Anda di halaman 1dari 15

Strongiliasis

Abstrak Pada praktikum kali ini dilakukan pemeriksaan terhadap anakan sapi perah (Frisian Holstein) di Unit Pembesaran Pedet Koperasi Warga Mulya , Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Dengan tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui keadaan serta kondisi pedet FH yang mengalami penyakit cacingan. Hal ini dilakukan dengan melaksanakan pemeriksaan yang legeartis seperti yang ada pada prosedur pemeriksaan hewan atau pasien. Pemeriksaan ini dilakukan dengan pemeriksaan umum dan pengambilan sample darah. Pengambilan feses telah dilakukan dan teridentifikasi terdapat telur cacing Strongylus sp. Gejala yang timbul adalah nafsu makan menurun, kondisi rambut kusam, berdiri dan rontok, abdomen membesar. Selain itu pengobatan yang telah di lakukan adalan memberikan Dipenhidramil HCL 1 cc secara intramusculer (IM), Vitamin B complek 3 cc secara IM, dan Obat cacing Oxpendazol45-mg-secara-peroral. Dari semua pemeriksaan yang telah dilakukan dan mahasiswa dapat mendiagnosis penyakit maka pengobatan yang tepat dapat memberikan kesembuhan kepada pedet yang menderita penyakit Stronglilosis.

Kata kunci : pedet, Strongylus sp, Dipenhidramil HCL, Vit B complek, Oxpendazol

1|POB

BLOK 16

Strongyliasis

A. Ambulatoir Tanggal pemeriksaan Nama pemilik Macam Hewan Signalemen : Sabtu, 12 Maret 2011 (11.30 WIB) : Unit Pembesaran Pedet Koperasi Warga Mulya (Yogyakarta) : Sapi : Breed Sex Age Specific Pattern B. Anamnesa Pakan yang biasa diberikan adalah hijauan berupa rumput kolonjono dan konsentrat. Belum ada riwayat penyakit sejak lahir. C. Status Praesens 1. Keadaan umum : postur normal, cuping hidung basah, kaki menapak, ekspresi : Frisian Holstein : betina : + 4 bulan : warna putih-hitam ( hitam loreng putih)

muka normal, BCS sekitar 3 2. Frekuensi nafas 3. Frekuensi pulsus 4. Suhu 5. Kulit dan rambut 6. Selaput lendir 7. Kelenjar limfe 8. Pernafasan 9. Peredaran darah 10. Pencernaan 11. Urogenital 12. Saraf 13. Anggota gerak 14. Berat badan : 28 kali/menit : 72 kali/menit : 38,6o C : sekitar anus mulus dan mengkilat, rontok pada bagian tubuh : moncong dan konjunctiva mata basah, warna pink. CRT< 2 detik : tidak ada kebengkaan : thoracoabdominal, vesikule : normal, sistole dan diastole dapat dibedakan : tonus rumen normal 6 kali/5 menit, peristaltik usus meningkat : normal, daerah vagina bersih tidaj ada perubahan : reflek palpebra dan pupil masih bekerja dengan baik. : ekstremita cranial dan caudal normal : sekitar 130 kg

15. Pemeriksaan Laboratorium : Pemeriksaan darah Hematokrit Hemoglobin Eritrosit WBC : 25 % : 9,0 g % : 7,38 juta/mm3 : 11.000 sel/mm
3

Limfosit Monosit Eosinofil Protein total Fibrinogen

: 67 % :6% :5% : 6,4 g % : 400 mg %

Neutrofil segmented : 22 % D. Diagnosa E. Prognosa F. Tata laksana : Strongiliasis : fausta

1. Dipenhidramin HCL (Veterdryl) 1 cc secara intramuskuler Dosis : hewan besar 1 ml/20 kg BB, hewan kecil 0,1 ml/ kg BB
2|POB BLOK 16 Strongyliasis

2. Vitamin B complek 3 cc secara intramuskuler Kandungan : Sodium fosfat B6, Pyridoxin hidroklorid B 12, Cyamocobalamin D-ponthenol Nikotinamid Biotin Choline klorid : : : : : : : 5 mg 5 mg 20 mg 12,5 mg 50 mg 100 mg 10 mg

Dosis : sapi, kuda 10-15 ml, Pedet, cempe 5-10 ml, Kambing 5-8 ml, Babi 2 10 ml 3. Obat cacing Verm-O (Oxpendazol) 900 mg/bolus, dipakai 50% (45 mg) secara peroral

Laporan Praktikum Penyakit Organik Hewan Besar Yang Terinfeksi Strongilus Sp.
A. Diagnosa 1. Helminthiasis (Strongylosis) Berdasarkan pemeriksaan feses dengan metode natif ditemukan telur cacing stronyle. 2. Cascado Berdasarkan inspeksi pada bagian sekitar mata terlihat lesi-lesi yang merupakan ciri dari cascado. B. Prognosis Fausta C. Terapi Terapi yang diberikan pada sapi tersebut adalah dengan memberi obat-obatan sebagai berikut: 1. Verm-O bolus Per Oral Verm-O Bolus merupakan antiparasit yang merupakan kelas Benzimidazole. Dalam 1 bolus Verm-O mengandung 900 mg Oxfendazole. Obat ini dapat diberikan sebagai terapi dan prophylaksis infestasi cacing pada sapi, kerbau, kuda, domba, kambing, dan babi karena nematoda (Haemonchus spp., Trichostrongylus spp., Oesophagostomum spp., Chabertia spp., Ostertagia spp., Cooperia spp., Neoascaris spp., Bunostomum spp., Parascaris spp., Strongylus spp.), cacing paru (Dictyocaulus spp.), dan cacing pita (Moniezia spp.). Pada sapi dosis yang diberikan adalah 1 bolus/200kg dan diberikan secara peroral, karena sapi yang diperiksa memiliki berat 100 kg maka diberikan bolus (Tennant, 2002).
3|POB BLOK 16 Strongyliasis

2. Duradryl 3 cc secara IM Duradryl merupakan antihistamin dalam bentuk larutan injeksi yang tiap ml mengandung diphenhidramin HCl 10 mg. Antihistamin beraksi secara antagonis kompetitif untuk reseptor histamin khusus di dalam jaringan sel dengan mengikat reseptor sel secara tidak langsung beraksi pada sel. Ikatan dengan sel akan menyebabkan tidak adanya efek histamin pada sel tersebut.

Diphenhidramin HCl sendiri merupakan antihistamin dari klas ethanolamine, yang dapat mengandung sedatif, antimuskarinik, dan anti emetika, sehingga dapat menekan gejala batuk, serta antihistamin (H1) menekan muntah dan pruritis (Tennant, 2002). Penggunaan secara i.m jarang menimbulkan efek samping sehingga cara ini paling sering digunakan. 3. B-Plex 3 cc secara IM Vitamin B komplek merupakan komplek vitamin B yang berguna untuk proses metabolisme di dalam tubuh. Komposisinya meliputi Thiamin HCl, Riboflavin, Pyridoksin HCl, kalsium pentatonat dan Nicothinamide. Thiamin HCl penting untuk oksidasi karbohidrat, berdasarkan fungsinya sebagai koenzim pada proses dekarboksilasi asam alpha keto (asam piruvat, asam laktat). Riboflavin adalah komponen dari flavoprotein enzim yang merupakan bagian dari sistem enzim pada transfer hidrogen (sebagai koenzim pada transpor hidrogen dalam siklus crebs) dan juga bekerja dalam proses degradasi asam lemak, proses oksidasi asam piruvat dalam SSP, asam amino, aldehide, dan produk metabolisme yang lain. Pyridoksin HCl dalam tubuh diubah menjadi pyridoksal fosfat yang berpengaruh sebagai koenzim yang essensial dalam susunan enzim yang diperlukan pada proses dekarboksilasi, transaminasi dan racemisasi asam amino, serta menbantu transpor asam amino melalui membran, membantu proses sintesa dari unsaturated fatty acid, dan membantu merubah triptopan menjadi asam nikotinat. Kalsium pentatonat sebagai bagian dari koenzim A yang diperlukan untuk proses metabolisme, yaitu proses asetilasi, biotransformasi preparat sulfonamide dalam hepar, permulaan siklus crebs, dan metabolisme asam lemak serta asam amino. Nicotinamide sebagai antipelagra, merupakan komponen essensial dari koenzim I dan II dimana enzim tersebut bekerja sebagai penerima H+ dan pemberi H+ dalam proses oksidasi-reduksi dari siklus crebs dan dalam metabolisme zat hidrat arang, zat lemak, dan zat putih telur (Subronto dan Tjahajati, I., 2008).

4|POB

BLOK 16

Strongyliasis

D. Tinjauan Pustaka Helminthiasis Dari hasil pemeriksaan feses secara natif, ditemukan telur cacing golongan Strongyle. Cacing strongyle yaitu sekelompok cacing yang mempunyai bentuk telur yang hampir sama dan sukar dibedakan satu sama lain yaitu dari superfamili Strongyloidea, Trichostrongyloidea dan Ancylostomatoidea. Cacing strongyle biasanya berparasit pada abomasum, usus halus dan usus besar ruminansia. Cacing dari superfamili Strongyloidea yang berparasit pada ruminansia adalah Oesophagostomum sp dan Chabertia sp. Dari superfamili Trichostrongyloidea adalah Haemonchus sp, Cooperia sp, Nematodirus sp dan Trichostrongylus sp. Sedangkan dari superfamili Ancylostomatoidea adalah Bunostomum sp (Soulsby, 1982). Dari hasil pemeriksaan yang telah kami lakukan, dapat diketahui bahwa pedet terdiagnosa Strongiliasis yang disebabkan oleh infeksi cacing dengan klasifikasi sebagai berikut; 1. Strongyloides sp. Etiologi

Gambar 1. Telur Strongyl dan cacing Strongyloides sp. Cacing ini disebut cacing benang. Cacing dewasa dapat bersifat parasit maupun bebas. Bentuk parasitik panjangnya 2-9 mm dan langsing yang dapat ditemukan hanya cacing betina yang bersifat partenogenetik. Mereka mempunyai esofagus sangat panjang dan berbentuk hampir silindris, vulva pada bagian pertengahan tubuh posterior, ekor pendek berbentuk kerucut, uterus amfidelf (dengan cabang ke depan maupun ke belakang) dan telur telah berembrio (Levine, 1994). Bentuk bebas dapat ditemukan adanya cacing jantan dan betina, mereka sangat kecil dan relatif kuat, dengan esofagus rabditiform. Ekor cacing jantan pendek dan berbentuk kerucut, sepasang spikulum pendek sama besar dan sebuah gubernakulum. Ujung posterior cacing betina meruncing ke ujung, vulva terletak dekat pertengahan tubuh, uterus amfidelf dan telurnya sedikit serta telah berembrio waktu dikeluarkan (Levine, 1994). Siklus hidupnya ada 2, yaitu fase parasitik dan fase hidup bebas dan ada 2 kemungkinan jalur yang dilalui fase hidup bebas. Cacing betina parasitik menghasilkan
5|POB BLOK 16 Strongyliasis

telur berembrio atau larva yang keluar bersama tinja. Larva stadium pertama rabditiform dan makan mikroorganisme dalam tinja. Mereka berkembang menjadi larva stadium kedua, lalu menjadi larva stadium ketiga dalam 2 tipe. Beberapa larva stadium ketiga memiliki esofagus filariform (silindris). Mereka menginfeksi hospes dengan menembus kulit atau tertelan. Apabila mereka telah memasuki kulit, mereka pergi ke kapiler dan terbawa oleh darah ke paru-paru, kemudian merusak dinding kapiler, masuk ke dalam saluran udara, dan berimigrasi ke trakea dan turun ke esofagus menuju usus halus, mereka tumbuh menjadi larva stadium keempat dan menjadi dewasa. Apabila mereka tertelan, larva berkembang dalam usus halus tanpa bermigrasi. Ini disebut siklus hidup tipe homogonik (Levine, 1994). Beberapa larva stadium ketiga memiliki esofagus rabditiform. Larva ini memiliki siklus hidup tipe heterogenik. Mereka makan dan tumbuh menjadi larva stadium keempat. Larva ini tumbuh dan menjadi cacing jantan dan betina dewasa yang hidup bebas. Setelah kawin, cacing betina meletakkan telur yang menghasilkan larva rabditiform stadium pertama. Larva ini makan dan tumbuh menjadi larva stadium kedua, lalu tumbuh menjadi larva stadium ketiga filariform yang menginfeksi hospes (Levine, 1994).

Gambar 2. Siklus hidup cacing Strongyloides Patogenesis Semua spesies strongyloides hidup di usus halus. Cacing dewasa bertelur yang sudah mengandung embrio, dan tidak jarang langsung menetas di usus halus. Larva yang dibebaskan bersama tinja, tidak jarang juga ditemukan di kelenjar susu dan cacing dewasa yang siap bertelur sudah dapat ditemukan saat anak berumur 1 minggu. Kalau infeksi lewat kulit, larva terbawa aliran darah dan sampai di paru-paru, untuk selanjutnya menuju pangkal tenggorok dan tekak, akhirnya ke lambung dan usus. Infeksi melalui kulit dapat menyebabkan dermatitis dan kalau di daerah penis mengakibatkan balanopostitis (Subronto, 2004). Periode prepaten cacing kurang lebih 10 hari. Pada individu muda, misalnya pedet < 6 bulan, infeksi cacing ini dapat menyebabkan kematian mendadak, tanpa
6|POB BLOK 16 Strongyliasis

terdiagnosis. Dibutuhkan waktu < 2 hari oleh larva infektif untuk berkembang di bawah kondisi optimum di dalam siklus hidup homogenik, dan kemungkinan dibutuhkan satu hari lebih lama pada siklus heterogenik (Levine, 1994; Subronto, 2004). Faktor-faktor yang menentukan bagaimana telur tertentu yang dihasilkan cacing betina partenogenetik akan berkembang adalah genetik dan lingkungan. Tipe perkembangan tersebut tergantung dari lingkungan dan juga galur parasit. Siklus hidup dapat heterogenik di bawah kondisi optimum dan homogenik di bawah kondisi yang tidak sesuai. Faktor-faktor, misalnya suhu, pH, dan kelembaban juga ikut menentukan (Levine, 1994). Gejala klinis Diare sering teramati, disertai kepucatan, batuk-batuk, dermatitis, radang paruparu dan radang usus. Kelemahan pada domba menyebabkan penderita tidak mampu berjalan, pincang dan mudah mengalami footrot. Sering terlihat rambutnya rontok, pada kulit terdapat lesi dan tampak kotor. Didapatkan pula lesi pada mata yaitu penebalan di daerah mata. Konjungtiva berwarna merah muda; hidung basah, lembab, hangat; vulva berwarna merah muda. Refleks pupil normal, aktivitas otot dan saraf baik. Feses yang dikeluarkan konsentrasinya lunak. (Subronto, 2004; Anonim, 2010). Perubahan Patologi Penetrasi larva filariform infektif menembus kulit menimbulkan cutaneus larva migrans dan visceral larva migrans. Larva ini kemudian menembus saluaran limfatik atau kapiler terbawa sampai ke jantung kanan dan kapiler pulmonal. Kemudian keluar dari kapiler terbawa pulmonal dan penetrasi kedalam aveoli paru. Di duga saat keluar dari kapiler pulmonal parasit menyebabkan perdarahan dan menimbulkan inflantrasi selular pada paru. Kadang dapat terlihat gambaran bercak infiltrate yang menyebar pada gambaran radiologis paru (loeffers pneumonia). Kumpulan gejala klinis yang di timbulaka oleh parasit muda ini saat sedang berada di paru dan saluran pernafasan disebut dengan sindroma loeffler (R-ny, 2010). Diagnosis Diagnosis berdasarkan gejala klinis dan dari pemeriksaan umum dan khusus. Dilakukan juga pemeriksaan feses dan pemeriksaan darah untuk mendukung hasil diagnosis. Pemeriksaan feses dapat dilakukan dengan metode natif, metode sentrifuse, metode Parfitt and Banks, atau metode McMaster. Pada pemeriksaan feses dapat ditemukan adanya telur strongyl. Dari pemeriksaan darah terjadi penurunan kadar hematokrit, hal ini mengindikasikan terjadinya anemia. Anemia normositik normokromik dapat terjadi karena radang kronis. Pemeriksaan sel darah putih, terjadi neutropenia yang kemungkinan terjadi karena distribusi cacing Strongyl pada tubuh sapi, sehingga jaringan membutuhkan neutrofil untuk memfagositosis parasit. Jumlah limfosit pada pemeriksaan menunjukkan limfositosis dan eosinofilia. Pemeriksaan protein menunjukkan sapi mengalami dehidrasi (Wirawan, 2006; Anonim, 2010).
7|POB BLOK 16 Strongyliasis

Penanggulangan Ivermectin merupakan terapi pilihan utama untuk stongyloides, oleh karena efektivitasnya yang tinggi (mencapai hampir 100%) serta pemberiannya cukup dosis tunggal, baik untuk kasus tanpa atau pun dengan komplikasi dengan efek samping yang sedikit. Dosis ivermectin 0,2 mg/ kg bb/ hari, di berikan dalam dosis tunggal. Angka kesembuhan 98,7%. Sebagai terapi alternative adalah albendazole dan Thabendazole, sedangkan di Indonesia sediaan yang ada pada umumnya adalah albendazole. Dosis albendazole 25 mg/ kg bb/ hari. Beberapa pilihan terapi untuk mengobati infeksi strongyloides: Diethylcarbamazine 100 mg / kg secara oral, sekali, Ivermectin 0,2 mg / kg secara oral, Mebendazole 20 mg / kg secara oral, setiap hari selama 3-14 hari , Fendbendazole 50 mg / kg secara oral setiap hari selama 5 hari untuk tumefasciens strongyloides pada kucing, Thiabendazole 125 mg per kucing setiap hari selama 3 hari untuk tumefasciens strongyloides pada kucing (R-ny, 2010). 2. Bunostomum Phlebotomum Kingdom : Animalia Phylum : Nematoda Class Ordo : Secernentea : Rhabditida

Family : Strongyloididae Genus : Strongyloides

Species : Bunostomum Phlebotomum Etiologi Bunostomum phlebotomum merupakan salah satu cacing nematoda golongan strongyle. Cacing ini disebut juga cacing kait pada sapi, dan berlokasi di usus halus. Pada cacing jantan panjangnya 10-12 mm dan berdiameter sekitar 475 mikron, dengan spikulum filiform yang panjangnya 3,5-4 mm. Panjang cacing betina 16-19 mm dan berdiameter 500-600 mikron (Levine,1994).

Gambar 3. Kepala Bunostomum phlebotomum Siklus Hidup Siklus hidup Bunostomum phlebotomum dan nematoda lain pada ruminansia bersifat langsung, tidak membutuhkan hospes intermediet. Cacing dewasa hidup di usus halus, memproduksi telur. Telur dikeluarkan oleh ternak bersama-sama pengeluaran
8|POB BLOK 16 Strongyliasis

feses. Di luar tubuh hospes, pada kondisi yang sesuai, telur menetas dan menjadi larva. Larva stadium L1 berkembang menjadi L2 dan selanjutnya menjadi L3, yang merupakan stadium infektif. Larva infektif menempel pada rumput-rumputan dan teringesti oleh ternak. Selanjutnya larva akan dewasa di usus halus.

Gambar 4. Siklus Hidup Bunostomum phlebotomum Gejala Klinis Gejala klinis yang bisa diamati antara lain ternak mengalami anemia, terlihat kurus, kulit kasar, bulu kusam, napsu makan turun, tubuh lemah. Tinja lunak dengan warna coklat tua. Perlu diketahui bahwa cacing Bunostomum sp menempel kuat pada dinding usus. Cacing memakan jaringan tubuh dan darah, sehingga walaupun jumlah cacing hanya sedikit, namun ternak cepat menunjukkan gejala klinis yang nyata (Anonim, 2010a) Diagnosis Diagnosis dibuat berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan feses baik secara natif maupun sentrifuge. Pencegahan 1. Menjaga sanitasi untuk menyingkirkan dan mematikan stadium-stadium parasit dengan tindakan kebersihan baik dengan atau tanpa obat-obatan antiseptika. 2. Perbaikan manajemen perkandangan. Mengeringkan kandang agar kotoran dan air dilantai kandang tidak membantu kelancaran daur hidup parasit. 3. Perbaikan kualitas pakan, jangan menggembalakan ternak terlalu pagi, pemotongan rumput sebaiknya dilakukan siang hari, pengobatan secara teratur dan mengurangi pencemaran tinja terhadap pakan dan air minum (Subronto, 2004). 4. Perhatikan kondisi lingkungan, daerah penggembalaan dan kandang, hindari tanah yang lembab dan basah atau banyak kubangan. 5. Lakukan penggembalaan bergilir, jangan menggunakan padang penggembalaan secara terus menerus (Astiti,2010). Pengobatan Pengobatan terhadap penyakit cacing gastrointestinal dapat diberikan dengan obat obat sebagai berikut:
9|POB BLOK 16 Strongyliasis

1.

Phenothiazine, dosis: Sapi: 10 60 gram/ 50 Kg BB (peroral). Kambing/ domba: 12,5 50 gram/ 50 Kg BB (peroral).

2.

Panacur (bahan aktif: Febendazole), dosis: Sapi: 7,5 mg/ Kg BB (peroral). Kambing/ domba: 5 mg/ Kg BB (peroral).

3.

Ivomec (bahan aktif: Ivermectin), dosis: Sapi, kerbau, kambing dan domba: 200 mg/ Kg BB. (Subcutaneus)

4.

Monil (bahan aktif: 1.125 mg Albendazole/ bolus), dosis: - Sapi dengan berat badan > 75 Kg: 0.5 bolus. - Sapi dengan berat badan 75 150 Kg: 1 bolus. - Sapi dengan berat badan 150 300 Kg: 2 bolus. - Sapi dengan berat badan 300 450 Kg: 3 bolus - Sapi dengan berat badan 450 600 Kg: 4 bolus (Mashur,2001).

3. Haemonchus Contortus Kingdom : Animalia Phylum : Nematoda Class Ordo : Secernentea : Rhabditida

Family : Strongyloididae Genus : Strongyloides

Species : Haemonchus Contortus Etiologi Haemonchus contortus juga dikenal sebagai cacing perut merah, atau cacing tiang. Salah satu yang paling patogen pada nematoda ruminansia. Cacing dewasa melekat pada mukosa abomasum dan menghisap darah. Pathogenesis

Gambar 5. Siklus Hidup Haemonchus Contortus Nematoda masuk ke abomasum dan menyebabkan komplikasi yang signifikan pada ruminansia dan dapat menyebabkan kematian. Cacing betina dapat menghasilkan telur 10.000 telur per hari, yang dikeluarkan melalui tinja. Setelah menetas dari telur larva haemonchus contortus akan berganti kulit sehingga membentuk L3 yang menular pada
10 | P O B BLOK 16 Strongyliasis

hewan. Sapi dapat terinfeksi setelah mengkonsumsi larva ini. Larva 4 terbentuk setelah ada di abomasum hewan dan menghisap darah sehingga akan dapat menyebabkan anemia dan edema yang akhirnya dapat menyebabkan kematian. Infeksi ini disebut haemonchosis. Gejala Klinis Meningkatnya suhu tubuh, anemia, bulu kusam dan berdiri. Diagnosa Diagnosis dibuat berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan feses baik secara natif maupun sentrifuge. Pencegahan a. Menjaga sanitasi untuk menyingkirkan dan mematikan stadium-stadium parasit dengan tindakan kebersihan baik dengan atau tanpa obat-obatan antiseptika. b. Perbaikan manajemen perkandangan. Mengeringkan kandang agar kotoran dan air dilantai kandang tidak membantu kelancaran daur hidup parasit. c. Perbaikan kualitas pakan, jangan menggembalakan ternak terlalu pagi, pemotongan rumput sebaiknya dilakukan siang hari, pengobatan secara teratur dan mengurangi pencemaran tinja terhadap pakan dan air minum (Subronto, 2004). d. Perhatikan kondisi lingkungan, daerah penggembalaan dan kandang, hindari tanah yang lembab dan basah atau banyak kubangan. e. Lakukan penggembalaan bergilir, jangan menggunakan padang secara terus menerus (Astiti,2010). penggembalaan

E. Pembahasan Pemeriksaan pedet dilakukan pada hari Sabtu, 12 Maret 2011. Sapi betina breed FH, umur kurang lebih 4 bulan dengan warna dominan hitam putih. Berat badan pedet kurang lebih 130 kg. Sapi tersebut terlihat kurus, dari anamnesa diketahui bahwa belum pernah ada riwayat penyakit. Setelah itu dilakukan pemeriksaan pada pedet. Dari hasil inspeksi dilihat keadaaan pedet kurus dan ekspresi mukanya lesu. Lalu dilakukan penghitungan frekuensi nafas, pulsus dan suhu. Frekuensi nafas dapat dihitung dengan memperhatikan gerak rongga dada pada saat hewan istirahat, frekuensi nafas pedet 28 kali/menit, frekuensi nafas ini termasuk normal karena frekuensi nafas normal sapi adalah 10-30 kali/menit. Untuk mendapatkan frekuensi pulsus diraba pada a. coccygea di sebelah ventral dari pangkal ekor. Frekuensi pulsus pedet 72x/menit (normal: 40-80x/menit). Pengukuran suhu tubuh dilakukan dengan meletakkan termometer pada anus pedet, suhu tubuh pedet 38,6oC (pedet normal: 38,5-39oC). Dari hasil perhitungan tersebut sesuai dengan Subronto (2004) masih dalam batas wajar. Dari hasil pemeriksaan ini belum dapat dipastikan apa yang menyebabkan pedet kurus dan ekpresi mukanya lesu.

11 | P O B

BLOK 16

Strongyliasis

Gambar 6. Penghitungan frekuensi pulsus Pemeriksaan selanjutnya adalah pemeriksaan kulit dan rambut. Pada pemeriksaan ini terlihat turgor kulit baik, namun saat bagian punggung pedet diusap dengan arah yang berlawanan dari rambut diketahui bahwa rambut pedet selain kusam juga rontok. Berdasarkan Anonim (2010) gejala yang nampak pada kasus cacingan biasanya adalah rambut rontok, lesi pada kulit dan tampak rontok, hal ini dapat mengarahkan bahwa pedet mungkin terkena infestasi cacing.

Gambar 7. Penghitungan Suhu dari Rektum Pemeriksaan selaput lendir dilakukan dengan memeriksan konjungtiva mata dan cuping hidung pedet. Konjungtiva mata pedet berwarna pink dan cuping hidungnya basah. Berdasarkan Anonim (2010) gejala yang nampak pada pedet sesuai dengan literatur tersebut, yaitu konjungtiva merah muda, hidung basah lembab dan hangat, yang semakin mengarahkan bahwa pedet terinfeksi cacing. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan saluran pernafasan. Pemeriksaan paru-paru dilakukan dengan auskultasi. Pada pemeriksaan ini diketahui pedet mengeluarkan suara vesikuler dengan tipe gerakan pernapasan thoracoabdominal. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan peredaran darah. Pemeriksaan dilakukan di daerah pekak jantung dengan cara auskultasi pada ronggo intercostare ke-5 dan ke-3 pada dada sebelah kiri kira-kira setinggi persendian siku (Subronto, 2004). Saat diauskultasi suara sistole dan diastole dapat dibedakan (ritmis). Hal ini menunjukkan bahwa jantung, terutama
12 | P O B BLOK 16 Strongyliasis

katup jantung, tidak mengalami gangguan sehingga jantung terdengar ritmis, selain itu tidak terdengar suara-suara abnormal saat auskultasi. Dari pemeriksaan ini dibandingkan dengan literatur (Subronto, 2004) diketahui bahwa fungsi jantung normal. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan saluran pencernaan. Hal yang dilakukan pertama adalah menghitung tonus rumen, caranya adalah dengan menekan daerah lekuk paralumbar sebelah kiri dengan kepalan tinju. Didapatkan tonus rumen pedet 6 kali/ 5 menit (normal: 5-10 kali/5 menit). Setelah itu dilakukan auskultasi pada dinding perut untuk mengetahui gerakan peristaltik usus. Gerakan peristaltik usus meningkat, namun tidak terdengar adanya suara lain selain gerakan usus. Anus pedet terlihat bersih, hal ini menandakan bahwa pedet tidak mengalami diare. Namun feses pedet terlihat lembek. Berdasarkan Subronto (2004), tonus rumen pedet termasuk normal, dan tidak terdengar suara apapun selain gerakan usus menandakan bahwa di usus tidak ada akumulasi gas. Berdasarkan Anonim (2010), pada kasus cacingan konsentrasi feses lunak. Hal ini semakin mengarahkan bahwa pedet terinfeksi cacing, terutama cacing Strongyloides. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kelamin dan perkencingan (urogenital). Pada saat ginjal sapi dipalpasi sapi bereaksi kesakitan. Hal ini termasuk normal. Selanjutnya diilakukan pemeriksaan saraf. Pertama diperiksa reflek pupil dengan menggunak penlight, penlight diarahkan ke arah mata pedet untuk mengetahui reaksi pupil. Lalu untuk memeriksa reflek palpebra dengan cara menggerakkan tangan ke arah mata pedet, pedet menggerakan kelopak matanya. Pada pemeriksaan anggota gerak, dari hasil inspeksi terlihat pedet berdiri tegak dengan keempat kakinya dan tidak bertumpu pada salah satu kakinya. Pemeriksaan darah: Dari hasil pemeriksaan darah di laboratorium diketahui:
Test Unit x 106/mm3 % g/dl x 103/mm3 % Hasil Laboratorium Eritrosit (RBC) Hematokrit (PCV) Hemoglobin WBC Neutrofil segmented Limfosit Monosit Eosinofil Protein total Fibrinogen % % % g/dl mg% 67 6 5 6,4 400 45 75 27 2 20 7,56 300-700 Normal Normal Normal Menurun Normal 7,38 25 9,0 11,000 22 Literatur (Mitruka, 1981) 5 10 24 48 8 14 4 12 15-45 Normal Normal Normal Normal Normal Interpretasi

Hasil laboratorium dibandingkan dengan literatur yang ada didapat bahwa keseluruhan factor dalam darah masih dalam keadaan normal, yang mengalami penurunan
13 | P O B BLOK 16 Strongyliasis

adalah total protein plasma dalam darah. Perkiraan jumlah protein plasma ini dapat menunjukkan tentang keadaan nutrisional hewan. Keadaan nutrisional ini bisa tergantung pada pemasukan bahan-bahan protein yang cukup atau bahan-bahan pembentuk protein. Hal ini dapat merefleksikan perubahan dalam proses metaboliame. Perubahan konsentrasi protein dapat mengindikasikan suatu penyakit. Seperti pada dugaan awal, bahwa kemungkinan pedet mengalami infeksi cacing namun masih dalam keadaan

permulaan/belum parah sehingga belum ada indikasi terjadinya eosinofilia ataupun basofilia sebagai respon radang yang ditimbulkan. Konsentrasi protein plasma yang rendah sesuai dengan anamnesa yang telah dilakukan bahwa pakan yang diberikan masih jauh dari ransum standart sehingga suplai protein otomatis juga masih rendah, yang menyebabkan hewan lebih rentan terhadap suatu penyakit. F. Kesimpulan Strongiliasis merupakan penyakit pencernaan pada sapi yang diakibatkan oleh infeksi cacing strongyloides. Factor yang mendukung terjadinya penyakit strongiliasis ini antara lain managemen pakan yang buruk, lingkungan kandang yang kurang bersih, serta pengawasan yang kurang intensif pada sapi usia pedet oleh dokter hewan ataupun paramedic.

G. Lampiran gambar praktikum

Gambar 8. Pemeriksaan suhu rectum dan auskultasi paru-paru (pernafasan)

Gambar 9. Injeksi Dipenhidramin HCL (Veterdryl) 1 cc secara intramuskuler dan pemeriksaan frekuensi nafas pada mocong

14 | P O B

BLOK 16

Strongyliasis

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Case Report Kaskado dan Strongylosis pada Sapi PFH. Avaliable From URL : http://id.shvoong.com/exact-sciences/veterinary/2029567-case-report-kaskado-danstrongylosis.html . Cited 20/03/2011. Anonim. 2010a. Penyakit Parasit pada Ruminansia. Avaliable From URL : dari directory.umm.ac.id/.../minggu_15_PENYAKIT_PARASIT_PADA_RUMINANSIA_ baru.pdf. Cited 21/03/2011. Anonim. 2010b. Cascado diakses tanggal 15 Maret 2011. Avaliable From URL : http://www.vetklinik.com/Peternakan/cascado.htm . Cited 21/03/2011.

Astiti, Luh Gde Sri.2010. Petunjuk Praktis Manajemen Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Pada Ternak Sapi. Kementerian Pertanian Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Balai Besar Pengkajian Dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Nusa Tenggara Timur.

Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Balai Besar Pengkajian Dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Nusa Tenggara Timur.

Levine, N. D. 1994. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner (judul asli: Textbook of Veterinary Parasitology. Penerjemah: Ashadi, G.). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Mashur.2001. Beberapa Penyakit pada Ternak Ruminansia. Departemen Pertanian

Mitruka, BRIJ. M. and Rawnsley, H. M. 1981. Clinical Biochemical and Hematological Reference Values in Normal Experimented Animals and Normal Humans. Year Book Medical Publisher: Chicago.

R-ny.

2010. Strongylus. Avaliable From URL : yellow.blogspot.com/2010/05/strongylus_13.html . Cited 20/03/2011

http://r-ny-

Soulsby, E. J. L. 1982. Helminths, Arthropods and Protozoa of Domestic Animals, 7th ed. William and Willems, Baltimore. The ELBS and Bailliere Tyndall. London. Hal 8486, 231-238.

Subronto dan Tjahajati, I. 2004. Ilmu Penyakit Ternak II. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Tennant, B. 2002. BSAVA Small Animal Formulary, 4th ed. British Small Animal Veterinary Association. Glouceste.

15 | P O B

BLOK 16

Strongyliasis