0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
79 tayangan31 halaman

Analisis Korelasi dan Regresi Linier

Diunggah oleh

laluanggiarjenadi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
79 tayangan31 halaman

Analisis Korelasi dan Regresi Linier

Diunggah oleh

laluanggiarjenadi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB VI

ANALISIS KORELASI DAN REGRESI LINIER SEDERHANA

6.0. Tujuan Pembelajaran:


Mahasiswa Mampu:
1. Menghitung dan menginterpretasikan korelasi sederhana antara dua variabel
2. Mengetahui hubungan dua variabel yang tidak linier

3. Menentukan korelasi dan mengujinya


4. Menghitung dan menginterpretasikan persamaan regresi linier sederhana
5. Mengetahui asumsi yang digunakan dalam analisa regresi
6. Menentukan Model Regresi yang Layak
7. Menghitung dan Menginterpretasikan Interval Keyakinan untuk Koefisien
Regresi
8. Mengetahui bahwa analisis regresi dapat digunakan sebagai alat prediksi
9. Mengetahui bagaimana menerapkan kasus nyata yang berhubungan dengan
analisis regresi secara benar
6.1. Scatter Plot
Sebelum menentukan bentuk hubungan dengan analisis regreis linier atau
sebelum mengukur keeratan hubungan antara dua variabel, harus dilihat apakah
variabel-variabel tersebut mempunyai hubungan linier atau tidak dengan
menggunakan scatter plot seperti yang dibawah ini:

Grafik 1.Scatter Plot (Diagram Pencar)

Dalam scatter plot diatas ada empat kriteria,yaitu:

Bila titik-titik menggerombol mengikuti sebuah garis lurus dengan kemiringan


positif, maka kedua variabel dinyatakan memiliki hubungan linier positif
Bila titik-titik menggerombol mengikuti sebuah garis lurus dengan kemiringan
negatif, maka kedua variabel dinyatakan memiliki hubungan linier negatif
Bila titik-titik menggerombol tidak mengikuti garis lurus, maka kedua variabel
dinyatakan tidak memiliki hubungan yang linier
Bila titik-titik memencar atau membentuk suatu garis lurus mengikuti sebuah
pola yang acak atau tidak ada pola, maka kedua variabel dinyatakan tidak
memilki hubungan.

6.2. Analisis Korelasi


Analisis korelasi digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan linier antara dua
variabel. Koefisien korelasi populasi ρ (rho) adalah ukuran kekuatan hubungan
linier antara dua variabel dalam populasi sedangkan koefisien korelasi sampel r
adalah estimasi dari ρ dan digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan linier
dalam sampel observasi. Untuk selanjutnya r disebut Koefisien Korelasi Pearson
Product Momernt.

6.2.1. Korelasi Pearson (Product Moment)

Korelasi pearson sering juga disebut sebagai korelasi produk-momen atau


korelasi saja. Korelasi pearson termasuk ke dalam statistika parametrik. Besarnya
koefisien menggambarkan seberapa erat hubungan linear antara dua variabel,
bukan hubungan sebab akibat. Variabel yang terlibat dua-duanya bertipe numerik
(interval atau rasio), dan menyebar normal jika ingin pengujian terhadapnya sah.

Berikut ini pedoman menentukan kuat tidaknya korelasi antara dua variabel
menurut Walpole :

Tabel 1.

Interval Koefisien Tingkat Hubungan

0.00 – 0.199 Sangat rendah


0.20 – 0.399 Rendah
0.40 – 0.599 Cukup
0.60 – 0.799 Kuat
0.80 – 1.000 Sangat Kuat
Menurut Sarwono (2006) Batas-batas nilai koefisien korelasi diinterpretasikan
sebagai berikut:

Tabel 2.

Interval Hubungan Tingkat Hubungan

0 Tidak ada korelasi antara dua


variabel
>0 – 0,25 Korelasi sangat lemah
>0,25 – 0,5 Korelasi cukup
>0,5 – 0,75 Korelasi kuat
>0,75 – 0,99 Korelasi sangat kuat
1 Korelasi sempurna

Hasil dari analisis korelasi menunjukkan kekuatan atau kelemahan dari suatu
hubungan.Nilai koefisien korelasi ini akan berada pada kisaran -1 sampai dengan
+1. Koefisien korelasi minus menunjukkan hubungan yang terbalik, dimana
pengaruh yang terjadi adalah pengaruh negatif. Dalam pengaruh yang negatif ini
kenaikan suatu variabel akan menyebabkan penurunan suatu variabel yang lain,
sedangkan penurunan suatu variabel akan menyebabkan kenaikan variabel yang
lain.
Koefisien korelasi positif menunjukkan hubungan yang searah dari dua variabel,
dimana kenaikan suatu variabel akan menyebabkan kenaikan variabel yang lain
dan sebaliknya penurunan suatu variabel akan menyebabkan penurunan variabel
yang lain.
Koefisien korelasi sebesar nol menunjukkan tidak adanya hubungan antara dua
variabel, dengan kata lain kenaikan atau penurunan suatu variabel tidak
mempengaruhi variabel yang lain, jadi berapapun perubahan harga pada suatu
variabel tidak akan mempengaruhi variabel yang lain karena nilainya yang tetap.
Terdapat bermacam-macam analisis korelasi yang dapat digunakan untuk
mengukur hubungan asosiatif dari suatu variabel. Korelasi yang akan digunakan
tergantung pada jenis data yang akan dianalisis. Korelasi berdasarkan tingkatan
data dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel.3 Korelasi Berdasarkan Tingkatan Data

Teknik Korelasi yang


Tipe / Tingkat Data
Digunakan

Nominal Koefisien Kontingensi

Spearman Rank
Ordinal
Kendal Tau

Pearson / Produk Momen


Interval dan rasio Korelasi Ganda
Korelasi Parsial.

Koefisien korelasi pearson diformulasikan sebagai berikut:

r=
∑ (x − x̄ )( y− ȳ )
√ [ ∑ (x− x̄ )2 ][ ∑ ( y− ȳ )2 ]
Atau: n ∑ xy−∑ x ∑ y
r=
√ [n( ∑ x2 )−(∑ x)2 ][ n( ∑ y2 )−( ∑ y)2 ]
Atau: r =b
√ S xx
=
S xy
S yy √ S xx S yy
dimana:
r = Koefisien Korelasi Sampel
n = Ukuran Sampel
x = Nilai dari Variabel Independen
y = Nilai Variabel dependen

Dari persaamaan korelasi yang terakhir tersebut dapat dilihat adanya hubungan
antara b dan r. r digunakan untuk mengukur hubungan linier antara x dan y,
sedangkan b mengukur perubahan dalam y akibat perubahan setiap unit x.
Dalam kasus dimanai r1 = 0,3 dan r2 = 0,6 hanya berarti bahwa terdapat korelasi
positif dimana r2 lebih kuat daripada r1. Adalah salah jika menyimpulkan bahwa r 2
mengindikasikan hubungan linier dua kali lebih baik dibandingkan dengan r1.

6.2.2.Koefisien Determinansi
Koefisien determinansi adalah salah satu alat analisis yang dapat digunakan untuk
mengetahui lebih jauh hubungan antar variabel. Koefisien determinansi
disimbolkan dalam R2 yang menyatakan proporsi variansi keseluruhan dalam nilai
variabel dependen yang dapat diterangkan oleh hubungan linier dengan variabel
independen atau menunjukkan proporsi total variasi dalam nilai variabel
dependen yang dapat dijelaskan oleh hubungan linier dengan nilai variabel
independen. Nilai koefisien determinansi ini berkisar :0 ≤ R2 ≤ 1
2 2
R juga dapat digunakan untuk mempertimbangkan sebuah model regresi. Jika R
suatu model besar belum tentu model tersebut adalah model yang baik, tetapi jika
MSE model kecil maka model teresbut adalah model regresi yang terbaik.
Koefisien determinasi biasanya dinyatakan dengan persen. Sedangkan
penafsirannya jika 0.994 sehingga R2 = 0.989 atau 98.9% adalah pengaruh
variabel bebas terhadap perubahan variabel terikat adalah 98,9%, sedangkan
sisanya sebesar 1,1% dipengaruhi oleh variabel lain selain variabel bebas X.
Koefisien determinasi banyak digunakan dalam penjelasan tambahan untuk hasil
perhitungan koefisien regresi.

6.2.3. Korelasi Ganda


Korelasi ganda adalah korelasi yang menunjukkan arah dan kuatnya hubungan
antara dua atau lebih variabel terikat secara bersama-sama dengan variabel yang
lain (variabel bebas). Contohnya: hubungan antara kesejahteraan pegawai,
hubungan dengan pemimpin, dan pengawasan dengan efektivitas kerja.
Korelasi berganda merupakan korelasi dari beberapa variabel bebas secara

serentak dengan variabel terikat. Misalkan ada k variabel bebas,


dan satu variabel terikat Y dalam suatu persamaan regresi linear maka besarnya
korelasi bergandanya adalah :

a1 ∑ x1 y +a2 ∑ x 2 y + …+ak ∑ x k y
r y, x ,… , x =
1 n
∑ y2

dengan
∑ X 1∑ Y
∑ x 1 y=∑ X 1 Y − n
∑ Xk ∑ Y
∑ x k y=∑ X k Y − n

(∑ Y )
2

∑ y =∑ Y
2 2

n

6.2.4. Korelasi Parsial


Korelasi parsial adalah korelasi yang menunjukkan arah dan kuatnya hubungan
atau pengaruh antara dua variabel atau lebih (variabel bebas dan terikat) setelah
satu variabel yang diduga dapat mempengaruhi hubungan variabel tersebut
dikendalikan untuk dibuat tetap keberadaannya.
Persamaan korelasi antara x1 dengan y, bila variabel x1 dikendalikan atau korelasi
antara x1 dengan y bila x2 tetap yaitu :
(r ¿ ¿ y x 2 × r x x )
r y, x , x =r y x − 1 2
¿
√ (1−r 2
) (1−r 2
1 2 1

x 1 x2 y x2 )

Dimana :
r y, x , x = korelasi antara x1 dengan x2 secara bersama-sama dengan variabel y
1 2

r y x = korelasi product moment antara x1 dengan y


1

r y x = korelasi product moment antara x2 dengan y


2

r x x = korelasi product moment antara x1 dengan x2


1 2

6.3. Uji Hipotesis Korelasi


Pengujian hipotesis korelasi bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat
hubungan antara dua variabel tertentu.

 Perumusan hipotesis untuk korelasi adalah sebagai berikut:


H0: Tidak ada hubungan linier yang signifikan antara dua variabel
H1: Ada hubungan linier yang signifikan antara dua variabel

Atau H0 :ρ=0

H1 :ρ≠0
 Statistik uji:
Statistik uji menggunakan uji-T, yakni dengan menggunakan rumus sebagai
berikut:

=√
b SSR
r √ n−2 t hitung =
t hitung = atau S S
√ 1−r 2
S xx

t tabel=t α dimana df =n−2


( ;df )
2
 Kriteria uji
Tolak H0 jika thitung > ttabel atau thitung < -ttabel
 Kesimpulan

Sementara untuk menguji hipotesis koefisien korelasi dengan menggunakan


koefisien korelasi taksiran ( ρ0 ¿, dapat digunakan hipotesis sebagai berikut:
 H 0 : ρ= ρ0 dimana ρ0 ≠ 0

H 1 : ρ≠ ρ0

 Statistik uji:

z hitung =
2 [
√ n−3 ln ( 1+ r ) ( 1− ρ0 )
(1−r ) ( 1+ ρ0 ) ]
z tabel =z α (uji satu sisi) atau z tabel =z α (uji dua sisi)
2

 Kriteria uji:
Tolak H0 jika zhitung > ztabel atau zhitung < -ztabel
 Kesimpulan

6.4.Analisis Regresi
Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali dijumpai kasus yang berhubungan dengan dua
variabel atau lebih. Hubungan tersebut dapat berupa hubungan kausal atau hubungan
fungsional. Hubungan kausal misalnya : hubungan antara panas dengan tingkat muai
panjang, sedangkan hubungan fungsional contohnya: hubungan antara kepemimpinan
dengan tingkat kepuasan kerja pegawai.
Secara umum terdapat dua macam hubungan antara dua variabel atau lebih, yaitu :
Keeratan hubungan dapat diketahui dengan analisis korelasi (bukan hubungan sebab-
akibat)
Bentuk hubungan dapat diketahui dengan analisis regresi

6.4.1. Sejarah Regresi


Sejarah Regresi dimulai ketika Sir Francis Galton (1822-1911) yang membandingkan
tinggi badan anak laki-laki dengan tinggi badan ayahnya. Galton menunjukkan bahwa
tinggi anak laki-laki dari ayah yang tinggi setelah beberapa generasi cenderung mundur
(regressed) mendekati nilai populasi. Dengan kata lain, anak laki- laki dari ayah yang
badannya sangat tinggi, cenderung lebih pendek dari ayahnya. Sedangkan anak laki-laki
dari ayah yang badannya sangat pendek cenderung lebih tinggi dari ayahnya. Sekarang
istilah regresi diterapkan pada semua peramalan.

6.4.2. Definisi Regresi


Regresi merupakan salah satu metoda dalam analisis statistika yang digunakan untuk
menganalisis dan memodelkan secara matematis hubungan diantara dua variabel atau
lebih. Pada analisis regresi ini dikenal adanya variabel dependen (variabel tak
bebas/variabel tergantung/Unknown Variable/Response Variable) dan variabel
independen (variabel bebas/ Explanatory Variable/Regressor Variable/Predictor
Variabls/). Regresi dipakai untuk mengukur besarnya pengaruh perubahan pada
variabel dependen yang diakibatkan perubahan pada variabel independen.
Menurut Gujarati (2006) analisis regresi merupakan suatu kajian terhadap hubungan
satu variabel yang disebut sebagai variabel yang diterangkan (the explained variabel)
dengan satu atau dua variabel yang menerangkan (the explanatory). Variabel pertama
disebut juga sebagai variabel tergantung dan variabel kedua disebut juga sebagai
variabel bebas. Jika variabel bebas lebih dari satu, maka analisis regresi disebut regresi
linear berganda. Disebut berganda karena pengaruh beberapa variabel bebas akan
dikenakan kepada variabel tergantung. Saat ini, analisis regresi banyak digunakan untuk
menelaah hubungan dua variabel atau lebih dan menentukan pola hubungan yang
modelnya belum diketahui, sehingga regresi secara aplikatif lebih bersifat eksploratif.

6.4.3. Asumsi
Penggunaan regresi linear sederhana didasarkan pada asumsi diantaranya sbb:
 Error (ε) independen secara statistik
 Distribusi probabilitas dari Error berdistribusi Normal
 Distribusi probabilitas dari Error(*) mempunyai variansi yang konstan
 Ada hubungan linier antara kedua variabel

Catatan (*):

 Residual adalah selisih antara nilai duga (predicted value) dengan nilai pengamatan
sebenarnya apabila data yang digunakan adalah data sampel.
 Error adalah selisih antara nilai duga (predicted value) dengan nilai pengamatan yang
sebenarnya apabila data yang digunakan adalah data populasi.
 Persamaan keduanya : merupakan selisih antara nilai duga (predicted value) dengan
pengamatan sebenarnya.
 Perbedaan keduanya: residual dari data sampel, error dari data populasi.

6.4.5. Analisis Regresi Linier Sederhana


Regresi linier sederhana ini bertujuan untuk mempelajari hubungan antara dua variabel
yaitu satu variabel bebas/variabel independen (X) dan variabel terikat/variabel dependen
(Y). Bentuk umum dari pesamaan regresi linier sederhana dari populasi adalah:
y=α +βx +ε
Persamaan garis regresi sampel memberikan estimasi garis regresi populasi sebagai
berikut:
^y i =a+ bx
Keterangan :
^
y i = nilai estimasi dari variabel bebas. Ŷ juga merupakan variabel terikat (dependen
variable)
a = konstanta yang merupan nilai estimasi ^y jika nilai x=0 (intercept)
b = koefisien regresi/gradient garis regresi (slope)
x = variabel bebas (independent variable)
6.4.5.1. Metode Kuadarat Terkecil (Least-Squares Method)
Metode untuk menaksir α dan β sehingga jumlah kuadrat dari deviasi simpangan antara
observassi-observasin dan garis regresi menjadi minimum:
n ❑
SSE=L=∑ e 2i =∑ ¿ ¿ ¿ ¿
i=1 i=1

Dimana ε adalah nilai sisaan/galat/error yang merupakan penyimpangan model regresi


dari nilai yang sebenaranya.

Gambar VI.2 Grafik Regresi Linier dengan Nilai ε

Dengan cara mendeferensialkan persamaan di atas terhadap α dan kemudian terhadap β,


kemudian menyamakan hasil pendeferensilan itu dengan nol, maka:
n
∂L
=−2 ∑ (Y i−a−b (x i−x ¿))=0 ¿
∂a i=1
n
∂L
=−2 ∑ (Y i−a−b (x i−x ¿))(x i−x )=0 ¿
∂b i=1

Penyederhanaan dua persamaan tersebut di atas menghasilkan persamaan normal

kuadrat terkecil sebagai berikut:


n n
na+ b ∑ xi =∑ y i
i=1 i=1

dan
n n n

Dari persamaan di atas, maka diperoleh persamaan: ∑ x i y i=a ∑ x i +b ∑ x i2


i=1 i=1 i=1

b=
∑ ( x− x̄ )( y −Sȳxy)
atau b= atau
2S xx

( x− x̄ )

n ∑ xy−∑ x ∑ y
atau b=

(∑ x)
2

n∑ x − 2
Dari persamaan di atas disubstitusi, maka diperoleh persamaan untuk menentukan nilai
n n

a: a =
∑ yi ∑ xi
i=1
−b i=1
n n

atau:
a = y – bx
Dimana:
y = rata – rata yi
x = rata – rata xi

6.4.5.2. Partisi dari Varians Total


Estimasi parameter σ 2 menghasilkan variansi yang disebabkan karena kesalahan model
dan variansi yang disebabkan karena kesalahan eksperimen. Dekomposisi varians dapat
dijabarkan sebagai berikut:

SST = SSR + SSE


Keterangan:
SST = Sum of Square Total / Jumlah Kuadrat Total = S yy
SSR = Sum of Square Regression / Jumlah Kuadrat Regresi = b S xy

SSE = Sum of Square Eror / Jumlah Kuadrat Eror = S yy −¿ b S xy


Dimana : S xx =∑ x i2−n x 2
S yy =∑ y i −n y
2 2

S xy =∑ x i y i−n x y

6.4.5.3. Estimasi dari σ 2


Sum of Square Error (SSE) merupakan variansi yang menggambarkan penyimpangan
dari nilai–nilai observasi di sekitar garis regresi sampel. Nilai SSE ( Se ) atau yang biasa
disebut MSE (Mean Squared Error) adalah estimasi dari σ 2 dan diestimasi dengan
persamaan berikut:

Se = S =
√ n−2 √
∑ ( y−^y )2 = SSE
n−2 √S −b S xy
= yy
n−2

Standar Error Koefisien Regresi


Jika diambil sampel x dan y dari populasi, maka masing–masing sampel tersebut
memiliki gradien/slope (b) sendiri. Gradien sampel tersebut akan bervariasi disekitar
nilai koefisien regresi tersebut. Maka perlu diketahui variasi koefisien regresi tersebut
dengan persamaan berikut:

s sε sε
sb = = =
√ S xx √∑ ( x− x̄ )2
√ ( ∑ x )2
∑x − n
2
6.4.5.3. Standar Error untuk y bila nilai x diketahui
Jika nilai x dimasukkan berulang–ulang pada persamaan regresi, maka nilai rata–rata
yang diperoleh tidak akan sama, yang artinya nilai y bervariasi. Sehingga nilai standar
error y dapat ditentukan dengan persamaan berikut (bila x diketahui):

(√( ))
2
Sy = S 1 ( x 0−x )
e +
n S xx

6.4.6.Uji Parsial Parameter Regresi

Digunakan untuk menguji apakah parameter β berarti pada model secara parsial.
Tahapan uji yang dilakukan:
 Hipotesis:
H0 : β = 0
H1 : β ≠ 0
 Statistik Uji:
b−β 0 b− β0
t= =
s / √ S xx Sb
 Pengambilan Keputusan:

Tolak H0 jika thitung > t a/2(df= n-2) pada selang kepercayaan α

 Kesimpulan

6.4.7. Uji Intersep Model Regresi


Tahapan uji yang dilakukan:

 Hipotesis:
H0 : α = 0
H1 : α ≠ 0
 Statistik Uji:
a−α
t=
s
√ ∑ xi
n S xx
 Pengambilan Keputusan
Tolak H0 jika thitung > t a/2(db= n-2) pada selang kepercayaan α
 Kesimpulan

6.4.8. Selang Kepercayaan

Selang Kepercayaan untuk α:

a±t α /2
S √∑ x i
2

√ nS xx
Selang Kepercayaan untuk β:

b±t α /2 s b

6.4.9.Prediksi

Estimasi selang keyakinan untuk Rata-rata y, diberikan pada saat xp


2
1 (x p − x̄ )
^y ±t α /2 s ε +
n ∑ ( x− x̄ )2
Estimasi selang keyakinan untuk Nilai individual y diberikan pada saat xp


2
1 ( x p − x̄ )
^y ±t α /2 s ε 1+ +
n ∑ ( x− x̄ )2
6.5. Pemilihan Model Regresi
Penentuan model regresi linier sederhana ditekankan pada konsep linieritasnya
dengan asumsi awal bahwa hubungan tersebut linier diparamater regresinya.
Pemilihan variabel independen yang kurang tepat dapat menimbulkan bias dalam
estimasinya.
Tahapan uji yang dilakukan:

 Hipotesis
H0 : β = 0
H1 : β ≠ 0
 Tentukan daerah kritis dengan Level of Significance (α) yang biasa digunakan
adalah 0,01 atau 0,05

Tabel VI.1 Analysis of Variance

Sumber
Variansi SS df MS Fhitung
Regresi SSR 1 MSR = SSR/1 MSR/s2
Error SSE n – S2 = SSE/n-2

Total SST n –

 Pengambilan Keputusan
Tolak H0 jika Fhitung > Ftabel(1 , n-2) pada selang kepercayaan (level of significance) α
 Kesimpulan

6.5.1 Pendekatan Analisis Varians (Anova)

Untuk menguji kelayakan dari suatu model regresi digunakan pendekatan analisis
varians.Analisis varians adaah suatu prosedur membagi variansi total variabel dependen
menjadi dua komponen, yaitu: variansi model sistematik dan variansi error.
6.6. Analisis Residual
Analisis residual dapat dilakukan dengan:

a. Pengujian Unequal variances: Varians pada setiap nilai x harus identik, yaitudengan
melakukan plot e^i dengan ^y , apabila terdapat pola-pola tertentu berarti varians tidak
identik sehingga perlu distabilkan dengan transformasi.

b. Pengujian Non normal error,yaitu dengan:


 Stem and leaf
 Histogram
 Dot diagram
 Plot normal (Normal Probability Plot)
c. Jika terdapat extreme skewness (kemiringan yang ekstrim) pada data, maka tidak
berdistribusi normal.
d. Pengujian Correlated Error (independent), yaitu dengan melihat plot e^i dengan time
order (i). Jika ada pola tertentu, maka terjadilah dependent residual dimana
penyebabnya dapat karena kesalahan eksperimen atau kesalahan dalam
pembentukan model atau karena variabel prediktor yang diabaikan.
e. Pengecekan Ouliers residual yaitu dengan cara plot residual dalam batas pengujian
±3σ ( plot e^i dengan ^y ).Apabila residual terletak di luar batas 3σ atau nilainya lebih
besar dari 3σ, maka ada indikasi outlier.
6.7. Pengujian Linieritas Regresi:untuk data dengan observasi berulang
Pada beberapa percobaan untuk mendapatkan hasil yang akurat seringkali dilakukan
pengulangan observasi untuk setiap nilai x, sehingga perlu dilakukan pengujian apakah
model yang dihasilkan sudah memenuhi atau tidak. Untuk menggambarkan kondisi
tersebut diatas dilakukan pengujian kecocokan model dengan pendekatan Lack Of Fit.

6.7.1. Pengujian Lack Of Fit


Sum of squared error terdiri atas dua komponen, yaitu variasi random yang
muncul antar nilai y untuk setiap nilai x (pure experimental error) dan komponen yang
dikenal dengan istilah Lack Of Fit (LoF), untuk mengukur ketepatan model.
Prosedur Pengujian:

 Hipotesis
H0 : Tidak ada LoF
H1 : Ada LoF Model Linier tidak sesuai
 Tentukan daerah kritis dengan Level of Significance (α) yang biasa digunakan
adalah 0,01 atau 0,05
 Hitung Pure Error sum of square ( SSpe)

k n
SS pe =∑ ∑ ¿ ¿ ¿ ¿ dengan df = n – k
i=1 i=1

Tabel VI.2 Analysis of Variance

Sumber
Variansi SS df MS Fhitung
Regresi SSR 1 MSR = SSR/1 MSR/s2
Error: SSE n – S2 = SSE(/n-2)
2
Lof SSE - SSpe k-2 (SSE – SSpe ¿/(k−2)
Pure error SSpe n-k S2= SSpe /(n-k) SSE−SSpe
2
S (k−2)
Total SST n

 Pengambilan Keputusan

Tolak H0 jika Fhitung > Ftabel(k-2 , n-k) pada selang kepercayaan (level of significance) α

 Kesimpulan

Contoh 1
nilai 9 mahasiswa dari suatu kelas pada ujian tengah semester (x) dan pada ujian akhir
semester (y) sebagai berikut :

n 1 2 3 4 5 6 7 8 9
xi 7 50 7 72 81 9 96 9 67

yi 8 66 7 34 47 8 99 9 68

a. Tentukan persamaan garis regresi linear.


b. Tentukan nilai ujian akhir seorang murid yang mendapat nilai 85 pada ujian tengah
semester.
Jawab :
persamaan regresi linear

n 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Σ
xi 77 50 71 72 81 94 96 99 67 707
yi 82 66 78 34 47 85 99 99 68 658
xiyi 6314 3300 5538 2448 3807 7990 9504 9801 4556 53258
xi2 5929 2500 5041 5184 6561 8836 9216 9801 4489 57557
( 9 ) ( 53.258 )−( 707 ) (658)
Sehingga b = = 0,777142
( 9 )( 57.557 )−(707)2

dan

658−( 0,777142 ) (707)


a= = 12,06232
9
jadi, persamaan regresi linear adalah
^y = 12,06232 + 0,777142x

x = 85

^y = 12,06232 + (0,777142)(85) = 78,11936


Contoh 2
Lakukan uji regresi dengan pendekatan ANOVA pada :

x 3,4 2,8 2,5 3,7 3,2 3,1 2,9 3 2,2 2,4 2,7
y 25 20 18 25 21 22 30 22 10 20 17

Jawab :
Σx = 31,9 Σy = 230 Σ xiyi = 675,5
Σ xi2 = 94,49 Σ yi2 = 4866
x = 2,9 y = 20,9091
b = 0,777142
a = 12,06232
Sxx = Σ xi2 – n( x )2 = 1,98
Sxy = Σ xiyi – n( x y )= 8,4997
Syy = Σ yi2 – n( y )2 = 56,9049
SSR = b2 Sxx = 36,4894
SSE = Syy – SSR = 20,4155

 Hipotesis
H0 : β = 0
H1 : β ≠ 0
α = 0.05
 Tabel Anaysis of Variance

KomponenRe SS d M Fhitung
gresi
Regresi 36,4 1 36, 16,08
9 2
7
6
Error 20,4 9 2,2
2
Total 56,9 1
0
4
9
 Pengambilan Keputusan
F tabel = F(0.05;1,9) = 5,12
Karena Fhitung > Ftabel maka Ho ditolak
 Kesimpulan:Model Regresi linier sesuai

Contoh 3
Berikut adalah data jumlah biaya promosi (x) dan jumlah penjualan (y) pada perusahaan
ABC.

Tahu
Jumlah Biaya Promosi x) Jumlah Penjualan (y)
n

2005 22 30

2006 36 38
2007 31 35

2008 32 37

2009 31 34

2010 32 38

Tentukanlah apakah terdapat hubungan antara biaya promosi dengan penjualan


menggunakan uji korelasi Spearman Rank dan tingkat kesalahan 1%!

Jawab:

Jumlah
Jumlah
Biaya Range Range 2
Tahun Penjuala d i=R ( x )−R ( y) di
Promos x y
n (y)
i (x)

2005 22 30 1 1 0 0

2006 36 38 6 5.5 0.5 0.25

2007 31 35 2.5 3 -0.5 0.25

2008 32 37 4.5 4 0.5 0.25

2009 31 34 2.5 2 0.5 0.25

2010 32 38 4.5 5.5 -1 1

∑ 2

6 (2) 12
r s=1− 2
=1− =1−0 , 057=0 , 943
6(6 −1) 210
Uji Hipotesis:
H0 : Tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel biaya promosi dengan variabel
penjualan
H1 : Ada hubungan yang signifikan antara variabel biaya promosi dengan variabel
penjualan.

Statistika uji:
r √ n−2 ( 0 ,943 ) √ 6−2 1 , 886
t hitung = 2
= 2
= =17 , 03
1−r 1−( 0 , 943 ) 0 ,11075
t tabel=t =4 ,604
( 0 ,01
2
;4)

Kriteria uji: Karena thitung > ttabel maka tolak H0


Kesimpulan: Karena tolak H0 maka terima H1 yakni ada hubungan yang signifikan antara
variabel biaya promosi dengan variabel penjualan

LATIHAN SOAL:

1. Data berikut menyatakan IQ=X untuk kelompok anak berumur tertentu dan hasil ujian
prestasi pengetahuan umum (Y).

Xi Yi Xi Yi Yi Yi

114 29 13 71 96 45
110 41 68 89 32
113 48 14 69 105 50
137 73 66 125 57
116 55 13 39 107 59
132 80 78 97 48
90 40 14 49 134 55
121 75 59 106 45
107 43 12 66 99 47
120 64 13 67 98 59
125 53 46 117 47
92 31 10 47 100 49

12

11

12

95
10

a. Gambar diagram pencarnya.


b. Tentukn regresi linear Y atas X lalu gambarkan.
c. Jelaskan arti koefisien arah yang didapat.
d. Berapa rata-rata prestasi anak dapat diharapkan jika IQ nya 120?
e. Tentukan interval kepercayaan 95% untuk rata-rata prestasi anak dengan IQ=120.
Jelaskan artinya!
f. Tentukan interval kepercayaan 95% untuk seorang anak dengan IQ=120. Jelaskan
artinya!
g. Tentukan interval kepercayaan 95% untuk perubahan rata-rata prestasi jika IQ berubah
dengan satu unit.
h. Perlukah diambil model berbentuk lain?
i. Asumsi apakah yang harus diambil untuk menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan diatas?

2. Dari tabel berikut ini:

X (oC) Y (gram)
0 8 6 8
15 12 10 14
30 25 21 24
45 31 33 28
60 44 39 42
75 48 51 44
Carilah persamaan garis regresi
Gambarkan garis tersebut pada diagram pencar
Taksirlah banyaknya senyawa yang larut dalam 100 g air pada 50oC.

3. Lakukan uji model regresi pada soal no.1.

4. Berikut adalah data banyaknya modal (dalam juta rupiah) dan keuntungan yang diperoleh
(dalam juta rupiah) yang dihasilkan dalam waktu 10 bulan.

Modal (x) 189 204 192 214 218 178 189 167 180 194
Keuntungan 10 15 13 17 19 14 13 11 13 15
(y)

a. Hitunglah koefisien korelasi Pearson dan determinasi berdasarkan data di atas dan ujiah!
b. Tentukan apakah pernyataan bahwa koefisien korelasi antara jumlah karyawan dan
keuntungan tidak lebih dari 0,7 adalah benar! Gunakan tingkat kesalahan 5%!

5. Hitunglah koefisien korelasi kondisi temperatur (x) dan kepuasan pekerja (y) serta
apakah
ada hubungan yang signifikan antara keduanya dengan menggunakan teknik korelasi
pearson!

Kondisi temperatur KepuasanKerja


n
(x) (y)

1 8 20

2 12 20

3 10 17

4 7 18

5 8 19

6 7 20

7 12 18

8 10 19

9 12 16

1
9 17

1
10 16

1
12 17

1
12 18

1
12 12
1
12 17

6. Dibawah ini diberikan data yang secara acak diambil dari populasi normal bervariabel
dua (X dan Y).

X Y X Y X Y

15 10 8 56 17 153
13 11 75 6 73
10 10 17 137 8 95
11 20 163 5 26
16 99 12 84 3 24
12 11 18 149 6 50
9 16 140 14 96
12 13 13 137 5 35
4 18 170 15 132
8 97 11 109 16 141
74
98
20.
69
I.1.1 Regresi Linier Berganda
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menganalisis hubungan antara variabel
bebas (x) dan variabel terikat (y). Namun pada regresi linier berganda ini, variabel bebas (x)
yang digunakan lebih dari dari satu. Bentuk persamaan umum untuk model regresi linier
berganda:
^y = a + b 1 x 1+ b2 x 2 +… …+ bn x n
Keterangan:
^y = nilai dari variabel terikat
a = konstata nilai estimasi ^y jika nilai x=0 (intercept)
b i = koefisien regresi gradient garis regresi (slope)
x n = variabel bebas

I.1.1.1 Metode Kuadarat Terkecil (Least-Squares Method)


Untuk setiap pengamatan {( x1 i , x 2 i ; y i) ; i=1 , 2 , … ,n ¿ } akan memenuhi persamaan:
^y = a + b 1 x 1+ b2 x 2 +… …+ bn x n+ ei
Dengan menggunakan metode kuadrat terkecil, maka diperoleh persamaan:
e i= ^y - a - b 1 x 1−b2 x 2−… …−bn x n

Dengan syarat meminimasikan nilai a, b 1, dan b 2 penurunannya, maka diperoleh persamaan:


n n

∑ yi = an + b 1 ∑ x i 1 + b 1 ∑ x i 2
i=1 i=1

n n n n

∑ x 1 i yi = a∑ x 1 i + b 1 ∑ x 2i 1 + b 2 ∑ x i 1 x i 2
i=1 i=1 i=1 i=1

n n n n

∑ x 2 i y i = a∑ x 2 i + b 2 ∑ x 2i 2 + b 1 ∑ x i 1 x 2 i
i=1 i=1 i=1 i=1

Asumsi yang digunakan dalam analisis regresi linier berganda antara lain:
a. Setiap nilai error berdistribusi normal dengan rata–rata 0 dan dan varians σ2
b. Bersifat homoskedastisitas
c. Kovarian error = 0, tidak terjadi autokorelasi
d. Tidak terdapat multikolinieritas, artinya tidak terdapat hubungan linier yang sempurna
diantara variabel–variabel bebas.

Latihan soal

1. Dari tabel berikut ini:

X (oC) Y (gram)
0 8 6 8
15 12 10 14
30 25 21 24
45 31 33 28
60 44 39 42
75 48 51 44
a. Carilah persamaan garis regresi
b. Gambarkan garis tersebut pada diagram pencar
c. Taksirlah banyaknya senyawa yang larut dalam 100 g air pada 50oC.

2. Lakukan uji model regresi pada soal no.1.

Anda mungkin juga menyukai