan) yang disebut juga dengan batuk
rejan atau batuk 100 hari, karena lama sakitnya 3 bulan lebih atau 100 hari.
Pertusis disebabkan oleh Bordetella pertusis. Nama lain penakit pertusis adalah
tusis quinta, whooping cugh, batuk rejan. Pencegahan pertusis dapat dilakukan
dengan membenrikan vaksin DPT.
d. Campak Rubela
Saat ini mungkin banyak masyarakat yang masih merasa bingung dengan
imunisasi campak dan imunisassi Measles Rubella (MR) untuk melindungi anak-
anak dari campak Jerman. Vaksin MR memang diberikan kepada anak-anak usia
sembilan bulan hingga 15 tahun. Pemberian vaksin tersebut tidak akan
berpengaruh pada anak meskipun sudah menerima vaksin campak sebelumnya.
e. Tetanus
Sama seperti difteri dan batuk rejan, pencegahan penyakit tetanus dilakukan
dengan memberikan imunisasi DPT.Tetanus memang disebabkan oleh bakteri dan
biasanya menyebabkan kelumpuhan, kejang serta kekakuan pada otot. Meski
demikian, tetanus bukan termasuk penyakit menular.
f. Polio
Penyakit yang satu ini memang paling sering didengar oleh masyarakat ketika
hendak melakukan imunisasi. Polio termasuk sebagai salah satu penyakit menular
yang disebabkan oleh virus dalam saluran pencernaan dan tenggorokan.
Pencegahan penyakit ini dilakukan dengan imunisasi polio pada usia di bawah
lima tahun. Biasanya imunisasi tersebut dilakukan secara tetes atau oral (OPV)
dan suntik (IPV). IPV diberikan sebanyak empat kali kepada anak yang berusia
dua bulan, empat bulan, enam bulan hingga 18 bulan dilanjutkan dengan dosis
penguat saat usia empat hingga enam tahun. Sementara itu OPV diberikan pada
anak usia 0-59 bulan.
g. Hepatitis B
Pemberian vaksin hepatitis B ditujukan untuk menangkal infeksi organ hati
karena virus hepatitis B. Hal tersebut menjadi penting karena infeksi hepatitis B
dapat menyebabkan kanker hati dan sirosis.Vaksin diberikan sebanyak tiga
sampai empat kali suntik dalam waktu enam bulan. Dosis pertama diberikan saat
bayi baru dilahirkan, dosis kedua pada usia satu sampai dua bulan, dan dosis
terakhir pada usia enam sampai 18 bulan.
h. Haemofilus influenzae
Penyakit ini biasa disebabkan oleh bakteri Haemophilus influenzae tipe b dan
dapat menyebabkan cacat seumur hidup hingga kematian. Seorang anak harus
mendapatkan vaksin Hib sebagai upaya pencegahan penyakit tersebut. Biasanya
ada empat dosis yang diberikan yaitu dosis pertama pada usia dua bulan, dosis
kedua usia empat bulan, pada usia enam bulan diberikan satu dosis dan terakhir
pada usia 12 sampai 15 bulan.

B. Bimbingan Antisipasi
1. Pengertian Bimbingan Antisipasi
Bimbingan antisipasi merupakan petunjuk-petunjuk yang perluh diketahui
terlebih dahulu agar orang tua dapat mengarahkam dan membimbing anaknya secara
bijaksana sehingga anaknya dapat bertumbuh dan berkembang secara normal .
memberitahukan / upaya bimbingan kepada orang tua tentang tahapan
perkembangan sehingga orang tua sadar akan apa yang terjadi dan dapat memenuhi
kebutuhan sesuai dengan usia anak.

2. Tahapan usia Bimbingan Antisipasi


a. Bimbingan Antisipasi Pada Masa Bayi (0-12 Bulan)
1) Usia 6 (enam) bulan pertama
a) Memahami adanya proses penyesuaian antara orang tua dengan
bayinya, terutama pada ibu yang membutuhkan bimbingan/asuhan
pada masa setelah melahirkan.
b) Membantu orang tua untuk memahami bayinya sebagai individu yang
mempunyai kebutuhan dan untuk memahami bagaimana bayi
mengekspresikan apa yang diinginkan melalui tangisan.
c) Menentramkan orang tua bahwa bayinya tidak akan menjadi manja
dengan adanya perhatian yang penuh selama 4-6 bulan pertama.
d) Menganjurkan orang tua untuk membuat jadwal kebutuhan bayi dan
orang tuanya.
e) Membantu orang tua untuk memahami kebutuhan bayi terhadap
stimulasi lingkungan.
f) Menyokong kesenangan orang tua dalam melihat petumbuhan dan
perkembangan bayinya, yaitu dengan bersahabat dan mengamati
respon social anak misalnya dengan tertawa/tersenyum.
g) Menyiapkan orang tua untuk memenuhi kebutuhan rasa aman dan
kesehatan bagi bayi misalnya imunisasi.
h) Menyiapkan orang tua untuk mengenalkan dan memberikan makanan
padat.
2) Usia 6 (enam) bulan kedua
a) Menyiapkan orang tua akan danya ketakutan bayi terhadap orang yang
belum dikenal (stranger anxiety).
b) Menganjurkan orang tua untuk mengizinkan anaknya dekat dengan
ayah dan ibunya serta menghindarkan perpisahan yang terlalu lama
dengan anak tersebut.
c) Membimbing orang tua untuk mengetahui disiplin sehubungan dengan
semakin meningkatnya mobilitas (pergerakan si bayi).
d) Menganjurkan untuk mengguanakan suara yang negative dan kontak
mata daripada hukuman badan sebagai suatu disiplin. Apabila tidak
berhasil, gunakan 1 pukulan pada kaki atau tangannya.
e) Menganjurkan orang tua untuk memberikan lebih banyak perhatian
ketika bayinya berkelakuan baik dari pada ketika ia menangis.
f) Mengajrkan mengenai pencegahan kecelakaan karena ketrampilan
motorik dan rasa ingin tahu bayi meningkat.
g) Menganjurkan orang tua untuk meninggalkan bayinya beberapa saat
dengan pengganti ibu yang menyusui.
h) Mendiskusikan mengenai kesiapan untuk penyapihan.
i) Menggali perasaan ornag tua sehubungan dengan pola tidur bayinya.
b. Bimbingan Antisipasi Pada Masa Toddler (1-3 Tahun)
1) Usia 12-18 bulan
a) Menyiapkan orang tua untuk antisipasi adanya perubahan tingkah laku
dari toodler terutama negativism.
b) Mengkaji kebiasaan makan dan secara bertahap penyapihan dari botol
serta peningkatan asupan makanan padat.
c) Menyediakan makanan selingan antara 2 waktu makan dengan rasa
yang disukai.
d) Mengkaji pola tidur malam, kebiasaan memakai botol yang merupakan
penyebab utama gigi berlubang.
e) Mencegah bahaya yang dapat terjadi di rumah.
f) Perlu ketentuan-ketentuan/disiplin dengan lembut untuk
meminimalkan negativism, tempertantrum serta penekanan akan
kebutuhan yang positif dan disiplin yang sesuai.
g) Perlunya mainan yang dapat meningkatkan berbagai aspek
perkembangan anak.
2) Usia 18-24 bulan
a) Menekankan pentingnya persahabatan dalam bermain.
b) Menggali kebutuhan untuk menyiapkan kehadiran adik baru.
c) Menekankan kebutuhan akan pengawasan terhadap kesehatan gigi dan
kebiasaan-kebiasaan pencetus gigi berlubang.
d) Mendiskusikan metode disiplin yang ada.
e) Mendiskusikan kesiapan psikis dan fisik anak untuk toilet training.
f) Mendiskusikan berkembangnya rasa takut anak.
g) Menyiapkan orang tua akan adanya tanda regresi pada waktu
mengalami stress.
h) Mengkaji kemampuan anak untuk berpisah dengan orang tua.
i) Memberi kesempatan orang tua untuk mengekspresikan kelelahan,
frustasi dan kejengkelan dalam merawat anak usia toodler.
3) Usia 24-36 bulan
a) Mendiskusikan pentingnya meniru dan kebutuhan anak untuk
dilibatkan dalam kegiatan.
b) Mendiskusikan pendekatan yang dilakuakan dalm toilet training.
c) Menekankan keunikan dari proses berfikir toodler terutama untuk
bahasa yang diungkapkan.
d) Menekankan disiplin harus tetap terstruktur dengan benar dan nyata,
hindari kebingungan dan salah pengertian.
e) Mendiskusikan adanya taman kanak-kanak atau play group.
c. Bimbingan Antisipasi Pada Masa Preschool (3-5 Tahun)
Pada masa ini petunjuk bimbingan tetap diperlukan walaupun
kesulitannya jauh lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Sebelumnya,
pencegahan kecelakaan dipusatkan pada pengamatan lingkungan terdekat, dan
kurang menekankan pada alas an-alasannya. Sekarang proteksi pagar, penutup
stop kontak disertai dengan penjelasan secara verbal dengan alas an yang
tepat dan dapat dimengerti.
Masuk sekolah adalah bentuk perpisahan dari rumah baik bagi orang
tua maupun anak. Oleh karena itu, orang tua memerlukan bantuan dalam
melakukan penyesuaian terhadap perubahan ini, terutama bagi Ibu yang
tinggal di rumah/tidak bekerja. Ketika anak mulai masuk taman kanak-kanak,
maka ibu mulai memerlukan kegiatan-kegiatan di luar keluarga, seperti
keterlibatannya dalam masyarakat atau mengembangkan karier. Bimbingan
terhadap orang tua pada masa ini dapat dilakukan pada anak umur 3, 4, 5
tahun.
1) Usia 3 tahun
a) Menganjurkan orang tua untuk meningkatkan minat anak dalam
hubungan yang luas.
b) Menekankan pentingnya batas-batas / peraturan-peraturan.
c) Mengantisipasi perubahan perilaku agresif.
d) Menganjurkan orang tua menawarkan anaknya alternative-alternatif
pilihan pada saat anak bimbang.
e) Perlunya perhatian ekstra
2) Usia 4 tahun
a) Menyiapkan orang tua terhadap perilaku anak yang agresif, termasuk
aktifitas motorik dan bahasa yang mengejutkan.
b) Menyiapkan orang tua menghadapi perlawanan anak terhadap
kekuasaan orang tua.
c) Kaji perasaan orang tua sehubungan dengan tingkah laku anak.
d) Menganjurkan beberapa macam istirahat dari pengasuh utama, seperti
menempatkan anak pad ataman kanak-kanak selama setengah hari.
e) Menyiapkan orang tua untuk menghadapi meningkatnya rasa ingin
tahu seksual pada anak.
f) Menekankan pentingnya batas-batas yang realistic dari tingkah laku.
g) Mendiskusikan disiplin.
h) Menyiapkan orang tua untuk meningkatkan imajinasi di usia 4 tahun,
dimana anak mengikuti kata hatinya dalam “ketinggian bicaranya”
(bedakan dengan kebohongan) dan kemahiran anak dalam permainan
yang membutuhkan imajinasi.
i) Menyarankan pelajaran berenang.
j) Menjelaskan perasaan-perasaan Oedipus dan reaksi-reaksinya. Anak
laki-laki biasanya lebih dekat dengan ibunya dan anak perempuan
dengan ayahnya. Oleh karena itu, anak perlu dibiasakan tidur terpisah
dengan orang tuanya.
k) Menyiapkan orang tua untuk mengantisipasi mimpi buruk anak dan
menganjurkan mereka agar tidak lupa untuk membangunkan anak dari
mimpi yang menakutkan.
3) Usia 5 tahun
a) Memberikan pengertian bahwa usia 5 tahun merupakan periode yang
relative lebih tenang dibandingkan masa sebelumnya.
b) Menyiapkan dan membantu anak memasuki lingkungan sekolah.
c) Mengingatkan imunisasi yang lengkap sebelum masuk sekolah.
d) Meyakinkan bahwa usia tersebut adalah periode tenang pada anak.

d. Bimbingan Antisipasi Pada Masa Usia Sekolah (6-12 Tahun)


1) Usia 6 tahun
a) Bantu orang tua memahami kebutuhan mendorong anak berinteraksi
dengan teman.
b) Ajarkan pencegahan kecelakaan dan keamanan terutama naik sepeda.
c) Siapkan orang tua akan peningkatan interst anak ke luar rumah.
d) Dorong orang tua untuk respek terhadap kebutuhan anak akan privacy
dan menyiapkan kamar tidur yang berbeda.
2) Usia 7-10 tahun
a) Menakankan untuk mendorong kebutuhan akan kemandirian.
b) Tertarik beraktifitas diluar rumah.
c) Siapkan orang tua untuk perubahan pada wanita pubertas.
3) Usia 11-12 tahun
a) Bantu orang tua untuk menyiapkan anak tentang perubahan tubuh
pubertas.
b) Anak wanita pertumbuhan cepat.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Imunisasi merupakan Pengertian Imunisasi Imunisasi merupakan upaya


pencegahan yang telah runkan morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka
kematian) penyakit infeksi pada bayi dan anak. Agar dapat memberikan asuhan yang
bermutu tinggi dan komprehensif pada bayi dan balita. Tujuan imunisasi adalah
mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang & menghilangkan penyakit
tertentu didunia; melindungi dan mencegah penyakit-penyakit menular yang sangat
berbahaya bagi bayi dan anak; anak menjadi kebal dan terhadap penyakit sehingga
dapat menurunkan angkamorbiditas dan mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan
akibat penyakit tertentu; menurunkan morbiditas, mortalitas dan cacat serta bila
mungkin didapateradikasi suatu penyakit; menurunkan angka penderitaan suatu
penyakit yang sangat membahayakankesehatan bahkan bias menyebabkan kematian
pada penderitanya. Beberapayang dapat dihindari dengan imunisasi yaitu seperti
campak, polio, difteri,tetanus, batuk rejan, hepatitis B, gondongan, cacar air dan TBC.

Bimbingan antisipasi merupakan petunjuk-petunjuk yang perluh diketahui


terlebih dahulu agar orang tua dapat mengarahkam dan membimbing anaknya secara
bijaksana sehingga anaknya dapat bertumbuh dan berkembang secara normal .
memberitahukan / upaya bimbingan kepada orang tua tentang tahapan perkembangan
sehingga orang tua sadar akan apa yang terjadi dan dapat memenuhi kebutuhan sesuai
dengan usia anak.

B. Saran
Diharapkan mahasiswa mampu mengetahui pengertian imunisasi, tujuan,
macam-macam imunisasi, jeni- jenis imunisasi dan penykit yang dapat dicegah
dengan imunisasi. Agar dapat memberikan asuhan keperawatan secara efektif. Dan
mahasiswa dapat menguasai materi tentang bimbingan antisipasi.
Daftar Pustaka

Fitriah dan Hasinuddin, M. 2010. Modul Anticipatory Guidance Terhadap Anak. Bandung:
Simbiosa Rekatama Media.
Maryunani, Anik. 2010. Ilmu Kesehatan Anak Dalam Kebidanan. Jakarta: Trans Info Media
SOAL IMUNISASI (KELOMPOK 2)

1. Apakah yang dimaksud dengan imunisasi.....


a. Suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap
suatu antigen, sehingga kelak bila ia terpapar pada antigen serupa tidak
terjadi penyakit
b. Suatu cara untuk menimbulkan penyakit pada seseorang
c. Suatu cara untuk mengobati
d. Suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu
penyakit, sehingga bila kelak terpapar penyakit tersebut maka akan sakit

2. Perhatikan pernyataan berikut ini:


i. Mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang
ii. Mengurangi jumlah penduduk
iii. Melindungi dan mencegah penyakit-penyakit menular yang sangat berbahaya
bagi bayi dan anak
iv. Meningkatkan angka kejadian suatu penyakit

Tujuan pemberian imunisasi adalah.....

a. i dan ii
b. ii dan iii
c. i dan iii
d. ii dan iv

3. Menurut cara pemberiannya imunisasi yang diberikan 3 kali pada bayi usia 1-11 bulan
dengan interval 4 minggu adalah....
a. Imunisasi campak
b. Imunisasi Hepatitis B
c. Imunisasi BCG
d. Imunisasi DPT

4. Perhatikan pernyataan berikut ini:


i. Penyakit campak
ii. Penyakit thypoid
iii. Parotis epidemika (mumps, gondongan)
iv. Penyakitselaput radang otak atau meningitis
v. Rubela (campak jerman)

Dari pernyataan diatas penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi MMR
adalah.....

a. i, ii dan iii
b. ii, iii dan iv
c. iii, iv dan v
d. i, iii, dan v

5. Penyakit ini disebabkan oleh Salmonella typhi, yang menyebabkan infeksi dan
ditandai dengan demam, toksemia, nyeri perut, konstipasi atau diare, dengan masa
inkubasi biasanya 7-14 hari. Dari pernyataan tersebut merupakan ciri dari penyakit
apa dan dapat dicengah dengan pemberian imunisasi.....
a. Hepatitis A dengan imunisasi hepatitis A
b. Cacar air (varicella) dengan imunisasi varicella
c. Influenza tipe B dengan imunisasi HiB
d. Demam tifoid dengan imunisasi thphoid

6. Lima jenis imunisasi dasar yang wajib diberikan pada anak di bawah usia 5 tahun
adalah, kecuali.....
a. BCG
b. DPT
c. Toxoid tetanus
d. Polio

7. Pada bayi baru lahir (neonatus) sampai bayi berumur 5 bulan mendapatkan imunitas
dari ibu sewaktu dalam kandungan yang berupa zat antibodi yang melalui jalan darah
menembus plasenta. Dari penjelasan tersebut meprupakan pengertian dari i.....
a. Imunisasi pasif bawaan
b. Imunisasi pasif didapat
c. Imunisasi aktif
d. Vaksin
8. Imunisasi DPT merupakan imunisasi yang digunakan untuk menimbulkan kekebalan
aktif terhadap beberapa peyakit yaitu, kecuali.....
a. Difteri
b. Penyakit pertusis
c. Tuberkulosis (TBC)
d. Penyakit tetanus

9. Imunisasi polio wajib diperoleh bayi sebelum usia setahun yang diberikan dengan
cara.....
a. Diberikan 3 kali pada bayi usia 2-11 bulan dengan interval minial 4 minggu
b. Diberikan 4 kali pada bayi 0-11 bulan dengan interval minimal 4 minggu
c. Diberikan 1 kali pada bayi usia 9-11 bulan
d. Diberikan 3 kali pada usia bayi 1-11 bulan, denga interval minimal 4 minggu

10. Penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian imunisasi adalah.....


a. Tetanus neonatorum
b. Pertusis
c. Difteri
d. Semua benar

Anda mungkin juga menyukai