TEKNOLOGI DAN PERALATAN TRADISIONAL PERTANIAN
DISUSUN OLEH
KELOMPOK 3
1. VIOLA DESTI VIANA
2. BUNGA LORENZA
3. M.ZAKI RAHMAN
4. ARYO SETO
5. JUMALDI SAPUTRA
6. ANDRES INIESTA
GURU PEMBIMBING
SEPRIO WARDI, S.Pd
SMAN 1 RANAH PESISIR
TAHUN PELAJARAN 2025/2026
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Karena Puji dan
Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat
dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik dan benar, serta
tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami akan Membahas mengenai “TEKNOLOGI
DAN PERALATAN TRADISIONAL PERTANIAN”.
Makalah ini telah dibuat dengan berbagai observasi dan beberapa bantuan dari berbagai
pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan makalah
ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh
karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat
membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk
penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi kita semua.
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pertanian merupakan sektor vital dalam perekonomian Indonesia, terutama di
Sumatera Barat. Sejak dahulu, petani di Indonesia, khususnya di Sumatera Barat,
telah mengembangkan berbagai teknologi dan peralatan tradisional untuk mendukung
kegiatan pertanian mereka. Peralatan seperti bajak singkal, sabit, dan alat penumbuk
padi tradisional telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan petani.
Namun, modernisasi pertanian membawa perubahan signifikan. Penggunaan
teknologi modern seperti traktor, mesin Combine harvester, dan sistem irigasi modern
semakin meluas. Peralihan ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana teknologi
dan peralatan tradisional pertanian dapat bertahan dan beradaptasi di era modern.
Selain itu, penting untuk memahami nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang
terkandung dalam teknologi tradisional, serta dampaknya terhadap keberlanjutan
lingkungan dan sosial ekonomi petani.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana perkembangan dan penggunaan teknologi serta peralatan tradisional
pertanian di Sumatera Barat saat ini?
2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi keberlanjutan penggunaan teknologi
dan peralatan tradisional pertanian di era modern?
3. Bagaimana peran teknologi dan peralatan tradisional pertanian dalam menjaga
keberlanjutan lingkungan dan sosial ekonomi petani di Sumatera Barat?
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Mendeskripsikan perkembangan dan penggunaan teknologi serta peralatan
tradisional pertanian di Sumatera Barat.
2. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keberlanjutan penggunaan
teknologi dan peralatan tradisional pertanian di era modern.
3. Menganalisis peran teknologi dan peralatan tradisional pertanian dalam menjaga
keberlanjutan lingkungan dan sosial ekonomi petani di Sumatera Barat.
BAB II
PEMBAHASAN
A. TEKONOLOGI PRODUKSI PERTANIAN
Pengairan: Kincia Aia (Kincir Air)
Kincia aia (kincir air) merupakan salah satu alat dan teknologi penting pada masanya.
Masyarakat dahulunya dan mungkin sebagain kecil sekarang ini menggunakan kincia
aia untuk membantu beberapa pekerjaan. Seperti di pertanian, kincia aia dapat
digunakan untuk menaikkan air dari sungai dan mengalir ke sawah. Selain itu, kincia
aia juga digunakan untuk menumbuk bahan makanan tertentu, seperti membuat
tepung, menumbuk kopi, dan sebagainya.
Kincia aia terbuat dari bambu, kayu, dan tali untuk pengikat. Proses pembuatannya
cukup lama, yakni bisa menghabiskan waktu satu bulan bila dikerjakan oleh satu
orang. Kincia aia berbentuk roda, bagian sumbu terbuat dari kayu yang berdiameter
kira-kira 25 cm, jari-jari terbuat dari bambu, dan panjangnya disesuaikan dengan
kedalaman sungai. Lingkaran luar juga terbuat dari bambu pilihan agar kincia aia
kuat. Pada bagian lingkaran luar dipasang tabung-tabung dari bambu berdiameter
kira-kira 8-10 centimeter yang berfungsi untuk menaikkan air sewaktu kincia aia
berputar.
Selanjutnya, kincia aia dipasang di bagian tepi sungai dengan tiang-tiang penyangga
sumbu yang terbuat dari bambu atau kayu. Untuk menghasilkan aliran air yang deras
untuk memutar kincia aia, dibuat baramban (bendungan) yang bisa menahan aliran
air. Aliran air diarahkan ke tempat kincia aia dipasang. Dengan demikian, kincia aia
dapat berputar dengan baik dan dapat menaikkan banyak air dari sungai. Di Sumatera
Barat, kincia aia ditemukan di beberapa daerah, seperti di Pasaman, kincia aia banyak
di jumpai di daerah Cubadak, Kabupaten Pasaman dan daerah lainnya di Sumatera
Barat.
B. PENGOLAHAN LAHAN
Bajak
Bajak adalah alat utama dalam pertanian. Dulunya digunakan dengan tenaga sapi atau
kerbau. Istilah membajak tidak digunakan di semua daerah di Sumatera Barat. Di
beberapa daerah seperti di Kabupaten Agam dipergunakan istilah manjaja dan di
Padang Luar Kota dipakai istilah mamugo, dan di daerah lain digunakan istilah yang
berbeda.
Pekerjaan membajak dilakukan pada sawah yang tidak mendapat pengairan tetap,
artinya pengerjaan sawah tersebut akan bergantung pada musim hujan. Apabila musim
hujan sudah datang, barulah orang mulai ke sawah. Untuk itu, biasanya selama
beberapa hari sawah itu digenangi air supaya agak lunak dan mudah dibajak.
Jenis sawah yang akan dikerjakan dengan bajak ini juga bergantung pada keadaan dari
sawah yang bersangkutan. Artinya, tidak setiap sawah dikerjakan dengan cara
membajaknya. Pada umumnya sawah-sawah yang dapat diari (mempunyai pengairan
yang tetap) tidak mempergunakan bajak karena sawah tersebut sudah lunak (karena
selalu diari). Sawah yang akan dibajak ini adalah sawah yang tidak mendapat
pengairan tetap (sawah tadah hujan), yakni sawah yang airnya bergantung pada air
hujan. Bila musim hujan datang, barulah sawah diolah untuk ditanam dengan padi.
Sikek
Bentuknya hampir menyerupai bajak, tetapi bagian belakangnya tidak mempunyai
singka. Sebagai gantinya diberi sepotong kayu yang diberi berjari-jari dari kayu atau
bambu yang dikecil-kecilkan yang menyerupai bentuk sisir (sikek menurut dialek
Minangkabau). Itulah sebabnya alat itu dinamakan sikek. Bentuk yang menyerupai
sisir ini dibuat dari sepotong kayu atau pelepah emau sepanjang 11/2—2 meter. Pada
bagian bawah menurut panjang kayu tersebut diberi bergigi sebanyak antara 10
sampai 15 buah, tetapi kebanyakan orang mempergunakan 12 buah. Gigi sikek ini
besarnya kira-kira sebesar empu jari tangan orang dewasa dan panjangnya kira-kira
10 centimeter. Sikek terbuat dari kayu yang keras, ruyung atau besi dengan ukuran
yang sama. Sikek ini dipergunakan untuk memecah tanah yang berbingkah-bingkah
setelah proses membajak selesai. Alat ini dipakai dengan mempergunakan tenaga
hewan, seperti lembu atau kerbau. Baik bajak maupun sikek ini hanya dapat
dipergunakan pada sawah yang dangkal, sedangkan pada sawah yang dalam alat ini
tidak dapat dipergunakan.
Tulak-Tulak
Terdapat sebuah ungkapan dalam alat ini. Di pangka pasang tulak-tulak, nak rato
lakeknyo tali bilah, dek susah batenggang dinan indak, dipakai baju sabalun sudah.
Ungkapan di atas secara eksplisit bercerita tentang tulak-tulak, yaitu sejenis teknologi
tradisional di bidang pertanian yang dimiliki oleh masyarakat di Sumatera Barat.
Fungsi utama tulak-tulak adalah menyeimbangkan posisi tali bilah, yaitu dua helai
kayu yang dipasang sebagai bagian dari kelengkapan bajak para petani di daerah
tersebut. Secara sosial budaya, teknologi tradisi tulak-tulak, sebagaimana terdapat
pada pantun di atas berkisah tentang perasaan yang dialami oleh seseorang.
Kemiskinan, ketidakberdayaan telah menyebabkan seseorang tersebut melakukan
sesuatu yang kurang pantas untuk dilakukan.
Tidak diketahui secara pasti terkait kapan alat ini digunakan, tetapi hampir semua
petani di daerah Sumatera Barat telah membuat tulak-tulak pada zaman dahulu.
Sekarang, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah secara berangsur
mengeser posisi dan fungsi dari tulak-tulak. Para warga mulai memanfaatkan hasil
teknologi yang lebih canggih. Kecenderungan generasi muda sekarang ini,
sebagiannya tidak lagi mengetahui cara pembuatan tulak-tulak, bahkan kegunaan dan
bentuknya. Nilai moral-sosial yang tersimpan dalam bentuk, kegunaan, dan proses
pembuatan tulak-tulak pun berangsur hilang, termarjinalkan oleh hadirnya berbagai
Jae (perahu-perahu)
Jae atau perahu-perahu adalah sejenis alat pertanian yang dipergunakan untuk
membawa tanah (lumpur sawah) dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah
supaya sawah tersebut datar dan rata sehingga dapat digenangi air secara merata. Alat
ini terbuat dari sepotong kayu pipih (papan) yang lebar dan lonjong bagian mukanya
yang panjangnya antara 1-1 ½ meter dan lebar kira-kira 1 meter. Bagian muka yang
lonjong itu diberi lubang tempat mengikatkan tali penariknya. Tali penarik ini dibuat
dari ijuk atau sejenis akar kayu yang kuat. Pada bagian ujung tali tersebut diberi atau
diikatkan sepotong kayu yang dipergunakan sebagai tempat memegang saat menarik
alat tersebut. Di daerah Sumatera Barat penyebutan alat ini pun beragam, seperti di
Tanah Datar alat ini dinamakan jae, sedangkan di daerah Sawahlunto dan Sijunjung
dinamakan perahu-perahu.
Pangkua atau Cangkul
Dalam dialek Minangkabau cangkul sering disebut dengan istilah pangkua. Alat ini
terdiri dari dua bagian, yaitu mata cangkul dan tangkai cangkul. Mata cangkul terbuat
dari besi yang dibentuk menyerupai bentuk segi empat, lonjong, empat persegi
memanjang. Salah-satu bagiannya diasah hingga tajam dan dipergunakan sebagai
mata cangkul yang masuk dalam tanah. Pada salah salah satu sisi dari mata cangkul
ini (bagian yang tidak diasah) dipergunakan sebagai tempat untuk
melekatkan/mengaitkan tangkai cangkul. Bagian untuk melekatkan ini ada yang
berbentuk/diberi bertangkai (punco). Ke dalam lubang ini dimasukkan tangkai
cangkul. Jika dianggap perlu, pada tangkai cangkul diberi pasak agar cangkul dapat
melekat erat pada tangkainya. Punco dimasukkan ke dalam tangkai cangkul dengan
mempergunakan embalau (sejenis getah kayu) sehingga ia akan menjadi satu dengan
tangkai tersebut dan susah untuk dibongkar kembali.
Rembeh
Sejenis alat yang dipergunakan untuk potong memotong bahan keperluan rumah
tangga. Ladiang terbuat dari besi yang ditempa agak tipis. Salah satu sisinya diasah
supaya tajam supaya dapat dipergunakan untuk memotong. Panjang kira-kira 30-40
centimeter dan lebar kira-kira 10 centimeter. Pada bagian pangkalnya diberi berpunco,
yang dipergunakan untuk memasukkannya ke dalam tangkai (hulu) dari parang
tersebut. Panjang tangkai kira-kira 15 centimeter dan lebarnya dengan ukuran dapat
digenggam tangan. Pada bagian kebelakang ukurannya agak besar daripada bagian
muka.
Peralatan-peralatan yang dipergunakan untuk keperluan mengerjakan tali bandar
tersebut tidak bersifat khusus, tetapi dapat juga dipergunakan untuk keperluan lain.
Pato (Kapak)
Pato lebih dikenal dengan kapak dalam bahasa Indonesia. Pato adalah sejenis alat
yang digunakan sebagai pemotong atau pemukul yang terbuat dari besi dan kayu
dengan bermacam ukuran. Untuk mengolah sawah biasanya dipakai pato yang
berukuran menengah dengan panjang daun mata + 12 sentimeter, tebal bagian
punggungnya + 2,5 sentimeter, dan bagian yang tajam + 28 sentimeter. Tangkai
dimasukkan ke dalam lubang pada daun mata pato tersebut.
C. PENGOLAHAN HASIL PANEN
Peralatan dalam pengolahan hasil pertanian zaman dahulu terbilang masih sederhana
karena belum menggunakan tenaga mesin bermotor ataupun listrik layaknya sekarang.
Namun, peralatan pertanian tradisional ini tidak kalah pentingnya dengan peralatan
kemudian. Bahkan, dapat dikatakan bahwa peralatan pertanian itu merupakan yang
terpenting untuk kelangsungan hidup.
Alat tradisional untuk pertanian ialah semua peralatan tradisional yang digunakan oleh
penduduk untuk menunjang hidup dan kehidupannya. Semua peralatan ini selalu dipakai
dalam setiap proses kegiatan. Hal itu berkaitan juga dengan kepandaian bertani yang
menghendaki kecakapan membuat peralatan yang berhubungan dengan pengolahan
sawah, seperti bajak sikek dan cangkul. Peralatan tersebut dibuat dan dibentuk dengan
menggunakan bahan yang disediakan alam sekitar.
1. Sabik
Sabik atau sabit dalam bahasa Indonesia merupakan alat untuk menuai atau pemotong
padi. Padi yang telah masak perlu diambil. Pada awal-awal dulu tentu hanya
menggunakan tangan, diambil tangkai per tangkai, tetapi kemudian digunakan sabik
yang dirasa sangat efektif untuk menuai atau memotong padi yang dipanen. Bahkan
sampai sekarang sabik masih tetap digunakan pada fungsi yang sama, meskipun juga
beberapa mesin telah penuai padi otomatis sudah menggantikan peran sabik ini.
Alat ini terdiri atas dua bagian, yaitu mata sabik dan tangkai (hulu) sabik. Mata sabik
dibuat dari sepotong besi yang baik, dibuat dalam bentuk agak melengkung. Salahsatu
dari mata sabik ini diasah supaya tajam dan bagian yang tajam inilah yang
dipergunakan untuk memotong sesuatu. Untuk menghubungkan mata sabik dengan
tangkai (hulu), dibuat punco pada bagian belakang mata sibik tersebut. Punco ini
berbentuk agak runcing dan panjangnya sekitar 8 sampai 10 centimeter. Untuk
menyambung punco dengan tangkainya, punco itu dibakar sampai panas dan merah
kemudian dimasukkan ke dalam lubang yang terdapat pada tangkai yang sudah diberi
dengan ambalau.
Ambalau adalah sejenis jarum jahit ditempelkan dengan menggunakan lem yang
cukup kuat.
2. Tong Palambuik
Untuk memisahkan butir-butir padi dari tangkainya digunakanlah satu alat yang
bernama ‘palambuik. Alat ini merupakan sebuah tong yang terbuat dari kayu,
berbentuk empat persegi dan agak tinggi, setinggi pinggang orang dewasa. Artinya
tingginya disesuaikan saja dengan kenyamanan orang ketika malambuik padi.
Alat ini untuk mempermudah kerja para petani sebagai tempat malambuik atau
menghempaskan padi yang sudah disabik untuk kemudian dipisahkan dari tangkainya.
Di beberapa daerah, seperti Batang padi yang sudah disabik dipegang dengan kedua
belah tangan lalu dihempaskan atau dilambuikkan ke dalam tong yang sudah tersedia.
Dengan melambuikkan ini, butir-butir padi akan terpisah dari tangkainya. Biasanya
malambuik padi dilakukan langsung di sawah setelah manyabik.
3. Kampai Palacik
Alat ini digunakan untuk membersihkan hasil perasan santan kelapa yang sudah
diparut. Karena biasanya setelah diperas dengan tangan, hasil parutan tidak bersih.
Untuk itu digunakanlah alat penyaring tradisional sampai pada saringan hasil pabrik,
seperti yang banyak digunakan oleh ibu-ibu rumah tangga sekarang ini. Di Sumatera
Barat, wadah dari anyaman daun pandan yang berbentuk persegi empat dapat
dijadikan sebagai alat memeras santan kelapa. Dengan cara ini santan yang didapat
bersih dari parutan dan dapat lebih diperas.
Kampia palaciak disebut juga dengan kaciak atau kampia parameh. Alat tersebut
termasuk peralatan dapur yang digunakan untuk memeras kelapa yang sudah diparut
sehingga menghasilkan santan. Alat ini terbuat dari anyaman daun pandan berukuran
tinggi kira-kira berukuruan sejengkal. Kelapa yang sudah diparut ini dimasukan
dalam alat ini kemudian diperas dengan kedua tangan hingga santan kelapa keluar
melalui sisi-sisi anyaman, santan yang dihasilkan melalui kampia palacik ini terdapat
juga butiran parutan kelapa yang keluar sehingga perlu disaring kembali.
4. Jangki
Jangki merupakan wadah angkutan yang juga digunakan untuk penyimpanan
sementara. Bahan yang digunakan untuk membuat jangki ini adalah bambu dan
mansiang, sejenis pandan. Sementara itu, untuk talinya digunakan kulit kayu tarok
yang lunak dan tidak mudah putus.
Jangki dibuat dengan mengunakan teknik anyaman. Bahan-bahan yang dipakai, baik
bambu maupun yang lain itu, terlebih dahulu diraut tipis sehingga mudah dibentuk.
Pekerjaan anyaman dimulai pada alas jangki yang berbentuk bujur sangkar. Luasnya
bergantung pada keinginan atau kehendak si pembuat, biasanya berkisar sekitar 25
sentimeter, kemudian dilanjutkan dengan anyaman badan. Badan jangki dianyam
sedemikian rupa sehingga diameter pada bagian atas atau mulut lebih panjang
daripada diameter bagian alas tinggi anyaman badan sekitar 40 sampai 50 sentimeter.
5. Panggua
Panggua berbentuk agak bulat dan memiliki tangkai untuk pegangan yang merupakan
satu kesatuan. Alat ini terbuat dari pohon manggis yang sudah berumur tua. Beberapa
orang petani aren memiliki panggua yang sudah tua umurnya dan merupakan warisan
turun-temurun dari nenek moyang mereka.
Di dalam panggua terdapat bahan-bahan, seperti mani gajah dan gading gajah yang
sudah dihaluskan. Sebelum panggua tersebut diisikan dengan bahan-bahan tersebut,
ke dalamnya lalu ditutup kembali dengan kemenyan putih. Panggua pusaka ini
mereka anggap sebagai pembawa keberuntungan untuk hasil panen niro yang
melimpah.
Pada masa sekarang panggua yang dibuat tidak lagi memiliki bahanbahan seperti
yang dijumpai pada penggua pusaka. Dalam proses penyadapan niro, panggua
digunakan sebagai alat untuk memukul-mukul tandan bunga jantan.
D. TEKNOLOGI DAN PERALATAN PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN
Di Sumatera Barat, sekarang ini peninggalan teknologi tradisional banyak yang masih
terus dimanfaatkan. Walaupun sudah ada yang mengalami modifikasi, perlu disadari
bahwa teknik kerjanya tetap berpijak pada prinsipnya yang awal. Pada penemuan baru
(modern) untuk fungsi dan kegunaan yang sama prinsip kerja peralatan tidak persis sama.
Sebagai contoh, penemuan blinder yang dapat digunakan juga untuk menghaluskan cabe,
seperti fungsi batu lado, terdapat perbedaan teknik kerjanya. Batu lado menggiling,
artinya cabe dihaluskan dengan mengesekkan batu sebesar kepalan tangan pada batu
alasnya yang lebih lebar, sedangkan blinder memotong dengan putaran besi tipis sebagai
mata dalam kecepatan tinggi.
Peralatan rumah tangga tradisional merupakan salah satu warisan nenek moyang. Seiring
dengan perkembangan zaman yang semakin maju, masyarakat kurang paham dengan
peninggalan nenek moyang kita. Pengalaman menunjukkan bahwa beberapa seni
tradisional yang sudah kuna tetapi masih tetap bertahan hidup dan memiliki nilai yang
kuat, khususnya pada peralatan rumah tangga tradisional, masih banyak digunakan oleh
sebagian masyarakat sekarang.
E. PROSES PRODUKSI
Kilangan Tebu
Semenjak zaman dahulu manusia telah memanfaatkan apa yang ada disekitarnya
untuk memudahkan pekerjaannya. Pada awalnya mereka memanfaatkan gumpalan-
gumpalan tanah, pecahan batu, dan potangan potongan kayu. Sejalan dengan
perkembangan teknologi dan kemajuan zaman, manusia berusaha menciptakan
berbagai bentuk peralatan yang disesuaikan dengan kebutuhannnya, seperti
kampahan, lesung, kincir, dan kilangan. Kilangan terbuat dari bahan yang sangat
sederhana, seperti kayu, bambu, dan rotan yang digerakkan oleh manusia atau hewan.
Setelah itu, peralatan berkembang dengan mengunakan mesin sebagai motor
penggerak sehingga dapat menghemat tenaga dan waktu. Dalam waktu yang singkat,
alat itu dapat memproduksi lebih banyak sehingga dapat menekan biaya produksi.
Di tengah hiruk pikuk era globalisasi yang melanda berbagai sektor, ternyata masih
ada warga masyarakat yang memanfaatkan teknologi sederhana dalam mengolah hasil
kebun mereka, terutama masyarakat yang tinggal di pedesaan. Di antaranya adalah
memanfaatkan kilangan sebagai alat untuk mengolah tebu menjadi gula tebu (saka).
Dulu, peralatan keseluruhan terbuat dari kayu, tetapi ulir (roda bergigi) yang terbuat
dari kayu sangat berat waktu diputar sehingga pekerjaan menjadi lamban. Untuk itu,
sekarang masyarakat mengantikan ulir tersebut dengan besi yang diberi kelahar agar
sewaktu diputar menjadi ringan dan tahan lama.
Kampo (Kempa)
Kampo merupakan alat rumah tangga yang digunakan untuk memeras ampas minyak
kelapa agar sisa minyak yang masih ada keluar dari ampas. Kampo terbuat dari
sepotong kayu bulat sepanjang kira-kira 110 sentimeter, dan diameter sekitar 50
sentimeter yang dibelah sama besar, dan ujungnya di tarah hingga terbentuk punco.
Punco sebelah bawah dimasukkan ke lubang yang panjangnya 175 centimeter dengan
posisi berdiri dan sebelah atas dimasukkan pula ke lubang yang panjangnya sama.
Balok sebelah bawah dibenamkan ke tanah dipasak dengan kayu agar kampo berdiri
dengan kokoh. Antara balok bawah dan atas dipahatkan dua buah tiang, kemudian
masingmasing ujung balok dijepit dengan dua potong kayu yang dibenamkan ke tanah
dan bagian atasnya diikat erat-erat. Lubang balok sebelah atas berfungsi sebagai
pengatur jarak belahan kedua kayu kampo. Kampo dilengkapi dengan baji dan bahe
gantang.
Baji terbuat dari potongan balok berbentuk pasak besar. Balok yang berbentuk pasak
itu dipasakkan ke lubang balok untuk menjepit kedua punco sebelah atas sehingga
kedua kayu kampo merapat dan bungkusan kotoran minyak yang terletak antara
kedua kayu kampo terjepit dan minyaknya mengalir ke wadah penampungan. Cara
memasang baji adalah dengan memukulnya dengan memakai bahe gantang.
F. LASUANG
a. Lasuang Batu
Lasuang batu atau beberapa daerah menyebutnya dengan lumpang batu adalah salah-
satu peralatan yang berfungsi sebagai penumbuk padi, obatobatan atau ramuan untuk
upacara, pembuatan warna, dan lain sebagainya. Alat ini terbuat dari jenis batu kali
dan berlubang di tengah. Sebagai alat penumbuk, lesung batu menggunakan alu yang
terbuat dari kayu. Jenis lesung batu besar ini merupakan peninggalan lama yang pada
zaman sekarang sudah jarang digunakan lagi oleh masyarakat, terutama ibu-ibu untuk
menumbuk padi.
b. Lasuang Kayu
Lasuang kayu terbuat dari jenis kayu rasak dan berbentuk empat persegi panjang
dengan lubang lesung dibuat seperti kerucut. Di samping berfungsi untuk menumbuk
beras, alat ini juga dibgnakan untuk menumbuk tepung dan bumbu lainnya. Menurut
catatan sejarah, lesung kayu muncul setelah lesung batu. Sekarang ini dalam jumlah
terbatas lessung kayu dibuat oleh orang-orang desa untuk menumbuk padi dan
sebagainya.
c. Lasuang Endek
Jika dilihat dari teknis pembuatannya, lasuang endek merupakan alat penumbuk padi
yang muncul setelah lesung tangan. Alat ini terbuat dari pohon kayu nangka yang
hanya diolah sekadar mendapatkan bentuk. Pada sebelah ujung dipasang (melalui
lubang pahatan) alu dengan akuran yang pas dengan posisi lesung. Agak ke pangkal
kayu dibuat sumbu agar bagian alu akan terangkat bila kayu diinjak dan bagian alu
dapat diturunkan bila dilepaskan. Untuk mendapatkan jarak angkat lesung
secukupnya, yakni jarak injak yang dalam dan jarak angkat alu yang menjadi tinggi,
pada pangkal kayu tempat menginjak dibuat lubang pada tanah. Kapasitas menumbuk
dengan lesung pendek relatif tinggi jika dibandingkan dengan lesung tangan.
d. Lasuang Ketek
Dalam perkembangan dan penggunaan lesung batu, ada penyesuaian bentuk dengan
kebutuhan. Lesung ini merupakan industri kerajinan rakyat, artinya telah diproduksi
secara besar-besaran. Ini dapat dilihat dari jenis batu dan hasil teknik pengerjaannya.
Alat ini digunakan dengan alu, baik yang terbuat dari kayu maupun dari batu, yang
dibuat dalam bentuk bulat panjang. Alat ini lebih banyak berfungsi untuk menumbuk
beras menjadi tepung dan untuk menumbuk bumbu masak atau rempah-rempah
lainnya.
G. ALU
Sebagian besar makanan pokok masyarakat Sumatera Barat adalah beras. Zaman dulu,
hampir di beberapa daerah di Sumatera Barat, untuk mendapatkan hasil beras, bulir, padi,
atau gabah hasil sawah atau ladang dilakukan proses yang prinsipnya memisahkan kulit
dari bijinya. Salah-satu peralatan yang digunakan dan paling popular sejak lama adalah
pemakaian lasuang yang terbuat dari batu atau kayu. Pemakaian lasuang menggunakan
prinsip tumbuk. Alat yang digunakan untuk menumbuk ini disebut alu, yang terbuat dari
kayu tertentu.
Adakalanya suatu kelompok masyarakatyang agraris menciptakan kegembiraan pada
waktu menumbuk padi, yang umumnya dilakukan oleh kaum wanita. Misalnya di
Payakumbuh tempo dulu, alu diberi ukiran pada bagian atas dan sepanjang lebih kurang
15 centimeter digantungkan mainan yang terbuat dari logam yang biasa berdering atau
gemerincing pada waktu alu naik turun saat ditumbukkan. Alu seperti ini dinamakan alu
baganto.
Secara teknis kayu yang dijadikan alu dipilah dari jenis kayu keras, ujung yang akan
ditumbukkan disebelah agar pas dipegang waktu untuk menumbuk. Alu berfungsi dan
dapat digunaan untuk menumbuk selain padi, yakni tepung dan bumbu lokal lainnya.
Dalam pribahasa Minangkabau ditemukan yang antara lain berbunyi: bak alu pancukia
duri.
H. PERALATAN PENGOLAHAN KONSUMSI DAN RUMAH TANGGA
Kukuran
Kukuran ini di sebagian daerah di Sumatera Barat ada yang menyebutnya panggua.
Alat ini terdiri atas tempat duduk yang terbuat dari kayu dan mata dari besi. Sepintas
kukuran ini menyerupai seekor binatang melata yang memiliki leher panjang. Tempat
duduknya berbentuk persegi empat panjang dan leher bulat panjang yang pada bagian
ujungnya dipasangkan mata kukuran dari besi berbentuk bundar yang sekeliling
pinggirnya bergerigi dan tajam.
Panjang tempat duduk 53 centimeter, panjang leher 21 centimeter, dan panjang mata 7
centimeter. Cara kerjanya adalah orang yang mengukur kelapa dalam posisi duduk
dan salah satu lutut diletakkan pada bagian leher kukuran sambil kedua tangan
memegang belahan kelapa yang diletakkan pada mata kukuran.
Kemudian, tangan digerakkan ke atas ke bawah sehingga menghasilkan butiran
daging kelapa yang halus. Parutan daging kelapa inilah yang digunakan sebagai bahan
masakan, seperti santan untuk gulai, galamai, kue, dan minyak goreng.
Parutan
Kemampuan manusia salah satunya adalah membuat berbagai peralatan untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah satu peralatan tersebut adalah parutan. Alat
yang digunakan untuk memarut kelapa di dapur ini terbuat dari kayu berbentuk empat
persegi panjang dengan ukuran panjang 31.5 centimeter dan lebar + 9,6 centimeter.
Salah-satu ujungnya dibentuk sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai pegangan.
Kecuali bagian tangkai, bagian permukaan dipenuhi dengan susunan mata paku kecil
yang tajam sebagai tempat parutan daging kelapa. Daging kelapa yang telah
dikelupaskan dari tempurungnya dibersihkan kemudian diparutkan ke atas dan ke
bawah sehingga menghasilkan kelapa yang halus. Kelapa parutan ini biasanya
digunakan untuk membuat makanan, seperti onde-onde, lapek bugih, dan lopi.
Batu Lado
Namanya mengacu pada fungsi dan kegunaan utama, yakni batu untuk panggiliang
lado (cabe). Dulunya, alat ini boleh dikatakan dijumpai hampir seluruh rumah tangga
di Sumatera Barat. Namun, sekarang ini fungsi batu lado diambil alih oleh teknologi
mesin dalam panggiliang lado (cabe). Batu lado digunakan untuk menggiling lado
atau cabe untuk bumbu masak. Batu lado terbuat dari batu yang ditarah berbentuk
bujur telur dengan bagian terpanjang kira-kira 32,5 centimeter dan lebar 25
sentimeter. Sebagai alat penggiling digunakan batu bulat sebesar kepalan tangan. Cara
menggunakannya, lado atau cabai yang akan digiling terlebih dahulu dibuang
tangkainya dan dicuci, diletakkan di atas batu lado, lalu digiliang dengan batu
panggillang yang lazim disebut anak batu lado sampai lado halus dan lumat. Alat ini
hana digunakan oleh perempuan.
Kancah (Kuali Besar)
Kancah adalah kuali berukuran besar dengan kedalaman 27 sentimeter, diameter
permukaannya 90 sentimeter, terbuat dari besi, dan digunakan untuk memasak
makanan. Cara menggunakannya, mula-mula kancah ditaruh di atas tungku yang
disemen dengan tiga sisinya tertutup dan sisi yang satu lagi tempat memasukkan kayu
besar. Ke dalam kancah dimasukkan pati santan yang diambil dari bagian atas
genangan santan yang sudah dibiarkan terletak satu malam. Dengan menyalanya api
dalam tungku, secara berangsur-angsur santan dalam kancah akan berubah menjadi
minyak, Pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh laki-laki, di daerah Bukittinggi
misalnya, juga digunakan kaum ibu untuk menggoreng kerupuk sanjai.
Parian
Parian adalah sejenis wadah yang bukan saja berfungsi sebagai alat angkutan,
melainkan juga berfungsi untuk penyimpanan. Alat ini biasanya dipergunakan untuk
mengangkut benda cair, seperti air atau nira enau. Bahan yang dipakai untuk membuat
perian adalah bambu bulat utuh. Ada yang panjangnya dua atau tiga ruas bambu dan
ada pula satu ruas, Parian yang panjangnya satu ruas, kedua ujung pangkal bambu
yang dipakai tertutup oleh kedua buku ruasnya. Untuk memasukkan dan
mengeluarkan air dari parian itu, salah satu ujung bambu tersebut diberi lubang yang
disebut mulut, sedangkan ujung lainnya berfungsi sebagai alas.
Balango
Balango merupakan salah satu jenis alat pengolah makanan yang fungsi dan
kegunaannya seperti pariuak. Alat ini dapat digunakan untuk memasak, seperti
membuat pangek (gulai) ikan dan merebus sayur. Menurut selera orang Minangkabau,
makanan yang dimasak dengan alat balango punya citarasa yang khas dibanding bila
dimasak dengan alat yang terbuat dari aluminium atau besi, misalnya pangek ikan,
asam padeh dagiang (gulai pedas daging), dan pangek cubadak (gulai nagka).
Penggunaan balango dan atau peralatan dapur lainnya menggunakan api dari kayu,
bukan dari api kompor dan atau gas. Di kota penggunaan alatalat dapur dari tanah liat
sudah jarang ditemukan dan hanya masih ada di nagari-nagari.
Sanduak
Sanduak merupakan sejenis peralatan dapur yang terbuat dari tempurung atau batok
kelapa dan diberi tangkai kayu atau bamboo. Alat ini digunakan untuk mengambil air,
mengaduk nasi atau gulai sewaktu memasak di dapur. Bagi sebagian orang, sanduak
tidak asing bagi mereka karena sering digunakan sebagai bagian dari perlengkapan di
dapur. Namun, sekarang ini sanduak mulai hilang dan tidak lagi dikenal karena
fungsinya sudah digantikan oleh sendok dan garpu. Bahan sanduak adalah tempurung
kelapa untuk daun sanduak, kayu sebesar jempol untuk tangkai, dan rotan yang
dibelah untuk pengikat antara daun sanduak dan tungkai.
I. KERAJINAN
Tembikar
Dulu, kerajinan tembikar hampir terdapat di setiap kabupaten dan kota di Provinsi
Sumatera Barat karena tembikar merupakan kebutuhan utama sehari-hari di dapur,
seperti periuk, belangga, dan kendi. Bahan bakunya cukup banyak dan memudahkan
para perajin untuk mengunakannya. Sekarang, pengunaan tembikar sudah mulai
ditinggalkan sebagai kebutuhan utama di dapur sebab sudah ada peralatan, terutama
untuk memasak, yang sudah modern, seperti kompor gas. Selain mudah dalam
pengunaan, alat modern itu lebih praktis dalam segi waktu mengunakannya.
Tembikar sendiri berbeda dengan keramik. Tembikar adalah salah satu unit kerajinan
tangan peralatan rumah tangga yang terbuat dari tanah liat jenis tertentu yang
dicampur pasir halus dengan proses pembakaran bersuhu 600°Celcius sampai 700°
Celcius, sedangkan keramik yang juga terbuat dari tanah liat dan pasir halus dengan
suhu pembakaran lebih dari 1000°Celcius.
Anyaman
Anyaman merupakan hasil dari sebuah proses menyilangkan bahanbahan dari pada
tumbuh-tumbuhan untuk dijadikan satu rumpun yang kuat dan boleh digunakan.
Bahan-bahan tumbuhan yang boleh dianyam ialah lidi, rotan, akar, buluh, pandan, dan
sebagainya. Bahan ini biasanya mudah dikeringkan dan lembut.
Anyaman adalah serat yang dirangkaikan hingga membentuk benda yang kaku,
biasanya untuk membuat keranjang atau perabot. Anyaman seringkali dibuat dari
bahan yang berasal dari tumbuhan, tetapi serat plastik juga dapat digunakan. Bahan
yang digunakan bisa berasal dari bagian apa pun dari tanaman, misalnya inti batang
tebu atau rotan. Bahan lainnya yang terkenal digunakan sebagai anyaman adalah
galagah dan bambu. Biasanya rangkanya dibuat dari bahan yang lebih kaku, lalu
bahan yang lebih lentur digunakan untuk mengisi rangka. Anyaman yang bersifat
ringan tapi kuat menjadikannya cocok sebagai perabot yang sering dipindah-pindah.
Anyaman sering digunakan untuk perabot di beranda dan teras.
Anyaman Bambu
Kerajinan anyaman bambu adalah kerajinan tangan yang terbuat dari bambu.
Anyaman bambu ini modelnya macam-macam begitu juga motifnya. Salah satu
contoh anyaman bambu yang dibuat di Maja adalah bakul tempat nasi. Pengolahan
bambu untuk anyaman adalah dengan menebang pohon bambu, kemudian diraut dan
dihaluskan, baik kulit maupun isi. Setelah itu, dikeringkan dan dianyam. Bambu yang
sudah diolah dapat dipergunakan untuk membuat apa yang diinginkan, seperti bakul
nasi, sampah, dan tempat menyimpan buah-buahan.
Anyaman Pandan
Di Sumatera Barat, asal mula masyarakat mengenal anyaman tidak diketahui secara
pasti, tetapi yang jelas telah terdapat pemakaian wadah dari anyaman sejak dulunya.
Tradisi ini berlangsung hingga sekarang, baik untuk peralatan rumah tangga,
kelengkapan upacara adat, maupun untuk peralatan lainnya.
Proses pengerjaan anyaman daun pandan biasanya didominasi oleh kaum wanita.
Bahkan, dahulu di beberapa daerah seorang anak gadis harus pandai menganyam
sebelum memasuki jenjang perkawinan sehingga hal ini sudah merupakan kewajiban
untuk mempelajari dan mengetahuinya sebagai bekal kelak dalam memenuhi
kebutuhan rumah tangganya. Dewasa ini kerajinan anyaman pandan telah
berkembang baik teknik pengolahan maupun mutu yang dihasilkan. Anyaman pandan
ini tidak lagi dibuat hanya untuk memenuhi kebutuhan sendin, tetapi telah
berkembang sesuai dengan kebutuhan pasar.
a. Lapiak Lambak/Tikar Berlapis
Lapiak atau tikar ini memiliki ukuran yang lebih besar jika dibandingkan dengan
barang anyaman pandan lainnya. Motif yang dipakai masih motif geometris.
Panjangnya ada yang mencapai tiga meter dengan lebar 2.75 meter. Sesuai dengan
namanya, bikarin memang terdiri atas dua lapis, yaitu lapisan atas dan lapisan
bawah Lapiak lambak ini biasanya digunakan sebagai tempat duduk, termasuk
tempat duduk pada upacara-upacara adat.
b. Lapiak sumbayang/Tikar sumbayang
Tikar ini berukuran ± 1.5 meter x 1 meter. Motifnya dibuat dan daun pandan yang
telah diberi warna. Tikar ini juga terdiri atas dua lapis dengan bagian bawah
menggunakan lembaran daun pandan yang lebih besar jika dibandingkan dengan
lapisan atasnya. Tikar ini digunakan sebagai kelengkapan alat salat.
c. Kampia
Kampia berbentuk persegi panjang dengan berbagai ukuran dan memakai pewarna
dengan motif geometris. Alat ini berfungsi sebagai tempat daun sirih serta
kelengkapannya.
d. Sumpik
Sumpik berbentuk persegi panjang dan berukuran lebih besar daripada kampia.
Alat ini biasanya tanpa pewarna dan berfungsi sebagai tempat beras.
Di samping hal di atas, para perajin anyaman pandan juga menjadikan anyaman
pandan sebagai hiasan dan cendera mata lainnya, seperti alas dinner set, sandal,
kotak tisu, map, tas, mainan kundi, kotak pensil, kipas, kipas hiasan dinding,
sepatu anak-anak, gantungan tempat sepatu, alas jok mobil, rompi, topi, bantal,
dompet, peci, kotak asesoris, dan baki.
Anyaman Lapiak Kumbuah
Modal utama usaha kerajinan tikar adalah kumbuah, bukan dalam bentuk uang dan
peralatan. Semula bahan baku kumbuah mudah didapat di lahan sawahnya sendiri.
Namun, sawah yang semula ditanami kumbuah kini banyak yang diganti dengan
tanaman lain sehingga ada kalanya para perajin saling meminjam kumbuah untuk
menyelesaikan pekerjaannya. Semua perajin memiliki peralatan sendiri karena pada
umumnya peralatan itu digunakan juga untuk bertani.
Modal dalam bentuk uang hanya diperlukan untuk transpor dari desa ke pasar sewaktu
membawa hasil produksi.
Anyaman Bakul
Bakul yang dihasilkan perajin ada yang dibuat dari bambu dan ada pula yang dari
rotan. Bahan bambu mudah diperoleh di sekitar tempat di rumah, Bakul yang dibuat
dari rotan bahannya harus dicari di hutan tinggal perajin, Pohon bambu ditebang,
dibersihkan, dan dikumpulkan atau dibeli di pasar. Untuk membuat bakul, perajin
harus menyediakan bahan dan peralatannya. Bahan yang telah terkumpul lalu
dipotong-potong sesuai dengan ukuran yang sudah baku. Selanjutnya, bambu atau
rotan tersebut dibelah-belah selebar 1 cm untuk bambu dan 0,5 cm untuk rotan, dan
selanjutnya direndam selama satu malam. Setelah dikeringkan, bambu atau rotan
diraut tipis-tipis. Setelah lembaran-lembaran bambu atau rotan siap dikerjakan,
perajin menyiapkan pula belahan bambu atau rotan setebal 1½ cm dengan ukuran
lebar lebih kurang 2 cm yang diikatkan di sekeliling lingkaran mulut dan alas bakul
Tali pengikatnya terbuat dari rotan pula yang diraut tipis.
Keranjang Rotan
Keranjang rotan merupakan salah satu hasil teknologi tradisional masyarakat.
Teknologi tradisional ini tidak hanya digunakan untuk memudahkan usaha
pengangkutan pada berbagai usaha sehari-hari, tetapi juga hadir pada acara-acara
bernuansa adat dan agama. Keranjang rotan terbuat dari bahan rotan yang dianyam,
sedangkan untuk alas keranjang digunakan bambu atau kayu. Pada proses
penggunaannya, adakalanya keranjang rotan diletakkan di atas kepala dan adakalanya
diapit di pinggang dengan menggunakan tangan.
Khusus pada kegiatan bernuansa adat dan agama, seperti pesta perkawinan dan
khatam Quran, keranjang rotan berfungsi sebagai alat untuk membawa kelengkapan
dapur, seperti, beras, daun pisang, dan potongan kayu api berukuran kecil dan kelapa.
Biasanya, kelengkapan dapur tersebut dibawa oleh kaum ibu dengan maksud
membantu meringankan beban sebuah keluarga. Yang dilakoni khusus oleh kaum
perempuan tersebut, masing-masing membawa satu keranjang rotan, yang diistilahkan
dengan tradisi mengantar pertolongan. Aktivitas budaya yang tampak pada tradisi
ngantar pertolongan tersebut merefleksikan kuatnya hubungan kekerabatan yang
terbina di tengah masyarakat.
Kerajinan Sapu Ijuk (Sapu Ijuk)
Bahan untuk membuat sapu adalah ijuk yang terdapat pada pangkal daun pohon enau.
Tangkainya dibuat dari rotan yang dalam bahasa setempat disebut manau. Dahulu
perajin dapat mencari manau dan ijuk di hutan-hutan yang tidak jauh dari tempat
tinggalnya. Sekarang dengan semakin bertambahnya penduduk, banyak hutan
ditebangi untuk dijadikan lahan pertanian dan permukiman penduduk Bersamaan
dengan itu, pembuatan sapu ijuk bukan lagi merupakan pekerjaan untuk mengisi
waktu luang, tetapi sudah berubah menjadi mata pencaharian baru atau sebagai mata
pencaharian tambahan. Pada umunya perajin sapu ijuk membeli ijuk di pasar
Bukittinggi, sedangkan rotan atau manau dibeli di beberapa daerah, seperti di Pulau
Punjung, Kabupaten Dharmasraya. Alasan mereka membeli bahan baku ke tempat
tersebut karena harganya yang lebih murah jika dibandingkan dengan tempat lain dan
persediaannya banyak. Perajin membeli bahan baku sekali seminggu sesuai dengan
kebutuhan. Setiap minggu mereka memerlukan 2-3 kuintal ijuk, 100 batang manau,
dan 300 helai tall rotan. Ijuk yang dibeli berbentuk gulungan-gulungan besar yang
setiap gulungannya mempunyai berat antara 50-60 Kg. Sementara itu, rotan untuk
tangkai sapu sudah berupa potongan-potongan sepanjang 125 – 150 cm. Untuk
pengikatnya dipakai tali rotan, yaitu kulit rotan yang diraut tipis dengan panjang lebih
kurang 3 meter.
Kerajinan Senggan
Senggan adalah wadah yang bentuknya mirip dengan keranjang, tetapi agak datar.
Cara membawanya tidak bisa dijinjing, tetapi harus dijunjung di atas kepala. Bahan
baku untuk pembuatan senggan adalah lidi daun kelapa. Dahulu lidi kelapa mudah
didapat, tetapi sekarang harus dibeli di pasar pada pedagang sarang ketupat setiap hari
pekan. Pada waktu itu pedagang lidi lebih banyak daripada hari biasa. Lidi untuk
membuat senggan dipilih yang warnanya putih karena berasal dari daun yang masih
muda. Lidi yang berwarna kuning kecoklatan, biasanya berasal dari daun kelapa tua,
tidak bagus untuk dianyam karena keras sehingga mudah patah. Tiap 1.000 batang lidi
harganya lebih kurang Rp300,00.
Apa Basi
Kerajinan besi di daerah Sumatera Barat lebih dikenal dengan sebutan apa basi. Apa
besi menggunakan tungku arang dengan dua cerobong angin yang disalurkan melalui
pembuluh ke tungku untuk menghidupkan api. Peralatan yang digunakan adalah
landasan besi, palu dari berbagai ukuran, jepitan besi, pahat pembentuk, kikir, dan bak
penyepuh. Bahan untuk kerajnan besi berasal dari besi berkualitas baik, seperti besi
per mobil dan bekas rel kereta api. Bahan tersebut dipotong menurut ukuran tertentu
bergantung pada apa yang akan dibuat.
Untuk membuat ladiang, kampak, pisau, cangkul, dan sebagainya, besi dibakar hingga
membara. Setelah itu, besi diangkat dengan tang atau penjepit besi dan ditokok-tokok
atau dipalu sehingga diperoleh bentuk yang diingginkan. Besi yang sudah berbentuk
itu lalu disepuh agar matanya menjadi keras.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Teknologi dan peralatan tradisional pertanian memiliki peran penting dalam sejarah dan
budaya pertanian. Peralatan tradisional sering kali lebih terjangkau, mudah diperbaiki,
dan sesuai dengan kondisi lingkungan lokal. Namun, produktivitasnya cenderung lebih
rendah dibandingkan dengan teknologi modern.
B. SARAN
1. Integrasi Teknologi: Pemerintah dan lembaga terkait perlu memfasilitasi integrasi
teknologi modern dengan tetap melestarikan nilai-nilai tradisional. Pelatihan dan
pendampingan bagi petani dalam penggunaan teknologi baru sangat penting.
2. Pengembangan Peralatan Lokal: Mendukung inovasi dan pengembangan peralatan
pertanian lokal yang lebih efisien dan ergonomis. Ini dapat dilakukan melalui penelitian
dan pengembangan yang melibatkan petani, ahli teknik, dan akademisi.
3. Peningkatan Akses Informasi: Menyediakan akses informasi yang lebih baik kepada
petani mengenai teknologi pertanian yang tepat guna, termasuk informasi tentang biaya,
manfaat, dan cara penggunaannya.
4. Kebijakan yang Mendukung: Pemerintah perlu membuat kebijakan yang mendukung
modernisasi pertanian, termasuk subsidi untuk pembelian peralatan modern dan insentif
bagi petani yang mengadopsi teknologi baru.