Anda di halaman 1dari 8

Pendahuluan

Latar Belakang
Darah manusia adalah cairan jaringan tubuh.
Fungsi utama:
Mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di
seluruh tubuh.
Menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi
Mengangkut zat-zat sisa metabolisme
Mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang
bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit.
Hormon-hormon dari sistem endokrin juga diedarkan
melalui darah.

Darah terdiri dari dua komponen,yaitu plasma darah


dan sel-sel darah.

Anemia masalah medis yang paling sering


dijumpai di klinik di seluruh dunia, terutama di
Negara berkembang.
Penyebab debilitas kronik (chronic debility)
yang mempunyai dampak besar terhadap
kesejahteraan social dan ekonomi, serta
kesehatan fisik.
Diperkirakan lebih dari 30% penduduk dunia
atau 1500 juta orang menderita anemia
dengan sebagian besar tinggal di daerah tropis.

Anemia secara fungsional:


penurunan jumlah massa eritrosit (red cell mass)
sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk
membawa oksigen dalam jumlah yang cukup ke
jaringan perifer (penurunan oxygen carrying capacity).

Secara praktis anemia ditunjukan oleh penurunan


kadar hemoglobin, kemudian hematokrit.
Perlu diingat terdapat keadaan-keadaan
tertentu dimana ketiga parameter tersebut tidak
sejalan dengan massa eritrosit, seperti dehidrasi,
perdarahan akut dan kehamilan.

Tujuan
Untuk mengetahui jenis-jenis anemia
Untuk mempelajari cara menegakkan
diagnosis suatu penyakit dengan
keluhan utama anemia

Kesimpulan
Anemia merupakan masalah yang sering dijumpai
diseluruh dunia.
Kriteria anemia menurut WHO adalah jumlah
hemoglobin pada laki-laki dewasa <13 g/dl, wanita
dewasa tidak hamil <12 g/dl, dan wanita hamil <11
g/dl.
Kriteria untuk keperluan klinis dapat digunakan dengan
kadar Hb < 10 g/dl dan jumlah hematokrit <30% .
Pada dasarnya anemia disebabkan oleh :
Gangguan pembentukan eritrosit oleh sumsum tulang
Kehilangan darah keluar tubuh (perdarahan)
Proses penghancuran eritrosit dalam tubuh sebelum waktunya
(hemolisis).

Anemia dapat diklasifikasikan berdasarkan


etiopatogenesisnya maupun morfologi eritrositnya.
Gabungan keduanya sangat bermanfaat untuk diagnosis
anemia.
Pemeriksaan pada pasien anemia yang diperlukan selain
berdasarkan riwayat dan klinis adalah pemeriksaan
penyaring, pemeriksaan seri anemia, pemeriksaan
sumsum tulang dan pemeriksaan khusus.
Pendekatan diagnosis dapat dilakukan dengan klinis,
namun lebih baik dengan adanya pendekatan laboratorik.
Pengobatan anemia dilakukan sesuai dengan penyebab
anemia dan indikasi yang jelas. Termasuk apakah
diperlukan adanya terapi darurat, suportif, dan kausatif.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian terapi anemia


adalah
Pengobatan harus berdasarkan diagnosis definitif yang telah
ditegakkan terlebih dahulu
Pemberian hematinitik tanpa indikasi yang jelas tidak dianjurkan

Pengobatan dapat berupa


terapi untuk keadaan darurat
terapi suportif
terapi khas untuk masing-masing anemia
terapi kausatif oleh karena penyakit dasar yang menyebabkan
anemua
terapi percobaan (ex juvantivus) jika diagnosis definitif tidak jelas
dengan pemantauan ketat
transfusi darah pada pasien pasca pendarahan akut dengan
gangguan hemodinamik dan anemia kronik (PRC)