Anda di halaman 1dari 47

Refleksi Kasus

Myofasial Pain Syndrome

Denaya Tika Reskia


30101206605

Pembimbing:
dr. Heriyanto, Sp. S
IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. S

Usia : 70 tahun

Tanggal Lahir : Magelang / 12-07-1947

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Alamat : magelang

Agama : Islam

Tanggal Masuk : 9 Februari 2017

Perkerjaan : petani
Keluhan Utama

Bahu terasa berat

Riwayat Penyakit Sekarang

P/B datang dengan keluhan bahu terasa berat dan


sering kesemutan sebelah kanan dan kiri sejak 1
bulan yang lalu. Pasien mengeluhkan nyeri kepala
pada malam hari, jantung lemahkaki terasa pegal.
Pasien sudah periksa ke puskesmas tetapi tidak ada
perubahan.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat Trauma kepala (-)
Riwayat hipertensi (-)
Riwayat DM (-)
Riwayat Alergi (-)
Riwayat jantung (+)

Riwayat Keluarga

Disangkal
Status Generalis

Keadaan Umum : Baik


Kesadaran/GCS : Composmentis,
E4V5M6
Tanda Vital :
Tekanan darah : 130/70
Nadi : 44 kali/menit ireguler
Pernafasan : 16 kali/menit
Suhu : 36,90 C
Status Lokalisata

Kepala :
Pupil : Isokor, diameter
Sianosis :-
Dispneu :-
Konjungtiva anemis : -/-
Sklera ikterik : -/-
Leher :
Kelenjar Getah Bening : Dalam batas
normal.
Status Lokalisata
Thoraks :

Bentuk : Normochest, retraksi (-).

Jantung :
Inspeksi : Iktus kordi tidaks tampak.
Palpasi : Iktus kordis tdak kuat angkat.
Perkusi : Redup. Batas jantung dalam batas normal.
Auskultasi : Suara jantung I dan II reguler, murmur (-)
Paru :
Inspeksi : Pergerakan dada simetris kanan-kiri.
Palpasi : Vokal fremitus +/+.
Perkusi : Sonor +/+.
Auskultasi : Vesikuler +/+, Ronki -/-, Wheezing -/-.
Status Lokalisata
Abdomen :
Inspeksi : Datar.
Auskultasi : Bising usus (+) 15 kali/menit.
Palpasi : hepar dan lien tidak teraba adanya pembesaran,
ada nyeri tekan abdomen di regio Epigastric..
Perkusi : Timpani.
Ekstremitas :
Ekstremitas Superior
Tidak tampak adanya edema dari carpal sampai dorsum
manus.
Capillary refill < 2 detik.
Akral dingin (-).
Ekstremitas Inferior
Tidak tampak adanya edema pada kedua pedis kanan
dan kiri.
Capillary refill < 2 detik.
Status Neurologis
GCS : E4 V5 M6

TANDA MENINGEAL :
Kaku kuduk :-
Kernig : -

Laseque :-
Brudzinski I :-
Brudzinski II :-
Brudzinski III : -

Brudzinski IV : -
Status Neurologis (N. Cranialis)
N. Olfaktorius (N. I)
Pemeriksaan bau : DBN (+)

N. Optikus (N. II)


Warna : DBN
Funduskopi : Tidak dilakukan
Tajam penglihatan : DBN
Lapang pandang (visual field) : DBN
N. Okulomotorius, N. Troklearis, N. Abducen (N. III, N. IV,
N.VI)
Kedudukan bola mata saat diam : DBN (+/+)
Gerakan bola mata : DBN (+/+)
Pupil :
Bentuk, lebar, perbedaan lebar : DBN (+/+)
Reaksi cahaya langsung dan konsensuil : +/+
Reaksi akomodasi dan konvergensi : DBN (+/+)
Status Neurologis (N. Cranialis)

N. Facialis (N. VII)

Motorik :
Kondisi diam : +/+
Kondisi bergerak :
Musculus frontalis : DBN (+/+)
Musculus korugator supersili : DBN (+/+)
Musculus nasalis : DBN (+/+)
Musculus orbicularis oculi : DBN (+/+)
Musculus orbicularis oris : DBN (+/+)
Musculus zigomaticus : DBN (+/+)
Musculus risorius : DBN (+/+)
Musculus bucinator : DBN (+/+)
Musculus mentalis : DBN (+/+)
Musculus plysma : DBN (+/+)
Sensorik khusus
Lakrimasi : Tidak dilakukan
Refleks stapedius : Tidak dilakukan
Status Neurologis (N. Cranialis)
N. Stato-akustikus (N. VIII)
Suara bisik : DBN
Arloji : DBN
Garpu tala : Tidak dilakukan
Nistagmus : Tidak dilakukan
Tes Kalori : Tidak dilakukan

N. Glosopharingeus, N. Vagus (N. IX, N. X)


Inspeksi oropharing keadaan istirahat : Uvula simetris
Inspeksi oropharing saat berfonasi : Uvula simetris
Refleks Muntah : Tidak dilakukan
Sensorik khusus :
Pengecapan 1/3 belakang : Tidak dilakukan
Suara serak atau parau : (-)
Menelan :
Sulit menelan air atau cairan dibandingkan padat: (-)
Status Neurologis (N. Cranialis)
N. Acesorius (N. XI)

Kekuatan m. Trapezius : DBN (+/+)

Kekuatan m. Sternokleidomastoideus :
DBN (+/+)

N. Hipoglosus (N. XII)

Keadaan diam : DBN (+/+)

Keadaan gerak : DBN (+/+)


Pemeriksaan Motorik
Observasi : DBN
Ekstremitas atas :
Palpasi : DBN M. deltoid : +5 /+5
Perkusi : Tidak dilakukan M. biceps brakii : +5 / +5
M. triceps : +5 / +5
Tonus : DBN M. brakioradialis : +5 /
Kekuatan otot : +5
M. pronator teres : +5 /
+5
Ekstremitas bawah :
Genggaman tangan: +5 /
M.
+5iliopsoas : +5 / +5
M. kwadricep femoris : +5
+5 +5 / +5
M. hamstring : +5 /
+5 +5 +5
M. tibialis anterior : +5 /
+5
M. gastrocnemius : +5 /
Pemeriksaan Sensorik
Eksteroseptik/protopatik (nyeri/suhu, raba
halus/kasar) : DBN (+/+)

Proprioseptik (gerak/posisi, getar dan


tekan) : DBN (+/+)

Kombinasi :

Stereognosis : DBN
Barognosis : DBN
Graphestesia : DBN
Sensory extinction : DBN
Loss of body image : DBN
Two point tactile discrimination : DBN
Refleks Fisiologis
Refleks Superficial
Dinding perut /BHR : -/-, -/-, -/-

Refleks tendon/periostenum
BPR / Biceps : + / +
TPR / Triceps : + / +
KPR / Patella : + / +
APR / Achilles : + / +
Klonus :
Lutut/patella : -/-
Kaki/ankle : -/-
Refleks Patologis
Babinski : - /-

Chaddock :-/-

Oppenheim : - / -

Gordon :-/-

Schaeffer :-/-

Gonda :-/-

Stransky :-/-

Rossolimo : - / -

Hoffman :-/-

Tromner :-/-

Mendel-Bechtrew : - / -
Keseimbangan
Sikap duduk : DBN
Sikap berdiri :
Wide base / broad
base stance : DBN
Modifikasi Romberg :
DBN
Dekomposisi sikap :
DBN
Berjalan / gait :
Tendem walking :
DBN
Berjalan memutari
kursi / meja : DBN
Berjalan maju-
mundur : DBN
Tonus : DBN
Lari ditempat : DBN

Tremor : (-)
PEMERIKSAA TES SENDI TES PEMERIKSAA
N FUNGSI SACRO- PROVOKASI N DISARTRIA
LUHUR ILIACA NERVUS Labial :
Aphasia : (-) Patricks : -/- ISCHIADICUS DBN
Alexia : (-) Contra Laseque : -/- Palata : DBN
Apraksia : (-) patricks : -/- Sicards : -/- Lingual : DBN
Agraphia : Bragards : -/-
(-) Minors : Sulit
Akalkulia : (-) dievaluasi
Fingeragnosi Neris :
a : (-) Sulit
Right-left dievaluasi
disorientation Door bell sign
: (-) : -/-
Kemp test :
8 Februari 2017

Analysis Result Range Unit


WBC 8,7 4 10 K/uL
RBC 5.05 36 N/uL
Hb 14.4 12 16 g/dl
Ht 41,3 35 45 %
MCV 81,7 81 101 fl
MCH 28,5 27 33 pg
MCHC 34,9 31 35 g/dl
RDW 13.3 10 16 %
PLT 282 150 400 K/uL
MPV 6.6 7 11 fl
PCT 0.19 0,20 0,50 %
PDW 12,4 10 18 %
8 Februari 2017

Pemeriksaan Hasil Nilai normal


Glukosa 69 mg/dL 70.00 115.0
Gula 2 jam PP 94 mg/dL 70.00 140.0

Pemeriksaan Hasil Nilai normal


Chlorida 97,67 mmol/L 96.0 106.0
Natrium 141.19 mmol/L 135.37 145.0
Kalium 4.11 mmol/L 3.48 5.50
Assesment
Klinis : myofascial pain syndrome

Topis : m. Trapezius dex et sin

Etiologi : trauma langsung

DD :
Bursitis
Fibromyalgia
Diagnosis sekunder :
Bradikardi simtomatik
LBBB
Terapi
Farmakoterapi
Infus NS + Resfar
Inj lapibal 2x 1 dlm 8 cc aqua
Inj norages 3x1
Inj SA 2 ampul
Drip benocetam 4x 3
Tonicard 3x1
Neofer 3x1
Aspilet 1x8 mg
Non Farmakoterapi
Dry needling
Peregangan
Terapi

Monitori
Edukasi
ng
Menjelaskan
Observasi keadaan penyakit yang
umum diderita.

Menjelaskan terapi
yang diterima.
Observasi tanda
vital Menjelaskan
prognosis penyakit
EDUKASI
Menjelaskan kepada
penderita dan keluarga
mengenai penyakit

Ikuti program latihan


fisioterapi secara rutin
Tinjauan
Pustaka

MYOFASIAL
PAIN
SYNDROME
DEFINISI
Myofasial Pain Syndome atau Sindrom nyeri myofascial adalah
sebuah kondisi nyeri otot ataupun fascia, akut maupun kronik,
menyangkut fungsi sensorik, motorik, ataupun otonom, yang
berhubungan dengan myofascial trigger points (MTr Ps)

Myofascial trigger points adalah suatu titik/ tempat hiperiritabel


berlokasi di struktur otot atau fascia yang menegang, jika ditekan
dapat menyebabkan nyeri lokal atau menjalar.

MTrPs sering ditemukan di sekitar daerah


leher dan punggung.
Aktivitas sistem saraf simpatis akan meningkatkan
aktivitas motorik dan menyebabkan nyeri
GEJALA
disfungsi nyeri tekan, berkeringat,

SENSORIK

OTONOM
MOTORIK
motorik atau nyeri alih, aktivitas
kelemahan hiperalgesia, pilomotor,
otot akibat ataupun perubahan
inhibisi alodinia suhu kulit,
motorik, lakrimasi, dan
terbatasnya salivasi
gerakan dan
kekakuan otot
ETIOLOGI DAN EPIDEMIOLOGI
Etiologi pembentukan trigger point pada otot dan mekanisme
terjadinya gejala somatik masih belum dipahami

Trigger point diduga terbentuk di endplate otot menyebabkan


perubahan dan abnormalitas aktivitas endplate di neuromuscular
junction. Iritasi kontinu pada endplate menyebabkan
pengeluaran asetilkolin berlebihan, sehingga menyebabkan
ketegangan dan kontraksi serat otot yang terlokalisasi
PENYEBAB UMUM NYERI MYOFASIAL
TRAUMA LANGSUNG ATAU TIDAK LANGSUNG

KONDISI PATOLOGIS TULANG BELAKANG

PAPARAN TERHADAP TEGANGAN YANG BERULANG DAN


KUMULATIF

POSISI/ POSTUR TUBUH YANG TIDAK SESUAI


Sindrom nyeri myofascial sering terjadi dan setiap manusia
mungkin pernah memiliki trigger point selama hidupnya.
Prevalensinya sama antara laki-laki dan perempuan, terutama pada
usia antara 30-60 tahun

Nyeri myofascial dapat bersifat lokal atau regional, seperti pada leher, bahu,
punggung atas dan bawah, biasanya unilateral atau lebih berat di salah satu
sisi. Nyeri otot dapat menetap dengan variasi dari ringan hingga sangat
berat; biasanya tidak hilang dengan sendirinya. Ciri khas nyeri ini adalah
terdapatnya trigger point
MYOFASIAL TRIGGER POINTS
Trigger point berukuran kecil, gumpalan
keras, mungkin dapat terlihat atau terasa di
bawah kulit. Myofascial trigger points dapat
terjadi di otot-otot berbagai anggota tubuh
sebagai respons dari cedera atau kelebihan
beban otot. Terdapat hipotesis bahwa serat
otot yang cedera akan memendek (sehingga
terjadi peningkatan tegangan) akibat
pengeluaran berlebihan ion kalsium dari serat
yang rusak, atau sebagai respons terhadap
asetilkolin dalam jumlah besar dari motor end
plate. Nyeri tekan lokal atau menjalar terjadi
karena nosiseptor otot terstimulasi akibat
kurangnya oksigen dan peningkatan mediator
inflamasi di tempat cedera
Myofascial trigger points aktif akan
menimbulkan rasa nyeri, sehingga
mencegah pemanjangan otot maksimal,
melemahnya otot, memediasi respons
kedutan lokal bila distimulasi, dan
menyebabkan nyeri alih di area nyeri
yang bersangkutan. MTrPs laten
biasanya tidak bergejala, tidak
menimbulkan nyeri pada aktivitas
sehari-hari, tetapi nyeri apabila diberi
stimulasi eksternal, seperti dipalpasi, dan
dapat teraktivasi jika otot tegang, lelah,
atau cedera. Beberapa studi
menunjukkan bahwa 25-54% individu
asimptomatik mempunyai latent trigger
points.
Nyeri proses multidimensi meliputi
komponen sensorik dan persepsi,
mengaktivasi beberapa area pada sistem
saraf pusat dan perifer. Nyeri akibat
sekunder kerusakan jaringan menurunkan
pH serta mengeluarkan histamin dan
bradikinin lokal. Respons serabut C
ditingkatkan di perifer oleh serotonin,
prostaglandin, thromboxane, dan
leukotriene akibat hipoksia dan trauma
jaringan. Substansi P dikeluarkan di perifer
dan meningkatkan vasodilatasi perifer dan
sensitisasi serabut C. Serabut C kemudian
menyampaikan impuls menuju kornu
dorsalis medulla spinalis. Kondisi seperti ini
disebut sensitisasi perifer.
Sensitisasi sentral berarti
peningkatan respons neuron
nosiseptif pada sistem saraf pusat.
Baik sensitisasi sentral maupun
perifer dapat terjadi pada nyeri
kronik. Gejala yang persisten dapat
merupakan hasil sensitisasi perifer
terhadap nosiseptor dan juga
sensitisasi sentral untuk modulasi
dan modifikasi. Tanda sensitisasi
sentral dan perifer adalah alodinia
dan hiperalgesi
DIAGNOSIS Kriteria menurut Simons,
et al (1999)

Belum ada pemeriksaan laboratorium


untuk menegakkan sindrom nyeri
myofascial. Diagnosis masih dibuat
berdasarkan hasil temuan klinis.
Pemeriksaan penunjang hanya dapat
mendeteksi perubahan yang terjadi,
seperti elektromiografi dapat
mengidentifikasi otot yang memiliki
trigger point aktif akan lebih cepat
mengalami kelelahan, ultrasound
dapat memperlihatkan respons kedut
lokal yang tercetus bila dipalpasi
Differential Diagnosis
(1) musculoskeletal and neuropathic disorders such as arthritis,
degenerative disk disease, radiculopathy, bursitis, and tendonitis;

(2) autoimmune or infectious etiologies;

(3) metabolic and endocrine dysfunction including hypothyroidism;

(4) Psychiatric disorders including depression and anxiety; and

(5) fibromyalgia.
Clinical Distinctions between Myofascial Pain Syndrome
and Fibromyalgia Syndrome
Clinical features of fibromyalgia versus myofascial pain

Fibromyalgia Myofascial pain

Pain Generalized Localized

Examination Tender points Trigger points

Fatigue Prominent Data unknown

Gender 90 percent female Data unknown


May be self-
Course Chronic
limited
FARMAKOTERAPI
TATALAKSANA
ANTIINFLAMASI OAINS Diclofenac patch

NARKOTIK OPIOID anagetik

ANAGETIK parasetamol, ibuprofen, asam mefenamat

TIZANIDINE alfa 2 agonis menurunkan intensitas nyeri, disabilitas,


menurukkan spastiisitas otot LINI PERTAMA

BENZODIAZEPINE menghambat pengeluaran serotonin presinaps dan eksitasi


GABA.

Pada sebuah uji coba klinis, klonazepam terbukti mempunyai efek antinosiseptif
untuk sindrom nyeri myofascial
NON-FARMAKOTERAPI
TATALAKSANA
ANTIINFLAMASI OAINS Diclofenac patch
PEREGANGAN

NARKOTIK OPIOID
TERAPI LASER anagetik

ULTRASOUND

TRANSCUTANEOUS ELECTRICAL NERVE STIMULATION (TENS)

DRY NEEDLING

INJEKSI TRIGGER POINTS

INJEKSI BoBT-A (Botulinum Toxin tipe A)


Manual Trigger Point Therapy
Trigger Point Techniques
Trigger Point Compression (Technique I)
Manual stretching of the taut band in muscle fibre direction (Technique II)

Release Techniques:
Myofascial Release (Technique III)
Intermuscular mobilisation (Technique IV)

Stretching Techniques:
Therapeutic stretching (Technique V)
Self stretching (Technique VI)
Manual Trigger Point Therapy
Manual stretching of the taut band
in muscle fiber direction
(Technique II)
Manual Trigger Point Therapy
Myofascial Release
(Technique III)
Manual Trigger Point Therapy
Intermuscular mobilisation
(Technique IV)