Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK DASAR I

SENTESIS BENZIL ALKOHOL


DAN ASAM BENZOAT

LABORATORIUM KIMIA ORGANIK


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2005
SINTESIS BENZIL ALKOHOL DAN ASAM BENZOAT
(PERCOBAAN 7)

I. TUJUAN PERCOBAAN
1. Sintesis benzil alcohol dan asam benzoate dari reaksi antara benzaldehida dan
kalium hidroksida.
2. Mempelajari reaksi Cannizaro.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Reaksi Cannizaro
Reaksi cannizaro merupakan reaksi kebalikan dari kondensasi aldol. Reaksi diri
suatu gugus aldehida dibedakan menjadi dua. Yaitu suatu aldehida yang memiliki
hidrogen α dan aldehida yang tidak memiliki hidrogen α . Hidrogen α merupakan suatu
hidrogen yang terikat pada posisi α terhadap suatu gugus karbonil. Misalnya saja suatu
asetaldehida memiliki hidrogen α , sedang suatu aldehida yang tidak memiliki hidrogen
α adalah benzaldehida.

Hidrogen α ini memiliki sifat asam, hal ini karena stabilisasi-resonansi dari ion
enolat produknya. Suatu aldehida yang memiliki hidrogen akan mengalami reaksi
kondensasi aldol, sedang yang tidak memiliki hidrogen akan mengalami reaksi
cannizzaro, dengan bantuan suatu basa kuat. Kondensasi aldol akan memberikan suatu
produk aldehida β-hidroksi. Kata aldol disini berasal dari aldehida dan alkohol yang
merupakan produk yang terbentuk dari reaksi tersebut, untuk reaksi kondensasi ialah
reaksi dimana dua molekul atau lebih bergabung menjadi satu molekul yang lebih besar,
dengan atau tanpa hilangnya suatu molekul kecil (suatu air). Kondensasi aldol merupakan
suatu reaksi adisi dimana tidak dilepaskan suatu molekul kecil.
Sedangkan suatu aldehida tanpa hidrogen α tidak dapat menjalani adisi- diri
untuk menghasilkan produk aldol. Hal tersebut dikarenakan suatu aldehida tanpa hidrogen
α (seperti benzaldehida dan formaldehida) tidak dapat membentuk ion enolat dan
dengan demikian tidak dapat berdimerasi dalam kondensasi aldol.

O
O
OH
C atau C tak ada produk aldol
H H H

formaldehida benzaldehida

Jika suatu aldehida tanpa hidrogen α dipanasi dengan larutan hidroksida pekat,
akan terjadi reaksi disproporsionasi atau dismutasi dimana separuh aldehida teroksidasi
menjadi asam karboksilat dan separuhnya yang lain akan tereduksi menjadi suatu alkohol.
Reaksi ini dikenal sebagai reaksi Cannizaro. Gaya dorong untuk reaksi Cannizaro adalah
pembentukan ion karboksilat yang terstabilkan resonansi.
O O O
C O C O C O

ion benzoat

O O
C O C O

resonansi dari ion benzoat


Resoansi dari ion benzoat itulah yang menyebabkan reaksi lebih condong ke arah
kanan (produk). Secara garis besar reaksi cannizaro untuk benzaldehida adalah sebagai
berikut:
O O
H
KOH pekat
2 C C + C OH
kalor
H O H
benzaldehida ion benzoat benzil alkohol
Mekanisme reaksinya adalah sebagai berikut: (adisi reaksi pada gugus karbonil)
Serangan oleh :OH-

O O

(1) C + OH C H

H OH
O O H
H
C H C C +H C
(2)

OH O OH O

O
H
C + C OH
H
O

Reaksi cannizaro ini diawali oleh serangan -OH pada karbon karbonil, yang disusul
-
dengan suatu serah terima hidrida. Mula-mula suatu benzaldehida diserang oleh OH
dari basa kuat untuk membentuk suatu anion (1). Karena anion tersebut tidak stabil,
kemudian terjadi perpindahan sepasang elektron bebas untuk membentuk ikatan rangkap
(struktur karboksil) yang lebih stabil, akibatnya atom H (proton) berpindah ke atom C
karbonil dari suatu benzaldehida yang lain dan terbentuk suatu struktur intermediate (2).
Anion tersebut dapat memindahkan ion hidrida ke atom karbon karbonil di dalam molekul
aldehida lain. Setelah itu terjadi perpindahan proton untuk menghasilkan anion karboksil
dan alkohol.
( Fessenden, Ralph, dan Joan, S, Fessenden. Kimia Organik jilid 2,Hal 179-186)
( Petunjuk Praktikum Kimia Organik Dasar, hal 59 )

Ekstraksi Cair-cair
Untuk memisahkan senyawa organik yang bersifat netral dari larutan atau
suspensi berair dapat dilakukan dengan ekstraksi pelarut (ekstraksi cair-cair), karena
metode ini merupakan metode yang paling cocok dilakukan dalam keadaan makro
maupun mikro. Ekstraksi merupakan metode pemisahan yang melibatkan perpindahan
senyawa dari satu fasa ke fasa yang lain. Jika cairan dua fasa saling tidak bercampur,
maka metode pemisahan tersebut dinamakan ekstraksi cair-cair. Air digunakan sebagai
salah satu fasa cair karena kebanyakan senyawa organik tidak larut dalam air,
kepolarannya tinggi dan air dapat melarutkan senyawa ionik. Untuk memisahkan dua
campuran dapat ditambahkan suatu zat terlarut dengan perbandingan tertentu antara dua
pelarut yang tidak campur, misal: benzena, CCl4, CHCl3, dll. Koefisien distribusi tidak
berpengaruh pada konsentrasi total zat terlarut pada kedua fasa. Hukum distribusi Nerst/
hukum partisi menyebutkan bahwa jika pada suatu system yang terdiri dari 2 lapisan
cairan yang tidak dapat bercampur sesamanya, bila ditambahkan senyawa ketiga, maka
senyawa ketiga tersebut akan terdistribusi diantara 2 lapisan tersebut.
Larutan garam jenuh sering kali ditambahkan dalam isolasi senyawa organik dari larutan
berair. Kekuatan air dalam berkompetisi dapat dikurangi dengan menambah konsentrasi
elektrolit yang tinggi, sehingga berlaku hukum aksi massa , elektrolit yang punya anion
dapat mengkoordinasi dalam konsentrasi yang cukup tinggi sehingga akan mudah
mengusir anion yang terisolasi oleh air. Hal itu dapat mengakibatkan pengurangan
aktivitas air dan turunnya konstanta dielektrik dari air. Penambahan elektrolit / garam
anorganik seperti NaCl, CaCl2 dan ammonium sulfat. Gajala tersebut biasanya dinamakan
efek Salting Out. Ekstraksi lebih baik dilakukan berulangkali dengan jumlah pelarut
organik dalam jumlah sedikit, daripada sekali dengan pelarut organik dalam jumlah yang
banyak, karena hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi penggunaan bahan.
( Petunjuk Praktikum Kimia Organik Dasar, hal 44) dan (Damtith, John, BSc, PhD. 373)

Evaporasi
Alat penguapan kebanyakan digunakan untuk memisahkan suatu bahan pelarut
dari suatu produk yang tidak mudah menguap (non-volatil) atau untuk mendaur ulang
bahan pelarut itu untuk digunakan lebih lanjut . Proses ini pada dasarnya merupakan
suatu penyulingan bentuk langsung, di mana uap yang dihasilkan dikondensasikan
kembali secara langsung. Proses ini dilakukan untuk memisahkan campuran dua solven
yang memiliki titik didih yang begitu dekat.
Proses ini biasanya dilakukan karena apabila campuran dibuang, untuk
menghasilkannya lagi dibutuhkan biaya yang relatif tinggi. Pada suatu proses sintesis
dengan campuran dari bahan pelarut yang berbeda , seperti pengambilan/penyaringan
dengan menggunakan ethanol / air, atau proses pembersihan yang menggunakan
isopropanol dan air. Cairan dari campuran ini tidak bisa dipisahkan dengan suatu
penyulingan bentuk langsung, ketika mendidih fraksi didihnya adalah terlalu dekat,
sehingga untuk mendapatkan komponen murni sangat sulit. Oleh karena itu
digunakan alat evaporasi.
Evaporasi merupakan suatu proses perubahan fasa (keadaan) dari cair ke gas
atau uap pada suhu tertentu, makin tinggi suhu maka makin cepat terjadi perubahan fasa
tersebut. Evaporasi dilakukan pada kondisi dengan pengurangan tekanan.
Penyulingan di bawah ruang hampa tidak hanya mempunyai keuntungan suatu
kesetimbangan energi yang lebih efisien dalam kaitan dengan lebih rendahnya titik didih,
tetapi dapat juga mengubah posisi titik azeotropis. Pada labu evaporator dipanaskan pada
temperatur yang sesuai, kemudian diletakkan pada air, dan labu diputar selama
evaporasi.Hal tersebut dikaitan dengan luas permukaan yang lebih besar di dalam kolom,
sehingga panas dan perpindahan massa sangat efisien.

Evaporator Buchi
(www.buchi.com)

Rekristalisasi
Rekristalisasi merupakan proses pengulangan kristalisasi agar diperoleh zat murni
atau kristal yang lebih teratur/murni. Senyawa organik berbentuk kristal yang diperoleh
dari suatu reaksi biasanya tidak murni. Mereka masih terkontaminasi sejumlah kecil
senyawa yang terjadi selama reaksi.Oleh karena itu perlu dilakukan pengkristalan kembali
dengan mengurangi kadar pengotor. Rekristalisasi didasarkan pada perbedaan kelarutan
senyawa dalam suatu pelarut tunggal atau campuran. Senyawa ini dapat dimurnikan
dengan cara rekristalisasi menggunakan pelarut yang sesuai. Ada dua kemungkinan
keadaan dalam rekristalisasi yaitu pengotor lebih larut daripada senyawa yang
dimurnikan, atau kelarutan pengotor lebih kecil daripada senyawa yang dimurnikan.
Pada dasarnya proses rekristalisasi adalah:
- Melarutkan senyawa yang akan dimurnikan kedalam pelarut yang sesuai pada
atau dekat titik didihnya.
- Menyaring larutan panas dari molekul atau partikel tidak larut.
- Biarkan larutan panas menjadi dingin hingga terbentuk kristal
- Memisahkan kristal dari larutan berair.
Beberapa persyaratan suatu pelarut dapat dipakai dalam proses rekristalisasi, antara lain:
- Memberikan daya larut yang cukup besar antara zat yang dimurnikan dan zat
pengotor.
- Tidak meninggalkan zat pengotor pada kristal
- Mudah dipisahkan dari kristal
- Bersifat inert (tidak mudah bereaksi) dengan kristal
Kristal yang terjadi dikeringkan dan ditentukan kemurniannya dengan penentuan
titik lebur, kromatografi dan metode spektroskopi.
Langkah penentuan pelarut dalam rekristalisasi merupakan langkah penentu keberhasilan
pemisahan. Jika senyawa larut dalam keadaan panas maka penyaringan harus dilakukan
dalam keadaan panas. Senyawa organik sering mengandung senyawa berwarna.
Senyawa tersebut dapat dimurnikan dengan penambahan karbon aktif penghilang warna
seperti norit, arang aktif, zeolit, dll.
( Petunjuk Praktikum Kimia Organik Dasar, hal 40 )

Benzaldehid (C6H5CHO)
Benzaldehid (ArCHO) merupakan suatu aldehid (-COH) dengan gugus karbonnya adalah
gugus benzena aromatik (Ar/aril). Pada gugus karbonil terdiri dari sebuah atom karbon sp2
yang dihubungkan ke sebuah atom oleh sebuah ikatan sigma dan sebuah ikatan –
pi.Ikatan sigma gugus karbonil terletak dalam suatu bidang dengan sudut ikatan kira-kira
120º disekitar karbon sp2. Ikatan pi yang menghubungkan C dan O terletak di atas dan di
bawah bidang ikatan–ikatan sigma tersebut. Gugus karbonil bersifat polar, dengan
electron-elektron dalam ikatan sigma, dan terutama elektron-elektron dalam ikatan pi,
tertarik ke oksigen yang lebih elektronegatif. Oksigen gugus karbonil mempunyai dua
pasang elektron menyendiri. Sedangkan gugus aromatik/benzena (Ar) bersifat non polar.
Kekuatan non polar dari benzaldehid lebih besar daripada kepolarannya. Oleh sebab itu
sifat dari benzaldehid ini secara keseluruhan adalah non polar tetapi dapat larut dalam air,
kelarutannya sebesar 3,3 gram/Lt. Semua sifat-sifat struktural ini, misalnya saja
kedataran, ikatan pi, polaritas dan adanya electron menyendiri, mempengaruhi sifat dan
kereaktifan gugus karbonil. Gugus aldehid dari benzaldehid ini akan membentuk ikatan
hidrogen dengan pelarut yang memiliki gugus N ataupun O, atau dalam larutan
benzaldehid itu sendiri. Sehingga titik didihnya sangat tinggi, yaitu sekitar 179 ºC dan titik
lebur sebesar -26 ºC, dengan berat jenis 1,05 gram/mL.
ikatan hidrogen
O
O O H
C C
C
C
H H H O
planar
benzaldehid
KOH
KOH adalah suatu hidrida, yang merupakan basa kuat dengan pH ~14 dan
mudah terhidrolisis di dalam air membentuk ion K+ dan OH-. KOH ini sangat reaktif sekali,
hal ini dikarenakan bahwa logam alkali (K+) memiliki satu elektron pada kulit terluar
sehingga memiliki probabilitas yang besar untuk melepaskan elektron. KOH ini mudah
larut dalam air dan reaksinya merupakan reaksi eksotermis (melepas panas), memiliki
berat jenis sebesar 1,05 gram/cm3.

Benzil Alkohol
Benzil merupakan suatu awalan yang menggambarkan adanya suatu radikal "
C6H5CH2-". Suatu contoh sederhana adalah benzil alkohol, C6H5CH2OH. Benzil alkohol, juga
disebut fenilmetanol atau phenylcarbinol, adalah suatu cairan berwarna jernih kekuning-kuningan
dengan bau harum yang lembut. Memiliki Titik lebur 15 ºC dan Titik Didih 205 ºC, memiliki berat
jenis 1,05 gram/cm3. Benzil Alkohol merupakan suatu alkohol primer dengan gugus aril. Senyawa
ini dapat larut dalam air dan eter. Benzil alkohol mempunyai kekuatan polaritas yang kuat dan
mampu membatasi daya larut air. Hal itu yang menyebabkan benzil alkohol mempunyai sifat
pelarut yang baik, toxisitas, dam memiliki tekanan uap air yang rendah. Senyawa ini juga
digunakan sebagai suatu bahan pelarut umum untuk tinta, cat, pernis, epoxy damar mantel, dan
sebagai degreasing agen didalam reaksi kimia. Benzil alkohol bereaksi dengan cuka untuk
membentuk banyak ester, garam dan campuran lain, dengan dapat digunakan secara luas dalam
bidang industri seperti halnya membuat sabun, parfum, dan makanan, juga telah digunakan untuk
aktivitas antipruritic untuk menyembuhkan rasa gatal. Alkohol secara luas digunakan sebagai
bahan pelarut, bahan bakar dan bahan baku kimia.
H
C OH
H
benzil alkohol

Asam Benzoat
Asam benzoat merupakan suatu asam karboksilat dengan gugus karbonnya ( R ) merupakan
gugus aril (Ar). Asam benzoat digunakan secara luas pada proses pengawetan makanan. Oleh
karena itu asam benzoat banyak disintesis untuk kebutuhan industri. Asam benzoat dalam suhu
kamar berbentuk kristal/padatan yang berwarna putih , dengan kelarutan delam air 2,9 gr/Lt,
memiliki titik didih 249ºC dan titik lebur 121-123ºC , serta memiliki massa jenis 1,312 gram/ cm3.
O

OH
asam benzoat

( Fessenden, Ralph, dan Joan, S, Fessenden. Kimia Organik jilid 2, hal 6)


(Merck/ www.chemdat.info)
BAHAN DAN ALAT

a. Bahan yang digunakan:


Benzaldehida Natrium metabisulfit jenuh
Kalium hidroksida Natrium sulfat anhidrous
Eter Asam klorida pekat
10 %Natrium karbonat Es batu
Akuades Norit
HCl encer

b. Alat yang digunakan:


Botol reagen Evaporator Buchi
Corong pisah Erlenmeyer
Penangas air Corong gelas
Gelas beaker 100 mL Alat penyaring panas
Labu alas bulat Penyaring Buchner

c. Gambar alat utama percobaan:

Evaporator Buchi
III. CARA KERJA
Dilarutan 7,25 gram kalium hidroksida ke dalam 7 mL air dalam botol reagen,
kemudian ditambahkan 7,5 mL ( 8 gr/ 0,075 mol) benzaldehida murni. Campuran tersebut
kemudian dikocok hingga berubah menjadi emulsi. Dibiarkan campuran tersebut semalam
atau selama 24 jam dalam botol tertutup. Baru setelah 24 jam tambahkan 70 mL air untuk
melarutkan kalium benzoat, setelah itu baru dituangkan larutan tersebut ke dalam corong
pisah dan tambahkan 15 mL eter. Kemudian dikocok larutan tersebut untuk mengekstrak
benzil alkohol dengan eter. Hal tersebut dilakukan dua kali menggunakan masing-masing
12,5 mL eter. Pada saat diekstrak timbul dua lapisan, lapisan yang atas merupakan
ekstrak eter yang mengandung benzil alkohol, sedangkan lapisan yang bawah adalah
larutan berair yang mengandung asam benzoat. Larutan berair yang terbentuk kemudian
disimpan.
Ekstrak eter yang terbentuk kemudian digabungkan dan dilakukan pengocokan
terhadap larutan eter tersebut dua kali dengan 2,5 mL larutan natrium metabisulfit jenuh
untuk memisahkan benzaldehida yang masih ada, pisahkan larutan eter, dan dicuci
dengan 5 mL larutan 10% natrium karbonat, kemudian dengan 5 mL akuades, dan
dikeringkan dengan natrium sulfat anhidrous. Setelah itu dilakukan evaporasi,
menggunakan evaporator Buchi.
Sedangkan untuk larutan berair dittetesi larutan asam klorida (HCl) yang telah
diencerkan dengan perbandingan 1:1. Penetesan dihentikan setelah tidak terbentuk
endapan lagi. Kemudian asam benzoat yang terbentuk disaring dengan penyaring
buchner, dan didapat kristal asam benzoat yang belum murni. Untuk memurnikan asam
benzoat dilakukan teknik pemurnian, yaitu dengan menggunakan metode rekristalisasi.
Mula-mula dilarutkan kristal asam benzoat dengan 70 mL akuades kemudian ditambahkan
KOH hingga semua kristal larut. Setelah itu baru ditambahkan norit, sambil dipanaskan.
Kemudian larutan disaring, dan ditambahkan kembali HCl, hingga semua endapan
terbentuk, baru kemudian disaring kembali dengan penyaring buchner, dikeringkan,
kemudian ditimbang.
IV. HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
Hasil dari percobaan ini:
Benzil Alkohol
• Berat hasil : 6,15 gram
• Bentuk : cair

• Warna : bening kekuningan


: karakteristik
• Bau

Asam Benzoat
• Berat hasil : 1,73 gram
• Bentuk : kristal/padatan

• Warna : putih
: karakteristik
• Bau

PERHITUNGAN
Berat / Volume Bahan Dasar
• Berat KOH : 7,25 gram

Mr KOH : 56,1049 gram/mol

Mol KOH : gram/Mr = 0,13 mol

• Berat : 8 gram

benzaldehid : 106 gram/mol

Mr benzaldehid : gram/Mr = 0,075 mol

Mol benzaldehid
Reaksi:
O O
H
2 C + KOH pekat C + C OH
kalor
H OH H
benzaldehida asam benzoat benzil alkohol

m 0,075 mol 0,13 mol


s 0,075 mol 0,075 mol 0,075 mol 0,075 mol
a - 0,055 mol 0,075mol 0,075 mol

- Berat benzil alkohol secara teoritis = mol × Mr benzil alkohol


= 0,075 mol × 122 gram/mol
= 9,15 gram
Berat benzil alkohol dari eksperimen adalah 6,15 gram
- Berat asam benzoat secara teoritis = mol × Mr asam benzoat
= 0,075 mol × 108 gram/mol
= 8,1 gram
Berat asam benzoat dari eksperimen adalah 1,73 gram
 Efisiensi percobaan:
Efisiensi percobaan benzil alkohol Berat eksperimen
= × 100%
Berat teor itis
6,15
= × 100%
9,15

= 67,21 %

Efisiensi percobaan asam benzoat Berat eksperimen


=
Volume eksperimen
1,73 gram
= x 100%
8,1 mL

= 21,35 %

PEMBAHASAN
Telah dilakukan percobaan yang bertujuan untuk sintesis benzil alkohol dan asam
benzoat dari reaksi antara benzaldehida dan kalium hidroksida, serta mempelajari reaksi
cannizzaro. Mula-mula 7,25 gram kalium hidroksida (KOH) dilarutkan ke dalam 7 mL air
dalam botol reagen, pada proses pelarutan tersebut dilakukan pengadukan agar KOH
kristal lebih cepat larut. Proses ini merupakan suatu reaksi eksotermis yang menghasilkan
panas. Kemudian ditambahkan 7,5 mL ( 8 gr/ 0,075 mol) benzaldehida murni, setelah itu
botol ditutup, dan dikocok agar terjadi emulsi kalium benzoat. Fungsi KOH dan
benzaldehid adalah sebagai reaktan, sedangkan air adalah sebagai pelarut/ penghidrolisis
KOH. Tujuan pengocokan adalah untuk memaksimalkan reaksi antara KOH dengan
benzaldehid untuk menghasilkan produk benzil alkohol dan asam benzoat. Karena laju
reaksi dari reaksi ini sangat lambat, maka untuk mendapatkan hasil yang maksimal
larutan/emulsi tersebut didiamkan selama 24 jam dalam keadaan tertutup. Sebenarnya
reaksi ini dapat dipercepat, misalnya saja dengan cara dipanaskan (refluks) pada suhu
yang tinggi, tetapi reaksi tersebut baru berjalan dengan sempurna dalam waktu 2 jam.
Karena waktu untuk praktikum sedikit maka daripada merefluks selama 2 jam lebih baik
membuat larutan/emulsi tersebut satu hari sebelumnya.
Setelah 24 jam, terbentuklah suatu endapan kalium benzoat, kemudian
ditambahkan 70 mL air untuk melarutkan kalium benzoate/endapan yang telah terbentuk,
setelah itu baru dilakukan ekstraksi, untuk memisahkan hasil reaksi, yaitu untuk
memisalhkan benzil alkohol, asam benzoat, serata pengotor-pengotornya. Untuk
melakukan ekstraksi mula-mula dituangkan larutan tersebut ke dalam corong pisah dan
ditambahkan 15 mL eter. Penambahan eter dimaksudkan agar terjadi pemisahan antara
larutan yang bersifat polar dengan larutan yang bersifat non polar. Kemudian dikocok
larutan tersebut untuk mengekstrak benzil alkohol dengan eter. Larutan yang telah
diekstrak akan terbagi dua bagian, lapisan yang paling atas merupakan larutan eteral
(yaitu campuran homogen antara eter dengan benzil alkohol), sedangkan bagian bawah
merupakan larutan berair yang sebagian besar mengandung air dan asam benzoat serta
pengotor-pengotor lainnya. Pemisahan larutan menjadi dua setelah ditambahkan eter
disebabkan karena adanya sifat bahwa suatu senyawa polar akan larut dalam pelarut
polar, begitu pula sebaliknya (azas “like dissolve like”). Eter merupakan suatu molekul
polar, tetapi sukar larut dalam air karena kepolarannya sangat rendah, tetapi dilain pihak
eter merupakan suatu pelarut yang baik pada senyawa-senyawa organik yang tidak larut
dalam air. Karena eter memiliki kepolaran yang hampir sama dengan benzil alkohol, maka
benzil alkohol akan mudah larut dalam eter, sehingga akan lebih mudah untuk
diekstrak/dipisahkan, sedangkan asam benzoat mudah larut dengan air. Karena adanya
perbedaan dua kepolaran yang bebeda tersebut maka dalam larutan akan terbentuk dua
lapisan yang berbeda, yang tidak dapat bercampur satu sama lain. Letak dari senyawa
dalam corong pisah ini sangat dipengaruhi oleh berat jenis masing-masing senyawa.
Larutan eteral berada pada lapisan atas dikarenakan memiliki massa jenis yang lebih
ringan, sedangkan larutan berair yang memiliki massa jenis yang lebih besar berada pada
lapisan bawah. Selain itu pada proses ekstraksi ini dilakukan pengocokan agar terbentuk
suatu emulsi, yang akan lebih memudahkan dalam homogenisasi larutan, dan pemisahan
lapisan. Pada proses pengocokan sesekali dibuka tutupnya agar gas eter yang timbul
dapat langsung dikeluarkan. Gas eter tersebut terjadi karena merupakan sifat eter itu
sendiri yang mudah menguap. Kemudian dipisahkan kedua lapisan tersebut dengan
lapisan eteral tetap berada di dalam corong pisah. Dan dilakukan ekstrak lagi pada larutan
berair , ekstraksi tersebut dilakukan dua kali menggunakan masing-masing 12,5 mL eter.
Hal tersebut dimaksudkan agar sisa benzil alkohol yang masih berada dalam larutan
berair dapat terekstrak seluruhya. Dalam melakukan ekstraksi lebih baik dilakukan
berulangkali dengan jumlah pelarut organik dalam jumlah sedikit, daripada sekali dengan
pelarut organik dalam jumlah yang banyak, karena hal tersebut dapat meningkatkan
efisiensi penggunaan bahan. Dari hasil ekstraksi tersebut dihasilkan dua macam larutan,
yaitu larutan eteral dan larutan berair. Kemudian larutan air disimpan, sedang laretan
eteral diekstrak lagi.

a. Pemurnian Benzil Alkohol


Ekstrak eter yang terbentuk dari 3 kali ekstraksi tersebut kemudian digabungkan dan
dilakukan pengocokan terhadap larutan eter tersebut dua kali dengan menggunakan 2,5
mL larutan natrium metabisulfit jenuh untuk memisahkan benzaldehida yang masih ada
dalam larutan. Setelah dilakukan pengocokan, maka akan timbul dua lapisan, hal tersebut
menandakan bahwa larutan eteral tersebut masih mengandung sisa benzaldehid yang
tidak digunakan untuk reaksi. Natrium metabisulfit tersebut akan akan memberikan
kepolaran yang berbeda antara benzaldehid yang memiliki kepolaran yang berbeda
dengan larutan eteral, sehingga terbentuk dua lapisan. Setelah itu larutan baru dicuci
dengan 5 mL larutan 10% natrium karbonat dan 5 mL air. Penambahan natrium karbonat
akan membuat larutan benar-benar terpisah menjadi dua dengan batas yang sangat jelas,
sehingga lebih mudah dipisahkan. Selain itu tujuan proses pencucian dengan 10%
natrium karbonat dan air adalah agar diperoleh larutan benzil alkohol yang lebih murni.
Kemudian barulah dipisahkan larutan yang mengandung benzil alkohol dengan larutan
yang mengandung benzaldehid. Setelah pemisahan dilakukan kemudian larutan
dikeringkan dengan natrium sulfat (Na2SO4) anhidrous. Penambahan Na2SO4 itu berfungsi
sebagai agen penghidrasi ( pengikat molekul air dari hasil samping reaksi/ molekul air
yang ikut terekstraksi). Kemampuan pengikatan tersebut dikarenakan Na2SO4 anhidrous
memiliki afinitas yang besar terhadap molekul air. Hal ini dimaksudkan untuk
mendapatkan benzil alkohol yang lebih murni, dan terbebas dari molekul air. Penambahan
Na2SO4 dilakukan sedikit demi sedikit hingga butiran Na2SO4 yang sudah bergabung/
mengikat molekul air tidak pisah lagi. Air yang sudah terikat dtandai dengan
penggumpalan sesuatu zat yang berwarna putih yang terletak didasar. Selanjutnya larutan
diatas dievaporasi, menggunakan evaporator Buchi. Evaporasi ini dimaksudkan untuk
menghilangkan pelarut yang masih ada yaitu eter, dan diharapkan akan dihasilkan benzil
alkohol yang murni. Proses evaporasi ini telah dijelaskan pada dasar teori. Dari evaporasi
tersebut dihasilkan benzil alkohol yang berwarna kuning jernih, dan diperoleh benzil
alkohol seberat 6,15 gram. Apabila dibandingkan dengan perhitungan secara teoritis
seharusnya diperoleh benzil alkohol seberat 7,98, sehingga apabila dihitung akan
didapatkan randemen sebesar 67,21%.
b. Rekristalisasi Asam Benzoat
Larutan berair yang disimpan, dari ekstraksi yang awal tadi ditetesi larutan asam
klorida (HCl) yang telah diencerkan dengan perbandingan 1:1. Hal tersebut dimaksudkan
agar terbentuk asam benzoat, karena yang terbentuk sebelumnya yaitu dari reaksi adalah
Kalium benzoat, bukannya asam benzoat. HCl tersebut akan terhidrolisis menjadi ion-
ionnya dalam air, ion H+ dari HCl ini akan menggeser keberadaan ion K+ dari ion benzoat,
sehingga terbentuklah asam benzoat. Pada suasana asam ini asam benzoat berwujud
padat, sedangkan pada suasana basa/alkali ion benzoat ini berwujud cair. Reaksinya
adalah sebagai berikut:
hidrolisis
H Cl H Cl
O O

C + H+ C + K

O K O H
Kalium benzoat asam benzoat
(cair) (padat)
Padatan yang timbul dari penambahan HCl encer tersebut berupa butiran putih
kasar yang memenuhi larutan. Penetesan dihentikan setelah tidak terbentuk endapan lagi/
dapat juga diukur dengan kertas lakmus. Kemudian asam benzoat yang terbentuk disaring
dengan penyaring buchner. Dari penyaringan ini didapat kristal asam benzoat yang belum
murni, karena masih banyak mengandung pengotor. Untuk memurnikan asam benzoat
dilakukan teknik pemurnian, yaitu dengan menggunakan metode rekristalisasi. Proses
rekristalisasi ini didasarkan pada perbedaan kelarutan suatu senyawa dalam pelarut
tunggal maupun campuran. Mula-mula dilarutkan kristal benzil alkohol dengan 70 mL air
kemudian ditambahkan KOH hingga semua kristal larut. Akuades disini berfungsi sebagai
pelarut, sedangkan KOH berfungsi sebagai untuk melarutkan asam benzoat. Akuades
digunakan sebagai pelarut, dikarenakan akuades merupakan senyawa inert yang tidak
mudah bereaksi dengan kristal, sehingga nantinya akan lebih mudah dipisahkan. KOH
tersebut akan bereaksi dengan asam benzoat menjadi kalium benzoat yang berupa
cairan. Reaksinya:
hidrolisis
K OH K OH

O O

C + K C + H+

O H O K

asam benzoat Kalium benzoat


(padat) (cair)
Penambahan KOH ini dilakukan tetes demi tetes hingga semua padatan asam
benzoat dalam larutan menjadi larut semua. Penambahan tersebut dilakukan sambil
dipanaskan, karena pada suhu yang tinggi pada umumnya kelarutan suatu zat akan
meningkat. Setelah semuanya larut menjadi larutan baru kemudian ditambahkan norit,
dan diaduk. Norit ini berfungsi sebagai karbon aktif, yang mampu menyerap warna serta
pengotor-pengotor yang berukuran besar. Kemampuan norit tersebut untuk menyerap
pengotor dikarenakan norit memiliki ukuran pori yang besar. Setelah larutan homogen
pemaasan dihentikan, kemudian larutan disaring dengan penyaring biasa, hingga
didapatkan larutan yang bening/jernih yang terbebas dari norit. Selanjutnya larutan
ditambahkan kembali HCl encer. Penambahan dimaksudkan untuk mengendapkan kalium
benzoat, hingga terbentuk suatu asam benzoat padat. Penambahan HCl encer dihentikan
setelah semua endapan terbentuk. Kemudian larutan yang mengandung padatan asam
benzoat tersebut disaring kembali dengan penyaring buchner, dikeringkan, kemudian
ditimbang. Dari hasil rekristalisasi diperoleh asam benzoat seberat 1,73 gram, dan apabila
dibandingkan secara teoritis, berat yang didapat seharusnya adalah 7,02 gram, sehingga
efisiensi percobaan yang dilakukan adalah sebesar 21,35%. Dari hasil yang didapat
antara eksperimen dengan dasar teori terdapat banyak perbedaan-perbedaan, hal
tersebut dimungkinkan karena adanya hal-hal tersebut diantaranya adalah:
• Reaksi berlangsung kurang sempurna antara KOH dengan benzaldehid, hal
tersebut disebabkan adanya zat-zat penghambat terjadinya reaksi/ inhibitor, misalnya
saja sisa bahan yang digunakan, ataupun yan lain.
• Masih adanya air dalam larutan hasil, hal tersebut dikarenakan pada proses
ekstraksi yang kurang sempurna yang menyebabkan adanya air yang ikut terekstraksi,
kemudian pengikatan air oleh Na2SO4 yang kurang efektif.
• Selain itu juga dimungkinkan masih terdapat pengotor-pengotor lain selain air,
misalnya Na2SO4, dan sisa-sisa reaksi lainnya yang mungkin masih ada walaupun
telah dilakukan pemurnian.
• Pemisahan/Ekstraksi yang kurang tepat
• Penyaringan yang berkali-kali, sehingga dimungkinkan tertinggalnya produk di
kertas saring.
• Faktor suhu dan lingkungan yang mungkin berubah-ubah
• Pada saat evaporasi, dimungkinkan ikut menguapnya hasil.
Mekanisme reaksi:
Reaksi:

O O
H
2 C + KOH pekat C + C OH
kalor
H OH H
benzaldehida asam benzoat benzil alkohol

Mekanisme:

O O

(1) C + K OH C H

H OH

O K O H
H
(2) C H C C +H C

OH O OH O K

O
H
C + C OH
H
OK

Kalium benzoat benzil alcohol

Jika suatu aldehida tanpa hidrogen α (benzaldehid) dipanasi dengan larutan


hidroksida (KOH) pekat, akan terjadi reaksi disproporsionasi atau dismutasi dimana
separuh aldehida teroksidasi menjadi anion karboksilat (ion benzoat) dan separuhnya
yang lain akan tereduksi menjadi suatu alkohol (benzil alkohol). Untuk suatu aldehid yang
memiliki hidrogen α tidak akan mengalami reaksi seperti ini karena hidrogen dari asam
malah akan terdeprotonisasi.
Reaksi cannizaro ini diawali oleh serangan –OH (dari suatu hidroksida:KOH) pada
karbon karbonil, yang disusul dengan suatu serah terima hidrida. Mula-mula suatu
benzaldehida diserang oleh –OH (nukleofil) dari basa kuat untuk membentuk suatu anion
(1).. Karena anion tersebut tidak stabil, kemudian terjadi perpindahan sepasang elektron
bebas untuk membentuk ikatan rangkap (struktur karboksil) yang lebih stabil, akibatnya
atom H (proton) berpindah ke atom C karbonil dari suatu benzaldehida yang lain dan
terbentuk suatu struktur intermediate (2). Anion tersebut dapat memindahkan ion hidrida
ke atom karbon karbonil di dalam molekul aldehida lain. Setelah itu terjadi perpindahan
proton untuk menghasilkan anion karboksil dan alkohol. Kesetimbangan reaksi pada step
akhir ini akan bergeser ke kanan/ kearah produk.Daya dorong untuk reaksi ini adalah
adanya ion benzoat yang terstabilkan oleh resonansi.
Resonansi ion benzoat:

O O O
C O C O C O

ion benzoat

O O
C O C O

resonansi dari ion benzoat

V. KESIMPULAN
1. Benzil alkohol dan asam benzoat dapat dibuat dari reaksi dari reaksi antara
benzaldehid dengan Kaliun Hidroksida.
2. Reaksi benzaldehid dengan Kalium Hidroksida merupakan reaksi Cannizzaro.
3. Dari percobaan yang dilakukan diperoleh hasil yang berupa larutan benzil alkohol
sebanyak 6,15 gram dengan efisiensi percobaan yang dilakukan adalah 67,21 %,
sedangkan asam benzoat yang dihasilkan seberat 1,73 gram dan dengan randemen
sebesar 21,35 %.

VI. DAFTAR PUSTAKA


Eaton, Davic C.1989, Laboratory Investigation in Organic Chemistry, McGraw-Hill, Inc.
United State of America
Fessenden, Ralph, J dan Joan, S Fessenden.1999. Kimia Organik. Jilid 1. Edisi 3.
Erlangga: Jakarta.
Fessenden, Ralph, J dan Joan, S Fessenden.1999. Kimia Organik. Jilid 2. Edisi 3.
Erlangga: Jakarta.
Vogel .1978. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. PT Kalman
Media Pustaka: Jakarta.
(www.buchi.com)
(www.chemhelper.com)
(www.chemdat.info)