0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
40 tayangan12 halaman

Teks Drama

Cerita ini menceritakan tentang seorang siswi bernama Sasya yang bisu dan mengalami pembullyan di kelasnya. Siswa bernama Rafka yang memimpin pembullyan terhadap Sasya. Pada akhirnya kebenaran terungkap dan Rafka yang menjadi korban pembullyan.

Diunggah oleh

tristamegasylvia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
40 tayangan12 halaman

Teks Drama

Cerita ini menceritakan tentang seorang siswi bernama Sasya yang bisu dan mengalami pembullyan di kelasnya. Siswa bernama Rafka yang memimpin pembullyan terhadap Sasya. Pada akhirnya kebenaran terungkap dan Rafka yang menjadi korban pembullyan.

Diunggah oleh

tristamegasylvia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Note :

Giri : Merah
Farid : Hijau
Ojan : Biru Tua
Adit : Coklat
Rafi : Kuning
Fitri : Ungu
Dina : Orange
Oktavia : Abu-abu
Trista : Biru Muda

THE VOIDNESS
Cerita bermula dari adanya seorang anak perempuan yang memiliki kekurangan yang sangat
ingin merasakan kehidupan bersekolah secara normal dengan anak-anak yang lain.

*Suasana kelas*

Guru : Selamat pagi anak anak.

*seketika suasana kelas pun mulai gaduh*

Guru : baik anak anak mulai hari ini kalian akan kedatangan murid baru. Tapi teman kalian yang
didepan ini memiliki keterbatas. Ia memiliki kekurangan tidak berbicara yang disebabkan
kecelakaan. Karena keinginan dari sang anak kami pun menyetujui agar ia dapat bersekolah
disini selama satu semester. Oke sasya kamu boleh perkenalkan dirimu
Sang anak mulai memperkenalkan dirinya, namun sasya tetap terdiam dan ia mulai
menunjukan sebuah buku catatan yang berisikan identitasnya. Seluruh kelas terdiam.

Alena(Dina) : eh namanya mirip si sasa tuh

Seisi kelas : cie cie

Guru : sudah sudah cukup. Oke Dina silahkan duduk.

Sasya(Agnes) pun mulai berjalan menuju kursi kosong, disana terdapat seorang anak
perempuan disebelah kursi kosong tersebut ia pun mulai berbicara

Tiara(Trista) : Hai sasya, namaku tiara salam kenal ya.

Guru : oke anak anak mari kita lanjutkan pembelajaran, semuanya dibuka bukunya. Dihalaman
14

Tiara(Trista) : kamu udh punya buku cetaknya sya?

Sasya(Agnes) menggelengkan kepala

Tiara(Trista) : barengan aja nih sama aku

Sasya(Agnes) menulis dibuku catatannya "terima kasih"

Guru : oh ya, Rafka tugasmu yang minggu lalu mana?

Rafka(Giri) : lupa pak

Guru : segera dikumpulkan ya ka

Rafka(Giri) : siap pak

Lalu bel pun berbunyi menandakan istirahat telah tiba

Guru : sepertinya segitu saja pembelajaran kita pada hari ini, dan dilanjutkan dihari esok. Rafka
jangan lupa tugasmu besok dikumpul.

Rafka(Giri) : iya sih pak

Lalu seluruh kelas pun mengerubungi saysa dan mulai berbicara

Sasa(Fitri) : hallo sasya, nama kita sama loh. Bedanya kan aku masih bisa ngomong kamu ga bisa
ngomongg hahahaha
Seisi kelas pun tertawa dengan canggung

Sasa(Fitri) : eh sya kamu itu kenapa sih kok bisa sampe gk bisa ngomong gitu

Sasya(Agnes) menuliskan "dulu aku pernah kecelakaan"

Sasa(Fitri) : oh gitu toh, gk capek tah nulis keg gitu. Pake bahasa isyarat gitu keg

Sasya(Agnes) menulis "aku belum terlalu bisa bahasa isyarat, jugaan lawan bicara ku belum
tentu paham"

Sasa(Fitri) : ya udh deh. Eh kalian orang pada mau kekantin gk? kantin yok?

Teman-teman : yok

Tiara(Trista) : yok sya kekantin juga

Sasya(Agnes) menganggukan kepala


Seiring berjalannya waktu seisi kelas mulai menyadari bahwa ada sebuah dinding pembatas
diantara dina dan teman sekelasnya. Seisi kelas mulai merasa canggung untuk berkomunikasi
dengan dina karna keterbatasan yang dimilikinya. Sehingga para teman sekelasnya mulai
menjauhinya.

Sasa(Fitri) : Eh kalian orang udah pada nonton drakor ini belum asli ini pemerannya cakep2
bener tau gk sih?

Alena(Agnes) : Ah lu mah kalo nonton yang diliatin cuman begituannya doang sik

Citra(Oktavia) : seenggaknya dinikmatin juga lah fit ceritanya lu ini.

Sasa(Fitri) : ya bodo amat

Rafka(Giri) : kebanyakan halu sih lu sa

Seisi kelas pun tertawa

Tak lama kemudian Sasya(Agnes) mendatangi mereka dengan menyodorkan buku catatan yang
bertuliskan" kalian lagi ngomongin apa?". Sasa(Agnes) dan teman temannya pun merasa
bingung ingin merespon apa.

Sasa(Fitri) dengan nada menyindir menjawab : ah enggak kok lagian ini juga gk ada
hubungannya sama lu kan.

Rafka(Giri) : iya sih lu ini ikut campur aja

Sasya(Agnes) pun mulai menulis di buku catatanya dengan cepat. Dan segera ditunjukan ke
Sasa(Fitri) dan teman temannya " oh begitu, maaf ya"

Merasa kurang senang dengan balasan yang didapat Rafka(Giri) mulai kesal dengan sikap
Sasya(Agnes)

Rafka(Giri) : ya udah lah minggir sana, yok kekantin lah

Keesokan harinya Sasa(Fitri) dengan teman temannya mulai membicarakan Sasya(Agnes)

Sasa(Fitri) : eh kalian orang tuh pada ngerasa gk sih kalo di sasya keg maksa banget gitu mau
gabung sama kita2 orang ya Rafka?

Rafka(Giri) : hah iya juga tuh anak udah tau gk bisa ngomong malah masih aja kepikiran mau
gaul sama kita kita orang udah paling bener dia di slb aja padahal pake ke sini sini segala.

Citra(Oktavia) : eh jangan gitu lah kasian tau


Rafka(Giri) : lah emang bener gitu kok emang lu gk ngerasa keg gitu?

Citra(Oktavia) : ya emang sih cuma ya...

Alena(Dina) : ya kalo aku sih ngerasa agak susah gitu berkomunikasi sama dia

Rafka(Giri) : lah ngomong aja dia gk bisa gimana sih lu ini

David(Farid) : hahaha iya juga, lama2 ngerasa jengkel gw sama tuh anak

Aldo(Ojan) : jangan keras keras lah ngomongnya nanti kalo kedengeran orangnya gimana

Rafka(Giri) : lah ngapa lu takut apa sama tuh orang

Aldo(Ojan) : ya bukan gitu ya pokoknya gw gk ikut2an dah kalo sampe jadi masalah

Rafka(Giri) : ngapa sih do takut amat lah

Tak lama kemudian Sasya(Agnes) pun datang sendirian temannya Tiara tidak ikut pembelajaran
pada hari ini karna ada urusan yang harus ia lakukan dengan keluarganya

Rafka(Giri) : eh sya lu gk capek tah ngobrolnya sambil ditulis begitu, coba ngomong dong kalo
bisa teriak gitu? Bisa?

Sasya pun menulis kata-kata disebuah catatannya ia menuliskan "maaf ya tapi aku kesuhan kalo
untuk berbicara" lalu ia pun menuliskan kata kata lagi "kalo pun teriak bakal aneh suaranya"

Rafka(Giri) : oh jadi lu masih bisa teriak toh coba teriak geh

Sasya pun merasa tidak suka dengan perlakuan giri dan perlahan mulai kabur

Rafka(Giri) : eh lu mau kemana sini dulu coba teriak dulu pokoknya lu gk boleh kemana mana
sampe lu teriak

Teman-temannya pun ikut menertawakan Sasya dan seisi kelas pun tidak bisa berbuat apa2 di
kejadian tersebut.

Sasya pun semakin merasa tidak nyaman dan berhasil kabur

David(Farid) : lah mau kemana tuh orang

Rafka(Giri) : gk tau yok samperin dah

Namun Sasya tidak melaporkan kejadian yang sudah ia alami kepada gurunya dan memilih
untuk diam.
Keesokan harinya ia mulai menjadi bahan kejahilan dan hinaan

Rafka(Giri) : si sasya kemana nih ya kok gk kedengeran suaranya.

David(Farid) : kan dia bisu goblok gimana sih lu

Rafka(Giri) : oh ya bener juga. Hahahaha

Teman-temannya pun menertawakannya dan mulai melemparinya dengan kertas

Sasya pun tak bisa berbuat apa apa. Tak lama bel pun berbunyi dan sang guru pun masuk
sembari melihat kekacauan yang ada.

Guru : sampah siapa itu? Rafka,David kalian yang nyampah ya?

Sang guru merasa aneh karna semua sampah tersebut berada di dekat meja dina

Rafka dan David(Giri dan Farid): bukan kita kok pak

Guru : Sasya kamu gk lagi dibully kan?

Sasya pun hanya menggelengkan kepala . Sang guru tidak menanyakan lebih lanjut

Guru : Terus siapa ini yang nyampah

Sasa(Fitri) : itu lah pak kerjaannya si Rafka sama si David Malah main lempar lemparan

Guru : oh Giri David kumpulin sampah sampahnya dibersihkan

Guru : oke yang lainnya mari kita lanjutkan pelajarannya minggu lalu di buka bukunya

Bel pun berbunyi

Guru : oke sekian pembelajaran kita pada hari ini, dan akan kita lanjutkan besok. Dan bapak
ingin memberitahukan bahwa mulai besok teman kalian Tiara akan pindah dari sekolah ini
karna beberapa hal.

Alena(Dina) : lah kenapa pak

Guru : sepertinya karena keluarganya memiliki urusan keluar kota jadi dia harus ikut.

Teman teman : ooooooooooooo


Guru : ya sudah bapak tinggal dulu

Sasa(Fitri) : eh itu tiara kayaknya pindah gara gara si bisu itu gk sih, udah males kali dia ketemu
sibisu( dengan suara yang keras)

Teman-teman : hahahaha bisu bisu

Rafka(Giri) : wah kayaknya sibisu kesepian nih

Rafka dan David pun melemparinya dengan kertas dan menertawakannya

Bel pun berbunyi kembali menandakan bahwa kelas sudah masuk dan selanjutnya merupakan
pelajaran olah raga dan para siswa mulai meninggalkan kelas

Rafka(Giri) : oh ya abis ini olah raga ya yok ganti lah

Teman teman : yok

Rafka(Giri) : eh lu mau kemana sini aja emang lu bisa olahraga malah ngebeban aja nanti lu ini

Rafka pun mendorong Sasya hingga terjatuh Dan teman temannya pun menertawakanya
Merasa sudah tidak kuat dengan pembulian yang dilakukan seisi kelasnya dina pun mulai jarang
berangkat ke sekolah orang tua sasya yang merasa aneh dengan hal tersebut meminta
pertanggung jawaban atas penyebab putrinya yang menjadi jarang sekolah.

Dihari yang seperti biasa, kursi sasya pun kosong

Guru : selamat pagi anak anak, langsung saja disini bapak mendapat laporan dari orang tuanya
sasya bahwa anaknya mengalami pembullyan di sekolah, maka dari pada itu bapak ingin kalian
untuk mengakui siapa saja yang sudah membully

Seisi kelas pun tediam

Guru : ayo cepetan ngaku siapa aja yang udah ngebully sasya

Rafka(Giri) : apa sih pak kan kita cuman jahilin dia kok

Guru : Rafka berdiri kamu

Giri pun enggan untuk berdiri sampai akhirnya sang guru memukul papan tulis dan sekejap giri
pun berdiri dengan takut

Guru : sepulang sekolah nanti kamu ke kantor temui saya

Rafka(Giri) : pak saya gk salah apa2 pak, itu si David lebih parah itu pak dia ngelemparin sasya
pake kertas

David(Farid) : bukan saya pak saya awalnya dipaksa giri cuman udah saya suruh berhenti cuman
dia gk mau

Rafka(Giri) : lah kok jadi gitu, hoi sasa lu juga ngejek2 dia terus kan

Sasa(Fitri) : dih kapan aku ngejek2 kayak gitu kan pas itu udah tak bilangin untuk berhenti
kamunya malah terus ngebully dia

Rafka(Giri) : lah kok malah gini sih eh si Alena sama Citra juga kayak gitu pak mereka sering
ngomong2in dia

Alena pun mulai menangis dengan sekejap citra menyangkal perkataan Rafka

Citra(oktavia) : udah rafka kamu gk usah nuduh2 orang kayak gitu

Guru : oke cukup, rafka sepulang sekolah nanti temui saya


Seisi kelas pun menatap Rafka dengan tatapan kebingungan dan kebencian. Semuanya sudah
berbalik baik itu keadaan maupun kenyataan. Sejak saat itu Rafka mulai banyak menerima
pembullyan ia dicaci maki ia dijauhi dan semua teman2nya pun tidak memandangnya lagi.

David(Farid) : eh lu ini udah yang ngebullynya paling parah pake bawa kita2 orang segala apa
maksud lo hah?

Sasa(Fitri) : iya lu ini pake bawa2 kita segala parah banget sih lu ini

Aldo(Ojan) : tuh kan udah gw bilang apa kalian ini masih aja

Rafka pun terdiam sejenak tanpa sepatah kata pun Rafka meninggalkan kelas

David(Farid) : lah kemana tuh orang bangsat malah lari tuh orang

David pun mulai menempelkan kertas kertas yang berisi penghinaan di mejanya Rafka

Sesampainya di kelas Rafka pun melihat mejanya sudah dipenuhi oleh kertas kertas yang berisi
ejekan

Lalu David pun mendatangi Rafka ia pun mendorong Rafka dan mejanya hingga jatuh, dan
dilempari oleh kertas oleh para teman temannya

Bel pulang sudah berbunyi David dan teman2nya pun meninggalkan kelas dan meninggalkan
Rafka sendiri

Rafka pun sadar bahwa karma atas dosa yang telah ia perbuat telah datang kepadanya lalu ia
mulai merobek robek kertas yang berisi ejekan yang diberikan kepadanya dan pergi
meninggalkannya begitu saja. Dengan itu sosok Rafka dikelas itu menjadi jarang terlihat lagi.
Masa sma telah tiba, masa-masa smp Rafka telah dilalui dengan berbagai macam kejadian yang
dialaminya ia pun mulai menjadi pribadi yang penyendiri, suram dan menjauh dari kerumunan.
Bak takdir telah merencanakan segalanya Rafka sekali lagi harus mengahadapi teman2nya
dikelas yang sama

*Bel istirahat*

David(Farid) : haha parah banget dah tuh guru galak bener

Nero(Adit) : iya sih parah banget dah

David(Farid) : oh ya lu ini mending jauh jauh dah dari si giri, bajingan bener tu orang.

Nero(Adit) : wah parah lu vid

Rafka yang mendengar itu pun lantas pergi dengan tasnya dan memiliih untuk bolos
sepulangnya dari sekolah Rafka pun merasa stress dan mulai tidak memandang orang2
disekitarnya lagi. Beberapa kali ia melakukan uji coba bunuh diri dengan cara ingin meracuni
diri dengan makanan makakn yang sudah basi, alih alih mendapat hal yang diinginkan ia malah
harus dilarikan ke rumah sakit karena keracunan.
Setelah beberapa hari ia dirawat. Bak takdir yang sudah merencanakannya Rafka yang sedang
berjalan ketika ingin pulang dilorong rumah sakit secara kebetulan bertemu dengan sasya. Ia
merasa momen ini merupakan momen pembalik bagi kehidupannya..

Dengan spontan Rafka pun memanggil dan menghampiri Sasya

Rafka(Giri) : sasya

Sasya pun menoleh dan sadar bahwa orang tersebut adalah Rafka. awalnya ia merasa enggan
untuk bertemu dengannya namun ia mengkhawatirkan keberadaannya dirumah sakit ini

Sasya pun dengan cepat mulai mencari buku catatannya dan menuliskan "kenapa kamu disini?"

Rafka(Giri) : gk kenapa napa kok, lah kamu kenapa disini?

Sasya menuliskan "aku ada pemeriksaan rutin tiap bulan disini"

Rafka(Giri) : oh gitu.

Dengan tatapan bimbang dan penuh penyesalan Rafka pun mulai berbicara

Rafka(Giri) : sya aku mau minta maaf atas semua hal yang udah aku lakuin, aku nyesel udah
berbuat kayak gitu semua dosa yang udah aku lakuin semua berbalik ke aku, aku bener2 nyesel
udah berbuat kayak begitu. Aku ingin membangun ulang semuanya sedari awal, sedari kamu
dan teman teman yang lain. Aku ingin menebus dosa-dosaku

Saysa pun kebingungan ingin merespon seperti apa ia pun menuliskan "Mari kita mulai dari
awal lagi"

Rafka pun merasa lega dengan jawaban dari sasya tanpa sadar ia pun sudah terduduk ditanah
dengan perasaan senang dan lega yang ia rasakan. Ia pun tak kuasa menahan tangisnya orang2
muali mengerubungi Rfaka. Dan Rafka pun sadar bahwa dia sudah mulai dapat memandang
orang lain lagi. ia pun berjanji kepada dirinya sendiri bahwa mulai sekarang ia akan mulai
menghargai kehidupan, baik itu miliknya maupun milik orang lain.

*Kehidupan memang tidak selalu berjalan mulus seperti yang apa kita pikirkan, namun kita
punya hak untuk bahagia atas kehidupan tersebut"

Anda mungkin juga menyukai