Anda di halaman 1dari 11

ILUSTRASI KASUS

I.

IDENTITAS Nama Jenis kelamin Umur Alamat Pendidikan Pekerjaan Tanggal masuk Tanggal keluar : By. A (30) / Tn. A (33) : Laki-laki : 3 Hari : Pekalipan ::: 07 Juni 2011 : 16 Juni 2011

II.

ANAMNESIS Keluhan Utama : Bayi Tampak Kuning Keluhan Tambahan :RPS : Sejak tiga hari setelah lahir bayi tampak kuning. Warna kuning tampak pertama kali pada mata, kemudian menyebar kebadan tungkai dan lengan tapi tidak pada telapak tangan dan kaki. Bayi terlihat bugar, menagis kuat, gerak aktif. Keluhan kuning tidak disertai panas badan, kejang atau pun penurunan kesadaran. Buang air besar tidak tampak seperti dempul dan buang air kecil tidak tampak berwarna the pekat. Karena keluhan tersebut bayi tidak jadi dipulangkan dari Perinatologi. Riwayat Kehamilan : Wanita G3P2A0 39-40 minggu dengan KPSW 9 jam dan riwaya SC 5 tahun yang lalu. Anak pertama perempuan, lahir cukup bulan secara spontan ditolong oleh Bidan dengan berat 3200 gram, IUFD. Anak kedua laki-laki, lahir cukup bulan secara SC oleh Dokter dengan berat 3500 gram, sekarang berumur 5 tahun. Riwayat Persalinan : Bayi dari ibu G3P2A0 lahir laki-laki lahir di OK IGD RSUD Gunung Jati tanggal 7 Juni 2011 pukul. 16.35 WIB oleh dr. Doddy, Sp.OG secara Seksio Sesar A/I KPSW 9 jam dan riwayat SC 5 tahun yang lalu. Lahir tidak langsung menagis dan tali pusat langsung dipotong. Berat badan lahir 3400 gram dengan panjang 49 cm dan APGAR Score 7/9.

Presentasi Kasus : Ikterus Neonatorum

Page 1

III.

PEMERIKSAAN FISIK Kesadaran : Compos mentis Keadaan Umum : Menangis kuat, gerak aktif, terlihat kuning Tanda Vital : Suhu : 36.10C Laju pernapasan : 48x/menit Frekuensi nadi : 152x/menit Kepala : Normocephal Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik +/+ Hidung : Nafas cuping hidung (-) Mulut : Sianosis (-) Thorax : Retraksi (-) Cor : Bunyi jantung: I-II reguler, bising (-) Pulmo : Inspeksi : gerakan dinding simteris Palpasi : fremitus taktil sama kiri dan kanan Perkusi : Sonor kiri dan kanan Auskultasi : VBS +/+, rhonki -/-, wheezing -/Abdomen : Inspeksi : datar, ikterik Palpasi : tidak teraba massa Perkusi : timpani pada seluruh kuadran abdomen Auskultasi : bising usus (+) normal Ekstremitas: akral hangat, edema (-), sianosis (-), ikterik (+)

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Darah rutin (Tgl 11/06/2011) Leukosit Haemoglobin Hematokrit Trombosit Bilirubin-T Bilirubin-D Bilirubin-I : 6.900/mm3 : 14,4 gr/dl : 40,9 % : 267.000/mm3 : 21,25 : 4.85 : 16.40 (9.032.0/mm3) (1322 gr/dl) (4270%) (250.0001.050.000/mm3) (< 10.3 mg/dL)

V. VI. VII.

DIAGNOSIS Ikterus Neonatorum PEMERIKSAAN ANJURAN Cek darah rutin dan Bil-T,D,I ulang post fototerapi TERAPI Fototerapi 48 jam Urdafalk 3 x 10 mg

Presentasi Kasus : Ikterus Neonatorum

Page 2

VIII. FOLLOW UP Tanggal Keluhan 12-06-11 Keadaan: Tampak kuning, gerak KC: 272cc aktif, menangis kuat Kesadaran : CM Tanda vital: T : 36,3 0C N : 144 x/mnt RR : 48 x/mnt Mata: CA -/- , SI +/+ Hidung: NCH Thorak: Cor : BJ I-II reg, M(-), G(-) pulmo: I : gerakan dinding simteris P: fremitus taktil sama kiri dan kanan P: Sonor kiri dan kanan A: VBS +/+, rhonki -/-, wheezing -/Abdomen: supel, rata, BU +, turgor baik Ekstremitas: akral hangat, udem (-), sianosis (-),ikterik (+) 13-06-11 Keadaan: Tampak kuning, gerak Fototerapi sd. 48 jam aktif, menangis kuat Urdafalk 3 x 10 mg Kesadaran : CM ASI/PASI 8-12x : 22-34cc 0 Tanda vital: T : 36 C N : 148 x/mnt RR : 44 x/mnt Mata: CA -/- , SI +/+ Hidung: NCH Thorak: Cor : BJ I-II reg, M(-), G(-) pulmo: I : gerakan dinding simteris P: fremitus taktil sama kiri dan kanan P: Sonor kiri dan kanan A: VBS +/+, rhonki -/-,
Page 3

Terapi Fototerapi 48 jam (antri) Urdafalk 3 x 10 mg ASI/PASI 8-12x : 22-34cc

Presentasi Kasus : Ikterus Neonatorum

wheezing -/Abdomen: supel, rata, BU +, turgor baik Ekstremitas: akral hangat, udem (-), sianosis (-),ikterik (+)

14-06-11

Keadaan: kuning berkurang , gerak Fototerapi hari ke-2 aktif, menangis kuat Urdafalk 3 x 10 mg Kesadaran : CM ASI/PASI 8-12x : 22-34cc Tanda vital: T : 36.7 0C N : 145 x/mnt RR : 48 x/mnt Mata: CA /- , SI +/+ Hidung: NCH Thorak: Cor : BJ I-II reg, M(-), G(-) pulmo: I : gerakan dinding simteris P: fremitus taktil sama kiri dan kanan P: Sonor kiri dan kanan A: VBS +/+, rhonki -/-, wheezing -/Abdomen: supel, rata, BU +, turgor baik Ekstremitas: akral hangat, udem (-), sianosis (-),ikterik (+)

Presentasi Kasus : Ikterus Neonatorum

Page 4

15-06-11

Keadaan: kuning hapir tidak terlihat , gerak aktif, menangis kuat Kesadaran : CM Tanda vital: T : 36.7 0C N : 145 x/mnt RR : 48 x/mnt Mata: CA /- , SI -/Hidung: NCH Thorak: Cor : BJ I-II reg, M(-), G(-) pulmo: I : gerakan dinding simteris P: fremitus taktil sama kiri dan kanan P: Sonor kiri dan kanan A: VBS +/+, rhonki -/-, wheezing -/Abdomen: supel, rata, BU +, turgor baik Ekstremitas: akral hangat, udem (-), sianosis (-),ikterik (-)

Fototerapi hari terakhir Urdafalk 3 x 10 mg ASI/PASI 8-12x : 22-34cc Cek Bil-T,D,I ulang

16-06-11

Pasien pulang paksa

Bilirubin-T Bilirubin-D Bilirubin-I

: 6,1 : 2.2 : 3.9

Presentasi Kasus : Ikterus Neonatorum

Page 5

PEMBAHASAN
Hiperbilirubinemia BATASAN Meningkatnya kadar bilirubin total pada minggu pertama kelahiran. Kadar normal maksimal adalah 12-13 mg% (205-220 mol/L). PATOFISIOLOGI a. Produksi bilirubin yang meningkat : peningkatan jumlah sel darah merah, penurunan umur sel darah merah, peningkatan pemecahan sel darah merah (Inkompatibilitas golongan darah dan Rh, defek sel darah merah pad defisiensi G6PD atau sferositosis, a polisitemia, sekuester darah, infeksi). Penurunan konjugasi Bilirubin: prematuritas, ASI , defek kongenital yang jarang. Peningkatan Reabsorpsi Bilirubin dalam saluran cerna : ASI, asfiksia, pemberian ASI yang terlambat, obstruksi saluran cerna. Kegagalan ekskresi cairan empedu : infeksi intrauterin, sepsis, hepatitis, sindrom kolestatik, atresia biliaris, fibrosis kistik.

b. c.

d.

GEJALA KLINIS Kulit, mukosa dan konjungtiva kuning. DIAGNOSIS a. anamnesis : riwayat ikterus pada anak sebelumnya, riwayat keluarga anemi dan pembesaran hati dan limpa, riwayat penggunaan obat selama ibu hamil, riwayat infeksi maternal, riwayat trauma persalinan, asfiksia. Pemeriksaan fisik : Umum : keadaan umum (gangguan nafas, apnea, instabilitas suhu, dll) Khusus : Dengan cara menekan kulit ringan dengan memakai jari tangan dan dilakukan pada pencahayaan yang memadai. Berdasarkan Kramer dibagi :

b.

Presentasi Kasus : Ikterus Neonatorum

Page 6

c.

Pemeriksaan laboratorium: kadar bilirubin, golongan darah (ABO dan Rhesus) ibu dan anak, darah rutin, hapusan darah, Coomb tes, kadar enzim G PD (pada riwayat 6 keluarga dengan defisiensi enzim G6PD). Pemeriksaan radiologis : USG abdomen (pada ikterus berkepanjangan)

d.

PENYULIT - Ensefalopati hiperbilirubinemia (bisa terjadi kejang, malas minum, letargi dan dapat berakibat pada gangguan pendengaran, palsi serebralis). TATALAKSANA 1. Ikterus yang timbul sebelum 24 jam pasca kelahiran adalah patologis. Tindakan fototerapi dan mempersiapkan tindakan tranfusi tukar. Pada usia 25-48 jam pasca kelahiran, fototerapi dianjurkan bila kadar bilirubin serum total > 12 mg/dl (170 mol/L). Fototerapi harus dilaksanakan bila kadar bilirubin serum total 15 mg/dl (260 mol/L). Bila fototerapi 2 x 24 jam gagal menurunkan kadar bilirubin serum total < 20 mg/dl (340 mol/L), dianjurkan untuk dilakukan tranfusi tukar. Bila kadar bilirubin serum total 20 mg/dl (> 340 mol/L) dilakukan fototerapi dan mempersiapkan tindakan tranfusi tukar. Bila kadar bilirubin serum total > 15 mg/dl (> 260 mol/L) pada 25-48 jam pasca kelahiran, mengindikasikan perlunya pemeriksaan laboratorium ke arah penyakit hemolisis. Pada usia 49-72 jam pasca kelahiran, fototerapi dianjurkan bila kadar bilirubin serum total > 15 mg/dl (260 mol/L). Fototerapi harus dilaksanakan bila kadar bilirubin serum total 18 mg/dl (310 mol/L). Bila fototerapi 2 x 24 jam gagal menurunkan kadar bilirubin serum total < 25 mg/dl (430 mol/L), dianjurkan untuk dilakukan tranfusi tukar. Bila kadar bilirubin serum total > 18 mg/dl (> 310 mol/L) fototerapi dilakukan sambil mempersiapkan tindakan tranfusi tukar. Bila kadar bilirubin serum total > 25 mg/dl (> 430 mol/L) pada 49-72 jam pasca kelahiran, mengindikasikan perlunya pemeriksaan laboratorium ke arah penyakit hemolisis. Pada usia > 72 jam pasca kelahiran, fototerapi harus dilaksanakan bila kadar bilirubin serum total > 17 mg/dl (290 mol/L). Bila fototerapi 2 x 24 jam gagal menurunkan kadar bilirubin serum total < 20 mg/dl (340 mol/L), dianjurkan untuk dilakukan tranfusi tukar. Bila kadar bilirubin serum total sudah mencapai > 20 mg/dl (> 340 mol/L) dilakukan fototerapi sambil mempersiapkan tindakan tranfusi tukar. Bila kadar bilirubin serum total > 25 mg/dl (> 430 mol/L) pada usia > 72 jam pasca kelahiran, masih dianjurkan untuk pemeriksaan laboratorium ke arah penyakit hemolisis.

2.

3.

4.

CATATAN : Pemberian phenobarbital/luminal, hanya diberikan pada kasus-kasus tertentu seperti ikterus yang berkepanjangan dengan pemeriksaan bilirubin urin yang negatif. Bila bilirubin urin positif diperlukan pemeriksaan lebih lanjur seperti USG abdomen untuk mencari sebab lain (atresia bilier).

Presentasi Kasus : Ikterus Neonatorum

Page 7

Tabel 1 : Tatalaksana hiperbilirubinemia pada neonatus cukup bulan yang sehat (American Academy of Pediatrics)

* = Neonatus cukup bulan dengan ikterus pada umur < 24 jam, bukan neonatus sehat dan perlu evaluasi ketat

Presentasi Kasus : Ikterus Neonatorum

Page 8

ANALISA KASUS

Dasar-dasar Penegakkan Diagnosis Dari anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjukkan, didapatkan data-data sebagai berikut: Didapatkan hasil anamnesa, dimana gejala-gelaja pasien adalah sebagai berikut: bayi tampak kuning pada hari ke-3 setalah lahir. Merupakan gejala-gejala yang terdapat pada ikterus neonatorum fisiologis diduga sebagai akibat hancurnya sel darah merah janin yang disertai pembatasan sementara pada konjugasi dan ekskresi oleh hati. Dari pemeriksaan fisik didapatkan: Tanda Vital : Suhu Laju pernapasan Frekuensi nadi : 36.10C : 52x/menit : 148x/menit

Dalam batas normal Dari pemeriksaan penunjang didapatkan: Darah rutin (Tgl 11/06/2011) Leukosit : 6.900/mm3 Haemoglobin : 14,4 gr/dl Hematokrit : 40,9 % Trombosit : 267.000/mm3 Bilirubin-T : 21,25 Bilirubin-D : 4.85 Bilirubin-I : 16.40 Hiperbilirubinemia

(4,0-11,0/mm3) (11-18,8 gr/dl) (35-55%) (150-400/mm3)

Diagnosa Kerja Dari data-data yang ada diagnosa kerja pada kasus ini ialah Ikterus Neonatorum Fisiologis Analisa Penatalaksanaan Tidak memulangkan bayi tersebut guna observasi lebih lanjut penyebab tampak kuning. Pertahankan suhu 36.5-37.50C untuk mencegah hipotermi
Page 9

Presentasi Kasus : Ikterus Neonatorum

Kebutuhan cairan berdasarkan berat badan dan usia Menurunkan segara kadar bilirubin indirek untuk mencegah jangan sampai terjadi Kern Ikterus dengan Fototerapi segera Terapi tambahan dengan memberi Urdafalc/ Asam Ursodeoksikolat guna
melindungi hati dari zat toksik, dengan memberikan asam ursodeoksikolat, 3 -10 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis, peroral.

Presentasi Kasus : Ikterus Neonatorum

Page 10

DAFTAR PUSTAKA
Behrman., Kliegman. & Arvin. 2000. Nelson Ilmu Kesehatan Anak( edisi: 15, vol 2). Jakarta : EGC. 1397. Saunders A. Jaundice. Pediatric decision making strategies to accompany Nelson of pediatrics, 16th ed. Philadelphia: Saunders; 2002. 104-108. Sukadi A. 2010. Hiperbilirubinemia. Buku Ajar Neonatologi. Jakarta : IDAI. 147-169. Thiloho HE, Rosenberg AA. Neonatal Jaundice. Dalam: Hay WW, Hayward RA, Levin MJ, Sondheimer JM, penyunting. Current pediatric diagnosis and treatment. Edisi ke 20. USA: Mc graw hill; 2011. h.10-18.

Presentasi Kasus : Ikterus Neonatorum

Page 11