Kriptografi Kunci Simetris dengan Trigonometri
Kriptografi Kunci Simetris dengan Trigonometri
Pendahuluan
Kehidupan sehari-hari manusia banyak bergantung pada teknologi informasi,
baik dari hal kecil hingga ke permasalahan yang rumit. Contoh teknologi informasi
dalam kehidupan sehari-hari yaitu ATM, Internet Banking, Mobile Banking, Email,
Short Message Service (SMS), Multimedia Messaging Service (MMS), Chatting
dan sebagainya. Kemajuan teknologi informasi memberikan banyak keuntungan
bagi kehidupan manusia, akan tetapi keuntungan tersebut juga dapat menimbulkan
beberapa ancaman keamanan seperti interruption yang merupakan gangguan yang
mengakibatkan kerusakan data, interception yang merupakan ancaman terhadap
kerahasiaan, modification yang merupakan ancaman terhadap keaslian, dan
fabrications yaitu peniruan atau pemalsuan data.
Berbagai cara dilakukan untuk menjaga keamanan data tersebut dari ancaman-
ancaman yang ada, salah satunya dengan menerapkan teknik penyandian atau
kriptografi. Kriptografi sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu dan teknologi
terutama ilmu matematika dan hardware [1]. Perkembangan ilmu matematika
sangat mempengaruhi kriptografi dari sisi kekuatan algoritmanya dan hardware
mempengaruhi dari sisi kecepatan pemrosesannya. Namun, banyak teknik
kriptografi sekarang ini dapat dipecahkan dengan menggunakan suatu teknik yang
disebut dengan Kriptanalisis (Cryptanalysis). Kriptanalisis biasanya mencoba
memecahkan teknik kriptografi dengan mencari kunci atau algoritma yang
digunakan dalam proses kriptografi tersebut. Oleh karena itu, kunci atau algoritma
yang digunakan dalam proses enkripsi harus dibuat dengan teknik yang baru
menggunakan fungsi-fungsi matematika yang rumit, sehingga dapat mencegah
ancaman-ancaman keamanan terhadap informasi yang akan disampaikan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dilakukan penelitian yang
membahas tentang perancangan teknik kriptografi menggunakan fungsi pecahan
persial dan integral trigonometri sebagai fungsi pembangkit kunci yang akan
digunakan dalam proses enkripsi-dekripsi. Penelitian ini memiliki lima batasan
masalah yaitu : pertama, teknik kriptografi yang dirancang merupakan kriptografi
kunci simetris; kedua, proses enkripsi-dekripsi hanya dilakukan pada data teks;
ketiga, fungsi pecahan parsial dan integral trigonometri hanya untuk
membangkitkan kunci; keempat, nisbah trigonometri yang digunakan hanya sin dan
cos; kelima, perancangan teknik kriptografi ini menggunakan Maple v.16 (32bit)
sebagai software bantuan.
2. Tinjauan Pustaka
Penelitian ini membuat teknik kriptografi menggunakan fungsi-fungsi khusus
didalam proses pembuatan kunci, proses enkripsi serta proses dekripsinya. Oleh
karena itu, digunakan beberapa penelitian terdahulu yang juga menggunakan
fungsi-fungsi khusus sebagai acuan dalam penelitian ini.
Penelitian sebelumnya telah memodifikasi Caesar cipher dengan menggunakan
fungsi rasional, logaritma kuadrat, dan polinomial orde 5 sebagai kunci. Proses
kriptografi dirancang sebanyak lima putaran untuk menghasilkan plainteks dan
cipherteks, sehingga hasil modifikasi tersebut dapat menahan kriptanalisis bruce
force attack untuk menemukan plainteks [2].
2
Penelitian lainnya mempertimbangan untuk mengganti 𝑥 𝑛 dengan chebyshev
polynomial 𝑇𝑛 (𝑥) dalam Diffie-Hellman dan algoritma kriptografi RSA yang dalam
penelitiannya menunjukkan bahwa mereka dapat mengeneralisasikan algoritma
powering biner untuk menghitung polinomial chebyshev dan masalah inversi untuk
𝑇𝑛 (𝑥)𝑚𝑜𝑑 𝑝 [3].
Penelitian lainnya merancang sebuah kriptografi simetris menggunakan akar
kubik fungsi linier dan fungsi chebyshev orde dua sebagai kunci, yang kemudian
proses enkripsi dan dekripsi dirancang sebanyak lima putaran untuk mendapatkan
cipherteks dan plainteks. Hasil penelitian ini berhasil menjadi teknik kriptografi
simetris yang dapat digunakan sebagai sebuah teknik kriptografi [4].
Penelitian lainnya merancang kriptografi simetris menggunakan bujursangkar
Vigenere dan Interpolasi Lagrange Orde-3. Proses enkripsi dan dekripsi dilakukan
3 (tiga) kali putaran dengan menggunakan fungsi linear, dan cipherteks yang
dihasilkan dalam elemen bit, sehingga hasil kriptografi ini dapat digunakan sebagai
alat pengamanan data [5].
Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan terkait pemanfaatan fungsi-
fungsi khusus dalam merancang dan memodifikasi suatu teknik kriptografi, maka
akan dilakukan penelitian yang merancang suatu teknik kriptografi menggunakan
fungsi pecahan parsial dan integral trigonometri yang merupakan fungsi
matematika sebagai pembangkit kunci yang akan digunakan dalam proses enkripsi
maupun proses dekripsi.
Kriptografi merupakan ilmu dan seni untuk menjaga keamanan pesan.
Kriptografi juga merupakan ilmu yang mempelajari teknik-teknik matematika yang
berhubungan dengan aspek keamanan informasi seperti kerahasiaan, integritas data,
serta otentikasi data [6]. Dalam kriptografi dikenal proses enkripsi, yaitu proses
merubah pesan (plainteks) menjadi pesan yang tersandi (cipherteks atau
kriptogram) dan proses dekripsi, yaitu proses merubah cipherteks kembali menjadi
plainteks. Berdasarkan sejarah, kriptografi terbagi menjadi dua yaitu, kriptografi
klasik dan kriptografi modern, sedangkan berdasarkan kunci yang digunakan untuk
enkripsi dan dekripsi, kriptografi dapat dibedakan lagi menjadi kriptografi kunci
simetri (Symmetric-key cryptography) dan kriptografi kunci nirsimetri
(asymmetric-key cryptography).
Pada sistem kriptografi kunci simetri, kunci untuk enkripsi sama dengan kunci
untuk dekripsi, oleh karena itulah dinamakan kriptografi simetri (Gambar 1).
Sistem kriptografi kunci simetri mengasumsikan pengirim dan penerima pesan
telah berbagi kunci yang sama sebelum bertukar pesan. Keamanan sistem
kriptografi simetri terletak pada kerahasiaan kuncinya.
3
Jika kunci untuk enkripsi tidak sama dengan kunci untuk dekripsi, maka
kriptografinya dinamakan sistem kriptografi nirsimetri. Pada kriptografi jenis ini,
setiap orang yang berkomunikasi mempunyai sepasang kunci, yaitu kunci publik
dan kunci privat. Pengirim mengenkripsi pesan dengan menggunakan kunci public
si penerima pesan (receiver). Pesan dapat didekripsikan oleh penerima yang
mengetahui kunci privat (Gambar 2).
∫ 𝑓(𝑥) 𝑑𝑥 (4)
𝑎
4
𝑏
Dalam notasi ∫𝑎 𝑓(𝑥) 𝑑𝑥, 𝑓(𝑥) disebut integran serta a dan b disebut batas
pengintegralan; a adalah batas bawah dan b adalah batas atas. Lambang dx tidak
mempunyai makna resmi [9]. Pada integral trigonometri, 𝑓(𝑥) merupakan fungsi-
fungsi yang digunakan dalam trigonometri seperti sinus (sin), cosinus (cos), tangen
(tan), cosecan (csc), secan (sec), dan cotangen (cot) atau kombinasi dari fungsi-
fungsi tersebut [9].
Perancangan kriptografi melibatkan banyak proses perhitungan, selain
menggunakan fungsi pecahan parsial dan integral trigonometri, juga digunakan
Konversi Basis Bilangan (Convert Between Base). Konversi basis bilangan secara
umum diberikan pada Defenisi 1 dan defenisi 2 [10].
Defenisi 1,
Konversi sembarang bilangan positif 𝑠 berbasis 10 basis β. Secara
umum notasinya,
Konv (s, baseβ ) (5)
Defenisi 2,
Konversi dari urutan bilangan (list digit) ℓ dalam basis α ke basis β.
Secara umum dinotasikan,
Konv(ℓ, α baseβ ) (6)
dengan jumlahan urutan bilangan (jumlahan ℓ) mengikuti aturan,
𝑛𝑜𝑝𝑠 (ℓ)
∑ 𝐼𝑘 . 𝛼 𝑘−1 (7)
𝑘=1
dimana 𝑛𝑜𝑝𝑠(ℓ) adalah nilai terakhir dari urutan bilangan ℓ.
0 ≤ 𝐼𝑘 ≤ 𝛼 dan ℓ adalah bilangan positif.
Nilai yang diperoleh merupakan kumpulan urutan bilangan dalam basis
β.
5
Analisa dan Pengumpulan Bahan
Perancangan Pembuatan
Pembuatan
Pengujian
Penulisan Laporan
Gambar 3. Tahapan Penelitian
Dimana :
6
- 𝑎 dan 𝑏 merupakan batas bawah dan batas atas integran.
- 𝑓(𝑥) merupakan fungsi trigonometri (dalam penelitian ini hanya digunakan
sin dan cos).
c. Menyiapkan fungsi linier dan inversnya, dengan bentuk umum
𝑃𝑖,𝑗 (𝑥) = ( 𝑚𝑥 + 𝑛)𝑚𝑜𝑑 127 (10)
𝑛−𝑥
𝑃𝑖,𝑗 (𝑥)−1 = ( ) 𝑚𝑜𝑑 127 (11)
𝑚
Dimana :
- m dan n merupakan konstanta yang mengandung bilangan kunci dari fungsi
pecahan parsial dan integral trigonometri.
- x merupakan variabel yang mengandung bilangan ASCII dari pesan.
- i merupakan nama proses Round A, B, C, D dan E.
- j merupakan urutan fungsi dari 1 sampai 12.
Berdasarkan bentuk umum fungsi linier dan inversnya pada Persamaan 10 dan
Persamaan 11, akan dibentuk duabelas fungsi linier untuk proses enkripsi dan
invers dari duabelas fungsi tersebut untuk digunakan dalam proses dekripsi.
d. Menyiapkan konversi basis bilangan
Konv(ℓ, α baseβ ) (12)
Selanjutnya, proses enkripsi-dekripsi dalam perancangan teknik kriptografi ini
dapat dijelaskan pada Gambar 4.
7
proses Round yang merupakan proses pensubtitusian pada fungsi linier yang telah
mengandung kunci-kunci dari fungsi pecahan parsial dan integral trigonometri.
Hasil akhir proses Round dikonversi menggunakan Konversi Basis Bilangan,
sehingga menghasilkan cipherteks yang berkorespodensi dengan plainteksnya.
Dalam proses Round terjadi duabelas proses pensubtitusian dengan urutan seperti
yang diberikan pada Gambar 5.
8
h. Hasil dari 𝑃𝑎,5 disubtitusikan ke dalam fungsi linier 6, maka diperoleh
𝑃𝑎,6 = {𝑔1 , 𝑔2 , . . , 𝑔𝑖 }
i. Hasil dari 𝑃𝑎,6 disubtitusikan ke dalam fungsi linier 7, maka diperoleh
𝑃𝑎,7 = {ℎ1 , ℎ2 , . . , ℎ𝑖 }
j. Hasil dari 𝑃𝑎,7 disubtitusikan ke dalam fungsi linier 8, maka diperoleh
𝑃𝑎,8 = {𝑖1 , 𝑖2 , . . , 𝑖𝑖 }
k. Hasil dari 𝑃𝑎,8 disubtitusikan ke dalam fungsi linier 9, maka diperoleh
𝑃𝑎,9 = {𝑗1 , 𝑗, . . , 𝑗𝑖 }
l. Hasil dari 𝑃𝑎,9 disubtitusikan ke dalam fungsi linier 10, maka diperoleh
𝑃𝑎,10 = {𝑘1 , 𝑘2 , . . , 𝑘𝑖 }
m. Hasil dari 𝑃𝑎,10 disubtitusikan ke dalam fungsi linier 11, maka diperoleh
𝑃𝑎,11 = {𝑙1 , 𝑙2 , . . , 𝑙𝑖 }
n. Hasil dari 𝑃𝑎,11 disubtitusikan ke dalam fungsi linier 12, maka diperoleh
𝑃𝑎,12 = {𝑚1 , 𝑚2 , . . , 𝑚𝑖 }
Proses (c), (d), …, (n) diulang sampai proses terakhir pada Round kelima, yaitu
pensubtitusian ke dalam fungsi linier 12 (𝑃𝑒,12), dengan menggunakan nilai dari
proses sebelumnya.
𝑃𝑒,12 = {𝑛1 , 𝑛2 , . . , 𝑛𝑖 }
o. Proses berikutnya merupakan proses Konversi basis bilangan dimana (ℓ) =
(𝑃𝑒,12), (𝛼) = (𝑘𝑝 + 𝑘𝑡) dan (β) = 2, sehingga diperoleh cipherteks yang berupa
bilangan biner yang mempunyai panjang elemen lebih dari plainteksnya.
𝑐𝑏𝑏 = {𝑜1 , 𝑜2 , . . , 𝑜𝑖 }
9
Gambar 6 Diagram Proses Dekripsi
Fungsi Linier dan Round yang digunakan dalam proses dekripsi merupakan
inverse dari proses enkripsi. Gambar 7 merupakan diagram proses Round pada
dekripsi yang merupakan kebalikan dari proses Round enkripsi.
10
a. cipherteks diambil kemudian disubtitusikan kembali ke dalam proses CBB,
dimana (α) = 2 dan (𝛽) = (𝑘𝑝 + 𝑘𝑡), sehingga diperoleh
𝑐𝑝ℎ𝑟 = {𝑛1 , 𝑛2 , … , 𝑛𝑖 }
Dengan i merupakan panjang Cipherteks yang diinputkan.
b. Merujuk pada Persamaan 11 hasil dari 𝑐𝑝ℎ𝑟 selanjutnya masuk ke dalam
Round dan disubtitusikan ke dalam inverse fungsi linier 12, maka diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,12 = {𝑚1 , 𝑚2 , … , 𝑚𝑖 }
c. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,12 disubtitusikan ke dalam inverse fungsi linier 11, maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,11 = {𝑙1 , 𝑙2 , … , 𝑙𝑖 }
d. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,11 disubtitusikan ke dalam inverse fungsi linier 10, maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,10 = {𝑘1 , 𝑘2 , … , 𝑘𝑖 }
e. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,10 disubtitusikan ke dalam inverse fungsi linier 9, maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,9 = {𝑗1 , 𝑗2 , … , 𝑗𝑖 }
f. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,9 disubtitusikan ke dalam inverse fungsi linier 8, maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,8 = {𝑖1 , 𝑖2 , … , 𝑖𝑖 }
g. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,8 disubtitusikan ke dalam inverse fungsi linier 7, maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,7 = {ℎ1 , ℎ2 , … , ℎ𝑖 }
h. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,7 disubtitusikan ke dalam inverse fungsi linier 6, maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,6 = {𝑔1 , 𝑔2 , … , 𝑔𝑖 }
i. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,6 disubtitusikan ke dalam inverse fungsi linier 5, maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,5 = {𝑓1 , 𝑓2 , … , 𝑓𝑖 }
j. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,5 disubtitusikan ke dalam inverse fungsi linier 4, maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,4 = {𝑒1 , 𝑒2 , … , 𝑒𝑖 }
k. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,4 disubtitusikan ke dalam inverse fungsi linier 3, maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,3 = {𝑑1 , 𝑑2 , … , 𝑑𝑖 }
l. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,3 disubtitusikan ke dalam inverse fungsi linier 2, maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,2 = {𝑐1 , 𝑐2 , … , 𝑐𝑖 }
m. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,2 disubtitusikan ke dalam inverse fungsi linier 1, maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,1 = {𝑏1 , 𝑏2 , … , 𝑏𝑖 }
n. Proses (c), (d), …, (n) diulang sampai proses terakhir pada Round kelima, yaitu
pensubtitusian ke dalam inverse fungsi linier 1 (𝑖𝑛𝑣𝑃𝑎,1 ), dengan menggunakan
nilai dari proses sebelumnya. Kemudian dilanjutkan ke proses berikutnya.
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑎,1 = {𝑎1 , 𝑎2 , … , 𝑎𝑖 }
11
Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑎,1 kemudian di konversi ke dalam ASCII sehingga
menghasilkan Plainteks yang berupa karakter.
12
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑖,11 (𝑥) = −𝑘𝑝 + 𝑥 𝑚𝑜𝑑 127 (29)
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑖,10 (𝑥) = −𝑘𝑝 + 𝑘𝑡 + 𝑥 𝑚𝑜𝑑 127 (30)
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑖,9 (𝑥) = 𝑘𝑝 + 𝑘𝑡 − 𝑥 𝑚𝑜𝑑 127 (31)
𝑥
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑖,8 (𝑥) = 𝑘𝑝+𝑘𝑡 − 2𝑚𝑜𝑑 127 (32)
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑖,7 (𝑥) = 𝑥 − (𝑘𝑝 ∙ 𝑘𝑡) 𝑚𝑜𝑑 127 (33)
𝑥−1
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑖,6 (𝑥) = 𝑘𝑡 𝑚𝑜𝑑 127 (34)
𝑥−2
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑖,5 (𝑥) = 𝑚𝑜𝑑 127 (35)
𝑘𝑝
−(4∙𝑘𝑝)−(4∙𝑘𝑡)+𝑥
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑖,4 (𝑥) = 𝑚𝑜𝑑 127 (36)
4
(3∙𝑘𝑝)
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑖,3 (𝑥) = − (8∙𝑘𝑡) + 𝑥 𝑚𝑜𝑑 127 (37)
((𝑥∙𝑘𝑝)−4
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑖,2 (𝑥) = 𝑚𝑜𝑑 127 (38)
𝑘𝑡
((𝑥∙𝑘𝑡)−9
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑖,1 (𝑥) 𝑚𝑜𝑑 127 (39)
𝑘𝑝
d. Plainteks dikonversikan ke dalam bilangan ASCII, kemudian disusun dalam list
𝑝𝑙𝑛 = {70,84,73,32,85,75,83,87}
e. Menggunakan Persamaan 14 dimana 𝑥 = 4.9 diperoleh
𝑘𝑝 = 1464118114
f. Menggunakan Persamaan 15 dimana 𝑛 = 7.2 diperoleh
𝑘𝑡 = 3985607328
Bilangan-bilangan pada pln selanjutnya masuk dalam Round A
g. Hasil dari 𝑝𝑙𝑛 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 16, maka diperoleh
𝑃𝑎,1 = {126,102,12,46,64,63,13,115}
h. Hasil dari 𝑃𝑎,1 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 17, maka
diperoleh
𝑃𝑎,2 = {118,108,7,0,71,61,18,124}
i. Hasil dari 𝑃𝑎,2 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 18, maka
diperoleh
𝑃𝑎,3 = {3,13,114,121,50,61,103,124}
j. Hasil dari 𝑃𝑎,3 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 19, maka
diperoleh
𝑃𝑎,4 = {65,38,32,102,27,10,49,5}
k. Hasil dari 𝑃𝑎,4 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 20, maka
diperoleh
𝑃𝑎,5 = {39,117,92,45,50,85,57,43}
l. Hasil dari 𝑃𝑎,5 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 21, maka
diperoleh
𝑃𝑎,6 = {67,18,120,73,78,113,85,71}
m. Hasil dari 𝑃𝑎,6 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 22, maka
diperoleh
𝑃𝑎,7 = {21,99,74,27,32,67,39,25}
n. Hasil dari 𝑃𝑎,7 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 23, maka
diperoleh
13
𝑃𝑎,8 = {88,39,14,94,99,7,106,92}
o. Hasil dari 𝑃𝑎,8 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 24 , maka
diperoleh
𝑃𝑎,9 = {99,50,25,105,110,18,117,103}
p. Hasil dari 𝑃𝑎,9 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 25 , maka
diperoleh
𝑃𝑎,10 = {118,49,76,15,35,48,63,7}
q. Hasil dari 𝑃𝑎,10 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 26 , maka
diperoleh
𝑃𝑎,11 = {42,75,40,25,32,81,118,73}
r. Hasil dari 𝑃𝑎,11 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 27 , maka
diperoleh
𝑃𝑎,12 = {225,58,23,8,15,64,101,56}
s. Hasil dari 𝑃𝑎,12 masuk pada Round B, kemudian disubtitusikan ke dalam
Persamaan 16 sampai Persamaan 27 , maka diperoleh
𝑃𝑏,12 = {55,33,14,24,104,19,89,119}
t. Hasil dari 𝑃𝑏,12 masuk pada Round C, kemudian disubtitusikan ke dalam
Persamaan 16 sampai Persamaan 27, maka diperoleh
𝑃𝑐,12 = {35,92,20,98,87,10,97,77}
u. Hasil dari 𝑃𝑐,12 masuk pada Round D, kemudian disubtitusikan ke dalam
Persamaan 16 sampai Persamaan 27, maka diperoleh
𝑃𝑑,12 = {6,95,16,91,56,65,7,105}
v. Hasil dari 𝑃𝑑,12 masuk pada Round E, kemudian disubtitusikan ke dalam
Persamaan 16 sampai Persamaan 27, maka diperoleh
𝑃𝑒,12 = {110,93,61,11,119,113,67,44}
w. Merujuk dari Persamaan 12 dimana (ℓ) = (𝑃𝑒,12), (𝛼) = (5449725442) dan
(β) = (2), maka diperoleh
𝑐𝑏𝑏 = {0, 0, 1, 0, 0, 0, 1, 1, 0, 0, 1, 1, 0, 0, 1, 1, 0, 0, 0, 0, 1, 1, 0, 1, 1, 1,0,
0, 1, 0, 0, 0, 0, 1, 1, 1, 1, 1, 1, 0, 0, 0, 0, 1, 0, 1, 1, 1, 0, 1, 1, 1, 1,0,
0, 0, 1, 1, 0, 0, 1, 1, 0, 1, 0, 0, 1, 0, 0, 1, 1, 0, 0, 0, 1, 0, 0, 1, 1, 1, 0,
1, 0, 1, 0, 0, 0, 1, 0, 1, 0, 0, 1, 1, 1, 1, 0, 1, 0, 1, 0, 0, 1, 1, 0, 1, 1, 1,
1, 1, 1, 1, 0, 1, 0, 0, 1, 1, 1, 0, 1, 0, 0, 0, 1, 0, 0, 1, 1, 1, 0, 0, 1, 1, 1,
1, 1, 1, 1, 0, 1, 1, 0, 0, 1, 1, 1, 1, 0, 1, 1, 0, 0, 0, 0, 1, 0, 0, 1, 0, 0, 1,
0, 0, 1, 0, 0, 0, 1, 1, 0, 0, 0, 0, 1, 1, 0, 1, 0, 0, 1, 0, 1, 0, 1, 0, 1, 1, 0,
1, 0, 1, 0, 0, 1, 0, 1, 0, 0, 0, 1, 1, 1, 0, 1, 0, 0, 0, 1, 1, 0, 0, 0, 0, 0, 0,
0, 0, 0, 0, 0, 0, 0, 0, 1, 0, 0, 1, 0, 1, 1, 1}
Dari hasil 𝑐𝑏𝑏, maka diperoleh cipherteks dari “FTI UKSW” adalah:
“00100011001100110000110111001000011111100001011101111000110011010
010011000100111010100010100111101010011011111110100111010001001110
011111110110011110110000100100100100011000011010010101011010100101
00011101000110000000000000010010111”
14
Setelah cipherteks diketahui, maka selanjutnya adalah melakukan proses
dekripsi. Proses yang dilakukan sesuai dengan langkah-langkah yang dijelaskan
pada tahap perancangan.
a. Merujuk pada Persamaan 12 dimana (ℓ) = (𝑐𝑏𝑏), (𝛼) = (2) dan (β) =
(5449725442), maka diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑐𝑏𝑏 = {110,93,61,11,119,113,67,44}
Bilangan-bilangan pada 𝑖𝑛𝑣𝑐𝑏𝑏 selanjutnya masuk dalam Round E yang
merupakan Round akhir pada proses enkripsi
b. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑐𝑏𝑏 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 28 , maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,12 = {0,110,78,28,9,3,84,61}
c. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,12 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 29 , maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,11 = {125,22,112,78,60,61,111,9}
d. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,11 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 30 , maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,10 = {69,75,34,89,21,53,2,40}
e. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,10 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 31 , maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,9 = {58,64,23,78,10,42,118,29}
f. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,9 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 32 , maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,8 = {118,124,83,11,70,102,51,89}
g. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,8 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 33 , maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,7 = {37,43,2,57,116,21,97,8}
h. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,7 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 34 , maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,6 = {9,15,101,29,88,120,69,107}
i. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,6 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 35 , maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,5 = {7,44,24,88,92,120,123,61}
j. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,5 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 36 , maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,4 = {48,39,37,18,120,72,85,28}
k. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,4 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 37 , maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,3 = {73,82,84,103,1,49,36,93}
l. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,3 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 38 , maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,2 = {18,65,19,90,23,62,107,66}
m. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,2 kemudian disubtitusikan ke dalam Persamaan 39 , maka
diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,1 = {6,95,16,91,56,65,7,105}
15
n. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑒,1 masuk pada Round D, kemudian disubtitusikan ke dalam
Persamaan 28 sampai Persamaan 39 , maka diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑑,1 = {35,92,20,98,87,10,97,77}
o. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑑,1 masuk pada Round C, kemudian disubtitusikan ke dalam
Persamaan 28 sampai Persamaan 39 , maka diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑐,1 = {55,33,14,24,104,29,89,119}
p. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑐,1 masuk pada Round B, kemudian disubtitusikan ke dalam
Persamaan 28 sampai Persamaan 39 maka diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑏,1 = {25,58,23,8,15,64,101,56}
q. Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑏,1 masuk pada Round A, kemudian disubtitusikan ke dalam
Persamaan 28 sampai Persamaan 39 , maka diperoleh
𝑖𝑛𝑣𝑃𝑎,1 = {70,84,73,32,85,75,83,87}
Hasil dari 𝑖𝑛𝑣𝑃𝑎,1 kemudian dikonversikan ke dalam karakter ASCII sehingga
menghasilkan kembali plainteks “FTI UKSW”.
16
Teknik kriptografi yang dihasilkan dari penelitian ini dirancang menjadi sebuah
aplikasi yang memiliki tampilan atau GUI (Graphycal User Interface) yang
sederhana untuk memudahkan user dalam menggunakan teknik kriptografi ini.
Tampilan dari perancangan teknik kriptografi ini diberikan pada Gambar 8, Gambar
9, dan Gambar 10. Gambar 8 merupakan tampilan awal atau merupakan tampilan
utama program saat melakukan perintah Execute.
17
Trigonometri. Kunci yang diinputkan dapat berupa bilangan desimal maupun
bilangan pecahan. Selanjutnya memilih tombol Encrypt untuk plainteks diproses
menjadi cipherteks berdasarkan kunci yang diinputkan.
18
6500 210648 204855 215835 216008 213289
7000 226854 220615 232439 232626 229697
7500 243060 236375 249044 249244 246106
KP 3 5.4 8.09852 16.264 10.4879645
Kunci
KT 6 1.9 4.3975 12.2 19.6729498
Banyak
Nama Fungsi Pembangkit Banyak Banyak Proses Karakter
Fungsi Round
Kriptografi Kunci Kunci Round dalam Cipherteks
Round
- Fungsi Logaritma
- Fungsi Linear
Kuadrat
MA 2 5 2 Biner
- Fungsi Polinomial
- Fungsi Rasional
Orde 5
- Chebyshev Orde
2
YA - Fungsi Linear 2 5 6 Biner
- Akar Kubik
Fungsi Linear
- Fungsi Pecahan
Parsial
KIA - Fungsi Linear 2 5 12 Biner
- Integral
Trigonometri
Tabel 2 Algoritma Kriptografi yang Diuji
19
Perbandingan yang dilakukan adalah mengukur intensitas waktu dan memori
yang digunakan terhadap panjang plainteks. Dalam pengujian ini, digunakan
spesifikasi komputer yang sama dalam proses enkripsi-dekripsi, yaitu Sistem
Operasi Windows 7 Ultimate, Intel Core i5-3317U CPU @1.70GHz (4CPUs),
RAM 4Gb DDR3 dan HDD 500GB.
150 161.43161.43161.43161.43161.43
125
MEMORI (MB)
100
76.64 76.64 76.64 76.64 76.64 76.64
75 66.8 66.8 66.8 68.59 68.63 68.63 68.63 68.63 68.63
25
29.5 29.5 29.5 29.5
0
500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500 7000 7500
PANJANG PLAINTEKS
20
PESAN TEKS BERBANDING WAKTU
8
7.5
7 7.55 7.55 7.55 7.55 7.55
6.5
6
5.5
5 4.49 4.54
WAKTU (S)
5. Simpulan
Penelitian perancangan teknik kriptografi menggunakan fungsi pecahan parsial
dan integral trigonometri telah dapat melakukan proses enkripsi-dekripsi dan dapat
dikatakan sebagai sebuah sistem kriptografi karena telah memenuhi 5-tuple (P, C,
K, E, dan D). Cipherteks yang dihasilkan berupa bilangan biner yang memiliki
elemen yang lebih panjang dibandingkan dengan panjang elemen plainteksnya,
sehingga dapat menyulitkan kriptanalisis dalam melihat hubungan satu ke satu
antara plainteks dan cipherteksnya. Dari segi penggunaan memori dan waktu yang
dibutuhkan untuk melakukan proses enkripsi-dekripsi, kriptografi ini memiliki
21
tingkat diferensiasi penggunaan waktu dan memori yang bertingkat sesuai dengan
panjang teks yang diinputkan.
6. Daftar Pustaka
22