BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Transformasi digital telah menjadi pendorong utama perubahan struktural di
berbagai sektor ekonomi, termasuk pasar tenaga kerja. Di Indonesia, adopsi teknologi
digital terus mengalami percepatan seiring dengan meningkatnya penggunaan internet,
otomatisasi, kecerdasan buatan, serta platform digital dalam dunia usaha dan pelayanan
publik. Perubahan ini tidak hanya menciptakan peluang baru dalam bentuk jenis
pekerjaan dan sektor industri baru, tetapi juga menimbulkan tantangan terhadap
ketersediaan, distribusi, dan kualitas tenaga kerja nasional.Pasar tenaga kerja Indonesia
saat ini dihadapkan pada dinamika yang kompleks. Di satu sisi, digitalisasi mendorong
terciptanya lapangan kerja di sektor-sektor berbasis teknologi seperti e-commerce,
fintech, dan industri kreatif digital. Namun di sisi lain, banyak pekerjaan konvensional di
sektor manufaktur, administrasi, dan jasa mulai terdisrupsi akibat otomasi dan efisiensi
berbasis teknologi. Kondisi ini berpotensi memperlebar kesenjangan keterampilan (skill
gap), terutama antara tenaga kerja terampil dan mereka yang belum memiliki kompetensi
digital yang memadai.Lebih lanjut, transformasi digital juga mempengaruhi pola
hubungan kerja, dengan meningkatnya tren pekerjaan berbasis kontrak jangka pendek
(gig economy) dan kerja jarak jauh (remote work). Perubahan ini menuntut respons
kebijakan yang adaptif dan inovatif, baik dalam hal pelatihan tenaga kerja, perlindungan
sosial, maupun regulasi ketenagakerjaan.Oleh karena itu, makalah ini bertujuan untuk
mengkaji dampak transformasi digital terhadap struktur pasar tenaga kerja di Indonesia.
Pembahasan akan difokuskan pada perubahan jenis dan jumlah lapangan kerja, tantangan
ketimpangan keterampilan, serta rekomendasi kebijakan yang dapat diambil untuk
memastikan bahwa digitalisasi membawa manfaat yang inklusif dan berkelanjutan bagi
tenaga kerja Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam makalah
ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh transformasi digital terhadap struktur pasar tenaga kerja di
Indonesia?
2. Apa saja sektor pekerjaan yang mengalami pertumbuhan dan penurunan akibat
digitalisasi?
3. Apa tantangan utama yang dihadapi tenaga kerja Indonesia dalam menyesuaikan diri
dengan perkembangan teknologi digital?
4. Kebijakan apa yang dapat diimplementasikan untuk meminimalkan dampak negatif
transformasi digital dan mengoptimalkan manfaatnya bagi tenaga kerja?
1.3 Tujuan Penulisan
Makalah ini bertujuan untuk:
1. Menganalisis perubahan struktur pasar tenaga kerja di Indonesia akibat transformasi
digital.
2. Mengkaji hubungan antara digitalisasi dan penciptaan maupun hilangnya lapangan
kerja berbagai sektor.
3. Mengidentifikasi tantangan utama yang dihadapi tenaga kerja Indonesia dalam
menghadapi era digital, terutama terkait kesenjangan keterampilan (skill gap).
4. Memberikan rekomendasi kebijakan strategis untuk mendukung kesiapan dan
adaptasi tenaga kerja nasional terhadap perubahan yang dibawa oleh transformasi
digital.
1.4 Manfaat Penulisan
Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun
praktis, antara lain:
1.Manfaat Teoritis
Makalah ini dapat menambah wawasan dan khazanah keilmuan di bidang ekonomi tenaga kerja
dan transformasi digital, khususnya dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia. Kajian ini
juga dapat menjadi referensi akademik bagi mahasiswa, peneliti, dan akademisi yang tertarik
mempelajari hubungan antara perkembangan teknologi dan dinamika pasar kerja.
2.Manfaat Praktis
Secara praktis, makalah ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pembuat kebijakan,
lembaga pendidikan, dan pelaku industri dalam merancang strategi adaptasi terhadap digitalisasi
pasar kerja. Temuan dan rekomendasi yang disajikan diharapkan mampu membantu meminimalkan
dampak negatif transformasi digital, serta mendorong terciptanya ekosistem ketenagakerjaan yang
inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.
1.5 Metode
Metode yang digunkan dalam pengumpulan data adalah metode,studi pustaka,metode
diskriptif dalam menganalisis data dan metode informal (naratif) dalam penyajian hasil
analisis.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Transformasi Digital
2.1.1 Pengertian Transformasi Digital
Transformasi digital proses yang menggunakan teknologi digital untuk mengubah cara
suatu organisasi beroperasi dan memberikan nilai kepada pelanggan, dengan fokus pada
peningkatan efisiensi, inovasi, dan pengalaman pelanggan.
Transformasi digital menurut Westerman, Bonnet, dan McAfee (2014) adalah perubahan
besar dalam cara organisasi beroperasi dan memberikan nilai kepada pelanggan dengan
memanfaatkan teknologi digital. menurut Bharadwaj et al. (2013) Transformasi digital
adalah penggunaan teknologi digital untuk secara signifikan memperbaiki kinerja atau
jangkauan perusahaan. Vial (2019) Transformasi digital adalah proses yang dipicu oleh
teknologi digital dan menyebabkan perubahan mendasar dalam organisasi yang
berdampak pada struktur, proses, strategi, dan budaya. Dapat disimpulkan bahwa
pengertian dari transformasi digital adalah Transformasi digital merupakan suatu proses
strategis dan menyeluruh dalam organisasi yang melibatkan pemanfaatan teknologi
digital untuk melakukan perubahan fundamental pada berbagai aspek bisnis. Perubahan
ini mencakup model bisnis, proses operasional, interaksi dengan pelanggan, serta struktur
dan budaya organisasi. Tujuan utama dari transformasi digital adalah untuk meningkatkan
efisiensi, daya saing, dan menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan di era digital.
Transformasi ini tidak hanya berfokus pada penerapan teknologi semata, tetapi juga
menuntut adanya inovasi dalam cara berpikir, bekerja, dan pengambilan keputusan,
sehingga teknologi digital dapat diintegrasikan secara efektif ke dalam inti strategi dan
operasional organisasi.
2.1.2 Ciri – Ciri Transformasi Digital
Pemanfaatan Teknologi Digital
Menggunakan teknologi seperti cloud computing, AI, big data, dan IoT untuk mendukung
operasional dan layanan.
Perubahan Model Bisnis
Model bisnis tradisional berubah menjadi digital, misalnya e-commerce atau platform digital.
Fokus pada Pengalaman Pelanggan
Memberikan layanan yang lebih cepat, personal, dan responsif sesuai kebutuhan pelanggan.
Integrasi Data dan Analitik
Mengandalkan data untuk pengambilan keputusan dan peningkatan kinerja organisasi.
Budaya Inovasi dan Adaptif
Mendorong inovasi, kolaborasi, dan kemampuan beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan.
Otomatisasi Proses Bisnis
Mengganti proses manual dengan sistem otomatis agar lebih efisien dan akurat.
Kepemimpinan Digital
Pimpinan organisasi aktif mendorong transformasi dan investasi teknologi.
Prioritas pada Keamanan Siber
Menjaga keamanan data dan sistem dari ancaman digital.
2.1.3 Syarat Transformasi Digital
2.2.3 Infrastruktur Teknologi yang Kuat
Tersedianya perangkat keras, perangkat lunak, jaringan internet, dan
sistem penyimpanan data (seperti cloud) yang memadai sebagai fondasi
utama transformasi digital.
2.3.3 Komitmen dan Kepemimpinan dari Pimpinan Organisasi
Dukungan manajemen puncak sangat penting dalam memberikan arah
strategis, alokasi anggaran, dan pengambilan keputusan berbasis digital.
2.4.3 SDM yang Kompeten dan Melek Digital
Pegawai harus memiliki pengetahuan dan keterampilan digital yang cukup
untuk mengadopsi dan memanfaatkan teknologi secara optimal.
2.5.3 Budaya Organisasi yang Mendukung Inovasi
Transformasi digital membutuhkan budaya kerja yang terbuka terhadap
perubahan, berorientasi pada inovasi, kolaboratif, dan adaptif terhadap
teknologi baru.
2.6.3 Strategi Digital yang Jelas dan Terukur
Organisasi perlu memiliki peta jalan (roadmap) transformasi digital yang
memuat tujuan, tahapan, indikator keberhasilan, serta prioritas
implementasi.
2.7.3 Manajemen Data dan Keamanan Siber
Pengelolaan data yang baik dan sistem keamanan yang kuat menjadi
syarat utama untuk menjaga integritas, privasi, dan kepercayaan pengguna
dalam sistem digital.
2.8.3 Regulasi dan Kebijakan Pendukung
Adanya peraturan internal maupun eksternal yang mendukung
pelaksanaan transformasi digital, termasuk perlindungan data, tata kelola
IT, dan hak akses.
2.9.3 Kesiapan Ekosistem Digital
Transformasi tidak hanya bergantung pada organisasi, tetapi juga kesiapan
mitra, pelanggan, serta lingkungan eksternal seperti penyedia layanan
digital.
2.1.4 Sistematis Transformasi Digitalisasi
1. Inisiasi (Awareness & Assessment)
Organisasi mulai menyadari pentingnya transformasi digital dan melakukan penilaian
awal terhadap kondisi internal, kesiapan digital, serta peluang dan tantangan yang ada.
2. Perencanaan Strategis (Strategic Planning)
Menyusun visi digital, merumuskan tujuan, menetapkan strategi, dan memilih teknologi
digital yang sesuai dengan kebutuhan dan arah bisnis.
3. Pengembangan Infrastruktur Digital (Digital Infrastructure Development)
Membangun atau memperbarui infrastruktur teknologi seperti jaringan, perangkat keras,
perangkat lunak, serta platform digital pendukung.
4. Implementasi Teknologi dan Otomatisasi (Implementation)
Menerapkan teknologi digital ke dalam proses bisnis inti, termasuk digitalisasi data,
otomatisasi proses, dan integrasi sistem.
5. Pengembangan SDM dan Budaya Digital (Human Capital & Culture Development)
Melatih pegawai agar memiliki kompetensi digital dan membangun budaya organisasi
yang terbuka terhadap inovasi dan perubahan.
6. Evaluasi dan Pengukuran Kinerja (Evaluation & Performance Measurement)
Mengukur efektivitas transformasi digital melalui indikator kinerja, umpan balik
pelanggan, serta dampaknya terhadap efisiensi dan inovasi.
7. Penyempurnaan dan Skalabilitas (Optimization & Scaling Up)
Melakukan perbaikan berkelanjutan berdasarkan hasil evaluasi dan memperluas
penerapan digital ke seluruh unit atau proses organisasi.
2.2 Pasar Tenaga Kerja
2.2.1 Pengertian Pasar Tenaga Kerja
Pasar tenaga kerja adalah transaksi antara pembeli (perusahaan) dan penjual
(pekerja) yang mengalokasikan pekerja untuk pekerjaan dan mengkoordinasikan
keputusan pekerjaan, dimana pada beberapa pasar tenaga kerja diwakili serikat pekerja
yang menegakkan aturan formal untuk mengatur transaksi yang terjadi (Ehrenberg &
Smith, 2018). Adapun menurut Suroto (1992), pasar tenaga kerja didefinisikan
keseluruhan antara kebutuhan (demand) dan penawaran (supply) pekerjaan yang ada
pada masyarakat terhadap semua mekanisme yang memungkinkan perdagangan
produktif antara mereka yang menjual tenaga kerja dan pengusaha yang
membutuhkannya. Sumarsono (2003) berpendapat bahwa pasar kerja adalah proses
berkumpulnya para pencari kerja dan lowongan. Setiap lowongan pekerjaan memiliki
pekerjaan yang berbeda, dan pemberi kerja memiliki kriteria sendiri untuk menilai
tingkat pendidikan, karakteristik pribadi,
2.2.2 Ciri – Ciri Tenaga Kerja
a. Pasar Tenaga Kerja Utama (Primary Labour Market) dan Pasar Tenaga Kerja
Sekunder (Secondary Labour Market)
Suroto (1992) orang yang bekerja di pasar tenaga kerja utama umumnya menikmati
beberapa keuntungan, seperti upah yang lebih tinggi, kondisi kerja yang lebih baik,
pekerjaan yang lebih aman, kesempatan untuk maju, keadilan, dan penegakan
aturan ketenagakerjaan yang baik. Di sisi lain, mereka yang bekerja di pasar tenaga
kerja sekunder biasanya menderita upah rendah, dan kondisi kerja yang buruk,
pekerjaan tidak tetap, banyak perubahan pekerjaan, kesempatan promosi yang
rendah, kurangnya pengawasan yang ketat, kurangnya disiplin, banyak pencurian
dan lainnya.
b. Tenaga Kerja Terdidik dan Tenaga Kerja Tidak Terdidik
Sumarsono (2003) pasar tenaga kerja terdidik adalah pasar yang memerlukan keterampilan
khusus, biasanya didapatkan melalui pendidikan formal, yang memerlukan investasi waktu
dan pendidikan yang signifikan. Jadi masingmasing dari mereka menghabiskan waktu yang
relatif lama untuk mencari penyesuaian terhadap apa yang mereka inginkan. Sebaliknya,
pasar tenaga kerja tidak terdidik adalah pasar tenaga kerja yang memasok pekerja yang
tidak memerlukan keterampilan khusus atau tingkat pendidikan yang relatif rendah karena
area kerja tidak memerlukan keterampilan atau pelatihan khusus.
c. Pasar Tenaga Kerja Intern dan Ekstern
Pasar tenaga kerja intern adalah pasar dimana prioritas diberikan kepada karyawan yang
ada untuk mengisi posisi pekerjaan yang diperlukan. Hal ini biasanya berhubungan dengan
promosi karyawan. Pasar tenaga kerja ekstern adalah pasar yang menerima pihak luar untuk
mengisi posisi yang diperlukan (Sumarsono, 2003).
d. Permintaan dan Penawaran Tenaga Kerja
Menurut Suroto (1983), permintaan tenaga kerja ialah permintaan berdasarkan pada
kesediaan untuk membayar upah tertentu sebagai imbalan. Pemberi kerja membutuhkan
karyawan dengan kesediaan membayar gaji dengan
jumlah tertentu setiap kali. Oleh karena itu, dalam persyaratan ini diperhitungkan tingkat
upah yang berlaku di masyarakat atau tingkat upah yang dibayarkan kepada pekerja yang
bersangkutan. Menurut Sumarsono (2003), permintaan tenaga kerja mengacu pada jumlah
pekerja yang diinginkan oleh suatu perusahaan atau instansi. Secara umum, perubahan
tingkat upah dan perubahan permintaan produk oleh konsumen mempengaruhi permintaan
tenaga kerja. Ketika tingkat upah tinggi biasanya sedikit pemberi kerja membutuhkan tenaga
kerja. Hal tersebut merupakan permintaan tenaga kerja sebagai fungsi dari tingkat upah.
a) Meningkatkan tingkat upah mengakibatkan kenaikan pada biaya produksi perusahaan,
sehingga harga unit barang yang diproduksi mengalami kenaikan.
b) Jika upah meningkat dan harga barang modal lainnya diasumsikan tetap, maka pengusaha
biasanya akan menggunakan teknologi padat modal seperti mesin dan lain-lain pada proses
produksinya meganggantikan kebutuhan akan tenaga kerja.
Permintaan tenaga kerja juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti fluktuasi permintaan pasar
terhadap produk perusahaan terkait. Permintaan produksi yang meningkat membuat
produsen cenderung meningkatkan kapasitas produksinya. Hal ini memungkinkan produsen
untuk menambah pekerja. Sumarsono (2003) menyatakan bahwa penawaran tenaga kerja
merupakan fungsi dari upah, sehingga jumlah pekerja yang diberikan akan dipengaruhi oleh
tingkat upah terutama jenisjenis pekerjaan khusus. Suroto (1983) mempertimbangkan
faktor penawaran tenaga kerja berupa upah. Dalam hal ini, pencari kerja bersedia menerima
pekerjaan atau menawarkan tenaganya jika setiap kali diberi sejumlah uang tertentu.
Jumlah pegawai disesuaikan pada besarnya kebutuhan dan jumlah pekerjaan dipengaruhi
oleh penawaran dan permintaan. Tingkat upah mempengaruhi penawaran dan permintaan
tenaga kerja. Ketika tingkat upah naik, penawaran tenaga kerja bertambah. Sebaliknya,
tingkat upah naik, permintaan tenaga kerja menurun (Simanjuntak, 2001).
2.3 Analisis Perubahaan Struktur lapangan Kerja Akibat Digitalisasi
a. Pergeseran Permintaan Pekerjaan
Digitalisasi meningkatkan permintaan terhadap pekerjaan berbasis teknologi seperti
software engineer, data analyst, dan AI specialist. Sementara itu, pekerjaan manual
dan repetitif seperti kasir dan operator data entry mengalami penurunan akibat
otomatisasi.
b. Transformasi Pola Hubungan Kerja
Munculnya pekerjaan jarak jauh (remote work), freelance, dan gig economy
mengubah pola kerja tradisional. Hubungan kerja menjadi lebih fleksibel, tidak
terbatas pada kontrak kerja penuh waktu.
c. Tantangan Sektor Informal dan Gig Economy
Banyak tenaga kerja masuk ke sektor informal berbasis platform digital.
Meskipun fleksibel, pekerjaan ini cenderung tidak memiliki jaminan sosial, pensiun,
dan perlindungan hukum yang memadai.
d. Kesenjangan Ketrampilan dan Akses Digital
Kesenjangan digital terjadi antara tenaga kerja yang menguasai teknologi dan
yang belum. Pekerja di daerah terpencil atau tanpa akses pelatihan rentan tertinggal
dalam pasar kerja digital.
3.4 Hubungan Antara Pertumbuhan Ekonomi dan Penciptaan Lapangan kerja di Era
Digital
Menurut Katz, R.L. & Callorda, F. (2018) Transformasi digital mendorong pertumbuhan
ekonomi melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi sektor-sektor industri. Namun,
penciptaan lapangan kerja sangat tergantung pada kesiapan tenaga kerja dan adaptasi
kebijakan pendidikan dan pelatihan. Menurut World Bank (2019) Digitalisasi dapat
mempercepat pertumbuhan ekonomi di negara berkembang seperti Indonesia, namun
menciptakan "job polarization" — yaitu peningkatan pekerjaan berketerampilan tinggi dan
rendah, tetapi penurunan untuk pekerjaan menengah. Menurut Brynjolfsson, E., & McAfee,
A. (2014) Kemajuan teknologi digital mendorong pertumbuhan ekonomi, namun dapat
mengganggu pasar tenaga kerja tradisional. Solusi yang ditawarkan adalah peningkatan
keterampilan digital dan pendidikan yang adaptif.
Di era digital, pertumbuhan ekonomi mengalami percepatan signifikan akibat adopsi
teknologi yang meningkatkan efisiensi dan produktivitas berbagai sektor. Namun, penciptaan
lapangan kerja tidak selalu berjalan seiring dengan pertumbuhan tersebut. Para ahli seperti
Brynjolfsson dan McAfee (2014) serta Katz dan Callorda (2018) menekankan bahwa teknologi
digital, meskipun membuka peluang ekonomi baru, juga dapat menggantikan pekerjaan yang
bersifat rutin dan manual. Laporan World Bank (2019) dan ILO (2021) menunjukkan bahwa
digitalisasi menciptakan tantangan baru dalam bentuk ketimpangan pekerjaan dan perlunya
perlindungan sosial, khususnya di sektor informal dan platform kerja digital. Oleh karena itu,
penciptaan lapangan kerja yang inklusif sangat bergantung pada kebijakan pemerintah dalam
meningkatkan keterampilan digital tenaga kerja, reformasi pendidikan, dan perlindungan
pekerja. Dengan pendekatan yang tepat, transformasi digital tidak hanya dapat mendorong
pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi katalisator bagi penciptaan lapangan kerja yang
berkualitas dan berkelanjutan.
2.5 Studi Kasus
1. Studi Kasus Go-Jek dan Digitalisasi Tenaga Kerja Informal
Go-Jek sebagai perusahaan teknologi berbasis aplikasi mengubah cara kerja ojek
konvensional menjadi digital.
Dampak Terhadap Tenaga Kerja:
o Positif: Memberikan peluang pekerjaan fleksibel bagi ribuan pengemudi.
o Negatif: Munculnya ketidakpastian kerja dan minimnya jaminan sosial karena sistem
kemitraan (bukan hubungan kerja formal).
2. Studi Kasus Digitalisasi UMKM selama pandemic COVID-19 di Indonesia
UMKM dipaksa beradaptasi dengan teknologi digital untuk bertahan. dengan cara melakukan
penjualan menggunakan media sosial.
Dampak Terhadap Tenaga Kerja:
o Terbukanya peluang usaha berbasis digital (seperti dropshipping, reseller online).
o Namun, terjadi pengurangan tenaga kerja di sektor ritel konvensional.
2.6 Kerangka Berpikir
Transformasi digital memicu perubahan besar dalam struktur pasar tenaga kerja di
Indonesia. Digitalisasi, melalui otomatisasi, penggunaan teknologi informasi, dan
pengembangan platform digital, telah menggeser pola kerja tradisional menuju bentuk kerja
yang lebih fleksibel, berbasis teknologi, dan terdesentralisasi. Perubahan ini berdampak pada
jenis pekerjaan yang tersedia, keterampilan yang dibutuhkan, serta model hubungan kerja
antara pekerja dan pemberi kerja.Selanjutnya, hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan
penciptaan lapangan kerja di era digital menjadi tidak linear. Di satu sisi, digitalisasi dapat
mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan efisiensi dan produktivitas. Namun di
sisi lain, teknologi dapat menggantikan pekerjaan-pekerjaan tertentu, sehingga menciptakan
kesenjangan antara permintaan dan penawaran keterampilan tenaga kerja.Untuk menjawab
tantangan tersebut, diperlukan rekomendasi kebijakan yang mampu mengatasi kesenjangan
keterampilan. Kebijakan tersebut mencakup reformasi pendidikan, pelatihan ulang tenaga kerja
(reskilling), peningkatan keterampilan (upskilling), serta kolaborasi antara pemerintah, industri,
dan lembaga pendidikan guna membentuk ekosistem keterampilan yang sesuai dengan
kebutuhan ekonomi digital. Dengan pendekatan kebijakan yang tepat, transformasi digital dapat
dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan
penciptaan lapangan kerja yang berkelanjutan.
2.7 Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini diartikan sebagai jawaban sementaraa terhadap masalah yang
masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya. Adapun pengertian hipotesis
menurut Sugiyono (2022, hlm. 99) pengertian hipotesis adalah sebagai berikut: “Hipotesis
merupakan jawaban sementara terhadap perumusahan masalah penelitian, dimana rumusan masalah
penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaaan. Dikatakan sementara, karena jawaban
yang diberikan baru didasarkan pada fakta – fakta empirires yang diperoleh melalui pengumpulan
data. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah
penelitian, belum jawaban empiric.”
Berdasarkan kerangka pemikiran di atas maka dirumuskan Hipotesis sebagai berikut:
H₂: Perubahan struktur pasar kerja akibat digitalisasi menyebabkan pergeseran jenis pekerjaan dan
keterampilan yang dibutuhkan.
H₃: Transformasi digital memperbesar kesenjangan keterampilan antara tenaga kerja dan kebutuhan
industri.
H₄: Kesenjangan keterampilan menjadi faktor penghambat penciptaan lapangan kerja meskipun
terjadi pertumbuhan ekonomi.
H₅: Kebijakan yang tepat seperti reformasi pendidikan, reskilling, dan kolaborasi lintas sektor dapat
mengurangi kesenjangan keterampilan dan mendorong penciptaan lapangan kerja yang
berkelanjutan.
H₆: Implementasi kebijakan adaptif terhadap digitalisasi berkontribusi terhadap pertumbuhan
ekonomi yang inklusif.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian mempunyai peran yang sangat penting dalam pengembangan pengetahuan
ilmiah. Menurut Sugiyono (2019, hlm 2) metode penelitian pada dasarnya merupakan
cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan kegunaan tertentu,
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan tujuan untuk
memahami secara mendalam bagaimana transformasi digital memengaruhi struktur
pasar tenaga kerja, keterampilan yang dibutuhkan, serta implikasi kebijakan di
Indonesia. Pendekatan ini sesuai untuk mengungkap fenomena sosial-ekonomi yang
kompleks dan dinamis.
Menurut Sugiyono (2017) “Deskriptif kualitatif adalah metode penelitian yang
digunakan untuk menggambarkan suatu objek, peristiwa, atau fenomena secara
sistematis, faktual, dan akurat berdasarkan data yang dikumpulkan secara kualitatif.
Data yang dikumpulkan berupa kata-kata, kalimat, dan tindakan, bukan angka.”
Metode deskriptif kualitatif adalah pendekatan penelitian yang bertujuan
menggambarkan suatu fenomena, objek, atau kejadian secara sistematis dan mendalam
berdasarkan data kualitatif seperti kata-kata, kalimat, dan tindakan. Pendekatan ini
menekankan pemahaman konteks sosial dan makna yang terkandung dalam data tanpa
mengandalkan angka atau statistik. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi,
dan dokumen untuk memberikan gambaran yang utuh dan detail mengenai objek
penelitian.
3.2 Sumber dan Teknik Pengambilan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:
Data Sekunder di dapat dari
a. Laporan resmi lembaga internasional seperti World Bank, ILO, danMcKinsey.
b. Statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia.
c. Literatur akademik dan jurnal ilmiah terkait digitalisasi dan tenaga kerja.
d. Kebijakan pemerintah Indonesia terkait pendidikan, pelatihan, dan
transformasi digital.
Teknik Pengumpulan Data:
a. Studi dokumentasi dan tinjauan pustaka
b. Analisis konten terhadap dokumen dan laporan kebijakan
3.3 Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan analisis isi (content analysis) dan analisis
tematik untuk mengidentifikasi pola, hubungan antar variabel, dan tren dampak
digitalisasi terhadap:Teknik analisis data Teknik sampling yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu nonphpbability sampling. Menurut Sugiyono (2019, hlm. 131)
pengertian nonphpbability sampling adalah : “Nonphpbability sampling teknik
pengambilan sampel yang tidak memberi peluang / kesempatan sama bagi setiap
unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.”Teknik nonphpbability
sampling yang digunakan dalam pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu
purposive sampling. menurut Sugiyono (2019,hlm. 133) pengertian purposive
sampling adalah :“Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan
pertimbangan tertentu. Teknik ini bisa diartikan sebagai suatu proses pengambilan
sampel dengan menentukan terlebih dahulu jumlah sampel yang hendak diambil,
kemudian pemilihan sampel dilakukan berdasarkan tujuan – tujuan tertentu,
asalkan tidak menyimpang dari ciri ciri sampel yang di tetapkan.”Pengambilan
sampel dalam teknik ini, sampel yang dipilih berdasarkan kriteria sampel
ditentukan. Maka seluruh populasi akan diseleksi berdasarkan kriteria yang ada
dan haya memenuhi kriteria yang akan menjadi sampel dalam penelitian ini.
Struktur lapangan kerja
Ketimpangan keterampilan
Keterkaitan antara pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja
Jika diperlukan, juga digunakan analisis data sekunder kuantitatif untuk
memperkuat temuan, seperti:
Tren penyerapan tenaga kerja per sektor
Tingkat pengangguran berdasarkan tingkat pendidikan
Akses pelatihan digital berdasarkan wilayah atau demografi
Analisis data sekunder adalah proses mengolah dan menganalisis data
yang telah dikumpulkan oleh pihak lain sebelumnya untuk tujuan penelitian atau
kajian tertentu. Data ini bukan hasil pengumpulan langsung oleh peneliti,
melainkan berasal dari sumber seperti laporan, statistik resmi, arsip, atau data
publik yang sudah ada. Dengan menggunakan data sekunder, peneliti dapat
menghemat waktu dan biaya sekaligus memperoleh informasi yang luas dan
mendalam.
3.4 Lokasi Penelitian
Penelitian ini difokuskan pada konteks pasar tenaga kerja di Indonesia,
dengan cakupan nasional namun memperhatikan dinamika sektor tertentu
seperti industri manufaktur, jasa, dan digital economy. Waktu pelaksanaan
penelitian direncanakan 2020-2025.
3.5 Instrumen Penelitian
Instrumen utama adalah pedoman analisis dokumen yang disusun
berdasarkan indikator-indikator seperti:
Indeks kesiapan digital
Jumlah tenaga kerja di sektor digital
Program pelatihan keterampilan berbasis TIK
Kebijakan pemerintah terkait reskilling dan reformasi pendidikan