Anda di halaman 1dari 12

A.

TUJUAN
1. Memahami kelarutan garam kalsium oksalat.
2. Memahami pengaruh ion sejenis pada kelarutan.
3. Dapat menentukan harga tetapan hasil kali kelarutan garam kalsium
oksalat.

B. DASAR TEORI
Zat elektrolit sukar dan mudah larut
Suatu zat terlarut, apabila dilarutkan dalam suatu zat pelarut (misalnya air) tidak
semuanya mudah larut. Berdasarkan atas kelarutannya (yaitu banyaknya mol maksimal
suatu zat terlarut yang dapat larut dalam suatu pelarut menjadi satu liter larutan
jenuhnya), zat elektrolit dapat dibedakan menjadi :
1. Zat elektrolit sukar larut; yaitu suatu zat elekrolit yang kelarutannya lebih kecil atau
sama dengan 10-3 mol per liter.
2. Zat elektrolit mudah larut; yaitu suatu zat elektrolit yang kelarutannya lebih besar
dari 10-3 mol per liter.
Kesetimbangan larutan zat elektrolit sukar larut
Apabila pada suhu 25 oC, suatu zat elektrolit sukar larut AxBy dilarutkan dalam
pelarut air, di dalam larutannya terjadi kesetimbangan sebagai berikut :
AxBy (s) AxBy (aq) x Ay+ + y Bx-
Menurut hukum aksi massa Guldberg dan Waage (1867), tetapan kesetimbangan
(Keq)-nya adalah
x y
AA y+ × ABx-
Keq =
AA x By
di mana AA y+ , AB , dan AA
x-
x By masing-masing adalah aktivitas ion Ay+, ion Bx-, dan
molekul AxBy.
Hubungan antara aktivitas dan konsentrasi adalah :
AA y + = [Ay+] f A y + ; AB x - = [Bx-] f B x − ; AA x B y = [AxBy] f Ax B y
x y
(A y + ) x . (B x - ) y ( f A y + ) . ( f Bx - )
sehingga Keq = ×
A x By f A x By

di mana f A y+ ; f B ; dan f A
x-
x By masing-masing adalah koefisien aktivitas ion Ay+;
ion Bx-; dan molekul AxBy.
Untuk molekul AxBy padat, koefisien aktivitasnya = 1; sedangkan untuk larutan
yang relatif sangat encer, koefisien ion-ionnya dapat dianggap = 1 sehingga :
Keq . [ AxBy] = [Ay+]x . [Bx-]y
atau Ksp = [Ay+]x . [Bx-]y
di mana Ksp adalah tetapan hasil kali kelarutan pada suhu tertentu dan tetap, mempunyai
harga tetap.
Menurut Debye-Huckel (1923), besarnya koefisien aktivitas ion dalam larutan
encer dinyatakan dengan rumus :
Log fi = -0,509zi2 I

di mana I adalah kekuatan ion yang besarnya menurut Lewis dan Randall
I = ½ ∑ CiZi2
Apabila di dalam larutan suatu zat elektrolit sukar larut, hasil kali konsentrasi ion-
ionnya lebih kecil dari harga Ksp-nya, di dalam larutan akan terjadi proses pelarutan
sampai harga Ksp-nya tercapai. Sebaliknya, bila hasil kali konsentrasi ion-ionnya lebih
besar dari harga Ksp-nya, di dalam larutan akan terjadi proses pengendapan sampai
tercapai harga Ksp-nya.
Apabila pada suhu tertentu, kelarutan suatu zat elektrolit sukar larut dalam air
diketahui, maka harga Ksp zat elektrolit dimaksud dapat dihitung; sebaliknya apabila
harga Ksp suatu zat elektrolit sukar larut dalam air pada suhu tertentu diketahui, maka
kelarutannya dapat dihitung.
Asas/prinsip Le Chatelier
Pada tahun 1888, Henry Le Chatelier mengemukakan suatu pernyataan yang
berbunyi : Bila suatu sistem yang berada dalam kesetimbangan dinamik dipengaruhi
oleh sesuatu dari luar, sehingga kesetimbangan terganggu, maka sistem akan
memberikan reaksi perubahan pada arah yang akan mengurangi pengaruh gangguan
dan bila mungkin akan mengembalikan sistem kembali ke keadaan setimbang tersebut.
Pernyataan tersebut kemudian dikenal sebagai asas/prinsip Le Chatelier.
Prinsip tersebut sangat berguna ketika kita membicarakan suatu garam dalam
larutan garam lain yang mempunyai kation/anion yang sama. Sebagai contoh, anggaplah
kita ingin tahu kelarutan CaC2O4 dalam CaCl2. Masing-masing garam menyumbangkan
kation yang sama (Ca2+). Efek dari ion Ca2+ yang diberikan oleh CaCl2 membuat CaC2O4
lebih sedikit larut dalam larutan garam CaCl2 dari pada dalam air murni.
Kita dapat menjelaskan penurunan kelarutan ini berdasarkan prinsip Le Chatelier.
Anggaplah kita mencampur kristal CaC2O4 dalam sejumlah air murni sampai mencapai
kesetimbangan.
CaC2O4 (s) Ca2+ (aq) + C2O42- (aq)
Sekarang bayangkan jika kita menambahkan sejumlah CaCl2. CaCl2 adalah garam yang
mudah/dapat larut, yang dalam larutan akan terdissosiasi sehingga memberikan kenaikan
konsentrasi ion Ca2+. Berdasarkan prinsip Le Chatelier, ion-ion akan bereaksi untuk
mengambil/mengurangi kelebihan ion kalsium.
CaC2O4 (s) Ca2+ (aq) + C2O42- (aq)
Dengan kata lain, sejumlah CaC2O4 mengendap dari larutan. Sekarang larutan
mengandung lebih sedikit CaC2O4. Kita dapat menyimpulkan bahwa CaC2O4 lebih
sedikit dalam larutan CaCl2 dari pada dalam air murni.

C. ALAT DAN BAHAN


Alat : • 1 buah sendok pengaduk
• 1 buah gelas beker 250 mL Bahan :
• 1 buah gelas beker 500 mL • Larutan H2SO4 2,5 M
• 1 buah buret 50 mL • Larutan KMnO4
• 1 buah gelas ukur • Akuades
• 5 buah tabung reaksi besar • Kristal asam oksalat (H2C2O4.2H2O)
• 1 buah pipet gondok 10 mL • Kristal garam kalsium oksalat (CaC2O4)
• 2 buah erlenmeyer 250 mL
• 1 buah corong gelas

D. CARA KERJA
1. Standardisasi larutan KMnO4 0,02 M

Ditimbang 0,63 gr asam oksalat


(H2C2O4.2H2O)

Dimasukkan labu takar 100 mL dan


diencerkan sampai tanda

Diambil 5 mL, ditempatkan dalam erlenmeyer


Ditambah 2,5 M H2SO4 20 mL

Dititrasi dengan KMnO4

Dilakukan sebanyak dua kali

2. Penentuan konstanta hasil kali kelarutan CaC2O4

Dibuat larutan jenuh CaC2O4 sebanyak 100 mL dengan cara


menambahkan sedikit demi sedikit CaC2O4 padat ke dalam
100 mL akuades sambil diaduk sampai homogen

Disiapkan buret dengan Diambil 10 mL larutan jenuh


larutan standar KMnO4 CaC2O4 dengan pipet gondok

Dituang ke dalam erlenmeyer

Ditambah 10 mL larutan
H2SO4 2,5 M

Dititrasi sampai titik ekivalen


(percobaan dilakukan
sebanyak 2 kali)

3. Pengaruh [C2O42-] terhadap kelarutan CaC2O4

Disiapkan lima buah tabung


reaksi besar, bersih dan kering
Masing-masing diisi larutan
jenuh sisa percobaan 2

Ditambah berturut-turut 2, 4, 6, 8, dan


10m mL Na2C2O4 dan diaduk sampai
terjadi pengendapan sempurna

Diambil 5 mL supernatan dari masing-masing


larutan tersebut (padatan jangan sampai ikut)

Diencerkan dengan akuades


sampai 10 mL

Ditambah 10 mL larutan
H2SO4 2,5 M

Dititrasi dengan KMnO4 (percobaan


dilakukan sebanyak dua kali)

E. HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Standardisasi larutan KMnO4
massa H 2 C 2 O4 .2 H 2 O
mol H2C2O4.2H2O =
Mr H 2 C 2 O4 .2 H 2 O
0,63 gr
= 126 gr / mol = 5 x 10-3 mol = 5 mmol

H2C2O4 2 H+ + C2O42-
mol C2O42- = 5 mmol
5 mmol
[C2O42-] = 100 mL = 0,05 M

Reaksi yang terjadi (dalam suasana asam) :


C2O42- 2CO2 + 2e- x5
MnO4- + 8H+ + 5e- Mn2+ + 4H2O x2
5C2O42- + 2MnO4- + 16H+ 10CO2 + 2Mn2+ + 8H2O

2 M C2O4 2 − VC2O4 2 −
[MnO4-] = ×
5 VMnO −
4

Titrasi 1 Titrasi 2
2 0,05 M ×5 mL 2 0,05 M ×5 mL
[MnO4-] = 5× 5,2 mL
[MnO4-] = 5 × 5,1 mL

= 0,01923 M = 0,0196 M
0,01923 M + 0,0196 M
[MnO4-] rata-rata = = 0,019415 M ≈ 0,0194 M
2
Pada percobaan standardisasi KMnO4, titrasi dilakukan secara terbalik. Larutan
KMnO4 yang akan dicari konsentrasinya diletakkan pada buret, sedangkan larutan
standar asam oksalat ditempatkan pada erlenmeyer. Hal ini dilakukan agar lebih
mudah dalam mengamati perubahan warna yang terjadi karena reaksi/ perubahan
warna yang terjadi berjalan tidak terlalu cepat/ lambat.
Dalam percobaan ini juga ditambahkan asam sulfat ke dalam asam oksalat.
Kegunaannya adalah sebagai pemberi suasana asam dan untuk mempercepat laju
reaksi. Asam sulfat yang berfungsi sebagai pemberi suasana asam tidak dapat
digantikan oleh asam-asam yang lain seperti HCl, HI, HBr, atau HNO 3 karena asam
tersebut (HCl, HI, HBr) akan dioksidasi sendiri oleh KMnO4. Sedangkan HNO3 tidak
dapat digunakan karena HNO3 sendiri merupakan oksidator.
2. Penentuan konstanta hasil kali kelarutan CaC2O4

5 [ MnO 4 ] VKMnO 4
[C2O4 ] = ×
2-
2 VC O 2−
2 4

 Tanpa penambahan H2SO4


Titrasi 1 Titrasi 2
5 0,0194 M ×0,05 mL 5 0,0194 M ×0,05 mL
[C2O42-] = 2 × 10 mL
[C2O42-] = 2 × 10 mL

= 2,425x10-4 M = 2,425x10-4 M
2,425x10 -4
M + 2,425x10 -4
M
[C2O42-] rata-rata = = 2,425 x 10-4 M
2
 Dengan penambahan H2SO4
Titrasi 1 5 0,0194 M ×0,1 mL
[C2O42-] = 2 × 10 mL
= 4,85x10-4 M 5 0,0194 M ×0,1 mL
[C2O42-] = 2 × 10 mL
Titrasi 2
= 4,85x10-4 M

4,85x10 -4
M + 4,85x10 -4
M
[C2O42-] rata-rata = = 4,85 x 10-4 M
2
Ksp = [C2O42-]2
 Tanpa penambahan H2SO4
Ksp = [2,425x10-4]2 = 5,880625 x 10-8 ≈ 5,88 x 10-8
 Dengan penambahan H2SO4
Ksp = [4,85x10-4]2 = 2,35225 x 10-7 ≈ 2,35 x 10-7
Pada percobaan ini, titrasi juga dilakukan secara terbalik agar lebih mudah dalam
mengamati perubahan warna yang terjadi karena reaksi/ perubahan warna yang terjadi
berjalan tidak terlalu cepat/ lambat.
Pada saat pengambilan larutan jenuh, endapan tidak boleh ikut terambil karena
endapan tersebut dapat berpengaruh dalam penentuan harga Ksp. Hal ini dikarenakan
endapan CaC2O4 dapat bereaksi dengan KMnO4 sehingga ketelitian dalam penentuan
titik ekivalen dan titik akhir titrasi dapat berkurang.
Dari hasil perhitungan di atas, ternyata harga Ksp larutan yang tanpa penambahan
H2SO4 ataupun yang dengan penambahan H2SO4 tidak ada yang sesuai dengan harga
Ksp CaC2O4 teoritis yang sebesar 2,6 x 10-9. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh
beberapa faktor seperti penentuan titik ekivalen yang tidak tepat dan ada endapan yang
terambil saat pengambilan larutan jenuh sehingga berpengaruh terhadap Ksp.
Ksp CaC2O4 dengan penambahan H2SO4 lebih besar dari pada Ksp CaC2O4 tanpa
penambahan H2SO4. Hal ini dapat dijelaskan dengan prinsip Le Chatelier. Pada proses
pelarutan garam CaC2O4 tanpa penambahan asam, CaC2O4 akan sedikit terlarut.
CaC2O4 (s) Ca2+ (aq) + C2O42- (aq)
Penambahan asam akan mengakibatkan kelarutan CaC2O4 dalam air menjadi lebih
besar. Hal ini dikarenakan ion H+ dari asam akan bereaksi dengan ion C2O42-
membentuk asam oksalat (H2C2O4) yang sukar mengendap (mudah larut).
CaC2O4 (s) + H+ Ca2+ (aq) + HC2O4- (aq)
HC2O4- (aq) + H+ H2C2O4 (aq)
Jika sejumlah asam ditambahkan secara terus menerus, maka sistem akan bereaksi
untuk mengurangi kosentrasi H+ dalam larutan. Akibatnya asam oksalat yang
dihasilkan akan semakin meningkat. Jika asam oksalat yang larut semakin meningkat,
maka kelarutan garam CaC2O4 akan semakin besar sehingga harga Ksp-nya pun
semakin besar.
3. Pengaruh [C2O42-] terhadap kelarutan CaC2O4

5 [ MnO 4 ] VKMnO 4
2-
[C2O4 ] = ×
2 VC O 2−
2 4

Ksp
Kelarutan = 2-
[C 2 O 4 ]

 Tanpa penambahan H2SO4


Titrasi 1 (+ 2 mL Na2C2O4) = 1,21 x 10-4 M
[C2O42-] = = 10,648 mg/L

5 0,0194 M ×0,05 mL
Titrasi 4 (+ 8 mL Na2C2O4)
×
2 5 mL [C2O42-] =
= 4,85 x 10-4 M 5 0,0194 M ×0,05 mL
×
5,88 ×10 -8 2 5 mL
Kelarutan =
4,85 ×10 -4 = 4,85 x 10-4 M
= 1,21 x 10-4 M 5,88 ×10 -8
Kelarutan =
= 10,648 mg/L 4,85 ×10 -4

Titrasi 2 (+ 4 mL Na2C2O4) = 1,21 x 10-4 M


[C2O42-] = = 10,648 mg/L

5 0,0194 M ×0,05 mL
Titrasi 5 (+ 10 mL Na2C2O4)
×
2 5 mL [C2O42-] =
= 4,85 x 10-4 M 5 0,0194 M ×0,05 mL
×
= 10,648 mg/L 2 5 mL

5,88 ×10 -8 = 4,85 x 10-4 M


Kelarutan =
4,85 ×10 -4 5,88 ×10 -8
Kelarutan =
= 1,21 x 10-4 M 4,85 ×10 -4

= 10,648 mg/L = 1,21 x 10-4 M


Titrasi 3 (+ 6 mL Na2C2O4) = 10,648 mg/L
[C2O42-] =

5 0,0194 M ×0,05 mL
×
2 5 mL

= 4,85 x 10-4 M
5,88 ×10 -8
Kelarutan =
4,85 ×10 -4
 Dengan penambahan H2SO4
Titrasi 1 (+ 2 mL Na2C2O4) = 1,27 x 10-5 M
[C2O42-] = = 1,1176 mg/L

5 0,0194 M ×0,9 mL
Titrasi 4 (+ 8 mL Na2C2O4)
×
2 5 mL [C2O42-] =
= 8,73 x 10-3 M 5 0,0194 M ×2,1 mL
×
2,35x10 -7 2 5 mL
Kelarutan =
8,73 ×10 -3 = 20,37 x 10-3 M
= 2,69 x 10-5 M 2,35x10 -7
Kelarutan =
= 2,3672 mg/L 20,37 ×10 -3

Titrasi 2 (+ 4 mL Na2C2O4) = 1,15 x 10-5 M


[C2O42-] = = 1,012 mg/L

5 0,0194 M ×1,4 mL
Titrasi 5 (+ 10 mL Na2C2O4)
×
2 5 mL [C2O42-] =
=13,58x10-3 M 5 0,0194 M ×2,5 mL
×
2,35x10 -7 2 5 mL
Kelarutan =
13,58 ×10 -3 = 24,25 x 10-3 M
= 1,73 x 10-5 M 2,35x10 -7
Kelarutan =
= 1,5224 mg/L 24,25 ×10 -3

Titrasi 3 (+ 6 mL Na2C2O4) = 9,69 x 10-6 M


[C2O42-] = = 0,85272 mg/L

5 0,0194 M ×1,9 mL
×
2 5 mL

= 18,43 x 10-3 M
2,35x10 -7
Kelarutan =
18,43 ×10 -3
Grafik Kelarutan vs Konsentrasi

12

10
Kelarutan (mg/L)

tanpa
8 penambahan
as. sulfat
6
dengan
4 penambahan
as. sulfat
2

0
0 0,01 0,02 0,03
2-
Konsentrasi C2O4 (M )

Pada percobaan ini, titrasi juga dilakukan secara terbalik agar lebih mudah dalam
mengamati perubahan warna yang terjadi karena reaksi/ perubahan warna yang terjadi
berjalan tidak terlalu cepat/ lambat.
Pada saat pengambilan larutan jenuh, endapan tidak boleh ikut terambil karena
endapan tersebut dapat berpengaruh dalam penentuan harga Ksp. Hal ini dikarenakan
endapan CaC2O4 dapat bereaksi dengan KMnO4 sehingga ketelitian dalam penentuan
Reaksi yang terjadi :
Sebelum penambahan Na2C2O4
CaC2O4 (s) Ca2+ (aq) + C2O42- (aq)
aM aM
Q = Ksp = a2
Setelah penambahan Na2C2O4
Na2C2O4 (s) 2 Na+ (aq) + C2O42- (aq)
aM (a + x) M
Q = x (x + a) > Ksp nilai x << a
Setelah penambahan Na2C2O4 nilai Q lebih besar dari pada nilai Ksp, berarti ada
sebagian garam yang telah mengendap sehingga konsentrasi garam yang terlarut
semakin kecil.
Berdasarkan hasil perhitungan dan grafik di atas, kelarutan garam CaC2O4 tanpa
penambahan H2SO4 untuk tiap-tiap variasi penambahan Na2C2O4 adalah konstan. Hal
ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan efek ion sejenis akan menurunkan
kelarutan garam dalam larutan. Ketidaksesuaian dengan teori ini mungkin dikarenakan
kesalahan dalam pengamatan atau keterbatasan pengamat karena skala yang diamati
sangat kecil dan laju reaksi antara larutan standar dengan garam-garam oksalat cukup
lambat sehingga susah ditangkap oleh indera pengamat.
Pada percobaan kelarutan garam CaC2O4 dengan penambahan H2SO4, untuk tiap-
tiap variasi penambahan Na2C2O4 adalah terdapat perbedaan kelarutan garam CaC2O4.
Semakin besar penambahan Na2C2O4, semakin kecil kelarutan garam CaC2O4 dalam
larutan. Hal ini sesuai dengan teori.

F. KESIMPULAN
1. Konsentrasi larutan KMnO4 standar adalah 0,0194 M.
2. Harga Ksp CaC2O4 tanpa penambahan H2SO4 sebesar 5,88 x 10-8.
3. Harga Ksp CaC2O4 dengan penambahan H2SO4 sebesar 2,35 x 10-7.
4. Penambahan asam (kuat) pada garam sukar larut pada umumnya
menaikkan harga Ksp-nya.
5. Penambahan ion sejenis pada larutan jenuh garam sukar larut menyebabkan
kelarutan garam tersebut menjadi berkurang.

G. DAFTAR PUSTAKA
Brady, J.E., 1999, General Chemistry, Principle and Structure, Jilid 2, Bina Rupa
Aksara : Jakarta
Cotton and Wilkmson, 1989, Kimia Anorganik Dasar, Cetakan I, UI Press : Jakarta
Ebbing, Darrel, 1987, General Chemistry, Second Edition, Houghton Mifflin Company :
Massachusetts
Keenan, C.W., Kleinfelter, D.C., Wood, J.H., 1996, Ilmu Kimia untuk Universitas, Edisi
keenam, Jilid 2, Erlangga : Jakarta
Mudjiran, 2002, Diktat Kuliah Kimia Analitik, FMIPA UGM : Yogyakarta

Yogyakarta, 13 November 2007


Asisten Praktikan

Igantius Emmanuel Fiby Achmad V.