0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan65 halaman

Pola Asuh Single Parent dan Nilai Islam

Diunggah oleh

killerhsb4
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan65 halaman

Pola Asuh Single Parent dan Nilai Islam

Diunggah oleh

killerhsb4
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

POLA ASUH ORANG TUA SINGLE PARENT TERHADAP

NILAI-NILAI AGAMA ISLAM DI DESA KEPAYANG


KECAMATAN KEPENUHAN HULU

SKRIPSI

Dianjurkan Sebagai Salah Satu Syarat Dan Tugas


Guna Memperoleh Gelar Serjana Pendidikan
(S.Pd)

Oleh:

SUMARNI
NIM.01280.111.17.2019

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


STAI TUANKU TAMBUSAI

i
PASIR PANGARAIAN
1444 H/2023 M

ii
KATA PENGANTAR

Dengan segala puji syukur Alhamdulillah penulis haturkan kehadirat Allah


SWT atas Taufik, Hidayah dan Inayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini. Shalawat dan Salam tak lupa pula Penulis hadiahkan kepada Nabi
Akhir Zaman Nabi dan Rasulullah Muhammad SAW dengan Ucapan
“Allahumma Shalli ala saidina Muhammad wa ala Ali saidina Muhammad”.
Skripsi ini diajukan untuk memenuhi syarat guna memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Program Studi Pendidikan Agama Islam Sekolah
Tinggi Agama Islam Tuanku Tambusai Pasir Pengaraian.
Penulis merasa bahwa skripsi dengan judul “Pola Asuh Orang Tua Single
Parent Terhadap Nilai-nilai Agama Islam di Desa Kepayang Kecamatan
Kepenuhan Hulu” Ini bukan merupakan karya tulis penulis semata, akan tetepi
juga merupakan hasil dari bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak.
Penulis juga merasa bahwa didalam skripsi ini terdapat banyak
kekurangan, untuk itu saran dan kritikan yang membangun sangat penulis
harapkan. Selanjutnya tidak lupa penulis haturkan banyak terima kasih kepada
semua pihak atas segala bimbingan dan bantuan sehingga terselesaikan skripsi ini,
semoga amal baik tersebut mendapat balasan dari Allah SWT. Aamiin Ya
Robbal’Alamiin.
Dalam penyusunan Skripsi ini penulis tidak sedikit menjumpai hambatan
dan kesulitan, namun berkat bantuan bimbingan dan dorongan dari semua pihak
secara langsung maupun tidak langsung, sehingga penulis dapat menyelesaikan
Skripsi ini.
Selama penulis melakukan penelitian, banyaknya mengucapkan
terimakasih dari lubuk hati yang paling dalam atas kemurahan hatiya kepada Ibu
Dwi Restiana, M. Pd. Yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan
Skripsi ini. Sebagai rasa hormat dan syukur, serta ucapan terima kasih kepada :
1. Almarhum Ayahanda Syofian tercinta, Ibunda Mastiara tercinta, Irma sari,
S.Pd. (Kakak) Yasni Yulis (Kakak) Siti Rohani, S.Pd. (Kakak) Syami Yusuf,

ii
S.M. (Abang) Sahrul Afandi (Adik) Jainap (Adik), dan seluruh kelurga besar
penulis yang berada di desa kepayang. Semoga diberi Kesehatan dan Panjang
umur agar selalu menemani setiap langkahku yang dengan kebesaran hatinya
memberikan doa, nasihat, dukungan, cinta, dan kasih sayang serta
pengorbanan baik secara materil, finansial, maupun spiritual kepada penulis.
2. Ibu Hidayati, S. Kom., M. Pd. I selaku Ketua STAI Tuanku Tambusai Pasir
Pengaraia. Ibu Ayu Mentari Mutmainnah, M. Pd. Selaku Ketua Program
Studi Pendidikan Agama Islam di STAI Tuanku Tambusai Pasir Pengaraian.
3. Ibu Dwi Restiana, M. Pd Selaku Ketua LPM STAI Tuanku Tambusai Pasir
Pengaraian.
4. Bapak Kaliandra Saputra Pulungan, M. H Selaku Ketua LPPM STAI Tuanku
Tambusai Pasir Pengaraian.
5. Bapak dan Ibu Dosen beserta Staff yang telah mencurahkan ilmunya kepada
penulis selama melaksanakan perkuliahan di STAI Tuanku Tambusai Pasir
Pengaraian.
6. Teman-teman seperjuangan, terkhusus kepada kawan kawan Program Studi
Pendidikan Agama Islam, penulis ucapkan terima kasih atas dukungannya
sehingga Proposal skripsi ini selesai.
Ini merupakan karya tulis pertama penulis dalam dunia akademis
semoga banyak manfaatnya dan terlahir kelak karya penulis berikutnya pada
bidang akademis. Aamiin. Akhir kata, penulis berharap semoga semua yang
telah dilakukan menjadi amal sholeh dan mendapatkan balasan dari Allah
SWT. Dan semoga Skripsi ini kiranya bermanfaat bagi penulis sendiri
khususnya, dan para pembaca pada umumnya.
Aamiin ,Aamiin, Aamiun Ya Robbal ‘ Alamiin.

Pasir Pangaraian, 12 Agustus 2022

SUMARNI
NIM: 01280.111.17.2019

iii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................ii
DAFTAR ISI......................................................................................................iv

BAB I PENDAHULUAN........................................................................
A. Latar Belakang Masalah..........................................................1
B. Penegasan Istilah.....................................................................5
C. Batasan Masalah .....................................................................6
D. Rumusan Masalah ...................................................................6
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian................................................7
F. Sitematika Penulisan................................................................8

BAB II KAJIAN TEORI..........................................................................


A. Landasan Teori........................................................................9
1. Pola Asuh ...........................................................................9
2. Single Parent......................................................................19
3. Nilai-nilai Agama Islam.....................................................22
B. Penelitian Relevan...................................................................36
C. Kerangka Berpikir ..................................................................39
D. Fokus Penelitian .....................................................................39

BAB III METODE PENELITIAN............................................................


A. Jenis Penelitian dan Pendekatan .............................................42
B. Lokasi dan Waktu Penelitian...................................................43
C. Informan Penelitian.................................................................43
D. Sumber Data ...........................................................................44
E. Teknik Pengumpulan Data......................................................45
F. Analisa Data............................................................................47

DAFTAR PUSTAKA

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama dalam

masyarakat, karena dalam keluargalah manusia dilahirkan, berkembang menjadi

dewasa. Bentuk dan isi serta cara-cara pendidikan di dalam keluarga akan selalu

mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya watak, budi pekerti dan kepribadian

tiap-tiap manusia.1

Pendidikan dalam keluarga amatlah penting terutama pendidikan

keagamaan, karena agama merupakan besik bagi anak-anak sebagai bekal untuk

kehidupan mereka selanjutnya. Keluarga merupakan tempat pendidikan pertama

bagi anak-anak, oleh karena itu diharapkan agar pendidikan Islam selalu berperan

aktif dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam pada anak-anak.2

Orang tua berkewajiban mempersiapkan tubuh, jiwa dan akhlak

anakanaknya untuk menghadapi pergaulan masyarakat.Memberikan pendidikan,

yang sempurna kepada anak-anaknya merupakan tugas besar bagi orang

tua.Kewajiban ini merupakan tugas yang ditekankan agama dan hukum

masyarakat.3 Sebagaimana yang telah digambarkan Allah SWT dalam kitab suci

Al-Quran surah at-Tahrim ayat 6:

1
Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008). Cet. Ke-5 hlm.
57
2
Jamari, “Peranan Keluarga Dalam Menanamkan Nilai-niai Pendidikan Agama Islam
Pada Anak”, Jurnal Darussalam, Pendidikan Komunikasi dan Pendidikan Hukum Islam, Vol. VII,
Nomor 2:405-425. April 2016. ISSN 1978-4767), hlm. 407.
3
M Fauzi Rachman, Islamic Teen Parenting Usia Tamyiz dan Baligh (7-15 Tahun),
(Jakarta: Erlangga, 2014), hlm. 6.

1
2

      


       
       
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari
api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan.

Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa pentingnya pendidikan anak dalam

lingkup keluarga, yang dimana orang tua memegang peranan yang penting dan

amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. Orang tua merupakan

pendidikan utama dan pertama bagi anak-anak mereka karena dari merekalah

anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari

pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.4

Kewajiban orang tua dalam pendidikan agama adalah mendidik anaknya

agar berakhlak yang baik sesuai dengan ajaran Islam. Di sinilah kedudukan orang

tua sebagai kontrol dan mereka harus jeli terhadap adanya pengaruh buruk yang

akan menimpa anaknya dari lingkungan.

Perkembangan pendidikan seorang anak tidak lepas begitu saja dengan

pendidikan yang diperolah dalam keluarga, sebab pada dasarnya anak memiliki

pembawaan yang baik, tetapi tidak didukung dengan lingkungan yang baik, maka

anak teersebut tidak akan berkembang dengan baik.

Dalam sebuah keluarga tentu adakalanya mengalami keharmonisan dan

adakalanya juga mengalami ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Dalam

4
Zakiah Daradjat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2006), hlm.
35.
3

ketidakutuhan dalam rumah tangga tersebut bisa disebabkan karena perceraian

dalam keluarga dan kematian salah satu orang tuanya.

Salah satu kenyataan yang banyak dijumpai di sekitar kita adalah

keberadaan orang tua tunggal atau lazim disebut dengan istilah “Single Parent”.

Sebuah keluarga yang hanya memiliki orang tua tunggal dapat memicu

serangkaian masalah khusus. Hal ini disebabkan karena hanya ada satu orang tua

yang membesarkan anak mereka. Dalam keluarga tersebut ada semacam

kekhawatiran yang mana orang tua tunggal tersebut harus bekerja sekaligus

membesarkan anaknya, lebih-lebih yang menjadi single parent tersebut adalah

ibu. Ibu tersebut harus bisa memenuhi kebutuhan kasih sayang dan juga

keuangan. Ibu tersebut harus bisa berperan sebagai seorang ayah yang telah

meninggal.

Perhatian yang kurang akan memberikan kesempatan bagi anak untuk

membentuk perilaku diluar nilai-nilai yang diajarkan oleh orang tuanya. Namun,

tidak semua anak mendapat pengasuhan secara utuh dari orang tua, ada yang

cuma diasuh oleh ayah atau ibu saja, yang sering dikenal dengan istilah orang tua

singleparent.seorang ibu atau ayah tunggal dalam keluarga akan berperan ganda,

disamping bertugas mengasuh anak, juga akanberperan dalam mencari nafkah.

Hal ini memberikan konsekuensi kepada orang tua single parent untuk mencukupi

kebutuhan keluarganya, sehingga dia harus bisa membagi waktu antara bekerja

dengan waktu untuk mengasuh anak, sehingga anak tidak merasa ditelantarkan.5

5
Mifid Widodo, “Peran Single Mother dalam Mengembangkan Moralitas Anak
Dikelurahan Wonokromo Kecamatan Wonokromo Surabaya”, Jurnal Kajian Moral dan
Kewarganegaraan. Vol. 1, Nomor 1, 2013, hlm. 11.
4

Peneliti mengamati bahwa anak yang mempunyai orang tua single parent

lebih cendrung pendiam, keras, susah diatur, namun ada pula anak yang

dibesarkan dalam keluarga yang tidak utuh atau single parent menjadi seorang

anak yangberprilaku sopan, dan penurut.6 Dalam kondisi seperti ini pasti ada

peran yang dilakukan oleh orangtua.

Dan dalam Fenomena yang terjadi di Desa Kepayang Kecamatan

Kepenuhan Hulu adalah sebagian besar single parent maupun orang tua

mengabaikan pendidikan anaknya, khususnya dalam menanamkan nilai-nilai

agama akibatnya anak kurang dalam wawasan agama, kurang mendapat perhatian,

kasih sayang, bimbingan dari orang tua. Ketika di asuh oleh orang tua single

parent maka tidak menutup kemungkinan, sebagian anak akan melakukan

perilaku menyimpang, seperti suka membantah dan melawan orang tua, sering

menggunakan kata-kata kurang sopan. Memang keluarga merupakan lingkungan

sosial terkecil yang memiliki peran yang sangat besar untuk mendidik dan

membentuk kepribadian seorang individu. Di dalam keluarga juga akan

memberikan motivasi khususnya orangtua kepada anak untuk memberi dorongan

agar anak menjadi anak yang sholih/sholihah karena hubungan antara orangtua

dengan anak adalah hubungan yang hakiki secara psikologis maupun mental

spiritual. Namun, sebagian single parent di Desa Kepayang Kecamatan

Kepenuhan Hulu masih minim memberikan motivasi tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, maka dengan ini peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul “Pola Asuh Orang Tua Single Parent

6
Observasi, Desa Kepayang 7 Agustus 2022
5

Terhadap Nilai-nilai Agama Islam di Desa Kepayang Kecamatan Kepenuhan

Hulu”.

B. Penegasan Istilah

Adapun penegasan istilah dalam penelitian ini yakni:


1. Pola Asuh

Kata pola berarti gambaran yang dipakai. Gambaran disini menyangkut

model, cara atau bentuk yang digunakan untuk diterapkan untuk individu.7

Sedangkan kata asuh berarti menjaga, merawat dan mendidik anak kecil.

Jadi, pola asuh adalah cara atau model seseorang dalam membimbing dan

mendidik orang lain yang berbeda dalam lingkungan asuhannya.

2. Single Parent

Single parent atau orang tua tunggal adalah orang tua dalam keluarga yang

tinggal sendiri yaitu ayah saja atau ibu saja. Orang tua tunggal dapat terjadi

karena perceraian, salah satu meninggalkan rumah, salah satu meninggal

dunia.Kejadian ini dapat menimpa siapa saja baik muda maupun tua dalam

kondisi ayah meninggal dunia.Sehingga ibu menyendiri bersama seluruh

anggota keluarganya, atau ibu meninggal dunia sehingga ayah menyendiri

bersama dengan keluarganya.8

3. Nilai-nilai agama Islam

Nilai adalah suatu perangkat keyakinan ataupun perasaan yang diyakini

sebagai suatu identitas yang memberikan corak yang khusus kepada pola

pikiran, perasaan, keterkaitan maupun perilaku.9 Nilai-nilai agama


7
Y. Argo Trikomo, Pemulung Jalanan, (Yogyakarta: Media Presindo,1999) hlm. 87
8
Surya M, Bina Keluarga, (Semarang: Aneka Ilmu,2003), hlm.230
9
Zakiah Drajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2000), hlm. 25.
6

terinternalisasi dalam diri seseorang, kepribadian dan sikap religiusnya akan

muncul dan terbentuk. Nilai-nilai Agama Islam adalah sejumlah tata aturan

yang menjadi pedoman manusia agar dalam setiap tingkah lakunya sesuai

dengan ajaran Agama Islam sehingga dalam kehidupannya dapat mencapai

keselamatan dan kebahagiaan lahir dan batin dunia dan akhirat.

C. Batasan Masalah

Dalam penulisan skiripsi ini penulis merasa perlu membatasi permasalahan

yang akan dibahas mengingat keterbatasan kemampuan, waktu dan biaya, maka

penulis batasi pada:

1. Penelitian diadakan di Desa Kepayang Kecamatan Kepenuhan Hulu.

2. Penelitian hanya mengarah pada para single parent yang anaknya masih

dalam usia sekolah.

3. Nilai-nilai agama Islam yang dimaksudkan adalah dalam pendidikan

ibadah, pokok ajaran Islam dan membaca Al Qur’an, pendidikan

akhlakul karimah, dan pendidikan aqidah Islamiyah.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan yang menjadi latar belakang penelitian ini, maka

terdapat beberapa rumusan masalah, yaitu sebagai berikut :

1. Bagaimana penerapan pola asuh single parent dalam

membiasakan nilai-nilai agama Islam pada anak di Desa Kepayang

Kecamatan Kepenuhan Hulu?


7

2. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi dan menghambat pola

asuh oleh single parent dalam membiasakan nilai-nilai agama Islam pada

anak di Desa Kepayang Kecamatan Kepenuhan Hulu?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini yakni:

a. Untuk mengetahui penerapan pola asuh single parent dalam membiasakan

nilai-nilai agama Islam pada anak di Desa Kepayang Kecamatan Kepenuhan

Hulu.

b. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dan menghambat pola

asuh oleh single parent dalam membiasakan nilai-nilai agama Islam pada

anak di Desa Kepayang Kecamatan Kepenuhan Hulu.

2. Manfaat Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti berharap agar hasil penelitian dapat

memberikan kegunaan dan manfaat kepada berbagai pihak, diantaranya:

a. Bagi Instansi Kampus

Menjadikan hasil penelitian sebagai sarana untuk menambah khazanah

keilmuan dan sebagai sumbangan pemikiran dan bahan masukan dalam rangka

meningkatkan strategi pelaksanaan pendidikan agama pada anak dalam keluarga,

sekaligus menjadi bahan studi lanjutan bagi yang memerlukan.

b. Bagi para orang tua

Sebagai pendidik pertama anak-anaknya, sehingga akan lebih bertanggung

jawab dan memperhatikan betul terhadap pendidikan agama anak-anaknya.


8

c. Bagi Single Parent

Memberikan sumbangan referensi bagi para single parent untuk

membiasakan nilai-nilai agama Islam pada anak.

d. Bagi peneliti

Menambah pengetahuan yang lebih matang dalam bidang pengajaran dan

menambah wawasan dalam bidang penelitian, sehingga dapat dijadikan sebagai

latihan dan pengembangan teknik – teknik yang baik, khususnya dalam membuat

karya tulis ilmiah, juga sebagai kontribusi nyata bagi dunia pendidikan.

F. Sistematika Penulisan

BAB I : Pada bab ini, menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah,

Penegasan Istilah, Batasan Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan

dan Kegunaan Penelitian dan Sistematika Penulisan.

BAB II : Pada bab ini menjelaskan tentang Kajian teori variabel yang

diteliti yakni Pola Asuh Orang Tua Single Parent Terhadap

Nilai-nilai Agama Islam di Desa Kepayang Kecamatan

Kepenuhan Hulu, Penelitian Relevan dan Kerangka Berfikir.

BAB III : Pada bab ini menjelaskan tentang Jenis dan Pendekatan

Penelitian, Teknik Pengumpulan Data, Analisis Data, dan

Rencana Waktu Penelitian.

BAB IV : Pada bab ini menjelaskan tentang Hasil Penelitian dan

Pembahasan.
9

BAB V : Pada bab ini menjelaskan penutup yang berisikan Kesimpulan dan

Saran

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
1. Pola Asuh
a. Pengertian Pola Asuh

Istilah pola asuh berasal dari kata pola dan asuh. Dalam Kamus Besar

Bahasa Indonesia, pola artinya sistem, cara kerja, sedangkan asuh artinya

bimbing, pimpin.10 Sehingga pola asuh bisa diartikan cara membimbing atau

memimpin anak.

Definisi pola asuh, di antaranya konsep yang dikemukakan oleh Kohn

yang dikutip oleh M. Chabib Thaha mendefinisikan pola asuh adalah sikap orang

tua dalam berhubungan dengan anak-anaknya. Sikap ini dapat dilihat dalam

berbagai segi antara lain dari cara orang tua memberikan hadiah dan hukuman,

cara orang tua memberikan otoritas dan cara orang tua memberikan perhatian dan

tanggapan terhadap keinginan anak.11

Pola asuh terdiri dari dua kata; pola dan asuh. Pola berarti sistem atau

cara kerja dan asuh berarti menjaga (merawat dan mendidik); membimbing

(membantu, melatih, dan sebagainya) supaya dapat berdiri sendiri. Bila kedua

10
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa
(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2014), hlm. 1088.
11
M. Chabib Thaha, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Jakarta: Rineka Cipta, 2000),
hlm. 109.
10

kata tersebut digabungkan maka pola asuh berarti sistem atau cara dalam

mendidik atau membimbing anak supaya dapat berdiri sendiri (kemandirian).12

Al-Qur’an menjelaskan tentang pola asuh orangtua pada surah An Nisa

ayat 9 yang berbunyi:

       


       
Artinya: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya
meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang
mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu
hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar.

Berdasarkan ayat tersebut menunjukan bahwa seruan untuk kepada orang

tua dalam memberikan pengarahan dan asuhan terhadap anaknya untuk tidak

meninggalkan anak yang lemah kepribadiannya atau kahlaknya

Kyai adalah orang tua santri ketika mereka berada di Pondok Pesantren.

Sedangkan menurut M. Sochib, pola asuh adalah upaya orang tua (kyai) yang

diaktualisasikan terhadap penataan lingkungan fisik, lingkungan sosial internal

dan eksternal, pendidikan internal dan eksternal, dialog dengan anak-anaknya,

suasana psikologi, perilaku yang ditampilkan pada saat terjadinya pertemuan

dengan anak-anak, kontrol terhadap perilaku anak, menentukan nilai-nilai moral

sebagai dasar perilaku yang diupayakan kepada anak-anak.13

Menurut Alfie Kohn ada dua macam pola pengasuhan, yaitu:

12
Depdikbud. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), hlm 885
13
M. Shochib, Pola Asuh Orang Tua (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm. 15.
11

1) Pengasuhan bersyarat atau disebut dengan cinta bersyarat, artinya anak-anak

harus mendapatkannya dengan bertindak dalam cara-cara yang kita anggap

tepat, atau melakukan sesuatu sesuai dengan standar kita.

2) Pengasuhan tidak bersyarat atau cinta tidak bersyarat, yaitu cinta ini tidak

bergantung pada bagaimana mereka bertindak, apakah mereka berhasil atau

bersikap baik atau yang lainnya. 14

Mengasuh atau mendidik anak adalah tugas yang paling mulia yang

pernah diamanatkan Tuhan kepada para orang tua. Orang tua tidaklah cukup

memenuhi kebutuhan sehari-hari demi kelangsungan hidup anaknya. Anak

membutuhkan perhatian yang lebih mendalam serta pengelolaan yang lebih

intensif, baik melalui pendidikan formal (sekolah) maupun pendidikan non formal

(keluarga). Melalui sarana pendidikan ini orang tua dapat memberikan pengaruh

dalam pembentukan pribadi anak dan watak yang akan dibawanya hingga dewasa

nanti.15

Penanggung jawab utama pembinaan anak menurut islam adalah orang

tua. Orang tua adalah pendidik utama dalam lingkungan keluarga, Terlebih lagi

ibu yang lebih dekat dengan anaknya dan mengetahui perkembangan fisik dan

psikis anak secara mendalam. Hal ini sangat berguna untuk menentukan materi

dan metode pembinaan yang sesuai diberikan kepada anaknya. Demikian pula

islam memerintahkan agar para orang tua berlaku sebagai pemimpin dalam

14
Alfie Kohn, Jangan Pukul Aku Paradigma Baru Pola Pengasuhan Anak (Bandung:
Mizan Learning Center (MLC), 2006), hlm. 15.
15
Alex Sobur, Pembinaan Anak dalam Keluarga (Jakarta: Gunung Mulia, 1987), hlm.
01.
12

keluarganya serta berkewajiban untuk memelihara keluarganya dari api neraka,

sebagaimana firman Allah SWT dalam surat At-Tahrim ayat 6:

      


       
       

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari
api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan.

Orang tua selaku pembimbing utama dalam lingkungan keluarga

mempunyai tanggung jawab besar terhadap anak-anaknya sampai si anak menjadi

dewasa. Hal ini dapat dimaklumi bahwa betapa besarnya jika orang tua

menciptakan suasana rumah yang harmonis, karena jika terdapat jurang pemisah

antara salah satu anggota keluarga, maka sulit bagi ibu untuk menerapkan

pembinaan pada anak-anaknya. Suasana keluarga turut mempengaruhi

keberhasilan pembinaan anak, sebab keluarga yang kurang harmonis akan sulit

melaksanakan pembinaan anak. Mengingat rumah tangga adalah wadah pertama

yang dikenal oleh anak, maka orang tua dapat memberikan pendidikan kepada

anak dalam segala aspek kehidupan. Baik itu aspek sosial, pembinaan akhlak,

ibadah dan sebagainya. Hal ini menunjukkan orang tua rumah tangga sebagai

pembina utama dalam lingkungan keluarga dan sejalan dengan apa yang

diungkapkan oleh Zakiah Daradjat sebagai berikut:

‟Orang tua yang mempunyai kedudukan dalam keluarga punya tanggung

jawab penuh demi kelangsungan sebuah rumah tangga. Harus memberikan


13

segala kebutuhan hidup dan memberikan perlindungan terhadap semua

anggota keluarga, seperti pangan, sandang, papan dan pendidikan. Orang tua

dituntut semaksimal mungkin agar mampu memberi motivasi bagi anak-

anaknya. Anak sebagai amanat Allah yang wajib dididik dengan penuh

pengabdian. Allah akan melimpahkan rahmat kepada orang tua yang

membina putra putrinya.‟16

b. Macam-macam Pola Asuh

Mendidik anak dalam keluarga diharapkan anak agar mampu berkembang

kepribadiannya, menjadi manusia dewasa yang memiliki sikap positif terhadap

agama, kepribadian kuat dan mandiri, berperilaku ihsan serta intelektual yang

berkembang secara optimal. Untuk mewujudkan hal itu ada berbagai cara dalam

pola asuh yang dilakukan oleh orang tua.17

Menurut ada tiga jenis pola asuh orang tua yang sering digunakan yakni:

1) Pola asuh otoriter

2) Pola asuh demokratis

3) Polaa suh demokratis18

Hayati dan La Adu juga menyatakan hal yang sama yakni:

1) Pola asuh otoriter yaitu pola asuh yang cenderung membatasi, bersifat

menghukum, mendesak anak untuk mengikuti petunjuk orang tua, dan

16
Fauzi Saleh, Konsep Pendidikan Dalam Islam, (Aceh: Yayasan Pena Banda Aceh
Anggota IKAPI Banda Aceh, 2017), hlm. 2-4
17
Mansur, M.A, Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2005), hlm. 53.
18
Kustiah Sunarty, Editor Alimuddin Mahmud, Pola Asuh Orang Tua dan Kemandirian
Anak, (Makasar: Edukasi Mitra Grafika, 2015) hal 26
14

orang tua memegang kendali penuh dalam mengontrol anak, dan hanya

melakukan sedikit komunikasi verbal.

Orang tua yang bersikap otoriter dan memberikan kebebasan penuh

menjadi pendorong bagi anak untuk berperilaku agresif. Orang tua tidak

mendukung anak untuk membuat keputusan sendiri, selalu mengatakan

apa yang harus dilakukan anak, tanpa menjelaskan mengapa anak harus

melakukan hal tersebut. Akibatnya anak kehilangan kesempatan untuk

belajar bagaimana mengendalikan perilakunya sendiri. Ada

laranganlarangan yang diberlakukan orang tua yang tidak masuk akal,

seperti tidak boleh bermain di luar rumah. Pola asuh otoriter ini dapat

membuat anak sulit menyesuaikan diri. Ketakutan anak terhadap hukuman

justru membuat anak menjadi tidak jujur dan licik.19

2) Pola asuh liberal/permissive yaitu orang tua cenderung memanjakan,

mengijinkan anak melakukan apapun yang diinginkan. Pola asuh ini

menjadi dua yaitu neglectful parenting dan indulgent parenting. Pola asuh

neglectful yaitu bila orang tua sangat tidak peduli dan tidak mau terlibat

dalam kehidupan anak. Pola asuh seperti ini akan menghasilkan anak yang

kurang memiliki kompetensi sosial, terutama karena adanya

kecenderungan kontrol diri yang kurang. Sedangkan pola asuh indulgent

yaitu bila orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anak, namun hanya

memberikan kontrol dan tuntutan yang sangat minim atau selalu menuruti

19
Hayati Nufus dan La Adu, Pola Asuh Berbasis Qalbu dan Perkembangan Belajar
Anak.(Ambon: LP2M IAIN Ambon, 2020) hal 19
15

kemauan anak dan cenderung terlalu membebaskan sehingga

mengakibatkan kompetensi sosial tidak kuat

3) Pola asuh demokratis yaitu pola asuh yang memberikan dorongan pada

anak untuk mandiri namun tetap menerapkan berbagai batasan yang akan

mengontrol perilaku anak. Orang tua dan anak saling memberi, saling

menerima, mendengarkan dan didengarkan. Dengan pola asuh ini orang

tua menggunakan penjelasan, diskusi dan alasan dalam mendidik dan

bertingkah laku, ada hukuman dan ganjaran untuk perilaku yang tidak

sesuai. Dengan kata lain pengasuhan anak denga tipe ini akan menjadikan

adanya komunikasi yang dialogis antara anak dan orang tua. Anak yang

diasuh dengan tipe ini akan memiliki sikap mandiri, memiki kepercayaan

diri, imajinatif, mudah beradaptasi dan disukai banyak orang dan memiliki

kecerdasan emosional berderajat tinggi.

Ada tiga jenis pola asuh orang tua terhadap anaknya, yaitu:

1) Pola asuh otoriter Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang ditandai dengan

cara mengasuh anak-anaknya dengan aturan-aturan ketat, seringkali memaksa

anak untuk berperilsku seperti orang tua, kebebasan untuk bertindak atas

nama diri sendiri dibatasi. Anak jarang diajak berkomunikasi dan diajak

ngobrol, bercerita-cerita, bertukar pikiran dengan orang tua, orang tua malah

menganggap bahwa semua sikapnya yang dilakukan itu dianggap sudah benar

sehingga tidak perlu anak dimintai pertimbangan atas semua keputusan yang

menyangkut permasalahan anak-anaknya. 20

20
Mahfud Junaidi, Kiai Bisri Mustofa: Pendidikan Keluarga Berbasis Pesantren
(Semarang: Walisanga Press, 2009 ), hlm. 54.
16

2) Pola asuh demokratis Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang ditandai

dengan adanya pengakuan orang tua terhadap kemampuan anak, anak diberi

kesempatan untuk tidak selalu tergantung kepada orang tua. Orang tua sedikit

memberi kebebasan kepada anak untuk memilih apa yang terbaik bagi

dirinya, anak didengarkan pendapatnya, dilibatkan dalam pembicaraan

terutama yang menyangkut tentang kehidupan anak itu sendiri. Anak diberi

kesempatan untuk mengembangkan dan berpartisipasi dalam mengatur

hidupnya.21

Bambang Sujiono dan Yuliani Nuraini mengemukakan berberapa gaya

pengasuhan anak22 yaitu:

1) Otoriter, yaitu gaya pengasuhan yang ditandai oleh kontrol yang

ketat dan keterlibatan penuh dari orang tua. Orang tua semacam ini

adalah orang tua yang keras dalam arti yang tradisional dan kuno;

mereka membuat aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh anak tanpa

boleh mendiskusikan atau membantahnya.

2) Pemurah-permisif. Gaya ini disebut pemurah dan permisif, karena

orang tua yang tergolong demikian adalah orang tua yang

memberikan kebebasan kepada anak untuk bergerak, tidak terlalu

banyak menuntut atau melarang anak. Orang tua yang pemurah-

permisif adalah orang tua yang hangat, suka merawat dan terlibat

dengan anak, tetapi tetap mengontrol anak walaupun tidak terlalu

21
Ibid, hlm. 335.
22
Bambang Sujiono dan Yuliani Nuraini. Mencerdaskan Perilaku Anak Usia Dini
(Jakarta: PT Elex Media Komputindo,2005) hlm 106
17

ketat. Mereka umumnya toleran terhadap perilaku anak dan jarang

menghukum anak.

3) Tak pedulian-tak terlibat. Suatu gaya dimana orang tua sedikit sekali

memenuhi kebutuhan fisik maupun kebutuhan emosi anak. Mereka

umumnya tidak mau memberi lebih dari kebutuhan minimal yang

diperlukan anak, malahan mereka cenderung mengurangi

kesempatan untuk bergaul dengan anak dan mengurangi berbagai

upaya yang berkaitan dengan anak. Mereka membuat jarak

psikologis dengan anak

Menurut Bimo Walgito pola asuh diartikan sebagai sikap kontrol

seseorang (lebih tertuju kepada sikap kontrol orang tua terhadap anak) dalam

memberikan bimbingan kepada yang diasuh. Hurlock (dalam Bimo Walgito,)

berpendapat bahwa ada tiga macam sikap sebagai cara kontrol orang tua terhadap

anak yaitu:23

a) Otoriter, ciri-ciri: orang tua menentukan apa yang diperbuat anak, tanpa

memberikan alasannya, apabila anak melanggar anak tidak diberi kesempatan

untuk memberikan alasan atau penjelasan sebelum hukuman diterima oleh

anak, pada umumnya hukuman berupa hukuman badan, orang tua tidak atau

jarang memberikan hadiah baik yang berupa kata-kata maupun bentuk lain

apabila anak berbuat sesuai dengan harapan orang tua.

b) Demokratis, ciri-ciri: (a) apabila anak harus melakukan sesuatu aktivitas,

orang tua memberikan penjelasan alasan perlunya hal tersebut dikerjakan,


23
Bimo Walgito. Bimbingan dan Konseling di Sekolah (Yogyakarta. Andi, 2004) hlm
215
18

anak diberi kesempatan untuk memberikan alasan mengapa ketentuan itu

dilanggar sebelum menerima hukuman, hukuman diberikan berkaitan dengan

perbuatannya dan berat ringannya hukuman tergantung kepada

pelanggarannya, hadiah dan pujian diberikan oleh orang tua untuk perilaku

yang diharapkan.

c) Permisif, ciri-ciri: tidak ada aturan yang diberikan oleh orang tua bahwa anak

diperkenankan berbuat sesuai dengan apa yang dipikirkan anak, tidak ada

hukuman karena tidak ada ketentuan atau peraturan yang dilanggar, ada

anggapan bahwa anak akan belajar dari akibat tindakannya yang salah, tidak

ada hadiah karena sosial approval akan merupakan hadiah yang memuaskan

Namun, menurut Prof. Dr. Abdul Azizi El Qussy, tidak semua orang tua

harus mentolelir terhadap anak, dalam hal-hal tertentu orang tua perlu ikut campur

tangan,24 misalnya:

a) Dalam keadaan yang membahayakan hidupnya atau keselamatan anak.

b) Hal-hal yang terlarang bagi anak dan tidak tampak alasan-alasan yang

lahir.

c) Permainan yang menyenangkan anak, tetapi menyebabkan keruhnya

suasana yang menganggu ketenangan umum.

3) Pola asuh permissive Pola asuh ini adalah pola asuh dengan cara orang tua

mendidik anak secara bebas, anak dianggap orang dewasa atau muda, ia

diberi kelonggaran seluas-luasnya apa saja yang dikehendaki. Kontrol orang

tua terhadap anak sangat lemah, juga tidak memberikan bimbingan kepada

24
M. Chabib Thaha, Kapita Selekta Pendidikan Islam … hlm. 112.
19

anaknya. Semua apa yang dilakukan oleh anak adalah benar dan tidak perlu

mendapat teguran, arahan atau bimbingan.

Cara mendidik yang demikian ternyata dapat diterapkan kepada orang

dewasa yang sudah matang pemikirannya, tetapi tidak sesuai jika diberikan

kepada anak-anak remaja. Apalagi bila diterapkan untuk pendidikan agama,

banyak hal yang harus disampaikan secara bijaksana. 25 Oleh karena itu dalam

keluarga orang tua harus merealisasikan peranan atau tanggung jawab dalam

mendidik anaknya.

2. Single Parent

Single parent berasal dari bahasa Inggris yang terdiri dari dua kata yaitu

single (sendiri/tungggal) dan parent (orang tua). Jadi kata single parent memiliki

arti orang tua tunggal/sendiri. Single parent adalah orang tua yang tinggal dalam

rumah tangga yang sendirian saja, bisa ibu atau bapak saja. Hal ini bisa

disebabkan karena perceraian atau ditinggal mati pasangannya. Single parent

merupakan suatu kondisi dimana orang tua tunggal merawat dan membesarkan

anaknya sendiri tanpa kehadiran salah satu orang tua baik ayah ataupun ibunya.26

Fenomena single parent beberapa dekade terakhir ini marak terjadi di

berbagai negara. Pada tahun 2003, di Australia terdapat 14% keluarga dari

keseluruhan jumlah keluarga masuk dalam kategori single parent, sedangkan di

Inggris pada tahun 2005 terdapat 1,9 juta single parent dan 91% dari angka

tersebut adalah wanita sebagai single parent.

25
Ibid.
26
Mappiare Andy, Psikologi Orang Dewasa, (Surabaya: Usaha Nasional, 1993), 211.
20

Begitu pun di Indonesia, seperti yang diungkapkan oleh Dirjen Bimas

Islam Depag, ‟ Setiap tahun ada dua juta perkawinan akan tetapi data single

parent bertambah menjadi dua kali lipat, yaitu setiap 100 orang yang menikah 10

di antaranya bercerai dan memilih menjadi single parent.‟

Orang tua tunggal merupakan fenomena yang terjadi di beberapa wilayah.

Tidak hanya kota saja, melainkan desa pun juga banyak kejadian yang seperti ini.

Dan membuat pandangan baru dalam sebuah struktur keluarga. Meluasnya

fenomena menjadi orang tua tunggal maka semakin banyak pula lah deskripsi

definisi dari single parent itu sendiri.

Sedangkan pengertian single parent secara terminologi adalah sebagai

berikut:

a. Menurut Poerwodarminto Orang tua satu-satunya dalam konteks ini adalah

keluarga dengan orang tua tunggal sehingga dalam mengasuh dan

membesarkan anak-anaknya sendiri tidak dengan bantuan pasangannya,

karena istri atau suami mereka meninggal dunia atau sudah berpisah

cerai.27

b. Zahrotul Layliyah Secara umum, adalah orang tua tunggal yang mengasuh

dan membesarkan anak-anak mereka sendiri tanpa bantuan pasangan, baik

itu pihak suami maupun pihak istri. Single parent memiliki kewajiban

yang sangat besar dalam mengatur keluarganya. Keluarga single parent

memiliki permasalahan-permasalahan paling rumit dibandingkan keluarga

27
Balcon Maurice, Menjadi Orang Tua yang Baik, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm.
87
21

yang memiliki ayah dan ibu. Single parent dapat terjadi akibat perceraian,

kematian dan bergantinya fungsi alih dalam keluarga.

Orang tua sebagai single parent harus menjalankan peran ganda untuk

keberlangsungan hidup keluarga. Single parent harus mampu mengkombinasikan

dengan baik antara pekerjaan domestik dan publik. Orang tua yang statusnya

sebagai single parent harus mencari uang untuk menafkahi keluarganya dan juga

memenuhi kebutuhan kasih sayang keluarganya, ia harus melakukan perencanaan

yang matang dalam menjalankan peran ganda.

Keluarga dengan single parent adalah keluarga yang hanya terdiri dari satu

orang tua yang di mana mereka secara sendirian membesarkan anakanaknya tanpa

kehadiran, dukungan, tanggung jawab pasangannya dan hidup dan bersama

dengan anak-anaknya dalam satu rumah.28

Dari pendapat di atas penulis memberikan kesimpulan bahwa keluarga

single parent merupakan keluarga yang hanya terdiri dari satu orang tua yang

dimana mereka secara sendirian membesarkan anak-anaknya tanpa kehadiran,

dukungan, tanggung jawab pasangannya dan hidup bersama dengan anak-anaknya

dengan satu rumah dikarenakan faktor-faktor dari luar. Seperti perceraian,

kematian dan menjadi tenaga kerja ke luar negeri hingga bertahun-tahun lamanya.

Hidup sebagai single parent pada dasarnya tidak pernah diharapkan oleh siapapun.

Keluarga yang utuh dengan figur seorang ayah yang menjadi pelindung atau

seorang ibu yang memberikan sentuhan kelembutan kasih diakui senantiasa

menjadi impian.
28
Layliyah Zahrotul, „‟Perjuangan Hidup Single Parent’’, dalam Jurnal Sosiologi
Islam, Vol. 3, No. 1, April 2013, hlm. 91
22

Santrock mengemukakan bahwa ada dua macam single parent, yaitu

a. Single Parent Mother, yaitu ibu sebagai orang tua tunggal yang harus

menggantikan peran ayah sebagai kepala keluarga, pengambil keputusan,

pencari nafkah di samping perannya sebagai mengurus rumah, tangga,

membesarkan, membimbing dan memenuhi kebutuhan psikis anak.

b. Single parent father, yaitu ayah sebagai orang tua tunggal harus

menggantikan peran ibu sebagai ibu rumah tangga yang mengerjakan

pekerjaan pekerjaan rumah tangga.29

Jadi, keluarga single parent adalah keluarga yang dipimpin oleh satu

pemimpin saja. Entah itu ayah maupun ibu yang disebabkan karena perceraian,

meninggal dunia dan pergantian fungsi dari masing-masing orang tua itu sendiri.

Dalam penelitian ini memusat kepada single parent.

Lain dari pada itu, lingkungan cara single parent dibesarkan juga sebagai

salah satu faktor penentu yang dapat mempengaruhi pola asuh single parent.

Karena setiap individu akan secara alami merespon pengalaman masa lalu sebagai

bagian dari karakter yang akan dibawanya hingga dewasa. Sehingga anak yang

dibesarkan dengan pola asuh ini, kemungkinan besar juga akan menerapkan pola

asuh yang sama.

3. Nilai-nilai Agama Islam

a. Pengertian Nilai-nilai

Nilai adalah suatu perangkat keyakinan ataupun perasaan yang diyakini

sebagai suatu identitas yang memberikan corak yang khusus kepada pola pikiran,
29
Santrock, Perkembangan Masa Hidup, (Jakarta: Erlangga, 1995), hlm. 243
23

perasaan, keterkaitan maupun perilaku. Namun akan berbeda jika nilai itu

dikaitkan dengan agama, karena nilai sangat erat kaitannya dengan perilaku dan

sifat-sifat manusia, sehingga sulit ditemukan batasannya itu, maka timbulah

bermacam-macam pengertian di antaranya:

1) Dalam Kamus Bahasa Indonesia Nilai adalah sifat-sifat atau hal-hal yang

penting atau berguna bagi kemanusiaan.

2) Menurut Drs. KH. Muslim Nurdin dkk Nilai adalah suatu perangkat

keyakinan ataupun parasaan yang diyakini sebagai suatu identitas yang

memberikan corak khusus kepada pola pikiran, perasaan dan perilaku.

3) Nilai adalah suatu seperangkat keyakinan atau perasaan yang diyakini sebagai

suatu identitas yang memberikan corak yang khusus kepada pola pemikiran,

perasaan, keterikatan maupun perilaku.

4) Seperti yang disampaikan Noor Syalimi bahwa nilai adalah suatu penetapan

atau suatu kualitas obyek yang menyangkut suatu jenis apresiasi atau minat.

Selain itu, menurut Scope juga mendefinisikan tentang nilai bahwa nilai

adalah sesuatu yang tidak terbatas.30

Dari uraian di atas jelaslah bahwa nilai merupakan suatu konsep yang

mengandung tata aturan yang dinyatakan benar oleh masyarakat karena

mengandung sifat kemanusiaan yang pada gilirannya merupakan perasaan umum,

identitas umum yang oleh karenanya menjadi syariat umum dan akan tercermin

dalam tingkah laku manusia.

30
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai
Pustaka, 2008). Hal 183
24

b. Pengertian Agama Islam

Menurut Harun Nasution, Agama juga berasal dari kata, yaitu Al-Din,

religi (relegere, religare)dan Agama. Al-Din (Semit) berarti undang-undang atau

hukum. Kemudian dalam bahasa arab, kata ini mengandung arti menguasai,

menundukkan, patuh, utang, balasan, kebiasaan. Sedang kata “ Agama” berasal

dari bahasa sansekerta terdiri dari: “A” = tidak,” Gam “ = pergi, sedangkan kata

akhiran “A”= merupakan sifat yang menguatkan yang kekal. Jadi istilah “ Agam”

atau “Agama” berarti tidak pergi atau tidak berjalan, tetap ditempat atau diwarisi

turun-temurun alias kekal (kekal, eternal). Sehingga pada umumnya kata A-Gam

atau Agama mengandung arti pedoman hidup yang kekal.31

Secara etimologi, nilai keagamaan berasal dari dua kata yakni: nilai dan

keagamaan. Menurut Rokeach dan Bank mengatakan bahwasanya nilai

merupakan suatu tipe kepercayaan yang berada pada suatu lingkup sistem

kepercayaan dimana seseorang bertindak atau menghindari suatu tindakan, atau

mengenai sesuatu yang dianggap pantas atau tidak pantas. Sedangkan keagamaan

merupakan suatu sikap atau kesadaran yang muncul yang didasarkan atas

keyakinan atau kepercayaan seseorang terhadap suatu agama.32

Pengertian agama secara terminologi sangat beragam. Taylor dalam Alim

menyatakan bahwa “agama dalam arti luas dapat didefinisikan sebagai

penerimaan atas tata aturan dari kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi daripada

31
Baharuddin, Mulyono, Psikologi Agama, (Malang, Departemen Agama Universitas
Islam Negeri (UIN) Malang), hlm. 9
32
Asmaun Sahlan, Meujudkan Budaya Religius di Sekolah, (Malang: UIN Maliki Press,
2010), hlm. 1
25

manusia itu sendiri”. Ali mengartikan bahwa “agama ialah kepercayaan kepada

tuhan yang dinyatakan dengan mengadakan hubungan denganDia melalui upacara,

penyembahan dan permohonan dan membentuk sikap hidup manusia menurut atau

berdasarkan ajaran agama itu”33

Setelah mengkaji pengertian agama, maka selanjutnya mengkaji pengertian

Islam. Kata Islam menurut etimologi berasal dari bahasa Arab yaitu kata salima yang

berarti selamat, sentosa dan damai. Dari asal kata itu terbentuk kata aslama, yuslimu,

islaman, yang berarti memelihara dalam keadaan selamat sentosa, dan berarti juga

menyerahkan diri, tunduk, patuh, dan taat. Jadi pengertian Islam adalah patuh,

tunduk, taat dan berserah diri kepada Tuhan dalam rangka mencari keselamatan hidup

di dunia maupun di akhirat. Secara istilah, nasution dalam Alim mendefinifikan

bahwa “Islam adalah ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada masyarakat

manusia melalui nabi Muhammad sebagai rasul.34

Adapun pengertian agama Islam yang didapat dari kedua definisi istilah

diatas dapat diambil kesimpulan bahwa agama Islam adalah suatu keyakinan yang

diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad untuk disampaikan kepada seluruh

umat agar memperoleh kedamaian dan keselamatan dalam kehidupan di dunia dan

di akhirat

c. Pengertian Nilai Agama Islam

Dari segi isi, agama terdiri dari seperangkat ajaran yang merupakan

perangkat nilai-nilai kehidupan yang harus dijadikan barometer parapemeluknya

33
Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hal 40.
34
Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011),
hlm. 9
26

dalam menentukan pilihan tindakan dalam kehidupannya. Nilai-nilai ini secara

populer disebut dengan nilai agama.35

Nilai agama Islam adalah nilai yang sumbernya berasal dari agama

Agama Islam itu sendiri. Sumber hukum tertinggi dalam agama Islam yakni al-

Quran dan sunah Rasul, dimana isi di dalamnya mengajarkan nilai-nilai luhur yang

dibutuhkan manusia. Agama Islam adalah ajaran yang tidak hanya mengatur

hubungan manusia dengan Tuhannya, melainkan juga hubungan dengan sesama

manusia maupun makhluk lainnya

Oleh karena itu, nilai-nilai agama merupakan seperangkat standar

kebenaran dan kebaikan. Nilai-nilai agama adalah nilai luhur yang ditransfer dan

diadopsi ke dalam diri. Oleh karena itu, seberapa banyak dan seberapa jauh

nilainilai agama bisa mempengaruhi dan membentuk sikap serta perilaku

seseorang sangat tergantung dari seberapa dalam nilai-nilai agama tersebut

merasuk/terinternalisasi di dalam dirinya. Semakin dalam nilai-nilai agama

terinternalisasi dalam diri seseorang, kepribadian dan sikap religiusnya akan

muncul dan terbentuk. Jika sikap religius/keagamaan sudah muncul dan terbentuk,

maka nilai- nilai agama akan menjadi pusat nilai dalam menyikapi segala sesuatu

dalam kehidupan.

Dari uraian tersebut dapat diambil pengertian bahwa nilai Agama Islam

adalah sejumlah tata aturan yang menjadi pedoman manusia agar dalam setiap

tingkah lakunya sesuai dengan ajaran Agama Islam sehingga dalam kehidupannya

dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan lahir dan batin dunia dan akhirat.

35
Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011),
hlm. 10
27

d. Macam-macam Nilai Agama Islam

Agama Islam memiliki bermacam-macam nilai-nilai. Beberapa tokoh ada

yang mengklasifikasikan nilai-nilai agama Islam secara umum dan adapula yang

mengklasifikannya secara terperinci. Muhadjir dalam Thoha mngelompokkan

nilai agama ke dalam dua jenis, yaitu 1) nilai ilahiyah yang terdiri dari nilai

ubudiyah dan mu’amalah, 2) nilai insaniyah, yang terdiri dari nilai rasional, nilai

sosial, nilai individual, nilai biofisik, nilai ekonomi, nilai politik dan nilai

estetika36

Sedangkan sebagian ulama berpendapat bahwa nilai-nilai tertinggi dari

ajaran agama Islam adalah aqidah, syariah, dan akhlak. Bagi para pendidik, dalam

hal ini orang tua dan guru perlu membekali anak-anaknya dengan materi-materi

atau pokok-pokok dasar agama Islam sebagai pondasi hidup yang sesuai dengan

arah perkembangan jiwa sang anak. Pokok-pokok nilai-nilai agama Islam yang

harus ditanamkan pada anak yaitu aqidah, ibadah dan akhlak.

1) Nilai Aqidah

Secara bahasa, aqidah berasal dari kata „aqada yang berarti ikatan atau

keterkaitan. Alim mengutip pendapat Jamil Shaliba yang mengartikan

bahwa “aqidah secara bahasa adalah menghubungkan dua sudut sehingga

bertemu dan bersambung secara kokoh”. 37 Aqidah juga berarti janji, janji

merupakan ikatan kesepakatan antara dua orang atau lebih yang

mengadakan perjanjian. Sedangkan secara istilah, aqidah menurut Wiyani

berarti “keimanan, keyakinan atau kepercayaan seseorang terhadap Allah

36
Sumanjaya, “Internalisasi Nilai-nilai Agama., 25
37
Alim, Ibid, hal 124
28

SWT yang menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya dengan segala

sifat dan perbuatannya”.38 Qadir mengutip pendapat sebagian ulama fiqih

yang mengartikan aqidah adalah “sesuatu yang diyakini dan dipegang

teguh, sukar sekali untuk diubah”.39 Aqidah dalam Islam meliputi

keyakinan dalam hati tentang Allah sebagai Tuhan yang wajib disembah,

ucapan dengan lisan dalam bentuk dua kalimat syahadat, dan perbuatan

dengan amal.

2) Nilai Ibadah

As-Siddieqy mengartikan ibadah sebagai “nama yang meliputi segala

kegiatan yang disukai dan diridhai oleh Allah, baik berupa perkataan atau

perbuatan, secara terang-terangan atau tersembunyi”. 40 Ibadah dalam Islam

secara garis besar terbagi kedalam dua jenis, yaitu ibadah mahdah (ibadah

khusus) dan ibadah ghoiru mahdah (ibadah umum). Ibadah mahdah

meliputi sholat, puasa, zakat, haji. Sedangkan ibadah ghoirumahdah

meliputi shodaqoh, membaca Al-Quran dan lain sebagainya

3) Nilai Akhlak

Akhlak menurut Saebani dkk adalah “tindakan (kreativitas) yang tercermin

pada akhlak Allah SWT”.41 Kemudian Al-Ghazali dalam Safrony

mendefinisikan akhlak sebagai “suatu sikap yang mengakar dalam jiwa

38
Novan Ardy Wiyani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Pendidikan Karakter
(Bandung: Alfabeta, 2013), 75.
39
Muhamad Abdul Qadir Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam (Jakarta: Rineka
Cipta, 2008), 116.
40
Tim Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Negeri Malang, Pendidikan
Islam Transformatif: Menuju Pengembangan Pribadi Berkarakter (Malang: Gunung Samudera,
2013), 46.
41
Saebani, dkk, Ilmu Akhlak (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hal 15.
29

yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa

perlu pemikiran dan pertimbangan”.42Akhlak adalah sifat yang tertanam

kuat dalam jiwa manusia yang mendorong adanya perbuatan baik atau

buruk tanpa memerlukan pemikiran dan dorongan dari luar. Berarti akhlak

adalah cerminan keadaan jiwa seseorang. Apabila akhlaknya baik, maka

jiwanya juga baik, begitu pula sebaliknya, bila akhlaknya buruk maka

jiwanya juga jelek.

e. Sumber Nilai-nilai Agama Islam

Agama bertujuan membentuk pribadi yang cakap untuk hidup dalam

masyarakat di kehidupan dunia yang merupakan jembatan menuju akhirat. Agama

mengandung nilai-nilai rohani yang merupakan kebutuhan pokok kehidupan

manusia, bahkan kebutuhan fitrah karena tanpa landasan spiritual yaitu agama

manusia tidak akan mampu mewujudkan keseimbangan antara dua kekuatan yang

bertentangan yaitu kebaikan dan kejahatan.

Nilai-nilai Agama Islam sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan

sosial, bahkan tanpa nilai tersebut manusia akan turun ketingkatan kehidupan

hewan yang amat rendah karena agama mengandung unsur kuratif terhadap

penyakit sosial. Nilai itu bersumber dari:

1) Nilai Ilahi, yaitu nilai yang dititahkan Tuhan melalui para Rasul-Nya yang

berbentuk taqwa, iman, adil yang diabadikan dalam wahyu Ilahi. Al-Quran

dan Sunnah merupakan sumber nilai Ilahi,sehingga bersiafat statis dan

42
M. Ladzi Safrony, Al-Ghazali Berbicara tentang Pendidikan Islam (Yogyakarta:
Aditya Media Publishing, 2013), 124.
30

kebenarannya mutlak. Nilai-nilai Ilahi mungkin dapat mengalami

perubahan, namun secara instrinsiknya tetap tidak berubah. Hal ini karena

bila instrinsik nilai tersebut berubah makna kewahyuan dari sumber nilai

yang berupa kitab suci Al-Quran akan mengalami kerusakan.

2) Nilai Insani atau duniawi yaitu Nilai yang tumbuh atas kesepakatan

manusia serta hidup dan berkembang dari peradaban manusia. Nilai moral

yang pertama bersumber dari Ra’yu atau pikiran yaitu memberikan

penafsiran atau penjelasan terhadap Al-Quran dan Sunnah, hal yang

berhubungan dengan kemasyarakatan yang tidak diataur dalam Al-Quran

dan Sunnah. Yang kedua bersumber pada adat istiadat seperti tata cara

komunikasi, interaksi antar sesama manusia dan sebagainya. Yang ketiga

bersumber pada kenyataan alam seperti tata cara berpakaian, tata cara

makan dan sebagainya.43

Dari sumber nilai tersebut, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa

setiap tingkah laku manusia haruslah mengandung nilai-nilai Islami yang pada

dasarnya bersumber dari Al-Quran dan Sunnah yang harus senantiasa dicerminkan

oleh setiap manusia dalam tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari dari hal-

hal kecil sampai yang besar sehingga ia akan menjadikan manusia yang

berperilaku utama dan berbudi mulia.

B. Penelitian Relevan

Penelitian relevan merupakan bentuk kajian relevansi yang dapat dijadikan

sebagai bahan acuan dalam penelitian ini, sebagaimana dalam kajian pustaka

43
Muhaimin, Pemikiran Pendidikan Islam (Bandung: Trigenda Karya, 1993), hlm. 11
31

tentunya menggunakan penelitian yang terdapat kesamaan antar variabelpenelitian

dan terdapat juga perbedaan. Adapun yang menjadi kajian pustaka dalam

penelitian ini yakni:

1. Faisal Nur Hidayat, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang tahun

2011, fokus penelitian ini adalah pola asuh orang tua dalam mendidik agama

anak pada keluarga tukang ojek Kota Semarang. Penelitian ini merupakan

penelitian lapangan (field research). Jenis penelitiannya adalah kualitatif,

teknik pengumpulan datanya dengan menggunakan observasi, wawancara dan

telaah dokumen. 9Hasil pada penelitian ini adalah cenderung memiliki pola

asuh otoriter adalah 20%, dengan ciri-ciri: orangtua memiliki peraturan dan

pengaturan yang keras (kaku). pola asuh demokratis adalah40%,

dengan ciri-ciri: peraturan dari orangtua lebih luwes, mereka (orangtua).

Letak perbedaan penelitian ini dan penelitian sekarang, pertama, penelitian ini

pola asuh orang tua mendidik agama anak di keluarga tukang ojek. Sedangkan

penelitian yang sekarang meneliti tentang pola asuh orang tua single parent,

jadi pola asuhnya seorang ibu dalam membiasakan anaknya berperilaku

religius.44

2. Diyah Febriani. Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada

tahun 2010. Fokus pada penelitian ini adalah pola asuh orang tua dalam

membina pendidikan agama Islam pada anak khususnya dalam


44
Faisal Nur Hidayat, ”Pola Asuh Orang tua Dalam Mendidik Agama Anak Pada
Keluarga Tukang Ojek Kota Semarang”, Skripsi, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang,
2011, hlm.64
32

menenamkan nilai-nilai agama pada anak. Hasil penelitian adalah

kurangnya kesadaran orang tua akan pendidikan agama pada anak. Sedang pola

asuh yang mereka terapkan adalah cenderung memanjakan anak atau masuk

pada tipe pola asuh permesif. Faktor penyebabnya adalah faktor pendidikan

orang tua, faktor pekerjaan, faktor sosial ekonomi, dan faktor lingkungan

sosial. Letak perbedaan penelitian ini dan penelitian sekarang, pertama, terletak

pada judul. Judul dari penelitian tersebut adalah penelitian ini pola asuh orang

tua dalam mendidik pendidikan agama. Perbedaan yang kedua, lokasi yang

diteliti. Peneliti terdahulu mengadakan penelitiannya di dusun

Kedungjati Selopamioro.45

3. Mayya Shofiya. Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun

2008. Fokus pada penelitian ini adalah pelaksanaan pembinaan keagamaan

pada anak dalam keluarga single parent. Di sini single parent bersikap

kooperatif terhadap anak yaitu mengajak anak berdialog dan berusaha menjadi

orangtua yang baik bagi anak. Materi yang di gunakan untuk membina

keagamaan pada anak berupa aqidah, ibadah, dan akhlak. Penelitian ini bersifat

kualitatif dan pengumpulan datanya dilakukan dengan observasi, wawancara,

dan dokumentasi. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa Orangtua

harus bersikap kooperatif terhadap anak yaitu mengajak anak berdialog dan

berusaha menjadi orangtua yang baik bagi anak. Dengan ini anak menjadi tau

posisi ibu sebagai single parent. Materi yang digunakan untuk membina

45
Diyah Febriani, “Pola Asuh Orangtua Dalam Membina Pendidikan Agama Islam
Pada Anak”,Skripsi, Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,2010, hlm. 96
33

keagamaan anak meliputi aqidah, ibadah dan akhlak.kesadaran orang tua akan

pendidikan agama pada anak. Sedang pola asuh yang mereka terapkan adalah

cenderung memanjakan anak atau masuk pada tipe pola asuh permesif. Faktor

penyebabnya adalah faktor pendidikan orang tua, faktor pekerjaan, faktor

sosial ekonomi, dan faktor lingkungan sosial.46

4. Amanatul Latifah Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, 2019.

Fokus pada penelitian ini adalah Pola Asuh Orang Tua Dalam Mendidik

Disiplin Anak Di Desaa Margorukun Kecamatan Muara Sugihan Kabupaten

Banyuasin. Peran dan tanggung jawab orang tua sangat dibutuhkan dalam

memberikan pendidikan disiplin dalam keluarga. Dalam kehidupan di

masyarakat terkadang ditemukan anak-anak nakal yang sikap dan perilakunya

tidak hanya terlibat dalam perkelahian dan pencurian, tetapi juga terkadang ada

anak yang membolos sekolah. Salah satu penyebab utamanya adalah

kurangnya pendidikan disiplin atau kurang berfungsinya pendidikan disiplin

sehingga tidak menjadi control yang efektif dalam mengendalikan perilaku

yang tidak baik. Fakta dilapangan menunjukkan beberapa masalah yang timbul

dalam keluarga, misalnya melanggar aturan, tidak patuh, ada juga anak yang

mengambil barang milik tetangga tanpa sepengetahuan pemiliknya,serta

ditemukan pola asuh yang bervariasi dalam setiap keluarga. Dari hasil

46
Mayya Shofiya, “Pembinaan Keagamaan Pada Anak Dalam Keluarga Single
Parent”,Skripsi, Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008,hlm. 115
34

penelitian menunjukkan bahwa Pertama, pola asuh yang diterapkan orang tua

dalam meningkatkan disiplin pada anak yang berbeda-beda sesuai dengan

tingkat pendidikan orang tua dan usia anak, masyarakat desa di Margorukun

sebagian besar lebih banyak menggunakan pola asuh demokratis dengan alasan

bahwa pola asuh demokratis sangat cocok untuk mendidik disiplin anak.

Kedua, faktor penghmabat dan pendukung yang mempengaruhi penerapan pola

asuh orang tua di desa Margorukun yaitu pertama, faktor internal ialah faktor

yang berasal dari dalam keluarga mislanya usia orang tua, keterlibatan orang

tua, kesibukan orang tua. Kedua, faktor eksternal ialah faktor yang berasal dari

luar misalnya lingkungan tempat tinggal, pesatnyaarus globalisasi seperti

televise dan game, serta kultur budaya yang ada di desa Margorukun

Kecamatan Muara Sugihan Kabupaten Banyuasin.47

5. Cut Srimelia, Fakultas ILmu Sosial dan Politik, 2014. Fokus pada penelitian ini

adalah peran ganda perempuan single parent dalam memenuhi kebutuhan

ekonomi keluarga di gampong drien tujoh kecamatan tripa makmur kabupaten

nagan raya. Akibat perceraian hidup maupun perceraian mati akan

menghadirkan keluarga single parent. Single parent adalah keluarga yang

terdiri dari orang tua tunggal baik ayah maupun ibu sebagai akibat perceraian

atau kematian yang dalam penelitian ini mengangkat perempuan sebagai orang

tua tunggal. Keluarga single parent akan mendapat tugas ganda. Apabila yang

terjadi adalah ketiadaan ayah, peran ibu menjadi bertambah sebagai pencari

47
Amantul Latifah, Pola Asuh Orang Tua Dalam Mendidik Disiplin Anak Di Desaa
Margorukun Kecamatan Muara Sugihan Kabupaten Banyuasin, Fakultas Tarbiyah UIN Raden
Fatah Palembang, 2019.
35

rezeki dan pengasuh anak. Dampak dari kehidupan keluarga single parent

terhadap pemenuhan ekonomi keluarga seperti kebutuhan sehari-hari,

perlengkapan sekolah anak serta biayabiaya tidak terduga lainnya yang

menjadi beban bagi perempuan single parent. Dampak tersebut bukan hanya

karena hilangnya salah satu orang tua, melainkan ditentukan pula oleh faktor

lainnya, seperti status sosial ekonomi orang tuanya dalam kebiasaan dalam

keluarga. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa Peran ganda perempuan

single parent dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga di Gampong

Drien Tujoh Kecamatan Tripa Makmur Kabupaten Nagan Raya selain sebagai

ibu yang mendidik anak dan mengurus masalah dalam rumah tangga, juga

berperan dan mencari nafkah diantaranya bekerja sebagai buruh cuci, penjaga

bayi (penitipan anak), pedagang kecil-kecilan, tukang parkir, petani, dan

penjahit, namun ada juga yang hanya bertahan dengan gaji pensiunan suami

karena tidak memiliki pekerjaan dengan alasan tidak memiliki ketrampilan.

Kendala perempuan single parent dalam memenuhi kebutuhan ekonomi

keluarga yakni: sedikit waktu untuk istirahat, sulit mengatur keuangan, antara

bayar hutang dan memenuhi kebutuhan keluarga, umur yang tidak muda lagi

dengan tanggungan anak yang cacat sehingga tidak memungkinkan bekerja di

luar rumah dan tidak memiliki ketrampilan. Kendala memang dirasakan oleh

perempuan single parent Gampong Drien Tujoh namun sebagai orang tua

tunggal tetap berusaha memberikan perhatian pada anak-anaknya sehingga

agar tidak merasa kurang kasih sayang walaupun hanya memiliki salah satu

orang tua saja.


36

Tabel 2.1
Perbedaan Penelitia Terdahulu

Penelitian Kata Kunci Hasil Perbedaan


Terdahulu Penelitian
Pola Asuh Orang Pola Hasil
Asuh, pada Perbedaan terdapat
Tua Dalam Pendidikan penelitian ini pada konteks
Mendidik Agama Agama, Anak,adalah cenderung penelitian, teori yang
Anak Tukang Ojek memiliki pola digunakan serta
Pada Keluarga asuh otoriter analisis yang akan
Tukang Ojek adalah 20%, dicapai. Dalam
dengan ciri-ciri: penelitian ini akan
orangtua membahas bagaimana
memiliki seorang single parent
peraturan dan membiasakan perilaku
pengaturan yang religius pada anak.
keras (kaku).
pola asuh
demokratis
adalah 40% ,
dengan ciri-ciri:
peraturan dari
orangtua lebih
luwes, mereka
(orangtua)
menggunakan
penjelasan dan
diskusi dalam
berkomunikasi
dengan anak.
Pola Asuh Orang Pola Asuh, Hasil penelitian Perbedaan dalam
Tua Dalam Pendidikan adalah kurangnya penelitian ini terletak
Membina Agama Islam, kesadaran orang pada konteks yang
Pendidikan Anak tua akan diteliti, teknik
37

Agama Islam pendidikan pengambilan data


Pada Anak agama pada digunakan teknik dan
anak. Sedang hasil analisis yang akan
pola asuh yang dicapai.
mereka terapkan
adalah cenderung
memanjakan
anak atau masuk
pada tipe pola
asuh permesif.
Faktor
penyebabnya
adalah faktor
pendidikan orang
tua, faktor
pekerjaan, faktor
sosial ekonomi,
dan faktor
lingkungan
sosial.
Pembinaan Pembinaan Dari hasil Perbedaan penelitian
Keagamaan Pada Keagamaan, penelitian ini terletak pada topik
Anak Dalam Anak,Single menunjukkan dan sekop lingkungan
Keluarga Single Parent bahwa Orangtua yang berbeda serta
Parent (Studi harus bersikap analisis yang akan
Kasus Di Dusun kooperatif dicapai.
Ngentak Sapen terhadap anak
RW 01 yaitu mengajak
Caturtunggal anak berdialog
Depok Sleman dan berusaha
D.I Yogyakarta) menjadi orangtua
yang baik
bagi anak.
Dengan ini anak
menjadi tau
posisi ibu
sebagai single
parent. Materi
yang digunakan
untuk membina
keagamaan anak
meliputi aqidah,
ibadah dan
akhlak.
38

Pola Asuh Orang Pola Asuh, hasil penelitian Perbedaan penelitian


Tua Dalam Mendidik, menunjukkan ini terletak pada topik
Mendidik Disiplin Disiplin bahwa Pertama, dan sekop lingkungan
Anak Di Desa pola asuh yang yang berbeda serta
Margorukun diterapkan orang analisis yang akan
Kecamatan Muara tua dalam dicapai.
Sugihan meningkatkan
Kabupaten disiplin pada
Banyuasin anak yang
berbeda-beda
sesuai dengan
tingkat
pendidikan orang
tua dan usia anak,
masyarakat desa
di Margorukun
sebagian besar
lebih banyak
menggunakan
pola asuh
demokratis
dengan alasan
bahwa pola asuh
demokratis
sangat cocok
untuk mendidik
disiplin anak.
Kedua, faktor
penghmabat dan
pendukung yang
mempengaruhi
penerapan pola
asuh orang tua di
desa Margorukun
Peran Ganda Peran Ganda, hasil penelitian Perbedaan penelitian
Perempuan Single Perempuan, menunjukkan ini terletak pada topik
Parent Dalam Single Parent bahwa Peran dan sekop lingkungan
Memenuhi ganda perempuan yang berbeda serta
Kebutuhan single parent analisis yang akan
Ekonomi dalam memenuhi dicapai.
Keluarga Di kebutuhan
Gampong Drien ekonomi keluarga
Tujoh Kecamatan di Gampong
Tripa Makmur Drien Tujoh
Kabupaten Nagan Kecamatan Tripa
39

Raya Makmur
Kabupaten Nagan
Raya selain
sebagai ibu yang
mendidik anak
dan mengurus
masalah dalam
rumah tangga,
juga berperan dan
mencari nafkah
diantaranya
bekerja sebagai
buruh cuci,
penjaga bayi
(penitipan anak),
pedagang kecil-
kecilan, tukang
parkir, petani,
dan penjahit,
namun ada juga
yang hanya
bertahan dengan
gaji pensiunan
suami karena
tidak memiliki
pekerjaan dengan
alasan tidak
memiliki
ketrampilan

C. Kerangka Berpikir

Pola Asuh

Orang Tua Single Parent

Nilai-nilai Agama Islam


Gambar 2.1 Daring
Kerangka berfikir

Berdasarkan landasan teori dan penelitian relevan tersebut, dapat


40

diketahui bahwa penulis akan mengungkapkan tentang Pola Asuh Orang Tua

Single Parent Terhadap Nilai-nilai Agama Islam di Desa Kepayang Kecamatan

Kepenuhan Hulu.

D. Fokus Penelitian

Focus Penelitian merupakan penjabaran dari kajian teoretis dalam bentuk

yang konkrit sehingga mudah dipahami. Konsep ini digunakan untuk

memperjelaskan konsep teoritis agar tidak menyimpang dari konsep teoritis, hal

ini sangat diperlukan agar tidak terjadi kesalahan pengertian dalam memahami

tulisan ini sebagaimana yang telah diuraikan diatas. Adapun yang menjadi focus

penelitian ini sehingg menjadi suatu konsep operasional adalah:

1. Pola asuh orang tua Singel Perent terhadap nilai agama islam anak

a. Jenis pola asuh yang diterapkan (pola asuh otoriter, demokratis dan

Permisif)

b. Sikap orang tua ketika anak melanggar aturan yang diajarkan agama

c. Sikap orang tua yang ajarkan atau tanamkan pada perilaku ibadah seperti

shalat dan mengaji serta perilaku sopan jujur dan lainnya

d. Cara menyikapi penanaman nilai agama Islam pada anak yang dilakukan

dengan sendiri atau single parent

2. Faktor yang Mempengaruhi dan Mengambat Pola Asuh Singel Perent dalam

menanamkan nilai agama Islam

a. Faktor yang mempengaruhi atau pendukung dalam menanamkan nilai

agama pada anak


41

b. Faktor yang menghambat dalam menanamkan nilai agama pada anak


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian dan Pendekatan

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian

kualitatif, karena penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk

mendiskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap,

kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok.48

Penelitian kualitatif ini bersifat deskriptif yaitu mendiskripsikan suatu objek,

fenomena, atau latar sosial sasaran penelitian terejawantah dalam tulisan naratif.

Artinya data maupun fakta yang telah dihimpun oleh peneliti kualitatif berbentuk

kata atau gambar. Dalam menuangkan suatu tulisan, laporan penelitian kualitatif

berisi kutipan-kutipan dari data atau dari fakta yang telah diungkap dilokasi

penelitian untuk selanjutnya peneliti memberikan ilustrasi yang utuh dan untuk

memberikan dukungan terhadap apa yang disajikan.49

Berdasarkan karakteristik penelitian kualitatif tersebut diatas, maka

pendekatan penelitian ini termasuk kedalam penelitian kualitatif. Karena dalam

penelitian ini yang menjadi objek penelitiannya adalah manusia, dalam hal ini ibu

single parent. Selain itu didalam penelitian ini lebih fokus kepada proses. 50 Pada

48
Nana syaidoh sukmadinata, Metodologi Penelitian Pendidikan,
(Bandung:Rosdakarya,2007), hlm.60
49
M. Dujaidi Ghony, Metode Penelitian Kualitatif (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012)
hlm. 44-45
50
Iskandar, Metodologi Penelitian Pendidikan Dan Sosial, (Jakarta: Gaung Persada
Perss, 2009), hlm. 191-193

42
penelitian ini, ibu single parent yang menjadi objek penelitian adalah ibu single

parent di Desa Kepayang Kecamatan Kepenuhan Hulu.51

B. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah Desa Kepayang Kecamatan Kepenuhan Hulu

Kabupaten Rokan Hulu. Tempat ini dipilih karena dekat dan mudah dijangkau

oleh peneliti. Selain dekat dan mudah dijangkau oleh peneliti, di Desa Kepayang

ini terdapat ibu-ibu single parent dari yang usianya masih muda hingga yang

sudah tua. Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah para

ibu single parent yang memiliki anak dalam usia pendidikan.

C. Informan Penelitian

Penelitian kualitatif tidak menggunakan populasi, karena penelitian

kualitatif berangkat dari kasus tertentu yang ada pada situasi tertentu dan hasil

kejadiannya tidak akan diberlakukan kepopulasi, tetapi di transferkan ketempat

lain pada situasi yang memiliki kesamaan dengan situasi sosial pada kasus yang

dipelajari. Sampel dalam penelitian kualitatif bukan dinamakan resfonden, tetapi

sebgai narasumber atau partisipan, informan, teman dan guru dalam penelitian.

Sehingga informan dalam penelitian ini yakni 5 orang tua single parent beserat 5

anak yang terdata ada di Desa Kepayang Kecamatan Kepenuhan Hulu

D. Sumber Data

51
Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), Cet. XII,
hal. 234.
Sumber data adalah semua hal yang dapat memberikan informasi

mengenai data. Terdapat dua sumber data dalam penelitian ini yaitu Data primer

dan data sekunder.

1. Data Primer

Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data

kepada pengumpul data. Artinya sumber data penelitian diperoleh secara

langsung dari sumber aslinya yang berupa wawancara, jajak pendapat dari

individu atau kelompok (orang) maupun hasil obersvasi dari suatu objek,

kejadian atau hasil pengujuan (benda). Dengan kata lain, peneliti

membutuhkan pengumpulan data dengan cara menjawab pertanyaan riset

(metode survei) atau penelitin benda (metode observasi). 52 Dalam hal ini

peneliti akan melakukan wawancara dengan single parent.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah sumber yang tidak langsung memberikan data

kepada pengumpul data. Artinya sumber data penelitian diperoleh melalui

media perantara atau secara tidak langsung yang berupa buku catatan, bukti

yang telah ada atau arsip baik yang dipublikasikan maupun yang tidak

dipublikasikan secara umum. Dengan kata lain, peneliti membutuhkan

pengumpulan data dengan cara berkunjung ke Perpustakaan Pusat Kajian,

pusat arsip atau membaca banyak buku yang berhubungan dengan

penelitiannya.53

E. Teknik Pengumpulan Data


52
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:Alfabeta,
2017, hlm. 193
53
Ibid.
1. Observasi

Menurut Suharsimi Arikuntomenyebutkan observasi atau disebut pula

dengan pengamatan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan

pengecap. Menurut Kartono pengertian observasi adalah studi yang disengaja dan

sistematis tentang fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan

pengamatan dan pencatatan.54 Dalam konteks penelitian kualitatif, observasi tidak

untuk menguji kebenaran tetapi untuk mengetahui kebenaran yang berhubungan

dengan aspek/kategori sebagai aspek studi yang dikembangkan peneliti. Observasi

ialah kunjungan ke tempat kegiatan secara langsung, sehingga semua kegiatan

yang sedang berlangsung atau objek yang ada tidak luput dari perhatian dan dapat

dilihat secara nyata. Semua kegiatan, objek, serta kondisi penunjang yang ada

dapat diamati dan dicatat.

Observasi memiliki kelebihan dibandingkan dengan teknik interview.

Apa yang diperoleh lewat interview dari kenyataan di lapangan terpisah jarak dan

waktu, sementara itu melalui observasi peristiwa yang sedang diteliti dapat

terlihat dan terekam langsung. Peneliti bisa atau tidak bisa melakukan kontak atau

komunikasi dengan orang yang perilakunya sedang direkam.55 Adapun yang

menjadi target untuk di observasi dalam penelitian ini adalah pengamatan

terhadap pola asuh orang tua single parent terhadap nilai-nilai Agama Islam di

Desa Kepayang Kecamatan Kepenuhan Hulu.

2. Wawancara

54
Imam Gunawan. Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2016) hlm. 143
55
Djam’anSator, Aan Komariah. Metodologi Penelitian Kualitatif,(Bandung: Alfabeta,
2017) hlm. 106
Menurut Moh. Nasir bahwa interview (wawancara) adalah proses
memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil
bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau
responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan
wawancara). Wawancara dapat digunakan sebagai teknik pengumpulan data
apabila peneliti menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan peneliti
berkeinginan untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan informan lebih
mendalam. Sebagai pegangan peneliti dalam penggunaan metode interview adalah
bahwa subjek adalah informan yang tahu tentang dirinya sendiri, tentang
tindakannya secara ideal yang akan diinformasikan secara benar dan dapat
dipercaya.56

Dengan demikian, mengadakan wawancara atau interview pada prinsipnya

merupakan usaha untuk menggali keterangan yang lebih mendalam dari sebuah

kajian dari sumber yang relevan berupa pendapat,pengalaman dan pikiran.

Adapun yang menjadi target yang akan diwawancara dalam penelitian ini yaitu

pola asuh orang tua single parent terhadap nilai-nilai gama Islam di Desa

Kepayang Kecamatan Kepenuhan Hulu.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan proses sistematis pencarian dan pengaturan


transkripsi wawancara, catatan lapangan, dan materi-materi lain yang telah di
kumpulkan untuk meningkatkan pemahaman peneliti sendiri mengenai materi-
materi tersebut untuk memungkingkan peneliti menyajikan apa yang sudah
peneliti temukan kepada orang lain.

Analisis data itu dilakukan dalam suatu proses. Proses berarti


pelaksanaannya sudah mulai dilakukan sejak pengumpulan data dilakukan dan
56
Moh.Nasir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indo, 1999), hlm. 234
dikerjakan Secara intensif, yaitu sesudah meninggalkan lapangan. Pada penelitian
ini menggunakan teknik analisis deduktif, artinya data yang diperoleh dari
lapangan Secara umum kemudian diuraikan dalam kata-kata yang penarikan
kesimpulannya bersifat khusus.

Ada berbagai cara untuk menganalisis data tetapi secara garis besarnya
dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Reduksi Data

Reduksi data merujuk pada pemilihan, pemfokusan, penyederhanaan,

abstraksi, dan pentransformasian “data mentah” yang terjadi dalam catatan-

catatan lapangan yang tertulis. Sebagaimana kita ketahui, reduksi data terjadi

Secara kontinu, melalui kehidupan suatu proyek yang diorientasikan Secara

kualitatif. Faktanya, bahkan “sebelum” data Secara actual dikumpulkan.

Data-data yang diperoleh selama pengumpulan data, misalnya membuat

ringkasan cat, menulis memo dan lain-lain maka data-data itu perlu direduksi,

yaitu dengan memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan fokus penelitian

kita.Data hasil mengikhtiarkan dan memilah-milah berdasarkan satuan konsep,

tema, dan kategori tertentu akan memberikan gambaran yang lebih tajam tentang

hasil pengamatan juga mempermudah peneliti untuk mencari kembali data

sebagai tambahan atas data sebelumnya yang diperoleh jika diperlukan. Tujuan

utama dalam penelitian kualitatif adalah pada temuan. Oleh karena itu, kalau

peneliti dalam melakukan penelitianmenemukan segala sesuatu yang dipandang

asing, tidak dikenal, belum memiliki pola, justru itulah yang harus dijadikan

perhatian peneliti dalam melakukan reduksi data.

2. Penyajian Data
Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberi

kemungkinan untuk menarik kesimpulan dan pengambilan tindakan. Bentuk

penyajiannya antara lain, berupa teks naratif, matriks, grafik, jaringan, dan bagan.

Tujuannya adalah untuk memudahkan membaca dan menarik kesimpulan. Oleh

karena itu, sajiannya harus tertata Secara apik. Penyajian data merupakan bagian

dari analisis, bahkan mencapai pula redusi data.

Dalam proses ini peneliti mengelompokkan hal-hal yang serupa menjadi

kategori atau kelompok satu, kelompok dua, kelompok tiga, dan seterusnya.

Masing- masing kelompok tersebut menunjukkan tipologi yang ada sesuai dengan

rumusan masalahnya. Masing-masing tipologi terdiri atas sub-sub tipologi yang

biasa jadi merupakan urutan-urutan atau perioritas kejadian. Dalam tahap ini

peneliti juga melakukan display (penyajian) data Secara sistematik, agar lebih

mudah untuk dipahami interaksi antara bagian-bagiannya dalam konteks yang

utuh bukan segmental atau fragmental terlepas satu dengan lainnya. Dalam proses

ini, data diklasifikasikan berdasarkan tema-tema itu.

3. Penarikan Keputusan dan Verifikasi

Analisa kualitatif ini diperoleh dengan cara data yang ada dari lapangan

dirinci menjadi sebuah kalimat-kalimat, sehingga dapat ditarik kesimpulan yang

jelas. Dalam proses analisis data ini penulis dapat menarik kesimpulan sesuai

dengan sudut kepentingan dalam pembahasan skripsi ini dan akhirnya ditarik

kesimpulan Secara menyeluruh dari keseluruhan pembahasan disertai dengan

saran-saran dan data-data yang diperoleh dari lapangan.


Penarikan kesimpulan hanyalah sebagian dari satu kegiatan dari konfigurasi

yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga di verifikasi selama penelitian

berlangsung. Makna-makna yang muncul dari data harus diuji kebenaran dan

kesesuaiannya sehingga validitasnya terjamin. Dalam tahap ini, peneliti membuat

rumusan proposisi yang terkait dengan prinsip logika, mengangkatnya sebagai

temuan penelitian, kemudian dilanjutkan dengan mengkaji Secara berulang-ulang

terhadap data yang ada, pengelompokkan data yang telah terbentuk, dan proposisi

yang telah dirumuskan. Langkah selanjutnya yaitu melaporkan hasil penelitian

lengkap, dengan temuan baru yang berbeda dari temuan yang sudah ada.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Muhamad Abdul Qadir. 2008. Metodologi Pengajaran Agama Islam


Jakarta: Rineka Cipta,

Ali, Mohammad Daud. 2013. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Rajawali Pers

Alim, Muhammad. 2011. Pendidikan Agama Islam, Bandung: Remaja Rosdakary

Andy, Mappiare. 1993. Psikologi Orang Dewasa, Surabaya: Usaha Nasional

Arikunto, Suharsimi. 2013. Manajemen Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta,

Baharuddin, Mulyono, 2011. Psikologi Agama,. Malang, Departemen Agama


Universitas Islam Negeri (UIN) Malang

Departemen Pendidikan Nasional, 2014. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat


Bahasa Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,

Departemen Agama RI. 2014. Alqur’an dan Tafsiranya, (Q.S Al-Luqman 31:13),
Surabaya: Halim Publishing dan Distributin
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia
Jakarta: Balai Pustaka

Djam’an, Sator, Aan Komariah.2017. Metodologi Penelitian Kualitatif,Bandung:


Alfabeta,

Darajat, Zakiyah. 1995. Pendidikan Islam Dalam Keluarga Dan Sekolah.


Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Ghony, Dujaidi. 2012. Metode Penelitian Kualitatif. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,

Gunawan, Imam. 2016. Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik. Jakarta:
Bumi Aksara,

Hornby. 2000. Oxford Adrameed Learner’s Dictionary of Current English, New


York Oxford University Press.
Ihsan, Fuad. 2008. Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Iskandar. 2009. Metode Penelitian Pendidikan dan sosial. Jakarta: Gaung
Persada Press
41

Jamari, 2016. Peranan Keluarga Dalam Menanamkan Nilai-niai Pendidikan


Agama Islam Pada Anak, Jurnal Darussalam, Pendidikan Komunikasi dan
Pendidikan Hukum Islam, Vol. VII, Nomor 2:405-425. April 2016. ISSN
1978-4767)
Junaedi, Mahfud. 2009. Kyai Bisri Mustofa, Pendidikan Keluarga Berbasis
Pesantren. Semarang: Walisongo Press.

Kohn, Alfie. 2006. Jangan Pukul Aku Paradigma Baru Pola Pengasuhan Anak.
Bandung: Mizan Learning Center

Muhaimin, 1993. Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: Trigenda Karya,

Maurice, Balcon. 1996. Menjadi Orang Tua yang Baik, Jakarta: Bumi Aksara,

Mansur, M.A, 2005. Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar

Nufus, Hayati dan La Adu, 2020. Pola Asuh Berbasis Qalbu dan Perkembangan
Belajar Anak.Ambon: LP2M IAIN Ambon,

Nasir, Moh. 1999. Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indo

Rachman, M Fauzi. 2014. Islamic Teen Parenting Usia Tamyiz dan Baligh (7-15
Tahun), Jakarta: Erlangga

Rahayu, Sitti. 2017. Peran Orang Tua Terhadap Pendidikan Moral Remaja, IAIN
Surakarta

Saleh, Fauzi. 2017. Konsep Pendidikan Dalam Islam, Aceh: Yayasan Pena Banda
Aceh Anggota IKAPI Banda Aceh

Saebani, dkk, 2010. Ilmu Akhlak. Bandung: Pustaka Setia

Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D.


Bandung:Alfabeta,

Safrony, M. Ladzi. 2013. Al-Ghazali Berbicara tentang Pendidikan Islam.


Yogyakarta: Aditya Media Publishing,

Sukmadinata, Nana syaidoh. 2007. Metodologi Penelitian Pendidikan,


Bandung:Rosdakarya

Sahlan, Asmaun. 2010. Meujudkan Budaya Religius di Sekolah, Malang: UIN


Maliki Press

4141414141414141414141414141
42

Sobur, Alex. 1987. Pembinaan Anak dalam Keluarga. Jakarta: Gunung Mulia,

Surya, M, 2003. Bina Keluarga, Semarang: Aneka Ilmu

Sunarty, Kustiah. Editor Alimuddin Mahmud, 2015. Pola Asuh Orang Tua dan
Kemandirian Anak, Makasar: Edukasi Mitra Grafik

Sujiono, Bambang dan Yuliani Nuraini. 2005. Mencerdaskan Perilaku Anak Usia
Dini Jakarta: PT Elex Media Komputindo

Shochib, Muh. 2000. Pola Asuh Orang Tua. Jakarta: Rineka Cipta

Tim Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Negeri Malang, 2013.
Pendidikan Islam Transformatif: Menuju Pengembangan Pribadi
Berkarakter Malang: Gunung Samudera

Trikomo, Y. Argo. 1999. Pemulung Jalanan, Yogyakarta: Media Presindo

Thaha, M. Chabib. 2000. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: Rineka Cipt

Walgito, Bimo. 2004. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Yogyakarta. Andi

Widodo, Mifid. 2013. Peran Single Mother dalam Mengembangkan Moralitas


Anak Dikelurahan Wonokromo Kecamatan Wonokromo Surabaya, Jurnal
Kajian Moral dan Kewarganegaraan. Vol. 1, Nomor 1, 2013

Wiyani, Novan Ardy. 2013. Pendidikan Agama Islam Berbasis Pendidikan


Karakter. Bandung: Alfabeta

Zahrotul, Layliyah. 2013. Perjuangan Hidup Single Parent’’, dalam Jurnal


Sosiologi Islam, Vol. 3, No. 1, April 2013

4242424242424242424242424242
43

Lampiran 1

INSTRUMEN PENELITIAN

POLA ASUH ORANG TUA SINGLE PARENT TERHADAP NILAI-


NILAI AGAMA ISLAM DI DESA KEPAYANG
KECAMATAN KEPENUHAN HULU

Disusun Oleh:

SOFYAN
NIM: 01281.111.17.2019

DOSEN PEMBIMBING
Duwi Restina, M.Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM TUANKU TAMBUSAI
ROKAN HULU
1444 H/2023 M

4343434343434343434343434343
44

PEDOMAN WAWANCARA

Hari/Tanggal :
Informan : Orang Tua /Singel Parent (…………………)
Usia :
No Aspek yang diwawancara Hasil Wawancara

Guru tahsin

1 Penerapan pola asuh single


parent dalam membiasakan
nilai-nilai agama Islam

Jenis pola asuh apa yang


bapak/ibu terapkan kepada
anak?

Bagaimana gambaran pola


asuh yang diterapkan
tersebut?

Jenis pola asuh otoriter,


demokratis dan permisif

a. Bagaimana penerapan
pola asuh ini yang
bapak/ibu lakukan
b. Bagaimana sikap
bapak/ibu ketika anak
melanggar aturan?
c. Bagaimana sikap
bapak/ibu dalam
mengajarkan nilai-nilai
agama Islam pada anak
dengan pola asuh ini?
2 faktor-faktor yang
mempengaruhi dan
menghambat pola asuh oleh
single parent dalam
membiasakan nilai-nilai
agama Islam

4444444444444444444444444444
45

a. Faktor apa yang


mempengaruhi
bapak/ibu dalam
mengasuh anak dengan
membiasakan nilai-
nilai agama Islam?
b. Faktor apa yang
menghambat bapak/ibu
dalam mengasuh anak
dengan membiasakan
nilai-nilai agama
Islam?

4545454545454545454545454545
46

Hari/Tanggal :
Informan : anak (…………….)

No Aspek yang diwawancara Hasil Wawancara


dan Indikator
Santri

1 Menurut anda bagaimmana


pengasuhan yang dilakukan
oleh orang tua?

2 Bagaimana sikap orang tua


anda ketika anda
melakukan kesalahan atau
melanggar aturan yang
diberlakukan?

3 Bagaimana perasaaan anda


dibesarkan oleh orang tua
hanya 1 orang?

4 Bagaimana anda menyikapi


yang diajarkan oleh orang
tua terkait penanaman nilai
agama Islam dirumah?

4646464646464646464646464646
47

Lampiran 2
INFORMAN SINGEL PARENT

1. Orang Tua Singel Parent

Nama : Rosita

Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 37 Tahun

Status Parents : Suami Meninggal

2. Orang Tua Singel Parent

Nama : Ahmad Zaidi

Usia : 40 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Status Parents : Istri Meninggal

3. Orang Tua Singel Parent

Nama : Ratna

Usia : 44 Tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Status Parents : Suami Meninggal

4. Orang Tua Singel Parent

Nama : Masitoh

Usia : 37 Tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

4747474747474747474747474747
48

Status Parents : Suami Meninggal

5. Orang Tua Singel Parent

Nama : Dendi

Usia : 37 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Status Parents : Bercerai

4848484848484848484848484848
49

Lampiran 2
INFORMAN ANAK SINGEL PARENT

1. Anak Singel Parent

Nama : Tika Nandita

Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 15 Tahun l

2. Anak Singel Parent

Nama : Anita Khoir Salamah

Usia : 16 tahun

Jenis Kelamin :Perempuan

3. Anak Singel Parent

Nama : Randi

Usia : 12 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

4. Anak Singel Parent

Nama : Imam Zahid

Usia : 14 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

5. Anak Singel Parent

Nama : Ruannsyah

4949494949494949494949494949
50

Usia : 11 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

5050505050505050505050505050

Anda mungkin juga menyukai