Anda di halaman 1dari 73

UPAYA PENDEKATAN KELUARGA

TERHADAP Ny.I DALAM MENANGANI


PERMASALAHAN PENDERITA TBC
Penguji : dr. Anika Candrasari,
M.Kes

Disusun oleh :
Mohammad Reza Azhari (J510155012)
Muhamad Dacil Kurniawan P (J510155013)
Muhamad Fadhil Ilhami (J510155065)
Nadia Primivita D (J510155063)
PROGRAM STUDI PROFESI KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2016

STATUS PASIEN
Nama
: Ny. I
Umur
: 31 tahun
Jenis
: Perempuan
Pekerjaan : IRT
Pendidikan : SMP
Agama
: Islam
Alamat
: Tegalmade Mojolaban,
Sukoharjo
Tanggalperiksa : 23 November 2016

KeluhanUtama

: Batukberdahak

Karakteristik demografi
keluarga
Nama kepala keluarga
: Tn. H
Umur
: 36 th
Alamat lengkap
: Tegalmade Mojolaban, Sukoharjo
Bentuk keluarga
: Extended family

No Nama Statu L/P


s

Umu Pen

Pekerja Pasie Keteran

an

d.

gan

klini
1.

Tn. H

Suami L

36 th SMK

Swasta

k
-

2.

Ny. I

Istri

31 th SMP

IRT

Ya

Pasien TB

Pelajar

Paru
-

Pensiun

3.

An. R

Anak

4.

Tn. S

Mertu L
a

4 th

TK

77 th SMK

Pasien mengeluh
batuk berdahak sejak
4 tahun yang
lalu.Pasien mulai
merasa batuk saat
sebelum kehamilan
anak pertama dan
diperiksakan ke
puskesmas pada saat
usia anak kurang
lebih 3,5 tahun.
Pasien kemudian
memeriksakan diri ke
Puskesmas
Mojolabandan
dilakukan
pemeriksaan dahak.
Dari hasil
pemeriksaan pasien
dinyatakan negatif
TB.

Batuk dirasakan saat


malam hari tetapi
tidak mengganggu
tidur dan memberat
saat pagi hari.
Selama batuk pasien
merasa tidak nafsu
makan dan disertai
dengan penurunan
berat badan. Keluhan
berkeringat di malam
hari disangkal.
Kemudian
pasien
memeriksakan diri
ke Rumah Sakit Dr.
Oen dan
melakukan
pemeriksaan
rontgen disana,
dan dari
pemeriksaan
rontgen
ditemukan bahwa
pasien menderita
penyakit TB (+).

Riwayat Penyakit
Dahulu:

Riwayat
Riwayat
Riwayat
Riwayat
Riwayat
Riwayat

sakit gula
: disangkal
tekanan darah tinggi
: disangkal
sakit jantung
: disangkal
sakit ginjal
: disangkal
alergi
: disangkal
mondok
: disangkal

Riwayat Kebiasaan :

Riwayat merokok
: disangkal,tetapi
suami di rumah perokok berat
Riwayatmakanberlemak, santan
: (+)
Riwayat minum minuman keras
: disangkal
Riwayat olah raga teratur
: disangkal

Riwayat Penyakit pada Anggota Keluarga


diakui

- TBC (Ibu Pasien)

Riwayat kontak dengan pasien TB:

Tahun 2010

Ibu pasien
menderita TB
yang sudah
parah dan
pasien yang
merawatnya
hingga
meninggal

Pasien sering
kontak
langsung

Pasien tidak
pernah
memakai alat
pelindung diri
secara rutin

RiwayatGizi

Penderita sehari-hari makan sebanyak 3-4 kali


sehari
Nasi, sayur dan lauk pauk (daging, telur, tahu
dan tempe)
Kadang dilengkapi buah dan susu

Riwayat Psiko-sosioekonomi
Penderita adalah
seorang istri, tinggal
bersama suami, 1
anak dan bapak
pasien

Penghasilan keluarga
sekitarRp.
1,500.000,00/bulan

Hubungan Ny. I
dengan anggota
keluarga yang lain
saling mendukung
dan saling
memperhatikan
kondisi kesehatan

Hubungan Ny. I
dengan tetangga
berlangsung baik

Anamnesis
sistem

Serebrospina
l

Kardiopulmo
ner

Respiratorius

Urogenital

Gastrointesti
nal

Integumentu
m

Muskuloskele
tal

Kesan Umum

Keadaan
umum
Status
gizi
Tanda
vital

Tampak baik
Compos mentis
Gizi kesan cukup

BB : 49 kg
TB : 156 cm
BMI : 20,1 kg/m2
Kesan : normo
weight
TD : 120/70 mmHg
Nadi : 86 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 36.80C

Pemeriksaan
fisik

kepal Normochephal, rambut hitam, tidak mudah dicabut


a
Mata

CA (-/-), SI (-/-), edema palpebra (-/-), reflek cahaya (+/+),


reflek pupil isokor (+/+) 3 mm, mata cekung (-)

Sekret (-/-), epistaksis (-), nafas cuping hidung (-/-) , concha


Hidun hipertrofi (-/-)

Teling Sekret (-), hiperemis (-)


a

Mukosa mulut dan bibir kering (-),


perdarahan gusi (-), sianosis (-), lidah
Mulut
kotor (-)
pembesaran kelenjar getah bening (-),
peningkatan JVP (-), tonsil T1-T1, faring
Leher
hiperemis (-)
Kel. Tidak didapatkan pembesaran limfonodi
Limfe

Thorax

Inspeksi
Palpasi
Jantung

Perkusi
Auskult
asi

ictus cordis tidak tampak

ictus cordis kuat angkat di linea


midclavicularis sinistra

Batas kanan atas = sic


dextra
Batas kanan bawah
sternalis dextra
Batas kiri atas
= sic
parasternalis sinistra
Batas kiri bawah
= sic
midclavicularis sinistra

II linea sternalis
= sic IV linea
II linea
V linea

BJ I-II reguler, bising


(-)

Paru

Abdomen

Inspeksi
Auskult
asi
Perkusi
Palpasi

Distensi (-), sikatrik (-), purpura


(-)

Peristaltik (+) 24 x / menit

Timpani (+), shifting dullness (-)

Supel, massa abnormal (-), nyeri


tekan epigastrium (-), tes
undulas(-), turgor baik

Hepatomegali (-)

Hati
Splenomegali (-)

Limpa
Ekstremit
as

Edema kaki(-/-), Sianosis (-/-),


akral lembab (-/-), petekie
(-/-), ruam merah (-/-), a.
Dorsalis pedis teraba kuat,
capillary refill time <2 detik

Lengan

Tungkai

Kanan

Kiri

Kanan

Kiri

Gerakan

Bebas

Bebas

Bebas

Bebas

Tonus

Normal

Normal

Normal

Normal

Trofi

Eutrofi

Eutrofi

Eutrofi

Eutrofi

Klonus

Refleks fisiologis

Biceps (+) Triceps (+)

Patella (+) Aschilles (+)

Refleks Patologis

Hoffman (-) Tromner (-)

Meningeal sign

Kaku kuduk (-), burdzinsky I & II (-), kernig (-)

Sensibilitas

Normal

Normal

Babinski (-), Chaddock (-), openheim (-),


gordon (-)

Normal

Normal

Pemeriksaan
Neurologis
Fungsi Dalam batas normal

luhur
Fungsi
Dalam batas normal
vegetat
if
Fungsi
Dalam batas normal
Sensori
k
Fungsi Dalam batas normal
Motorik
Kekuat
5 (ext sup & ext inf)
an
Otot

Pemeriksaan
Psikiatri

Penampilan : penampilan sesuai umur,


perawatan diri baik
Kesadaran : compos mentis GCS E4V5M6
Afek: appropriate
Psikomotor: normoaktif
Proses pikir :
Bentuk : realistik
Isi : waham (-), halusinasi (-), ilusi (-)
arus : koheren

Insight

: baik

Diagnosis Holistik
Biologis :
TB Paru

Psikologis : Sosial :
Kondisi lingkungan dan rumah yang kurang
sehat, hubungan dengan tetangga
berlangsung baik, pasien cukup mengerti
akan penyakitnya. Untuk status ekonomi
pasien, tingkat kesejahteraan pasien kurang.

Penatalaksaan

Non
medikament
osa

Medikamento
sa

Cukup istirahat
Diet tinggi karbohidrat dan tinggi
protein
Olah raga
Mengurangi stres
Tidak meludah sembarang tempat
Edukasi keluarga

OAT-KDT fase lanjutan 3 kaplet/


3x perminggu

N Tanggal

Keluhan

Terapi

dan

Medikamento medikament

pemeriksa

sa

an
Keluhan

FDC

fase -Cukup

Mengobati -Kontrol

November batuk

lanjutan

3x3 istirahat

penyakit

2016

berkurang,

kap/mgg

nafsu

(selasa, kamis, karbohidrat

makan

sabtu)

1 23

Terapi

non Target

Planning

osa

-Diet
dan

tinggi TBC

rutin

untuk

paru memantau

pada

efektifitas

tinggi pasien dan OAT

bertambah

protein

mencegah -

-Olahraga

penularan

Pemeriksaa

Pemeriksaa

-Mengurangi

terhadap

n screaning

stress

keluarga

untuk

dahak:

BTA (-)

-Tidak meludah dan

anggota

sembarang

lingkungan keluarga

tempat

sekitar

yang tinggal

-Edukasi

dalam

keluarga

rumah

satu

Identifikasi Fungsi
Keluarga
Fungsi holistic

Fungsi biologis
Fungsi psikologis
Fungsi Sosial
Fungsi Ekonomi
dan Pemenuhan
Kebutuhan

extended family
Tn.H, Ny. I, An.R, Tn. R

Hubungan keluarga terjalin akrab dan harmonis dengan kemampuan


menyelesaikan masalah secara musyawarah

- Mengikuti kegiatan masyarakat dan komunikasi cukup baik


- Pasien sadar menggunakan masker saat berinteraksi dengan orang
disekitarnya

Penghasilan keluarga Rp. 1.500.000,00/bulan


Makan sebanyak 3-4x
Nasi, sayur danlaukpauk (telur, tahu,tempe), kadang dilengkapi daging
buah dan susu

Kesimpulan : Keluarga Tn. H yang berbentuk extended family.


Didapatkan Ny,I seorang perempuan sebagai istri dengan TBC paru

FUNGSI FISIOLOGIS

Adaptio

Tn. H
2

Ny. I
2

An. R
2

Tn. S
2

n
Partners 2

hip
Growth
Affectio

2
1

2
1

2
1

2
1

n
Resolve
Total

2
9

2
9

2
9

2
9

Sumber
Social

Fungsi patologis
Patologi

Ny. I dapat berkumpul dengan keluarga dan tetangga


sekitar

Kultur

Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik,


yaitu masih menggunakan bahasa jawa sebagai bahasa
sehari-hari

Religius

Beragama islam, ketaatan beribadah baik

Ekonomi

Ekonomi

keluarga

ini

kurang

menurut

1.500.000,00)
Edukasi

Ny. I lulusan tingkat SMP

Medical

Pasien memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS)

UMR

(Rp.

Genogram

Faktor Perilaku dan Non


perilaku

Factor
perilaku
Faktor
nonperilaku

1. pengetahuan :Keluarga
cukup memahami penyakit
penderita
2. sikap : penderita control
rutin
3. tindakan : keluarga Ny. I
cukup
1. keturunan : tidak ada riwayat
penyakit keturunan yang
berhubungan dengan penyakit
pasien
2. lingkungan : rumah keluarga
Ny.I tidak memenuhi syarat
kesehatan. Pasien memiliki
riwayat kontak dengan penderita
TB.
3. pelayanan kesehatan : jika
sakit Ny.I berobat ke puskesmas
dan menggunakan Kartu

Faktor Indoor dan


Outdoor
Indoor :
Ruangan di dalam rumah terdiri dari dua ruangan tamu dan ruangan
keluarga, tiga kamar tidur, ruang makan, dapur, dan dua kamar mandi.
Penerangan rumah kurang
Atap rumah tersusun dari genteng
Ventilasi kurang
Rumah kurang memenuhi standar rumah sehat
Outdoor :
Rumah penderita memiliki pagar yang berbatasan dengan jalan kampung
Selokan di depan rumah penderita lancar
Di sekitar rumah penderita masih terdapat pepohonan, tetapi tidak
banyak
Jarak antar rumah berdekatan

Simpulan fungsi keluarga


Fungsi holistic : kurang
Fungsi fisiologis : baik
Fungsi patolgis : kurang
Genogram : kurang
Pola interaksi : baik

Faktor perilaku : baik


Faktor non perilaku :
kurang
Faktor indoor : kurang
Faktor outdoor : kurang

Prioritas Masalah
No
1

Daftar masalah
P
yang 5

Lingkungan
kurang

Jumlah

S ri
5 5

Du
2

sb
5

Pb
3

pc
2

243 (I)

memenuhi

syarat kesehatan

FungsiHolistik

3 3

76(II)

FungsiPatologis

3 2

56(III)

Kesimpulan : Prioritas masalah yang diambil dari keluarga Ny. I


adalah lingkungan rumah pasien kurang memenuhi syarat kesehatan.

HUBUNGAN PRIORITAS MASALAH


DENGAN TBC PARU YANG DIDERITA NY.N
Factor
yang
resiko TBC
paru yang
tidak
diketahui.
Selain itu
keadaan
rumah
kurang
mendukun
g.

T
B

KESIMPULAN
Diagnosis Biologis
Tb Paru

Diagnosis Psikologis
-----

Diagnosis Sosial
lingkungan dan rumah yang kurang sehat
dan status ekonomi pasien, tingkat
kesejahteraan pasien kurang.

Saran
Promotif
Preventif
Kuratif
Rehabilitati

DENAH RUMAH PASIEN


Dapur

R Makan

KM 2 Kamar
3
Teras

R.
Tamu
2

R Keluarga

R.Tamu1

KM 1

Kamar
1

Kamar
2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
TUBERKULOSIS

Tuberkulosis
adalah
penyakit
menular
langsung
yang
disebabkan
oleh kuman
(Perhimpunan
TB
Dokter Paru
Indonesia, 2014)
(Mycobacteri
um
tuberculosis).
Sebagian besar kuman TB
menyerang paru, tetapi dapat juga
mengenai organ tubuh lainnya

Defini
si

EPIDEMIOLO
GI

Dunia: 9 juta kasus TB baru, 3 juta kematian


akibat TB
95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB
terjadi di negara berkembang.
75% pasien TB kelompok usia produktif (1550 th)
Indonesia peringkat 3 setelah India dan
Cina.
Di Indonesia: TB BTA positif sekitar 110 per
100.000 penduduk

(Kemenkes RI, 2011; Kemenkes


RI, 2006)

PATOGENESIS
3 hr-8 minggu setelah Mt yang terhirup
tertahan di dalam alveoli, bakteri
menyebar melalui sirkulasi limfatik ke
KGB regional
Membentuk kompleks Ghon atau
kompleks primer. *terdapat konversi
reaktivitas tuberkulin
Individu dengan Tb paru aktif
mengeluarkan droplet yang
mengandung basil Tb yang dapat
terhirup oleh individu lain

Droplet masuk ke alveoli sel dendritik dan


makrofag akan menangkap mikroorganisme

Beberapa makrofag terinfeksi akan tetap pada


jaringan paru, beberapa sel dendritik terinfeksi
akan migrasi ke kel limfe

Sel T kel.limfe akan teraktivasi dan migrasi


untuk mengenali fokus Mt di paru

Lesi granulomatosa terbentuk dan mengandung


bakteri, mencegah perkembangan penyakit
jika imunokompeten, berhenti pada tahap ini

Tand
a dan
Gejal
a

Batuk berdahak
2-3 minggu/ lebih
Dahak bercampur
darah
Batuk darah
Sesak napas
Badan lemas,
malaise
Nafsu makan
menurun
BB menurun
Berkeringat
malam hari tanpa
kegiatan fisik

(Perhimpunan Dokter Paru

Pemeriksaan dahak
mikroskopis
Menegakkan diagnosis
Menilai keberhasilan
pengobatan
Menentukan potensi

Dilakukan
Dilakukan
Dengan
penularan
Dengan
mengumpulka
mengumpulka
n 3 spesimen
n 3 spesimen
dahak (dalam
dahak (dalam
2 hari
2 hari
kunjungan
kunjungan
berurutan): Sberurutan): SP-S
P-S
(Perhimpunan Dokter Paru Indonesia,
2014)

PENEGAKANDIAGNOSIS
TBPARU
Semua suspek diperiksa 3 spesimen dahak

Dx TB paru dewasa ditegakkan dengan


ditemukannya BTA
Tidak dibenarkan jika mendiagnosis TB
hanya berdasarkan foto thoraks tidak
selalu memberikan gambaran khas

(Perhimpunan Dokter Paru


Indonesia, 2014)

PENEGAKANDIAGNOSIS
TBEKSTRAPARU
Gejala
tergantung
organ yang
terkena

Kaku kuduk meningtis


TB
Pleuritis TB pleura
Limfadenitis TB
Gibbus Spondilitis TB

Dx pasti sulit
ditegakkan
(Perhimpunan Dokter Paru Indonesia,

Klinis TB
Menyingkirk
an
kemungkina
n penyakit
lain

Indikasi pmx Ro Thorax

(Depkes RI,
2006).

Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS


hasilnya BTA positif
Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap
negatif setelah 3 spesimen dahak SPS
pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya
BTA negatif dan tidak ada perbaikan
setelah pemberian antibiotika non OAT
Diduga mengalami komplikasi sesak
nafas berat yang memerlukan
penanganan khusus (seperti:
pneumotorak, pleuritis eksudativa, efusi
perikarditis atau efusi pleural) &
mengalami hemoptisis berat

TATALAKSANA
OAT Primer
isoniazid
(INH)
rifamipicin
(RMP)
pyrazinamide
(PZA)
streptomycin
(SM)
ethambutol
(EMB)

OAT Sekunder
paraaminosalicylic
acid (PAS)
ethionamide
cycloserine
kanamycin
capreomycin

INH

Sifat : bakterisid
Penetrasi baik pada seluruh cairan tubuh
termasuk LCS
Aman pada kehamilan
ESO: peripheral neuropathy
Dosis : 5 mg/kgBB/hr-300 mg/hr

RM
P

Sifat : Bakterisid, efektif pada fase multiplikasi


cepat maupun lambat
(+) : melawan basil dengan metabolik paling
rendah seperti pd nekrosis perkijuan. Distribusi
sampai LCS
ESO: perdarahan GIT,cholestatic jaundice,
trombositopenia, hepatotoksik (+INH)
Dosis : 10 mg/kgBB/hr-6-00 mg/hr

PZ
A

Bekerja aktif melawan basil Tb dalam lingkungan


asam, paling efektif pada makrofag atau dalam lesi
perkijuan
Penetrasi baik pada seluruh cairan tubuh termasuk
LCS
ESO: hepatotoksisitas jika digunakan dalam waktu
lama, peningkatan as.urat, athralgia
Dosis : 5-30 mg/kgBB/hr

EM
B

Sifat : bakteriostatik intrasel dan ekstrasel


Tidak penetrasi ke dalam meningen yang normal
ESO: toksisitas okular (optic neuritis) buta warna,
ketajaman penglihatan menurun, adanya central
scotoma
Perhatian ! Pasien dengan insufisiensi ginjal
Dosis : 15-25 mg/kgBB/hr

ST
M

Sifat : bakterisid, efektif pada


lingkungan ekstraseluler yang
bersifat basa
Tidak penetrasi ke dalam
meningen yang normal
Hati-hati! Pada pasien dengan
insufisiensi ginjal
ESO: ototoksisitas (kerusakan
N.VIII), nausea, vertigo (lansia)
Dosis : 15 mg/kgBB/hr- 1
gr/kgBB/hr

Skrining Manajemen Kontak


Kegiatan aktif maupun pasif untuk
menemukan 2 hal:
Anak yang mengalami paparan dari
pasien TB BTA (+)
Orang dewasa yang menjad sumber
penularan bagi anak yang didiagnosis
TB

Latar belakang perlunya Investigasi


Kontak :
Konsep infeksi dan sakit pada TB.
Anak yang kontak erat dengan sumber kasus TB
BTA positif lebih berisiko sebesar 24.469.2%.
Bayi dan anak usia < 5 tahun, mempunyai risiko
sangat tinggi untuk berkembangnya sakit TB,
terutama pada 2 tahun pertama setelah infeksi,
bahkan pada bayi dapat terjadi sakit TB dalam
beberapa minggu.
Pemberian terapi pencegahan pada anak infeksi
TB, sangat mengurangi kemungkinan
(Kemenkes RI,
berkembangnya sakit TB
2013)

Menurut Kemenkes RI (2013) sekitar 50-60%


Menurut Kemenkes RI (2013) sekitar 50-60%
anak
anakyang
yangtinggal
tinggaldengan
denganpasien
pasienTB
TBparu
paru
dewasa
dengan
BTA
sputum
positif,
akan
dewasa dengan BTA sputum positif, akan
terinfeksi
TB
juga.
terinfeksi TB juga.
Kira-kira 10% dari jumlah tersebut akan
Kira-kira 10% dari jumlah tersebut akan
mengalami
sakit
TB.
mengalami sakit TB.
Infeksi TB pada anak kecil berisiko tinggi
Infeksi TB pada anak kecil berisiko tinggi
menjadi
TB
berat
(misalnya
TB
meningitis
menjadi TB berat (misalnya TB meningitis
atau
TB
milier)
sehingga
diperlukan
atau TB milier) sehingga diperlukan
pemberian
pemberiankemoprofilaksis
kemoprofilaksisuntuk
untukmencegah
mencegah
terjadinya
terjadinyasakit
sakitTB.
TB.

Cara pemberian Isoniazid untuk Pencegahan


sesuai dengan tabel berikut:
Umur
Balita

HIV

Hasil
pemeriksaan

(+)/(-)

Infeksi laten TB

Balita

(+)/(-)

Kontak (+), Uji


tuberkulin (-)

> 5 th

(+)

Infeksi laten TB

> 5 th

(+)

Sehat

> 5 th
> 5 th

(-)
(-)

Infeksi laten TB
Sehat

Tatalaksana
INH
profilaksis
INH
profilaksis
INH
profilaksis
INH
profilaksis
Observasi
Observasi

Keterangan:
Obat yang diberikan adalah INH (Isoniazid) dengan
dosis 10 mg/kgBB (7-15 mg/kg) setiap hari selama
6 bulan.
Setiap bulan (saat pengambilan obat Isoniazid) dilakukan
pemantauan terhadap adanya gejala TB. Jika terdapat
gejala TB pada bulan ke 2, ke3, ke 4, ke 5 atau ke
6, maka harus segera dievaluasi terhadap sakit TB
dan jika terbukti sakit TB, pengobatan harus
segera ditukar ke regimen terapi TB anak dimulai
dari awal
Jika rejimen Isoniazid profilaksis selesai diberikan (tidak
ada gejala TB selama 6 bulan pemberian), maka rejimen
isoniazid profilaksis dapat dihentikan.
Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi
BCG, perlu diberikan BCG setelah pengobatan
profilaksis dengan INH selesai.

KEDOKTERAN
KELUARGA

DOKTER KELUARGA
DEFINISI
bertanggung jawab untuk
menyediakan pelayanan
kesehatan yang komprehensif
kepada setiap individu
menyediakan pelayanan yang
lebih, dengan mempertimbangkan
latar belakang budaya, sosial
ekonomi dan psikologis.

TUJUAN

UMUM

terwujudnya
keadaan sehat
bagi setiap
anggota keluarga.

KHUSUS

Terpenuhinya
kebutuhan
keluarga akan
pelayanan
kedokteran yang
lebih efektif

Terpenuhinya
kebutuhan
keluarga akan
pelayanan
kedokteran yang
lebih efIsien

MANFAAT
Akan dapat
diselenggarakan
penanganan kasus
penyakit sebagai
manusia
seutuhnya, bukan
hanya terhadap
keluhan yang
disampaikan.

Akan dapat
diselenggarakan
pelayanan
pencegahan
penyakit dan
dijamin
kesinambungan
pelayanan
kesehatan.

Apabila
dibutuhkan
pelayanan
spesialis,
pengaturannya
akan lebih baik
dan terarah,
terutama
ditengah-tengah
kompleksitas
pelayanan
kesehatan saat
ini.

Akan dapat
diselenggarakan
pelayanan
kesehatan yang
terpadu sehingga
penanganan suatu
masalah
kesehatan tidak
menimbulkan
berbagai masalah
lainnya.

Jika seluruh anggota keluarga ikut serta dalam pelayanan, maka segala keterangan
tentang keluarga tersebut, baik keterangan kesehatan dan ataupun keterangan keadaan
sosial dapat dimanfaatkan dalam menangani masalah kesehatan yang sedang dihadapi.

fAkan dapat diperhitungkan berbagai faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit,


termasuk faktor sosial dan psikologis.

Akan dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit dengan tata cara yang lebih
sederhana dan tidak begitu mahal dan karena itu akan meringankan biaya kesehatan.

Akan dapat dicegah pemakaian berbagai peralatan kedokteran canggih yang


memberatkan biaya kesehatan.

KARATERISTIK KEDOKTERAN
KELUARGA
Biasanya kontak pertama dengan sistem pelayan
kesehatan yang melayani akses terbuka dan tidak
terbatas untuk pasien
Membuat efisien penggunaan sumber daya kesehatan
dengan pelayanan koordinatif
Melakukan pendekatan personcentred dan
berorientasi kepada individu dan keluarganya, dan
komunitasnya
Mempunyai proses konsultasi yang berbeda, dimana
dikembangkan hubungan dari waktu ke waktu, melalui
komunikasi efektif antara dokter-pasien

Bertanggung
jawab untuk
menyediakan
pelayanan
berkesinambun
gan yang
longitudinal
yang sesuai
kebutuhan
pasien
Dalam
pengambilan
keputusan
berdasarkan
prevalensi dan
insidensi penyakit
dalam komunitas

Mengelola
penyakit yang
memberikan
gejala
undifferentiated
pada tahap awal
perkembanganny
a, yang
membutuhkan
intervensi
secepatnya
Mengelola
penyakit secara
simultan baik
akut maupun
masalah
kesehatan yang
kronis pada
pasien

Mengelola
penyakit yang
memberikan
gejala
undifferentiated
pada tahap awal
perkembanganny
a, yang
membutuhkan
intervensi
secepatnya

Promosi
kesehatan
dan
kesejahteraa
n dengan
intervensi
yang tepat
dan efektif

Memiliki
tanggung
jawab
terhadap
kesehatan
masyarakat

Siap dengan
masalah
kesehatan
pasien dalam
dimensi fisik,
psikologis,
sosial,
kultural dan
eksistensial .

KOMPETENSI KEDOKTERAN
KELUARGA

PRIMARY
CARE

PERSONCENTRED
CARE

SPESIFIC
PROBLEM
SOLVING

COMPREHENS
IVE
APPROACH

COMMUNITY
ORIENTATION

HOLISTIC
APPTOACH

FUNGSI DOKTER KELUARGA


Care Provider
Communicator
Decision Maker
Manager
Community Leader

Tugas

Mendiagnosi
s dan
memberikan
pelaanan
aktif saat
sehat dan
sakit

Melayani
individu dan
keluarganya

Membina
dan
mengikut
sertakan
keluarga
dalam
upaya
penangan
penyakit

Menangani
penyakit
akut dan
kronik

Merujuk ke
dokter
spesialis

KEWAJIBAN
Menjunjung tinggi
profesionalisme
Menerapkan prinsip
kedokteran keluarga
dalam praktek
Bekerja dalam tim
kesehatan
Menjadi sumber daya
kesehatan
Melakukan riset untuk
pengembangan layanan
primer

Organisasi
pada dokter
keluarga

PDKI

KIKKI

Perbedaan dokter Umum dan dokter


keluarga
DOKTER

PRAKTEK

UMUM
Cakupan Pelayanan Terbatas
Sifat Pelayanan

pengamatan sesaat

Lebih

kuratif

hanya

untuk penyakit tertentu

Peran keluarga
dan

pencegahan
Hubungan dokterpasien

bukan

Kasus per kasus dengan

Jenis Pelayanan

Promotif

Lebih Luas
Menyeluruh, Paripurna,

Sesuai Keluhan

Cara Pelayanan

DOKTER KELUARGA

sekedar

yang

dikeluhkan
Kasus per kasus dengan
berkesinambungan
sepanjang hayat
Lebih
kearah
pencegahan,

tanpa

mengabaikan
pengobatan

dan

Kurang

rehabilitasi
Lebih diperhatikan dan

dipertimbangkan

dilibatkan

Tidak jadi perhatian

Jadi perhatian utama

Dokter pasien

Dokter pasien teman


sejawat dan konsultan
Secara
individual
sebagai

bagian

dari

Implikasi Kedokteran Keluarga di


Indonesia
Undang-Undang No 20 tahun 2013
tentang
Pendidikan
Kedokteran,
pasal mengenai dokter layanan
primer antara lain termaktub dalam
pasal7 ayat 5, pasal 8 ayat 2 dan 3
(UU 2013)

Daftar Pustaka

EURACT.2005.The European Definition Of General Practice / Family Medicine.

Gan GL, Azwar A, Wonodirekso S. 2004. A Primer on Family Medicine Practice. Singapore
International Foundation .PenangRoad.

Kemenkes RI. 2011. Stop TB Menuju Terobosan Universal Strategi Nasional Pengendalian TB di
Indonesia tahun 2010 2014.Jakarta

PerhimpunanDokterParuIndonesia.,2014.Tuberculosis Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan


Tuberkulosis di Indonesia.Jakarta

DepartemenKesehatanRI.,2006.Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.Jakarta

Undang-UndangNo20tahun2013tentangPendidikan Kedokteran.www.ristekdikti.go.id

WONCA. 1991.The Role of General Practitioner/ Family Physician in Health Care Systems : A
statementfromWONCA

WorldHealthReport.2008.Primary Health Care:NowMoreThanEver.WHO.

Qomariah.2000. Sekilas Kedokteran Keluarga. FK-Yarsi:Jakarta