Anda di halaman 1dari 3

4.

Soundtrack Drama Bikin Super Nagih


Musik latar atau soundtrack memang menjadi satu bagian yang ikut mendukung
kesuksesan sebuah drama. Dengan akting yang keren dan cerita yang menarik,
sebuah drama akan terasa lebih menyentuh jika dibarengi dengan soundtrack yang
sesuai. Dan dalam drama Korea, original soundtrack menjadi hal yang wajib ada!
Para penata musik biasanya mengambil dari album para musisi yang sudah rilis,
namun kebanyakkan mereka membuat lagu baru yang spesial untuk drama tersebut.

Berbeda dengan Indonesia yang tak banyak memakai soundtrack lagu sebagai
musik latar. Drama Korea selalu menyisipkan original soundtrack-nya di beberapa
adegan. Dan hasilnya, drama menjadi lebih istimewa dan hidup. Sebut saja drama
‘It’s Okay, That’s Love’ yang sukses membawa sederet lagu menjadi booming di
pertengahan tahun 2014 lalu. Tak hanya original sountrack-nya yang meledak
dipasaran, drama yang sukses dengan berbagai penghargaan itupun kembali
mempopulerkan lagu-lagu lawas yang nagih untuk didengarkan.

5. Kualitas Pengambilan Gambar Yang Lebih


Keren
Harus diakui untuk kualitas kamera dan teknologi yang dipakai di Korea Selatan
memang jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia. Rumah produksi yang banyak
menghasilkan drama-drama hits selalu memakai kamera dengan kualitas gambar
HD serta dengan angle yang menyeluruh. Mereka bisa mengambil satu adegan
berulang-ulang demi mendapatkan hasil gambar yang baik. Berbeda dengan
sinetron Indonesia yang kini banyak memakai pengambilan gambar close up atau
separuh badan, yang terkesan kaku dan kurang menuntut interaksi antar pemain.
Kualitas Pengambilan Gambar Yang Lebih Keren [image source]Selain teknik
pengambilan gambar, teknologi yang digunakan untuk editing video pun sangat
canggih. Transisi video demi video pun terlihat mulus dan menarik untuk dinikmati.
Namun semua hal itu memang berhubungan dengan biaya yang musti dikeluarkan
untuk setiap produksi. Kamera dan berbagai alat editing video yang dipakai pun
berbeda kualitas, sehingga menghasilkan karya serial yang juga tak bisa disamakan.

6. Jumlah Episode Gak Bikin Males!


Jika sinetron Indonesia memiliki jumlah episode ratusan, maka dalam drama Korea
Selatan umumnya hanya mematok 16-25 episode. Itupun jika cerita memang
mengangkat konflik yang rumit dan cukup kompleks. Lain dengan drama saenguk
atau drama sejarah yang biasanya memiliki episode lebih banyak berkisar 50 hingga
75 episode. Namun hal ini sesuai porsi cerita yang membutuhkan durasi yang lebih
lama ketimbang tema drama yang ringan, seperti kisah percintaan dan tema anak
sekolahan.

Jumlah Episode Gak Bikin Males! [image source]Jumlah episode ikut dipengaruhi


dengan jadwal tayang yang berbeda. Jika di Indonesia sinetron sekarang musimnya
kejar tayang alias diputar setiap hari, maka di Korea setiap drama biasanya
ditayangkan dua hari dalam seminggu. Sehingga untuk menyelesaikan satu drama
perlu 3 hingga 4 bulan untuk menyelesaikannya. Hal inipun tentu membuat rasa
penasaran pemirsa dan menambah keseruan drama yang ditayangkan.

7. Banyak Nilai Positif Yang Diangkat


Cerita-cerita dalam serial Korea bukan hanya menyajikan hiburan semata. Nyatanya
ada banyak hal positif yang terselip dalam sajian cerita Kdrama lho! Beberapa nilai
kehidupan kerap ditampilkan dan menjadi cerminan pemirsa untuk introspeksi
kepada diri sendiri. Seperti drama ‘Who Are You’ yang mengangkat kisah bullying di
sekolah. Drama ini memang menampilkan kekerasan, namun di akhir cerita diberi
gambaran jika tindakan kejam hanya akan berakibat buruk pada diri sendiri.

Banyak Nilai Positif Yang Diangkat [image source]Penonton pun kerap disuguhi
motivasi dengan kata-kata mutiara yang biasanya dilontarkan para tokoh dalam
serial Korea. Seperti drama ‘Dream High’, di dalamnya terdapat kutipan percakapan
salah satu tokoh guru yang memberi inspirasi mendalam.
“Dalam hidup ini ada orang-orang yang meraih impiannya dengan jalan yang
cepat. Ada juga dengan jalan yang panjang dan lambat. Namun tak selamanya
yang lambat itu buruk. Bukankah dengan jalan yang lambat dan panjang kita
bisa melihat dan memperhatikan hal-hal yang lebih banyak disekitar? Mungkin
dengan jalan lambat itulah yang bisa menempa kita untuk jadi lebih dewasa?
Intropeksi diri, benahi diri dan melangkah lagi. Karena cerita belum berakhir.”
Sederet alasan di atas memang menjadikan drama Korea Selatan banyak
digandrungi masyarakat Indonesia. Namun tak semuanya tontonan dalam negeri
kalah populer dengan produksi negeri gingseng ya! Masih banyak acara berkualitas
yang bisa menghibur sekaligus mengedukasi. Namun budaya sinetron yang tak
mendidik memang harus dikurangi, bahkan kalau perlu dihilangkan sama sekali!
Siapa tahu dengan kualitas cerita yang lebih apik, suatu saat sinetron Indonesia
mampu menembus pasar Asia hingga dunia! Bagaimana menurutmu?