Anda di halaman 1dari 24

Stase Geriatri adalah stase yang mempelajari ilmu Geriatri, yang merupakan cabang ilmu kedokteran penyakit dalam

yang memfokuskan perhatian pada kesehatan orang-orang lanjut usia. Jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya, kemampuan yang dibutuhkan di stase Geriatri ini bersifat menyeluruh dan terintegrasi. Artinya, sebelum praktik Geriatri ini diharapkan sudah menguasai ilmu-ilmu lain terlebih dahulu seperti Kardiologi, Pulmonologi, Neurologi, Psikiatri, dan sebagainya. Pasien Geriatri adalah pasien yang berusia lanjut (> 60 tahun) dengan penyakit majemuk (multipatologi) akibat gangguan fungsi jasmani dan rohani, serta kondisi sosial yang bermasalah. Ciri-ciri pasien Geriatri yaitu memiliki beberapa penyakit kronis, menurunnya daya fungsi organ tubuh, tampilan gejala penyakit tidak khas, tingkat kemandiriannya berkurang, dan sering disertai dengan masalah nutrisi. Dengan alasan ini maka perawatan usia lanjut berbeda dari pasien dewasa muda. Lanjut usia atau lansia merupakan kelompok umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Pada kelompok yang dikategorikan lansia ini akan terjadi suatu proses yang disebut Aging Process. Ilmu yang mempelajari fenomena penuaan meliputi proses menua dan degenerasi sel termasuk masalah-masalah yang ditemui dan harapan lansia disebut gerontology. Pengertian lain mengatakan bahwa gerontology adalah ilmu yang mempelajari, membahas, meneliti segala bidang yang terkait dengan lanjut usia, bukan saja mengenai kesehatan namun juga mencakup soal kesejahteraan, pemukiman, lingkungan hidup, pendidikan, perundang-undangan dan sebagainya. Lanjut usia adalah dimana individu yang berusia di atas 60 tahun yang pada umumnya memiliki tanda-tanda terjadinya penurunan fungsi-fungsi biologis, psikologis, sosial, ekonomi. Sedangkan menurut definisi dari Depkes RI 3 lanjut usia adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindarkan. Proses menjadi tua disebabkan oleh faktor biologik yang terdiri dari tiga fase yaitu fase progresif, fase stabil dan fase regresif. Dalam fase regresif mekanisme lebih kearah kemunduran yang dimulai dalam sel, komponen terkecil dalam tubuh manusia. Begitu pula pada tahap perkembangan yang lain, maka pada lansia terjadi perubahan fungsi fisik, emosi, kognitif, sosial, spiritual, dan ekonomi. Geriatric Giant adalah masalah-masalah luar biasa besar pada pasien Geriatri, yaitu Imobilisasi, Instabilitas dan jatuh, Inkontinensia uri dan alvi, Gangguan intelektual (demensia), Infeksi, Gangguan penglihatan dan pendengaran, Impaksi (konstipasi), Isolasi

(depresi), Inanisi (malnutrisi), Impecunity (kemiskinan), Latrogenesis (sering karena terlalu banyak obat), Insomnia, Defisiensi imunitas, Impotensi. Ada 4 ciri yang dapat dikategorikan sebagai pasien Geriatri dan Psikogeriatri, yaitu : 1. Keterbatasan fungsi tubuh yang berhubungan dengan makin meningkatnya usia. 2. Adanya akumulasi dari penyakit-penyakit degeneratif. 3. Lanjut usia secara psikososial yang dinyatakan krisis bila : a. Ketergantungan pada orang lain (sangat memerlukan pelayanan orang lain) b. Mengisolasi diri atau menarik diri dari kegiatan kemasyarakatan karena berbagai sebab, diantaranya setelah menajalani masa pensiun, setelah sakit cukup berat dan lama, setelah kematian pasangan hidup dan lain-lain 4. Hal-hal yang dapat menimbulkan gangguan keseimbangan (homeostasis) sehingga membawa lansia kearah kerusakan / kemerosotan (deteriorisasi) yang progresif terutama aspek psikologis yang mendadak, misalnya bingung, panik, depresif, apatis dan sebagainya. Hal itu biasanya bersumber dari munculnya stressor psikososial yang paling berat, misalnya kematian pasangan hidup, kematian sanak keluarga dekat, terpaksa berurusan dengan penegak hukum, atau trauma psikis. WHO mengelompokkan lansia menjadi 4 kelompok yang meliputi : Middle age (usia pertengahan) yaitu kelompok usia 45-59 tahun Elderly, antara 60-74 tahun Old, antara 75-90 tahun Very old, lebih dari 90 tahun

Klasifikasi lansia berdasarkan kronologis usia, yaitu : Young old: 60-75 tahun Middle old: 75-84 tahun Old-old: >85 tahun

Sedangkan menurut Undang-undang No. 4 Tahun 1965 pasal 1, merumuskan bahwa seseorang dapat dinyatakan sebagai orang jompo atau lanjut usia setelah yang bersangkutan

mencapai umur 55 tahun, tidak memupunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain. 1. Biologi a. Teori Genetic Clock

Proses menua terjadi akibat adanya program jam genetik didalam nuklei. Jam ini akan berputar dalam jangka waktu tertentu dan jika jam ini sudah habis putarannya maka, akan menyebabkan berhentinya proses mitosis. b. Teori Error Menua diakibatkan oleh menumpuknya berbagai macam kesalahan sepanjang kehidupan manusia. Akibat kesalahan tersebut akan berakibat kesalahan metabolisme yang dapat mengakibatkan kerusakan sel dan fungsi sel secara perlahan. c. Teori Autoimun Proses menua dapat terjadi akibat perubahan protein pasca tranlasi yang dapat mengakibatkan berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali dirinya sendiri (Self recognition). d. Teori Free Radical Makin tua umur makin banyak terbentuk radikal bebas, sehingga poses pengrusakan terus terjadi, kerusakan organel sel makin banyak akhirnya sel mati. e. Wear & Tear Teori Kelebihan usaha dan stress menyebaban sel tubuh rusak f. Teori kolagen Peningkatan jumlah kolagen dalam jaringan menyebabkan kecepatan kerusakan jaringan dan melambatnya perbaikan sel jaringan. 2. Teori Sosiologi a. Activity theory Ketuaan akan menyebabkan penurunan jumlah kegiatan secara langsung.

b. Teori kontinuitas Adanya suatu kepribadian berlanjut yang menyebabkan adanya suatu pola prilaku yang meningkatkan stress c. Disengagement Theory, Putusnya hubungan dengan dunia luar seperti hubungan dengan masyarakat, hubungan dengan individu lain d. Teori Stratifikasi usia Karena orang yang digolongkan dalam usia tua akan mempercepat proses penuaan. 3. Teori Psikologis a. Teori kebutuhan manusia dari Maslow Orang yg bisa mencapai aktualisasi menurut penelitian 5% dan tidak semua orang bisa mencapai kebutuhan yang sempurna. b. Teori Jung Terdapat tingkatan hidup yg mempunyai tugas dalam perkembangan kehidupan c. Course of Human Life Theory Seseorang dalam hubungan dg lingkungan ada tingkat maksimumnya d. Development Task Theory Tiap tingkat kehidupan mempunyai tugas perkembangan sesuai dengan usianya

Faktor-faktor yang mempengaruhi ketuaan / Aging : Pengaruh Aging terhadap Perubahan Sistem Imun Tubuh Sistem imunitas tubuh memiliki fungsi yaitu membantu perbaikan DNA manusia; mencegah infeksi yang disebabkan oleh jamur, bakteri, virus, dan organisme lain; serta menghasilkan antibodi (sejenis protein yang disebut imunoglobulin) untuk memerangi serangan bakteri dan virus asing ke dalam tubuh. Tugas sistem imun adalah

mencari dan merusak invader (penyerbu) yang membahayakan tubuh manusia. Fungsi sistem imunitas tubuh (immunocompetence) menurun sesuai umur. Kemampuan imunitas tubuh melawan infeksi menurun termasuk kecepatan respons imun dengan peningkatan usia. Hal ini bukan berarti manusia lebih sering terserang penyakit, tetapi saat menginjak usia tua maka resiko kesakitan meningkat seperti penyakit infeksi, kanker, kelainan autoimun, atau penyakit kronik. Hal ini disebabkan oleh perjalanan alamiah penyakit yang berkembang secara lambat dan gejala-gejalanya tidak terlihat sampai beberapa tahun kemudian. Di samping itu, produksi immunoglobulin yang dihasilkan oleh tubuh orang tua juga berkurang jumlahnya sehingga vaksinasi yang diberikan pada kelompok lansia kurang efektif melawan penyakit. Masalah lain yang muncul adalah tubuh orang tua kehilangan kemampuan untuk membedakan benda asing yang masuk ke dalam tubuh atau memang benda itu bagian dari dalam tubuhnya sendiri. Salah satu perubahan besar yang terjadi seiring pertambahan usia adalah proses thymic involution. Thymus yang terletak di atas jantung di belakang tulang dada adalah organ tempat sel T menjadi matang. Sel T sangat penting sebagai limfosit untuk membunuh bakteri dan membantu tipe sel lain dalam sistem imun. Seiring perjalanan usia, maka banyak sel T atau limfosit T kehilangan fungsi dan kemampuannya melawan penyakit. Volume jaringan timus kurang dari 5% daripada saat lahir. Saat itu tubuh mengandung jumlah sel T yang lebih rendah dibandingkan sebelumnya (saat usia muda), dan juga tubuh kurang mampu mengontrol penyakit dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Jika hal ini terjadi, maka dapat mengarah pada penyakit autoimun yaitu sistem imun tidak dapat mengidentifikasi dan melawan kanker atau sel-sel jahat. Inilah alasan mengapa resiko penyakit kanker meningkat sejalan dengan usia. Salah satu komponen utama sistem kekebalan tubuh adalah sel T, suatu bentuk sel darah putih (limfosit) yang berfungsi mencari jenis penyakit pathogen lalu merusaknya. Limfosit dihasilkan oleh kelenjar limfe yang penting bagi tubuh untuk menghasilkan antibodi melawan infeksi. Secara umum, limfosit tidak berubah banyak pada usia tua, tetapi konfigurasi limfosit dan reaksinya melawan infeksi berkurang. Manusia memiliki jumlah T sel yang banyak dalam tubuhnya, namun seiring peningkatan usia maka jumlahnya akan berkurang yang ditunjukkan dengan rentannya tubuh terhadap serangan penyakit. Kelompok lansia kurang mampu menghasilkan limfosit untuk sistem imun. Sel perlawanan infeksi yang dihasilkan kurang cepat bereaksi dan kurang efektif daripada sel yang ditemukan pada kelompok dewasa muda. Ketika antibodi dihasilkan, durasi respons kelompok lansia lebih singkat dan lebih sedikit sel yang dihasilkan. Sistem imun

kelompok dewasa muda termasuk limfosit dan sel lain bereaksi lebih kuat dan cepat terhadap infeksi daripada kelompok dewasa tua. Di samping itu, kelompok dewasa tua khususnya berusia di atas 70 tahun cenderung menghasilkan autoantibodi yaitu antibodi yang melawan antigennya sendiri dan mengarah pada penyakit autoimmune. Autoantibodi adalah faktor penyebab rheumatoid arthritis dan atherosklerosis. Hilangnya efektivitas sistem imun pada orang tua biasanya disebabkan oleh perubahan kompartemen sel T yang terjadi sebagai hasil involusi timus untuk menghasilkan interleukin 10 (IL-10). Perubahan substansial pada fungsional dan fenotip profil sel T dilaporkan sesuai dengan peningkatan usia. Fenotip resiko imun dikenalkan oleh Dr. Anders Wikby yang melaksanakan suatu studi imunologi longitudinal untuk mengembangkan faktor-faktor prediktif bagi usia lanjut. Fenotip resiko imun ditandai dengan ratio CD4:CD8 < 1, lemahnya proliferasi sel T in vitro, peningkatan jumlah sel-sel CD8+CD28-, sedikitnya jumlah sel B, dan keberadaan sel-sel CD8T adalah CMV (Cytomegalovirus). Efek infeksi CMV pada sistem imun lansia juga didiskusikan oleh Prof. Paul Moss dengan sel T clonal expansion (CD8T). Secara khusus jumlah sel CD8 T berkurang pada usia lanjut. Sel CD8 T mempunyai 2 fungsi yaitu: untuk mengenali dan merusak sel yang terinfeksi atau sel abnormal, serta untuk menekan aktivitas sel darah putih lain dalam rangka perlindungan jaringan normal. Para ahli percaya bahwa tubuh akan meningkatkan produksi berbagai jenis sel CD8 T sejalan dengan bertambahnya usia. Sel ini disebut TCE (T cell clonal expansion) yang kurang efektif dalam melawan penyakit. TCE mampu berakumulasi secara cepat karena memiliki rentang hidup yang panjang dan dapat mencegah hilangnya populasi TCE secara normal dalam organisme. Selsel TCE dapat tumbuh lebih banyak 80% dari total populasi CD8. Perbanyakan populasi sel TCE memakan ruang lebih banyak daripada sel lainnya, yang ditunjukkan dengan penurunan efektifitas sistem imunitas dalam memerangi bakteri patogen. Hal itu telah dibuktikan dengan suatu studi yang dilakukan terhadap tikus karena hewan ini memiliki fungsi sistem imunitas mirip manusia. Ilmuwan menemukan tifus berusia lanjut mempunyai tingkat TCE lebih besar daripada tifus normal, populasi sel CD8 T yang kurang beragam, dan penurunan kemampuan melawan penyakit. Peningkatan sel TCE pada tifus normal menggambarkan berkurangnya kemampuan melawan penyakit. Ilmuwan menyimpulkan bahwa jika produksi TCE dapat ditekan pada saat terjadi proses penuaan, maka efektifitas sistem imunitas tubuh dapat ditingkatkan dan kemampuan melawan penyakit lebih baik lagi. Aging juga mempengaruhi aktivitas leukosit termasuk makrofag, monosit, neutrofil, dan eosinofil. Namun hanya sedikit data yang tersedia menjelaskan efek penuaan terhadap sel-sel tersebut.

Jumlah dan Sub-populasi Limfosit. Aging mempengaruhi fungsi sel T dengan berbagai cara. Beberapa sel T ditemukan dalam thymus dan sirkulasi darah yang disebut dengan sel T memori dan sel T naive. Sel T naive adalah sel T yang tidak bergerak/diam dan tidak pernah terpapard engan antigen asing, sedangkan sel T memori adalah sel aktif yang terpapar dengan antigen. Saat antigen masuk, maka sel T naive menjadi aktif dan merangsang sistem imun untuk menghilangkan antigen asing dari dalam tubuh, selanjutnya merubah diri menjadi sel T memori. Sel T memori menjadi tidak aktif dan dapat aktif kembali jika menghadapi antigen yang sama. Pada kelompok usila, hampir tidak ada sel T naive sejak menurunnya produksi sel T oleh kelenjar timus secara cepat sesuai usia. Akibatnya cadangan sel T naive menipis dan sistem imun tidak dapat berespons secepat respons kelompok usia muda. Jumlah sel B, sel T helper (CD4+) juga berubah pada orang tua. Selain terjadi perubahan jumlah sel T, pada kelompok lansia juga mengalami perubahan permukaan sel T. Ketika sel T menggunakan reseptor protein di permukaan sel lalu berikatan dengan antigen, maka rangsangan lingkungan harus dikomukasikan dengan bagian dalam sel T. Banyak molekul terlibat dalam transduksi signal, proses perpindahan ikatan signal-antigen melalui membran sel menuju sel. Sel T yang berusia tua tidak menunjukkan antigen CD28, suatu molekul penting bagi transduksi signal dan aktivasi sel T. Tanpa CD28, sel T tidak berespons terhadapnya masuknya patogen asing. Pada tubuh kelompok elderly juga terdapat kandungan antigen CD69 yang lebih rendah. Sel T dapat menginduksi antigen CD69 setelah berikatan dengan reseptor sel T. Bila ikatan signal-antigen tidak dipindahkan ke bagian dalam sel T, maka antigen CD69 akan hilang di permukaan sel dan terjadi penurunan transduksi signal. Respons Proliferasi Limfosit. Perubahan utama pada fungsi imun orang tua adalah perubahan respons proliferatif limfosit seperti berkurangnya Interleukin-2 (IL-2) yang tercermin dari rusaknya proses signal pada orang tua, minimnya kadar Ca dalam tubuh, dan perubahan membran limfosit sehingga mempengaruhi fungsi imun. Penurunan Calcium (Ca) pada orang tua mempengaruhi perpindahan signal dengan gagalnya merangsang enzim termasuk protein kinase C, MAPK dan MEK; serta menghambat produksi cytokines, protein yang bertanggung jawab untuk koordinasi interaksi dengan antigen dan memperkuat respons imun. Salah satu cytokine yang dikenal adalah interleukin 2 (IL-2), cytokine diproduksi dan disekresi oleh sel T untuk menginduksi proliferasi sel dan mendukung pertumbuhan jangka panjang sel T. Sesuai peningkatan usia sel T, maka kapasitas sel T untuk menghasilkan IL-2 menurun. Jika terpapar antigen, maka sel T memori akan membelah diri menjadi lebih

banyak untuk melawan antigen. Jika produksi IL-2 sedikit atau sel T tidak dapat berespons dengan IL-2, maka fungsi sel T rusak. Perubahan cytokine lain adalah interleukin 4, tumor necrosis factor alpha, dan gamma interferon. Viskositas membran sel T juga berubah pada orang tua, tetapi viskositas sel B tetap. Kompoisisi lipid pada membran limfosit orang tua menunjukkan peningkatan proporsi kolesterol dan fosolipid dibandingkan orang muda Serum darah orang tua mengandung banyak VLDL dan LDL. Perubahan komposisi lipid di atas dapat meningkatkan penurunan imunitas tubuh orang tua. Pembatasan asupan lemak mempengaruhi komposisi membran lipid limfosit, meningkatkan level asam linoleat, menurunkan kadar asam docosatetraenoat dan arakhidonat. Produksi Cytokine. Respons limfosit diatur oleh cytokine. Respons limfosit atau sel T helper dibagi menjadi 2 jenis yaitu: 1. Th-1 dan 2. Th-2. Respons antibodi biasanya diperoleh dari Th-2 cytokine. Perubahan produksi cytokine merubah imunitas perantara sel (Cell Mediated Immunity) pada roang tua. Respons limfosit pada makrofag berubah pada orang tua di mana terdapat sensitivitas yang lebih tinggi terhadap efek inhibitor. Penurunan fungsi sel T pada orang tua juga mempengaruhi fungsi sel B karena sel T dan sel B bekerjasama untuk mengatur produksi antibodi. Sel T menginduksi sel B untuk hipermutasi gen-gen immunoglobulin, menghasilkan perbedaan antibodi untuk mengenali jenis-jenis antigen. Pada orang tua terdapat jenis antibodi yang lebih sedikit dibandingkan pada orang muda, rendahnya respons IgM terhadap infeksi, dan menurunnya kecepatan pematangan sel B. Semua itu berkontribusi terhadap penurunan jumlah antibodi yang diproudksi untuk melawan infeksi. Respons tubuh pada orang tua terhadap infeksi penyebab penyakit yang ditunjukkan dengan reaksi demam tidak berlangsung secara otomatis. Lebih dari 20% manusia berusia di atas 65 tahun mempunyai infeksi bakteri yang serius tidak mengalami demam, karena tubuh mampu menetralisir demam dan reaksi imun lainnya, tetapi sistem syaraf pusat kurang sensitif terhadap tanda-tanda imun dan tidak bereaksi cepat terhadap infeksi. Peningkatan Respons Sistem Imun. Fungsi organ-organ menurun sejalan dengan peningkatan usia manusia. Organ kurang efisien dibandingkan saat usia muda, contohnya timus yang menghasilkan hormon terutama selama pubertas. Pada lansia, sebagian besar kelenjar timus tidak berfungsi. Tetapi ketika limfosit terpapar pada hormon timus, maka sistem imun meningkat sewaktu-waktu. Sekresi hormon termasuk hormon pertumbuhan dan melatonin menurun pada usia tua dan mungkin dihubungkan dengan sistem imun.

Sistem endokrin dipengaruhi oleh penuaan dan sirkulasi hormon-hormon menurun dengan umur. Hormon DHEA (Dehydroepiandrosterone) erat hubungannya dengan penurunan fungsi kekebalan tubuh. Prostaglandin, hormon yang mempengaruhi proses tubuh seperti suhu dan metabolisme tubuh mungkin meningkat pada usia tua dan menghambat sel imun yang penting. Kelompok lansia mungkin lebih sensitif pada reaksi prostaglandin daripada dewasa muda, yang menjadi penyebab utama defisiensi imun pada lansia. Prostaglandin dihasilkan oleh jaringan tubuh, tetapi respons system imun pada kelompok dewasa muda lebih baik saat produksi prostaglandin ditekan. Nutrisi berperan penting dalam sistem imun tubuh. Pada kelompok dewasa tua yang sehat dan mengalami defisiensi gizi, maka asupan vitamin dan suplemen makanan dapat meningkatkan respons sistem imun, ditunjukkan dengan lebih sedikitnya hari-hari penyakit yang diderita. Orang tua sering mengalami perasaan kehilangan dan stress, dan penekanan imunitas dihubungkan dengan perasaan kehilangan, depresi, dan rendahnya dukungan sosial. Memelihara kehidupan sosial yang aktif dan memperoleh pengobatan depresi dapat meningkatkan sistem imun kelompok lansia. Secara umum kelompok lansia lebih sering menderita infeksi atau tingkat keparahan infeksi yang lebih besar dan penurunan respons terhadap vaksin lebih rendah (contohnya kematian akibat penyakit tetanus dan flu). Depresi/Stress dan Rasa Marah mempengaruhi Sistem Imun. Pada orang tua, perasaan depresi dan marah dapat melemahkan sistem imun. Mereka rentan terhadap stress dan depresi. Stress menyebabkan perubahan-perubahan fisiologis tubuh yang melemahkan sistem imun, dan akhirnya mempengaruhi kesehatan sehingga mudah terserang penyakit, serta timbulnya kelainan sistem imun dengan munculnya psoriasis dan eczema. Saat terjadi stress, maka hormon glukokortikoid dan kortisol memicu reaksi antiinflammatory dalam sistem imun. Peneliti telah mempelajari hubungan antara marah, perasaan depressi, dan sistem imun pada 82 orang lansia yang hidup dengan pasangan penderita penyakit Al-zheimer. Ternyata beberapa tahun kemudian kondisi psikologi dan fisik kesehatan mereka menurun, ditunjukkan oleh response sistem imun yang memicu aktivasi sel limfosit. Studi lain yang dilakukan terhadap kesehatan lansia dengan stress menunjukkan level IL-6 atau interleukin-6 (suatu protein dalam kelompok cytokine) meningkat 4 kali lipat lebih cepat sehingga mereka rentan terhadap penyakit jantung, arthritis, dan sebagainya. Pada lansia pria, depresi dikaitkan dengan berkurangnya respons imun. Depresi ditimbulkan oleh rasa kesepian, enggan menceritakan masalah hidup yang dialami,

dan cenderung memiliki teman dekat lebih sedikit daripada lansia wanita. Lansia pria mengalami ledakan hormon stress saat menghadapi tantangan dibandingkan dengan lansia wanita. Meskipun hubungan antara depresi dengan imunitas berbeda menurut gender, ternyata kombinasi marah dan stress yang dikaitkan dengan penurunan fungsi imun pada kedua kelompok lansia pria dan wanita tidak berbeda. Gangguan tidur pada orang tua dapat melemahkan sistem imun karena darah mengandung penurunan NKC (Natural Killer Cell). NKC adalah bagian dari sistem imun tubuh, jika kadarnya menurun dapat melemahkan imunitas sehingga rentan terhadap penyakit. Studi yang dilakukan di Pittsburgh tahun 1998 menunjukkan pentingnya tidur bagi orang tua untuk memelihara kesehatan tubuh.

Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa lansia. Faktorfaktor tersebut hendaklah disikapi secara bijak sehingga para lansia dapat menikmati hari tua mereka dengan bahagia. Adapun beberapa faktor yang dihadapi para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka adalah sebagai berikut: Penurunan Kondisi Fisik. Setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi adanya kondisi fisik yang bersifat patologis berganda (multiple pathology), misalnya tenaga berkurang, enerji menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang makin rapuh, dsb. Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah memasuki masa lansia mengalami penurunan secara berlipat ganda. Hal ini semua dapat menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi fisik, psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan ketergantungan kepada orang lain. Dalam kehidupan lansia agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang sehat, maka perlu menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan fisik dengan kondisi psikologik maupun sosial, sehingga mau tidak mau harus ada usaha untuk mengurangi kegiatan yang bersifat memforsir fisiknya. Seorang lansia harus mampu mengatur cara hidupnya dengan baik, misalnya makan, tidur, istirahat dan bekerja secara seimbang. Penurunan Fungsi dan Potensi Seksual. Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali berhubungan dengan berbagai gangguan fisik seperti : Gangguan jantung Gangguan metabolisme, misal diabetes millitus Vaginitis Baru selesai operasi : misalnya prostatektomi

Kekurangan gizi, karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu makan sangat kurang Penggunaan obat-obat tertentu, seperti antihipertensi, golongan steroid, tranquilizer.

Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia. Beberapa perubahan tersebut dapat dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia sebagai berikut: Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personality), biasanya tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua. Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), pada tipe ini ada kecenderungan mengalami post power sindrome, apalagi jika pada masa lansia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi pada dirinya Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personality), pada tipe ini biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang ditinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika tidak segera bangkit dari kedukaannya. Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), pada tipe ini setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya, banyak keinginan yang kadangkadang tidak diperhitungkan secara seksama. Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personality), pada lansia tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu orang lain atau cenderung membuat susah dirinya.

PERUBAHAN ANATOMI DAN FISIOLOGI PADA LANSIA 1. Sistem panca indra Perubahan morfologik dan fungsional yg bersifat degeneratif baik pd fungsi melihat, mendengar, keseimbangan, perasa dan perabaan. Patologik, misalnya: a. mata, terjadi ekstropion/entropion, ulkus kornea, glaukoma, katarak

b. telinga, terjadi tuli konduksi dan sindroma Meniere (keseimbangan). c. Sistem gastrointestinal Mulai dari gigi sampai anus terjadi perubahan morfologik degeneratif, perubahan atrofik pd rahang shg gigi lebih mudah tanggal, perubahan atrofik pd mukosa, kelenjar, dan otot-otot pencernaan. Patologik, misalnya: gangguan mengunyah dan menelan, penurunan nafsu makan, konstipasi, disfagia, hiatus hernia, ulkus peptikum, divertikulosis, pankreatitis, sindroma malabsorbsi, karsinoma kolon dan rektum 3. Sistem kardiovaskuler Penurunan kekuatan dan kecepatan kontraksi, isi sekuncup, cadangan jantung dan kemampuan meningkatkan kekuatan curah jantung, terjadi perubahan pd pembuluh darah menyebabkan kelenturan pembuluh darah tepi meningkat. 4. Sistem respirasi Elastisitas paru menurun, kekakuan ddg dada meningkat, kekuatan otot dada menurun, penurunan gerak silia, penurunan refleks batuk Patologi, misal: PPOK, penyakit infeksi paru akut/kronis, keganasan pada paru-bronkus. 5. Sistem endokrinologi 50% lansia menunjukkan intoleransi glukosa dg kadar GDP normal, penurunan tingkat produksi hormon tiroid Pria terjadi osteoporosis karena faktor inaktivitas, asupan Ca kurang, produksi vit D mll kulit menurun dan hormonal Wanita terjadi osteoporosis dikarenakan penurunan hormon estrogen pasca menopause 6. Sistem hematologi

Pola pertumbuhan sel darah merah dan sel darah putih scr kualitatif tidak berubah pada penuaan, akan tetapi sumsum tulang secara nyata Anemia defisiensi besi, anemia megaloblastik, dan anemia akibat penyakit kronis. 7. Sistem muskulo-skeletal Sinovial sendi terjadi perubahan tidak ratanya permukaan sendi, penyempitan celah dan lekukan di permukaan tulang rawan, erosi pd tulang rawan hialin Otot mengalami atrofi karena berkurangnya aktivitas, ggn metabolik, atau denervasi saraf Tulang terutama trabekulae menjadi lebih berongga, mikroarsitektur berubah dan sering patah tulang akibat benturan, hormon estrogen, vitamin D, kalsitonin dan parathormon 8. Sistem urogenital Ginjal akan mengalami perubahan penebalan kapsula bowman, ggn permeabilitas terhadap zat yg difiltrasi, nefron terjadi penurunan jumlah dan atrofi. Fungsi ginjal tidak terjadi penurunan. 9. Sistem kulit dan integumen Atrofi dari epidermis, kelenjar keringat, folikel rambut, berubahnya pigmentasi (penipisan kulit, warna kulit berubah dan pigmentasi yg tidak merata) Kuku menipis dan mudah patah Rambut rontok sampai terjadi kebotakan. Lemak subkutan berkurang menyebabkan berkurangnya bantalan kulit, berakibat daya tahan terhadap tekanan dan perubahan suhu menjadi berkurang. Penipisan kulit (kulit mudah terluka, dekubitus, hipo-hipertermia, dan infeksi kulit)

11. Sistem saraf pusat dan otonom

Penurunan berat otak sekitar 10 % pada penuaan (30 - 70 th). Meningen menebal, giri dan sulci otak berkurang kedalamannya. Penebalan tunika intima dan tunika media sehingga terjadi gangguan vaskularisasi otak (TIA, stroke, demensia vaskuler) Degenerasi pigmen substansia nigra, vaskularisasi menurun pd daerah hipotalamus menyebabkan terjadinya ggn saraf otonom 12. Infeksi Pada usia lanjut timus mengalami resorbsi, jumlah sel T dan sel B tidak berubah, terjadi perubahan rangsangan terhadap stimuli, pembentukan autoantibodi meningkat, pengenalan dan penyerangan terhadap sel tumor menurun, makrofag dan imunitas bawaan menurun

INSTABILITAS POSTURAL lnstabilitas postural / jatuh adalah ketidakmampuan untuk mempertahankan pusat kekuatan anti gravitasi pada dasar penyanggah tubuh (misalnya, kaki saat berdiri), atau memberi respon secara cepat pada setiap perpindahan posisi atan keadaan statis. Faktor risiko yang melatar belakangi terjadinya jatuh adalah faktor ekstrinsik dan faktor intrinsik. Faktor intrinsik terbagi dua sistemik (pneumonia, hipatensi ortostatik, hiponatremi, gagal jantung, infeksi saluran kemih) dan lokal (OA servikal, OA gem, Benign Paroxiysmal Positional Vertigo (BPPV), gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, kelemahan otot tungkai bawah). Jatuh memiliki penyulit yang cukup serius, mulai dari cedera ringan sampai fraktur femur. Dengan mengetahui faktor risiko jatuh sedini mungkin, maka kita dapat mencegah terjadinya jatuh dan penyulitnya. Lansia mengalami kemunduran atau perubahan morfologis pada otot yang menyebabkan perubahan fungsional otot, yaitu terjadi penurunan kekuatan dan kontraksi otot, elastisitas dan fleksibilitas otot, serta kecepatan dan waktu reaksi. Penurunan fungsi dan kekuatan otot akan mengakibatkan keseimbangan tubuh lansia. Lansia merupakan kelompok umur yang paling beresiko mengalami gangguan keseimbangan postural. Ada beberapa hal

yang dapat menyebabkan gangguan keseimbangan postural, diantaranya adalah efek penuaan, kecelakaan, maupun karena faktor penyakit. Namun dari tiga hal ini, faktor penuaan adalah faktor utama penyebab gangguan keseimbangan postural pada lansia. Menurut Kane jika keseimbangan postural lansia tidak dikontrol, maka akan dapat meningkatkan resiko jatuh pada lansia. Penurunan keseimbangan postural akibat penurunan kekuatan otot dapat ditingkatkan dengan melakukan latihan fisik yang berguna untuk menjaga agar fungsi otot dan postur tubuh tetap baik. Salah satu olahraga yang direkomendasikan untuk peningkatan keseimbangan postural lansia adalah latihan Balance Exercise. Tetapi sampai saat ini pengaruh latihan balance exercise terhadap keseimbangan postural lansia masih perlu penjelasan. Gangguan keseimbangan postural merupakan hal yang sering terjadi pada lansia. Jika keseimbangan postural lansia tidak dikontrol, maka akan dapat meningkatkan resiko jatuh. Penurunan kemampuan mempertahankan keseimbangan postural atau Penuaan dapat menyebabkan perubahan fisiologis sistem muskuloskeletal yang bervariasi. Salah satu diantaranya adalah perubahan struktur otot, yaitu penurunan jumlah dan ukuran serabut otot (atrofi otot). Dampak perubahan morfologis pada otot ini dapat menurunkan kekuatan otot. Atrofi serabut otot dapat menyebabkan seseorang bergerak menjadi lamban. Penurunan kekuatan otot ekstrimitas bawah dapat mengakibatkan kelambanan gerak, langkah yang pendek, kaki tidak dapat menapak dengan kuat dan lebih gampang goyah. Penurunan kekuatan otot juga menyebabkan terjadinya penurunan mobilitas pada lansia. Karena kekuatan otot merupakan komponen utama dari kemampuan melangkah, berjalan dan keseimbangan. Mobilitas yang baik dapat diperoleh dengan melakukan latihan fisik yang berguna untuk menjaga agar fungsi sendi-sendi dan postur tubuh tetap baik. Latihan dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan kemampuan lansia. Beberapa ahli yaitu Burbank, Butler, Evans, Nied & Franklin dan Wilmore meresepkan olahraga bagi lansia adalah olahraga yang berunsur memadukan gerak untuk melatih keseimbangan, dengan pembebanan yang memacu kekuatan otot, peregangan untuk meningkatkan kelenturan badan, dan kontraksi otot-otot badan. Salah satu jenis olahraga yang direkomendasikan untuk meningkatkan keseimbangan postural lansia adalah latihan balance exercise. Latihan balance exercise melibatkan

beberapa flexion, hip flexion, hip extention, knee flexion, dan side leg raise. Gerakan-gerakan ini berfungsi untuk meningkatkan kekuatan otot pada anggota tubuh bagian bawah (lowerexercise) yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan keseimbangan postural pada lansia. Penyebab gangguan keseimbangan postural adalah gangguan pada sistem sensorik, gangguan pada sistem saraf pusat (SSP), gangguan kognitif, maupun gangguan pada system muskuloskeletal. Ganggguan pada sistem sensorik adalah gangguan penglihatan (visus) dan pendengaran. Gangguan penglihatan yang dimaksud meliputi presbiop, kelainan lensa mata (refleksi lensa mata kurang), kekeruhan pada lensa (katarak), tekanan dalam mata yang meninggi (glaukoma), dan radang saraf mata. Gangguan pendengaran meliputi kelainan degenerative (otosklerosis) dan ketulian, yang seringkali dapat menyebabkan kekacauan mental. Gangguan pada sistem muskuloskeletal betul-betul berperan besar terjadinya jatuh terhadap lanjut usia (faktor murni milik lanjut usia). Atrofi otot yang terjadi pada lansia menyebabkan penurunan kekuatan otot, terutama otot-otot ekstrimitas bawah. Kelemahan otot ekstremitas bawah ini dapat menyebabkan gangguan keseimbangan postural, sehingga dapat mengakibatkan kelambanan bergerak, langkah pendek-pendek, penurunan irama, kaki tidak dapat menapak dengan kuat dan cenderung tampak goyah, susah atau terlambat mengantisipasi bila terjadi gangguan seperti terpeleset dan tersandung. Beberapa indikator ini dapat meningkatkan resiko jatuh pada lansia. Teori yang dikemukakan oleh American College of Sport Medicine, latihan yang dapat meningkatkan kekuatan otot yang pada akhirnya akan meningkatkan keseimbangan postural lansia dapat dilakukan 3-4 minggu latihan dengan frekuensi 3 kali seminggu.Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Nyman (2007) bahwa latihan (balance exercise) dapat menimbulkan adanya kontraksi otot. Selanjutnya teori dari Guyton (1997) menjelaskan ketika otot sedang berkontraksi, sintesa protein kontraktil otot berlangsung jauh lebih cepat daripada kecepatan penghancurannya, sehingga menghasilkan filamen aktin dan miosin yang bertambah banyak secara progresif di dalam miofibril. Kemudian miofibril itu sendiri akan memecah di dalam setiap serat otot untuk membentuk miofibril yang baru. Peningkatan jumlah miofibril tambahan yang menyebabkan serat otot menjadi hipertropi. Dalam serat otot yang mengalami hipertropi terjadi peningkatan komponen system metabolisme fosfagen, termasuk ATP dan fosfokreatin. Hal ini mengakibatkan peningkatan kemampuan sistem metabolik aerob dan anaerob yang dapat meningkatkan energi dan kekuatan otot.

Peningkatan kekuatan otot inilah yang membuat lansia semakin kuat dalam menopang tubuh dan melakukan gerakan.

POLIFARMASI Polifarmasi berarti pemakaian banyak obat sekaligus pada seorang pasien, lebih dari yang dibutuhkan secara logis-rasional dihubungkan dengan diagnosis yang diperkirakan. Istilah ini mengandung konotasi yang berlebihan, tidak diperlukan, dan sebagian besar dapat dihilangkan tanpa mempengaruhi outcome penderita dalam hasil pengobatannya. Ia mengandung juga pengertian mubazir, sehingga meninggikan biaya pengobatan, tanpa justifikasi profesional. Yang lebih penting lagi ialah bahwa diantara demikian banyak obat yang ditelan pasti terjadi interaksi obat yang sebagian dapat bersifat serius dan sering menyebabkan hospitalisasi atau kematian. Kejadian ini lebih sering terjadi pada pasien yang sudah berusia lanjut yang biasanya menderita lebih dari satu penyakit. Penyakit utama yang menyerang lansia ialah hipertensi, gagal jantung dan infark serta gangguan ritme jantung, diabetes mellitus, gangguan fungsi ginjal dan hati. Juga terdapat berbagai keadaan yang khas dan sering mengganggu lansia seperti gangguan fungsi kognitif, keseimbangan badan, penglihatan dan pendengaran. Semua keadaan ini menyebabkan lansia memperoleh pengobatan yang banyak jenisnya. Bila semua obat memang benar dibutuhkan, hal ini tidak digolongkan sebagai polifarmasi, walaupun berbedaan antara memakai banyak obat bersamaan (multiple medications) dan polifarmasi tidak selalu jelas. Agaknya dewasa ini polifarmasi sudah diartikan pemakaian banyak jenis obat secara umum dan arti spesifik seperti dijelaskan diatas sudah agak kabur. Bila dipersoalkan jumlah berapa dapat dianggap sebagi polifarmasi, sulit disebutkan angka, karena itu pengertian umum agak kurang baik karena tidak membedakan penggunaan lebih dari satu obat yang memang ditopang dengan bukti penelitian (hipertensi, diabetes, payah jantung) dan tidak dianggap redundant, walaupun interaksi dan efek samping masih merupakan issue. Sehingga dalam arti asalnya terdapat unsur mubazir (tidak perlu dan merugikan) yang memang merupakan masalah yang ada, karena dalam keadaan multipatologis perlu dipakai lebih banyak obat (diperlukan dan ditopang evidence). Sistem memberi obat di rumah sakit sangat liberal, setiap dokter/konsultan memeriksa pasien dan menuliskan pendapatnya di status serta pengobatannya. Bila 5 konsultan yang

memeriksanya, maka boleh dipastikan bahwa pasien harus menelan 5 kali 5-6 obat (belum yang disuntikkan), yaitu 25-30 obat-jadi sekaligus, sering beberapa kali sehari. Tidak ada dokter dalam team yang diberi hak dan kuasa untuk mempertanyakan dan menyederhanakan skema pengobatan ini dalam suatu sistem. Studi di rumah sakit di New Castle, NSW, Australia menunjukkan bahwa 30% dari lansia menerima 6-10 jenis obat, dan 13% menerima lebih dari 10 jenis setiap harinya. Interaksi Farmakokinetik Fungsi Ginjal. Perubahan paling berarti dalam menapak usia lanjut ialah berkurangnya fungsi ginjal dan menurunnya creatinine clearance, walaupun tidak terdapat penyakit ginjal atau kadar kreatininya normal. Hal ini menyebabkan ekskresi obat sering berkurang, dengan akibat perpanjangan atau intensitas kerjanya. Obat yang mempunyai halflife panjangn perlu diberi dalam dosis lebih kecil bila efek sampingnya berbahaya. Dua obat yang sering diberikan kepada lansia ialah glibenklamid dan digoksin. Glibenklamid, obat diabetes dengan masa kerja panjang (tergantung besarnya dosis) misalnya, perlu diberikan dengan dosis terbagi yang lebih kecil ketimbang dosis tunggal besar yang dianjurkan produsen. Digoksin juga mempunyai waktu-paruh panjang dan merupakan obat lansia yang menimbulkan efek samping terbanyak di Jerman karena dokter Jerman memakainya berlebihan, walaupun sekarang digoksin sudah digantikan dengan furosemid untuk mengobati payah jantung sebagai first-line drug. Karena kreatinin tidak bisa dipakai sebagai kriteria fungsi ginjal, maka harus digunakan nilai creatinine-clearance untuk memperkirakan dosis obat yang renal-toxic, misalnya aminoglikoside seperti gentamisin. Penyakit akut seperti infark miokard dan pielonefritis akut juga sering mengurangkan fungsi ginjal dan ekskresi obat. Dalam setiap keadaan kita perlu memakai dosis lebih kecil bila dijumpai penurunan fungsi ginjal, khususnya bila memberi obat yang mempunyai batas keamanan yang semoit. Alopurinol dan petidin, dua obat yang sering digunakan pada lansia memproduksi metabolit aktif, sehingga kedua obat ini juga perlu diberi dalam dosis lebih kecil pada lansia. Daftar interaksi obat sangat panjang, namun tidak semuanya klinis penting. Di lain pihak pengaruh interaksi kinetik sulit diperkirakan karena selalu akan timbul fenomen baru dengan adanya obat baru ataupun lama. Pharmacovigilance merupakan cara paling ampuh hingga kini untuk mempelajari interaksi baru, karena 69% sebenarnya dapat diprediksi dan dihindarkan.

Fungsi Hati. Penurunan fungsi hati tidak sepenting penurunan fungsi ginjal. Hal ini disebabkan karena hati memiliki kapasitas yang lebih besar, sehingga penurunan fungsi tidak begitu berpengaruh. Ini tentu terjadi hingga suatu batas. Batas ini lebih sulit ditentukan karena peninggian nilai ALT tidak seperti penurunan creatinine-clearance. ALT tidak mencerminkan fungsi tetapi lebih merupakan marker kerusakan sel hati dan karena kapasitas hati sangat besar, keruakan sebagian sel dapat diambil alih oleh sel-sel hati yang sehat. ALT juga tidak bisa dipakai sebagai parameter kapan perlu membtasi obat tertentu. Hanya anjuran umum bisa diberlakukan bila ALT melebihi 2-3 kali nilai normal sebaiknya mengganti obat dengan yang tidak dimetabolisme oleh hati. Ini merupakan kehati-hatian dan bukan kontraindikasi absolut. Memakai metilpredisolon misalnya merupakan contoh, karena prednison dimetabolisme menjadi perdnisolon oleh hati. Hal ini tidak begitu perlu untuk dilakukan bila dosis prednison normal atau bila hati berfungsi normal. Kejenuhan metabolisme oleh hati bisa terjadi bila diperlukan bantuan hati untuk metabolisme dengan obat-obat tertentu. Suatu daftar terbatas yang diambil random dari suatu kepustakaan menurut relevansinya ialah: alopurinol, amoksisilin-asam klavulanat (untuk komponen klavulanat), flukloksasilin, flukonazol, klorpromazine, metformin, clonazepam, diazepam, morfin, dekstrometorfan, fenitoin, eritromisin, rifampisin,

metoklopramid,

ofloksasin,

kotrimoksasol, valproic acid, dan warfarin. Dalam hal ini lansia akan dipaparkan kepada risiko yang lebih besar; misalnya suatu studi menganjurkan flukloksasilin diberikan dengan hati-hati pada orangtua diatas 55 tahun karena pemberian jangka panjang (lebih dari 1 minggu) menimbulkan frekuensi hepatitis naik mencolok. Perlu ditambahkan bahwa flukloksasilin adalah obat terpilih untuk infeksi dengan Staphylococcus aureus seperti furunkel atau karbunkel. First-pass effect dan pengikatan obat oleh protein (protein-binding) berpengaruh penting secara farmakokinetik. Obat yang diberikan oral diserap oleh usus dan sebagian terbesar akan melalui V. porta dan langsung masuk ke hati sebelum memasuki sirkulasi umum. Hati akan melakukan metabolisme obat yang disebut first-pass effect dan mekanisme ini dapat mengurangi kadar plasma hingga 30% atau lebih. Kadar yang kemudian ditemukan dalam plasma merupakan bioavailability suatu produk yang dinyatakan dalam prosentase dari dosis yang ditelan. Obat yang diberi secara intra-vena tidak akan melalui hati dahulu tapi langsung masuk dalam sirkulasi umum. Karena itu untuk obat-obat tertentu yang mengalami first-pass effect dosis IV sering jauh lebih kecil daripada dosis oral.

Protein-binding juga dapat menimbulkan efek samping serius. Obat yang diikat banyak oleh protein dapat digeser oleh obat lain yang berkompetisi untuk ikatan dengan protein seperti aspirin, sehingga kadar aktif obat pertama meninggi sekali dalam darah dan menimbulkan efek samping. Warfarin, misalnya, diikat oleh protein (albumin) sebanyak 99% dan hanya 1% merupakan bagian yang bebas dan aktif. Proses redistribusi menyebabkan 1% ini dipertahankan selama obat bekerja. Bila kemudian diberi aspirin yang 80-90% diikat oleh protein, aspirin menggeser ikatan warfarin kepada protein sehingga kadar warfarin-bebas naik mendadak, yang akhirnya menimbulkan efek samping perdarahan spontan. Aspirin sebagai antiplatelet juga akan menambah intensitas perdarahan. Inipun bisa terjadi dengan aspirin yang mempunyai waktu-paruh plasma hanya 15 menit. Banyak obat geser-menggeser dalam proses protein-binding bila beberapa obat diberi bersamaan. Sebagian besar mungkin tidak berpengaruh secara klinis, tetapi untuk obat yang batas keamanannya sempit dapat membahayakan penderita.

Interaksi Farmakodinamik Interaksi farmakodinamik antara dua obat (atau lebih) lebih mudah diperkirakan dibandingkan interaksi kinetik. Dengan mengenal mekanisme kerja obat pada organ mudah bisa diramalkan apa yang akan terjadi secara dinamik bila obat dikombinasi. Biasanya ini ditimbulkan karena reseptornya dirangsang (atau dihambat) berbarengan oleh dua obat yang mempengaruhi organ secara sama. Misalnya atropin dan CTM akan bersinergi menimbulkan mulut kering lebih hebat karena CTM juga memiliki efek antikolinergik (atropinik) yang kuat. Namun, usia lanjut dapat menyebabkan respons reseptor obat dan target organ berubah, sehingga sensitivitas terhadap efek obat menjadi lain. Ini menyebabkan bahwa kadangkadang dosis harus disesuaikan dan sering berarti dikurangi. Misalnya opiod dan benzodiazepin menimbulkan efek yang sangat nyata terhadap susunan saraf pusat. Benzodiazepin dalam dosis normal dapat menimbulkan rasa ngantuk dan tidur berkepanjangan. Antihistamin sedatif seperti klorfeniramin maleat (CTM) juga perlu diberi dalam dosis lebih kecil (tablet 4 mg memang terlalu besar) pada lansia. Mekanisme kompensatoir seperti terhadap baroreseptor biasanya kurang sempurna pada usia lanjut, sehingga obat antihipertensi seperti prazosin, suatu 1 adrenergic blocker, dapat menimbulkan hipotensi ortostatik; antihipertensi lain, diuretik furosemide dan antidepresan trisiklik dapat juga menyebabkannya.

GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF Delirium Merupakan onset yang cepat dari berkurangnya kejernihan kesadaran dan kognisi yang disertai dengan konfusi (kekacauan), disorientasi, serta defisit dalam ingatan dan bahasa. Kriteria menurut DSM-IV-TR: Gangguan kesadaran dengan kemampuan yang berkurang untuk memfokuskan, mempertahankan atau mengalihkan perhatian Perubahan dalam kognisi (misalnya defisit ingatan atau disorientasi) yang bukan merupakan akibat demensia. Gangguan berkembang dalam jangka waktu pendek dan berfluktuasi sepanjang hari. Ada bukti fisiologis sebagai dasarnya.

Subtipe Delirium: 1. Delirium due to general medical condition : Delirium akibat kondisi medis umum, termasuk gangguan kesadaran/berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan dan perubahan dalam kemampuan kognitif seperti ingatan dan ketrampilan bahasa, yang terjadi dalam jangka waktu pendek dan diakibatkan kondisi medis umum. 2. Substance induced delirium : Delirium diinduksi substansi. 3. Delirium due to multiple etiologies : Delirium akibat etiologi berganda 4. Delirium not otherwise specified : Delirium tak tergolongkan. Terapi Delirium: menghentikan penggunaan obat yang menyebabkan delirium pemberian nutrisi yang baik terapi suportif jika perlu dikekang dengan alat pengekang, namun jika kondisi membaik harus segera dilepas

Demensia Onset gradual dari memburuknya fungsi otak yang melibatkan kehilangan ingatan, ketidakmampuan mengenali berbagai objek(agnosia) atau wajah (facial agnosia), dan

kesulitan dalam merencanakan dan penalaran abstrak. Keadaan ini berhubungan dengan frustrasi dan kehilangan semangat. Demensia tipe Alzheimer Onset yang terjadi secara gradual dari defisit kognitif yang disebabkan oleh penyakit Alzheimer, pada prinsipnya dapat diidentifikasi dari ketidakmampuan penderita untuk mengingat materi-materi baru atau yang sebelumnya telah dipelajari, merupakan bentuk demensia yang paling umum. Penyakit Alzheimer: Penyakit cortex cerebral yang aneh, yang manifes dalam bentuk hendaya ingatan yang bersifat progresif dan masalah perilaku serta kognitif yang lain, termasuk sifat curiga (kepikunan pada orang lanjut usia bentuk atipikal), ditemukan oleh Psikiater Jerman: Alois Alzheimer. Kriteria penyakit Alzheimer: Defisit kognitif majemuk, termasuk hendaya ingatan dan paling tidak salah satu gangguan berikut: afasia (hendaya atau kehilangan kemampuan bahasa), apraksia (fungsi motorik yang terhendaya), agnosia (ketidakmampuan mengenali objek), atau gangguan dalam fungsi eksekutif (misal mengurutkan, merencanakan). Hendaya signifikan dalam fungsi, yang melibatkan terjadinya penurunan dari tingkat sebelumnya Onsetnya bersifat gradual dan terjadi penurunan kognisi yang terus berkelanjutan. Demensia Vaskuler

Gangguan otak progresif yang melibatkan hilangnya fungsi kognitif yang disebabkan tersumbatnya aliran darah ke otak. Munculnya konkuren (bersamaan) dengan tanda atau gejala neurologis lain.

Penyakit-penyakit yang menyebabkan demensia 1. HIV-1 : Human immunodeficiency virus-type-1, menyebabkan AIDS dan dapat menyebabkan demensia. 2. Trauma kepala 3. Penyakit Parkinson : Gangguan otak degeneratif yang pada prinsipnya mempengaruhi performa motorik, misalnya tremor, postur tubuh membungkuk), yang berhubungan dengan reduksi dopamin. 4. Penyakit Huntington : Gangguan genetik yang ditandai oleh gerakan anggota badan di luar kehendak dan berkembang ke arah demensia. 5. Penyakit Pick : Gangguan neurologis yang jarang dan mengakibatkan onset dini demensia. 6. Penyakit Creutzfeldt-Jakob : Kondisi yang amat jarang yang mengakibatkan demensia. 7. Hidrosefalus 8. Hipotiroidisme 9. Tumor otak 10. Defisiensi vitamin B12.

Terapi Demensia: terapi medikasi untuk mengurangi cemas, depresi, menstabilkan mood pengaturan lingkungan dengan jam yang besar, kalender besar, alat-alat yang berbahaya jangan didekatkan pada penderita. Gangguan Amnestik Merupakan kemunduran dalam kemampuan mentransfer informasi dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang, tanpa adanya gejala2 demensia lain, sebagai akibat trauma kepala atau penyelahgunaan obat.

Bentuk yang paling sering dijumpai adalah sindroma Wernicke-Korsakoff, gangguan ingatan yang berhubungan dengan penyalahgunaan obat. Terapi Amnesia: Terapi suportif, menghadirkan objek-objek yang dapat memulihkan ingatan.