0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
57 tayangan4 halaman

Force Majeure dalam Pembiayaan Mikro BSI

Dokumen tersebut membahas tentang bentuk pembiayaan produk usaha mikro di Bank Syariah Indonesia KCP Sidoarjo Ahmad Yani, yang menggunakan akad mudharabah, ijarah, dan musyarakah muntanaqisnah. Dokumen juga menjelaskan prosedur pengajuan pembiayaan mikro dan faktor-faktor yang dapat menyebabkan pembiayaan bermasalah, seperti kurangnya manajemen usaha, target pemasaran bank, serta kejadian force

Diunggah oleh

Nila Agustin
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
57 tayangan4 halaman

Force Majeure dalam Pembiayaan Mikro BSI

Dokumen tersebut membahas tentang bentuk pembiayaan produk usaha mikro di Bank Syariah Indonesia KCP Sidoarjo Ahmad Yani, yang menggunakan akad mudharabah, ijarah, dan musyarakah muntanaqisnah. Dokumen juga menjelaskan prosedur pengajuan pembiayaan mikro dan faktor-faktor yang dapat menyebabkan pembiayaan bermasalah, seperti kurangnya manajemen usaha, target pemasaran bank, serta kejadian force

Diunggah oleh

Nila Agustin
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

Bentuk force manjeure pada produk usaha mikro di Bank Syariah Indonesia
KCP Sidoarjo Ahmad Yani
Bentuk penyaluran pada Bank Syariah Indonesia KCP Sidoarjo Ahmad Yani
pada produk usaha mikro menggunakan akad mudharabah, ijarah dan musyarakah
muntanaqisnah (MMQ). Namun yang sering digunakan dalam pembiayaan produk
usaha mikro ialah akad mudharabah, akad ini menggunakan sistem jual beli dengan
para nasabah atau dalam jenis barang tertentu dengan akad yang sudah disepakati oleh
kedua pihak. Dalam sistem penjualannya sendiri pihak bank akan menambah margin
yang sudah disepakati oleh kedua pihak.
Pada BSI KCP Sidoarjo Ahmad Yani mempunyai jenis pembiayaan produk
usaha mikro seperti badan usaha mikro (BUM) dan Kur Hasanah. Dengan berbagai
jenis pembiayaan tersebut diharapkan dapat memudahkan para pelaku usaha mikro
agar mereka mempunyai modal dari lembaga keuangan syariah dengan menerapkan
akad yang ada pada BSI KCP Sidoarjo Ahmad Yani.
Adapun cara implementasi pihak BSI KCP Sidoarjo Ahmad Yani pada produk
usaha mikro dengan melakukan pembelian secara langsung kepada supplier. Pihak
BSI KCP Sidoarjo Ahmad Yani sendiri akan memberikan modal berupa uang kepada
nasabahnya. BSI KCP Sidoarjo Ahmad Yani juga dapat memantau pergerakan modal
yang diberikan kepada nasabah melalui nota pembelian yang diberikan nasabah
kepada pihak BSI KCP Sidoarjo Ahmad Yani. Dengan adanya nota pembelian sendiri
dapat membantu pihak BSI KCP Sidoarjo Ahmad yani dalam pengelolaan modal oleh
para pelaku usaha mikro.
Dalam memberikan pembiayaan kepada pelaku usaha mikro, pihak BSI KCP
Sidoarjo Ahmad Yani akan melakukan analisis kelayakan pembiayaan. Analisis
kelayakan ini mencakup karakter yang ada pada nasabah, jaminan, kemampuan
membayar yang diperiksa melalui BI-Cheking atau Sistem Layanan Informasi
Keuangan (SLIK) serta informasi pendukung lainnya. Apabila semua berkas telah
dilengkapi oleh nasabah maka pihak bank akan melakukan verifikasi khusus untuk
pembiayaan mikro pada produk usaha mikro yang ada pada BSI KCP Sidoarjo
Ahmad Yani.
Gambar 1.1
Prosedur Pengajuan Pembiayaan Mikro BSI KCP Sidoarjo Ahmad Yani

BUM Pengecekan berkas


Pengajuan
formular dan
beras oleh
nasabah Pengecekan berkas
KUR
dan SIKP

Proses Diterima Menunggu


pembiayaan keputusan Taksasi nilai
pimpinan BSI agunan
Ditolak KCP Sidoarjo
Ahmad Yani

Apabila proses verifikasi berhasil, maka pihak BSI KCP Sidoarjo Ahmad Yani
akan manaksir nilai agunan tidak lebih dari 80%. Kemudian pihak unit mikro harus
menunggu lagi keputusan dari pimpinan cabang apakah permohonan diterima ataupun
ditolak. Karena banyaknya risiko yang ada pada pembiayaan mikro dan kemungkinan
bank akan dihadapi oleh banyak permasalahan seperti adanya gagal bayar dan juga
pelunasan pembiayaan yang tidak diprediksi oleh pihak Bank Syariah Indonesia KCP
Sidoarjo Ahmad Yani salah satunya yaitu force manjeure.
Menurut data hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan Bapak
Muhammad Aqil di lapangan, pembiayaan bermasalah ini muncul karena beberapa
faktor secara menyeluruh seperti:
a. Dari pihak nasabah:
1. Kurangnya manajemen usaha yang baik
Nasabah kurang memperhatikan dengan situasi dan kondisi pasar yang
terjadi saat ini, akibatnya usaha yang nasabah jalankan tidak bisa bersaing
dengan usaha lainnya.
2. Adanya ketidaksesuaian dana dengan akad
Masalah ini terjadi ketika nasabah mengajukan pembiayaan modal
usahanya dan nasabah berubah fikiran, maka dari itu munculnya kredit macet
yang dimana nasabah tidak mampu membayar hutangnya.
3. Kondisi perekonomian
Masalah ini sering kali menjadi pemicu permasalahan dalam dunia
keuangan, apabila pendapatan menurun sedangkan pengeluaran akan terus
meningkat dengan turunya omset yang dihasilkan nasabah akan menurun akan
juga mempengaruhi pembiayaan nasabah.
b. Dari pihak Bank:
1. Kurangnya pemantauan petugas perbankan
Dalam hal ini apabila dilakukan secara berkala oleh pihak marketing
maka bank dapat mengetahui berjalan atau tidaknya suatu usaha dari nasabah
mereka. Dengan begitu maka bank dapat meminimalisir risiko yang
kemungkinan akan terjadi.
2. Tidak tertagihnya piutang
Apabila piutang tidak tertagih dari nasabah, makan akan muncul
pembayaran macet yang dilakukan oleh pihak nasabah kepada bank.
3. Target dalam dunia marketing
Target ini merupakan salah satu faktor yang sering muncul dalam
pembiayaan bermasalah pada BSI KCP Sidoarjo Ahmad Yani. Pihak
marketing sendiri mempunyai target nasabah yang mengajukan pembiayaan
mikro di Bank Syariah Indonesia KCP Sidoarjo Ahmad yani.
4. Kurangnya detail dalam mensurvey nasabah
Masalah ini juga sering muncul didalam pihak bank dikarenakan nasabah yang
akan mengajukan modal usaha harus suda ada prosedur yang diberikan oleh
pihak Bank Syariah Indonesia KCP Sidoarjo Ahmad Yani.
c. Faktor dari luar
Seperti halnya yang terjadi pada tahun 2020 yang dimana banyak kasus force
majeure pada pembiayaan mikro akibat pandemi Covid-19. Dari pandemi tersebut
maka pihak Bank Syariah Indonesia KCP Sidoarjo Ahmad Yani juga tidak bisa
memprediksi kapan terjadinya bahkan kapan pandemi ini akan berakhir agar
ekonomi masyarakat kembali membaik. Dengan munculnya faktor dari luar
membuat permasalahan pembiayaan terjadi pada Bank Syariah Indonesia KCP
Sidoarjo Ahmad Yani sehingga para nasabah tidak dapat memenuhi kewajibannya
dalam membayar kewajibannya kepada bank.

Anda mungkin juga menyukai