Anda di halaman 1dari 53

Asuhan Keperawatan pada Ny.

R dengan Prioritas Masalah


Kebutuhan Harga Diri pada Pasien dengan Gagal
Ginjal Kronik di RSUD Dr. Pirngadi Medan
Provinsi Sumatera Utara

Karya Tulis Ilmiah (KTI)


Disusun dalam Rangka Menyelesaikan
Program Studi DIII Keperawatan

Oleh

WISDA ELVIANI
142500023

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2017

Universitas Sumatera Utara


2

Universitas Sumatera Utara


i

Universitas Sumatera Utara


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan penulisan Karya Tulis Ilmiah ini
dengan judul: “Asuhan Keperawatan pada Ny. R dengan Prioritas Masalah
Kebutuhan Dasar Harga Diri pada Pasien dengan Gagal Ginjal Kronik di RSUD
Dr. Pirngadi Medan Provinsi Sumatera Utara”.

Penulis menyadari bahwa penulisan Karya Tulis Ilmiah ini masih terdapat
kekurangan, dan jauh dari kata sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan saran
dan kritik yang konstruktif demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini.

Dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT Kupersembahkan karya tulis
sederhana ini kepada:

Seorang Wanita yang teramat cantik, wanita yang telah memperjuangkan hidup
dan matinya untuk melahirkanku serta merawatku dengan penuh kelembutan dan kasih
sayang yang luar biasa penulis rasakan,yang tercinta Ibunda Julipa, dan yang telah
mendidikku, membanting tulang, ikhlas mengeluarkan keringatnya agar penulis dapat
menikmati hidup sampai sekarang, yang tercinta Ayahanda Jasmir Piliang.

Pada kesempatan ini penulis juga ingin mengucapkan terimakasih untuk


bantuan, bimbingan, motivasi, dan arahan dari semua pihak secara langsung maupun
tidak langsung kepada semua pihak yang telah mendukung penulis dalam
menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah, terutama kepada yang terhormat:

1. Bapak Setiawan, S.Kp, MNS, Ph.D selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Sri Eka Wahyuni, S.Kep, Ns, M.Kep selaku Wakil Dekan I dan sekaligus
sebagai dosen penguji saya yang telah memberikan waktu, kritik dan sarannya
kepada penulis di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Cholina Trisa Siregar, S.Kep, Ns, M.Kep, Sp.KMB selaku Wakil Dekan II
Fakultas Ilmu Keperawatan Universita Sumatera Utara.

ii

Universitas Sumatera Utara


4. Ibu Dr. Siti Saidah Nasution, S.Kp, M.Kep, Sp.Mat selaku Wakil Dekan III
Fakutas Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
5. Ibu Mahnum Lailan Nasution, S.Kep, Ns, M.Kep selaku Ketua Program Studi DIII
Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
6. Ibu Wardiyah Daulay, S.Kep, Ns, M.Kep selaku Dosen Pembimbing yang telah
memberikan bimbingan dan meluangkan waktu serta pikiran dalam menyusun
Karya Tulis Ilmiah.
7. Kepada Adik-adik penulis Fazira Rahma Syahfitri, Ema Fauziah, dan Emi Fikrah
yang telah memberikan dukungan, semangat, motivasi serta doa kepada penulis
selama penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
8. Kepada Muhammad Nanda Alfitrah yang telah menemani penulis dari awal
perkuliahan sampai saat ini, terima kasih karena selalu setia menemani penulis
untuk memberikan dukungan, motivasi, semangat dan doa nya kepada penulis
selama penyususan Kaya Tulis Ilmiah ini.
9. Kepada Kakak Rizky Ratih Yolanda Bangun yang telah memberikan motivasi dan
semangat kepada penulis selama penyusunan Karya Tulis Ilmiah.
10. Rekan-rekan mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara
Program Studi DIII Keperawatan Stambuk 2014 khususnya teman belajar saya,
Zahrina Violla, Irma Linda W Utami dan teman bermain saya Kezia, Yosevin,
Yuspika, Desi Sibarani, Indri Utami, Minah Sari, Ismaul Husna, dan juga rekan
satu bimbingan KTI, Inggrid M Rumapea, Chelsea Nadya, dan Zahrina Violla yang
telah berpartisipasi dan mendukung selama penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
Kalian Luar Biasaaaa

Medan, Juli 2017

Wisda Elviani

iii

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ....................................................................................i


KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang . ........................................................................................ 1
B. Tujuan ........................................................................................................ 3
C. Manfaat ...................................................................................................... 3
BAB II PENGELOLAAN KASUS
A. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan dengan Prioritas Masalah
Kebutuhan Harga Diri ........................................................................... 5
1. Pengkajian................. ........................................................................ 11
2. Analisa Data...................................... ................................................ 17
3. Rumusan Masalah.............................. ............................................... 18
4. Perencanaan........................................................................................ 18
B. Asuhan Keperawatan Kasus ................................................................ 23
1. Pengkajian ......................................................................................... 23
2. Analisa Data ...................................................................................... 31
3. Masalah Keperawatan ....................................................................... 33
4. Diagnosa Keperawatan ..................................................................... 33
5. Intervensi Keperawatan ..................................................................... 34
6. Implementasi dan Evaluasi ............................................................... 39
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................................. 43
B. Saran ......................................................................................................... 44
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 45
Lampiran

iv

Universitas Sumatera Utara


BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebutuhan dasar manusia menurut Maslow adalah bahwa setiap manusia memiliki
lima kebutuhan dasar. Tingkat pertama, termasuk kebutuhan fisiologis seperti udara,
nutrisi, air, eliminasi, istirahat dan tidur. Tingkat kedua yaitu kebutuhan keamanan dan
perlindungan, termasuk juga keamanan fisiologis dan psikologis. Tingkat ketiga berisi
kebutuhan akan cinta dan memiliki, termasuk didalamnya hubungan pertemanan,
hubungan sosial, hubungan cinta. Tingkat keempat yaitu kebutuhan akan penghargaan
diri, termasuk juga kepercayaan diri, pendayagunaan, penghargaan dan nilai diri.
Tingkat terakhir merupakan kebutuhan aktualisasi diri, keadaan pencapaian potensi, dan
mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah & beradaptasi dengan
kehidupan (Rosdalh & Kowalksi, 2012).

Manusia memerlukan perasaan stabil terhadap harga diri maupun perasaan bahwa
mereka dihargai oleh orang lain. Kebutuhan harga diri berhubungan dengan keinginan
terhadap kekuatan, pencapaian, rasa cukup, kompetensi, rasa percaya diri, dan
kemerdekaan. Manusia juga membutuhkan penghargaan atau apresiasi dari orang lain.
Pada saat kedua kebutuhan ini terpenuhi, seseorang merasa percaya diri dan berguna.
Jika kebutuhan harga diri dan penghargaan dari orang lain tidak terpenuhi, orang
tersebut mungkin tidak berdaya dan merasa rendah diri (Maslow, 1970 dalam Potter &
Perry, 2005).

Harga diri rendah situasional adalah evaluasi diri negatif yang berkembang sebagai
respons terhadap hilangnya atau berubahnya perawatan diri seseorang yang sebelumnya
mempunyai evaluasi diri positif (NANDA, 2005)

Gangguan harga diri yang disebut sebagai harga diri rendah dapat terjadi secara
kronik, yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu sebelum
sakit/dirawat. Klien ini mempunyai cara berpikir yang negatif. Kejadian sakit dan
dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya. Kondisi ini mengakibatkan
respons yang maladaptif.

Penyakit Gagal Ginjal Kronik merupakan penyakit yang sangat berbahaya karena
penyakit ini dapat berlangsung lama dan mematikan. Disamping itu pula penyakit gagal

Universitas Sumatera Utara


ginjal kronik membutuhkan biaya yang cukup banyak tetapi penyakit gagal ginjal
kronik sangat sukar di sembuhkan.

Gagal Ginjal Kronik atau penyakit ginjal tahap akhir adalah gangguan fungsi ginjal
yang menahun bersifat prognetif dan irreversible. Dimana kemampuan tubuh gagal
untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,
menyebabkan uremia atau retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah ( Brunner
Sundarth, 2002 ). Gagal ginjal kronik adalah kegagalan fungsi ginjal untuk
mempertahankan metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit akibat destruksi
struktur ginjal yang progresif dengan manifestasi penumpukan sisa metabolit (toksik
uremic) dalam darah ( Muttaqin Arif, 2011 )

Berdasarkan laporan periode Rumah Sakit Pirngadi Kota Medan di dapatkan data
dari bulan mei 2017 tercatat jumlah pasien rawat di ruang HDU, didapatkan pasien
dengan penyakit gagal ginjal kronik mengalami kebutuhan dasar harga diri dengan
jumlah pasien 4 (60%) dari 6 pasien yang masuk di Ruang HDU.

Berdasarkan kasus di Rumah Sakit Pirngadi Medan Provinsi Sumatera Utara


dengan klien Gagal Ginjal Kronik, ditemukan bahwa klien megalami gangguan
kebutuhan dasar harga diri. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar harga diri
disebabkan oleh gangguan psikologis, dapat di gambarkan sebagai perasaan negatif
terhadap diri sendiri dan merasa gagal mencapai keinginan.

Penulis memprioritaskan masalah kebutuhan dasar ini dikarenakan harga diri yang
terganggu dapat mempengaruhi status kesehatan klien. Terpenuhinya harga diri
menjadikan klien mampu untuk menggali kemampuan dan kepercayaan dirinya
sekaligus membantu proses penyembuhan dirinya sendiri. Oleh karena itu, perawat
perlu memberikan asuhan keperawatan yang dapat membantu klien dalam pemenuhan
kebutuhan dasarnya terkait dengan kondisi klien yang mengalami gagal ginjal kronik.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk memberikan asuhan keperawatan pada
Ny. R dengan prioritas masalah kebutuhan dasar harga diri pada klien yang

Universitas Sumatera Utara


mengalami gagal ginjal kronik di Rumah Sakit Pirngadi Medan Provinsi
Sumatera Utara.

2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian keperawatan pada Ny. R dengan
masalah kebutuhan dasar harga diri.
b. Mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada Ny. R dengan
masalah kebutuhan dasar harga diri.
c. Mahasiswa mampu melakukan perencanaan keperawatan pada Ny. R dengan
masalah kebutuhan dasar harga diri.
d. Mahasiswa mampu memberikan implementasi keperawatan sesuai dengan
perencanaan yang telah ditetapkan pada Ny. R dengan masalah kebutuhan
dasar harga diri.
e. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi pada Ny. R dengan masalah
kebutuhan dasar harga diri.

C. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Hasil karya tulis ilmiah ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi yang
bermakna bagi mahasiswa dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien
dengan Gagal Ginjal Kronik sekaligus mahasiswa mempunyai pemahaman yang
lebih baik tentang cara pemenuhan kebutuhan dasar yang terkait dengan
gangguan harga diri.

2. Bagi Institusi Pendidikan


Hasil karya tulis ilmiah ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi institusi
penyelenggara pendidikan Diploma III Keperawatan khususnya dalam
mengembangkan suatu panduan bagi mahasiswa di dalam mempersiapkan
mahasiswa untuk memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan kebutuhan
harga diri.
Selain itu, hasil karya tulis ilmiah ini juga dapat digunakan oleh institusi untuk
membantu mahasiswa bagaimana mengidentifikasi kebutuhan dasar klien dan
meningkatkan kemampuan mahasiswa membantu klien dalam pemenuhan
kebutuhan dasar.

Universitas Sumatera Utara


3. Bagi Klien
Hasil asuhan keperawatan ini dapat digunakan untuk membantu klien mengatasi
harga diri rendahnya, sehingga klien dapat melakukan kegiatan sehari-hari
dengan percaya diri dan mampu memandang dirinya secara positif.

Universitas Sumatera Utara


BAB II

PENGELOLAAN KASUS

A. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan dengan Masalah Kebutuhan Harga Diri


1. Pengertian Harga Diri
Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan
menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri atau cita-
cita/harapan langsung, mengasilkan perasaan berharga. Pada kondisi tertentu
kebutuhan harga diri akan terganggu sehingga individu tersebut mengalami
harga diri rendah.
Harga diri rendah adalah penilaian diri yang salah tentang pencapaian
diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri.
Pencapaian ideal diri/cita-cita/harapan langsung menghasilkan perasaan
berharga. Harga diri dapat diperoleh melalui penghargaan diri sendiri atau orang
lain. Perkembangan harga diri juga ditentukan oleh perasaan diterima, dicintai,
dihormati oleh orang lain, serta keberhasilan yang pernah dicapai individu dalam
hidupnya (Hidayat, 2006).
Individu yang memiliki harga diri positif akan lebih percaya diri untuk
mencoba perilaku sehat yang baru dan sangat kecil kemungkinan untuk
mengalami depresi. Sedangkan gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai
perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, dan merasa
gagal mencapai keinginan (Boyn, 2005).

2. Faktor Penyebab Harga Diri Rendah


Kondisi harga diri rendah dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
1. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi, terjadinya harga diri rendah akibat penolakan orang tua
yang tidak realistis, kegagalan berulang kali, kurang mempunyai tanggung
jawab personal, ketergantungan pada orang lain, ideal diri yang tidak
realistis.
2. Faktor Prespitasi

Universitas Sumatera Utara


Faktor prespitasi, terjadinya harga diri rendah biasanyanya akibat
kehilangan bagian tubuh, perubahan penampilan/bentuk tubuh, kegagalan
atau produktivitas yang menurun.
Secara umum, gangguan harga diri yang disebut sebagai harga diri rendah
dapat terjadi secara:
1. Situasional, yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya harus
operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan
kerja, perasaan malu akan sesuatu (korban perkosaaan, dituduh KKN,
dipenjara tiba-tiba).
Gangguan pada klien yang dirawat dapat terjadi harga diri
rendah karena:
a. Privacy yang kurang diperhatikan, misalnya: pemeriksaan fisik
yang sembarangan, pemsangan alat yang tidak sopan (pencukuran
pubis, pemasangan kateter, pemeriksaan perineal).
b. Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak
tercapai karena dirawat/sakit/penyakit.
c. Perlakuan petugas yang tidak menghargai, misalnya berbagai
pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan, berbagai tindakan tanpa
persetujuan. Kondisi ini banyak ditemukan pada klien gangguan
fisik.
2. Kronik yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama,
yaitu sebelum sakit/dirawat. Klien ini mempunyai cara berpikir yang
negatif. Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negatif
terhadap dirinya. Kondisi ini mengakibatkan respon yang maladaptif.
Kondisi ini dapat ditemukan pad klien gangguan fisik yang kronis
atau pada klien gangguan jiwa.

Baik faktor predisposisi maupun prespitasi diatas bila mempengaruhi


seseorang dalam berpikir, bersikap maupun bertindak, maka dianggap akan
mempengaruhi terhadap koping individu terebut sehingga menjadi tidak efektif
(mekanisme koping individu tidak efektif). Bila kondisi pada klien tidak
dilakukan intervensi lebih lanjut dapat menyebabkan klien tidak mau bergaul
dengan orang lain (isolasi sosial: menarik diri), yang menyebabkan klien asik

Universitas Sumatera Utara


dengan dunia dan pikirannya sendiri sehingga dapat muncul resiko perilaku
kekerasan.
Menurut Peplau dan Sulivan (2013), harga diri berkaitan dengan
pengalaman interpersonal, dalam tahap perkembangan bayi sampai lanjut usia
seperti good me, bad me, not me, anak dapat dipersalahkan, ditekan sehingga
perasaan amanya tidak terpenuhi dan merasa ditolak oleh lingkungan dan
apabila koping yang diberikan tidak efektif akan menimbulkan harga diri rendah.
Menurut Caplan (2013), lingkungan sosial akan mempengaruhi individu,
pengalaman seseorang dan adanya perubahan sosial seperti perasaan dikucilkan,
ditolak oleh lingkungan sosial, tidak dihargai akan menyebabkan stress dan
menimbulkan penyimpangan perilaku akibat harga diri.

3. Proses Terjadinya Harga Diri Rendah


Harga diri seseorang diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Gangguan
harga diri rendah akan terjadi jika kehilangan kasih sayang, perlakuan orang
lain yang mengancam dan hubungan interpersonal yang buruk. Tingkat harga
diri seseorang berada dalam rentang tinggi sampai rendah.
Individu yang memiliki harga diri tinggi menghadapi lingkungan secara
aktif dan mampu beradaptasi untuk berubah serta cenderung merasa aman.
Individu yang memiliki harga diri rendah melihat lingkungan dengan cara
negatif dan menganggap sebagai ancaman.
Hal ini sesuai dengan pendapat Barbara Kozier berikut:
Level of self esteem range from high to low. A person who has high self
esteem deals actively with the environtment, adapts effectively to change, and
fells secure.a person with low self esteem sees the environment as negative and
threatening (Driever dalam Kozier, 2003:845).
Self esteem dipengaruhi oleh pengalaman individu dalam perkembangan
fungsi ego, dimana anak-anak yang beradaptasi terhadap lingkungan internal dan
eksternal biasanya memiliki perasaan aman terhadap lingkungan dan
menunjukkan self esteem yang positif. Sedangkan individu yang memiliki harga
diri rendah cenderung untuk mempersepsikan lingkungan negatif dan sangat
mengancam. Mungkin pernah mengalami depresi atau gangguan dalam fungsi
egonya (Otong, 1995:297).

Universitas Sumatera Utara


Sebuah hasil riset menyimpulkan bahwa harga diri rendah diakibatkan
oleh rendahnya cita-cita seseorang. Hal ini mengakibatkan berkurangnya
tantangan dalam mencapai tujuan. Tantangan yang rendah menyebabkan upaya
yang rendah. Selanjutnya hal ini menyebabkan penampilan seseorang yang tidak
optimal (Malhi, 2008).
Dalam tinjuan life span history klien, penyebab terjadinya harga diri
rendah adalah pada masa kecil sering disalahkan, jarang diberi pujian atas
keberhasilannya. Saat individu mencapai masa remaja keberadaannya sering
tidak dihargai, tidak diberi kesempatan dan tidak diterima. Menjelang dewasa
awal sering gagal disekolah, pekerjaan, atau pergaulan. Harga diri rendah
muncul saat lingkungan cenderung mengucilkan dan menuntut lebih dari
kemampuannya.

Adaptif Mal-adaptif

Aktualisasi Konsep diri harga diri kerancuan deperso-


Diri positif rendah identitas nalisasi

Gambar 2.1.4. Respon Konsep Diri (Stuart & Sundeen, 1998)

Keterangan :

1. Respon adaptif adala respon yang dihadapi klien bila klien menghadapi suatu
masalah dapat menyelesaikannya secara baik, antara lain:
a. Aktualisasi diri
Kesadaran akan diri berdasarkan konservasi mandiri termasuk persepsi mas
lalu akan diri dan perasaannya.
b. Konsep diri positif
Menunjukkan individu akan sukses dalam menghadapi masalah.

Universitas Sumatera Utara


2. Respon mal-adaptif adalah respon individu dalam menghadapi masalah dimana
individu tidak mampu memecahkan masalah tersebut. Respon mal-adaptif
gangguan konsep diri adalah:
a. Gangguan harga diri
Transisi antara respon konsep diri positif dan mal-adaptif.
b. Kekacauan identitas
Kekacauan diri kacau atau tidak jelas sehingga tidak memberikan kehidupan
dalam mencapai tujuan.
c. Depersonalisasi
Tidak mengenal diri yaitu mempunyai kepribadian yang kurang sehat, tidak
mampu berhubungan dengan orang lain secara intim. Tidak ada rasa percaya
diri atau tidak dapat membina hubungan baik dengan orang lain.

4. Tanda dan Gejala Harga Diri Rendah


Adapun tanda dan gejala harga diri rendah adalah, Damayanti (2008), sebagai
berikut :
a. Mengkritik diri sendiri.
b. Perasaan tidak mampu.
c. Pandangan hidup yang pesimis.
d. Penurunan produktivitas
e. Penolakan terhadap kemampuan diri.
Selain data di atas, dapat juga mengamati penampilan seseorang dengan harga
diri rendah, terlihat dari kurang memperhatikan perawatan diri, berpakaian
tidak rapi, selera makan kurang, tidak berani menatap lawan bicara, lebih
banyak menunduk, bicara lambat dengan nada suara pelan.

5. Batasan Karakteristik Harga Diri Rendah


Batasan karakteristik menurut Nanda – 1 (2012), yaitu :
a. Bergantung pada pendapat orang lain.
b. Individu tidak mampu menghadapi peristiwa.
c. Melebih – lebihkan umpan balik negative tentag diri sendiri.
d. Secara berlebihan mencari penguatan.

Universitas Sumatera Utara


e. Sering kali kurang berhasil dalam peristiwa hidup.
f. Enggan mencoba situasi baru, enggan mencoba hal baru.
g. Perilaku bimbang, kontak mata kurang.
h. Perilaku tidak asertif.
i. Sering kali mencari penegasan, pasif.
j. Menolak umpan balik positif tentang diri sendiri. Ekspresi rasa
bersalah.
6. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan dengan Masalah Kebutuhan Harga
Diri
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan unsur utama dari proses
keperawatan. Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu
penentuan status kesehatan dan pola pertahanan klien, mengidentifikasi
kekuatan dan kebutuhan klien, serta merumuskan diagnosa keperawatan.
Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang
bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang klien agar dapat
mengidentifikasi, mengenal maslah-masalah, kebutuhan kesehatan dan
keperawatan klien baik mental, sosial, dan lingkungan (Rohmah, 2009). Jadi
pengkajian meliputi pengumpulan data analisa data dan diagnosa keperawatan :

a. Pengumpulan data
Tujuan dari pengumpulan data adalah menilai statuskesehatan dan
kemungkinan adanya masalah yang memerlukan intervensi dari perawat.
Data yang dikumpulkan bisa berupa data objektif, yaitu didapat secara nyata
dan melaui observasi atau pemeriksaan langsung oleh perawat.
Sedangkan data subjektif yaitu data yang disampaikan secara lisan oleh
klien dan keluarganya. Adanya data ini di dapat melalui wawancara perawat
pada klien dan keluarganya. Untuk dapat menjaring data yang diperlukan,
umumnya yang dikembangkan formulir pengkajian dan petunjuk teknis
pengkajian agar memudahkan dalam pengkajian.
1) Identitas klien
Identitas klien meliputi nama,umur,jenis kelmain, pendidikan,
agama, pekerjaan, status marital, suku/bangsa, alamat, nomor

10

Universitas Sumatera Utara


medrek, ruang rawat, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian,
dan diagnosa medis, dan identitas penanggung jawab.
2) Alasan masuk
Tanya kepada pihak klien/keluarga atau pihak yang berkaitan dan
tuliskan hasilnya, apa yang menyebabkan klien datang kerumah sakit,
dan Apa yang sudah dilakukan klien/keluarga sebelum atau sesudah
berobat kerumah sakit.
3) Faktor predisposisi
Berbagai faktor menunjang terjadinya perubahan dalam konsep diri
seseorang (Stuart, 2006).
a) Riwayat ganguan jiwa
b) Pengobatan
c) Aniaya
d) Anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa
e) Pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan
4) Pengkajian fisik
Tanda-tanda vital , Ukur dan observasi tanda-tanda vital: tekanan
darah, nadi, suhu, dan pernafasan klien, berat badan, dan tinggi
badan.
5) Pengkajian psikososial
a) Genogram
Kaji meliputi gambaran klien dengan tiga generasi ke atas, pola
asuh, pengambilan keputusan dalam keluarga, dan hubungan
dengan anggota keluarga lainnya. Keluarga dari klein
sebelumnya pernah mengalami penyakit gangguan kejiwaan,
pola asuh yang kurang dari orang tuanya saat/sejak dari kecil,
jarang diikitsertakan dalam pengambilan keputusan, dan
hubungan klien dengan keluarga lainnya kurang harmonis.
Penjelasan :
Jelaskan klien tinggal dengan siapa dan apa hubungannya,
jelaskan masalah yang terkait dengan pola asuh kelurga terhadap
klien dan anggota keluarga lainnya, pola komunikasi,pola
pengambilan keputusan, dan faktor herediter (Azizah : 2011).

11

Universitas Sumatera Utara


b) Konsep diri
1) Gambaran`diri
Disukai dan tidak disukai, klien akan mengatakan tidak ada
keluhan apapun.
2) Identitas diri
Kaji bagaiman kepuasan klien terhadap jenis kelaminnya, status
sebelum dirawat dirumah sakit. Klien merasa tidak berdaya dan
rendah diri sehingga tidak mempunyai status yang dibanggakan
atau diharapkan dikeluarga maupun masyarakat
3) Peran
Biasanya pasien mengalami penurunan produktifitas, ketegangan
peran dan merasa tidak mampu dalam melaksanakan tugas.
4) Ideal diri
Tanyakan harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas/peran.
Harapan klien terhadap lingkungan (keluarga, sekola, tempat
kerja, masyarakat),harapan klien terhadap penyakitnya.
5) Harga diri
Pasien mengejek dan mengkritiki diri sendiri, menurunkan
martabat, menolak kemampuan yang dimiliki yang nyata dan
perasaan dirinya lebih penting.

c) Hubungan sosial
1) Klien tidak mempunyai orang yang berarti untuk mengadu atau
meminta dukungan
2) Pasien merasa berada dilingkungan yang mengancam.
3) Keluarga kurang memberikan penghargaan kepada klien.
4) Klien sulit berinteraksi karena berprilaku kejam dan
mengeksploitasi orang lain

d) Spiritual
1) Falsafah hidup
Pasien merasa perjalanan hidupnya penuh dengan ancaman,
tujuan hidup biasanya jelas, kepercayaannya terhadap sakit serta
dengan penyembuhannya.

12

Universitas Sumatera Utara


2) Konsep kebutuhan dan praktek keagamaan
Pasien mengakui adanya tuhan tetapi kurang yakin terhadap
Tuhan, putus asa karena tuhan tidak memberikan sesuatu yang
diharapkan dan tidak mau menjalankan kegiatan keagamaan.

e) Status mental
1) Penampilan
Penampilan tidak rapih, tidak sesuai karena klien kurang minat
untuk melakukan perawatan diri. Kemunduran dalam tingkat
kebersihan dan kerapian dapat merupakan tanda adanya depresi
atau skizoprenia.
Bila seorang perempuan yang mempunyai ketakutan seksual
mungkin berpakaian netral, tetapi apabila wanita berpaian,
bersolek, dan berprilaku seakan-akan hendak membangkitkan
rangsangan seksual maka adanya kemungkinan hysteria. Bau
badan karena tidak mandi merupakan tanda dini suatu gangguan
jiwa (Marammis, 2005).
2) Pembicaraan
Klien dengan frekuensi lambat, tertahan, volume suara rendah,
sedikit bicara, inkoheren, dan bloking (Yosep, 2009).
3) Aktivitas motorik
Tegang, lambat, gelisah, dan terjadi penurunan aktivitas interaksi
Yosep, 2009).
4) Alam perasaan
Klien biasanya merasa tidak mamapu dan pandangan hidup yang
pesimis (Yosep, 2009).
5) Afek
Afek klien biasanya tumpul yaitu klien tidak mampu berespon
bila ada stimulus emosi yang bereaksi (Yosep, 2009).
6) Interaksi selama wawancara
Biasanya kurang kooperatif dan mudah tersinggung (Yosep,
2009).
7) Persepsi

13

Universitas Sumatera Utara


Klien mengalami halusinasi dengar/lihat yang mengancam atau
member perintah. (Keliat: 2006).
8) Proses pikir
Data diperoleh dari hasil observasi ketika wawancara tentang
sirkumtansial (pembicaraan yang berbelit-belit, tetapi samapai
pada tujuan pembicaraan). Tangensial (pembicaraan yang
berbelit-belit, tetapi tidak sampai pada tujuan pembicaraan).
Kehilangan asosiasi (pembicaraan tidak memiliki hubungan
antara satu kalimat dengan kalimat lainnya, serta klien tidak
menyadarinya). Fight of ideas (pembicaraan yang meloncat dari
satu toipik ke topik lain, masih ada hubungan yang tidak logis
dan tidak sampai pada tujuan). Blocking (pembicaraan terhenti
secara tiba-tiba tanpa gangguan eksternal kemudian dilanjutkan
kembali). Perseverasi (pembicaraan yang diulang berkali-kali).
Jelaskan apa yang dilakukan klien ketika wawancara. Masalah
keperawatan sesuai dengan data. (Keliat : 2006).

9) Isi pikir
Merasa bersalah dan khawatir, menghukum atau menolak diri
sendiri, mengejek dan mengkritik diri sendiri (Yosep, 2009)
10) Tingkat kesadaran
Data tentang bingung (tampak bingung dan kacau) dan sedasi
(klien mengatakan malu bila bertemu orang lain karena dirinya
mengalami gangguan jiwa) diperoleh melalui wawancara dan
observasi, stupor (gangguan motorik seperti ketakutan, gerakan
yang di ulang-ulang, anggota tubuh klien dalam sikap canggung
yang dipertahankan dalam waktu lama, tetapi klien menyadari
semua yang terjadi dilingkunganya) diperoleh melalui observaasi,
orientasi waktu, tempat, dan orang cukup jelas diperoleh melaui
wawancara, jelaskan data objektif dan data subjektif yang terkait
dengan hal-hal diatas. Masalah keperawatan sesuai dengan data,
jelaskan apa yang dilakukan klien saat wawancara. (Keliat :
2006).
11) Memori

14

Universitas Sumatera Utara


Klien dengan harga diri rendah, umumnya tidak terdapat
gangguan pada memorinya, baik memori jangka pendek ataupun
memori jangka panjang. (Keliat : 2006).
12) Tingkat konsentrasi dan berhitung
Tingkat konsentrasi terganggu dan mudah beralih atau tidak
mampu mempertahankan konsentrasi dalam waktu lama, karena
merasa cemas. Dan biasanya tidak mengalami gangguan dalam
berhitung. (Keliat : 2006).
13) Kemampuan menilai
Gangguan kemampuan penilaian ringan (dapat mengambil
keputusan yang sederhana dengan bantuan orang lain, contohnya:
berikan kesempatan pada klien untuk memilih mandi dahulu
sebelum makan atau makan dahulu sebelum mandi, setelah
diberikan penjelasa klien masih tidak mampu mengambil
keputusan), jelaskan sesuai data yang terkait. Masalah
keperawatan sesuai dengan data. (Keliat: 2006).
14) Daya tilik diri
Klien tidak tahu alasan dibawa ke Rumah Sakit dan tidak
menyadari mempunyai gangguan jiwa. (Keliat: 2006).

2. Analisa Data
Analisa adalah kemampuan mengkaitkan data menghubungkan data tersebut
dengan konsep diri, teori dan prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan
dan menentukan masalah kesehatan dan keperawatan klien (Rohman, 2009).
Data mayor dan data minor pada gangguan konsep diri : harga Diri rendah yaitu
:
Deskripsi Data mayor Data minor
1. Gangguan konsep diri : harga diri rendah
Deskripsi : Ide, pikiran perasaan yang negatif tentang dirinya
Data Mayor Subyektif: - Mengeluh hidup tidak bernakna
- Tidak memiliki kelebihan apapun
- Merasa jelek
Data Mayor Objektif: - Kontak mata kurang

15

Universitas Sumatera Utara


- Tidak berinisiatif berinteraksi dengan
orang lain

Data Minor Subyektif: - Mengatakan malas


- Putus asa ingin mati
Data Minor Obyektif: - Tampak malasmalasan
- Produktifita s menurun

3. Rumusan Masalah
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menggambarkan
respon manusia (keadaan sehat atau perubahan pola interaksi aktual atau
potensial) dari individu atau kelompok ketika perawat secara legal
mengidentifikasi dan dapat memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga
kesehatan atau untuk mengurangi, menyingkirkan, atau mencegah perubahan
(Rohmah, 2009).
Menurut Fitria (2009) masalah keperawatan yang mungkin muncul pada
pasien dengan gangguan harga diri rendah adalah:
a) Gangguan harga diri rendah kronik
b) Koping individu tidak efektif
c) Gangguan sensori persepsi : halusinasi
d) Isolasi sosial
e) Resiko prilaku kekerasan
4. Perencanaan
Perencanaan adalah pengembangan strategi desain untuk mencegah
mengurangi, mengatasi maslah-maslah yang telah di identifikasi dalam
diagnosa keperawatan. Desain perencanaan menggambarkan sejauh mana
perawat mampu menetapkan cara menyelesaikan maslah dengan efektif dan
efisien (Rohmah, 2009).
Berdasarkan diagnosa diatas pelaksaan ditetapkan dalam suatu tujuan,
kriteria evaluasi, intervensi, dan rasional. Tujuan umum berfokus pada
penyelesaian masalah dari diagnosa tertentu, dan didapat jika serangkaian
tujuan khusus telah tercapai. Tujuan khusus berfokus pada penyelesaian sistem

16

Universitas Sumatera Utara


dari diagnosa tertentu, tujuan khusus merupakan rumusan kemampuan klien
yang perlu dicapai atau dimiliki klien.
Jika harga diri klien sangat rendah berarti mereka gagal untuk merawat
diri mereka sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan bantuan perawat untuk
memenuhi kebutuhan lain seperti kebutuhan nutrisi, kebutuhan rasa aman dan
nyaman serta tindakan keperawatan untuk meningkatkan harga diri klien.
Langkah kita selanjutnya untuk mengatasi masalah pasien dengan harga
diri rendah adalah menetapkan beberapa tindakan keperawatan (Purba, Jenny
Marlindawati, dkk. 2008)
1. Tindakan keperawatan pada pasien:
A. Tujuan
1. Pasien dapat mengidentifikasikan kemampuan dan aspek
positif yang dimiliki.
2. Pasien dapat menilai kemampuan yang digunakan
3. Pasien dapat menetapkan atau memilih kegiatan yang sesuai
kemampuan
4. Pasien dapat berlatih kegiatan yang sudah dipilih, sesuai
kemampuan
5. Pasien dapat merencanakan kegiatan yang sudah dilatihnya

B. Tindakan Keperawatan
1. Mengidentifikasikan kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki pasien. Untuk membantu pasien dapat
mengungkapkan kemampuan dan aspek positif yang masih
dimiliki pasien, saudara dapat:
 Mendiskusikan bahwa pasien masih memiliki sejumlah
kemampuan dan aspek positif seperti kegiatan pasien
dirumah, adanya keluarga dan lingkungan terdekat pasien.
 Beri pujian yang realistik/nyata dan hindarkan setiap kali
bertemu pasien penilaian negatif.

2. Membantu pasien menilai kemampuan yang masih dapat


digunakan. Untuk tindakan tersebut, saudara dapat:

17

Universitas Sumatera Utara


 Mendiskusikan dengan pasien kemampuan yang masih
dapat digunakan saat ini setelah mengalami bencana.
 Bantu pasien menyebutkannya dan memberi penguatan
terhadap kemampuan diri yang diungkapkan pasien.
 Perlihatkan respons yang kondusif dan menjadi pendengar
yang aktif

3. Membantu pasien dapat memilih/menetapkan kegiatan yang


sesuai dengan kemampuan. Tindakan keperawatan yang dapat
dilakukan adalah:
 Mendiskusikan dengan pasien beberapa aktivitas yang
dilakukan dan dipilih sebagai kegiatan yang akan pasien
lakukan sehari-hari
 Bantu pasien menetapkan aktivitas mana yang dapat
pasien lakukan secara mandiri, mana aktivitas yang dapat
memerlukan bantuan minimal dari keluarga dan aktivitas
apa saja yang perlu bantuan penuh dari keluarga atau
lingkungan terdekat pasien. Berikan contoh cara
pelaksanaan aktivitas yang dapat dilakukan pasien. Susun
bersama pasien dan buat daftar aktivitas atau kegiatan
sehari-hari pasien.

4. Melatih kegiatan pasien yang sudah dipilih sesuai


kemampuan pasien. Untuk tindakan keperawatan tersebut
saudara dapat melakukan:
 Mendiskusikan dengan pasien untuk menetapkan urutan
kegiatan ( yang sudah dipilih pasien ) yang akan
dilatihkan.
 Bersama pasien dan keluarga mempragakan beberapa
kegiatan yang akan dilakukan pasien.
 Berikan dukungan dan pujian yang nyata setiap kemajuan
yang diperlihatkan pasien.

18

Universitas Sumatera Utara


5. Membantu pasien dapat merencanakan kegiatan sesuai
kemampuannya dan menyusun rencana kegiatan. Untuk
mencapai tujuan dari tindakan keperawatan tersebut, saudara
dapat melakukan hal-hal berikut:
 Memberi kesempatan pada pasien untuk mencoba
kegiatan yang telah dilatihkan.
 Beri pujian atas aktivitas/kegiatan yang dapat dilakukan
pasien setiap hari.
 Tingkatkan kegiatan sesuai dengan tingkat toleransi dan
perubahan setiap aktivitas.
 Susun daftar aktivitas yang sudah dilatihkan bersama
pasien dan keluarga.
 Berikan kesempatan mengungkapkan perasaannya setelah
pelaksanaan kegiatan.
 Yakinkan bahwa keluarga mendukung setiap aktivitas
yang dilakukan pasien.

2. Tindakan keperawatan pada keluarga


Keluarga diharapkan dapat merawat pasien dengan harga diri rendah
dirumah menjadi sistem pendukung yang efektif bagi pasien.
A. Tujuan:
 Keluarga dapat membantu pasien mengidentifikasikan
kemampuan yang dimiliki.
 Keluarga memfasilitasi aktivitas pasien yang sesuai
kemampuan.
 Keluarga memotivasi pasien untuk melakukan kegiatan
sesuai dengan latihan yang dilakukan, dan memberi pujian
atas keberhasilan pasien.
 Keluarga mampu menilai perkembangan perubahan
kemampuan pasien.

19

Universitas Sumatera Utara


B. Tindakan Keperawatan:
 Jelaskan kepada keluarga tentang harga diri rendah yang
ada pada pasien.
 Diskusikan dengan keluarga kemampuan yang dimiliki
pasien dan memuji pasien atas kemampuannya.
 Anjuran keluarga untuk memotivasi pasien dalam
melakukan kegiatan yang sudah dilatihkan pada pasien
dengan perawat.
 Ajarkan keluarga cara mengamati perkembangan
perubahan prilaku pasien.

20

Universitas Sumatera Utara


C. Asuhan Keperawatan Kasus

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI

RUMAH SAKIT PIRNGADI KOTA MEDAN

SUMATERA UTARA

FORMAT PENGKAJIAN

1 . Biodata

Nama/Inisial : Ny. R

Jenis kelamin : Perempuan

Umur : 53 tahun

Status perkawinan : Menikah

Agama : Kristen Protestan

Pendidikan : SLTA

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Alamat : Jl. SM Raja No. 99 Dairi, Kecamatan Tiga Lingga

Tanggal masuk RS : 05 Mei 2017

Ruangan/kamar : HDU ( High Dependency Unit )

Golongan darah :O

Tanggal pengkajian : 10 Mei 2017

Diagnosa medis : CKD Stage V

I. ALASAN MASUK

21

Universitas Sumatera Utara


Klien datang dengan kesadaran menurun, dan tiba-tiba 1 hari ini BAK sedikit
dan klien adalah pasien Hemodialisa. Keluarga juga mengatakan bahwa Ny. R
sering berputus asa dan bosan hidup karena memikirkan penyakitnya.

II. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG


A. Provocative/palliative
1. Apa penyebabnya
Pasien merasa dirinya serba kekurangan karena penyakitnya yang
membuat dirinya menjadi tidak bisa berbuat apa-apa
2. Hal-hal yang memperbaiki keadaan
Perawatan selama di rumah sakit dan obat-obatan
B. Quantity/quality
1. Bagaimana dirasakan
Pasien merasa sedih dan kesal
2. Bagaimana dilihat
Pasien terkadang melamun sendiri di atas tempat tidur

III. GENOGRAM

NB : Perempuan

: laki-laki

: Klien

IV. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU


A. Penyakit yang pernah dialami
Klien mengatakan sebelumnya sudah pernah masuk ke rumah sakit.

22

Universitas Sumatera Utara


B. Pengobatan/tindakan yang dilakukan
Klien mendapat perawatan dari rumah sakit serta obat-obatan.
C. Pernah dirawat/dioperasi
Klien mengatakan tidak pernah dioperasi.
D. Lama dirawat
Sebelumnya klien dirawat selama 1 bulan.
E. Alergi
Klien mengatakan tidak memiliki alergi.

V. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA


A. Orang tua
Klien mengatakan orangtuanya tidak memiliki penyakit yang serius.
B. Saudara kandung
Klien mengatakan saudaranya tidak memiliki penyakit yang serius.
C. Penyakit keturunan yang ada
Klien mengatakan tidak mempunyai penyakit keturunan.
D. Anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa
Klien mengatakan sebelumnya tidak ada anggota keluarga yang mengalami
gangguan jiwa.
E. Anggota keluarga yang meninggal
Klien mengatakan ayah dan ibunya sudah meninggal dunia.

VI. RIWAYAT KESEHATAN PSIKOSOSIAL


A. Prsepsi pasien tentang penyakitnya
Klien mengatakan sudah bosan hidup karena penyakitnya tidak juga sembuh
selama ia minum obat secara teratur.

B. Konsep diri
- Gambaran diri : Klien mengatakan sangat menyukai
matanya yang berwarna cokelat.
- Ideal diri : Klien mengatakan ingin menjadi seorang
pengusaha butik.
- Harga diri : Klien mengatakan merasa malu pada
dirinya

23

Universitas Sumatera Utara


sendiri dan orang lain karena penyakitnya, klien
juga menganggap dirinya sangat lemah karena
tidak bisa beraktivitas seperti biasanya, dan klien
juga mengatakan bahwa dirinya tidak berguna
lagi karena penyakit yang di alaminya.
- Peran diri : Klien mengatakan merasa gagal karena
menjadi seorang ibu sekaligus nenek yang tidak
berguna.
- Identitas : Sebagai seorang ibu, klien merasa sangat
bodoh karena saat klien sehat, klien tidak mau
mendengarkan nasihat orang disekitarnya.

C. Keadaan emosi
Klien terkadang tampak sedih, lesu, tidak bersemangat, dan kurang dalam
berkontak mata.
D. Hubungan sosial
- Orang yang berarti :
Suami dan anak-anak
- Hubungan dengan keluarga :
Baik dan harmonis
- Hubungan dengan orang lain :
Klien mengatakan tidak terlalu sering berinteraksi dengan orang lain dan
klien lebih suka menyendiri
- Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain :
Pasien malu karena sekarang ia tidak bisa seperti dulu danklien
mengatakan malu dengan kondisinya jika bergaul takutadanya penolakan
dan dicela oleh teman-temannya.

E. Spriritual
- Nilai dan keyakinan :
Klien menganut agama Kristen Protestan.
- Kegiatan ibadah :
Klien mengatakan dulu sebelum sakit sering beribadah tetapi setelah
masuk ke rumah sakit, klien tidak pernah beribadah.

24

Universitas Sumatera Utara


VII. STATUS MENTAL
 Tingkat kesadaran : Compos mentis, klien dalam
keadaan sadar ketika diberi
pertanyaan
 Penampilan : Klien tampak kumal dan kurang
rapi
 Pembicaraan : Klien berbicara dengan lambat
 Alam perasaan : Lesu, klien tampak tidak terlalu
bersemangat dan tampak sedih
 Afek : Tidak sesuai
 Interaksi selama wawancara : Klien kooperatif tetapi kurang
dalam kontak mata saat berbicara dan
selalu menunduk.
 Persepsi : Klien mengatakan tidak mengalami
gangguan persepsi.
 Proses pikir : Pengulangan pembicaraan.
 Isi pikir : Rendah diri ini dibuktikan ketika
berbicara klien selalu mengatakan malu
karena kondisipenyakitnya yang membuat
klien tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
 Memori : Klien tidak memiliki gangguan
dalam mengingat.

VIII. PEMERIKSAAN FISIK


A. Keadaan umum
Kondisi fisik klien terlihat lemah.

B. Tanda-Tanda Vital
- Suhu tubuh : 37,4° celcius
- Tekanan darah : 151/70 mmHg
- Nadi : 86x/i

25

Universitas Sumatera Utara


- Pernafasan : 22x/i
- Tinggi Badan : 150 cm
- Berat Badan : 57 kg

IX. POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI


A. Pola makan dan minum
- Frekuensi makan/hari : 3 kali sehari
- Nafsu/selera makan : Klien kadang selera kadang
tidak
- Nyeri ulu hati : Tidak ditemukan ulu nyeri
hati
- Alergi : Klien tidak memiliki alergi
- Mual dan muntah : Tidak mual dan muntah
- Tampak makan memisahkan diri : Klien memisahkan diri saat
makan
- Waktu pemberian makan : 07.00 pagi, 12.00 siang, dan
18.00 sore

- Jumlah dan jenis makan : Seporsi nasi dengan lauk


pauk dan sayur
- Waktu pemberian cairan/minum : 50cc setiap 8 jam sekali
- Masalah makan dan minum : Tidak ada masalah makan
dan minum

B. Perawatan diri/personal Hygiene


- Kebersihan tubuh : Klien tampak bersih
- Kebersihan gigi mulut : Tidak dilakukan
pemeriksaan
- Kebersihan kuku kaki dan tangan : Kuku pendek dan jorok

C. Pola kegiatan/aktifitas
- Uraian aktivitas pasien untuk mandi, makan, eliminasi, ganti pakaian
dilakukan secara mandiri, sebagian, atau total :

26

Universitas Sumatera Utara


Klien melakukan aktifitas mandi, makan, eliminasi, ganti pakaian
dilakukan secara bantuan.
- Uraikan aktifitas ibadah pasien selama dirawat/sakit :
Selama di rumah sakit klien jarang melakukan ibadah

D. Pola eliminasi
1. BAB
- Pola BAB : 1 kali sehari
- Karakter feses : Tidak dilakukan pemeriksaan
- Riwayat perdarahan : Tidak dilakukan pemeriksaan
- BAB terakhir : Pagi hari tadi
- Diare : Tidak dilakukan pemeriksaan
- Penggunaan laksatif : Tidak pernah

2. BAK
- Pola BAK : 200cc sehari
- Karakter urine : Tidak dilakukan
pemeriksaan
- Nyeri/rasa terbakar/kesulitan BAK : Tidak dilakukan
pemeriksaan
- Riwayat penyakit ginjal/kandung kemih : Ada
- Penggunaan diuretik : Tidak pernah

X. Mekanisme Koping
- Maladaptif
Jika klien mengalami masa yang sangat sulit seperti penyakitnya tiba-tiba
kambuh, klien langsung berteriak dan kadang menangis berlebihan hingga
tengah malam. Klien tidak memperdulikan istirahat dan kesehatannya.

2. Analisa Data

27

Universitas Sumatera Utara


No Data Penyebab Diagnosa
Keperawatan
1 DS: Gagal Ginjal Kronik Harga diri rendah
1. Klien mengatakan situasional
merasa malu pada
dirinya sendiri dan Ketidakmampuan
orang lain karena beraktivitas
penyakitnya.
2. Klien merasa
semua adalah Harga diri rendah
kesalahannya situasional
karena tidak
mendengarkan
nasihat dari orang
terdekatnya
semasa masih
sehat.
3. Klien mengatakan
dengan kondisi nya
sekarang klien
tidak bisa
beraktivitas seperti
dulu lagi.
4. Klien merasa malu
karena kondisinya
yang sangat lemah.
5. Klien mengatakan
dirinya tidak
berguna lagi
karena penyakit
yang di alaminya.
DO:
1. Klien tampak lesu
dan tidak
28

Universitas Sumatera Utara


bersemangat.
2. Klien selalu
menunduk dan
menghindari
kontak mata
dengan perawat.
3. Klien menjawab
dengan bimbang
4. Klien tampak sedih

2 DS: Gagal Ginjal Kronik Keputusasaan


1. Klien mengatakan
Ia jarang bergaul
maupun Ketidakmampuan
berosialisasi beraktivitas
dengan orang lain
karena klien takut
adanya penolakan.
Harga diri rendah
2. Klien mengatakan situasional
lebih baik
menyendiri
daripada Keputusasaan
bergabung dengan
temannya yang
lain karena takut di
cela.

3. Klien mengatakan
hidupnya tidak
berguna karena
penyakit yang di
alaminya

29

Universitas Sumatera Utara


DO:
1. Klien sering
menyendiri ketika
makan.
2. Kurang dalam
kontak mata.
3. Afek sedih
4. Klien kurang
komunikatif.
5. Kurang aktif dalam
fisik maupun
verbal.

3. Masalah Keperawatan
a. Harga diri rendah situasional
b. Keputusasaan

4. Diagnosa Keperawatan
a. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan gangguan proses pikir
ditandai dengan klien merasa malu pada dirinya sendiri dan orang lain,
bimbang, tampak lesu, sedih, tidak bersemangat, dan menghindari kontak
mata dengan orang lain.
b. Keputusasaan berhubungan dengan sumber personal yang tidak adekuat
ditandai dengan klien tampak tidak yakin dengan kemampuannya, klien
mengatakan hidupnya tidak berguna dan tidak mau bergaul dengan orang
lain karena takut di cela, lebih banyak menunduk, kurang komunikatif,
kurang aktif dalam fisik maupun verbal, kurang dalam kontak mata, dan afek
sedih.

30

Universitas Sumatera Utara


5. Intervensi Keperawatan
Diagnosa Perencanaan
Harga diri Tujuan dan kriteria hasil:
rendah NOC : self esteem situasional
situasional Dalam waktu 4 hari klien akan menunjukkan peningkatan harga
diri dengan indikator:
1. Mengungkapkan penerimaan diri secara verbal dengan
skala 3.
2. Penerimaan keterbatasan diri dengan skala 3.
3. Mempertahankan kontak mata dengan skala 3.
4. Menerima kritik dari orang lain dengan skala 3.
5. Melatih perilaku yang yang dapat meningkatkan harga diri
dengan skala 3.
Rencana tindakan Rasional
NIC : self esteem 1. Pemahaman klien tentang
enchancement pandangan harga diri klien
Defenisi: Membantu klien mengidentifikasi kepada
untuk meningkatkan penyebab harga diri.
penilaian pribadi tentang 2. Kemampuan positif yang
harga dirinya. dimiliki klien dapat
1. Kaji pemahaman klien meningkatkan percaya diri.
tentang harga diri. 3. Kegiatan positif akan
2. Bantu klien untuk meningkatkan harga diri
mengidentifikasi klien.
kemampuan dan aspek 4. Sikap penerimaan diri salah.
positif yang dimiliki. 5. Tujuan realistis untuk
3. Bantu klien mencapai harga diri yang
menggunakan lebih tinggi.
kemampuan positif 6. Lingkungan mempengaruhi
yang dimiliki klien. minat klien dalam
meningkatkan harga diri.
4. Bantu klien untuk 7. Penghargaan dan pujian akan
menemukan memotifasi klien dalam

31

Universitas Sumatera Utara


penerimaan diri. kemajuan yang telah
5. Bantu klien untuk dilakukan.
menetapkan tujuan 8. Kritik diri akan membuat
yang realistis. klien mampu mengenali
6. Fasilitiasi lingkungan dirinya.
dan kegiatan yang akan
meningkatkan harga
diri.
7. Berikan penghargaan /
pujian terhadap klien
atas kemajuan klien.
8. Eksplorasi alasan untuk
kritik diri atau rasa
bersalah.
NOC : self-awareness
Dalam waktu 4 hari klien akan mennjukkan peningkatan
kesadaran diri dengan indikator:
1. Membedakan diri dari lainnya dan lingkungan dengan skala
4.
2. Mengenali kemampuan fisik pribadi, mental, emosional
serta keterbatasan dengan skala 4.
3. Menyatakan perasaan ke orang lain dengan skala 4.
Rencana tindakan Rasional

NIC : self awareness 1. Mengenali diri sendiri dapat


enchancement meningkatkan kesadara diri.
Defenisi : membantu klien 2. Setiap manusia itu unik, oleh
untuk menyelidiki dan karena itu kesadaran dirilah
memahami pemikirannya, yang membuat seseorang
perasaan, motivasi, dan diterima.
perilaku.
1. Kaji klien untuk 3. Tanggapan umum terhadap
mengenali dan berbagai situasi membuat
mendiskusikan seseorang mengenal

32

Universitas Sumatera Utara


pemikiran dan pribadinya.
perasaan. 4. Penyakit (gangguan jiwa) erat
2. Bantu klien untuk kaitannya dengan konsep diri,
menyadari bahwa ataupun harga diri.
semua orang adalah 5. Hal negatif juga diketahui
unik. klien agar klien tidak selalu
3. Fasilitasi klien merasa paling benar.
mengidentifikasi 6. Motivasi merupakan salah
tentang pola tanggapan satu faktor penyembuh orang
umum terhadap yang memiliki harga diri
berbagai hasil. rendah.
4. Bantu klien untuk 7. Pandangan orang lain dapat
mengidentifikasi meningkatkan harga diri.
dampak penyakit atas
konsep diri.
5. Bantu klien untuk sadar
akan hal negatif tentang
dirinya.
6. Bantu klien untuk
mengidentifikasi
sumber motivasi.
7. Ajarkan klien untuk
mengungkapkan
pandangan orang lain
tentang dirinya

Diagnosa Perencanaan
Keputusasaan Tujuan dan kriteria hasil
NOC : Hopelessness
1. Identifikasi area harapan dalam hidup, memperluas

33

Universitas Sumatera Utara


mekanisme koping pasien.
2. Berpartisipasi sebagai sukarelawa, pada aktifitas organisasi,
atau pada kegiatan keagamaan.
3. Berpatisipasi dalam aktifitas pengalihan dengan orang lain.
Rencana Tindakan Rasional
NIC : Hope inspiration 1. Area harapan hidup yang
Definisi : fasilitasi setiap positif dapat membantu
harapan masa depan yang pasien dalam meningkatkan
positif. percaya diri.
1. Bantu pasien dan 2. Agar pasien dapat percaya
keluarga untuk diri dan dapat berharap
mengidentifikasi area secara positif.
harapan dalam hidup 3. Melibatkan klien dalam
2. Bantu pasien tentang aktivitas kelompok, akan
siatuasi saat ini adalah mengurangi rasa kesepian
situasi yang sementara. yang dialami klien.
3. Dorong klien untuk 4. Meningkatkan rasa percaya
terlibat dalam aktivitas diri dengan cara beribadah.
kelompok atau individu. 5. Meningkatkan rasa percaya
4. Bantu pasien diri klien atas kemampuan
mengembangkan diri dalam berinteraksi dengan
secara spiritual. orang lain.
5. Berikan umpan balik
yang positif ketika klien
mampu menggunakan
keterampilan interaksi
sosial yang efektif.

Rencana Tindakan Rasional


NIC : Activities therapy 1. Kemampuan klien akan
Defenisi : resep dan bantuan meningkatkan partisipasi
dengan physical, cognitive pada kegiatan tertentu.
spesific, sosial, dan aktivitas 2. Komitmen merupakan salah

34

Universitas Sumatera Utara


rohani untuk meningkatkan satu cara meningkatkan
cakupan, frekwensi, atau sebuah terapi.
janga waktu dari suatu 3. Kemampuan yang dimiliki
individu atau aktivitas klien salah satu cara
kelompok. meningkatkan sosialisasi.
1. Tentukan kemampuan 4. Motivasi dan penguatan
klien untuk berpartisipasi sangat penting bagi klien
dalam kegiatan spesifik. harga diri rendah agar klien
2. Kaji peningkatan terus bersemangat.
komitmen klien untuk
meningkatkan frekuensi
dan berbagai aktivitas.
3. Bantu klien untuk
memilih aktivitas dan
tujuan bagi kegiatan
sesuai dengan
kemampuan fisk,
psikologis dan sosial.
4. Bantu klien untuk
mengembangkan
motivasi diri dan
penguatan.

35

Universitas Sumatera Utara


6. Implementasi dan Evaluasi

Hari/ Dx Implementasi Evaluasi


Tanggal
Rabu, Harga 1. Mengkaji pemahaman SOAP
10 Mei Diri klien tentang harga S: Klien mengatakan bahwa
2017 Rendah diri dengan keluarga menganggap klien
Situasio menanyakan kepada lemah dan hanya membuat
nal klien bagaimana susah keluarga.
pendapat orang lain -Klien mengatakan ingin
tentang klien menurut segera sembuh dan kembali ke
klien. rumah.
2. Membantu O: Klien terlihat baik saat
mengungkapkan berkomunikasi.
penerimaan diri secara -Klien menunjukkan ekspresi
verbal dengan skala 3. senang pada skala 3 ketika
3. Membantu klien diberi pujian.
menerima keterbatasan -Klien masih belum terlalu
diri dengan skala 3. mampu mengungkapkan diri
4. Membantu klien (skala 1).
menerima kritik dari -Klien belum terlalu dapat
orang lain dengan menerima keterbatasan diri
skala 3. (skala 2).
5. Mengidentifikasi -Klien dapat menerima kritik
kemampuan dan aspek dari orang lain (skala 3).
positif yang dimiliki. -Klien tidak mampu
6. Mengkaji kemampuan mempertahankan kontak mata
positif yang dimiliki dalam waktu lama (skala 2).
klien. A: Harga diri rendah
7. Memotivasi dalam situasional (+)
menetapkan tujuan P: intervensi dilanjutkan
yang realistis. -Bantu klien untuk mampu
8. Membantu klien mengungkapkan diri hingga
mempertahankan skala 3

36

Universitas Sumatera Utara


kontak mata dengan -Bantu klien menerima
skala 3. keterbatasan diri hingga skala
9. Memberikan 3.
penghargaan / pujian -Bantu klien menerima kritik
kepada klien atas dari orang lain hingga skala 4.
kemajuan klien. -bantu klien melatih perilaku
untuk meningkatkan harga diri
hingga skala 4.
-Bantu klien mempertahankan
kontak mata dalam waktu lama
hingga skala 3.
-Pantau aktifitas.
Kamis, Harga 1. Membantu klien SOAP
11 Mei Diri membedakan diri dari S:
2017 Rendah lainnya dan lingkungan -Klien mengatakan
Kronis dengan skala 4. perasaannya masih sedikit
2. Mengkaji klien untuk kesal dan sedih.
mengenali dan -Klien mengatakan mengerti
mendiskusikan kalau setiap manusia itu unik.
pemikiran dan -Klien mengatakan dampak
perasaan. penyakit yang dialaminya
3. Membantu klien untuk adalah dia tidak dapat
menyadari bahwa melakukan pekerjaan dengan
semua orang adalah percaya diri.
unik. -Klien dapat menyatakan
4. Membantu klien untuk perasaannya pada orang lain
mengidentifikasi (skala 3).
dampak penyakit atas -Klien mengatakan bahwa
harga diri. pasien sadar penyakit yang
diderita membuat dirinya jauh
5. Membantu klien dari keluarga dan teman-
mengenali kemampuan temannya.
fisik pribadi, mental, -Klien mengatakan sumber

37

Universitas Sumatera Utara


emosional, serta motivasinya adalah keluarga
keterbatasan dengan terutama suami dan anak-
skala 4. anaknya.
6. Membantu klien O: klien mulai mampu
menyatakan perasaan membedakan diri dari orang
ke orang lain dengan lain ataupun lingkungannya
skala 4. (skala 1).
7. Membantu klien untuk -Klien mampu mengenali
sadar akan hal negatif kemampuan fisiknya, tetapi
tentang diri. untuk kemampuan mental dan
8. Membantu klien untuk emosional klien belum mampu
mengidentifikasi (skala 1).
sumber motivasi. -klien tampak senang dengan
(skala 4) dengan perbincangan
yang dilakukan oleh perawat.
A: Harga diri rendah
situasional (+)
P: intervensi dilanjutkan.
- Bantu klien membedakan
diri dari orang lain ataupun
lingkungannya hingga skala 4.
-Bantu klien mengenali
kemampuan fisik, mental dan
emosional klien hingga (skala
4)
-Bantu klien menyatakan
perasaannya pada orang lain
hingga (skala 4)
-Pantau kegiatan klien.
Jum’at, Keputus 1. Memotivasi klien SOAP
12 Mei asaan untuk meningkatkan S : Klien mengatakan sudah
2017 hubungan interaksi mampu berinteraksi dengan
dan membantu pasien teman sekamar atau perawat.

38

Universitas Sumatera Utara


dan keluarga untuk - Klien mengatakan mampu
mengidentifikasi area memotivasi diri sendiri agar
harapan dalam hidup. tidak rendah diri.
2. Membantu klien - Klien sudah paham bahwa
mengetahui bahwa kondisi ini adalah sementara
situasi saat ini adalah - Klien mengatakan belum
sementara. mau terlibat dalam aktivitas
3. Ajarkan beribadah..
bersosialisasi agar O :Klien mulai dapat
meningkatkan harga berkomunikasi dengan teman
diri. sekamarnya dan juga perawat.
4. Mendorong klien -Klien belum mau beribadah
untuk terlibat dalam bersama.
aktivitas beribadah. -Klien mulai berinteraksi
5. Memberikan umpan didalam kamarnya.
balik yang positif -Wajah klien mengalami
ketika klien mampu perubahan suasana ceria.
menggunakan A : Keputusasaan (+)
keterampilan P : Intervensi dilanjutkan.
interaksi sosial yang -Bantu klien untuk tetap
efektif. berinterkasi dengan teman satu
6. Membantu klien ruangan, anggota keluarga,
untuk pegawai rumah sakit.
mengembangkan -Bantu klien berpartisipasi
motivasi diri dan sebagai sukarelawan, pada
penguatan. aktifitas organisasi, atau pada
kegiatan keagamaan.
-Pantau aktifitas.

39

Universitas Sumatera Utara


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah dilakukan asuhan keperawatan kepada Ny. R dengan masalah kebutuhan
dasar harga diri selama beberapa hari, yaitu pada tanggal 10 sampai 12 Mei 2016.
Sebagai langkah dalam penyusunan karya tulis ilmiah dapat ditarik kesimpulan.

Hasil pengkajian terhadap Ny. R menunjukkan bahwa klien mengeluh bahwa


keluarganya menganggap klien lemah karena kondisinya yang tidak bisa beraktivitas
seperti layaknya klien dahulu sewaktu sehat. Klien menyesal karena tidak
mendengarkan nasihat orang terdekatnya sewaktu sehat. Semenjak itu klien merasa
dirinya tidak berguna dan bodoh karena tidak mau mendengarkan nasehat orang
terdekatnya. Semenjak di rawat di Rumah Sakit, klien banyak menghabiskan waktunya
di Rumah Sakit. Klien tampak murung dan kontak mata kurang pada lawan bicaranya.
Berdasarkan data tersebut dapat ditegakkan masalah keperawatan yaitu harga diri
rendah kronis dan isolasi sosial.

Adapun intervensi dan implementasi yang utama dilakukan pada Ny. R telah
diperbuat adalah meningkatkan kepercayaan diri klien dengan semaksimal dan seefektif
mungkin sesuai dengan perencanaan sebelumnya sehingga hasilnya klien sudah mampu
menilai dirinya secara positif, klien terlihat baik saat berkomunikasi, klien menunjukkan
ekspresi senang ketika diberi pujian, klien dapat menerima kritik dari orang lain, klien
mampu mengenali kemampuan fisiknya, klien mulai dapat berkomunikasi dengan teman
sekamarnya dan juga perawat, dan wajah klien mengalami perubahan suasana ceria.

Dimana klien sudah mengalami sedikit kemajuan sebelum dilakukan intervensi


dan implementasi pada klien. Sedangkan evaluasi dari asuhan keperawatan Ny. R
dengan masalah kebutuhan dasar harga diri rendah kronik di Rumah Sakit Pirngadi
Kota Medan dimana kedua masalah itu belum teratasi sepenuhnya dan intervensi masih
perlu untuk dilanjutkan oleh pihak rumah sakit.

40

Universitas Sumatera Utara


B. Saran
Dalam upaya meningkatkan pelayanan keperawatan, pengetahuan dan
pemahaman tentang asuhan keperawatan pada klien dengan masalah kebutuhan dasar
harga diri rendah, penulis menekankan pentingnya mengatasi atau mengurangi masalah
harga diri rendah yang bisa terjadi pada klien dapat terpenuhi dengan baik.

a. Bagi Mahasiswa
Mahasiswa yang hendak melakukan asuhan keperawatan hendaknya lebih
dahulu memahami tentang kebutuhan dasar klien yang terkait dengan
masalah harga diri rendahnya sehingga mahasiswa dapat memberikan asuhan
yang bersifat komprehensif dan dapat meminimalkan waktu rawatan klien di
rumah sakit.

b. Bagi Institusi Pendidikan


Hasil karya tulis ilmiah ini disarankan sebagai informasi tambahan berupa
situasi terkini tentang kebutuhan dasar manusia pada masalah harga diri dan
keterkaitan masalah keperawatan lain yang dikarenakan oleh masalah harga
diri pada pasien dengan gangguan harga diri rendah dalam pelaksanaan oleh
perawat.

c. Bagi Klien
Sebaiknya klien mampu menjalin hubungan kerja sama yang baik dengan
perawat dan tim kesehatan lainnya serta untuk mempercepat proses
penyembuhan klien sekaligus meningkatkan kesiapan keluarga dalam
merawat klien di rumah sehingga kesehatan klien membaik.

41

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR PUSTAKA

Alimul, A. (2009). Pengantar Kebutuhan Manusia. Jakarta: Salemba Medika.


Bulechek, G. M. dkk. (2013). Nursing Interventions Classfication (NIC)
(6th ed.). USA: Mosby.
Carpenito, L. J. (1998). Diagnosa Keperawatan: Pada Praktik klinis.
Jakarta: EGC.
Dalami, E. dkk. (2009). Asuhan Keperawatan Jiwa dengan Masalah
Psikososial. Jakarta: Trans Info Media.
Herdman, T. H. (2012). Diagnosa Keperawatan: Defenisi dan Klasifikasi
2012-2014. Jakarta: EGC.
Moread, dkk. (2013). Nursing Outcame Classification (NOC). Fifth
Edition.USA: Mosby.
Patricia, G. dkk. (2013). Keperawatan Kesehatan Jiwa Psikiatrik.
Jakarta: EGC.
Potter & Perry. (2010). Fundamental Keperawatan (7th ed.). Jakarta:
EGC.
Purba, J. M. dkk. (2008). Asuhan Keperawatan pada Klien dengan
Masalah Psikososial dan Gangguan Jiwa. Medan: USU Press.
Sujono, R. & Purwanto, T. (2009). Asuhan Keperwatan Jiwa.
Yogyakarta: Graha Ilmu.

42

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 1

CATATAN PERKEMBANGAN

Diagnosa Hari/ Waktu Implementasi dan Evaluasi


Tanggal
Harga diri Rabu, 10 10.00 – 1. Mengexplorasi kembali alasan untuk
rendah Mei 2017 11.00 kritik diri atau rasa bersalah.
WIB 2. Mengidentifikasi dan mengkaji
kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki klien.
3. Memotivasi klien dalam menetapkan
tujuan yang realistis
4. Memberikan penghargaan pujian kepada
klien atas kemajuan klien.
5. Memberikan jadwal kegiatan harian
klien

SOAP
S:
-Klien mengatakan bahwa dirinya tidak
berguna dan klien malu dengan kondisinya.
-Klien mengatakan senang dengan motivasi
yang diberikan.
O:
-Klien terlihat senang ketika melatih
kemampuan positifnya.
-Klien belum mampu melakukan
kemampuan seperti menyapu dan mengepel
dengan baik.
A:
-Harga diri rendah (+).
P:

43

Universitas Sumatera Utara


-Intervensi dilanjutkan
-Pantau kegiatan sehari-hari pasien
Harga diri Kamis, 10.00 – 9. Mengkaji klien untuk mengenali dan
rendah 11 Mei 11.00 mendiskusikan pemikiran dan perasaan.
2017 WIB 10. Membantu klien untuk menyadari
bahwa semua orang adalah unik.
11. Membantu klien untuk mengidentifikasi
dampak penyakit atas harga diri.
12. Membantu klien untuk sadar akan hal
negatif tentang diri.
13. Membantu klien untuk mengidentifikasi
sumber motivasi.
14. Melatih kemampuan positif lain yang
dimiliki pasien seperti bernyanyi.

SOAP
S:
-Klien mengatakan perasaannya masih
sedikit kesal dan sedih.
-Klien mengatakan mengerti kalau setiap
manusia itu unik.
-Klien mengatakan dampak penyakit yang
dialaminya adalah dia tidak dapat
melakukan pekerjaan dengan percaya diri.
-Klien mengatakan bahwa pasien sadar
penyakit yang diderita membuat dirinya
jauh dari keluarga dan teman-temannya.
-Klien mengatakan sumber motivasinya
adalah keluarga terutama suami dan anak-
anaknya.
-Klien mengatakan ternyata banyak
kemampuan yang dimilikinya selama ini.
O:

44

Universitas Sumatera Utara


- Klien merasa senang dengan perbincangan
yang dilakukan.
- Klien sangat antusias melakukan
kemampuan yang dilatih.
- Klien mampu mengenali kemampuan
fisiknya
A:
-Harga diri rendah (+)
P:
-Intervensi dilanjutkan.
-Pantau kegiatan sehari-hari.

Keputusas Jum’at, 10.00 – 1. Memotivasi klien untuk


aan 12 Mei 11.00 meningkatkan hubungan interaksi.
2016 WIB 2. Memberi tahu klien bahwa kondisi saat
ini adalah sementara
3. Membantu klien untuk meningkatkan
harga diri.
4. Ajarkan bersosialisasi agar
meningkatkan harga diri.
5 .Mendorong klien untuk terlibat dalam
aktivitas beribadah.
6 .Memberikan umpan balik yang positif
ketika klien mampu menggunakan
keterampilan interaksi sosial yang
efektif.
7 .Membantu klien untuk mengembangkan
motivasi diri dan penguatan.

SOAP
S:

45

Universitas Sumatera Utara


-Klien mengatakan sudah mampu
berinteraksi dengan teman sekamar atau
perawat.
-Klien mengatakan mampu memotivasi diri
sendiri agar tidak rendah diri.
-Klien sudah mampu menerima bahwa
kondisinya adalah sementara.
-Klien mengatakan belum mau terlibat
dalam aktivitas beribadah
-Klien mampu mengerjakan aktivitas sesuai
dengan jadwal yang telah disusun.
O:
-Klien mulai dapat berkomunikasi dengan
teman sekamarnya.
-Klien belum mau beribadah bersama.
-Klien mulai menerima kondisi nya yang
sementara
-Wajah klien mengalami perubahan suasana
ceria.
A:
-Keputusasaan (+)
P:
-Intervensi dilanjutkan
-Pantau kegiatan klien sehari-hari.

46

Universitas Sumatera Utara


47

Universitas Sumatera Utara