Pola Asuh Single Parent dan Nilai Islam
Pola Asuh Single Parent dan Nilai Islam
SKRIPSI
Oleh:
SUMARNI
NIM.01280.111.17.2019
i
PASIR PANGARAIAN
1444 H/2023 M
ii
KATA PENGANTAR
ii
S.M. (Abang) Sahrul Afandi (Adik) Jainap (Adik), dan seluruh kelurga besar
penulis yang berada di desa kepayang. Semoga diberi Kesehatan dan Panjang
umur agar selalu menemani setiap langkahku yang dengan kebesaran hatinya
memberikan doa, nasihat, dukungan, cinta, dan kasih sayang serta
pengorbanan baik secara materil, finansial, maupun spiritual kepada penulis.
2. Ibu Hidayati, S. Kom., M. Pd. I selaku Ketua STAI Tuanku Tambusai Pasir
Pengaraia. Ibu Ayu Mentari Mutmainnah, M. Pd. Selaku Ketua Program
Studi Pendidikan Agama Islam di STAI Tuanku Tambusai Pasir Pengaraian.
3. Ibu Dwi Restiana, M. Pd Selaku Ketua LPM STAI Tuanku Tambusai Pasir
Pengaraian.
4. Bapak Kaliandra Saputra Pulungan, M. H Selaku Ketua LPPM STAI Tuanku
Tambusai Pasir Pengaraian.
5. Bapak dan Ibu Dosen beserta Staff yang telah mencurahkan ilmunya kepada
penulis selama melaksanakan perkuliahan di STAI Tuanku Tambusai Pasir
Pengaraian.
6. Teman-teman seperjuangan, terkhusus kepada kawan kawan Program Studi
Pendidikan Agama Islam, penulis ucapkan terima kasih atas dukungannya
sehingga Proposal skripsi ini selesai.
Ini merupakan karya tulis pertama penulis dalam dunia akademis
semoga banyak manfaatnya dan terlahir kelak karya penulis berikutnya pada
bidang akademis. Aamiin. Akhir kata, penulis berharap semoga semua yang
telah dilakukan menjadi amal sholeh dan mendapatkan balasan dari Allah
SWT. Dan semoga Skripsi ini kiranya bermanfaat bagi penulis sendiri
khususnya, dan para pembaca pada umumnya.
Aamiin ,Aamiin, Aamiun Ya Robbal ‘ Alamiin.
SUMARNI
NIM: 01280.111.17.2019
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................ii
DAFTAR ISI......................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN........................................................................
A. Latar Belakang Masalah..........................................................1
B. Penegasan Istilah.....................................................................5
C. Batasan Masalah .....................................................................6
D. Rumusan Masalah ...................................................................6
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian................................................7
F. Sitematika Penulisan................................................................8
DAFTAR PUSTAKA
iv
BAB I
PENDAHULUAN
dewasa. Bentuk dan isi serta cara-cara pendidikan di dalam keluarga akan selalu
tiap-tiap manusia.1
keagamaan, karena agama merupakan besik bagi anak-anak sebagai bekal untuk
bagi anak-anak, oleh karena itu diharapkan agar pendidikan Islam selalu berperan
masyarakat.3 Sebagaimana yang telah digambarkan Allah SWT dalam kitab suci
1
Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008). Cet. Ke-5 hlm.
57
2
Jamari, “Peranan Keluarga Dalam Menanamkan Nilai-niai Pendidikan Agama Islam
Pada Anak”, Jurnal Darussalam, Pendidikan Komunikasi dan Pendidikan Hukum Islam, Vol. VII,
Nomor 2:405-425. April 2016. ISSN 1978-4767), hlm. 407.
3
M Fauzi Rachman, Islamic Teen Parenting Usia Tamyiz dan Baligh (7-15 Tahun),
(Jakarta: Erlangga, 2014), hlm. 6.
1
2
lingkup keluarga, yang dimana orang tua memegang peranan yang penting dan
pendidikan utama dan pertama bagi anak-anak mereka karena dari merekalah
agar berakhlak yang baik sesuai dengan ajaran Islam. Di sinilah kedudukan orang
tua sebagai kontrol dan mereka harus jeli terhadap adanya pengaruh buruk yang
pendidikan yang diperolah dalam keluarga, sebab pada dasarnya anak memiliki
pembawaan yang baik, tetapi tidak didukung dengan lingkungan yang baik, maka
4
Zakiah Daradjat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2006), hlm.
35.
3
keberadaan orang tua tunggal atau lazim disebut dengan istilah “Single Parent”.
Sebuah keluarga yang hanya memiliki orang tua tunggal dapat memicu
serangkaian masalah khusus. Hal ini disebabkan karena hanya ada satu orang tua
kekhawatiran yang mana orang tua tunggal tersebut harus bekerja sekaligus
ibu. Ibu tersebut harus bisa memenuhi kebutuhan kasih sayang dan juga
keuangan. Ibu tersebut harus bisa berperan sebagai seorang ayah yang telah
meninggal.
membentuk perilaku diluar nilai-nilai yang diajarkan oleh orang tuanya. Namun,
tidak semua anak mendapat pengasuhan secara utuh dari orang tua, ada yang
cuma diasuh oleh ayah atau ibu saja, yang sering dikenal dengan istilah orang tua
singleparent.seorang ibu atau ayah tunggal dalam keluarga akan berperan ganda,
Hal ini memberikan konsekuensi kepada orang tua single parent untuk mencukupi
kebutuhan keluarganya, sehingga dia harus bisa membagi waktu antara bekerja
dengan waktu untuk mengasuh anak, sehingga anak tidak merasa ditelantarkan.5
5
Mifid Widodo, “Peran Single Mother dalam Mengembangkan Moralitas Anak
Dikelurahan Wonokromo Kecamatan Wonokromo Surabaya”, Jurnal Kajian Moral dan
Kewarganegaraan. Vol. 1, Nomor 1, 2013, hlm. 11.
4
Peneliti mengamati bahwa anak yang mempunyai orang tua single parent
lebih cendrung pendiam, keras, susah diatur, namun ada pula anak yang
dibesarkan dalam keluarga yang tidak utuh atau single parent menjadi seorang
anak yangberprilaku sopan, dan penurut.6 Dalam kondisi seperti ini pasti ada
Kepenuhan Hulu adalah sebagian besar single parent maupun orang tua
agama akibatnya anak kurang dalam wawasan agama, kurang mendapat perhatian,
kasih sayang, bimbingan dari orang tua. Ketika di asuh oleh orang tua single
perilaku menyimpang, seperti suka membantah dan melawan orang tua, sering
sosial terkecil yang memiliki peran yang sangat besar untuk mendidik dan
agar anak menjadi anak yang sholih/sholihah karena hubungan antara orangtua
dengan anak adalah hubungan yang hakiki secara psikologis maupun mental
melakukan penelitian dengan judul “Pola Asuh Orang Tua Single Parent
6
Observasi, Desa Kepayang 7 Agustus 2022
5
Hulu”.
B. Penegasan Istilah
model, cara atau bentuk yang digunakan untuk diterapkan untuk individu.7
Sedangkan kata asuh berarti menjaga, merawat dan mendidik anak kecil.
Jadi, pola asuh adalah cara atau model seseorang dalam membimbing dan
2. Single Parent
Single parent atau orang tua tunggal adalah orang tua dalam keluarga yang
tinggal sendiri yaitu ayah saja atau ibu saja. Orang tua tunggal dapat terjadi
dunia.Kejadian ini dapat menimpa siapa saja baik muda maupun tua dalam
sebagai suatu identitas yang memberikan corak yang khusus kepada pola
muncul dan terbentuk. Nilai-nilai Agama Islam adalah sejumlah tata aturan
yang menjadi pedoman manusia agar dalam setiap tingkah lakunya sesuai
C. Batasan Masalah
yang akan dibahas mengingat keterbatasan kemampuan, waktu dan biaya, maka
2. Penelitian hanya mengarah pada para single parent yang anaknya masih
D. Rumusan Masalah
asuh oleh single parent dalam membiasakan nilai-nilai agama Islam pada
1. Tujuan Penelitian
Hulu.
asuh oleh single parent dalam membiasakan nilai-nilai agama Islam pada
2. Manfaat Penelitian
keilmuan dan sebagai sumbangan pemikiran dan bahan masukan dalam rangka
d. Bagi peneliti
latihan dan pengembangan teknik – teknik yang baik, khususnya dalam membuat
karya tulis ilmiah, juga sebagai kontribusi nyata bagi dunia pendidikan.
F. Sistematika Penulisan
BAB II : Pada bab ini menjelaskan tentang Kajian teori variabel yang
BAB III : Pada bab ini menjelaskan tentang Jenis dan Pendekatan
Pembahasan.
9
BAB V : Pada bab ini menjelaskan penutup yang berisikan Kesimpulan dan
Saran
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Pola Asuh
a. Pengertian Pola Asuh
Istilah pola asuh berasal dari kata pola dan asuh. Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia, pola artinya sistem, cara kerja, sedangkan asuh artinya
bimbing, pimpin.10 Sehingga pola asuh bisa diartikan cara membimbing atau
memimpin anak.
yang dikutip oleh M. Chabib Thaha mendefinisikan pola asuh adalah sikap orang
tua dalam berhubungan dengan anak-anaknya. Sikap ini dapat dilihat dalam
berbagai segi antara lain dari cara orang tua memberikan hadiah dan hukuman,
cara orang tua memberikan otoritas dan cara orang tua memberikan perhatian dan
Pola asuh terdiri dari dua kata; pola dan asuh. Pola berarti sistem atau
cara kerja dan asuh berarti menjaga (merawat dan mendidik); membimbing
(membantu, melatih, dan sebagainya) supaya dapat berdiri sendiri. Bila kedua
10
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa
(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2014), hlm. 1088.
11
M. Chabib Thaha, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Jakarta: Rineka Cipta, 2000),
hlm. 109.
10
kata tersebut digabungkan maka pola asuh berarti sistem atau cara dalam
tua dalam memberikan pengarahan dan asuhan terhadap anaknya untuk tidak
Kyai adalah orang tua santri ketika mereka berada di Pondok Pesantren.
Sedangkan menurut M. Sochib, pola asuh adalah upaya orang tua (kyai) yang
12
Depdikbud. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), hlm 885
13
M. Shochib, Pola Asuh Orang Tua (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm. 15.
11
2) Pengasuhan tidak bersyarat atau cinta tidak bersyarat, yaitu cinta ini tidak
Mengasuh atau mendidik anak adalah tugas yang paling mulia yang
pernah diamanatkan Tuhan kepada para orang tua. Orang tua tidaklah cukup
intensif, baik melalui pendidikan formal (sekolah) maupun pendidikan non formal
(keluarga). Melalui sarana pendidikan ini orang tua dapat memberikan pengaruh
dalam pembentukan pribadi anak dan watak yang akan dibawanya hingga dewasa
nanti.15
tua. Orang tua adalah pendidik utama dalam lingkungan keluarga, Terlebih lagi
ibu yang lebih dekat dengan anaknya dan mengetahui perkembangan fisik dan
psikis anak secara mendalam. Hal ini sangat berguna untuk menentukan materi
dan metode pembinaan yang sesuai diberikan kepada anaknya. Demikian pula
islam memerintahkan agar para orang tua berlaku sebagai pemimpin dalam
14
Alfie Kohn, Jangan Pukul Aku Paradigma Baru Pola Pengasuhan Anak (Bandung:
Mizan Learning Center (MLC), 2006), hlm. 15.
15
Alex Sobur, Pembinaan Anak dalam Keluarga (Jakarta: Gunung Mulia, 1987), hlm.
01.
12
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari
api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan.
dewasa. Hal ini dapat dimaklumi bahwa betapa besarnya jika orang tua
menciptakan suasana rumah yang harmonis, karena jika terdapat jurang pemisah
antara salah satu anggota keluarga, maka sulit bagi ibu untuk menerapkan
keberhasilan pembinaan anak, sebab keluarga yang kurang harmonis akan sulit
yang dikenal oleh anak, maka orang tua dapat memberikan pendidikan kepada
anak dalam segala aspek kehidupan. Baik itu aspek sosial, pembinaan akhlak,
ibadah dan sebagainya. Hal ini menunjukkan orang tua rumah tangga sebagai
pembina utama dalam lingkungan keluarga dan sejalan dengan apa yang
anggota keluarga, seperti pangan, sandang, papan dan pendidikan. Orang tua
anaknya. Anak sebagai amanat Allah yang wajib dididik dengan penuh
agama, kepribadian kuat dan mandiri, berperilaku ihsan serta intelektual yang
berkembang secara optimal. Untuk mewujudkan hal itu ada berbagai cara dalam
Menurut ada tiga jenis pola asuh orang tua yang sering digunakan yakni:
1) Pola asuh otoriter yaitu pola asuh yang cenderung membatasi, bersifat
16
Fauzi Saleh, Konsep Pendidikan Dalam Islam, (Aceh: Yayasan Pena Banda Aceh
Anggota IKAPI Banda Aceh, 2017), hlm. 2-4
17
Mansur, M.A, Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2005), hlm. 53.
18
Kustiah Sunarty, Editor Alimuddin Mahmud, Pola Asuh Orang Tua dan Kemandirian
Anak, (Makasar: Edukasi Mitra Grafika, 2015) hal 26
14
orang tua memegang kendali penuh dalam mengontrol anak, dan hanya
menjadi pendorong bagi anak untuk berperilaku agresif. Orang tua tidak
apa yang harus dilakukan anak, tanpa menjelaskan mengapa anak harus
seperti tidak boleh bermain di luar rumah. Pola asuh otoriter ini dapat
menjadi dua yaitu neglectful parenting dan indulgent parenting. Pola asuh
neglectful yaitu bila orang tua sangat tidak peduli dan tidak mau terlibat
dalam kehidupan anak. Pola asuh seperti ini akan menghasilkan anak yang
yaitu bila orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anak, namun hanya
memberikan kontrol dan tuntutan yang sangat minim atau selalu menuruti
19
Hayati Nufus dan La Adu, Pola Asuh Berbasis Qalbu dan Perkembangan Belajar
Anak.(Ambon: LP2M IAIN Ambon, 2020) hal 19
15
3) Pola asuh demokratis yaitu pola asuh yang memberikan dorongan pada
anak untuk mandiri namun tetap menerapkan berbagai batasan yang akan
mengontrol perilaku anak. Orang tua dan anak saling memberi, saling
bertingkah laku, ada hukuman dan ganjaran untuk perilaku yang tidak
sesuai. Dengan kata lain pengasuhan anak denga tipe ini akan menjadikan
adanya komunikasi yang dialogis antara anak dan orang tua. Anak yang
diasuh dengan tipe ini akan memiliki sikap mandiri, memiki kepercayaan
diri, imajinatif, mudah beradaptasi dan disukai banyak orang dan memiliki
Ada tiga jenis pola asuh orang tua terhadap anaknya, yaitu:
1) Pola asuh otoriter Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang ditandai dengan
anak untuk berperilsku seperti orang tua, kebebasan untuk bertindak atas
nama diri sendiri dibatasi. Anak jarang diajak berkomunikasi dan diajak
ngobrol, bercerita-cerita, bertukar pikiran dengan orang tua, orang tua malah
menganggap bahwa semua sikapnya yang dilakukan itu dianggap sudah benar
sehingga tidak perlu anak dimintai pertimbangan atas semua keputusan yang
20
Mahfud Junaidi, Kiai Bisri Mustofa: Pendidikan Keluarga Berbasis Pesantren
(Semarang: Walisanga Press, 2009 ), hlm. 54.
16
2) Pola asuh demokratis Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang ditandai
dengan adanya pengakuan orang tua terhadap kemampuan anak, anak diberi
kesempatan untuk tidak selalu tergantung kepada orang tua. Orang tua sedikit
memberi kebebasan kepada anak untuk memilih apa yang terbaik bagi
terutama yang menyangkut tentang kehidupan anak itu sendiri. Anak diberi
hidupnya.21
ketat dan keterlibatan penuh dari orang tua. Orang tua semacam ini
adalah orang tua yang keras dalam arti yang tradisional dan kuno;
permisif adalah orang tua yang hangat, suka merawat dan terlibat
21
Ibid, hlm. 335.
22
Bambang Sujiono dan Yuliani Nuraini. Mencerdaskan Perilaku Anak Usia Dini
(Jakarta: PT Elex Media Komputindo,2005) hlm 106
17
menghukum anak.
3) Tak pedulian-tak terlibat. Suatu gaya dimana orang tua sedikit sekali
seseorang (lebih tertuju kepada sikap kontrol orang tua terhadap anak) dalam
berpendapat bahwa ada tiga macam sikap sebagai cara kontrol orang tua terhadap
anak yaitu:23
a) Otoriter, ciri-ciri: orang tua menentukan apa yang diperbuat anak, tanpa
anak, pada umumnya hukuman berupa hukuman badan, orang tua tidak atau
jarang memberikan hadiah baik yang berupa kata-kata maupun bentuk lain
pelanggarannya, hadiah dan pujian diberikan oleh orang tua untuk perilaku
yang diharapkan.
c) Permisif, ciri-ciri: tidak ada aturan yang diberikan oleh orang tua bahwa anak
diperkenankan berbuat sesuai dengan apa yang dipikirkan anak, tidak ada
hukuman karena tidak ada ketentuan atau peraturan yang dilanggar, ada
anggapan bahwa anak akan belajar dari akibat tindakannya yang salah, tidak
ada hadiah karena sosial approval akan merupakan hadiah yang memuaskan
Namun, menurut Prof. Dr. Abdul Azizi El Qussy, tidak semua orang tua
harus mentolelir terhadap anak, dalam hal-hal tertentu orang tua perlu ikut campur
tangan,24 misalnya:
b) Hal-hal yang terlarang bagi anak dan tidak tampak alasan-alasan yang
lahir.
3) Pola asuh permissive Pola asuh ini adalah pola asuh dengan cara orang tua
mendidik anak secara bebas, anak dianggap orang dewasa atau muda, ia
tua terhadap anak sangat lemah, juga tidak memberikan bimbingan kepada
24
M. Chabib Thaha, Kapita Selekta Pendidikan Islam … hlm. 112.
19
anaknya. Semua apa yang dilakukan oleh anak adalah benar dan tidak perlu
dewasa yang sudah matang pemikirannya, tetapi tidak sesuai jika diberikan
banyak hal yang harus disampaikan secara bijaksana. 25 Oleh karena itu dalam
keluarga orang tua harus merealisasikan peranan atau tanggung jawab dalam
mendidik anaknya.
2. Single Parent
Single parent berasal dari bahasa Inggris yang terdiri dari dua kata yaitu
single (sendiri/tungggal) dan parent (orang tua). Jadi kata single parent memiliki
arti orang tua tunggal/sendiri. Single parent adalah orang tua yang tinggal dalam
rumah tangga yang sendirian saja, bisa ibu atau bapak saja. Hal ini bisa
merupakan suatu kondisi dimana orang tua tunggal merawat dan membesarkan
anaknya sendiri tanpa kehadiran salah satu orang tua baik ayah ataupun ibunya.26
berbagai negara. Pada tahun 2003, di Australia terdapat 14% keluarga dari
Inggris pada tahun 2005 terdapat 1,9 juta single parent dan 91% dari angka
25
Ibid.
26
Mappiare Andy, Psikologi Orang Dewasa, (Surabaya: Usaha Nasional, 1993), 211.
20
Islam Depag, ‟ Setiap tahun ada dua juta perkawinan akan tetapi data single
parent bertambah menjadi dua kali lipat, yaitu setiap 100 orang yang menikah 10
Tidak hanya kota saja, melainkan desa pun juga banyak kejadian yang seperti ini.
fenomena menjadi orang tua tunggal maka semakin banyak pula lah deskripsi
berikut:
karena istri atau suami mereka meninggal dunia atau sudah berpisah
cerai.27
b. Zahrotul Layliyah Secara umum, adalah orang tua tunggal yang mengasuh
itu pihak suami maupun pihak istri. Single parent memiliki kewajiban
27
Balcon Maurice, Menjadi Orang Tua yang Baik, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm.
87
21
yang memiliki ayah dan ibu. Single parent dapat terjadi akibat perceraian,
Orang tua sebagai single parent harus menjalankan peran ganda untuk
dengan baik antara pekerjaan domestik dan publik. Orang tua yang statusnya
sebagai single parent harus mencari uang untuk menafkahi keluarganya dan juga
Keluarga dengan single parent adalah keluarga yang hanya terdiri dari satu
orang tua yang di mana mereka secara sendirian membesarkan anakanaknya tanpa
single parent merupakan keluarga yang hanya terdiri dari satu orang tua yang
kematian dan menjadi tenaga kerja ke luar negeri hingga bertahun-tahun lamanya.
Hidup sebagai single parent pada dasarnya tidak pernah diharapkan oleh siapapun.
Keluarga yang utuh dengan figur seorang ayah yang menjadi pelindung atau
menjadi impian.
28
Layliyah Zahrotul, „‟Perjuangan Hidup Single Parent’’, dalam Jurnal Sosiologi
Islam, Vol. 3, No. 1, April 2013, hlm. 91
22
a. Single Parent Mother, yaitu ibu sebagai orang tua tunggal yang harus
b. Single parent father, yaitu ayah sebagai orang tua tunggal harus
Jadi, keluarga single parent adalah keluarga yang dipimpin oleh satu
pemimpin saja. Entah itu ayah maupun ibu yang disebabkan karena perceraian,
meninggal dunia dan pergantian fungsi dari masing-masing orang tua itu sendiri.
Lain dari pada itu, lingkungan cara single parent dibesarkan juga sebagai
salah satu faktor penentu yang dapat mempengaruhi pola asuh single parent.
Karena setiap individu akan secara alami merespon pengalaman masa lalu sebagai
bagian dari karakter yang akan dibawanya hingga dewasa. Sehingga anak yang
dibesarkan dengan pola asuh ini, kemungkinan besar juga akan menerapkan pola
a. Pengertian Nilai-nilai
sebagai suatu identitas yang memberikan corak yang khusus kepada pola pikiran,
29
Santrock, Perkembangan Masa Hidup, (Jakarta: Erlangga, 1995), hlm. 243
23
perasaan, keterkaitan maupun perilaku. Namun akan berbeda jika nilai itu
dikaitkan dengan agama, karena nilai sangat erat kaitannya dengan perilaku dan
1) Dalam Kamus Bahasa Indonesia Nilai adalah sifat-sifat atau hal-hal yang
2) Menurut Drs. KH. Muslim Nurdin dkk Nilai adalah suatu perangkat
3) Nilai adalah suatu seperangkat keyakinan atau perasaan yang diyakini sebagai
suatu identitas yang memberikan corak yang khusus kepada pola pemikiran,
4) Seperti yang disampaikan Noor Syalimi bahwa nilai adalah suatu penetapan
atau suatu kualitas obyek yang menyangkut suatu jenis apresiasi atau minat.
Selain itu, menurut Scope juga mendefinisikan tentang nilai bahwa nilai
Dari uraian di atas jelaslah bahwa nilai merupakan suatu konsep yang
identitas umum yang oleh karenanya menjadi syariat umum dan akan tercermin
30
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai
Pustaka, 2008). Hal 183
24
Menurut Harun Nasution, Agama juga berasal dari kata, yaitu Al-Din,
hukum. Kemudian dalam bahasa arab, kata ini mengandung arti menguasai,
dari bahasa sansekerta terdiri dari: “A” = tidak,” Gam “ = pergi, sedangkan kata
akhiran “A”= merupakan sifat yang menguatkan yang kekal. Jadi istilah “ Agam”
atau “Agama” berarti tidak pergi atau tidak berjalan, tetap ditempat atau diwarisi
turun-temurun alias kekal (kekal, eternal). Sehingga pada umumnya kata A-Gam
Secara etimologi, nilai keagamaan berasal dari dua kata yakni: nilai dan
merupakan suatu tipe kepercayaan yang berada pada suatu lingkup sistem
mengenai sesuatu yang dianggap pantas atau tidak pantas. Sedangkan keagamaan
merupakan suatu sikap atau kesadaran yang muncul yang didasarkan atas
penerimaan atas tata aturan dari kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi daripada
31
Baharuddin, Mulyono, Psikologi Agama, (Malang, Departemen Agama Universitas
Islam Negeri (UIN) Malang), hlm. 9
32
Asmaun Sahlan, Meujudkan Budaya Religius di Sekolah, (Malang: UIN Maliki Press,
2010), hlm. 1
25
manusia itu sendiri”. Ali mengartikan bahwa “agama ialah kepercayaan kepada
penyembahan dan permohonan dan membentuk sikap hidup manusia menurut atau
Islam. Kata Islam menurut etimologi berasal dari bahasa Arab yaitu kata salima yang
berarti selamat, sentosa dan damai. Dari asal kata itu terbentuk kata aslama, yuslimu,
islaman, yang berarti memelihara dalam keadaan selamat sentosa, dan berarti juga
menyerahkan diri, tunduk, patuh, dan taat. Jadi pengertian Islam adalah patuh,
tunduk, taat dan berserah diri kepada Tuhan dalam rangka mencari keselamatan hidup
Adapun pengertian agama Islam yang didapat dari kedua definisi istilah
diatas dapat diambil kesimpulan bahwa agama Islam adalah suatu keyakinan yang
umat agar memperoleh kedamaian dan keselamatan dalam kehidupan di dunia dan
di akhirat
Dari segi isi, agama terdiri dari seperangkat ajaran yang merupakan
33
Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hal 40.
34
Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011),
hlm. 9
26
Nilai agama Islam adalah nilai yang sumbernya berasal dari agama
Agama Islam itu sendiri. Sumber hukum tertinggi dalam agama Islam yakni al-
Quran dan sunah Rasul, dimana isi di dalamnya mengajarkan nilai-nilai luhur yang
dibutuhkan manusia. Agama Islam adalah ajaran yang tidak hanya mengatur
kebenaran dan kebaikan. Nilai-nilai agama adalah nilai luhur yang ditransfer dan
diadopsi ke dalam diri. Oleh karena itu, seberapa banyak dan seberapa jauh
muncul dan terbentuk. Jika sikap religius/keagamaan sudah muncul dan terbentuk,
maka nilai- nilai agama akan menjadi pusat nilai dalam menyikapi segala sesuatu
dalam kehidupan.
Dari uraian tersebut dapat diambil pengertian bahwa nilai Agama Islam
adalah sejumlah tata aturan yang menjadi pedoman manusia agar dalam setiap
tingkah lakunya sesuai dengan ajaran Agama Islam sehingga dalam kehidupannya
dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan lahir dan batin dunia dan akhirat.
35
Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011),
hlm. 10
27
yang mengklasifikasikan nilai-nilai agama Islam secara umum dan adapula yang
nilai agama ke dalam dua jenis, yaitu 1) nilai ilahiyah yang terdiri dari nilai
ubudiyah dan mu’amalah, 2) nilai insaniyah, yang terdiri dari nilai rasional, nilai
sosial, nilai individual, nilai biofisik, nilai ekonomi, nilai politik dan nilai
estetika36
ajaran agama Islam adalah aqidah, syariah, dan akhlak. Bagi para pendidik, dalam
hal ini orang tua dan guru perlu membekali anak-anaknya dengan materi-materi
atau pokok-pokok dasar agama Islam sebagai pondasi hidup yang sesuai dengan
arah perkembangan jiwa sang anak. Pokok-pokok nilai-nilai agama Islam yang
1) Nilai Aqidah
Secara bahasa, aqidah berasal dari kata „aqada yang berarti ikatan atau
bertemu dan bersambung secara kokoh”. 37 Aqidah juga berarti janji, janji
36
Sumanjaya, “Internalisasi Nilai-nilai Agama., 25
37
Alim, Ibid, hal 124
28
SWT yang menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya dengan segala
keyakinan dalam hati tentang Allah sebagai Tuhan yang wajib disembah,
ucapan dengan lisan dalam bentuk dua kalimat syahadat, dan perbuatan
dengan amal.
2) Nilai Ibadah
kegiatan yang disukai dan diridhai oleh Allah, baik berupa perkataan atau
secara garis besar terbagi kedalam dua jenis, yaitu ibadah mahdah (ibadah
3) Nilai Akhlak
38
Novan Ardy Wiyani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Pendidikan Karakter
(Bandung: Alfabeta, 2013), 75.
39
Muhamad Abdul Qadir Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam (Jakarta: Rineka
Cipta, 2008), 116.
40
Tim Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Negeri Malang, Pendidikan
Islam Transformatif: Menuju Pengembangan Pribadi Berkarakter (Malang: Gunung Samudera,
2013), 46.
41
Saebani, dkk, Ilmu Akhlak (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hal 15.
29
yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa
kuat dalam jiwa manusia yang mendorong adanya perbuatan baik atau
buruk tanpa memerlukan pemikiran dan dorongan dari luar. Berarti akhlak
jiwanya juga baik, begitu pula sebaliknya, bila akhlaknya buruk maka
manusia, bahkan kebutuhan fitrah karena tanpa landasan spiritual yaitu agama
manusia tidak akan mampu mewujudkan keseimbangan antara dua kekuatan yang
sosial, bahkan tanpa nilai tersebut manusia akan turun ketingkatan kehidupan
hewan yang amat rendah karena agama mengandung unsur kuratif terhadap
1) Nilai Ilahi, yaitu nilai yang dititahkan Tuhan melalui para Rasul-Nya yang
berbentuk taqwa, iman, adil yang diabadikan dalam wahyu Ilahi. Al-Quran
42
M. Ladzi Safrony, Al-Ghazali Berbicara tentang Pendidikan Islam (Yogyakarta:
Aditya Media Publishing, 2013), 124.
30
perubahan, namun secara instrinsiknya tetap tidak berubah. Hal ini karena
bila instrinsik nilai tersebut berubah makna kewahyuan dari sumber nilai
2) Nilai Insani atau duniawi yaitu Nilai yang tumbuh atas kesepakatan
manusia serta hidup dan berkembang dari peradaban manusia. Nilai moral
dan Sunnah. Yang kedua bersumber pada adat istiadat seperti tata cara
bersumber pada kenyataan alam seperti tata cara berpakaian, tata cara
Dari sumber nilai tersebut, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa
setiap tingkah laku manusia haruslah mengandung nilai-nilai Islami yang pada
dasarnya bersumber dari Al-Quran dan Sunnah yang harus senantiasa dicerminkan
oleh setiap manusia dalam tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari dari hal-
hal kecil sampai yang besar sehingga ia akan menjadikan manusia yang
B. Penelitian Relevan
sebagai bahan acuan dalam penelitian ini, sebagaimana dalam kajian pustaka
43
Muhaimin, Pemikiran Pendidikan Islam (Bandung: Trigenda Karya, 1993), hlm. 11
31
dan terdapat juga perbedaan. Adapun yang menjadi kajian pustaka dalam
2011, fokus penelitian ini adalah pola asuh orang tua dalam mendidik agama
anak pada keluarga tukang ojek Kota Semarang. Penelitian ini merupakan
telaah dokumen. 9Hasil pada penelitian ini adalah cenderung memiliki pola
asuh otoriter adalah 20%, dengan ciri-ciri: orangtua memiliki peraturan dan
Letak perbedaan penelitian ini dan penelitian sekarang, pertama, penelitian ini
pola asuh orang tua mendidik agama anak di keluarga tukang ojek. Sedangkan
penelitian yang sekarang meneliti tentang pola asuh orang tua single parent,
religius.44
tahun 2010. Fokus pada penelitian ini adalah pola asuh orang tua dalam
kurangnya kesadaran orang tua akan pendidikan agama pada anak. Sedang pola
asuh yang mereka terapkan adalah cenderung memanjakan anak atau masuk
pada tipe pola asuh permesif. Faktor penyebabnya adalah faktor pendidikan
orang tua, faktor pekerjaan, faktor sosial ekonomi, dan faktor lingkungan
sosial. Letak perbedaan penelitian ini dan penelitian sekarang, pertama, terletak
pada judul. Judul dari penelitian tersebut adalah penelitian ini pola asuh orang
tua dalam mendidik pendidikan agama. Perbedaan yang kedua, lokasi yang
Kedungjati Selopamioro.45
pada anak dalam keluarga single parent. Di sini single parent bersikap
kooperatif terhadap anak yaitu mengajak anak berdialog dan berusaha menjadi
orangtua yang baik bagi anak. Materi yang di gunakan untuk membina
keagamaan pada anak berupa aqidah, ibadah, dan akhlak. Penelitian ini bersifat
harus bersikap kooperatif terhadap anak yaitu mengajak anak berdialog dan
berusaha menjadi orangtua yang baik bagi anak. Dengan ini anak menjadi tau
posisi ibu sebagai single parent. Materi yang digunakan untuk membina
45
Diyah Febriani, “Pola Asuh Orangtua Dalam Membina Pendidikan Agama Islam
Pada Anak”,Skripsi, Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,2010, hlm. 96
33
keagamaan anak meliputi aqidah, ibadah dan akhlak.kesadaran orang tua akan
pendidikan agama pada anak. Sedang pola asuh yang mereka terapkan adalah
cenderung memanjakan anak atau masuk pada tipe pola asuh permesif. Faktor
Fokus pada penelitian ini adalah Pola Asuh Orang Tua Dalam Mendidik
Banyuasin. Peran dan tanggung jawab orang tua sangat dibutuhkan dalam
tidak hanya terlibat dalam perkelahian dan pencurian, tetapi juga terkadang ada
yang tidak baik. Fakta dilapangan menunjukkan beberapa masalah yang timbul
dalam keluarga, misalnya melanggar aturan, tidak patuh, ada juga anak yang
ditemukan pola asuh yang bervariasi dalam setiap keluarga. Dari hasil
46
Mayya Shofiya, “Pembinaan Keagamaan Pada Anak Dalam Keluarga Single
Parent”,Skripsi, Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008,hlm. 115
34
penelitian menunjukkan bahwa Pertama, pola asuh yang diterapkan orang tua
tingkat pendidikan orang tua dan usia anak, masyarakat desa di Margorukun
sebagian besar lebih banyak menggunakan pola asuh demokratis dengan alasan
bahwa pola asuh demokratis sangat cocok untuk mendidik disiplin anak.
asuh orang tua di desa Margorukun yaitu pertama, faktor internal ialah faktor
yang berasal dari dalam keluarga mislanya usia orang tua, keterlibatan orang
tua, kesibukan orang tua. Kedua, faktor eksternal ialah faktor yang berasal dari
televise dan game, serta kultur budaya yang ada di desa Margorukun
5. Cut Srimelia, Fakultas ILmu Sosial dan Politik, 2014. Fokus pada penelitian ini
terdiri dari orang tua tunggal baik ayah maupun ibu sebagai akibat perceraian
atau kematian yang dalam penelitian ini mengangkat perempuan sebagai orang
tua tunggal. Keluarga single parent akan mendapat tugas ganda. Apabila yang
terjadi adalah ketiadaan ayah, peran ibu menjadi bertambah sebagai pencari
47
Amantul Latifah, Pola Asuh Orang Tua Dalam Mendidik Disiplin Anak Di Desaa
Margorukun Kecamatan Muara Sugihan Kabupaten Banyuasin, Fakultas Tarbiyah UIN Raden
Fatah Palembang, 2019.
35
rezeki dan pengasuh anak. Dampak dari kehidupan keluarga single parent
menjadi beban bagi perempuan single parent. Dampak tersebut bukan hanya
karena hilangnya salah satu orang tua, melainkan ditentukan pula oleh faktor
lainnya, seperti status sosial ekonomi orang tuanya dalam kebiasaan dalam
Drien Tujoh Kecamatan Tripa Makmur Kabupaten Nagan Raya selain sebagai
ibu yang mendidik anak dan mengurus masalah dalam rumah tangga, juga
berperan dan mencari nafkah diantaranya bekerja sebagai buruh cuci, penjaga
penjahit, namun ada juga yang hanya bertahan dengan gaji pensiunan suami
keluarga yakni: sedikit waktu untuk istirahat, sulit mengatur keuangan, antara
bayar hutang dan memenuhi kebutuhan keluarga, umur yang tidak muda lagi
luar rumah dan tidak memiliki ketrampilan. Kendala memang dirasakan oleh
perempuan single parent Gampong Drien Tujoh namun sebagai orang tua
agar tidak merasa kurang kasih sayang walaupun hanya memiliki salah satu
Tabel 2.1
Perbedaan Penelitia Terdahulu
Raya Makmur
Kabupaten Nagan
Raya selain
sebagai ibu yang
mendidik anak
dan mengurus
masalah dalam
rumah tangga,
juga berperan dan
mencari nafkah
diantaranya
bekerja sebagai
buruh cuci,
penjaga bayi
(penitipan anak),
pedagang kecil-
kecilan, tukang
parkir, petani,
dan penjahit,
namun ada juga
yang hanya
bertahan dengan
gaji pensiunan
suami karena
tidak memiliki
pekerjaan dengan
alasan tidak
memiliki
ketrampilan
C. Kerangka Berpikir
Pola Asuh
diketahui bahwa penulis akan mengungkapkan tentang Pola Asuh Orang Tua
Kepenuhan Hulu.
D. Fokus Penelitian
memperjelaskan konsep teoritis agar tidak menyimpang dari konsep teoritis, hal
ini sangat diperlukan agar tidak terjadi kesalahan pengertian dalam memahami
tulisan ini sebagaimana yang telah diuraikan diatas. Adapun yang menjadi focus
1. Pola asuh orang tua Singel Perent terhadap nilai agama islam anak
a. Jenis pola asuh yang diterapkan (pola asuh otoriter, demokratis dan
Permisif)
b. Sikap orang tua ketika anak melanggar aturan yang diajarkan agama
c. Sikap orang tua yang ajarkan atau tanamkan pada perilaku ibadah seperti
d. Cara menyikapi penanaman nilai agama Islam pada anak yang dilakukan
2. Faktor yang Mempengaruhi dan Mengambat Pola Asuh Singel Perent dalam
METODE PENELITIAN
kualitatif, karena penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk
fenomena, atau latar sosial sasaran penelitian terejawantah dalam tulisan naratif.
Artinya data maupun fakta yang telah dihimpun oleh peneliti kualitatif berbentuk
kata atau gambar. Dalam menuangkan suatu tulisan, laporan penelitian kualitatif
berisi kutipan-kutipan dari data atau dari fakta yang telah diungkap dilokasi
penelitian untuk selanjutnya peneliti memberikan ilustrasi yang utuh dan untuk
penelitian ini yang menjadi objek penelitiannya adalah manusia, dalam hal ini ibu
single parent. Selain itu didalam penelitian ini lebih fokus kepada proses. 50 Pada
48
Nana syaidoh sukmadinata, Metodologi Penelitian Pendidikan,
(Bandung:Rosdakarya,2007), hlm.60
49
M. Dujaidi Ghony, Metode Penelitian Kualitatif (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012)
hlm. 44-45
50
Iskandar, Metodologi Penelitian Pendidikan Dan Sosial, (Jakarta: Gaung Persada
Perss, 2009), hlm. 191-193
42
penelitian ini, ibu single parent yang menjadi objek penelitian adalah ibu single
B. Lokasi Penelitian
Kabupaten Rokan Hulu. Tempat ini dipilih karena dekat dan mudah dijangkau
oleh peneliti. Selain dekat dan mudah dijangkau oleh peneliti, di Desa Kepayang
ini terdapat ibu-ibu single parent dari yang usianya masih muda hingga yang
sudah tua. Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah para
C. Informan Penelitian
kualitatif berangkat dari kasus tertentu yang ada pada situasi tertentu dan hasil
lain pada situasi yang memiliki kesamaan dengan situasi sosial pada kasus yang
sebgai narasumber atau partisipan, informan, teman dan guru dalam penelitian.
Sehingga informan dalam penelitian ini yakni 5 orang tua single parent beserat 5
D. Sumber Data
51
Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), Cet. XII,
hal. 234.
Sumber data adalah semua hal yang dapat memberikan informasi
mengenai data. Terdapat dua sumber data dalam penelitian ini yaitu Data primer
1. Data Primer
langsung dari sumber aslinya yang berupa wawancara, jajak pendapat dari
individu atau kelompok (orang) maupun hasil obersvasi dari suatu objek,
(metode survei) atau penelitin benda (metode observasi). 52 Dalam hal ini
2. Data Sekunder
media perantara atau secara tidak langsung yang berupa buku catatan, bukti
yang telah ada atau arsip baik yang dipublikasikan maupun yang tidak
penelitiannya.53
pengecap. Menurut Kartono pengertian observasi adalah studi yang disengaja dan
yang sedang berlangsung atau objek yang ada tidak luput dari perhatian dan dapat
dilihat secara nyata. Semua kegiatan, objek, serta kondisi penunjang yang ada
Apa yang diperoleh lewat interview dari kenyataan di lapangan terpisah jarak dan
waktu, sementara itu melalui observasi peristiwa yang sedang diteliti dapat
terlihat dan terekam langsung. Peneliti bisa atau tidak bisa melakukan kontak atau
terhadap pola asuh orang tua single parent terhadap nilai-nilai Agama Islam di
2. Wawancara
54
Imam Gunawan. Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2016) hlm. 143
55
Djam’anSator, Aan Komariah. Metodologi Penelitian Kualitatif,(Bandung: Alfabeta,
2017) hlm. 106
Menurut Moh. Nasir bahwa interview (wawancara) adalah proses
memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil
bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau
responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan
wawancara). Wawancara dapat digunakan sebagai teknik pengumpulan data
apabila peneliti menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan peneliti
berkeinginan untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan informan lebih
mendalam. Sebagai pegangan peneliti dalam penggunaan metode interview adalah
bahwa subjek adalah informan yang tahu tentang dirinya sendiri, tentang
tindakannya secara ideal yang akan diinformasikan secara benar dan dapat
dipercaya.56
merupakan usaha untuk menggali keterangan yang lebih mendalam dari sebuah
Adapun yang menjadi target yang akan diwawancara dalam penelitian ini yaitu
pola asuh orang tua single parent terhadap nilai-nilai gama Islam di Desa
Ada berbagai cara untuk menganalisis data tetapi secara garis besarnya
dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Reduksi Data
catatan lapangan yang tertulis. Sebagaimana kita ketahui, reduksi data terjadi
ringkasan cat, menulis memo dan lain-lain maka data-data itu perlu direduksi,
yaitu dengan memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan fokus penelitian
tema, dan kategori tertentu akan memberikan gambaran yang lebih tajam tentang
sebagai tambahan atas data sebelumnya yang diperoleh jika diperlukan. Tujuan
utama dalam penelitian kualitatif adalah pada temuan. Oleh karena itu, kalau
asing, tidak dikenal, belum memiliki pola, justru itulah yang harus dijadikan
2. Penyajian Data
Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberi
penyajiannya antara lain, berupa teks naratif, matriks, grafik, jaringan, dan bagan.
karena itu, sajiannya harus tertata Secara apik. Penyajian data merupakan bagian
kategori atau kelompok satu, kelompok dua, kelompok tiga, dan seterusnya.
Masing- masing kelompok tersebut menunjukkan tipologi yang ada sesuai dengan
biasa jadi merupakan urutan-urutan atau perioritas kejadian. Dalam tahap ini
peneliti juga melakukan display (penyajian) data Secara sistematik, agar lebih
utuh bukan segmental atau fragmental terlepas satu dengan lainnya. Dalam proses
Analisa kualitatif ini diperoleh dengan cara data yang ada dari lapangan
jelas. Dalam proses analisis data ini penulis dapat menarik kesimpulan sesuai
dengan sudut kepentingan dalam pembahasan skripsi ini dan akhirnya ditarik
berlangsung. Makna-makna yang muncul dari data harus diuji kebenaran dan
terhadap data yang ada, pengelompokkan data yang telah terbentuk, dan proposisi
lengkap, dengan temuan baru yang berbeda dari temuan yang sudah ada.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Mohammad Daud. 2013. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Rajawali Pers
Departemen Agama RI. 2014. Alqur’an dan Tafsiranya, (Q.S Al-Luqman 31:13),
Surabaya: Halim Publishing dan Distributin
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia
Jakarta: Balai Pustaka
Gunawan, Imam. 2016. Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik. Jakarta:
Bumi Aksara,
Kohn, Alfie. 2006. Jangan Pukul Aku Paradigma Baru Pola Pengasuhan Anak.
Bandung: Mizan Learning Center
Maurice, Balcon. 1996. Menjadi Orang Tua yang Baik, Jakarta: Bumi Aksara,
Mansur, M.A, 2005. Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Nufus, Hayati dan La Adu, 2020. Pola Asuh Berbasis Qalbu dan Perkembangan
Belajar Anak.Ambon: LP2M IAIN Ambon,
Rachman, M Fauzi. 2014. Islamic Teen Parenting Usia Tamyiz dan Baligh (7-15
Tahun), Jakarta: Erlangga
Rahayu, Sitti. 2017. Peran Orang Tua Terhadap Pendidikan Moral Remaja, IAIN
Surakarta
Saleh, Fauzi. 2017. Konsep Pendidikan Dalam Islam, Aceh: Yayasan Pena Banda
Aceh Anggota IKAPI Banda Aceh
4141414141414141414141414141
42
Sobur, Alex. 1987. Pembinaan Anak dalam Keluarga. Jakarta: Gunung Mulia,
Sunarty, Kustiah. Editor Alimuddin Mahmud, 2015. Pola Asuh Orang Tua dan
Kemandirian Anak, Makasar: Edukasi Mitra Grafik
Sujiono, Bambang dan Yuliani Nuraini. 2005. Mencerdaskan Perilaku Anak Usia
Dini Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Shochib, Muh. 2000. Pola Asuh Orang Tua. Jakarta: Rineka Cipta
Tim Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Negeri Malang, 2013.
Pendidikan Islam Transformatif: Menuju Pengembangan Pribadi
Berkarakter Malang: Gunung Samudera
Thaha, M. Chabib. 2000. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: Rineka Cipt
4242424242424242424242424242
43
Lampiran 1
INSTRUMEN PENELITIAN
Disusun Oleh:
SOFYAN
NIM: 01281.111.17.2019
DOSEN PEMBIMBING
Duwi Restina, M.Pd
4343434343434343434343434343
44
PEDOMAN WAWANCARA
Hari/Tanggal :
Informan : Orang Tua /Singel Parent (…………………)
Usia :
No Aspek yang diwawancara Hasil Wawancara
Guru tahsin
a. Bagaimana penerapan
pola asuh ini yang
bapak/ibu lakukan
b. Bagaimana sikap
bapak/ibu ketika anak
melanggar aturan?
c. Bagaimana sikap
bapak/ibu dalam
mengajarkan nilai-nilai
agama Islam pada anak
dengan pola asuh ini?
2 faktor-faktor yang
mempengaruhi dan
menghambat pola asuh oleh
single parent dalam
membiasakan nilai-nilai
agama Islam
4444444444444444444444444444
45
4545454545454545454545454545
46
Hari/Tanggal :
Informan : anak (…………….)
4646464646464646464646464646
47
Lampiran 2
INFORMAN SINGEL PARENT
Nama : Rosita
Usia : 37 Tahun
Usia : 40 tahun
Nama : Ratna
Usia : 44 Tahun
Nama : Masitoh
Usia : 37 Tahun
4747474747474747474747474747
48
Nama : Dendi
Usia : 37 tahun
4848484848484848484848484848
49
Lampiran 2
INFORMAN ANAK SINGEL PARENT
Usia : 15 Tahun l
Usia : 16 tahun
Nama : Randi
Usia : 12 tahun
Usia : 14 tahun
Nama : Ruannsyah
4949494949494949494949494949
50
Usia : 11 tahun
5050505050505050505050505050